Anda di halaman 1dari 14

SATUAN ACARA KEGIATAN

STANDAR NURSING LANGUAGE (SNL)


DI RUANG ICU RSUD DR. SOETOMO SURABAYA

DISUSUN OLEH :
Arifin Kolillu Anam
Bambang Setiawan
Dewi Agustina N.
Wilda Kharisma
Achmad Luky Amanda F.
Hamdan Hariawan
Aprilya Puspita Sari
Miftachul Jannah
Happy Restu Widayati

131413143106
1314131431
1314131431
1314131431
1314131431
131413143162
131413143169
131413143170
131413143178

PRAKTIK PENDIDIKAN PROFESI NERS


KEPERAWATAN KOMPREHENSIF
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS
FAKULTAS KEPERAWATANUNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2016

Materi

: Terapi Komplementer Hipertensi

Sasaran

: Perawat ICU RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Hari/Tanggal

: Jumat, 15 Januari 2016

Tempat

: Ruang Perteuan ICU GBPT RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Waktu

: 15.00 16.10

Analisa Situasional
1; Pelaksana
: Mahasiswa Keperawatan Komprehensif P3N FKp UNAIR
2; Sasaran
: Perawat ICU RSUD Dr. Soetomo Surabaya
II; Tujuan Instruksional
1; Tujuan Instruksional Umum (TIU)
I;

Memberikan pengetahuan tentang Standar Nursing Language (SNL)


2;

Tujuan Instruksional Khusus (TIK)


Peserta dapat mengaplikasikan dokumentasi keperawatan SNL terintegrasi
sesuai dengan NANDA, NOC, dan NIC.

III; Materi

Standar Nursing Language (SNL)


IV; Metode
Ceramah dan diskusi
V; Alat dan Media
Alat yang digunakan untuk kegiatan ini adalah ppt, buku NANDA, NOC, dan
NIC
VI; Kegiatan
No

Waktu

Kegiatan

Peran

Repon

15.0015.05

Pembukaan
Moderator
1; Mengucapkan salam
2; Menyebutkan tujuan
3; Melakukan kontrak waktu

Menjawab salam
Mendengarkan
Menyetujui

15.0515.15

1; Mengevaluasi pengetahuan Pemateri


2; Penjelasan Standar Nursing

Menyampaikan

15.1516.15
3

16.1516.20

16.2516.30

Language (SNL)
Demonstrasi pengisian SNL
Moderator
terintegrasi
Penutup
Moderator
1; Mengucapkan terima kasih
2; Salam penutup

Mendengarkan
Menjawab

Menjawab

VII; Evaluasi

1; Evaluasi Struktur
a;

Kesesuaian waktu dan tempat pelaksanaan dengan perencanaan kegiatan

b; Kesiapan media pendukung kegiatan


c;

Tim bekerja sesuai dengan tugas masing-masing

2; Evaluasi Proses
a;

Hambatan pada proses pelaksanaan kegiatan

b; Peserta antusias dengan materi


c;

Peserta mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai

3; Evaluasi Hasil
Peserta memahami dan mengaplikasikan Standar Nursing Language (SNL)
terintegrasi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG
Peralihan dari agraris menuju ke informatif menyebabkan manusia cenderung

menduduki tempat sentral dalam proses produksi, karena pada tahap ekonomi era
saat ini berdasarkan pada pengetahuan dan berfokus pada informasi. Dalam hal ini
telekomunikasi dan informatika memegang peranan sebagai teknologi kunci (enabler
technology). Kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi begitu pesat
sehingga memungkinkan diterapkannya cara-cara baru yang lebih efisien untuk
produksi, distribusi, konsumsi barang dan jasa (Wardiana, 2002).
Jasa pelayanan kesehatan sebagai bentuk industri pelayanan kesehatan akan
menimbulkan persaingan dalam memberikan jasa pelayanan perawatan di setiap
pelayanan kesehatan. Rumah sakitpun sebagai organisasi bergerak dibidang jasa
pelayanan kesehatan dituntut untuk menyiapkan diri menghadapi persaingan dari
teknologi yang dimilikinya. Sistem informasi berbasis internet dan teknologi sangat
penting bagi keberhasilan bisnis dan organisasi karena dapat meningkatkan efisiensi
dan efektivitas proses bisnis, dan dapat memfasilitasi pengambilan keputusan
manajemen, sehingga dapat memperkuat posisi kompetitif dalam pasar yang cepat
sekali berubah termasuk pelayanan rumah sakit (OBrien, 2005).
Pelayanan keperawatan di dalam lingkungan rumah sakit merupakan salah satu
pelayanan di bidang kesehatan yang mempunyai peranan penting dalam menentukan
keberhasilan pelayanan yang diberikan di rumah sakit. Dengan jumlah tenaganya
yang paling besar di lingkungan rumah sakit, keberadaan pelayanan keperawatan
harus mampu dimanej dengan baik untuk menghasilkan kualitas mutu pelayanan
keperawatan yang diberikan. Peningkatan kualitas sistem informasi keperawatan
merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.
Tidak dipungkiri bahwa selama ini perkembangan sistem informasi keperawatan di
negeri ini belum berjalan dengan baik.

