Anda di halaman 1dari 5

Pendahuluan

Pengelolaan sumber daya energi yang efektif dan cerdas merupakan salah
satu bagian terpenting guna terciptanya pembangunan nasional yang
berkelanjutan, kebutuhan gas domestik yang terus meningkat dan tantangan untuk
mengurangi ketergantungan pada konsumsi minyak bumi tentunya harus disikapi
dengan melakukan eksplorasi dan pengembangan sumberdaya gas, termasuk gas
non-konvensional berupa shale gas, inovasi dalam pengembangan eksplorasi
migas harus terus di lakukan untuk mengolah sumber energi yang murah dan
dapat dikembangkan mulai saat ini hingga masa depan yang nantinya dapat
dinikmati oleh masyarakat luas.
Indonesia merupakan daerah prospek shale gas yang cukup besar dengan
beberapa cekungan yang ada di Indonesia yang memiliki potensi lapisan shale
yang tebal dan area yang luas diindikasikan terdapat sumber Shale Hydrocarbon
yang banyak.
Kebutuhan akan energi masa depan di Indonesia sangat diharapkan,
ketergantungan akibat energi minyakvdan gas saat ini harus dapat diatasi dimana
minyak dan gas merupakan energi konvensional yang mana dapat diartikan
sebagai sumber energi yang ditemukan dalam reservoir dengan permeabilitas yang
tinggi yaitu lebih dari 1 mD, Indonesia memiliki potensi untuk menge- mbangkan
energi non-konvensional nya berupa shale gas, energi non-konvensional sendiri
dapat diartikan sebagai energi yang ditemukan dalam resrvoir dengan kondisi
permeabilitas yang kecil yaitu kurang dari 1 mD (Tobing, 2013)
Dan kita tahu, shale gas merupakan sumber energi yang keberadaannya
mengancam eksistensi minyak bumi sehingga shale gas ini menjadi salah satu
penyebab turunnya harga minyak sejak 2015 kemarin. Lalu apa shale gas ini?
Untuk itulah kita bahas sedikit saja.

Pengertian

Shale gas adalah gas non-konvensional yang diperoleh dari serpihan


batuan shale sedimen atau tempat terbentuknya minyak dan gas bumi. Batuan
sedimen adalah batuan yang terbentuk oleh akumulasi sedimen di permukaan
bumi dan dalam badan air. Batuan sedimen umum termasuk batu pasir, batu kapur,
dan serpih. gampangnya, shale gas adalah gas alam yang terjebak dalam formasi
shale.
Gas alam konvensional biasanya ditemukan di cekungan lapisan bumi
pada kedalaman sekitar 800 meter atau lebih. Namun, shale gas terdapat di lapisan
bebatuan (shale formation) di kedalaman lebih dari 1.500 meter. Lapisan tersebut
kaya material organik, sehingga dapat dijadikan sebagai sumber energi baru.

Keunggulan dan Kelemahan Shale Gas


Shale gas bisa menjadi salah satu sumber energi yang paling penting di
tahun-tahun mendatang, dan sebagaiman dengan sumber energi lainnya shale gas
memiliki keunggulan dan kelemahan. Sebelum berbicara lebih lanjut tentang
keunnggulan dan kelemahan shale gas pertama-tama kita harus mendefinisikan
apa itu shale gas. Shale gas adalah gas alam yang diperoleh dari serpihan
batuan shale atau tempat terbentuknya gas bumi.
Ketika berbicara mengenai keunggulan shale gas, banyak pakar energi
yang akan memberikan fakta bahwa shale gas menghasilkan emisi karbon yang
secara signifikan lebih sedikit dibandingkan dengan batubara (shale gas
mengeluarkan sekitar setengah dari emisi karbon batubara).
Shale gas juga merupakan sumber energi yang melimpah, misalnya,
diperkiraan di Amerika Utara saja terdapat sekitar 1.000 triliun kaki kubik shale
gas yang cukup untuk memasok gas alam untuk USA selama 50 tahun atau lebih.
Analisa terakhir juga menunjukkan bahwa shale gas bisa menyediakan hingga
setengah pasokan gas USA pada tahun 2020.

