Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM

GEOGRAFI REGIONAL INDONESIA (GPW 0101)


ACARA VI:
PEMAHAMAN FENOMENA LITOSFER DAN PEDOSFER

Disusun oleh :
Nama

: Mohammad Farhan Arfiansyah

NIM

: 13/346668/GE/07490

Hari, tanggal : Rabu, 11 November 2014


Waktu

: 11.00-13.00 WIB

Asisten

: 1. Elisabeth Simatupang

Asisten

: 2. Septi Purnama S.

LABORATORIUM ANALISIS DATA WILAYAH


FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

ACARA 6
PEMAHAMAN FENOMENA LITOSFER DAN PEDOSFER

I. TUJUAN
1. Dapat memahami karakteristik geologi pulau-pulau besar di Indonesia
2. Dapat memahami dan mengidentifikasi tentang potensi dan permasalahan region
II. ALAT DAN BAHAN
1. Alat tulis
2. Petunjuk praktikum Geografi Regional Indonesia
3. Pensil warna
4. Kalkulator
5. Peta administrasi Indonesia
6. Buku referensi acuan lainnya
III.

TINJAUAN PUSTAKA
Litosfer adalah lapisan bumi yang paling luar, yang sebagian besar berbentuk
batuan padat. Litosfer tersusun atas dua lapisan yaitu kerak dan selubung/mantel yang
tebalnya sekitar 50 100 km. Litosfer merupakan lempeng yang bergerak akibat adanya
pergerakan magma di bawahnya sehingga dapat menimbulkan pergeseran benua.
Ketebalan lapisan kulit bumi tidak sama di semua tempat. Secara umum tebal kerak
bumi di bawah benua adalah 20 50 km, sedangkan di bawah samudera tebalnya 10 -12
km. Meskipun berbeda, kerak bumi masing-masing tersusun atas lapisan yang sama,
yaitu lapisan sial (silisium dan alumunium) serta lapisan sima (silisium dan magnesium).
Lapisan sial berada di bagian atas dari kerak bumi, sedangkan lapisan sima berada di
bagian bawah kerak bumi.
Lapisan yang berada paling luar kerak bumi bersifat granitis sehingga disebut
lapisan granitis. Hal ini karena materi penyusun lapisan yang dominan berupa batuan
granit. Lapisan granitis sekitar 10 km. Namun, lapisan granitis tidak terdapat di semua
tempat.
Setelah lapisan granitis terdapat lapisan yang bersifat basaltis sehingga disebut
lapisan basaltis. Hal itu karena materi penyusun lapisan yang dominan berupa materi
basalt bersifat basa. Lapisan basaltis tebalnya mencapai 50 km.
Batuan adalah suatu bahan yang keras dan koheren yang telah terkonsolidasi dan
tidak dapat digali dengan cara biasa. Pada pengertian lainnya, batuan adalah material
yang membentuk kulit bumi termasuk fluida yang berada didalamnya. Induk batuan
pembentuk litosfer adalah magma, yaitu batuan cair pijar yang bersuhu sangat tinggi yang

terdapat di bawah kerak bumi. Magma mengalami beberapa proses perubahan sehingga
menjadi batuan. Berdasarkan proses pembentukannya, batuan dapat dibedakan menjadi
batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf.
.
1. Batuan beku
Batu beku (igneous rock) adalah batuan yang terbentuk dari magma yang
membeku. Batuan beku adalah batuan yang terbentuk sebagai hasil pembekuan
daripada magma. Magma adalah bahan cair pijar di dalam bumi, berasal dari bagian
atas selubung bumi atau bagian bawah kerak bumi, bersuhu tinggi (900 1300 oC)
serta mempunyai kekentalan tinggi, bersifat mudah bergerak dan cenderung menuju
ke permukaan bumi.
Secara umum batuan beku mempunyai ciri-ciri homogen dan kompak, tidak ada
pelapisan, dan umumnya tidak mengandung fosil. Batuan beku di bedakan mejadi
dua

kelompok,

yaitu

berdasarkan

tempat

pembekuannya

dan

berdasarkan mineral penyusunanya.


