Anda di halaman 1dari 18

Jurnal Reading

Kevin Dyonghar
11-2015-090
Dokter Pembimbing
dr.Zakaria , SP.OG

Virus Zika dan Cacat Kelahiran: Permasalahan


Obstetri
Tochukwu C. Okeke1*, Cyril C. Ezenyeaku2, Lawrence C. Ikeako2, Kenechukwu
O. Okeke3, Fidelis A. Onyekwulu4, Christain I. Okafor5, Charles O. Adiri1
1

Departemen obstetri dan ginekologi, UNTH, Enugu, Nigeria

Departemen Obstetri dan ginekologi, Chukwuemeka Odumegwu-Ojuku


University Teaching Hospital, Amaku, Awka, Nigeria
3

College of Medicine, UNEC, Kampus Enugu, Nigeria


4

Departemen Anestesi, UNTH, Enugu, Nigeria

Departemen Kedokteran, UNTH, Enugu, Nigeria

Diterima

: 07 Juni 2016

Diakses

: 01 Juli 2016

*Korespondensi:
Dr. T.C. Okeke,
Email: tcokeke2014@yahoo.com

Abstrak
Virus Zika merupakan virus yang dibawa oleh nyamuk yang sedang merebak, yang
relatif tidak diketahui, dipelajari dan kurang terdiagnosis, namun memiliki potensi
untuk menyebar ke area geografis yang baru yang sesuai dengan pertumbuhan nyamuk
Aedes. Virus ini berkaitan dengan peningkatan yang cukup mengkhawatirkan pada bayi
dengan mikrosefalus yang memerlukan lebih banyak perawatan dan dukungan dengan
lebih banyak bantuan finansial. Ini merupakan artikel ulaan tentang virus Zika dan
cacat kelahiran; sebuah permasalahan yang mengkhawatirkan dalam praktik kedokteran
dan kebidanan saat ini. Sejak penemuan virus Zika di Uganda, virus ini diketahui
terjadi dalam sabuk ekutor tertentu dari Afrika ke Asia dengan gejala yang tak nampak

atau ringan. Hal ini telah menjadi ancaman kesehatan publik dunia dalam dekade
terakhir dengan meningkatnya penyebaran geografis virus dalam sembilan tahun
terakhir. Resiko virus Zika terhadap janin kurang dipahami, sulit untuk dikuantifikasi
dan problematik. Hubungan sebab akibat antara virus Zika dan mikrosefalus pada
awalnya bersifat spekulatif, sangat dicurigai dan belum terbukti secara ilmiah.
Meskipun demikian, pada tanggal 13 April 2016, disimpulkan bahwa virus Zika
merupakan penyebab mikrosefalus dan cacat otak janin parah lainnya. Penulis di Pusat
Pengendalian

dan

Pencegahan

Penyakit

(Center

for

Disease

Control

and

Prevention/CDC?) mengulas dan menimbang bukti-bukti menggunakan kriteria ilmiah


yang ada untuk menimpulkan setelah ulasan yang cermat akan laporan yang diterbitkan
dalam New England Journal of Medicine. Tidak ada profilaksis, perawatan atau vaksin
untuk melindungi dari infeksi viru Zika. Meskipun demikian, penanganan pencegahan
personal sangat direkomendasikan untuk menghindari gigitan nyamuk.
Kata Kunci: Virus Zika, cacat lahir, kehamilan, permasalahan obstetri, Flavivirus

PENDAHULUAN
Virus Zika merupakan infeksi virus yang sedang merebak yang disebarkan melalui
nyamuk. Infeksi virus ini penyakit yang relatif tidak diketahui, kurang dipelajari dan
kurang terdiagnosa yang memiliki potensi untuk menyebar ke wilayah geografis yang
baru yang mendukung pertumbuhan nyamuk Aedes. Ini merupakan flavivirus yang
disebarkan melalui nyamuk Aedes yang aktif pada siang hari yang hampir selalu
menghisap darah manusia. Nama Zika didapat dari hutan Zika di Uganda dimana virus
ini pertama kali diisolasi dari Monyet pada tahun 1947.

