Anda di halaman 1dari 48

TK2102 METODE PENGUKURAN DAN ANALISIS

LAPORAN LENGKAP
MODUL 4.2 PENGUKURAN TEMPERATUR :
TERMOKOPEL (APLIKASI : KALORIMETER JOULE) &
PENENTUAN PANAS PELARUTAN
KELOMPOK A2.1516.05
Nudiya Salsabila

/13014009

M. Wilmar Rifky P. /13014087


Tanggal Praktikum

: 14 April 2016

Tanggal Pengumpulan

: 19 April 2016

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNLOGI BANDUNG
2016

ABSTRAK

Temperatur adalah salah satu parameter yang paling penting dalam


industri. Temokopel merupakan alat ukur temperatur yang memanfaatkan beda
tegangan pada sambungan dua kawat konduktor yang berbeda jenis akibat adanya
perpindahan gaya listrik karena perubahan temperatur. Selain mengukur
temperatur, termokopel juga dapat digunakan untuk menentukan kapasitas panas
kalorimeter joule melalui prinsip nilai kalor yang dilepas sama dengan nilai kalor
yang di serap, konstanta waktu dari termokopel itu sendiri yang nilai nya
merupakan waktu saat tegangan mencapai 63.2% tegangan keluar, serta
menentukan panas proses pelarutan suatu padatan melalui prinsip neraca energi
dan asumsi pelarutan terjadi secara adiabatik.
Sebelum digunakan, termokopel perlu di kalibrasi terlebih dahulu dengan
membuat kurva hubungan antara tegangan yang terukur pada termokopel dengan
temperature yang terukur pada termometer. Kemudian dalam menentukan
konstanta waktu diperlukan dua kondisi untuk melihat respon waktu yaitu pada
penurunan suhu dan pada penaikan suhu. Sedangkan dalam menentukan kapasitas
panas kalorimeter dilakukan variasi input tegangan pada air dan dilihat waktu air
tersebut mencapai temperatur tertentu. Pada penentuan panas pelarutan,
temperatur awal yaitu temperatur air diukur kemudian padatan dilarutkan dalam
air (proses pelarutan dalam calorimeter) sembari di aduk dilihat tegangan tiap
waktu kemudian setelah padatan larut sempurna diukur temperatur akhir larutan
sehingga bisa didapatkan panas atau entalpi pelarutan.
Konstanta waktu yang didapat untuk termokopel sebesar 15.6 sekon. Jadi
dapat disimpulkan 63.2% tegangan keluaran dapat dicapai dalam waktu yang
cukup singkat. Selain itu, kapasitas panas kalorimeter joule yang didapat pada
praktikum ini bernilai 389.66 J/K. Entalpi pelarutan MgSO4 bernilai -8.58 J/gram
yang berarti merupakan reaksi eksoterm karena nilai entalpi nya negatif dan
terdapat kenaikan suhu sedangkan entalpi pelaruan urea adalah 56.7 J/gram yang
berarti reaksi endoterm.

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL
ABSTRAK ............................................................................................................ i
DAFTAR ISI......................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ iii
DAFTAR TABEL................................................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah ............................................................................ 3
1.3 Tujuan Percobaan................................................................................ 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................... 4
2.1 Termokopel dan Efek Seebeck ........................................................... 4
2.2 Kalorimeter Joule................................................................................ 10
2.3 Kalor Pelarutan ................................................................................... 12
BAB III METODOLOGI PERCOBAAN............................................................. 14
3.1 Alat dan Bahan dalam Percobaan ....................................................... 14
3.1.1 Alat............................................................................................. 14
3.1.2 Bahan ......................................................................................... 14
3.2 Rangkaian Alat dalam Percobaan ....................................................... 15
3.3 Diagram Alir Percobaan...................................................................... 16
3.3.1 Kalibrasi Termometer ................................................................ 16
3.3.2 Pengukuran Konstanta Waktu Termokopel ............................... 17
3.3.3 Pengukuran Kapasitas Panas Kalorimeter ................................. 18
3.3.4 Penentuan Panas Pelarutan MgSO4............................................ 19
3.3.5 Penentuan Panas Pelarutan Urea................................................ 20
3.4 Prosedur Percobaan............................................................................. 21
3.4.1 Kalibrasi Termometer ................................................................ 21
3.4.2 Pengukuran Konstanta Waktu Termokopel ............................... 21
3.4.3 Pengukuran Kapasitas Panas Kalorimeter ................................. 21
3.4.4 Penentuan Panas Pelarutan MgSO4............................................ 22
3.4.5 Penentuan Panas Pelarutan Urea................................................ 22
BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN ..................................... 23
4.1 Hasil Percobaan................................................................................... 23
4.2 Pembahasan......................................................................................... 25
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN................................................................ 29
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 30
LAMPIRAN A DATA DARI LITERATUR........................................................ 31
LAMPIRAN B CONTOH PERHITUNGAN ....................................................... 33
LAMPIRAN C HASIL ANTARA........................................................................ 37
LAMPIRAN D DATA MENTAH PERCOBAAN .............................................. 40

ii

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar

2.1
2.2
2.3
3.1

Grafik T-t yang Memperlihatkan Time Constant .................................. 7

Skema Termokopel ......................................................................... 8


Skema Kalorimeter Joule ................................................................ 12
Rangkaian Termokopel ................................................................... 15

iii

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Beberapa Tipe Termokopel................................................................... 9
Tabel 4.1 Data Suhu Bacaan Termometer dan Tegangan Bacaan Termokopel ... 23
Tabel 4.2 Data Hasil Percobaan Penentuan Konstanta Waktu ............................. 24
Tabel 4.3 Data Pengukuran Waktu dan Suhu Kalorimeter di Berbagai Nilai
Tegangan dan Arus ................................................................................. 24
Tabel 4.4 Hasil Penentuan Panas Pelarutan MgSO4 dan Urea ............................. 25

iv

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam proses menjadi seorang insinyur kimia, banyak sekali hal yang
harus dipelajari. Pengukuran merupakan salah satu contoh yang fundamental
jika meninjau ilmu seorang insinyur kimia. Temperatur, dan besaran lain yang
terpengaruh olehnya, dalam hal ini mendapatkan perhatian penting karena
perannya dalam pabrik/industri kimia.
Selama ini, telah dikenal alat pengukuran temperatur umum yaitu
thermometer. Namun, penggunaan thermometer umum dengan fluida
sangatlah terbatas. Baik dari segi harga, utilitas, maupun range pengukuran,
thermometer fluida masih lah sangat lemah. Di sisi lain, pengukuran
temperatur di industri kimia menuntut alat yang tanpa celah. Memiliki daya
tahan, range pengukuran, dan ketelitian yang tinggi.
Termokopel merupakan alat yang tepat untuk spesifikasi tersebut.
Memiliki daya tahan yang tinggi (terbuat dari logam kuat, bahkan mulia),
stabilitas yang diberikan pun sangat baik. Dibuat dengan cara menyatukan dua
jenis logam berbeda, pada satu titik temu. Termokopel memanfaatkan
perbedaan konduktivitas termal antara satu logam dengan logam lain yang
dipertemukan di satu titik temu, junction. Junction ini yang keudian digunakan
sebagai titik uji dengan cara menempelkannya pada permukaan yang
temperaturnya akan diuji. Ketika diletakkan pada permukaan uji, akan terjadi
proses transfer panas yang menimbulkan perbedaan suhu pada titik baca
tegangan. Perbedaan suhu ini mengakibatkan mengalirnya kalor bersama
electron. Aliran electron disebut arus dan oleh karenanya timbul beda
tegangan.
Penggunaan Termokopel harus diikuti oleh kalibrasi termal yang teliti
untuk range tertentu. Fenomenanya dapat dijelaskan oleh Efek Seebeck yang

