Anda di halaman 1dari 15

HUKUM DAN PENANGKAPAN DALAM KUHAP

MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Tengah Semester Pada Mata
Kuliah Hukum Acara Pidana
Dosen Pengampu : M. Irsan Nasution, S.H.,M.H.
Disusun Oleh Kelompok 4 (Empat) :
Cahya Latifa ( 1143050021)
Dhieka Askar Nurfadillah (1143050027)
Dikyan Hirji ( 1143050028)
Kelas/Semester : Ilmu Hukum A/ IV (Empat)

JURUSAN ILMU HUKUM


FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG 2016 M/1437 H

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul HUKUM DAN PENANGKAPAN DALAM KUHAP dengan baik
meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih kepada
Bapak M. Irsan Nasution, S.H.,M.H. sebagai dosen mata kuliah hukum acara pidana
yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai penangkapan yang di atur dalam KUHAP.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan
jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik dan saran demi
perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak
ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami dan berguna bagi kami sendiri
maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat
kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang
membangun dari pembaca demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.

Bandung, 20 April 2016


Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................

DAFTAR ISI.................................................................................................

II

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................

A.
B.
C.
D.

Latar Belakang Penulisan..................................................................


Tujuan Penulisan................................................................................
Kegunaan Penulisan...........................................................................
Kerangka Pemikiran...........................................................................

1
2
2
2

BAB II PERMASALAHAN........................................................................

BAB III PEMBAHASAN............................................................................

A.
B.
C.
D.

Pengertian Penangkapan....................................................................
Proses dan syarat penangkapan..........................................................
Mengapa penangkapan dilakukan......................................................
Siapa yang berhak melakukan penangkapan.....................................

4
5
11
11

BAB IV SIMPULAN....................................................................................

13

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................

15

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penulisan
Negara Republik Indonesia adalah Negara yang berdasarkan hukum yang
demokratis, berdasarkan pancasila dan UUD 1945, bukan berdasarkan atas kekuasaan
semata-mata. Maka dari itu, Indonesia membutuhkan yang namanya sebuah hukum
yang hidup atau yang berjalan, dengan hukum itu diharapkan akan terbentuk suasana
yang tentram dan teratur bagi kehidupan masyarakan Indonesia. Tak lepas dari itu,
hukum tersebut juga butuh ditegakkan, demi membela dan melindungi hak-hak setiap
warga Negara.
Hukum Acara Pidana merupakan keseluruhan aturan hukum yang mengatur
bagaimana

negara

dengan

menggunakan

alat-alatnya

dapat

mewujudkan

wewenangnya untuk memidana atau membebaskan pelaku tindak pidana. Didalam


KUHAP disamping mengatur ketentuan tentang cara proses pidana juga mengatur
tentang hak dan kewajiban seseorang yang terlibat proses pidana. Proses pidana yang
dimaksud adalah tahap pemeriksaan tersangka (interogasi) pada tingkat penyidikan.
Pemaparan diatas sangat menarik dan melatar belakanngi penulis untuk
membahas mengenai penangkapan yang dilakukan oleh petugas terhadap tersangka
pelaku tindak pidana.
B. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk:
1. Memenuhi syarat untuk mengikuti ujian tengah semester
2. Memenuhi tugas terstruktur
C. Kegunaan Penulisan
1. Teoritis
Penulisan makalah ini diharapkan berguna sebagai bahan sumbangan
pemikiran bagi perkembangan pengetahuan serta memperkaya pengetahuan
bagi

penulis

dan

pembaca

mengenai

hukum,

khususnya

dibidang

penangkapan dalam KUHAP.


