Anda di halaman 1dari 31

KATA PENGANTAR

Puji syukur yang tidak terhingga penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena
berkat rahmat dan karunia-Nya makalah mini project yang berjudul Laporan Mini
project Penyuluhan Tentang Penyakit Kecacingan di Posyandu Kelurahan Sanggau Kulor
Kecamatan Singkawang dapat terselesaikan dengan baik.
Pada kesempatan ini secara khusus ingin mengucapkan terima kasih kepada dr.
Ricka Sandra Naibaho selaku pendamping dokter internsip dan Bu Edita Acu, SKM
selaku Kepala Puskesmas Singkawang Timur selama bertugas di Puskesmas Singkawang
Timur yang telah memberikan petunjuk, pengarahan dan nasehat yang sangat berharga
selama penulis bertugas. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman satu
kelompok penulis selama bertugas di Puskesmas Singkawang Timur atas segala bantuan
serta kerjasamanya selama pembuatan makalah ini. Penulis mengucapkan terima kasih
kepada para pegawai puskesmas yang bertugas baik di puskesmas kelurahan maupun di
puskesmas induk atas bantuannya selama penuli bertugas.
Semoga semua pihak yang telah disebutkan dan tidak bisa saya sebutkan satu
persatu mendapat anugerah yang berlimpah dari Allah SWT atas segala kebaikan yang
telah diberikan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa hasil penelitian yang tertuang dalam makalah ini masih
memiliki banyak kekurangan, saran dan kritik sangat diharapkan oleh penulis, namun
demikian penulis berharap makalah ini dapat memberi manfaat bagi orang lain dalam
melaksanakan tugas pembangunan kesehatan

Hormat Saya

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Penyakit cacingan saat ini masih dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat
yang besar terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Pemerintah
indonesia sudah lama melakukan upaya pemberantasan namun hasil yang dicapai masih
belum memadai. Terbukti masih banyak ditemukannya penyakit tersebut dibeberapa
daerah di Indonesia.
Di Indonesia, salah satu golongan nematoda yang menyebabkan infeksi parasit
usus yang paling sering diantaranya ialah cacing perut yang ditularkan melalui tanah.
Oxyuris vernicularis atau lebih sering dikenal cacing kremi merupakan parasit manusia
yang paling sering terjadi. Cacing ini menyebabkan penyakit yang disebut enterobiasis
atau oxyuriasis. Oxyurasis dapat menyerang berbagai golongan umur, tapi lebih sering
menyerang anak-anak. Selain Oxyuris vermicularis, jenis cacing lainnya meliputi cacing
gelang (Ascaris Lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris Trichiura), dan cacing
tambang (Necator americans) yang ditularkan melalui tanah (Soil Transmitted
Helminthiasis).
Penyakit cacingan tersebar luas, baik di pedesaan maupun diperkotaan. Angka
infeksi tinggi, tetapi intensitas infeksi (jumlah cacing dalam perut) berbeda. Hasil survei
cacingan di sekolah dasar di beberapa provinsi pada tahun 1986-1991 menunjukkan
prevalensi sekitar 60%-80%, sedangkan untuk semua umur berkisar antara 40%-60%.
Hasil survei subbit Diare pada tahun 2002 dan 2003 pada 40 SD di 10 provinsi
menunjukkan prevalensi berkisar antara 2,2%-96,3%. Sedangkan hasil survey
kecacingan nasional 2009 Oleh Ditjen P2PL ( Bidang Pengendalian Penyakit dan
Penyahatan Lingkungan ) ada 31,8% siswa SD menderita kecacingan.
Penelitian epidemiologi telah dilakukan hampir di seluruh Indonesia, terutama
pada anak-anak sekolah dan umumnya didapatkan angka prevalensi tinggi yang
bervariasi. Prevalensi askariasis di provindi DKI Jakarta adalah 4-91%, Jabar 20-90%,
Yogyakarta 12-85%, Jatim 16-74%, Bali 40-95%, NTT 10-75%, sumut 46-75%, Sumbar
2-71%, Sumsel 51-78%, Sulut 30-72%. Bila menurut golongan umur, askariasis lebih
banyak ditemukan pada anak-anak, prevalensi kecacingan anak balita juga lebih rendah

dibandingkan golongan umur lain, mungkin disebabkan anak balita relatif lebih sedikit
tercemar infeksi.
Ascariasis pada manusia muncul di kedua lingkungan yang sedang dan tropis.
Prevalensi rendah terdapat pada iklim yang kering, tetapi tinggi di kondisi yang basahdan
hangat yang mana kondisiini cocok untuk telur dan embrionisasi. Kepadatan, ekonomi
lemah, rendah higienitas lingkungan dan suplai air dapat menyebabkan naiknya infeksi
cacing ini. Prevalensi Ascariasis lumbricoides adalah 16,5%. Paling tertinggi
prevalensinya terutama pada golongan anak kecil antara 11-15 tahun sekitar 3,7%. Dan
pada grup 15 tahun atau kebawah bisa mencapai 5,3%. Pada rentang umur 6-10, 11-15
dan 16-20 tahun 3,5%, 5,4% dan 3,5% didapatkan menderita malnutrisi dari ringan
sampai sedang.
Umumnya di negara berkembang termasuk Indonesia pelaku utama
pengasuhan anak adalah ibu. Cara pemeliharaan kebersihan dan kesehatan pada balita
dan anak-anak sekolah dasar masih sangat bergantung bagaimana cara ibu (pola asuhan
ibu) mengajarkan penyakit cacingan tersebut kehidupan anaknya. Pola asuhan ibu ini
dapat dilihat dari tingkat perawatan fisik anak, tingkat penyediaan sarana mendukung
kesehatan, tingkat keteladanan ibu dan tingkat komunikasi ibu dan anak. Pola asuh ibu
ini sendiri dipengaruhi oleh pengetahuan, sikap dan perilaku ibu dalam usaha
memberikan pendidikan dini terhadap suatu penyakit terutama kecacingan.
I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas, maka penulis ingin
mengetahui beberapa permasalahan, yaitu :
1. Bagaimana gambaran pengetahuan ibu terhadap penyakit kecacingan pada
anak?
2. Bagaimana gambaran perilaku hidup bersih dan sehat ibu terhadap penyakit
kecacingan pada anak ?
3. bagaimana gambaran sikap ibu terhadap penyakit kecacingan pada anak?

