Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pergerakan gigi dapat terjadi secara fisiologis dan patologis, dan kedua
jenis pergerakan ini tidakdiharapkan karena dapat mengubah keadaan gigi dan
struktur jaringan pendukungnya , misalnya padagigi yang terdapat diantara
daerah diastema maka gigi tersebut akan bergerak ke daerah yang
kosong.Pergerakan gigi secara fisiologis dapat terjadi pada gigi-geligi dalam
masa perkembangan yaitu bergerakke mesial, distal, labial,lingual atau palatal.
Pergerakan gigi fisiologis ini diperkirakan dapat berlangsungsepanjang hidup
apabila ada kesempatan gigi-geligi untuk bergerak.Untuk mengembalikan
posisi gigi agar mendapatkan oklusi yang normal maka diperlukan
perawatanyang memerlukan pergerakan gigi yaitu dengan perawatan
ortodonti.Perawatan ortodonti adalah salah satu jenis perawatan yang
dilakukan di bidang kedokteran gigi yangbertujuan mendapatkan penampilan
dentofasial yang menyenangkan secara estetika yaitu denganmenghilangkan
susunan gigi yang berjejal, mengoreksi penyimpangan rotasional dan apikal
dari gigi-geligi, mengoreksi hubungan antar insisal serta menciptakan
hubungan oklusi yang baik.
Pergerakan gigi adalah basis dari perawatan ortodonti. Untuk dapat
melakukan perawatan tersebutmaka harus terjadi pergerakan gigi untuk
mengembalikan posisi gigi yang menyimpang ke posisi yangbaik sesuai
dengan oklusinya, dan untuk dapat menggerakkan gigi tersebut diperlukan alat
ortodonti,yang terdiri dari dua jenis yaitu alat lepasan dan alat cekat.

BAB II
PEMBAHASAN
Lengkung gigi merupakan suatu garis lengkung imajiner

yang

menghubungkan sederetan gigi pada rahang atas danbawah.Bentuk lengkung


gigiini berhubungan denganbentuk kepala misalnya pasien dengan bentuk
kepalabrachychepaliccenderung memiliki bentuk lengkung yang lebar.
Menurut Moyers, pada waktu dilahirkan lengkung alveolar cukup
lebar untukruangan gigi sulung. Pada waktu berlangsungnya peralihan antara
gigi sulung ke gigipermanen terjadi perubahan ukuran lengkung gigi dan
perubahan

oklusi.

Selamaperiode

gigi

geligi

bercampur,

lengkung

gigimenjadi bertambah lebar tetapi panjang lengkung bertambah pendek.


2.1 Faktor faktor yang Mempengaruhi Lengkung Gigi
Beberapa faktor yang mempengaruhi bentuk lengkung yaitu skeleton
cartilaginous, genetik,lingkungan, ras dan jenis kelamin. Menurut Moyers,
pada dasarnya ukuran dan bentuk lengkung gigi dipengaruhi olehskeleton
cartilaginous dari maksila dan mandibula pada masa janin. Kemudian
berkembang mengikuti benih gigi dan tulang rahang yang tumbuh. Faktor
genetik mempunyai pengaruh penting dalam menentukan variasiukuran dan
bentuk lengkung gigi, tulangalveolar dan tengkorak. Kelainan herediter
seperti sindrom Down dan sindrom Crouzon juga dapat mempengaruhi
lengkung gigi. Pada sindrom Down sering dijumpai protusi mandibula dan
hipoplasia maksila.
Cassidymenyatakan bahwafaktor lingkungan lebih berpengaruh
terhadapukuran dan bentuk lengkung gigi daripada faktor genetik. Faktor
lingkungan tersebut adalah lokasi, makanan, kebiasaan oral, fisik dan
malnutrisi. Perubahan dalam kebiasaan diet seperti tekstur makanan yang
lebih halus menyebabkan penggunaan otot pengunyahan dan gigi berkurang.
Akibat pengurangan pengunyahan akan menyebabkan perubahan pada
perkembangan fasial sehingga maksila menjadi lebih sempit. Kebiasaan oral
yang mempengaruhi lengkung gigi antara lain menghisap ibu jari atau jari-jari