akan dijelaskan kemudian. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan
proses tebak temperature yang baik agar proses kalibrasi bisa dipersempit dan
efisien waktu. Salah satu metodenya adalah melihat titik leleh barang di
sekitarnya dan melalui perubahan warna.
Penggunaan Termokopel sendiri sangat luas jika menilik bidang industri
kimia. Selain digunakan sebagai instrumentasi alat dan penjamin safety dari
beberapa kejadian yang tidak diinginkan (meledak karena perubahan tekanan
tiba-tiba, melelehnya reaktor, rusaknya katalis dll), Termokopel sendiri
berguna untuk beberapa proses mencari data seperti perubahan entalpi
pelarutan zat melalui percobaan sistem kalorimeter.
Perubahan entalpi pelarutan dibutuhkan agar dalam proses pelarutan
beberapa zat diketahui kondisi seperti apa yang menyebabkan suatu zat dapat
melrut sempurna pada pelarut tertentu (misal air). Data tersebut sangat penting
karena proses kimia di industri berkaitan langsung dengan konversi dan
efisiensi energi.
Dalam prosesnya, kalorimeter dengan kapasitas kalor yang masih belum
diketahui, diisi oleh zat yang telah diketahui besar ukuran suhunya. Kemudian,
dilakukan proses pemanasan oleh kumparan yang diberi arus dan tegangan
tertentu sehingga besaran kerjanya dapat dihitung. Kapasitas panas
kalorimeter selanjutnya dapat dihitung dengan mempertimbangkan panas yang
terambil oleh air dan lingkungan (Qlingkungan = 0).
Kalorimeter yang kapasitas panasnya telah diketahui siap untuk digunakan
sebagai alat untuk mengecek perubahan entalpi suatu zat.

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas maka muncul permasalahan yaitu
bagaimana cara mengukur temperatur dan perubahan entalpi pelarutan
menggunakan termokopel yang diaplikasikan pada kalorimeter joule.

1.3 Tujuan Percobaan


1. Menentukan persamaan linear kalibrasi termokopel
2. Menentukan konstanta waktu termokopel
3. Menentukan kapasitas panas kalorimeter
4. Menentukan panas pelarutan dari MgSO4 dan Urea

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Termokopel dan Efek Seebeck


Termokopel merupakan sebuah alat yang terdiri dari dua jenis logam yang
berbeda disatukan pada titik pertemuan yang disebut junction. Termokopel sendiri
digunakan sebagai alat untuk mengukur besarnya temperatur. Alat ini
mengadaptasi temuan dari Seebeck (1821). Penemuannya menunjukkan bahwa
jika arus listrik yang kecil akan mengalir pada rangkaian tertutup yang disusun
oleh dua logam yang jenisnya berbeda ketika titik pertemuan mereka diletakkan
pada suhu yang berbeda. Gaya gerak listrik yang timbul ini disebut dengan gaya
gerak listrik Seebeck. Singkatnya, efek ini merupakan fenomena munculnya GGL
atau beda tegangan yang terjadi antara dua material yang memiliki konduktivitas
listrik lumayan baik. Koefisien Seebeck untuk material homogen m adalah:

Dengan:

( ) = lim

E = Gaya gerak listrik Seebeck


T = Perbedaan temperature

Efek Seebeck merupakan satu-satunya fenomena yang dapat menjelakan


proses berubahnya energi panas menjadi arus listrik dan sebaliknya. Untuk
fenomena arus listrik menjadi energi perpindahan kalor dapat dilihat pada
percobaan Jean Charles Peltier. Jean Charles Peltier yang terinspirasi penemuan
Seebeck mencoba melihat kebalikan fenomena tersebut dengan mengalirkan arus
melewati rangkaian tertutup dari dua logam yang berbeda. Alhasil, beliau

menemukan bahwa di antara kedua sisi yang berbeda dari rangkaian (ujung beda
logam, bukan junction) akan ditemui fenomena perpindahan panas. Salah satu
ujung logam tersebut melepas panas sementara ujung lainnya menyerap panas.
Karena sifatnya yang menyebabkan arus listrik, maka Efek Seebeck ini sering
disalahartikan. Banyak orang mengira fenomena ini muncul sebagai respon titik
junction yang diberikan variasi material yang berbeda. Pada kenyataannya,
perbedaan temperatur akibat perbedaan konduktivitas termal (karena perbedaan
jenis logam) lah yang mengakibatkan adanya efek ini. Meskipun fenomenanya
bukan efek dari titik pertemuan, adalah benar bahwa temperatur antarmuka antara
material termoelektrik tidak sejenis secara tidak langsung mempengaruhi total ggl
Seebeck dalam sirkuit.
Jumlah energi listrik yang dihasilkan dapat digunakan untuk mengukur
temperatur. Tiap pasangan dari dari elemen termokopel memberikan bacaan ggl
yang berbeda dengan perbedaan temperatur diantara titik-titik pertemuannya.
Penggunaan termometrik dapat dibuat dengan sifat ini dengan menjaga salah satu
titik pertemuan pada temperatur tetap (isotermik) yang sudah diketahui.
Temperatur ini disebut dengan temperatur referensi, dan untuk pengukuran pada
titik bawah adalah titik beku es maka digunakan titik beku es tersebut, yaitu 0C.
Titik pertemuan yang dijaga pada temperatur tersebut disebut reference junction
dan titik pertemuan yang lain disebut dengan measuring junction. Ketika
menggunakan temperatur referensi, perbedaan temperatur dan juga gaya gerak
listrik dari termokopel menjadi fungsi temperatur dari measuring junction. Hal
yang harus diperhatikan adalah bahwa perbedaan temperatur yang sama tidak
memberikan perbedaan ggl yang sama ketika diukur pada rentang temperatur
yang berbeda. Dengan kata lain, kebanyakan hubungan antara temperatur dan ggl
biasanya tidak linear.
Termokopel memiliki kemampuan untuk dapat mengukur temperatur pada
rentang yang sangat lebar. Baik temperatur yang sangat tinggi (2600oC) maupun
sangat rendah (-270oC) dapat diukur oleh alat tersebut. Selain itu, termolopel
merupakan alat yang sangat murah dan ketahanannya tinggi. Termokopel juga
Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

