Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH GANGGUAN MOOD DAN BUNUH DIRI

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Psikologi Abnormal


Dosen Pengampu: Drs. Karyono, M.Si

Disusun oleh :
Salsabila

(30701201153)

Aldilla Midodes

(3070141407)

Dio Hardiansyah

(30701401438)

Miftakhul Khawaji (30701401491)


Naufal Latif

(30701401506)

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG

2016

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap manusia memiliki caranya masing-masing untuk mengekspresikan apa yang
dirasakan oleh dirinya. Emosi adalah perasaan yang dapat diekspresikan dengan berbagai
macam cara seperti; menangis untuk perasaan yang membuat sedih atau perasaan yang
membuat bahagia, tertawa merupakan ekspresi dari perasaan atau hal-hal yang membuat
bahagia dan tertawa juga merupakan sebuah ekspresi ketika melihat atau mendengar halhal yang dianggap lucu, lalu membentak atau berteriak merupakan sebuah ekspresi dari
emosi marah, dan lain-lainnya. Kebanyakan orang mengenal emosi adalah sesuatu yang
membuat marah atau gusar, namun pada kebenarannya emosi dapat dikatakan sebagai
perasaan-perasaan yang kemudian dapat diekspresikan.
Emosi merupakan hal yang harus dapat dikontrol oleh setiap orang, karena jika
emosi tidak dapat dikontrol akan menyebabkan kerugian, baik secara fisik maupun
psikologis bagi individu tersebut. Sulitnya atau ketidakmampuan individu dalam
mengontrol emosinya tidak hanya berimbas pada kondisi fisik dan psikologis individu
tersebut, namun juga berimbas pada kondisi lingkungan tempat individu bersosialisasi.
Lingkungan individu akan merasa tidak nyaman karena sikap individu yang dianggap
terlalu berlebihan dalam mengekspresikan emosinya, sehingga hal ini dapat membuat
individu dikucilkan, merasa sendirian, terasing, dan merasa tidak-dipedulikan.
Emosi dapat disebut juga mood. Faktor sehari-hari yang mempengaruhi mood
seperti putus dengan kekasih, kerabat dekat atau teman meninggal dunia, gagal dalam

ujian masuk universitas atau gagal ujian sekolah, kehilangan benda favorit atau, atau
kehilangan-kehilangan barang yang dianggap penting dapat membuat seseorang
mengalami emosi sedih yang dapat menyebabkan stres, sedih atau depresi yang
berkepanjangan. Hal ini yang kemudian dapat dikategorikan sebagai gangguan mood dan
hal ini kemudian dapat merujuk kepada bunuh diri. Gangguan mood merupakan faktor
yang cukup berpengaruh menyebabkan seseorang untuk bunuh diri.
Makalah ini diharapkan dapat memberi pengetahuan yang mendalam mengenai
Gangguan Mood dan Bunuh Diri. Makalah ini dapat dijadikan bahan acuan dan
pembelajaran bagi pembaca. Sehingga diharapkan pembaca dapat mengatasi tekanan
yang dialami dan lebih memaknai hidup dengan belajar dari kondisi yang ada pada diri
pembaca.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka permasalahan yang akan diajukan dalam
makalah adalah:
1. Apa yang dimaksud dengan gangguan mood dan bunuh diri?
2. Apa saja gejala dan simtom gangguan mood dan bunuh diri?
3. Apa saja tipe dan karakteristik gangguan mood dan bunuh diri?
4. Apa saja teori tentang gangguan mood dan bunuh diri?
5. Bagaimana perspektif gangguan mood dan bunuh diri?
6. Bagaimana terapi dan penanganan gangguan mood dan bunuh diri?
C. Tujuan
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Untuk mengetahui pengertian gangguan mood dan bunuh diri.


Untuk mengetahui gejala dan simtom gangguan mood dan bunuh diri.
Untuk mengetahui tipe dan karakteriktik gangguan mood dan bunuh diri.
Untuk mengetahui teori mengenai gangguan mood dan bunuh diri.
Untuk mengetahui perspektif mengenai gangguan mood dan bunuh diri.
Untuk mengetahui terapi dan penanganan dari gangguan mood dan bunuh diri.

D. Manfaat
Manfaat secara teoritis :
Makalah ini diharapkan dapat memberi sumbangan atau kontribusi bagi pengembangan
ilmu pengetahuan dan penerapannya, khususnya di bidang psikologi Klinis.
Manfaat secara praktis :
Bagi mahasiswa makalah ini bermanfaat untuk mengaplikasikan teori-teori gangguan
mood kedalam kasus-kasus yang terjadi sehari-hari.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Gangguan Mood


Dalam buku Abnormal Psychology karangan Jeffrey S. Nevid, dkk,
menjelaskan mood adalah kondisi perasaan yang selalu ada yang mewarnai
kehidupan psikologis kita. Perasaan sedih atau depresi bukanlah hal yang abnormal
dalam konteks peristiwa atau situasi yang penuh tekanan.
Mood merupakan perpanjangan dari emosi yang berlangsung selama beberapa
waktu, kadang-kadang beberapa jam, beberapa hari, atau bahkan dalam beberapa
kasus depresi hingga mencapai berbulan-bulan. Mood yang dialami dalam

kehidupan manusia ini sedikit banyak akan memberi pengaruh yang kuat terhadap
cara mereka dalam berinteraksi (Meier, 2000: 8-9).
Freud mengemukakan hipotesis bahwa setelah kehilangan seseorang yang
dicintai karena kematian, atau yang paling umum terjadi pada anak-anak perpisahan
atau berkurangnya kasih sayang, individu yang bersangkutan kemudian meleburkan
dirinya dengan orang yang meninggalkannya. Hal ini mungkin sebagai upaya yang
bisa dikatakan sia-sia untuk mengembalikan kehilangan tersebut. Freud berpendapat
bahwa secara tidak sadar kita menyimpan berbagai perasaan negatif terhadap orangorang yang kita cintai, lalu kemudian orang yang bersangkutan kemudian menjadi
objek kebencian dan kemarahannya sendiri.
B. Tipe-tipe dan Karakteristik Gangguan Mood
Seseorang dengan gangguan mood (mood disorder) mengalami gangguan
mood yang cukup parah atau berlangsung dalam jangka waktu yang lama sehingga
mengganggu individu tersebut ketika melakukan kegiatan sehari-hari. Gangguan
mood terbagi menjadi dua kategori, yaitu;
1. Gangguan Depresi (Gangguan Unipolar)
Gangguan Depresi dianggap sebagai gangguan unipolar dikarenakan
gangguan ini mengacu pada suatu kutub, atau satu arah, tunggal. Nevid dkk,
pada bukunya yang berjudul Abnormal Psychology menggambarkan ciri-ciri
umum dari depresi yaitu:
Perubahan pada kondisi emosional yang dimana mood mengalami
perubahan sehingga munculnya periode perasaan terpuruk secara terusmenerus, depresi, sedih atau muram, selalu menangis, meningkatnya
iritabilitas (mudah tersinggung), mengalami kegelisahan, dan kehilangan
kesabaran.