tangan, menghisap dot, bernafas melalui mulut, dan penjuluran lidah. Aznar
menyatakan bahwa kebiasaan menghisap mainan akan menyebabkan
pengurangan lengkung gigi maksila terutama di bagian kaninus dan kebiasaan
bernafas melalui mulut menyebabkan pengurangan ukuran pada rahang atas
dan bawah.
Menurut Pundayani, pola maloklusi dapat diturunkan melalui genetik
danrasial, sehingga rastertentu mempunyai kecenderungan yang berbeda
dengan raslain.Lavelle dan Olmez menyatakan bahwa kelompok ras yang
berbeda akan menunjukkan ukuran dan bentuk lengkung rahang yang
bervariasi.
Moyers menyatakan bahwa ukuran lebar lengkung pada laki-laki lebih
besardari perempuan. Hal ini disebabkan karena laki-laki mempunyai muka
yang lebihbesar dan pertumbuhan ke arah transversal yang lebih besar dari
perempuan.Lavellemenyatakan bahwa perbedaan ukur an lengku ng gigi
rahang bawah antara laki-lakidan perempuan disebabkan karena adanyafaktor
kekuatanfungsional, kebiasaanmakan, sikap tubuh dan trauma yang lebih
berpengaruh pada laki-laki dari pada perempuan.
Faktor lain yang berpengaruhpada lengkung gigi seperti karies
interproksimal dan kehilangan prematur gigi sulung. Karies dan kehilangan
gigi molarsulung dapat menyebabkan berkurangnya panjang lengkung gigi.

2.2 Bentuk Lengkung Gigi


Untuk mengatasi banyaknya variasi lengkung gigi, beberapa klinisi
membuat

klasifikasi

bentuk

lengkung

gigi

guna

memudahkan

pekerjaannya. Model dilihat darioklusal kemudian diamati bentuk lengku


ng gigi. Taner dkk mengkombinasi limabentuk lengkung gigi dengan
persamaan kubik Bezier menggunakan system komputerisasi dan
menghasilkan empat.
Template bentuk lengkung gigi yaitutapered, ovoid, normal dan
narrow tapered. Titik referensi pada system pentamorphic Ini adalah titik
tengah insisalgigi insisivus sentral danlateral, puncak cusp gigi kaninus,
puncak

cusp

bukal

gigi

premolar

pertama

dan

kedua,

dan

puncakcuspmesiobuka l gigi molar pertamaBentuk lengkung gigi yang


telah dijabarkan oleh para peneliti pada dasarnya dikategorikan atas tiga
bentuk, yaitu tapered, ovoid, dan square(Gambar 1). Variabel terpenting
dalam menentukan ketiga bentuk lengkung gigi ini adalah lebar
interkaninus, yang berjarak sekitar 5mm. Bagian posterior dari ketiga
bentuklengkung gigi ini pada umumnya hampir sama, dan dapat melebar
atau meyempit sesuai yang dibutuhkan.

Gambar 1. Tipe bentuk lengkung gigi menurut Clarity, MBT

Raberin telah melakukan penelitian untuk menetapkan ukuran dan


bentuk lengkung gigi yang ideal pada bangsa Perancis yang mempunyai
oklusi normal dan ditetapkan dalam lima klasifikasi bentuk lengkung gigi
yaitu narrow (sempit), wide (lebar), mid (sedang), pointed (runcing/tajam)
dan flat (datar) (Gambar 2).
2.3 Lebar Lengkung Gigi
Menurut Ling dan Wong, lebar lengkung gigi diantara gigi
kontralateral telahdiukur dalam berbagai macam cara, yaitu antara titik
paling labial, titik paling palatalatau titik paling lingual atau dihitung rataratanya antara titik palinglabial dan titikpaling palatal (Gambar3).

Menurut Raberin, lebar lengkung gigi adalah yang diukur dalam


arah transversal yang dikategorikan atas:
1. L33 yaitu jarak yang diukur antara puncak tonjol kaninus kiri ke
kaninus kanan (lebar interkaninus)
2. L66 yaitu jarak yang diukur antara puncak tonjol mesio-bukal molar
pertama permanen kiri ke molar pertama permanen kanan (lebar
intermolar pertama)
3. L77 yaitu jarak yang diukur antara puncak tonjol disto-bukal molar
kedua
permanen kanan ke molar kedua permanen kiri (lebar intermolar
kedua).

Gambar 3. Pengukuran lebar lengkung gigi menurut Ling dan Wong

Menurut Uysal, lebar lengkung gigi rahang bawah dapat diukur dari:
1. Lebar interkaninus rahang bawah, yaitu jarak antara puncak tonjol kaninus
kiri dan kanan rahang bawah.
2. Lebar interpremolar rahang bawah, yaitu jarak antara puncak tonjol premolar
pertama kiri dan kanan rahang bawah.
3. Lebar intermolar rahang bawah, yaitu jarak antara tepi groove bukal molar
pertama kiri dan kanan rahang bawah (Gambar 4).