2. Praktis

Penulisan makalah ini diharapkan berguna sebagai syarat mengikuti ujian


tengah semester.
D. Kerangka Pemikiran
1. Teori Dan Hukum
Penangkapan merupakan bagian dan perhatian yang serius, karena penangkapan
merupakan hak dasar atau hak asasi manusia dampaknya sangat luas bagi kehidupan
yang bersangkutan maupun keluarganya. Definisi penangkapan menurut Pasal 1 butir
20 KUHAP adalah suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara waktu
kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan
penyidikan atau penuntutan dan atau peradilan.
2. Asas Asas Hukum
a) Asas Legalitas.
Penuntut umum wajib menuntut setiap orang yang melakukan tindak
pidana tanpa kecuali. Bahwa penangkapan, penahanan, penggeledahan
dan penyitaan hanya dapat dilakukan berdasarkan perintah tertulis oleh
pejabat yang berwenang oleh Undang-Undang dan hanya untuk hal yang
diatur dalam Undang-Undang.
b) Asas Praduga Tak Bersalah (Presumption of Innocence).
Seseorang wajib dianggap tidak bersalah sebelum adanya putusan
Pengadilan yang menyatakan kesalahannya, dan putusan itu sudah In
Kracht (telah berkekuatan hukum tetap)
c) Asas Perlindungan Hak Asasi Manusia.
Daam pemeriksaan, baik tahap penyidikan, penuntutan maupun di
pengadilan, Tersangka maupun Terdakwa harus mendapat perlakuan
sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia yang diberi
hak untuk membela diri (akuisator), tidak dianggap sebagai barang
atau objek yang diperiksa wujudnya (Inkuisator).
BAB II
PERMASALAHAN

Berdasarkan latar belakang penulisan yang dipaparkan di atas, maka penulis


menarik beberapa permasalahan sebagai batasan pembbahasan penulisan makalah ini.
Permasalahannya yaitu sebagai berikut:
A.
B.
C.
D.

Apa pengertian penangkapan?


Bagaimana proses penangkapan dilaksanakan?
Mengapa penangkapan dilakukan?
Siapa yang berhak melakukan penangkapan?

BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian Penangkapan
Penangkapan menurut ketentuan pasal 1 butir 20 KUHAP dinyatakan bahwa
penangkapan adalah suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara waktu
kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan
penyidikan atau penuntutan dan atau peradilan dalam hal serta menurut cara yang di
atur dalam Undang-undang ini. Menurut pasal 17 KUHAP ditentukan bahwa perintah
penangkapan dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras melakukan tindak
pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup.
Apabila perumusan pasal 1 butir 20 dan pasal 17 tersebut dibaca secara cermat
akan nampak adanya hal-hal yang membingungkan dan menimlkan kekaburan.
Karena dalam pasal 1 butir 20 dinyatakan bahwa penangkapan adalah tindakan
penyidik terhadap tersangka atau terdakwa guna kepentingan penyidikan atau
penuntutan dan atau peradilan berdasarkan buti yang cukup . sedangkan menurut
pasal 17 tindakan (perintah) penangkapan dilakukan terhadap seseorang (tidak
tersurat sebagai tersangka atau terdakwa) yang diduga keras melakukan tindak pidana
berdasarkan bukti permulaan yang cukup.
Jadi kalau menurut pasal 1 butir 20 tindakan penangkapan di dasarkan pada bukti
yang cukup sedangkan menurut pasal 17 tindakan penangkapan di dasarkan pada
butki permulaan yang cukup. Meskipun menggunakan istilah yang sama yaitu
penagkapan namun dalam penerapannya mengandung pengertian yang berbeda.
Penangkapan berdasarkan pasal 17 KUHAP hanya berlaku untuk penangkapan guna
kepentingan penyidikan sedangkan menurut pasal 1 butir 20 KUHAP selain untuk
kepentingan penyidikan juga untuk penuntutan dan peradilan. untuk mengetahui apa
yang dimaksud dengan pengertian bukti dan bukti permulaan, maka terlebih dahulu
maka perlu dipahami apa yang dimaksud dengan buikti dana barang bukti serta buikti
permulaan. Hal ini sangat penting karena dalan praktek hukum sering kali timbul
kerancuan dan kekaburan pengertian dikalangan aparat penegak hukum dan praktisi
7

hukum terlebih dikalangan masyarakat yang awam hukum mengenai apa sebenarnya
yang dimaksud dengan pengertian bukti, barang bukti dan bukti permulaan.1
B. Proses dan Syarat Penangkapan
Untuk mencegah terjadinya tindakan secara sewenang-wenang terhadap
tersangka atau terdakwa, maka pelaksanaan penangkapan harus dilakukan sesuai
dengan persyaratan/ ketentuan yang diatur KUHAP, yaitu sebagai berikut:
1. Tindakan

penangkapan

dilakukan

untuk

kepentingan

penyidikan

penuntutan/peradilan (pasal 1 butir 20)