Virus Zika berkaitan dengan flavivirus lain seperti deman berdarah dengue, West Nile,
dan Radang Otak Jepang (Japanese encephalitis).
Virus Zika seringkali menyebabkan gejala yang ringan atau bahkan tanpa gejala di
waktu yang lampau. Sejak tahun 1950an, telah diketahui muncul pada sekitar garis
khatulistiwa dari Afrika ke Asia. Perjangkitan besar pertama di luar Afrika terjadi pada
tahun 2007 di Pulau Yap, Mikronesia, dengan perjangkitan besar lain pada tahun 2013
di Polinesia Perancis. Pada tahun 2015, virus ini menyebar ke Meksiko, Afrika Tengah,
Karibia, dan Amerika Selatan, dimana wabah Zika telah mencapai tingkat wabah.
Terpisah dari perhatian tentang persebaran geografisnya yang meluas, Zika
mendapatkan banyak perhatian dari para petugas kesehatan publik karena sangat
dicurigainya virus ini dalam kaitannya dengan transmisi feto-maternal dan mikrosefalus
bayi dengan abnormalitas neurologis lainnya. Pada Februari tahun 2016, terdapat bukti
bahwa demam Zika pada wanita hamil dapat menyebabkan perkembangan otak yang
abnormal pada janin mereka melalui transmisi dari ibu ke janin baik dengan keguguran
atau mikrosefalus. Hubungan sebab akibat ini bersifat spekulatif namun sekarang
terbukti bahwa virus Zika menyebabkan mikrosefalus.
Terdapat peningkatan mikrosefalus pada bayi dalam jumlah yang mengkhawatirkan di
Brazil. Bayi mikrosefalus merupakan tragedi personal untuk keluarga yang terdampak
karena mereka memerlukan lebih banyak perawatan dan bantuan selama berpuluhpuluh tahun dan akan memerlukan banyak bantuan finansial. Peningkatan yang pesat
pada kejadian mikrosefalus selama periode ekspansi Zika geografis ini telah
menyebabkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat
menyarankan pada wanita hamil untuk mempertimbangkan untuk menunda bepergian
ke wilayah manapun dimana virus Zika terjadi.

Baru-baru ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan pernyataan bahwa


Zika menyebar secara eksplosif dan bahwa tingkat perhatiannya Sangat tinggi. Ini
diikuti dengan deklarasi (2 Februari 2016) dari Public Health Emergency of
International Concern (PHEIC) tentang perjangkitan terkini. Negara-negara berikut,
Kolombia, Republik Dominika, Ekuador, El-Salvador dan Jamaika menyarankan
kepada para perempuan untuk menunda hamil hingga diketahui lebih banyak tentang
resikonya.
Zika telah menjadi lebih dari ancaman global dalam dekade terakhir karena persebaran
geografisnya yang pesat, pertama ke wilayah Asia Pasifik, diikuti dengan masuknya
virus ini dengan pesat ke wilayah Barat. Oleh karenanya, penting untuk diulas tentang
karakteristik virus Zika ini, permasalahan obstetri dan kontroversi yang berkaitan
dengan infeksi virus Zika.
Ini merupakn ulasan deskriptif selama 6 bulan tentang virus Zika dan cacat kelahiran.
Pencarian literatur yang relevan tentang topik ini dari 1 Desember 2015 hingga 31 Mei
2016. Pencarian tentang virus Zika yang diterbitkan dalam bahasa Inggris dilakukan.
Material yang relevan dipilih. Kami mencari beberapa database tentang virus Zika dari
tanggal 31 Mei 2016 dengan kata kunci virus Zika, Zika dan cacat lahir, Zika dan
kehamilan, dan flaviridae virus.
Kami juga mencari referensi dalam artikel, bab dalam buku, ulasan artikel, tulisan
konferensi, laporan teknis, abstrak dan artikel internet menggunakan Medline, Google
Scholar, PubMed, Embase dan database utama Cochrane. Pencarian manual dari
referensi ulasan naratif juga dilakukan. Material ini secara kritis diulas juga dilakukan.
Material ini secara kritis diulas dan penyertaan artikel individual didasarkan pada
enghargaan ilmiah dan relevansi klinis.

