Anda di halaman 1dari 16

KEPERAWATAN KRONIS

HIPERTENSI DAN SENAM HIPERTENSI

Disusun oleh :
1. Murniati J
2. Gia Putri Sunarta J2101400
3. Hanifah J2101400
4. FFajar Nur Habibi J2101400
5. Arditya J2101400
6. Any Risna J2101400
7. Dyah Ayu J2101400
8. Lia Ayu J2101400
9. Daffa Ibnu Fauzan J2101400
10. Dewinta Irmawati J210140054

PPROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIAH SURAKARTA
2016
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Penyakit darah tinggi yang lebih dikenal sebagai hipertensi merupakan penyakit yang
mendapat

perhatian

dari

semua

kalangan

masyarakat,

mengingat

dampak

yang

ditimbulkannya baik jangka pendek maupun jangka panjang sehingga membutuhkan


penanggulangan jangka panjang yang menyeluruh dan terpadu. Penyakit hipertensi
menimbulkan angka morbiditas (kesakitan) dan mortalitasnya (kematian) yang tinggi.
Penyakit hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya interaksi dari
berbagai faktor resiko yang dimiliki seseorang. Berbagai penelitian telah menghubungkan
antara berbagai faktor resiko terhadap timbulnya hipertensi.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tenyata prevalensi (angka kejadian)
hipertensi meningkat dengan bertambahnya usia. Dari berbagai penelitian epidemiologis
yang dilakukan di Indonesia menunjukan 1,8-28,6% penduduk yang berusia diatas 20 tahun
adalah penderita hipertensi.
Hipertensi, saat ini terdapat adanya kecenderungan bahwa masyarakat perkotaan
lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan masyarakat pedesaan. Hal ini antara lain
dihubungkan dengan adanya gaya hidup masyarakat kota yang berhubungan dengan resiko
penyakit hipertensi seperti stress, obesitas (kegemukan), kurangnya olahraga, merokok,
alkohol, dan makan makanan yang tinggi kadar lemaknya.
Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan
darah, tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus
meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan
menurun drastis.
B.

Rumusan Masalah
a. Bagaimana definisi hipertensi ?
b. Apa penyebab hipertensi ?
c. Apa tanda gejala hipertensi ?
d. Bagaimana definisi senam hipertensi ?
e. Apa manfaan senam hipertensi?
f. Bagaimana cara senam hipertensi ?

C.

Tujuan
a. Untuk mengetahui definisi hipertensi.
b. Untuk mengetahui penyebab hipertensi.
c. Untuk mengetahui tanda dan gejala yang ditimbulkan.

d. Untuk mengetahui pengertian senam hipertensi.


e. Untuk mengetahui manfaat senam hipertensi.
f. Untuk mnegetahui cara senam hipertensi.

BAB 11
PEMBAHASAN
A. Pengertian Hipertensi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal tekanan
darah dalam pembuluh darah arteri (nadi) secar terus-menerus lebih dari suatu

periode.hipertensi menambah beban kerja jantung dan arteri yang bila berlanjut dapat
menimbulkan kerusakan jantung dan pembuluh darah. Udjianti, 2010.
Hipertensi juga didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik 140 mmHg dan atau
tekanan darah diastolic 90 mmHg.
Menurut WHO, batasan tekanan darah yang masih dianggap normal adalah
140/90 mmHg, sedangkan tekanan darah 160/95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi.
Tekanan darah diantara normotensi dan hipertensi disebut sebagai borderline
hypertension (Garis Batas Hipertensi). Batasan WHO tidak membedakan usia dan jenis
kelamin.
B. Penyebab
1 Hipertensi primer/esensial adalah hipertensi yang tidak atau belum di ketahui
penyebabnya, artinya penyebabnya merupakan interaksi yang kompleks antara faktor
genetic dan berbagai faktor lingkungan, di antaranya adalah:
Hiperaktif susunan saraf adrenergik: Biasanya penderita umur muda dengan

gejala takikardi dan peningkatan cardiac output.