dapat dikatakan cocok untuk semua lingkungan fisika dan kimia. Kekurangan
termokopel antara lain adalah sensitivitasnya yang rendah (hanya mencapai
beberapa mV) sehingga untuk membacanya diperlukan alat yang teliti agar bacaan
temperaturnya juga teliti (1oC). Selain itu, bacaan tegangan ini sangat mungkin
untuk terganggu secara elektris karena sensitivitasnya yang rendah oleh adanya
arus lain dengan tegangan jauh lebih tinggi yang mengalir di dekatnya, maka dari
itu dalam penggunaannya perlu dihindarkan dengan kabel bertegangan tinggi atau
sumber listrik yang lain. Hal kedua yang merupakan kekurangan termokopel
adalah ketergantungannya pada reference junction. Hal tersebut berimplikasi
langsung pada kepraktisan dan lebar range dari pengukuran menggunakan
termokopel. Selanjutnya adalah ketidaklinearan fungsi kalibrasi termokopel
(bacaan tegangan) dengan temperatur yang berubah atau divariasikan. Hal ini
mengakibatkan setiap akan mengukur benda dengan perkiraan suhu yang berada
diluar titik ukur, maka diperlukan untuk membuat kurva kalibrasi lagi, bukannya
hanya menyesuaikan kuva tersebut dengan perubahan range temperatur. Error
selanjutnya dapat ditimbulkan dari konstanta waktu. Tiap jenis sensor mempunyai
konstanta waktu karena sensor membutuhkan waktu untuk merespon perubahan
temperatur eksternal. Konstanta waktu didefinisikan sebagai waktu yang
dibutuhkan untuk mencapai 63.2% dari nilai hasil akhir yang konstan.
Oleh karena sifatnya yang berkaitan dengan pemanfaaatan energi panas
menjadi listrik dan sebaliknya, maka proses ini disebut dengan proses
termoelektrik. Beberapa hal yang dapat menjelaskan mengapa terjadi perbedaan
suhu pada kedua ujung berbeda dari material yang digunakan pada termokopel
adalah perbedaan konduktivitas termal dari material tersebut. Konduktivitas
termal akan mempengaruhi proses kenaikan temperatur pada waktu tertentu
sehingga akan terjadi perbedaan suhu pada dua material yang berbeda tersebut.
Fenomena termoelektrik pertama kali ditemukan tahun 1821 oleh ilmuwan
Jerman, Thomas Johann Seebeck. Ia menghubungkan tembaga dan besi dalam
sebuah rangkaian. Di antara kedua logam tersebut lalu diletakkan jarum kompas.
Ketika sisi logam tersebut dipanaskan, jarum kompas ternyata bergerak.
Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

Belakangan diketahui, hal ini terjadi karena aliran listrik yansg terjadi pada logam
menimbulkan medan magnet. Medan magnet inilah yang menggerakkan jarum
kompas. Fenomena tersebut kemudian dikenal dengan efek Seebeck. Kurva
penentuan time constant dapat dilihat pada Gambar 2.1

Gambar 2.1 Grafik T-t yang memperlihatkan time constant


(sumber :
https://users.wpi.edu/~sullivan/ME3901/Lectures/Vibration/Vibrations%20Measurements_files/Ri
seTime.jpg)

Skema dari termokopel dapat dilihat pada Gambar 2.2. Termokopel


terdiri dari dua logam yang berbeda yang mempunya dua titik temu, yaitu hot
junction dan cold junction pada terminal block, dan kabel penghubung ke voltage
measuring device.

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

Gambar 2.2 Skema Termokopel


(sumber: http://kuliah.unpatti.ac.id/pluginfile.php/107/mod_page/content/2/instr_fig16.jpg)

Terdapat beberapa jenis termokopel, berikut adalah beberapa yang terkenal, yaitu
:
1. Tipe K
Termokopel tipe K dibuat dengan logam Ni-Cr (Chromel) dan Ni-Al
(Alumel). Harganya murah dan merupakan termokopel yang paling
banyak digunakan secara umum. Rentang operasinya sekitar -180C 1350C. Sensitivitasnya sekitar 42V/C. Cocok untuk lingkungan
pengoksidasi.
2. Tipe J
Dibuat dari besi dan logam Cu-Ni. Rentang temperaturnya adalah -180C 750C. Karena resiko besi teroksidasi maka termokopel ini digunakan
pada industri plastik. Sensitivitasnya adalah 54V/C.
3. Tipe N
Dibuat dari logam Ni-Cr-Si (Nicrosil) and Ni-Si-Mg (Nisin). Rentang
temperaturnya adalah -270C - 1300C. Sensitivitasnya adalah 30V/C.
Biasanya digunakan untuk temperatur tinggi.
4. Tipe T

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

Dibuat dari Cu dan Cu-Ni. Rentang temperatur operasinya adalah -250C 400C. Harganya relative murah dan biasanya digunakan untuk temperatur
yang rendah. Sensitivitasnya adalah 46V/C. Termokopel jenis ini tahan
terhadap kelembaban.
5. Tipe E
Dibuat dari logam Ni-Cr (Chromel) dan Cu-Ni (Constantan). Rentang
temperaturnya adalah -40C - 900C. Tipe ini memiliki sensitivitas paling
tinggi yaitu 68V/C. Dapat digunakan pada kondisi vakum dan pada
aplikasi sensor tanpa pelindung.
6. Tipe R
Dibuat dari Pt-Rh dan Pt. Sensitivitasnya rendah, yaitu 8V/C. Rentang
temperaturnya adalah -50C - 1700C. Biasa digunakan untuk mengukur
temperatur yang sangat tinggi. Sangat mudah terkontaminasi sehingga
membutuhkan perlindungan.
7. Tipe B
Dibuat dari Pt-Rh dengan komposisi yang berbeda. Senstivitasnya sangat
rendah, yaitu 1.8 V/C. Rentang temperaturnya adalah -100C - 1750C.
Digunakan untuk mengukur suhu tinggi
Tabel 2.1 Beberapa tipe Termokopel
(sumber: Test and Measurement: Know It All.Oxford : Elseviers Science & Technology)

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

10

2.2 Kalorimeter Joule


Kalorimeter Joule merupakan alat yang cukup praktis digunakan untuk
mengecek panas tergunakan atau kalor spesifik tertentu dari beberapa zat.
Cara kerjanya hanya memanfaatkan pemanas listrik yang berupa hambatan
teraliri arus sehingga muncul panas sebagai akibat tertahannya arus pada
hambatan. Kalorimeter Joule terdiri dari sebuah wadah terisolasi, penutup,
pengaduk built-in, dan sebuah kumparan resistor tembaga untuk pemanas
(lihat Gambar 2.3).
Oleh karena kaloimeter merupakan alat yang bekerja tanpa hasil output
yang langsung, maka diperlukan beberapa alat untuk memaksimalkan
fungsinya. Multimeter (sebuah test-meter elektronik untuk mengetahui besara
arus mengalir, beda tegang antara dua titik dan bahkan resistansi suatu bahan)
diperlukan untuk menentukan besaran daya keluar yang diberikan oleh sebuah
sumber listrik. Thermometer diperlukan untuk dapat mengontrol jalannya
percobaan dari sisi thermal. Kalorimeter dapat digunakan dengan metode
hitung kalor atau metode hitung perubahan suhu, yang mana keduanya
membutuhkan thermometer sebagai alat kontrol mulai dan selesainya suatu
percobaan.
Dalam penggunaannya, kalorimeter diharuskan untuk dikalibrasi terlebih
dahulu. Kalibarasi disini maksudnya adalah mengukur besarnya kapasitas
panas dari kalorimeter tersebut sebagai besaran tetap yang tidak secara
langsung mempengaruhi hasil percobaan. Jika sebuah kalorimeter dialiri arus
sebesar I ampere dan diberikan GGL sebesar V volt selama waktu selang t,
maka energi (kerja) yang diberikan oleh hamatan pemanas terhadap fluiad di
dalam kalorimeter dan kalorimeter itu sendiri dapat dirumuskan dengan:
=

