Anda di halaman 1dari 113

Panduan Kuliah Kerja Lapangan 1

FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA

2012

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Penyusun :

Langgeng Wahyu Santosa


Widiyanto
Luthfi Mutaali

FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA

2012

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

PENGENALAN BENTANGLAHAN JAWA BAGIAN TENGAH


Pedoman Kuliah Kerja Lapangan 1
Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Penyusun :

Langgeng Wahyu Santosa


Widiyanto
Luthfi Mutaali

Penerbit :
BADAN PENERBIT DAN PERCETAKAN
FAKULTAS GEOGRAFI (BPFG)
Edisi Kedua
Cetakan ke-6
Mei, 2012

Fakultas Geografi UGM

ii

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Pada tahun pertama, mahasiswa Fakultas Geografi UGM, harus dapat


memahami konsepsi bentanglahan (landform) secara benar, dan mampu
melakukan interpretasi satuan bentanglahan di atas lembar Peta Topografi,
Foto Udara atau Citra Penginderaan Jauh lainnya sebagai sarana yang akurat
untuk kepentingan tersebut. Selanjutnya hasil interpretasi tersebut harus dapat
ditemukenali melalui pengamatan dan pengukuran langsung di lapangan,
melalui suatu kegiatan akademik Kuliah Kerja Lapangan 1.
Tema pokok kegiatan akademik ini adalah: Pengenalan
Bentanglahan Jawa Bagian Tengah. Pulau Jawa bagian tengah
mempunyai kenampakan bentanglahan yang sangat kompleks, yaitu: di bagian
selatan merupakan pegunungan blok patahan dengan fenomena karstnya, di
bagian tengah merupakan jajaran gunung-gunungapi dengan dataran aluvial
yang luas, dan di bagian utara merupakan suatu jajaran perbukitan lipatan
dengan lembah-lembah sinklinal yang sangat beragam fenomenanya. Di
samping itu juga dijumpai fenomena menarik lainnya, seperti: proses intrusi
batuan vulkanik diorit dan proses diapirisme yang akan diulas secara terinci
dalam buku ini.
Buku Panduan ini disusun secara sistematis, sedemikian rupa sehingga
dapat memberikan gambaran nyata dan mudah untuk dipahami oleh setiap
mahasiswa tahun pertama maupun pembaca pada umumnya. Ucapan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu secara langsung maupun
tidak langsung, dalam proses penyusunan buku ini. Saran dan kritik yang
konstruktif tetap kami harapkan demi kesempurnaan buku ini pada edisi
berikutnya.
Yogyakarta, Mei 2012
TIM PENYUSUN

Fakultas Geografi UGM

iii

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

KATA PENGANTAR ...................................................................................... iii


DAFTAR ISI ...................................................................................................... iv
BAB 1

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang .......................................................................... 1
1.2. Tujuan dan Sasaran ................................................................. 4
1.2.1. Tujuan ......................................................................... 4
1.2.2. Sasaran ........................................................................ 4
1.3. Ruang Lingkup ......................................................................... 5
1.3.1. Lingkup wilayah kajian ................................................ 5
1.3.2. Lingkup materi kajian .................................................. 5
1.4. Proses dan Metode .................................................................. 6
1.4.1. Proses dan metode pembelajaran ............................... 6
1.4.2. Metode evaluasi ........................................................... 6
1.5. Tugas dan Kewajiban ................................................................ 7
1.5.1. Tugas dan kewajiban mahasiswa ................................. 7
1.5.2. Tugas dan kewajiban pembimbing .............................. 7
1.6. Petunjuk Operasional .............................................................. 8
1.6.1. Operasional di lapangan ............................................. 8
1.6.2. Peralatan yang digunakan .......................................... 8
1.6.3. Lingkup pengamatan dan kajian ................................ 9

BAB 2

DASAR PEMAHAMAN BENTANGLAHAN


2.1. Pengertian Bentanglahan .......................................................
2.2. Bentuklahan sebagai Inti Kajian Bentang Alami ...................
2.3. Bentang Budaya: Manusia dan Aktivitasnya .........................
2.3.1. Pengertian dasar ........................................................
2.3.2. Faktor-faktor bentang budaya ...................................
2.3.3. Klasifikasi bentang budaya ........................................
2.4. Kunci Pemahaman Bentanglahan ..........................................

Fakultas Geografi UGM

iv

11
12
14
14
15
17
21

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

BAB 3

DESKRIPSI BENTANGLAHAN JAWA BAGIAN TENGAH


3.1. Sejarah Pembentukan (Genesis) Pulau Jawa ....................... 24
3.2. Bentanglahan Jawa Bagian Tengah ...................................... 28
3.2.1. Bentanglahan Zona Tengah Jawa Bagian Tengah ... 28
3.2.2. Bentanglahan Pantai Selatan Jawa Bagian Tengah . 32
3.2.3. Bentanglahan Pantai Utara Jawa Bagian Tengah .... 34
3.3. Kondisi Demografi, Ekonomi dan Sosial Budaya ................. 37
3.3.1. Zona Selatan Jawa Bagian Tengah ............................ 37
3.3.2. Zona Tengah Jawa Bagian Tengah ............................ 41
3.3.3. Zona Utara Jawa Bagian Tengah .............................. 44
3.4. Deskripsi Bentanglahan Jawa Bagian Tengah ....................... 47
3.4.1. Bentanglahan Gunungapi Merapi ............................. 47
3.4.2. Bentanglahan Pantai Parangtritis, Bantul ................ 49
3.4.3. Bentanglahan Dataran Aluvial Oyo-Opak ................. 53
3.4.4. Bentanglahan Graben Bantul .................................... 55
3.4.5. Bentanglahan Plato Selatan, Gunungkidul .................. 57
3.4.6. Bentanglahan Waduk Wonogiri ............................... 59
3.4.7. Bentanglahan Peralihan Plato Selatan dengan
Bentanglahan Volkanik Lawu ................................... 60
3.4.8. Bentanglahan Kubah Sangiran, Sragen ..................... 61
3.4.9. Bentanglahan Perbukitan Gundih, Purwodadi ........ 63
3.4.10. Bentanglahan Lembah Lusi, Randublatung ............. 63
3.4.11. Bentanglahan Pantai Rembang ................................ 66
3.4.12. Bentanglahan Pantai Muria ....................................... 67
3.4.13. Bentanglahan Pantai Demak ..................................... 72
3.4.14. Bentanglahan Teluk Semarang ................................. 73
3.4.15. Bentanglahan Rawa Pening, Ambarawa ................... 75
3.4.16. Bentanglahan Perbukitan Menoreh, Borobudur ...... 77
3.4.17. Penambangan Pasir Gunungapi Merapi ................... 79

BAB 4

KUNCI DAN HASIL PENGAMATAN BENTANGLAHAN


4.1. Penentuan Posisi dan Penelusuran Jalur ............................. 83
4.2. Kunci Pengenalan Komponen Fisik ...................................... 85
4.3. Kunci Pengenalan Komponen Sosial Budaya ....................... 98
4.4. Daftar Isian ........................................................................... 101

DAFTAR PUSTAKA

Fakultas Geografi UGM

BAB 1

1.1. Latar Belakang


Pendidikan geografi bertujuan untuk mendidik mahasiswa menjadi
sarjana geografi yang memiliki kepribadian, kecerdasan, ketrampilan, dan
pengetahuan geografi, serta penerapannya. Mahasiswa diajarkan konsep,
teori dan praktek, baik di laboratorium maupun di lapangan, sehingga
dapat mengenal, mengidentifikasi, mengukur parameter fisik, dan sosial
ekonomi di lapangan, serta mengenali wilayah. Obyek kajian geografi secara
utuh disebut dengan geosfer (geosphere).

Fakultas Geografi UGM

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Fenomena geosfer meliputi: atmosfer, hidrosfer, litosfer, biosfer,


pedosfer, dan antroposfer. Atmosfer mencakup kondisi cuaca dan iklim,
yang dipelajari dalam meteorologi dan klimatologi. Litosfer mencakup
topografi atau relief, struktur dan batuan, yang dipelajari dalam ilmu
geomorfologi. Pedosfer mencakup sifat dan perwatakan tanah, yang
dipelajari dalam geografi tanah. Hidrosfer mencakup air yang terdapat di
atmosfer, permukaan bumi, laut dan di dalam tanah, yang dikaji dalam
hidrologi dan oseanografi. Secara khusus hidrologi dipelajari pula dalam
kajian hidrometeorologi, potamologi, hidrometri, hidrologi kualitas air, dan
geohidrologi. Biosfer mencakup kajian flora dan fauna, yang dipelajari
dalam biogeografi, sedangkan antroposfer mengkaji manusia dan
perikehidupannya, yang dipelajari dalam geografi manusia, kependudukan, sosiologi, antropologi, ekonomi dan ilmu sosial. Keenam unsur atau
obyek geosfer tersebut merupakan komponen penyusun bentanglahan
(landscape).
Pengenalan bentanglahan mencakup bentang alami (natural
landscape) dan bentang budaya (cultural landscape), yang menekankan
keterkaitan antara komponen biogeofisik dengan manusia didalamnya, dan
segala aktivitasnya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pendekatan yang
digunakan untuk mengetahui hubungan keterkaitan tersebut merupakan
ciri kajian geografi, yaitu: pendekatan keruangan (spatial approach),
kelingkungan (ecological approach), dan kompleks wilayah (regional
approach). Untuk mempelajari bentanglahan, perlu dikenalkan: (i)
komponen biogeofisik dan sebarannya di lapangan beserta pemetaannya;
(ii) hubungan antar komponen biogeofisik; dan (iii) hubungan antara
komponen biogeofisik dengan manusia.
Atas dasar interpretasi dan analisis peta, foto udara atau citra
penginderaan jauh, yang didukung dengan observasi lapangan, maka dapat
dikenali karakteristik dari masing-masing komponen bentanglahan, baik
yang menyangkut komponen fisik maupun komponen sosial ekonomi dan
budaya. Analisis komponen bentang alam pada umumnya didasarkan atas
relief, struktur dan proses, yang dinamakan bentuklahan (landform).
Bentuklahan digunakan sebagai satuan analisis yang menggunakan

Fakultas Geografi UGM

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kompleks wilayah, yang


selanjutnya dapat digunakan untuk menentukan kebijakan dalam
perencanaan pemanfaatan lahan, baik dalam skala lokal, regional maupun
nasional. Komponen bentang budaya, dapat dikenali dengan mudah
mendasarkan pada aktivitas manusia dalam memanfaatkan lahan, yang
tercermin pada pemanfaatan ruang, antara lain: bentang pertanian,
bentang industri dan bentang permukiman. Selain itu bentang budaya juga
dapat dikelompokkan menjadi bentang kota dan bentang desa, yang
masing-masing memiliki karakteristik yang khas.
Pengamatan bentanglahan Jawa Bagian Tengah, dikelompokkan lagi
menjadi 3 (tiga) zona, yaitu: Zona Selatan, Zona Tengah dan Zona Utara.
Masing-masing bagian bentanglahan ini memiliki karakteristik yang
kompleks, sehingga pendekatan geografi, yang mencakup aspek keruangan,
ekologi dan kompleks wilayah dapat diterapkan dan diajarkan secara
komprehensif.
Kajian bentuklahan sebagai dasar analisis dan kerangka umum dalam
kajian bentanglahan, pengelompokannya didasarkan pada asal proses
utama, yang meliputi: bentukan asal proses volkanis, struktural, fluvial,
solusional, denudasional, eolian, marin, organik, dan asal proses
antropogenik. Aspek bentang budaya Jawa Bagian Tengah memiliki
karakteristik yang kompleks pula, yang dapat memberikan gambaran
bentang budaya Jawa secara lengkap, baik bentang desa maupun kota;
bentang pertanian, perikanan, hutan, industri, dan perdagangan, yang
memiliki karakteristik sosial, ekonomi, dan budaya yang spesifik.
Kuliah Kerja Lapangan I dengan tema Pengenalan Bentanglahan
Jawa Bagian Tengah ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah
dalam pemahaman dasar bagi mahasiswa Fakultas Geografi pada tingkat
awal untuk memahami fenomena geosfer dan hubungan antar komponen di
dalamnya. Hal ini sangat diperlukan dalam kajian berbagai minat di
Fakultas Geografi UGM, yaitu: minat Geografi Fisik dan Lingkungan,
Geografi Manusia, Pembangunan Wilayah, serta Kartografi dan
Penginderaan Jauh.

Fakultas Geografi UGM

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

1.2. Tujuan dan Sasaran


1.2.1. Tujuan
Secara umum tujuan Kuliah Kerja Lapangan I bagi mahasiswa
Fakultas Geografi, UGM, ini adalah:
(a) memperkenalkan fenomena bentanglahan (bentang alami dan
bentang budaya) kepada mahasiswa, baik secara teoritis maupun
praktis;
(b) menunjukkan kenampakan dan karakteristik berbagai komponen
penyusun bentanglahan kepada mahasiswa; dan
(c) menunjukkan hubungan saling ketergantungan antar komponen
penyusun bentanglahan di lapangan.
1.2.2. Sasaran
Sasaran yang hendak dicapai dalam Kuliah Kerja Lapangan I bagi
mahasiswa Fakultas Geografi, UGM, adalah:
(a) mahasiswa dapat mengenal, mengidentifikasi, dan mengukur, baik
parameter fisik maupun sosial ekonomi di lapangan, serta mampu
mengenali wilayah secara holistik di lapangan;
(b) mahasiswa dapat menggunakan peta, foto udara dan citra
penginderaan jauh, untuk mengidentifikasi fenomena bentanglahan;
(c) mahasiswa dapat menggunakan berbagai peralatan untuk interpretasi
dan pengukuran di lapangan maupun di laboratorium;
(d) mahasiswa dapat memotret obyek secara profesional dan dapat
membuat sketsa pada lokasi pengamatan; dan
(e) mahasiswa dapat mengetahui persamaan maupun perbedaan setiap
fenomena geosfer dalam konteks keruangan, kelingkungan, dan
kompleks wilayah.

Fakultas Geografi UGM

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

1.3. Ruang Lingkup


1.3.1. Lingkup wilayah kajian
Lingkup wilayah kajian meliputi wilayah atau zona selatan, tengah
dan utara, menurut pembagian Panekoeck (1949), atau Jawa Bagian
Tengah menurut Bemmelen (1970). Secara administratif meliputi: Propinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta dan Propinsi Jawa Tengah. Wilayah
kabupaten atau kota yang dijadikan jalur pengamatan, meliputi: Kabupaten
Sleman, Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Gunungkidul, Wonogiri,
Sragen, Purwodadi, Rembang, Pati, Jepara, Demak, Kota Semarang,
Kabupaten Semarang, dan Kabupaten Magelang. Masing-masing wilayah
yang dijadikan objek pengamatan memiliki kenampakan bentanglahan
yang bervariasi.
1.3.2. Lingkup materi kajian
Secara umum lingkup materi kajian meliputi seluruh fenomena
geosfer, yaitu: komponen atmosfer, hidrosfer, litosfer, biosfer, pedosfer,
dan antroposfer. Secara khusus dapat dirumuskan sebagai berikut ini.
(a) Materi tentang pengenalan obyek kajian (fenomena geosfer) melalui
peta dan perangkat analisis keruangan serta sketsa obyek
pengamatan;
(b) Pengenalan dan identifikasi karakteristik dan komponen penyusun
bentang alami (biogeofisik), baik morfologi, stuktur dan proses; serta
komponen fisik lahan lainnya, yaitu: batuan, tanah, air, iklim,
oseanografi, dan komponen biotik.
(c) Pengenalan dan identifikasi karakteristik dan komponen penyusun
bentang budaya, yaitui: tipe daerah dan aktivitas manusia, serta
aspek-aspek demografis, sosial, ekonomi, dan budaya; dan
(d) Pemahaman tiga pendekatan dalam mengkaji bentanglahan, yaitu:
keruangan, lingkungan, dan kompleks wilayah, untuk memahami
hubungan keterkaitan antar komponen penyusun bentanglahan.

Fakultas Geografi UGM

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

1.4. Proses dan Metode


1.4.1. Proses dan metode pembelajaran
Kuliah Kerja Lapangan I dilaksanakan dengan beberapa metode
pembelajaran yang dilakukan secara terpadu dalam satu rangkaian, yaitu:
(a) Kuliah tatap muka, dilakukan dengan tujuan untuk memberikan
materi awal konsepsional yang akan menjadi dasar bagi mahasiswa
dalam memahami kondisi lapangan. Sebagai bagian dari perkuliahan
digunakan juga metode diskusi untuk meningkatkan tingkat
pemahaman.
(b) Visualisasi bentanglahan, yang dilakukan dengan menggunakan
teknik presentasi audio visual atau multimedia.
(c) Pengamatan lapangan, yaitu menelusuri jalur perjalanan yang telah
ditentukan, melakukan pengamatan, identifikasi dan pengukuran
setiap parameter pada setiap fenomena komponen penyusun
bentanglahan.
(d) Diskusi aktif, yang dilakukan baik di lapangan, untuk mengevaluasi
tingkat pemahaman mahasiswa selama Kuliah Kerja Lapangan.
(e) Penulisan Laporan, yang dimaksudkan untuk melatih mahasiswa
menyajikan hasil pengamatan dan penyelidikan di lapangan secara
ilmiah, lengkap dan sistematis.
1.4.2. Metode evaluasi
Untuk mengetahui tingkat pemahaman dan penguasaan mahasiswa
terhadap materi yang telah disampaikan, dilakukan beberapa evaluasi.
(a) Test tertulis yang dilakukan 2 kali, yaitu sebelum (pre test) dan
setelah (post test) kegiatan lapangan.
(b) Test lisan dan tertulis pada saat di lapangan. Test lisan khususnya
dilakukan dengan metode tanya jawab.
(c) Evaluasi keaktifan dan hasil pencatatan yang dilakukan mahasiswa
selama di lapangan.
(d) Evaluasi hasil penyusunan Laporan Kuliah Kerja Lapangan I.

Fakultas Geografi UGM

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

1.5. Tugas dan Kewajiban


1.5.1. Tugas dan kewajiban mahasiswa
(a)
(b)
(c)
(d)
(e)
(f)
(g)
(h)

Setiap mahasiswa diharuskan:


mengikuti setiap kegiatan dengan tertib dan penuh perhatian;
mengerjakan setiap tugas yang diberikan oleh tim pembimbing;
membuat laporan sementara untuk setiap kegiatan lapangan;
mengikuti diskusi secara aktif yang diadakan oleh tim pembimbing;
membuat Laporan Kuliah Kerja Lapangan I;
membantu mengurus akomodasi bersama tim pembimbing;
menjaga kelancaran selama pelaksanaan kegiatan; dan
tanpa ijin tertulis dari pembimbing, mahasiswa tidak diperkenankan
memisahkan diri dari rombongan.
1.5.2. Tugas dan kewajiban pembimbing

(a)
(b)
(c)
(d)
(e)

Setiap dosen pembimbing diwajibkan:


memberikan bimbingan secara tertib, baik di klas maupun di
lapangan sesuai dengan profesionalisme masing-masing;
memberikan teguran kepada mahasiswa yang tidak atau kurang tertib
dalam menjalankan setiap kegiatan;
mengembalikan mahasiswa yang melakukan pelanggaran berat,
setelah diputuskan melalui rapat tim pembimbing;
menjaga kelancaran pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan, termasuk
dalam keadaan darurat; dan
memberikan laporan kepada Dekan atas pelaksanaan Kuliah Kerja
Lapangan I berdasarkan hasil perumusan Tim Pembimbing.

Fakultas Geografi UGM

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

1.6. Petunjuk Operasional


1.6.1. Operasional di lapangan
(a)
(b)

(c)
(d)

Setiap mahasiswa selama perjalanan lapangan, diharuskan:


Memperhatikan semua kenampakan atau fenomone bentanglahan
dan mencatatnya.
Apabila telah sampai di lokasi pengamatan, setiap mahasiswa harus:
; segera turun dari bus dan mempersiapkan semua peralatan, baik
buku catatan maupun daftar isian;
; membuka peta kerja, menentukan posisi lokasi dengan GPS, dan
memberikan tanda lokasi di peta;
; memperhatikan penjelasan pembimbing, tentang kenampakan
yang dapat diamati dan diidentifikasi di lokasi pengamatan ;
; mencatat semua penjelasan pembimbing dan mengisi daftar isian
secara lengkap;
; melaksanakan tugas yang diberikan pembimbing, termasuk
melakukan pengamatan, pengukuran, wawancara, atau membuat
sketsa lapangan pada lokasi pengamatan
Mengikuti acara diskusi dan evaluasi yang diselenggarakan untuk
mengetahui tingkat pemahaman mahasiswa.
Untuk setiap hari di akhir kegiatan lapangan, setiap mahasiswa harus
mengumpulkan semua hasil pencatatan, diserahkan kepada dosen
pembimbing masing-masing, yang selanjutnya akan dikoreksi.
1.6.2. Peralatan yang digunakan

Berbagai peralatan yang digunakan selama kegiatan lapangan dalam


pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan, antara lain:
(a) Peta kerja berupa: Peta Topografi atau Rupa Bumi, dan Geologi ;
(b) Foto Udara atau Citra Penginderaan Jauh ;
(c) Peralatan survei, seperti: kompas geologi, palu geologi, abney level,
yallon, pita meter, EC meter, pH meter, soil test kit, bor tangan, GPS,
teleskop, kamera, dan daftar isian; dan
(d) Buku catatan beserta perlengkapan lainnya.

Fakultas Geografi UGM

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

1.6.3. Lingkup pengamatan dan kajian


Selama penjelasan bentanglahan, yang mencakup bentang alam dan
bentang budaya, mengacu pada konsepsi dan ruang lingkup bentanglahan,
seperti disajikan dalam Gambar 1.1. Penjelasan dimulai dari lokasi
pengamatan, dilanjutkan penjelasan bentuklahan, kemudian dikaitkan
dalam hubungannya dengan aktivitas manusia sebagai kajian dalam
bentang budaya. Pada setiap lokasi pengamatan memiliki keunikan
tersendiri sebagai ciri khas fenomena tertentu, sehingga setelah penjelasan,
diberikan pendalaman obyek yang menarik pada fenomena yang
bersangkutan.

Geografis
Aksesibilitas

Penjelasan Fenomena
menarik:
Focus Interest

Genesa Bentuklahan
(Morfologi, Struktur, Proses)
- Volkanik
Solusional - Struktural Denudasional - Fluvial
Glasial - Marin
Organik - Eolin
Antropogenik -

Administrasi
(Kota - Desa)

Penjelasan
Bentanglahan dari 3
pendekatan: Spatial,
Ecological, Regional

Aktivitas Manusia
(Sosial & Penggunaan Lahan)
- Pertanian
Pelayanan - Permukiman
Industri - Perikanan
Wisata - Perdagangan
- Pertambangan

Gambar 1.1. Ruang Lingkup dan Kunci Pemahaman Bentanglahan

Fakultas Geografi UGM

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

BAB 2

Selama sejarah perkembangan geografi, dikenal 2 objek kajian utama,


yaitu: geografi fisik dan geografi sosial. Kajian pertama mendasarkan
kepada objek bentang alami (natural landscape) dengan penekanan pada
bentuklahan (landform), sedangkan yang kedua mendasarkan kepada objek
bentang budaya (cultural landscape).
Dalam geografi dikaji fenomena geosfer melalui 3 pendekatan, yaitu:
pendekatan keruangan, ekologi dan kompleks wilayah. Fenomena geosfer
merupakan hasil interaksi faktor alam dan faktor manusia. Kenampakan
fenomena geosfer pada hakekatnya ada 3 paham utama, yaitu:

Fakultas Geografi UGM

10

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

deterministik (faktor alam mempengaruhi kondisi manusia), posibilistik


(faktor manusia mempengaruhi alam), dan probabilistik (faktor alam dan
manusia sama-sama memberikan kemungkinan terbentuknya fenomena
geosfer).