Kelainan pertumbuhan pada system kardiovaskuler dan ginjal: HT terjadi karena
peningkatan resistensi perifer akibat elastisitas arteri berkurang dan juga kurang

berkembangnya mikrosirkulasi.
Gangguan system RAA: Peningkatan sekresi rennin secara cepat mengkonversu
angiotensinogen menjadi Ang-I, Ang-I kemusian oleh ACE dikonversi menjadi
Ang-II, suatu peptide yang memiliki efek vasokontriksi dan meningkatkan sekresi

aldosteron dari kelenjar adrenal.


Gangguan natriuresis: Pada orang normal, natriuersis terjadi sebagai respon dari

peningkatan tekanan darah. Pada pasien hipertensi, homeostasis ini terganggu.


Gangguan pertukaran ion positif: Gangguan pertukaran Na+ dan K+ menyebabkan

Na+ dan Ca2+ intraseluler meningkat, akibatnya terjadi vasokonstriksi.


Lain-lain: Faktor lain yang menyebabkan peningkatan tekanan darah pada
individu predisposisi adalah obesitas, konsumsi diet tinggi natrium atau diet
rendah potassium, konsumsi alcohol berlebihan. merokok, polisitemia atau
peningkatan viskositas darah, penggunaan Nonsteroidal anti-inflammatory drugs

(NSAID) dan sindrom metabolik.


Hipertensi sekunder merupakan hipertensi yang mengalami komplikasi. Penyebab
spesifiknya diketahui seperti genetik, penyakit parenkim ginjal, hipertensi vascular
renal, penggunaan estrogen, hiperaldosteronisme primer, dan sindrom cushing,

feokromositomo, koarktasio aorta, hipertensi yang berhubung dengan kehamilan, dan


lain-lain.
Berdasarkan rentang tekanan darah, The Seventh Report of the Joint National
Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood
Pressure (JNC VII) membagi HT menjadi 4 kategori:

Normal
Pre-hipertensi
Hipertensi

Tekanan darah (mmHg)


Sistolik
<120
120 139
140 159

Diastolik
<80
80 89
90 99

stage 1
Hipertensi

160

100

Klasifikasi

stage 2
Hipertensi tidak menimbulkan gejala yang khas pada umumnya dan sangat
jarang dirasakan atau dikeluhkan oleh penderita. Adakalanya beberapa gejala timbul
bersamaan dengan hipertensi dipercaya sebagai akibat dari tekanan darah
tinggi,diantaranya yaitu : Sakit kepala, kelelahan, mual dan muntah, sesak nafa,
gelisah, pandangan menjadi kabur. Manifestasi klinis pada hipertensi berat mungkin
hingga terjadi koma, penurunan kesadaran karena pembengkakan otak yang disebut
ensefalopati hipertensi (Sustrani, 2006).
Pengaturan

vasokonstriksi

dan

vasodilatasi

pembuluh

darah

sangat

dipengaruhi oleh emosi seseorang lewat kerja saraf simpatis dan sistim hormon.
Dengan demikian pengaturan dan pengelolaan emosi maupun stres pada seorang
penderita hipertensi akan dapat membantu pengelolaan penyakit hipertensinya
(Sustrani, 2006).
Elsanti (2009), mengelompokan menjadi 2 (dua) yaitu faktor risiko yang dapat
dikontrol dan faktor risiko yang tidak dapat dikontrol.
a

Faktor risiko yang tidak dapat dikontrol


1) Jenis kelamin
Pada dasarnya tidak ada perbedan prevalensi antara wanita dan laki-laki, akan
tetapi wanita setelah menopause menjadi lebih berpotensi terserang penyakit

