Anda di halaman 1dari 15

Hukum internasional

Hukum internasional adalah bagian hukum yang mengatur aktivitas entitas


berskala internasional. Pada awalnya, Hukum Internasional hanya diartikan sebagai
perilaku dan hubungan antarnegara namun dalam perkembangan pola hubungan
internasional yang semakin kompleks pengertian ini kemudian meluas sehingga
hukum internasional juga mengurusi struktur dan perilaku organisasi internasional
dan pada batas tertentu, perusahaan multinasional dan individu.
Hukum internasional adalah hukum bangsa-bangsa, hukum antarbangsa atau
hukum antarnegara. Hukum bangsa-bangsa dipergunakan untuk menunjukkan pada
kebiasaan dan aturan hukum yang berlaku dalam hubungan antara raja-raja zaman
dahulu. Hukum antarbangsa atau hukum antarnegara menunjukkan pada kompleks
kaedah dan asas yang mengatur hubungan antara anggota masyarakat bangsa-bangsa
atau negara.

Pengertian Hukum Internasional


Hukum internasional (HI) adalah bagian hukum yang mengatur aktivitas entitas
berskala internasional.
1. J.G. Starke, Hukum internasional, adalah sekumpulan hukum (body of law)
yang sebagian besar terdiri dari asas-asas dan karena itu biasanya ditaati dalam
hubungan antar negara.
2. Wirjono Prodjodikoro, Hukum internasional, adalah hukum yang mengatur
perhubungan hukum antara berbagai bangsa di berbagai negara.
3. Mochtar Kusumaatmadja, Hukum internasional, adalah keseluruhan kaidahkaidah dan asas-asas yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi
batas-batas negara antara :

negara dan negara

negara dan subjek hukum lain bukan negara atau subjek hukum bukan
negara satu sama lain.

Asal Mula Hukum Internasional


Bangsa Romawi sudah mengenal hukum internasional sejak tahun 89 SM,
dengan istilah Ius Gentium (hukum antar bangsa).
Ius Gentium yang kemudian berkembang menjadi Ius Inter Gentium ialah hukum
yang diterapkan bagi kaula negara (orang asing), yaitu orang-orang jajahan atau
orang-orang asing.
Kemudian berkembang menjadi Volkernrecht (bahasa Jerman), Droit des Gens
(bahasa Prancis) dan Law of Nations atau International Law (Bahasa Inggis).
Dalam perkembangan berikutnya, pemahaman
tentang hukum internasional dapat dibedakan dalam
2 (dua) hal, yaitu :

Hukum perdata Internasional, yaitu hukum internasional yang mengatur


hubungan hukum antar warga negara suatu negara dan warga negara dari
negara lain (hukum antar bangsa).

Hukum Publik Internasional, yaitu hukum internasional yang mengatur negara


yang satu dan negara yang lain dalam hubungan internasional (hukum antar
negara).

Hukum Internasional Dalam Arti Modern

Terwujudnya Hukum Internasional yang kita kenal sekarang mrp hasil konferensi
di Wina 1969.
Hukum Tertulis :
Bahwa ruang lingkup hukum internasional hanya berlaku utk perjanjianperjanjian antar negara.

Menghasilkan suatu perjanjian tertulis yang dikenal dengan nama Vienna


Convention on the Law of Treaties.

Perjanjian Internasional tertulis tunduk pada ketentuan hukum kebiasaan


internasional dan yurisprudensi atau prinsip-prinsip hukum umum.

Hukum Tidak Tertulis :


Masih terdapat hukum kebiasaan internasional (hukum tidak tertulis) yg ruang
lingkupnya hanya utk perjanjian antar negara.

Perjanjian-perjanjian antar negara dengan subjek hukum lain, ada pengaturan


tersendiri seperti perjanjian antar negara dan organisasi-organisasi
internasional.

Dalam perjanjian tidak tertulis (International Agreement Not in Written Form),


contohnya adalah Prancis (1973) mengadakan percobaan nuklir di Atol
Aruboa yg banyak menuai protes dari negara lain bahkan, masalahnya
diajukan kepada Mahkamah Internasional di Den Haag.

Selanjutnya negara Prancis tidak lagi melakukan percobaan sejenis dan bila
ingkar janji, negara lain dapat menuduh, memprotes dan mengadakan tuntutan.

Asas-asas Hukum Internasional

Dalam menjalin hubungan antar bangsa, setiap negara


harus memperhatikan asas-asas hukum internasional :
1. Asas Teritorial
2. Asas Kebangsaan
3. Asas Kepentingan Umum

Asas lain sebagai berikut :


1. Pacta sunt servanda
2. Egality rights
3. Reciprositas
4. Courtesy
5. Right sig stantibus
Sumber Hukum Internasional
Mochtar Kusumaatmadja, membedakan sumber hukum dalam arti material dan
sumber hukum dalam arti formal.
Dalam Arti Material :
Adalah sumber hukum yang membahas dasar berlakunya hukum suatu negara.
Dalam Arti Formal :
Adalah sumber dari mana kita mendapatkan atau menemukan ketentuan-ketentuan
hukum internasional.
Sumber-sumber hukum internasional sesuai Piagam Mahkamah Internasional
Pasal 38, sebagai berikut :
1. Perjanjian Internasional (Traktat = Treaty),
2. Kebiasaan-kebiasaan internasional yang terbukti dalam praktek umum dan
diterima sebagai hukum,
3. Asas-asas umum hukum yang diakui oleh bangsa-bangsa beradab,
4. Keputusan-keputusan hakim dan ajaran-ajaran para ahli hukum internasional
dari berbagai negara sebagai alat tambahan untuk menentukan hukum, dan
5. Pendapat-pendapat para ahli hukum terkemuka.
Subjek Hukum Internasional
1. Negara
2. Tahta Suci
3. Palang Merah Internasional
4. Organisasi Internasional
5. Orang Perseorangan
6. Pemberontak dan Pihak dalam Sengket

