Anda di halaman 1dari 29

TUGAS MAKALAH

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

ASUHAN KEPERAWATAN

Coronary Artery Bypass Grafting (CABG)

OLEH
DWI YUVITA ARNI
MUHAMMAD RIDUAN
MUHAMMAD REZA AZMEI
RAHMADSYAH
RUBY NAFRA KANOFA
SYECH SITI MARYAM

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN


MUHAMMADIYAH PONTIANAK
2009
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
makalah Keperawatan Medikal Bedah 3 ini yang berjudul “Asuhan
Keperawatan Coronary Artery Bypass Grafting (CABG)” sebagaimana yang
diharapkan.
Tujuan dibuatnya makalah ini bukan hanya semata-mata untuk
memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen kami, melainkan kami juga ingin
memberikan informasi mengenai Asuhan Keperawatan Coronary Artery Bypass
Grafting (CABG). Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada dosen
pembimbing mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah 3 yang telah memberikan
bimbingan kepada kami sehingga makalah ini dapat kami selesaikan dengan baik.
Kami menyadari bahwa makalah kami ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mohon saran dan kritikan dari pembaca.
Apabila dalam makalah kami ini terdapat banyak kekurangan. Kami berharap
semoga makalah kami ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan dapat
diterapkan dalam pelaksanaan keperawatan.

Pontianak, Mei 2010

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................... i


Daftar Isi ............................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................................ 1
B. Identifikasi Masalah ............................................................................ 1
C. Tujuan ................................................................................................... 2
D. Metode Penulisan .................................................................................. 2
E. Sistematika Penulisan ........................................................................... 2
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Definisi .. ................................................................................................ 3
B. Etiologi .................................................................................................... 3
C. Patofisiologi.............................................................................................. 4
D. Manifestasi Klinis......................................................................................5
E. Penatalaksanaan ........................................................................................6
F. Tujuan Pemasangan CABG …………………………………………….7
G. Indikasi dan Kontraindikasi ……………………………………………..8
H. Komplikasi …………………………………………………………….. 8
I. Tekhnik Pemasangan CABG ................................................................... 9
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian ............................................................................................. 10
B. Diagnosa Keperawatan ............................................................................ 13
C. Intervensi Keperawatan ………............................................................... 13
D. Evaluasi..................................................................................................... 23
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................................... 25
B. Saran ........................................................................................... 25
Daftar Pustaka .................................................................................................... 26

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit Jantung Koroner (PJK) atau penyakit kardiovaskular saat ini
merupakan salah satu penyebab utama dan pertama kematian di negara
maju dan berkembang, termasuk Indonesia. Diperkirakan bahwa diseluruh
dunia, PJK pada tahun 2020 menjadi pembunuh pertama tersering yakni
sebesar 36% dari seluruh kematian, angka ini dua kali lebih tinggi dari
angka kematian akibat kanker. Di Indonesia dilaporkan PJK (yang
dikelompokkan menjadi penyakit sistem sirkulasi) merupakan penyebab
utama dan pertama dari seluruh kematian, yakni sebesar 26,4%, angka
ini empat kali lebih tinggi dari angka kematian yang disebabkan oleh kanker
(6%).
Oleh karena itu, untuk mengurangi kasus ini, dilakukanlah
penanganan yang berupa operasi bypass arteri koroner yang merupakan jenis
operasi dimana darah dilewati sekitar arteri tersumbat sehingga aliran darah
dan oksigen ke jantung meningkat. Operasi ini juga dirujuk ke CABG
(Coronary Artery Bypass Grafting). Arteri koroner bertanggung jawab untuk
membawa darah ke otot jantung. Kadang-kadang arteri bias tersumbat yang
disebabkan oleh plak dan bahan lemak lainnya. Sumbatan ini akhirnya
memperlambat aliran darah atau dapat menghentikan aliran darah
sepenuhnya.
Ketika seseorang memiliki penyumbatan arteri koroner, ia akan
mengalami nyeri di dada atau mengembangkan serangan jantung. Namun,
dengan melakukan operasi bypass arteri koroner, aliran darah ke jantung
membaik dan akhirnya mengurangi nyeri dada dan risiko serangan jantung.
B. Identifikasi Masalah
Dalam makalah ini kelompok membatasi masalah hanya pada
bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan bypass arteri coroner.

1
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk memberikan sumber informasi tentang Penyakit Jantung
Koroner yang penatalaksanaannya dengan Coronary Artery Bypass
Graft (CABG) kepada pembaca dan masyarakat pada umumnya.
2. Tujuan Khusus
Diharapkan setelah mempelajari materi ini kita dapat mengetahui:
a. Definisi dari bypass arteri koroner
b. Bagaimana pemasangan bypass arteri koroner
c. Serta mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada pasien
dengan bypass arteri coroner.

D. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini penulis melakukan beberapa studi
literature dan dengan melakukan searching di internet.

E. Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari empat BAB, BAB I, II, III, dan BAB IV.
Dimana BAB I merupakan PENDAHULUAN yang terdiri dari Latar
Belakang, Masalah, Tujuan Umum maupun Khusus, Metode penulisan, dan
Sistematika Penulisan.
Kemudian BAB II merupakan PEMBAHASAN yang dimulai dari
Definisi, Etiologi, Patofisiologi, Manifestasi Klinis, Penatalaksanaan PJK,
Tujuan Pemasangan CABG, Indikasi dan Kontraindikasi CABG, Komplikasi,
serta Tekhnik Pemasangan CABG.
Berikutnya adalah BAB III merupakan Asuhan Keperawatan dari
Koronary Artery Bypass.
Dan yang terakhir adalah BAB IV PENUTUP yang berisi Kesimpulan dan
Saran.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Penyakit jantung coroner atau penyakit arteri koroner (penyakit
jantung artherostrofik) merupakan suatu manifestasi khusus dan
arterosclerosis pada arteri koroner. Plaque terbentuk pada percabangan arteri
yang ke arah aterion kiri, arteri koronaria kanan dan agak jarang pada arteri
sirromflex. Aliran darah ke distal dapat mengalami obstruksi secara permanen
maupun sementara yang di sebabkan oleh akumulasi plaque atau
penggumpalan. Sirkulasi kolateral berkembang di sekitar obstruksi
arteromasus yang menghambat pertukaran gas dan nutrisi ke miokardium.
Kegagalan sirkulasi kolateral untuk menyediakan supply oksigen yang
adekuat ke sel yang berakibat terjadinya penyakit arteri koronaria, gangguan
aliran darah karena obstruksi tidak permanen (angina pektoris dan angina
preinfark) dan obstruksi permanen (miocard infarct) Pusat Pendidikan Tenaga
Kesehatan Dep.kes, 1993.