hipertensi. Karena wanita yang belum menopause dilindungi oleh hormon


esterogen yang berperan aktif dalm peningkatan kadar High Density Lipoprotein
(HDL). HDL merupakan faktor yang berperan penting dalam melindungi
terjadinya arterosklerosis. Pada wanita yang sudah mencapai umur 45 tahun ke
atas maka sedikit demi sedikit hormon estrogen akan mengalami penyusutan baik
kuantitas maupun kualitasnya sehingga berdampak pada banyaknya kasus
hipertensi pada wanita.
2) Umur
Kenaikan umur seseorang sebanding dengan kenaikan tekanan darah.
Penambahan usia menyebabkan semakin hilang daya elastisitas dari pembuluh
darah yang mengakibatkan arteri dan aorta kehilangan daya untuk menyesuaikan
diri dengan aliran darah (Wolff, 2008). Oleh karena itu orang yang lebih tua akan
lebih cenderung terkena penyakit hipertensi dari pada orang yang berumur lebih
muda. Hipertensi pada usia lebih lanjut harus ditangani lebih serius hal ini karena
pada usia lanjut terjadi penurunan fungsi organ seperti ginjal yang berperan aktif
dalam proses rennin angiotensin aldosteron, karena itu dosis obat harus diberikan
secara tepat.
3) Keturunan
Menurut Junaedi (2010), genetik merupakan salah satu faktor yang dapat memicu
timbulnya hipertensi terlebih lagi hipertensi primer. Jika kedua orang tua kita
menderita hipertensi maka kemungkinan kita terserang penyakit hipertensi adalah
60% dan apabila hanya salah satu dari orang tua kita terserang hipertensi maka
prevalensi kita untuk terserang akan turun menjadi 25%.
b

Faktor risiko yang dapat dikontrol


1 Obesitas
Obesitas merupakan salah satu ciri khas penderita hipertensi. Walaupun belum
diketahui secara pasti hubungan antara hipertensi dan obesitas, namun terbukti
bahwa daya pompa jantung dan sirkulasi volume darah penderita obesitas dengan
hipertensi lebih tinggi dari pada penderita hipertensi dengan berat badan normal.
Pada orang yang terlalu gemuk, tekanan darahnya cenderung tinggi karena
seluruh organ tubuh dipacu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan energi yang

lebih besar; jantung pun bekerja ekstra karena banyaknya timbunan lemak yang
menyebabkan kadar lemak darah juga tinggi, sehingga tekanan darah menjadi
tinggi. Menurut Sustrani (2006), cara mudah untuk mengetahui termasuk obesitas
atau tidak yaitu dengan mengukur Indeks Masa Tubuh (IMT), Rumus untuk IMT
adalah berat badan (kg) dibagi dengan tinggi badan dikuadratkan (m2). Adapun
kategori penilaian berat badan menurut IMT adalah :
a) IMT > 20 kg/m2 = berat badan kurang
b) IMT 20 24 kg/m2 = normal atau sehat
c) IMT 25 29 kg/m2 = gemuk atau kelebihan berat badan
d) IMT > 30 kg/m2 = sangat gemuk atau obesitas
2

Kebiasaan merokok
Rokok mempunyai beberapa pengaruh langsung yang membahayakan jantung.
Apabila pembuluh darah yang ada pada jantung dalam keadaan tegang karena
tekanan darah tinggi, maka rokok dapat memperburuk keadaan tersebut. Merokok
dapat merusak pembuluh darah, menyebabkan arteri menyempit dan lapisan
menjadi tebal dan kasar. Nikotin, CO dan bahan lainnya dalam asap rokok
terbukti merusak dinding pembuluh endotel (dinding dalam pembuluh darah),
mempermudah penggumpalan darah sehingga dapat merusak pembuluh darah
perifer. Keadaan paru-paru dan jantung mereka yang merokok tidak dapat bekerja
secara efisien (Soeharto, 2001).

Konsumsi garam
Konsumsi garam yang tinggi mengakibatkan seseorang akan mengalami
peningkatan tekanan darah sebanding dengan bertambahnya usia, begitu
sebaliknya jika seseorang rendah dalam mengkonsumsi garam menunjukan
peningkatan darah yang sedikit prevalensinya disbanding dengan yang banyak
mengkonsumsigaram (Beevers, 2002). WHO (1999) dalam Jegathes (2010)
menganjurkan untuk membatasi asupan garam maksimal 6 gram perhari (sama
dengan 2400 mg natrium), dikarenakan berkaitan dengan proses osmolaritas.
Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam
cairan

ekstraseluler

meningkat.