Virus Zika pertama kali ditemukan dari monyet Macaque rhesus di hutan Zika di
Uganda pada tahun 1947 oleh ilmuwan dari institut penelitian demam kuning. Pada
tahun 1948, virus ini diisolasi dari nyamuk A. africanus pada hutan yang sama dan pada
tahun 1952 seorang manusia Nigeria ditemukan mengidap virus ini. Hal ini merupakan
bagian dari proses investigasi dari terjangkitnya penyakit uning yang dicurigasi sebagai
demam kuning. Dia sembuh dalam waktu 3 hari. Virus Zika pertama kali dijelaskan
dalam tulisan ilmiah pada tahun 1952.
Studi penelitian yang dilakukan di India pada tahun 1952 menunjukkan bahwa
sejumlah signifikan warga India yang diuji untuk virus Zika telah menunjukkan
respon imun terhadap virus ini, mengindikasikan bahwa telah lama menyebar dalam
populasi manusia. Semakin banyaknya bukti yang menunjuk pada sakit pada manusia
yang dihubungkan dengan penyebaran virus Zika antara awal tahun 1950an hingga
1980an. Infeksi Zika pada manusia diketahui ada dengan tanda dan gejala yang non
spesifik, yang seringkali sama dengan demam berdarah dengue. Sebelm tahun 1952,
survei serologi Afrika dan Asia merupakan sebuah sirkulasi virus Zika yang sunyi
dengan deteksi dari antibodi tertentu dalam berbagai spesies hewan (orangutan, zebra,
gajah dan kerbau air) serta hewan pengerat. Pengetahuan tentang distribusi geografis
virus Zika didasarkan pada hasil survei sero dan isolasi virus dalam nyamuk dan
manusia, dengan laporan kasus yang dikaitkan dengan perjalanan.
Bukti infeksi manusia dengan virus Zika didokumentasikan dari negara Afrika lain
(dari tahun 1951-1981) seperti Republik Afrika Tengah, Mesir, Gabon, Sierra Leone,
Tanzania, Uganda dan beberapa bagian Asia seperti India, Indonesia, Malaysia,
Filipina, Thailand dan Vietnam. Sebelum tahun 2007, wilayah dengan penjangkitan
infeksi virus Zika yang dilaporkan adalah Afrika Tropis dan Asia Tenggara. Hanya

terdapat 14 kasus yang terkonfirmasi dari infeksi virus Zika dari Afrika dan Asia
Tenggara dari penemuannya hingga tahun 2007.
Perjangkitan pertama di luar Afrika dan Asia adalah pada bulan April-Juli 2007 di
Pulau Yap, Negara Federasi Mikronesia. Distribusi geografis dari kasus dan
perjangkitan yang dilaporkan telah berkembang seiring waktu dengan infeksi Zika pada
manusia yang dilaporkan di Nigeria. Negara Yap di Mikronesia, Kamboja, Thailand,
Polinesia Perancis dan Brazil. Perjangkitan Brazil pertama kali diidentifikasi pada
bulan Mei 2015, merupakan yang terbesar yang sejauh ini dilaporkan. Kasus-kasus ini
berpusat di negara-negara bagian timur laut Paraiba, Permambuco dan Bahia. Zika
dengan cepat menyebar ke negara-negara bagian ini krena populasi dan belum pernah
terpapar oleh virus: oleh karenanya, menghasilkan kerentanan yang tinggi. Dilaporkan
dengan baik dan jelas bahwa virus Zika telah menyebar di luar Afrika dan Asia (dua
wilayah utama dimana virus ini dimulai).
Sejak tahun 2015 terdapat perjangkitan geografis yang pesat dari virus Zika dari Brazil
dan negara-negara Amerika Selatan dan Mesoamerika lainnya ke Amerika Serikat.
Virus Zika di Brazil menimbulkan kekhawatiran tentang bahaya potensial infeksi oleh
nyamuk Aedes stegomyia. Meskipun demikian, resiko adaptasi virus Zika ke siklus
hidup yang berbasis di lingkungan kota yang padat penduduk digabungkan dengan
transmisi/amplifikasi melalui Aedes Aegypti dan vektor nyamuk subgenus stegomyia
lainnya tentu saja memiliki ancaman keamanan kesehatan yang signifikan (lokal dan
global).
Pada Januari 2016, CDC mengeluarkan peringatan bepergian level 2 untuk orang yang
bepergian ke wilayah dan negara tertentu dimana persebaran virus Zika sedang terjadi,