2.1. Pengertian Bentanglahan


Istilah bentanglahan berasal dari kata landscape (Inggris) atau
landscap (Belanda) atau landschaft (Jerman), yang secara umum berarti
pemandangan. Arti pemandangan mengandung 2 aspek, yaitu: aspek visual
dan aspek estetika pada suatu lingkungan tertentu (Zonneveld, 1979). Ada
beberapa penulis yang memberikan pengertian tentang bentanglahan
berikut ini.
(i)
Bentanglahan merupakan gabungan dari bentuklahan (landform).
Bentuklahan merupakan kenampakan tunggal, seperti sebuah bukit
atau sebuah lembah sungai. Kombinasi dari kenampakan tersebut
membentuk suatu bentanglahan, seperti daerah perbukitan yang
bervariasi bentuk dan ukurannya dengan aliran air sungai di selaselanya (Tuttle, 1975).
(ii) Bentanglahan ialah sebagian ruang permukaan bumi yang terdiri atas
sistem-sistem, yang dibentuk oleh interaksi dan interdepen-densi
antara bentuklahan, batuan, bahan pelapukan batuan, tanah, air,
udara, tetumbuhan, hewan, laut tepi pantai, energi dan manusia
dengan segala aktivitasnya yang secara keseluruhan membentuk satu
kesatuan (Surastopo, 1982).
(iii) Bentanglahan merupakan bentangan permukaan bumi dengan
seluruh fenomenanya, yang mencakup: bentuklahan, tanah, vegetasi,
dan atribut-atribut lain yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia
(Vink, 1983).
Berdasarkan pengertian bentanglahan tersebut, maka dapat diketahui
bahwa terdapat 8 unsur penyusun bentanglahan, yaitu: udara, batuan,
tanah, air, bentuklahan, flora, fauna, dan manusia dengan segala
aktivitasnya. Kedelapan anasir bentanglahan tersebut merupakan faktor-

Fakultas Geografi UGM

11

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

faktor penentu terbentuknya bentanglahan, yang terdiri atas: faktor


geomorfik (G), litologik (L), edafik (E), klimatik (K), hidrologik (H), oseanik
(O), biotik (B), dan faktor antropogenik (A). Dengan demikian berdasarkan
faktor-faktor pembentuknya, bentanglahan (Ls) dapat dirumuskan sebagai:

Ls = (G, L, E, K, H, 0, B, A)
Keterangan: Ls (bentanglahan)
E (edafik)
O (oseanik)

G (geomorfik)
K (klimatik)
B (biotik)

L (litologik)
H (hidrologik)
A (antropogenik)

Dikaitkan dengan konsep pada Bab 1, maka bentanglahan mencakup 2


aspek kajian penting, yaitu: bentang alami dengan inti kajian bentuklahan
dan bentang budaya dengan inti kajian manusia dengan segala perilakunya
terhadap lahan.

2.2. Bentuklahan sebagai Inti Kajian Bentang Alami


Menurut Tuttle (1975), bentanglahan atau landskap merupakan
kombinasi atau gabungan dari bentuklahan. Mengacu pada definisi
bentanglahan tersebut, maka dapat dimengerti bahwa unit analisis yang
sesuai adalah unit bentuklahan. Oleh karena itu, untuk menganalisis dan
mengklasifikasikan bentanglahan selalu mendasarkan pada kerangka kerja
bentuklahan (landform).
Bentuklahan adalah bagian dari permukaan bumi yang memiliki
bentuk topografis khas, akibat pengaruh kuat dari proses alam dan struktur
geologis pada material batuan dalam skala ruang dan waktu kronologis
tertentu. Berdasarkan pengertian ini, faktor-faktor penentu bentuklahan
(Lf) dapat dirumuskan sebagai:

Lf = (T, P, S, M, K)
Keterangan: Lf (bentuklahan)
P (proses alam)
M (material batuan)

T (topografi)
S (struktur geologis)
K (ruang dan waktu kronologis)

Oleh karena untuk menganalisis bentanglahan lebih sesuai dengan


berdasarkan pada bentuklahan, maka klasifikasi bentanglahan juga akan

Fakultas Geografi UGM

12

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

lebih sesuai jika didasarkan pada unit-unit bentuklahan penyusunnya.


Verstappen (1983) telah mengklasifikasikan bentuklahan berdasarkan
genesisnya menjadi 10 macam bentuklahan asal proses, seperti diuraikan
berikut ini.
(a) Bentuklahan asal proses volkanik (V), merupakan kelompok besar
satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas gunungapi. Contoh
bentuklahan ini antara lain: kerucut gunungapi, medan lava, kawah,
dan kaldera.
(b) Bentuklahan asal proses struktural (S), merupakan kelompok besar
satuan bentuklahan yang terjadi akibat pengaruh kuat struktur
geologis. Pegunungan lipatan, pegunungan patahan, perbukitan, dan
kubah merupakan contoh-contoh untuk bentuklahan asal struktural.
(c) Bentuklahan asal fluvial (F) merupakan kelompok besar satuan
bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas sungai. Dataran banjir, rawa
belakang, teras sungai, dan tanggul alam merupakan contoh-contoh
satuan bentuklahan ini.
(d) Bentuklahan asal proses solusional (S) merupakan kelompok besar
satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses pelarutan pada batuan
yang mudah larut, seperti batugamping dan dolomite karst menara,
karst kerucut, doline, uvala, polye, goa karst, dan logva merupakan
contoh-contoh satuan bentuklahan ini.
(e) Bentuklahan asal proses denudasional (D) merupakan kelompok
besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses degradasi, seperti
longsor dan erosi. Contoh satuan bentuklahan ini antara lain: bukit
sisa, lembah sungai, peneplain, dan lahan rusak.
(f)
Bentuklahan asal proses eolian (E) merupakan kelompok besar
satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses angin. Contoh satuan
bentuklahan ini antara lain: gumuk pasir barchan, parallel, parabolik,
bintang, lidah, dan transversal.
(g) Bentuklahan asal marine (M) merupakan kelompok besar satuan
bentuklahan yang terjadi akibat proses laut oleh tenaga gelombang,
arus, dan pasang-surut. Contoh satuan bentuklahan ini antara lain:
gisik pantai (beach), bura (spit), tombolo, laguna, dan beting gisik
(beach ridge). Karena kebanyakan sungai dapat dikatakan bermuara

Fakultas Geografi UGM

13

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

(h)

(i)

(j)

ke laut, maka seringkali terjadi bentuklahan yang terjadi akibat


kombinasi proses fluvial dan proses marine. Kombinasi kedua proses
itu disebut proses fluvio-marine. Contoh-contoh satuan bentuklahan
yang terjadi akibat proses fluvio-marine ini antara lain delta dan
estuari.
Bentuklahan asal glasial (G) merupakan kelompok besar satuan
bentuklahan yang terjadi akibat proses gerakan es (gletser). Contoh
satuan bentuklahan ini antara lain lembah menggantung dan morine.
Bentuklahan asal organik (O) merupakan kelompok besar satuan
bentuklahan yang terjadi akibat pengaruh kuat aktivitas organisme
(flora dan fauna). Contoh satuan bentuklahan ini adalah pantai
mangrove dan terumbu karang.
Bentuklahan asal antropogenik (A) merupakan kelompok besar
satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas manusia. Waduk,
kota, pelabuhan, merupakan contoh-contoh satuan bentuklahan hasil
proses antropogenik.

2.3. Bentang Budaya: Manusia dan Aktivitasnya


2.3.1. Pengertian dasar
Secara umum, di alam ini ada 2 tipe lingkungan, yaitu: lingkungan
alam, baik yang bersifat abiotik maupun biotik; dan lingkungan sosial. Dua
komponen tersebut penting dan tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya
bagai sekeping mata uang. Pada Pegunungan atau Perbukitan yang ada
kegiatan pertanian. Perbedaannya, keadaan alam relatif statis, sedangkan
lingkungan sosial sangat dinamis dan berubah cepat. Selain itu kedua unsur
pokok tersebut mempunyai hubungan yang sangat erat dan saling pengaruh
mempengaruhi.
Bentang budaya adalah suatu kenampakan nyata hasil interaksi,
adaptasi atau penyesuaian manusia terhadap lingkungan alam. Hubungan
timbal balik antara manusia dengan lingkungan alam tersebut
mencerminkan tingkat penyesuaian dan penguasaan manusia terhadap
lingkungan alam. Perwujudannya dapat dilihat pada bentuk bentang

Fakultas Geografi UGM

14

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

budaya. Selain memunculkan kenampakan budaya, hasil interaksi antara


manusia dan alam, juga mengakibatkan munculnya gejala sosial, seperti:
kemiskinan, mobilitas, jenis mata pencaharian, dan konsumsi. Dengan
demikian, suatu bentang fisik yang dipengaruhi atau ada campurtangan
manusia sudah sangat banyak dan kuat, maka bentang budayanya juga
semakin kompleks.
Bentang budaya pada hakekatnya merupakan bentuk kenampakan
(bentangan) dari suatu masyarakat dan lingkungan sosialnya. Pengertian
masyarakat di dalamnya terkandung sekumpulan penduduk dengan
seluruh karakteristik sosial, sedang lingkungan sosial dapat berupa faktorfaktor kebiasaan, tradisi, adat istiadat, hukum, kepercayaan, agama, dan
ideologi.

2.3.2. Faktor-faktor bentang budaya


Faktor pembentuk bentang budaya adalah: manusia dengan segala
kebutuhannya serta lingkungan sosialnya.
(a) Manusia baik dari segi jumlah, kualitas dan karakteristis yang
melekat di dalamnya. Jumlah manusia yang banyak dan padat, akan
meningkatkan kebutuhannya, yang mengakibatkan hubungan dengan
alam akan memberikan kenampakan khusus, misalnya, manusia kota
dan desa. Manusia dengan ciri dan kualitas yang tinggi dalam
pendidikan, dan teknologi, akan dapat mengatasi kendala alam dan
menjadi penyebab perubahan yang paling intensif dalam merubah
bentang alam maupun kenampakan sosial , baik secara positip
maupun negatip.
(b) Kebutuhan hidup sangat berpengaruh terhadap kenampakan budaya,
bahkan menjadi salah satu penciri bentang budaya. Sebagai contoh,
pada daerah tingkat kebutuhan dagang tinggi, akan menampakkan
ruang perdagangan. Kebutuhan manusia pada hakekatnya ada 2
(dua), yaitu: kebutuhan materiil, seperti makanan, pakaian, rumah;
dan kebutuhan immaterial, seperti pendidikan, berkelompok,
kesehatan, agama, pengetahuan, dan lain-lain. Kebutuhan pertama
lebih berhubungan dengan lingkungan alam, sedangkan kebutuhan

Fakultas Geografi UGM

15

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

kedua terkait dengan lingkungan sosial. Kebutuhan manusia juga


dapat memberikan kenampakan ruang tersendiri, seperti yang
diuraikan berikut ini.
;
Wisma atau kebutuhan terhadap rumah dan perumahan, dapat
dilihat dari bahan, bentuk, luas, arsitektur, penataan ruang, dan
persebaran.
;
Karya, atau kebutuhan mendapatkan kerja dengan mata
pencaharian tertentu umumnya terkait dengan lingkungan alam
sekitarnya. Penduduk di pantai umumnya nelayan, petambak,
di dataran, umumnya bertani, di perkotaan bekarja di sektor
industri dan bisnis. Berbagai jenis matapencaharian
diantaranya pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan,
kehutanan, pertambangan, industri, perdagangan, sektor
publik, dan wiraswasta.
;
Marga adalah perwujudan keinginan dasar manusia untuk
berinteraksi satu dengan lainnya dalam menjalankan
aktivitasnya. Kenampakan spasialnya dapat dilihat dari jalan
transportasi, yang meliputi jarak, tipe jalan, kualitas jalan,
kepadatan, lebar jalan, dan sarana transportasi.
;
Fasilitas sosial ekonomi, yang menunjang aktivitas manusia
menjalankan kehidupannya baik yang sifatnya sosial maupun
ekonomi, misalnya: fasilitas administrasi, perkantoran, pasar,
keagamaan, kesehatan, dan pendidikan.
;
Taraf hidup, yaitu status sosial dan ekonomi, sangat
mempengaruhi jenis dan tingkat kebutuhan manusia. Menurut
pendapat Engel, semakin tinggi taraf hidup manusia atau
pendapatan, semakin kecil kebutuhan primer dan semakin
meningkat kebutuhan sekunder dan tersiernya. Taraf hidup
seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor, baik alam maupun
manusia.
(c)

Lingkungan sosial merupakan area yang melingkupi kehidupan


manusia. Oleh karena itu sangat menentukan dan membentuk
karakter bentang budayanya. Beberapa unsurtersebut antara lain

Fakultas Geografi UGM

16

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

(d)

berupa faktor-faktor kebiasaan, tradisi, adat istiadat, hukum,


kepercayaan, agama, dan ideologi.
Lingkungan alam yang menjadi dasar dan ajang kehidupan manusia
sangat berpengaruh terhadap terbentuknya bentang budaya, sebagai
bagian bentanglahan. Beberapa unsur alam yang berpengaruh antara
lain unsur geomorfik, batuan, tanah, iklim, hidrologik, oseanik, dan
biotik. Pendapat bahwa alam mempengaruhi manusia, contohnya
manusia di pegunungan, dataran, dan pantai akan memiliki
karakteristik kenampakan yang khusus dan berbeda, baik dalam
permukiman, berpakaian, maupun pola relasi sosialnya.

2.3.3. Klasifikasi bentang budaya


(1) Pendekatan lokasi (site and situation)
Berdasar pendekatan lokasi atau letak, pada dasarnya bentang budaya
dapat dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu: bentang desa dan bentang kota.
Masing-masing memiliki kenampakan budaya, sosial, ekonomi, dan fisik
yang berbeda. Berdasarkan tinjauan geografi, desa diartikan sebagai bentuk
bentang budaya hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia
dengan lingkungannya, yang dicirikan oleh sifat agraris dan kehidupan
yang sederhana, jumlah penduduk tidak besar. Bentang desa terdiri atas:
permukiman penduduk, pekarangan, dan persawahan. Jaringan jalan
belum begitu padat dan sarana transportasi masih terbatas. Relasi antara
manusia dengan lahan intensif, hal ini dicerminkan dari tingginya tingkat
ketergantungan terhadap lahan.
Kota merupakan salah satu bentuk bentang budaya hasil perpaduan
antara kegiatan sekelompok manusia dengan lingkungannya, dengan
gejala-gejala pemusatan penduduk, non agraris, strata sosial yang
heterogen, dan materialistik. Bentang kota umumnya didominasi oleh
permukiman penduduk, tempat bekerja, tempat hidup dan rekreasi.
Jaringan jalan padat dan sarana transportasi dan aksesibilitas baik.
Selain perbedaan tersebut, karakteristik bentang desa dan kota juga
dapat diamati dari komponen bentang budayanya, yaitu manusia,

Fakultas Geografi UGM

17

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

kebutuhan hidup, yaitu: wisma, karya, marga, fasilitas, taraf hidup,


lingkungan alam dan sosial. Berdasarkan penjelasan tersebut, perbedaan
umum karakteristik bentang kota dan bentang desa dapat dirumuskan
dalam Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Perbedaan Umum antara Bentang Desa dan Kota
Ciri-ciri

Bentang Desa

Bentang Kota

Jumlah dan kepadatan


penduduk

Rendah

Tinggi

Mata pencaharian

Agraris, homogen dan


tidak terspesialisasi

Non agraris dan


heterogen

Pemanfaatan ruang

Ruang terbuka

Ruang terbangun

Sarana dan prasarana

Terbatas

Lengkap

Rumah dan tempat kerja

Dekat

Berjauhan

Hubungan sosial

Erat, dan gotong royong

Kurang erat dan


individualisme

Stratifikasi sosial

Sederhana dan sedikit

Kompleks dan banyak

Lembaga-lembaga

Terbatas dan sederhana

Banyak dan kompleks

Kontrol sosial

Tradisional

Peraturan atau hukum

Status dan mobilitas sosial

Stabil

Tidak stabil

(2) Pendekatan kegiatan dan pemanfaatan ruang


Pengenalan bentang budaya juga dapat diamati secara kasat mata dari
kegiatan-kegiatan yang berlangsung dipermukaan bumi, khususnya
pemanfaatan lahan dalam memenuhi kebutuhannya. Berdasarkan
pandangan ini, bentang budaya dapat dikelompokkan kedalam 7 tipe,
seperti diuraikan berikut ini.
(a) Bentang permukiman baik pada desa maupun kota dapat dikenali
dari bentuk, pola distribusi, dan kepadatan. Bentang permukiman
umumnya tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga tempat
hidup, sehingga ia sering bersandingan dengan bentang kegiatan
lain, baik yang sifatnya sosial maupun ekonomi.
(b) Bentang pertanian adalah salah satu bentuk bentang budaya yang
terbentuk hasil interaksi antara manusia dengan lingkungan alam.

Fakultas Geografi UGM

18

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Kegiatan pertanian merupakan kegiatan primer yang memanfaatkan


dan mengolah kondisi alam. Secara umum bentang pertanian dapat
dikelompokkan menjadi berikut ini.
;
Pertanian lahan basah, dicirikan oleh adanya ketersediaan air
yang melimpah baik mataair maupun saluran irigasi, yang
memungkinkan manusia memanfaatkan lahan lebih optimal.
Bentang pertanian ini umumnya subur, produksi tinggi dengan
pemanfatan untuk sawah.
;
Pertanian lahan kering, dicirikan oleh adanya keterbatasan
ketersediaan sumberdaya air dalam pengolahan lahan. Bentang
ini umumnya kurang subur, marginal, produktivitas rendah dan
terdiri dari pemanfatan sawah tadah hujan dan tanamantanaman holtikultura. Secara morfologi umumnya berada di
bentang lahan berombak dan bergelombang.
;
Perkebunan, dicirikan oleh penanaman jenis tanaman tertentu
yang seragam, misalnya perkebunan karet, teh, kopi, dan kelapa
sawit. Secara morfologi umumnya bentang perkebunan dapat
berlokasi pada dataran, perbukitan maupun pegunungan,
menyesuaikan dengan jenis tanamannya.
;
Perikanan dan kelautan, adalah bentuk bentang budaya hasil
kreasi manusia dalam memanfaatkan pengaruh air dan laut.
Perikanan darat dilakukan dengan air tawar. Perikanan laut,
dapat digolongkan pada perikanan pantai, laut dangkal, dan
laut dalam.
;
Peternakan, adalah bentuk bentang budaya dan pemanfaatan
atau pembudidayaan manusia terhadap sumberdaya alam.
Bentang peternakan di Indonesia dikelompokkan menjadi
peternakan hewan besar, yaitu: sapi, kerbau, dan kuda;
sedangkan peternakan hewan kecil, yaitu: kambing, kelinci,
peternakan unggas, dan lebah.
;
Kehutanan, adalah kenampakan area permukaan bumi yang
didominasi oleh tanaman kehutanan, baik yang bersifat alami
maupun buatan, yaitu ditanam. Pada tipe hutan produksi
intervensi manusia tampak dominan, sedangkan pada tipe

Fakultas Geografi UGM

19

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

(c)

(d)

(e)

(f)

(g)

hutan cagar alam, hutan lindung, hutan rekreasi lebih


dipengaruhi faktor alam.
Bentang pertambangan adalah suatu bentuk kenampakan akibat
pengolahan sumberdaya alam, yang berupa: bahan tambang yang
dilakukan oleh manusia, baik secara terorganisasi maupun individual.
Kenampakan bentang pertambangan sangat tergantung dari jenis
bahan tambang yang dimanfaatkan, yaitu, bahan tambang golongan A
(strategis), B (penting), atau bahan galian golongan C (untuk
bangunan dan industri).
Bentang industri adalah bentuk kenampakan dipermukaan bumi
yang diakibatkan oleh aktivitas manusia dalam proses produksi, yaitu
pengolahan dari bahan mentah menjadi bahan jadi. Secara umum
bentang industri dapat dikenali dari bentuk dan pola. Bentang
industri yang terkonsentrasi, seperti kawasan industri memiliki
bentuk dan pola yang teratur, sedangkan pada bentang industri
tunggal, industri kecil menengah, dan kerajinan umumnya polanya
tersebar bercampur dengan aktivitas lainnya.
Bentang perdagangan dapat muncul sebagai satu kawasan khusus,
seperti kawasan perdagangan di perkotaan, namun umumnya
tersebar mengikuti aktivitas-aktivitas lainnya, khususnya permukiman. Menurut karakteristiknya, bentang perdagangan formal umumnya
teratur, sedangkan bentang perdagangan informal cenderung tidak
teratur dengan lokasi yang tersebar.
Bentang perkantoran dan jasa memiliki karakteristik yang sama
dengan bentang perdagangan, dapat muncul sebagai satu kawasan
khusus maupun tersebar mengikuti kegiatan lainnya. Bentang
perdagangan, jasa, dan perkantoran adalah karakteristik bentang
dominan di daerah perkotaan.
Bentang pariwisata sebagai kunci pengenalannya tergantung dari tipe
wisata yang ada. Pada wisata alam, kondisi alam menjadi faktor kunci
pengembangan, yang berupa: gunung, pantai, goa, dan laut
sedangkan pada wisata budaya, aspek kuntural menjadi daya tarik.
Selain dua tipe wiasata tersebut, di perkotaan juga telah jauh
berkembang wisata hasil rekayasa teknologi, seperti dunia fantasi,

Fakultas Geografi UGM

20

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

dan sea world, bahkan sekarang tempat-tempat belanja dan


keramaian serta keunikan yang diciptakan juga menjadi objek wisata.
Pada kenyataannya bentang kegiatan tersebut dapat berbentuk
tunggal, namun yang lebih sering dijumpai adalah bentang kompleks,
artinya satu bentang kegiatan bersama-sama berlokasi dalam satu area
dengan bentang kegiatan yang lain. Masing-masing bentang budaya
tersebut memiliki karakteristik demografis, sosial, ekonomi, dan budaya
serta politis spesifik, termasuk relasi-relasi yang terjadi di dalamnya. Untuk
beberapa kasus masing-masing bentang kegiatan dapat menunjukkan
adanya persamaan dan perbedaan-perbedaan tertentu.

2.4. Kunci Pemahaman Bentanglahan


Proses terbentuknya bentanglahan, baik bentang alami maupun
bentang budaya, dapat diterangkan berdasar 3 komponen, yaitu: komponen
lingkungan alam, lingkungan sosial, dan ideologi, seperti disajikan dalam
Gambar 2.1. Dua komponen pertama dapat diamati oleh pancaindera,
sehingga memunculkan suatu kenampakan, sedangkan komponen ideologi
lebih berkaitan dengan akal dan hati yang tidak terlihat secara kasat mata.
Masing-masing komponen memiliki sub komponen. Sebagai contoh
pada komponen lingkungan alami terdapat sub komponen: relief, batuan,
air, dan iklim yang saling berinteraksi. Interaksi ini disebut dengan
interaksi horisontal, yang akan memciptakan kenampakan bentang
tersendiri. Selain itu juga terdapat interaksi vertikal, yaitu interaksi yang
terjadi antar komponen yang saling mempengaruhi, misalnya antara
lingkungan alam dan lingkungan sosial. Tiga komponen tersebut
berhubungan satu dengan lainnya, dan tidak dapat dipisahkan.
Komponen lingkungan alam merupakan dasar, tempat manusia dan
makhluk hidup lainnya melakukan kegiatannya. Komponen ini dapat
berbentuk abiotik, yaitu permukaan bumi dan seluruh isi dan
komponennya, juga dapat berbentuk biotik. Komponen ini mempengaruhi
dan memberikan kemungkinan pilihan-pilihan hidup bagi manusia.

Fakultas Geografi UGM

21

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Sebagai contoh lingkungan alam pegunungan akan memberikan pola


interaksi dan interrelasi yang berbeda dengan lingkungan alam pantai,
sehingga kenampakan bentang alam dan bentang budaya di atasnya juga
akan berbeda.
Komponen lingkungan sosial berada di atas lingkungan alam, berisi
manusia dan seluruh aktivitasnya, baik yang bersifat sosial, ekonomi,
budaya, maupun politik. Komponen ini bersifat dinamis, karena itu sering
disebut juga faktor perubah atau modifier. Aktivitas manusia dapat
memodifikasi lingkungan alam, yang dapat diamati melalui kenampakan
bentang budayanya.
Komponen ideologi merupakan faktor kunci yang paling tinggi yang
mempengaruhi aktivitas manusia dalam lingkungan alam. Komponen ini
berada pada tingkatan akal dan hati atau sering disebut juga dengan cipta,
rasa, dan karsa manusia. Analisis dapat dilakukan dengan melihat unsur
agama, ideologi, kepercayaan, tradisi, pengetahuan, teknologi. Sebagai
contoh perbedaan bentanglahan Pulau Bali dan Pulau Jawa dapat
dijelaskan dengan konsep ini, mengingat lingkungan alam dan sosialnya
tidak terlalu berbeda.

