Anda di halaman 1dari 33

]LAPORAN PRAKTIKUM

PERALATAN RADIOLOGI III

[GENREAL X-RAY 3 FASA]


KELOMPOK.
Nama/NIM:
Rahmat Zulfiqri E

(P27838113008)

Hanum Habibah

(P27838113009)

Arnoldus Y W Tage

(P27838113014)

Dinar Octaviani

(P27838113015)

Rizkiyah Firda

(P27838113018)

[LOGO LAB. RADIOLOGI]

LAB. PERALATAN RADIOLOGI


PROGRAM STUDI DIPLOMA IV
JURUSAN TEKNIK ELEKTROMEDIK
POLITEKNIK KEMENTERIAN KESEHATAN SURABAYA
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
barokahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum dengan
judul General X-Ray 3 Fasa.
Dalam melakukan praktikum dan penyusunan ini penulis telah
mendapatkan banyak dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Penulis
mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada, Tribowo Indrato, ST, MT
selaku dosen mata kuliah peralatan radiologi.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan praktikum ini masih jauh
dari sempurna, untuk itu semua jenis saran, kritik dan masukan yang bersifat
membangun sangat penulis harapkan. Akhir kata, semoga tulisan ini dapat
memberikan manfaat dan memberikan wawasan tambahan bagi para pembaca dan
khususnya bagi penulis sendiri.
Surabaya, 31 April 2016

Pendahuluan
Radiologi adalah suatu ilmu tentang penggunaan sumber sinar pengion
(gamma, sinar X dll)dan bukan pengion, gelombang suara dan magnet untuk
imaging diagnostik dan terapi.
Pesawat rongent bekerja menggunakan radiasi sinar x baik untuk fluoroskopi
maupun

radiografi.

Fluoroskopi

adalah

pesawat

radiologi

yang

memperlihatkan gambaran stuktur tubuh melalui pemanfaatan sinar X secara


real time. Radiografi adalah pesawat radiologi yang memperlihatkan
gambaran struktur tubuh melalui pemanfaatan paparan sinar-X untuk
diagnostik.
Sinar-X adalah radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang yang
lebih pendek dari cahaya dan dihasilkan dengan memborbarding suatu target
dengan elektron kecepatan tinggi. Target biasanya dibuat dari tungsten. SinarX adalah foton-foton berenergi tinggi (1100 keV) dengan panjang
gelombang dalam orde 1 . Sinar-X dihasilkan dari penembakan suatu atom
dengan elektron-elektron berenergi tinggi dengan cara memberi tegangan
yang cukup besar. Elektronelektron ini menendang elektron yang terikat
pada inti atom, sehingga terjadi kekosongan pada kulit atom. Kekosongan ini
langsung diisi oleh elektron dari kulit atau orbital terluar. Pada
saat perpindahan transisi elektron dari kulit terluar ke kulit terdalam ini,
dipancarkan tenaga yang merupakan gelombang elektromagnet yang disebut
dengan sinar-X(Syamsul Bahri, 2005).
Radiasi merupakan energi yang dipancarkan dalam bentuk partikel
atau gelombang elektromagnetik atau cahaya (foton) dari sumber radiasi.
Radiasi yang ditimbulkan dari tindakan medis yang berasal dari sumber
buatan manusia, misalnya radiasi dari sinar X. Radiografi atau Roentgen sinar
X termasuk ke dalam radiasi pengion yang merupakan sarana penunjang
diagnositik yang sudah berkembang pesat. Dalam bidang medis penggunaan
sinar X untuk pencitraan diagnostik telah digunakan selama lebih dari satu

abad. Salah satu manfaat sinar X adalah dapat mendeteksi penyakit kelainan
organ dengan cepat melalui radiodiagnosa. Disamping memberikan manfaat
bagi manusia, radiasi juga mengandung potensi bahaya (Fauziyah,
Dwijananti, 2008).

1. Tujuan Percobaan
a) Memahami prinsip kerja general X-Ray 3 fasa
b) Mengetahi bagian-bagian dan cara kerja dari general X-Ray 3 Fasa
c) Untuk mengtahui cara mengukur tegangan pada motor 3 fasa

2. Alat dan Bahan


a. Alat
1. Rangkaian Control Tabel pada general X-Ray
2. Insert Tube pada general X-Ray
3. Patien Table pada general X-Ray
b. Bahan
1. Avometer
2. Senter
3. Alat Tulis
4. Jas Laboratorium

TEORI DASAR
I.

Pengertian
Pesawat radiology adalah alat / pesawat medik yang bekerja mengunakan
radiasi pengion baik itu sinar nuklir,gamma,sinar X dan lain-lain
Pesawat roentgen adalah alat / pesawat medik yang bekerjanya
mengunakan radiasi sinar X, baik untuk keperluan fluoroskopi maupun
radiografie.

