Anda di halaman 1dari 2

Setengah cowok kampus teknik itu homo, sedangkan setengahnya lagi adalah

pasangannya
Dulu sekali, awal-awal masuk kampus teknik, guyonan ini akan sukses membuat
seisi kelas terbahak-bahak. Minimnya jumlah perempuan, serta hausnya kehadiran
cewek tulen di kampus teknik membuat guyonan ini terlahir. Tapi saya kira sekarang
guyonan ini perlahan akan menjadi sederet mantra yang mengerikan.

LGBT memang resmi legalnya di negara lain, tapi berhubung negara kita ini
filternya banyak yang sudah rusak ada ancaman besar yang melanda. Apalagi ada
ketidaktegasan pemerintah yang hadir ditengah-tengah problematika ini, tentang
menolak atau mendukung. Hal ini justru telah meletakkan generasi muda labil di
posisi yang bahaya. Terombang-ambing.

Sejarah kaum LGBT sudah hadir dalam catatan sejak dulu. Karenanya perdebatan
pro-kontra terkait hal ini bukan hal yang baru. Hanya saja keberadaan diskusi ini
kini menjadi sesuatu yang mengancam. Yang awalnya kontra, tiba-tiba menjadi pro
setelah membaca ataupun ikut dalam diskusi-diskusi tersebut. Apalagi pasca
banyak artis yang ikut menyuarakan dukungan mereka terhadap legalisasi ini.

Ilmu saya memang cetek, saya harus membaca banyak buku lagi untuk bisa
menjelaskan bahwa LGBT bukan sesuatu yang diturunkan secara genetik.
Karenanya juga, di tulisan ini saya belum mampu dan tidak ingin menghadirkan
teori-teori kece non verified yang sering hadir di timeline.

Pun, saya juga bukan pakar ahli kebijakan, yang mampu mengarahkan bagaimana
kebijakan yang seharusnya di ambil negeri ini. Tapi meski begitu ada keresahan
yang ingin saya keluarkan. Tentang bagaimana resahnya saya melihat teman-teman
saya yang cerdas ternyata mendukung hadirnya LGBT. Tentang bagaimana ada
tetes-tetes curiga yang perlahan hadir dalam lingkar persahabatan kini.

Sepanjang perjalanan cerita sekolah saya, selalu ada tokoh cowok kemayu yang
hadir di dalam sana. Ketika itu, gay bukanlah eksistensi yang kami anggap nyata.
Karenanya akan nyaman-nyaman saja waktu itu untuk saling merangkul atau tidur
bersama dengan tokoh-tokoh ini. Hanya saja, berkat boomingnya LGBT ini, berkat
banyaknya fakta-fakta kebiasaan gay yang dihadirkan di timeline, ada curiga yang
tiba ketika sedang bergaul dengan tipe cowok kemayu. Cowok kemayu belum tentu
gay, tapi akan ada curiga tentang ke-gay an cowok kemayu yang hadir.

Dulu sekali, di panggil pasangan homo sering didefinisikan sebagai tingkat tertinggi
persahabatan lelaki. Saking dekatnya gitu, sampe disebut homo. Nah kalo sekarang
dipanggil pasangan homo, saya kira bakal ada ketidaknyamanan yang hadir.

Belum lagi kehadiran pelangi yang dijadikan simbol kaum ini. Ini tentu hal yang
berbahaya. Apa bahayanya? Ini akan menjadi kunci penting untuk memasukkan
kehadiran LGBT dalam pikiran anak-anak. Sekarang, mungkin masih banyak
penolakan yang hadir. Tapi siapa yang bisa memastikan kemana arah problematika
ini akan menuju? Bagaimana nanti kita akan menjelaskan keindahan pelangi yang
kini di aku-akui sebagai simbol kaum LGBT? Jangan-jangan nanti, di masa depan,
pelangi akan kuat didefinisikan sebagai simbol dari kaum LGBT, dan kemudian
menjadi hal yang lumrah di tengah masyarakat. Seperti halnya hot pant yang dulu
tabu untuk dipakai di tengah khalayak umum, lalu kini menjadi lumrah hadirnya di
banyak pikiran.

Tulisan ini lahir dari ketakutan karena melihat banyaknya kebijakan aneh yang hadir
akhir-akhir ini. Karena hal ini, entah kenapa saya punya firasat legalisasi pernikahan
sejenis di negeri ini nampaknya bukan hal yang mustahil. Semoga firasat, hanya
sekedar firasat ~
Saat ini, ada banyak yang memilih diam meski kuat menolak legalisasi keberadaan
kaum ini. Padahal penyakit ini butuh banyak upaya pencegahan. Semoga tulisan
ini, bisa sedikit membantu pencegahan dan penolakan terhadap upaya legalisasi
kehadiran kaum ini. Karena lelaki sejati, akan mencintai wanita.
Karena sebaik-baik homoseks adalah ia yang menyadari bahwa dirinya salah dan
di dalam hati kecilnya masih punya niatan untuk bisa berubah Agus Mulyadi