Anda di halaman 1dari 22

PRODUKSI ASAM SITRAT DENGAN METODE FERMENTASI OLEH

Aspergillus Niger
I. TUJUAN PRAKTIKUM
- Mengetahui teknik peremajaan mikroorganisme
- Mengetahui cara memproduksi asam sitrat
- Menghitung konsentrasi asam sitrat yang dihasilkan
II. PERINCIAN KERJA
- Melakukan peremajaan mirkroorganisme
- Membuat media starter
- Membuat media produksi
- Menghitung kadar produk
III.

ALAT DAN BAHAN


A. Alat
Gelas Kimia
Erlenmeyer
Pengaduk
Hot Plate
Spatula
Labu Semprot
Corong
Autoklaf
Shaker Incubator
Neraca Analitik
Tutup Erlenmeyer
B. Bahan
Tauge
Gula pasir (sukrosa)
KH2PO4
NH4NO3
FeSO4.7H2O
Pepton
Aquadest
Ca(OH)2
Kultur murni Aspergillus niger L-51
Aluminium foil
Kapas
Kain kasa

IV.

LANDASAN TEORI

Perekonomian Indonesia saat ini ditunjang oleh salah satu bidang


yaitu Industri bioteknologi. Bioteknologi didefinisikan sebagai suatu bidang
penerapan biosains dan teknologi yang menyangkut penerapan praktis
organism hidup atau komponen subselulernya pada industri jasa dan
manufaktur serta pengelolaan lingkungan bioteknologi memanfaatkan
bakteri, ragi, alga, sel tumbuhan atau sel jaringan hewan yang dibiakkan
sebagai konsituen berbagai proses.
Teknologi fermentasi sebagian besar merupakan teknologi yang
menggunakan mikroorganisme baik secara seluler maupun subseluler untuk
produk makanan dan minuman seperti keju yogurt minuman alkohol asamasam organik acar sosis kecap dan lain-lain. Asam sitrat merupakan padatan
kering atau putih dengan rumus kimia C6H8O7 dan memiliki berat molekul
192,12. Senyawa ini terdapat sebagai konstituen alami dalam buah-buahan,
seperti jeruk, nanas, apel dan anggur. Asam sitrat untuk pertama kalinya
diisolasi dari sari buah jeruk oleh pada tahun 1784.
Asam sitrat yang diperoleh dengan ekstraksi ini disebut sebagai asam
sitrat alami. Pada tahun 1880, Grimoux dan aadm menemukan cara
pembuatan asam sitrat secara sintesa kimia. Jalan reaksinya didasarkan pada
reaksi antara gliserol derivate 1,3-dikloroaseton dengan sianida.
Wehmer pada tahun 1893, pertama kali mendiskripsikan produksi
asam sitrat dengan proses fermentasi kapang yaitu Citromyces pfefferianus
dan Citromyces glaber dari larutan sukrosa yang mengandung kalsium
karbonat. Curie pada tahun 1917 menyatakan bahwa sejumlah strain
Aspergillus niger memiliki kemampuan produksi paling baik di dalam
fermentasi asam sitrat. Sejak ditemukannya cara fermentasi asam sitrat dari
larutan-larutan yang mengandung gula, peranan dari asam sitrat alami
semakin menurun (tjokroadikoesoemo, P.S, HFS dan industri ubi kayu
lainnya. PT. Gramedia Jakarta 1993 hal 160)
Pembentukan asam sitrat di dalam fermentasi larutan gula didasarkan
pada teori bahwa asam piruvat yang terbentuk dari glukosa dapat dihasilkan
asetil coA yang di dalam kondensasi dengan asam oksaloasetat