II.

Sejarah singkat ditemukannya sinar X


Sinar X pertama kali ditemukannya oleh Willhem Conrad Rontgen
pada tahun 1895, beliau mengunakan tabung Geslier yaitu tabung yang
terbuat dari Glass Envelope yang didalamnya terdapat gas Argon atau
Xenon yang jika ada perbedaan potensial diantara anoda dan katoda maka
gas gas ini akan terionisasi dan elektron-elektron akan membebaskan diri
dari ikatan atomnya. Elektron yang terdekat dengan anoda akan langsung
ditarik keanoda sehingga terjadi hole. Hole ini akan diisi oleh elektron
berikutnya, tempat yang ditinggalkan elektron ini akan menjadi hole lagi
dan terjadi pengisian lagi oleh elektron berikutnya, begitu seterusnya
sehingga akan terjadi estafet elektron dan terjadilah rangkaian tertutup dan
terjadilah arus elektron yang berkebalikan dengan arus listrik yang
kemudian disebut arus tabung . Pada saat yang bersamaan, elektronelektron yang ditarik ke anoda tersebut akan menabrak anoda dan ditahan.
Jika tabrakan elektron tersebut tepat diinti atom disebut peristiwa
Breamstrahlung dan apabila menabraknya dielektron dikulit K, disebut K
Karakteristik. Akibat tabrakan ini maka terjadi hole-hole karena elektronelektron yang ditabrak tersebut terpental. Hole-hole ini akan diisi oleh
elektron-elektron lain. Perpindahan elektron ini akan menghasilkan seatu
gelombang elektromagnetik yang panjang gelombangnya berbeda-beda.
Gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang 0,1 1 A
inilahyang kemudian disebut sinar X atau sinar Rontgen. Tabung X ray
jenis pertama ini disebut Cold Chatoda Tube

Namun pada perkembangan selanjutnya, pada tahun 1913, Collige


menyempurnakan penemuan Rontgen dengan memodifikasi tabung yang
digunakan. Tabung yang digunakan adalah tabung vakum yang
didalamnya hanya terdapat 2 elektroda yaitu anoda dan katoda. Tabung
jenis ini kemudian disebut Hot Chatoda Tube dan merupakan tabung yang
dipergunakan untuk pesawat Rontgen konvensional yang sekarang.
III.

Syarat Terjadinya Sinar X


a) Adanya Loncatan Elektron, yang didapat dari Pemanasan Filament dan
adanya perbedaan beda potensial.
b) Adanya sumber penghasil electron.
c) Pegerakan electron dari katoda menuju anoda tidak mengalami hambatan.
d) Adanya Ruang Hampa (Tabung Hampa), agar tidak berinteraksi dengan
partikel (udara/gas) lainnya.
e) Target (Anoda yang terbuat dari tungsten), terdiri dari atom-atom.
f) Adanya cara untuk menghasilkan electron secara tiba-tiba.

IV.

Proses Terjadinya X-Ray


Secara sederhana proses terbentuknya radiasi sinar-X pada pesawat sinarX adalah sebagai berikut perhatikan gambar di bawah ini.

Gambar 1 Konstruksi pesawat sinar-X

Proses pembentukan sinar-X pada pesawat sinar-X adalah sebagai berikut:


1) Arus listrik akan memanaskan filamen sehingga akan terjadi awan
elektron disekitar filamen (proses emisi termionik).
2) Tegangan (kV) di antara katoda (negatif) dan anoda (positif) akan
menyebabkan elektron-elektron bergerak ke arah anoda.

3) Fokus (focusing cup) berfungsi untuk mengarahkan pergerakan elektronelektron (berkas elektron) menuju target.
4) Ketika berkas elektron menubruk target akan terjadi proses eksitasi pada
atom-atom target, sehingga akan dipancarkan sinar-X karakteristik, dan
proses pembelokan (pengereman) elektron sehingga akan dipancarkan
sinar-X bremstrahlung.
5) Berkas sinar-X yang dihasilkan, yaitu sinar-X karakteristik dan
bremstrahlung, dipancarkan keluar tabung melalui window.
6) Pendingin diperlukan untuk mendinginkan target karena sebagian besar
energi pada saat elektron menumbuk target akan berubah menjadi panas.
V. Jenis-jenis Pesawat Rontgen
a. Kondensator discharge, Pesawat kondensator discharge adalah suatu
pesawat roentgen yang diciptakan menggunakansistem discharge, dengan
memanfaatkan muatan condensator sebagai sumber teganagan sehingga
dapat menghasilkan teganagan untuk membangkitkan frekuensi tinggi.
b. Konvensional, Pesawat Sinar-X konvensional adalah salah satu jenis
pesawat Sinar-X yang digunakan untuk radiografi.Arti konvensional di sini,
menunjukkan

jenis

pesawat

dari

pergerakannya,

dimana

pesawat

konvensional pergerakannya terbatas pada stasionernya dan bedanya dgn


pesawat mobile tidak dapat berpindah dari suatu ruangan keruangan lain.
c. High Frequency, Pesawat sinar-x adalah pesawat yang menghasilkan
gelombang elektromagnetik frekuensi tinggi (sinar-x) untuk digunakan
dalam diagnostik atau terapi.

