Anda di halaman 1dari 29

UJI LEMAK SECARA KUANTITATIF

MAKALAH
Untuk memenuhi Tugas Matakuliah Analisis Pengolahan Pangan
yang dibina oleh Ibu Dra. Nursasi Handayani, M.Si
dan Ibu Frida Kunti Setiowati, S.T, M.Si

Oleh:
Kelompok 2 / Offering GK-HK
Silmy Aulia Rufiatin Nisa
130342615312
Arifa Fikriya Zaharol Muna
130342615339
Evi Setyowati
130342615329
Ipraditya Langgeng Prayoga
130342615328

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
PROGRAM STUDI S1 BIOLOGI

September 2016

METODE EKSTRAKSI SOXHLET


a. Prinsip
Lemak diekstrak dengan pelarut dietil eter. Setelah pelarutnya diuapkan, lemaknya
dapat ditimbang dan dihitung persentasenya.
b. Pereaksi
Dietil eter atau pelarut lemak lainnya.
c. Peralatan
1. Alat ekstraksi Soxhlet lengkap dengan kondenser dan labu lemak (Gambar 1)
2. Alat pemanas listrik atau penangas uap
3. Oven
4. Timbangan analitik
d. Cara Kerja
1. Ambil labu lemak yang ukurannya sesuai dengan alat ekstraksi Soxhlet yang akan
digunakan, keringkan dalam oven, dinginkan dalam desikator dan timbang.
2. Timbang 5 g sampel dalam bentuk tepung langsung dalam kertas saring yang
sesuai ukurannya, kemudian tutup dengan kapas wol yang bebas lemak (Gambar
2).
3. Letakkan kertas saring yang berisi sampel tersebut dalam alat ekstraksi Soxhlet,
kemudian pasang alat kondenser di atasnya, dan labu lemak di bawahnya (Gambar
1).
4. Tuangkan pelarut dietil eter atau petroleum eter ke dalam labu lemak secukupnya,
sesuai dengan ukuran Soxhlet yang digunakan.
5. Lakukan refluks selama minimum 5 jam sampai pelarut yang turun kembali ke
labu lemak berwarna jernih.
6. Distilasi pelarut yang ada di dalam labu lemak, tampung pelarutnya. Selanjutnya
labu lemak yang berisi lemak hasil ekstraksi dipanaskan dalam oven sampai suhu
105C.
7. Setelah dikeringkan sampai berat tetap dan didinginkan dalam desikator, timbang
labu lemak beserta lemaknya tersebut. Berat lemak dapat dihitung sebagai berikut:

% Lemak =

berat lemak (g)


berat sampel

x 100

Gambar 1. Alat ekstraksi Soxhlet


(sumber: www.google.com)

Gambar 2. Cara membungkus sampel untuk alat ekstraksi Soxhlet


(sumber: Apriyantono dkk, 1989)

METODE BABCOCK
Metode ini digunakan untuk penetapan kadar lemak susu. Metode ini banyak
digunakan di AS sebagai analisa rutin.
a. Prinsip
Lemak dalam susu berada dalam kondisi emulsi. Emulsi ini dihancurkan dengan
menggunakan H2SO4 dan dengan menggunakan sentrifus dan atau pemanasan lemak
dalam susu dapat dipisahkan dan dapat diukur kadarnya pada botol yang telah
dikalibrasi (Botol Babcock).
b. Pereaksi
H2SO4 pekat (BJ 1,80-1,83)
c. Peralatan
1. Botol Babcock standar, skala 0-8%, kapasitas 18 g
2. Pipet volumetrik 17,6 ml
3. Sentrifuse yang dilengkapi dengan pemanas
4. Penangas air
d. Cara Kerja
1. Pipet 17,6 ml susu bersuhu 22C, masukkan ke dalam Botol Babcock.
2. Tambahkan 17,5 ml H2SO4 pekat bersuhu 22C.
3. Kocok dengan cara rotasi sampai seluruh susu larut dan seluruh curd hilang.
4. Tenpatkan Botol Babcock ke dalam sentrifuse bersuhu 60C, lakukan sentrifuse
pada 700-1000 rpm selama 5 menit.
5. Tambahkan air panas bersuhu 60C ke dalam botol sampai sedikit di bawah batas
skala teratas. Sentrifuse lagi selama 1 menit pada suhu 60C.
6. Tempatkan Botol Babcock dalam penangas air 55-60C sampai batas skala teratas
berada di bawah permukaan. Biarkan selama 5 menit.
7. Ambil botol dari penangas, ukur panjang kolom lemak yang terbentuk di bagian
atas botol. Jika perlu dapat digunakan bantuan lampu penerang yang
memancarkan cahaya hijau lembut.

Catatan: Pada waktu pengukuran, kolom lemak seharusnya translusen, berwarna


kuning keemasan atau amber dan bebas dari partikel suspensi. Jika tidak, penetapan
harus diulangi dengan menyesuaikan jumlah H2SO4 yang ditambahkan.

METODE MODIFIKASI BABCOCK


Metode ini digunakan untuk penetapan kadar lemak secara tepat dari bahan-bahan
ikan segar, ikan olahan atau sejenisnya, dan cocok sebagai screening test.
a. Prinsip
Sampel ikan di-digest dengan menggunakan asam sulfat panas. Lemak akan terpisah
dari fase aqueous dan kadarnya dapat diukur pada botol yang telah dikalibrasi.
b. Pereaksi
1. Asam sulfat 92% (BJ 1,825)
2. Zephiran
c. Peralatan
1. Timbangan analitik
2. Botol Babcock untuk skim (atau krim untuk sampel berkadar lemak tinggi)
kapasitas 9 g
3. Heated Babcock Centrifuge atau penangas air
d. Cara Kerja
1. Timbang 9 0,1 g sampel dalam gelas piala 50 ml.
2. Tambahkan 10 ml air hangat dan campur merata dengan menggunakan gelas
pengaduk. Untuk fish balls dan produk-produk emulsi yang mengandung pati,
tambahkan 1 ml Zephiran.
3. Untuk produk-produk daging utuh, tambahkan dengan hati-hati 20 ml asam sulfat
92%. Untuk fish balls atau produk olahan ikan lainnya tambahkan 12 ml asam
sulfat 92%. Sebentar-sebentar campuran digoyang selama 10 menit. Jika dalam
10 menit belum seluruhnya tercerna maka perlu ditambahkan lagi asam sulfat
sebanyak 5 ml.