menghasilkan asam sitrat (siklus krebs). Proses fermentasi asam sitrat


diterapkan secara besar-besaran untuk pertama kalinya oleh negara jerman
pada awal abad ke-20 ini. Dewasa ini hampir 90% dari seluruh produksi asam
sitrat di Amerika serikat dihasilkan dengan cara fermentasi.(sri
kumaningsih,1995). Dengan mendirikan pabrik asam sitrat ini diharapkan
dapat meningkatkan pemanfaatan bahan yang ada dan diharapkan pula
ketergantungan terhadap luar negeri dapat berkurang.
A. Sejarah Asam Sitrat
Asam Sitrat diyakini ditemukan oleh alkimiawan Arab-Yemen
(kelahiran Iran) yang hidup pada abad ke-8, Jabir Ibnu Hayyan. Pada
zaman pertengahan, para ilmuwan Eropa membahas sifat asam sari buah
lemon dan limau; hal tersebut tercatat dalam Ensiklopedia Speculum
Majus (Cermin Agung) dari abad ke-13 yang dikumpulkan oleh Vincent
dari Beauvais. Aspergillus niger dapat menghasilkan Asam Sitrat secara
efisien, dan perusahaan kimia Pfizer memulai produksi Asam Sitrat skala
industri dengan cara tersebut dua tahun kemudian. (Wikipedia. 2008) Di
alam, Asam Sitrat tersebar luas sebagai bahan penyusun rasa dari berbagai
macam buah-buahan (sitrun, nenas, pear, dan lain-lain). Asam Sitrat
terdapat pada berbagai jenis buah dan sayuran, namun ditemukan pada
konsentrasi tinggi, yang dapat mencapai 8 % bobot kering, pada jeruk
lemon dan limau (misalnya jeruk nipis dan jeruk purut ). Karena sifatsifatnya yang tidak beracun, dapat mengikat logam-logam berat (besi
maupun bukan besi), dan dapat menimbulkan rasa yang menarik, Asam
Sitrat banyak dimanfaatkan di dalam industri pengolahan alkyd resin.
Asam Sitrat alami juga banyak diproduksi di Sisilia, India Barat,
Kalifornia, Hawaii, dan di berbagai wilayah lainnya. Produksi Asam Sitrat
dengan proses fermentasi diterapkan secara besar-besaran dalam skala
industri oleh Jerman pada awal abad ke-20 dan sekarang hampir 90% dari
seluruh produksi Asam Sitrat di Amerika Serikat dihasilkan dengan cara
fermentasi.
B. Struktur dan Sifat-sifat Asam Sitrat
Struktur Kimia Asam Sitrat (C6H8O7)

Rumus kimia Asam Sitrat adalah C6H8O7 atau CH2(COOH)OH(COOH)-CH2 (COOH), struktur asam ini tercermin pada nama
IUPAC-nya, asam 2-hidroksi-1,2,3-propanatri karboksilat. Keasaman
Asam Sitrat didapatkan dari tiga gugus karboksil COOH yang dapat
melepas proton dalam larutan. Jika hal ini terjadi, ion yang dihasilkan
adalah ion sitrat.

3.
4.
5.
6.

Sifat-sifat Asam Sitrat


Sifat Fisika
1. Berat molekul : 192 gr/mol
2. Spesific gravity : 1,54 (20C)
Titik lebur : 153C
Titik didih : 175C
Kelarutan dalam air : 207,7 gr/100 ml (25C)
Pada titik didihnya asam sitrat terurai (terdekomposisi).
7. Berbentuk kristal berwarna putih, tidak berbau, dan memiliki rasa
asam.
Sifat Kimia
1. Kontak langsung (paparan) terhadap Asam Sitrat kering atau
larutan dapat menyebabkan iritasi kulit dan mata.
2. Mampu mengikat ion-ion logam sehingga dapat digunakan sebagai
pengawet dan penghilang kesadahan dalam air.
3. Keasaman Asam Sitrat didapatkan dari tiga gugus karboksil
-COOH yang dapat melepas proton dalam larutan.
4. Asam Sitrat dapat berupa kristal anhidrat yang bebas air atau
berupa kristal monohidrat yang mengandung satu molekul air untuk
setiap molekulnya.
5. Bentuk anhidrat Asam Sitrat mengkristal dalam air panas,
sedangkan bentuk monohidrat didapatkan dari kristalisasi Asam
Sitrat dalam air dingin.
6. Bentuk monohidrat Asam Sitrat dapat diubah menjadi bentuk
anhidrat dengan pemanasan pada suhu 70-75C.

7.

Jika dipanaskan di atas suhu 175C akan terurai (terdekomposisi)

dengan melepaskan karbon dioksida (CO2) dan air (H2O).


C. Proses Pembentukan Asam Sitrat
Bahan Baku Pembuatan Asam Sitrat
Mikroorganisme : Aspergillus niger berumur 5 hari.
1. Medium propagasi untuk inokulum terdiri dari:
Gula pasir 15 gram
Ekstrak tauge 20% (b/v) 11 ml
(NH4)2SO4 450 mg
KH2PO4 225 mg
Semuanya bahan kemudian dilarutkan dalam 100 ml akuades, pH
6,0
2. Medium fermentasi terdiri dari:
Gula pasir 15% (b/v)
(NH4)2SO4 0,6% (b/v)
KH2PO4 0,3% (b/v)
pH medium fermentasi 6,0
3. Kondisi fermentasi :
Suhu : 29oC
Agitasi 150 rpm

Lama 5 hari
4. Sumber karbon dalam proses fermentasi
Pada proses fermentasi ini, sumber gula yang digunakan
adalah sukrosa. Sukrosa akan dipecah menjadi fruktosa dan
glukosa. Menurut Kubicek dan Rohr (1989) sukrosa baik untuk
dijadikan sebagai sumber glukosa oleh A. niger karena memiliki
ikatan intervase mycelium ekstraselular yang kuat dan aktif pada
pH rendah sehingga hidrolisis sukrosa relatif lebih cepat. Gupta et
al. (1976), Hossain et al. (1984) dan Xu et al. (1989) melaporkan
keunggulan penggunaan sukrosa dari pada glukosa dan fruktosa
pada proses fermentasi asam sitrat.