VI.

FUNGSI & BAGIAN-BAGIAN RONTGEN

A. Control Panel, terdapat beberapa bagian yaitu :

1) Main Switch
Berfungsi untuk menghubungkan supply listik PLN dengan pesawat
roentgen.
2) Line Voltage Meter
Untuk mengetahui apa tegangan PLN mengalami kenaikan atau
penurunan.
3) LVC (Line Voltage Compensator)
Berfungsi untuk mengkompensasi nilai tegangan yang diperlukan
pesawat jika terjadi penurunan atu kenaikan pada supply PLN.
a. Jika tegangan naik : menambah jumlah lilitan primer dengan memutar
selector voltage compensator dan
b. Jika tegangan turun: mengurangi jumlah lilitan primer dengan
memutar

selector

voltage

compensator

sehingga

diperoleh

perbandingan transformasi antara tegangan dan jumlah lilitan primer


dengan tegangan dan jumlah lilitan sekunder adalah tetap.
4) Pemilihan KV
KV mayor
Untuk memilih tegangan tinggi / memilih besarnya beda potensial
antara anoda dan katoda, yang besar selisih tiap terminal x 10 KV.
KV minor
Untuk memilih tegangan tinggi / memilih besarnya beda potensial
antara anoda dan katoda, yang besar selisih tiap terminal x 1 KV.
5) MA control
Berfungsi untuk mengatur arus pemanas filament yang kemudian akan
digunakan sebagai penentu besarnya arus tabung yang digunakan.
6) MA limiter

Berfungsi untuk membatasi mengalirnya arus filamen, agar tegangan


pemanas filamen di atas sesuai dengan kemampuan kapasitas filamen
tabung rontgen sehingga pemberian tegangan tersebut memberi
pemanasan yang normal. Penggunaan filament limiter ini akan lebih
terasa terutama pada tabung rontgen yang menggunakan double focus,
yaitu focus besar dan focus kecil yang masing-masing dilengkapi
filament limiter sendiri. Untuk yang large focus nilai tahanan limiternya
kecil, sedangkan untuk yang small focus nilai tahanan limiternya besar.
7) Timer
Timer berfungsi untuk menentukan lamanya proses penyinaran
8) Tombol ready dan tombol ekspose
9) Pemilihan mode radiografi dan fluoroskopi
Untuk memilih mode radiografi dan fluoroskopi pada alat rongent
10) Emergency stop
Tombol yang digunakan untuk menghentikan proses ekspose saat keadaan
darurat
B. HTT Tank, terdapat beberapa bagian yaitu :

1) HTT
Trafo tegangan tinggi yang berfungsi untuk memberikan beda
potensial antara anoda dan katoda dimana anoda harus selalu mendapat
polaritas positif dan katoda harus selalu mendapat polaritas negatif agar
elektron-elektron bebas yang ada disekitar katoda dapat ditarik ke anoda.
2) Trafo Filament

Memberikan tegangan untuk filament pada X-Ray tube. Tegangan yang


dihasilkan trafo filament sekitar 9-20V tergantung spesifikasi tabung.
3) Oli dialase
Sebagai pendingin tabung sinar x karena saat elektron-elektron menabrak
target pada anoda, energi kinetik elekron yang berubah menjadi sinar-X
hanyalah 1% selebihnya berubah menjadi panas mencapai 20000C.
4) Switch exchanger
Untuk pemilihan radiografi atau fluoroskopi dan sebaliknya.
5) Rectifier
Sebagai penyearah tegangan tinggi sebagai input anoda agar kualitas
gambar yang dihasilkan lebih bagus.
C. Patient Table, terdapat beberapa bagian yaitu :

1) Meja
Sebagai tempat pasien melakukan pemeriksaan.
2) Motor sliding/Teltling
Sebagai control gerakan meja pasien dalam posisi sliding atau tiltling.
3) Bucky kaset
4) Grid
Untuk menahan radiasi hambur agar kualitas gambar yang dihasilkan
makin bagus.
5) Spot film device
6) Untuk merekan gambar saat dilakukan kegiatan fluoroskopi.
D. X-ray Tube Unit, terdapat beberapa bagian yaitu :