B. Etiologi
Penyakit Jantung Koroner pada mulanya disebabkan oleh penumpukan lemak
pada dinding dalam pembuluh darah jantung (pembuluh koroner), dan hal ini
lama kelamaan diikuti oleh berbagai proses seperti penimbunan jarinrangan
ikat, perkapuran, pembekuan darah, dll.,yang kesemuanya akan

3
mempersempit atau menyumbat pembuluh darah tersebut. Hal ini akan
mengakibatkan otot jantung di daerah tersebut mengalami kekurangan aliran
darah dan dapat menimbulkan berbagai akibat yang cukup serius, dari Angina
Pectoris (nyeri dada) sampai Infark Jantung, yang dalam masyarakat di kenal
dengan serangan jantung yang dapat menyebabkan kematian mendadak.
Beberapa faktor resiko terpenting Penyakit Jantung Koroner :
1. Kadar Kolesterol Total dan LDL tinggi
2. Kadar Kolesterol HDL rendah
3. Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi)
4. Merokok
5. Diabetes Mellitus
6. Kegemukan
7. Riwayat keturunan penyakit jantung dalam keluarga
8. Kurang olah raga
9. Stress

C. Patofisiologi
Penyakit jantung koroner merupakan respons iskemik dari
miokardium yang di sebabkan oleh penyempitan arteri koronaria secara
permanen atau tidak permanen. Oksigen di perlukan oleh sel-sel miokardial,
untuk metabolisme aerob di mana Adenosine Triphospate di bebaskan untuk
energi jantung pada saat istirahat membutuhakn 70 % oksigen. Banyaknya
oksigen yang di perlukan untuk kerja jantung di sebut sebagai Myocardial
Oxygen Cunsumption (MVO2), yang dinyatakan oleh percepatan jantung,
kontraksi miocardial dan tekanan pada dinding jantung.
Jantung yang normal dapat dengan mudah menyesuaikan terhadap
peningkatan tuntutan tekanan oksigen dangan menambah percepatan dan
kontraksi untuk menekan volume darah ke sekat-sekat jantung. Pada jantung
yang mengalami obstruksi aliran darah miocardial, suplai darah tidak dapat
mencukupi terhadap tuntutan yang terjadi. Keadaan adanya obstruksi letal
maupun sebagian dapat menyebabkan anoksia dan suatu kondisi menyerupai

4
glikolisis aerobic berupaya memenuhi kebutuhan oksigen. Penimbunan asam
laktat merupakan akibat dari glikolisis aerobik yang dapat sebagai
predisposisi terjadinya disritmia dan kegagalan jantung. Hipokromia dan
asidosis laktat mengganggu fungsi ventrikel. Kekuatan kontraksi menurun,
gerakan dinding segmen iskemik menjadi hipokinetik.
Kegagalan ventrikel kiri menyebabkan penurunan stroke volume,
pengurangan cardiac out put, peningkatan ventrikel kiri pada saat tekanan
akhir diastole dan tekanan desakan pada arteri pulmonalis serta tanda-tanda
kegagalan jantung. Kelanjutan dan iskemia tergantung pada obstruksi pada
arteri koronaria (permanen atau semntara), lokasi serta ukurannya. Tiga
menifestasi dari iskemi miocardial adalah angina pectoris, penyempitan arteri
koronarius sementara, preinfarksi angina, dan miocardial infark atau obstruksi
permanen pada arteri koronari (Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Dep.kes,
1993).

D. Manifestasi Klinis
1. Sesak napas mulai dengan napas yang terasa pendek sewaktu melakukan
aktivitas yang cukup berat, yang biasanya tak menimbulkan keluhan.
Makin lama sesak makin bertambah, sekalipun melakukan aktivitas ringan.
2. Klaudikasio intermiten, suatu perasaan nyeri dan keram di ekstremitas
bawah, terjadi selama atau setelah olah raga Peka terhadap rasa dingin
3. Perubahan warna kulit.
4. Nyeri dada kiri seperti ditusuk-tusuk atau diiris-iris menjalar ke lengan
kiri.
5. Nyeri dada serupa dengan angina tetapi lebih intensif dan lama serta tidak
sepenuhnya hilang dengan istirahat ataupun pemberian nitrogliserin
6. Dada rasa tertekan seperti ditindih benda berat, leher rasa tercekik.
7. Rasa nyeri kadang di daerah epigastrium dan bisa menjalar ke punggung.
8. Rasa nyeri hebat sekali sehingga penderita gelisah, takut, berkeringat
dingin dan lemas.