Alat yang digunakan adalah spektrofotometer, tabung reaksi,


gelas ukur, timbangan, vortex, erlenmeyer, labu ukur, pipet, kertas
pH, shaker, autoklaf, kertas saring, oven, alat titrasi dan alat
vakum.
D. Kegunaan Asam Sitrat
Penggunaan utama Asam Sitrat saat ini adalah sebagai zat pemberi cita
rasa dan pengawet makanan dan minuman, terutama minuman ringan.
Kode Asam Sitrat sebagai zat aditif makanan (E number) adalah E330.
Sifat sitrat sebagai larutan penyangga digunakan sebagai pengendali pH
dalam larutan pembersih dalam rumah tangga. Kemampuan Asam Sitrat
untuk mengikat ion-ion logam menjadikannya berguna sebagai bahan
sabun dan deterjen. Dengan mengikat ion-ion logam pada air sadah, Asam
Sitrat akan memungkinkan sabun dan deterjen membentuk busa dan
berfungsi dengan baik tanpa penambahan zat penghilang kesadahan.
Asam Sitrat juga digunakan untuk memulihkan bahan penukar ion yang
digunakan pada alat penghilang kesadahan dengan menghilangkan ion-ion
logam yang terakumulasi pada bahan penukar ion tersebut sebagai
kompleks sitrat. Asam Sitrat dapat pula ditambahkan pada es krim untuk
menjaga terpisahnya gelembung-gelembung lemak, dan dalam resep
makanan Asam Sitrat dapat digunakan sebagai pengganti sari jeruk. Asam
Sitrat dikategorikan aman digunakan pada makanan oleh semua badan
pengawasan makanan nasional dan internasional utama. (Wikipedia. 2008)
E. Mikroba yang Berperan dalam Pembentukan Asam Sitrat
1. Aspergillus Niger
Aspergilus niger merupakan fungi dari filum ascomycetes yang
berfilamen, mempunyai hifa berseptat, dan dapat ditemukan melimpah
di alam. Fungi ini biasanya diisolasi dari tanah, sisa tumbuhan, dan
udara di dalam ruangan. Koloninya berwarna putih pada Agar
Dekstrosa Kentang (PDA) 25 C dan berubah menjadi hitam ketika
konidia dibentuk. Kepala konidia dari A. niger berwarna hitam, bulat,
cenderung memisah menjadi bagian-bagian yang lebih longgar seiring
dengan bertambahnya umur.
a. Habitat Aspergillus Niger

A. niger dapat tumbuh optimum pada suhu 35-37 C, dengan suhu


minimum 6-8 C, dan suhu maksimum 45-47 C. Selain itu, dalam
proses pertumbuhannya fungi ini memerlukan oksigen yang cukup
(aerobik). A. niger memiliki warna dasar berwarna putih atau
kuning dengan lapisan konidiospora tebal berwarna coklat gelap
sampai hitam.
b. Metabolisme Aspergillus Niger
Dalam metabolismenya A. niger dapat menghasilkan asam
sitrat sehinga fungi ini banyak digunakan sebagai model
fermentasi karena fungi ini tidak menghasilkan mikotoksin
sehingga tidak membahayakan. A. niger dapat tumbuh dengan
cepat, oleh karena itu A. niger banyak digunakan secara komersial
dalam produksi asam sitrat, asam glukonat, dan pembuatan berapa
enzim seperti amilase, pektinase, amiloglukosidase, dan selulase.
Selain itu, A. niger juga menghasilkan gallic acid yang
merupakan senyawa fenolik yang biasa digunakan dalam industri
farmasi dan juga dapat menjadi substrat untuk memproduksi
senyawa antioksidan dalam industri makanan.
A. niger dalam pertumbuhannya berhubungan langsung
dengan zat makanan yang terdapat dalam substrat, molekul
sederhana yang terdapat disekeliling hifa dapat langsung diserap
sedangkan molekul yang lebih kompleks harus dipecah dahulu
sebelum diserap ke dalam sel, dengan menghasilkan beberapa
enzim ekstra seluler seperti protease, amilase, mananase, dan glaktosidase. Bahan organik dari substrat digunakan oleh
Aspergillus niger untuk aktivitas transport molekul, pemeliharaan
struktur sel, dan mobilitas sel.

