Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH SIMPLISIA

MAKANAN MINUMAN HERBAL / HACCP


Guru Pengampu : Ibu Tri Sukma Anggraeni, S.TP., M.Sc.

Disusun oleh :
ARIF KURNIAWAN
(07)
BENI PUTRI REJEKI
(12)
LIA WIDIAWATI
(19)
MUHAMAD HERU S
(23)
REZA ANIANDHITA
(27)
TRI ARI YADI
(34)

Kelompok 4 / 2 TPHP4

SMK NEGERI 1 ( STM PEMBANGUNAN ) TEMANGGUNG


Jalan Kadar Maron Sidorejo Kotak Pos 104 Telp. (0293) 4901639
Temanggung
Tahun Ajaran 2016 / 2017

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena dengan rahmat dan karunia Nya,
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas dari Guru tentang pembuatan yoghurt.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa dalam pembuatan makalah ini banyak sekali
kekurangannya, oleh karena itu saran dan kritiknya saya harapkan demi kesempurnaan
makalah ini.
Ucapan terima kasih kepada Guru Makanan Minuman Herbal saya yang turut membantu
dalam penyelesaian makalah ini, juga taklupa pada teman-teman yang turut membantu.
Wassalamualaikum Wr.Wb

Temanggung, 29 Juli 2016

PENYUSUN

1 | Page

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI 2
BAB I PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG

RUMUSAN MASALAH 3
TUJUAN 3
BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Simplisia 4
B. Penggolongan Simplisia
C. Cara Pembuatan

D. Pemeriksaan Mutu 8
E. Manfaat

BAB III PENUTUP 11


A. Kesimpulan

11

DAFTAR PUSTAKA

12

2 | Page

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Farmakognosi merupakan bagian, biokimia, dan kimia sintesis sehingga ruang
lingkupnya menjadi luas seperti yang didefenisikan sebagai fluduger, yaitu penggunaan
secara serentak sebagai cabang ilmu pengetahuan untuk memperoleh segala segi yang perlu
diketahui tentang obat.
Dalam kehidupan sehari-sehari, kita ketahui bahwa banyak masyarakat didunia ini sudah
kenal bahwa sebagian dari tanaman ini adalah obat. Sering kita lihat bahwa sebagian dari
masyarakat memanfaatkan tanaman sebagai makanan, sedangkan pada bidang farmasi
mengenal bahwa sebagaian tanaman dapat dimanfaatkan sebagai obat-obatan.
Sejalan kemajuan teknologi, kita sebagai masyarakat indonesia khususnya seorang
farmasi harus semakin mengenal tentang jaringan-jaringan yang terdapat dalam tanaman
khususnya simplisia yang dapat dijadikansebagai obat.
Hal ini perlu kita ketahui agar pengetahuan kita semakin berkembang, mengenai jaringan
didalam didalam suatu simplisia pada daun.

B. Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan simplisia?
Bagaimana cara pembuatan simplisia?
Apasaja manfaat simplisia ?

C. Tujuan
Mampu mengetahui penngertian simplisia
Mampu mengetahui manfaat simplisia
Mampu mengetahui cara pembuatan

3 | Page

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Simplisia

Pengertian simplisia menurut Departemen Kesehatan RI adalah bahan alami yang


digunakan untuk obat dan belum mengalami perubahan proses apa pun, dan kecuali
dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang telah Dikeringkan (Dapertemen kesehatan RI :
1989).
Simplisia adalah bentuk jamak dari simpleks yang berasal dari kata simple, yang berarti
satu atau sederhana. Istilah simplisia dipakai untuk menyebut bahan-bahan obat alam yang
masih berada dalam wujud aslinya atau belum mengalami perubahan bentuk. Departemen
Kesehatan RI membuat batasan tentang simplisia sebagai berikut: simplisia adalah bahan
alami yang digunakan untuk obat dan belum mengalami perubahan proses apapun, dan
kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang telah dikeringkan (Gunawan, 2004: 9).
Secara umum pemberian nama atau penyebutan simplisia didasarkan atas gabungan nama
spesies diikuti dengan nama bagian tanaman. Sebagai contoh, merica dengan nama spesies
Piperis albimaka nama simplisianya disebut Piperis albi fructus. Fructus menunjukkan nama
bagian tanaman yang digunakan yaitu buahnya (Gunawan, 2004: 9).

