Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN KASUS

TENGGELAM

Disusun Oleh:

Fila Apriliawati
Itqan Ghazali
Hernowo Setyo U
Mira Rizki Ramadhan
Gabriella Diandra N

G99142114
G99142115
G99142116
G99142117
G99142118

Pembimbing:
drg. Andy Yok S, M.Kes
BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD Dr. MOEWARDI
SURAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Tenggelam adalah kematian akibat mati lemas (asfiksia) disebabkan
masuknya cairan ke dalam saluran pernapasan. Pada umumnya tenggelam
merupakan kasus kecelakaan, baik secara langsung maupun karena ada faktorfaktor tertentu seperti korban dalam keadaan mabuk atau dibawah pengaruh obat,
bahkan bisa saja dikarenakan akibat dari suatu peristiwa pembunuhan.2,6
Setiap tahun, sekitar 150.000 kematian dilaporkan di seluruh dunia akibat
tenggelam,dengan kejadian tahunan mungkin lebih dekat ke 500.000. Menurut
WHO, pada tahun 2004, 388.000 orang meninggal akibat tenggelam. 13 Beberapa
negara terpadat di dunia gagal untuk melaporkan insiden hampir tenggelam. Ini
menyatakan bahwa banyak kasus tidak pernah dibawa ke perhatian medis,
kejadian di seluruh dunia membuat pendekatan akurat yang hampir mustahil.
Mayoritas (sekitar 96%) kematian akibat tenggelam terjadi pada negara yang
berpenghasilan rendah dan menengah. 60% kematian akibat tenggelam terjadi di
kawasan Pasifik Barat dan Asia Tenggara. Di seluruh dunia, anak di bawah 5
tahun merupakan tingkat usia dengan mortalitas akibat tenggelam tertinggi.13
Pada pemeriksaan jenazah yang diduga tenggelam perlu diketahui kondisi
korban meninggal sebelum atau sesudah masuk air, tempat jenazah ditemukan
meninggal berada di air tawar atau asin, adanya antemortem injury, adanya sebab
kematian wajar atau keracunan, dan sebab kematiannya.
Untuk bisa mengetahui serta memperkirakan cara kematian mayat yang
terendam dalam air, diperlukan pemeriksaan luar dan dalam pada tubuh korban
serta pemeriksaan tambahan lain sebagai penunjang seperti pemeriksaan getah
paru untuk penemuan diatom, pemeriksaan darah secara kimia, pemeriksaan
histopatologi dan penentuan berat jenis plasma untuk menemukan tanda intravital
tersebut. Hal tersebut tidak mudah, terutama bagi mayat yang telah lama
tenggelam, atau pada mayat yang tidak lengkap, atau hanya ada satu bagian
tubuhnya saja.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Tenggelam didefinisikan sebagai kematian akibat asfiksia, disebabkan
oleh masuknya cairan ke dalam saluran pernapasan. Sebenarnya istilah
tenggelam harus pula mencakup proses yang terjadi akibat terbenamnya
korban di dalam air yang menyebabkan kehilangan kesadaran dan mengancam
jiwa.1
Tenggelam pada umumnya merupakan kecelakaan, baik kecelakaan
secara langsung berdiri sendiri maupun tenggelam yang terjadi oleh karena
korban dalam keadaan mabuk, berada di bawah pengaruh obat atau pada
mereka yang terserang epilepsi. Pembunuhan dengan cara menenggelamkan
jarang terjadi, korban biasanya bayi atau anak-anak. Pada orang dewasa dapat
terjadi tanpa sengaja, yaitu korban sebelumnya dianiaya, disangka sudah mati,
padahal hanya pingsan. Untuk menghilangkan jejak korban dibuang ke sungai,
sehingga mati karena tenggelam. Bunuh diri dengan cara menenggelamkan
diri juga merupakan peristiwa yang jarang terjadi. Korban sering memberati
dirinya dengan batu atau besi, baru kemudian terjun ke air.2
B. INSIDENSI
Tenggelam merupakan salah satu masalah besar. Sekitar 4000 orang
tenggelam tiap tahunnya dan 1400 diantaranya adalah anak-anak. Kasus
tenggelam diperkirakan jumlahnya lebih banyak dibandingkan yang ada di
dalam data. Beberapa data menyebutkan kasus tenggelam berada di peringkat
kedua penyebab kematian pada usia muda setelah kecelakaan lalu lintas.
Berdasarkan klasifikasi Federal Centers for Disease Control and Prevention di
Atlanta, 10-15% korban masuk dalam kategori dry drowning. 3
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat tahun 2000 di seluruh dunia
ada 400.000 kejadian tenggelam tidak sengaja. Artinya, angka ini menempati
urutan kedua setelah kecelakaan lalu lintas. Bahkan Global Burden of Disease
(GBD)

menyatakan

bahwa

angka

tersebut

sebenarnya

lebih

kecil
3

dibandingkan seluruh kematian akibat tenggelam yang disebabkan oleh banjir,


kecelakaan angkutan air, dan bencana lainnya.3
Setiap tahun, sekitar 150.000 kematian dilaporkan di seluruh dunia
akibat tenggelam. Di Amerika Serikat dilaporkan kejadian tenggelam akibat
kecelakaan mencapai 3.443 orang dan kematian akibat tenggelam dari perahu
mencapai 496 orang. Kecelakaan akibat tengggelam menduduki peringkat
keenam penyebab kematian terbanyak pada segala usia dan peringkat kedua
penyebab kematian pada anak-anak usia 1-14 tahun, setelah kecelakaan lalu
lintas. Rata-rata kejadian tenggelam adalah 10 kematian perhari. Empat puluh
persen dari kejadian tenggelam terjadi di musim panas. Kejadian tenggelam
lebih banyak di daerah jarang penduduk, daerah selatan dan barat Amerika
Serikat. Di Kalifornia, Arizona dan Florida, tenggelam merupakan penyebab
utama kematian karena kecelakaan.4
C. FAKTOR RISIKO
Faktor risiko yang mengakibatkan tenggelam diantaranya adalah5:
1. Tidak memakai pelampung ketika menjadi penumpang angkutan air.
2. Kurangnya pengawasan terhadap anak (terutama anak usia 5 tahun ke
bawah)
3. Kondisi air melebihi kemampuan perenang, arus kuat, air yang sangat
dalam, terperosok sewaktu berjalan di atas es, ombak besar, dan pusaran
air.
4. Terperangkap misalnya setelah peristiwa kapal karam, kecelakaan mobil
yang mengakibatkan mobil tenggelam, serta tubuh yang terbelenggu
pakaian atau perlengkapan.
5. Terganggunya kemampuan fisik akibat pengaruh obat-obatan dan
minuman beralkohol.
6. Ketidakmampuan akibat hipotermia, syok, cedera, atau kelelahan.
7. Ketidakmampuan akibat penyakit akut ketika berenang, termasuk
diantaranya: infark miokard, epilepsi, atau stroke.
8. Ditenggelamkan dengan paksa oleh orang lain dengan tujuan membunuh,
kekerasan antar anak sebaya, atau permainan di luar batas kewajaran.
D. MEKANISME

Mekanisme kematian pada korban tenggelam dapat berupa asfiksia


akibat spasme laring, asfiksia karena gagging dan choking, refleks vagal,
fibrilasi ventrikel (air tawar), dan edema pulmoner (dalam air asin).6, 7
1. Refleks Vagal
Kematian terjadi sangat cepat dan pada pemeriksaan post mortem
tidak ditemukan adanya tanda-tanda asfiksia ataupun air di dalam paruparunya sehingga sering disebut tenggelam kering (dry drowning).8
2. Spasme Laring
Kematian karena spasme laring pada peristiwa tenggelam sangat
jarang sekali terjadi. Spasme laring tersebut disebabkan karena rangsangan
air yang masuk ke laring. Pada pemeriksaan post mortem ditemukan
adanya tanda-tanda asfiksia, tetapi paru-parunya tidak didapati adanya air
atau benda-benda air.8
3. Pengaruh air yang masuk paru-paru
Hipoksia dan asidosis serta efek multiorgan dari proses ini yang
menyebabkan morbiditas dan mortalitas pada tenggelam. Kerusakan
sistem saraf pusat dapat terjadi karena hipoksemia yang terjadi karena
tenggelam (kerusakan primer) atau dari aritmia, gangguan paru, atau
disfungsi multiorgan.9
Pada peristiwa tenggelam di air tawar akan menimbulkan anoksia
disertai gangguan elektrolit. Cairan yang teraspirasi dan terdapat pada
paru-paru menghasilkan vasokonstriksi dan hipertensi yang diperantarai
oleh nervus vagus. Air tawar berpindah lebih cepat dari membran kapileralveoli ke mikrosirkulasi. Ini akan mengakibatkan hemodilusi dan
hemolisis. Dengan pecahnya elektrolit maka ion kalium intrasel akan
terlepas sehingga menimbulkan hiperkalemia yang akan mempengaruhi
kerja jantung (terjadi fibrilasi ventrikel). Pemeriksaan post mortem
ditemukan tanda-tanda asfiksia, kadar NaCl jantung kanan lebih tinggi dari
jantung kiri dan adanya buih serta benda-benda air pada paru-paru.8,9
Selain itu, air tawar cenderung lebih hipotonik dibandingkan plasma dan
menyebabkan gangguan surfaktan alveoli. Hal ini akan menyebabkan
instabilitas alveoli, atelektasis, dan penurunan komplians paru.9