2. Perintah penangkapan terhadap tersangka yang diduga keras melakukan
tindak pidana, baru dilakukan apabila penyidik telah memiliki alat bukti
permulaan yang cukup; (pasal 1 butir 20 JO 17 KUHAP)
3. Pelaksanaan penangkapan dilakukan dengan surat perintah penangkapan
(model serse:A-5) yang ditanda tangani oleh kepala kesatuan/Instansi
(KAPOLWIL, KAPOLRES atau KAPOLSEK) selaku penyidik [pasal 1 butir
60 JO 16 ayat (2)]; Apabila yang melaksanakan penangkapan adalah
penyidik/penyidik membantu, maka petugasnya cukup memberikan satu
lembar kepada tersangka dan satu lembar kepada keluarga yang disangka
ditangkap (pasal 18)
4. Surat perintah penangkapan berisi:
a) Pertimbangan dan dasar hukum tindakan penangkapan
b) Nama-nam petugas, pangkat, Nrp, jabatan
c) Identitas penangkapan yang tidak ditangkap (ditulis secara lengkap atau
jelas)
d) Uraian singkat tentang tindak pidana yang dipersangkakan
e) Tempat atau kantor dimana tersangka akan diperiksa (pasal 18 ayat 1)
f) Jangka waktu berlakunya Surat Perintah penangkapan.
5. Setiap kali selesai melaksanakan SPRIN Penangkapan petugas pelaksana
membuat Berita Acara Penangkapan (model Serse A.11.03/pasal 75 KUHAP)
6. Selain untuk kepentingan penyidikan, Penyidik atau Penyedik pembantu
berwenang melakukan tindakan penangkapan terhadap tersangka atau
terdakwa atas permintaan PU untuk kepentingan penuntutan, atau atas
1 HMA KUFFAL, SH, Penerapan KUHAP dalam Praktik Hukum, hal 57

permintaan Hakim untuk kepentingan peradilan atau atas permintaan instansi


atau penyidik lain atau Interpol (pasal 7 ayat 1 huruf j Jo pasal 1 butir 20
KUHAP)
7. Terhadap tersangka pelaku pelanggaran, meskipun tidak dapat ditangkap akan
tetapi apabila sudah dipanggil secara sah dua kali berturut-turut tidak mau
memenuhi panggilan tanpa alasan yang sah, dapat ditanggap oleh Penyidik
(pasal 19 ayat 2 KUHAP)
C. Mengapa penangkapan dilakukan
P
enangkapan dilakukan antara lain guna mendapatkan waktu yang cukup untuk
mendapatkan informasi yang akurat. Seseorang ditangkap apabila diduga keras
melakukan tindak pidana dan ada dugaan kuat yang didasarkan pada permulaan bukti
yang cukup. Hal ini menunjukkan perintah penangkapan tidak tidak dapat dilakukan
dengan sewenang-wenang.2 Ketentuan mengenai penangkapan dalam KUHAP amat
berbeda dengan ketentuan dalam HIR, dahulu penangkapan dilakukan tanpa adanya
bukti sehingga tidak terdapat kepastian hukum.3
D. Siapa yang berhak melakukan penangkapan
Petugas yang berwenang melakukan penangkapan adalah Polisi Republik
Indonesia (Polri) sebagaimana diatur dalam Pasal 18 KUHAP. Jaksa penuntut umum
tidak berwenang melakukan penangkapan kecuali dalam kedudukannya sebagai
penyidik.4 Petugas keamanan seperti satpam atau hansip juga tidak
berwenang melakukan penangkapan, kecuali dalam hal tertangkap tangan,
sebab dalam kasus tertangkap tangan setiap orang berhak melakukan penangkapan.
Pelaksanaan penangkapan menurut Drs.DPM Sitompul, SH dapat dilakukan dengan
2 Rusli Muhammad, Hukum Acara Pidana Kontemporer, (Bandung: PT
Citra Aditya Barkti, 2007), hal.26.
3 Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penarapan KUHAP:
Penyidikan dan Penuntutan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), hal.158.
4 Yahya Harahap, op.cit., hal.158