B. Penggolonga Simplisia
Simplisia dibagi menjadi tiga golongan, yaitu :

1. Simplisia Nabati
Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa tanaman utuh, bagian
tanaman, eksudat tanaman, atau gabungan antara ketiganya, misalnya Datura Folium
dan Piperis nigri Fructus. Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar
dari tanaman atau dengan cara tertentu sengaja dikeluarkan dari selnya. Eksudat
tanaman dapat berupa zat-zat atau bahan-bahan nabati lainnya yang dengan cara
tertentu dipisahkan/diisolasi dari tanamannya.
2. Simplisia Hewani
Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh atau zat-zat
berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni, misalnya
minyak ikan (Oleum iecoris asselli) dan madu (Mel depuratum).
3. Simplisia Pelikan atau Mineral
4 | Page

Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau mineral yang
belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa bahan kimia murni,
contoh serbuk seng dan serbuk tembaga ( Dep.Kes RI,1989).

C. Cara Pembuatan Simplisia


1. Pemanenan
Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan bebas
dari cemaran dan dalam keadaan kering.Alat yang diguna-kan dipilih dengan tepat
untuk mengurangi terbawanya bahan atau tanah yang tidak diperlukan. Seperti
rimpang, alat untuk panen dapat menggunakan garpu atau cangkul. Bahan yang rusak
atau busuk harus segera dibuang atau dipisahkan. Penempatan dalam wadah (keranjang, kantong, karung dan lain-lain) tidak boleh terlalu penuh sehingga bahan tidak
menumpuk dan tidak rusak. Selanjutnya dalam waktu pengangkutan diusahakan
supaya bahan tidak terkena panas yang berlebihan, karena dapat menyebab-kan
terjadinya proses fermentasi/ busuk. Bahan juga harus dijaga dari gang-guan hama
(hama gudang, tikus dan binatang peliharaan).

2.

Penanganan pasca panen


Pasca panen merupakan kelanjut-an dari proses panen terhadap tanaman budidaya
atau hasil dari penambangan alam yang fungsinya antara lain untuk membuat bahan
hasil panen tidak mudah rusak dan memiliki kualitas yang baik serta mudah disimpan
untuk diproses selanjutnya. Untuk memulai proses pasca panen perlu diperhatikan
cara dan tenggang waktu pengumpulan bahan tanaman yang ideal setelah dilakukan
proses panen tanaman tersebut. Selama proses pasca panen sangat penting
diperhatikan keber-sihan dari alat-alat dan bahan yang digunakan, juga bagi
pelaksananya perlu memperhatikan perlengkapan seperti masker dan sarung tangan.
Tujuan dari pasca panen ini untuk menghasilkan simplisia tanaman obat yang
bermutu, efek terapinya tinggi sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.

3.

Penyortiran (segar)
Penyortiran segar dilakukan setelah selesai panen dengan tujuan untuk
memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing, bahan yang tua dengan yang
muda atau bahan yang ukurannya lebih besar atau lebih kecil. Bahan nabati yang
baik memiliki kandungan campuran bahan organik asing tidak lebih dari 2%. Proses
penyortiran pertama bertujuan untuk memisahkan bahan yang busuk atau bahan yang
muda dan yang tua serta untuk mengurangi jumlah pengotor yang ikut terbawa dalam
bahan.

4.

Pencucian
Pencucian bertujuan menghilang-kan kotoran-kotoran dan mengurangi mikrobamikroba yang melekat pada bahan.Pencucian harus segera di-lakukan setelah panen
karena dapat mempengaruhi mutu bahan. Pen-cucian menggunakan air bersih seperti
air dari mata air, sumur atau PAM. Penggunaan air kotor menye-babkan jumlah
mikroba pada bahan tidak akan berkurang bahkan akan bertambah. Pada saat
pencucian per-hatikan air cucian dan air bilasan-nya, jika masih terlihat kotor ulangi
pencucian/pembilasan sekali atau dua kali lagi.Perlu diperhatikan bahwa pencucian
harus dilakukan dalam waktu yang sesingkat mung-kin untuk menghindari larut dan
terbuangnya zat yang terkandung dalam bahan. Pencucian bahan dapat dilakukan
dengan beberapa cara antara lain.
a. Perendaman bertingkat
Perendamana biasanya dilakukan pada bahan yang tidak banyak
mengandung kotoran seperti daun, bunga, buah dll. Proses perendaman
dilakukan beberapa kali pada wadah dan air yang berbeda, pada rendaman
pertama air cuciannya mengandung kotoran paling banyak.
Saat
5 | Page