4. Pindahkan isi gelas piala secara kuantitatif ke dalam Botol Babcock dengan cara
menuangnya lalu cucilah residu yang ada dalam gelas piala dengan air panas
(80C) sebanyak dua kali masing-masing 10 ml.
5. Tambahkan air panas ke dalam botol secara hati-hati sampai permukaan cairan
berada 10 mm di bawah batas skala teratas.
6. Sentrifuse botol dalam Heated Babcock Centrifuge selama 3 menit. Alternatif lain,
biarkan botol dalam penangas air 70C, permukaan air pada penangas di atas batas
kolom lemak. Biarkan dalam penangas selama 10 menit.
7. Ukur panjang kelompok lemak di dalam botol sesuai dengan skala yang ada,
panjang ini menyatakan persen kadar lemak dalam sampel.
Catatan: Kolom lemak seharusnya berwarna kuning terang. Jika ada lapisan fluffy
(seperti benang rambut halus), ulangi penetapan sekali lagi, perhatikan baik-baik
kesempurnaan pencernaan. Jika ada kolom lemak gelap, gunakan asam sulfat yang
lebih sedikit pada waktu pencernaan.

METODE GERBER
Metode ini digunakan untuk penetapan kadar lemak susu. Metode ini banyak
digunakan di Eropa sebagai analisa rutin.
a. Prinsip
Susu dicampur dengan H2SO4 dan amil alkohol dalam tabung Gerber khusus lalu
disentrifuse sehingga lemak susu terpisah dan menempati bagian atas tabung.
Lemak yang terpisah ini dapat ditentukan kadarnya dengan melihat panjang kolom
lemak yang terbentuk.
b. Pereaksi
1. Asam sulfat 90% (w/w) BJ 1,815
2. Amil alkohol
c. Peralatan
1. Tabung butirometer Gerber
2. Sentrifuse Gerber berdiameter 50 cm

3. Pipet volumetrik 10,75 ml


d. Cara Kerja
1. Masukkan 10 ml H2SO4 ke dalam tabung butirometer dengan tanpa
membasahi leher tabung.
2. Pipet 10,75 ml susu, masukkan ke dalam tabung butirometer dengan tanpa
membasahi leher tabung.
3. Tambahkan 1 ml amil alkohol. Tutup tabung dengan penutupnya, kocok
merata, sentrifuse selama 4 menit pada 1100 rpm.
4. Tempatkan tabung dalam penangas air 65C, selama 3 menit.
5. Baca persentase kadar lemak (w/w), sesuai dengan panjang kolom tabung
yang telah dikalibrasi.
Catatan:
1. Jangan tambahkan amil alkohol sedemikian rupa hingga kontak langsung
dengan asam.
2. Persiapkan kain dan sodium bikarbonat. Kedua bahan ini berguna jika tabung
butirometer yang berisi H2SO4 pekat pecah.
3. Jumlah sampel yang diambil untuk analisa ini berbeda untuk tiap negara,
antara lain:
a. India

10,75 ml

b. Belanda

10,66 ml

c. Hongaria

10,80 ml

d. Inggris

10,94 ml

e. AS

11,00 ml

METODE ROESE GOTTLIEB


PENDAHULUAN
Metode ini dapat diterapkan untuk menetapkan kadar lemak susu, produk-produk susu
dan eskrim. Metode ini lebih akurat dibanding dengan metode Babcock dan Gerber.

PRINSIP
Kadar lemak ditentukan secara gravimetrik adalah ekstraksi lemak dengan dietil eter
dan petrolium eter dari sampel yang sudah dinetralkan dengan amonia dan dicampur dengan
alkohol.
PEREAKSI
1.
2.
3.
4.
5.

Larutan amonia 35% (w/v, BJ. 0880) dan 26 (w/v, BJ 0.908)


Etanol 95-95% (v/v)
Dietil eter,bebas peroksida, titik didih 34 35O C
Petrolium eter, titik didh 40- 60o C
Eter campuran. Campurkan dalam volume yag sama dengan petroleum eter.

PERALATAN
1.
2.
3.
4.
5.

Oven, lebih disukai yang dilengkapi dengan fan


Tabung ekstraksi Mojonnier dengan penutup
Sentrifuge, dapat digunakan sentrifuge Mojonnier
Labu berdasar rata, berleher pendek, kapasitas 150 ml, berat 40- 50 g
Penangas air

Gambar 3. Tabung ekstraksi Mojonnier


CARA KERJA
1.
2.
3.
4.
5.

Timbang 4- 5 g sampel dalam tabung ekstraksi (lihat catatan 2)


Tambahkan 1,5 ml amonia 35% (v/v) campur merata (lihat catatan 1)
Tambahkan 7 ml air hangat dan campurkan merata lagi (lihat catatn 3)
Panaskan sampai 60- 70o C dan pertahankan pada suhu ini selam 15 menit
Tambahkan 10 ml etanol, kocok, biarkan dingin (lihat catatan 4)

6. Tambahkan 25 ml dietil eter , tutup tabung dengan penutupnya (lihat catatan 5), kocok
merata selama 1 menit
7. Biarkan dingin, buka tutup, dan tambahkan 25 ml petrolium eter, cuci penutup dan
leher tabung sehingga petrolium eter cucian masuk dalam tabung
8. Tutup tabung dengan penutup kembali (penutup sudah ditambahi dengan air), kocok
merata selama 30 detik (lihat catatan 6)
9. Berdirikan tabung dengan bagian yang rata di bawah , biarkan selama 30 menit atau
sampai lapisan eter jernih dan seterusnya terpisah dari lapisan aqueus (lihat catatan 7)
10. Buka penutup tabung, cuci dengan eter campuran, masukkan cucian ke dalam tabung
11. Jika diperlukan naikkan batas antar kedua lapisan ke bagian tersempit dari tabung
dengan cara menambahkan sedikit air lewat sisi tabung secara hati-hati
12. Dekantasi lapisan eter sebanyak mungkin, masukkan ke dalam labu 150 ml.
Tambahkan 10 ml pelarut eter campuran ke dalam tabung dan tanpa pengocokan,
pindahkan pelarut ke dalam labu.
13. Cuci bagian luar tabung dengan pelarut eter campuran, memasukkan cucian ke dalam
labu
14. Hilangkan pelarut yang ada dalam labu dengan cara distilasi
15. Ulangi tahap ekstraksi dan dekantasi dua kali, tambahkan secara berurutan 5 ml
etanol, 25 ml dietil eter dan 25 ml petrolium eter untuk masing-masing ekstraksi
16. Distilasi seluruh pelarut sisa yang ada dalam labu
17. Keringkan residu lemak dalam oven 100 2o C selama 1 jam
18. Tempatkan labu dalam desikator sampai dingin sediktinya selam 30 menit, kemudian
timbang
19. Ulangi tahap 17 dan 18 sampau didapt berat labu yang konstan
20. Ekstrak lemak dalam labu secara berulang-ulang dengan petroleum eter, biarkan
residu mengendap sebelum dekantasi
21. Keringkan residu dalam oven 100o C selam 1 jam
22. Tenpatkan labu dalam desikator selam 30 menit, kemudian timbang
23. Buat balnko dengan mengganti sampel dengan air, lakukan tahap 1 s/d 22 seperti di
atas.
PERHITUNGAN
Jika