Perubahan dalam motivasi sehingga menyebabkan tidak adanya


motivasi, mengalami kesulitan untuk melalui kegiatan di pagi hari atau
bahkan sulit untuk bangun dari tempat tidur, menurunnya tingkat
partisipasi sosial (minat pada aktivitas sosial), kehilangan kenikmatan atau
minat dalam aktivitas yang menyenangkan, menurunnya minat pada seks,
gagal untuk berespons pada pujian atau reward.
Perubahan dalam fungsi dan perilaku motorik seperti bergerak atau
berbicara dengan lebih perlahan daripada biasanya, mengalami perubahan
dalam kebiasaan tidur (tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit, bangun
lebih awal dari biasanya, merasa kesulitan tidur kembali ketika terbangun
di tengah malam, dan mudah terbangun ketika tengah malam atau pada
dini hari), perubahan pada selera makan (makan terlalu banyak atau terlalu
sedikit), perubahan dalam berat badan (bertambah atau kehilangan berat
badan), tidak produktif ketika di tempat bekerja atau sekolah.
Perubahan kognitif menyebabkan sulitnya untuk berkonsentrasi atau
berpikir secara jernih, munculnya pikiran-pikiran negatif kepada diri
snediri dan masa depan, perasaan bersalah atau menyesal mengenai
kesalahan di masa lalu, berkurangnya self-esteem, berpikir tentang
kematian atau bunuh diri.
Gangguan depresi terbagi menjadi dua jenis yaitu:
(a) Gangguan Depresi Mayor (Major Depressive Disorder)
Gangguan depresi mayor didasarkan pada munculnya satu atau lebih
episode depresi mayor tanpa adanya riwayat episode manik (manic) atau
hipomanik (hypomanic). Dalam episode depresi mayor, orang tersebut
mengalami salah satu di antara mood depresi (merasa sedih, putus asa,

atau dalam keadaan terpuruk) atau kehilangan minat/rasa senang dalam


semua atau berbagai aktivitas untuk periode waktu paling sedikit 2 minggu
(APA, 2000).
Orang dengan gangguan depresi mayor juga memiliki selera makan
yang buruk, kehilangan atau bertambah berat badan secara mencolok,
memiliki masalah tidur atau terlalu banyak tidur yang menyebabkan
gelisah secara fisik, yang jika bersifat ekstrem akan memperlambat
aktivitas motorik mereka. Depresi mayor menimbulkan hendaya pada
kemampuan seseorang untuk memenuhi tanggung jawabnya yang biasa
dalam kehidupan sehari-hari (Judd, dkk., 2000a). Orang dengan depresi
mayor dapat kehilangan minat pada hampir semua aktivitas rutin dan
kegiatan senggang mereka, memiliki kesulitan dalam berkonsentrasi dan
mengambil keputusan, memiliki pikiran yang menekan akan kematian, dan
mencoba bunuh diri.
Diagnosis resmi depresi mayor dalam DSM-IV-TR memerlukan
hadirnya empat simtom dan hilangnya minat dan kesenangan yang
belangsung selama sekurang-kurangnya dua minggu. Diagnosis dari
gangguan depresi mayor didasarkan pada munculnya satu atau lebih
episode depresi mayor tanpa ada riwayat episode manik atau hipomanik.
Kesimpulannya adalah bahwa gangguan depresi mayor merupakan
terjadinya satu atau lebih periode atau episode depresi (episode depresi
mayor) tanpa ada riwayat terjadinya episode manik atau hipomanik alami.
Seseorang dapat mengalami satu episode depresi mayor, yang diikuti
dengan kembalinya mereka pada keadaan fungsional yang biasa.
Umumnya orang yang pernah mengalami gangguan episode depresi mayor

dapat kambuh lagi di antara periode normal atau kemungkinan mengalami


hendaya pada fungsi-fungsi tertentu (Nevid dkk., p.229).
Depresi mayor, khususnya pada episode yang lebih berat/parah, dapat
disertai dengan ciri psikosis, seperti delusi bahwa tubuhnya digerogoti
penyakit (Coryell dkk., 1996). Orang dengan depresi berat juga dapat
mengalami halusinasi, seperti mendengar suara-suara orang lain, atau
iblis, yang mengutuk mereka atas kesalahan yang dipersepsikan.
Episode-episode depresi mayor dapat berlangsung dalam jangka
bulanan atau satu tahun atau bahkan lebih (APA, 2000; USDHHS, 1999a).
Menurut DSM IV-TR (APA, 2000) gangguan episode depresi mayor
memiliki ciri-ciri diagnostik yaitu;

Mood yang depresi, sedih dan tertekan hampir sepanjang hari, dan
hampir setiap hari. Dapat berupa mood yang mudah tersinggung

pada anak-anak atau remaja.


Penurunan kesenangan atau minat secara drastis dalam semua atau

hampir semua aktivitas, hampir setiap hari, hampir sepanjang hari.


Kehilangan atau pertambahan berat badan yang signifikan (5%
lebih dari berat tubuh dalam sebulan), tanpa upaya apa pun untuk
berdiet, atau suatu peningkatan atau penurunan dalam selera

makan.
Setiap hari (atau hampir setiap hari) mengalami insomnia atau

hipersomnia (tidur yang berlebihan).


Agitasi yang berlebihan atau melambatnya respons gerakan hampir

setiap hari.
Perasaan lelah atau kehilangan energi hampir setiap hari.
Perasaan tidak berharga atau salah tempat ataupun rasa bersalah
yang berlebihan atau tidak tepat hampir tiap hari.