perendaman kotoran-kotoran yang melekat kuat pada bahan dapat


dihilangkan langsung dengan tangan. Metoda ini akan menghemat penggunaan air, namun sangat mudah melarutkan zat-zat yang terkandung
dalam bahan.
b. Penyemprotan
Penyemprotan biasanya dilakukan pada bahan yang kotorannya
banyak melekat pada bahan seperti rimpang, akar, umbi dan lain-lain.
Proses penyemprotan dilakukan de-ngan menggunakan air yang bertekanan tinggi. Untuk lebih me-nyakinkan kebersihan bahan, ko-toran
yang melekat kuat pada bahan dapat dihilangkan langsung dengan tangan.
Proses ini biasanya meng-gunakan air yang cukup banyak, namun dapat
mengurangi resiko hilang/larutnya kandungan dalam bahan.
c. Penyikatan (manual maupun oto-matis)
Pencucian dengan menyikat dapat dilakukan terhadap jenis bahan
yang keras/tidak lunak dan kotoran-nya melekat sangat kuat. Pencucian
ini memakai alat bantu sikat yang di- gunakan bentuknya bisa bermacammacam, dalam hal ini perlu diper-hatikan kebersihan dari sikat yang
digunakan. Penyikatan dilakukan terhadap bahan secara perlahan dan
teratur agar tidak merusak bahannya. Pem-bilasan dilakukan pada bahan
yang sudah disikat.Metode pencuci-an ini dapat menghasilkan bahan yang
lebih bersih dibandingkan de-ngan metode pencucian lainnya, namun
meningkatkan resiko kerusa-kan bahan, sehingga merangsang tumbuhnya
bakteri atau mikro-organisme.
d. Perajangan
Perajangan pada bahan dilakukan untuk mempermudah proses
selanjutnya seperti pengeringan, pengemasan, penyulingan minyak atsiri
dan penyimpanan. Perajangan biasanya hanya dilakukan pada bahan yang
ukurannya agak besar dan tidak lunak seperti akar, rim-pang, batang, buah
dan lain-lain. Ukuran perajangan tergantung dari bahan yang digunakan
dan ber-pengaruh terhadap kualitas simplisia yang dihasilkan. Perajangan
terlalu tipis dapat mengurangi zat aktif yang terkandung dalam bahan.
Sedangkan jika terlalu tebal, maka pengurangan kadar air dalam bahan
agak sulit dan memerlukan waktu yang lama dalam penjemuran dan
kemungkinan besar bahan mudah ditumbuhi oleh jamur.Ketebalan
perajangan untuk rimpang temulawak adalah sebesar 7 8 mm, jahe,
kunyit dan kencur 3 5 mm. Perajangan bahan dapat dilakukan secara
manual dengan pisau yang tajam dan terbuat dari steinlees ataupun dengan
mesin pemotong/ perajang. Bentuk irisan split atau slice tergantung tujuan
pemakaian. Untuk tujuan mendapatkan minyak atsiri yang tinggi bentuk
irisan sebaiknya adalah membujur (split) dan jika ingin bahan lebih cepat
kering bentuk irisan sebaiknya me-lintang (slice).

5.

Pengeringan
Pengeringan adalah suatu cara pengawetan atau pengolahan pada bahan dengan cara
mengurangi kadar air, sehingga proses pem-busukan dapat terhambat. Dengan demikian
dapat dihasilkan simplisia terstandar, tidak mudah rusak dan tahan disimpan dalam waktu
yang lama Dalam proses ini, kadar air dan reaksi-reaksi zat aktif dalam bahan akan
berkurang, sehingga suhu dan waktu pengeringan perlu diperhati-kan. Suhu pengeringan
tergantung pada jenis bahan yang dikeringkan. Pada umumnya suhu pengeringan adalah
antara 40 600C dan hasil yang baik dari proses pengeringan adalah simplisia yang
mengandung kadar air 10%. Demikian pula de-ngan waktu pengeringan juga ber-variasi,
tergantung pada jenis bahan yang dikeringkan seperti rimpang, daun, kayu ataupun bunga.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pro-ses pengeringan adalah kebersihan (khususnya
pengeringan mengguna-kan sinar matahari), kelembaban udara, aliran udara dan tebal bahan
(tidak saling menumpuk). Penge-ringan bahan dapat dilakukan secara tradisional dengan