Maka

:Berat sampel (g)

= W1

Berat labu + melak terekstrak (g)

= W2

Berat labu ssesudah penghilangan lemak (g)

= W3

Berat residu yang terekstrak dalam blanko (g)

= W4

Kadar lemak (%) =

W 1(W 3+ W 4 )
100
W1

CATATAN
1. Prosedur alternatif untuk tahap pengerjaan 3 dan 4 adalah
3
tambahkan 2 ml amonia 26%(v/v), kocok
4
tambahkan 6 ml air hangat dan kocok kembali
2. Timbang sampel dalam tabung ekstraksi berdasakan perbedaan berat (by difference)
3. Kesempurnaan ekstraksi lemak tergantung dari kesempurnaan pencampuran pada
masing-masing tahap, penting sekali diperhatikan jika ada gupalan maka seluruh
gumpalan yang ada harus meluruh
4. Sebelum membuka penutup tabun, utnuk menghindari semburan pelarut, turunkan
tekanan dalam tabugn dengan cara mendinginkannya
5. Penutup tabung harus dibashi dengan air dulu sebelum digunakan dan bilas dengan
pelarut sesudah digunakan
6. Tekanan seharusnya turun dari waktu ke waktu selam pengocokan
7. Pemisahan lapisan eter dari lapisan aqueous dapat juga dilakukan dengan sentrifugasi
selama 30 detik pada 1000 rpm.
PENETAPAN SIFAT-SIFAT FISIKO-KIMIA MINYAK/LEMAK
TITIK CAIR
PENDAHULUAN
Data titik cair lemak terutama berguna untuk lemah kewani dan lemak olahan,
sedangkan untuk minyka nabati tidak terlalu berguna karena pada suhu ruang pada
umumnya berbentuk cair. Apabila suatu lemak mempunyai titik cair yang rendah berarti
lemak tersebut banyak mengandung lemak tak jenuh dan sebaliknya.
PRINSIP
Lemak disimpan dalam tabung kapiler, dinginkan kemudian dipanaskan secara
bertahap. Suhu pada saat lemak terlihat transparan adalah titik cair lemak tersebut.
PERALATAN
1.
2.
3.
4.

Termometer air raksa


Refrigerator
Tabung kaca kapiler, berdiameter dalam 1 mm berdinding tipis
Pemanas

CARA KERJA
1. Memasukkan lemak cair yang sudah disaring ke dalam tabung kapiler sepanjang 10
mm
2. Rapatkan/ tutup ujung tabung kapiler dengan cara memanaskan pada api kecil,. Jaga
jangan sampai lemka terbakar
3. Masukkan tabung kapiler dalam refrigerator 4- 10O C, biarkan selama 16 jam

4. Gabungkan tabung kapiler dengan termometer air raksa sehingga ujung tabung berisi
lemak sejajar dengan ujung termometer yang berisi air raksa (bisa dengan cara
mengikatnya menjadi satu)
5. Rendam dalam gelas piala 600 ml yang berisi air setengah penuh sehngga termometer
terendam sepanjang 30 ml
6. Panaskan gelas piala dengankecepatan 0,5O C/ menit, agitasi dengan strirres perlahanlahan
7. Catat suhu pada saat lemak mulai terlihat transparan, gunakan kaca pembesar untuk
melihatnya jika perlu, suhu yang terbca merupakan titik cair lemak tersebut.
BERAT JENIS
PENDAHULUAN
Berat jenis adalah perbandingan berat dari volume sampel minyak dengan berat air
yang volumenya sama pada suhu tertentu(biasanya ditentukan pada suhu 25OC)
PERALATAN
1. Piknometer
2. Timbangan analitik
CARA KERJA
1. Piknometer dibersihkan dan dikeringkan
2. Isi piknometer dengan akuades bersuhu 20 -30 oC. Pengisian dilakukan sampai air
3.

dalam botol meluap dan tidak ada gelembung udara di dalamnya


Setelah ditutup, botol direndam dalam bak air yang bersuhu 25o C dengan toleransi 0,2
o

4.
5.
6.

C selam 30 menit
Botol diangkat dari bak dan dikeringkan dengan kertas pengisap
Timbang berat botol dengan isinya
Contoh minyak/lemka cair yag akan ditentukan berat jenisnya, sebelum disaring dulu
dengan kertas saring. Hal ini bertujuan untuk membuang benda-benda asing dan
kandungan air. Selanjutnya contoh minyak diperlakukan seperti langkah 1 sampai
dengan 5

PERHITUNGAN
Berat jenis minyak pada suhu 25/25OC adalah :
Berat botol danminyak berat botol
berat air pada su h u25 0 C
Jika berat jenis minyak pada suhu 25OC telah diketahui maka untuk menghitung berat
jenis minyak pada suhu tertentu lainnya dapat digunakan rumus berikut
G = G + 0,00064 (T 25OC)
G = Berat jenis pada suhu 25oC

G = Berat jenis pa TOC/25OC


T = auhu minyak yang ditentukan
0,00064 = Koreksi rata-rata untuk 1OC
TURBIDITY POINT
PENDAHULUAN
Turbudity point atau Crismer dan Valenta ialah suhu di mana minyak atau lemak cair
beruah menjadi fase padat. Pengujian ini dilakukan untuk menentukan pengortoran olah
bahan asing atau pencampuran minyak.
PERALATAN
1. Gelas piala
2. Asam asetat
3. Alkohol
CARA KERJA
1. Contoh minyak dimasukkan ke dalam gelas piala yang berisi asam asetat atau alkohol
2. Panaskan sampai contoh minyakk terlarut sempurna yaitu ditandai dengan larutan
menjadi jernih
3. Larutan ini kemudian didinginkan perlahan-lahan sampai mulai menghablur
4. Suhu dimana terlihat adanya kristal-kristal halus lemak dicatat dan dinyatakan sebagai
trubidity point atau biasa disebut titik kritis.
INDEKS BIAS
PENDAHULUAN
Indeks bias didefinisikan sebgai perbandingan dari kecepatan cahaya di udara dengan
kecepatan cahaya di dalam medium tertentu. Atau secara singkat dapat dilihat seperti
persamaab di bawah ini :
Indeks Bias =

kecepatan cahaya diudara


kecepatancahaya di dalam medium

Pengujian indeks bias dapat digunakan untuk menentukan kemurnian minyak dan dapat
menentukan dengan sepat terjadinya hdrogenasi katalis (Catalytic hidrogenation).
PERALATAN DAN BAHAN
1. Refraktomter Abbe, dilengkapi dengan pengontrol suhu
2. Toluen/alkohol