dan menyarankan kepada wanita yang menginginkan kehamilan harus berkonsultasi


dengan dokter mereka sebelum bepergian.
Kewenangan kesehatan Brazil antara Oktober 2015 dan Januari 2016 melaporkan lebih
dari 350 kasus mikrosefalus, beberapa dengan tipe yang parah, sementara beberapa di
antaranya meninggal dunia. Wilayah yang paling parah terkena di Brazil merupakan
wilayah yang paling miskin dari tiga negara bagian timur laut: Paraiba, Permambuco,
dan Bahia dimana sekitar 1% bayi yang baru lahir dicurigai mengidap mikrosefalus.
Amerika Serikat dan petugas Kesehatan Dunia pada bulan Maret 2016, menyatakan
bahwa bukti ilmiah yang ada menunjukkan pada virus yang dibawa oleh nyamuk
sebagai penyebab yang memungkinkan dari meningkatnya mikrosefalus yang cukup
mengkhawatirkan pada wilayah yang terjangkit Zika di Brazil.
Dr. Tom Frieden, direktur CDC Amerika Serikat, menyatakan pada reporter dalam
sebuah konferensi pada hari Rabu, tanggal 13 April 2016 bahwa tidak diragukan lagi
bahwa Zika menyebabkan mikrosefalus. Beliau menyatakan bahwa setelah ulasan yang
cermat pada laporan yang diterbitkan pada New England Journal of Medicine, penulis
CDC dengan gigih menimbang dan menilai bukti-bukti menggunakan kriteria ilmiah
untuk menyimpulkan bahwa virus Zika merupakan penyebab mikrosefalus dan cacat
otak pada bayi yang parah lainnya. Studi ini menandai titik balik pada perjangkitan
virus Zika. Sekarang jelas bahwa virus Zika menyebabkan mikrosefalus.
Virus patogen bernama Zika
Penyakit virus Zika disebabkan oleh sebuah virus dari genus flavivirus, famili
flaviviridae dari kelompok spondweni. Virus ini berkaitan dengan dengue, demam
kuning, radang otak Jepang, dan virus West Nile. Virus Zika merupakan icosahedral
yang terselubung dan memiliki genom RNA yang tidak bersegmen, satu strand, dan

positif. Terdapat dua lini virus Zika: lini Afrika dan Asia yang baru-baru ini telah
merebak di pasifik dan benua Amerika.
Zika termasuk dalam flaviviridae yang memiliki partikel virus yang dapat menginfeksi
(virion) yang memiliki membran lipid luar dimana menempel protein virul
pembungkus (E) dan protein membran (M). Virion mengandung icosahedral
nuclecapsid sekitar 50-60nm. Ini terdiri dari protein capsid (C), dan sebuah genom
yang terdiri dari satu strand RNA positif sekitar 11.000-12.000 basis yang bertindak
sebagai genom dan RNA penghantar pesan. Virion menempel melalui protein E ke
sebuah reseptor pada sel yang ditargetkan untuk diinfeksi. Virion dibawa ke dalam sel
dengan sebuah proses yang disebut endositosis yang dimediasi oleh clathrin, yang
menyebabkan lapisan terlepas, nukleocapsid terganggu, dan genom terlepas ke dalam
sitoplasma. Genom ini diterjemahkan oleh perangkat penerjemah sel inang ke dalam
poliprotein tunggal yang terbelah secara proteolitik ke dalam protein virus individual.
Beberapa protein ini membentuk mesin replikasi RNA, yang menyebabkan produksi
genom yang lebih banyak dengan menggunakan salinan RNA negatif dari genom virul
sebagai cetakan. Genom ini kemudian disusun ke dalam nukleokapsid melalui interaksi
dengan protein capsid (C), dan nukleokapsid menjadi terselubung selama proses
perkembangan yang melepaskan mereka dari sel sebagai virion yang menular.
Presentasi klinis
Di masa lampau, demam Zika bersifat asimptomatik pada 80% kasus dengan kondisi
yang relatif ringan dengan cakupan yang terbatas. Hal ini tidak dikaitkan dengan
fatalitas atau tidak dikaitkan dengan penyakit serius. Meskipun demikian, pada saat ini,
banyak orang yang terinfeksi dengan virus Zika memiliki sakit kepala ringan, demam,
gatal makolapapular, rasa tidak enak, sakit persendian dan konjungtivitis.