1) Insert tube
Di dalam insert tube terdapat bagian-bagian yaitu tabung kaca hampa
udara, anoda dan katoda.
2) Anoda putar (rotating anode)
Anoda putar terbuat dari bahan tungsten. Perputaran anoda dalam tabung sinarX tersebut mengakibatkan tumbukan berkas elektron akan merata dan mampu
menahan panas yang ditimbulkan dari tumbukan berkas elektron tersebut, walaupun
dengan waktu eksposi yang lama.
3) Housing
Untuk menahan berkas sinar-X yang tidak searah dengan window. Window
berfungsi sebagai filter untuk menahan energi rendah radiasi sianr-X sebagai tempat
sumber daya (power source). Rumah tabung juga dilengkapi sambungan kabel
tegangan tinggi yaitu kabel dari HTT.
4) Colimator
Colimator adalah alat pembatas radiasi yang terdiri dari dua set
penutup (shutter) timbal yang saling berhadapan dan bergerak dengan
arah berlawanan secara berpasangan. Alat ini diatur dan dapatdijadikan
sebagai acuan untuk menentukan titik tengah (central point) sinar-X yang
keluar dari bidang target. Kolimator dilengkapi oleh bola lampu, cermin dan
dua penutup jendela (shutter) yaitu shutter 1 dan shutter 2 yang dapat
dilengkapi dengan pembatas luas lapangan penyinaran.
5) Filter
Filter sebagai penyaring berkas sinar-X yang mempunyai panjang
gelombang pendek. Dimana jenis panjang gelombang tersebut dapat
mengakibatkan kanker kulit.
6) Stator
Berfungsi sebagai alat untuk memutar anoda. Rotor atau stator ini
hanya terdapat pada tabung sinar x yang menggunakan anoda putar.
7) Oli dialase
Oli dialase yang berfungsi sebagai bahan isolasi tegangan tinggi
dan juga sebagai pendingin tabung rontgen.

VII. Motor 3 Phase

Motor listrik 3 phase yang dikenal dengan motor induksi, banyak


digunakan di industri untuk mengendalikan kecepatan putaran pada mesin-mesin
produksi. Motor induksi ini lebih banyak dipakai dibandingkan motor listrik arus
searah, karena motor induksi lebih ekonomis dan handal dalam pengoperasiannya
meskipun ditinjau dari aspek pengendaliannya relatif lebih kompleks. Disamping
itu, pemeliharaan motor induksi juga relatif lebih mudah dibanding motor arus
searah. Pengendalian motor induksi dapat dilakkukan secara konvensional dengan
menggunakan

piranti

utama

magnetik

kontaktor.

Pengendalian

secara

konvensional ini dihasilkan unjuk kerja yang sangat terbatas, yaitu sumber
tegangan dan kecepatan putaran motornya harus sesuai dengan kapasitasnya.
Secara umum motor induksi dibagi menjadi dua buah yaitu motor induksi
satu fasa dan motor induksi tiga fasa. Secara prinsip cara kerja kedua motor ini
adalah sama yaitu karena adanya induksi yaitu adanya medan putar pada belitan
utama (stator) yang memotong batang-batang rotor sehingga akan timbul induksi
pada rotor. Bagian utama dari motor induksi adalah :
1. Bagian yang diam (stator)
2. Bagian yang bergerak (rotor)
3. Celah udara Prinsip kerja
Pada sistem tenaga listrik 3 fase, idealnya daya listrik yang dibangkitkan,
disalurkan dan diserap oleh beban semuanya seimbang, P pembangkitan = P
pemakain, dan juga pada tegangan yang seimbang. Pada tegangan yang seimbang
terdiri dari tegangan 1 fase yang mempunyai magnitude dan frekuensi yang sama
tetapi antara 1 fase dengan yang lainnya mempunyai beda fase sebesar 120listrik,
sedangkan secara fisik mempunyai perbedaan sebesar 60, dan dapat dihubungkan

secara

bintang

(Y,

wye)

atau

segitiga

(delta,

D)

Gambar 1, sistem 3 fase.


Gambar 1 menunjukkan fasor diagram dari tegangan fase. Bila fasor-fasor
tegangan tersebut berputar dengan kecepatan sudut dan dengan arah berlawanan
jarum jam (arah positif), maka nilai maksimum positif dari fase terjadi berturutturut untuk fase V1, V2 dan V3. sistem 3 fase ini dikenal sebagai sistem yang
mempunyai urutan fasa a b c . sistem tegangan 3 fase dibangkitkan oleh
generator sinkron 3 fase.