I.3 Tujuan Penelitian


Mengetahui hubungan pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu terhadap penyakit
kecacingan pada anak di wilayah kerja kelurahan Sanggau Kulor.
I.4 Manfaat penelitian
1. bagi ibu yang memiliki anak balita
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan tambahan kepada ibu-ibu
tentang penyakit cacingan dan cara pencegahannya sehingga dapat terhindar dari faktor
resiko penyebab penyakit cacingan.
2. bagi puskesmas Pajintan
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi pada puskesmas Pajintan yang
berkaitan dengan perilaku anak yang beresiko untuk terpajan faktor penyebab penyakit
terutama penyakit cacingan serta sebagai bahan masukan dalam kegiatan UKM
mencakup dalam program promosi kesehatan.
3. Bagi Dinas Kesehatan
a. sebagai tambahan informasi dan bahan masukan dalam upaya pencegahan
masalah kesehatan khususnya penyakit cacingan
b. dapat memberikan gambaran tentang masalah kesehatan yang terjadi pada anak
usia sekolah khususnya tentang penyakit cacingan, sehingga pemerintah lebih tepat
dalam mengambil kebijakan-kebijakan guna mengatasi permasalahan tersebut.
4. bagi peneliti
Penelitian ini dapat juga sebagai bahan penelitian selanjutnya, serta merupakan
proses yang bermanfaat dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Konsep terkait
1. Konsep Cacingan
a. Pengertian
Cacingan atau sering disebut kecacingan merupakan penyakit endemik dan
kronik diakibatkan oleh cacing parasit dengan prevalensi tinggi, tidak mematikan
tetapi mengganggu kesehatan tubuh manusia sehingga berakibat menurunkan
kondisi gizi dan kesehatan masyarakat. Kecacingan umumnya akibat infeksi cacing
gelang (ascaris lumbricoides), cacing kremi (Oxyuris Vermicularis), cacing pita
(Taena Solium), dan cacing tambang (Ancylostoma duodenale) (Zulkoni
Akhsin,2007).
Cacing merupakan salah satu parasit pada manusia dan hewan yang
sifatnya merugikan dimana manusia merupakan hospes untuk beberapa jenis
cacing yang termasuk Nematoda usus. Sebagian besar dari Nematoda ini masih
merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Diantara Nematoda usus
tedapat sejumlah spesies yang penularannya melalui tanah (Soil Transmitted
Helminths) diantaranya yang tersering adalah Ascaris lumbricoides, Necator
americanus, Ancylostoma duodenale dan Trichuris trichiura. Soil Transmitted
Helminths (STH) adalah sekelompok cacing parasit (kelas Nematoda) yang dapat
menyebabkan infeksi pada manusia melalui kontak dengan telur ataupun larva
parasit itu sendiri yang berkembang di tanah yang lembab yang terdapat di negara
yang beriklim tropis maupun subtropis (Gandahusada, 2000).
Infeksi Soil Transmitted Helminths pada manusia dapat menyebabkan
gangguan pada jaringan dan organ tubuh, dimana parasit tersebut hidup dan
mengambil nutrisi dari dalam tubuh manusia. Pada keadaan kronis, infeksi Soil
Transmitted Helminths mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan
fisik dan intelektual anak-anak. Selain itu, infeksi Soil Transmitted Helminths juga
diperkirakan berdampak negatif terhadap kemampuan kognitif, mempengaruhi
prestasi belajar di sekolah, di mana akan mempengaruhi produktivitas ekonomi
masa (Sutanto,dkk, 2008).

Infeksi cacing terdapat luas di seluruh Indonesia yang beriklim tropis,


terutama di pedesaan, daerah kumuh, dan daerah yang padat penduduknya. Semua
umur dapat terinfeksi kecacingan dan prevalensi tertinggi terdapat pada anak-anak.
Penyakit ini sangat erat hubungannya dengan keadaan sosial-ekonomi, kebersihan
diri dan lingkungan. Infeksi kecacingan adalah ditemukannya satu atau lebih telur
cacing pada pemeriksaan tinja (Rifdah,2007).
Penyakit ini sangat berkaitan erat dengan masalah hygiene dan sanitasi
lingkungan. Di Indonesia masih banyak tumbuh subur penyakit cacing
penyebabnya adalah hygiene perorangan sebagian masyarakat yang masih kurang.
Kebanyakan penyakit cacing ditularkan melalui tangan yang kotor. Kuku jemari
tangan yang kotor dan panjang sering terselipi telur cacing karena kebiasaan anak
bermain ditanah.
a. Epidemiologi
Dari seluruh anak-anak yang membutuhkan penatalaksanaan, tiga perempat
terdapat di negara-negara area Asia Tenggara dan Afrika, sekitar seperempat
terdapat di area Pasifik Barat, Mediterania Timur, dan Amerika. Hanya 4 juta anakanak (atau kurang dari 1%) terdapat di negara-negara area Eropa (WHO, 2013).
Ascaris lumbricoidesdaes & Trichuris trichiura diperkirakan menginfeksi 7
masing-masing 1,3 milyar orang di seluruh dunia. Secara geografis, insidensi
infeksi parasit ini bervariasi. Prevalensi infeksi Ascaris lumbricoides yang tinggi
terdapat di Cina dan Asia Tenggara. Pada negaranegara di Asia Tengah, askariasis
terutama terdapat di daerah lembab. Sekitar 45% terdapat di Amerika Tengah dan
Amerika Selatan. Di Eropa, angka infeksi Ascaris lumbricoides umumnya rendah.
Infeksi Trichuris trichiura, Ancylostoma duodenale, dan Necator americanus
umumnya terdapat di negara-negara dengan daerah tropis dan subtropis. Distribusi
infeksi Trichuris trichiura terjadi seiring dengan penyebaran Ascaris lumbricoides.
Sedangkan distribusi infeksi Ancylostoma duodenale terdapat di Timur Tengah,
Afrika Utara, dan Eropa Selatan (Margono, 2008)