Pada peristiwa tenggelam di air asin, akan mengakibatkan


terjadinya anoksia dan hemokonsentrasi. Air akan ditarik dari sirkulasi
pulmonal ke dalam jaringan interstitial paru yang akan menimbulkan
edema paru, hemokonsentrasi, dan hipovolemia. Tidak terjadi gangguan
elektrolit. Pada pemeriksaan post mortem ditemukan adanya tanda-tanda
asfiksia, kadar NaCl pada jantung kiri lebih tinggi daripada jantung kanan
dan ditemukan buih serta benda-benda air. Dibandingkan dengan
tenggelam pada air tawar, kematian pada tenggelam di air asin prosesnya
lebih lambat.6,8 Air asin, yang bersifat hiperosmolar, akan menarik cairan
ke dalam alveoli dan menyebabkan dilusi surfaktan. Cairan yang kaya
protein akan bereksudasi secara cepat ke alveoli dan instertitial paru. Hal
ini menyebabkan komplians paru berkurang, dan membran kapiler-alveoli
rusak dan terjadi perpindahan cairan sehingga terjadi hipoksia.9
4. Wet Drowning
Pada wet drowning, yang mana terjadi inhalasi cairan, diketahui
terjadi proses dari korban menahan napas. Karena peningkatan CO2 dan
penurunan kadar O2, terjadi megap-megap dan dapat timbul regurgitasi
dan aspirasi isi lambung. Refleks laringospasme yang diikuti dengan
pemasukan air akan muncul. Kemudian korban kehilangan kesadaran dan
terjadi apnoe. Penderita kemudian akan megap-megap kembali sampai
beberapa menit, bahkan penderita dapat kejang. Penderita kemudian dapat
berakhir dengan henti napas dan jantung.
5. Dry Drowning
15-20% kematian akibat tenggelam merupakan dry drowning, yang
mana tidak disertai dengan aspirasi cairan. Kematian ini biasanya terjadi
dengan sangat mendadak dan tidak tampak adanya tanda-tanda
perlawanan. Mekanisme kematian yang pasti masih tetap spekulatif.
Cairan yang mendadak masuk dapat menyebabkan 2 macam mekanisme
kematian:
a. Laringospasme yang akan menyebabkan asfiksia dan kematian
b. Mengaktifkan sistem saraf parasimpatis sehingga terjadi refleks vagal
yang akan mengakibatkan cardiac arrest.
Beberapa faktor predisposisi kematian akibat dry drowning:

a.
b.
c.
d.

Intoksikasi alkohol (mendepresi aktivitas kortikal)


Penyakit yang telah ada, misalnya aterosklerosis
Kejadian tenggelam/terbenam secara tak terduga/mendadak
Ketakutan atau aktivitas fisik berlebih (peningkatan sirkulasi
katekolamin, disertai kekurangan oksigen, dapat menyebabkan cardiac
arrest.

E. KLASIFIKASI
1. Berdasarkan Morfologi Penampakan Paru
Berdasarkan morfologi penampakan paru pada otopsi, tenggelam
dibedakan atas tenggelam kering (dry drowning), tenggelam tipe basah
(wet drowning).6,8
a. Tipe kering (dry drowning),
Tenggelam tipe kering paling banyak terjadi pada anak-anak dan
dewasa yang banyak dibawah pengaruh obat-obatan (hipnotik sedatif)
atau alkohol, dimana mereka tidak memperlihatkan kepanikan atau
usaha penyelamatan diri saat tenggelam. Selain itu, air tidak teraspirasi
masuk ke traktus respiratorius bawah atau ke lambung. Kematian
terjadi secara cepat, merupakan akibat dari refleks vagal yang dapat
menyebabkan henti jantung atau akibat dari spasme laring karena
masuknya air secara tiba-tiba ke dalam hidung dan traktus respiratorius
bagian atas.
Beberapa faktor predisposisi kematian akibat dry drowning
seperti intoksikasi alkohol (mendepresi aktivitas kortikal), adanya
penyakit

yang

sebelumnya

(seperti

aterosklerosis),

kejadian

tenggelam/terbenam secara tak terduga/mendadak, ketakutan atau


aktivitas fisik berlebih (peningkatan sirkulasi katekolamin, disertai
kekurangan oksigen, dapat menyebabkan cardiac arrest).
b. Tipe basah (wet drowning)
Pada keadaan ini cairan masuk ke dalam saluran pernapasan
setelah korban tenggelam. Ketika seseorang terbenam di bawah
permukaan air, reaksi awal yang dilakukan ialah mempertahankan
nafasnya. Hal ini berlanjut hingga tercapainya batas kesanggupan,
dimana orang itu harus kembali menarik nafas kembali. Batas

kesanggupan

tubuh

ini

ditentukan

oleh

kombinasi

tingginya

konsentrasi karbondioksida dan konsentrasi rendah oksigen di mana


oksigen dalam tubuh banyak digunakan dalam sel. Menurut Pearn,
batas ini tercapai ketika kadar PCO2 berada di bawah 55 mm Hg atau
merupakan ambang hypoxia, dan ketika kadar PaO2 di bawah 100
mmHg ketika PCO2 cukup tinggi. Ketika mencapai batas kesanggupan
ini, korban terpaksa harus menghirup sejumlah besar volume air.
Sejumlah air juga sebagian tertelan dan bisa ditemukan di dalam
lambung. Selama pernapasan dalam air ini, korban bisa juga
mengalami muntah dan selanjutnya terjadi aspirasi terhadap isi
lambung. Pernapasan yang terengah-engah di dalam air ini akan terus
berlanjut hingga beberapa menit, sampai akhirnya respirasi terhenti.
Hipoksia serebral akan semakin buruk hingga tahap irreversibel dan
terjadilah kematian. 14,15
Namun demikian, mekanisme kematian pada kasus tenggelam
bukan hanya sekedar masuknya cairan ke dalam saluran pernapasan,
akan tetapi merupakan hal yang cukup kompleks, mekanisme
tenggelam dalam air asin, berbeda dengan tenggelam dalam air tawar.2
2. Berdasarkan Lokasi Tenggelam
Jika ditinjau berdasarkan jenis air tempat terjadinya tenggelam, maka
dapat dibedakan menjadi tenggelam di air tawar dan tenggelam di air asin.
a. Air tawar
Air tawar akan dengan cepat diserap dalam jumlah besar, sehingga
terjadi hemodilusi yang hebat sampai 72 persen yang berakibat
terjadinya hemolisis. Oleh karena terjadi perubahan biokimiawi yang
serius, dimana kalium dalam plasma meningkat dan natrium
berkurang, juga terjadi anoksia yang hebat pada myocardium.
Hemodilusi menyebabkan cairan dalam pembuluh darah atau sirkulasi,
menjadi berlebihan, terjadi penurunan tekanan sistol dan dalam waktu
beberapa menit terjadi fibrilasi ventrikel. Jantung untuk beberapa saat
masih berdenyut dan lemah, terjadi anoksia cerebri yang hebat, hal
yang menerangkan mengapa kematian terjadi dengan cepat.6
b.

Air asin
8

Pada tenggelam di air laut terjadi pertukaran elektrolit dari air asin
ke darah mengakibatkan peningkatan natrium plasma, air akan ditarik
dari sirkulasi pulmonal ke dalam jaringan intertisial paru yang akan
menimbulkan edema pulmo yang hebat dalam waktu yang singkat dan
peningkatan hematokrit (hipovolemia). Peningkatan viskositas darah
(hemokonsentrasi)

menyebabkan sirkulasi aliran darah menjadi

lambat dan anoksia pada miokardium yang

menimbulkan payah

jantung dan kematian yang terjadi kurang lebih 8-9 menit setelah
tenggelam.6
3. Klasifikasi lain
Klasifikasi tenggelam menurut Levin (1993) adalah sebagai berikut:10
a. Typical drowning
Keadaan dimana cairan masuk ke dalam saluran pernapasan korban
saat korban tenggelam.
b. Atypical drowning
1) Dry Drowning
Keadaan dimana hanya sedikit bahkan tidak ada cairan yang masuk
ke dalam saluran pernapasan.
2) Immersion Syndrome
Terjadi terutama pada anak-anak yang tiba-tiba masuk ke dalam air
dingin (suhu < 20C) yang menyebabkan terpicunya reflex vagal
yang menyebabkan apneu, bradikardia, dan vasokonstriksi dari
pembuluh darah kapiler dan menyebabkan terhentinya aliran darah
koroner dan sirkulasi serebral.
3) Submersion of the Unconscious
Sering terjadi pada korban yang menderita epilepsi atau penyakit
jantung, hipertensi atau konsumsi alkohol yang mengalami trauma
kepala saat masuk ke air .
4) Delayed Dead
Keadaan dimana seorang korban masih hidup setelah lebih dari 24
jam setelah diselamatkan dari suatu episode tenggelam.
Atypical Drowning
Insidens atypical drowning dilaporkan sebanyak 10-15% dari seluruh
kasus tenggelam. Mekanismenya dapat terjadi akibat stimulasi vagal
menyebabkan inhibisi jantung atau akibat spasme laring.15,16

Menurut teori ketika sejumlah air yang sedikit masuk dalam laring atau
trakea maka terjadi spasme laring secara tiba-tiba yang dimediasi sebagai
refleks vagal. Mukus yang kental, berbusa dan berbuih dapat terjadi, hingga
menciptakan suatu perangkap fisik yang menyumbat jalan nafas.14,15
Secara normal saat bernapas diafragma berkontraksi dan menyebabkan
paru-paru mengembang, mekanisme ini menyebabkan udara masuk ke dalam
paru-paru karena tekanan negatif yang terbentuk. Ketika air atau benda asing
lainnya teraspirasi maka terjadi spasme laring yang menyebabkan udara tidak
dapat masuk ke dalam paru. Sedangkan saat itu paru sedang dalam kondisi
mengembang, otot diafragma berkontraksi sehingga tekanan negatif tetap ada
di paru. Usaha korban untuk mendapatkan udara masuk dilakukan dengan
menghirup udara dengan lebih kuat, tetapi hal ini hanya menambah tekanan
negatif dalam paru. Obstruksi aliran masuk oksigen menyebabkan hipoksia
dan obstruksi dari aliran keluar karbondioksida menyebabkan asidosis yang
keduanya

menyebabkan

kematian.