Dalam hal ini, digunakan fluida kerja berupa air, maka dengan massa air
dan koefisien perubahan panas air diketahui melalui literatur dan perubahan

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

11

panas diketahui dari titik suhu T1 ke titik suhu T2, maka Q yang diserap air
dapat dirumuskan:

= Kapasitas panas dari air

=x
Lalu, energi panas yang diserap oleh Kalorimeter Joule terhitung:

C = Kapasitas panas calorimeter


Jika semua disubstitusikan dalam persamaan neraca energi dari panas yang
dihasilkan oleh hambatan dalam kalorimeter akan menghasilkan:

Melalui persamaan di atas, cukup jelas bahwa tidak ada porsi kalor yang
dibuang ke lingkungan (Qlingkungan = 0). Kalorimeter Joule memang dibuat
sedemikian rupa sehingga dapat dikatakan, idealnya tidak akan ada kalor yang
dibuang ke lingkungan. Namun, dalam prakteknya tidak akan mungkin dicapai
efisiensi 100% (kalor tergunakan seluruhnya untuk pemanasan), meskipun
begitu nilainya sangat kecil karena digunakannya isolator di bagian luar
kalorimeter mengakibatkan flux transfer panas akan kecil nilainya, dan dengan
demikian nilai kalor terbuang dapat diabaikan.

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

12

Gambar 2.3 Skema Kalorimeter Joule


(sumber: http://bahaskimia.com/wp-content/uploads/2015/09/Kalorimeter-Bom.png)

2.3 Kalor Pelarutan


Panas Pelarutan atau sering juga disebut dengan entalpi pelarutan
merupakan besaran yang didapatkan atas dasar percobaan pelarutan suatu zat
dalam pelarut tertentu. Nilainya akan beragam sesuai dengan zat terlarut dan
pelarut yang digunakan. Besarnya entalpi pelarutan ini bisa positif bisa juga
negatif tergantung golongan reaksi yang terjadi. Jika reaksi yang terjadi
menghasilkan panas maka disebut eksotermik dan entalpinya akan negatif,
sebaliknya jika lingkungan sekitar kehilangan panas (mendingin), artinya
reaksi menyerap energi panas dan karenanya disebut endotermik dan
entalpinya akan positif.
Ada dua panas pelarutan yaitu panas pelarutan integral dan panas
pelarutan deferensial. Panas pelarutan integral didefenisikan sebagai
perubahan entalpi jika suatu mol zat dilakukan dalam n mol pelarut. Panas
Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

13

pelarutan diferensial didefenisikan sebagai perubahan antalpi jika suatu mol


zat terlarut dilarutkan dalam jumlah larutan tak terhingga, sehingga
konsentrasinya tidak berubah dalam penambahan 1 mol zat terlarut. Secara
matematik didefenisikan sebagaimn d mH/dm , yaitu perubahan panas diplot
sebagai jumlah mol zat terlarut dan panas pelarutan diferensial dapat
diperoleh dengan mendapatkan kemiringan tergantung pada konsenterasi
larutan (Dogra, 1984; 336-337).
Penetapan

entalpi

pelarutan

menggunakan

kalorimeter

tentunya

membutuhkan tetapan kalorimeter yang telah didapatkan dari percobaan


sebelumnya. Perubahan temperatur diamati melalui penggunaan thermometer
baik fluida maupun termokopel sehingga pengukuran menjadi teliti.
Perubahan temperature yang dialami oleh pelarut (dalam hal ini air) bersama
zat terlarutnya (MgSO4 dan Urea) akan mengindikasikan adanya proses
kimiawi pelarutan.
Misalkan kalor yang diserap oleh keseluruhan sistem (larutan, dan
kalorimeter) adalah Qtotal. Maka besarnya Qtotal ini akan mengikuti hubungan:

Dengan:

= ((

Cplarutan = Cpair
Lagi-lagi persamaan diatas seperti persamaan yag diberikan pada
penentuan panas kalorimeter, tidak diikuti dengan lepasnya panas ke
lingkungan (Qlingkungan = 0). Besarnya Qtotal dalam persamaan di atas cukup
menggambarkan bagaimana besaran panas pelarutan itu didefinisikan.

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan dalam Percobaan


3.1.1 Alat
Peralatan peralatan yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
1. Termometer air raksa
2. Gelas kimia
3. Kalorimeter
4. Stopwatch
5. Termokopel set
6. Heater
7. Neraca massa
8. Gelas ukur
3.1.2 Bahan
Bahan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
1. Air (aqua dm)
2. Air es
3. Air mendidih
4. Padatan MgSO4
5. Padatan urea

14

15

3.2 Rangkaian Alat dalam Percobaan


Pada percobaan ini digunakan termokopel. Berikut merupakan rangkaian dari
termokopel tersebut.

Gambar 3.1 Rangkaian Termokopel


(Sumber: http://www.engineersedge.com/instrumentation/thermocouple_operation.htm)

Penjelasan dari gambar rangkaian termokopel diatas:


1. Measuring junction atau biasa disebut juga sensing junction merupakan
ujung pertemuan antara dua jenis logam berbeda tempat mendeteksi
temperatur
2. Reference temperatur berfungsi sebagai temperatur acuan termokopel
3. Heat source merupakan sumber panas, dalam praktikum ini
4. Voltmeter berfungsi untuk mengukur beda tegangan antara dua titik pada
rangkaian tersebut
Pada dasaranya, rangkaian alat diatas sudah dapat digunakan. Namun untuk
memperoleh hasil yang presisi, termokopel perlu di kalibrasi dalam rentang
temperatur pengukuran. Kalibrasi ini dilakukan dengan mengukur tegangan
pada ujung rentang temperatur dan beberapa titik di antara rentang tersebut
dengan termokopel yang kemudian dibut kurva kalibrasi tegangan terhadap
temperatur yang terukur termometer.

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

16

3.3 Diagram Alir Percobaan


Pada percobaan ini, terdapat tiga bagian yang harus dilakukan yaitu kalibrasi
termokopel, pengukuran konstanta waktu termokopel, dan pengukuran
kapasitas panas kalorimeter. Secara sistematis, langkah percobaan yang
dilakukan dapat digambarkan sebagai berikut.
3.3.1 Kalibrasi Termokopel
Kondisi laboratorium (P,T) diukur

Temperatur air es dan air mendidih di ukur


dengan termometer air raksa

Tegangan air es dan air mendidih diukur dengan


termokopel

4 titik kalibrasi diantara 20oC-70oC


ditambahkan

Kuva temperatur yang terukur pada termometer di plot terhadap


tegangan yang diperoleh dari termokopel

Persamaan linear kalibrasi termokopel didapat

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

17

3.3.2 Pengukuran Konstanta Waktu Termokopel

Air panas 40oC disiapkan pada gelas


kimia

Termokopel dicelupkan pada air yang sudah


dipanaskan

Tegangan yang terukur tiap 5 detik dicatat

Langkah serupa dilakukan pada air es untuk mengukur respon


temokopel pada penurunan suhu

Konstanta waktu didapat saat waktu


mencapai 63,2% tegangan akhir

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

18

3.3.3 Pengukuran Kapasitas Panas Kalorimeter


75 mL aqua dm dimasukkan ke dalam kalorimeter, dan sistem dirangkai
sesuai dengan skema