a. Berdasarkan Tempat Pembentukannya
Berdasarkan tempat pembekuannya batuan beku dibedan menjadi tiga, yaitu
batuaan beku dalam, batuan beku korok (gang), dan batuaan beku luar.
1) Batuan Beku Dalam
Batuan beku dalam adalah batuan beku yang terbentuknya jauh di
permukaan bumi, yaitu pada kedalaman 15 50 km. Karena tempat
pembekuannya dekat dengan astenosfer, pendinginan magmanya sangat lambat
sehingga menghasilkan batuan yang besar-besar dengan tekstur holokristalin,
yaitu semua komposisi batuan disusun oleh kristak yang sempurna. Ciri-ciri
batuan beku dalam antara lain sebagai berikut.
a) Umumnya berbutir lebih kasar dibadingkan batuan beku luar.
b) Jarang menunjukkan adanya lubang-lubang gas.
2) Batuan Beku Korok (Gang)
Batuan beku korok (gang) adalah batuan beku yang terbentuk di daerah
korok atau celah kerak bumi sebelum magma sampai ke permukaan bumi.
Proses pembekuan magma ini agak cepat sehingga membentuk batuan yang
mempunyai kristal-kristal yang kurang sempurna. Misalnya, magma yang
mempunyai susunan granit membeku di dalam sebuah gang akan membentuk
sebuah batuan beku yang disebut porfiri granit.

3) Batuan Beku Luar


Batuan beku luar atau disebut juga batuan lelehan adalah batuan beku
yang terbentuk di permukaan bumi. Magma yang ke luar dari bumi mengalami
proses pendinginan dan pembekuan sangat cepat sihingga tidak menghasilkan
kristal-kristal batuan. Contoh batuan beku luar adalah riolit dan basal.
a) Berdasarkan Mineral Penyusun.
Berdasarkan mineral penyusunya batuan beku dibedakan
menjadi dua, yaitu mineral ringan dan mineral berat
1) Batuan Beku Mineral Ringan
Batuan beku yang tersusun atas mineral-mineral ringan
biasanya berwarna terang, mudah pecah, dan banyak mengandung
silikat sehingga termasuk batuan yang bersifat asam.
2) Batuan Beku Mineral Berat
Batuan beku yang tersusun atas mineral-mineral berat biasanya
berwarna gelap, sukar pecah dan kandungan silikatnya sedikit
sehingga termasuk batuan yang bersifat basa.
2. Batuan Sedimen
Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk karena adanya proses
pengendapan (sedimentasi). Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk oleh
konsolidasi sedimen, sebagai material lepas, yang terangkut ke lokasi
pengendapan oleh air, angin, es dan longsoran gravitasi, gerakan tanah atau tanah
longsor.
Butir-bitir batuan sedimen berasal dari berbagai macam batuan melalui
proses pelapukan, baik pelapukan oleh angin maupun air. Butiran-butiran hasil
pelapukan atau pengikisan tersebut mengnedap secara berlapis yang makin lama
makin tebal dan padat. Padatnya lapisan itu disebabkan adanya tekanan atau
beban yang terlalu berat. Tekanan yang terlalu lama membentuk agregat batuan
yang padat. Karena pemadatan dan sedimentasi itulah endapan-endapan
berangsur-angsur berubah menjadi batuan sedimen.
Proses pembentukannya, batuan sedimen disebut diagenetis. Diagenetis
merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan terjadinya perubahan bentuk
(trasformasi) dari bahan deposit menjadi batuan endapan. Pengendapan bahanbahan yang tidak larut dalam pergerakan air tanah menyebabkan terikatnya

butiran secara bersama-sama karena ada proses penyemenan (sedimentasi). Jenisjeis semen antara lain kalsium karbonat dan silikat. Silikat dapat mengikat butiran
secara bersama-sama menjadi sebuah partikel yang keras.
Setelah penimbunan, banyak mineral yang mungkin merubah menjadi bentuk
yang lebih stabil melalui proses rekristalisasi. Perubahan kimia juga merupakan
proses penting dalam mempengaruhi sedimen. Dengan adanya oksigen, bahan
organik dapat diubah dengan cepat menjadi karbon dioksida dan air. Jika oksigen
tidak cukup, bahan organik tidak selalu membusuk (rusak) dan mungkin secara
perlahan diubah menjadi karbon padat dalam bentuk gambut atau batu bara.
Batuan sedimen dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu menurut tenaga
yang mengendapkan, tempat pengendapan, dan cara pengendapan.
a). Menurut Tenaga yang Mengendapkannya
Menurut tenaga yang mengendapkan batuan sedimen dibedakan menjadi
tiga.
1) Batuan sedimen Akuatis, yaitu batuan sedimen yang berasal dari
pengnedapan butiran-butiran batuan oleh air sungai, danau, atau air hujan.
2) Batuan Sedimen Aerolis (Aeris), yaitu batuan sedimen yang berasal dari
pengendapan butir-butir batuan olrh angin.
3) Batuan Sedimern Glasial, yaitu batuan sedimen yang berasal dari
pengendapan butiran-butiran batuan oleh gletser
b). Menurut Tempat Pengendapan
Menurut tempat pengendapannya batuan sedimen dibedakan menjadi lima.
1) Batuan Sedimen Terestris, yaitu batuan sedimen yang di endapkan di darat.
2) Batuan Sedimen Marine, yaitu batuan sedimen yang diendapkan di laut.
3) Batuan Sedimen Limnis, yaitu batuan sedimen yang diendapkan di danau.
4) Batuan Sedimen Fluvial, yaitu batuan sedimen yang diendapkan di sungai
5) Batuan Sedimen Sedimen, yaitu batuan sedimen yang diendapkan di
daerah-daerah yang terdapat es atau gletser.
c.) Menurut Cara Pengendapannya
Menurut cara pengendapannya batuan sedimen dibedakan menjadi tiga.
1) Batuan Sedimen Mekanis, yaitu batuan sedimen yang diendapkan secara
mekanis tanpa mengubah susunaan kimianya. Sebuah pengamatan
menunjukkan bahwa batuan kerikil ataun pasir merupakan potongan
sederahana dari batuan dan mineral.