Manfaat penerapan sistem informasi keperawatan di lingkungan rumah sakit


salah satunya adalah membantu perawat dalam melakukan pendokumentasian asuhan
keperawatan. Dengan memanfaatkan sistem informasi keperawatan tersebut perawat
dapat menghemat waktu untuk melakukan pencatatan dibandingkan bila dilakukan
pencatatan secara manual. Di samping itu, data yang tercatat dengan menggunakan
sistem informasi keperawatan akan lebih terjamin keberadaannya. Resiko data yang
dicatat akan hilang sangat kecil. Berbeda dengan pencatatan yang berdasarkan paper
base, dimana kemungkinan untuk hilangnya data sangat mungkin untuk terjadi.
Selain itu keberadaan sistem informasi keperawatan juga akan meningkatkan
keefektifan dan efisien kerja dari tenaga keperawatan (Cheryl, 2007).
Sebenarnya untuk menerapkan sistem informasi keperawatan di lingkungan
rumah sakit tidaklah terlalu sulit untuk diterapkan, tinggal komitmen untuk
menerapkannya saja yang diperlukan. Dalam masa serba teknologi seperti saat ini,
kiranya hampir semua perawat dapat mengoperasikan komputer sebagai sebuah
perangkat dalam penerapan sistem informasi keperawatan. Ini merupakan sebuah
modal yang sangat besar yang sangat mendukung penerapan sistem informasi
keperawatan. Tinggal masalahnya sekarang adalah bagaimana komitmen kita
bersama, mulai dari manajemen level atas sampai dengan manajemen level paling
bawah untuk memperjuangkan penerapan sistem informasi keperawatan di setiap
unit

pelayanan

keperawatan.

Alasan

kurangnya

ketersediaan

dana

untuk

mengembangkan sistem informasi keperawatan merupakan sebuah alasan klasik


yang tidak boleh ada lagi. Apalagi melihat akan pentingnya sistem informasi
keperawatan bagi peningkatan kualitas pelayanan keperawatan khususnya dan
pelayanan kesehatan pada umumnya (Cornelia, 2007).
Pendapat diatas didukung juga oleh hasil penelitian Laurie (2008) yang
mengatakan penerapan sistem informasi manajemen terkomputerisasi atau ORMIS
(of an or management information system) memerlukan signifikan komitmen sumber
daya manusia. Kemampuan perawat dituntut untuk bisa menggunakan keahliannya
secara efektif untuk menggunakan teknologi dimana mengubah bentuk data
informasi ke dalam pengetahuan untuk praktek klinis, riset, dan pendidikan.
Keinginan dalam membuat sistem informasi di rumah sakit sangat diharapkan oleh
tenaga profesional untuk membantu pemecahan masalah yang ada.

Pelaksanaan

sistem

informasi

keperawatan

di

rumah

sakit,

yakni

mengkombinasikan ilmu komputer, ilmu informasi, dan ilmu keperawatan yang


didesain untuk memudahkan manajemen dan proses pengambilan data, informasi,
dan pengetahuan untuk mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan (Davis, 2002).
Sistem informasi keperawatan sedang dikembangkan secara terus menerus dimasa
depan ilmu keperawatan akan bersandar pada kemampuan sistem informasi untuk
memudahkan hasil diagnosa, manajemen, riset, pendidikan, pertukaran informasi,
dan kerja sama/kolaborasi.
Saba dan McCormick (2001), mengatakan bahwa integrasi ilmu keperawatan,
ilmu