Berkurangnya kemampuan untuk berkonsentrasi atau berpikir

jernih atau untuk membuat keputusan hampir setiap hari.


Pikiran yang muncul berulang tentang kematian atau bunuh diri
tanpa suatu rencana yang spesifik, atau munculnya suatu
percobaan bunuh diri, atau rencana yang spesifik untuk melakukan
bunuh diri.

Terdapat dua gangguan mood yang disebabkan oleh episode mayor


yaitu;
i. Gangguan Afektif Musiman (Seasonal Affective
Disorder/SAD)
Gangguan Afektif Musiman (SAD) adalah jenis depresi
ringan yang terjadi pada waktu yang sama setiap tahun. Kasus
SAD lebih banyak dijumpai di negara dengan empat musim.
Meskipun demikian, SAD kemungkinan dapat dialami
penduduk di negara dua musim. SAD sebenarnya adalah suatu
kondisi siklik musiman. Artinya bahwa gejala yang dialami
muncul dan hilang pada waktu yang sama setiap tahun.
Di negara empat musim, gejala gangguan ini biasanya
muncul selama akhir musim gugur atau awal musim dingin.
Gejala ini kemudian hilang ketika hari menjadi lebih cerah
seperti pada musim semi dan musim panas. Gejala yang
muncul ketika musim dingin dan musim panas berbeda.
Beberapa gejala ketika seseorang mengalami depresi
musim dingin yaitu seperti depresi, merasa putus asa, merasa
cemas, lemas (kehilangan energi), menarik diri, lebih banyak
tidur, kehilangan minat dalam kegiatan yang biasanya disukai,

perubahan pola makan, ingin menkonsumsi makanan tinggi


karbohidrat, berat badan bertambah, sulit berkonsentrasi dan
mengolah informasi.
Lalu, ketika seseorang mengalami depresi musim panas
yaitu seperti merasa cemas, sulit tidur (insomnia), mudah
marah, berkurangnya berat badan, menurunnya nafsu makan,
meningkatnya dorongan seks.
Beberapa orang memiliki pola yang berlawanan dan dapat
menjadi depresi selama musim semi atau musim panas.
Gangguan yang muncul kemungkinan ringan namun dapat
menjadi semakin parah sepanjang musim berlangsung.
Penyebab spesifik SAD masih belum diketahui. Namun
terdapat beberapa faktor-faktor tertentu, yang mungkin dapat
mempengaruhi antara lain:
1) Jam biologis (ritme sirkadian)
Kurangnya sinar matahari pada saat musim gugur dan
musim dingin dapat mengganggu jam internal tubuh yang
memungkinkan kita tahu kapan harus tidur atau terjaga.
Gangguan irama sirkadian ini dapat menyebabkan perasaan
depresi.
2) Meningkatnya melatonin
Perubahan musim dapat mengganggu keseimbangan
hormon melatonin yang berperan dalam pola tidur dan
suasana hati.
3) Penurunan Serotonins
Penurunan serotonin, zat kimia otak (neurotransmitter)
yang mempengaruhi suasana hati, mungkin juga
berpengaruh dalam gangguan afektif musiman.

Berkurangnya sinar matahari dapat menyebabkan


penurunan serotonin dan dapat memicu ke depresi.
Seseorang yang mengalami SAD dapat menjalani perawatan
dan pengobatan sebagai berikut;
1) Terapi Cahaya (Fototerapi)
Dalam terapi cahaya atau fototerapi adalah sebuah
terapi yang meniru cahaya outdoor dan dapat
menyebabkan perubahan kimia otak yang terkait
dengan suasana hati. Pengobatan ini mudah digunakan
dan tampaknya memiliki efek samping yang rendah.
2) Obat-obatan
Beberapa orang dengan SAD menjalani pengobatan
dengan antidepresan, terutama jika gejalanya parah.
Obat yang biasanya digunakan untuk mengobati
gangguan afektif musiman yaitu bupropion, paroxetine
(Paxil), sertraline (Zoloft), fluoxetine (Prozac,
Sarafem), dan venlafaxine (Effexor).
3) Psikoterapi
Psikoterapi dapat membantu seseorang yang
mengalami SAD mengidentifikasi dan mengubah
pikiran negatif dan perilaku yang mungkin membuat
dirinya merasa lebih buruk dan mengelola stres.
ii. Depresi Pascamelahirkan (Postpartum Depression/PPD)
Depresi pascamelahirkan dapat disebut juga postpartum
depression, baby blues syndrome, atau maternity blues.
PPD adalah gangguan psikologis berupa sedih, cemas dan

meningkatnya emosi yang dialami sekitar 50- 80% wanita


setelah melahirkan khususnya ketika melahirkan bayi pertama.
Biasanya PPD terjadi pada 2 minggu pertama setelah
melahirkan. Beberapa ahli menduga PPD terjadi karena tubuh
si ibu sedang mengalami perubahan secara fisik dan hormonhormon dalam tubuh juga mengalami perubahan-perubahan
yang besar, ditambah kelelahan yang baru dialami saat
melahirkan, sehingga membuat si ibu tidak tenang.
Perubahan fisik seperti payudara yang membengkak, rasa
sakit di daerah lahir dan di rahim ikut memicu terjadinya PPD.
Jika PPD dialami lebih dari 2 minggu itu berarti ibu sangat
memerlukan perhatian suami dan dukungan keluarga dan
kondisi ini mengkhawatirkan.
PPD mencapai puncak saat 3-5 hari setelah melahirkan dan
berlangsung dari beberapa hari selama hampir dua minggu.
Seorang ibu yang mengalami PPD akan dapat menangis
dengan mudah dari biasanya, mengalami kesulitan tidur, tidak
peduli dengan bayinya, tidak percaya diri, merasa tidak
berharga, mudah lelah, mudah merasa marah dan hal-hal
emosional lainnya.
(b) Gangguan Distimik (Dysthymic Disorder)
Gangguan distimik yaitu suasana perasaan depresi menetap yang
berlangsung selama hampir dua tahun. Orang dengan gangguan distimik
merasakan perasaan yang buruk atau keterpurukan sepanjang waktu,
namun mereka tidak mengalami depresi yang sangat parah seperti yang