Tekanan

negatif

yang

muncul

menyebabkan tertariknya cairan dari pembuluh darah ke dalam paru sehingga


menyebabkan edema paru dan pasien tenggelam karena cairan tubuhnya
sendiri. Pada saat yang sama, sistem saraf simpatik merespon kondisi spasme
pada laring. Sistem ini menyebabkan vasokonstriksi yang mengakibatkan
peningkatan tekanan darah yang akhirnya mempeburuk proses edema paru
yang sudah ada. 15
Sumbat fisik

dan spasme laring tidak dapat ditemukan pada saat

otopsi karena pada kematian terjadi relaksasi otot-otot laring, sehingga hal
tersebut hanyalah sebuah hipotesis dan belum dapat dibuktikan. Namun
demikian, penelitian Pesarri menggunakan anjing yang dianestesi menemukan
bahwa, injeksi larutan nonisosmolar pada saluran napas bagian bawah dapat
memicu timbulnya reflex vagal ini.10,14
Tenggelam secara tiba-tiba di air yang sangat dingin (< 20oC atau
158oF) juga dapat memicu refleks vagal yang menginduksi disaritmia yang
menyebabkan asistol dan fibrilasi ventrikel sehingga menyebabkan kematian.
Umumnya korban berusia muda dan mengkonsumsi alkohol. Reflek ini dapat

10

juga timbul pada korban yang masuk ke air dengan kaki terlebih dahulu (duck
diving) yang menyebabkan air masuk ke hidung, atau teknik menyelam yang
salah dengan masuk air dalam posisi horizontal sehingga menekan perut.
Tidak akan ditemukan tanda-tanda khas dari tenggelam. Diagnosis ditegakkan
dengan menelusuri riwayat korban sebelum meninggal. 15,16,17
Near Drowning
Near Drowning adalah suatu keadaan dimana muncul gejala beberapa
hari setelah korban tenggelam diselamatkan dan korban meninggal akibat
komplikasi akibat kegagalan multiorgan.16,17,18
Air tawar bersifat relatif hipotonik dibandingkan plasma darah dan
menyebabkan kerusakan pada surfaktan di alveoli. Air asin, yang bersifat
relatif hipertonik dibandingkan plasma, meningkatkan gradien osmotik dan
oleh karena itu menarik cairan masuk ke alveoli dan menyebabkan dilusi
surfaktan (surfactant washout). Selain gangguan pada surfaktan, gangguan
respirasi pada korban near drowning juga dapat diakibatkan oleh barotrauma
pulmoner, kerusakan mekanis paru-paru akibat usaha resusitasi, pneumonitis
akibat benda asing (pasir, lumpur, rumput laut, muntahan) atau bahan kimia
yang teraspirasi (terutama terjadi pada kasus tenggelam di kolam renang yang
diberi klorin atau di ember yang mengandung produk permbersih lantai),
pemberian ventilasi yang tidak adekuat, atau apneu sekunder akibat kerusakan
sistem saraf pusat. Pneumonia bakterial merupakan komplikasi yang lebih
jarang, dan biasanya terjadi pada kasus tenggelam di air tawar yang tidak
mengalir dan hangat. Kondisi korban dapat diperburuk dengan adanya
kegagalan multi sistem organ lain akibat hipoksia yang berlangsung lama,
antara lain terjadinya disseminated intravascular coagulation, insufisiensi
hepatik, insufisiensi renal, asidosis metabolik dan cedera pada sistem
gastrointestinal.13
F. CARA KEMATIAN PADA KORBAN TENGGELAM
Peristiwa tenggelam dapat terjadi karena:8
1.

Kecelakaan

11

Peristiwa tenggelam karena kecelakaan sering terjadi karena korban


jatuh ke laut, danau, sungai. Pada anak-anak kecelakaan sering terjadi di
kolam renang atau galian tanah berisi air. Faktor-faktor yang sering
menjadi penyebab kecelakaan antara lain karena mabuk atau serangan
epilepsi.
2. Bunuh diri
Peristiwa bunuh diri dengan menjatuhkan diri kedalam air sering kali
terjadi. Kadang - kadang tubuh pelaku diikat dengan pemberat agar supaya
3.

tubuh dapat tenggelam dengan mudah.


Pembunuhan
Banyak cara yang digunakan misalnya dengan melemparkan korban ke
laut atau memasukkan kepala ke dalam bak berisi air.
Pada kasus korban tenggelam yang sudah membusuk, identifikasi amat
sukar atau sudah tidak diketahui tempat kejadiannya, tidak ada saksi, maka
tak dapat diklasifikasikan kecelakaan atau bunuh diri/pembunuhan.

G. PEMERIKSAAN POST MORTEM


Keadaan sekitar individu pada kasus tenggelam penting. Perlu diingat
adanya kemungkinan korban sudah meninggal sebelum masuk ke dalam air.
Tenggelam terjadi tidak hanya terbatas di dalam air dalam seperti laut, sungai,
danau atau kolam renang, tetapi mungkin pula terbenam dalam kubangan atau
selokan dengan hanya muka yang berada di bawah permukaan air.6
Bila mayat masih segar (belum terdapat pembusukan), maka diagnosis
kematian akibat tenggelam dapat ditegakkan melalui:6
1. Pemeriksaan luar
2. Pemeriksaan dalam
3. Pemeriksaan laboratorium berupa histologi jaringan, destruksi jaringan,
dan berat jenis serta kadar elektrolit darah.
Bila mayat sudah membusuk, maka diagnosis kematian akibat
tenggelam dibuat berdasarkan adanya diatom pada paru, ginjal, otot skelet
atau sumsum tulang. Pada mayat akibat tenggelam, pemeriksaan harus seteliti
mungkin agar mekanisme kematian dapat ditentukan.6
Media di mana mayat berada berperan penting dalam
kecepatan pembusukan mayat. Kecepatan pembusukan ini di
gambarkan dalam rumus klasik Casper, yaitu perbandingan
tanah : air : udara = 1 : 2 : 8 artinya mayat yang dikubur di
12

tanah umumnya membusuk 8 kali lebih lama dari pada mayat


yang terdapat di udara terbuka.2
Mayat yang dikubur di tanah proses pembusukan terjadi lebih lama
daripada mayat yang diletakkan pada permukaan, hal ini disebabkan karena
suhu di dalam tanah lebih rendah, terlindung dari predators seperti binatang
dan insekta, dan rendahnya oksigen menghambat berkembang biaknya
organisme aerobik. Apabila tubuh membusuk sebelum penguburan, proses
pembusukan akan tetap terjadi walaupun lambat, karena aktivitas enzim dan
bakteri sudah terbentuk dari dalam sebelum mayat dikuburkan, serta
mikroorganisme dalam tanah tidak berperan pada tahap awal proses
pembusukan, melainkan berperan pada tahap akhir proses pembusukan.
Penguburan mayat yang lebih dalam menyebabkan proses pembusukan
menjadi semakin lama, karena tanah lebih dingin. Keadaan ini tidak berlaku
apabila terendam air atau tanah terkena air hujan. Bila mayat dikubur didalam
pasir dengan kelembaban yang kurang dan iklim yang panas maka jaringan
tubuh mayat akan menjadi kering sebelum terjadi pembusukan. Penyimpangan
dari proses pembusukan ini disebut mumifikasi.4,8,9
Pada mayat yang tenggelam di dalam air proses pembusukan
umumnya berlangsung lebih lambat dari pada yang di udara terbuka. Hal ini
dipengaruhi oleh temperatur air, kandungan bakteri dalam air, kadar garam di
dalamnya, dan binatang air sebagai predator. Pada mayat yang tenggelam di
dalam air pengaruh gravitasi tidak lebih besar dibandingkan dengan daya
tahan air, akibatnya walaupun mayat tenggelam diperlukan daya apung untuk
mengapungkan tubuh di dalam air. Mayat yang tenggelam mempunyai posisi
karakteristik yaitu kepala dan kedua anggota gerak berada di bawah
sedangkan badan cenderung berada di atas akibatnya lebam mayat lebih
banyak terdapat di daerah kepala. Sehingga mayat yang tenggelam di air
kepalanya menjadi lebih busuk dibandingkan dengan anggota badan yang
lain.9

13

Pemeriksaan mayat yang dilakukan harus seteliti mungkin agar


mekanisme kematian dapat ditentukan karena seringkali mayat ditemukan
sudah membusuk. Hal yang perlu diperhatikan adalah:6
1.