Fakultas Geografi UGM

22

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

SUB KOMPONEN
Agama, Kepercayaan,
Tradisi, Pengetahuan,
Teknologi, Ideologi

(Manusia + Sosekbud)

SUB KOMPONEN
Manusia dan kegiatan
sosial, ekonomi,
budaya dan politik
SUB KOMPONEN
Permukaan bumi
(darat, laut, udara)

(Abiotik & Biotik)

Interaksi vertikal (antar komponen)


Interaksi horisontal (antar sub komponen)

Gambar 2.1. Komponen Pemahaman Bentanglahan

Fakultas Geografi UGM

23

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

BAB 3

3.1. Sejarah Pembentukan (Genesis) Pulau Jawa


Rekonstruksi geologi Pulau Jawa dapat dilakukan mulai Kala Miosen.
Sebelum Miosen sejarah dan paleogeografi hanya didapat beberapa
singkapan batuan di Jawa Barat dan Jawa Tengah sangat sedikit, yaitu
pada zaman Eosen dan akhir kala Kapur. Pada zaman itu situasi Pulau Jawa
mungkin mirip dengan situasi Kepulauan Banda dan Maluku Tenggara. Di
Kepulauan Maluku terdapat 2 sistem busur, yaitu, busur dalam atau busur
volkanis, dan busur luar atau busur non volkanis. Pada Kala Kapur hingga
Oligosen Tengah diperkirakan busur volkanis terbentuk di Laut Jawa dan

Fakultas Geografi UGM

24

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

satu busur non volkanis terbentuk di daratan Pulau Jawa. Paleogeografi


dari busur non volkanis diperkirakan berumur Eosen.
Batuan pada busur non volkanis tersusun oleh fragmen kerak bumi
(quasi-continental crust) yang tertimbun pada jalur subdaksi, dan
mengandung banyak kwarsa. Mineral ini sangat dominan dalam batuan
berumur Eosen, berasal dari gunungapi asam, baik yang terdapat di
daratan maupun lingkungan marin. Antara busur volkanis dan busur non
volkanis terdapat cekungan busur luar yang relatif dalam, terletak di sekitar
pantai utara Pulau Jawa.
Pada akhir Oligosen dan awal Miosen terjadi perubahan yang tegas,
yaitu jalur subdaksi bergeser ke selatan (lihat Gambar 3.1). Busur volkanis
diperkirakan di pantai selatan Pulau Jawa sekarang. Gunungapi tersebut
muncul dari dasar laut membentuk deretan pulau gunungapi. Aktivitas
volkanik ini merupakan tahap pertama dalam pembentukan Pulau Jawa.
Pada garis besar paleogeografi Pulau Jawa ini, yaitu satu busur
bergunungapi dengan laut dangkal yang luas (back arc shelf) sampai
Kalimantan, kondisi ini ada sampai Pliosen Tengah. Selama periode ini,
busur dalam menggeser ke utara hingga Pantai Utara Jawa. Di samping itu,
laut dangkal mengalami pengangkatan membentuk daratan, sehingga
sedimen marin muncul ke atas permukaan laut. Dinamika proses tektonis,
baik pengangkatan maupun penenggelaman serta aktivitas volkanis
merupakan proses geologi yang pernah terjadi di Pulau Jawa, sehingga
memberikan keunikan sejarah geologi.
Pada batas Kala Pliosen dan Kuarter bentuk Pulau Jawa pada garis
besar sudah muncul. Pada akhir Pliosen diperkirakan Pulau Jawa sering
tenggelam, yang muncul di permukaan hanya perbukitan di bagian selatan
Jawa. Paleogeografi waktu itu mungkin mirip dengan keadaan di Sumatera
sekarang dengan suatu dataran aluvial pantai yang sangat luas. Bagian
berbukit mulai terangkat pada awal Kuarter di Jawa Tengah. Pada Kala
Kuarter Pulau Jawa terbentuk oleh subdaksi, membentuk jalur volkanik
regional. Pada Plestosen Tengah, kegiatan volkanik mencapai puncaknya,
mengakibatkan pembentukan jalur bergunungapi di bagian tengah Jawa.

Fakultas Geografi UGM

25

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Gambar 3.1. Busur Parit (Trench System) di Bawah Pulau Jawa

Pada zaman Kuarter terjadi perubahan iklim di bumi secara tegas.


Sebelumnya pada zaman Tersier iklim di wilayah Indonesia merupakan
iklim tropis lembab dengan suhu rata-rata per tahun lebih tinggi dari pada
sekarang. Berdasarkan data geologis, pernah terjadi jaman es, yaitu
sebagian besar air laut menjadi es, sehingga permukaan air laut menurun,
daratan bertambah luas. Peristiwa yang lain adalah jaman pencairan es,
sehingga muka air laut naik. Akibat peristiwa tersebut adalah terbentuknya
teras marin, pembentukan sedimen pada lingkungan marin di darat dan
pembentukan sedimen darat pada lingkungan marin. Sedimen dan teras
tersebut sekarang dapat ditemukan pada beberapa lokasi di Jawa. Secara
rinci peristiwa ini dapat dipelajari pada Paleoklimat. Pada jaman es terjadi
penurunan air laut antara 50 meter sampai 100 meter, sehingga Laut Jawa
menjadi daratan yang sangat luas. Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Pulau
Jawa menjadi satu daratan.
Pada sejarah geologi perubahan iklim terhadap lingkungan sangat
jelas, karena iklim sangat berpengaruh terhadap tetumbuhan, proses
pelapukan, erosi dan gerak massa batuan, yang sangat menentukan

Fakultas Geografi UGM

26

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

bentukan geomorfologis, dan pembentukan tanah. Perubahan secara


geomorfologis dapat diamati baik secara langsung di lapangan maupun
berdasarkan peta atau foto udara. Gambaran tentang urutan waktu geologis
disajikan dalam Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Urutan Waktu Geologis

Sumber: Bemmelen (1970)

Fakultas Geografi UGM

27

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

3.2. Bentanglahan Jawa Bagian Tengah


Menurut Bemmelen (1970), Pulau Jawa dapat dibagi ke dalam 3
bagian, yaitu: bagian barat, tengah dan timur, masing-masing mendekati
pembagian secara administrasi, meliputi: Propinsi Jawa Barat, Propinsi
Jawa Tengah beserta D.I. Yogyakarta, dan Propinsi Jawa Timur.
Pannekoeck (1949), membedakan fisiografi Jawa menjadi 3 zona, yaitu:
zona selatan, tengah dan utara. Zona selatan merupakan plato yang
sebagian mengalami penenggelaman, mulai dari Parangtritis hingga
Cilacap, kecuali Karang Bolong, Srandil dan Selok, serta Nusa Kambangan.
Selanjutnya pengertian Jawa Bagian Tengah dalam uraian ini digunakan
pembagian fisiografi menurut Bemmelen (1970), sedangkan zona selatan,
tengah dan zona utara menunjukkan pembagian zona menurut Pannekoek
(1949).

3.2.1. Bentanglahan Zona Tengah Jawa Bagian Tengah


Pulau Jawa bagian tengah lebih sempit dibanding dengan bagian
barat dan bagian timur Jawa, dengan lebar antara 100-120 km. Dataran
pantai utara Jawa Tengah dengan lebar maksimum 40 km di Brebes, dan
semakin sempit di Tegal dan Pekalongan, kurang lebih 20 km; sedangkan di
sebelah timur Pekalongan wilayah perbukitan menjorok ke laut, sehingga
dataran pantai hampir tidak ada. Antara Weleri dan Kaliwungu terbentuk
dataran aluvial Bodri yang cukup subur. Morfologi bagian tengah Jawa
Tengah, terbentuk oleh Pegunungan Serayu Selatan dan Pegunungan
Serayu Utara, sedangkan di bagian timur terbentuk oleh Kompleks
Gunungapi Dieng dan Ungaran. Bagian tengah Jawa Tengah terdapat
Gunungapi Sumbing, Sundoro, Merbabu, Merapi, dan Gunungapi Lawu.
Perbukitan Rembang berada di sebelah timur Semarang, sedangkan
Pegunungan Kendeng berada di sebelah selatan Perbukitan Rembang.
Pegunungan Serayu Utara menghubungkan Perbukitan Bogor dengan
Pegunungan Kendeng, sedangkan Pegunungan Serayu Selatan sebagai
kelanjutan jalur Perbukitan Bandung yang dipisahkan oleh depresi
Jatilawang.

Fakultas Geografi UGM

28

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Pegunungan Serayu Utara dengan lebar 30-50 km, di bagian barat


terdapat Gunungapi Slamet (3.428 meter), di bagian timur tertutup
endapan Gunungapi Rogojembangan (2.177 meter), Kompleks Dieng
dengan puncak tertinggi Gunungapi Prahu (2.565 meter), dan Gunungapi
Ungaran (2.050 meter). Antara Pegunungan Serayu Utara dengan
Pegunungan Serayu Selatan terdapat Lembah Serayu, yang ditempati oleh
Kota Majenang, Ajibarang, Purwokerto, Banjarnegara, dan Wonosobo.
Lembah Serayu antara Purwokerto hingga Banjarnegara mempunyai lebar
rerata 15 km, dan ke hulu semakin meluas. Di sebelah timur Wonosobo
Lembah Serayu terisi oleh material Gunungapi Sundoro (3.155 meter), dan
Sumbing (3.375 meter). Pegunungan Serayu Selatan bagian barat muncul
sebagai kelanjutan Perbukitan Bandung, yang dipisahkan oleh Depresi
Bandung, sedangkan dengan jalur Perbukitan Bogor dipisahkan oleh
Dataran Majenang, Cihaur dan Pasir. Di Banyumas Pegunungan Serayu
Selatan dengan lebar 30 km, terpotong oleh Kali Serayu. Di bagian timur,
Pegunungan Serayu Selatan berbatasan dengan Dome Kulonprogo.
Dome Kulonprogo bagian utara bertemu dengan Perbukitan
Jonggrangan dan Perbukitan Menoreh hingga kaki Gunungapi Sumbing.
Jalur Pegunungan ini sebagian termasuk Daerah Aliran Sungai Progo sisi
barat, sedangkan sisi timur dibatasi oleh Gunungapi Telomoyo, Sundoro,
Merbabu, dan Gunungapi Merapi. Kali Progo yang mengalir dari wilayah
bergunungapi aktif, terutama Gunungapi Merapi banyak mengangkut batu
dan pasir, berasal dari sungai-sungai yang mengalir dari puncak gunungapi
tersebut. Batuan yang terangkut sangat banyak, sebagian diendapkan
sepanjang sungai, dan sebagian lagi masuk Samudera Hindia. Sedimen
yang mengendap di sepanjang sungai banyak yang ditambang oleh
masyarakat maupun oleh perusahaan penambang. Sedimen yang masuk ke
laut oleh kerja gelombang membentuk beting gisik atau dihempaskan lagi
ke darat membentuk gisik, dan selanjutnya oleh proses angin dapat
membentuk gumuk pasir.
Bagian timur Jawa Tengah terdapat Gunungapi Merapi, Merbabu,
dan Gunungapi Lawu, yang mengelilingi Kubah Sangiran. Ditinjau dari
batuan pembentuknya, Kubah Sangiran ternyata sebagian merupakan

Fakultas Geografi UGM

29

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

sedimen berumur Tersier dalam bentuk batulempung yang tertutup oleh


batuan volkanis yang berasal dari Gunungapi Lawu. Kondisi lapisan
lempung yang masih lembek dan mendapat tekanan lapisan di atasnya,
membentuk lipatan diapiris dengan struktur kubah. Struktur kubah ini
terdapat di Gemolong, Simo, dan Sangiran. Adanya fosil Balanus, Hiu, dan
Diatomae menandakan bahwa Kubah Sangiran terbentuk pada lingkungan
laut.
Di sebelah utara Kubah Sangiran terdapat Pegunungan Kendeng dan
Perbukitan Rembang. Di antara Pegunungan Kendeng dan Perbukitan
Rembang terdapat Lembah Lusi yang membentang mulai dari wilayah
Kabupaten Blora di bagian timur hingga bagian barat Kabupaten
Purwodadi dan Demak. Pegunungan Kendeng dengan batuan gamping di
bagian barat, sedangkan ke arah timur menjadi batugamping napalan. Oleh
karena itu proses solusional yang banyak terjadi ada di bagian barat yaitu di
Kabupaten Purwodadi.
Lembah Lusi yang terbentuk oleh Perbukitan Rembang dan
Pegunungan Kendeng, semula merupakan perairan laut, yang kemudian
secara bertahap, dalam jangka panjang membentuk rawa, dan akhirnya
tertutup oleh sediman. Bukti yang menunjukkan kondisi tersebut adalah
ditemukannya gas metan di Mrapen, yang sekarang lebih dikenal sebagai
Sumber Api Abadi, serta adanya air tanah asin di Jono dalam jumlah besar
yang dimanfaatkan oleh penduduk sebagai bahan pembuat garam bleng.
Bekas abrasi pada sisi Perbukitan Rembang bagian utara di sebelah timur
Sukolilo dan adanya teras marin di Perbukitan Rembang di Wilayah Blora,
membuktikan bahwa Lereng Perbukitan Rembang bagian utara merupakan
bekas Pantai Jawa purba. Gunungapi Muria yang semula terpisah dengan
Pulau Jawa oleh perairan laut, masih meninggalkan bekas abrasi, yaitu di
bagian utara Perbukitan Rembang masih banyak ditemukan teras marin.
Bukit Genuk merupakan gunungapi berumur Pleistosen awal,
sedangkan Gunungapi Muria berumur Pleistosen akhir, sehingga Bukit
Genuk lebih tua dibanding dengan Gunungapi Muria. Bukit Genuk
dikelilingi oleh batugamping berumur Pliosen, seumur dengan
batugamping di sisi tenggara Gunungapi Muria yang membentuk Bukit

Fakultas Geografi UGM

30

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Patiayam. Adanya Bukit Genuk dan Bukit Patiayam yang dikelilingi oleh
batugamping, menandakan bahwa kedua bukit tersebut semula merupakan
gunungapi di perairan laut. Batugamping di Bukit Patiayam ini lebih muda
dibanding dengan batugamping di Perbukitan Rembang yang berumur
Miosen Akhir. Antara Gunungapi Muria dengan Perbukitan Rembang
dipisahkan oleh dataran aluvial Kudus, yang dialasi oleh batugamping
pasiran dan batugamping lempungan, yang termasuk Formasi Bulu dan
merupakan bagian dari Perbukitan Rembang.
Dataran pantai selatan bagian tengah Jawa Tengah dengan lebar
berkisar antara 10-25 km. Dataran pantai ini sangat berbeda dengan
Perbukitan Selatan, baik di bagian barat maupun di bagian timur. Dataran
pantai dengan ketinggian kurang dari 10 meter, sedangkan perbukitan
dengan penyusun utama batugamping mempunyai ketinggian 100-200
meter dari permukan air laut. Di dataran pantai banyak ditempati gumuk
pasir dengan ketinggian 5-15 meter, beting gisik dan ledok antar beting
gisik. Ada beberapa beting gisik yang letaknya sejajar dengan garis pantai,
dengan jarak antar beting gisik 100-500 meter. Pada dataran pantai antara
Nusa Kambangan, Cilacap dengan Kali Bogowonto muncul perbukitan
berbatuan gamping, yaitu: Karang Bolong, Sranding, dan Bukit Selok, yang
sangat terkenal sebagai tempat upacara ritual.
Bentanglahan Perbukitan Selatan Jawa Tengah terdiri atas:
Pegunungan Baturagung, Ledok Wonosari dan Pegunungan Sewu.
Pegunungan Baturagung tersusun oleh beberapa formasi geologi, antara
lain: Formasi Kebo, Butak, Semilir, Nglanggran, Wonosari, dan Formasi
Kepek. Pegunungan Baturagung bagian barat mengalami persesaran
membentuk gawir yang merupakan dinding Graben Bantul bagian timur.
Ledok Wonosari merupakan bagian dari Plato Selatan, yang di bagian
selatan berbatasan dengan Pegunungan Sewu, sedangkan di bagian utara
berbatasan dengan Pegunungan Baturagung. Batuan di Ledok Wonosari
berupa napal dan batugamping terumbu yang membentuk perbukitan pada
pinggiran Ledok Wonosari. Lembah Kali Oyo dan Lembah Wonosari
terdapat pada Ledok Wonosari.

Fakultas Geografi UGM

31

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Pegunungan Sewu merupakan bagian dari Plato Selatan yang


berbatasan dengan Samudera Hindia, tersusun oleh batugamping dan
membentuk topografi karst, dengan berbagai macam bentukan asal proses
solusional, antara lain: kubah palsu (dome like), menara karst, dolina, goa,
stalaktit dan stalakmit. Aktivitas marin menyebabkan terjadinya abrasi,
sehingga sering terjadi guguran tebing akibat bagian bawahnya terabrasi,
membentuk pantai berbatu yang curam. Plato Selatan Jawa Tengah
tersusun oleh bentukan asal proses solusional, marin, fluvial dan
denudasional. Batuan yang berasal dari aktivitas Gunungapi Tersier muncul
pada beberapa tempat, antara lain: di bagian bawah Perbukitan Karang
Bolong, Parangkusumo dan sekitarnya, Panggung Masif, Gunung Tenong di
Wonogiri dan beberapa intrusi diorit di sekitarnya.

3.2.2. Bentanglahan Pantai Selatan Jawa Bagian Tengah


Kondisi bentanglahan di sepanjang pantai selatan D.I. Yogyakarta Jawa Tengah, mulai dari Kabupaten Gunungkidul hingga Kabupaten
Cilacap adalah sebagai berikut ini. Perbukitan di Pantai Wedi Ombo
Kabupaten Gunungkidul, berbatuan batugamping di bagian atas dan dialasi
oleh batuan volkanis Tersier, berupa breksi dan aliran lava yang muncul di
tepi laut. Berbeda dengan Pantai Baron yang berbentuk teluk, dimanfaatkan
nelayan sebagai tempat pendaratan kapal ikan. Di Pantai Baron perbukitan
berbatuan gamping sangat tebal, hingga di bawah permukaan air laut. Hal
ini ditunjukkan oleh adanya sungai bawah tanah yang bermuara di bawah
permukaan air laut di Pantai Baron.
Gumuk pasir di Pantai Parangtritis dengan ketinggian antara 5 hingga
15 meter, merupakan gumuk pasir yang paling ideal di Pulau Jawa.
Pembentukan gumuk pasir yang cukup tinggi ini tidak terlepas dengan
keberadan Pegunungan Sewu di sebelah timur Parangtritis, dan pasokan
pasir dari Gunungapi Merapi. Pegunungan Sewu menyebabkan Angin
Muson Tenggara di Parangtritis sedikit berbelok ke barat dan bertiup lebih
cepat dibanding dengan kecepatan angin di sebelah baratnya, seperti di
Samas, Glagah dan Congot. Oleh karena itu semakin dekat dengan
Parangtritis gumuk pasir semakin tinggi. Di Pantai Bulus Pesantren,

Fakultas Geografi UGM

32

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Kabupaten Kebumen, terbentuk beberapa beting gisik dan ledok antar


beting gisik, yang ditumpangi oleh gumuk pasir. Beting gisik tua umumnya
sudah digunakan sebagai permukiman, seperti yang terjadi di Pantai
Glagah Kabupaten Kulonprogo. Ledok antar beting gisik sebagian besar
digunakan untuk sawah atau tegalan.
Bagian dari Plato Selatan Jawa yang tidak ikut tenggelam antara lain:
Karangbolong, Srandil, dan Selok. Perbukitan Srandil berada pada gisik
yang banyak mengandung pasir besi, dan pernah dilakukan penambangan
hingga di Cilacap. Pada lereng perbukitan tersebut, masih terdapat bekas
abrasi, meskipun letaknya agak jauh dari perairan laut. Hal ini menandakan
bahwa garis pantai masa lampau mencapai kaki perbukitan, walaupun
sekarang antara perbukitan dan perairan laut letaknya ratusan meter.
Perbukitan Karangbolong berbatuan gamping di bagian atas dan bagian
bawah berbatuan breksi volkanis atau napal. Pada bagian bawah
batugamping di Karangbolong ditemukan bekas aktivitas volkanis berupa
pelapukan oleh gas volkanis. Di sebelah barat Karangbolong terdapat
dataran aluvial pantai, beting gisik dan ledok antar beting gisik yang
digunakan untuk sawah, tegalan dan sebagian berupa rawa.
Pantai Teluk Penyu merupakan pantai berpasir, dengan gumuk pasir
rendah, sebagian sudah rusak akibat penambangan pasir besi. Wilayah
pantai mulai dari Karangbolong hingga Cilacap banyak ditemukan beting
gisik dan ledok antar beting gisik. Ledok antar beting gisik sebagian
merupakan rawa abadi dan sebagian lagi digunakan untuk lahan sawah.
Rawa abadi di daerah Maos, Kabupaten Cilacap sebagian sudah
dimanfaatkan untuk kolam gurami, dengan makanan utama daun talus
yang ditanam pada lahan yang kurang produktif untuk pertanian.
Segara Anakan semula merupakan Muara Citandui di sebelah barat
Nusa Kambangan dan Kali Donan di bagian utara Nusa Kambangan.
Sedimen yang diangkut oleh kedua sungai ini sangat besar. Citandui
mengangkut sedimen dari Gunungapi Galunggung, sedangkan Kali Donan
mengangkut sedimen yang berasal dari Perbukitan Serayu Selatan.
Sedimentasi pada Segara Anakan sangat cepat, yang mengakibatkan
perairan menjadi dangkal dan sempit. Pendangkalan dan penyempitan

Fakultas Geografi UGM

33

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Segara Anakan selain besarnya sedimen yang diangkut oleh kedua sungai
tersebut juga dipercepat oleh tumbuhnya bakau dan pembentukan padang
gambut di Pantai Utara Nusa Kambangan.

3.2.3. Bentanglahan Pantai Utara Jawa Bagian Tengah


Kondisi Pantai Utara Jawa Tengah antara Semarang hingga Lasem
sangat dipengaruhi oleh dinamika air laut dan batuan yang berasal dari
Perbukitan Rembang, Pegunungan Kendeng, Gunungapi Muria, dan
Gunungapi Lasem, selain juga dari aktivitas Gunungapi Muria dan Lasem
pada masa lampau. Demikian juga kondisi Pantai Utara Jawa Tengah
antara Semarang hingga Brebes. Seperti perairan laut di sebelah timur
Semarang hingga Lasem, perairan laut antara Semarang hingga Brebes juga
dangkal, sebagai akibat sedimentasi yang berasal dari Gunungapi Ungaran,
Dieng, Slamet, serta dari Pegunungan Serayu Utara.
Pantai Lasem dicirikan oleh pantai berbatu, berupa aliran lava sisa
aktivitas Gunungapi Lasem. Terumbu karang terdapat di perairan laut di
Pantai Lasem, menumpang pada batuan volkanis. Hancuran terumbu
karang sebagian diendapkan pada pantai, disamping endapan pasir kwarsa
yang berasal dari perbukitan di sekitar Gunungapi Lasem. Dengan
demikian Pantai Lasem hingga Binangun, merupakan pantai berbatu,
curam dan pada pantai yang datar tertutup oleh pasir kwarsa atau pasir
hancuran terumbu karang.
Pantai Rembang terletak pada Teluk Rembang, bagian barat
terbentuk oleh Pantai Timur Gunungapi Muria dan bagian timur terbentuk
oleh Pantai Barat Gunungapi Lasem. Sungai utama yang bermuara di Teluk
Rembang adalah Kali Juwana, yang mengalir dari Lembah Lusi, terletak
antara Perbukitan Rembang dengan Pegunungan Kendeng. Batuan pada
kedua pegunungan tersebut adalah batugamping dan napal. Oleh karena itu
sedimen yang masuk ke Teluk Rembang sangat halus. Akibat kondisi
perairan yang dangkal serta besarnya sedimen, maka di Pantai Teluk
Rembang terbentuk rataan lumpur yang sangat luas, yang sebagian
ditumbuhi mangrove dan sebagian digunakan untuk tambak udang,

Fakultas Geografi UGM

34

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

bandeng, dan garam. Pantai Rembang bagian timur tertutup endapan pasir
kwarsa yang berasal dari perbukitan di sekitar Gunungapi Lasem.
Gunungapi Muria semula merupakan gunungapi yang muncul pada
perairan laut dangkal, yang kemudian bagian selatan terjadi sedimentasi
intensif sehingga membentuk daratan. Sedimen berasal dari Gunungapi
Muria, Perbukitan Rembang, Pegunungan Kendeng, maupun yang
terangkut oleh arus sepanjang pantai. Sedimen di Pantai Jepara sebagian
besar berasal dari Gunungapi Muria, yang terangkut oleh sungai-sungai
kecil berupa pasir, lempung dan geluh. Pada Musim Barat, terjadi
pengangkutan sedimen yang berasal dari Muara Kali Wulan di Perairan
Pantai Demak yang mengalir dari Lembah Randublatung, sehingga Pantai
Jepara terbentuk rataan lumpur walaupun relatif sempit. Rataan lumpur ini
sebagian digunakan untuk tambak, namun sekarang pada beberapa lokasi
sudah beralih fungsi menjadi permukiman. Sebagian besar sedimen Pantai
Timur Gunungapi Muria hingga Pantai Rembang berasal dari Perbukitan
Rembang dan Pegunungan Kendeng yang terangkut oleh Kali Juwana,
membentuk rataan lumpur. Rataan lumpur tersebut dimanfaatkan untuk
tambak. bandeng, udang dan garam. Berbeda dengan pantai barat dan
pantai timur Gunungapi Muria, pantai utara merupakan pantai berbatu
dengan abrasi intensif dan tidak terbentuk rataan lumpur.
Pantai Demak sebagian besar merupakan rataan lumpur yang sangat
luas, sebagai hasil proses sedimentasi yang diangkut oleh Kali Wulan, yang
berasal dari lembah Randublatung. Besarnya sedimen yang diangkut dan
diendapkan pada perairan laut yang dangkal dan relatif
tenang
menyebabkan cepatnya akresi. Selain pertambahan garis pantai,
pembentukan delta di Pantai Demak sangat cepat, terutama pada Delta
Wulan. Rataan lumpur ini sebagian telah dimanfaatkan oleh penduduk
sebagai lahan tambak bandeng, udang, garam, lahan pertanian, dan
sebagian lagi masih ditumbuhi mangrove.
Pantai Semarang terletak di Teluk Semarang, yang dibentuk oleh sisi
barat Gunungapi Muria dan Pantai Kendal. Sungai yang bermuara di Teluk
Semarang adalah Kali Garang, Kali Banjir Kanal Barat, dan Banjir Kanal
Timur. Sedimentasi relatif cepat, ditunjukkan oleh adanya rataan lumpur

Fakultas Geografi UGM

35

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

yang cukup luas yang pernah dimanfaatkan untuk tambak, walaupun


sekarang sebagian tambak sudah mati yang kemungkinan akibat
pencemaran limbah yang berasal dari rumah tangga, industri, bengkel,
pelabuhan, dan limbah pasar. Bekas tambak ini sebagian telah dilakukan
reklamasi dan dialihfungsikan sebagai kawasan permukiman dan fasilitas
umum.
Pantai Kendal hingga Pantai Brebes kondisinya hampir sama, terjadi
sedimentasi intensif terutama yang berdekatan dengan muara sungai besar,
antara lain: Sungai Pemali, Comal, Bodri dan Sungai Losari. Sedimen yang
terangkut sebagian bertekstur pasir, seperti yang terdapat di Pantai Weleri,
Tagal dan Pemalang; dan sebagian bertekstur geluh hingga lempung, yaitu
di sekitar Muara Sungai Pemali, Comal dan Bodri. Tekstur pasir yang
terdapat di Pantai Weleri, Batang, Pemalang dan sekitarnya berasal dari sisi
utara Pegunungan Serayu Utara, yang merupakan hulu sungai-sungai yang
bermuara di pantai antara Kendal hingga Pemalang. Pasir tersebut
merupakan pasir volkanis yang berasal dari Gunungapi Slamet dan
Kompleks Gunungapi Dieng. Skematis geologis Jawa Tengah disajikan pada
Gambar 3.2.