Gambar 4. Pengukuran lebar lengkung gigi rahang bawah menurut Uysal

Menurut Poosti dan Jalali, lebar lengkung dibagi menjadi lebar


interkaninus dan lebar intermolar. Pengukuran interkaninus dilakukan pada
daerah bukal dan palatal. Pada daerah bukal, lebar interkaninus diukur 5 mm
apikal ke pertengahan mesiodistal margin gingival dari gigi kaninus disatu sisi
ke titik yang sama pada sisi yang berlainan. Pada daerah lingual, lebar
interkaninus diukur dari titik tengah servikal gigi kaninus di satu sisi ke titik
yang sama pada sisi berlainan. Kedua prosedur diatas digunakan untuk
mengukur lebar intermolar (Gambar 5).

Gambar 5. Lebar intermolar bukal dan lingual menurut Poosti dan Jalali

2.4 Panjang Lengkung Gigi


Thu dan Winn mengukur panjang lengkung anterior dengan menarik
garis tegak lurus dari bagian depan labial insisivus sentralis sampai terhubung
dengan garis yang ditarik dari titik terdalam fisur kedua premolar permanen
pertama (Gambar 6).

Gambar 6. Pengukuran panjang lengkung rahang maksila menurut Thu dan Winn28

Menurut Raberin, panjang lengkung gigi adalah jarak yang diukur


dalam arah sagital yang dikategorikan atas:
1. L31 yaitu jarak yang diukur dari pertengahan insisivus sentralis tegak
lurus terhadap garis yang menghubungkan puncak tonjol kaninus kiri
dan kanan (kedalaman kaninus).

2.

L61 yaitu jarak yang diukur dari pertengaham insisivus sentralis tegak
lurus terhadap garis yang menghubungkan puncak tonjol mesiobukal

molar pertama permanen kiri dan kanan (kedalaman molar pertama).


3. L71 yaitu jarak yang diukur dari pertengahan insisivus sentralis tegak
lurus terhadap garis yang menghubungkan puncak tonjol distobukal
molar kedua permanen kiri dan kanan (kedalaman molar kedua).
Menurut Poosti dan Jalali, panjang lengkung gigi diukur dari garis
tegak lurus titik kontak antara gigi insisivus sentral permanen ke garis
yang menghubungkan permukaan distal gigi molar pertama permanen
(Gambar 7).

Gambar 7. Pemgukuran panjang lengkung gigi menurut Poosti dan Jalali

Menurut Nojima, panjang lengkung gigi rahang bawah dapat


diukur dari kedalaman kaninus (jarak terpendek dari garis yang
menghubungkan titik puncak kaninus kiri dan kanan terhadap pertengahan
insisivus sentralis) dan kedalaman molar (jarak tependek dari garis yang
menghubungkan tonjol mesiobukal molar pertama kiri dan kanan terhadap
pertengahan insisivus sentralis) (Gambar 8)

Gambar 8. Pengukuran panjang lengkung gigi rahang bawah menurut Nojima.

2.5 Mekanisme Biologis Pada Pergerakan Gigi Secara Ortodonti


Perawatan ortodonti dilakukan berdasarkan suatu prinsip bahwa bila
suatu tekanan diberikan cukup lama pada gigi, terjadi pergerakan gigi karena
tulang di sekitar gigi berubah atau remodeling. Elemen jaringan yang
mengalami perubahan sewaktu pergerakan gigi, yang pertama adalah
ligament periodontal berserta sel-selnya, serat pendukung, kapiler dan
persyarafan, sedang yang kedua adalah tulang alveolar dan sementum. Setiap
gigi melekat pada tulang alveolar dengan perantaraan ligamen periodontal
yang pada keadaan normal tebalnya lebih kurang 0,5 mm. Pada gigi, ligamen
periodontal melekat pada sementum dan perlekatan pada tulang adalah pada
lamina dura, yang merupakan lapisan tulang yang padat (Proffit dan Fields,
1993). Perlekatan pada sementum terletak lebih ke apikal daripada perlekatan
ligamen pada tulang alveolar.
Dengan demikian, serabut ligamen periodontal tersusun miring,
sehingga ligamen periodontal dapat menahan pergerakan gigi pada fungsi
normal (gambar 1).Dalam mekanisme biologis pada pergerakan gigi secara
ortodonti harus dipertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan
pergerakan gigi, pertimbangan penjangkaran, penyebab relaps, dan resorpsi
akar. Semua prinsip biologis yang berhubungan erat dan mendasaripergerakan
10

gigi secara ortodontik dapat dikarakteristikkan sebagai remodeling jaringan.