Menentukan identitas korban


Identitas korban dapat ditentukan dengan memeriksa antara lain:
a. Pakaian dan benda-benda milik korban.
b. Warna, distribusi rambut, dan identitas lain.
c. Kelainan atau deformitas dan jaringan parut.
d. Sidik jari.
e. Pemeriksaan gigi.
f. Teknik identifikasi lain.
2. Apakah korban masih hidup sebelum tenggelam
Pada mayat yang masih segar untuk menentukan korban masih hidup
atau sudah meninggal pada saat tenggelam dapat diketahui dari hasil
pemeriksaan
a. Metode yang digunakan apakah orang masih hidup saat tenggelam
ialah pemeriksaan diatom.
b. Untuk membantu menentukan diagnosis, dapat dibandingkan kadar
elektrolit magnesium darah dari bilik jantung kiri dan kanan.
c. Benda asing dalam paru dan saluran pernafasan mempunyai nilai yang
menentukan pada mayat yang terbenam selam beberapa waktu dan
mulai membusuk. Demikian pula dengan isi lambung dan usus.
d. Pada mayat yang segar, adanya air dalam lambung dan alveoli yang
secara fisik dan kimia sama dengan air tempat korban tenggelam
mempunyai nilai yang bermakna.
e. Pada beberapa kasus, ditemukan kadar alkohol tinggi dapat
menjelaskan bahwa korban sedang dalam keracunan alkohol pada saat
3.

masuk ke dalam air.


Penyebab kematian yang sebenarnya dan jenis drowning
Pada mayat yang segar, gambaran pasca-mati dapat menunjukkan tipe
drowning dan juga penyebab kematian lain seperti penyakit, keracunan
atau kekerasan lain.
Pada kecelakaan di kolam renang benturan ante-mortem (antemortem
impact) pada tubuh bagian atas, misalnya memar pada muka, perlukaan

4.

pada vertebra servikalis dan medula spinalis dapat ditemukan.


Faktor- faktor yang berperan dalam proses kematian

14

Faktor- faktor yang berperan dalam dalam proses kematian, misalnya


kekerasan, alkohol atau obat-obatan dapat ditemukan pada pemeriksaan
luar atau bedah jenazah.
5. Tempat korban pertama kali tenggelam
Bila kematian korban berhubungan dengan masuknya cairan ke dalam
saluran pernafasan, maka pemeriksaan diatom dari air tempat korban
ditemukan dapat membantu menentukan apakah korban tenggelam di
6.

tempat itu atau di tempat lain.


Apakah ada penyulit alamiah lain yang mempercepat kematian.
a. Bila sudah ditentukan bahwa korban masih hidup pada masuk ke
dalam air. Maka perlu ditentukan apakah kematian disebabkan karena
air masuk ke dalam saluran pernafasan (tenggelam). Pada kasus
immersion, kematian terjadi dengan cepat, hal ini mungkin disebbakan
oleh sudden cardiac arrest yang terjadi pada waktu cairan melalui
saluran napas atas. Beberapa korban yang terjun dengan kaki terlebih
dahulu menyebabkan cairan dengan mudah masuk ke hidung. Faktor
lain adalah keadaan hipersensitivitas dan kadang-kadang keracunan
b.

alkohol.
Bila tidak ditemukan air dalam paru- paru dan lambung, berarti
kematian terjadi seketika akibat spasme glotis yang menyebabkan
cairan tidak dapat masuk.
Korban yang tenggelam akan menelan air dalam jumlah yang makin

lama makin banyak, kemudian menjadi tidak sadar dalam 2-12 menit (fatal
period). Dalam periode ini, apabila korban dikeluarkan dari air, masih ada
kemungkinan dapat hidup bila upaya resusitasi berhasil.Waktu yang
diperlukan untuk terbenam dapat bervariasi tergantung dari keadaan sekeliling
korban,

keadaan

masing-masing

korban,

reaksi

perorangan

yang

bersangkutan, keadaan kesehatan, dan jumlah serta sifat cairan yang dihisap
masuk ke dalam saluran pernapasan.
H. PEMERIKSAAN LUAR
Pemeriksaan luar jenazah yang dapat dijadikan petunjuk pada mati
tenggelam di air laut maupun air tawar adalah: 6,11,12,13

15

1. Mayat dalam keadaan basah, mungkin berlumuran pasir, lumpur dan


benda-benda asing lain yang terdapat di dalam air, kalau seluruh tubuh
terbenam dalam air.
2. Schaumfilz froth merupakan busa halus pada hidung dan mulut. Teori
intravital menyebutkan Schaumfilz sebagai bagian dari reaksi intravital.
Pada waktu air memasuki trakea, bronkus, dan saluran pernapasan lainnya,
maka terjadi pengeluaran sekret oleh saluran tersebut. Sekret ini akan
terdorong keluar oleh udara pernapasan sehingga berbentuk busa mukosa.
Pendapat

lain

menyatakan

bahwa

Schaumfilz

merupakan

reaksi

pembusukan. Gejala ini biasanya tidak ditemukan bila mayat diangkat.


Busa yang ditemukan kadang disertai dengan perdarahan.
3. Mata setengah terbuka atau tertutup. Jarang terjadi perdarahan atau
bendungan.
4. Kutis anserina atau goose flesh merupakan reaksi intravital, jika
kedinginan, maka muskulus erektor pili akan berkontraksi dan pori-pori
tampak lebih jelas. Kutis anserina biasanya ditemukan pada kulit anterior
tubuh terutama ekstremitas. Gambaran seperti kutis anserina dapat juga
terjadi karena rigor mortis pada otot tersebut.
5. Washer womans hand. Telapak tangan dan kaki berwarna keputihan dan
berkeriput yang disebabkan karena imbibisi cairan ke dalam kutis dan
biasanya membutuhkan waktu yang lama. Tanda ini tidak patognomomik
karena mayat yang lama dibuang ke dalam air akan terjadi keriput juga.
6. Cadaveric spasm, merupakan tanda intravital yang terjadi pada waktu
korban berusaha menyelamatkan diri dengan cara memegang apa saja
yang terdapat dalam air.
7. Luka lecet akibat gesekan benda-benda dalam air. Luka lecet biasanya
dijumpai pada bagian menonjol, seperti kening, siku, lutut, punggung kaki
atau tangan. Puncak kepala mungkin terbentur pada dasar ketika terbenam,
tetapi dapat pula terjadi luka post-mortal akibat benda-benda atau binatang
dalam air.
8. Dapat ditemukan adanya tanda-tanda asfiksia seperti sianosis, Tardieu spot.
Petekie dapat muncul pada kasus tenggelam, tetapi lebih sedikit daripada
gantung diri karena pada tenggelam tidak terjadi kematian secara

16

mendadak sehingga pecahnya kapiler tidak secara tiba-tiba atau hanya


sedikit.
9. Penurunan suhu mayat

Gambar 1.

Busa

Bercampur

Darah pada

Hidung dan
Pada

Mulut13
mayat
yang

sudah

membusuk,

dapat ditemukan:
1. Mata melotot karena terbentuknya gas pembusukan.
2. Lidah tampak keluar karena gas pembusukan yang mendorong pangkal
lidah. Hal ini juga dapat terjadi pada mayat yang mengalami pembusukan
di darat.
3. Muka menjadi hitam dan sembab yang disebut tite de negre (kepala orang
negro).
4. Pugilistic attitude
Posisi lutut dan siku sedemikian rupa sehingga kaki dan tangan tampak
membengkok (frog stand). Ini disebabkan cairan dan gas yang terbentuk
pada persendian.
5. Vena tampak jelas berwarna hijau sampai kehitam-hitaman karena
terbentuk FeS. Ini dapat juga terjadi pada orang yang mati di darat.
6. Pada laki-laki tampak skrotum membesar, mungkin terjadi prolaps atau
adanya gas pembusukan. Pada wanita hamil dapat keluar anak yang
dikandung.