Gambar 3.2. Penampang Melintang Geologis Jawa Bagian Tengah

Fakultas Geografi UGM

36

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

3.3. Kondisi Demografi, Ekonomi, dan Sosial Budaya


3.3.1. Zona Selatan Jawa Bagian Tengah
(1) Kependudukan
Zona selatan Jawa Bagian Tengah merupakan wilayah yang memiliki
potensi sumberdaya alam relatif terbatas. Keterbatasan potensi sumberdaya
ini menjadikan penduduk yang menempati dan mencari nafkah cenderung
sedikit, karena keberadaan manusia pada suatu wilayah sangat dipengaruhi
oleh potensi sumberdaya alam yang ada dan tingkat budaya masyarakat.
Pembahasan aspek kependudukan meliputi: jumlah, persebaran,
struktur penduduk, dan kualitas sumberdaya manusia. Dari segi jumlah dan
persebaran, zona selatan Jawa Bagian Tengah umumnya dihuni oleh
penduduk dalam jumlah kecil, kepadatan relatif rendah, dan persebaran
yang cenderung mengelompok. Kabupaten Gunungkidul dan Wonogiri,
terletak pada zona selatan Jawa Bagian Tengah dengan potensi sumberdaya
alam yang cenderung rendah, menyebabkan jumlah dan kepadatan
penduduk yang kecil, serta tersebar tidak merata. Persebaran penduduk
pada dua kabupaten ini berasosiasi dengan keberadaan sumberdaya air
pada danau dolin dan mataair yang yang menjadi tumpuan sumber air bagi
penduduk yang tinggal, sehingga pola persebarannya cenderung
mengelompok. Pada Pegunungan Baturagung keberadaan mata air juga
merupakan daerah yang banyak dihuni oleh penduduk. Pola persebaran
penduduk ini juga tercermin pada pola persebaran permukiman yang
cenderung mengelompok.
Struktur penduduk zona selatan Jawa Bagian Tengah didominasi usia
muda dan tua, sedangkan usia dewasa relatif sedikit. Gejala ini terjadi
karena golongan umur dewasa atau usia bekerja lebih banyak yang
bermigrasi keluar daerah untuk memperoleh kesempatan bekerja yang
lebih luas. Keterbatasan sumberdaya menjadikan kesempatan kerja
cenderung rendah, dan sebagai kompensasinya, penduduk usia produktif
banyak yang merantau ke kota-kota besar atau terjadi urbanisasi. Keadaan
ini juga terjadi di Kabupaten Kulonprogo, Purworejo, dan Kebumen.

Fakultas Geografi UGM

37

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Golongan penduduk usia muda, yaitu usia sekolah ke bawah, dan tua, yaitu
usia sudah tidak produktif, mendominasi struktur penduduk pada sebagian
besar Jawa Tengah bagian selatan. Kehidupan sangat ditopang oleh proses
remitan, yaitu kebutuhan di desa dengan cara pengiriman uang dari kota ke
desa yang dilakukan oleh para urbanit.
Kondisi tersebut sangat mempengaruhi oleh kualitas sumberdaya
manusia. Penduduk yang berpendidikan dan berkeahlian tinggi cenderung
keluar daerah, umumnya ke kota karena tidak banyak lapangan pekerjaan
yang sesuai dengan tingkat pendidikan dan keahliannya di daerah asal.
Sebagai akibatnya, hanya penduduk yang berpendidikan dan berkeahlian
rendah saja yang masih bertahan di daerah asal. Rendahnya kualitas
sumberdaya manusia ini memberikan kontribusi yang besar bagi tingkat
kesejahteraan penduduk, yang memunculkan penduduk miskin, baik
miskin ekonomi, miskin kultural, maupun munculnya gejala budaya
kemiskinan.
(2) Sosial Ekonomi
Potensi sumberdaya alam dan kualitas penduduk yang rendah
menjadikan kondisi sosial ekonomi bagian selatan Jawa Tengah cenderung
rendah. Penduduk umumnya masih mengandalkan sektor pertanian
sebagai mata pencaharian utama untuk menopang kehidupan, dengan
dominasi pertanian lahan kering, yaitu tegal atau sawah tadah hujan.
Kondisi kesuburan tanah yang relatif marjinal dan banyaknya lahan kritis
menjadikan produksi dan produktivitas pertanian rendah. Rendahnya
harga jual komoditas pertanian lahan kering menjadikan tingkat ekonomi
penduduk menjadi semakin rendah. Penanaman komoditas tembakau yang
memiliki nilai jual cukup tinggi ternyata juga belum mampu mengangkat
produktivitas pertanian di wilayah ini.
Sektor usaha yang juga banyak dikembangkan oleh penduduk adalah
peternakan sapi dan kambing, akan tetapi selama Musim Kemarau usaha
tersebut sangat terkendala oleh langkanya air dan tanaman makanan
ternak. Pada Musim Kemarau sering dijumpai truk mengangkut makanan
ternak setiap hari ke Kabupaten Gunungkidul. Untuk menghidupi satu ekor

Fakultas Geografi UGM

38

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

sapi pada Musim Kemarau dibutuhkan biaya yang besar, sehingga sering
terjadi peternak menjual hewan untuk membeli rumput atau pakan.
Sektor pertambangan khususnya bahan galian golongan C, pada saat
ini merupakan primadona baru, terutama di Kabupaten Gunungkidul dan
Wonogiri. Dua kabupaten ini secara geologis memiliki potensi bahan galian
golongan C cukup besar, terutama batugamping, dolomit, dan tuf. Usaha
pertambangan rakyat yang dikembangkan juga belum menunjukkan
prospek usaha yang cerah dengan keuntungan ekonomis yang tinggi bagi
penduduk. Nilai tambah hasil produksi ini masih lebih banyak dinikmati
oleh penduduk di luar daerah, terutama para pemilik modal atau penguasa
pasaran.
Di Kabupaten Wonogiri terdapat sektor usaha yang sangat potensial,
yaitu pemanfaatan tanaman obat-obatan, yang telah mengangkat nama
Wonogiri dengan predikat wilayah penghasil jamu. Satu perusahaan yang
cukup terkenal, yaitu, Air Mancur, berasal dari Kota Wonogiri. Profesi
sebagai penjual jamu gendongan yang tersebar di setiap kota terutama di
Jawa, banyak dilakukan oleh warga Wonogiri.
Tingginya mobilitas penduduk di Kabupaten Wonogiri dan
Gunungkidul, memberikan peluang usaha ekonomi yang sangat baik, yaitu
sektor transportasi darat. Di kedua kabupaten tersebut banyak dijumpai
perusahaan bus, yang terutama melayani jalur ke Jakarta. Kemudahan
transportasi ini juga memberikan kontribusi yang baik terhadap
peningkatan pendapatan penduduk terutama melalui pola remitan, yaitu
pengiriman uang kepada sanak famili di desa yang dilakukan oleh para
perantau di kota, terutama Jakarta.
(3) Sosial Budaya
Kesejahteraan rakyat diantaranya dapat diamati berdasar tingkat
sosial maupun jumlah kegiatan sosial budaya yang dilakukan penduduk.
Sosial budaya merupakan salah satu aspek yang luas cakupannya. Tingkat
sosial masyarakat dapat diukur dari tingkat pendidikan, tingkat gizi dan
kesehatan, serta kualitas perumahan dan lingkungan. Kegiatan sosial

Fakultas Geografi UGM

39

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

budaya dapat tercermin dari penggunaan lahan, akses pada informasi dan
hiburan, tingkat modernitas, dan berbagai kegiatan yang melibatkan
masyarakat secara merata dan mengandung corak sosial dan budaya.
Tingkat sosial penduduk di bagian selatan Jawa Tengah termasuk
dalam kategori menengah ke bawah. Hal ini terlihat dari tingkat pendidikan
yang relatif rendah, umumnya masih di bawah tamat SMA. Tingkat
kecukupan gizi, kesehatan masyarakat, kualitas perumahan dan lingkungan
juga cenderung masih rendah, terutama karena secara ekonomi dan budaya
memang kurang mendukung untuk terciptanya kualitas perumahan dan
lingkungan yang baik.
Penggunaan lahan yang merupakan salah satu aspek kegiatan budaya
manusia, memberikan gambaran tingkat modernitas. Dominasi bentuk
penggunaan lahan pertanian lahan kering, sawah tadah hujan, lahan
terbuka yang tandus, dan lahan kritis, memberikan gambaran bahwa upaya
penduduk untuk memanfaatkan lahannya masih kurang optimal. Menurut
sejarahnya, Gunungkidul semula merupakan kawasan hutan yang sangat
lebat dan kaya diversitas flora dan fauna; tetapi karena tidak arifnya
manusia dalam mengelola lahan menjadikan kawasan hutan menjadi
tandus dan kering. Tingkat pengetahuan dan inovasi yang merupakan tolok
ukur modernisasi masih relatif rendah di wilayah bagian selatan Jawa
Tengah, terbukti dari banyaknya upaya pendayagunaan sumber air bawah
tanah yang selalu gagal dilaksanakan padahal sudah memakan biaya yang
sangat banyak. Berbagai kegiatan sosial dan budaya yang dilakukan oleh
masyarakat juga cenderung sedikit, karena hampir seluruh waktunya
digunakan untuk mengelola lahan atau malah sebaliknya digunakan
menganggur.

Fakultas Geografi UGM

40

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

3.3.2. Zona Tengah Jawa Bagian Tengah


(1) Kependudukan
Zona Tengah Jawa Bagian Tengah yang didominasi oleh keberadaan
jalur gunungapi, menjadikannya sebagai kawasan yang cukup subur dan
potensial sebagai lahan pertanian. Kondisi fisik yang dicerminkan oleh
relief, tanah, dan curah hujan mendukung terciptanya tata air yang baik
juga sangat berpengaruh terhadap tingginya potensi sumberdaya yang
dapat dikembangkan oleh penduduk. Oleh karena itu, banyak penduduk
yang tinggal dan berusaha pada wilayah ini. Kota yang merupakan pusat
konsentrasi penduduk banyak berkembang pada wilayah ini, antara lain:
Yogyakarta, Surakarta, Magelang, dan Purwokerto.
Jumlah penduduk pada bagian tengah Jawa Tengah cukup besar dan
merata serta kepadatan yang juga cukup tinggi. Meratanya potensi
sumberdaya lahan, terutama sumberdaya pertanian sawah irigasi,
menjadikan penduduk dapat leluasa berusaha pada sektor pertanian dan
sektor-sektor lain yang mendukung, sehingga persebaran penduduk cukup
merata, dan permukiman berkembang. Di wilayah Plato Selatan
permukiman umumnya mengelompok di dekat sumber air, misalnya
telaga dan mataair. Di wilayah Pegunungan Baturagung permukiman
mengelompok di sekitar mataair; sedangkan pada bagian tengah yang
merupakan jalur gunungapi pola persebaran permukiman relatif menyebar
atau cenderung random.
Struktur penduduk bagian tengah Jawa Tengah merata, dengan
sedikit dominasi pada usia muda. Tidak terlalu banyak penduduk yang
melakukan migrasi ke daerah lain, karena peluang kerja yang cukup
beragam. Banyak industri yang berbasis pertanian muncul, terutama di
Yogyakarta, Magelang, dan Surakarta.
Kualitas sumberdaya manusia cukup baik, ditandai oleh penduduk
yang menamatkan pendidikan SMU atau yang setingkat cukup dominan,
bahkan mencapai pendidikan tinggi. Kualitas keahlian juga cukup baik dan
beragam, sehingga mampu bekerja pada sektor-sektor pekerjaan modern.
Bahkan kota Yogyakarta, Surakarta, dan Magelang, merupakan kota yang

Fakultas Geografi UGM

41

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

menjadi barometer pendidikan tinggi di Jawa maupun Indonesia pada


umumnya.
(2) Sosial Ekonomi
Potensi sumberdaya lahan dan kualitas penduduk yang tinggi
menjadikan kondisi sosial ekonomi sangat baik di bagian tengah Jawa
Tengah. Dominasi matapencaharian penduduk masih mengandalkan sektor
pertanian seperti di Plato Selatan, tetapi didominasi pertanian sawah irigasi
yang mampu berproduksi sampai tiga kali musim panen setahun, karena
sistem irigasi yang memadai. Kesuburan tanah yang tinggi sangat
menjadikan produksi dan produktivitas pertanian sangat tinggi. Tanaman
yang dapat dikembangkan cukup beragam dengan nilai jual tinggi, misalnya
padi kualitas tinggi, buah-buahan dan sayur-sayuran. Sektor perkebunan
juga banyak berkembang terutama perkebunan kopi.
Bahan galian golongan C, banyak ditemukan sebagai sumber utama
bahan bangunan, seperti: pasir, kerikil, dan batu-batu. Sektor industri juga
banyak berkembang di Sragen, Karanganyar, Surakarta, Klaten, Yogyakarta,
dan Magelang. Banyak industri-industri besar dibangun di kota-kota
tersebut. Tingkat aksesibilitas yang tinggi, melimpahnya sumberdaya air,
dan banyaknya tenaga kerja terampil menyebabkan sangat potensial
dikembangkan sebagai sentra industri, terutama yang berbasis pada
produksi pertanian. Perkembangan industri memberikan andil pada
pesatnya perkembangan kota. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
tingkat ekonomi penduduk cukup baik. Hal ini ditandai oleh relatif
tingginya pendapatan dan konsumsi diluar makanan.
Sektor perdagangan dan jasa juga sangat berkembang. Banyaknya
produksi pertanian dan tingginya produktivitas, dengan didukung jumlah
produksi yang merata dari waktu ke waktu menjadikan aktivitas
perdagangan, terutama hasil pertanian dan hasil industri berbasis
pertanian sangat intensif. Jalur Yogyakarta-Solo merupakan jalur kegiatan
transportasi perdagangan yang cukup intensif, sebagai bagian dari jalur
sekunder di Jawa. Pasar Klewer di Surakarta sudah lama menjadi sentral
perdagangan tekstil dan produksi tekstil (TPT) di Jawa. Demikian juga

Fakultas Geografi UGM

42

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

dengan Pasar Beringharjo di Yogyakarta yang menjadi pusat bertemunya


berbagai produk terutama Jawa Tengah.
(3) Sosial Budaya
Tingkat sosial penduduk bagian tengah Jawa Tengah, termasuk dalam
kategori menengah ke atas. Ini nampak dari tingkat pendidikan yang relatif
tinggi, umumnya tamat SMU, bahkan banyak yang berpendidikan sarjana
maupun pascasarjana. Tingkat kecukupan gizi dan kesehatan masyarakat
juga cenderung baik. Sarana kesehatan cukup banyak, seperti rumah sakit
dan puskesmas yang didukung oleh dokter dan paramedis yang berkualitas.
Banyak rumah sakit besar yang berkembang, terutama di Yogyakarta,
Surakarta, Klaten, maupun Magelang.
Berdasarkan data Potensi Desa (PODES) tahun 2000, di bagian
tengah Jawa Tengah jarang dijumpai permukiman kumuh, baik di daerah
perkotaan maupun di pedesaan. Dengan demikian secara umum kualitas
perumahan dan lingkungan cukup baik, terbukti dari sedikitnya gangguan
lingkungan, seperti: polusi udara, air, dan tanah. Kualitas sumberdaya
manusia yang baik sangat mendukung terciptanya kualitas perumahan dan
lingkungan yang baik pula.
Bentuk penggunaan lahan sawah beririgasi teknis, perkebunan, lahan
industri dan permukiman perkotaan maupun pedesaan cukup dominan.
Banyaknya aliran sungai dan pembangunan dam menjadikan saluran irigasi
cukup baik. Berbagai kegiatan sosial dan budaya yang dilakukan oleh
masyarakat juga cukup beragam. Penduduk termasuk kreatif dan inovatif,
terutama dalam mengembangkan sektor pertanian dan usaha di bidang jasa
dan perdagangan. Berbagai kegiatan sosial budaya banyak berkembang
terutama di kota. Yogyakarta dan Surakarta merupakan kota yang diakui
sebagai pusat kebudayaan Jawa hingga saat ini, disamping menjadi
barometer pendidikan tinggi bahkan di Indonesia pada umumnya.

Fakultas Geografi UGM

43

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

3.3.3. Zona Utara Jawa Bagian Tengah


(1) Kependudukan
Zona utara Jawa Bagian Tengah meliputi Pegunungan Kendeng, Lembah
Randublatung, Perbukitan Rembang, hingga dataran aluvial Pantai Utara
Jawa. Kepadatan penduduk di wilayah perbukitan umumnya rendah,
sedangkan di dataran aluvial dan dataran pantai kepadatan penduduk
tinggi. Persebaran penduduk dan permukiman juga berbeda. Di wilayah
Pegunungan Kendeng, Lembah Randublatung dan Perbukitan Rembang
umumnya mengelompok, sedangkan pada wilayah dataran cenderung
menyebar.
Struktur penduduk didominasi usia dewasa, terutama pada kota-kota
di Pantai Utara Jawa Tengah. Sepanjang Pantai Utara Jawa Tengah
berkembang menjadi kota-kota pantai yang berorientasi pada sektor
perdagangan dan industri, sehingga kesempatan kerja cukup besar dan
menjadi daerah tujuan urbanisasi bagi penduduk perdesaan. Banyaknya
urbanit yang datang menjadikan kelompok usia produktif daerah
perbukitan berpindah ke dataran pantai, sedangkan pada jalur Kendeng Randublatung - Rembang didominasi usia tua dan muda, yaitu kelompok
non produktif.
Banyaknya migran dengan tingkat pendidikan dan ketrampilan relatif
baik menjadikan kualitas sumberdaya manusia cukup baik di kota-kota
Pantai Utara Jawa Tengah; sedangkan pada perbukitan, kualitas
sumberdaya manusia cenderung lebih rendah. Penduduk yang
berpendidikan dan berkeahlian tinggi cenderung mencari pekerjaan ke
kota-kota pantai yang lebih kompetitif dalam meningkatkan penghasilan.
Pada perbukitan memiliki potensi sumberdaya lahan yang baik, terutama
bahan galian golongan C maupun minyak dan gas bumi. Jalur
Randublatung - Cepu merupakan jebakan minyak bumi yang potensial, oleh
karenanya kualitas sumberdaya manusia tidak terlampau rendah.

Fakultas Geografi UGM

44

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

(2) Sosial Ekonomi


Potensi bahan tambang, pertanian, perikanan termasuk tambak ikan
dan garam, serta perdagangan sangat besar. Jalur Pantai Utara Jawa
merupakan jalur utama yang menghubungkan Jakarta -Surabaya. Kondisi
tersebut menjadikan wilayah bagian utara Jawa Tengah memiliki kondisi
ekonomi sangat baik. Keberadaan beberapa industri besar memberikan
sumbangan yang nyata terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah ini.
Sektor pertambangan cukup maju, terutama bahan galian golongan C
yaitu: pasir, lempung, batugamping, gips, kaolin, fosfat, pasir kuarsa, tras,
dan dolomit. Sektor kehutanan juga berkembang baik, terutama hutan
produksi jati di Perbukitan Rembang dan Randublatung. Sektor pertanian
lahan kering dan lahan basah dapat berkembang sama baiknya. Tanaman
polowijo dan ubi-ubian banyak diusahakan oleh penduduk terutama yang
tinggal di perbukitan, sedangkan pada daerah dataran banyak ditanam
padi, bawang merah, bawang putih, cabe, dan berbagai tanaman buahbuahan.
Sektor perikanan berkembang, pada dataran, baik perikanan darat
maupun perikanan laut. Banyak penduduk yang menggantungkan hidupnya
dengan bekerja sebagai nelayan di Laut Jawa, ataupun dengan
mengembangkan tambak udang dan bandeng di sepanjang pantai utara,
yang merupakan kawasan tambak bandeng, udang dan garam.
(3) Sosial Budaya
Tingkat pendidikan penduduk umumnya menengah hingga tinggi,
khusus di kota-kota besar banyak yang tamat perguruan tinggi. Tingkat
kecukupan gizi dan kesehatan masyarakat juga cenderung baik, terutama
ditunjang oleh jumlah sarana kesehatan yang merata, serta produksi ikan
laut yang banyak. Kualitas lingkungan di wilayah dataran kurang baik,
terbukti dari banyaknya gangguan lingkungan, seperti: polusi udara, air,
dan tanah, yang disebabkan oleh kegiatan industri besar dan transportasi
darat. Meskipun kualitas sumberdaya manusia cukup baik, namun
pertumbuhan industri yang lebih mementingkan profit daripada interes

Fakultas Geografi UGM

45

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

lingkungan menjadikan banyak terjadi gangguan lingkungan dan


pencemaran di berbagai tempat. Pencemaran ini juga disebabkan karena
akumulasi dari lahan atas, terutama polusi air akibat aktivitas pertanian,
karena daerah ini merupakan daerah hilir.
Bentuk penggunaan lahan umumnya berupa sawah beririgasi teknis,
tambak, perkebunan, kehutanan, serta permukiman perkotaan dan
perdesaan. Berbagai kegiatan sosial dan budaya yang dilakukan oleh
masyarakat juga cukup beragam. Kota-kota di jalur Pantura terkenal
sebagai pusat perkembangan budaya Islam di Jawa. Mulai dari Pekalongan
hingga Rembang merupakan pusat pendidikan dan kebudayaan Islam sejak
Jaman Walisongo. Oleh karenanya, perkembangan kebudayaan lebih
didominasi oleh kebudayaan Islam. Masjid-masjid tua yang merupakan
pusat penyebaran Agama Islam pada masa lampau banyak dijumpai
sepanjang jalur Pantura ini.