Temperatur awal sistem (diukur dengan termometer) dan tegangan yang


terukur pada termokopel dicatat

Temperatur awal sistem (diukur dengan


termometer) dan tegangan yang terukur pada
termokopel dicatat

Tegangan yang masuk diatur dan di catat

Stopwatch di aktifkan

Stopwatch dihentikan saat mencapai


temperatur yang diinginkan

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

19

Pasokan tegangan dikecilkan,


kabel termokopel dicabut

aqua dm dalam
termokopel diganti

Percobaan diulangi dengan variasi


tegangan masuk (5 variasi
tegangan dengan rentang 5-15 volt)

3.3.4 Penentuan Panas Pelarutan MgSO4


75 ml air dimasukkan ke dalam kalorimeter

MgSO4 ditimbang sebanak 7,5 gram dan dimasukkan


ke dalam gelas kimia 100 ml

Temperatur awal air diukur dengan termokopel

MgSO4 dimasukkan kedalam kalorimeter, diaduk


sampai semua padatan larut

Tegangan yang terukur tiap waktu dicatat sampai nilai tegangan


tidak berubah lagi dan semua MgSO4 larut

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

20

3.3.5 Penentuan Panas Pelarutan Urea


75 ml air dipanaskan sampai temperatur
50oC

Urea ditimbang sebanak 3 gram dan dimasukkan ke dalam


gelas kimia 100 ml dan ditutup dengan alumunium foil

Air panas dimasukan ke kalorimeter

Temperatur awal air diukur dengan


termokopel

MgSO4 dimasukkan kedalam kalorimeter,


diaduk sampai semua padatan larut

Tegangan yang terukur tiap waktu dicatat sampai


nilai tegangan tidak berubah lagi dan semua
MgSO4 larut

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

21

3.4 Prosedur Percobaan


3.4.1 Kalibrasi Termokopel
1. Ukur kondisi laboratorium (T,P)
2. Ukur temperatur air es dan air mendidih dengan termometer air raksa
3. Catatlah temperatur pembekuan dan pendidihan air yang terukur oleh
termometer pada tekanan laboratorium dan tegangan yang tercatat dari
pengukuran termokopel
4. Siapkanlah 4 titik kalibrasi tambahan pada rentang 20 70C dengan
mencampurkan air panas dan air dingin (es)
5. Plot kurva tegangan yang terukur pada termokopel terhadap temperatur
untuk memperoleh persamaan linear kalibrasi termokopel

3.4.2 Pengukuran Konstanta Waktu Termokopel


1. Siapkan air panas dengan temperatur 40C pada gelas kimia
2. Celupkan termokopel pada air yang telah dipanaskan
3. Catat tegangan yang terukur setiap detik pada saat termokopel
dicelupkan
4. Lakukan langkah serupa untuk mengukur respon termokopel terhadap
penurunan temperatur. Gunakanlah air es pada variasi ini.

3.4.3 Pengukuran Kapasitas Panas Kalorimeter


1. Rangkailah sistem termokopel seperti pada gambar 3.1
2. Masukkan 75 mL aqua dm ke dalam kalorimeter
3. Catatlah temperatur awal sistem (ukur dengan termometer) dan
tegangan yang terukur pada termokopel
4. Atur dan catat tegangan dan arus yang masuk
5. Aktifkan stopwatch
6. Hentikan stopwatch saat temperatur mencapai T yang diinginkan
7. Catat waktu yang dibutuhkan untuk mencapai T tersebut
8. Kecilkan pasokan tegangan dan cabut kabel termokopel
Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

22

9. Ganti aqua dm yang terdapat dalam kalorimeter


10. Ulangi percobaan dengan memvariasikan tegangan dan arus yang
masuk (Lakukanlah 5 variasi tegangan dalam pengukuran ini dari
rentang 5-15 volt)
11. Catat data lain seperti Plab, Tlab, massa air, dan massa kalorimeter untuk
perhitungan
3.4.5 Penentuan Panas Pelarutan MgSO4
1. Siapkan MgSO4 sebanyak 7,5 gram dan masukkan ke dalam gelas
kimia 100 ml
2. Masukkan 75 ml air ke dalam kalorimeter, ukur temperatur awal air di
dalam kalorimeter dengan mencelupkan termokopel ke dalam air
3. Masukkan MgSO4 ke dalam kalorimeter berisi air dan aduk sampai
semua padatan larut dalam air
4. Catat tegangan yang terukur setiap waktu hingga semua MgSO4 larut
dan tegangan tidak berubah lagi
5. Lakukan duplo pada percobaan ini

3.4.6 Penentuan Panas Pelarutan Urea


1. Siapkan 75 ml air pada temperatur kamar di dalam gelas kimia 100 ml
dan panaskan hingga temperatur 50oC
2. Timbang massa urea sebanyak 3 gram (setelah ditimbang, langsung
tutup wada dengan alumunium foil)
3. Masukkan air panas ke dalam kalorimeter, ukur temperatur awal air di
dalam kalorimeter dengan menyelupkan termokopel ke dalam air
4. Catat tegangan yang terukur setiap waktu hingga semua urea larut dam
nilai tegangan tidak berubah lagi
5. Lakukan duplo pada percobaan ini

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan


Pada praktikum kali ini, pertama-tama dilakukan kalibrasi
termokopel dengan mengukur temperatur dengan thermometer dan tegangan
dengan termokopel dari air es, air mendidih, dan empat titik di antaranya.
Hasilnya seperti pada Tabel 4.1. Kemudian hasil percobaan dibuat kurva
kalibrasinya sehingga di dapatkan sebuah kurva dengan persamaan linear
V = 0.9552T + 272.73.
Tabel 4.1 Data Suhu Bacaan Termometer dan Tegangan Bacaan Termokopel

No

T/oC

V/mV

276.5

36

306

45

317

54

325

66

335

98

366.3

Kemudian,

dilakukan

penentuan

konstanta

waktu.

Dalam

prosesnya, dibutuhkan dua jenis reference untuk mengetahui respon dari tiap
jenis perubahan (menaik atau menurun). Hal tersebut dilakukan untuk
melihat perbedaan waktu bacaan temperatur dan beda potensial atau kita
sebut sebagai konstanta waktu (tc). Konstanta waktu termokopel
didefinisikan sebagai waktu yang dibutuhkan oleh termokopel untuk
mendapatkan bacaan beda potensial sebesar 63,2% dari beda (selisih)
dengan nilai bacaan sebelumnya hingga mencapai nilai konstan dengan
korelasi untuk menentukan secepat apa respon termokopel terhadap

23

24

perubahan suhu. Semakin kecil nilai konstanta waktu yang dimiliki


termokopel, maka akan semakin baik kemampuan termokopel tersebut untuk
membaca nilai temperatur karena waktu yang dibutuhkannya untuk
mencapai nilai konstan semakin kecil.
Tabel 4.2 Data Hasil Percobaan Penentuan Konstanta Waktu

Jenis Percobaan

tc (s)

Penaikan temperatur ke 40C

12.62462

Penurunan temperatur ke 6C

18.6636

Rata-rata

15.64411

Lalu, dilakukan penentuan kapasitas panas kalorimeter dilakukan


percobaan dengan 5 variasi tegangan dan arus listrik dalam rentang 5-15
Volt. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Data Pengukuran Waktu dan Suhu Kalorimeter di Berbagai Nilai
Tegangan dan Arus

Tegangan Listrik (V)

Arus Listrik (A)

C kalorimeter (J/K)

5.13
8.17
9.08
11.35
13.12

0.94
1.5
1.69
2.14
2.52

554.553
514.71
291.5588
291.468
297.5616

Rata-rata

389.9703

Dalam percobaan untuk mengetahui panas pelarutan pada MgSO4


dan Urea, digunakan prinsip neraca energi untuk sistem pelarutan dalam
wadah. Sehingga panas pelarutan dapat diketahui melalui selisih panas
sebelum dan sesudah pelarutan di kalikan dengan kapasitas panas larutan
yang ditambah dengan kapasitas panas alat. Kemudian, di dapat hasil
percobaan seperti pada Tabel 4.4.