17

7. Bila lebih membusuk lagi, kulit ari akan mengelupas sehingga warna kulit
tidak jelas, rambut lepas.
I. PEMERIKSAAN DALAM
Pada pemeriksaan bedah jenazah dapat ditemukan busa halus dan
benda asing, seperti pasir atau tumbuhan air, dalam saluran pernapasan. 6 Pada
korban tenggelam di air tawar biasanya ditemukan dalam keadaan besar atau
menggelembung tetapi ringan, dan pinggir depan biasanya overlap di depan
hati. Namun, dapat ditemukan paru-paru yang biasa karena cairan tidak masuk
ke dalam alveoli atau cairan sudah masuk ke aliran darah (melalui proses
imbibisi). Paru berwarna merah jambu pucat dan dapat mengalami emfisema.
Ketika paru tersebut dipindahkan dari dada, paru tetap mempertahankan
bentuk normalnya dan cenderung tidak kolaps. Ketika memotong paru yang
mengalami emfisema kering akan terdengar bunyi krepitasi yang mudah
dinilai. Setelah dipotong, masing-masing bagian paru mempertahankan bentuk
normalnya seperti sebelum dipotong dan cenderung berdiri tegak. Ketika
jaringan dipotong dan ditekan antara ibu jari dan keempat jari lainnya terdapat
sedikit buih dan tidak ada cairan dan gas, kecuali jika terdapat edema. Dengan
demikian, paru tetap kering pada kasus tenggelam di air tawar.6
Pada kasus tenggelam di air laut, paru-paru dapat ditemukan membesar
seperti balon, lebih berat, sampai menutupi jantung. 6 Pada pengirisan terdapat
banyak cairan, beratnya kadang melebihi 2.000 gram. Karena paru sangat
edema maka tepi depan paru overlap di depan mediastinum sehingga
berbentuk seperti cetakan iga. Paru berwarna keunguan atau kebiruan dengan
permukaan mengkilap. Paru lembab dan konsistensinya seperti agar-agar dan
hilang dengan penekanan. Ketika paru dipindahkan dari tubuh dan
ditempatkan pada meja pemotongan, paru tidak mempertahankan bentuk
normalnya tapi cenderung datar. Ketika dipotong, tidak ada suara krepitasi
yang terdengar dan bahkan tanpa penekanan jaringan mengeluarkan banyak
cairan. Jaringan paru ditekan maka akan ditemukan paru dipenuhi cairan.
Dengan demikian kasus tenggelam di air laut paru mengalami lembab dan
basah.6,12
18

Petekie yang sangat sedikit dapat ditemukan karena kapiler terjepit di


antara septum inter alveolar. Dapat ditemukan bercak-bercak perdarahan yang
disebut bercak Paltauf akibat robeknya penyekat alveoli (Polsin). Petekie
subpleura dan bula emfisema jarang ditemukan dan bukan merupakan tanda
khas tenggelam, tetapi sebagai usaha respirasi.6
Sedangkan untuk mengetahui benda-benda air yang masuk ke saluran
pernafasan dapat dibuktikan dengan membuka saliran pernafasan dari trakea,
bronkus sampai percabangan bronkus di hilus. Jika dari pemeriksaan
ditemukan benda-benda air seperti pasir, kerikil, lumpur, tumbuhan air dan
lain-lain maka dapat dipastikan bahwa korban masih hidup sebelum
tenggelam.6
Organ lain seperti otak, ginjal, hati, dan limpa dapat mengalami
pembendungan. Lambung dan usus halus dapat sangat membesar, berisi air
dan lumpur.6
J. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
1. Pemeriksaan diatom
Diatom merupakan alga (ganggang) bersel satu dengan dinding sel
yang terbuat dari silikat yang tahan panas dan asam kuat. Diatom dapat
ditemukan dalam air tawar, air laut, air sungai, air sumur, dan udara.
Diatom dan elemen plankton lain masuk ke dalam saluran pernapasan atau
pencernaan ketika seseorang tenggelam menelan air. Kemudian diatom
akan masuk ke dalam aliran darah melalui kerusakan dinding kapiler pada
waktu korban masih hidup dan tersebar ke seluruh jaringan. Di sisi lain,
jika sebuah mayat ditenggelamkan dalam air meskipun diatom dapat
masuk ke dalam paru-paru secara pasif, tidak ada aliran sirkulasi darah
yang mungkin terjadi, sehingga (secara teori) tidak mungkin ada diatom
yang dapat ditemukan pada organ-organ dalam yang lebih jauh.6
Pemeriksaan diatom dilakukan pada jaringan paru mayat segar. Bila
mayat telah membusuk, pemeriksaan diatom dilakukan dari jaringan
ginjal, otot skelet atau sumsum tulang paha. Pemeriksaan diatom pada hati
dan limpa kurang bermakna sebab berasal dari penyerapan abnormal dari
saluran pencernaan terhadap air minum atau makanan.6
19

Pemeriksaan diatom dengan metode destruksi (digesti asam) pada paru


dilakukan dengan mengambil dari jaringan perifer paru sebanyak 100
gram, masukkan ke dalam labu Kjeldahl dan tambahkan asam sulfat pekat
sampai jaringan paru terendam, diamkan lebih kurang setengah hari agar
jaringan hancur. Kemudian dipanaskan dalam lemari asam sambil
diteteskan asam nitrat pekat sampai terbentuk cairan jernih, dinginkan dan
cairan dipusing dalam centrifuge.6
Sedimen yang terbentuk ditambahkan dengan akuades, pusingkan
kembali dan akhirnya dilihat dengan mikroskop. Pemeriksaan diatom
positif bila pada jaringan paru ditemukan diatom cukup banyak, 4-5/LPB
atau per 10-20 per satu sediaan atau pada sumsum tulang cukup ditemukan
hanya satu.6
Selain itu, dapat dilakukan pemeriksaan getah paru dengan cara
permukaan paru disiram dengan air bersih, lalu iris bagian perifer, ambil
sedikit cairan perasan dari jaringan perifer paru, taruh pada gelas obyek,
tutup dengan kaca penutup dan lihat dengan mikroskop. Selain diatom
dapat pula terlihat ganggang atau tumbuhan jenis lainnya.6

20

Gambar 2. Prinsip Tes Diatom11


Menurut Simpson, bahwa tes diatom terkadang negatif, bahkan pada
kasus-kasus yang jelas-jelas tenggelam pada air yang banyak diatom dan
telah banyak hasil positif palsu yang dikatakan terjadi karena alasan teknis
dari karena itu tes ini jadi sangat tidak realibel sehingga teknik ini
seharusnya dilakukan dan hasilnya diinterpretasikan dengan pertimbangan
keadaan lain.13
2.

Pemeriksaan Elektrolit
Pada tahun 1921 Gettler mengemukakan bahwa penentuan ada
tidaknya klorida pada darah yang berasal dari ruang-ruang jantung adalah
salah satu tes yang baik yang dapat digunakan dalam mendiagnosis kasus
tenggelam. Banyak dari peneliti telah mengemukakan pandanganpandangan

yang

mendiagnosis

berbeda

kasus

tentang

tenggelam.

validitas

Pada

tahun

studi
1944

klorida
Moritz

dalam
dan

mengungkapkan pandangan bahwa perbedaan kadar klorida pada sampel


darah yang berasal dari ventrikel jantung kanan dan kiri dapat bernilai
diagnostik hanya jika analisa yang dilakukan adalah segera setelah
terjadinya kematian. Dia menetapkan bahwa perbedaan kadar klorida

21

sekitar 17 mEq/L atau lebih pada kasus tenggelam di air tawar dapat
ditetapkan sebagai pendukung penegakan diagnosis tenggelam.12
Menurut Gettler, pada kasus tenggelam di air tawar, kadar serum
klorida di darah yang berasal dari jantung kiri lebih rendah dari jantung
sebelah kanan. Sedangkan pada tenggelam di air asin terjadi sebaliknya.6,11
Selain itu, tes lain, tes Durlacher juga dapat digunakan untuk
menentukan diagnosis selain tes Gettler. Tes Durlacher digunakan untuk
menentukan perbedaan dari berat jenis plasma dari jantung kanan dan kiri.
Bila pada pemeriksaan ditemukan berat jenis jantung kiri lebih tinggi
dibandingkan dengan jantung kanan, maka dapat diasumsikan bahwa
korban meninggal akibat tenggelam.6,11
Perbedaan kadar elektrolit lebih dari 10% dapat menyokong diagnosis,
walaupun secara tersendiri kurang bermakna.6,13
Ketika air tawar memasuki paru-paru, natrium plasma turun dan
kalium plasma meningkat, sedangkan pada inhalasi air asin, natrium
plasma meningkat cukup tinggi dan kalium hanya meningkat ringan. Pada
tenggelam pada air tawar, konsentrasi natrium serum dalam darah dari
ventrikel kiri lebih rendah dibandingkan ventrikel kanan. Namun, angka
ini dapat bervariasi, ini disebabkan ketika post mortem dimulai maka
difusi cairan dapat mengubah tingkat natrium dan kalium yang
sebenarnya. Oleh karena itu Simpson berpendapat bahwa analisis dari
kadar Na, Cl dan Mg telah dipergunakan, tetapi hasilnya terlalu beragam
untuk digunakan didalam praktek sehari-hari.6,13
K. ASPEK MEDIKOLEGAL
Secara umum, apabila ditemukan korban di dalam air, penyebab
kematiannya mungkin dapat disebabkan oleh: 19
1. Kematian sebelum badan korban berada di dalam air
a. Dapat disebabkan oleh penyakit, misalnya pada korban dengan
penyakit

jantung

koroner

mengalami

kematian

mendadak

menyebabkan dirinya tergelincir dari jembatan atau perahu dan masuk


ke dalam air.
b. Penyebab kematian lainnya khususnya kasus kriminal dimana korban
yang sebelumnya telah dibunuh, sengaja dibuang ke air, dengan
22