Proses pegerakan gigi secara ortodonti adalah untuk mendapatkan perubahan
dinamis dalam bentuk dan komposisi dari tulang dan jaringan lunak yang
lebih baik. Gigi dan jaringan periodontal (dentin, sementum, ligamen
periodontal [PDL], dan tulang alveolar) semuanya mempunyai mekanisme
perbaikan aktif dan akan beradaptasi di bawah tekanan yang normal pada
piranti ortodonti.

Gambar 1 : Struktur normal dari gigi dan jaringan pendukungnya


Pada level paling dasar, gaya ekstrinsik menghasilkan area tekanan
dan tarikan yang terlokalisir pada jaringan yang bersebelahan dengan gigi dan
respon yang cepat sesuai dengan prinsip hukum Wolff tentang remodeling
tulang. Ketika digunakan piranti cekat untuk mengaplikasikan tekanan
mekanis pada gigi, pergerakan gigi yang terprediksi dapat diantisipasi, hal ini
disertai oleh penambahan mobiliti gigi sementara dan kadang-kadang adanya
resorpsi ringan pada gambaran radiografis. Tipe migrasi gigi alami lainnya
yang umumnya tidak dikehendaki adalah pergeseran gigi ke mesial atau distal
yang disebabkan oleh persistensi atau kehilangan dini gigi susu. Setiap
penemuan klinis umum dapat dijelaskan dengan pemahaman prinsip dasar
biologis yang lebih baik yaitu menentukan pergerakan gigi.Walaupun
sebagian besar ruangan periodontal diisi oleh ikatan serabut kolagen, terdapat
juga elemen seluler yang merupakan sel-sel mesenkhim yang tidak
berdiferensiasi (Undifferentiated mesenchymal cells) berikut vaskularisasi
dan persyarafan serta cairan jaringan. Elemen seluler dan cairan jaringan
11

memegang peranan penting dalam fungsi gigi normal dan dalam pergerakan
gigi secara ortodonti. Sel-sel kolagen ligamen periodontal terus-menerus
diperbaharui selama fungsi normal. Hal ini dilakukan oleh fibroklas yang
menghancurkan kolagen yang sudah terbentuk dan fibroblas yang berfungsi
untuk membentuk kolagen yang baru. Pembaharuan tulang dan sementum
juga terus-menerus terjadi walaupun dalam skala kecil. Osteoklas dan
sementoklas berfungsi untuk menghancurkan tulang dan sementum, sedang
pembentukan tulang dan sementum baru dilakukan oleh osteoblas dan
sementoblas. Cairan jaringan (tissue fluid) yang terdapat pada ruang ligamen
periodontal berasal dari system vaskuler. Dalam fungsi pengunyahan yang
normal cairan jaringan ini berperan sebagai shock absorber. Selama
pengunyahan normal, gigi dan struktur periodontal menerima gaya berkala
(intermittent) yang besar. Gigi berkontak sekitar 1-2 detik dengan besar gaya
yang diterima sekitar 1-2 kg pada pengunyahan makanan yang lembut. Pada
pengunyahan makanan keras, besar gaya yang diterima meningkat sampai
50kg. Pada jenis pembebanan ini, gaya itu akan disalurkan ke tulang alveolar
yang akan sedikit melengkung sebagai respons terhadap adanya gayatersebut.
Gigi akan sedikit bergerak dalam soketnya karena melengkungnya tulang
alveolar dan sedikit cairan jaringan pada ruang periodontal akan terperas.
Bila gaya yang besar terus-menerus dikenakan pada gigi, cairan
jaringan dengan cepat akan terperas dan gigi akan bergerak pada ruang
periodontal. Dengan demikian gigi akan menekan ligamen periodontal ke
tulang dan akan terasa sakit. Rasa sakit ini akan terasa sekitar 3-5 detik.
Walaupun ligamen periodontal mempunyai daya adaptasi yang baik terhadap
tekanan mekanis dengan waktu yang singkat, kemampuan adaptasi ini akan
hilang bila seluruh cairan jaringan terperas keluar. Tekanan mekanis yang
lama durasinya, walaupun sangat kecil menghasilkan respon fisiologis yang
berbeda dalam merubah tulang dan pergerakan gigi secara ortodonti yang
dapatdipengaruhi oleh aplikasi tekanan yang terus-menerus. Sebagai
tambahan, tekanan natural dari lidah, bibir maupun pipi mempunyai potensi
yang sama dengan tekanan ortodonti dalam menggerakkan gigi. Erupsi gigi
membuktikan bahwa tekanan yang timbul di dalam ligamen periodontal dapat