dialami oleh orang dengan gangguan depresi mayor. Gangguan distimik


yaitu suatu tipe gangguan depresi yang ringan namun kronis.
Pembeda distimia dan depresi mayor adalah durasi, tipe, dan
banyaknya simtom. Gangguan distimik durasinya berlangsung lebih lama
atau kronis. Simtom dalam gangguan distimik lebih sedikit daripada
depresi mayor, yaitu mengalami tiga simtom atau lebih. Orang yang
mengalami gangguan distimik tidak memiliki keinginan untuk bunuh diri,
namun terkadang pasien distimia mengalami simtom-simtom mood yang
lebih parah, memiliki kemungkinan lebih besar untuk mencoba bunuh diri
dan dirawat di rumah sakit, dan mengalami lebih banyak hendaya
dibanding para pasien depresi mayor. Bukti-bukti terakhir menunjukkan
bahwa tampaknya hampir semua orang dengan distimia pada akhirnya
juga akan mengalami depresi ganda (Klein dkk, 2000a, dalam Nevid dkk,
2005).
Istilah depresi ganda (double depression) dapat dikenakan pada mereka
yang mengalami episode mayor yang berlapis dengan gangguan distimik
yang bertahan lebih lama (Keller, Hirschfeld, dan Hanks, 1997 dalam
Nevid dkk, 2005). Orang yang menderita depresi ganda pada umumnya
mengalami episode depresi yang lebih parah daripada orang dengan
depresi mayor saja.
2. Gangguan Perubahan Mood (Gangguan Bipolar)
(a) Gangguan Bipolar
Gangguan bipolar adalah suatu gangguan yang ditandai dengan
perubahan mood antara rasa garing yang ekstrem dan depresi yang parah.
Gangguan ini disertai satu atau lebih episode manik atau hipomanik. DSM

membedakan dua tipe umum dari gangguan bipolar, gangguan bipolar I


dan gangguan bipolar II (APA, 2000 dalam Nevid, 2005). Gangguan
bipolar I bergantian antara episode-episode depresif berat dan episodeepisode manik penuh, sedangkan gangguan bipolar II hanya mengalami
episode-episode hipomania (bukan mania penuh).
DSM-IV-TR mendefinisikan gangguan bipolar I sebagai gangguan
yang mencakup episode mania atau episode campuran yang mencakup
simtom-simtom mania dan depresi. Gangguan bipolar II diasosiasikan
dengan suatu bentuk hipomaniak yang lebih ringan.
Pada gangguan bipolar II, sesesorang mengalami satu atau lebih
episode-episode depresi mayor dan paling tidak satu episode hipomanik.
Episode hipomania hanya perlu berlangsung selama empat hari dan tidak
terlalu menimbulkan hendaya sosial atau pekerjaan, sedangkan episode
mania harus berlangsung sekurang-kurangnya seminggu ditandai hendaya
dalam sosial dan pekerjaan sangat terganggu. Mania adalah kondisi
emosional atau mood yang intens, namun merupakan kegembiraan yang
amat sangat tidak beralasan atau mudah tersinggung.
Kriteria episode manik dalam DSM-IV-TR yaitu meningkatnya kadar
aktifitas dalam pekerjaan, secara sosial atau seksual; lebih banyak bicara
dibanding biasanya (berbicara dengan cepat); pikiran yang melompatlompat atau kesan subyektif bahwa berbagai pikiran seolah saling
berkejaran; memerlukan tidur lebih sedikit dari biasanya; harga diri yang
melambung, yakin bahwa ia memiliki bakat istimewa, kekuatan dan
kemampuan; mudah terganggu (perhatian teralih dengan mudah);
keterlibatan yang berlebihan dalam berbagai aktivitas yang menyenangkan

yang kemungkinan memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan, seperti


berbelanja tanpa perhitungan (Davison dkk, 2006).
Orang dengan satu episode manik, dapat berlangsung beberapa hari
hingga beberapa bulan. Mania biasanya terjadi secara tiba-tiba. Dalam
DSM-IV-TR, orang yang mengalami episode manik mengalami mood
yang melambung sekurang-kurangnya seminggu.
(b) Gangguan Siklotomik
Gangguan Siklotomik biasanya membuat penderita mengalami periode
mood tertekan dan hipomaniak. Biasanya bermula pada akhir masa remaja
atau awal masa dewasa dan berlangsung selama bertahun-tahun. Orang
yang menderita gangguan siklotimik dapat mengalami serangkaian simtom
berpasangan dalam periode depresi dan hipomania yang mereka alami.
Dalam keadaan depresi penderita gangguan siklotimik merasa dirinya
tidak mampu, menarik diri dari orang-orang, terlalu banyak tidur, dan sulit
berkonsentrasi. Sedangkan dalam episode hipomania, pikiran mereka
menjadi tajam dan kreatif dan produktivitas mereka meningkat, harga diri
mereka melambung, berinteraksi dengan orang lain dengan gaya yang
sangat terbuka dan mengalami tidur yang lebih sedikit.
Batasan antara gangguan bipolar dengan gangguan siklotimik belum
ditegakkan secara jelas. Beberapa bentuk gangguan siklotimik dapat
mewakili suatu tipe gangguan bipolar awal yang ringan. Kira-kira 33%
orang dengan gangguan siklotimik pada akhirnya akan mengembangkan
gangguan bipolar, suatu gambaran yang kira-kira 33 kali lebih besar
dibanding pada populasi umum (USDHHS, 1999a dalam Nevid dkk,
2005).