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

25

Tabel 4.4 Hasil Penentuan Panas Pelarutan MgSO4 dan Urea

Massa larutan

Cp larutan

82.25 gram

3.84 J/g

77.8 gram

1.66 J/g

8.5

MgSO4

-8.58 J/gram
56.7 J/gram

Urea

4.2 Pembahasan
Dalam proses kalibrasi termokopel, digunakan es batu dan air
panas (didapatkan dari pemanas) untuk melakukan variasi pada temperature
air yang digunakan. Hal tersebut dilakukan agar terbentuk data yang baik,
persebarannya cukup dan sesuai dengan range yang diinginkan. Contoh, kami
ingin melakukan uji titik temperature dengan perkiraan temperature uji antara
4oC sampai 98oC. Maka, dibuat beberapa sampel air (zat kerja) dengan suhu
yang beragam diantara range tersebut. Sampe air tersebut dibuat dengan
bantuan air panas dan batu dengan komposisi tertentu dibantu oleh
pengecekan oleh thermometer fluida. Data output berupa bacaan thermometer
(suhu) dan bacaan termokopel (beda potensial) didapakan. Setelah data
didapatkan, maka nilai yang tertera dijadikan kurva untuk pembacaan
temperature oleh termokopel dengan cara memasukkan bacaan termokopel ke
dalam persamman kurva.
Dalam melakukan kalibrasi, data yang kami dapatkan cukup baik
karena lingkup kurva yang kami dapatkan mendekati linear dan persebaran
datanya cukup baik. Namun, ada sedikit masalah yaitu bagaimana seringnya
bacaan termokopel mengalami swing dan tidak dalam kondisi konstan untuk
waktu yang cukup lama. Maka dari itu, kami sepakati bahwa data yang kami
ambil adalah data yang telah 5 detik tidak berubah-ubah. Swing tersebut

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

26

terjadi akibat adanya noise atau gangguan yang sangat signifikan sekali
efeknya kepada bacaan termokopel.
Selain itu, swing juga terjadi akibat tidak konstannya posisi uji
pada fluida. Hal tersebut cukup memberikan pengaruh karena pada titik
berbeda akan memberikan nilai bacaan suhu berbeda akibat flux kecepatan
dan transfer suhu yang bervariasi. Swing juga dapat terjadi akibat adanya efek
pengadukan dan tidak homogennya material.
Untuk percobaan kedua yaitu pengukuran kapasitas panas
kalorimeter, dilakukan percobaan dengan menggunakan kalorimeter Joule
dengan bahan

alumunium dengan tegangan dan arus yang bervariasi di

rentang 5 15 Volt yang diisi dengan aqua dm sebanyak 150 ml. Kalorimeter
dialiri arus listik dari power supply sehingga terjadi perubahan suhu dari air di
dalam kalorimeter. Seperti yang telah diketahui dari tinjauan pustaka, masingmasing kalorimeter mempunyai kapasitas panas masing-masing. Pada sistem
kalorimeter berlaku neraca energi seperti yang tertulis di tinjauan pustaka.
Dari neraca energi tersebut, kapasitas panas dari kalorimeter dapat dicari
dengan menghitung terlebih dahulu kalor yang diserap oleh kalorimeter itu
sendiri. Kalor yang diserap oleh kalorimeter dapat diperoleh dari pengurangan
antara kalor yang dihasilkan oleh listrik dan kalor yang diserap oleh air. Kalor
yang dihasilkan oleh listrik dipengaruhi oleh tegangan, arus, dan waktu
pengaliran arus. Kalor yang diserap oleh air dipengaruhi oleh massa air,
kapasitas panas air, dan perubahan temperatur. Sedangkan kalor yang diserap
oleh kalorimeter dipengaruhi oleh kapasitas panas kalorimeter dan perubahan
temperatur.
Perubahan temperatur dihasilkan dari energi listrik yang diubah
menjadi energi panas. Energi listrik yang makin besar mengakibatkan
perbedaan temperatur yang makin besar pula. Sehingga energi yang diserap
oleh air dan kalorimeter juga akan makin besar dan neraca energi dapat
terpenuhi. Kapasitas panas kalorimeter yang didapatkan pada tiap percobaan
dapat dilihat pada tabel 4.2. Nilai kapasitas panas kalorimeter yang didapat

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

27

dari hasil percobaan sangat fluktuatif. Hal ini dikarenakan kenaikan


temperatur terjadi dengan sangat lambat sehingga sulit diamati dan
perhitungan perubahan temperatur menjadi kurang tepat. Selain itu energi
input yang dihasilkan dari power supply tidak sesuai dengan yang tertulis pada
display monitor alat. Karena alat yang digunakan sangat sensitif dan nilainya
tidak menentu. Nilainya berubah-ubah selama pengukuran, nilai tegangan di
akhir pengukuran bisa berubah cukup jauh dari nilai tegangan di awal
pengukuran. Sehingga nilai keluaran sebenarnya dari power supply tersebut
sulit untuk ditentukan. Jadi sangat mungkin ada ketidaksesuaian antara energi
yang masuk dengan perubahan temperatur yang dihasilkan. Rata-rata dari
kapasitas panas kalorimeter yang didapat adalah 841 J/K. Dimana data dari
literatur untuk bahan alumunium, kapasitas panasnya adalah 896 J/kg.K.
Massa dari kalorimeter yang digunakan adalah 133 gram sehingga kapasitas
panas dari kalorimeter tersebut adalah 119.2 J/K. Nilai ini sangat berbeda
dengan yang didapat dari hasil percobaan. Perbedaan ini bisa diakibatkan
karena perbedaan bahan alumunium dari referensi dengan alumunium yang
digunakan sebagai bahan dari kalorimeter itu sendiri. Pada referensi,
alumuniumnya adalah alumunium murni sedangkan yang digunakan pada
kalorimeter mungkin saja bukan alumunium murni tetapi campuran
alumunium dengan logam konduktor lainnya.
Selain itu mungkin saja ada panas yang hilang selama pemanasan
air oleh energi listrik. Hal ini karena tutup dari kalorimeter itu sendiri kurang
kencang dan kurang rapat, lalu ada lubang yang cukup besar di bagian tutup
dari kalorimeter yang sebenarnya untuk memasukkan termokopel dan
termometer. Panas bisa saja keluar lewat ruang antara tutup yang kurang rapat
dan dari lubang tempat termometer tersebut. Besarnya panas yang hilang tidak
bisa diukur dalam percobaan ini. Sehingga diasumsikan semua energi yang
dihasilkan oleh listrik diserap oleh air dan kalorimeter. Namun jika melihat
dari hasil pengukuran yang menunjukkan hasil yang sangat jauh dari nilai
referensinya, kemungkinan besar ada panas yang keluar dari system dan