12

menyebabkan pergerakan gigi. Mekanisme erupsi gigi tergantung pada


aktivitas metabolism dalam ligamen periodontal, yang mungkin berhubungan
dengan formasi,persilangan (cross linkage) dan pemendekan serabut-serabut
kolagen. Proses ini berlanjut terus sampai tua dengan kapasitas yang
menurun.Pergerakan gigi secara ortodonti adalah peristiwa biologis. Hal ini
melibatkan suatu urutan proses tranduksi sinyal yang hasilnya adalahremodel
atau pembentukan ulang tulang alveolar. Peran dari aktivitas gen antara
osteoblas dan osteoklas mengatur adaptasi tulang alveolar dengan tekanan
mekanis ortodonti .
Mekanisme yang mentransfer rangsang mekanik menjadi peristiwa
molekuler dan tetap menjadi tanda tanya bagi peneliti dalam jangka waktu
lama. Mekanisme yang baru-baru ini ditemukan mengenai mekanisme
komunikasi sitoplasma yang mungkin dapat menjelaskan sinyal-sinyal antara
perawatan ortodonti dan respon sel tulang. Maka, sel tersebut dapat
mengetahui beban mekanis dan mengaktifkan peristiwa molekuler ekspresi
genetik. Kemajuan dalam biologi molekuler akan membuat lebih mudah
untuk dapat mengatur manipulasi remodeling tulang, kontrol pergerakan gigi
lebih mudah dan lebih dapat diperkirakan dimasa yang akan datang.
Intervensi obat-obatan dan pengubahan genetik adalah contoh aplikasi klinis
yang dijanjikan peneliti dalam ilmu-ilmu dasar.
a. Kontrol Biologis Gerakan Gigi
Peranan stimulus tekanan mekanik ortodonti terhadap respon
gerakan gigi dikontrol oleh dua elemen yaitu keadaan listrik secara
biologis dan aliran darah yang diterangkan dalam teori utarna pergerakan
gigi secara ortodontik. Teori Piezoelectric menghubungkan gerakan gigi
pada perubahan tulang alveolar. Teori yang lain adalah teori tekanan dan
tarikan (Pressure-Tension Theory) yang menghubungkan gerakan gigipada
perubahan seluler yang disebabkan perubahan aliran darah pada ligamen
periodontal akibat dari tekanan dan tarikan yang disebabkan oleh adanya
gaya ortodonti.Tekanan atau tarikan pada ligamen periodontal akan
memperkecil atau memperbesar diameter pembuluh darah dan dengan

13

sendirinya akan mempengaruhi jalannya aliran darah. Kedua teori ini tidak
berlawanan tapi juga tidak saling mendukung. Dapat dikatakan bahwa
kedua mekanisme ini memerankan peranan dalam kontrol biologis
pergerakan gigi.

b. Teori Piezoelectric
Piezoelectricityadalah suatu fenomena yang terlihat pada material
inorganik yang berkristal, dimana deformasi strukturkristal akan
menghasilkan suatu aliran listrik karena adanya perpindahan elektron pada
kristal-kristal tersebut. Bila suatu gaya dikenakan pada tulang yang dapat
menyebabkan

pelengkungan

(bending)

tulang,

maka

sinyal

piezoelectricdapat terlihat. Efek piezoelectricini terjadi karena migrasi


elektron-elektron dalam latis kristal dari mineral tulang ketika kristal ini
berubah karena adanya tekanan.
c. Teori Tekanan-Tarikan
Teori

ini

dapat

menerangkan

hal-hal

yang

terjadi

yang

berhubungan dengan pergerakan gigi. Aliran darah akan berkurang bila


ligamen periodontal mendapat tekanan dan akan bertambah atau tetap saja
kalau ligament periodontal mendapat tarikan. Perubahan pada aliran darah
akan merubah keadaan kimia darah. Proporsi relatif metabolit yang lain
juga akan berubah dan perubahan kimia ini akan menyebabkan perubahan
seluler yang akanmenyebabkan gigi berpindah dari tempatnya. Walaupun
teori piezoelectricdan teori tekanan-tarikan ini dapat diaplikasikan sebagai
kontrol biologis pergerakan gigi, teori tekanan-tarikan lebih dapat
digunakan sebagai basis dari pergerakan gigi secara ortodonti. Kedua teori
ini juga menerangkan sifat Adaptive Responsdari tulang terhadap gaya
yang mengenai itu.
2.6 Biomekanika Pergerakan Gigi Ortodontik