2) Batuan Sedimen Kimiawi, yaitu batuan sedimen yang diendapkan secara


kimiawi. Pada proses pembentukan batuan ini terjadi perubahan susunan
kimianya. Contohnya, batau kapur.
3) Batuan Sedimen Organik, yaitu batuan sedimen yang diendapkan melalui
kegiatan organik. Contohnya terumbu karang.
3. Batuan Malihan (Metamorf)
Batuan metamorf adalah batuan yang telah mengalami perubahan, baik secara
fisik maupun kimiawi sehingga menjadi bebeda dari batuan induknya. Batuan
Metamorf adalah Batuan asal atau batuan induk baik berupa batuan beku, batuan
sedimen maupun batuan metamorf dan telah mengalami perubahan mineralogi,
tekstur serta struktur sebagai akibat adanya perubahan temperatur (di proses atas
diagenesa dan di bawah titik lebur; 200-350oC < T < 650-800oC) dan tekanan yang
tinggi (1 atm < P < 10.000 atm). Faktor-faktor yang mempengaruhi proses
perubahana batuan adalah suhu yang tinggi, tekanan yang kuat, dan waktu yang
lama.
Batuan metamorf dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu metamorf kontak
(metamorf termal), metamorf dinamo (metamorf kinetik), dan metamorf
pnumatolistis kontak
a. Metamorf Kontak (Metamorf Termal)
Batuan metamorf kontak adalah batuan yanag berubah karena pengaruh
suhu yag sangat tinggi. Suhu sangat tinggi karena letaknya dekat dengan magma,
antara lain di sekitar batuan intrusi. Contohnya, batalit, stock, lakolit, sill, dan
dike. Luas zona metamorfosis di sekitar batolit dapat mencapai puluhan
kilometer persegi, di skitar stock sampai ribuan meter persegi, namun di sekitar
sill dan dike zona metamorfosis ersebut tidak begitu luas.
Pada zona metamorfosis banyak dijumpai mineral-mineral bahan galian
yang letaknya relatif teratur menurut jauhnya dari batuan intrusi. Makin jauh
dari intrusi makin berkurang derajat metamorfosisnya karena temperatur makin
rendah. Mineral-mineral bahan galian yanga terjadi melalui proses metamorfosis
antara lain besi, timah, tembaga, dan zink (seng) dihasilkan dari batuan
limestone, dan calcareous shale.
b. Metamorf Kontak
Batuan metamorf kontak adalah batuan yang berubah karena pengaruh
tekanan yang sangat tinggi, dalam waktu yang sangat lama, dan dihasiklkan dari