Periode inkubasi untuk penyakit virus Zika memiliki rentang antara 3-12 hari setelah
gigitan dari nyamuk A. Aegypti yang terinfeksi. Infeksi virus Zika sembuh dalam
waktu lima hari. Presentasi klinis bergabung dengan sejarah perjalanan yang sesuai,
akan membantu dokter untuk mencurigai infeksi virus Zika. Ketika seseorang
terinfeksi, dia cenderung terlindungi dari infeksi di masa mendatang.
Diagnosis
Diagnosis penyakit virus Zika utamanya didasarkan pada deteksi RNA viral dari
spesimen klinis dalam pasien yang sakit akut dengan melakukan reaksi rantai
transkriptase-polimerase (RT-PCR) pada serum. Periode viraemik yang pendek
memungkinkan deteksi virus langsung selama 3-5 hari pertama setelah terjadinya
gejala. RNA virus Zika juga telah dideteksi pada urin hingga 10 hari setelah terjadinya
penyakit. Pengujian diagnostik akurat namun investigasi serologis terbatas.
Investigasi serologis dapat dilakukan dari hari kelim setelah terjadinya penyakit dengan
deteksi IgM spesifik Zika dan antibodi yang menetralkan dalam jangka waktu 7 hari
penyakit, namun hal ini tidak spesifik dan mungkin merupakan reaksi silang dengan
virus dengue dan virus demam kuning. Hasil serologis harus diinterpretasikan menurut
paparan sebelumnya ke infeksi flavivirus lainnya.
Penyebaran
Virus Zika disebarkan utamanya melalui nyamuk Aedes Agypti pada siang hhari
sebagai vektornya. Hal ini dilihat dalam siklus nyamuk-manusia-nyamuk, seperti virus
demam kuning dan virus demam berdarah dengue (keduanya flavivirus), dan virus
chikungunya (togavirus). Meskipun demikian, perlu diingat bahwa virus Zika telah
diisolasi dari sejumlah spesies nyamuk abortal dalam genus Aedes seperti A. Africanus,

A. Apicoargenteus, A. Furcifer, A. Hensilli, A. Luteocephalus, dan A. Vittatus dengan


periode inkubasi ekstrinsik pendek pada nyamuk sekitar 10 hari.
Dahulu ketika virus Zika ditemukan, inang vertebrata dari virus utamanya adalah
monyet dalam siklus enzootic nyamuk-monyet-nyamuk, dengan penyebaran yang
jarang ke manusia sebelum wabah baru-baru ini dimulai pada tahun 2007. Virus Zika
jarang menyebabkan wabah infeksi pada manusia, bahkan dalam area enzootik yang
tinggi. Secara sporadis, arbovirus lainnya telah disebut sebagai penyakit manusia
seperti virus demam kuning, virus demam berdarah dengue, dan virus chikungunya.
Pemahaman yang sebenarnya dari vektor masih kurang. Virus Zika telah dideteksi
dalam beberapa spesies lain dari Aedes, seiring dengan Anopheles constani, Mansonia
uniformis, dan Cudex perfuscus. Meskipun demikian, hal ini tidak membuat mereka
dikenali sebagai vektor. Perjangkitan wabah virus Zika baru-baru ini pada tahun 2015
telah didokumentasikan: persebaran ke Amerika Latin dan Karibia.
Negara dan wilayah yang telah diidentifikasi oleh Pan American Health Organization
sebagai wilayah yang mengalami persebaran virus Zika lokal adalah Barbados,
Bolivia, Brazil, Kolombia, Repubik Dominika, Ekuador, El-Salvador, Guinea Perancis,
Guadeloupe, Guatemala, Guyana, Haiti, Honduras, Martinique, Meksiko, Bahama,
Paraguay, Puerto Rico, Sant Martin, Suriname dan Venezuela.
Dari ibu ke anak
Seorang ibu yang terinfeksi virus Zika dapat menyebarkan virusnya ke bayinya selama
kehamilan dan proses kelahiran. RNA virus Zika telah dideteksi dalam cairan amiotik
dari dua wanita hamil yang janinnya memiliki mikrosefalus, menunjukkan bahwa virus
ini telah menyeberangi plasenta dan dapat menyebabkan infeksi yang berasal dari ibu
ke anak. Tautan infeksi intra-uterus ni dianggap memungkinkan sebelum bulan Februari

