Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN

TUGAS ELEMEN MESIN I


UNIVERSITAS DARULULUM
JOMBANG

Disusun Oleh :
Moh Qomarudin
NIM :13571010

FAKULTAS TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS DARUL ULUM
JOMBANG
2016

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Tugas Elemen Mesin I merupakan salah satu sarana penunjang dalam
mempelajari Elemen Mesin yang mana ilmu Elemen Mesin itu sendiri merupakan ilmu
dasar dan merupakan essensi dari ilmu teknik. Oleh sebab itu dengan dilaksanakannya
Tugas Elemen Mesin I diharapkan seorang mahasiswa mempunyai modal yang kokoh
dalam menganalisa permasalahan yang timbul dalam mempelajari ilmu teknik pada
umumnya dan Elemen Mesin pada khususnya.

1.2. TUJUAN
Era modernisasi tidak hanya menuntut seorang mahasiswa menguasai teori-teori
saja tetapi trampil juga dalam praktek serta kerja lapangan, maka seorang mahasiswa
sangatlah perlu merealisasikan teori yang diperoleh dari bangku kuliah, salah satu
realisasinya adalah Tugas Elemen Mesin I

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 PENGERTIAN SAMBUNGAN PAKU KELING


Paku keling / rivet adalah salah satu metode penyambungan yang sederhana.
sambungan keling umumnya diterapkan pada jembatan, bangunan, ketel, tangki, kapal
Dan pesawat terbang. Penggunaan metode penyambungan dengan paku keling ini juga
sangat baik digunakan untuk penyambungan pelat-pelat alumnium. Pengembangan
Penggunaan rivet dewasa ini umumnya digunakan untuk pelat-pelat yang sukar dilas dan
dipatri dengan ukuran yang relatif kecil. Setiap bentuk kepala rivet ini mempunyai
kegunaan

tersendiri,

masing

masing

jenis

mempunyai

kekhususan

dalam

penggunaannya.
Sambungan dengan paku keling ini umumnya bersifat permanent dan sulit untuk
melepaskannya karena pada bagian ujung pangkalnya lebih besar daripada batang paku
kelingnya.
* Bagian utama paku keling adalah :
1.

Kepala

2.

Badan

3.

Ekor

4.

Kepala lepas

* Bahan paku keeling


Yang biasa digunakan antara lain adalah baja, brass, aluminium, dan tembaga
tergantung jenis sambungan/ beban yang diterima oleh sambungan.
Penggunaan umum bidang mesin : ductile (low carbor), steel, wrought iron.
Penggunaan khusus : weight, corrosion, or material constraints apply : copper
(+alloys) aluminium (+alloys), monel, dll

2.2 PENGGUNAAN PAKU KELING


Pemakaian paku keling ini digunakan untuk :

Sambungan kuat dan rapat, pada konstruksi boiler ( boiler, tangki

dan pipa-pipa tekanan tinggi ).


Sambungan kuat, pada konstruksi baja (bangunan, jembatan dan

crane ).
Sambungan rapat, pada tabung dan tangki ( tabung pendek,

cerobong, pipa-pipa tekanan).


Sambungan pengikat, untuk penutup chasis ( misalnya ; pesawat
terbang, kapal

2.3 KEUNTUNGAN DAN KELEMAHAN


a. Keuntungan
Sambungan paku keling ini dibandingkan dengan sambungan las mempunyai
keuntungan yaitu :

Bahwa tidak ada perubahan struktur dari logam disambung. Oleh


karena

itu

banyak

dipakai

pada

pembebanan-pembebanan

dinamis.
Sambungan keling lebih sederhana dan murah untuk dibuat.
Pemeriksaannya lebih mudah
Sambungan keling dapat dibuka dengan memotong kepala dari

paku keling tersebut


b. Kelemahan
* Hanya satu kelemahan bahwa ada pekerjaan mula berupa pengeboran lubang
paku kelingnya di samping kemungkinan terjadi karat di sekeliling lubang tadi selama
paku keling dipasang. Adapun pemasangan paku keling bisa dilakukan dengan tenaga
manusia, tenaga mesin dan bisa dengan peledak (dinamit) khususnya untuk jenis-jenis
yang besar.
2.4 JENIS PEMBEBANAN DALAM PAKU KELING
3

Bila dilihat dari bentuk pembebanannya, sambungan paku keling ini dibedakan
yaitu :
Pembebanan tangensial dan Pembebanan eksentrik.