5
E. Penatalaksanaan Penyakit Jantung Koroner
Tatalaksana untuk penyakit jantung koroner bersifat umum dan khusus.
Untuk tatalaksana umum yang terpenting adalah perubahan gaya hidup yang
dapat mengendalikan faktor-faktor risiko yang dapat memperberat penyakit.
Pemeriksaan jantung berkala sangat penting dilakukan untuk pasien yang
berisiko maupun tidak.
Tatalaksana khusus diberikan untuk pasien yang sudah mengalami gejala
PJK. Pemberian obat-obatan vasodilator dan trombolitik sangat penting dalam
jangka waktu yang cepat setelah mengalami serangan.
Untuk mengatasi nyeri dapat diberikan obat-obatan seperti nitrat sublingual
(diberikan dibawah lidah), nitrogliserin atau morfin.
1. Obat-Obatan
a. obat-obat yang dapat meningkatkan supply darah ke otot jantung.
b. obat-obat yang menurunkan kebutuhan O2 pada otot jantung.
c. obat-obat untuk penyakit penyerta.
2. Balon dan pemasangan stent.
Balon arteri koroner adalah suatu tehnik menggunakan balon halus yang
dirancang khusus untuk membuka daerah sempit di dalam lumen arteri
koroner.
3. Operasi By-pass
Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) merupakan salah satu
penanganan intervensi dari Penyakit Jantung Koroner (PJK), dengan cara
membuat saluran yang baru melewati bagian arteri koronia yang
mengalami penyempitan atau penyumbatan. Dimana arteri atau vena
diambil dari bagian tubuh lain kemudian disambungkan untuk membentuk
jalan pintas melewati arteri koroner yang tersumbat. Sehingga
menyediakan jalan baru untuk aliran darah yang menuju sel-sel otot
jantung.
Selama dilakukan pembedahan, pasien diberikan anestesi umum agar
tidak sadar dan tidak merasa sakit. Pernapasan dibantu dengan ventilator.
Setelah itu, dinding toraks (dada) dibuka, jantung yang sedang berdenyut

6
dihentikan dengan suhu dingin, kemudian aliran darah yang secara normal
dipompakan keluar dari jantung dialihkan pada mesin jantung (heart lung
machine). Dengan demikian, dokter ahli bedah dapat dengan tenang
menggunakan sepotong vena atau arteri untuk membuat bypass (jalan
pintas) pada bagian arteri koroner yang tersumbat atau sakit. Jadi jalan
pintas yang mulus ini memungkinkan darah dan oksigen dapat mengalir
kembali ke otot jantung.
Pembuluh darah yang dipakai untuk bypass ini disebut graft; ujung
yang satu dihubungkan dengan aorta ascenden sedangkan ujung yang lain
akan disambungkan ke arteri koroner dibawah dari pada daerah
penyempitan. Operasi bypass membutuhkan waktu 4 hingga 6 jam.

F. Tujuan Pemasangan CABG


Pengobatan penyakit jantung adalah untuk memaksimalkan curah
jantung. Melalui pembedahan, ini dapat dilakukan dengan memperbaiki
fungsi otot miokordia dan aliran darah melalui tandur bypass arteri koroner
(CABG) dan atau penggantian katup yang rusak.
Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) bertujuan untuk mengatasi
terhambatnya aliran Artety Coronaria akibat adanya penyempitan bahkan
penyumbatan ke otot jantung. Pemastian daerah yang mengalami

7
penyempitan telah dilakukan sebelumnya dengan melakukan kateterisasi
Artery Coronary.
Sasaran operasi bypass adalah mengurangi gejala penyakit arteri
koroner (termasuk angina), sehingga pasien bisa menjalani kehidupan yang
normal dan mengurangi risiko serangan jantung atau masalah jantung lain.

G. Indikasi dan Kontraindikasi dari CABG


Indikasi :
Pasien penyakit jantung koroner (PJK) yang dianjurkan operasi bypass adalah
mereka yang hasil katererisasi jantung ditemukan adanya:
1. Penyempitan >50% dari arteri koroner kiri utama (left main disease), atau
left main equivalent yaitu penyempitan menyerupai left main artery
misalnya ada penyempitan di bagian proximal dari arteri anterior desenden
dan arteri circumflex.
2. Penderita dengan 3 vessel disease yaitu tiga arteri koroner semuanya
mengalami penyempitan bermakna yang fungsi jantung mulai menurun
(ejection fraction <50%).
3. Penderita yang gagal dilakukan balonisasi dan stent.
4. Penyempitan 1 atau 2 pembuluh namun pernah mengalami henti jantung.
5. Anatomi pembuluh darah suitable (sesuai) untuk operasi bypass.

Kontraindikasi :
Pasien Penyakit Jantung Koroner (PJK) yang tidak dianjurkan untuk operasi
bypass adalah:
1. Usia lanjut
2. Tidak ada gejala angina
3. Fungsi ventrikel kiri jelek (kurang dari 30%)
4. Struktur arteri koroner yang tidak memungkinkan untuk disambung.

H. Komplikasi
Komplikasi operasi bypass yang sering terjadi adalah

8
1. Pendarahan
2. Infeksi pada Sternum
3. Serangan jantung atau gangguan irama sampai pasien meninggal
4. Gangguan pernapasan.

I. Tekhnik Pemasangan CABG


CABG dilakukan dengan membuka dinding dada melalui pemotongan
tulang Sternum, selanjutnya dilakukan pemasangan pembuluh darah baru
yang dapat diambil dari Arteri Radialis tergantung pada kebutuhan,teknik
yang dipakai ataupun keadaan anatomic pembuluh darah pasien tersebut.
Awalnya CABG dilakukan dengan memakai mesin jantung paru (Heart Lung
Machine) dengancara ini jantung tidak berdenyut setelah diberikan obat
cardioplegic sebagai gantinya mesin jantung paru akan bekerja
mempertahankan sirkulasi napas dan sirkulasi darah selama operasi
berlangsung.
Sejak awal tahun 2000 telah diperkenalkan teknik operasi tanpa mesin
jantung paru atau (off pump cardiopulmonary), sehingga jantung dan paru
tetap berfungsi seperti biasa saat operasi berlangsung. Metode ini banyak
memberikan keuntungan, selain masa pemulihan lebih cepat juga biaya
operasi pun bisa ditekan. Tetapi tidak semua pasien yang memerlukan CABG
dapat dilakukan dengan metode ini, tentunya tergantung indikasi pada
masing-masing pasien.