komputer

dapat

digunakan

untuk

mengidentifikasi,

mengumpulkan,

memproses, mengatur data dan informasi untuk menyokong praktek keperawatan,


administrasi, pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu keperawatan.
Kebutuhan akan sistem informasi manajemen mendukung perawat dalam membantu
pengambilan keputusan. Kemajuan teknologi di rumah sakit memungkinkan perawat
menggunakan sistem informasi manajemen untuk mendukung dalam pemberian
asuhan keperawatan, sehingga tercapainya mutu asuhan keperawatan yang lebih
baik.
Menurut Anita (2008) yang melakukan penelitian difokuskan pada eksplorasi
Computerized Provider Order Entry (CPOE) dan dampaknya terhadap pekerjaan
yang dilakukan oleh perawat. Hasilnya CPOE adalah teknologi yang dirancang
mengganti paperbased proses order entry, komunikasi, dan koordinasi dengan
metode otomatis, salah satunya dalam implementasi kolaborasi untuk pemberian
resep obat di perawatan akut. CPOE terbukti dapat meningkatkan efisiensi
komunikasi dan mengurangi kesalahan transkripsi obat-obatan serta mengurangi
waktu perawatan pada pasien, sehingga angka kesakitan dan kematian pasien
menurun.
Banyak masyarakat mengeluh dengan pelayanan kesehatan yang diterimanya
dari perawat. Untuk itu kinerja perawat perlu ditingkatkan sehingga kualitas
pelayanan asuhan keperawatan bisa diberikan dengan baik. Salah satu ukuran
berkualitas atau tidaknya suatu pelayanan kesehatan yang diberikan kepada
masyarakat adalah tingkat kepuasan bagi masyarakat penerima jasa pelayanan itu
sendiri (Maria, 2009).

KAJIAN LITERATUR
Informasi keperawatan adalah integrasi dari ilmu keperawatan, ilmu komputer,
dan ilmu informasi untuk mengolah data, informasi, dan pengetahuan dalam praktik
keperawatan guna mendukung pasien, perawat, dan pengguna lain dalam berperan
mengambil keputusan (Davis, 2002). Pendapat lain juga menyatakan bahwa
informasi keperawatan adalah untuk menganalisa, mengumpulkan, mengolah data,
dan memproses data ke dalam bentuk informasi dan pengetahuan, membuat
pengetahuan sebagai dasar keputusan dan pemberian pelayanan keperawatan pasien
dan meningkatkan kualitas dalam praktik profesional keperawatan (Maria, 2009).
Manfaat yang diperoleh bila rumah sakit menggunakan sistem informasi
keperawatan, yaitu: 1) manajemen lebih efisien, 2) penggunaan sumber biaya lebih
efektif, 3) meningkatkan program perencanaan, 4) meningkatkan pendayagunaan
perawat (Cornelia, 2007). Menurut American Association of Nurse Executive (1993)
dalam Saba & McCormick (2001) mengemukakan manfaat penting dalam
penggunaan informasi teknologi, yaitu: 1) meningkatkan pemanfaatan sumber daya
staf perawat, 2) meningkatkan pelayanan dalam memonitoring pasien, 3)
meningkatkan dokumentasi, 4) meningkatkan komunikasi, 5) meningkatkan
perencanaan, 6) meningkatkan standar praktik keperawatan, 7) kemampuan
menetapkan masalah, 8) meningkatkan evaluasi keperawatan, dan 9) mendukung
organisasi yang dinamik.
Menurut Maria, (2009) mengemukakan bahwa pelayanan keperawatan terdiri
dari 1) diagnosa keperawatan, merupakan pengembangan diagnosa keperawatan dari
NANDA, NIC, dan NOC; 2) perencanaan keperawatan, merupakan perencanaan
tindakan yang diberikan kepada pasien; 3) implementasi keperawatan atau hasil
perencanaan, merupakan tindakan yang diberikan kepada pasien berdasarkan
perencanaan keperawatan; dan 4) intensitas pelayanan keperawatan, merupakan
frekuensi dan durasi pelayanan keperawatan yang diberikan oleh perawat terhadap
pasien.