Aspergillus
Niger
Mikrograf dari A. niger yang ditumbuhkan pada medium
Sabouraud agardengan perbesaran 100x
Klasifikasi ilmiah
Domain:
Kerajaan:
Filum:
Upafilum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:

Eukaryota
Fungi
Ascomycota
Pezizomycotina
Eurotiomycetes
Eurotiales
Trichocomaceae
Aspergillus
A. niger

F. Mekanisme Pembentukan Asam Sitrat


Langkah pertama dari mekanisme pembentukan asam sitrat
tersebut, yaitu penyatuan asetil ko-A oksaloasetat untuk membentuk asam
sitrat. Pertama-tama, asetil ko-A hasil dari reaksi antara (dekarboksilasi
oksidatif) masuk ke dalam siklus dan bergabung dengan asam oksaloasetat
membentuk asam sitrat. Setelah "mengantar" asetil masuk ke dalam siklus
Krebs, ko-A memisahkan diri dari asetil dan keluar dari siklus. Kemudian,
asam sitrat mengalami pengurangan dan penambahan satu molekul air
sehingga terbentuk asam isositrat.
Lalu, asam isositrat mengalami oksidasi dengan melepas ion H+,
yang kemudian mereduksi NAD+ menjadi NADH, dan melepaskan satu
molekul CO2 dan membentuk asam a-ketoglutarat (baca: asam alpha

ketoglutarat). Setelah itu, asam a-ketoglutarat kembali melepaskan satu


molekul CO2, dan teroksidasi dengan melepaskan satu ion H+ yang
kembali mereduksi NAD+ menjadi NADH. Selain itu, asam a-ketoglutarat
mendapatkan tambahan satu ko-A dan membentuk suksinil ko-A. Setelah
terbentuk suksinil ko-A, molekul ko-A kembali meninggalkan siklus,
sehingga terbentuk asam suksinat. Pelepasan ko-A dan perubahan suksinil
ko-A menjadi asam suksinat menghasilkan cukup energi untuk
menggabungkan satu molekul ADP dan satu gugus fosfat anorganik
menjadi satu molekul ATP. Kemudian, asam suksinat mengalami oksidasi
dan melepaskan dua ion H+, yang kemudian diterima oleh FAD dan
membentuk FADH2, dan terbentuklah asam fumarat. Satu molekul air
kemudian ditambahkan ke asam fumarat dan menyebabkan perubahan
susunan (ikatan) substrat pada asam fumarat, karena itu asam fumarat
berubah menjadi asam malat.
Terakhir, asam malat mengalami oksidasi dan kembali melepaskan
satu ion H+, yang kemudian diterima oleh NAD+ dan membentuk NADH,
dan asam oksaloasetat kembali terbentuk. Asam oksaloasetat ini kemudian
akan kembali mengikat asetil ko-A dan kembali menjalani siklus Krebs.
Pada A. niger, fosfoenol piruvat dapat diubah langsung menjadi
oksaloasetat (tanpa melalui piruvat) oleh enzim fosfoenol piruvat
karboksilase. Reaksi tersebut membutuhkan ATP sebagai sumber energi,
Mg2+, atau Mn2+, dan K+, atau NH4+.
Judoamidjojo dan Darwis (1992) menyatakan bahwa apabila
sumber karbon bukan glukosa, misalnya asam asetat, atau senyawa alifatik
berantai panjang (C9 C23), maka isositrat liase akan terinduksi sehingga
dengan asam isositrat diubah menjadi glioksilat, selanjutnya glioksilat
diubah menjadi malat oleh sintetase. Bila glukosa ditambahkan siklus
tersebut akan terhambat.
Pada pembentukan asam sitrat dalam proses fermentasi dibatasi
oleh ketersediaan beberapa unsur kelumit (P, Mn, Zn). Peranan ion logam
dalam proses ini belum diketahui secara menyeluruh. Nilai pH optimum