6 | Page

menggunakan sinar matahari ataupun secara mo-dern dengan menggunakan alat pe-ngering
seperti oven, rak pengering, blower ataupun dengan fresh dryer.
Pengeringan hasil rajangan dari temu-temuan dapat dilakukan dengan menggunakan sinar
matahari, oven, blower dan fresh dryer pada suhu 30 500C. Pengeringan pada suhu terlalu
tinggi dapat merusak komponen aktif, sehingga mutunya dapat menurun. Untuk irisan rimpang jahe dapat dikeringkan meng-gunakan alat pengering energi surya, dimana suhu
pengering dalam ruang pengering berkisar antara 36 450C dengan tingkat kelembaban 32,8
53,3% menghasilkan kadar minyak atsiri lebih tinggi dibandingkan dengan pengeringan
matahari lang-sung maupun oven. Untuk irisan temulawak yang dikeringkan dengan sinar
matahari langsung, sebelum dikeringkan terlebih dulu irisan rimpang direndam dalam larutan
asam sitrat 3% selama 3 jam. Selesai peren-aman irisan dicuci kembali sampai bersih,
ditiriskan kemudian dijemur dipanas matahari. Tujuan dari perendaman adalah untuk
mencegah terjadinya degradasi kur-kuminoid pada simplisia pada saat penjemuran juga
mencegah peng-uapan minyak atsiri yang berlebihan. Dari hasil analisis diperoleh kadar
minyak atsirinya 13,18% dan kur-kumin 1,89%. Di samping meng-gunakan sinar matahari
langsung, penjemuran juga dapat dilakukan dengan menggunakan blower pada suhu 40
500C. Kelebihan dari alat ini adalah waktu penjemuran lebih singkat yaitu sekitar 8 jam, dibandingkan dengan sinar matahari membutuhkan waktu lebih dari 1 minggu. Pelain kedua
jenis pengeri-ng tersebut juga terdapat alat pengering fresh dryer, dimana suhunya hampir
sama dengan suhu ruang, tempat tertutup dan lebih higienis. Kelemahan dari alat ter-sebut
waktu pengeringan selama 3 hari. Untuk daun atau herba, penge-ringan dapat dilakukan
dengan me-nggunakan sinar matahari di dalam tampah yang ditutup dengan kain hitam,
menggunakan alat pengering fresh dryer atau cukup dikering-anginkan saja.
Pengeringan dapat menyebabkan perubahan-perubahan hidrolisa enzi-matis,
pencokelatan, fermentasi dan oksidasi. Ciri-ciri waktu pengering-an sudah berakhir apabila
daun atau-pun temu-temuan sudah dapat di-patahkan dengan mudah. Pada umumnya bahan
(simplisia) yang sudah kering memiliki kadar air 8 10%. Dengan jumlah kadar air
tersebut kerusakan bahan dapat ditekan baik dalam pengolahan mau-pun waktu penyimpanan.

6.

Penyortiran (kering)
Penyortiran dilakukan bertujuan untuk memisahkan benda-benda asing yang
terdapat pada simplisia, misalnya akar-akar, pasir, kotoran unggas atau benda asing
lainnya. Proses penyortiran merupakan tahap akhir dari pembuatan simplisia kering
sebelum dilakukan pengemasan, penyimpanan atau pengolahan lebih lanjut. Setelah
penyortiran simplisia ditimbang untuk mengetahui rendemen hasil dari proses pasca
panen yang dilakukan.

7.

Pengemasan
Pengemasan dapat dilakukan terhadap simplisia yang sudah di-keringkan. Jenis
kemasan yang di-gunakan dapat berupa plastik, kertas maupun karung
goni.Persyaratan jenis kemasan yaitu dapat menjamin mutu produk yang dikemas,
mudah dipakai, tidak mempersulit penanganan, dapat melindungi isi pada waktu
pengangkutan, tidak beracun dan tidak bereaksi dengan isi dan kalau boleh
mempunyai bentuk dan rupa yang menarik.
Berikan label yang jelas pada tiap kemasan tersebut yang isinya menuliskan ; nama
bahan, bagian dari tanaman bahan yang digunakan, tanggal pengemasan, nomor/kode
produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih, metode pe-nyimpanan.

8.