Prinsip kerja motor induksi tiga fasa adalah sebagai


berikut:
1. Apabila sumber tegangan 3 fasa dipasang pada kumparan stator, timbul lah
kecepatan medan putar (Ns)

2. Perputaran medan putar pada stator tersebut akan memotong batangbatang konduktor pada bagian rotor.
3. Akibatnya, pada bagian rotor akan timbul tegangan induksi (ggl) sebesar :
E2S = 4,44 f2 N2 (untuk satu fasa), dimana E2S adalah tegangan induksi
saat rotor berputar.
4. Karena pada rotor timbul tegangan induksi, dan rotor merupakan
rangkaian yang tertutup, sehingga pada rotor akan timbul arus (I).
5. Adanya arus (I) didalam medan magnet, akan menimbulkan gaya (F) pada
rotor.

6. Bila kopel mula yang dihasilkan oleh gaya (F) pada rotor cukup besar
untuk memikul kopel beban, maka rotor akan berputar searah dengan
medan putar stator.
7. Agar tegangan terinduksi diperlukan adanya perbedaan antara kecepatan
medan putar stator (ns) dengan kecepatan berputar rotor (nr).
8. Perbedaan kecepatan antara nr dan ns disebut slip (S) dinyatakan dengan

9. Apabila nr = ns tegangan tidak terinduksi dan arus tidak mengalir pada


kumparan jangkar rotor, dengan demikian tidak dihasilkan kopel. Kopel
motor akan ditimbulkan apabila nr lebih kecil dari ns
Motor induksi 3-fasa merupakan motor induksi yang banyak digunakan untuk
berbagai keperluan terutama di pabrik-pabrik yang menggunakan motor sebagai
pengeraknya. Diantara semua jenis motor induksi, motor induksi 3-fasa
merupakan motor yang paling stabil dalam kondisi normal bila disuplai dengan
sistem 3-fasa yang seimbang.

Kecepatan putaran medan magnet motor induksi akan dipengaruhi oleh


frekuensi sumber yang masuk ke motor dengan mengacu ke persamaan berikut
Ns = 120. f / p
yang mana :
f = frekuensi sumber AC (Hz)
p = jumlah kutup yang terbentuk pada motor
Ns = kecepatan putaran medan magnet stator (putaran/menit, rpm)

Putaran medan magnet stator ini akan diikuti oleh putaran rotor motor
induksi. Makin berat beban motor, maka kecepatan rotor juga akan turun sehingga
terjadi slip (s), seperti yang diperlihatkan pada persamaan

yang mana :
s = slip
Nr = kecepatan putaran rotor pada motor
Perubahan frekuensi sumber pada motor induksi 3-fasa akan mempengaruhi
besarnya

impedansi

kumparan

motor

karena

kumparan

motor

induksi

mengandung reaktansi induktif (XL) seperti yang diperlihatkan pada gambar

yang mana:
V1 = Tegangan sumber perfasa pada kumparan stator
R1 = Resistansi kumparan stator
X1 = Reaktansi Induktif kumparan stator
R'2 = Resistansi kumparan rotor dilihat dari sisi stator
X'2 = Reaktansi Induktir rotor dilihat dari sisi stator
Xm = Reaktansi magnet pada Motor

I1 = Arus kumparan stator


I'2 = Arus pada kumparan rotor dilihat dari sisi stator
Im = Arus Magnet

Hubungan Bintang (Y, wye)


Pada hubungan bintang (Y, wye), ujung-ujung tiap fase dihubungkan menjadi satu
dan menjadi titik netral atau titik bintang. Tegangan antara dua terminal dari tiga
terminal a b c mempunyai besar magnitude dan beda fasa yang berbeda
dengan tegangan tiap terminal terhadapa titik netral. Tegangan Va, Vb dan Vc
disebut tegangan fase atau Vf.

Gambar 2 Hubungan Bintang (Y, wye).

Dengan adanya saluran / titik netral maka besaran tegangan fase dihitung
terhadap saluran / titik netralnya, juga membentuk sistem tegangan 3 fase yang
seimbang dengan magnitudenya (akar 3 dikali magnitude dari tegangan fase).

Vline = akar 3 Vfase = 1,73Vfase


Sedangkan untuk arus yang mengalir pada semua fase mempunyai nilai yang
sama

ILine = Ifase
Ia = Ib = Ic
Hubungan Segitiga (delta)
Pada hubungan segitiga (delta, , D) ketiga fase saling dihubungkan sehingga
membentuk hubungan segitiga 3 fase.

Gambar 3 Hubungan Segitiga (delta, , D).


