Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

GEOGRAFI REGIONAL INDONESIA (GPW 0101)


ACARA VI:
PEMAHAMAN FENOMENA ATMOSFER

Disusun oleh :
Nama

: Mohammad Farhan Arfiansyah

NIM

: 13/346668/GE/07490

Hari, tanggal : Rabu, 11 November 2014


Waktu

: 11.00-13.00 WIB

Asisten

: 1. Elisabeth Simatupang

Asisten

: 2. Septi Purnama S.

LABORATORIUM ANALISIS DATA WILAYAH


FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

ACARA 7
PEMAHAMAN FENOMENA ATMOSFER

I. TUJUAN
1. Dapat memahami kondisi karakteristik iklim tiap provinsi di Indonesia
2. Dapat memahami dan mengidentifikasi tentang potensi dan permasalahan region
II. ALAT DAN BAHAN
1. Alat tulis
2. Petunjuk praktikum Geografi Regional Indonesia
3. Pensil warna
4. Kalkulator
5. Peta administrasi Indonesia
6. Buku referensi acuan lainnya
III.

TINJAUAN PUSTAKA
Iklim adalah Sintesis kejadian cuaca selama kurun waktu yang panjang, yang secara
statistik cukup dapat dipakai untuk menunjukkan nilai statistik yang berbeda dengan
keadaan pada setiap saatnya (World Climate Conference, 1979). Unsur-unsur iklim
meliputi gerakan angin, suhu, curah hujan, keadaan atmosfer, serta siklus hidrologi. Ciri
utama iklim Indonesia adalah suhu udara tinggi sepanjang tahun (rata-rata 26C), curah
hujan tinggi, dan penyinaran matahari tinggi sepanjang tahun.
Lapisan-lapisan Atmosfer
Atmosfer terdiri atas jumlah lapisan, yaitu lapisan troposfer, stratosfer, mesoser, dan
termosfer.

Penamaan

lapisan

atmosfer

tersebut

didasarkan

pada

perbedaan

karakteristik temperatur antar lapisan.


1. Lapisan Troposfer
Lapisan pertama (lapisan terbawah) dari atmosfer adalah troposfer.
Ketinggiannya 16 km di daerah tropis dan 8 km di daerah kutub. Sebagian besar
dinamika atau gejala cuaca, seperti hujan dan angin terjadi di lapisan ini.
2. Lapisan Stratosfer
Lapisan stratosfer adalah lapisan atmosfer yang berada di bawah troposfer
dengan ketinggian sekitar 50 km dari permukan bumi. Berbeda dengan lapisan
troposfer, pada lapisan ini suhu udara naik seiring dengan bertambahnya ketinggian
tempat. Rata-rata suhu terendah mencapai -550 C dan suhu maksimum pada bagian
puncaknya mencapai -3o C.

3. Lapisan Mesosfer
Lapisan ini terletak di atas stratopause sampai ketinggian 80 km. Pada lapisan
mesosfer, suhu berkurang seiring dengan naiknya ketinggian, yaitu rata-rata 0,40 o C
tiap naik ketinggian 100 m. Pada bagian puncaknya, suhu dapat mencapai -90 o C.
Pada umumnya, meteor yang masuk ke bumi terbakar pada lapisan ini.
4. Lapisan Termosfer
Lapisan termosfer mencapai ketinggian 80 sampai 500 km dari permukaan
bumi dengan temperatur mendekati1.700o C. Bagian bawah atmosfer terdiri atas
molekulnitrogen dan oksigen. Di dalam lapisan ini, suhu meningkat seiring
meningkatnya ketinggian. Penyebab dari meningkatnya suhu tersebut adalah
penyerapan radiasi ultraviolet oleh atom oksigen yang terkonsentrasi lebih banyak di
atas ketinggian 200 km. Pada ketinggian di atas 100 km terjadi ionisasi yang
membentuk ion positif dan elektron bebas yang bermuatan negatif. Lapisan dengan
konsentrasi elektron bebas disebut ionosfer. Ionosfer dikenal sebagai lapisan yang
mampu memantulkan gelombang radio.
Siklus Hidrologi
Siklus hidrologi merupakan salah satu bagian dari iklim. Siklus hidrologi dimulai
dengan menguapnya air di laut, daratan sungai, tanaman, dan sebagainya dan kemudian
membentuk awan. Setelah uap air mencapai titik jenuh, bintik-bintik air jatuh ke tanah
dengan berbagai bentuk seperti hujan, salju dan bentuk lainnya. Air bergerak ke dalam
tanah melalui celah dan pori tanah, selain itu air dapat bergerak karena gravitasi sehingga
kembali memasuki sistem air permukaan. Air permukaan yang mengalir maupun yang
tergenang akan kembali terkumpul di lautan dan mengulang siklus.
Cuaca dan iklim, meskipun merupakan dua istilah yang berbeda, namun terdiri atas
unsur-unsur yang sama, yaitu unsur penyinaran matahari, suhu udara, angin, keadaan
awan, curah hujan, kelembapan udara, dan tekanan udara.
Penyinaran Matahari
Banyaknya panas matahari yang diterima permukaan bumi dipengaruhi oleh
sejumlah faktor, yaitu sebagai berikut.
Suhu Udara
Secara fisis suhu adalah tingkat gerakan molekul udara. Semakin cepat gerakan
molekul udara, semakin tinggi pula suhunya. Tingkat panas suatu benda dapat pula