CARA KERJA
Beberapa tetes minyak diteteskan pada Refraktomter Abbe, yang sudah distabilkan
pada suhu tertentu, dibiarkan selama 1-2 menit untuk mencapai suhu refraktometer, lalu
dilakukan pembacaan indeks bias. Sebelum dan sesudah digunakan prisma Refraktometer
dibersihkan dengan toluen/alkohol.
PERHITUNGAN
Indeks bias perlu dikoreksi untuk temperatur standard, dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :
R = R K ( T-T)
R = Indeks bias pada suhu standard
R = indeks bias pada suhu pembacaan
T = suhu standard
T = suhu pembacaan
K = 0,000385 untuk minyak, 0,000365 untuk lemak

EKSTRAKSI LEMAK DAN MINYAK UNTUK ANALISA SELANJUTNYA


Terutama digunakan untuk mendapatkan lipida yang murni (bebas dari bahan non-lipida):
-

Bahan contoh dihancurkan dalam blender Waring dengan campuran pelarut


Khloroform-metanol (2:1) selama beberapa menit. Motor dari Waring blender harus

tertutup rapat untuk mencegah kebakaran


Homogenat yang diperoleh didiamkan beberapa menit, kemudian disaring ke dalam
erlenmeyer tertutup 50 ml lewat kertas saring bebas lemak. Untuk analisa kuantitaf

perlu diketahui berat erlenmeyer.


Filtrat dicuci dengan menambahkan aquades sebanyak 0,2 volume filtrat, gojog dan
diamkan sampai dua bagian cairan terpisah. Cairan bagian atas dibuang dengan sedot
hati-hati dengan pipet, bagian bawah jangan sampai terikut. Pencucian diulangi 3 kali
dengan air. Cairan bagian atas boleh sedikit tertinggal. Untuk menjadikan larutan

homogen krmbali, tambahkan sedikit metanol dan khloroform metanol secukupnya


Larutan yang diperoleh dikeringkan dan ditimbang. Bahan lipida yang diperoleh
dipakai untuk menganalisa lipida selanjutnya yang memerlukan tingkat kemurnian
lipida yang tinggi.

PEMISAHAN DAN PENENTUAN ASAM LEMAK BEBAS DARI


TRIGLISERIDA
Asam-asam lemak yang sudah terbebas dari trigliseridanya, dapat dipisahkan dengan
penggaraman sehingga lebih mudah larut dalam air dan kemudian dapat dipisahkan dari
trigliseridanya.
Garam dari asam lemak terpisah kemudian dilepaskan kembali menjadi asam dengan
pengasaman, asam lemak yang terlepas kemudian dapat dimurnikan dan ditentukan
beratnya atau dipakai sebagai contoh penelitian selanjutnya.
-

Timbang kira-kira 1 g bahan minyak contoh. Apabila berbentuk padat, cairkan dahulu
dngan pemanasan. Kemudian larutkan ke dalam pelarut yang terdiri dari 17,5 ml
dietilether ; 17,5 petrolium eter dan 6,5 etanol 95%. Pindahkan seluruhnya ke dalam

corong pemisah (separatory funnel).


Tambahkan 12,5 larutan 1% Na2CO3 ke dalam corong pemidah yang berisis cairan
contoh dan gojoglah selama30 detik sampai merata. Kemudian diamkan sampai dua

cairan memisah
Pisahkan cairan bawah (air) dan kumpulkan.

Bagian ether yang tertinggal cuci dengan 1,5 ml etanol 95% dan 75 ml larutan 1%
Na2CO3 . Gojog dan diamkan. Pisahkan bagian bawah (air) dan gabungkan dengan

bagian air yang terkumpul.


Bagian ether yang tertinggal cuci dengan 1,5 ml etanol 95% dan 75 ml larutan 1%
Na2CO3. Gojog dan diamkan. Pisahkan bagian bawah (air) dan gabungkan lagi dengan

bagian air yang terkumpul .


Bagian ether yang tertinggal cuci lagi dengan air 6,5 ml . Gojog dan diamkan.
Pisahkan sekali lagi bagian bawah (air) dan gabungkan lagi dengan bagian air yang

telah terkumpul
Sisa bagian eter yang tertinggal dalam corong pemisah telah disusi dari asam lemak
bebnasnya. Setelah bahan pelarut diuapkan semua, minyak yang tertinggal berupa

trigliserida untuk ditentukan jumlahnya atau dipakai untuk contoh analisa selanjutnya
Garam asam lemak yang terkumpul dari bagian air dibebaskan dengan 1,5 ml larutan
10 H2SO4 . Gojoglah sampai merata dalam corong pemisah samai merata dan
kemudian tambhakan 12,5 ml campuran dietilether : petroleum ether = 1:1. Gojoglah

dan diamkan sampai kedua cairan terpisah


Pisahkan bagian ether (atas) dan kumpulkan. Sisa bagian air yang tertinggal, dicuci
lagi dengan campuran pelarut sampai tiga kali dan kumpulkan cairan ether yang

diperoleh.
Tambahkan 1 g Na2SO4 pada kumpulan cairan ether untuk mengikat air yang terikut
Saring cairan ether melalui kertas saring, cuci dengan campuran ether untuk mencuci

asam lemak yang menempel ada wadah dan kertas saring.


Keringkan filtrat yang diperoleh (sebaliknya dengan doronga gelembung N2 lewat

ujung pipet gelas dari tangki gas)


Setelah seluruh eter menguap (berat cairan yang tertinggal tidak turun lagi) maka
tentukan berat asam lemak bebas yang diperoleh atau dapat dipergunakan untuk bahan
analisa selanjutnya.