Perbedaan dan persamaan Hukum Internasional Publik


dengan Hukum Perdata Internasional
Hukum Internasional publik berbeda dengan Hukum Perdata Internasional.
Hukum Perdata Internasional ialah keseluruhan kaedah dan asas hukum yang
mengatur hubungan perdata yang melintasi batas negara atau hukum yang mengatur
hubungan hukum perdata antara para pelaku hukum yang masing-masing tunduk pada
hukum perdata (nasional) yang berlainan. Sedangkan Hukum Internasional adalah
keseluruhan kaidah dan asas hukum yang mengatur hubungan atau persoalan yang
melintasi batas negara (hubungan internasional) yang bukan bersifat perdata.
Persamaannya adalah bahwa keduanya mengatur hubungan atau persoalan
yang melintasi batas negara(internasional). Perbedaannya adalah sifat hukum atau
persoalan yang diaturnya (obyeknya).

Bentuk Hukum internasional


Hukum Internasional terdapat beberapa bentuk perwujudan atau pola
perkembangan yang khusus berlaku di suatu bagian dunia (region) tertentu :
Hukum Internasional Regional
Hukum Internasional yang berlaku/terbatas daerah lingkungan berlakunya,
seperti Hukum Internasional Amerika / Amerika Latin, seperti konsep landasan
kontinen (Continental Shelf) dan konsep perlindungan kekayaan hayati laut
(conservation of the living resources of the sea) yang mula-mula tumbuh di Benua
Amerika sehingga menjadi hukum Internasional Umum.
Hukum Internasional Khusus
Hukum Internasional dalam bentuk kaedah yang khusus berlaku bagi negaranegara tertentu seperti Konvensi Eropa mengenai HAM sebagai cerminan keadaan,
kebutuhan, taraf perkembangan dan tingkat integritas yang berbeda-beda dari bagian
masyarakat yang berlainan. Berbeda dengan regional yang tumbuh melalui proses
hukum kebiasaan.

Hukum Internasional dan Hukum Dunia


Hukum Internasional didasarkan atas pikiran adanya masyarakat internasional
yang terdiri atas sejumlah negara yang berdaulat dan merdeka dalam arti masingmasing berdiri sendiri yang satu tidak dibawah kekuasaan lain sehingga merupakan
suatu tertib hukum koordinasi antara anggota masyarakat internasional yang sederajat.
Hukum Dunia berpangkal pada dasar pikiran lain. Dipengaruhi analogi dengan
Hukum Tata Negara (constitusional law), hukum dunia merupakan semacam negara
(federasi) dunia yang meliputi semua negara di dunia ini. Negara dunia secara hirarki
berdiri di atas negara-negara nasional. Tertib hukum dunia menurut konsep ini
merupakan suatu tertib hukum subordinasi.

Masyarakat dan Hukum Internasional

Adanya masyarakat-masyarakat Internasional sebagai landasan sosiologis


hukum internasional.

1. Adanya suatu masyarakat Internasional. Adanya masyarakat internasional


ditunjukkan adanya hubungan yang terdapat antara anggota masyarakat
internasional, karena adanya kebutuhan yang disebabkan antara lain oleh
pembagian kekayaan dan perkembangan industri yang tidak merata di dunia
seperti adanya perniagaan atau pula hubungan di lapangan kebudayaan, ilmu
pengetahuan, keagamaan, sosial dan olah raga mengakibatkan timbulnya
kepentingan untuk memelihara dan mengatur hubungan bersama merupakan
suatu kepentingan bersama. Untuk menertibkan, mengatur dan memelihara
hubungan Internasional inilah dibutuhkan hukum dunia menjamin unsur
kepastian yang diperlukan dalam setiap hubungan yang teratur. Masyarakat
Internasional pada hakekatnya adalah hubungan kehidupan antar manusia dan
merupakan suatu kompleks kehidupan bersama yang terdiri dari aneka ragam
masyarakat yang menjalin dengan erat.
2. Asas hukum yang bersamaan sebagai unsur masyarakat hukum internasional.
Suatu kumpulan bangsa untuk dapat benar-benar dikatakan suatu masyarakat
Hukum Internasional harus ada unsur pengikat yaitu adanya asas kesamaan
hukum antara bangsa-bangsa di dunia ini. Betapapun berlainan wujudnya
hukum positif yang berlaku di tiap-tiap negara tanpa adanya suatu masyarakat
hukum bangsa-bangsa merupakan hukum alam (naturerech) yang
mengharuskan bangsa-bangsa di dunia hidup berdampingan secara damai
dapat dikembalikan pada akal manusia (ratio) dan naluri untuk
mempertahankan jenisnya.