PEMBEBANAN TANGENSIAL
Pada jenis pembebanan tangensial ini, gaya yang bekerja terletak pada garis
kerja resultannya, sehingga pembebanannya terdistribusi secara merata kesetiap paku
keling yang digunakan.

PEMBEBANAN EKSENTRIS
BEBAN EKSENTRIS : Beban pada sambungan paku keling melalui
ttk.berat kelompok
paku keling, dimana distribusi beban tdk.merata disemua beban
(gbr.12-13a).

Agar stabil dipasang 2 paku keling dengan arah berlawanan yaitu


gaya kolinier
(P1 & P2), sehingga beban eksentris (Po) diganti beban terpusat (P)
dan kopel torsi
(T = P.e), (Gambar 12-13b) .
Efek beban terpusat (P) ditahan oleh beban langsung

Kopel torsi (T) ditahan oleh beban torsi (Pt) (Gbr.12-14b) yang
bekerja tegak
lurus jari2 pusat kelompok paku (P).
Resu

Rumus torsi :

Tp
J

Dimana : = Tegangan geser rata2 tiap

paku

ttk.berat

= Jarak radial dari pusat ke


kelompok paku
T = Kopel torsi

x 2+ x 2

A
Tp

A2

Karena (A) = sama untuk semua paku ,dan () bisa dinyatakan

dalam 2 sumbu, 2 X 2 Y 2
Sehingga : J A(X 2 Y 2 )

Dan rumus torsi menjadi : AX 2 Y


T

Beban torsi : X 2 Y 2

Pt T

.dimana: Pt = A.
Resultante beban paku keling diperoleh dari jumlah vector (Pd) dan
(Pt)
Y
Ptx Pt.sinPt

Pty Pt.cosPt

Dengan mensubstitusikan harga (Pt) ke rumus (Ptx) didapatkan :


T
T
x

2
2
2
Ptx X + Y
y
dan Pty X + Y 2

Resultante beban paku keling :

Pr 2

Pdy + Pty 2
Pdx+ Ptx 2 +

Tugas Perencanaan :
Rencanakan suatu sistem sambungan paku keling dengan beban
eksentris, untuk mengikat plat yang menempel pada body mobil.
Data yang diketahui :
Paku keling tersusun menjadi 3 baris 4 kolom, dengan jumlah total
paku = 12 paku Jarak antar paku keling dalam baris = 80 mm
Jarak antar paku dalam kolom = 100 mm
Beban eksentris terpasang pada pusat paku baris-2 kolom-4,
sebesar (P) = 200 kN
Kemiringan beban 4/3 ke arah bawah-kanan.
2.5 CARA PEMASANGAN

KETERANGAN :
1. Plat yang akan disambung dibuat lubang, sesuai diameter paku
keling yang akan digunakan. Biasanya diameter lubang dibuat
1.5 mm lebih besar dari diameter paku keling.

2. .Paku keling dimasukkan ke dalam lubang plat yang akan


disambung.
3. .Bagian kepala lepas dimasukkan ke dalam lubang plat yang
akan disambung.
4. .Dengan menggunakan alat atau mesin penekan (palu), tekan
bagian kepala lepas masuk ke bagian ekor paku keling dengan
suaian paksa.
5. .Setelah rapat/kuat, bagian ekor sisa kemudian dipotong dan
dirapikan/ratakan.
6. .Mesin/alat pemasang paku keling dapat digerakkan dengan
udara, hidrolik atau tekanan uap tergantung jenis dan besar paku
keling yang akan dipasang.
Bila ditinjau dari jumlah deret dan baris paku keling yang digunakan,
maka kampuh keling dapat dibedakan yaitu :

BAB III
RENCANAAN SAMBUNGAN PAKU KELING

1. Kampuh Bilah Tunggal Dikeling Tunggal


Bila paku tersebut mendapat pembebanan seperti terlihat pada gambar, maka seluruh
penampang dari paku tersebut akan putus tergeser bila tidak mampu menahan gaya
luar yang diberikan pada kedua ujung plat tersebut.