PENENTUAN BILANGAN PEROKSIDA


Bilangan peroksida adalah indeks jumlah lemak atau minyak yang telah mengalami
oksidasi. Angka peroksida sangat penting untuk identifikasi tingkat oksidasi minyak.
Minyak yang mengandung asam- asam lemak tidak jenuh dapat teroksidasi oleh oksigen
yang menghasilkan suatu senyawa peroksida. Cara yang sering digunakan untuk
menentukan angka peroksida adalah dengan metoda titrasi iodometri. Penentuan besarnya
angka peroksida dilakukan dengan titrasi iodometri.
Salah satu parameter penurunan mutu minyak goreng adalah bilangan peroksida.
Pengukuran angka peroksida pada dasarnya adalah mengukur kadar peroksida dan
hidroperoksida yang terbentuk pada tahap awal reaksi oksidasi lemak. Bilangan peroksida
yang tinggi mengindikasikan lemak atau minyak sudah mengalami oksidasi, namun pada
angka yang lebih rendah bukan selalu berarti menunjukkan kondisi oksidasi yang masih dini.
Angka peroksida rendah bisa disebabkan laju pembentukan peroksida baru lebih kecil
dibandingkan dengan laju degradasinya menjadi senyawa lain, mengingat kadar peroksida
cepat mengalami degradasi dan bereaksi dengan zat lain Oksidasi lemak oleh oksigen terjadi
secara spontan jika bahan berlemak dibiarkan kontak dengan udara, sedangkan kecepatan
proses oksidasinya tergantung pada tipe lemak dan kondisi penyimpanan. Minyak curah
terdistribusi tanpa kemasan, paparan oksigen dan cahaya pada minyak curah lebih besar
dibanding dengan minyak kemasan. Paparan oksigen, cahaya, dan suhu tinggi merupakan
beberapa faktor yang mempengaruhi oksidasi. Penggunaan suhu tinggi selama penggorengan
memacu terjadinya oksidasi minyak. Kecepatan oksidasi lemak akan bertambah dengan
kenaikan suhu dan berkurang pada suhu rendah.
1. Timbang 5,00 0,05 g conroh minyak dalam erlenmeyer bertutup 250 ml dan
tambahkan 30 ml larutan asam asetat-khlorofom (3:2), goyangkan larutan sampai
bahan larut semua.
2. Tambahkan 0,5 ml larutan jenuh KI dan diamkan selama 1 menit dengan digoyangkan
dan tambahkan aquades 30 ml.
3. Titrasi dengan 0,1 N Na2S2O3 sampai warna kuning hampir hilang. Tambahkan 0,5 ml
larutan pati 1%. Lanjutkan titrasi sampai warna biru mulai hilang.
4. Angka peroksida dinyatakan dalam mili-equivalen dari peroksida dalam uap 100 g
contoh
Angka peroksida=

ml Na 2 S 2 O3 thio x 1000
berat contoh(g)

Penentuan Harga TBA


Salah satu uji untuk menentukan ketengikan suatu bahan adalah TBA (Thiobarbituric
Acid). Metode Tarladgis et al. (1960) merupakan salah satu uji untuk menentukan ketengikan
(rancidity) dari lemak.
a. Prinsip
Prinsip kerjanya 2-thiobarbituric acid bereaksi dengan malonaldehid membentuk
warna merah, intensitas warna merah yang terbentuk dapat diukur pada spektrofotometer.
Malonaldehid merupakan hasil oksidasi lipida (Apriyantono dkk, 1989).
b. Pereaksi
1. Larutan HCl 4N
2. Reagen TBA
c. Peralatan
1. Blender
2. Labu destilasi 1000 ml
3. Alat destilasi
4. Labu erlenmeyer 5 ml
5. Spektrofotometer
d. Cara Kerja
1. Sampel santan kelapa yang sudah dimodifikasi pada berbagai perlakuan
diambil sebanyak 100 ml kemudian dimasukkan ke dalam Warring blender.
2. Sampel dipindahkan secara kuantitatif kedalam labu destilasi 1000 ml.
3. Sebanyak 1,5 ml HCl 4N (1 bagian HCl pekat dalam dua bagian air)
ditambahkan sampai pH menjadi 1,5.
4. Batu didih dan bahan pencecah buih (antifoam) ditambahkan sedikit dan
selanjutnya labu destilasi dipasangkan pada alat destilasi.
5. Destilasi dijalankan dengan pemanasan setinggi mungkin sehingga diperoleh
destilat sebanyak 50 ml selama pemanasan 10 menit.
6. Destilat yang diperoleh diaduk, disaring dan dipindahkan sebanyak 5 ml
kedalam labu Erlemeyer 50 ml yang memiliki penutup kemudian ditambahkan
5 ml reagen TBA.
7. Reagen TBA terdiri dari larutan 0,02 M Thiobarbituric acid dalam 90 % asam
asetat glasial.
8. Larutan diaduk dan dipanaskan selama 35 menit dalam air mendidih
selanjutnya didinginkan.
9. Absorbsi dibaca dengan Spektrofotometer pada panjang gelombang 528 nm
dengan larutan blanko sebagai titik nol.

10. Larutan blanko dibuat dengan menggunakan prosedur yang sama tanpa
penambahan sampel.

PENENTUAN BILANGAN IOD


Bilangan iodin dinyatakan sebagai jumlah gram iod yang diserap oleh 100 g minyak
atau lemak pada kondisi pengujian yang digunakan adalah jumlah (gram) iodin yang dapat
diikat oleh 100 gram lemak.
a. Prinsip
Prinsip penentuan bilangan iodin dengan metode Wijs adalah penambahan larutan
iodin monoklorida dalam campuran asam asetat dan karbon tetraklorida kedalam sejumlah
sampel yang akan diuji. Setelah waktu standar untuk reaksi, penentuan dari halogen yang
berlebih dengan penembahan larutan kalium iodide daniodin yang dibebaskan dititrasi
dengan larutan natrium tiosulfat yang telah distandarisasi. Larutan wijs terdiri dari larutan 16
g iod monoklorida dalam 1000 ml asamasetat glasial. Larutan ini sangat peka terhadap
cahaya dan panas serta udara, sehingga harus disimpan di tempat yang gelap, sejuk dan
tertutup rapat.
Prinsip penentuan bilangan iodin dengan cara Hanus adalah dengan penambahan
larutan iodin bromide dalam campuran asam asetat dan karbontetraklorida ke dalam jumlah
tertentu sampel. Setelah waktu reaksi standar, penentuan dari kelebihan halogen dengan
penambahan larutan kalium iodide dan iodin yang dibebaskan dititrasi dengan larutan
standart natrium tiosulfat.
b. Pereaksi
1. Kloroform (CHCl3)
2. Larutan KI 15%
3. Larutan tiosulfat 0,1 N
4. Larutan pati
5. Pereaksi Hanus
c. Peralatan
1. Erlenmeyer bertutup
2. Alat titrasi
d. Cara Kerja