Kedaulatan Negara : Hakekat dan Fungsinya Dalam Masyarakat Internasional.

Negara dikatakan berdaulat (sovereian) karena kedaulatan merupakan suatu sifat


atau ciri hakiki negara. Negara berdaulat berarti negara itu mempunyai kekuasaan
tertentu. Negara itu tidak mengakui suatu kekuasaan yang lebih tinggi daripada
kekuasaannya sendiri dan mengandung 2 (dua) pembatasan penting dalam dirinya:
1. Kekuasaan itu berakhir dimana kekuasaan suatu negara lain mulai.
2. Kekuasaan itu terbatas pada batas wilayah negara yang memiliki kekuasaan
itu.
Konsep kedaulatan, kemerdekaan dan kesamaan derajat tidak bertentangan satu
dengan lain bahkan merupakan perwujudan dan pelaksanaan pengertian kedaulatan
dalam arti wajar dan sebagai syarat mutlak bagi terciptanya suatu masyarakat
Internasional yang teratur.

Masyarakat Internasional dalam peralihan: perubahan-perubahan dalam peta


bumi politik, kemajuan teknologi dan struktur masyarakat internasional.

Masyarakat Internasional mengalami berbagai perubahan yang besar dan pokok


ialah perbaikan peta bumi politik yang terjadi terutama setelah Perang Dunia II.

Proses ini sudah dimulai pada permulaan abad XX mengubah pola kekuasaan politik
di dunia. Timbulnya negara-negara baru yang merdeka, berdaulat dan sama derajatnya
satu dengan yang lain terutama sesudah Perang Dunia

Perubahan Kedua ialah kemajuan teknologi.

Kemajuan teknologi berbagai alat perhubungan menambah mudahnya perhubungan


yang melintasi batas negara.
Perkembangan golongan ialah timbulnya berbagai organisasi atau lembaga
internasional yang mempunyai eksistensi terlepas dari negara-negara dan adanya
perkembangan yang memberikan kompetensi hukum kepada para individu. Kedua
gejala ini menunjukkan bahwa disamping mulai terlaksananya suatu masyarakat
internasional dalam arti yang benar dan efektif berdasarkan asas kedaulatan,
kemerdekaan dan persamaan derajat antar negara sehingga dengan demikian terjelma
Hukum Internasional sebagai hukum koordinasi, timbul suatu komplek kaedah yang
lebih memperlihatkan ciri-ciri hukum subordinasi.

Sejarah dan Perkembangannya


Hukum Internasional modern sebagai suatu sistem hukum yang mengatur
hubungan antara negara-negara, lahir dengan kelahiran masyarakat Internasional yang
didasarkan atas negara-negara nasional. Sebagai titik saat lahirnya negara-negara
nasional yang modern biasanya diambil saat ditandatanganinya Perjanjian Perdamaian
Westphalia yang mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun di Eropa.
Zaman dahulu kala sudah terdapat ketentuan yang mengatur, hubungan antara
raja-raja atau bangsa-bangsa:
Dalam lingkungan kebudayaan India Kuno telah terdapat kaedah dan lembaga
hukum yang mengatur hubungan antar kasta, suku-suku bangsa dan raja-raja yang
diatur oleh adat kebiasaan. Menurut Bannerjce, adat kebiasaan yang mengatur
hubungan antara raja-raja dinamakan Desa Dharma. Pujangga yang terkenal pada saat
itu Kautilya atau Chanakya.Penulis buku Artha Sastra Gautamasutra salah satu karya
abad VI SM di bidang hukum.

Kebudayaan Yahudi
Dalam hukum kuno mereka antara lain Kitab Perjanjian Lama, mengenal
ketentuan mengenai perjanjian, diperlakukan terhadap orang asing dan cara
melakukan perang.Dalam hukum perang masih dibedakan (dalam hukum perang
Yahudi ini) perlakuan terhadap mereka yang dianggap musuh bebuyutan, sehingga
diperbolehkan diadakan penyimpangan ketentuan perang.
Lingkungan kebudayaan Yunani.Hidup dalam negara-negara kita.Menurut
hukum negara kota penduduk digolongkan dalam 2 golongan yaitu orang Yunani dan
orang luar yang dianggap sebagai orang biadab (barbar). Masyarakat Yunani sudah
mengenal ketentuan mengenai perwasitan (arbitration) dan diplomasi yang tinggi
tingkat perkembangannya.

Sumbangan yang berharga untuk Hukum Internasional waktu itu ialah konsep
hukum alam yaitu hukum yang berlaku secara mutlak dimanapun juga dan yang
berasal dari rasion atau akal manusia.
Hukum Internasional sebagai hukum yang mengatur hubungan antara
kerajaan-kerajaan tidak mengalami perkembangan yang pesat pada zaman Romawi.
Karena masyarakat dunia merupakan satu imperium yaitu imperium roma yang
menguasai seluruh wilayah dalam lingkungan kebudayaan Romawi. Sehingga tidak
ada tempat bagi kerajaan-kerajaan yang terpisah dan dengan sendirinya tidak ada pula
tempat bagi hukum bangsa-bangsa yang mengatur hubungan antara kerajaan-kerajaan.
Hukum Romawi telah menyumbangkan banyak sekali asas atau konsep yang
kemudian diterima dalam hukum Internasional ialah konsep seperti occupatio servitut
dan bona fides. Juga asas pacta sunt servanda merupakan warisan kebudayaan
Romawi yang berharga.