9
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
CORONARY ARTERY BYPASS GRAFTING

A. Pengkajian
1. Aktivitas / Istirahat
Gejala : Riwayat tidak toleran terhadap latihan, Kelemahan umum, kelelahan,
Ketidakmampuan melakukan aktivitas yang diharapkan / biasanya
Tanda : Kecepatan jantung abnormal, perubahan TD karena aktivitas,
Ketidaknyamanan kerja atau dispnea, Perubahan EKG / Disritmia
2. Sirkulasi
Gejala : Riwayat IM akut/saat ini penyakit arteri koroner tiga atau lebih,
penyakit katup jantung, hipertensi.
Tanda : variasi pada TD, frekuensi jantung atau irama, Disritmia atau
perubahan EKG, Bunyi jantung abnormal : S3/S4 Murmur, Pucat atau
kulit sianosis atau membran mukosa, Kulit dingin atau lembab,
Edema, JVD., Penurunan nadi perifer, Krekels, Gelisah atau
perubahan lain pada mental atau sensori (dekompensasi jantung berat)
3. Integritas Ego
Gejala : perasaan takut atau ketakutan, tak berdaya, Distress terhadap
kejadian saat ini, Katup mati atau hasil akhir pembedahan, Takut
tentang perubahan pola hidup atau fungsi peran
Tanda : Ketakutan, Gelisah, Insomnia, Wajah tegang, Menolak, Menangis,
Fokus pada diri sendiri, gelisah, marah. Perubahan kecepatan jantung,
TD, pola pernafasan
4. Makanan/Cairan
Gejala : Perubahan Berat badan, Kehilangan nafsu makan, Nyeri abdomen,
mual muntah, Perubahan frekuensi urin
Tanda : Peningkatan atau penurunan berat badan, Kulit kering, Turgor kulit
buruk, Hipotensi postural, Penurunan atau tak ada bunyi usus, Edema
5. Neurosensori
Gejala : Rasa berdenyut, vertigo

10
Tanda : Perubahan orientasi, Gelisah, Mudah terangsang, Apatis, Respon emosi
meningkat
6. Nyeri/Ketidaknyamanan
Gejala : Nyeri dada, angina, Paska operasi: Ketidaknyamanan insisi, Nyeri
bahu, tangan, lengan, kaki
Tanda : Pasca operasi: Hati-hati, Nyeri tampak pada wajah, Meringis, Perilaku
Distraksi, Merintih, Gelisah, Perubahan pada TD/nadi/frekuensi
pernapasan
7. Pernapasan
Gejala : Napas pendek, Pascaoperasi : Ketidakmampuan batuk / napas dalam
Tanda : Pascaoperasi : Penurunan ekspansi dada, Mengerutkan / gerak otot
hati-hati, Dispnea, Area penurunan / tak ada bunyi nafas, Ansietas,
Perubahan GDA /Nadi oksimetri
8. Keamanan
Gejala : Infeksi dengan keterlibatan katup
Tanda : Pascaoperasi : Pengeluaran / perdarahan dari dada

9. Pemeriksaan Diagnostik (Pasca Operasi)


Hemoglobin/hematokrit : Penurunan Hb menurunkan kapasitas oksigen
pembawa dan mengindikasikan kebutuhan
penggantian sel darah merah. Peningkatan Ht
menunjukkan dehidrasi atau kebutuhan
penggantian cairan.
Pemeriksaan koagulasi : berbagai pemeriksaan dilakukan (contoh, jumlah
trombosit, waktu perdarahan dan pembekuan)
untuk menentukan kemungkinan masalah sebelum
pembedahan.
Elektrolit : ketidakseimbangan (hiperkalemia atau
hipokalemia, hipernatremia atau hiponatremia, dan
hipokalsemia) dapat mempengaruhi fungsi jantung
dan keseimbangan cairan.
GDA : Mengidentifikasi status oksigenasi /keefektifan
fungsi pernapasan dan keseimbangan asam-basa.

11
Nadi oksimetri : Pengukuran noninvasif terhadap oksigen pada
tingkat jaringan
BUN / kreatinin : Menunjukkan keadekuatan perfusi / fungsi ginjal
/hati
Amilase : Peningkatan kadang-kadang tampak pada pasien
dengan resiko tinggi, contoh pada gagal jantung
karena penggantian katup.
Glukosa : Peningkatan dapat terjadi sehubungan dengan
status nutrisi praoperasi, adanya diabetes atau
disfungsi organ dari infus dekstrosa.
Enzim jantung / Isoenzim : Peningkatan pada adanya IM akut, sedang terjadi
atau perioperasi.
Foto dada : Menyatakan ukuran jantung dan posisi,
vaskularisasi pulmonal, dan perubahan indikatif
komplikasi ( contoh atelektasis). Berbagai kondisi
katup buatan dan kawat sternal, posisi lead pacu,
garis intravaskuler /jantung.
EKG : Mengidentifikasi perubahan pada fungsi elektrik /
fungsi mekanik seperti yang dapat terjadi pada fase
segera pascaoperasi, IM akut / perioperasi,
disfungsi katup, dan perikarditis.
Angiografi jantung : Tekanan serambi abnormal dan tekanan gradien
melewati katup ada pada penyakit katup.
Penemuan penyakit arteri koroner termasuk
hambatan arteri, gangguan perfusi koroner, dan
kemungkinan gerakkan dinding abnormal.
Pemeriksaan nuklir : Gambaran jantung menunjukkan penyakit arteri
koroner, dimensi serambi jantung, dan kemampuan
fungsi prabedah / paska bedah.
10. Prioritas Keperawatan
a. Mendukung stabilitas hemodinamik / fungsi ventilator
b. Meningkatkan hilangnya nyeri / ketidaknyamanan
c. Meningkatkan penyembuhan