Dokumentasi keperawatan adalah salah satu alat yang digunakan dalam


komunikasi

keperawatan

dalam

memvalidasi

asuhan

keperawatan,

sarana

komunikasi antar tim kesehatan lainnya dan merupakan dokumen paten dalam
pemberian asuhan keperawatan (Nursalam, 2002). Menurut Iyer dan Champ (1995)
dokumentasi adalah bagian dari pertanggung jawaban perawat secara utuh terhadap
klien yang dirawat. Dokumentasi perawatan merupakan bagian penting dari
dokumentasi klinis. Namun, dokumentasi proses keperawatan sering kurang
berkualitas. Harapan yang tinggi bahwa komputer mendukung di dalam dokumentasi
keperawatan akan membantu meningkatkan kualitas dokumentasi.
Hasil penelitian Cornelia (2007) menunjukkan peningkatan signifikan kuantitas
dan kualitas dokumentasi pada tiga dari empat ruangan rawat nginap dari 240
dokumentasi keperawatan (= 60 dokumen per bangsal), dipilih secara acak dari
registri rawat inap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengenalan berbasis
komputer dalam sistem dokumentasi keperawatan dapat membantu meningkatkan
dokumentasi keperawatan. Kualitas dokumentasi keperawatan tidak hanya
dipengaruhi oleh faktor manusia seperti aspek motivasi dan sikap perawat terhadap
dokumentasi, melainkan juga relevan dengan organisasi dalam lingkungan rumah
sakit serta teknologi tentang aspek kinerja dan pemenuhan tugas. Intervensi untuk
meningkatkan kualitas dokumentasi perlu direncanakan terus menerus dan
merupakan tantangan konstan.
Tinjauan dokumentasi keperawatan menurut Kozier dan Wilkinson (1995)
adalah 1) komunikasi, sebagai sarana koordinasi dan mencegah pembiasan informasi
pada klien secara berulang; 2) aspek legal, dapat disajikan alat bukti di pengadilan
bila ada gugatan klien/keluarga; 3) penelitian, berisi informasi yang dapat disajikan
alat bukti di pengadilan bila ada gugatan dari klien/keluarga; 4) pendidikan, dapat
dijadikan alat pendidikan bagi siswa/calon perawat; 5) monitoring kualitas, 6)
statistik, dari catatan klien sebagai informasi bagi institusi dalam membuat antisipasi
kebutuhan masyarakat yang akan datang; 7) akreditasi, dokumentasi adalah
komponen yang dinilai dalam akreditasi rumah sakit; dan 8) pembayaran, dapat
dijadikan alat/bantuan untuk menerima pembayaran/anggaran dari pemerintah.
Aturan dalam membuat dokumentasi yang efektif menurut Alimul (2002),
yaitu: 1) simplicity (kesederhanaan), pendokumentasi menggunakan kata-kata yang

sederhana, mudah dibaca, dimengerti dan perlu dihindari istilah-istilah yang dibuatbuat sehingga mudah dibaca; 2) conservatism (akurat), pendokumentasi berdasarkan
informasi dari data pasien yang dikumpulkan; 3) kesabaran, 4) precision (ketepatan),
pendokumentasian yang tepat perlu pemeriksaaan dengan menggunakan teknologi
yang lebih tinggi; 5) irrefutability (jelas dan objektif), dan 6) dampak/manfaat
penerapan dokumentasi keperawatan.
Hasil penelitian Kaija & Ulla (2008) yang diambil dari tiga database:
CINAHL, PubMed dan Cochrane dengan menggunakan kata kunci dokumentasi
keperawatan,

rencana

keperawatan,

evaluasi

dan

penilaian

keperawatan

menghasilkan standar dokumentasi menunjukkan efek lebih positif daripada efek


negatif terhadap kualitas proses keperawatan dan menggunakan terminologi, tingkat
pengetahuan dan penerimaan komputer dalam dokumentasi.
Hasil penelitian Daly, et al. (2002) dalam Kaija & Ulla (2008) percaya setelah
belajar menggunakan sistem informasi berbasis komputer dan perangkat lunak dari
waktu ke waktu, jumlah waktu yang dihabiskan pada perencanaan perawatan akan
berkurang.