dikatakan sebagai suhu. Untuk mengukur suhu udara digunakan termometer. Skala
yang digunakan, yaitu skala Celcius, Fahrenheit, dan Kelvin.
Angin
Angin merupakan gerakan udara mendatar atau sejajar dengan permukaan
bumi yang terjadi karena perbedaan tekanan udara antara stu tempat dan tempat
lainnya. Perbedaan tekana udara disebabkan kedua tempat tersebut memiliki suhu
yang berbeda akibat intensitas radiasi matahari yang berbeda pula. Angin bergerak
dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Jika telah mencapai keseimbangan, udara akan
cenderung diam dan tenang.
Keadaan Awan
Awan adalah kumpulan partikel air yang tampak di atmosfer. Partikel air
tersebut dapat berupa tetes cair atau kristal es. Adanya tetes partikel air berasal dari
kondensasi uap air pada inti kondensasi yang ada pada udara. Kondensasi atau
pengembunan adalah bergabungnya partikel uap air pada partikel debu sehingga
menghasilkan tetes air. Kondensasi tidak akan terjadi pada udara bersih. Sebaliknya,
akan terjadi jika di udara terdapat inti kondensasi berupa debu, asap, garam laut
(NaCl), atau benda mikroskopik yang memiliki sifat mampu menyerang
(hidroskopik).
Kelembapan Udara
Uap air berasal dari proses penguapan lautan (evaporasi) dan tumbuhan
(transpirasi). Kandungan uap air dalam udara dikenal dengan kelembapan.
Kelembapan udara dapat diukur dengan sebuah alat yang disebut higrometer.
Kelembapan udara dinyatakan dengan tiga ukuran, yaitu kelembapan mutlak,
kelembapan spesifik, dan kelembapan relatif (nisbi).
Curah Hujan (Presipitasi)
Pengertian presipitasi mecakup air dalam bentuk cair dan padat (es) yang turun
dari awan. Presipitasi dapat berbentuk hujan, gerimis, salju,dan batu es.
Di Indonesia hujan jauh lebih sering dijumpai maka hujan lebih diartikan sebagai
endapan dalam bentuk air. Ada empat jenis hujan, aytiu hujan konvektif, orografis,
konvergensi, dan frontal.
Tekanan Udara

Seperti halnya air, udara juga merupakan suatu zat. Sifat zat memiliki massa
dan volume. Oleh karena memiliki berat, udara memiliki tekanan yang disebut dengan
tekanan udara. Jika dihitung suatu kolom udara dari permukaan bumi sampai batas
tertinggi atmosfer yang berukuran 1 meter persegi, akan memiliki berat 10.333 kg atau
1033,3 gram tiap 1 cm. manusia tidak merasakan tekanan udara yang berat tersebut,
seperti halnya ikan yang tidak merasakan berat air yang ada di atasnya.
Persebaran Curah Hujan di Indonesia
I Made Sandy (1985) menggambarkan pola umum curah hujan di Indonesia sebagai
berikut:
a. Pantai barat setiap pulau mendapatkan jumlah hujan selalu lebih banyak dari pantai
timur. Hal ini tampak jelas terutama di Pulau Sumatra, Jawa, dan Kalimantan.
Sebagai contoh, untuk Pulau Jawa curah hujan tampak lebih besar di Jawa Barat
dibandingkan dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Semakin ke arah timur curah
hujan semakin sedikit.
b. Pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT merupakan barisan pulau yang panjang dan
berderet dari barat ke timur. Pulau-pulau ini hanya diselingi oleh selat-selat yang
sempit sehingga tampak secara keseluruhan seperti satu pulau. Oleh karena itu,
berlaku dalil bahwa di sebelah timur curah hujan lebih kecil dibandingkan di
sebelah barat.
c. Curah hujan juga bertambah jumlahnya dari dataran rendah ke pegunungan.
d. Bulan maksimum hujan sesuai dengan letak Daerah Konvergensi Antar Tropik
(DKAT).
e. Saat mulai turunnya hujan juga bergeser dari barat ke timur. Pantai barat Pulau
Sumatra sampai Bengkulu yang terbanyak pada November, Lampung-Bangka yang
letaknya sedikit ke timur mendapat curah hujan terbanyak pada Desember.
Sementara itu, Jawa, Bali, NTB,dan NTT pada bulan Januari dan Februari.
f. Sulawesi Selatan bagian timur, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Tengah memiliki
musim hujan berbeda, yaitu Mei-Juni. Saat itu, bagian lain dari Kepulauan
Indonesia sedang musim kemarau.

IV.

CARA KERJA

Menyiapkan alat dan bahan

Membuat tabel
rincian unsur iklim
pada masing-masing
provinsi di Indonesia
Membuat grafik pola
persebaran iklim
masing-masing pulau
di Indonesia
Membuat
pembahasan dan
kesimpulan
= Input

= Proses

= Output

V. HASIL
Pada pembelajaran praktikum ini, diperoleh hasil tentang:
1. Tabel rincian unsur iklim pada masing-masing provinsi di Indonesia (terlampir)
2. Grafik pola persebaran iklim masing-masing pulau di Indonesia Indonesia (terlampir)
VI.
VII.

PEMBAHASAN
KESIMPULAN

VIII. DAFTAR PUSTAKA


I Made Sandy. 1996. Republik Indonesia Geografi Regional. Jakarta: PT. Indograph
Bakti
Suharyano. 2005. Dasar-Dasar Kajian Geografi Regional. Semarang : Universitas
Negeri Semarang Press.
Tjasyono, Bayong. 1999. Klimatologi. Bandung: Penerbit ITB

LAMPIRAN