Penyimpanan
Penyimpanan simplisia dapat di-lakukan di ruang biasa (suhu kamar) ataupun di
ruang ber AC. Ruang tempat penyimpanan harus bersih, udaranya cukup kering dan
ber-ventilasi. Ventilasi harus cukup baik karena hama menyukai udara yang lembab
dan panas. Perlakuan sim-plisia dengan iradiasi sinar gamma dosis 10 kGy dapat
menurunkan jumlah patogen yang dapat meng-kontaminasi simplisia tanaman obat.
Dosis ini tidak merubah kadar air dan kadar minyak atsiri simplisia selama
penyimpanan 3 6 bulan. Jadi sebelum disimpan pokok utama yang harus diperhatikan adalah cara penanganan yang tepat dan higienes.
7 | Page

Hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai tempat penyimpanan simplisia adalah :


a. Gudang harus terpisah dari tem-pat penyimpanan bahan lainnya ataupun
penyimpanan alat dan dipelihara dengan baik.
b. Ventilasi udara cukup baik dan bebas dari kebocoran atau ke-mungkinan
masuk air hujan.
c. Suhu gudang tidak melebihi 300C.
d. Kelembabab udara sebaiknya di-usahakan serendah mungkin (650 C)
untuk mencegah terjadinya penyerapan air. Kelembaban udara yang tinggi
dapat memacu pertumbuhan mikroorganisme se-hingga menurunkan mutu
bahan baik dalam bentuk segar maupun kering.
e. Masuknya sinar matahari lang-sung menyinari simplisia harus dicegah.
f. Masuknya hewan, baik serangga maupun tikus yang sering me-makan
simplisia yang disimpan harus dicegah.(Anonim : 2009)

D. Pemeriksaan Mutu Simplisia


Beberapa hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan pemeriksaan mutu simplisia
adalah sebagai berikut:
1. Simplisia harus memenuhi persyaratan umum edisi terakhir dari buku-buku resmi
yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI seperti Farmakope Indonesia,
Ekstra Farmsakope Indonesia dan Materia Medika Indonesia. Jika tidak tercantum
maka harus memenuhi persyaratan seperti yang disebut pada paparannya
(monografinya).
2. Tersedia contoh sebagai simplisia pembanding yang setiap periode tertentu harus
diperbaharui
3. Harus dilakukan pemeriksaan mutu fisis secara tepat yang meliputi:
a. Kurang kering atau mengandung air,
b. Termakan serangga atau hewan lain,
c. Ada-tidaknya pertumbuhan kapang, dan
d. Perubahan warna atau perubahan bau. (Gunawan, 2004: 9)
4. Dilakukan pemeriksaan lengkap yang terdiri atas:
a. Identifikasi meliputi pemeriksaan:
Organoleptik, yaitu pemeriksaan warna, bau dan rasa dari bahan
simplisia. Dalam buku resmi dinyatakan pemerian yaitu memuat paparan
mengenai bentuk dan rasa yang dimaksudka untuk dijadikan petunjuk
mengenal simplisia nabati sebagai syarat baku.
Reaksi warna dilakukan terhadap hasil penyarian zat berkhasiat,
terhadap hasil mikrosblimasi atau langsung terhadap irisan atau serbuk
simplisia ( Depkes RI, 1979: xiii)
Mikroskopik, yaitu membuat uraian mikroskopik paparan mengenai
bentuk ukuran, warna dan bidang patahan atau irisan.
Mikroskopoik yaitu membuat paparan anatomi penempang melintang
simplisia fragmen pengenal serbuk simplisia.
Tetapan fisika, melipti pemeriksaan indeks bias, bobot jenis, titik lebur,
rotasi optik, mikrosublimasi, dan rekristalisasi.
Kimiawai, meliputi reaksi warna, pengendapan, penggaraman, logam,
dan kompleks
Biologi, meliputi pemeriksaan mikrobiologi seperti penetapan angka
kuman, pencemaran, dan percobaan terhadap hewan.

8 | Page

b. Analisis bahan meliputi penetapan jenis konstituen (Zat kandungan), kadar


konstituen (Kadar abu, kadar sari, kadar air, kadar logam), dan standarisasi
simplisia.
c. Kemurnian, meliputi kromatografi: kinerja tinggi, lapis tipis, kolom, kertas,
dan gas untuk menentukan senyawa atau komponene kimia tunggal dalam
simplisia hasil metabolit primer dan sekunder tanaman.