Pada penentuan bilangan iod reagen standar yang digunakan adalah larutan tiosulfat
0,1 N.
1. Timbang 0,1 0,5 gram minyak goreng dalam Erlenmeyer bertutup, tambahkan 10 ml
CHCl3 sebagai pelarut dan 25 ml pereaksi Hanus kemudian tutup dan biarkan di
tempat gelap selama 1 jam dengan sekali-kali dikocok.
2. Tambahkan 10 ml larutan KI 15 %, kemudian cuci erlenmeyer dan tutupnya dengan
100 ml aquades.
3. Larutan kemudian dititrasi dengan larutan tiosulfat 0,1 N sampai warna kuning Iod
hampir hilang.
4. Setelah larutan berwarna kuning pucat tambahkan 2 ml indikator amilum (larutan
pati). Titrasi dilanjutkan sampai warna biru hampir hilang.
5. Erlenmeyer digoyang-goyang dengan cepat hingga Iod yang masih tertinggal dalam
kloroform akan pindah ke larutan KI.
6. Lanjutkan titrasi sampai titik akhir titrasi tercapai (warna biru hilang).
7. Buat blanko seperti pada penetapan sampel.
Untuk perhitungan bilangan iod, banyaknya volume larutan tiosulfat 0,1 yang dipakai
untuk titrasi blangko (B) dan yang dipakai pada titrasi sampel (S) dicatat.

BILANGAN PENYABUNAN
Bilangan penyabunan adalah jumlah alkali yang dibutuhkan untuk menyabunkan
sejumlah tertentu contohnya minyak. Bilangan penyabunan dinyatakan sebagai jumlah
miligram kalium hidroksida yang dibutuhkan untuk menyabunkan 1 gram minyak atau
lemak.
a. Pereaksi
1. HCl 0,5 N yang sudah distandarisasi
2. Indikator fenoftalin 1% dalam alkohol 95%
3. Kalium hidroksida beralkohol :
- Tempatkan 5-10 g KOH dalam lau 21 da tambahkan 1-1,51 etil alkohol 95%
- Refluks dengan menggunakan kondensor dan penangas air selama 30-60 menit
- Distilasi, kumpulkan alkohol yang diperoleh
- Larutkan 40 g KOH (kandungan karbonat rendah) dalam 1 L alkohol yang sudah
didistilasi. Larutan ini seharusnya jernih. Tempatkan dalam botol berwarna gelap.
b. Peralatan
1. Erlenmeyer 300 ml
2. Kodenser, panjang minimum 650 nm (pendingin tegak)
3. Penangas air
4. Hot plate
c. Cara Kerja
1. Timbang 5 g minyak/lemak dalam erlemeyer 300 mL.
2. Tambahkan 50 ml KOH beralkohol.
3. Hubungkan erlenmeyer yang telah berisi contoh dan KOH beralkohol dengan
pendingin tegak. Refluks dengan menggunakan hot plate sampai semua contoh
tersabunkan sempurna, yaitu sampai larutan bebas dari butiran lemak. Biasanya
4.
5.
6.
7.

membutuhkan waktu 1 jam.


Larutan didinginkan dan bagian dalam pendingin tegak dibilas dengan akuades.
Tambahkan 1 ml indikator fenolftalein
Titrasi dengan Hcl 0,5 N sampai warna merah jambu hilang
Buat penetapan blanko (tanpa contoh) seperti penetapan contoh.

Perhitungan
Bilangan penyabunan

BILANGAN ASAM

(titer blanko-titer contoh) x N HCl x 56,1


Berat contoh

Bilangan asam dinyatakan sebagai jumlah miligram KOH yang dibutuhkan untuk
menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam 1 gram minyak atau lemak. Bilangan
asam ini menyatakan jumlah asam lemak bebas yang terkandung dalam minyak/lemak,
biasanya dihubungkan dengan proses hidrolisa minyak.lemak yang berkaitan dengan mutu
minyak/lemak.
a. Pereaksi
1. KOH 0,1 N
2. Indikator fenolftalein 1 %
3. Alkohol 95 % netral
b. Peralatan
1. Penangas air
2. Buret
c. Cara Kerja
1. Timbang 20 g minyak/lemak dalam erlenmeyer 250 ml.
2. Tambahkan 50 ml alkohol 95% netral, panaskan sampai mendidih (+/- 10 menit )
dalam penangas air sambil diaduk
3. Larutan ini kemudian ditritasi dengan KOH 0,1 N menggunakan indikator
fenolftalein sampai terbentuk warna merah jambu yang persisten selama 10 detik
Perhitungan
Bilangan asam

Kadar asam

ml KOH x N KOH x 56,1


Berat sampel
ml KOH x N KOH x M
10 G

= berat sampel

= Berat Molekul Asam Lemak Yang Dominan Dalam Minyak/Lemak (Rata-Rata Dari Campuran
Asam Lemak); Untuk minyak kelapa = 205, minyak kelapa sawit = 263 dan asam oleat = 232

PENETAPAN ASAM VOLATIL DALAM LEMAK MENTEGA (BILANGAN


REICHERT, POLENSKE DAN KIRSCHNER)
Bilangan reichert adalah jumlah ml larutan alkali 0,1 N yang diperlukan untuk
menetralkan asam-asam lemak volatil yang larut dalam air yang didistilasi dari 5 g lemak
pada kondisi tertentu.
Bilangan polenske adalah jumlah ml larutan alkali 0,1 N yang diperlukan untuk
menetralkan asam-asam lemak yang tidak larut dalam air yang didestilasi dari 5 g lemak pada
kondisi tertentu.
Bilangan kirschner adalah jumlah ml larutan alkali 0,1 N yang diperlukan untuk
menetralkan asam-asam lemak volatil larut air yang membentuk garam perak larut air, yang
didistilasi dari 5 g lemak pada kondisi tertentu.