harapan identitas dan kausa kematian dapat disembunyikan dengan


pembusukan yang timbul.
2. Kematian saat tubuh korban berada dalam air, yang bukan disebabkan
tenggelam
Kematian akibat penyakit, misalnya korban dengan penyakit jantung
iskemik yang mendapat serangan saat berada dalam air.
Trauma yang disebabkan karena terjatuh (seperti luka akibat bentur
batu, sisi kolam renang, dermaga, jembatan, dll) atau trauma saat di dalam
air (terbentur dasar sungai, kolam atau terhanyut gelombang pasang dan
terbentur lengkungan jembatan, batu atau obstruksi lainnya) atau akibat
trauma oleh karena perahu atau mesin perahu, dapat pula terjadi akibat
diserang oleh hewan buas seperti hiu atau buaya.
3. Kematian yang disebabkan oleh pembenaman.
4. Kematian akibat tenggelam.
Dengan adanya berbagai kemungkinan penyebab seperti yang
disebutkan di atas, maka untuk menentukan sebab pasti kematian pada
kasus tenggelam diperlukan pemeriksaan secara cermat dan menyeluruh.
Namun demikian, diagnosa post mortem merupakan masalah yang sulit
dalam bidang forensik, oleh karena temuan yang minimal, mengandung
arti ganda dan bahkan negatif. Riwayat kejadian memegang peranan
penting dalam membentuk kesimpulan otopsi yang utuh dan logis guna
kepentingan medikolegal. Diagnosa ini juga seringkali bersifat spekulatif
karena minimnya kausa kematian yang lain dan pengetahuan akan
kejadian sebenarnya. Bila tidak ditemukan apapun yang bermakna,
disarankan menuliskan sesuai dengan tenggelam pada kesimpulan visum
et repertum atau mengakui bahwa penyebab kematian tidak dapat
ditentukan.
BAB III
PEMERIKSAAN JENAZAH
A. IDENTITAS
Nama

: Mrs. X

Umur

: 40 Tahun

23

Jenis Kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

:-

Agama

:-

Kewarganegaraan
Alamat

:-

B. PEMERIKSAAN LUAR
1.

Keadaan Jenazah

: Jenazah tak bermeterai, terletak di atas


meja

autopsi

dari

dibungkus

dengan

bertuliskan

polisi.

bahan

stainless

kantong

kunis

.Bungkus

dibuka,

jenazah dalam keadaan memakai

baju

daster merah motif bunga-bunga, celana


coklat motif batik. Jenazah juga memakai
kerudung bahan kaos berwarna coklat, bra
warna hitam dan celana dalam warna
2.

Sikap Jenazah di

krem.
: Terlentang dengan muka menghadap ke

Atas Meja Otopsi

atas. Lengan kanan membentuk sudut 300


dengan tangan kanan lurus. Lengan kiri
membentuk sudut 300 dengan tangan kiri
lurus Kaki kanan membentuk sudut 450,

3.

Kaku Jenazah

kaki kiri membentuk sudut 450.


: Tidak terdapat kaku jenazah.
pembusukan

di

seluruh

Terdapat

tubuh.

Sukar

Bercak Jenazah

digerakkan.
: Tidak terdapat, hilang bersama dengan

5.

Pembusukan

pembusukan.
: Ada pada seluruh bagian tubuh

6.

Jenazah
Ukuran Jenazah

: Panjang 140 sentimeter dengan berat 55

4.

kg

24

7.

Kepala
a. Rambut

: Warna hitam tidak beruban, panjang 37


sentimeter, mudah dicabut dalam keadaan

b. Bagian yang
tertutup
rambut

lurus
: Tidak terdapat luka, terdapat hematom
ukuran

sentimeter

terletak

di

10

sentimeter dari garis tengah ke kanan dan


8 sentimeter dari puncak telinga. Tidak

c. Dahi

didapatkan retak tulang.


: Tidak didapatkan luka, terdapat hematom
ukuran 7 x 5 sentimeter dengan lokasi titik
tengah

tepat

di

garis

tengah

dan

sentimeter di atas alis. Tidak didapatkan


d. Mata kanan

retak tulang.
: Dalam keadaan menutup. Rambut mata 0,5
sentimeter mudah dicabut. Kelopak mata
bagian luar terjadi pembusukan, bagian
dalam juga terjadi pembusukan. Sekitar
mata

sulit

dievaluasi.

Pada

perabaan

teraba lunak. Kornea, sclera, dan pupil sulit


e. Mata kiri

dievaluasi.
: Dalam keadaan menutup. Rambut mata 0,5
sentimeter mudah dicabut. Kelopak mata
bagian luar terjadi pembusukan, bagian
dalam juga terjadi pembusukan. Sekitar
mata

sulit

dievaluasi.

Pada

perabaan

teraba lunak. Kornea, sclera, dan pupil sulit


f. Hidung

dievaluasi.
: Dari kedua lubang hidung, tidak keluar
cairan.

g. Mulut

Tidak

terdapat

luka,

hematom,

maupun retak tulang.


: Dalam keadaan terbuka, lidah menjulur 2
sentimeter, dengan gigi tidak terlihat. Dari
25

lubang mulut tidak terdapat cairan yang


keluar. Bibir atas tidak terdapat luka, tidak
ada hematom. Bibir bawah tidak terdapat
luka, tidak ada hematom. Lidah menjulur
keluar, tidak terdapat luka. Dalam mulut
h. Dagu
i. Pipi kanan

sulit dievaluasi. Terdapat gigi palsu.


: Tidak ada hematom, tidak ada retak tulang.
: Tidak terdapat luka, hematom, maupun

j. Pipi kiri

retak tulang.
: Tidak terdapat luka, hematom, dan retak

k. Telinga

tulang.
: Daun telihat utuh, bawah telinga kanan
terdapat

luka

memar

ukuran

sentimeter, bentuk segiempat, tepat di


l. Leher

bawah cuping telinga kanan.


: Tidak terdapat adanya jeratan.

Tidak

terdapat luka, hematom, maupun retak


8.

Dada

tulang.
: Tidak terdapat adanya luka, hematom,
maupun retak tulang. Pada pengetukan

9.

Perut

terdengar suara sonor.


: Permukaan perut lebih tinggi 2 sentimeter
daripada

permukaan

dada.

Pada

perut

sebelah kanan/kiri bawah tidak ada luka


dan hematom. Pusat datar. Tidak ada luka
dan

hematom.

Pada

perabaan

teraba

keras. Pada pengetukan terdengar suara


10.

Alat Kelamin

timpani.
: Jenis kelamin perempuan, rambut kelamin
warna hitam, lurus, panjang 3 sentimeter,
mudah

dicabut.

Pada

saluran

liang

senggama (vagina) terdapat penonjolan


vagina. Pada pemeriksaan luar tampak

26

penonjolan vagina.
11.

Anggota Gerak

: Kanan:

Atas

Tidak terdapat adanya luka, hematom,


maupun retak tulang.
Kiri:
Tidak terdapat adanya luka, hematom,

12.

Anggota Gerak

maupun retak tulang.


: Kanan:

Bawah

Tidak terdapat adanya luka, hematom,


maupun retak tulang.
Kiri:
Tidak terdapat adanya luka, hematom,

13.

Punggung

maupun retak tulang.


: Sudah terjadi pembusukan.

14.
15.

Pantat
Dubur

: Sudah terjadi pembusukan.


: Sudah
terjadi
pembusukan.

Terdapat

penonjolan anus.
C. PEMERIKSAAN DALAM
1. Setelah
dibuka

kulit

dada- Tak

terdapat

hematom

retak

tulang

pada

maupun

tulang-tulang

tervisualisasi
- Tinggi diafragma kanan pada setinggi
ruang intercostal VI dan kiri setinggi
ruang intercostal VI
- Setelah tulang dada diangkat bagian
janting tak tertutup paru-paru bagian
atas 8cm bawah 18cm
- Dibawah tulang dada

bgian

dalam

terdapat cairan pembusukan


- Paru-paru kanan/kiri tak ada perlekatan
dengan dinding bagian dalam, mudah
dilepas.
27

- Dalam rongga

dada

kanan terdapat

cairan sebanyak 60 mililiter


- Dalam rongga dada kiri terdapat cairan
Pembusukan sebanyak 55 mililiter
- Jantung, paru, beserta jalan nafas
diangkat
2. Jantung

- Kantong

jantung

dibuka

di

dalam

terdapat cairan warna kehitaman.


- Ukuran jantung 16x12x3 cm berat 125
gram.
- Warna merah kecokelatan konsistensi
kenyal tertutup jaringan lemak
- Pada pembukaan jantung :

lubang

antara bilik kiri dan serambi kiri dan


lubang antara bilik kanan dan serambi
kanan selebar 18 cm.
- Keadaan klep jantung

warna

merah

kecokelatan, tidak terdapat luka, pada


-

perabaan kenyal.
Otot papilaris tak ada kelainan
Dalam ruang jantung tak ada kelainan
Tebal otot jantung tak ada kelainan
Tebal otot bilik kiri 2 cm, serambi kiri 2
cm, bilik kanan 2 cm, serambi kanan 2

cm.
- Arteri coronaria dibuka tidak terdapat
sumbatan, pada perabaan kenyal.
- Aorta lingkaran 6 cm, klepnya warna
merah, perabaan kenyal.
- Arteri pulmonalis tak tampak kelainan
3. Paru-paru kanan

- Terdiri dari satu bagian, tiap bagian tidak


ada
warna

perlekatan,
merah

mudah

dilepaskan

kehitamantepi

tajam

28

permukaan licin berbenjol-benjol ukuran


26x17x2 cm berat 400 gram. Pada
pengirisan
Paru paru kiri

warna

merah

kehitaman

tidak keluar cairan


- Terdiri dari dua bagian Tiap bagian tidak
ada

perlekatan

mudah

dilepaskan,

warna merah kehitaman, konsistensi


kenyal.