10

Tegangan yang terjadi pada penampang bahan yaitu :

3.1 MENENTUKAN UKURAN PLAT


Untuk menentukan ukuran plat yang sesuai yaitu :
Bila tebal plat (t) dan lebar plat (b), maka plat tersebut akan putus tertarik, bila tidak
mampu menahan gaya luar yang diberikan. Sehingga tegangan yang terjadi pada
penampang plat yaitu tegangan tarik.

11

Contoh soal :
Dua buah plat akan disambung dengan kampuh bilah tunggal dikeling tunggal, direncanakan
menerima beban sebesar 10 kN. Bila bahan plat mempunyai tegangan tarik izin 137,3 N/mm2
dan bahan paku dengan tegangan geser izinnya 109,8 N/mm2 serta tebal plat 4 mm.
Tentukanlah :

a. Diameter paku keling yang sesuai.


b. Lebar plat yang dibutuhkan.

12

3.2 Perancangan Paku Keling 1


Kampuh Bilah Tunggal Dikeling Tunggal Satu baris
Bila kampuh bila tunggal dikeling tunggal satu baris seperti terlihat pada gambar. Dimana
tegangan yang terjadi, pada paku keling yaitu :
Teg.geser = F/A (N/mm2)
Plat tersebut akan terpisah bila gaya luar (F) mampu memutuskan kedua luas penampang
paku. Bila jumlah paku (z) buah maka plat tersebut akan terpisah jika gaya (F) luar tidak
mampu memutuskan sebanyak luas penampang paku.

Untuk luas penampang paku yang akan putus pada sistem pada sistem sambungan jenis ini
sama dengan jumlah paku yang dipergunakan ( z = n) yaitu :

13

3.3 menentukan ukuran


plat yang sesuai
Bila tebal plat (t) dan lebar plat (b), jarak antara masing-masing sumbu paku (p),
dan jumlah paku dalam satu baris (z), maka plat tersebut akan putus tertarik, bila tidak
mampu menahan gaya luar yang diberikan. Sehingga tegangan yang terjadi pada
penampang plat yaitu tegangan tarik.

Contoh soal :
Dua buah plat akan disambung dengan kampuh bilah tunggal dikeling tunggal satu baris,
direncanakan menerima beban sebesar 10 kN. Bila bahan plat mempunyai tegangan tarik izin

14

137,3 N/mm2 dan bahan paku dengan tegangan geser izinnya 109,8 N/mm2 , tebal plat 5 mm
dan jumlah paku yang digunakan sebanyak 2 buah.
Tentukanlah :
a. Diameter paku keling yang sesuai.
b. Lebar plat yang dibutuhkan.
c. Jarak antara paku.

15

3.4 Perancangan Paku Keling 2


Kampuh bilah tunggal dikeling ganda.

Untuk jenis sambungan kampuh bilah tunggal di keling ganda seperti terlihat pada gambar,
maka kedua plat tersebut terpisah bila mampu memutuskan dua baris penampang, jika jumlah
paku (n) buah maka paku terasabut akan putus tergeser, maka yang terjadi pada bahan adalah
tegangan geser.

16

3.5 menentukan ukuran plat yang sesuai


Bila tebal plat (t) dan lebar plat (b), jarak antara masing-masing sumbu paku (p), dan jumlah
paku dalam satu baris (z1), maka plat tersebut akan putus tertarik, bila tidak mampu menahan
gaya luar yang diberikan. Sehingga tegangan yang terjadi pada penampang plat yaitu
tegangan tarik.

17

Contoh soal :
Dua buah plat disambung seperti terlihat pada gambar diatas dimana pada kedua ujungnya
bekerja gaya sebesar 10000( N ). Bila Tegangan yang di izinkan untuk plat 137.9 N/mm
tegangan geser izin untuk bahan paku 109.8 N/mm2 . Jumlah paku keling yang di gunakan
berjumlah 6 buah serta ketebalan plat 5 mm.
Ditanyakan :
Diameter paku keling.
Jarak antara paku .
Lebar plat yang dibutuhkan .

18