E. Manfaat Simplisia di Industri


1. Tinjauan Umum Simplisia
Obat tradisional bukan hal yang baru bagi masyarakat Indonesia. Sebelum obatobat kimia berkembang secara modern, nenek moyang kita umumnya menggunakan
obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan untuk mengatasi problem
kesehatannya.
Dari tumbuhan obat tersebut dapat dibuat berbagai produk yang sangat
bermanfaat dalam menunjang industri obat tradisional, farmasi, makanan dan
minuman. Ragam bentuk hasil olahannya, antara lain berupa simplisia.
Simplisia adalah bahan baku alamiah yang digunakan untuk membuat ramuan
obat tradisional yang belum mengalami pengolahan pengeringan. Proses pembuatan
simplisia pada prinsipnya meliputi tahap- tahap pencucian, pengecilan ukuran dan
pengeringan.
2. Macam-Macam Teknik Pembuatan Simplisia dan Sediaan Obat
a. Ekstraksi Tumbuhan Obat
Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dengan
bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang
diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Ekstraksi merupakan proses
pemisahan suatu bahan dari campurannya, ekstraksi dapat dilakukan dengan berbagai
cara. Ekstraksi menggunakan pelarut didasarkan pada kelarutan komponen terhadap
komponen lain dalam campuran (Suyitno, 1989).
b. Maserasi
c. Perkolasi

3. Contoh simplisia yang bermanfaat di industry farmasi :


Nama Indonesia
Nama latinnya
Daun seriawan
Symplocos
orratissima
Kayu bidara laut
Strychnos ligustrina
Daun kejibeling
Strobilanthes
crispus
Daun inggu
Ruta anggustifolia
Akar kelembak
Rheum
officinarum
Kulit buah delimA
punika granatum
Daun jambu biji
Psidium guajava
Buah lada
Piper nigrum
Buah kemukus
Piper cubeba
Daun sirih sggar
Piper betle
Daun meniran
Phyllantus nururi
Daun kumis kucing
Orthosiphon
stamineus
Kulit batang widuri
Calotropis
gigantea
Kulit batabg pulosari
Alyxis stellata
Daun pegagan
Centella asiatica
Kulit buah jeruk nipis
Citrus surantium
subspec
Kulit buah jeruk manis
Citrus sinensis
Buah ketumbar
Coriandrum
sativum
9 | Page

Akar tinggal kunyiT


domestica
Akar tinggal temulawak
Daging buah asam Jawa
indica
Tangkai putik jagung
Akar tinggal jahe
Kulit batang bratawali
tuberculata
Daun saga
Biji pala
fragrans
Akar tinggal laos

Curcuma
Curcuma xanthorrhiza
Tamarindus
Zea mays
Zingiber offinicale
Tinospora
Abrus precatorius
Myristice
Alpinia galangga

BAB III
10 | P a g e

PENUTUP
A. Kesimpulan
Simplisia merupakan istilah yang dipakai untuk menyebut bahan-bahan obat alam yang
berada dalam wujud aslinya atau belum mengalami perubahan bentuk.
Simplisia dibagi menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Simplisia Nabati : Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa tanaman utuh,
bagian tanaman, eksudat tanaman, atau gabungan antara ketiganya.
2. Simplisia Hewani : Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh
atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia
murni, misalnya minyak ikan (Oleum iecoris asselli) dan madu (Mel depuratum).
3. Simplisia Pelikan atau Mineral : Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia
berupa
bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan
cara sederhana dan belum berupa bahan kimia murni.
Faktor faktor yang mempengaruhi mutu simplisia :
1. Bahan baku dan penyimpanan bahan baku
2. Proses pembuatan simplisia
3. Cara pengepakan dan penyimpanan simplisia
Simplisia yang bermanfaat di industri farmasi adalah dalam bidang obat-obatan:
Obat tradisional bukan hal yang baru bagi masyarakat Indonesia. Sebelum obat-obat
kimia berkembang secara modern, nenek moyang kita umumnya menggunakan obat-obatan
yang berasal dari tumbuh-tumbuhan untuk mengatasi problem kesehatannya.Dari tumbuhan
obat tersebut dapat dibuat berbagai produk yang sangat bermanfaat dalam menunjang
industri obat tradisional, farmasi, makanan dan minuman. Ragam bentuk hasil olahannya,
antara lain berupa simplisia.

DAFTAR PUSTAKA
Adhyatma, 1995. Materia Medika Indonesia. Jilid IV. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta
11 | P a g e

Tjitrosoepomo, G., 2001., Morfologi Tumbuhan., Gadjah Mada University Press., Yogyakarta
Widyaningrum, MPH. 2011. Kitab Tanaman Obat Nasional. Media Pressindo.
Jakarta.http://www.plantamor.com

12 | P a g e