dua cara, yaitu:5


1. Penangkapan Tanpa Surat Perintah
Pada dasarnya setiap orang dapat melakukan penangkapan dengan syarat dalam
keadaan tertangkap tangan. Tertangkap tangan menurut Pasal 1 butir 19 KUHAP
adalah tertangkapnya seseorang saat sedang melakukan tindak pidana; dengan
segera setelah dilakukannya tindak pidana; sesaat setelah masyarakat meneriaki
pelaku tindak pidana; dan setelah ditemukan benda yang diduga keras digunakan
untuk melakukan tindak pidana, dimana benda tersebut menunjukkan bahwa ia
adalah pelakunya atau turut melakukan atau melakukan tindak pidana tersebut.
Setelah dilakukan penangkapan tanpa surat perintah, polisi harus memperhatikan
hal-hal ketentuan dalam Pasal 111, Pasal 18 ayat (2), Pasal 5 ayat (2) KUHAP.
2. Penangkapan Dengan Surat Perintah
Syarat penangkapan dengan surat perintah adalah sebagaimana syarat
penangkapan pada umumnya yang dinilai sah apabila memenuhi syarat yang telah
ditentukan peraturan perundang-undangan sebagai berikut:6
a. Petugas yang diperintahkan melakukan penangkapan harus
membawa surat perintah penangkapan. Surat perintah penangkapan
merupakan syarat formal yang bersifat imperatif. Hal ini demi
kepastian hukum dan menghindari penyalahgunaan jabatan serta
menjaga ketertiban masyarakat.
b. Surat perintah penangkapan harus diperlihatkan kepada orang yang
disangka melakukan tindak pidana. Surat tersebut berisi :
1) Identitas tersangka, seperti nama, umur, dan tempat tinggal.
Apabila identitas dalam surat tersebut tidak sesuai, maka
yang bersangkutan berhak menolak sebab surat perintah
5 Sitompul, Polisi dan Penangkapan, (Bandung: Tarsito, 1985), hal.10.

6 Yahya Harahap, op.cit., hal.159-160

10

tersebut dinilai tidak berlaku.


2) Alasan penangkapan, misalnya untuk pemeriksaan atas
kasus pencurian dan lain sebagainya.
3) Uraian singkat perkara kejahatan yang disangkakan
terhadap

tersangka,

misalnya

disangka

melakukan

kejahatan pencurian sebagaimana diatur dalam Pasal 362


KUHP.
4) Tempat pemeriksaan dilakukan.
Salinan surat perintah penangkapan harus diberikan kepada keluarga tersangka
segera setelah penangkapan dilakukan, pemberitahuan tidak dapat diberikan secara
lisan. Apabila salinan surat perintah penangkapan tidak diberikan kepada pihak
keluarga,

mereka

dapat

mengajukan

pemeriksaan

Praperadilan

tentang

ketidakabsahan penangkapan sekaligus dapat menuntut ganti kerugian.


Selain surat perintah penangkapan, aparat yang bersangkutan harus dilengkapi
dengan surat perintah tugas yang ditandatangani oleh kepala polisi atau pejabat yang
ditunjuk selaku penyidik. Isi surat perintah tugas antara lain, pertimbangan dan dasar
penangkapan; nama, pangkat, nrp, jabatan dan kesatuan tugas; tugas yang harus
dilakukan; batas waktu berlakunya perintah tugas serta keharusan untuk membuat
laporan hasil penangkapan bagi aparat yang diberi surat perintah tugas.7
Penangkapan hanya dapat dilakukan terhadap seorang yang diduga keras
melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup sebagaimana
yang diatur dalam Pasal 17 KUHAP 8. Mengenai bukti permulaan yang cukup,
KUHAP tidak mengaturnya, melainkan diserahkan kepada penyidik untuk
menentukannya. Menurut Kapolri dalam SKEP/04/I/1982 tanggal 18 Februari 1982,
bukti permulaan yang cukup merupakan keterangan dan data yang terkandung dalam
7 Sitompul, op.cit., hal.16
8 http://penangkapanpenahanandll.blogspot.co.id/2010/02/penangkapanpenahanan-penggeledahan.html

11

laporan polisi; berkas acara pemeriksaan di tempat kejadian perkara (TKP);


laporan hasil penyelidikan; keterangan saksi/ahli dan barang bukti. Sedangkan
menurut Rapat Kerja Makehjapol tanggal 21 Maret 1984 menyimpulkan bukti
permulaan yang cukup minimal laporan polisi

ditambah salah satu alat bukti

lainnya.