Abad pertengahan
Selama abad pertengahan dunia Barat dikuasai oleh satu sistem feodal yang
berpuncak pada kaisar sedangkan kehidupan gereja berpuncak pada Paus sebagai
Kepala Gereja Katolik Roma. Masyarakat Eropa waktu itu merupakan satu
masyarakat Kristen yang terdiri dari beberapa negara yang berdaulat dan Tahta Suci,
kemudian sebagai pewaris kebudayaan Romawi dan Yunani.
Di samping masyarakat Eropa Barat, pada waktu itu terdapat 2 masyarakat
besar lain yang termasuk lingkungan kebudayaan yang berlaianan yaitu Kekaisaran
Byzantium dan Dunia Islam. Kekaisaran Byzantium sedang menurun mempraktekan
diplomasi untuk mempertahankan supremasinya. Oleh karenanya praktek Diplomasi
sebagai sumbangan yang terpenting dalam perkembangan Hukum Internasional dan
Dunia Islam terletak di bidang Hukum Perang.
Perjanjian Westphalia
Perjanjian Damai Westphalia terdiri dari dua perjanjian yang ditandatangani di dua
kota di wilayah Westphalia, yaitu di Osnabrck (15 Mei 1648) dan di Mnster (24
Oktober 1648). Kedua perjanjian ini mengakhiri Perang 30 Tahun (1618-1648) yang
berlangsung di Kekaisaran Suci Romawi dan Perang 80 Tahun (1568-1648) antara
Spanyol dan Belanda.
Perdamaian Westphalia dianggap sebagai peristiwa penting dalam sejarah Hukum
Internasional modern, bahkan dianggap sebagai suatu peristiwa Hukum Internasional
modern yang didasarkan atas negara-negara nasional. Sebabnya adalah :
1. Selain mengakhiri perang 30 tahun, Perjanjian Westphalia telah meneguhkan
perubahan dalam peta bumi politik yang telah terjadi karena perang itu di
Eropa .
2. Perjanjian perdamaian mengakhiri untuk selama-lamanya usaha Kaisar
Romawi yang suci.
3. Hubungan antara negara-negara dilepaskan dari persoalan hubungan
kegerejaan dan didasarkan atas kepentingan nasional negara itu masingmasing.

4. Kemerdekaan negara Belanda, Swiss dan negara-negara kecil di Jerman diakui


dalam Perjanjian Westphalia.
Perjanjian Westphalia meletakkan dasar bagi susunan masyarakat Internasional
yang baru, baik mengenai bentuknya yaitu didasarkan atas negara-negara nasional
(tidak lagi didasarkan atas kerajaan-kerajaan) maupun mengenai hakekat negara itu
dan pemerintahannya yakni pemisahan kekuasaan negara dan pemerintahan dari
pengaruh gereja.
Dasar-dasar yang diletakkan dalam Perjanjian Westphalia diperteguh dalam
Perjanjian Utrech yang penting artinya dilihat dari sudut politik Internasional, karena
menerima asas keseimbangan kekuatan sebagai asas politik internasional.
Ciri-ciri masyarakat Internasional
1. Negara merupakan satuan teritorial yang berdaulat.
2. Hubungan nasional yang satu dengan yang lainnya didasarkan atas
kemerdekaan dan persamaan derajat.
3. Masyarakat negara-negara tidak mengakui kekuasaan di atas mereka seperti
seorang kaisar pada zaman abad pertengahan dan Paus sebagai Kepala Gereja.
4. Hubungan antara negara-negara berdasarkan atas hukum yang banyak
mengambil alih pengertian lembaga Hukum Perdata, Hukum Romawi.
5. Negara mengakui adanya Hukum Internasional sebagai hukum yang mengatur
hubungan antar negara tetapi menekankan peranan yang besar yang dimainkan
negara dalam kepatuhan terhadap hukum ini.
6. Tidak adanya Mahkamah (Internasional) dan kekuatan polisi internasional
untuk memaksakan ditaatinya ketentuan hukum Internasional.
7. Anggapan terhadap perang yang dengan lunturnya segi-segi keagamaan
beralih dari anggapan mengenai doktrin bellum justum (ajaran perang suci)
kearah ajaran yang menganggap perang sebagai salah satu cara penggunaan
kekerasan.

Tokoh Hukum Internasional

Hugo Grotius mendasarkan sistem hukum Internasional atas berlakunya


hukum alam. Hukum alam telah dilepaskan dari pengaruh keagamaan dan
kegerejaan. Banyak didasarkan atas praktek negara dan perjanjian negara
sebagai sumber Hukum Internasional disamping hukum alam yang diilhami
oleh akal manusia, sehingga disebut Bapak Hukum Internasional.
Fransisco Vittoria (biarawan Dominikan berkebangsaan Spanyol Abad XIV
menulis buku Relectio de Indis mengenai hubungan Spanyol dan Portugis
dengan orang Indian di AS. Bahwa negara dalam tingkah lakunya tidak bisa
bertindak sekehendak hatinya. Maka hukum bangsa-bangsa ia namakan ius
intergentes.
Fransisco Suarez (Yesuit) menulis De legibius ae Deo legislatore (on laws and
God as legislator) mengemukakan adanya suatu hukum atau kaedah obyektif
yang harus dituruti oleh negara-negara dalam hubungan antara mereka.