b. Cara Penularan
Penyakit cacing yang ditularkan melalui tanah termasuk dalam keluarga
nematoda saluran cerna. Penularan dapat terjadi melalui 2 cara yaitu (Aru
Sudoyo,2006)
1. Infeksi langsung
Penularan langsung dapat terjadi bila telur cacing dari tepi anal masuk ke
mulut tanpa pernah berkembang dulu ditanah. Cara ini terjadi pada cacing kremi
(Oxyuris vermicularis) dan trikuriasis (Trichuris Trichura). Penularan langsung
dapat juga terjadi setelah periode berkembangnya telur ditanah kemudian telur
tertelan melalui tangan atau makanan yang tercemar.
2. Larva menembus kulit
Penularan melalui kulit terjadi pada cacing tambang / ankilostomiasis dan
strongiloidiasis dimana telur terlebih dahulu menetas di tanah baru kemudian
larva filariform menginfeksi melalui kulit.
c. Macam-macam Cacing Nematoda Usus
Manusia merupakan hospes beberapa nematoda usus (cacing perut), yang
dapat mengakibatkan masalah bagi kesehatan masyarakat. Diantara cacing perut
terdapat sejumlah species yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted
helminths). Diantara cacing tersebut yang terpenting adalah cacing gelang (Ascaris
lumbricoides), cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus)
dan cacing cambuk (Trichuris trichiura). Jenis-jenis cacing tersebut banyak
ditemukan didaerah tropis seperti Indonesia. Pada umumnya telur cacing bertahan
pada tanah yang lembab, tumbuh menjadi telur yang infektif dan siap untuk masuk
ke tubuh manusia yang merupakan hospes defenitifnya. (Depkes RI, 2006).
1. Ascaris Lumbricoides
Cacing jenis ini banyak ditemukan di daerah tropis dengan kelembapan
tinggi, termasuk Indonesia. Jika sudah dewasa panjangnya bisa mencapai 10-30
cm. Biasanya hidup di usus halus. Bila dilihat secara langsung, warnanya kuning
kecokelatan dan bergaris-garis halus. Cacing ini hidup hanya dalam tubuh manusia.

Manusia merupakan satu-satunya hospes Ascaris lumbricoides. Penyakit


yang disebabkan parasit ini disebut askariasis. Prevalensi askariasis di Indonesia
termasuk dalam kategori tinggi yaitu memiliki frekuensi antara 60-90%.
Kurangnya pemakaian jamban keluarga menimbulkan pencemaran tanah dengan
tinja di sekitar halaman rumah, di bawah pohon, di tempat mencuci dan di tempat
pembuangan sampah. Hal ini akan memudahkan terjadinya reinfeksi. Di negaranegara tertentu terdapat kebiasaan memakai tinja sebagai pupuk
a. Morfologi dan daur hidup
Manusia merupakan hospes definitif cacing ini. Cacing jantan berukuran 1030 cm, sedangkan betina 22-35 cm, pada stadium dewasa hidup di rongga usus
halus, cacing betina dapat bertelur sampai 100.000-200.000 butir sehari, terdiri dari
telur yang dibuahi dan telur yang tidak dibuahi. Di tanah, dalam lingkungan yang
sesuai telur yang dibuahi tumbuh menjadi bentuk infektif dalam waktu kurang
lebih 3 minggu. Bentuk infektif ini bila tertelan manusia akan menetas menjadi
larva di usus halus, larva tersebut menembus dinding usus menuju pembuluh darah
atau saluran limfa kemudian di alirkan ke jantung lalu mengikuti aliran darah ke
paru-paru. Setelah itu melalui dinding alveolus masuk ke rongga alveolus, lalu naik
ke trachea melalui bronchiolus dan broncus. Dari trachea larva menuju ke faring,
sehingga menimbulkan rangsangan batuk, kemudian tertelan masuk ke dalam
esofagus lalu menuju ke usus halus, tumbuh menjadi cacing dewasa. Proses
tersebut memerlukan waktu kurang lebih 2 bulan sejak tertelan sampai menjadi
cacing dewasa (Gandahusada, 2006:10).

Gambar 1. Daur hidup Ascaris Lumbricoides

b. Patofisiologi
Gangguan yang disebabkan oleh cacing dewasa biasanya ringan. Dapat
berupa gangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan berkurang, diare dan
konstipasi. Pada infeksi berat, terutama pada anak-anak dapat terjadi gangguan
penyerapan makanan (malabsorbtion). Keadaan yang serius, bila cacing
menggumpal dalam usus sehingga terjadi penyumbatan pada usus (Ileus
obstructive). Universitas Sumatera Utara Selain itu menurut Effendy yang dikutip
Surat Keputusan Menteri Kesehatan (2006) gangguan juga dapat disebabkan oleh
larva yang masuk ke paru-paru sehingga dapat menyebabkan perdarahan pada
dinding alveolus yang disebut Sindroma Loeffler.
c. Gejala klinis
Secara umum, tanda yang terlihat pada anak yang terkena kecacingan adalah:
a. Badan terasa lemah, neusea, sakit perut, lesu, anemia, penurunan berat
badan dan kadang-kadang diare dengan tinja berwarna hitam.
b. Pada infeksi ringan gangguan Gastro Intestinal ringan.
c. Menimbulkan anemia pada penderita.
d. Pada infeksi berat dapat meyebabkan gejala mual, muntah, anoreksia
bahkan ileus
e. Menimbulkan penyakit Ground itch (cotaneous larva migrans) dengan
gejala gatal-gatal, erythema, papula, erupsi dan vesicula pada kulit.
Gejala cacingan sering dikacaukan dengan penyakit-penyakit lain. Pada
permulaan mungkin ada batuk-batuk dan eosinofilia. Anak yang menderita
cacingan biasanya lesu, tidak bergairah dan kurang konsentrasi belajar. Pada
anak-anak yang menderita Ascariasis lumbricoides perutnya tampak buncit, perut
sering sakit, diare, dan nafsu makan kurang. Biasanya anak masih dapat
beraktivitas walau sudah mengalami penuruanan kemampuan belajar dan
produktivitas. Pemeriksaan tinja sangat diperlukan untuk ketepatan diagnosis
yaitu dengan menemukan telur-telur cacing di dalam tinja tersebut. Jumlah telur