2016 namun belum terbukti. Sekarang jelas bawa virus Zika dapat menyebabkan
infeksi dari ibu ke anak. Sebagai tambahan, jaringan otak dari dua bayi yang baru lahir
dengan mikrosefalus yang meninggal dunia dalam jangka waktu 20 jam setelah
kelahiran dan plasenta serta dua jaringan lain dari keguguran (11 dan 13 minggu dari
Rio Grande de Norte di Brazil teruji positif untuk virus Zika) melalui RT-PCR pada
CDC.
Pada bulan Februari 2016, WHO menyatakan bahwa tautan sebab akibat antara virus
Zika dan mikrosefalus sangat dicurigai namun belum terbukti secara ilmiah. Investigasi
dan penelitian masih perlu dilakukan untuk memahami tautan potensial ini antara virus
Zika dan mikrosefalus.
CDC Amerika Serikat memperbarui panduan penyedia layanan kesehatan untuk wanita
hamil dan wanita pada usia reproduktif pada bulan februari 2016. Rekomendasi baru ini
meliputi menawarkan pengujian serologis untuk wanita hamil tanpa gejala virus Zika
yang telah kembali dari area dengan penularan virus Zika yang sedang terjadi dalam 212 minggu terakhir, dan untuk wanita hamil tanpa gejala Zika yang tinggal di area
tersebut. Mereka merekomendasikan pengujian pada awal mula perawatan pra
kelahiran dan pengujian tindak lanjut dalam kehamilan usia lima bulan.
Melalui kontak seksual
Virus Zika dapat ditularkan oleh seorang lelaki ke partner seksualnya. Virus Zika dapat
mereproduksi dirinya sendiri ditemukan dalam sperma seorang lelaki paling tidak dua
minggu setelah lelaki tersebut sakit dengan demam Zika pada tahun 2014. Pada bulan
Februari 2016, terdapat hingga 3 kasus yang terdokumentasi bahwa virus Zika mungkin
dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Diketahui juga bahwa virus Zika ada dalam

sperma lebih lama daripada dalam darah namun tidak diketahui apakah wanita dapat
menularkan virus Zika ke pasangan seksualnya.
Melalui transfusi darah
Terdapat banyak laporan kasus penularan melalui transfusi darah di Brazil dan
Polinesia Perancis. Laporan ini saat ini sedang diinvestigasi.
Virus Zika dan kehamilan
Seorang wanita hamil dapat diinfeksi dengan virus Zika melalui gigitan nyamuk A.
Aegypti, yang secara seksual ditularkan dari pasangannya atau melalui transfusi darah
yang terinfeksi.
Virus Zika mereplikasi, dan kemudian ditularkan oleh nyamuk ke manusia. Ketika
nyamuk aedes aegypti yang memakan darah dengan virus Zika menginjeksikan virion
ke dalam kulit wanita hamil, hal ini diikuti dengan infeksi sel pada dermis dan
epidermis. Dari dermis dan epidermis, virus ini menyebar ke kelenjar getah bening
dimana reaksi kekebalan tubuh dimulai dan virus ini melipatgandakan diri
menyebabkan viraemia. Belum diketahui dengan baik bagaimana virus Zika
menyeberangi plasenta untuk menginfeksi janin yang sedang berkembang, meskipun
demikian, kemampuan unik dari virus Zika untuk menyeberangi plasenta dan
mempengaruhi janin yang sedang berkembang masih dalam konfirmasi. Hubungan dan
kaitan yang sangat dicurigai antara virus Ziika dan mikrosefalus telah menjadi ancaman
global virus Zika di seluruh Indonesia.
Virus Zika dapat ditularkan dari wanita hamil ke janinnya selama kehamilan atau pada
saat kelahiran dan telah dikaitkan dengan cacat lahir yang serius disebut mikrosefalus
dalam bayi ibu yang memiliki virus Zika ketika hamil.

