Anda di halaman 1dari 3

Berjarak empat belas tahun sejak kemunculan sekuel pertamanya, Supernova

Gelombang akhirnya diterbitkan. Sekitar dua tahun setelah sekuel ke empat nya
Supernova Partikel di terbitkan. Dan akhirnya buku ini tiba di genggaman saya satu
tahun kemudian. Maret dua ribu lima belas sebagai kado wisuda. Walau sudah
begitu ingin membaca, hal pertama yang saya lakukan adalah kembali mengingat
kisah-kisah buku Supernova sebelumnya. Mencoba memastikan semuanya masih
jelas di ingatan. Bagi yang ingin mengetahui review tiap-tiap sekuel buku supernova
akan saya bahas disini. Terutama bagi anda yang baru membaca Supernova di
sekuel kesekian, dan ingin memahami sekuel Supernova sebelumnya.
Review Supernova : Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh
Dengan tebal 231 halaman, masih jelas diingatan. Betapa ilfeelnya saya ketika
membaca buku pertama. Buku ini saya temukan di rak perpustakaan semasa SMA.
Dibuka dengan percakapan antara Dimas dan Reuben, yang kemudian dijelaskan
sebagai pasangan gay. Iyuh. Kalau saja nggak banyak yang bilang bahwa ini buku
bagus, saya akan segera berhenti membacanya. Buku pertama ini begitu penuh
dengan teori-teori dan istilah fisika. Sehingga kita harus bersabar untuk mengikuti
jalan cerita sembari memperhatikan penjelasan istilah di footnote.
Reuben berasal dari geng anak beasiswa-orang-orang sinis, kuper-yang cuma cocok
bersosialisasi dengan buku. Sementara Dimas berasal dari geng anak orang kaya,
kalangan mahasiswa Indonesia berlebih harta.

Dikisahkan di buku ini kemudian, Dimas dan Reuben mengikat janji bahwa di tahun
kesepuluh hubungan gay mereka, Mereka akan membuat roman sains yang
romantis sekaligus puitis dengan mengkombinasikan kemampuan keduanya. Diimas
dengan sentimentalitas seorang pujangga dan pemerhati literatur, sedangkan
ruben dengan logika dan penuturan sainsnya.
Singkat cerita, kisah yang mereka adalah tentang Ferre, Rana dan Diva. Ferre
adalah seorang eksekutif muda lajang dan tampan. Sayangnya kehidupannya
begitu sunyi, tanpa cinta dan keluarga. Sementara Rana merupakan seorang

wartawan yang menjabat sebagai wakil pimpinan redaksi. Rana sudah bersuami
dengan Arwin, belum punya anak, dan kehidupannya berjalan biasa-biasa saja.
Pertemuan pertama mereka terjadi ketika Rana mewawancarai Ferre di kantornya.
Kehadiran Rana telah memberi perubahan di kehidupan Ferre. Begitu juga dengan
Rana yang kemudian terpaksa harus mengalami perubahan karena ia tidak bisa
membohongi perasaannya terhadap Ferre. Dan seperti biasanya, disinilah kemudian
konflik dimunculkan. Rana kemudian dihadapkan pada kenyataan bahwa ia harus
memilih antara Ferre atau Arwin suaminya. Singkat cerita, Rana kemudian memilih
kembali pada Arwin dan meninggalkan Ferre.
Putus asa dirasakan Ferre. Hampir-hampir saja ia bunuh diri. Disinilah kemudian
dihadirkan tokoh Diva. Yang kemudian menyadarkan saya tentang tiga hal. Ferre
sebagai Ksatria, Rana sebagai Putri, dan Diva sebagai Bintang Jatuh.
Seperti buku-buku sebelumnya, Dee tidak meninggalkan ciri khasnya. Novel ini juga
dipenuhi kata-kata penuh makna dan begitu mengena. Berikut ini beberapa quotes
yang begitu saya suka dari sekuel pertama Supernova : Kesatria, Putri dan Bintang
Jatuh.
Hampir semua orang melacurkan waktu, jati diri, pikiran, bahkan jiwanya.
Bagaimana kalau ternyata itulah pelacuran yg paling hina? Dee
Telepati itu bualan, umpatnya, makanya Alexander Graham Bell ditakdirkan jadi
penemu telepon.
Segalanya terjadi tak terduga-duga. Hanya ada satu yang pasti dalam hidup, yaitu
ketidakpastian. Hanya ada satu yang patut Anda harapkan datang, yaitu yang tidak
diharapkan.
Berhenti memilah antara apa yang diinginkan dan tidak, lalu stagnasi hanya
karena anda berkeras atas sesuatu yang sebenarnya harus berubah. Berhenti juga
menilai baik buruk dari apapun. Bahkan untuk itu anda hidup. Anda adalah
pengamat dan penikmat. Bukan Hakim
karena sesungguhnya justru dalam ketidakpastiaan manusia dapat berjaya,
menggunakan potensinya untuk berkreasi

Kau hadir dalam ketiadaan ederhana dalam ketidakmengertian. Gerakmu tiada


pasti, Namun aku selalu disini, Menantimu..Entah mengapa..
Ketika membaca buku ini, akan muncul banyak sisi kontradiktif dalam kehidupan.
Hal-hal yang kita anggap hitam dan hina. Lihat saja bagaimana Dee membubuhi
tokoh-tokoh didalamnya dengan tiga pakaian. Peselingkuhan, Gay, dan pelacuran.
Tampak jelas disini Dee tampak mencoba mengajak pembaca menempati ruang
baru dalam dunia sudut pandang. Bukankah Dimas dan Reuben sebenarnya tak
perlu dijelaskan sebagai Gay? Toh jika dijelaskan sebagai sahabat karib pun tidak
akan mempengaruhi jalan cerita. Ditulisnya Dimas dan Reuben sebagai pasangan
Gay, seakan mengajak pembaca memahami bahwa Gay tidak melulu hanyalah soal
seks. Bahwa mereka yang kita kira hina, juga adalah masih seorang manusia.
Oh ya, di buku pertama Supernova ini anda akan menemukan Cyber Avatar yang
disebut sebagai Supernova. Juga Sang Petualang, Gio walau hanya di beberapa
lembar. Yang kemudian akan anda temukan, di lembar lembar lain di sekuel
selanjutnya.