3.4. Deskripsi Bentanglahan Jawa Bagian Tengah


Seperti telah dijelaskan di muka, bahwa bentanglahan mengandung
arti pemandangan yang didalamnya tersirat aspek visual dan keindahan
pada suatu lingkungan tertentu. Salah satu komponen atau kajian utama
bentanglahan adalah bentuklahan. Bentanglahan merupakan sistem yang
berada di permukaan bumi, yang tersusun atas: batuan, tanah, air, udara,
tetumbuhan, hewan, energi, dan manusia dengan segala perilakunya, yang
saling berinteraksi dan interdependensi. Selanjutnya berbagai bentanglahan yang terdapat di wilayah kajian dijelaskan seperti berikut ini.

2.4.1. Bentanglahan Gunungapi Merapi


Gunungapi Merapi terletak pada persilangan sesar utama Jawa, yaitu
dengan arah utara-selatan dan timur-barat, merupakan gunungapi paling
aktif di dunia, termasuk tipe strato, dengan periode letusan 2-7 tahun.
Material yang dikeluarkan pada waktu erupsi adalah: piroklastis, lava dan

Fakultas Geografi UGM

46

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

gas. Piroklastis dalam berbagai ukuran, mulai dari bongkah hingga debu.
Lava merupakan magma yang telah keluar dari perut bumi, sehingga gas
yang terkandung didalamnya sudah keluar, membentuk batuan dengan
struktur skoria. Dalam jumlah besar gas yang keluar pada waktu erupsi
sering disebut awan panas atau nuees ardente, yaitu gas bercampur
piroklastis dengan suhu dapat mencapai 200oC, sehingga sangat berbahaya
bagi kehidupan.
Kawah di puncak Merapi berbentuk tapal kuda yang terbuka ke arah
barat, menyebabkan hampir semua aliran lava dan piroklastik ke barat,
masuk wilayah Magelang dan Sleman, seperti nampak di Gambar 3.3.
Piroklastik yang keluar dari kawah dengan tekstur debu hingga bongkah.
Debu dan pasir dapat terangkut oleh aliran sungai lebih jauh dibanding
bongkah. Hujan orografis banyak terjadi pada Musim Barat, sehingga
sebagian besar curah hujan jatuh pada sisi barat dan utara Gunungapi
Merapi. Bentuk kawah yang terbuka ke barat dan tingginya curah hujan
pada sisi barat Gunungapi Merapi sangat berpengaruh terhadap sebaran
bahaya lahar hujan dan awan panas, selain memberikan bahan tambang
berupa pasir dan potensi air yang cukup tinggi pada sisi barat Gunungapi
Merapi.

Fakultas Geografi UGM

47

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Gambar 3.3a. Bentanglahan Gunungapi Merapi dari arah


Selatan (Kompleks Wisata Bebeng)
(Foto: Langgeng W.S., 2003)

Gambar 3.3b. Kenampakan Kerucut Gunungapi Merapi


yang difoto dari pesawat dari arah Barat
(Foto: Arif Efendi, 2003)

Fakultas Geografi UGM

48

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Aliran lahar atau volcanic mudflow, sebagai bagian dari gerak massa
batuan, sebarannya tidak begitu jauh karena gerakan lahar dipengaruhi
oleh gaya gravitasi, bukan pengangkutan oleh air. Akibat tidak meratanya
sedimen dalam sebarannya, baik oleh aliran sungai maupun lahar, maka
berakibat timbulnya perbedaan lereng pada tubuh gunungapi. Satuan
lereng yang terbentuk pada gunungapi adalah: kerucut gunungapi (volcanic
cone), lereng gunungapi (volcanic slope), kaki gunungapi (volcanic foot),
dataran kaki gunungapi (volcanic foot plain), dan dataran fluvial gunungapi
(fluvio volcanic foot plain). Adanya satuan tersebut sangat menentukan
kondisi hidrologi, tanah, proses geomorfologi, vegetasi, dan penutup lahan,
yang akhirnya berpengaruh terhadap aktivitas manusia dalam pemanfaatan
sumberdaya lahan di wilayah Gunungapi Merapi.

Kunci: Aktivitas gunungapi, Bahan erupsi, Sebaran bahan erupsi, Bahaya


Gunungapi Merapi, Morfologi lereng gunungapi, Hujan orografis
Biogeografi, Untung-rugi wilayah bergunungapi aktif

2.4.2. Bentanglahan Pantai Parangtritis, Bantul


Pantai berbatu dengan tebing terjal atau sering disebut cliff, lapisan
batuan miring ke arah laut merupakan salah satu ciri Pantai Parangtritis, di
samping gumuk pasir yang hanya terdapat di Parangtritis, dan gelombang
Samudera Hindia yang ganas (Gambar 3.4). Parangtritis juga sangat
potensial sebagai obyek wisata, baik wisata alami maupun wisata budaya.
Pantai Parangtritis dan Parangkusumo sangat terkenal sebagai tempat
pertemuan antara Panembahan Senopati, yaitu Raja Mataram I, dengan
Penguasa Samudera Hindia, yang sering disebut Nyi Roro Kidul di Watu
Gilang pada masa lampau. Hingga sekarang tempat tersebut masih sangat
dikeramatkan dan digunakan sebagai tempat bersemedi, begitu juga
Makam Syeh Bela-Belu.
Pemandian airpanas Parangwedang yang dapat menyembuhkan sakit
gatal, serta sering hanyutnya wisatawan yang mandi di Parangtritis ikut
menambah terkenalnya Pantai Parangtritis dan Parangkusumo. Hanyutnya

Fakultas Geografi UGM

49

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

wisatawan yang mandi di laut dipercaya masyarakat, bahwa orang tersebut


dibutuhkan oleh Nyi Roro Kidul. Ini merupakan bagian kepercayaan dari
sebagian masyarakat yang masih sangat dipercaya, dan merupakan budaya
sebagian masyarakat. Oleh karena itu sangat dianjurkan bagi wisatawan
untuk saling menghormati keyakinan masing-masing.

Gambar 3.4.

Kenampakan Bentanglahan Wilayah


Kepesisiran Parangtritis di bagian Timur
(Foto: Sunarto, 2001)

Pada sisi barat Pegunungan Sewu terjadi sesar bertingkat, sedangkan


di bagian selatan terbentuk tebing terjal yang menghadap ke laut atau cliff.
Bagian bawah cliff selalu mengalami abrasi, padahal banyak diaklas pada
batuan, sehingga sering terjadi guguran batuan dan menumpuk pada
pelataran laut. Pelataran laut ini tenggelam pada waktu laut pasang dan
sering muncul sebagai daratan pada air surut. Pada pelataran laut sering
terbentuk alur, yang pada waktu terjadi arus balik mempunyai kecepatan
aliran sangat tinggi, sehingga sangat berbahaya bagi yang melewatinya pada
waktu air surut, karena dapat terseret arus balik.
Kondisi yang hampir sama terdapat juga pada garis pantai yang
cekung, arus balik sangat cepat karena terjadi konsentrasi arus balik.
Dalam istilah geomorfologi bentukan tersebut dinamakan rip current,

Fakultas Geografi UGM

50

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

sedangkan penduduk setempat menamakan suwangan. Pada pantai


berpasir rip current berpindah-pindah. Rip current dapat dikenali dari
morfologi pantai yang cekung atau pada gelombang yang tidak pecah. Pada
lokasi tersebut dapat dibuktikan dengan melepas pelampung akan hanyut
dengan kecepatan tinggi. Rip current mungkin dapat diartikan sebagai arus
yang mematikan, karena orang yang hanyut kemungkinan mati amat sangat
besar (Gambar 3.5).

Gambar 3.5. Fenomena Proses Terjadinya Rip Current

Pembentukan Plato Selatan secara bertahap serta penenggelaman


dari Parangtritis hingga Nusa Kambangan dapat dibuktikan di Parangtritis.
Bekas abrasi pada dinding terjal di Parangwedang dan Parangendog,
adanya teras marin pada bagian atas kedua dinding tersebut, airtanah
purba di Parangwedang yang memiliki daya hantar listrik (DHL) lebih dari
30.000 mhos/cm; Teluk Parangtritis purba dengan teras dan endapan
marin, merupakan bukti nyata bahwa perairan laut purba mencapai
dinding terjal di Parangendog dan Parangwedang, yang meluas hingga
bagian barat Plato Selatan.
Gumuk Pasir Parangtritis yang materinya berasal dari Gunungapi
Merapi yang diangkut oleh Kali Opak dan Kali Progo, setelah masuk laut
oleh arus diangkut ke arah darat. Pertemuan arus datang dan arus balik
menyebabkan terbentuknya beting gisik, dan ledok antar beting gisik, yang
selanjutnya mengalami sedimentasi, sehingga terbentuk daratan. Oleh

Fakultas Geografi UGM

51

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

angin Muson Tenggara yang terpengaruh adanya Pegunungan Sewu, angin


sedikit berbelok ke barat dan dipercepat, sehingga kemampuan
mengangkut pasir pantai menjadi lebih besar dan semakin ke barat
kemampuannya berkurang. Akibatnya gumuk pasir dekat Parangtritis lebih
tinggi dibanding dengan gumuk pasir di sebelah baratnya. Contoh gumuk
pasir disajikan pada Gambar 3.6.

Gambar 3.6a. Kenampakan Gumuk Pasir Barchan


(Foto: Sunarto, 1997)

Gambar 3.6b. Kenampakan Gumuk Pasir tipe Lidah


dan Gelembur Gelombang (Ripple mark)
(Foto: Djati Mardiatno, 2001)

Fakultas Geografi UGM

52

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Plato Selatan Jawa semula merupakan perairan laut, yang kemudian


ditumbuhi oleh gunungapi yang muncul dari dasar laut. Gunungapi bawah
laut ini nampaknya cukup luas sebarannya, atau merupakan deretan
gunungapi bawah laut. Anggapan ini didasarkan bahwa sebagian besar
batuan di bawah batugamping pada Pegunungan Sewu berbatuan volkanis.
Proses marin pada tubuh gunungapi bawah laut mengakibat-kan abrasi
dan transportasi batuan volkanis, serta perubahan tubuh gunungapi,
sehingga sulit dilacak keberadaan pusat erupsi gunungapi Tersier tersebut.
Sisa-sisa gunungapi Tersier ini berupa aliran lava, breksi aliran, intrusi
magma, tuf atau hasil proses pelapukan oleh gas volkanis.

Kunci:

Sesar bertingkat, Gawir sesar, Teluk purba, Teras marin, Garis pantai,
Laguna, Sumber air panas, Cliff, Abrasi, Rip current, Beting gisik, Gumuk
pasir, Dataran fluvio-marin, Wisata budaya, Wisata alam, Gunungapi
bawah laut, Proses marin

2.4.3. Bentanglahan Dataran Aluvial Oyo-Opak di Nambangan


Pengangkatan bagian selatan Jawa, menyebabkan terjadinya sesar
memanjang dan melintang Jawa. Sesar memanjang mengangkat bagian
selatan Jawa, sedangkan sebagian lagi tidak terangkat, sehingga terbentuk
Plato Selatan. Sesar melintang menyebabkan tidak semua bagian selatan
Jawa membentuk plato, namun ada sebagian yang tenggelam dan sekarang
tertutup oleh endapan, fluvial, marin dan eolin, membentuk dataran. Sesar
yang terjadi pada Plato Selatan ternyata bukan hanya yang melintang Jawa,
namun masih banyak sesar sekunder dengan arah sejajar membentuk sesar
tangga atau memotong Perbukitan Baturagung. Dengan terbentuknya plato
ini maka terbentuk pula gawir atau escarpment, dan dalam perkembangan
selanjutnya dapat terbentuk trapezoidal facet, triangle facet, lembah
menggantung, kerucut aluvial dan kipas aluvial (Gambar 3.7). Pada kipas
aluvial ini tanah lembab dan lebih subur, dan kemungkinan terdapat
mataair atau rembesan, sehingga vegetasi lebih rapat dan banyak
digunakan untuk lahan pertanian atau permukiman penduduk.

Fakultas Geografi UGM

53

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Gambar 3.7.

Kenampakan Triangle Facets dan Alluvial Fan


di Nambangan (Foto: Langgeng, 2000)

Pada dataran terbentuk dataran aluvial dengan materi berasal dari


Merapi terletak di sebelah utara sungai dan dataran aluvial yang terletak di
sebelah selatan sungai dengan materi berasal dari Perbukitan Baturagung
(Gambar 3.8). Batuan pada dataran aluvial Merapi tersusun oleh geluh,
pasir dan krikil, sedangkan batuan pada dataran aluvial Baturagung
tersusun oleh lempung sebagai hasil pelapukan batuan volkanis Tersier dan
batugamping. Oleh karena itu maka sifat dan watak kedua dataran aluvial
sangat berbeda. Dataran aluvial Merapi bertekstur pasir, tidak mengalami
kembang kerut, sedangkan dataran aluvial Baturagung bertekstur lempung
mengalami kembang kerut.

Kunci:

Sesar bertingkat, Gawir sesar, Sesar, Kerucut aluvial, Kipas


aluvial, Trapesoidal faset, Triangle faset, Dataran aluvial
Merapi, Perbukitan Baturagung

Fakultas Geografi UGM

54

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Gambar 3.8.

Kenampakan Meandering Sungai Opak


di Nambangan (Foto: Langgeng, 2002)

2.4.4. Bentanglahan Graben Bantul


Graben Bantul terbentuk oleh sesar yang melintang ke utara di sisi
timur Parangtritis hingga Prambanan, dan di sisi barat kemungkinan pada
arah utara-selatan Palbapang, yang merupakan sisi timur Perbukitan
Sentolo di Daerah Bantul (Gambar 3.9). Aktivitas Gunungapi Merapi sangat
berperan dalam mengisi sedimen pada Graben Bantul. yang kedalamannya
bervariasi dari beberapa meter di sepanjang jalur sesar hingga lebih dari
100 meter, semakin jauh dari jalur sesar. Di pusat Kota Yogyakarta pada
kedalaman >100 meter ditemukan batugamping yang seumur dengan
batugamping di Pegunungan Sewu, sehingga dapat diasumsikan sebagai
bagian dari batugamping Pegunungan Sewu.
Lokasi Dogongan terletak pada sisi timur diding Graben Bantul, dan
merupakan muara Kali Oyo dari Plato Selatan di Gaben Bantul. Kali Oyo
pada Plato Selatan bermeander, padahal meander terbentuk jika sungai
mengalir pada dataran sehingga aliran tidak lancar maka terjadi erosi
tebing yang selanjutnya berkembang menjadi meander. Dengan demikian
dapat diasumsikan bahwa Kali Oyo terbentuk sejak belum terbentuk Plato
Selatan atau semula Kali Oyo mengalir pada dataran, yang kemudian terjadi

Fakultas Geografi UGM

55

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

pengangkatan membentuk Plato Selatan. Ini dapat dibuktikan oleh adanya


teras sungai pada tebing Kali Oyo di Dogongan (Gambar 3.10).

Gambar 3.9.

Kenampakan Graben Bantul dilihat dari atas


Perbukitan Dogongan (Foto: Luthfi, 2003)

Gambar 3.10. Kenampakan Teras Sungai Oyo di Dogongan


(Foto: Langgeng W.S., 2003)

Fakultas Geografi UGM

56

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Proses geomorfologi di Dogongan adalah sebagai berikut ini.


Pelapukan speroidal yaitu batuan lapuk secara bertahap dari arah luar,
menghasilkan kesan berlapis ke arah dalam batuan pelapukan kurang
intensif. Pada pelapukan speroidal ini dihasilkan bongkah batuan
membulat, mirip seperti batuan hasil proses pengangkutan air sungai dari
hulu ke hilir dari batuan menyudut menjadi batuan yang membulat.
Kenampakan bekas longsoran dapat diamati dari bentuk cekung secara
setempat-setempat, berbentuk seperti sendok. Pengolahan lahan dengan
bentuk teras yang tidak sejajar garis kontur dan permukaan lahan yang
tidak terbentuk tanah merupakan indikasi erosi yang sangat intensif, atau
konservasi tanah dan air sangat jelek.

Kunci:

Spheroidal weathering, Meander, Teras sungai, Gerak massa batuan,


Erosi, Konservasi tanah dan air

2.4.5. Bentanglahan Plato Selatan, Gunungkidul


Plato Selatan yang tersusun oleh Perbukitan Baturagung, Ledok
Wonosari, dan Pegunungan Sewu merupakan bentanglahan yang unik.
Pembentukan Plato Selatan diawali pengangkatan dataran pada daerah
aliran Kali Oyo yang bermeander. Dalam pengangkatan, Kali Oyo masih
tetap bermeander, karena erosi pada dasar lembah dapat mengimbangi
pengangkatan. Kasus yang sama, aliran Bengawan Solo yang semula
bermuara di Samudra Hindia, yaitu di Sadeng, erosi dasar sungai tidak
dapat mengimbangi pengangkatan, sehingga terbentuk Bengawan Solo
sekarang yang berbalik aliran dan bermuara di Ujung Pangkah, Gresik.
Pembentukan Plato Selatan juga menyebabkan terjadinya sesar yang cukup
panjang, memisahkan dataran dan Perbukitan Selatan dan membentuk
gawir.
Pegunungan Sewu yang berbatuan gamping mengalami proses
pelarutan sehingga terbentuk kubah karst (Gambar 3.11), doline (Gambar
3.12), uvala, polye, stalaktit, stalakmit, gua karst, dan dataran aluvial karst.
Sungai bawah tanah, sering nampak pada luweng, yaitu dolin dengan

Fakultas Geografi UGM

57

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

lubang tegak, langsung masuk kedalam sungai bawah tanah, merupakan


sumberair potensial di daerah karst, selain mataair kontak antara
batugamping dengan batuan lain yang kedap air.

Kunci:

Karst, Cockpit, Dolin, Uvala, Polye, Stalakmit, Stalaktit, Sungai bawah


tanah, Genesa sungai

Gambar 3.11. Kenampakan Kerucut-kerucut Karst di Bedoyo


Kecamatan Ponjong, Gunungkidul
(Foto: Eko Haryono, 2001)

Gambar 3.12. Kenampakan Danau Doline di Gunungkidul


(Foto: Langgeng W.S., 2004)
Fakultas Geografi UGM

58

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

2.4.6. Daerah Tangkapan Hujan Waduk Wonogiri


Waduk Wonogiri dibangun untuk mengurangi banjir yang sering
terjadi di daerah hilir, antara lain Kota Solo, Sragen Cepu dan Bojonegoro
(Gambar 3.13). Selain untuk pengendalian banjir digunakan untuk irigasi
dan pembangkit listrik serta obyek wisata. Daerah tangkapan hujan Waduk
Wonogiri berbatuan gamping di bagian atas, sedangkan di bawahnya napal,
batupasir dan breksi, yang banyak mengandung kwarsa. Ini menandakan
gunungapi tersier yang pernah tertutup oleh batugamping Formasi
Wonosari, dan sekarang telah tersingkap banyak mengandung pasir kwarsa,
atau dapat dikatakan sebagai gunungapi mendekati asam. Erosi dan gerak
massa batuan banyak terjadi pada daerah tangkapan hujan, sehingga
banyak hasil proses erosi diangkut oleh sungai masuk Waduk Wonogiri,
mengakibatkan terjadinya sedimentasi pada waduk.

Gambar 3.13. Kenampakan Perairan Waduk Wonogiri


(Foto: Luthfi Mutaali, 2002)

Waduk yang direncanakan dapat berfungsi 100 tahun, mulai 1975,


sekarang sudah banyak terjadi pengendapan. Pemanfaatan waduk untuk
wisata dan JAKAPUNG (jala keramba terapung) (Gambar 3.14), perlu
mendapat perhatian, karena disamping memberikan lapangan pekerjaan

Fakultas Geografi UGM

59

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

dan sebagai tempat rekreasi, limbah pakan ikan dan limbah wisata dapat
memberikan dampak negatif di lingkungan waduk.

Kunci:

Catchment area, Watershed, Water devide, Daerah aliran sungai, Water


level, Water gap, Waterfall

Gambar 3.14. Jakapung dan Warung Terapung di Waduk


Wonogiri (Foto: Luthfi Mutaali, 2002)

2.4.7. Bentanglahan Peralihan Plato Selatan dengan Bentanglahan


Volkanik Lawu di Krisak, Wonogiri
Terbentuk akibat pengangkatan yang membentuk Plato Selatan,
sedangkan bagian utara tidak ikut terangkat, sehingga mengalami
persesaran membentuk gawir. Pelapukan, erosi dan gerak massa batuan
pada gawir menyebabkan terjadi pemunduran gawir. Batuan yang tidak
resisten akan lebih cepat mengalami pemunduran lereng, sedangkan batuan
yang resisten pemunduran lereng sangat lambat. Akibatnya jika batuan
resisten terletak pada lapisan atas dan batuan yang tidak sesisten berada di
bawah, maka dapat terbentuk lereng menggantung, selanjutnya akan
runtuh dan membentuk lereng dengan bongkahan batu pada bagian lereng

Fakultas Geografi UGM

60

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

bawah. Sebaliknya jika batuan resisten terletak dibawah, maka lereng


bagian atas akan lebih cepat mengalami pemunduran, dan akan
membentuk lereng yang kurang terjal. Kenampakan yang banyak
ditemukan pada bentanglahan peralihan antara Plato Selatan dengan
Bentanglahan Merapi adalah intrusi volkan Tersier (Gambar 3.15), kerucut
aluvial, kipas aluvial, dan dataran aluvial.

Kunci:

Dataran aluvial, Pengendalian banjir, Pasir kwarsa, Bentukan volkan


Tersier, Intrusi diorit

Gambar 3.15. Kenampakan Bukit Intrusi Diorit dan Dataran


Aluvial (Foto: Langgeng W.S., 2002)

2.4.8. Bentanglahan Kubah Sangiran, Sragen


Struktur lipatan yang memiliki kemiringan perlapisan batuan ke
segala arah dinamakan kubah. Kubah Sangiran terbentuk oleh proses
diapirisme. Perbedaan resistensi lapisan batuan terhadap proses pelapukan,
dan pengikisan mengakibatkan terbentuknya igir minoklinal dan lembah
monoklinal dengan pola melingkar, sungai konsekuen, obsekuen, resekuen
dan insekuen. Kenampakan ini akan jelas jika dilihat pada foto udara

Fakultas Geografi UGM

61

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

dibawah stereoskop, atau kenampakan pada peta topografi atau peta rupa
bumi. Kenampakan di lapangan dapat diketahui dengan rekonstruksi
struktur perlapisan batuan (Gambar 3.16), yaitu dengan mengukur arah
dan besarnya dip-strike perlapisan batuan. Penamaan sungai dan lembah
didasarkan pada struktur perlapisan batuan. Sungai konsekuen pada kubah
sering ada yang menyebut sebagai sungai anteseden, padahal sungai
anteseden adalah sungai yang dapat mempertahankan alirannya walaupun
terjadi pangangkatan pada sebagian aliran sungai tersebut, sehingga
penamaan ini perlu dipertimbangkan.

Gambar 3.16. Salah Satu Fenomena Formasi Pucangan di


Sangiran (Foto: Langgeng W.S., 2002)

Sangiran sangat dikenal karena menyimpan banyak misteri geologi


dan botani yang banyak ditemukan di daerah tersebut. Penemuan gading
gadjah, gigi ikan hiu, tengkorak manusia purba, serta fosil binatang laut
yang lain. Biorama manusia purba ikut memberikan gambaran kehidupan
manusia purba yang alami. Musium Geologi Sangiran sangat tepat, dengan
menampilkan fosil tersebut. Kenampakan geologis dan geomorfologis tidak
dapat disajikan pada bangunan Musium, namun harus ke lapangan yang
lokasinya tersebar di sekitar bangunan Musium Geologi. Cindera mata,

Fakultas Geografi UGM

62

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

baik yang dipajang di Kompleks Musium, sedangkan perajin cindera mata


banyak diusahakan oleh masyarakat setempat.

Kunci:

Kubah (dome), Lipatan diapiris, Genesa sungai, Lembah melingkar, Igir


minoklinal, Lembah monoklinal, Sungai konsekuen, obsekuen, resekuen,
insekuen, dan anteseden

2.4.9. Bentanglahan Perbukitan Gundih, Purwodadi


Wilayah Gundih dengan relief berombak hingga bergelombang,
merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng, dengan penyusun batuan
berupa lempung, dalam kondisi basah banyak terjadi gerak massa batuan
tipe rayapan (Gambar 3.17), sehingga bentuk lereng tidak teratur. Formasi
Kalibeng berumur Pliosen Tengah - Pliosen Atas, merupakan endapan laut
dangkal, tersusun oleh napal, tuf, mengandung CaCO3, sebagai sisa-sisa
foraminifera endapan laut dangkal. Lapisan batuan dengan tekstur
lempung banyak mangandung CaCO3 ditemukan di daerah Gundih. Proses
kapiler terjadi akibat suhu tinggi di permukaan tanah, menyebabkan CaCO3
dalam bentuk larutan akan naik. Suhu tingggi ini terjadi pada Kala
Pleistosen, mirip dengan kondisi gurun. Naiknya larutan CaCO3 secara
kapiler kemudian diendapkan pada pori-pori batuan
bagian atas,
berbentuk seperti mawar yang disebut mawar gurun (desert rose).