C. Teori tentang Gangguan Mood


1. Stres dan Gangguan Mood
Peristiwa kehidupan yang penuh tekanan dapat berkontribusi pada depresi, dan
simtom depresi dalam diri mereka sendiri dapat bersifat menekan atau
menyebabkan munculnya sumber-sumber tambahan pada stress, seperti perceraian
atau kehilangan pekerjaan (Cui & Valiant, 1997; Daley dkk, 1997 dalam Nevid,
2005). Meski stress sering berimplikasi pada depresi, tidak semua orang yang
mengalami stress menjadi depresi. Faktor-faktor seperti keterampilan coping,
bawaan genetis, dan ketersediaan dukungan sosial memberikan kontribusi pada
kecenderungan depresi saat menghadapi kejadian yang penuh tekanan (USDHHS,
1999a dalam Nevid, 2005).
Stresor-stresor utama depresi, contohnya seperti pengangguran yang
berkepanjangan dan kesulitan ekonomi. Namun, jika orang beranggapan bahwa
mereka sendiri yang bertanggung jawab terhadap kesulitan tersebut, maka hal itu
akan mempengaruhi kecenderungan mereka untuk mengalami depresi.
2. Teori Psikodinamika
Teori psikodinamika klasik mengenai depresi dari Freud (1917-1957) dan para
pengikutnya (misalnya Abraham, 1916/1948) meyakini bahwa depresi mewakili
kemarahan yang diarahkan ke dalam diri sendiri dan bukan terhadap orang-orang
yang dikasihi. Rasa marah dapat diarahkan kepada self setelah mengalami
kehilangan yang sebenarnya atau ancaman kehilangan dari orang-orang yang
dianggap penting (Nevid dkk, 2005). Freud mengemukakan hipotesis bahwa
setelah kehilangan seseorang yang dicintai, apakah kematian atau, yang paling
umum terjadi pada anak-anak, perpisahan atau berkurangnya kasih sayang, orang
yang bersangkutan pertama meleburkan dirinya dengan orang yang
meninggalkannya; ia mengidentifikasi diri dengan orang yang meninggalkannya,
mungkin sebagai upaya sia-sia untuk mengembalikan kehilangan tersebut. Freud

berpendapat, secara tidak sadar kita menyimpan berbagai perasaan negatif


terhadap orang-orang yang kita cintai, orang yang bersangkutan kemudian
menjadi objek kebencian dan kemarahannya sendiri (Davison dkk., 2006)
Menurut Freud, perasaan berduka atau berkabung yang normal adalah proses
yang sehat, karena dengan begitu orang bisa melepaskan diri secara psikologis
dari orang yang hilang dalam kehidupannya baik itu karena kematian, perpisahan,
dan sebagainya. Rasa duka yang berlebihan dapat menimbulkan depresi. Hal ini
terjadi jika seseorang mempunyai perasaan gabungan antara perasaan negatif dan
positif yang sangat kuat terhadap orang yang akan atau telah pergi dari
kehidupannya. Perasaan takut kehilangan tersebut dapat memunculkan kemarahan
yang teramat sangat pada orang yang meninggalkannya, lalu menimbulkan rasa
bersalah yang mencegah mereka mengarahkan kemarahan tersebut. Kemarahan
yang terarah kepada diri sendiri inilah yang nantinya akan menimbulkan depresi.
3. Teori Kognitif Depresi
Teori ini menghubungkan bagaimana asal mula atau bertahannya depresi yang
dialami oleh seseorang dengan bagaimana cara orang tersebut melihat dirinya
sendiri juga lingkungan di sekitarnya. Aaron Beck (1976), Beck dkk, (1979)
dalam Nevid dkk, (2005) menghubungkan pengembangan depresi dengan adopsi
dari cara berpikir yang bias atau terdistorsi secara negatif di awal kehidupan yang
dikenal dengan segitiga kognitif (negative triad) dari depresi, yakni 1) pandangan
negatif tentang diri sendiri, 2) pandangan negatif tentang lingkungan, dan 3)
pandangan negatif tentang masa depan. Kecenderungan untuk membesar-besarkan
pentingnya kegagalan kecil dianggap Beck sebagai distorsi kognitif yang
membentuk tahapan-tahapan untuk depresi di saat menghadapi kehilangan
personal atau peristiwa hidup yang tidak baik. Pemikiran yang terdistorsi
cenderung dialami secara otomatis yang cenderung diterima sebagai pernyataan

akan fakta, bukan sebagai pendapat atau suatu kebiasaan dalam


menginterpretasikan peristiwa-peristiwa.
Teori kognitif meyakini bahwa orang yang mengambil cara berpikir negatif
seperti dalam segitiga kognitif dari depresi ini memiliki risiko yang lebih besar
menjadi depresi ketika mereka dihadapkan pada pengalaman hidup yang kurang
baik. Beberapa penyimpangan kognitif utama pada individu yang depresi menurut
Beck (Davison dkk., 2006), yaitu:
a. Kesimpulan yang Subjektif (Arbitrary Inference); suatu kesimpulan yang
diambil tanpa bukti-bukti cukup atau tanpa bukti sama sekali.
b. Abstraksi Selektif (Selective Abstraction); suatu kesimpulan yang diambil
hanya berdasarkan satu elemen dari banyak elemen dalam suatu situasi.
c. Overgeneralisasi; suatu kesimpulan menyeluruh yang diambil berdasarkan
satu peristiwa tunggal yang mungkin tidak penting.
d. Magnifikasi dan Minimisasi; melebih-lebihkan dalam menilai kinerja.
Sedangkan David Burns (1980) menyusun sejumlah distorsi kognitif yang
diasosiasikan dengan depresi:
a. Cara berpikir All-or-Nothing Thinking. Memandang kejadian-kejadian
sebagai hitam dan putih, sebagai semua tentangnya baik atau semua
tentangnya buruk.
b. Generalisasi yang Berlebihan. Mempercayai bahwa bila suatu peristiwa
negatif terjadi, maka hal itu cenderung akan terjadi lagi pada situasi yang
serupa di masa depan.
c. Filter Mental. Berfokus hanya pada detail-detail negatif dari suatu
peristiwa, dan dengan sendirinya menolak unsur-unsur positif dari semua
yang pernah dialami.
d. Mendiskualifikasikan Hal-hal Positif. Mengacu pada kecenderungan
untuk memilih kalah dari kemenangan yang hampir terjadi dengan
menetralisasi atau tidak mengakui pencapaian-pencapaian anda.
e. Tergesa-gesa Membuat Kesimpulan. Membentuk interpretasi negatif
mengenai suatu peristiwa, meskipun kekurangan bukti.