sekitar 1,7 2,0. Jika pH lebih tinggi (alkalis) menyebabkan pembentukan


asam asam oksalat dan glukonat dalam jumlah banyak. Karenanya
pengendalian kondisi proses secara cermat merupakan prasyarat untuk
mempertahankan keteraturan metabolik dan mendukung pembentukan
asam sitrat yang lebih banyak. Kondisi yang sesuai tersebut
memungkinkan stimulasi glikolisis untuk penyediaan aliran karbon yang
tidak terbatas ke dalam metabolisme antara. Akumulasi sitrat selanjutnya
tergantung pada pemasokan oksaloasetat (Mangunwidjaja & Suryani
1994).
Mangunwidjaja & Suryani (1994) juga menjelaskan bahwa
kekurangan mangan akan menurunkan aktivitas enzim dalam siklus asam
trikarboksilat yang diikuti oleh penurunan anabolisme. Gangguan
metabolisme ini menyebabkan perbedaan tingkat ion amonium
intraselluler yang dapat membantu menghilangkan penghambatan enzim
fosfofruktose oleh sitrat. Mangan juga terlibat dalam biokimia permukaan
sel dan morfologi hifa. Kebutuhan oksigen yang tinggi memungkinkan
reoksidasi sitoplasma NADH tanpa pembentukan ATP dan melibatkan
suatu cabang respirasi alternatif yang berbeda dari rantai respirasi normal.
Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap produksi biogas sebagai
berikut:
1. Derajat keasaman (pH)
Hal ini merupakan hal yang sangat penting dallam proses
fermentasi, pH pada media juga mempengaruhi produksi asam
sitrat dari A. niger karena beberapa enzim yang berperan dalam
siklus TCA sensitif terhadap pH. pH yang rendah selama
fermentasi untuk produksi asam sitrat yang optimal diperlukan pH
sekitar 2. Jika kondisi tersebut tidak diperoleh hasil produksi akan
berkurang (Mattey, 1992). Papagianni (1995) & Papagianni et al.
(1999) melaporkan bahwa pH mempengaruhi morfologi dan
produktivitas asam sitrat dari A. niger dari hasil data kuantitatif.
Morfologi dengan agregat yang kecil dan filament yang pendek

berkaitan dengan meningkatnya produksi asam sitrat pada pH


sekitar 2,0 0,2. Pada pH 1,6 morfologi akan berkembang
abnormal (bulbous hyphae) dan produksi asam sitrat akan menurun
secara drastis. Pada pH 3,0 agregat mempunyai bentuk perimeter
yang lebh panjang dan terbentuk asam oksalat.
2. Suhu
Suhu medium fermentasi merupakan salah satu factor yang
penting dalam produksi asam sitrat. Suhu 300C adalah suhu yang
paling baik. Jika suhu medium rendah, aktivitas enzim juga rendah
sehingga mempengaruhi produksi asam tetapi jika suhu meningkat
di atas 300C, biosintesis asam sitrat akan menurun dan terjadi
akumulasi produk samping seperti asam oksalat.
3. Konsentrasi Substrat
Pengaruh konsentrasi substrat terhadap jumlah sel : pada
konsentrasi 2200 g/l jumlah sel lebih sedikit dibandingkan pada
konsentrasi di bawahnya karena sebagian besar glukosa yang ada
digunakan mikroba untuk menghasilkan produk bukan untuk
berkembang biak.
Pengaruh konsentrasi substrat terhadap konsentrasi
glukosa: konsentrasi glukosa tertinggi berada pada konsentrasi
substrat 2200 g/l karena semakin besar konsentrasi substrat maka
konsentrasi glukosanya akan semakin besar pula. Pengaruh
konsetrasi substrat terhadap konsentrasi asam sitrat :semakin tinggi
konsentrasi substrat maka konsentrasi asam sitrat jugaaka semakin
tinggi karena semakin banyak jumlah glukosa yang dapat dirubah
menjadi produk oleh mikroba.
4. Konsentrasi Glukosa
Pengaruh konsentrasi glukosa terhadap jumlah sel : dari
hasil penelitian didapatkan bahwa penurunan konsentrasi glukosa
menyebabkan penurunan jumlah sel,karena semakin sedikit
makanan dan nutrisi yang tersedia untuk mikroba. Pengaruh

konsentrasi glukosa terhadap konsenrasi asam sitrat : semakin


besar konsentrasi glukosa semakin banyak jumlah glukosa yang
dapat diubah menjadi asam sitrat.

V. PROSEDUR KERJA
Peremajaan
-

Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

Alat yang digunakan disterilkan dan disimpan didalam enkase.

Aspergillus niger pada agar miring diambil dengan menggunakan


jarum ose.

Kemudian digores pada agar miring yang baru (inokulum).

Setelah itu ditutup dengan kapas dan aluminium foil.

Di beri label dan disimpan selama 3 hari pada tempat bersuhu ruang
antara 29 30C dan teduh.

Membuat Media Starter


-

Untuk mendapatkan kadar 5% tauge dalam 300 ml.

Ditimbang bahan-bahan berikut ini:

Bahan
Berat (gram)
Glukosa
15
KH2PO4
0.3
Tauge
15
Pepton
0.9
NH4NO3
1.5
FeSO4 . 7H2O
0.003
Membuat ekstrak tauge dengan memanaskan 15 gram tauge dalam 300
ml air.