Shale gas juga dapat menurunkan biaya energi karena produksi shale gas
kemungkinan akan menyebabkan penurunan harga gas alam secara signifikan.
Produksi shale gas yang besar juga akan membantu meningkatkan keamanan
energi, dan membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil asing
yang mahal.
Shale gas juga bisa menjadi pilihan energi yang lebih bersih bagi negaranegara berkembang yang saat ini sangat bergantung pada batubara, sumber energi
yang paling kotor.
Ada juga beberapa kerugian dari shale gas yang akan di sebutkan di sini.
Shale gas meskipun (secara signifikan) merupakan sumber energi yang lebih
bersih dibandingkan dengan batubara, masih menghasilkan emisi karbon yang
signifikan, sehingga menjadi kurang dapat diterima dari sudut pandang
lingkungan dibandingkan sumber energi terbarukan lainnya. Ada juga bahaya
lingkungan dalam bentuk potensi kebocoran gas metana dari sumur shale gas
yang bisa menurunkan efek pengurangan karbon dioksida dan manfaat iklim
dengan beralih dari batubara ke shale gas.
Perkembangan industri shale gas yang cepat bisa memperlambat
perkembangan lebih lanjut dari industri energi terbarukan, terutama jika shale gas
(bila sesuai yang diperkirakan) menjadi salah satu pilihan energi yang paling
murah. Energi terbarukan telah lama sulit bersaing dengan batubara, dan dengan
tersedianya shale gas yang murah, ini bisa memperburuk perkembangan di sektor
energi terbarukan.
Saat ini, biaya ekstraksi shale gas lebih tinggi dibandingkan dengan biaya
untuk ekstraksi gas konvensional atau batubara, tetapi kemajuan lebih lanjut
teknologi pengeboran dapat membantu mengurangi biaya ekstraksi shale gas.
Masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa shale gas akan menjadi salah
satu faktor penentu di pasar energi global, tetapi potensinya tidak bisa diragukan
lagi.

Pengembangan Shale Gas Indonesia


Pengembangan shale gas di Indonesia masih dalam tahap studi potensi
sumber daya dan masih belum berjalan secara optimal sebagai energi alternatif.

Menurut (Sunarjanto, 2012), sampai saat ini sudah banyak pihak yang ikut
membantu dalam studi potensi ini sebagian dilakukan oleh pemerintah yang
mempelajari secara regional dan sebagian lagi dari para pelaku industri,
khususnya perusahaan yang berkutat di bidang industri migas dengan studi lebih
dalam lagi dengan cakupan wilayah yang lebih sempit. Dari hasil yang didapat
menurut (Sunarjanto, 2012), tercatat bahwa studi yang dilakukan oleh Badan
Geologi tercatat 7 daerah prospek shale gas berumur Miocene yang tersebar di
Pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua dengan total cadangan sebesar 500 TCF
lebih, sedangkan kajian yang telah dilakukan oleh beberapa perusahaan migas
seperti Pertamina yang dikaji dari data hasil pemboran terdapat potensi shale gas
di wilayah Indonesia Timur.

Penutupan
Potensi shale gas Indonesia sebesar 570 TCF yang mana tersebar
dibeberapa daerah diantaranya adalah Formasi Telisa dan Formasi Gumai di
Sumatera, sedangkan di Jawa di yaitu lapangan migas Jawa bagian Utara, di
Kalimantan yaitu lapangan migas Balikpapan, Tanjung dan Bangkau, di Papua
berada pada Formasi Klasafet. Guna mempercepat shale gas di Indonesia selain
dengan eksplorasi dan pengembangan diharapkan adanya pembuktian secara
komersil, selain itu lapisan yang memiliki kedalaman sekitar 1.000 meter lebih ini
memerlukan waktu yang lama dalam tahap eksplorasi nya dan biaya yang relatif
mahal. Teknologi yang canggih juga berperan dalam produksi shale gas nantinya
agar didapatkan hasil yang maksimal dan sejauh ini metode hydraulic fracturing
yang sangat cocok digunakan untuk eksplorasi shale gas di Indonesia. Diharapkan
dengan berkembangnya shale gas ini dapat mengatasi krisis energi yang ada di
Indonesia.