Konsumsi

natrium

yang

berlebihan

mengakibatkan retensi sehingga mengakibatkan tekanan darah naik, Akibatnya


tekanan darah meningkat.
4

Kebiasaan berolahraga
Kurangnya melakukan olahraga akan meningkatkan kemungkinan
obesitas

dan

jika

asupan

garam

juga

bertambah

akan

timbulnya

memudahkan

timbulnyahipertensi (Arjatmo & Hendra, 2001). Kurang berolahraga cenderung


mengakibatkan tekanan darah menjadi lebih tingi hal ini dikarenakan kurang
berolahraga dapat meningkatkan berat badan. Olahraga lebih banyak dihubungkan
dengan pengelolaan hipertensi karena olahraga teratur dapat menurunkan tahanan
perifer pembuluh darah sehingga tekanan darah menjadi turun dan mengakibatkan
otot jantung beradaptasi dengan suatu keadaan yang mengharuskan kerja jantung
lebih berat.
5

Minum Alkohol
Beberapa penelitian mengemukakan bahwa alkohol mempunyai efek yang buruk
terhadap tubuh antara lain menyebabkan kerusakan pada jantung dan organ tubuh,
juga

dapat

mengakibatkan

kerusakan

pada

pembuluh

darah

sehingga

mengakibatkan hipertensi (Marliani, 2007). Alkohol, peningkatan tekanan darah


dan prevalensi hipertensi pada masyarakat mempunyai hubungan yang linier.
6

Stress
Stress dapat memicu peningkatan aktifitas pada syaraf simpatis, peningkatan ini
yang kemudian dapat merangsang peningkatan darah yang intermiten atau tidak
tetap (Basha, 2004). Menurut Anggraini (2009), stress juga akan memicu
peningkatan resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung dipacu dengan
aktivitas syaraf simpatis.

C. Tanda Gejala Hipertensi


Gejala hipertensi biasanya tidak dirasakan, sehingga penyakit ini disebut silence
diaseas. Banyak orang yang menganggap tekanan darah tinggi itu pasti menyebabkan
pusing. Karena kekeliruan itu, tidak semua pasien berobat, karena memang tidak
mengeluh pusing. Bagi orang sehat paling tiap tahun sekali memeriksa tekanan darah,
sedang yang sakit setiap bulan sekali.

Hipertensi sulit disadari karena tidak memiliki gejala khusus. Namun demikian,
ada beberapa hal yang setidaknya dapat dijadikan indikator, sebab berkaitan langsung
dengan kondisi fisik. Misalnya, pusing atau sakit kepala, sering gelisah, wajah merah,
tengkuk terasa pegal, mudah marah, telinga berdenggung, susah tidur, sesak napas,
mudah lelah, mata berkunang-kunang, dan mimisan.

Gejala lainnya yang dapat dikenali dari tejadinya serangan hipertensi pada kita
tersebut ialah pandangan menjadi kabur. Hal ini terjadi karena adanya kerusakan pada
otak, mata, jantung, dan ginjal. Penderita hipertensi berat dapat mengalami penurunan
kesadaran bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut
ensefalopati hipertensi yang memerlukan penanganan segera.
Penyakit hipertensi yang sering kali terjadi umumnya tidak menimbulkan gejala
yang mudah dikenali. Sementara tekanan darah terus meningkat meski dalam jangka
waktu yang cukup lama hingga menimbulkan komplikasi adanya suatu penyakit bawaan
dari hipertensi. Oleh karenanya hipertensi harus selalu dicek untuk mengetahui tekanan
darah secara berkala. Seseorang yang dikatakan menderita darah tinggi apabila dalam