Tepi

tajam,

permukaan

berbenjol-benjol.
- Ukuran 22x16x2,5 cm. Berat 200 gram.
- Pada
pengirisan
warna
merah
kehitaman, pada pemijatan tidak keluar
cairan.
4. Pada

pengambilan : tidak didapatkan cairan,

alat-alat
ruang perut
5. Hati
6. Limpa

dalam
: Teraba kenyal, permukaan licin, tepi
tajam.
- Ukuran 12 cm x 9 cm x 3 cm dengan
berat 25 gram.
- Warna kehitaman, konsistensi kenyal,
permukaan licin berbenjol-benjol tepi
tumpul.
- Pada pengirisian warna jaringan merah
kehitaman,

7. Lambung
Usus halus
Usus besar

cairan

pada

kehitaman

pemijatan
dan

tidak

keluar
ada

perlekatan jaringan.
- Tampak tidak menggelembung, warna
merah kecokelatan dan terdapat sedikit
sisa makanan
- Pada usus buntu warna merah, panjang
5 cm.

29

tampak

menggelembung,

kosong,

warna merah kehitaman.


: Warna merah kehijauan
: Warna merah kehijauan
8. Pemeriksaan
kencing
a. Ginjal kanan

alat
-

Tak tertutup jaringan lemak


Selaput mudah dilepaskan
Ukuran 11 x 8 x 2,5 cm, berat 200 gram.
warna merah kehitaman, konsistensi

kenyal lunak, pada perabaan kenyal.


- Pada pengirisan, gambaran ginjal jelas
b. Ginjal kiri

tak terdapat adanya batu maupun pasir


Tak tertutup jaringan lemak
Selaput mudah dilepaskan
Ukuran 12 x 6 x 1,5 cm, berat 200 gram.
Warna merah kehitaman, konsistensi

kenyal, pada perabaan lunak.


- Pada pengirisan, gambaran

jaringan

ginjal jelas tak terdapat batu atau pasir.


9. Leher
- Pada pembukaan leher terlihat memar
kiri, merah kebiruan.
- Tidak terdapat hematom
- Otot-otot tidak terdapat kelainan.
- Jalan nafas tampak warna merah
kehitaman
- Tidak terdapat luka, hematom, maupun
10.

Lidah

retak/patah tulang.
: Ukuran 8 x 6 cm.

Warna

hijau

kecokelatan. Konsistensi kenyal. Tidak


11.

Kepala

terdapat luka.
- Kulit kepala dibuka,

tidak

terdapat

hematom.
- Tulang atap kepala dibuka, tidak ada
retak tulang, perdarahan di atas selaput

30

otak tidak terlihat.


- Selaput otak dibuka, terlihat perdarahan
di bawah selaput otak.
- Otak diangkat, ukuran sulit dievaluasi
karena sudah mengalami pembusukan,
gambaran pembuluh darah, gyri, sulci
tidak dapat dinilai karena sudah terjadi
pembusukan
- Dasar tulang tengkorak tidak ditemukan
retak
D. KESIMPULAN
Korban adalah seorang wanita dengan identitas yang tidak jelas dan
tidak dikenal. Saat kematian korban diperkirakan dua sampai tiga hari
sebelum saat pemeriksaan. Penyebab kematian tidak diketahui secara pasti
karena sudah terjadi pembusukan.

31

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada kasus ini ditemukan seorang korban berjenis kelamin perempuan usia
diperkirakan 40 tahun dengan status gizi cukup yang telah meninggal dan
terapung di sungai Bengawan Solo, sedangkan saat kematian diperkirakanlebih
dari 3 hari. Kemudian korban dibawa ke RSUD Dr Moewardi untuk diperiksa.
Identifikasi awal dilakukan dengan mengumpulkan data-data ante-mortem
maupun post-mortemnya. Identitas jenazah tidak ditemukan pada pakaian jenazah.
Data yang diperoleh hanya berupa jenis pakaian serta warna pakaian yang
dikenakan jenazah.
Pada pemeriksaan luar ditemukan jenazah bengkak dengan sikap tubuh
jenazah kaku dengan lengan atas dan bawah membentuk sudut 150 derajat pada
kedua tangan, kedua kaki lurus.
Terdapat pembusukan merata di seluruh tubuh, dapat diperkirakan bahwa
jenazah sudah meninggal lebih dari 3 hari. Perkiraan ini diperoleh dari temuan
fisik pada jenazah. Proses pembusukan (decay) memiliki beberapa tahap dimulai
sejak 15-20 menit setelah kematian. Pada jenazah ini lebam mayat tak tampak
karena tertutup pembusukan pada kulit, tampak bula berisi cairan hijau kehitaman
di pangkal paha kedua kaki, epidermis yang mudah mengelupas serta rambut yang
mudah dicabut. Pembusukan kulit pada pasien mencapai tahap bloating (>18 jam
post mortem). Pembengkakan dan kaku pada tubuh jenazah, terutama pada wajah
dan lidah disebabkan karena aktivitas bakteri anaerob yang memecah protein dan
zat-zat lain dalam jaringan otot sehingga terbentuk cairan dan gas pembusukan
yang terperangkap dalam jaringan otot.
Bila jenazah sudah beberapa hari berada dalam air maka terjadi bleaching
dan terjadi pembusukan dimana kulit ari banyak yang terkelupas. Pembusukan
terjadi dalam 2 hari setelah tenggelam dalam iklim yang panas. Pada iklim yang
dingin dapat tahan sampai 1 minggu. Pada kasus ini, korban ditemukan terapung
di sungai dan diperkirakan telah meninggal selama 4 hari, hal ini sesuai dengan
yang ditemukan pada korban yakni telah terjadi bleaching dan pembusukan.

32

Keadaan tersebut terjadi karena enzim proteolitik dan mikroorganisme dan


umumnya proses pembusukan dimulai 18 sampai 24 jam setelah seseorang
meninggal. Korban terapung di sungai karena telah terjadi proses pembusukan
yang merata di seluruh tubuh akibat timbunan gas (disebut sebagai Floater) yang
dibuktikan dengan pemeriksaan perkusi terutama pada abdomen dan thorax
mayat serta pemeriksaan dalam yang dilakukan kemudian.
Pada pemeriksaan kepala didapatkan rambut mudah dicabut, hematom
pada dahi dan di atas telinga kanan. Mudah tercabutnya rambut disebabkan oleh
rusaknya folikel rambut karena proses dekomposisi, sedangkan hematom
disebabkan karena trauma tumpul. Tak tampak kejanggalan pada telinga, mata,
hidung, mulut, serta bagian lain dari kepala (sesuai dengan tahapan postmortem
yang terjadi pada jenazah).
Di atas dinding dada tampak telur lalat. Perabaan dinding dada keras,
pengetukan terdengar suara sonor. Serangga (lalat) meletakkan telurnya pada
bagian tubuh jenazah <24 jam post mortem.
Dinding perut tampak lebih tinggi dibanding dinding dada, pada perabaan
teraba kencang, pada pengetukan terdengar suara timpani yang menandakan
terdapat banyak udara di dalam rongga perut, kemungkinan gas pembusukan yang
terperangkap didalam saluran cerna hal ini diperkuat dengan adanya prolaps pada
anus pada jenazah yang disebabkan pendesakan oleh cairan dan gas yang
terbentuk dari proses pembusukan (decay).
Pemeriksaan luar tidak dapat menentukan penyebab kematian (tidak
definitif) sehingga untuk menentukan penyebab kematian jenazah dilakukan
pemeriksaan dalam. Organ-organ dalam diperiksa secara menyeluruh dengan
lebih berfokus terhadap saluran nafas. Secara umum jenazah yang ditemukan di
air kematiannya dapat disebabkan oleh 4 hal:
1. Kematian sebelum badan korban berada di dalam air.
2. Kematian saat tubuh korban berada dalam air, yang bukan disebabkan
tenggelam
3. Kematian yang disebabkan oleh pembenaman.
4. Kematian akibat tenggelam.

