Anda di halaman 1dari 1

Tiga tahun lalu saat buku ini naik ke layar lebar, ada euphoria sendiri diantara

teman-teman saya. Karenanya saya sadar, membaca buku ini di 2016 nampaknya
telat banget.
Buku ini hanya memiliki 219 halaman. Tidak tebal, tapi Ahmad Fuadi bilang bahwa
ini adalah sebundel kertas penting! Sekumpulan kertas penting yang disesaki
hikayat kerja keras, kehangatan keluarga dan perantauan.
Membaca buku ini, ada semacam suara-suara lalu yang berlalu lalang diingatan.
Tentang kenangan-kenangan yang kini sudah berbelas tahun jauhnya. Tentang harihari saat kepala saya harus mendongak ke atas untuk melihat wajah bapak ibu.
Tentang hari-hari dimana pelukan ibu adalah tempat saya melepaskan isak tangis.
Tentang bahu bapak yang selalu menjadi inspirasi saya untuk terus melangkah.
Saya menikmati cara Mas Iwan mengungkapkan perjalanannya dengan agak
berbeda dari novel-novel berjenis flashback lainnya. Apa ya, kalo saya bilang tidak
melankolis untuk sebuah cerita yang begitu melankolis. *abaikan*
Anehnya, meski banyak berbicara tentang masa-masa yang telah lalu, buku ini
melahirkan tekad dalam diri saya untuk terus melangkah kedepan. Bahasa
kerennya anak muda jaman sekarang, move on. Mengingatkan saya soal mimpi
yang belum sepenuhnya gagal untuk dicapai. Tentang usaha yang nampaknya
belum maksimal untuk tergerus rasa lelah.
Terima kasih 219 halaman penuh inspirasi. Terima kasih sebundel kertas penting
penuh isi.
Mangats kal! Man Jadda Wajada!