Kunci:

Pembagian relief, Gerak massa batuan, Fosil foraminifera, Lempung,


Kapiler, Mawar gurun

2.4.10. Bentanglahan Lembah Lusi, Randublatung


Lembah Lusi terbentuk di antara Pegunungan Kendeng dengan
Perbukitan Rembang. Kandungan CaCO3 pada Perbukitan Rembang dari
satu tempat dengan tempat lain tidak sama, sehingga dihasilkan morfologi
mikro yang berbeda pula.

Fakultas Geografi UGM

63

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Gambar 3.17. Kenampakan Rayapan Tanah di Gundih


(Foto: Langgeng, 2005)

Pada batugamping dengan kandungan CaCO3 akan dihasilkan


bentukan asal proses solusional yang lengkap, sedangkan pada batuan
karbonat berpasir atau bergeluh akan dihasilkan bentukan yang tidak
sempurna, bahkan dapat tidak terbentuk bentukan asal proses solusional.
Kenampakan ketidak-sempurnaan bentukan asal proses solusional dapat
diamati pada Perbukitan Rembang mulai dari Sukolilo, Jatipohon hingga
Bulu - Blora, akan didapatkan bentukan asal proses solusional yang lebih
sempurna di bagian barat dibanding dengan di bagian timur. Bentukan
unik pada wilayah ini antara lain:
;
Igir monoklinal pada sayap antiklinal di Jatialit, Perbukitan
Rembang;
;
Mataair kontak antara batugamping di bagian atas dengan breksi di
bagian bawah, di Jati Pohon dan Jatialit, Perbukitan Rembang;
;
Teras marin di Perbukitan Rembang, Blora;
;
Letusan gas metan bersama lumpur di Bleduk Kuwu (Gambar 3.18),
dan tambang bleng di Jono (Gambar 3.19) keduanya di Lembah Lusi;
;
Teras dan tanggul sungai alami di hilir Kali Lusi; dan
;
Sawah dengan sistem surjan pada dataran aluvial di Lembah Lusi.

Fakultas Geografi UGM

64

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Kunci :

Struktur geologi, Bentukan solusional, Mataair kontak, Gas metan, Air


fosil, Tanggul sungai, Sistem surjan

Hamparan lumpur
mengandung air asin

Gambar 3.18. Kenampakan Bleduk Kuwu (Diapirisme)


(Foto: Langgeng W.S., 2000)

Gambar 3.19. Pembuatan Garam Bleng di Desa Jono


(Foto: Langgeng W.S., 2002)

Fakultas Geografi UGM

65

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

2.4.11. Bentanglahan Pantai Rembang


Pantai Rembang merupakan teluk yang dibentuk oleh Pantai Timur
Gunungapi Muria dengan Gunungapi Lasem (Gambar 3.20). Sebagian
besar sedimen pembentuk dataran Pantai Rembang

berasal dari Kali

Juwana yang bersifat lempungan yang mengalir dari Lembah Lusi, dan
sebagian lagi dari sungai-sungai yang berhulu di Perbukitan Rembang sisi
utara, serta hasil pengangkutan oleh arus sepanjang pantai, bersifat pasir
bergeluh. Rataan lumpur banyak terbentuk di Pantai Rembang bagian
barat. Pada rataan lumpur ini banyak diusahakan untuk tambak udang,
bandeng, tambak garam, dan sisanya untuk habitat bakau.

Gambar 3.20. Kenampakan Tambak Garam di Pantai


Rembang (Foto: Langgeng W.S., 2002)

Selain tambak yang diusahakan pada rataan lumpur, di Kabupaten


Rembang terdapat tambak air tawar. Tambak dibangun pada lahan rawa
yang tidak terpengaruh oleh air laut. Sebaran tambak air tawar terdapat
disepanjang jalan Rembang-Tuban. Bagian timur Pantai Rembang
bertekstur pasir kwarsa dan karang, banyak digunakan untuk permukiman,
kebun kelapa dan hanya sebagian kecil yang diusahakan untuk tambak.
Pasir kwarsa berasal dari lahan perbukitan, hasil erupsi gunungapi purba

Fakultas Geografi UGM

66

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

yang bersifat asam-intermedier, sedangkan pasir karang berasal dari


hancuran terumbu karang di perairan Lasem-Tuban, yang terangkut oleh
arus laut. Pada Bagian Timur Pantai Rembang, yaitu di daerah Binangun
pantai berubah menjadi pantai berbatu, berasal dari aliran lava purba
Gunungapi Lasem.

Kunci :

Pantai berlumpur, Pantai berpasir kwarsa, Pantai berbatu, Gunungapi


purba, Tambak udang, Tambak garam, Tambak air tawar

2.4.12. Bentanglahan Pantai Muria


Pantai Timur Gunungapi Muria
Kali Juwana bermuara di bagian timur Pantai Muria, banyak
mengangkut

sedimen

bertekstur

geluh-lempung,

yang

selanjutnya

membentuk pantai berlumpur pada sebagian besar Pantai Rembang.


Pengaruh Kali Juwana ini di Pantai Timur Gunungapi Muria bagian utara
semakin kecil. Ini dibuktikan oleh semakin berkurangnya rataan lumpur
kearah utara. Karena rataan lumpur medominasi Pantai Rembang dan
sebagian Pantai Juwana, maka tambak dapat berkembang dengan baik di
pantai tersebut. Sedimentasi yang terus meningkat sebagai akibat dari
pemanfaatan lahan perbukitan yang kurang memperhatikan kaidah
koservasi, diperkirakan kelestarian tambak akan terancam oleh semakin
dangkalnya perairan, selain ancaman yang berasal dari pencemaran air oleh
limbah industri. Kenampakan Pantai Timur Gunungapi Muria disajikan
dalam Gambar 3.21.

Fakultas Geografi UGM

67

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Gambar 3.21. Kenampakan Pantai Timur Gunungapi Muria


(Foto: Langgeng W.S., 2003)

Pantai Utara Gunungapi Muria


Bagian Utara Gunungapi Muria terdapat Gunungapi Genuk berumur
Pleistosen awal, sedangkan Gunungapi Muria Pleistosen Akhir. Baik
Gunung Patiayam maupun Gunungapi Genuk keduanya tertutup oleh
batugamping berumur Pliosen (Gambar 3.22). Ini menandakan bahwa
kedua gunung tersebut tumbuh di perairan laut. Dataran aluvial di Pantai
utara Gunungapi Muria sangat sempit dan yang relatif luas terdapat di
Pasokan, sebelah timur Gunungapi Genuk. Keberadaan Gunungapi Genuk
ini nampaknya ikut berpengaruh terhadap pembentukan dataran aluvial,
disamping abrasi arus laut yang kuat. Abrasi yang kuat di Pantai Utara
Gunungapi Muria ditemukan pada beberapa lokasi, namun karena sebagian
pantai terbentuk oleh endapan aliran lava, maka walaupun tenaga abrasi
kuat, cukup kuat, namun garis pantai tidak berubah, atau tidak terjadi
rekresi, seperti yang terjadi di Pantai Benteng Portugis.

Fakultas Geografi UGM

68

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Gambar 3.22. Kenampakan Gunungapi Genuk (Pliosen)


(Foto: Langgeng W.S., 2005)

Pantai Barat Gunungapi Muria


Pantai barat Gunungapi Muria dicirikan oleh beberapa punggungan
yang menjorok mendekati garis pantai, dengan ujung-ujungnya terisi oleh
dataran. Punggungan tersebut adalah endapan aliran lava Gunungapi
Muria, yang semula masuk perairan laut. Ini dibuktikan ditemukannya
aliran lava berstruktur bantal, seperti yang terdapat di Pantai Benteng
Portegis. Pembentukan dataran aluvial antar pungungan, pada awalnya
merupakan kantong lumpur yang terbentuk di antara endapan aliran lava
yang berurutan. Kantong lumpur ini semakin meluas, sehingga membentuk
dataran aluvial. Teras marin yang terdapat di Pantai Gunungapi Muria, baik
yang berada di bagian barat, utara dan timur membuktikan bahwa
permukaan air laut pernah mengalami penaikan dan penurunan dalam
periode panjang, sehingga sempat mengabrasisehingga terbentuk teras.
Bagian barat Pantai Gunungapi Muria, rataan lumpur kurang
berkembang, dibanding dengan bagian timur Pantai Gunungapi Muria. Ini
disebabkan oleh sedikitnya sungai yang bermuara dan sedimen yang

Fakultas Geografi UGM

69

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

diangkut bertekstur pasir. Oleh karena itu tambak kurang berkembang. Di


Pantai Jepara, yang dikenal dengan Pantai Kartini, sebelum tahun 1980
banyak diusahakan tambak bandeng, namun sekarang sudah sangat
berkurang, bahkan dapat dikatakan hampir punah. Kepunahan tambak di
Jepara dimungkinkan pengaruh pencemaran yang berasal dari industri,
limbah pelabuhan, atau limbah rumah tangga. Lahan yang semula
diusahakan tambak, sekarang sudah menjadi permukiman. Kasus yang
sama, yaitu punahnya tambak, atau semakin menurunnya produksi tambak
akibat pencemaran terdapat di Semarang, Gresik dan Teluk Banten, yang
diakibatkan oleh pencemaran limbah industri. Namun asumsi ini perlu
penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan data yang akurat.
Sedimentasi di Pantai Timur dan Pantai Barat Gunungapi Muria
terjadi secara intensif, namun pantai di sebelah selatan Kota Jepara, yaitu
Pantai Teluk Awur, sejak 30 tahun terakhir abrasi sangat kuat, berakibat
pada mundurnya garis pantai atau rekresi yang berakibat pada hilangnya
lahan pertanian, sebagian lahan permukiman dan jalan (Gambar 3.23 dan
Gambar 3.24). Dengan adanya abrasi tersebut, maka pada beberapa lokasi
dibangun pemecah gelombang, penahan arus dan penguatan dengan beton,
seperti yang terjadi di Kampus Fakultas Perikanan UNDIP di Jepara.

Kunci:

Skala waktu geologi, Pantai berpasir, Pantai berbatu, Lava bantal,


Rekresi, Akresi, Teras marin, Pocket beach, Sand pocket, Dataran aluvial,
Reklamasi, Pencemaran, limbah

Fakultas Geografi UGM

70

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Gambar 3.23. Kenampakan Bangunan Jeti Pemecah


Ombak di Pantai Jepara (Foto: Luthfi, 2003)

Gambar 3.24. Kenampakan Tembok Beton Pemecah Ombak


di Pantai Jepara (Foto: Luthfi, 2003)

Fakultas Geografi UGM

71

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

2.4.13. Bentanglahan Pantai Demak


Gunungapi Muria yang semula dipisahkan oleh perairan laut dengan
daratan Pulau Jawa, sekarang membentuk dataran aluvial yang sangat luas.
Ini disebabkan oleh adanya sedimentasi hebat yang berasal dari aktivitas
Gunungapi Muria, dan sedimen yang berasal dari Lembah Randublatung
yang diangkut oleh Kali Juwana, dan Kali Wulan, serta sedimen yang
diangkut oleh arus sepanjang pantai. Ditinjau dari sejarah pembentukan
dataran aluvial Demak-Kudus-Juwana, yang semula merupakan perairan
laut, maka wilayah tersebut mempunyai relief datar hingga berombak.
Hingga sekarang Wilayah Demak, Kudus, dan Juwana

sering dilanda

banjir. Penyebab utama banjir adalah daerah tangkapan hujan yang sangat
luas yang berasal dari Perbukitan Rembang, Kendeng dan Gunungapi
Muria cukup besar dan mengalir pada dataran, sehinga aliran tidak dapat
lancar, mengakibatkan banjir atau genangan.
Kali Wulan merupakan sungai utama yang bermuara di

Pantai

Demak, mengalir dari wilayah Pegunungan Kendeng, banyak mengangkut


sedimen bersifat geluh-lempungan. Sedimen ini sebagian besar diendapkan
di muara membentuk rataan Lumpur dan delta yang sangat luas. Berbagai
jenis bakau masih ditemukan di perairan pantai Demak, terutama lahan
yang berhubungan langsung dengan perairan laut. Bakau ini berfungsi
untuk penahan gelombang, agar tidak terjadi abrasi, tempat pemijahan
ikan, dan mempercepat sedimentasi.
Proses pembentukan delta dan rataan lumpur sudah berlangsung
ribuan tahun, sehingga sebagian delta dan rataan lumpur ini sudah jauh
dari garis pantai sekarang. Masyarakat memanfaatkan rataan lumpur dan
delta untuk permukiman, pertanian, dan tambak. Permukiman dan
pertanian

menempati lahan yang sudah jarang terkena banjir atau

genangan, sedangkan tambak menempati lahan yang masih terjangkau


pasang-surut air laut. Tambak dibedakan menjadi tambak udang, bandeng
dan tambak garam, sepert di Rembang. Pada lahan tambak yang relatif
kurang terjangkau air laut, penduduk menggunakan pompa atau kincir
angin untuk menaikan air ke lahan tambak. Jalur transportasi pada

Fakultas Geografi UGM

72

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

sebagian besar wilayah tambak masih berupa jalan tanah yang hanya dapat
dilalui kendaraan roda 4 pada musim kemarau, dan hanya kendaraan yang
beroperasi pada tambak yang melewatinya. Kendaraan umum masih sangat
jarang, bahkan pada jalur tertentu perahu kecil masih digunakan untuk
lalulintas sungai.

Kunci:

Delta rataan lumpur, Mangrove, Tambak, Pasang surut, Kincir angin

2.4.14. Bentanglahan Teluk Semarang


Pantai Semarang terletak pada Teluk Semarang, dibentuk oleh Delta
Bodri di bagian barat, sedangkan di bagian timur oleh Delta Wulan dan
Pantai Barat Gunungapi Muria. Dataran Aluvial Pantai Semarang bagian
selatan berbatasan dengan Perbukitan Candi, sedangkan

bagian timur,

merupakan kelanjutan dataran aluvial Demak - Kudus. Oleh karena itu


diperkirakan bahwa garis pantai purba pada bentanglahan Pantai Semarang
terdapat pada peralihan antara Perbukitan Candi (Gambar 3.25) dengan
dataran aluvial pantai, sehingga dataran aluvial Pantai Semarang
merupakan perairan laut, kelanjutan dari perairan antara Gunungapi Muria
dengan Perbukitan Rembang.
Perbukitan Candi yang merupakan kelanjutan Kaki Gunungapi Ungaran
semula membentuk lereng terjal, namun perkembangan selanjutnya oleh
proses geomorfologi, yang berupa pelapukan erosi dan gerak massa batuan,
terjadi perubahan morfologi lereng. Perubahan tersebut antara lain:
keterjalan lereng berkurang, terbentuk kerucut aluvial dan kipas aluvial
pada peralihan antara dataran aluvial dengan lereng Perbukitan Candi.

Fakultas Geografi UGM

73

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Aliran sungai berasal dari lereng Gunungapi Ungaran banyak


semngangkut sediment, yang kemudian diendapkan pada peraian Teluk
Semarang, mengakibatkan pendangkalan, bahkan peraian Teluk Semarang
berubah menjadi daratan, serta terbentuknya alur sungai. Pasang surut air
laut sering menyebabkan terganggunya aliran sungai, sehingga terjadi
sedimentasi.pada perairan oleh pengaruih pasang surut tersebut. Akibatnya
pada beberapa lokasi terjadi penggenangan, membentuk rawa-rawa air
payau (Gambar 3.26).

Perkembangan selanjutnya pemanfaatan lahan

semakin intensif, sehingga beberapa rawa, baik yang berada di kota


maupun yang pernah dimanfaatka untuk tambak dilakukan reklamasi
untuk permukiman. Reklamasi ini menyebabkan hilangnya tempat
penampungan air hujan, sehingga berakibat banjir ata genangan meluas.

Kunci:

Garis pantai, Kerucut aluvial, Kipas aluvial, Dataran aluvial, Rawa,


Reklamasi pantai, Perubaha penggunaan lahan, Banjir

Fakultas Geografi UGM

74

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Gambar 3.26. Rawa-rawa Air Payau di Sekitar Kota


Semarang (Foto: Langgeng W.S., 2003)

2.4.15. Bentanglahan Rawa Pening, Ambarawa


Rawa Pening (Gambar 3.27) terletak pada cekungan yang terbentuk
oleh Gunungapi Ungaran, Telomoyo, dan Merbabu. Sungai yang bermuara
di Rawa Pening antara lain: Sungai Rengas, Panjang, Torong, Galeh, Lagi,
Parat, Sraten, dan Sungai Kedung Ringin. Pembangkit Listrik Tenaga Air
(PLTA) di Jawa Tengah yang pertama kali dibangun di Tuntang-Ambarawa,
menggunakan air Rawa Pening yang dialirkan melalui Kali Tuntang.
Dipilihnya Tuntang sebagai lokasi PLTA, karena: curah hujan cukup tinggi,
terletak pada ketinggian kurang lebih 800 meter dpal, batuan dasar
kompak berupa aliran lava, relatif dekat dengan konsumen listrik.
Pada waktu PLTA Tuntang dibangun diperkirakan daerah tangkapan
hujan Rawa Pening masih dalam kondisi sangat baik, erosi dan gerak massa
batuan rendah, karena sebagian besar masih tertutup hutan.

Namun

karena jumlah penduduk semakin meningkat, maka diikuti oleh kebutuhan


lahan yang meningkat pula. Akibatnya lahan daerah tangkapan hujan Rawa
Pening telah berubah menjadi kawasan permukiman dan lahan pertanian.
Perubahan lahan hutan menjadi lahan pertanian dan permukiman,

Fakultas Geografi UGM

75

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

berdampak pada erosi dan gerak massa batuan pada lereng perbukitan dan
pegunungan meningkat, yang selanjutnya berpengaruh pada meningkatnya
sedimentasi pada Rawa Pening, sehingga terjadi pendangkalan.

Gambar 3.27. Kenampakan Rawa Pening di Ambarawa


(Foto: Langgeng W.S., 2005)

Pendangkalan Rawa Pening dipercepat oleh adanya enceng gondok


yang berkembang pesat, enceng gondok yang mati terus bertambah dan
menumpuk pada dasar rawa bersama sedimen dan ikut mempercepat
proses pendangkalan, yang akhirnya tampungan air menurun dan
mengancam kelestarian PLTA Tuntang. Akibat pendangkalan bukan hanya
mengancam kelestarian PLTA tuntang, namun lahan perikanan semakin
sempit, walaupun muncul lahan usaha baru yaitu penambangan humus
enceng gondok , sebagai bahan pembuat rabuk.
Kunci:

PLTA, Daerah tangkapan hujan, Sedimentasi, Perikanan, Enceng gondok,


Humus, Lapangan kerja baru

Fakultas Geografi UGM

76

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

2.4.16. Bentanglahan Perbukitan Menoreh-Borobudur


Candi Borobudur merupakan salah satu Candi Budha yang sangat
dikenal di dunia, dan menjadi salah satu Pusat Budaya di Jawa. Ini
dibuktikan oleh bangunan candi dengan pintu masuk dari ke 4 (empat)
arah, yaitu: utara, selatan, timur dan barat. Ditinjau dari sudut pandang
Ilmu Geografi, pembangunan Candi Borobudur yang dilakukan pada Abad
VII merupakan hasil budaya yang sangat tinggi nilainya, sehingga perlu
dilestarikan keberadaannya. Selain keberadaan Candi Borobudur yang
sangat strategis, namun perlu diperhatikan pengaruh aktivitasnya yang
sering mengeluarkan gas belerang yang dapat mempercepat lapuknya
batuan yang digunakan untuk membangun candi.
Bentanglahan Borobudur dan sekitarnya (Gambar 3.28), di bagian
selatan merupakan Perbukitan Kulonprogo, yang membentuk lereng
perbukitan terjal, sedangkan

bagian barat merupakan kelanjutan

Perbukitan Kulonprogo berbentuk melengkung ke utara bertemu dengan


lereng kaki Gunungapi Sumbing. Di bagian utara merupakan bentangan
dataran aluvial yang dibentuk oleh Gunungapi Sumbing dan Gunungapi
Merbabu, sedangkan di Bagian Timur merupakan dataran aluvial yang
dibentuk oleh Gunungapi Merbabu dan Merapi, dengan Kali Progo
mengalir pada dataran aluvial tersebut. Secara geomorfologis Kota
Magelang terletak pada celah yang dibentuk oleh Gunungapi Sumbing dan
Gunungapi Merbabu, dilalui oleh Kali Progo.
Secara garis besar, Wilayah Borobudur terletak pada cekungan, yang
dibentuk oleh Perbukitan Kulonprogo, Gunungapi Sumbing, Merbabu dan
Gunungapi Merapi. Ditinjau dari pola fisiografi, Perbukitan Kulon Progo
bagian timur menjorok ke Kali Progo, sedangkan di bagian timur terdapat
Gunungapi Merapi, yang mendesak ke arah barat dan tertahan oleh
Pegunungan Kulonprogo (Bemmelen, 1970). Dengan demikian nampaknya
wilayah Borobudur pernah terbendung, membentuk perairan. Asumsi ini
didukung oleh kenampakan Kali Progo yang membentuk meander antara
Bojong dengan pertemuan Kali Pabelan, serta adanya endapan rawa yang
terdapat pada dataran aluvial di sebelah utara Komleks Candi Borobudur.

Fakultas Geografi UGM

77

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Dalam mempelajari geomorfologi sering diperlukan toponimi, yaitu


penamaan

yang

berkaitan

dengan

kondisi

lokasi

tersebut.

Pada

bentanglahan Borobudur antara lain: Tuksongo, Sabrangrowo, Paripurno,


Kedungupit, Candirejo, Sumberarum, Kebonagung, Girirejo, Pringapus.
Untuk mengungkap arti nama tersebut perlu mengetahui bahas setempat,
baik yang berlaku sekarang maupun bahasa kuno.

Gambar 3.28. Kenampakan Bentanglahan Candi


Borobudur (Foto: Luthfi Mutaali, 2003)

Pemilihan lokasi Candi Borobudur sudah mempertimbangkan


berbagai bidang ilmu, khususnya ilmu Geografi, dengan pendekatan:
keruangan, temporal dan kompleks wilayah. Pendekatan tersebut tercermin
pada:
;

Posisi pada Pulau Jawa, terletak di Pusat Pulau Jawa;

Fisiografi, yaitu terletak pada cekungan yang dibatasi beberapa


gunungapi;

Bentuklahan, pada kipas aluvial yang tidak pernah kekurangan atau


kelebihan air;

Fakultas Geografi UGM

78

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Hidrologi, ketersediaan air tanah dan air permukaan, karena adanya


hujan orogafis, yang sebagian besar masuk daerah Aliran Kali Progo,
tempat keberadaan candi Borobudur batuan volkanis yang mampu
menyimpan dan memberikan air berkualitas baik;

Potensi lahan pertanian yang tinggi, karena sebagian besar wilayah


merupakan dataran aluvial gunungapi yang subur dan cukup air;

Bebas dari bahaya alami yang berupa: banjir, longsoran dan bahaya
yang berasal dari Gunungapi Merapi; dan

Pengembangan untuk masa mendatang masih sangat memungkinkan, karena ketersediaan lahan, dan aksesibilitas yang sangat baik.

Kunci:

Bentang budaya, Bentuklahan volkanis, Bahaya alami, Bentuklahan


strutural, Meander, Toponimi

2.4.17. Penambangan Pasir Gunungapi Merapi


Gunungapi Merapi merupakan gunungapi yang paling aktif di dunia
dengan periode letusan 5-7 tahun. Erupsi dengan ciri khas, yaitu:
mengeluarkan

awan

panas,

piroklastis,

dengan

letusan

berbentuk

cendawan. Masyarakat setempat menamakan awan panas atau nues

ardente disebut pula wedus gembel, karena bentuknya mirip dengan bulu
kambing gembel. Sebaran letusan yang berupa piroklastis, yang terdiri dari
frakmen batuan dari debu hingga bongkah akan tersebar di sekeliling
lubang kepundan. Semakin jauh sebaran piroklastis semakin halus, dan
sebaliknya semakin dekat semakin besar. Debu akan tersebar sangat jauh,
tergantung dari musim dan kecepatan angin. Piroklastis yang keluar dari
perut bumi tidak seluruhnya terlempar jauh dari lubang kepundan, namun
ada sebagian yang menumpuk didekatnya, membentuk kubah lava. Kubah
lava ini bagian dalam masih sangat panas, walaupun bagian permukaan
sudah relatif dingin. Guguran kubah lava akan menyebabkan timbulnya
awan panas, karena di dalam kubah lava suhunya masih sangat tinggi.