Balthazer Ayala (1548-1584) dan Alberico Gentilis mendasarkan ajaran


mereka atas falsafah keagamaan atau tidak ada pemisahan antara hukum, etika
dan teologi.

Hugo Grotius mendasarkan sistem hukum Internasional atas berlakunya hukum


alam. Hukum alam telah dilepaskan dari pengaruh keagamaan dan kegerejaan.
Banyak didasarkan atas praktek negara dan perjanjian negara sebagai sumber Hukum
Internasional disamping hukum alam yang diilhami oleh akal manusia, sehingga
disebut Bapak Hukum Internasional.

Fransisco Vittoria (biarawan Dominikan berkebangsaan Spanyol Abad XIV


menulis buku Relectio de Indis mengenai hubungan Spanyol dan Portugis
dengan orang Indian di AS. Bahwa negara dalam tingkah lakunya tidak bisa
bertindak sekehendak hatinya. Maka hukum bangsa-bangsa ia namakan ius
intergentes.
Fransisco Suarez (Yesuit) menulis De legibius ae Deo legislatore (on laws and
God as legislator) mengemukakan adanya suatu hukum atau kaedah obyektif
yang harus dituruti oleh negara-negara dalam hubungan antara mereka.
Balthazer Ayala (1548-1584) dan Alberico Gentilis mendasarkan ajaran
mereka atas falsafah keagamaan atau tidak ada pemisahan antara hukum, etika
dan teologi.

Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_internasional"

Keputusan
Hukum.

Mahkamah

Internasional

Merupakan

Keputusan

Putusan Mahkamah Internasional umumnya bersifat final dan mengikat para


pihak yang bersengketa; namun dalam hal-hal khusus upaya banding terhadap putusan
arbitrase kepada Mahkamah Internasional dimungkinkan. Contohnya adalah: Dalam
Guinea Bissau vs. Senegal Case (1991), Mahkamah Internasional memberikan
beberapa alasan yang memungkinkan adanya upaya banding terhadap putusan, yaitu:
Excess de Pouvoir yaitu: badan arbitrase memutuskan suatu sengketa melebihi
wewenang yang diberikan para pihak atau yang tidak diminta para pihak; Para arbiter
tidak mencapai suara putusan secara mayoritas; dan Tidak cukupnya alasan-alasan
bagi putusan yang dikeluarkan.
Seluruh anggota PBB secara otomatis menjadi anggota Mahkamah
Internasional oleh karena itu jika terjadi sengketa maka sudah menjadi ketentuan bagi
negara-negara anggota untuk menggunakan haknya bila merasa dirugikan oleh negara
lain. Akan tetapi sebaliknya jika suatu keputusan Mahkamah internasional telah
diputuskan segala konsekuensi yang ada harus diterima. Hal itu mengingat bahwa apa
yang menjadi putusan Mahkamah internasional merupakan keputusan terakhir
walaupun dapat dimintakan Banding.
Contohnya Indonesia dan Malaysia pernah berurusan dengan Mahkamah
Internasional (MI) untuk menyelesaikan sengketa pemilikan pulau Sipadan . Dalam
proses persidangan di MI, pihak Malaysia dinyatakan pemilik syah pulau itu. jadi

dengan alasan tertentu dan rasional tentunya Kita menghargai keputusan dari MI
tersebut.

SENGKETA INTERNASIONAL
Ditinjau dari konteks hukum internasional publik, sengketa dapat didefinisikan
sebagai ketidaksepakatan salah satu subyek mengenai sebuah fakta, hukum, atau
kebijakan yang kemudian dibantah oleh pihak lain atau adanya ketidaksepakatan
mengenai masalah hukum atau fakta-fakta atau konflik mengenai penafsiran atau
kepentingan antara 2 bangsa yang berbeda.
Dalam Case Concerning East Timor (Portugal vs. Australia), Mahkamah
Internasional (ICJ) menetapkan 4 kriteria sengketa yaitu:
1. Didasarkan pada kriteria-kriteria objektif. Maksudnya adalah dengan melihat faktafakta yang ada.
Contoh: Kasus penyerbuan Amerika Serikat dan Inggris ke Irak
2. Tidak didasarkan pada argumentasi salah satu pihak.
Contoh: USA vs. Iran 1979 (Iran case). Dalam kasus ini Mahkamah Internasional
dalam mengambil putusan tidak hanya berdasarkan argumentasi dari Amerika Serikat,
tetapi juga Iran.
3. Penyangkalan mengenai suatu peristiwa atau fakta oleh salah satu pihak tentang
adanya sengketa tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa tidak ada sengketa.
Contoh: Case Concerning the Nothern Cameroons 1967 (Cameroons vs. United
Kingdom). Dalam kasus ini Inggris menyatakan bahwa tidak ada sengketa antara
Inggris dan Kamerun, bahkan Inggris mengatakan bahwa sengketa tersebut terjadi
antara Kamerun dan PBB. Dari kasus antara Inggris dan Kamerun ini dapat
disimpulkan bahwa bukan para pihak yang bersengketa yang memutuskan ada
tidaknya sengketa, tetapi harus diselesaikan/diputuskan oleh pihak ketiga.
4. Adanya sikap yang saling bertentangan/berlawanan dari kedua belah pihak yang
bersengketa.
Contoh: Case Concerning the Applicability of the Obligation to Arbitrate under
section 21 of the United Nations Headquarters agreement of 26 June 1947.
Berbagai metode penyelesaian sengketa telah berkembang sesuai dengan tuntutan
jaman. Metode penyelesaian sengketa dengan kekerasan, misalnya perang, invasi, dan
lainnya, telah menjadi solusi bagi negara sebagai aktor utama dalam hukum
internasional klasik. Cara-cara kekerasan yang digunakan tersebut akhirnya
direkomendasikan untuk tidak digunakan lagi semenjak lahirnya The Hague Peace
Conference pada tahun 1899 dan 1907, yang kemudian menghasilkan Convention on
the Pacific Settlement of International Disputes 1907. Namun karena sifatnya yang
rekomendatif dan tidak mengikat, konvensi tersebut tidak mempunyai kekuatan
memaksa untuk melarang negara-negara melakukan kekerasan sebagai metode
penyelesaian sengketa.