beberap pemeriksaan tekanan darah diketahui memiliki tekanan darah hingga diatas
130/90 mmHg.
Hipertensi menyebabkan timbulnya suatu penyakit yang dibawa akibat tekanan
darah yang tinggi seperti menimbulkan resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung,
serangan jantung dan gagal ginjal. Penyakit hipertensi tak mengenal batas usia seseorang
dan jenis kelamin, semua orang memiliki resiko yang sama terhadap hipertensi tanpa
harus menimbulkan ciri atau gejala terlebih dahulu.
Tekanan darah dalam setiap kehidupan seseorang berbeda-beda secara alamiah.
Bayi dan anak-anak yang secara normal pun memiliki tekanan darah yang jauh lebih
rendah dibanding orang dewasa. Tekanan darah dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
aktivitas fisik yang dilakukan sehari-hari, tekanan darah akan mengalami peningkatan
ketika melakukan aktivitas sehari-hari dan akan menurun ketika beristirahat. Tekanan
darah dapat meningkat ketika di pagi hari dan akan lebih rendah ketika tidur/istirahat di
malam hari
D. Pengertian Senam Hipertensi
Salah satu cara pemeliharaan kesegaran jasmani dengan melakukan senam, karena
dapat merangsang

aktifitas

kerja jantung untuk

melakukan perubahan

yang

menguntungkan dalam tubuh seseorang yang melaksanakannya. Hal ini merupakan usaha
preventif/pencegahan tujuannya untuk meningkatkan jumlah interaksi oksigen yang
diproses di dalam tubuh dalam waktu tertentu.
E. Manfaat Senam Hipertensi
Manfaat senam Hipertensi adalah sebagai berikut :
Untuk meningkatkan daya tahan jantung dan paru-paru serta membakar lemak
yang berlebihan di tubuh karena aktifitas gerak untuk menguatkan dan
membentuk otot dan beberapa bagian tubuh lainnya, seperti: Pinggang, Paha,
Pinggul, Perut dan lain-lain.

Meningkatkan kelentukan, keseimbangan koordinasi, kelincahan, daya tahan dan


sanggup melakukan kegiatan-kegiatan atau olah raga lainnya.
F. Cara Senam Hipertensi
Kondisi penderita hipertensi secara medis berbeda dengan orang sehat. Untuk itu,
perlu Senam yang juga dilakukan secara khusus. Latihannya harus bertahap dan tidak
boleh memaksakan diri. Gerakan dengan intensitas ringan dapat dilakukan perlahan
sesuai kemampuan.
Pemanasan:
Tekuk kepala ke samping, lalu tahan dengan tangan pada sisi yang sama dengan
arah kepala. Tahan dengan hitungan 8-10, lalu bergantian dengan sisi lain.
Tautkan jari-jari kedua tangan dan angkat lurus ke atas kepala dengan posisi kedua
kaki dibuka selebar bahu. Tahan dengan 8-10 hitungan. Rasakan tarikan bahu dan
punggung.
Inti:
Gerakan-gerakan tangan :

Mengangkat tangan kedepan, ke atas, ke samping, ke belakang


Gerakan tangan membuka dan menyilang
Mendorong dan memompa ke depan, ke atas, dan ke samping
Gerakan tangan meninju, ke depan, ke samping, ke atas, ke bawah, dan menyilang
Gerakan mengayun satu tangan atau dua tangan
Tepukan, antara lain kedua tangan menepuk, tangan menepuk paha, bahu, dan lain
sebagainya

Gerakan-gerakan kaki :

Berjalan di tempat
Melangkah satu atau dua langkah
Melompat satu kaki atau dua kaki ke samping, ke depan, dan ke belakang
Mengangkat lutut
Tendangan, ke belakang, ke depan, dan ke samping
Gerakan menggeser kaki, menyeret kaki, dan lain sebagainya

Pendinginan :
Kedua kaki dibuka selebar bahu, lingkarkan satu tangan ke leher dan tahan dengan
tangan lainnya. Hitungan 8-10 kali dan lakukan pada sisi lainnya.

Posisi tetap, tautkan kedua tangan lalu gerakkan ke samping dengan gerakan
setengah putaran. Tahan 8-10 kali hitungan lalu arahkan tangan ke sisi lainnya dan
tahan dengan hitungan sama.