Kemudian disaring untuk memisahkan antara ekstrak dan sisa


taugenya.

Selanjutnya glukosa, KH2PO4, pepton, NH4NO3, dan FeSO4 . 7H2O


yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam ekstrak tauge.

Ekstrak kembali dipanaskan hingga semua bahan yang telah


dicampurkan larut.

Media starter disterilkan di dalam autoklaf selama 2 jam dengan suhu


121C.

Setelah selesai disterilkan, media starter dimasukkan ke dalam enkase


bersama dengan hasil peremajaan.

Saat media starter dalam keadaan hangat, ke dalam agar miring yang
berisi Aspergillus niger dituangkan beberapa ml starter.

Selanjutnya agar miring tersebut digores hingga seluruh Aspergillus


terpisah dari agar miring dan dituangkan kembali ke dalam media
starter.

Media ditutup dengan kapas yang dibalut dengan kain kasa.

Kemudian dimasukkan di dalam shaker inkubator dan didiamkan


selama 3 hari.

Membuat media produksi


-

Dalam pembuatan media produksi:


Bahan

Berat (gram)

Glukosa

40

KH2PO4

0.4

Tauge

40

Pepton

1.2

NH4NO3

FeSO4 . 7H2O
0.004
Prosedur yang sama pada pembuatan starter namun berat bahan dan
juga volume yang digunakan berbeda.

Starter sebanyak 10% dari volume produksi dicampur ke dalam media


produksi dan didiamkan selama 4 hari di dalam shaker inkubator.

VI.

Dilakukan penyaringan dan dititrasi dengan NaOH.

Dicatat hasil titrasi.

DATA PENGAMATAN
Komposisi starter 300 ml
Bahan
Glukosa
KH2PO4
Tauge
Pepton
NH4NO3
FeSO4 . 7H2O

Berat (gram)
15
0.3
15
0.9
1.5
0.003

Komposisi produksi 400 ml


Bahan

Berat (gram)

Glukosa

40

KH2PO4

0.4

Tauge

40

Pepton

1.2

NH4NO3

FeSO4 . 7H2O

0.004

Hasil Titrasi (Uji Kuantitatif)


Produk

Percobaan
Simplo
Duplo
Simplo
Duplo

1
2
VII.

Volume peniter (NaOH)


6 ml
6.2 ml
4.6 ml
5.2 ml

PENGOLAHAN DATA
Produk 1
Simplo
Konsentrasi (%) asam sitrat volume penitar 6 ml
V1N1 = V2N2
V 1xN1
N2 =
V2
N2 =

6 ml x 0,1 N
10 ml

N2 = 0,06 N
%=

N x BE
BM x 1000

100

g
mol eq
g
ml
1,66
x 1000
ml
l

0,06 mol eq x 192, 124


%=

%=

11,52744
1660

= 0,694 %
Duplo

100

100

Konsentrasi (%) asam sitrat volume penitar 6,2 ml


V1N1 = V2N2
V 1xN1
N2 =
V2
N2 =

6,2 ml x 0,1 N
10 ml

N2 = 0,062 N
%=

N x BE
BM x 1000

100

g
mol eq
g
ml
1,66
x 1000
ml
l

0,062mol eq x 192, 124


%=

%=

11,52744
1660

100

100

= 0,7 %
Produk 2

Simplo
Konsentrasi (%) asam sitrat volume penitar 4,6 ml
V1N1 = V2N2
V 1xN1
N2 =
V2
N2 =

4,6 ml x 0,1 N
10 ml

N2 = 0,046 N
%=

N x BE
BM x 1000

100

g
mol eq
g
ml
1,66
x 1000
ml
l

0,046 mol eq x 192, 124


%=

%=

8,837704
1660

= 0,532 %

100

100

Duplo
Konsentrasi (%) asam sitrat volume penitar 5,2 ml
V1N1 = V2N2
V 1xN1
N2 =
V2
N2 =

5,2 ml x 0,1 N
10 ml

N2 = 0,052 N
N x BE
100
BM x 1000

%=

g
mol eq
g
ml
1,66
x 1000
ml
l

0,052mol eq x 192, 124


%=

9,990448
1660

%=

100

100

= 0,601 %
Dengan menggunakan perhitungan yang sama adapun hasil yang diperoleh
untuk perlakuan yang berbeda yaitu:
Data 1
No.