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

28

jumlahnya cukup besar. Jika panas yang hilang tersebut dianggap terserap
oleh kalorimeter maka kapasitas kalorimeternya wajar menjadi sangat besar
dibandingkan dengan referensi karena kalor yang diserap oleh kalorimeter
tersebut menjadi sangat besar pula.
Pada penentuan panas pelarutan, diberikan perlakuan khusus kepada
Urea karena sifatnya yang higroskopis. Urea harus selalu berada di dalam
wadah kedap udara yang telah diberi silica (mengambil uap air dalam udara
bebas). Alumunium foil juga digunakan sehingga hal ini diharapkan akan
menjaga urea dari terbawa oleh uap air di udara yang terjadi akibat sifatnya
yang sangat higroskopis. Selama proses pelarutan padatan, tidak lupa
pengaduk dalam kalorimeter selalu difungsikan agar pelarutan berjalan
sempurna.

Hal

ini

dimaksudkan untuk mempercepat

naik/turunnya

temperatur seiring dengan cepatnya laju pelarutan


Hasil panas pelarutan urea yang di peroleh adalah 56.7 J/gram.
Padahal menurut literatu seharusnya panas pelarutan urea adalah 241.94
J/gram. Sedangankan hasil panas pelarutan MgSO4 adalah -8,58 J/gram
padahal menurut literatur seharusnya 655 J/gram (pada suhu air 15.
Perbedaan hasil percobaan dengan studi literatur sangat jauh. Hal ini
kemungkinan di sebabkan pada saat pengadukan kurang sempurna sehingga
tegangan tidak berubah (menjadi tetap) sebelum padatan urea terlarut
sempurna. Selain itu, kalorimeter yang tidak rapat memungkinkan adanya
kalor yang keluar masuk lingkungan. Di sisi lain, saat menuangkan padatan ke
dalam kalorimeter, masih ada beberapa padatan yang tersisa di gelas kimia
sehingga perhitungannya tidak akurat.

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilaksanakan, dapat diambil beberapa


kesimpulan sebagai berikut:
1. Persamaan linear kalibrasi termokopel adalah V = 0.9552T + 272.73
dengan nilai R = 0.9991
2. Konstanta waktu untuk termokopel adalah 15.6 sekon
3. Kapasitas panas kalorimeter bernilai 389.66 J/K
4. Panas pelarutan MgSO4 adalah -8.58 J/gram
5. Panas pelarutan urea adalah 56.7 J/gram

Adapun saran

yang dapat

disampaikan

untuk percobaan-percobaan

selanjutnya adalah:
1. Alat yang diperlukan dalam praktikum tidak semuanya tersedia seperti
gelas ukur yang hanya ada satu sehingga saat melakukan pecobaan
keempat kelompok harus bergantian dalam menggunakannya sehingga
efisiensi waktu menjadi kurang.
2. Perlu

dilakukannya

perawatan

lebih

terhadap

peralatan-peralatan

percobaan karena dari empat set termokopel yang tersedia hanya dua set
yang dapat digunakan dengan baik.
3. Untuk praktikan, lebih sigap dan teliti saat melakukan percobaan dan lebih
baik dalam bekerja sama karena satu kelompok harus mengerjakan banyak
hal sekaligus pada waktu yang sama seperti pada penentuan panas
pelarutan satu kelompok harus mengaduk, membaca tegangan, melihat
stopwatch, dan mencatat tegangan.

29

DAFTAR PUSTAKA

Kraftmakher, Y. 2004. Modulation Calorimetry : Theory and Applications.


Berlin : Springer-Verlag. Page 47-56.
Patnaik, Pradyot.2004.Deans Analytical Chemistry Handbook.2nd Edition.New
York:McGraw-Hill.Section 7. Page 902-907
Pollock,Daniel

D.1971.The

Theory

and

Properties

of

Thermocouple

Elements.Philadelphia:American Society for Testing and Materials.


Page 1-2.

30

31

LAMPIRAN A
DATA DARI LITERATUR
I. Kapasitas Panas Beberapa Jenis Logam

II. Data Fisik Air


a. Densitas Air

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

32

b. Kapasitas panas air

III. Data Tambahan Lain


Cplarutan urea

= 1.66 J/g.C

Cplarutan MgSO4

= 3.84 J/g.C

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

33

LAMPIRAN B
CONTOH PERHITUNGAN

I.

Pengukuran Konstanta Waktu Termokopel


a) Menentukan tegangan
Penaikan temperatur (air mendidih)
= 301

+ 0.632

= 309.2

= 301 + 0.632(309.2 301) = 306.2

Penurunan temperatur (air dingin/es)

= 289.5
=

+ 0.632

= 273.5

= 289.5 + 0.632|273.5 289.5|

= 279.4

b) Menentukan tc

Penaikan temperatur (air mendidih)


10 306.2 309.2
=
15 10
301 309.2

Penurunan temperatur (air dingin/es)


15 279.4 281
=
15 20 278.8 281

Nilai tc rata-rata

+
2

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

= 12.6

= 18.6
12.6 + 18.6
= 15.6
2

34

II.

Pengukuran Kapasitas Panas Kalorimeter

a) Perhitungan densitas air pada suhu air yang diukur (T = 27C)


Nilai referensi berdasarkan table literatur :
T (C)
(kg/m3)

25

30

997.08

995.68

Untuk massa jenis air pada 27C dilakukan interpolasi


997.08
27 25
=
995.68 997.08 30 25
= 0.99652

= 996.52

b) Perhitungan massa air


Vair = 75 mL
=

= 0.99652 75 = 74.74

c) Perhitungan kapasitas panas


No.

Tegangan
Arus (I)
Ti (C)
Tf (C)
t (s)
Ckal
(V)
(J/K)
1.
5.13
0.94
27
28
115
554.2
2.
8.17
1.5
28
29
42
514.4
3.
9.08
1.69
29
30
19
291.15
4.
11.35
2.14
31
32
12
291.2
5.
13.12
2.52
32
33
9
297.2
Perhitungan Ckal yang merupakan kapasitas panas kalorimeter di dapat dari
perhitungan dengan rumus sebagai berikut :

=
+

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

)=

35

Dengan menggunakan rumus di atas pada kelima data, diperoleh rata-rata


Ckalorimeter :
=
III.