Fakultas Geografi UGM

79

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Guguran kubah lava ini dapat disebabkan oleh gempa, atau hujan yang
mampu merubah kestabilan kubah lava tersebut.
Morfologi puncak Gunungapi Merapi sangat menentukan arah aliran
lahar dan piroklastis. Bentuk kawah yang menyerupai tapal, kuda yang
terbuka ke barat-barat daya, menyebabkan hampir semua aliran piroklastis
melalui celah tersebut, begitu lokasi terbentuknya kubah lava. Oleh karena
itu hampir semua bencana yang diakibatkan oleh awan panas, aliran
piroklastis, dan lahar hujan, ke arah barat-barat daya, yaitu: masuk Kali
Krasak, Putih (Gambar 3.29), Blongkeng, dan Kali Senowo. Lahar tidak
pernah terjadi ke arah timur, sedangkan ke arah selatan pernah terjadi
masuk Kali Woro, dan diperkirakan terjadi pada Jaman Mataram Kuno,
yaitu letusan tahun 1006, yang mengakibatkan sebagian besar lereng
Gunungapi Merapi bagian barat dan selatan ditimpa hujan abu yang amat
lebat, sehingga air sungai mengalir bagaikan lahar hujan.

Gambar 3.29. Maraknya Penambangan Sirtu Aliran Merapi


hingga tebing sungai pun tak luput dari kegiatan
penambangan (Foto: Widiyanto, 2000)

Erupsi Gunungapi Merapi selain memuntahkan piroklastis dan gas,


ternyata memuntahkan lava pijar dan terlempar ke angkasa masih dalam

Fakultas Geografi UGM

80

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

kondisi gembur, dan memadat secara perlahan-lahan pada waktu jatuh


bebas. Kejadian ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya bongkah yang
menyerupai bom, yaitu tumpul pada satu ujung dan ujung yang lain
berbentuk ekor seperti bom. Oleh karena itu batuan berbentuk demikian
disebut bom volkanis. Sebaran bom volkanis ini dapat digunakan untuk
melacak besarnya letusan pada masa lampau.
Berbagai bahaya dan bencana terdapat pada gunungapi aktif seperti
Gunungapi Merapi. Aliran awan panas yang mematikan, lahar hujan yang
dapat melanda lahan pertanian dan permukiman telah menelan korban
yang tidak sedikit. Hujan abu, selain menimbulkan radang mata, gangguan
pernapasan, berakibat pula pada gagalnya panen akibat tanaman tetutup
abu volkanis. Perairan menjadi keruh, kekurangan air bersih menambah
lengkapnya bencana di daerah gunungapi.

Berbagai cara untuk

mengantisipasi datangnya bencana telah dilakukan oleh berbagai pihak,


sehingga dapat mengurangi kurban.
Pembangunan bendung pengendali atau ceckdam, tanggul sungai,
dan kantong lahar telah dibangun oleh pemerintah, sejak tahun 1969
dengan sistem SABO (Gambar 3.30), sebagai hasil kerjasama dengan
Pemerintah Jepang. Pengendalian sedimen hingga tahun 1980 sudah
banyak dilakukan, dan hasilnya sedimen sudah mulai terkendali. Namun
sejak tahun 1980, terjadi penambangan pasir di sungai, kantong lahar,
maupun tebing sungai. Penambangan ini terus meningkat sejak tahun 1990
dan tahun 2000 sudah sangat luar biasa aktivitas penambangannya,
sehingga pasokan sedimen dari dalam bumi lebih kecil dibanding dengan
yang ditambang.

Fakultas Geografi UGM

81

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Gambar 3.30. Bangunan SABO Kantong-kantong Pasir


di Sungai Putih (Foto: Widiyanto, 2000)

Akibat penambangan ini banyak terjadi kerusakan pada bangunan


pengendali sedimen, yaitu: tanggul longsor, check dam menggantung,
jembatan ambles, dan tebing sungai longsor. Pada waktu mendatang
kemungkinan bahaya lahar akan semakin besar. Saluran sungai semakin
dalam dan lebar, check dam tidak berfungsi, maka jika terjadi guguran
kubah lava yang disertai hujan lebat akan menyebabkan timbulnya lahar
hujan yang hebat, baik besarannya maupun tingkat kerusakannya.

Kunci : Kubah lava, Awan panas, Hujan orografis, Lahar hujan, Bangunan
pengendali sedimen, Penambangan, Dampak penambangan

Fakultas Geografi UGM

82

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

BAB 4

4.1. Penetuan Posisi dan Penelusuran Jalur dengan Peta dan GPS
Untuk dapat mengetahui posisi lokasi pengamatan di lapangan,
diperlukan peralatan yang terdiri atas: GPS (Global Posisioning System)
dan Peta Topografi atau Peta Rupa Bumi. Alat GPS dapat dipakai untuk
menelusur jalur perjalanan, sedangkan GPS akan merekam posisi suatu
tempat atas bantuan satelit yang mengorbit, yang kemudian memberikan
sinyal untuk menentukan koordinat di lapangan. Untuk GPS tipe Garmin,
seperti yang banyak digunakan untuk menentukan koordinat yang terekam
dapat berupa koordinat geografis, yaitu letak lintang dan bujur atau
koordinat UTM (Universal Transverse Mercator). Koordinat geografis yang

Fakultas Geografi UGM

83

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

terekam sebagai contoh: 49M S 074330 dan E 1092330, setelah dilihat


pada Peta Topografi adalah Muara Sungai Ijo di Pantai Ayah, Kebumen,
artinya bahwa secara geografis lokasi tersebut termasuk dalam ona 49M
dan terletak pada koordinat 074330 Lintang Selatan dan 1092330
Bujur Timur. Apabila ditransfer ke sistem UTM, maka lokasi tersebut akan
berubah menjadi: 49M 9145088 mU arah sumbu y di peta, dan 0322078
mT arah sumbu x di peta.
Peta Topografi merupakan peta yang menggambarkan kondisi
morfologi atau medan, yang ditunjukkan oleh pola dan kerapatan garis
kontur. Garis kontur merupakan garis yang menghubungkan titik-titik di
permukaan bumi yang mempunyai ketinggian relatif sama. Berdasarkan
pola dan kerapatan kontur tersebut, maka topografi di permukaan bumi
dapat diidentifikasi, misalnya: puncak gunungapi, perbukitan, igir
perbukitan, lembah sungai, dan dataran. Informasi lain yang disajikan
dalam Peta Topografi adalah: alur sungai, cabangnya, jalan, jalan kereta
api, titik trianggulasi, puncak-puncak bukit atau gunung, dan area khusus,
misalnya pelabuhan. Peta ini merupakan peta hasil peninggalan Belanda,
dan relatif masih baik untuk dimanfaatkan.
Pada akhir-akhir ini telah diterbitkan peta baru yang lebih informatif
dan berwarna, yang disebut dengan Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI). Peta
ini diterbitkan oleh Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional
(BAKOSURTANAL),

Jakarta,

yang

merupakan

hasil

analisis

dan

pengolahan data secara digital antara Peta Topografi yang lama dengan
Foto Udara atau Citra Penginderaan Jauh. Untuk seluruh Pulau Jawa telah
diterbitkan Peta RBI, dengan skala terbesar 1:25.000, sedangkan luar Jawa
skala terbesar 1:50.000. Kelebihan peta ini dibanding dengan Peta
Topografi, bahwa di samping informasi yang ada dalam Peta Topografi,
peta RBI juga telah menunjukkan tipe dan sebaran penggunaan lahan, yang
disimbulkan dengan area berwarna, informasi tempat-tempat penting,
misalnya perkantoran dan potensi sumberdaya alam penting, misalnya:
perkebunan, industri, pertambang-an, dan sebagainya.

Fakultas Geografi UGM

84

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Hasil perekaman posisi lokasi di lapangan dengan menggunakan GPS


kemudian digambarkan ke dalam Peta Rupa Bumi, sehingga didapatkan
letak dan gambaran lingkungan

pengamatan. Berdasarkan lokasi yang

digambarkan tersebut, maka di samping diketahui informasi posisi


koordinat juga dapat diketahui letak administrasi, sampai tingkat desa atau
dusun, nama jalan, nama sungai, ketinggian tempat, topografi atau relief,
dan jenis penggunaan lahan.

4.2. Kunci Pengenalan Komponen Fisik


Komponen fisik lahan merupakan aspek penting dalam rangka
mengkaji bentanglahan. Observasi ini didasarkan pada satuan pemetaan
bentuklahan. Indikator kunci bentanglahan dapat dikelompokkan ke dalam
4 aspek utama, yaitu: aspek bentuklahan (morfologi, struktur, dan proses),
jenis batuan, tanah, air, dan flora-fauna. Indikator kunci tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut ini.
(a)

Indikator kunci aspek geomorfologi dengan penekanan utama pada


aspek bentuklahan. Identifikasi bentuklahan mendasarkan kepada
indikator relief atau topografi, struktur, batuan, dan proses.
Berdasarkan indikator tersebut dan asal proses utama, maka terdapat
10 satuan bentuklahan, yaitu: bentuklahan asal proses struktural (S),
asal proses volkanik (V), asal proses fluvial (F), asal proses marine
(M), asal proses glasiasi (G), asal proses aeolian (E), asal proses
solusional (K), asal proses organik (O), asal proses denudasional (D),
dan asal proses antropogenik (A).
Permukaan bumi mempunyai sifat dan watak yang tidak seragam.
Ketidakseragam ini disebabkan oleh perbedaan relief, struktur dan
batuan, serta proses yang bekerja pada waktu pembentukannya
maupun setelah terbentuk. Perbedaan relief antara satu tempat
dengan tempat yang lain didasarkan pada beda tinggi dan sudut
kemiringan lereng, seperti disajikan pada Tabel 4.1.

Fakultas Geografi UGM

85

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Tabel 4.1. Tipe Relief, Sudut Lereng dan Beda Tinggi


Tipe Relief

Sudut Lereng (%)

Beda Tinggi (m)

Datar

0-2

<5

Berombak

3-7

5 - 25

Bergelombang

8 - 13

26 - 75

Berbukit

14 - 20

76 - 200

Bergunung

21 - 55

201 - 500

Bergunung curam

56 - 140

501 - 1000

Bergunung terjal

> 140

> 1000

Sumber: Zuidam dan Zuidam Cancelado (1979)

Struktur dan/atau batuan merupakan parameter kedua dalam


menentukan bentuklahan. Struktur dibedakan menjadi struktur:
horizontal, kubah, lipatan, patahan, volkan, dan kompleks, yang
sering disebut sebagai bentukan konstruksional. Klasifikasi struktur
dapat dilihat dalam Tabel 4.2. Struktur geomorfologi dicerminkan
dari kenampakan morfologi misalnya : struktur datar untuk dataran,
struktur

lipatan

atau

patahan

untuk

perbukitan

struktural,

(perbukitan monoklinal, homoklinal, igir antiklinal, lembah sinklinal,


dome, dan perbukitan blok patahan). Untuk menentukan arah
perlapisan batuan atau bidang patahan pada fenomena struktural,
maka perlu diukur dip-strike nya.
Selain struktur, batuan pembentuk bentuklahan sering digunakan
juga untuk penamaan satuan bentuklahan, misalnya: breksi aliran,
batuan karbonat, batupasir bergamping atau batugamping koral.
Jenis batuan sebagai salah satu parameter geologi merupakan aspek
penting dalam kajian geomorfologi, karena terkait dengan mudah
tidaknya batuan mengalami pelapukan, yang juga sangat menentukan
tingkat atau besaran proses geomorfologi yang terjadi berikutnya
serta pembentukan tanahnya.

Fakultas Geografi UGM

86

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Tabel 4.2. Klasifikasi Bentukan Konstruksional


Struktur
Geologi

Topografi

Bentuklahan

Horisontal

Rendah
Tinggi

Dataran
Plato

Kubah

Tinggi

Pegunungan Dome

Lipatan

Tinggi

Patahan

Tinggi
Tinggi

Volkan

Kompleks

Rendah

Tinggi

Pegunungan Lipatan
(antiklinal, sinklinal, monoklinal,
homoklinal)
Pegunungan Blok Patahan
(graben, patahan bertingkat, patahan
normal, patahan membalik, patahan
diagonal, patahan horizontal)
Bentukan Gunungapi
(kubah lava, medan lahar, medan lava)
Bentukan intrusif
(batolit, lakolit, neck, dyke)
Pegunungan Kompleks
(terdapat lebih dari satu struktur geologi
yang tidak dapat dipisahkan)

Sumber: Lobeck (1939)

Bentukan konstrusional setelah mengalami proses lanjutan oleh


tenaga-tenaga eksogen, seperti: pelapukan, aliran air sungai,
gelombang, arus laut, angin, dan organisme, akan mengalami
perubahan, sesuai dengan tingkat proses yang bekerja. Bentukan ini
disebut bentukan destruksional, seperti disajikan pada Tabel 4.3.
Proses geomorfologi dari suatu bentanglahan dapat dikenali melalui
pengamatan fenomena berupa: pelapukan, gerak massa batuan,
erosional, deposisional, dan residual. Khusus di wilayah pesisir juga
dijelaskan fenomena-fenomena oseanografi. Proses geomorfologi
dapat memberikan gambaran bentuk-bentuk proses geomorfologis
yang terjadi, tingkat atau besaran proses, dan luas daerah
pengaruhnya, hal ini terkait dengan teknik penanggulangan atau
mitigasi dan konservasi lahan.

Fakultas Geografi UGM

87

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Tabel 4.3. Klasifikasi Bentukan Destruksional


Tenaga

Erosional

Pelapukan

Lubang tikus,
Kelinci, semut
Gua karst

Aliran sungai

Lembah sungai

Gelombang

Gua pantai

Angin

Celah angin

Organisme

Bekas jejak hewan

Antropogenik

Pemenggalan
lereng

Residual
Perbukitan
eksfoleasi
Bukit sisa
Igir,
punggungan
Tebing terjal

Deposisional
Endapan kerikil
berbentuk kerucut

(tallus cone)

Platforms

Gosong sungai
Delta
Betinggisik
Gisik

Batu jamur

Gumuk pasir

?
Lereng
terpotong

Terumbu karang

Ant hills
Lereng urugan

Sumber: Lobeck (1939)

Berdasarkan tenaga pembentuknya dapat dibedakan menjadi 2, yaitu


tenaga endogen dan tenaga eksogen, sedangkan secara rinci genesa
bentuklahan dapat dibedakan menjadi bentuklahan asal proses:
struktural, volkanis, fluvial, marin, solusional, denudasional, eolin,
organik, dan antropogenik, seperti disajikan pada Tabel 4.4.
Pembarian nama satuan bentuklahan harus mengandung unsur: relief
atau kesan topografi, struktur atau batuan dan proses yang
membentuk bentuklahan tersebut. Sebagai contoh: Bentuklahan
Perbukitan lipatan terkikis kuat, Perbukitan monoklinal terkikis
sedang, Perbukitan denudasional berbatuan andesit, Perbukitan
berbatuan breksi terkikis sedang, Perbukitan karst, Gunungapi,
Kubah lava, Dataran aluvial atau Tanggul sungai. Berbagai
karakteristik satuan bentuklahan berdasarkan genesanya disajikan
pada Tabel 4.5. sampai 4.12.

Fakultas Geografi UGM

88

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Tabel 4.4. Bentuklahan Berdasarkan Genesa


Tenaga

Genesa Bentuklahan

Gelombang atau
Arus laut

Pegunungan lipatan terdenudasi


Pegunungan blok berbatuan breksi
terdenudasi
Pegunungan dome terkikis kuat
Gunungapi
Kawah, Danau kawah, Kaldera, Danau
kaldera, Kubah lava, Medan lava,
Medan lahar, dan lain-lain
Teras deposisional, Kerucut aluvial,
Kipas aluvial, Tanggul sungai, Gosong
sungai, Dataran aluvial, Datarn banjir,
Rawa belakang
Teras marin, Dataran pantai, Gisik,
Beting gisik, Cliff, Swale

Angin

Gumuk pasir

Solusional

Kubah karst, Dolin, Uvala, Polye

Organisme

Terumbu karang, Padang gambut

Struktural
Endogen
Volkanisme

Fluvial

Eksogen

Contoh Bentuklahan

Denudasional
Antropogen

Perbukitan denudasional berbatuan


breksi
Waduk, Reklamasi pantai, Reklamasi
rawa, dan lainnya

Tabel 4.5. Karakteristik Bentuklahan Asal Proses Volkanis


Relief

Batuan /
Struktur

Proses

Kawah

Depresi
volkanis

Pirklastis

Volkanis

Kubah lava

Pegunungan

Pirklastis

Volkanis

Kerucut

Pegunungan

Pirklastis

Volkanis,
gravitasi

Lereng
gunungapi

Perbukitan

Pirklastis

Volkanis,
gravitasi

Bentuklahan

Ciri-ciri
Bentuk depresi di
puncak kerucut atau
pada lereng
Endapan piroklastis
di dekat lubang
kepundan, biasanya
sangat labil, mudah
longsor
Tubuh gn api paling
atas dengan lereng
paling curam.
Bagian dari tubuh gn
api di bawah kerucut
gn api

Fakultas Geografi UGM

Keterangan
Dapat terbetuk
danau kawah
Sering longsor,
terjadi awan
panas (wedus
gembel)
Banyak terjadi
guguran batu
Sedikit guguran
batu

89

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Kaki
gunungapi

Bergelombang

Pirklastis

Volkanis
gravitasi

Bagian dari tubuh gn


api di bawah lereng
gn api

Dataran kaki
gunungapi

Dataran

Pirklastis
endapan
fluvial

Sedimen
-tasi

Bagian dari tubuh gn


api di bawah kaki gn
api, dgn relief datar

Dataran
fluvial
gunungapi

Dataran

Endapan
fluvial

Sedimen
-tasi

Medan lahar

Lembah
sungai,
berombakdatar

Endapan
lahar

Deposisi
aliran
lahar

Medan lava

Lembah,
berombakbergunung

Endapan
lava

Deposisi
aliran
lava

Baranco

lembah
sungai,
berombakberbukit

Endapan
piroklastis

Erosi
lembah
lanjut

Sumbat lava

Bergunung

Masif,
struktur
blok

Volkanis

Bagian dari tubuh gn


api di bawah dataran
gn api, dgn. relief
datar dibentuk oleh
proses fluvial
Endapan piroklastis,
biasanya di sungai
atau di sekitar sungai
oleh proses utama
gravitasi
Endapan lava,
terdapat di bagian
hulu sungai yang
mendapat umpan
langsung dari lubang
kepundan
Lembah dalam yang
terdapat pada tubuh
gn api akibat erosi
lanjut
Masif, struktur blok

Mulai ada
mataair pada
tekuk lereng
Airtanah
dangkal,
sedimentasi
intensif
Airtanah
dangkal,
sedimentasi
intensif
Medan berbatu,
dapat rawan
bencana

Medan berbatu,
dapat rawan
bencana
Lembah yang
dalam pada
tubuh
gunungapi
Lava yang
membeku pada
lubang
kepundan

Tabel 4.6. Karakteristik Bentuklahan Asal Proses Struktural


Bentuklahan

Relief

Batuan /
Struktur

Proses

Ciri-ciri

Keterangan

LIPATAN

Perbukitan
antikinal

Perbukitan
antiklinal
menunjam

Perbukitan

Perbukitan

Berlapis,
cembung
miring

Endapan
purba,
erosi,
longsor

Berlapis,
cembung
miring

Endapan
purba,
erosi,
longsor

Pola memanjang,
sering telah terdenudasi, membentuk
igir, atau leembah
sejajar, dip ke arah
luar
Perbukitan dgn pola
memanjang, igir
menyudut dgn bidang
horisontal, tidak
sejajar, sering telah
terdenudasi, dip ke
arah luar

Fakultas Geografi UGM

Rawan erosi,
gerak massa
batuan, langka
air domestik

Rawan erosi,
gerak massa
batuan, langka
air domestik

90

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Perbukitan
sinklinal

Perbukitan
sinklinal
menunjam
Relief bergelombang dgn
struktur
antilinal
Relief berombak dgn
struktur
antiklinal
menunjam
Relief berombak dgn
struktur
sinklinal
menunjam
Perbukitan
blok

Bukit
terisoler

Berlapis,
Cekung
miring

Endapan
purba
erosi,
longsor

Berlapis,
Cekung
miring

Endapan
purba
erosi,
longsor

Bergelomb
ang

Berlapis
cembung
miring

Endapan
purba,
erosi,
longsor

Berombak

Berlapis
cembung

Erosi,
longsor

Berombak

Berlapis,
cekung

Endapan
puurba,
erosi,
longsor

Berlapis,
masif

Endapan
purba,Te
ktonik

Berlapis,
masif

Tektonik

Perbukitan

Perbukitan

Perbukitan

Bukit

Perbukitan dgn pola


memanjang, sering
telah terdenudasi, igir
sejajar, dip ke arah
dalam
Perbukitan dgn pola
memanjang, sering
telah terdenudasi, igir
menyu dut,. dip ke
arah dalam
Relief dgn pola
memanjang, sering
telah terdenudasi, igir
sejajar, dip ke luar
Relief dgn pola
memanjang, sering
telah terdenudasi, igir
menyudut, dip ke
arah luar
Relief dgn pola
memanjang, sering
telah terdenudasi, igir
menyudut dip ke arah
dalam
Perbukitan terjadi
patahan, terbentuk
gawir, pada kelurusan
sering terdapat jalur
mataair
Tanpa gawir,
dipisahkan dari
perbukitan utama
oleh dataran aluvial

Rawan erosi,
gerak massa
batuan, langka
air domestik
Rawan erosi,
gerak massa
batuan, langka
air domestik
Rawan erosi,
gerak massa
batuan, langka
air domestik
Rawan erosi,
gerak massa
batuan, langka
air domestik
Rawan erosi,
gerak massa
batuan, langka
air domestic
Rawan erosi,
guguran batu,
langka air,
kecuali ada
mataair kontak
Rawan erosi,
langka air

PATAHAN

Normal

Perbukitan

Patahan

Tektonik

Membalik

Perbukitan

Patahan

Tektonik

Tangga

Perbukitan

Patahan

Tektonik

Perbukitan

Patahan

Tektonik

Enggsel

Ada kelurusan,
bidang goresan, jalur
mataair, jalur vegetasi
Ada kelurusan,
bidang goresan, jalur
mataair, jalur
vegetasi, terbentuk
dinding menggantung
Ada kelurusan,
bidang goresan, jalur
mataair, jalur
vegetasi,
mirip dengan
lenampakan tangga
Ada kelurusan,
bidang goresan, jalur
mataair, jalur

Fakultas Geografi UGM

Pada lereng
terjal rawan
erosi, guguran
batu
Pada lereng
terjal rawan
erosi, guguran
batu
Pada lereng
terjal rawan
erosi, guguran
batu
Pada lereng
terjal rawan
erosi, guguran

91

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

vegetasi, penurunan
patahan tidak sama

Graben

Horisontal

Terbentuk
lembah
antar
dinding
terjal
Sering
ditemukan
kenampaka
n sungai,
atau
perbukitan
yang
pasang
annya
bergeser

Patahan

Patahan

batu

Tektonni

Kelurusan
membatasi
lembah , ada bidang
goresan

Jika sudah
tertutup
sedimen
potensi air
tinggi

Tektonik

Kelurusan yang
ditempati sungai,
vegetasi, atau jalur
mata air

Sering
membentuk
sungai lurus,
atau jalur
perbukitan
bergeser

Tabel 4.7. Karakteristik Bentuklahan Asal Proses Fluvial


Bentuklahan

Relief

Batuan /
Struktur
Berlapis,
tidak
kompak

Proses

Ciri-ciri

Sediment
asi

Relief datar, terben tuk oleh proses fluvial

Air tanah
dangkal,
sebagai lahan
permukiman
dan pertanian

Sediment
asi

Relief datar, sering


terkena banjir

Untuk lahan
pertanian

Relief datar berombak, pola


memanjang sungai
Relief datar,
membentuk teras di
sisi sungai, terbentuk oleh proses
erosi/sedimentasi
Relief datar, mem bentuk teras di sisi
sungai, terbentuk oleh
proses erosi