12
d. Memberikan informasi tentang harapan pascaoperasi dan program
pengobatan
11. Tujuan Pemulangan
a. Toleransi aktivitas adekuat untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.
b. Nyeri hilang / tertangani
c. Komplikasi tercegah /minimal
d. Insisi sembuh
e. Obat pasca pulang, latihan, diet, terapi dipahami.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut, ketidaknyamanan b/d sternotomi (insisi mediastinal)
2. Resiko tinggi penurunan curah jantung b/d Penurunan kontraktilitas
miokard terhadap faktor sementara (contoh bedah dinding ventrikuler,
adanya IM, respons terhadap interaksi obat).
3. Resiko tinggi inefektif pola nafas b/d Ketidakadekuatan ventilasi ( nyeri /
kelemahan
4. Kerusakan integritas kulit b/d Insisi bedah , luka tusuk
5. Perubahan penampilan peran b/d Krisis situasi ( peran tergantung ) /
proses penyembuhan
6. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, perawatan pasca operasi b/d
Kesalahan interpretasi informasi

C. Intervensi Keperawatan
Dx 1:
1. Dorong pasien untuk melaporkan tipe, lokasi, dan intensitas nyeri,
rentang skala 0-10, tanyakan pasien bagaimana membandingkan
dengan nyeri dada praoperasi.
RASIONAL : penting untuk pasien membedakan nyeri insisi dari
tipe lain nyeri dada, contoh angina.beberapa pasien CABG tidak
mengalami ketidaknyamanan berat pada insisi dada dan mengeluh
lebih sering pada sisi donor. Nyeri berat pada area ini harus
diselidiki untuk kemungkinan komplikasi.

13
2. Observasi cemas, mudah terangsang, menangis, gelisah, gangguan
tidur.
Pantau tanda vital.
RASIONAL : petunjuk nonverbal ini dapat mengindikasikan adanya
derajat nyeri yang dialami.
3. Identifikasi / tingkatkan posisi nyaman menggunakan alat bantu bila
perlu
RASIONAL : bantal/ gulungan selimut berguna untuk menyokong
ekstremitas, mempertahankan postur tubuh, dan penahan insisi untuk
menurunkan tegangan otot/ meningkatkan kenyamanan.
4. Berikan tindakan nyaman ( contoh pijatan punggung, perubahan
posisi), bantu aktivitas perawatan diri dan dorong aktivitas senggang
sesuai indikasi.
RASIONAL : dapat meningkatkan relaksasi / perhatian tak langsung
dan menurunkan frekuensi / kebutuhan dosis analgesik.
5. Jadwalkan aktivitas perawatan untuk seimbang dengan peeriode
tidur / istirahat adekuat.
RASIONAL : untuk penyembuhan jantung dan daoat meningkatkan
koping terhadap stress dan ketidaknyamanan.
6. Identifikasi / dorong penggunaan perilaku seperti bimbingan
imajinasi,distraksi, visualisasi, napas dalam.
RASIONAL : teknik relaksasi pada penanganan stress,
meningkatkan rasa sehat, dapat menurunkan kebutuhan analgesik,
dan meningkatkan penyembuhan.
7. Beritahu pasien bahwa wajar saja, meskipun lebih baik, untuk
meminta analgesik segera setelah ketidaknyamanan menjadi
dilaporkan.
RASIONAL : adanya nyeri menyebabkan tegangan otot, yang
mengganggu sirkulasi, memperlambat proses penyembuhan, dan
memperberat nyeri.
8. Beri obat pada saat prosedur / aktivitas sesuai indikasi

14
RASIONAL : kenyamanan/ kerjasama pasien pada pengobatan
pernapasan, ambulasi, dan prosedur dipermudah oleh pemberian
analgesik.
9. Selidiki laporan nyeri pada area tak biasanya ( contoh betis kaki,
abdomen) atau keluhan tak jelas adanya ketidaknyamanan,
khususnyabila disertai oleh perubahan mental, tanda vital, dan
kecepatan pernafasan.
RASIONAL : manifestasi dini terjadinya komplikasi, contoh
tromboplebitis, infeksi, disfungsi gastrointestinal.
10. Catat laporan nyeri dan kebas pada area ulnar ( keempat dan kelima)
tangan sering terjadi disertai nyeri / ketidak nyamanan pada tangan
dan bahu. Beritahu pasien bahwa masalah biasanya teratasi sesuai
waktu.
RASIONAL : indikasi regangan cedera pleksus brakialis sebagai
akibat posisi tangan selama pembedahan.

Dx 2 :
1. Pantau kecenderungan frekuensi jantung dan TD. Khususnya
mencatat hipotensi. Waspada terhadap batas sistolik/diastolik khusus
pada pasien
RASIONAL : takikardi adalah respon umum untuk
ketidaknyamanan dan cemas. Ketidakadekuatan penggantian darah/
cairan dan stress pembedahan. Takikardi terus menerus
meningkatkan kerja jantung dan dapat menurunkan curah jantung.
Hipotensi dapat terjadi akibat kekurangan cairan, disritmia, gagal
jantung/syok.
2. Pantau disritmia jantung. Observasi respons pasien terhadap
disritmia, contoh penurunan TD.
RASIONAL :disritmia dapat terjadi sehubungan dengan
ketidakseimbangan elektrolit. Iskemia miokardia atau gangguan pada
konduksi elektrikal jantung.