= 389.66 /

Penentuan Panas Pelarutan

a) Pelarutan MgSO4
Karena dilakukan duplo, maka perlu dicari rata-rata massa MgSO4 :
Massa MgSO4 rata-rata =

Perlu dicari Tf (temperatur akhir rata-rata)


Tf rata-rata = =

+(

= 7.509

= 28

Massa larutan

Massa larutan = massaair + massaMgSO4


= 74.74 + 7.509
= 82.25 gram
Panas pelarutan MgSO4
Dari penurunan neraca energi di dapat,
[(

+(
=

[(

]
)

[(82.25 3.84) + 389.66] (28 27)


82.25
= 8.58 /

b) Pelarutan Urea
Karena dilakukan duplo, maka perlu dicari rata-rata massa urea :
Massa urea rata-rata =

Perlu dicari Tf (temperatur akhir rata-rata)

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

= 3.055

36

Tf rata-rata = =

= 41.5

Massa larutan

Massa larutan = massa air + massa urea


= 74.74 + 3.055
= 77.8 gram
Panas pelarutan Urea
Dari penurunan neraca energi di dapat,

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

[(

+(

[(77.8 1,66) + 389.66] (41.5 50)


77.8
= 56.7 /

37

LAMPIRAN C
HASIL ANTARA

Hasil yang ditunjukan termokopel merupakan suhu relatif terhadap


sebuah acuan atau titik sehingga perlu dilakukan kalibrasi terlebih dahulu pada
rentang pengukuran. Pada percobaan ini, kalibrasi dilakukan pada titik beku air
yaitu 4C, titik didih air yaitu 98C, dan empat titik pada rentang 20-70C yaitu
pada titik 36C, 45C, 54C, dan 66C. Kurva kalibrasi termokopel pada rentang
tersebut adalah sebagai berikut

Grafik 7.1 Kurva Kalibrasi Termokopel


Tegangan termokopel/mV

400
350
y = 0.9552x + 272.73
R = 0.9991

300
250
200
150
100
50
0
0

20

40

60

80

100

120

T termometer / C

Dari kurva kalibrasi diatas, didapat persamaan linear kalibrasi tegangan


yang dihasilkan termokopel dengan temperatur adalah :

Keterangan :

= 0.9552

+ 272.73

V = Tegangan keluaran termokopel (mV)


T = Temperatur yang terukur (C)

Persamaan linear yang menyatakan hubungan antara tegangan termokopel dan


temperatur yang terbaca pada termometer tersebut memiliki R2 = 0.9991 yang
Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

38

berarti mendekati 1, jadi dapat disimpulkan bahwa kurva kalibrasi ini dapat
digunakan dan hasil yang di dapat dari persamaan linear ini tidak akan jauh
menyimpang dari hasil sebenarnya.
Sedangkan pada penentuan konstanta waktu, percobaan dilakukan dengan melihat
respon termokopel terhadap penaikan suhu dan penurunan suhu air yang tersaji
dalam grafik berikut :

Grafik 7.2 Respon Termokopel Pada Penaikan Suhu ke 40 C


312

Tengangan/mV

310
308
306
304
302
300
0

20

40
Waktu / s

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

60

80

39

Grafik 7.3 Respon Termokopel Pada Penurunan Suhu ke 4C


295

Tegangan/ mV

290
285
280
275
270
265
0

20

40

60

80

Waktu / s

Pada penentuan kapasitas panas kalorimeter, dilakukan variasi tegangan


masuk dan tegangan keluar dengan hasil yang di dapat seperti pada table 7.1
berikut :
Tabel 7.1 Hasil Sementara Data Percobaan Penentuan Kapasitas Panas Kalorimeter

m air ( kg)
0.074739
0.074739
0.074739
0.074739
0.074739
C air (J/kg.K)
air (kg/m3)

Tegangan
(V)
5.13
8.17
9.08
11.35
13.12
4182
996.52

Arus (A) Qlistrik (J)

Qair (J)

Ckal (J.K)

0.94
1.5
1.69
2.14
2.52

0.312334281
0.312334281
0.312334281
0.312334281
0.312334281

554.2406657
514.3976657
291.2464657
291.1556657
297.2492657

554.553
514.71
291.5588
291.468
297.5616

Kemudian pada penentuan panas pelarutan MgSO4 dan urea, di dapat hasil
sementara sebagai berikut
Massa (gram)
Tawal (C)
Takhir (C)

MgSO4 (1)
7.5026
27
28

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

MgSO4 (2)
7.5163
27
28

Rata-rata
7.509
27
28

Urea (1)
3.0166
50
42

Urea (2)
3.085
50
41

Rata-rata
3.055
50
41.5

40

LAMPIRAN D
DATA MENTAH
I.

II.

Tabel Hasil Kaligrafi Termokopel Pada Rentang 4C-98C


No.

T (C)

V (mV)

276.5

36

306

45

317

54

325

66

335

98

366.3

Tabel Hasil Pengukuran Tegangan Keluaran Perdetik untuk Penaikan


Suhu ke 40C
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Waktu (s)

Tegangan keluaran termokopel (mV)

301

303.6

10

305.5

15

306.8

20

307.8

25

308.2

30

308.6

35

308.8

40

308.9

45

309

50

309.1

55

309.1

60

309.2

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

41

14
15

III.

65

309.2

70

309.2

Tabel Hasil Pengukuran Tegangan Keluaran Perdetik untuk Penurunan


Suhu ke 4C
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

Waktu (s)

Tegangan keluaran termokopel


(mV)

289.5

287

10

283.7

15

281

20

278.8

25

277.5

30

276.3

35

275.6

40

275

45

274.6

50

274.3

55

274.1

60

273.9

65

273.8

70

273.7

75

273.7

80

273.6

85

273.5

90

273.5

95

273.5

100

273.5

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

42

IV.

Tabel Hasil Percobaan Penentuan Kapasitas Panas Kalorimeter


No.
1.
2.
3.
4.
5.

V.

Tegangan
(V)
5.13
8.17
9.08
11.35
13.12

Arus
(I)
0.94
1.5
1.69
2.14
2.52

Ti (C)

Tf (C)

t (s)

Vair (mL)

27
28
29
31
32

28
29
30
32
33

115
42
19
12
9

554.2
514.4
291.15
291.2
297.2

Tabel Hasil Percobaan Penentuan Panas Pelarutan MgSO4


Percobaan 1
No

t (s)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

5
10
15
20
25
30
35
40
45
50

Tawal
Takhir
Massa

Tegangan
Keluaran (mV)
298.5
298.7
298.8
299
299.1
299.2
299.2
299.4
299.4
299.4

27 oC
28 oC
7.5026 gram

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

Percobaan 2
No

t (s)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
Tawal
Takhir
Massa

5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
55
60
65
70
75
80

Tegangan
Keluaran (mV)
297.7
297.8
298
298.1
298.2
298.3
298.4
298.4
298.5
298.6
298.8
298.9
299
299.1
299.2
299.2
27 oC
28 oC
7.5163 gram

43

VI.

Tabel Hasil Percobaan Penentuan Panas Pelarutan Urea


Percobaan 1
No

t (s)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
55
60
75

Tawal
Takhir
Massa

Tegangan
Keluaran (mV)
314.12
314.8
314.6
314.4
313.4
313.2
312.9
312.9
312.7
312.6
312.5
312.5
312.5
50 oC
42 oC
3.0166 gram

Kelompok
A2.1516.05/Sem-II/2015-2016

Percobaan 2
No

t (s)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Tawal
Takhir
Massa

5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
55
60
65
70

Tegangan
Keluaran (mV)
317.5
317.5
314.5
314.2
313.8
313.5
313.3
313.1
312.9
312.8
312.7
312.5
312.5
312.5
o
50 C
41 oC
3.085 gram