juga dapat dipakai sebagai pedoman untuk menentukan beratnya infeksi (Menteri
Kesehatan, 2006)
d. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja dan cacing
dewasa yang keluar melalui mult / anus (Pinardi Haddjaja,2008).
e. Pengobatan
Pengobatan dapat dilakukan secara individu atau masal pada masyarakat.
Pengobatan individu dapat digunakan bermacam-macam obat misalnya preparat
piperasin, pyrantel pamoate, albendazole atau mebendazole. Pemilihan obat
anticacing untuk pengobatan massal harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu:
mudah diterima di masyarakat, mempunyai efek samping yang minimum, bersifat
polivalen sehingga dapat berkhasiat terhadap beberapa jenis cacing, harganya
murah (terjangkau) (Menteri Kesehatan, 2006).
f. Prognosis
Selama tidak terjadi obstruksi oleh cacing dewasa yang bermigrasi
mempunyai prognosis yang bak. Tanpa pengobatan, infeksi cacng dapat sembuh
sendiri dalam waktu 1,5 tahun. Dengan pengobatan, kesembuhan diperoleh antara
80-90%.
2. Cacing Cambuk (Trichuris Trichuria)
a. Morfologi dan daur hidup
Trichuris trichiura betina memiliki panjang sekitar 5 cm dan yang jantan
sekitar 4 cm. Hidup di kolon asendens dengan bagian anteriornya masuk ke
dalam mukosa usus. Satu ekor cacing betina diperkirakan menghasilkan telur
sehari sekitar 3.000-5.000 butir. Telur berukuran 50-54 mikron x 32 mikron,
berbentuk seperti tempayan dengan semacam penonjolan yang jernih pada
kedua kutub. Kulit telur bagian luar berwarna kekuning-kuningan dan bagian
di dalamnya jernih.
Telur yang dibuahi dikeluarkan dari hospes bersama tinja, telur menjadi
matang dalam waktu 36 minggu di dalam tanah yang lembab dan teduh.

Telur matang ialah telur yang berisi larva dan merupakan bentuk infektif.
Cara infeksi langsung terjadi bila telur yang matang tertelan oleh manusia
(hospes), kemudian larva akan keluar dari dinding telur dan masuk ke dalam
usus halus sesudah menjadi dewasa cacing turun ke usus bagian distal dan
masuk ke kolon asendens dan sekum. Masa pertumbuhan mulai tertelan
sampai menjadi cacing dewasa betina dan siap bertelur sekitar 30-90 hari
(Gandahusada, 2006).

Gambar 2. Daur Hidup Trichuris trichiura (Menteri Kesehatan, 2006)


b. Patofisiologi
Trichuris trichiura pada manusia terutama hidup di sekum dapat juga
ditemukan di dalam kolon asendens. Pada infeksi berat, terutama pada anak
cacing ini tersebar diseluruh kolon dan rektum, kadang-kadang terlihat pada
mukosa rektum yang mengalami prolapsus akibat mengejannya penderita
sewaktu defekasi.
Cacing ini memasukkan kepalanya ke dalam mukosa usus hingga terjadi
trauma yang menimbulkan iritasi dan peradangan mukosa usus. Pada tempat
pelekatannya dapat menimbulkan perdarahan. Di samping itu cacing ini juga
mengisap darah hospesnya sehingga dapat menyebabkan anemia (Menteri
Kesehatan, 2006)

c. Gejala Klinis
Infeksi Trichuris trichiura yang ringan biasanya tidak memberikan
gejala klinis yang jelas atau sama sekali tanpa gejala. Sedangkan infeksi berat
dan menahun terutama pada anak menimbulkan gejala seperti diare,
disenteri, anemia, berat badan menurun dan kadang-kadang terjadi prolapsus
rektum. Infeksi Trichuris trichiura yang berat juga sering disertai dengan
infeksi cacing lainnya atau protozoa. Diagnosa dibuat dengan menemukan
telur di dalam tinja (Gandahusada, 2006).
d. Diagnosis
Diagnosis dibuat dengan menemukan telur dalam tinja
e. Pengobatan
Higiene pasien diperbaiki dan diberikan diet tinggi kalori, sedangkan
anemia dapat diatasi dengan pemberian preparat besi. Bila keadaan ringan
dan tak menimbulkan gejala, penyakit ini tidak diobati. Tetapi bila
menimbulkan gejala, dapat diberikan obat-obatan (Aru Sudoyo,2006) :
-

Diltiasimin jodida, diberikan dengan dosis 10-15 mg/kgBB/hari selama 3-5


hari

Stilbazium Yodida, diberikan dengan dosis 10mg/kgBB/hari, 2 kali sehari


selama 3 hari dan bila diperlukan dalam waktu yang lebih lama. Efek
samping obat ini adalah rasa mual, nyeri pada perut dan warna tinja menjadi
merah.

Heksiresorsinol 0,2% dapat diberikan 500 ml dalam bentuk enema, dalam


waktu 1 jam

Mebendazol, diberikan dengan dosis 100 mg, 2 kali sehari selama 3 hari atau
dosis tunggal 600 mg.

f. Prognosis
Dengan pengobatan yang adekuat, prognosis baik
3. Cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale)
a. Morfologi dan daur hidup
Necator americanus dan Ancylostoma duodenale adalah dua spesies cacing
tambang yang dewasa di manusia. Habitatnya ada di rongga usus halus. Cacing
betina menghasilkan 9.000-10.000 butir telur sehari. Cacing betina mempunyai
panjang sekitar 1 cm, cacing jantan kira-kira 0,8 cm, cacing dewasa berbentuk
seperti huruf S atau C dan di dalam mulutnya ada sepasang gigi.
Daur hidup cacing tambang adalah sebagai berikut, telur cacing akan keluar
bersama tinja, setelah 1-1,5 hari dalam tanah, telur tersebut menetas menjadi
larva rabditiform. Dalam waktu sekitar 3 hari larva tumbuh menjadi larva
filariform yang dapat menembus kulit dan dapat bertahan hidup 7-8 minggu di
tanah.
Telur cacing tambang yang besarnya kira-kira 60x40 mikron, berbentuk bujur
dan mempunyai dinding tipis. Di dalamnya terdapat beberapa sel, larva
rabditiform panjangnya kurang lebih 250 mikron, sedangkan larva filriform
panjangnya kurang lebih 600 mikron. Setelah menembus kulit, larva ikut aliran
darah ke jantung terus ke paru-paru. Di paru larvanya menembus pembuluh
darah masuk ke bronchus lalu ke trachea dan laring. Dari laring, larva ikut
tertelan dan masuk ke dalam usus halus dan menjadi cacing dewasa. Infeksi
terjadi bila larva filariform menembus kulit atau ikut tertelan bersama makanan
(Menteri Kesehatan , 2006).
Daur hidupnya ialah sebagai berikut :
telur

larva rabditiform

darah

jantung kanan

larva filariform
paru

bronkus

menembus kulit
trakea

laring

kapiler

usus halus

Infeksi terjadi bila larva filariform menembus kulit. Infeksi A. Duodenale


juga mungkin dengan menelan larva filaridorm (Srisasi Gandahusada,2006).