Dengan tidak adanya titik netral, maka besarnya tegangan saluran dihitung antar

fase, karena tegangan saluran dan tegangan fasa mempunyai besar magnitude
yang sama, maka:

Vline = Vfase

Tetapi arus saluran dan arus fasa tidak sama dan hubungan antara kedua arus
tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan hukum kirchoff, sehingga:

Iline = akar 3 Ifase = 1,73Ifase

Daya pada Sistem 3 Fase


1. Daya sistem 3 fase Pada Beban yang Seimbang
Jumlah daya yang diberikan oleh suatu generator 3 fase atau daya yang
diserap oleh beban 3 fase, diperoleh dengan menjumlahkan daya dari tiap-tiap
fase. Pada sistem yang seimbang, daya total tersebut sama dengan tiga kali
daya fase, karena daya pada tiap-tiap fasenya sama

Gambar 4 Hubungan Bintang dan Segitiga yang seimbang.

Jika sudut antara arus dan tegangan adalah sebesar , maka besarnya daya
perfasa adalah

Pfase = Vfase.Ifase.cos

sedangkan besarnya total daya adalah penjumlahan dari besarnya daya tiap fase,
dan dapat dituliskan dengan,

PT = 3.Vf.If.cos
Pada hubungan bintang, karena besarnya tegangan saluran adalah 1,73Vfase
maka tegangan perfasanya menjadi Vline/1,73, dengan nilai arus saluran sama
dengan arus fase, IL = If, maka daya total (PTotal) pada rangkaian hubung
bintang (Y) adalah:

PT = 3.VL/1,73.IL.cos = 1,73.VL.IL.cos

Dan pada hubung segitiga, dengan besaran tegangan line yang sama dengan
tegangan fasanya, VL = Vfasa, dan besaran arusnya Iline = 1,73Ifase, sehingga
arus perfasanya menjadi IL/1,73, maka daya total (Ptotal) pada rangkaian
segitiga adalah:

PT = 3.IL/1,73.VL.cos = 1,73.VL.IL.cos

Dari persamaan total daya pada kedua jenis hubungan terlihat bahwa besarnya

daya pada kedua jenis hubungan adalah sama, yang membedakan hanya pada
tegangan kerja dan arus yang mengalirinya saja, dan berlaku pada kondisi beban
yang seimbang.

2. Daya sistem 3 fase pada beban yang tidak seimbang


Sifat terpenting dari pembebanan yang seimbang adalah jumlah
phasor dari ketiga tegangan adalah sama dengan nol, begitupula dengan
jumlah phasor dari arus pada ketiga fase juga sama dengan nol. Jika
impedansi beban dari ketiga fase tidak sama, maka jumlah phasor dan arus
netralnya (In) tidak sama dengan nol dan beban dikatakan tidak seimbang.
Ketidakseimbangan beban ini dapat saja terjadi karena hubung singkat
atau hubung terbuka pada beban. Dalam sistem 3 fase ada 2 jenis
ketidakseimbangan, yaitu:
1. Ketidakseimbangan pada beban.
2. Ketidakseimbangan pada sumber listrik (sumber daya).
Kombinasi dari kedua ketidakseimbangan sangatlah rumit untuk mencari
pemecahan permasalahannya, oleh karena itu kami hanya akan membahas
mengenai ketidakseimbangan beban dengan sumber listrik yang seimbang.

Gambar 5. Ketidakseimbangan beban pada sistem 3 fase.

Pada saat terjadi gangguan, saluran netral pada hubungan bintang akan teraliri
arus listrik. Ketidakseimbangan beban pada sistem 3 fase dapat diketahui dengan
indikasi naiknya arus pada salahsatu fase dengan tidak wajar, arus pada tiap fase
mempunyai perbedaan yang cukup signifikan, hal ini dapat menyebabkan
kerusakan pada peralatan.
Rangkaian pada motor 3 phase:
1. Segitiga (Delta)
2. Bintang (Star)

Bentuk Gelombang Pada 3 Phasa

3.
Cara
Rangkaian

Analisis
Kerja

Ketika main switch ditekan ke posisi ON kontaktor aktif, tegangan


PLN 3 phase masuk ke alat yang sebelumnya telah melewati fuse sebagai
pengaman. Tegangan 3 phase itu tersambung ke primer autotransformator
melalui sambungan delta. Besarnya tegangan yang masuk tadi dapat
diketahui pada Line Volt Meter. Tegangan line volt meter harus persis
menunjukkan pada indikator yang ditentukan. Jika tidak sesuai
tegangannya dapat diatur melalui Line Voltage Compensator dengan
menambah atau mengurangi lilitan autotrafo. Lalu pada sekunder autotrafo
terdapat pemilihan KV mayor & KV minor untuk memilih besarnya beda
potensial antara anoda dan katoda.
Selanjutnya output pemilihan KV Mayor disambung dengan
kontaktor, yang jika push button ekspose ditekan kontaktor tadi akan aktif
dan menghubungkan tegangan ke HTT, hal itu terjadi sesuai dengan
pengaturan waktu pada timer. Output KV Mayor & Minor disambung ke
input primer HTT dengan sambungan delta karena para primer HTT
memerlukan tegangan yang kecil, dan arus yang besar.
Output sekunder HTT disambungkan dengan diode sebagai penyearah
gelombang dengan output +V1 terhubung ke PB pemilihan tabung dan
anoda tabung I, II, atau III. Output V1 & +V2 terhubung ke mA sebagai