f. Membesar-besarkan dan Mengecilkan. Membesar-besarkan mengacu pada


kecenderungan untuk membesar-besarkan pentingnya peristiwa negatif,
kekurangan pribadi, ketakutan, atau kesalahan. Mengecilkan adalah
memandang rendah kebaikan-kebaikan.
g. Penalaran Emosional. Mendasarkan penalaran pada emosi dan bukan pada
pertimbangan-pertimbangan yang adil terhadap bukti.
h. Pernyataan-pernyataan Keharusan. Menciptakan perintah personal atau
self-commandments.
i. Memberi Label dan Salah Melabel. Menjelaskan perilaku dengan
melekatkan label negatif pada diri sendiri dan orang lain.
j. Melakukan Personalisasi. Mengacu pada kecenderungan untuk
mengasumsikan bahwa diri sendiri bertanggung jawab atas masalah dan
perilaku orang lain.
4. Teori Humanistik
Menurut teori humanistik, seseorang menjadi depresi ketika ia tidak dapat
menemukan makna dalam hidup mereka, dan tidak dapat membuat pilihan
untuk pemenuhan diri dan aktualisasi diri. Sehingga ia menganggap dunia
sebagai tempat yang menjemukan, dan perasaan bersalah karena tidak bisa
menemukan dan menggali potensi terbaik yang dimiliki.
Teori humanistik fokus pada hilangnya self esteem saat seseorang
kehilangan orang yang dekat atau orang yang berarti baginya, atau juga
pekerjaannya. Jika identitas peran ini hilang, maka arah tujuan orang tersebut
juga akan hilang. Hal ini yang akan memunculkan depresi.
5. Teori Belajar
Teori belajar fokus pada faktor-faktor situasional seperti kehilangan
reinforcement positif sebagai hal yang berpotensi memunculkan depresi. Peter
Lewinsohn (1974) dalam Nevid dkk, (2005) menyatakan bahwa depresi
dihasilkan dari ketidakseimbangan antara output perilaku dan input
reinforcement yang berasal dari lingkungan. Kurangnya reinforcement untuk
seseorang berusaha, dapat menurunkan motivasi dan menyebabkan perasaan

depresi yang membuat orang menjadi tidak aktif dan menarik diri dari
lingkungan sosial.
Penurunan dalam tingkatan reinforcement dapat terjadi karena banyak
alasan. Reinforcement sosial dapat hilang saat orang terdekat menjadi pemberi
reinforcement, meninggal atau meninggalkan seseorang yang lain. Orang yang
menderita kehilangan sosial lebih cenderung menjadi depresi bila mereka
kurang memiliki keterampilan sosial dalam membentuk hubungan baru.
Perubahan dalam kondisi kehidupan juga dapat merubah keseimbangan antara
usaha dan reinforcement.
6. Teori Interpersonal Depresi
Orang yang depresi akan memicu reaksi negatif dari orang lain sehingga
orang yang depresi merasa kurangnya dukungan sosial. Jika orang yang
depresi memberikan reaksi negatif maka respon yang diterima dari orang lain
pun akan negatif. Contohnya, orang lain dapat menganggap hal ini sebagai
sesuatu yang menyebalkan: berbicara sangat lambat, dengan banyak jeda dan
keengganan; keterbukaan diri yang negatif; lebih banyak afek negatif; jarang
melakukan kontak mata; dan sedikitnya ekspresi wajah yang positif serta lebih
banyak ekspresi wajah yang negatif (Field, 1995; Gotlib & Robinson, 1982;
Gottman & Krokoff, 1989; Smith, Vivian, & OLeary, 1990 dalam Davison
dkk., 2006).
7. Teori Psikologis Gangguan Bipolar
Seperti depresi unipolar, stres kehidupan tampaknya berperan penting
dalam memicu berubah-ubahnya mood pada gangguan bipolar (Johnson &
Miller, 1997; Malkoff-Schwartz dkk., 1998 dalam Davison dkk., 2006). Dalam
suatu studi mengenai faktor-faktor kognitif, gaya atribusional dan sikap
disfungsional bersama dengan peristiwa negatif dalam hidup memprediksi
meningkatnya simtom-simtom depresi pada pasien bipolar (Reilly-Harrington

dkk., 1999 dalam Davison dkk., 2006). Meningkatnya simtom-simtom manik


dapat diprediksi dari adanya gaya atribusional dan sikap disfungsional
bersamaan dengan peristiwa negatif dalam hidup.
D. Terapi Gangguan Mood
Saat ini banyak terapi bagi orang yang menderita gangguan mood yang
bersifat psikologis dan biologis; baik sendiri-sendiri atau dikombinasikan, berbagai
terapi tersebut cukup efektif. Berikut jenis-jenis terapi yang dapat digunakan untuk
pendeerita gangguan mood, yaitu diantaranya:
1. Terapi Psikologis Depresi
a. Terapi Psikodinamika
Terapi psikoanalisis bertujuan untuk membantu orang yang depresi
untuk memahami perasaan mereka yang muncul karena rasa kehilangan yang
direpres dan kemarahan yang secara tidak sadar diarahkan ke dalam diri.
Dengan menggali perasaan-perasaan marah terhadap objek yang hilang ini,
mereka dapat mengarahkan rasa marah keluar dan bukan membiarkannya
menjadi lebih buruk dan mengarah ke dalam. Terapis psikodinamika pun
menggunakan metode-metode behavioral dalam membantu klien mencapai
keterampilan sosial yang dibutuhkan untuk mengembangkan suatu jaringan
sosial yang lebih luas.
b. Terapi Kognitif
Terapi kognitif adalah mengubah pola pikir klien yang negatif dengan
asumsi-asumsi positif tentang dirinya dan mengubah perilaku klien yang
mendukung pikiran-pikiran negatifnya.
Teori ini berfokus membantu orang dengan depresi, belajar untuk
menyadari dan mengubah pola berpikir mereka yang disfungsional. Orang
yang depresi biasanya lebih fokus pada perasaan mereka yang tidak
menyenangkan. Terapi kognitif, sama seperti terapi perilaku, melibatkan suatu