14

Konsep pergerakan GigiKekuatan yang diberikan pada mahkota


gigi akan menyebabkan gigi akan berubah sedikit letaknya padasoket gigi.
Kekuatan yang diberikan itu dapat mengakibatkan daerah tarikan dan
tekanan pada gigi. Padaperiode tertentu, soket gigi akan berubah dan gigi
akan bergerak jauh dari soket gigiPergerakan Gigi Ortodontik tergantung
dari :
A. Kekuatan Ortodontik meliputi :
1. Jenis kekuatan
2. Arah dan besaran kekuatan
3. Durasi kekuatan
B. Macam-macam Pergerakan Gigi
1. Pergerakan Tipping
2. Pergerakan bodily
3. Pergerakan rotasi
4. Pergerakan intrusi
5. Pergerakan ekstrusi
6. Pergerakan torque
Kekuatan yang akan diberikan harus direncanakan dengan
benar. Kekuatan yang tidak benar dapatmengakibatkan reaksi-reaksi
yang tidak diinginkan.Perencanaan kekuatan harus memperhatikan gigi
penjangkar dan kondisi jaringan periodonsiumJenis kekuatan
1. Kekuatan kontinyu. Kekuatan terus menerus. Kekuatan yang kontinyu
itu akan berhenti pada periodetertentu. Misal pada ekspansi rahang
menggunakan coffin, kawat busur pada piranti ortodonsi cekat
2. kekuatan intermittent. Kekuatan yang berlangsung selama periode
singkat. Kekuatan yangintermittent biasanya pada piranti ortodonsia
lepasan. Misalnya : sekrup ekspansi Arah dan besaran kekuatan serta
durasi kekuatanPergerakan tipping dgn akar tunggal dan hialinisasi
minimum : 25-40 gram dengan pergerakan palingsedikit 1 mm /
bulanMempunyai nilai ambang- kekuatan di atas nilai ambang-

15

kekuatan dibawah nilai ambang hrs terus menerus Kekuatan hrs cukup
kecil spy tdk tjd hialinisasi dlm ligamen periodontal- bodili : distribusi
tekanan merata, memungkinkan tidak terjadi hialinisasi- tipping :
hialinisasi tjd di alveolar crest (tek maks), normal setelah 2-3 minggukekuatan besar : daerah hialinisasi besar, gigi bergerak menjadi gigi
goyang, hialinisasi berlanjut,tertundanyapergerakan gigi, kehilangan
penjangkaran
Kekuatan yang diberikan untuk :- pergerakan tipping : 50-75
gm- pergerakan bodily : 100-150 gm- pergerakan rotasi : 50-75 gmpergerakan ekstrusi : 50-75 gm- pergerakan intrusi : 15-25 gm- Durasi
dari kekuatan adalah lamanya perawatan ortodonsia itu sendiri.
Pergerakan tipping
Yaitu pergerakan gigi condong ke arah mesial, distal, bukal, atau
lingual.- Dihasilkan oleh karena pergerakan gigi lewat satu titik kontak
antar pegas dengan gigi.- Kekuatan yang diberikan bekerja pada satu titik
pada mahkota gigi sehingga gigi akan bergerak miring /tipping dengan
perputaran pada fulkrum- pada pergerakan ini apeks akan bergerak kearah
berlawanan dengan arah pergerakanmahkota- Biasanya letak titik fulkrum
berada 1/3 panjang akar dari apeks (30-40 %)- Sehingga pada pergerakan
ini yang dapat dikoreksi adalah kelainan letak gigi versi, pergerakan
tidakbisadiharapkan terlalu banyak.
Pergerakan torque
Yaitu pergerakan tipping pada apeks gigi
Pergerakan bodily
Gigi digerakkan secara menyeluruh (bodily). Perlu kekuatan
tambahan untuk mengontrol posisi fulkrum
Pergerakan intrusi
Pergerakan intrusi merupakan pergerakan gigi menjauhi bidang
oklusal- Pergerakan intrusi membutuhkan kontrol kekuatan yang baikPada gigi permanen yang belum tumbuh sempurna, kekuatan yang

16

diberikan terlalu ke oklusal akanmenyebabkan pergerakan intrusiContohnya adalah peninggian gigit anterior pada kasus gigitan dalam
.Insisif RB yang oklusi dengan peninggian gigit tersebut (tidak tepat tegak
lurus) bergerak tiping dan intrusi. Gigi-gigi posterior menjadi tidak
kontak.Tujuanpeninggian gigit anterior adalah mengurangi tumpang gigit
dengan

merangsang

pertumbuhan

gigi2posteriordengan

prosesus

alveolarisnya ke oklusal Pergerakan ekstrusi.