Karakteristik dari Sengketa Internasional adalah:


1. Sengketa internasional yang melibatkan subjek hukum internasional (a Direct
International Disputes),
Contoh: Toonen vs. Australia. Toonen menggugat Australia ke Komisi Tinggi HAM
PBB karena telah mengeluarkan peraturan yang sangat diskriminasi terhadap kaum
Gay dan Lesbian. Dan menurut Toonen pemerintah Australia telah melanggar Pasal 2
ayat (1), Pasal 17 dan Pasal 26 ICCPR. Dalam kasus ini Komisi Tinggi HAM
menetapkan bahwa pemerintah Australia telah melanggar Pasal 17 ICCPR dan untuk
itu pemerintah Australia dalam waktu 90 hari diminta mengambil tindakan untuk
segera mencabut peraturan tersebut.
2. Sengketa yang pada awalnya bukan sengketa internasional, tapi karena sifat dari
kasus itu menjadikan sengketa itu sengketa internasional (an Indirect International
Disputes).
Suatu perisitiwa atau keadaan yang bisa menyebabkan suatu sengketa bisa
menjadi sengketa internasional adalahaadanya kerugian yang diderita secara langsung
oleh WNA yang dilakukan pemerintah setempat. Contoh: kasus penembakan WN
Amerika Serikat di Freeport.

Penyelesaian persengketaan internasional


Kedamaian dan keamanan internasional hanya dapat diwujudkan apabila tidak
ada kekerasan yang digunakan dalam menyelesaikan sengketa, yang ditegaskan dalam
pasal 2 ayat (4) Piagam. Penyelesaian sengketa secara damai ini, kemudian dijelaskan
lebih lanjut dalam pasal 33 Piagam yang mencantumkan beberapa cara damai dalam
menyelesaikan sengketa, diantaranya :
Penyelesaian Secara Politik/Diplomatik
a. Negosiasi
Negosiasi adalah perundingan yang dilakukan secara langsung antara para
pihak dengan tujuan untuk menyelesaikan sengketa melalui dialog tanpa melibatkan
pihak ketiga. Negosiasi merupakan cara penyelesaian sengketa yang paling dasar dan
paling tuas digunakan oleh umat manusia. Pasal 33 ayat (1) Piagam PBB
menempatkan negosiasi sebagai cara pertama dalam menyelesaikan sengketa.
Perundingan merupakan pertukaran pandangan dan usul-usul antara dua pihak untuk
menyelesaikan suatu persengketaan, jadi tidak melibatkan pihak ketiga.
Segi positif/kelebihan dari negosiasi adalah:
1. Para pihak sendiri yang menyelesaikan kasus dengan pihak lainnya;