Gambar 3. Daur hidup Necator americanus dan Ancylostoma duodenale (Menteri


Kesehatan, 2006).
b. Patofisiologi
Cacing tambang hidup dalam rongga usus halus. Selain mengisap darah,
cacing tambang juga menyebabkan perdarahan pada luka tempat bekas tempat
isapan.Infeksi oleh cacing tambang menyebabkan kehilangan darah secara
perlahan-lahan sehingga penderita mengalami kekurangan darah (anemia)
akibatnya dapat menurunkan gairah kerja serta menurunkan produktifitas.
Kekurangan darah akibat cacingan sering terlupakan karena adanya penyebab lain
yang lebih terfokus (Menteri Kesehatan, 2006).

c. Gejala klinis
Gejala nekatoriasis dan ankilostomiasis adalah sebagai berikut :
- Stadium larva, bila banyak larva filariform menembus kulit maka
terjadi perubahan kulit yang disebut ground itch perubahan pada paru
biasanya ringan
- Stadium dewasa, gejala tergantung pada spesies, jumlah cacing, dan
keadaan gizi penderita (fe dan protein). Tiap cacing N. Americanus
menyebabkan kehilangan darah sebanyak 0,005-0,1 cc sehari,
sedangkan A. Doudenale 0,08-0,34 cc. Biasanya terjadi anemia
hipokrom mikrositer. Disamping itu juga terdapat eosinofilia.

d. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja segar. Dalam
tinja yang lama mungkin ditemukan larva. Untuk membedakan spesies larva N.
Amercanud dan A. Duodenale dapat dilakukan biakan tinja misalnya dengan
cara Harada-Mori (Srisasi Gandahusada,2006).
e. Pengobatan
Perawatan umum dilakukan dengan memberikan nutrisi yang baik, suplemen
preparat besi diperlukan oleh pasien dengan gejala yang berat, terutama bila
ditemukan bersama-sama anemia (Aru Sudoyo,2006)
Obat-obat yang digunakan :
-

Albendazol, diberikan dengan dosis tunggal 400 mg


Mebendazol, diberikan dengan dosis 100 mg, 2 kali sehari selama 3
hari

Tetrakloretilen, merupakan obat pilihan utama ( drug of choice )


terutama untuk pasien ansilostomiasis. Dosis diberikan 0,12
ml/kgBB, dosis tunggal tidak boleh lebih dari 5 ml. Pengobatan dapat
diulang 2 minggu kemudian dilakukan pemeriksaan telur tinja tetap
positif. Pemberian obat ini sebaiknya dalam keadaan perut kosong

disertai pemberian 30 g MgSO4. Kontraindikasi pemberian obat ini


pada pasien alkoholisme, kelainan pencernaan, konstipasi.
- Befanium hidroksinaftat, obat pilihan utama untuk ankilostomiasis dan
baik untuk pengobatan massal pada anak. Obat ini relatif tdak toksik.
Dosis diberikan 5g 2 kali sehari, dan dapat diulang bilamana
diperlukan. Untuk pengobatan necator americanus, dosis diberikan
untuk 3 hari.
- Pirantel pamoat, obat ini cukup efektif dengan toksisitas yang rendah
dan dosis yang diberikan 10 mg/kgBB/hari sebagai dosis tunggal
Heksilresinol, diberikan sebagai obat alternatif yang cukup efektif dan
dosis pemberian obat ini sama seperti pada pengobatan askariasis
d. Faktor faktor yang Mempengaruhi Terjadinya cacingan
Menurut Hotes (2003) mengemukakan bahwa faktor-faktor risiko yang
dapat mempengaruhi terjadinya penyakit cacingan yang penyebarannya melalui
tanah antara lain :
1. Lingkungan
Pada dasarnya perilaku dapat diamati melalui sikap dan tindakan. Namun
demikian tidak berarti bahwa bentuk dari perilaku itu hanya dilihat dari sikap
dan tindakannya. Perilaku dapat juga bersifat konvensional, yakni dalam bentuk
pengetahuan, persepsi dan motivasi. Bloom (1956), membedakan bentuk
perilaku menjadi 3 macam yakni cognitive, effective dan psikomotor. Para ahli
lain menyebutnya dengan pengetahuan (knowledge), sikap (Attitude), dan
tindakan (practice).
Beberapa diantara perilaku yang bisa menimbulkan kecacingan adalah :
a. Kebersihan kuku
Kebersihan kuku sangat berpengaruh pada infeksi cacing masuk kedalam
tubuh. Kuku yang berwarna hitam, banyak kotoran didalamnya bisa

dimungkinkan kuku tersebut terdapat telur cacing. Jika tertelan, telur akan
menetas di perut.
b. Kebiasaan Cuci Tangan Sebelum Makan
Anak-anak paling sering terserang penyakit cacingan karena biasanya jarijari tangan mereka dimasukkan ke dalam mulut, atau makan nasi tanpa cuci
tangan, namun orang dewasa juga tidak luput dari penyakit Cacingan. Maka
hendaklah anak-anak dibiasakan mencuci tangan sebelum makan agar larva
cacing tidak tertelan bersama makanan. Cacing yang paling sering ditemui ialah
cacing gelang, cacing tambang cacing pita, dan cacing kremi(1).
c. Kebiasaan Bermain di Tanah
Tanah liat, kelembaban tinggi dan suhu yang berkisar antara 25 30 0 C
merupakan hal hal yang sangat baik untuk berkembangnya telur Ascaris
lumbricoides menjadi bentuk infektif. sehingga sangat dianjurkan untuk
memakai alas kaki ketika beraktivitas di luar rumah dan tidak bermain yang
berhubungan dengan tanah.
d. Kebiasaan Defekasi
Perilaku defekasi (buang air besar) yang kurang baik dan di sembarang
tempat diduga menjadi faktor risiko dalam infeksi cacing. Secara teori, cacing
Soil Transmited Helminthes memerlukan media tanah untuk perkembangannya.
Adanya telur cacing tambang pada tinja penderita yang melakukan aktifitas
defekasi di tanah terbuka semakin memperbesar peluang penularan larva cacing
tambang pada masyarakat di sekitarnya. Kurangnya pemakaian jamban keluarga
menimbulkan pencemaran tanah dengan tinja di halaman, dibawah pohon, di
tempat mencuci, di sungai, dan dipembuangan sampah, bahkan di negara
tertentu terbiasa menggunakan tinja sebagai pupuk. Hal inilah yang menjadikan
resiko kecacingan tinggi.
e. Kebiasaan Jajan
Jajan di sembarang tempat tanpa melihat apakah makanan tersebut sehat,
dan terjamin kebersihannya bisa menjadi pemicu munculnya penyakit. Debu
yang bertebaran bisa membawa telur cacing dan jika menempel di makanan