Terdapat cacat lahir lain yang dideteksi di antara janin dan bayi yang terinfeksi virus
Zika sebelum kelahiran seperti tidak adanya atau kurang berkembangnya struktur otak,
cacat mata, cacat pendengaran dan pertumbuhan yang tidak normal. Dengan melihat
hal ini, CDC merekomendasikan pencegahan khusus untuk wanita hamil. Wanita hamil
dilarang bepergian ke wilayah dengan virus Zika. Jika mereka harus bepergian ke
wilayah ini, mereka harus mematuhi langkah-langkah untuk mencegah gigitan nyamuk
selama perjalanan tersebut.
Hingga saat ini, tidak ada vaksin yang dapat mencegah penyakit virus Zika. Tidak ada
perawatan medis khusus yang terbukti untuk virus Zika. Perawatan ditujukan untuk
meringankan gejala seperti beristirahat, banyak meminum air dan pengobatan seperti
asetaminofen (parasetamol) untuk rasa sakit. Aspirin da NSAIDS lainnya harus
dihindari hingga demam berdarah dengue telah dicoret dari diagnosis untuk
menghindari komplikasi pendarahan.
Wanita hamil dengan bukti virus Zika dalam darah atau cairan amniotik mereka, harus
menjalani pemeriksaan ultrasound berkala untuk memonitor anatomi dan pertumbuhan
janin setiap 3-4 minggu. Dokter harus mempertimbangkan untuk merujuk pada dokter
spesialis feto-maternal atau spesialis penyakit menular yang mengkhususkan diri pada
manajemen kehamilan.
Tingkat mikrosefalus telah meningkat dalam baru-baru ini di wilayah yang terinfeksi
virus Zika namun penyebab pasti anomali ini masih belum jelas dipahami.
Penelitian/investigasi yang didokumentasi di masa-masa awal dilakukan untuk
menjelaskan kaitan terperinci antara virus Zika dan mikrosefalus yang menghasilkan
hasil yang beragam. Meskipun pada April 2016, WHO mengakses kaitan sebab akibat
antara mikrosefalus dan virus.

Wanita hamil berada pada resiko yang paling besar memiliki bayi dengan cacat lahir
jika mereka terinfeksi pada trimester pertama. Wanita yang terinfeksi Zika selama
trimester pertama kehamilan mereka menghadapi 1 banding 100 kesempatan
melahirkan bayi dengan mikrosefalus. Virus Zika memiliki dampak merusak pada janin
dan resiko yang lebih besar terjadi selama trimester pertama kehamilan. Ketika organsistem terbentuk, virus Zika dapat memiliki dampak yang merusak. Pada orang dewasa,
Zika bersifat asimptomatik atau mungkin menunjukkan penyakit ringan pada
kebanyakan orang.
Seorang wanita yang terinfeksi dengan Zika selama kehamilan memiliki resiko yang
meningkat untuk memiliki bayi dengan permasalahan kesehatan ini. Meskipun
demikian, tidak semua wanita yang terinfeksi virus Zika selama keamilan akan
memiliki bayi dengan permasalahan. Beberapa wanita yang terinfeksi mungkin
melahirkan bayi dengan konsekuensi potensial yang parah seperti mikrosefalus,
Sindrom Guillain-Barre (GBS) dan cacat bawaan lahir lainnya.
Virus Zika merupakan virus yang dibawa nyamuk pertama kali yang mengancam janin.
Peneliti juga telah mendokumentasikan hubungan sebab akibat antara Zika dan GBS.
WHO melaporkan bahwa 133 negara atau wilayah yang terjangkit virus Zika telah
tercatat memiliki peningkatan dalam kejadian GBS. Terdapat laporan lain tentang
komplikasi neurologis lainnya yang berkaitan dengan virus ini: Zika dan meningoencephalitis, acute disseminated encephalomyelitis, serta acute myelitis: pembengkakan
berbahaya otak dan sumsum tulang belakang yang disebabkan oleh infeksi.
Wanita hamil harus menghindari perjalanan ke wilayah dimana Zika menyebar secara
aktif. Ketika wanita hamil bepergian atau tinggal di sebuah wilayah dengan penyebaran
virus Zika aktif, dia harus berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatannya dan