Dokumentasi

keperawatan

merupakan

area

penting

penelitian

internasional. Namun, dalam kajian ini, tidak ada satupun studi kolaboratif
internasional menilai dokumentasi keperawatan menggunakan instrumen audit yang
sama. Instrumen audit terutama dikembangkan untuk tujuan lokal atau regional dan
digunakan untuk mengevaluasi secara retrospektif dokumentasi keperawatan pada
tingkat organisasi.
Penggunaan sistem berbasis paper dibandingkan dengan sistem perekaman
berbasis komputer meskipun transisi dari manual ke dokumentasi elektronik telah
berlangsung selama 15 tahun terakhir. Hal ini mencerminkan sangat lambat proses
adaptasi komputer dalam dokumentasi keperawatan. Penggunaan istilah keperawatan
terstruktur mendorong standarisasi dokumentasi keperawatan. Ini juga akan
membuka jalan untuk memperluas ruang lingkup penelitian dokumentasi dengan
menilai kualitas dokumentasi untuk mengukur hasil pasien. Data juga harus
dikumpulkan dari pasien dan anggota keluarga ketika mengevaluasi dokumentasi
keperawatan.
Menurut Cheryl (2007) penggunaan proses perbaikan yang berkelanjutan untuk
memastikan program pendidikan dokumentasi yang akurat untuk pengembangan

pengetahuan dan profesional staf keperawatan. Proses empat tahap sebagai berikut:
(1) mulai sebuah tim dan identifikasi masalah; (2) menganalisis proses saat ini dan
menentukan lingkup dan akar penyebab, (3) meningkatkan proses, mencari alternatif,
merancang dan menerapkan solusi; dan (4) mengukur dampak dan mempertahankan
hasilnya. Hasil penelitian telah membuktikan bahwa penggunaan sistem informasi
keperawatan yang efektif dan teknologi tepat guna akan dapat mengurangi kesalahan
dalam memberikan perencanaan keperawatan pada pasien. Penggunaan sistem
informasi keperawatan juga akan meningkatkan mutu pelayanan dan asuhan
keperawatan.
Pada pengkajian keperawatan, penerapan Standar Nursing Language (SNL)
berbasis TI (Teknologi Informasi) yang ada dalam sistem. Pada pengkajian data,
perawat tinggal memilih data yang tersedia. Setelah data dipilih secara lengkap,
komputer akan secara automatis menganalisa data yang telah dipilih perawat, dan
memunculkan masalah sesuai data yang dipilih. Komputer akan membantu
melakukan analisis data yang dimasukan oleh perawat saat melakukan pengkajian
kepada pasien. Dengan menggunakan sistem pakar maka perawat sedikit
terkurangi bebannya dalam melakukan analisis data untuk dijadikan diagnosa
keperawatan. Masalah yang munculpun menjadi semakin riil dan akurat, karena
masalah yang dimunculkan oleh komputer merupakan analisa baku.
Diagnosa Keperawatan dihasilkan dari analisa yang dilakukan oleh komputer,
berdasarkan data-data yang dimasukan saat pengkajian perawatan. Komputer akan
secara automatis menganalisa data yang ada dan memunculkan masalah
keperawatan. Perawat tinggal memilih etiologi yang ada disesuaikan dengan kondisi
pasien. Sehingga di sinilah, peran perawat tidak bisa digantikan oleh komputer,
karena judgment terakhir tetap di tangan perawat. Apakah masalah yang
dimunculkan oleh komputer diterima atau tidak oleh perawat (Maria, 2009).
Tujuan Keperawatan dalam sistem informasi keperawatan menggunakan
Nursing Outcome Clasification (NOC). Perawat tinggal memilih Label dari NOC
yang telah tersedia pada masing-masing diagnosa keperawatan yang ada, serta
menentukan batas waktu (dalam hari) masalah diperkirakan dapat terselesaikan.
Sedangkan