15
3. Observasi perubahan status mental/ orientasi/ gerakan atau refleks
tubuh, contoh timbulnya bingung, disorientasi, gelisah, penurunan
respons terhadap rangsang, pingsan.
RASIONAL : dapat mengindikasikan penurunan aliran darah atau
oksigenisasi serebral akibat penurunan curah jantung.
4. Catat suhu kulit/ warna, dan kualitas / kesamaan nadi perifer.
RASIONAL : kulit hangat, merah muda, dan nadi kuat adalah
indikator umum curah jantung adekuat.
5. Ukur/catat pemasukan, pengeluaran, dan keseimbangan cairan.
RASIONAL : untuk menentukan kebutuhan cairan atau
mengidentifikasi kelebihan cairan yang dapat mempengaruhi curah
jantung.
6. Jadwal istirahat/ periode tidur tanpa gangguan. Bantu aktivitas
perawatan diri.
RASIONAL : mencegah kelemahan/ kelelahan dan stress
kardiovaskuler berlebihan.
7. Pantau program aktivitas. Catat respons pasien, tanda vital sebelum/
selama/ setelah aktivitas, terjadinya disritmia.
RASIONAL : latihan teratur merangsang sirkulasi / tonus
kardiovaskuler dan meningkatkan rasa sehat. Kemajuan aktivitas
tergantung pada toleransi jantung.
8. Evaluasi adanya derajat cemas/emosi. Dorong penggunaan teknik
relaksasi contoh napas dalam, aktivitas senggang.
RASIONAL : reaksi emosi berlebihan dapat mempengaruhi tanda
vital dan tahanan vaskuler sistemik, juga mempengaruhi fungsi
jantung.
9. Lihat adanya DVJ, edema perifer, kongesti paru, napas pendek,
berkeringat, perubahan EKG.
RASIONAL : meskipun tidak umum komplikasi CABG, perioperasi
atau pasca operasi dapat terjadi.

16
10. Laporkan adanya hipotensi (tidak responsif terhadap perubahan
cairan, misalnya takikardi, bunyi jantung tambahan, pingsan/ koma).
RASIONAL : terjadinya tamponade jantung dapat dengan cepat
berlangsung menjadi henti jantung mengisi secara adekuat untuk
curah jantung yang efektif.
11. Kaji ulang seri EKG
RASIONAL : untuk mengikuti kemajuan normalisasi pola konduksi
elektrikal/ fungsi ventrikel setelah pembedahan atau
mengidentifikasi komplikasi.
12. Berikan cairan IV/ transfusi darah sesuai indikasi
RASIONAL : cairan IV dipertahankan untuk penggantian cairan /
obat jantung darurat. Penggantian sel darah merah mungkin
diindikasikan kadang kadang untuk memperbaiki/ mempertahankan
sirkulasi adekuat dan meningkatkan kapasitas pembawa oksigen.
13. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
RASIONAL : meningkatkan oksigenasi maksimal, yang
menurunkan kerja jantung, alat dalam memperbaiki iskemia jantung
dan disritmia.
14. Berikan elektrolit dan obat sesuai indikasi, contoh cairan elektrolit/
kalium, antidisritmia, penyekat beta, digitalis, diuretik antikoagulan.
RASIONAL : elektrolit, obat antidisritmia, dan jantung lain
diperlukan pada jangka pendek atau jangka panjang untuk
memaksimalkan kontraktilitas/ curah jantung.
15. Pertahankan kabel pacu yang ditempatkan melalui pembedahan
(atrial/ventrikel) dan melakukan pacu sesuai indikasi.
RASIONAL : diperlukan untuk mendukung curah jantung pada
adanya gangguan konduksi (disritmia berat) yang mempengaruhi
fungsi jantung.

17
Dx 3 :
1. Evaluasi frekuensi pernapasan dan kedalaman. Catat upaya
pernapasan, contoh adanya dispnea, penggunaan otot bantu napas,
pelebaran nasal.
RASIONAL : respon pasien bervariasi. Kecepatan dan upaya
mungkin meningkat karena nyeri, takut, demam, penurunan volume
sirkulasi (kehilangan darah atau cairan), akumulasi sekretm
hipoksiam atau distensi gaster. Penekanan pernapasan (penurunan
kecepatan) dapat terjadi dari penggunaan analgesik berlebihan.
Pengenalan dini dan pengobatan ventilasi abnormal dapat mencegah
komplikasi.
2. Auskultasi bunyi napas. Catat area yang menurun / taka da bunyi
napas dan adanya bunyi tambahan, contoh krekels atau ronki.
RASIONAL : bunyi napas sering menurun pada dasar paru selama
periode waktu setelah pembedahan sehubungan dengan terjadinya
atelektasis. Kehilangan bunyi napas aktif pada area ventilasi
sebelumnya dapat menunjukkan kolaps segmen paru. Khususnya
bila selang dada telah dilepaskan.
3. Observasi penyimpangan dada. Selidiki penurunan ekspansi atau
ketidaksimetrisan gerakan dada.
RASIONAL : udara atau cairan pada area pleural mencegah ekspansi
lengkap dan memerlukan pengkajian lanjut status ventilasi.
4. Observasi karakter batuk dan produksi sputum
RASIONAL : batuk sering dapat mempengaruhi iritasi dari selang
ET operasi atau dapat menunjukkan kongesti paru. Sputum pululen
menunjukkan timbulnya infeksi paru.
5. Lihat kulit dan membran mucosa untuk adanya sianosis.
RASIONAL : sianosis menunjukkan kondisi hipoksia sehubungan
dengan gagal jantung atau komplikasi paru. Pucat umum dapat
menunjukkan anemia karena kehilangan darah / kegagalan