Variasi

Konsentrasi Asam Sitrat

1.
2.
Data 2

Tanpa CaOH
Ada CaOH

1,23%
0,98%

Konsentrasi Enzim

Tanpa Ca(OH)2

10%
15%
20%

0,99%
0,559%
1,10%

Dengan
Ca(OH)2
0,576%
0,311
0,686

Data 3
Konsentrasi Enzim
5%
10%
15%

Konsentrasi Asam Sitrat


1,06%
1,038%
0,992%

VIII. PEMBAHASAN
Asam sitrat merupakan komponen senyawa alam yang banyak
terdapat pada berbagai jenis tanaman terutama buah-buah. Selain
digunakan sebagai penambah rasa asam pada makanan dan minuman
ringan. Ion sitrat sangat baik digunakan dalam larutan penyanga untuk
mengendalikan pH larutan. Ion sitrat dapat bereaksi dengan banyak ion
logam membentuk garam sitrat. Selain itu sitrat dapat mengikat ion-ion
logam dengan pengentalan sehingga digunakan sebagai pengawet dan
penghilang kesadahan air. Bizri (1994), produksi asam sitrat pertama kali
dilaporkan sebagai hasil sampingan pada fermentasi produksi asam oksalat
menggunakan penicillium glaucum. Aspergillus dapat menghasilkan asam
sitrat pada medium pH rendah dengan kadar gula tinggi. Sejak saat itu
asam sitrat diproduksi secara komersial dengan menggunakan kapang
Aspergillus Niger. Aspergillus niger dapat tumbuh pada suhu 35-37 C
(optimum), 6-8 C (minimum), 45-47 C (maksimum), dan memerlukan
oksigen yang cukup (aerobik). Ada 3 metode untuk proses produksi asam
sitrat yaitu proses ekstraksi sederhana, fermentasi, dan proses sintesa
secara kimia.
Pada praktikum ini metode yang digunakan untuk memproduksi
asam sitrat adalah metode fermentasi dengan menggunakan Aspergillus
Niger. Produksi asam sitrat pada proses fermentasi dipengaruhi oleh
beberapa faktor diantaranya adalah jenis media, pH, waktu fermentasi,
suhu, aerasi, dan mikroorganisme yang digunakan. Namun faktor yang
paling menentukan adalah media tumbuh (substrat) dan mikroorganisme
yang digunakan (Mangunwidjaja 1994). Sebelum proses fermentasi
terlebih dahulu perlu dilakukan propagasi. Propagasi atau
perbanyakan/pembiakan merupakan suatu metode persiapan yang
dilakukan untuk memperoleh jumlah dan konsentrasi suspensi sel yang
dapat mencukupi sesuai dengan tingkat kebutuhan pada saat inokulum.
Selain itu, tujuan dilakukan propagasi adalah agar A. niger yang telah
disimpan sebagai kultur stok dalam suhu rendah untuk periode relatif lama

mampu beradaptasi dengan kondisi pertumbuhan baru pada suhu kamar


dalam media cair.
Pada praktikum ini, metode kultivasi cair substrat yang digunakan
adalah ekstrak tauge. Ekstrak tauge tersebut selanjutnya dicampurkan
dengan (NH4)2SO4/NH4NO3 dan KH2PO4 sebagai sumber nitrogen, sumber
fosfat, dan sumber mineral. Sedangkan sumber karbo yang digunakan
adalah gula pasir (sukrosa). Menurut Kubicek dan Rohr (1989) gula pasir
baik dijadikan sebagai sumber glukosa oleh A. Niger karena memiliki
ikatan intervase miselium eksraseluler yang kuat dan aktif pada pH rendah
sehingga hidrolisis sukrosa relatif lebih cepat.
Untuk fermentasi asam sitrat pH medium optimum adalah 2-3.
Penggunaan pH medium rendah banyak menguntungkan yaitu hasil asam
sitrat yang tinggi dan mengurangi resiko kontaminasi pada saat fermentasi
oleh mikroorganisme lain. Selain itu, pH yang rendah juga menghambat
produksi dari asam organik yang tidak diinginkan (misalnya asam
glukonat, asam oksalat) dan hal ini membuat perbaikan asam sitrat dari
media cair. Menurut Papagianni (1995), meningkatnya pH selama fase
produksi akan menurunkan hasil asam sitrat sampai 80%.
Adapun tahap pertama yang dilakukan pada praktikum ini adalah
peremajaan mikroba dengan menggunakan media agar miring dengan
teknik penggoresan. Agar miring digunakan karena Aspergillus Niger
merupakan mikroba aerobik yakni membutukan oksigen yang cukup untuk
pertumbuhannya. Kemudian dilanjutkan dengan propagasi atau biasa
disebut starter dengan tujuan untuk memperbanyak biakan dan memberi
kesempatan pada mikroba untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan
atau media yang dipilih pada praktikum. Tahap selanjutnya adalah
pembuatan media produksi dimana kultur yang telah dibuat ditambahkan
sebanyak 10% kedalam media produksi untuk memproduksi asam sitrat.
Setelah itu dilakukan fermentasi selama 6-7 hari. Adapun hasil fermentasi
selajutnya diambil supernatannya (cairannya) untuk diuji kadar asam sitrat
yang dihasilkan.