yang dijual dipinggir jalan, kemudian kita makan dan akhirnya telur cacing akan
masuk dan menetas didalam tubuh kita
1. Tanah
Penyebaran penyakit cacingan dapat melalui terkontaminasinya tanah
dengan tinja yang mengandung telur Trichuris trichiura, telur tumbuh dalam
tanah liat yang lembab dan tanah dengan suhu optimal 30C (Depkes R.I,
2004:18). Tanah liat dengan kelembapan tinggi dan suhu yang berkisar
antara25C-30C sangat baik untuk berkembangnya telur Ascaris lumbricoides
sampai menjadi bentuk infektif (Srisasi Gandahusada, 2000:11).Sedangkan
untuk pertumbuhan larva Necator americanus yaitu memerlukan suhu optimum
28C-32C dan tanah gembur seperti pasir atau humus, dan untuk Ancylostoma
duodenale lebih rendah yaitu 23C-25C tetapi umumnya lebih kuat
(Gandahusada, 2006).
2.

Iklim
Penyebaran Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura yaitu di daerah

tropis karena tingkat kelembabannya cukup tinggi. Sedangkan untuk Necator


americanus dan Ancylostoma duodenale penyebaran ini paling banyak di daerah
panas dan lembab. Lingkungan yang paling cocok sebagai habitat dengan suhu
dan kelembapan yang tinggi terutama di daerah perkebunan dan pertambangan
(Onggowaluyo, 2002).
3. Perilaku
Perilaku mempengaruhi terjadinya infeksi cacingan yaitu yang ditularkan
lewat tanah .Anak-anak paling sering terserang penyakit cacingan karena
biasanya jari-jari tangan mereka dimasukkan ke dalam mulut, atau makan nasi
tanpa cuci tangan.

4.

Sosial Ekonomi
Sosial ekonomi mempengaruhi terjadinya cacingan menurut Tshikuka
(1995) dikutip Hotes (2003) yaitu faktor sanitasi yang buruk berhubungan
dengan sosial ekonomi yang rendah.

5.

Status Gizi
Cacingan dapat mempengaruhi pemasukan (intake), pencernaan (digestif),

penyerapan (absorbsi), dan metabolisme makanan. Secara keseluruhan


(kumulatif), infeksi cacingan dapat menimbulkan kekurangan zat gizi berupa
kalori dan dapat menyebabkan kekurangan protein serta kehilangan darah.
Selain dapat menghambat perkembangan fisik,anemia, kecerdasan dan
produktifitas kerja, juga berpengaruh besar dapat menurunkan ketahanan tubuh
sehingga mudah terkena penyakit lainnya (Depkes R.I, 2006).
2. Kerugian Akibat Kecacingan
Adanya cacing dalam usus akan menyebabkan kehilangan zat besi sehingga
menimbulkan kekurangan gizi dan anemia. Kondisi yang kronis ini
selanjutnya dapat berakibat menurunnya daya tahan tubuh sehingga anak
mudah jatuh sakit.
Cacingan sendiri merupakan pertanda bahwa kebersihan perorangan pada
panderita kurang baik sehingga ini merupakan peluang untuk terjadinya
berbagai infeksi saluran pencernaan. Jika keadaan ini berlangsung kronis maka
pada usia sekolah akan terjadi penurunan kemampuan belajar yang
selanjutnyaa berakibat penurunan prestasi belajar. Pada orang dewasa,
gangguan ini akan menurunkan produktivitas kerja. (Sasongko, 2000)
Hasil penelitian Ginting (2005) juga diperoleh kesimpulan bahwa infestasi
cacing pada anak akan mengganggu pertumbuhan, menurunkan kemampuan
fisik, produktifitas belajar dan intelektualitas. Selain itu juga dapat
menyebabkan gangguan gizi, anemia, gangguan pertumbuhan yang pada
akhirnya akan mempunyai pengaruh terhadap tingkat kecerdesan seorang
anak. Cacing perut yang ditularkan melalui tanah dapat mengakibatkan
menurunnya

kondisi

kesehatan,

gizi,

kecerdasan

dan

produktifitas

penderitanya sehingga secara ekonomi banyak menyebabkan kerugian, karena


menyebabkan kehilangan karbohidrat dan protein serta kehilangan darah,
sehingga menurunkan kualitas sumber daya manusia.(Depkes RI, 2006).
3. Pencegahan Terhadap Kecacingan
WHO menyusun strategi global dalam mengendalikan STH dengan
penggunaan

kemoterapi

modern.

Strategi

tersebut

bertujuan

untuk

mengendalikan morbiditas yang diakibatkan oleh infeksi STH, yaitu dengan


mengeliminasi infeksi dengan intensitas sedang dan tinggi dengan pemberian
obat antelmintik (terutama albendazol 400 mg dosis tunggal dan mebendazol
500 mg dosis tunggal). Obat antelmintik ini diberikan kepada
populasi dengan resiko tinggi, yaitu:
a. Anak-anak yang belum sekolah (usia 1-4 tahun)
b. Anak-anak usia sekolah (usia 5-14 tahun)
c. Wanita usia reproduktif (termasuk wanita dengan kehamilan trimester
kedua dan ketiga, serta wanita menyusui).
d. Kelompok usia dewasa yang rentan terpapar dengan infeksi STH(contoh:
pekerja kebun teh dan pekerja penambangan).
Program pemberantasan infeksi cacing juga dilakukan melalui sekolah dan
lembaga lain yang terkait. Program pemberantasan infeksi ini termasuk dengan
pemberian vaksinasi dan suplemen, seperti: vitamin A (WHO,2012). Program
pengendalian infeksi cacing di Indonesia disusun dalam Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 424/Menkes/SK/VI/2006, di mana tujuan
dari program ini adalah memutus mata rantai penularan infeksi cacing, baik di
dalam tubuh maupun di luar tubuh.
Program ini dilakukan dengan kerja sama pemerintah, Departemen
Kesehatan, masyarakat, serta sektor lain sebagai mitra. Untuk mencapai hal
tersebut dilakukan kegiatan berupa penentuan prioritas lokasi atau penduduk
sasaran, penegakkan diagnosis dengan pemeriksaan feses secara langsung
menggunakan metode Kato-Katz, serta penanggulangan infeksi. Sesuai