bentuk terapi yang relatif singkat, biasanya 14 hingga 16 sesi mingguan


(Butler & Beck, 1995 dalam Nevid dkk., 2005).
c. Terapi Behavioral
Terapi behavioral bertujuan untuk secara langsung memodifikasi
perilaku. Dalam pendekatan ini beranggapan bahwa perilaku depresi dapat
dipelajari dan dapat dihilangkan (unlearned).
d. Pelatihan Keterampilan Sosial
Ciri utama orang dengan depresi yaitu adanya hendaya sosial dan
tanggung jawab secara individu maupun lingkungan, maka penanganan
behavioral memfokuskan untuk membantu pasien memperbaiki interaksi
sosial. Dalam terapi ini pun mencakup komponen kognitif, dimana klien
diminta untuk tidak terlalu keras dalam menilai performa mereka.
2. Terapi Psikologis Gangguan Bipolar
Terapi ini menekankan dan menangani berbagai masalah interpersonal,
kognitif dan emosional pada pasien bipolar, yaitu dengan memberikan edukasi
tentang gangguan bipolar dan penanganannya dapat membantu kepatuhan
terhadap pengobatan. Pasien bipolar tidak menyadari pemasalahan yang
dihadapinya, sehingga untuk mengontrol pengobatan dibutuhkan dukungan sosial
dari keluarga dan teman-teman.
Terapi-terapi yang digunakan yaitu penanganan berfokus keluarga (FFTFamily-Focused Treatment) merupakan terapi psikososial dengan waktu terbatas
bagi pasien gangguan bipolar yang dirawat jalan.
3. Terapi Biologis Gangguan Mood
Terapi biologis melibatkan penggunaan obat-obatan antidepresan dan terapi
elektrokonvulsif untuk depresi serta lithium karbonat untuk gangguan bipolar.
Obat-obatan yang dipergunakan untuk menangani depresi mencakup beberapa
kelas dari antidepresan: tricyclic antidepressant (TACs), monoamine axidase
(MAO) inhibitors, dan selective serotonin-reuptake inhibitors (SSRIs).
Pengobatan ini efektif dalam menyebuhkan depresi mayor dan membantu
menangani distimia. Efek samping dari penggunaan tricyclic dan MAO inhibitors

mencakup mulut kering, kemunduran psikomotor, konstipasi, pandangan yang


kabur, hambatan pembuangan urine (hal ini jarang terjadi), paralytic ileus (suatu
kelumpuhan dari usus besar, yang mengganggu perjalanan isi usus), kebingungan,
delirium, dan komplikasi kardiovaskular, seperti tekanan darah yang menurun.
Tricyclic juga sangat beracun, yang dapat meningkatkan prospek bunuh diri akibat
overdosis bila obat digunakan tanpa pengawasan yang ketat (Nevid dkk., 2005).
Sedang SSRIs memiliki dua keuntungan, yaitu pertama lebih tidak beracun
sehingga lebih tidak berbahaya jika overdosis; kedua lebih sedikit efek samping
umum (seperti mulut kering, konstipasi, dan bertambah berat badan). Namun,
dapat pula menimbulkan efek samping seperti kram perut, sakit kepala,
kegelisahan, insomnia, kurangnya dorongan seksual, dan orgasme yang tertunda
(Antidepressant Linked, 2000; Michelson dkk., 2000 dalam Nevid dkk., 2005).
Terapi elektrokonvulsif (Electroconvulsive therapy/ECT) lebih umum disebut
terapi kejutan (shock therapy), yaitu dengan mengalirkan arus listrik ke otak. Arus
listriknya antara 70 hingga 130 volt, tujuannya adalah untuk menginduksi suatu
konvulsi yang serupa dengan serangan epilepsi grand mal. ECT biasanya
digunakan dalam suatu rangkaian 6 hingga 12 kali penanganan yang
didistribusikan dalam suatu rangkaian tiga kali per minggu, selama suatu periode
beberapa minggu (USDHHS, 1999a dalam Nevid dkk., 2005). ECT menghasilkan
perbaikan yang signifikan untuk sekitar 50% hingga 60% orang dengan depresi
mayor yang telah gagal berespons pada pengobatan antidepresan (Prudic dkk.
1996; Sackeim, Prudic & Devanand, 1990 dalam Nevid dkk., 2005).
Lithium karbonat untuk gangguan bipolar bermanfaat untuk menstabilkan
mood dan mengurangi episode-episode kambuh dari manik dan depresi.
Pengobatan dengan lithium harus dengan monitoring yang baik karena adanya
efek beracun yang potensial dan efek samping seperti menyebabkan hendaya

ringan dalam ingatan, bertambahnya berat badan, kelesuhan, dan kepeningan,


serta menyebabkan masalah liver dalam jangka panjang. Gejala keracunan
lithilum mulai dari yang ringan seperti tremor, mual, penglihatan kabur, vertigo,
dan kebingungan, hingga yang cukup berat seperti disritmia kardiak, kejang,
koma, bahkan kematian (Davison dkk., 2006).
E. BUNUH DIRI
a. Perspektif Bunuh Diri
Perilaku bunuh diri adalah bukan suatu gangguan psikologis, namun menjadi
ciri atau simtom dari gangguan psikologis yaitu gangguan mood. Ketika
seseorang kehilangan orang yang dicintai sekaligus dibencinya, dan
meleburkan orang tersebut dengan dirinya, agresi diarahkan ke dalam. Jika
perasaan ini cukup kuat, orang yang bersangkutan akan bunuh diri (Davison
dkk, 2006).
Emile Durrkheim (1897, 1951) dalam Davison (2006), seorang sosiolog
terkenal membedakan tiga jenis bunuh diri yaitu;
1. Bunuh diri egoistic. Bunuh diri ini dilakukan oleh orang-orang yang
memiliki sedikit keterikatan dengan keluarga, masyarakat, atau
komunitas. Orang-orang ini merasa terasingkan dari orang lain, tidak
memiliki dukungan sosial yang penting agar mereka dapat tetap
berfungsi secara adaptif sebagai makhluk sosial.
2. Bunuh diri altruistic. Bunuh diri ini dianggap sebagai respon terhadap
berbagai tuntutan sosial. Beberapa orang yang bunuh diri merasa
sangat menjadi bagian suatu kelompok dan mengorbankan diri untuk
melakukan hal yang dianggapnya akan menjadi kebaikan bagi
masyarakat.
3. Bunuh diri anomik. Bunuh diri jenis ini dapat dipicu oleh perubahan
mendadak dalam hubungan seseorang dengan masyarakat.