Pada tahap pengujian, titrasi dilakukan secara duplo dimana data


konsentrasi yang diperoleh yaitu hampir sama untuk setiap produk. Produk
1 sebesar 0,7% dan produk 2 sebesar 0,6%. Untuk dapat mengetahui
bagaimana produk yang dihasilkan maka diambil data dari praktikum lain
agar diperoleh perbandingan dan kesimpulan perlakuan yang baik terhadap
sampel. Dapat dilihat pengamatan pada data 1 yang menggunakan variasi
penambahan Ca(OH)2 dan tanpa penambahan Ca(OH)2. Selanjutnya untuk
data 2 menggunakan variasi konsentrasi penambahan starter sebesar 10%,
15%, 20% dan penambahan Ca(OH)2. Sedangkan untuk data 3
menggunakan variasi konsentrasi 5%, 10%, dan 15%. Berdasarkan
keempat data yang telah diperoleh maka dapat diketahui bahwa dengan
penambahan Ca(OH)2 konsentrasi sampel menjadi berkurang seperti pada
data 1 konsentrasi asam sitrat yang dihasilkan tanpa penambahan Ca(OH)2
adalah 1,23% sedangkan dengan penambahan Ca(OH)2 konsentrasi
menjadi turun sebesar 0,98% begitupula dengan data 2. Hal ini disebabkan
karena penambahan Ca(OH)2 bukan digunakan untuk analisa secara
kuantitatif akan tetapi digunakan sebagai penentu pada analisa secara
kulitatif dimana dapat diketahui bahwa asam sitrat telah terbentuk setelah
adanya endapan putih.
Jika ditinjau dari variasi konsentrasi starter berdasarkan data hasil
pengamatan diperoleh konsentrasi asam sitrat yang berfluktuasi/tidak
menentu. Konsentrasi sam sitart untuk 5% sebesar 1,06% ; 10% sebesar
0,7% ; 0,99% (data 2), 1,038% (data 3) ; 15% sebesar 0,559% (data 2),
0,992% (data 3) ; dan untuk 20% sebesar 1,10%. Perbedaan konsentrasi
produk asam sitrat tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, salah
satu yang cukup berpengaruh adalah kondisi media starter dan media
produksi/fermentasi.
IX.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh kesimpulan antara lain:
Aspergillus Niger merupakan mikroorganisme aerobik yang
memerlukan oksigen pada pertumbuhannya (peremajaan).

Kondisi media pertumbuhan mikroba dan fermentasi mempengaruhi

kualitas produk.
Penambahan Ca(OH)2 hanya digunakan pada analisa secara kualitatif
yaitu untuk mengetahui terbentuk/tidaknya asam sitrat pada produk

yang ditandai dengan terbentuknya endapan putih.


Penambahan konsentrasi starter yang menghasilkan produk dengan
kadar tertinggi adalah pada penambahan sebesar 20%.

DAFTAR PUSTAKA
Basit, M Wajih Abdul, dkk. 2013. Produksi Asam Organik (Asam Sitrat) dengan
Kultivasi Cair dan Kultivasi Substrat Padat. Bogor: Fakultas Teknologi
Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Devi, Agustin Nabila. 2010. Penggunaan Aspergillus Niger Dalam Pembuatan
Asam Organik (Asam Sitrat) Dari Kulit Buah Kakao. Jember: Fakultas
Teknologi Pertanian, Universitas Jember.
Gurning, Jefry Riady. Asam Sitrat. Laboratorium Mikrobiologi Industri.
(www.scribd.com)
Indah, Wahyuningsih. Produksi Asam Sitrat dari Aspergillus Niger dalam
Bioreaktor. Scribd. (www.scribd.com)
Inggrid, Maria dan Ign Suharto. 2012. Fermentasi Glukosa oleh Aspergillus
Niger Menjadi Asam Glukonat. Lembaga Penelitian dan Pengabdian
Kepada Masyarakat, Universitas Katolik Parahayangan.
Syaputra, Ilham. Pembuatan Asam Sitrat. Scribd. (www.scribd.com)
Widyanti, Emmanuella Maria. 2010. Produksi Asam Sitrat dari Substrat Molase
pada Pengaruh Penambahan Vco (Virgin Coconut Oil) Terhadap
Produktivitas Aspergillus Niger ITBCC L74 Terimobilisasi. Semarang:
Universitas Diponegoro.