mematuhi langkah-langkah tersebut dengan benar untuk mencegah gigitan nyamuk dan
untuk mencegah penularan melalui hubungan seksual dari virus Zika. Wanita dan
pasangan mereka dalam wilaya dengan penularan Zika aktif harus melakukan
perencanaan keluarga dan konseling dengan penyedia layanan kesehatan mereka untuk
membuat mereka memahami resiko dan cara untuk mengatasinya.
Konfirmasi bahwa Zika menyebabkan mikrosefalus
Pada bulan Februari 2016, WHO menyatakan Zika sebagai darurat kesehatan dunia
berdasarkan dicurigainya kaitan virus ini dengan ribuan kasus mikrosefalus, di Brazil.
Pernyataan ini mendorong banyak studi untuk membuktikan kaitannya. Setelah ulasan
menyeluruh dari laporan yang diterbitkan di New England Journal of Medicine,
peenulis CDC menilai bukti-bukti menggunakan kriteria ilmiah yang ditentukan untuk
menyimpulkan bahwa virus Zika merupakan penyebab mikrosefalus dan cacat otak
janin parah lainnya.
CDC melaporkan bahwa tidak ada satupun bukti yang memberikan bukti konklusif
bahwa infeksi virus Zika merupakan penyebab mikrosefalus dan cacat otak lainnya.
Meskipun demikian, semakin banyaknya bukti dari sejumlah studi yang baru-baru ini
diterbitkan dan evaluasi yang cermat menggunakan kriteria ilmiah yang ditetapkan
mendukung kesimpulan penulis. Sekarang jelas bahwa virus Zika menyebabkan
mikrosefalus. Studi yang diterbitkan di New England Journal of Medicine menandai
titik balik dalam penyebaran virus Zika.
Dr. Tom Frieden, Direktur CDC amerika Serikat, mengatakan kepada reporter dalam
sebuah konferensi pada hari Rabu tanggal 13 April 2016 bahwa tidak ada keraguan
bahwa virus Zika menyebabkan mikrosefalus. Kepastian tentang apakah Zika
menyebabkan mikrosefalus seharusnya mengakhiri perdebatan dalam komunitas

kesehatan publik tentang dampak potensial virus dan memfokuskan perhatian tentang
bagaimana untuk mencegah infeksi.
Kontroversi/permasalahan mengenai infeksi virus Zika
1. Virus Zika telah diasosiasikan dengan tingginya tingkat misdiagnosis. Sulit bagi
dokter untuk menentukan siapa yang telah terinfeksi dan siapa yang tidak
karena pengujian diagnostik untuk virus Zika memiliki batasan. Pengujian yang
mendeteksi RNA viral dalam darah pasien hanya bekerja dalam minggu
pertama terjadinya gejala. Uji serologis untuk deteksi antibodi IgM dapat
dilakukan setelah minggu pertama gejala dan hal ini tidak spesifik. Uji serologis
untuk mendeteksi antibodi Zika bereaksi silang dengan antibodi untuk dengue.
2. Tidak semua bayi yang lahir dari ibu yang memiliki virus Zika selama hamil
akan mengalami cacat lahir, namun jumlah resikonya masih kontroversial.
Tahap kehamilan pada waktu infeksi belum sepenuhnya dikaitkan dengan resiko
atau hasil infeksi Zika. Virus ini diekspektasikan untuk beracun pada dua bulan
pertama kehamilan ketika otak janin masih mengembangkan struktur utamanya.
Meskipun demikian, Zika masih dilihat pada janin keguguran dengan
mikrosefalus. Pertanyaannya adalah mengapa virus Zika ada pada usia tujuh
bulan ketika keguguran terjadi, jika gejalanya terjadi ketika periode
intrauterine? Apakah ini merupakan kombinasi kejadian atau campuran?
3. Apakah benar bahwa virus Zika seperti virus lain yang berkaitan seperti virus
West Nile menyilang dari ibu ke bayi melalui plasenta. Virus lainnya ini
seringkali menyebabkan kerusakan otak janin yang terlihat pada virus Zika.
Banyak pekerjaan dan penelitian dasar yang perlu dilakukan untuk mendukung
presentasi klinis mikrosefalus.
4. Apa yang membuat wanita dan bayi menjadi lebih rentan? Mengapa otak janin
lebih rentang terhadap virus Zika?

5. Hasil miikrosefalus pada anak, tantangan dan permasalahan menyokong anak


dengan mikrosefalus.
Studi epidemiologis merupakan sesuatu yang kompleks dan virus Zika diketahui
menyebabkan sakit yang relatif ringan pada orang dewasa dan tidak ada uji yang
dilakukan secara meluas untuk virus Zika. Beberapa wanita yang terinfeksi mungkin
telah terlewati dalam studi yang dilakukan di Brazil. Pada dokter menolak untuk
menerima data epidemiologis semata untuk meyakinkan mereka terhadap kaitan antara
virus Zika dan mikrosefalus. Mereka menginginkan bukti untuk mendukung bagaimana
dan mengapa virus menyebabkan mikrosefalus. Ini merupakan sebuah permasalahan
dan tantangan yang besar.
Pendanaan: tidak ada sumber pendanaan
Konflik kepentingan: tidak ada
Persetujuan etis: tidak diperlukan