intervensi

keperawatan

dalam

sistem

informasi

keperawatan

menggunakan Nursing Intervention Clasification (NIC) dan sama dengan membuat

tujuan, perawat tinggal memilih label NIC yang tersedia pada masing-masing
diagnosa keperawatan (Maria, 2009).
Implementasi keperawatan dalam sistem informasi keperawatan menggunakan
label NIC dan aktifitas dalam NIC. Perawat tinggal mengetikan aktifitas-aktifitas
perawatan yang telah dilakukan, menambahkan jam pelaksanaan dan menuliskan
pelaksana dari aktifitas tersebut. Yang istimewa dalam sistem ini adalah
implementasi yang diinputkan oleh perawat dalam dokumentasi asuhan keperawatan
langsung diintegrasikan dengan billing system rumah sakit, sehingga tidak ada
double entry dalam keuangan pasien. Masing masing tindakan perawat telah
memiliki harga sendiri sendiri yang telah disahkan oleh rumah sakit, dan perawat
tinggal mendokumentasikan dalam sistem informasi keperawatan (Laurie, 2008).
Sedangkan untuk evaluasi keperawatan menggunakan hasil penilaian subyek,
observasi, analisa, dan planning keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA
Alimul, Hidayat, A.A. (2002). Dokumentasi proses keperawatan. Cetakan I. Jakarta:
EGC.
Anita, R. G. (2008). Computerized Provider Order Entry (CPOE): How Is Nursing
Work

Impacted?

Diakses

16

Oktober

2010

dari

http://proquest.umi.com/pqdweb?
index=13&did=1598817911&SrchMode=1&sid=1&Fmt=6&VInst=PROD&V
Type=PQD&RQT=309&VName
Cheryl, et al. (2007). Improving Program Documentation Quality Through the
Application of Continuous Improvement Processes. The Journal of Continuing
Education in Nursing Vol 38 No 6. Diakses 23 Oktober 2010 dari
http://proquest.umi.com/pqdweb?index=16&did=1382110771&SrchMo
de=1&sid=1&Fmt=6&VInst=PROD&VType=PQD&RQT=309&VName
Cornelia, M., et al. (2007). Effects of a Computer-based Nursing Documentation
Systemon the Quality of Nursing Documentation. Diakses 16 Oktober 2010
dari

http://proquest.umi.com/pqdweb?index=18&did=2157471961&SrchMo

de=1&sid=1&Fmt=6&VInst=PROD&VType=PQD&RQT=309&VName
Davis, G.B. (2002). Kerangka dasar system informasi manajemen bagian II:
struktur dan pengembangannya. Cetakan ke 10, terjemahan oleh Bob
Widyahartono. Jakarta: Gramedia

Hariyanti, R.T.S. (2010). Sistem informasi keperawatan berbasis komputer sebagai


salah satu solusi meningkatkan profesionalisme keperawatan. Diakses 31
Oktober 2010 dari http://www.poltekestniau.ac.id/node/30
Iyer and Champ. (1995). Nursing documentation a nursing process approach. St.
Louise: Mosby
Kaija, S. & Ulla, M.K. (2008). Evaluating nursing documentationresearc designs
and methods: systematic review. Journal of Advanced Nursing. Diakses 16
Oktober 2010 dari http://web.ebscohost.com/ehost/ pdfviewer/
pdfviewer?vid=1&hid=106&sid=9777d241-39aa-428da&fd7142abc0ac10%
40sessionmgr110
Kozier & Wilkinson. (1995). Fundamental of nursing concepts, process and
practise. Fifth edition. California: Addison Wesley
Laurie, et al. (2008). Nursing Resource Considerations for Implementing an
Electronic Documentation System. AORN Journal Vol 87 No 3. Diakses 16
Oktober 2010 dari http://proquest.umi.com/pqdweb?index=11&did=14428
66771&SrchMode=1&sid=1&Fmt=6&VInst=PROD&VType=PQD&RQT=30
9&Vname
Maria, M.S. (2009).

Evaluation of the Implementation of Nursing Diagnoses,

Interventions, and Outcomes. International Journal of Nursing Terminologies


and

Classifications

Volume

20.

Diakses

23

Oktober

2010

dari

http://web.ebscohost.com/ehost/pdfviewer/pdfviewer?vid=3&hid=106
&sid=f6272a2c-8102-4957-8a68-2988Cad9e0d8%40sessionmgr113
Nursalam. (2002). Manajemen keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
OBrien, James, A. (2005). Pengantar sistem informasi manajemen. Jakarta:
Salemba Empat

Saba & McCormick. (2001). Essentials of computers for nurses: informatics for the
new millenium. Third edition. New York: McGraw-Hill Companies
Wardiana. (2002). Perkembangan teknologi informasi di Indonesia. Diakses 23
Oktober 2010 dari http://www.informatika.lipi.go.id/jurnal/htm