2. Para pihak memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana cara penyelesaian


melalui negosiasi dilakukan menurut kesepakatan bersama;
3. Para pihak mengawasi atau memantau secara langsung prosedur penyelesaian;
4. Negosiasi menghindari perhatian publik dan tekanan politik dalam negeri.
Segi negatif/kelemahan dari negosiasi adalah:
1. Negosiasi tidak pernah akan tercapai apabila salah satu pihak berpendirian keras;
2. Negosiasi menutup kemungkinan keikutsertaan pihak ketiga, artinya kalau salah
satu pihak berkedudukan lemah tidak ada pihak yang membantu.
Keuntungan yang diperoleh ketika negara yang bersengketa menggunakan mekanisme
negosiasi, antara lain :
(1) Para pihak memiliki kebebasan untuk menentukan penyelesaian sesuai dengan
kesepakatan diantara mereka
(2) Para pihak mengawasi dan memantau secara langsung prosedur penyelesaiannya
(3) Dapat menghindari perhatian publik dan tekanan politik dalam negeri.
(4) Para pihak mencari penyelesaian yang bersifat win-win solution, sehingga dapat
diterima dan memuaskan kedua belah pihak
b. Enquiry atau penyelidikan
J.G.Merrills menyatakan bahwa salah satu penyebab munculnya sengketa
antar negara adalah karena adanya ketidaksepakatan para pihak mengenai fakta.
Untuk menyelesaikan sengketa ini, akan bergantung pada penguraian fakta-fakta para
pihak yang tidak disepakati. Untuk menyelesaikan sengketa tersebut, para pihak
kemudian membentuk sebuah badan yang bertugas untuk menyelidiki fakta-fakta
yang terjadi di lapangan. Fakta-fakta yang ditemukan ini kemudian dilaporakan
kepada para pihak, sehingga para pihak dapat menyelesaikan sengketa diantara
mereka.
Dalam beberapa kasus, badan yang bertugas untuk menyelidiki fakta-fakta
dalam sengketa internasional dibuat oleh PBB. Namun dalam konteks ini, enquiry
yang dimaksud adalah sebuah badan yang dibentuk oleh negara yang bersengketa.
Enquiry telah dikenal sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan sengketa
internasional semenjak lahirnya The Hague Convention pada tahun 1899, yang
kemudian diteruskan pada tahun 1907.
c. Mediasi
Melibatkan pihak ketiga (third party) yang dipilih oleh para pihak yang
bersengketa. Pihak ketiga dapat berupa individu atau kelompok (individual or group),
negara atau kelompok negara atau organisasi internasional.
Dalam mediasi, negara ketiga bukan hanya sekedar mengusahakan agar para
pihak yang bersengketa saling bertemu, tetapi juga mengusahakan dasar-dasar
perundingan dan ikut aktif dalam perundingan, contoh: mediasi yang dilakukan oleh
Komisi Tiga Negara (Australia, Amerika, Belgia) yang dibentuk oleh PBB pada bulan
Agustus 1947 untuk mencari penyelesaian sengketa antara Indonesia dan Belanda dan
juga mediasi yang dilakukan oleh Presiden Jimmy Carter untuk mencari penyelesaian
sengketa antara Israel dan Mesir hingga menghasilkan Perjanjian Camp David 1979.
Dengan demikian, dalam mediasi pihak ketiga terlibat secara aktif (more active and

actually takes part in the negotiation).


Mediasi biasanya dilakukan oleh pihak ketiga ketika pihak yang bersengketa
tidak menemukan jalan keluar dalam penyelesaian suatu masalah.Maka pihak ketiga
merupakan salah satu jalan keluar dari jalan buntu perundingan yang telah terjadi dan
memberikan solusi yang dapat diterima oleh kedua belah pihak. Seorang mediator
harus netral (tidak memihak salah satu pihak yang bersengketa) dan independen.
Dalam menjalankan tugasnya, mediator tidak terikat pada suatu hukum acara tertentu
dan tidak dibatasi pada hukum yang ada. Mediator dapat menggunakan asas ex aequo
et bono untuk menyelesaikan sengketa yang ada.
Ketika negara-negara yang menjadi para pihak dalam suatu sengketa
internasional tidak dapat menemukan pemecahan masalahnya melalui negosiasi,
intervensi yang dilakukan oleh pihak ketiga adalah sebuah cara yang mungkin untuk
keluar dari jalan buntu perundingan yang telah terjadi dan memberikan solusi yang
dapat diterima oleh kedua belah pihak. Pihak ketiga yang melaksanakan mediasi ini
tentu saja harus bersifat netral dan independen. Sehingga dapat memberikan saran
yang tidak memihak salah satu negara pihak sengketa.
Intervensi yang dilakukan oleh pihak ketiga ini dapat dilakukan dalam
beberapa bentuk. Misalnya, pihak ketiga memberikan saran kepada kedua belah pihak
untuk melakukan negosiasi ulang, atau bisa saja pihak ketiga hanya menyediakan
jalur komunikasi tambahan.
Pelaksanaan mediasi dalam penyelesaian sengketa internasional diatur dalam
beberapa perjanjian internasional, antara lain The Hague Convention 1907; UN
Charter; The European Convention for the Peaceful Settlement of Disputes.
d. Konsiliasi
Sama seperti mediasi, penyelesaian sengketa melalui cara konsiliasi
menggunakan intervensi pihak ketiga. Pihak ketiga yang melakukan intervensi ini
biasanya adalah negara, namun bisa juga sebuah komisi yang dibentuk oleh para
pihak. Komisi konsiliasi yang dibentuk oleh para pihak dapat saja terlembaga atau
bersifat ad hoc, yang kemudian memberikan persyaratan penyelesaian yang diterima
oleh para pihak. Namun keputusan yang diberikan oleh komisi konsiliasi ini tidak
mengikat para pihak.
Proses penyelesaian sengketa melalui konsiliasi mempunyai kemiripan dengan
mediasi. Pembedaan yang dapat diketahui dari kedua cara ini adalah konsiliasi
memiliki hukum acara yang lebih formal jika dibandingkan dengan mediasi. Karena
dalam konsiliasi ada beberapa tahap yang biasanya harus dilalui, yaitu penyerahan
sengketa kepada komisi konsiliasi, kemudian komisi akan mendengarkan keterangan
lisan para pihak, dan berdasarkan fakta-fakta yang diberikan oleh para pihak secara
lisan tersebut komisi konsiliasi akan menyerahkan laporan kepada para pihak disertai
dengan kesimpulan dan usulan penyelesaian sengketa.
Konsiliasi merupakan suatu cara penyelesaian sengketa oleh suatu organ yang
dibentuk sebelumnya atau dibentuk kemudian atas kesepakatan para pihak yang
bersengketa. Organ yang dibentuk tersebut mengajukan usul-usul penyelesaian
kepada para pihak yang bersengketa (to the ascertain the facts and suggesting possible
solution). Rekomendasi yang diberikan oleh organ tersebut tidak bersifat mengikat
(the recommendation of the commission is not binding).
Contoh dari konsiliasi adalah pada sengketa antara Thailand dan Perancis,
kedua belah pihak sepakat untuk membentuk Komisi Konsiliasi. Dalam kasus ini
Thailand selalu menuntut sebagian dari wilayah Laos dan Kamboja yang terletak di