penunjuk arus tabung. Output V2 terhubung ke common (0) sekunder


trafo filament.
Input primer trafo filament ada 2 yang seperti saklar dihubungkan ke
phase R, S, atau T; sedangkan input satunya dihubungkan ke common (0).
Input dengan pengaturan seperti saklar itu digunakan untuk pemilihan
small focus / large focus. Lalu untuk sekunder HTT terdapat 3 output-an
yaitu tegangan untuk small focus, large focus, dan common (0). Outputoutput tadi terhubung ke 3 set kontaktor yang masing-masing untuk
mengendalikan/mengatur sambungan tegangan ke katoda pemilihan
tabung yaitu tabung I, II, atau III.

4. Pembahasan
Pada alat general X-Ray 3 Fasa memiliki blok diagram secara garis besar
seperti berikut :

dimana bagian-bagian blok dari diagram diatas memeiliki fungsi masing-masing


sebagai berikut :

Pada Blok Rangkaian Power Suplai rdiri dari :


Saklar

Berfungsi untuk menghubungkan supply listik PLN dengan


pesawat roentgen.

Fuse

Berfungsi sebagai pengaman.

Voltage Compensator

Berfungsi untuk mengkompensasi nilai tegangan yang


diperlukan pesawat jika terjadi penurunan atu kenaikan
pada supply PLN.

Jika tegangan naik : menambah jumlah lilitan primer dengan memutar


selector voltage compensator dan
Jika tegangan turun : mengurangi jumlah lilitan primer dengan memutar
selector

voltage compensator sehingga

diperoleh

perbandingan

transformasi antara tegangan dan jumlah lilitan primer dengan tegangan


dan jumlah lilitan sekunder adalah tetap.

Blok Rangkaian Filamen


Fungsinya untuk memberikan catu daya dan mengatur besar arus
pemanas filament agar terjadinya termionic emission bisa di kendalikan
sehingga jumlah electron electron bebas yang dihasilkan pada filament
tabung rontgen bisa dikontrol.

Terdiri dari :

Stabilisator

Fungsinya untuk menstabilkan tegangan untuk rangkaian pemanas


filament sehingga pengaruh fluktuasi tegangan PLN tidak mengakibatkan
kerusakan yang signifikan pada filament tabung rontgen.

Space Charge Compensator


Berfungsi untuk mengkompensasikan nilai arus tabung agar sesuai
dengan yang dipilih meskipun terjadi perubahan tegangan tinggi pada
tabung rontgen.

mA Control
Berfungsi untuk mengatur arus pemanas filament yang kemudian
akan digunakan sebagai penentu besarnya arus tabung yang digunakan.

Stand by Resistance
Berfungsi untuk memberikan pemanasan awal pada filamen tabung
rontgen agar terjadi pre heating sebelum expose berlangsung sehingga
filament tabung roentgen lebih awet.

Cara kerjanya :
switch ON : filament tabung rontgen mendapatkan tegangan dari transformator
filament tapi melewati stand by resistant sehingga tegangan yang mengalir bukan
tegangan normal. Expose : timer bekerja dan relay energice bekerja sehingga
kontaktor exposure swith terhubung dan kontaktor relay di stand by resistant
terhubung (di by pass ), sehingga tegangan akan melewati kontaktor sehingga
tidak ada voltage drop sehingga pemanasan filament pada tegangan normal.
-

Filament limiter (mA limiter)


Berfungsi untuk membatasi mengalirnya arus filamen, agar tegangan
pemanas filamen di atas sesuai dengan kemampuan kapasitas filamen
tabung rontgen sehingga pemberian tegangan tersebut memberi pemanasan

yang normal. Penggunaan filament limiter ini akan lebih terasa terutama
pada tabung rontgen yang menggunakan double focus, yaitu focus besar dan
focus kecil yang masing-masing dilengkapi filament limiter sendiri. Untuk
yang large focus nilai tahanan limiternya kecil, sedangkan untuk yang small
focus nilai tahanan limiternya besar.
-

Trafo filament
Berfungsi untuk step down filament, biasanya tegangan yang
digunakan adalah tegangan 110 volt menjadi 12 v/18 v tergantung
spesifikasi tabung.