Pola sejajar
sungai, untuk
permukiman

Dataran
aluvial

Datar

Dataran
banjir

Datar

Tanggul
sungai

Berombak

Teras
deposisional

Datar

Berlapis,
tidak
kompak

Teras batuan
dasar

Datar

Berlapis,
/ tidak
kompak/
tidak

Erosi,

Rawa
belakang

Cekung datar

Berlapis,
tidak
kompak

Sediment
asi

Relief cekung - datar,


selalu tergenang,
proses sedimentassi

Sediment
asi

Relief datar berombak, terbentuk


oleh sedimentasi,
terletak pada
peralihan relief yang
tegas

Kipas aluvial

Datar berombak

Berlapis,
tidak
kompak
Berlapis,
tidak
kompak

Berlapis,
tidak
kompak

Keterangan

Sediment
asi, erosi

Sediment
asi, erosi

Fakultas Geografi UGM

Pola sejajar
sungai, untuk
permukiman,
lahan pertanian
Tanah tipis,
untuk
pertanian,
permukiman
Lahan
pertanian,
perikanan air
tawar
Lahan
permukiman,
pertanian

92

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Terbentuk pada tubuh


sungai bagian hilir,
bagian hulu gosong
tumpul dan bagian
hilir menyudut
Terbentuk pada tubuh
sungai bagian hilir,
sebagian gosong
menempel tebing
sungai
Terbentuk oleh
pelurusan sungai,
sehingga bagian dari
meander tertutup
sedimen
Terbentuk oleh
pelurusan sungai,
sehingga bagian dari
meander terpisah dari
sungai utama
Cekungan meman jang, material
kompak, tidak
kompak

Gosong
sungai

Datar berombak

Berlapis,
tidak
kompak

Gosong
sungai
lengkung
dalam

Datar cembung
berombak

Berlapis,
tidak
kompak

Sediment
asi

Danau tapal
kuda

Datar cekung
berombak

Berlapis,
tidak
kompak

Sediment
asi

Meander
terpenggal

Cekung

Berlapis,
tidak
kompak

Sediment
asi

Datar

Berlapis,
tidak
kompak

Sediment
asi

Datar

Berlapis,
tidak
kompak

Sediment
asi,
abrasi

Terbentuk oleh proses


fluvio -marin, materi
penyusun berasal dari
proses fluvial dan
proses marin

Sediment
asi

Terbentuk pada ujung


sungai, pola
menyebar, terdapat
tanggul sungai,
sebagian sering
terkena banjir, air
tanah tawar - payau

Dasar sungai
mati

Dataran
aluvial pantai

Delta

Datar

Berlapis,
tidak
kompak

Sediment
asi

Lahan kosong,
pertanian

Lahan kosong,
pertanian

Lahan
perikanan,
pertanian

Lahan
perikanan,
pertanian
Jika deposisonal merupakan
tendon air
potensial
Dapat sebagai
tendon air
tawar, rawan
intrusi air asin
Untuk pertanian surjan
Pada bekas alur
rawan banjir,
pada
punggungan
untuk
pertanian

Tabel 4.8. Karakteristik Bentuklahan Asal Proses Marin


Bentuklahan

Gisik

Betinggisik

Relief

Berombak

Berombak

Batuan /
Struktur
Pasir
lepas

Pasir
lepas

Proses

Ciri-ciri

Sediment
asi,
deposisi,
abrasi

Berombak, materi
pasir lepas, terpengaruh pasang surut

Berfungsi
sebagai
kantong air
tawar

Deposisi,
ablasi

Berombak, sejajar
garis pantai, materi
pasir lepas. Sering
digunakan
permukiman

Berfungsi
sebagai
kantong air
tawar

Fakultas Geografi UGM

Keterangan

93

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Ledok antar
betinggisik

Berombak

Laguna

Datar cekung

Laguna mati

Datar cekung

Bura

Datar

Pelataran
laut

Datar

Teras laut

Datar

Cliff

Terjal,
berbukit

Runtuhan
batu klif

Rumtuhan
batu

Rawa payau

Datar cekung

Rawa
belakang
deltaik

Datar cekung

Dataran delta

Datar

Pasir pasir
bergeluh,
lepas
Pasir pasir geluh,
berlempung
Pasir pasir geluh,
berlempung
Pasir pasir geluh,
berlempung
Batuan
dasar,
pasir,
geluh,
lempung
Batuan
dasar,
pasir,
geluh,
lempung

Sedimen
-tasi

Cekungan pola sejajar


beting gisik. Sering
digunakan untuk
sawah, dan tergenang

Air dapat asin,


payau, sebagai
lahan pertanian
atau kolan ikan

Sedimen
-tasi

Perairan laut yang


dipisahkan oleh
beting -gisik dan
daratan utama

Dapat
digunakan
untuk wisata.

Sedimen
-tasi

Lagun yang telah


menjadi daratan

Bekas lagun
airnya asin
Sebagai lahan
pertanian
sistem surjan

Sedimen
-tasi

Sedimen marin yang


satu sisi berhubungan
dengan daratan, sisi
lain di laut

Sedimen klastis
menjorok ke
laut, air asin

Abrasi,
Sedimen
-tasi

Dataran di tepi laut


terbentuk oleh abrasi

current
Abrasi,
erosi

Dataran biasa -nya di


tepi laut, dapat pula
telah terangkat tinggi,
terbentuk oleh abrasi

Batuan
dasar

Abrasi

Tebing terjal di tepi


pantai

Bongkah
batu

Abrasi

Runtuhan bebatuan
dari klif pada
perairan laut.

Sedimen
-tasi

Perairan rawa yang


airnya payau

Sedimentasi

Rawa yang terletak di


belakang tanggul
sungai deltaik

Sedimen
-tasi

Dataran pada
bentuklahan delta

Pasir pasir geluh,


berlempung,
bahan
organik
Pasir pasir geluh,
berlempung,
bahan
organik
Pasir pasir geluh,
berlempung

Pelataran laut
hasil abrasi,
sering
terbentuk RIP

Fakultas Geografi UGM

Terdapat dekat
garis pantai
atau sangat
jauh
Bagian bawah
terdapat
runtuhan batu
Bongkah
bebatuan pada
pelataran laut

Sebagai habitat
ikan

Sebagai habitat
ikan,

Air tanah dapat


tawar asn atau
payau
berdekatan

94

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Rataan
lumpur

Datar

Pasir pasir geluh,


berlempung

Sedimen
-tasi

Endapan lumpur
pada tepi laut, masih
terpengaruh pasang
surut

Dapat
digunakan
untuk tambak
banding, udang
dan garam

Tabel 4.9. Karakteristik Bentuklahan Asal Proses Aeolin


Bentuklahan

Gumuk pasir
barkan

Relief

Batuan /
Struktur

Proses

Ciri-ciri

Keterangan

Berbentuk sabit, pada


hadap angin lereng
landai, dan bagian
belakang lereng
curam, relief
berombak, cerah keabu-abuan

Gumuk pasir
tua bervegetasi, yang muda
belum
bervegetasi,
Sebagai
kantong
airtawar

berombak

Pasir
lepas

Deposisi,
ablasi

berombak

Pasir
lepas

Deposisi,
ablasi

Gumuk pasir
sisir

berombak

Pasir
lepas

Deposisi,
ablasi

Gumuk pasir
sejajar

berombak

Pasir
lepas

Deposisi,
ablasi

Gumuk pasir
parabola

berombak

Pasir
lepas

Deposisi,
ablasi

Gumuk pasir
gabungan

berombak

Pasir
lepas

Deposisi,
ablasi

Cekungan

Pasir
lepas

Ablasi

Gumuk pasir
melintang

Blowout
hollow

Bentuknya melintang
arah angin, relief
berombak, cerah keabu-abuan
Merupakan
perkembanagan dari
gumuk pasir
melintang, relief
berombak, cerah keabu-abuan
Merupakan
perkembanagan dari
gumuk pasir sisir,
relief berombak,
cerah - keabu-abuan
Merupakan
perkembangan dari
gumuk pasir
melintang, relief
berombak, cerah keabu-abuan
Merupakan gabungan
beberapa gumuk pasir
yang berkembang di
wilayah tersebut.
Bentukan hasil ablasi,
berupa cekungan
pada komples

Fakultas Geografi UGM

Idem

idem

Idem

Idem

Idem
Ada yang
berair/ lembab
utk pertanian

95

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Tabel 4.10. Karakteristik Bentuklahan Asal Proses Solusional


Bentuklahan

Kubah kars

Relief

Batuan /
Struktur

Proses

Perbukitan

Gamping
horisontal

Solusional,
erosi

Solusional,
erosi

Dataran
aluvial kars

Datar

Lempung
geluh

Dolin

Cekungdatar

Lempung
geluh

Danau dolin

Cekung datar

Lempung
geluh

Uvala

Datar

Lempung
geluh

Polye

Datar

Lempung
geluh

Solusional,
erosi
Solusional,
erosi
Solusional,
erosi
Solusional,
erosi

Ciri-ciri
Perbukitan berbatuan
gamping, sering
dipisahkan oleh relief
dataran, atau
berombak
Datar materi
penyusun endapan
lempung , sering
dipisahkan oleh
perbukitan atau
dataran

Keterangan
Struktur
horizontal,
umunya tanah
sangat tipis
Dataran antar
kubah karst,
digunakan
untuk lahan
pertanian

Cekungan antar
kubah kars

Sebagai lahan
pertanian

Cekungan antar
kubah kars yang terisi
air

Sebagai
sumberair
domestic

Dataran yang luas


pada topografi karst

Gabungan
dolin

Dataran memanjang
dibatasi oleh
perbukian

Digunakan
untuk lahan
pertanian

Tabel 4.11. Karakteristik Bentuklahan Asal Proses Denudasional


Bentuklahan

Relief

Batuan /
Struktur

Proses

Perbukitan

Masif,
volkan,
struktural

erosi,
longsor,
denudasi

Kompleks
perbukitan
sisa dan
terisolir

Perbukitan

Masif,
volkan,
struktural

erosi,
longsor,
denudasi

Permukaan
planasi

Berombak
bergelomb
ang

Masif,
volkan,
struktural

erosi,
longsor,
denudasi

Perbukitan
denudasional

Ciri-ciri
Perbukitan yang
banyak mengalami
proses erosi, longsor,
sehingga struktur asli
tidak nampak
Perbukitan yang
dipisahkan oleh
dataran aluvial dari
kompleks perbukitan utama
Perbukitan atau relief
bergelom- bang yang
telah mengalami
penda- taran

Fakultas Geografi UGM

Keterangan
Pelapukan,
erosi, dan gerak
massa batuan
banyak terjadi

Bukit terpisah
dari induknya
Permukaan
lahan menjadi
rendah atau
datar oleh
berbagai proses

96

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Kipas
koluvial dan
kerucut
koluvial

Berombak

Masif,
volkan,
struktural

erosi,
longsor,
denudasi

Dinding
terjal

Perbukitan
terjal

Masif,
volkan,
struktural

erosi,
longsor,
denudasi

Lahan rusak

Berombak berbukit

Masif,
volkan,
struktural

erosi,
longsor,
denudasi

Endapan material
batuan pada kaki
lereng oleh proses
gravitasi, tidak
mengalami sortasi
Dinding terjal
terbentuk oleh
patahan normal,
membalik atau abrasi
Lahan yang
mengalami proses
lanjut sehingga tidak
dapat dimanfaatkan
lagi

Lereng bawah
lembah, atau
ada renbesan,
vegetasi lebih
rapat
Terbentuk
kerucut aluvial,
atau endapan
rombakan batu
Lereng tidak
teratur, lapisan
tanah teraduk
oleh gerak
massa batuan

Tabel 4.12. Karakteristik Bentuklahan Asal Proses Organik


Bentuklahan
Terumbu
paparan
pelataran
Terumbu
pinggiran

(fringing
reef)
Lahan
gambut (peat

Relief

Batuan /
Struktur

Datar

Batugam
ping
terumbu

Datar berombak

Batugam
ping
terumbu

Datar

Gambut

land)

(b)

Proses

Ciri-ciri

Keterangan

Pertumb
uhan
binatang
karang
Pertumb
uhan
binatang
karang

Dataran di pantai
berbatuan
batugamping
terumbu
Pantai berbatuan
batugamping
terumbu masih
terpengaruh pasut

Endapan
bahan
organik

Hamparan gambut

Terdapat
dipelataran
pantai, sebagai
habitat ikan
Terdapat
dipelataran
pantai, sebagai
habitat ikan
Tanah dan air
asam, air hujan
sebagai air
domestik

Indikator kunci aspek tanah meliputi: warna tanah, ketebalan solum


tanah,

perkembangan

horison,

tekstur,

struktur,

konsistensi,

drainase, keterdapatan padas, glesisasi, bahan organik, pH tanah,


kandungan kapur, daya dukung tanah, dan tingkat kesuburan. Survei
ini memberikan gambaran karakteristik dan potensi tanah untuk
mendukung peruntukan tertentu.
(c)

Indikator kunci aspek hidrologi mencakup: air hujan, air permukaan,


dan airtanah, termasuk mataair. Parameter air hujan meliputi: curah
hujan, suhu dan kelembaban, dan persebaran hujan. Dalam kaitannya
dengan sebaran hujan, perlu diperhatikan: daerah tangkapan hujan,
daerah bayang-bayang hujan dan daerah peresapan. Parameter air

Fakultas Geografi UGM

97

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

permukaan, meliputi: tipe aliran permukaan, sifat aliran, debit aliran,


pola alur, kerapatan alur, genangan, sedimentasi, erosi tebing sungai,
kondisi saluran drainase, daya hantar listrik, penggunaan dan
pencemaran

air.

Parameter

airtanah

dan

mataair,

meliputi:

kedalaman muka airtanah, kedalaman sumur, sifat fisik air,


mencakup : warna, bau dan rasa, daya hantar listrik, kondisi sumur,
sanitasi, jarak sumur terhadap septitank, tipe mataair dan sifat aliran,
penggunaan air, jumlah pemakai air dan pencemaran air.
(d)

Indikator kunci aspek flora-fauna merupakan kunci bentang-lahan


penting, yang mencerminkan hubungan antara aspek fisik lahan
dengan kehidupan khas hewan dan tetumbuhan, yang sering disebut
habitat. Parameter ini meliputi: aspek fauna, yaitu: jenis fauna khas,
jenis makanan dan kebiasaan makan, persebaran, peranan dan
produktivitasnya; aspek flora, yaitu: jenis vegetasi khas, persebaran,
peranan dan produktivitasnya.
Indikator kunci bentanglahan dari aspek fisik lahan tersebut

diperoleh langsung melalui pengamatan dan pengukuran di lapangan


dengan cara pengukuran atau wawancara dengan penduduk pada lokasi
pengamatan.

4.3. Kunci Pengenalan Komponen Sosial Budaya


Kunci pengenalan komponen ini diarahkan untuk memberikan
gambaran atau profil tentang kondisi sosial ekonomi, sehingga dapat
diidentifikasi permasalahannya. Komponen sosial budaya yang dapat
diidentifikasi terdiri atas 6 (enam) indikator, sebagai berikut ini.
(a)

Tipe bentang budaya, dari aspek lokasi dan letak dapat di


kelompokkan menjadi 3 tipe, yaitu: kota, pinggiran kota, dan desa.
Sedangkan dari tipe kegiatan, dapat dikelompokkan menjadi: bentang
permukiman,

pertanian,

perkebunan,

perikanan,

Fakultas Geografi UGM

peternakan,

98

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

kehutanan, pertambangan, pariwisata, dan industri. Masing-masing


tipe tersebut memiliki ciri-ciri bentang budaya yang berbeda.
(b)

Demografi atau kependudukan, merupakan subyek pelaku bentang


budaya, oleh karena itu pemahaman terhadap karakteristik penduduk
menjadi prasarat penting. Kunci pengenalan meliputi: jumlah,
kepadatan penduduk, dan pertumbuhan penduduk, baik akibat
kelahiran, kematian, migrasi, tekanan demografis, dan struktur
demografis.

(c)

Permukiman, merupakan area manusia bertempat tinggal dan


mencipta bentang budaya. Kunci pengenalan meliputi: pola, bentuk,
bahan dasar, tipe, kualitas, dan pemanfaatan.

(d)

Ekonomi, baik pada tingkat wilayah maupun masyarakat. Indikator


kunci yang dapat menjelaskan antara lain: ketenagakerjaan, mata
pencaharian, struktur ekonomi, pendapatan, produksi, dan relasirelasi ekonomi.

(e)

Sosial budaya, yang dapat diamati dan menjadi kunci bentang


budaya, antara lain: aspek pendidikan, kesehatan, keagaman,
organisasi, kelembagaan, relasi sosial dan adat istiadat atau tradisi.

(f)

Penggunaan lahan, merupakan bentuk interaksi manusia dalam


memanfaatkan
menggambarkan

sumberdaya
bentang

lahan.

budaya

Penggunaan
yang

ada.

lahan

dapat

Indikator

kunci

pengukuran penggunaan lahan mencakup luas dan tipe penggunaan


lahan, seperti: lahan pertanian, perkebunan, perikanan, hutan,
pertambangan, pariwisata, industri, dan perdagangan. Selain itu juga
konversi lahan atau perubahan pemanfaatan dan pemilikan lahan,
bahkan konflik pemanfaatan lahan. Hal ini juga dapat dikaitakan
dengan rencana tata ruang yang ada, khususnya peruntukan untuk
kawasan lindung dan budidaya.
Selain enam aspek tersebut, sebaiknya diketahui pola kebijakan
pemerintah yang berlaku dalam suatu area. Indikator kunci dapat diperoleh
melalui pengamatan ilapangan, dan wawancara, serta data sekunder, baik

Fakultas Geografi UGM

99

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

spasial maupun non-spasial. Selengkapnya indikator kunci pengenalan


bentang budaya disajikan pada Tabel 4.13.
Tabel 4.13. Indikator Kunci Pengenalan Bentang Budaya
Komponen Bentanglahan
Tipe Bentang Budaya
Penduduk dan Demografis
Permukiman
Ekonomi
Sosial Budaya

Kunci Pengenalan dan Deskripssi


1. Lokasi (kota, pinggiran, desa)
2. Pertanian, industri, pertambangan,
pariwisata, dan lainnya
Jumlah, kepadatan, pertumbuhan, migrasi,
tekanan demografis, struktur demografis
Pola, bentuk, bahan dasar, tipe, kualitas,
pemanfaatan
Tenaga kerja, mata pencaharian, sstruktur
ekonomi, pendapatan, produksi, dan relasirelasi ekonomi
pendidikan, kesehatan, keagaman, organisasi,
relasi sosial dan adat istiadat/tradisi

Pemanfaatan Lahan atau Ruang


1. Penggunaan Lahan

Luas dan bentuk penggunaan lahan*),


perubahan, kepemilikan, konflik, dan lain-lain

2. Tata Ruang

Kawasan budidaya dan Kawasan lindung **)

Fenomena dan Problem


utama

Uraikan problem sosial, ekonomi, budaya yang


menonjol

Keterangan:
*)

Permukiman, pekarangan, sawah, tegalan, perkebunan, kebun campuran, jalan, hutan,


tambak, belukar, industri, jasa, perdagangan, dan lahan yang tidak dirmanfaatkan.

**)

Kawasan lindung, terdiri dari lindung bawahan, yaitu: hutan lindung, resapan air, dan
lindung setempat, yaitu : sempadan sungai, sempadan pantai, sekitar waduk atau
danau, sekitar mata air, kawasan rawan bencana, kawasan suaka alam, cagar budaya.
Kawasan budidaya, terdiri dari kawasan hutan produksi, pertanian, pertambangan,
perindustrian, pariwisata, permukiman kota dan desa.

Fakultas Geografi UGM

100

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

4.4. Daftar Isian


Daftar isian yang digunakan dalam Kuliah Kerja Lapangan I
merupakan penterjemahan atau rincian dari indikator kunci pengenalan
yang dapat secara langsung dan cepat digunakan di lapangan. Daftar isian
disusun secara sistematis dan praktis, sehingga semua parameter yang
terkait dengan aspek-aspek bentanglahan, baik komponen biofisik maupun
kultural di lapangan dapat dicatat secara baik.
Parameter yang dipilih merupakan parameter yang dengan mudah
dan cepat dapat diidentifikasi di lapangan, dengan bantuan peralatan yang
ada, seperti disajikan dalam Lampiran.

Fakultas Geografi UGM

101

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Bemmelen, R.W. van, 1970, The Geology of Indonesia, Martinus Njhoff,


the Hague
Katili, J.A., 1973, Geotectonics of Indonesia: A Modern View, Directorate
General of Mines, Jakarta
Lobeck, A.K., 1939, Geomorphology: An Introduction to the Study of
Landscapes, McGraw-Hill Book Company Inc., New York
Pannekoeck, A.J., 1949, Outline of the Geomorphology of Java, E.J. Bn'll,
Leiden
Verstappen, H. Th., 1983, Applied Geomorphology: Geomorphological
Surveys for Environmental Developments, Elsevier, Amsterdam
Vink, A.P.A., 1983, Landscape Ecology and Land Use, Longman, London
and New York

Fakultas Geografi UGM

102

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

Checklist Identifikasi Karakteristik Bentang Alami


Checklist Identifikasi Karakteristik Bentang Budaya
Rekapitulasi Hasil Identifikasi Bentanglahan
Sketsa Identifikasi Bentanglahan

Fakultas Geografi UGM

103

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK BENTANG ALAMI


Hari, Tanggal

: ...

Lokasi & Posisi

: ...
...

Nama & Kelompok : ...

No

Komponen Bentang Alami

Kunci Identifikasi

1.

Bentuklahan

Relief, Struktur, Batuan, Proses

2.

Genesis

Sejarah geologi, Proses pembentukan

3.

Proses Geomorfologi

Erosi, Sedimentasi, Gerak massa batuan

4.

Karakteristik Tanah

Kedalaman, Tekstur, Struktur, Konsistensi,


Warna, Bahan organik, Drainase, pH,
Kandungan gamping, Konservasi

5.

Karakteristik Hidrologi

Kedalaman, Debit, Bau, Warna, Rasa, Suhu, pH,


DHL, Pemanfaatan

(a) Air Permukaan

(b) Airtanah dan Mataair

6.

Flora dan Fauna

Jenis Hewan & Tumbuhan, Persebarannya

7.

Fenomena & Masalah Lingkungan Fisik

Uraikan problem lingkungan fisik yang menonjol

Fakultas Geografi UGM

104

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK BENTANG BUDAYA


Hari, Tanggal

: ...

Lokasi & Posisi

: ...
...

Nama & Kelompok : ...

No

Komponen Bentang Budaya

Kunci Identifikasi

1.

Tipe Bentang Budaya

3. Lokasi (Kota, Pinggiran, Desa)


4. Pertanian, Industri, Pertambangan,
Pariwisata, dan lain-lain

2.

Kondisi Kependudukan

Jumlah, Kepadatan, Pertumbuhan, Migrasi,


Tekanan Demografis, Struktur Demografis

3.

Permukiman

Pola, Bentuk, Bahan Dasar, Tipe, Kualitas,


Pemanfaatan

4.

Ekonomi

Tenaga Kerja, Matapencaharian, Struktur


ekonomi, Pendapatan, Relasi Ekonomi

5.

Sosial Budaya

Pendidikan, Kesehatan, Keagaman, Organisasi,


Relasi Sosial, Adat istiadat atau Tradisi

6.

Pemanfaatan Lahan atau Ruang

7.

1. Penggunaan Lahan

Permukiman, Pekarangan, Sawah, Tegalan,


Perkebunan, Kebun Campuran, Jalan, Hutan,
Tambak, Belukar, Industri, Jasa, Perdagangan,Lahan tak termanfaatkan, dan lain-lain

2. Tata Ruang

Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung

Fenomena dan Masalah Lingkungan


Sosial

Uraikan masalah sosial, ekonomi, dan budaya


yang menonjol

Fakultas Geografi UGM

105

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

REKAPITULASI HASIL IDENTIFIKASI


KARAKTERISTIK BENTANGLAHAN
No

1.

2.

Posisi Lokasi

Komponen Bentang Alami

Komponen Bentang Budaya

Bentuklahan

Tipe

Genesis

Demografis

Proses

Permukiman

Tanah

Ekonomi

Air Permukaan

Sosial-Budaya

Air Tanah

Pengg. Lahan

Vegetasi

Tata Ruang

Masalah Fisik

Masalah
Sosial

Catatan

Catatan

Bentuklahan

Tipe

Genesis

Demografis

Proses

Permukiman

Tanah

Ekonomi

Air Permukaan

Sosial-Budaya

Air Tanah

Pengg. Lahan

Vegetasi

Tata Ruang

Masalah Fisik

Masalah
Sosial

Catatan

Catatan

3.

Fakultas Geografi UGM

106

KULIAH KERJA LAPANGAN 1


Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah

SKETSA IDENTIFIKASI BENTANGLAHAN


Hari, Tanggal

: ...

Lokasi & Posisi

: ...
...

Nama & Kelompok : ...

Fakultas Geografi UGM

107