12

BAB IV
SIMPULAN
A. Pengertian Penangkapan
Penangkapan menurut ketentuan pasal 1 butir 20 KUHAP dinyatakan bahwa
penangkapan adalah suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara waktu
kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan
penyidikan atau penuntutan dan atau peradilan dalam hal serta menurut cara yang di
atur dalam Undang-undang ini.
B. Proses dan Syarat Penangkapan
1. Tindakan penangkapan dilakukan

untuk

kepentingan

penyidikan

penuntutan/peradilan (pasal 1 butir 20)


2. Perintah penangkapan terhadap tersangka yang diduga keras melakukan
tindak pidana, baru dilakukan apabila penyidik telah memiliki alat bukti
permulaan yang cukup; (pasal 1 butir 20 JO 17 KUHAP)
3. Pelaksanaan penangkapan dilakukan dengan surat perintah penangkapan
(model serse:A-5) yang ditanda tangani oleh kepala kesatuan/Instansi
(KAPOLWIL, KAPOLRES atau KAPOLSEK) selaku penyidik [pasal 1 butir
60 JO 16 ayat (2)]; Apabila yang melaksanakan penangkapan adalah
penyidik/penyidik membantu, maka petugasnya cukup memberikan satu
lembar kepada tersangka dan satu lembar kepada keluarga yang disangka
ditangkap (pasal 18)
4. Surat perintah penangkapan berisi:
a. Pertimbangan dan dasar hukum tindakan penangkapan
b. Nama-nam petugas, pangkat, Nrp, jabatan
c. Identitas penangkapan yang tidak ditangkap (ditulis secara lengkap atau
d.
e.
f.
5.

jelas)
Uraian singkat tentang tindak pidana yang dipersangkakan
Tempat atau kantor dimana tersangka akan diperiksa (pasal 18 ayat 1)
Jangka waktu berlakunya Surat Perintah penangkapan.
Setiap kali selesai melaksanakan SPRIN Penangkapan petugas pelaksana
membuat Berita Acara Penangkapan (model Serse

A.11.03/pasal 75

KUHAP)

13

6. Selain untuk kepentingan penyidikan, Penyidik atau Penyedik pembantu


berwenang melakukan tindakan penangkapan terhadap tersangka atau
terdakwa atas permintaan PU untuk kepentingan penuntutan, atau atas
permintaan Hakim untuk kepentingan peradilan atau atas permintaan
instansi atau penyidik lain atau Interpol (pasal 7 ayat 1 huruf j Jo pasal 1
butir 20 KUHAP)
7. Terhadap tersangka pelaku pelanggaran, meskipun tidak dapat ditangkap
akan tetapi apabila sudah dipanggil secara sah dua kali berturut-turut tidak
mau memenuhi panggilan tanpa alasan yang sah, dapat ditanggap oleh
Penyidik (pasal 19 ayat 2 KUHAP)
C. Mengapa penangkapan dilakukan
Penangkapan dilakukan antara lain guna mendapatkan waktu yang cukup untuk
mendapatkan informasi yang akurat.
D. Siapa yang berhak melakukan penangkapan
Petugas yang berwenang melakukan penangkapan adalah Polisi Republik
Indonesia (Polri) sebagaimana diatur dalam Pasal 18 KUHAP.
Pelaksanaan penangkapan menurut Drs.DPM Sitompul, SH dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu:
1. Penangkapan Tanpa Surat Perintah
2. Penangkapan Dengan Surat Perintah

DAFTAR PUSTAKA
HMA KUFFAL, SH, Penerapan KUHAP dalam Praktik Hukum
Rusli Muhammad, Hukum Acara Pidana Kontemporer, Bandung: PT Citra Aditya
Barkti, 2007
Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penarapan KUHAP: Penyidikan dan
Penuntutan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), hal.158

14

Sitompul, Polisi dan Penangkapan, Bandung: Tarsito,1985


http://penangkapanpenahanandll.blogspot.co.id/2010/02/penangkapan-penahananpenggeledahan.html

15

Anda mungkin juga menyukai