18
penggantian darah atau kerusakan sel darah merah dari pompa
bypass kardiopulmonal.
6. Tinggikan kepala tempat tidur, letakkan pada posisi duduk tinggi
atau semi fowler. Bantu ambulasi dini/ peningkatan waktu tidur.
RASIONAL : merangsang fungsi pernapasan/ ekspansi paru. Efektif
pada pencegahan dan perbaikan kongesti paru.
7. Dorong pasien berpartisipasi/ bertanggung jawab selama napas
dalam, gunakan alat bantu dan batuk sesuai indikasi.
RASIONAL : membantu reekspansi / mempertahankan patensi jalan
napas kecil khususnya setelah melepaskan selang dada. Batuk tidak
perlu kecuali ada mengi/ ronki, menunjukkan retensi sekret.
8. Tekankan menahan dada dengan bantal selama napas dalam / batuk.
RASIONAL : menurunkan tegangan pada insisi, meningkatkan
ekspansi paru.
9. Jelaskan bahwa batuk / pengobatan pernapasan tidak akan
menghilangkan/ merusak penanaman atau terbukanya insisi dada.
RASIONAL : berikan keyakinan bahwa cedera tidak akan terjadi
dan dapat meningkatkan kerja sama dalam program terapeutik.
10. Dorong pemasukan cairan maksimal dalam perbaikan jantung
RASIONAL : hidrasi adekuat membantu pengenceran sekret,
memudahkan ekspektoran.
11. Beri obat analgesik sebelum pengobatan pernapasan sesuai indikasi.
RASIONAL : memungkinkan kemudahan gerakan dada dan
menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan nyeri insisi,
memudahkan kerja sama pasien dengan keefektifan pengobatan
pernafasan.
12. Catat respon terhadap latihan napas dalam atau pengobatan
pernapasan lain, catat bunyi napas (sebelum/ setelah pengobatan),
batuk/ produksi sputum.
RASIONAL : catat keefektifan terapi atau kebutuhan untuk
intervensi lebih agresif.

19
13. Selidiki distress pernapasan, penurunan/ tak ada bunyi napas,
takikardi, agitasi berat, penurunan TD.
RASIONAL : hemotoraks/ pneumotoraks daoat terjadi setelah
pelepasan selang dada dan memerlukan upaya intervensi untuk
mempertahankan fungsi pernapasan.

Dx 4 :
1. Anjurkan menggunakan baju katun halus dan hindari baju ketat,
tutup/ beri bantalan pada insisi sesuai indikasi, biarkan insisi terbuka
terhadap udara sebanyak mungkin.
RASIONAL : menurunkan orotasi garis jahitan dan tekanan dari
baju. Membiarkan insisi terbuka terhadap udara meningkatkan
proses penyembuhan dan menurunkan risiko infeksi.
2. Mandikan pasien dengan pancuran air hangat, cuci insisi dengan
perlahan. Beri tahu pasien hindari mandi dalam bak sampai diizinkan
oleh dokter.
RASIONAL : mempertahankan insisi bersih, meningkatkan
sirkulasi/ penyembuhan.
3. Sokong insisi dengan strip-Steri (sesuai kebutuhan) bila jahitan
diangkat.
RASIONAL : membantu mempertahankan penyatuan tepi luka
untuk meningkatkan penyembuhan.
4. Dorong peningkatan kaki bila duduk di kursi
RASIONAL : meningkatkan sirkulasi, menurunkan edema untuk
memperbaiki penyembuhan luka.
5. Laporkan pada dokter : insisi yang tidak sembuh, pembukaan
kembali insisi yang telah sembuh, adanya drainase ( berdarah atau
purulen), area lokal yang bengkak dengan kemerahan, rasa nyeri
meningkat, dan panas pada sentuhan.

20
RASIONAL : tanda/ gejala yang menandakan kegagalan
penyembuhan, terjadinya komplikasi yang memerlukan evaluasi /
intervensi lanjut.
6. Tingkatkan nutrisi dan masukkan cairan adekuat
RASIONAL : membantu untuk mempertahankan volume sirkulasi
yang baik untuk perfusi jaringan dan memenuhi kebutuhan energi
seluler untuk memudahkan proses regenerasi/ penyembuhan
jaringan.

Dx 5 :
1. Kaji peran pasien dalam hubungan keluarga. Identifikasi masalah
tentang disfungsi peran / gangguan, contoh penyembuhan, transisi
sehat – sakit
RASIONAL : membantu mengetahui tanggung jawab pasien dan
bagaimana efek penyakit terhadap peran ini. Peran tergantung klien
menimbulkan cemas dan masalah tentang bagaimana pasien akan
mampu menangani tanggung jawab peran biasanya.
2. Kaji tingkat cemas, persepsi pasien tentang derajat ancaman terhadap
diri / hidup.
RASIONAL : Informasi memberikan dasar untuk identifikasi /
perencanaan perawatan individual.
3. Pertahankan perilaku positif terhadap pasien, berikan kesempatan
untuk pasien melakukan latihan kontrol sebanyak mungkin.
RASIONAL : membantu klien menerima perubahan yang terjadi dan
mulai menyadari kontrol terhadap diri sendiri.
4. Bantu pasien / orang terdekat mengembangkan strategi untuk
menerima perubahan, contoh pembagian tanggung jawab untuk
anggota keluarga lain / teman atau tetangga ; menerima bantuan
sementara ( perawatan rumah / petugas kebun ) ; selidiki adanya
bantuan finansial.

21
RASIONAL : perencanaan untuk perubahan yang dapat terjadi /
diperlukan meningkatkan rasa kontrol dan menyelesaikan tanpa
kehilangan harga diri.
5. Ketahui kenyataan proses kehilangan sehubungan dengan perubahan
peran dan bantu pasien untuk menerima kenyataan rasa marah dan
sedih.
RASIONAL : bedah jantung merupakan titik dramatik pada hidup
pasien, dan tak pernah sama lagi. Kebutuhan pasien untuk mengenal
perasaan ini sehubungan dengan penerimaan terhadap hal tersebut
dan terus memandang ke depan.