rekomendasi WHO, penanggulangan infeksi cacing dilakukan dengan


pengobatan tindakan pencegahan, dan promotif (Menteri Kesehatan Republik
Indonesia, 2006).
Pengobatan dilakukan dengan menggunakan obat yang aman, berspektrum
luas, efektif, tersedia, harga terjangkau, serta dapat membunuh cacing dewasa,
larva dan telur. Pelaksanaan kegiatan pengobatan diawali dengan survei data
dasar berupa pemeriksaan feses. Apabila pada pemeriksaan feses sampel
didapati hasil dengan prevalensi 30% atau lebih, dilakukan pengobatan massal.
Namun, bila dari hasil pemeriksaan feses sampel prevalensi hanya didapati
kurang dari 30%, dilakukan pemeriksaan menyeluruh (total screening). Apabila
hasil pemeriksaan total screening menunjukkan prevalensi lebih dari 30%, harus
dilakukan pengobatan massal. Tetapi bila prevalensi kurang dari 30%,
pengobatan dilakukan secara selektif, yaitu pada orang dengan hasil positif saja
(Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2006).

BAB III
METODE
III.1.

METODE
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan bulan agustus-September 2016 di

posyandu kelurahan Sanggau Kulor, didapatkan tingkat pengetahuan dan perilaku ibu-ibu
yang datang dan memiliki balita terhadap penyakit kecacingan, masih rendah. Akan tetapi
sikap ibu-ibu tersebut terhadap penyakit kecacingan baik. Untuk itu, dilakukan intervensi
dengan menggunakan metode berupa penyuluhan langsung tentang kecacingan di
posyandu kelurahan Sanggau Kulor.
Penyuluhan dilakukan pada tanggan 15 September 2016 di posyandu kelurahan
Sanggau Kulor. Adapun jumlah ibu-ibu yang datang sebanyak 25 orang ditambah 5 orang
yang merupakan ibu-ibu kader. Intervensi ini dilakukan selama 1 jam dan meliputi
penyuluhan serta tanya jawab mengenai penyakit kecacingan. Media penyuluhan yang
digunakan berupa leaflet. Leaflet tersebut berisi tanda, gejala, bahaya cacingan dan
bagaimana cara mencegah kecacingan.
Selain penyuluhan yang dilakukan diposyandu guna memberi pengetahun ke ibuibu posyandu peneliti juga melakukan kegiatan penyuluhan dan peragaann cuci tangan
yang baik dan benar terhadap anak-anak SD didaerah Kelurahan Sanggau kulor. Setelah
melakukan penyuluhan dan peragaan cuci tangan didepan anak-anak SD kemudian untuk
mengetahui apakah mereka mengerti dengan yang disampaikan, oleh karenanya peneliti
memberikan beberapa pertanyaan kepada mereka untuk dijawab dan bagi yang dapat
menjawab akan diberikan hadiah berupa sabun cuci tangan dan sendal yang bisa dipakai.
Kegiatan dilakukan di SDN 63 Sanggau kulor, SDN 65 Kulor dan SDN 66 sanggau
kulor. Murid yang hadir pada setiap kegiatan hampir sekitar 30-40 orang per SD nya.
Kegiatan dilakukan dari tanggal 22, 23 dan 24 Agustus 2016 Pukul 08.00-10.00 WB.
Dengan 2 orang yang mendapat hadiah pada setiap kegiatannya.
Selain penyuluhan, juga dilakukantanya jawab di posyandu kelurahan Sanggau
Kulor. Adapun beberapa pertanyaan yang diajukan antara lain:
1. Tanya : Apakah ibu hamil juga perlu minum obat cacing? Dan apakan minum
obat cacing itu berbahaya bagi ibu hamil?

Jawab : obat cacing untuk mencegah kecacingan memang sebaiknya diminum


6 bulan sekali. Namun, pada keadaan ibu hamil iru berbeda dengan orang biasa
yang tidak hamil. Dimana, pada ibu hamil ada beberapa obat yang dapat
bersifat racun bagi janinnya. Obat tersebut bersifat racun karena dapat melalui
pembuluh darah ari-ari dan masuk ketubuh anak dan kemudian menimbulkan
racun. Obat cacing ini terutama yang beredar dipasaran merupakan kategori
obat C, artinya hanya diminum bila keuntungannya lebih banyak dibandingkan
kerugiannya, artinya sebaiknya dihindari.
2. Tanya : anak saya perutnya buncit dan berat badan tidak naik-naik, kira-kira
apakah anak saya kecacingan?
Jawab : gejala kecacingan diantaranya memang termasuk perut bunct dan
berat badan cenderung turun, tapi belum tentu anak ibu menderita kecacingan.
Karena tanda pasti kecacingan adalah ditemukan telur atau cacing didalam tinja
anak, selain itu ada gejala lain yang menyertai misalnya menggaruk-garuk
pantat/anus pada malam hari, pucat, berkurangnya konsentrasi belajar.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Profil Komunitas Umum