a. Pereaksi
1. Gliserol
2. Sodium hidroksida 50%(w/w)
Larutkan NaOH dalam sejumlah air yang beratnya sama dengan NaOH yang
dilarutkan. Simpan dalam botol sehingga terhindar dari kontaminasi CO2. Ambil
bagian yang jernih bebas residu.
3. Asam sulfat encer
Encerkan lebih kurang 25 ml H2SO4 pekat menjadi 1 liter dan sesuaikan
konsentrasinya sehingga 40 ml larutan ini dapat menetralkan 2 ml larutan NaOH
50% (w/w)
4. Tepung batu kambang.
Lolos ayakan 50 mesh dan tidak lolos ayakan 90mesh
5. Indikator fenolftalein 0,6 % dalam etanol 95%
6. Etanol 95% (v/v)
Dinetralkan segera sebelum digunakan
7. Larutan NaOH 0,1 N standar
8. Larutan barium hidroksida 0,1N standar (0,5 M)
9. Perak sulfat
b. Peralatan
1. Gelas ukur 100 ml
2. Pipet 50 ml
3. Peralatan distilasi
c. Cara Kerja
- Persiapan sampel
1. Panaskan sejumlah sampel mentega dalam gelas piala sampai mencapai suhu
50-60 C sehingga lemak terpisah dari air dan curd
2. Saring lapisan lemak melalui kertas saring kering, masukkan ke dalam wadah
kering. Penyaringan dilakukan sewaktu lemak masih dalam keadaan panas
(lemak dalam keadaan cair). Jika perlu saring kembali sampai didapat filtrat
jernih dan bebas air
3. Sebelum digunakan untuk analisa, cairkan dulu lalu homogenkan.
- Penetapan sampel
1. Ambil 5 +/- 0,01 g lemak dari hasil persiapan sampel, masukkan dalam labu
polenske
2. Tambahnan 20 g gliserol dan 2 ml larutan NaOH 50% (pipet digunakan untuk
mengambil larutan NaOH harus dibersihkan dulu ujungnya dari deposit
karbonat)
3. Tutup labu dengan gelas arloji, kemudian panaskan sambil dikocok secara
kontinyu sampai seluruh lemak tersabunkan yaitu jika larutan menjadi jernih
sempurna. Hindari pemanasan berlebihan

4. Buat blanko, yaitu tanpa lemak tetapi menggunakan jumlah pereaksi yang
sama. Hindari pemanasan berlebih, jika pemanasan berlebih maka larutan
menjadi gelap. Selanjutnya blanko diperlakukan sama seperti sampel.
5. Dengan menggunakan gelas ukur, ambil 93 ml air mendidih yang sudah
dididigkan selama 15 menit. Tambahkan ke dalam lemak yang sudah
tersabunkan, pada saat sabun sudah cukup dingin tetai belum memadat.
Campur merara sampai seluruh sabun larut
6. Jika larutan tidak jernih (menandakan penyabunan tidak sempurna) atau lebih
gelap dari kuning muda (menandakan pemanasan berlebih), ulangi
penyabunan dengan menggunakan sampel lemak yang baru
7. Tambahkan 0,1 g tepung batu kambang dan 50 ml asam sulfat encer
8. Hubungkan labu dengan alat distilasi. Panaskan alabu tanpa mendidihkan
isinya dampai seluruh asam yang tidak larut seluruhnya mencair, kemudian
naikkan pemanasan, lakukan distilasi sampai terkumpul dengan stilat sebanyak
110 ml selama 19-21 menit. Jaga kecepatan air yang mengalir dalam
kondenser sehingga cukup untuk mempertahankan suhu destilat yang keluar
dari kondenser berkisar 18-21 C
9. Jika sudah terkumpul 110 ml destilat, matikan api bunden dan ganti labu 110
ml dengan gelas ukur 25 ml untuk menangkap destilat sisa
10. Tutup labu 110 ml dengan penutup. Dengan tanpa mengocok isi labu,
tempatkan labu dalam air 15 C selama 10 menit, rendam sampai batas 110 ml
11. Angkat labu dari air, keringkan bagian luar labu. Dengan hati-hati balikkan
labu, hindari pembasahan penutup dengan asam tak larut. Kocok isi labu
dengan cara pembalikan isis sebanyak 4-5 kali pembalikan, hindari
pengocokan yang berlebihan.
12. Saring dengan kertas saring kering Whatman no 4 atau 41.buang 10 ml filtrat
pertama. Kumpulkan 100 ml filtrat dalam labu. Tutup labu.
13. Filtrat ini akan digunakan untuk filtrasi pada tahap R. Filtrat seharusnya tidak
mengandung asam lemak tak laurt, jika asam lemak tak larut lolos dari
saringan, tampung filtrat dalam labu pemisah, sesudah [emisahan keluarkan
lapisan bawah (aqueous), masukkan ke dalam labu 100 ml. Tambahkan filtrat
ini kedalam kumpulan filtrat asam tak larut.
14. Lepaskan still head, cuci bagan dalam kodenser tiga kali berturut-turt dengan
15 ml air dingin, masing0masing cucian ini dilewatkan dalam kondenser, labu
110 ml, labu pemisah jika digunakan, dan penyaring (corong yang berisi kertas
saring yang digunakan pada tahap 12). Setiap kali pencucian, pada tahap akhir
biarkan air cucian memenuhi penyaringan dulu, lalu lakukan draining

(dibiarkan sehingga air mengalir dengan sendirinya) sebelum melakukan


penyaringan berikutnya. Buang air cucian
15. Larutkan asam tak larut dengan cara pencucian yang sama seperti yang
dilakukan pada tahap 14. Pencucian dilakukan sebanyak 3 kali masing-masing
denga 10 ml etanol netral. Masing-masing cucian diewatkan dalam kondenser
dan penyaring, lalu kumpulkan dalam labu 110 ml. Draining etanol cucian
pada setiap kali pencucian. Tutup labu, biarkan etanol dalam labu sampau sao
ytuk titrasi pada tahap P.
16. Tahap R, penetapan bilangan Reicherr atau asam volatil yang larut air.
Tuangkan 100 ml filtral yang berisi asam volatil yang larut air ke dalam labu
titrasi, tambahkan 0,1 ml indikator fenolftalein lalu titrasi dengan larutan
barium hidroksida sampai berwarna merah jambu. Jika ingin menetapkan
bilangan kirschner, labu titrasi yang akan digunakan harus kering, catat
volume larutan barium hidroksida yang digunakan, tuang sejumlah larutan
yang sudah dititrasi pada tahap R ke dala labu titrasi kering, tutup labu dan
lajutkan pengujian tahap K.
17. Tahap P, penetapan bilangan polenkse atau asam volatil tak larut air. Titrasi
larutan alkohol yang berisi asam volatil tak larut yang diperoleh pada tahap 15
dengan larutan barium hidroksida 0.05 M atau NaOH 0,1 M. Tambahkan 0,25
ml indikator fenolftalein sebelum titrasi.
18. Tahap K, penetapan bilangan Kirschner. Tambahkan 0,5 g tepung halus perak
sulfat ke dalam larutan netral yang diperoleh dari tahap R. Biarkan labu dalam
ruang gelap selama satu jam dengan sekali-sekali dikocok.
19. Saring dengan kertas saring kering masukkan 100 ml filtrat ke dalam labu
polenske. Tambahkan ke dalam labu polenske berturut-turut 35 ml akuades
dingan yang baru didihkan selama 15 menit sebelumnya. 10 ml asam sulfat
encer dan 0,1 g tepung batu kambang.
20. Hubunkan labu polenske dengan alat distilasi, lakukan distilasi sampai
terkumpul 110 ml destilat selama 19-21 meit. Campur merata distilat yang
diperoleh (tanpa tahap pendinginan selama 10 menit), saring lalu titrasi 100 ml
-

filtrat dengan larutan barium hidroksida.