Pergerakan menggerakkan gigi-gigi kearah oklusal- Pergerakan ini
digunakan pada kasus-kasus gigitan terbuka.- Digunakan busur labial yang
diletakkan

lebih

ke

cervical

supaya

mendorong

gigi-gigi

ke

oklusalPergerakan rotasi- Koreksi gigi rotasi (derotasi)- Menggunakan


lebih dari satu macam kekuatan. Misalnya untuk rotasi gigi insisif RB
digunakan 2kekuatanyaitu busur labial pada sisi labial dan pegas Z pada
sisi palatal- Alat lepasan digunakan bila rotasi sedikit- Rotasi banyak
dengan alat cekat atau kombinasi alat cekat & alat lepasbiomekanika
pergerakan gigi

KEKUATAN OPTIMAL UNTUK PERGERAKAN


ORTODONTI

TIPE PERGERAKAN
TIPPING
BODILLY
PENEGAKAN AKAR
ROTASI
EKSTRUSI
INTRUSI

GAYA (GRAM)
50-75
100-150
75-125
50-75
50-75
15-25

2.7 Efek Distribusi Kekuatan Dan Tipe Gerakan Gigi


Kekuatan yang diperlukan untuk menggerakkan gigi sebaiknya adalah
kekuatan yang cukup untuk merangsang aktivitas sel tanpa ,enyebabkan
tertutupnya pembuluh darah pada ligament periodontal. Distribusi kekuatan
yang mengenai ligament periodontal berbeda tergantung pada tipe gerakkan

17

gigi dan kekuatan yang digunakan. Ada beberapa gerakkan gigi dalam
perawatan ortodontik, yaitu tipping, translasi, estrusi, dan intrusi.
Gerakkan gigi yang paling sederhana adalah gerakan tipping yang
dihasilkan oleh satu kekuatan tunggal, misalnya dari pegas piranti lepasan.
Pada gerakan tipping mahkota bergerak searah dengan arah kekuatan
sedangkan akar gigi berlawan dengan arah kekuatan, gigi berputar pada pusat
tahanan, sehingga terjadi tekanan pada daerah sekitar apeks yang dekat
dengan pegas dan pada alveolar crest pada tulang alveolar yang jauh dari
pegas. Tekanan berangsunr-angsur berkurang ketika mendekati pusat tahanan
dan pada pusat tahanan tekanannya paling kecil. Dengan gerakkan tipping
hanya setengah daerah ligament periodontal yang mendapat tekanan sehingga
tekanan relatif besar untuk daerah tersebut sehingga kekuatan yang diberikan
untuk menggerakkan gigi secara tipping jangan melebihi 50 gram. Kekuatan
sekitar 35 gram untuk insisivi dan 60 gram untuk gigi berakar ganda
Gerakkan gigi tersebut translasi bila mahkota dan akar gigi bergerak
searah dengan kekuatan dengan besaran yang sama, untuk dibutuhkan dua
kekuatan secara bersamaan. Seluruh ligament periodontal mendapat tekanan
yang sama sehingga dibutuhkan kekuatan yang besar dua kali besar kekuatan
untuk gerakan tipping yaitu sekitar 100 gram untuk menghasilkan respon
biologik yang sama. Ligament periodontal yang mendapatkan tekanan adalah
yang jauh dari kekuatan sedangkanyang dekat kekuatan mendapatkan tarikan.
Gerakan translasi boasanya dihasilkan oleh piramti cekat dengan besar
kekuatan 70 gram untuk insisivi dan 100 gram untuk gigi posterior.
Untuk mendapatkan gerakkan gigi rotasi dibutuhkan kekuatan yang
sama dengan kekuatan untuk menggerakkan gigi secara tipping. Secara teori
mestinya

dibutuhkan

kekuatan

yang

besa

karena

kekuatan

akan

didistribusikan keseluruh ligament periodontal tetapi pada kenyataannya


kekuatan untuk merotasi gigi juga menyebabkan gerakan gigi tipping dan
terdapat juga daerah tekanan sehingga tekanan yang besar akan berdampak
kurang baik. Untuk itu besar kekuatan yang optimal sama dengan kekuatan
untuk menggerakkan gigi secara tipping.
Untuk mendapatkan gerakkan gigi ekstrusi dibutuhkan kekuatan yang
kurang lebih sama dengan gerakkan gigi tipping. Secara teori pada gerakkan
ekstrusi tidak ada daerah pada ligament periodontal yang mengalami tekanan
18

tetapi hanya tarikan, tetapi pada prakteknya juga terjadi gerakkan gigi tipping
sehingga terdapat daerah yang tertekan pada ligament periodontal.
Untuk gerakan instrusi dibutuhkan kekuatan yang ysangat ringa kurang
lebih 10 gram untuk insisivi dan 20 gram uttuk gigi posterior karena kekuatan
akan terkonsentrasi pada daerah yang sangat sempit didaerah apeks. Kekuatan
yang besar akan menghasilkan underimining reseorption selain akan terjadi
resorpsi pada apeks.