bagian Timur tapal batasnya. Karena waktu itu Laos dan Kamboja adalah protektorat
Perancis maka sengketa ini menyangkut antara Thailand dan Perancis.
e. Good Offices atau jasa-jasa baik
Jasa-jasa baik adalah cara penyelesaian sengketa melalui bantuan pihak ketiga.
Pihak ketiga berupaya agar para pihak yang bersengketa menyelesaikan sengketanya
dengan negosiasi. Menurut pendapat Bindschedler, yang dikutip oleh Huala Adolf,
jasa baik dapat didefinisikan sebagai berikut: the involvement of one or more States
or an international organization in a dispute between states with the aim of settling it
or contributing to its settlement.
Pada pelaksanaan di lapangan, jasa baik dapat dibedakan dalam dua bentuk,
yaitu jasa baik teknis (technical good offices), dan jasa baik politis (political good
offices). Jasa baik teknis adalah jasa baik oleh negara atau organisasi internasional
dengan cara mengundang para pihak yang bersengketa ikut serta dalam konferensi
atau menyelenggarakan konferensi. Tujuan dari jasa baik teknis ini adalah
mengembalikan atau memelihara hubungan atau kontak langsung di antara para pihak
yang bersengketa setelah hubungan diplomatik mereka terputus. Sedangkan jasa baik
politis adalah jasa baik yang dilakukan oleh negara atau organisasi internasional yang
berupaya menciptakan suatu perdamaian atau menghentikan suatu peperangan yang
diikuti dengan diadakannya negosiasi atau suatu kompetensi.
Penyelesaian sengketa secara hukum yaitu :
a Arbitrase
Arbitrasi modern yang diakui adalah sejak Jay Treatry 1974 antara Amerika
dan Inggris, yang mengatur tentang pembentukan tiga Joint Mixed Commission
untuk menyelesaikan beberapa perselisihan tertentu yang tidak dapat diseleesaikan
selama perundingan traktat tersebut. Orang menyerahkan sengketa pada orang-orang
tertentu dinamakan para arbitrator. Arbitrator yang dipilihkan secara bebas oleh
berbagai pihak sekaligus yang memutuskan, tanpa terlalu terikat pada pertimbanganpertimbangan hukum.
b.Judicial Settlement atau Pengadilan
Selain arbitrase, lembaga lain yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan
sengketa internasional melalui jalur hukum adalah pengadilan internasional. Pada saat
ini ada beberapa pengadilan internasional dan pengadilan internasional regional yang
hadir untuk menyelesaikan berbagai macam sengketa internasional. Misalnya
International Court of Justice (ICJ), International Criminal Court, International
Tribunal on the Law of the Sea, European Court for Human Rights, dan lainnya.
Kehadiran pengadilan internasional sesungguhnya telah dikenal sejak eksisnya
Liga Bangsa-Bangsa, yaitu melalui Permanent Court of International Justice (PCIJ).
Namun seiring dengan bubarnya LBB pasca Perang Dunia II, maka tugas dari PCIJ
diteruskan oleh ICJ sejalan dengan peralihan dari LBB kepada PBB.
Penyelesaian sengketa internasional melalui jalur hukum berarti adanya
pengurangan kedaulatan terhadap pihak-pihak yang bersengketa. Karena tidak ada
lagi keleluasaan yang dimiliki oleh para pihak, misalnya seperti memilih hakim,

memilih hukum dan hukum acara yang digunakan. Tetapi dengan bersengketa di
pengadilan internasional, maka para pihak akan mendapatkan putusan yang mengikat
masing-masing pihak yang bersengketa.
g. Organisasi-organisasi atau Badan-badan Regional.
Prinsip-Prinsip Penyelesaian Sengketa Secara Damai adalah:
1. Prinsip itikad baik (good faith);
2. Prinsip larangan penggunaan kekerasan dalam penyelesaian sengketa;
3. Prinsip kebebasan memilih cara-cara penyelesaian sengketa;
4. Prinsip kebebasan memilih hukum yang akan diterapkan terhadap pokok sengketa;
5. Prinsip kesepakatan para pihak yang bersengketa (konsensus);
6. Prinsip penggunaan terlebih dahulu hukum nasional negara untuk menyelesaikan
suatu sengketa prinsip exhaustion of local remedies);
7. Prinsip-prinsip hukum internasional tentang kedaulatan, kemerdekaan, dan
integritas wilayah negara-negara.
Disamping ketujuh prinsip di atas, Office of the Legal Affairs PBB memuat prinsipprinsip lain yang bersifat tambahan, yaitu:
1. Prinsip larangan intervensi baik terhadap masalah dalam atau luar negeri para
pihak;
2. Prinsip persamaan hak dan penentuan nasib sendiri;
3. Prinsip persamaan kedaulatan negara-negara;
4. Prinsip kemerdekaan dan hukum internasional.