Masyarakat singkawang terdiri dari multi etnis. Ada tiga etnis tersbesar
yaitu etnis Dayak, etnis Tionghoa, dan etnis Melayu. Meskipun multi etnis,
masyarakat dapat hidup berdampingan. Agama mayoritas adalah Konghucu,
kristen dan islam. Sebagian besar mata pencaharian di Singkawang Timur
adalah pedagang, petani baik diladang maupun di perkebunan, selain itu ada
juga sebagai nelayan. Pada golongan usia tua, kebanyakan tidak bersekolah
atau tidak tamat SD, namun generasi muda minimal sudah tamat SD.
4.2 Data Geografis
UPT Puskesmas Singkawang Timur I merupakan Puskesmas yang ada di
Kecamatan Singkawang Timur Kota Singkawang.Lokasi Puskesmas terletak di
Jl.Raya Pajintan No.21 Kelurahan Pajintan. Transportasi antar wilayah
dihubungkan dengan jalan darat.Jalan utama Kelurahan sebagian besar sudah
beraspal dan mudah dijangkau dengan sarana transpotasi.Tetapi akses jalan
pada beberapa wilayah masih banyak yang belum beraspal dan sulit dijangkau
terutama pada musim penghujan.Hal ini diakibatkan kondisi jalan yang buruk
dan sebagian masih berupa jalan tanah kuning.
Kecamatan Singkawang Timur merupakan salah satu dari 5 kecamatan
yang ada di kota Singkawang,terletak pada 045'17"- 11'21,51" Lintang Utara
dan 10859'45,1"-10910'19" Bujur Timur dengan luas wilayah 166,26 Km.
Dibandingkan dengan empat kecamatan lain di Kota Singkawang, Kecamatan
Singkawang Timur

merupakan kecamatan terbesar kedua dari segi luas

wilayah setelah Singkawang Selatan.

4.3 Data Demografi.

Komposisi Penduduk
1. Jumlah Penduduk

: 24.920 jiwa.

2. Jumlah KK

: 4.237 KK

3. Kepadatan Penduduk : 149.89 / Km2


4. Rata-rata Jiwa / KK

: 5.88 Jiwa/KK

Distribusi Penduduk menurut Jenis Kelamin


di wilayah UPT.Puskesmas Singkawang Timur I tahun 2015
NO
1
2
3

KELURAHAN

JUMLAH
PENDUDUK

Pajintan
Sanggau Kulor
Nyarumkop
JUMLAH

9065
2880
3803
15.605

JENIS KELAMIN
Laki-laki
Perempuan
4759
4306
1523
1357
1860
1800
8.142

7463

Sumber : BPS Kota Singkawang th.2015

Tingkat kepadatan penduduk di Kecamatan Singkawang Timur adalah


yang paling rendah di Kota Singkawang. Kepadatan penduduk tertinggi di
wilayah Kecamatan Singkawang Timur terdapat di Kelurahan Pajintan yaitu
573 jiwa per km, disusul Kelurahan Nyarumkop 164 jiwa per km,
kemudian Kelurahan Sanggau Kulor 119 jiwa per km, dan Kelurahan Bagak
Sahwa 111 jiwa per km. Kelurahan terjarang adalah Kelurahan Maya Sopa
dengan tingkat kepadatan penduduk 57 jiwa per km.

BAB V
DISKUSI
5.1 Pendapat
Penelitian tentang kecacingan ini sebenarnya belum cukup untuk mewakili
persentase pengetahuan, sikap dan perilaku karena sample yang diambil
sedikit. Penelitian tentang kecacingan juga sebaiknya dilakukan kepada anakanak usia sekolah dasar yaitu 5-10 tahun dimana angka kecacingan paling
tinggi pada golongan usia tersebut, sedangkan angka kecacingan pada balita
hanya sekitar 5-10% dari seluruh kejadian kecacingan. Untuk itu sebaiknya
dilakukan penelitian tentang kecacingan pada sekolah dasar. Selama
pengisian kuesioner juga terutama untuk point perilaku dan sikap masih
banyak yang tidak jujur atau tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.
Banyak yang mengisi jawaban setuju dan selalu. Jadi sebaiknya penelitian ini
tidak hanya bersumber dari data kuesioner saja, melainkan ditambah data
yang berasal dari observasi dan sekitarnya.
5.2 Saran
Adapun saran yang ditujukan kepada Puskesmas
1. Supaya dilakukan penyuluhan berkala tentang PHBS terutama yang
berhubungan dengan kecacingan
2. Pembagian obat cacing secara berkala setiap 6 bulan
3. Screening berkala mengenai kecacingan terutama untuk anak sekolah
Saran yang ditujukan untuk masyarakat :
1. Sennatiasa meerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan
sehari-hari terutama perilaku-perilaku yang harus diterapkan seperti
kebiasaan mencuci tangan, gunting kuku seminggu sekali, buang air
besar di tempatnya, penggunaan alas kaki terutama ketika berkontak
dengan tanah guna mencegah terinfeksi cacing
2. Rutin untuk mengkonsumsi obat cacing setiap 6 bulan sekali

DAFTAR PUSTAKA
BAB

Tinjauan

pustaka

2.1

Penyakit

repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21589/4/Chapter%2011.pdf
Diakses pada tanggal 1 agustus 2016

Cacingan

Departemen Kesehatan RI. 1998. Pedoman Program Pemberantasan Penyakit


Kecacingan. Jakarta : Depkes RI
Departemen Kesehatan RI. 2004. Pedoman Umum Program Nasional Pemberantasan
Cacingan di Era Desentralisasi. Jakarta : Depkes RI
Departemen Kesehatan RI. 2008. Profil Kesehatan Indnesia. 2008. Available at :
www.depkes.go.id.pdf diakses pada tanggal 1 Agustus 2016
Mubarak, Wahit. 2005. Promosi Kesehatan : Sebuah Pengantar Proses Belajar
Mengajar dalam Pendidikan. Yogyakarta : Graha Ilmu
Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Kesehatan Masyarakat : Ilmu dan Seni. Jakarta : Rineka
Cipta
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka
Cipta
Priyo, Sutanto. 2007. Analisa Data Kesehatan. Depok : FKM UI
Setiadi. 2007. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta : Graha Ilmu
Sudarmo, dkk. 2008. Buku ajar Infeksi dan Pediatri Tropis Edisi Kedua. Jakarta : IDAI
Sudoyo, Aru. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. Jakarta: FK UI
Sugiyono. 2004. Statistik Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta
Surat Keputusan Menteri Nomor : 424/MENKES/SK/IV. Pedoman Pengendalian
Cacingan. 2006. Jakarta: Departemen Kesehatan
Zulkoni Akhsin. 2007. Parasitologi. Jakarta
LAPORAN MINI PROJECT PENYULUHAN KECACINGAN DI KELURAHAN
SANGGAU KULOR KECAMATAN SINGKAWANG TIMUR

Disusun oleh :
dr. Risti Pangestu

pendamping :
dr. Ricka Sandra Naibaho

Program Dokter Internship Indonesia


Puskesmas Kecamatan Singkawang Tmur
Periode 1 juni 2016 30 September 2016