Blok Rangkaian HTT

terdapat trafo tegangan tinggi yang berfungsi untuk memberikan beda


potensial antara anoda dan katoda dimana anoda harus selalu mendapat

polaritas positif dan katoda harus selalu mendapat polaritas negatif agar
elektron-elektron bebas yang ada disekitar katoda dapat ditarik ke anoda.

Transformator adalah alat yang berfungsi untuk menaikkan atau


menurunkan tegangan dari satu rangkaian kerangkaian lain.
Bila transformator tersebut untuk menaikkan tegangan disebut
transformator step up ( pada HTT )dan apabila untuk menurunkan
tegangan disebut transformator step down ( pada trafo filamen ).
Transformator step up mempunyai jumlah lilitan sekunder lebih
banyak dari pada jumlah lilitan primernya sedangkan transformator
step down mempunyai jumlah lilitan sekunder lebih sedikit dari
pada jumlah lilitan primernya.

X-RAY TUBE

Merupakan sebuah tabung diode yaitu tabung vakum yang terdiri dari dua
elektrode yaitu anode dan katode. X ray tube adalah tempat
berlangsungnya proses terbentuknya sinar x.

Filamen tabung rontgen


Berfungsi sebagai sumber elektron dan juga sebagai katoda. Terdiri
dari bahan Tungsten yang mempunyai titik lebur yang tinggi 3600 oC
dengan nomor atom 74. Filamen ini berfungsi sebagai sumber elektron dan
juga sebagai katoda.

Filamen terbuat dari kawat wolfram (tungsten) digulung dalam bentuk


spiral. Bagian yang mengubah energi kinetik elektron yang berasal dari
katoda, berupa sekeping logam wolfram yang ditanam pada permukaan
anoda. Arus yang diberikan pada tabung sinar-X dalam kisaran milliamper
(mA) berfungsi untuk memijarkan filamen sehingga terbentuk awan
elektron pada filamen. Selanjutnya beda potensial dalam kisaran
KiloVoltage (KV) berfungsi memberikan energi kinetik pada elektronelektron tersebut.

Katoda terbuat dari nikel murni dimana celah antara 2 batang katoda
disisipi kawat pijar (filamen) yang menjadi sumber elektron pada tabung
sinar-X.

Katoda / filament terbagi 2, yaitu :

a. Katoda Direct
Disebut juga katoda langsung yaitu filament yang sekaligus
berfungsi sebagai katoda
b. Katoda Indirect
Disebut juga katoda tak langsung yaitu filament hanya berfungsi
sebagai sumber elektron sedangkan katodanya dipisah (didepan filament),
katodanya bisa terhubung dengan transformator filament atau dengan
sumber lain.
Pada katoda juga dipasang Focussing Cup yaitu alat yang
menyerupai mangkok untuk mengfokuskan jalannya electron dari
anoda ke katoda.

Katoda juga bisa berupa :

a. Single focus
b. Double focus
Maksud digunakannya double focus agar dapat melayani penggunaan mA (arus)
yang berbeda-beda.

Anoda atau elektroda positif biasa juga disebut sebagai target jadi anoda
disini berfungsi sebagai tempat tumbukan elektron. Ada 2 macam anoda
yaitu anoda diam dan anoda putar.

Anoda angel (sudut anoda) adalah sudut pada permukaan bidang target yang dapat
dijadikan pusat sumbu sinar yang terbentuk pada bidang atau area terbentuknya
sinar-x.

Foccusing cup ini sebenarnya terdapat pada katoda yang berfungsi


sebagai alat untuk mengarahkan elektron secara konvergen ke target agar
elektron tidak terpancar ke mana-mana.

Rotor atau stator ini terdapat pada bagian anoda yang berfungsi sebagai
alat untuk memutar anoda. Rotor atau stator ini hanya terdapat pada
tabung sinar x yang menggunakan anoda putar.

Glass metal envalope atau vacum tube adalah tabung yang gunanya
membukus komponen-komponen penghasil sinar x agar menjadi vacum
atau kata lainnya menjadikannya ruangan hampa udara

Oil ini adalah komponen yang cukup penting ditabung sinar x karena s aat
elektron-elektron menabrak target pada anoda, energi kinetik elekron yang
berubah menjadi sinar-X hanyalah 1% selebihnya berubah menjadi
panas mencapai 2000 0C, jadi disanalah peran oil sebagai pendingin
tabung sinar x.

Window atau jendela adalah tempat keluarx sinar x . Window terletak di


bagian bawah tabung . tabung bagian bawah di buat lebih tipis dari tabung
bagian atas hal ini di karenakan agar sinar x dapat keluar .

Blok Rangkaian Timer


Timer berfungsi untuk menentukan lamanya proses penyinaran

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.

www.akhdanazizan.com
www.academia.edu
www.kk.mercubuanu.ac.id
www.staff.ui.ac.id

LAMPIRAN