Dx 6 :
1. Tegaskan penjelasan ahli bedah tentang prosedur pembedahan
reguler, berikan diagram bila perlu.
RASIONAL : memberikan informasi spesifik secara individual yang
menciptakan dasar pengetahuan untuk pengetahuan selanjutnya
mengenai manajemen rumah.
2. Gabungkan informasi ini ke dalam diskusi tentang harapan
pemulihan jangka pendek/ panjang.
RASIONAL : lama rehabilitasi dan prognosis tergantung.pada tipe
prosedur pembedahan, kondisi fisik praoperasi dan durasi
komplikasi.
3. Tinjau program latihan yang ditentukan dan tingkatkan bertahap.
Bantu pasien/ orang terdekat untuk menyusun tujuan realistis.
RASIONAL : kemampuan individu dan harapannya tergantung pada
tipe prosedur pembedahan, fungsi jantung dasar, dan kondisi fisik
sebelumnya
4. Dorong periode istirahat bergantian dengan aktivitas dan tugas-tugas
ringan dengan tugas berat. Hindari mengangkat berat, latihan
isometrik/ peregangan bagian atas tubuh.
RASIONAL : mencegah kelelahan/ keletihan berlebihan.

22
5. Pecahkan masalah dengan pasien/ orang terdekat untuk melanjutkan
program aktivitas progresif selama suhu ekstrem dan hari dimana
polusi/ angin kencang, mis, berjalan dengan jarak yang ditentukan
sebelumnya dalam rumah sendiri atau ruang tertutup/ pertokoan /
pusat kebugaran.
RASIONAL : Mempunyai rencana akan gagal dalam melakukan
latihan karena pengaruh-pengaruh seperti cuaca.
6. Jadwalkan periode istirahat dan instirahat sejenak beberapa kali
dalam sehari.
RASIONAL : istirahat dan tidur meningkatkan kemampuan koping,
menurunkan kegugupan dan meningkatkan penyembuhan.
7. Kuatkan pembatasan dari dokter tentang mengangkat, mengemudi,
kembali bekerja dan melakukan kembali aktivitas seksual
RASIONAL : pembatasan ini ada sampai setelah kunjungan pasca
operasi pertama untuk pengkajian terhadap penyembuhan sternum.

D. Evaluasi
1. Menyatakan nyeri hilang / tak ada. Menunjukkan postur tubuh rileks,
kemampuan istirahat /tidur dengan cukup. Membedakan
ketidaknyamanan bedah dari angina / nyeri jantung praoperasi.
2. Menunjukkan penurunan episode angina dan disritmia. Menunjukkan
peningkatan toleransi aktivitas. Berpartisipasi dalam aktivitas yang
memaksimalkan/ meningkatkan fungsi jantung.
3. Mempertahankan pola nafas normal /efektif bebas sianosis dan tanda /
gejala lain dari hipoksia dengan bunyi nafas sama secara bilateral, area
paru bersih. Menunjukkan reakspansi lengkap dengan tak ada
pneumotorak / hemotorak.
4. Menunjukkan perilaku/ teknik untuk meningkatkan penyembuhan,
mencegah komplikasi. Menunjukkan penyembuhan luka tepat waktu.
5. Menyatakan persepsi nyata dan penerimaan diri pada perubahan peran,
Bicara dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang telah

23
terjadi, Mengembangkan rencana nyata untuk adaptasi peneerimaan
perubahan peran.
6. Berpartisipasi dalam proses belajar, Melakukan tanggung jawab untuk
pembelajaran sendiri, Mulai mencari informasi / mengajukan pertanyaan,
Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan
terapeutik.

24
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) merupakan salah satu
penanganan intervensi dari Penyakit Jantung Koroner (PJK), dengan cara
membuat saluran yang baru melewati bagian arteri koronia yang mengalami
penyempitan atau penyumbatan. Dimana arteri atau vena diambil dari bagian
tubuh lain kemudian disambungkan untuk membentuk jalan pintas melewati
arteri koroner yang tersumbat. Sehingga menyediakan jalan baru untuk aliran
darah yang menuju sel-sel otot jantung.
Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) bertujuan untuk mengatasi
terhambatnya aliran Artety Coronaria akibat adanya penyempitan bahkan
penyumbatan ke otot jantung. Pemastian daerah yang mengalami
penyempitan telah dilakukan sebelumnya dengan melakukan kateterisasi
Artery Coronary.
Sasaran operasi bypass adalah mengurangi gejala penyakit arteri
koroner (termasuk angina), sehingga pasien bisa menjalani kehidupan yang
normal dan mengurangi risiko serangan jantung atau masalah jantung lain

B. Saran
Sebagai tenaga kesehatan, khususnya perawat, kita harus mengetahui
proses-proses keperawatan dalam masa penyembuhan klien. Untuk itu perlu
dilakukan usaha untuk meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan kesehatan
pasien penyakit jantung koroner dengan CABG khususnya dalam rangka
meningkatkan kepuasan klien sebagai penerima jasa pelayanan kesehatan
yang dilakukan secara profesional.

25
DAFTAR PUSTAKA

Grace, Pierce A.et All, 2006. At a Glance Ilmu Bedah, Edisi Ketiga.
Jakarta. Erlangga

Doengoes, Marilynn E, 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Ed.3.


Jakarta : EEC

Carpenito, Lynda Juall, 2000. Diagnosa Keperawatan. Ed.8. Jakarta : EEC

http://www.helpfulhealthtips.com/atherosclerosis-arteriosclerosis-
symptoms-causes-suggestions/, diakses 24 Mei 2010

http://www.singhealth.com.sg/PatientCare/Overseas-
Referral/bh/Procedures/Pages/CardiothoracicSurgeryPackages.aspx
, diakses 24 Mei 2010.

http://perawattegal.wordpress.com/2009/09/11/penyakit-jantung-koroner/,
diakses 24 Mei 2010

http://ruslanpinrang.blogspot.com/2009/03/penyakit-jantung-koroner.html,
diakses 24 Mei 2010

http://cakmoki86.wordpress.com/2008/11/02/penyakit-jantung-koroner/,
diakses 24 Mei 2010

26