Perhitungan
Bilangan reichert
Bilangan polenske
Bilagan Kirschner

=
=
=

1.10 (T1-T2)
T3 T4
121 (100+T1) (T5-T6)
10000

T1 : ml larutan barium hidroksida 0,06 M yang digunakan untuk titrasi sampel pada tahap R

T2: :ml larutan barium hidroksida yang digunaka untuk titrasi blanko pada tahap R
T3: ml larutan barium hidroksida 0.05 m atau NaOH 0.1 M yang digunakan untuk titrasi sampel
pada tahap p
T4 : ml larutan bariu hidroksida 0,05 M atau NaOH 0,1 M yang digunakan untuk titrasi blanko pada
tahap P
T5 : ml larutan barium hidroksida 0.05 M atau NaOH 0.1 M yang digunakan untuk titrasi sampel
pada tahap K
T6 : ml larutan barium hidroksida 0.05 M atau NaOH 0.1 M yang digunakan untuk titrasi blanko
pada tahap K

Gambar 4. Peralatan distilasi

Catatan
Jika tidak perlu menetapkan bilangan Kirschner maka pada tahap R larutan barium hidroksi
dapat diganti dengan larutan natrium hidroksida 0.1 M

PERSIAPAN

CONTOH

ANALISA

ASAM

LEMAK

BEBAS

DENGAN

MENGGUNAKAN KROMATOGRAFI GAS DAN SPEKTROMETER MASSA


a. Pereaksi
1. Kertas whatman No. 1
2. N-hepta dekanoat
3. Asam lemak standar
4. Etanol 95%
5. Lartan Na2SO3 1%
6. H2SO4 10%
7. Pelarut terdiri dari petroleum eter dan dietil eter perbandingan 1:1
8. Na2SO4 anhidrous
9. Boron triflurorida (BF3) dalam metanol (14% b/v)
10. Benzene
b. Peralatan
1. Timbangan analitik

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Pipet
Alat ekstraksi goldfish
Gas N2
Botol kecil bertutup, kapsitas 5 ml
Tabung reaksi bertutup
Water bath
Sentrifusa

Ekstraksi asam lemak bebas


Untuk contoh.bahan bukan minyak. Minyak diekstraksi dengan dietil eter menggunakan
alat ekstraksi goldfish. Kemudian ekstraksi asam lemak bebas dilakukan dengan metode
attick & Lee (1959):
1.
2.
3.
4.

Timbang 1g contoh minak dan pindahkan ke dalam corong pemisah ukuran 60 ml


Tambahkan 8 mg asam n-heptadekanoat sebagai standar internal
Tambahkan 35 ml campuran dietil eter dan petroleum eter (1:1)
Tambahkan 6.5 ml etanol 95% dan 12.5 ml Na2CO3 1%. Campuran dikocok beberapa
kali dan lapisan air (bawah) yang mengandung garam natrium dari asam lemak bebas

dipisahkan ke dalam corong pemisah lain yang berukuran 60 ml


5. Ekstraksi asam lemak bebas dari lapisan eter diulang sebanyak tiga kali masingmasing denga campuran pelarut sebagai berikut : (1) 1.5 ml etanol 95%+ 7.5ml
Na2CO3 1%, (2) 1,5 ml etanol 95% + 5 ml Na 2CO3 1% dan (3) 6.5 ml air destikata.
Seluruh lapisan air hasil Na2CO3 1% dan (3) 6.5 ml air destilata. Seluruh lapiran air
hasil ekstraksi dikumpulkan di dalam corong pemisah baru sedangkan lapisan eter
yang mengandung gliserida dibuang
6. Tambahkan 1,5 ml H2SO4 10% ke dalam corong peisah yang berisi lapirsan air,
untuk membebaskan asam lemak dari garamnya
7. Selanjutnya asam lemak bebas diekstrak dengan 12.5 ml campuran pelaru dietil
eter/petroleum eter (1:1)
8. Pisahkan lapisan eter ke dalam botol kecil bertutup berukuran 5 ml dengan melewati
kertas saring Whatman No.1 yang beisi beberapa g Na2SO4 anhidrus
9. Pelarut diuapkan dengan cara melewatkan aliran gas N2 ke dalam botol kecil tersebut.
Ekstraksi ini diulang tiga kali dengan pelarut yang masih segar
Esterifikasi
Sebelum dianalisa dengan kromatogradi gas/spektrometer massa, asam lemak bebas
diubah menjadi turunan ester metil. Esterifikasi dilakukan dengan BF 3 dalam metanol (14%,
b/v) (Metode Subelco Inc.,1975).
1. Ke dalam botol kecil yang berisi asam lemak bebas ditambahkan 2 ml pelarut benzen
kemudian ditambah pula 2 ml BF3-metanol. Botol ditutup dan campuran dikocok,
kemudian dipanaskan dalam air mendidih selama 3 menit

2. Untuk menghentikan reaksi, ke dalam campuran tambahkan 1 ml air destilata dimana


campuran akan terisan menadi dua lapisan. Lapisan atas mengandung ester metil yang
larut dalam benzen, sedangkan lapisan bawah adalah campuran metanol, air dan
katalis asam
3. Sentrifusa botol untuk memisahkan kedua lapisan tersebut dan selanjutnya lapisan
benzen dipindahkan ke botol kecil lainnya
4. Sampel siap untuk disuntikkan ke kromatograf gas/spektrometer masa.

DAFTAR PUSTAKA
Apriyantono, A., Fardiaz, D. Puspitasari N, L. Sedarnawati. dan Budiyanto, S. 1989. Analisis
Pangan. Bogor: IPB.
Tarladgis, B.G., Watts, B.M. dan Younathan, M.T. 1960. A distilation method for the
quantitative determination of malonaldehyde in rancid foods. Journal of American Oil
Chemistry Society 37: 44.
Sudarmadji, S., Haryono, B. dan Suhardi. 1997. Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan
Pertanian Edisi Keempat. Yogyakarta: UGM.