2.8 Pengaruh Obat Terhadap Pergerakkan Gigi


Penyuntikan prostaglandin kedalam ligfament periodontal meskipun
sangat menyakitkan dan tidak praktis menunjukkan peningkatan pergerakkan
gigi. Dua macxam obat yang mengurangi respons pergerakkan gigi ialah obat
yang digunakan untuk penanggulangan osteoporosis, ,isalnya bifosfonat dan
obat penghabat prostagladin dalam pengobatan artritis. Osteoporosis bisa
terjadi sebagai bentuk menopose. Pengobatan osteoporosis menghalangi
pergerakkan gigi bifosfonat menghambat resorpsi tulang oleh oleh osteoklas
sehingga pergerakkan gigi melambat.
Menurut Arias dan Marquez Orozco didalam tubuh prostaglandin dibentuk
dari arachidonic acid yang berasal dari fosfolipid. Beberapa obat mempunyai
efek pada aktivitas prostagladin yaitu ;
1. Kortikosteroid dan NSAID
2. Obat-obat yang memounyai efek antagonistik terhadap prostagladin.
Kortikosteroid

menurunkan

sintesis

prostaglandin

dan

mencegah

pembentukkan arachidonic acid sedangkan NSAID mencegah konversi


arachidonic acid menjadi prostaglandin.

Efek kekuatan pada pulpa


Kekuatan kecil yang digunakkan pada perawatan ortodontik dianggap
tidak berpengaruh pada jaringan pulpa atau kalu seadainya ada pengaruh
kecil. Kadang-kadang respon radeang yang yang ringan pada jaringan
pulpa pada awal perawatan yang dirasakan sebagai rasa yang kurang
nyaman oleh pasien beberapa hari sesudah piranti diaktivasi. Kematian
jaringan pulpa bisa terjadi bila digunakan kekuatan besar yang
berkisenambungan karena adanya unermining resorption maka gigi
19

bergerak dengan cepat berkali-kali dan apeks akar bergeser lebih jauh
sehingga pembuluh darah yang masuk ke pulpa rusak. Pergerakkan gigi
secara ortodontik tergantung oada ligament periodontal yang baik dan
bukan keadaan pulpa maka gigi yang nonvital masih dapat digerakkan
secara ortodontik.

Efek kekuatan pada struktur akar


Kekutan besar yang berkisenambungan dapat menyebabkan
resoprsi akar dengan hilangnya sementum bahkan dentin bila resoprsinya
banyak. Kemudian terjadi proses remodelling sementum yang merupakkan
gambaran umum pada akar gigi yang mengalami perawatan ortodontik.
Bila proses remodelling tidak bisa mencapai keadaan sebelum terjadi
resoprsi maka akar akan memendek. Pemendekan lebih banyak terjadi
pada pasien yang dirawat ortodontik secara komprehensif dan berlangsung
lama.

Efek kekuatan pada ketinggian tulan alveolar


Alveolar crest menerima tekanan yang besar pada gerakkan tipping
sehingga diduga akan mengalami resorpsi yang banyak. Tetapi pada
kenyataannya tinggi alveolar crest rata-rata hanya berkurang 0,5 mm. Hal
ini disebabkan pada saat gigi bergerak tulang alveol juga ikut bergerak
sesuai dengan pergerakkan gigi. Karena itu kekuatan yang kecil lebih
menguntungkan dalam pergerakkan gigi

20

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pergerakan gigi adalah basis dari perawatan ortodonti. Untuk dapat
melakukan perawatan tersebutmaka harus terjadi pergerakan gigi untuk
mengembalikan posisi gigi yang menyimpang ke posisi yangbaik
sesuai dengan oklusinya, dan untuk dapat menggerakkan gigi tersebut
diperlukan alat ortodonti,yang terdiri dari dua jenis yaitu alat lepasan
dan alat cekat.

21

DAFTAR PUSTAKA
Pdf.Yusuf M.2010.Biomekanika Pergerakan Gigi.Medan.Fakultas Kedokteran
Gigi USU.
Pdf.Lina H.2010.Pergarakan Gigi.Medan.Fakultas kedokteran Gigi USU
Scribd Biomekanik Pergerakan Gigi Ortodontik

22