33

Melalui pemeriksaan dalam penyebab kematian dapat dicari meski tidak


selalu bersifat definitif. Pada jenazah ini rongga thorax terisi cairan pembusukan
berwarna hijau kehitaman. Jantung tak tampak adanya kelainan. Pada kedua paru
tidak didapatkan benda air maupun pembesaran. Traktus respiratorius meliputi
bronkus, dan trakhea juga tidak didapatkan benda air dan kelainan lain. Dari data
tersebut dapat diperkirakan tidak terjadi aspirasi air sungai oleh korban. Aspirasi
terjadi ketika korban masuk ke air dalam keadaan hidup. Saat tenggelam tubuh
tidak mendapat asupan oksigen, sehingga terjadi asidosis respiratorik, keadaan ini
meenyebabkan terjadinya usaha untuk bernapas, hal ini yang menyebabkan
aspirasi dan ditemukannya benda air dalam saluran nafas pada jenazah yang mati
karena tenggelam. Pada jenazah tidak ditemukan tanda-tanda khas tenggelam
sehingga diperkirakan jenazah meninggal sebelum masuk ke air. Namun demikian
perkiraan ini disamarkan oleh proses pembusukan yang terjadi pada jenazah
sehingga belum dapat ditarik kesimpulan.
Pemeriksaan abdomen yang dilakukan pada jenazah tidak didapatkan data
yang bermakna mengenai penyebab kematian korban. Pada saluran cerna tampak
gas yang terbentuk dari proses pembusukan. Pembusukan pada jenazah memasuki
tahap

putrefaction

yang

ditandai

dengan

bau,

perubahan

warna,dan

pembengkakakan tubuh. Tanda ini juga dapat dinilai pada saluran cerna dan
rongga abdomen. Penghancuran jenazah oleh proses autolisis dan metabolisme
bakteri anaerob menghasilkan gas-gas yang terdiri dari Hidrogen sulfat,
karbondioksida, metana, cadaverine, amonia, sulfur dioksida, dan putricine.
Akumulasi gas-gas ini pada saluran cerna dan rongga perut menyebabkan dinding
perut tampak membesar dan terciumnya bau busuk yang menyengat. Pada perut
bawah tampak perubahan warna menjadi hijau kehitaman akibat aktivitas bakteri
pada caecum. Dari pemeriksaan abdomen ditemukan bahwa keadaan jenazah
sudah mengalami pembusukan tahap putrefaksi yang menandakan bahwa korban
sudah meninggal antara 4-10 hari. Perkiraan waktu kematian korban dapat
menjadi bias karena jenazah yang dtemukan di air mengalami pembusukan yang
lebih lambat dibanding di medium udara, hal ini disebabkan oleh akses serangga
dan organisme pengurai yang berkurang terhadap jenazah, suhu yang relatif lebih

34

rendah dibandingkan dengan suhu udara sehingga mempengaruhi metabolisme


mikroorganisme pembusukan (decay). Suhu optimal pembusukan adalah 21-37
derajat celcius, pada air suhu dapat berada pada suhu optimal pembusukan namun
berdasarkan Caspers Law pembusukan di air relatif lebih lambat kurang lebih 2
kali dibanding pembusukan di udara dalam suhu yang sama.
Pada pemeriksaan kepala (dalam) setelah scalp dibuka tampak calvaria
cranii tidak terdapat kelainan, setelah calvaria dibuka tampak meningen dan tidak
didapatkan kelainan. Tampak hematom pada otak di lobus frontalis dan lobus
temporal. Kelainan lain tidak dapat dinilai karena otak tidak dapat di angkat
(sudah menjadi bubur). Hematom disebabkan karena trauma tumpul pada kepala
korban. Penyebab trauma tumpul tidak dapat disimpulkan karena minimnya data
yang diperoleh dari korban.
Pemeriksaan penunjang (laboratorium) ideal yang dilakukan pada mayat
tenggelam adalah dengan pemeriksaan diatom pada paru, ginjal, otot skelet atau
sumsum tulang, serta dengan pemeriksaan elekrolit dan berat jenis jantung kanan
dibandingkan jantung kiri. Pada kasus ini pemeriksaan elektrolit dan berat jenis
tidak dapat dilakukan karena pemeriksaan tersebut hanya berlaku pada kasus akut
dan belum terjadi pembusukan sehingga yang dapat dilakukan adalah
pengambilan sampel untuk pemeriksaan diatom. Sampel pemeriksaan diatom
pada mayat ini diambil dari traktus respiratorius dan jaringan paru.

35

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN
Tenggelam (drowning) adalah kematian yang disebabkan oleh aspirasi
cairan ke dalam pernapasan akibat terbenamnya seluruh atau sebagian tubuh
ke dalam cairan, sedangkan hampir tenggelam (near drowning) adalah
keadaan gangguan fisiologi tubuh akibat tenggelam, tetapi tidak terjadi
kematian.
Mekanisme kematian pada korban tenggelam dapat berupa asfiksia
akibat spasme laring, asfiksia karena gagging dan choking, refleks vagal,
fibrilasi ventrikel (air tawar), dan edema pulmoner (dalam air asin)
Pada peristiwa tenggelam di air tawar, terjadi hemolisis dan
hemodilusi sehingga menyebabkan hiperkalemia. Kematian terjadi karena
fibrilasi ventrikel. Pada peristiwa tenggelam di air asin, karena konsentrasi
elektrolit air asin lebih tinggi daripada plasma, air akan ditarik dari sirkulasi
pulmonal ke dalam jaringan interstitial paru yang akan menimbulkan edema
paru, hemokonsentrasi, dan hipovolemia.
Berdasarkan morfologi penampakan paru pada otopsi, tenggelam
dibedakan atas tenggelam kering (dry drowning), tenggelam tipe basah (wet
drowning). Jika ditinjau berdasarkan jenis air tempat terjadinya tenggelam,
maka dapat dibedakan menjadi tenggelam di air tawar dan tenggelam di air
asin.
Diagnosis kematian akibat tenggelam dapat ditegakkan melalui
pemeriksaan luar, pemeriksaan dalam, pemeriksaan laboratorium berupa
histologi jaringan, destruksi jaringan, dan berat jenis serta kadar elektrolit
darah.
Pada pemeriksaan luar, dapat ditemukan Schaumfilz froth, kuntis
anserina, washer womans hand, cadaveric spasm, tanda-tanda asfiksia seperti
sianosis dan petekie. Kemudian dapat juga dijumpai luka lecet dan penurunan
suhu mayat.
Pada pemeriksaan dalam, paru tetap kering pada kasus tenggelam di
air tawar. Pada kasus tenggelam di air laut, paru-paru dapat ditemukan

36

membesar. Petekie juga dapat dijumpai. Organ lain dapat mengalami


pembendungan.
B. SARAN
Untuk mengetahui penyebab pasti dari kematian korban, sebaiknya
dilakukan pemeriksaan post mortem secara menyeluruh, yang meliputi:
pemeriksaan luar, pemeriksaan dalam, dan pemeriksaan laboratorium.
Penentuan diagnosis post mortem merupaka hal yang sulit dalam bidang
forensik, sehingga dokter sebaiknya lebih berhati hati dalam penegakan
diagnosis penyebab kematian terutama pada kasus kasus dengan keterangan
yang kurang mendukung.

37

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi kedua. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta: 2000
2. Idries AM. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Binarupa
Aksara. 137-147.
3. Chang L. 2005. Drowning Death. http://medicinenet.com
4. Sheperd MS. 2008. Drowning. http://www.emedicine.com
5. Pounder DJ. 2003. Recommended guidelines for uniform reporting of data
from drowning: the Utsteinstyle, University of Dundee, Lecture Notes.
6. Ilmu Kedokteran Forensik, Bagian Kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1997
7. Shepherd R. 2003. Simpsons Forensic Medicine, 12 th ed. New York:
Oxford University Press, 104-106.
8. Dahlan S. 2000. Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman Bagi Dokter dan
Penegak Hukum. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
9. Cantwell PG, Verive MJ, Shoff WH, Norris RL, Talavera F, Lang ES, et al.
2013.

Drowning.

Available

from:

http://emedicine.medscape.com/article/772753-overview. [20 Maret 2016]


10. Levin DL, Morriss FC, Toro LO, Brink LW and Turner GR. Drowning and
near-drowning. Pediatr Clin of North Am 1993; 40(2): 321.
11. Abraham S, Arif Rahman S, Bambang PN, Gatot S, Intarniati, Pranarka K,
et al. 2009. Tanya Jawab Ilmu Kedokteran Forensik. Semarang: Badan
Penerbit Universitas Diponegoro, 16-24.
12. Sauko P, Bernard K. 2004. Knights Forensic Pathology, 3rd Ed. London:
Oxford University Press, 393-398.
13. Shepherd R. 2003. Simpsons Forensic Medicine, 12 th ed. New York:
Oxford University Press, 104-106.
14. DiMaio VJ. Death by Drowning. Forensic Pathology Second Edition. CRC
Press LLC. 2001. p 395-402.
15. Jay Dix. Asphyxxia (Suffocation) and Drowning. Color Atlas of Forensic
Pathology. CRC Press LLC. 2001. P 99-115.
16. Michael Tsokos. Macroscopical, Microscopical, and Laboratory Findings
in Drowning Victims. Forensic Pathology Reviews. Humana Press. 2005. P
3-61
38

17. Derrick Pounder. Injury And Death in Water. Lecture Notes in Forensic
Medicine. University of Dundee. 2004. P 32-4.
18. Bell MD. Drowning. Forensic Pathology Principles and Practice. Elsevier.
New York. p 227-37.
19. Simpson CK. Immersion and Drowning. Simpsons Forensic Medicine 11st
edition. Oxford University Press. London. p. 96-9.

LAMPIRAN

Foto Autopsi dan Barang Bukti

39

40

41

42

43