G. Hal hal yang perlu di perhatikan penderita Hipertensi


Untuk mencapai tekanan darah normal, selain melakukan senam secara rutin
dengan takaran cukup, beberapa hal di bawah ini juga perlu mendapat perhatian:
1. Jika kelebihan berat badan.
Seseorang yang mengalami kelebihan bobot badan, kemungkinan mengalami
hipertensi meningkat lebih dari tiga kali lipat. Resiko itu akan terus meningkat
dengan bertambahnya bobot badan. Menurnkan bobot badan merupakan strategi
sangat efektif dlam mengatur pola hidup untuk menormalkan tekanan darah. Bila
kita berhasil menurunkan bobot badan 2,5 5 kg saja, tekanan darah diastolik
dapat diturunkan sebanyak 5 mmHg. Penurunan bobot badan 10 kg dapat
melipatduakan perbaikan ini.
2. Kurangi asupan natrium (sodium).
Ternyata, bila seseorang mendapat asupan garam secara berlebihan dalam jangka
waktu lama kemungkinannya mengalami tekanan darah tinggi juga lebih besar.
Karena itu, kurangi asupan garam sampai kurang dari 2.300 mg (satu sendok teh)
setiap hari. Dalam banyak penelitian diketahui, pengurangan konsumsi garam
menjadi setengah sendok teh per hari, dapat menurunkan tekanan sistolik
sebanyak 5 mmHg dan tekanan darah diastolik sekitar 2,5 mmHg. Pengaruh ini
kebanyakan terjadi pada para lansia.
3. Usahakan cukup asupan kalium (potassium).
Kalium banyak terdapat dalam buah-buahan dan sayur mayur. Mineral ini
menurunkan tekanan darah dengan meningkatkan jumlah natrium yang terbuang
bersama air kencing.Dengan setidaknya mengonsumsi buah-buahan sebanyak 3 5 kali dalam sehari, seseorang bisa mencapai asupan potasium yang cukup.
4. Batasi konsumsi alkohol.

Konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah. Para peminum


berat mempunyai resiko mengalami hipertensi empat kali lebih besar ketimbang
mereka yang tidak minum-minuman beralkohol. Jelaslah, kalau mereka
menghilangkan kebiasaan tersebut, tekanan darahnya akan turun.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal tekanan
darah dalam pembuluh darah arteri (nadi) secar terus-menerus lebih dari suatu
periode.hipertensi menambah beban kerja jantung dan arteri yang bila berlanjut dapat
menimbulkan kerusakan jantung dan pembuluh darah
Hipertensi juga didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik 140 mmHg dan atau
tekanan darah diastolic 90 mmHg. Gejala hipertensi biasanya tidak dirasakan, sehingga
penyakit ini disebut silence diaseas. Banyak orang yang menganggap tekanan darah
tinggi itu pasti menyebabkan pusing. Hipertensi sulit disadari karena tidak memiliki
gejala khusus. Namun demikian, ada beberapa hal yang setidaknya dapat dijadikan
indikator, sebab berkaitan langsung dengan kondisi fisik. Misalnya, pusing atau sakit
kepala, sering gelisah, wajah merah, tengkuk terasa pegal, mudah marah, telinga
berdenggung, susah tidur, sesak napas, mudah lelah, mata berkunang-kunang, dan
mimisan.
Senam hipertensi merupakan senam khusus diperuntukkan untuk penderita
hipertensi, senam hipertensi bermanfaan baik unutuk keadaan jantung, senam ini
dilakukan secara bertahap dan tidak bisa dipaksakan, sesuai dengan kemampuan yang
melakukannya.
B. Saran
Untuk mencegah hipertensi, sebaiknya kita menjaga gaya hidup, pola makan, istirahat
teratur dan olahraga teratur. Serta secara rutin mengecek kesehatan dengan tenaga medis.

Daftar Pustaka
Bompa TO. (1994). Theory and Methodology of Training The Key to Athletic Performance. 2nd
Edition, Iowa: Kendall/Hunt Publishing Company.
Dede Kusmana. (2002). Olahraga bagi Kesehatan Jantung. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Dede Kusmana. (2006). Olahraga Untuk Orang Sehat dan Penderita Penyakit Jantung. Jakarta:
Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
John MF Adam. (2006). Obesitas dan Sindroma Metabolik. Makassar: Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin.Made Astawan. Cegah Hipertensi dengan Pola Makan.