Penyebabnya kemungkinan adalah perubahan mendadak dalam kondisi


hidup.
Durkheim (1951) mendefinisikan sejumlah tipe bunuh diri berdasarkan
kondisi sosial atau kultural di mana bunuh diri itu terjadi. Salah satu tipenya
adalah bunuh diri yang diformalkan, yaitu tindakan bunuh diri yang
disetujui. Contohnya adalah adat hara-kiri di jepang, di mana seorang yang
dianggap mempermalukan dirinya sendiri atau keluarganya diharapkan untuk
menusuk dirinya sendiri dengan sebilah pedang sampai mati (Durand dkk,
2006).
Pendekatan psikologis Shneidman (1985) dalam Davison dkk (2006) terhadap
bunuh diri terdiri dari sepuluh karakteristik bunuh diri paling umum yang
tidak semuanya ditemukan dalam setiap kasus, yaitu:
1. Sasaran bunuh diri umumnya adalah untuk mencari solusi.
2. Tujuan bunuh diri umumnya adalah penghilangan kesadaran.
3. Stimulus bunuh diri umumnya adalah rasa sakit psikologis yang tidak
dapat ditoleransi.
4. Stressor dalam tindakan bunuh diri umumnya adalah kebutuhan
psikologis yang tidak terpenuhi.
5. Emosi yang umum dialami dalam bunuh diri adalah keputusasaanketidakberdayaan.
6. Kondisi kognitif yang umum dalam bunuh diri adalah ambivalensi.
7. Kondisi perseptual yang umum dalam bunuh diri merupakan keadaan
terdesak.
8. Tindakan yang umum dalam bunuh diri adalah aggression.
9. Tindakan interpersonal yang umum dalam bunuh diri adalah
pengungkapan niat.
10. Konsistensi yang umum dalam bunuh diri adalah dengan pola coping
sepanjang hidup.
Berbagai bukti menunjukkan bahwa level serotonin yang rendah mungkin
berhubungan dengan bunuh diri dan percobaan bunuh diri dengan
menggunakan cara-cara yang keras (Asberg, Nordstrom, dan Traskman bendz,
1986; cremniter dkk, 1999; Winchel, Stanley, dan Stanley, 1990). Level

serotonin yang ekstrem rendah berhubungan dengan impulsivitas, instabilitas,


dan kecenderungan untuk memberikan reaksi yang berlebihan terhadap
berbagai situasi (Spoon, 1992).
b. Memprediksi Bunuh Diri
Aaron Beck menemukan bahwa berdasarkan data prospektif bahwa
keputusasaan merupakan prediktor kuat tindakan bunuh diri (Beck, 1986b;
Beck dkk, 1985, 1990). Alat ukur self-report lain adalah Reason for Living
(RFL) inventori yang disusun Marsha Linehan (Ivanov dkk, 1994; Linehan,
1985; Linehan dkk, 1983). Faktor lain yang telah diteliti adalah kepuasan
hidup. Sejumlah penelitian lain memfokuskan pada karakteristik kognitif
orang-orang yang mencoba bunuh diri, bahwa orang-orang yang berpikir
untuk bunuh diri memiliki pendekatan yang lebih kaku terhadap berbagai
masalah dan memiliki pemikiran yang kurang fleksibel.
c. Faktor-faktor Bunuh Diri
Ada beberapa faktor-faktor yang menyebabkan seseorang melakukan
bunuh diri, antara lain:
1. Menderita cacat fisik atau mental.
2. Kehilangan teman atau anggota keluarga yang juga melakukan
bunuh diri.
3. Mengalami perilaku bullying yang berkelanjutan.
4. Adanya catatan mengenai kondisi kesehatan mental.
5. Kematian anggota keluarga atau kerabat terdekat yang baru terjadi.
6. Merupakan sarana untuk menyakiti diri.
7. Masalah dalam hubungan.
8. Pernah melakukan percobaan bunuh diri sebelumnya.
d. Mencegah Tindakan Bunuh Diri
Salah satu cara untuk melakukan pencegahan tindakan bunuh diri adalah
dengan mengecamkan dalam pikiran bahwa sebagian besar orang yang
mencoba bunuh diri menderita gangguan mental yang dapat ditangani, seperti
depresi, skizofrenia, penyalahgunaan zat, atau gangguan kepribadian ambang.
Bila seseorang yang menggunakan pendekatan kognitif Beck berhasil
mengurangi depresi yang dialami pasien, risiko bunuh diri pada pasien

tersebut berkurang; seperti halnya dalam terapi perilaku dialektikal Marsha


Linehan (1993b) dalam Davison (2006).
Salah satu jenis pendekatan paling terkenal adalah yang dikembangkan Edwin
Shneidman. Ia mengembangkan strategi umum dalam pencegahan bunuh diri
yang mencakup tiga hal, yaitu 1) mengurangi penderitaan dan rasa sakit
psikologis yang mendalam, 2) membuka pandangan, yaitu memperluas
pandangan yang terbatas dengan membantu individu melihat berbagai pilihan
selain pilihan ekstrem dengan membiarkan penderitaan dan ketiadaan terus
berlangsung, dan 3) mendorong orang yang bersangkutan untuk mundur
meskipun hanya selangkah dari tindakan yang menghancurkan diri sendiri.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Gangguan mood mencakup gangguan emosi yang menyebabkan
ketidakberfungsian seseorang. DSM-IV-TR mencantumkan dua jenis utama gangguan
mood: gangguan depresi mayor dan gangguan bipolar. DSM-IV-TR juga
mencantumkan dua gangguan mood kronis yaitu siklotimia dan distimia.
Berbagai teori psikologi tentang depresi mencakup psikoanalisis, kognitif,
belajar, humanistik, dan interpersonal. Berbagai terapi psikologis efektif bagi depresi.
Berbagai penanganan biologis sering kali digunakan bersama dengan penanganan
psikologis.
Kecenderungan untuk melenyapkan diri sendiri dengan bunuh diri tidak
terbatas pada orang yang mengalami depresi. Sebagian besar perspektif bunuh
diri menganggapnya sebagai tindakan yang biasanya didasari keputusasaan
untuk mengakhiri eksistensi yang dirasakan tidak tertahankan bagi seseorang.

DAFTAR PUSTAKA
Davison, Gerarld C., Jhon M. Neale, Ann M. Kring. 2006. Psikologi Abnormal Ed. ke-9.
Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.
Nevid, Jeffrey S., Spencer A. Rathus, Beverly Greene. 2005. Psikologi Abnormal Ed. Ke-5
Jilid I. Jakarta. Erlangga.