proses pembentukan kulit bumi oleh tenaga endogen. Adanya tekanan dari arah
yang berlawanan menyebabkan butiran-butiran mineral menjadi pipih dan ada
yang mengkristal kembali, contohnya, batu lumpur (mudstone) menjadi batu
tulis (slate).
Jenis batuan metamorf dinamo banyak dijumpai di daerah-daerah
patahan dan lipatan yang tersebar di seluruh dunia.
c. Metamorf Pneumatolistis Kontak
Batuan metamorf pneomatolistis kontak adalah batuan yang berubah
karena pengaruh gas-gas dari magma. Contohnya, kuarsa dengan gas borium
berubah menjadi turmalin (sejenis permata) dan kuarsa dengan gas fluorium
berubah menjadi topas (permata berwarna kuning).
Berdasarkan pengetahuan tentang batuan beku, sedimen, dan metamorf
serta proses pembentukannya, ternyata terdapat hubungan antarjenis batuan
tersebut. Oleh karena itu, dapat dibuat dengan skema tentangdaur batuan mulai
dari magma yang membeku menjadi batuan beku, kemudian mengalami
pelapukan dan erosi, mengalami pengendapan, menjadi batuan sedimen, dan
selanjutnya mengalami perubahan bentuk menjadi batuan metamorf.
Mekanisme daur batuan di alam dapat diuraikan sebagai berikut.
1) Magma mengalami proses pendinginan sehingga terjadi kristalisasi
membentuk batuan beku (batuan beku dalam, beku gang, dan beku luar).
2) Batuan beku mengalami pelapukan dan erosi, terangkut dalam bentuk
larutan atau bukan larutan, kemudian diendapkan sehingga terjadi proses
sedimentasi membentuk batuan sedimen. Namun, ada pula yang langsung
mengalami perubahan bentuk menjadi batuan metamorf.
3) Batuan sedimen dapat mengalami perubahan menjadi batuan metamorf.
Selanjutnya,batuan metamorf yang mendekati astenosfer dapat berubah lagi
menjadi magma atau adanya magma baru yang menjadi batuan beku lagi.
Demikian seterusnya.

Profil Fisiografi Makro Indonesia


Indonesia memiliki banyak sekali potensi sumber daya alam maupun buatan, salah
satunya tanahnya yang relatif subur. Tanah merupakan suatu benda alam yang menempati
lapisan kulit bumi yang teratas dan terdiri atas butir tanah, air, udara, sisa tumbuh-tumbuhan
dan hewan, yang merupakan tempat tumbuhnya tanaman.

Jenis tanah di Indonesia sangat beragam tergantung dari proses pembentukannya.


Jenis-Jenis Tanah yang terdapat di Indonesia adalah andosol, regosol, aluvial, gambut,
terarosa. Andosol merupakan hasil pelapukan dari abu vulkanis, sehingga banyak di temui di
Jawa Bagian tengah, Sumatera bagian barat dan beberapa daerah yang masih terdapat gunung
berapi. Tanah Aluvial merupakan tanah hasil erosi dan banyak dijumpai di dataran rendah
banyak ditemui di Pulau Jawa, Pesisir Barat Sumatera dan Sulawesi. Tanah ini merupakan
tanah yang subur sehingga mampu dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan palawija. Tanah
gambut merupakan hasil pembusukan bahan-bahan organic di daerah yang selalu tergenang
air, tanah jenis ini sebagian besar terdapat di Pesisir Timur Sumatera, Kalimantan, Sulawesi
dan Papua. Tanah Terarosa merupakan tanah hasil pelapukan batuan kapur, tanah jenis ini
banyak ditemukan di Jawa bagian selatan sebelah timur yaitu di Pegunungan Seribu.
Topografi makro di Indonesia juga sangat beragam. Pulau Sumatera dapat diringkas menjadi
dua bagian yaitu bagian timur dan barat. Bagian barat pulau sumatera memiliki topografi
berbukit sedangkan bagian timur landai. Pulau Jawa dapat dibagi dua zona yaitu zona utara
dan selatan, bagian utara pulau jawa relatif landai sedangkan dibagian tengah dan selatan
memiliki topografi bergunung dan berbukit. Pulau Kalimantan sebagian besar memiliki
topografi landai, sedangkan Sulawesi memiliki topografi berbukit dan bergunung. Pulau
Papua dapat dibagi dua zona yaitu zona utara selatan dan tengah. Zona tengah Papua memiliki
topografi berbukit dan bergunung karena terdapat Pegunungan Jayawijaya.
Proses Pembentukan Tanah
Tanah merupakan hasil dari pelapukan batuan yang terjadi secara alami. Proses
pembentukan tanah diawali dengan batuan yang berinterkasi langsung dengan atmosfer dan
hidrosfer sehingga memicu terjadinya pelapukan kimiawi. Batu yang lunak akan terus terjadi
pelapukan sehingga muncul calon makhluk hidup, setelah itu tumbuhan perintis mulai tumbuh
dan akarnya membentuk rekahan sehingga terjadi pelapukan biologis. Akhirnya batuan lapuk
berubah menjadi tanah yang relatif subur.

IV.

CARA KERJA

Membuat tabel
perbandingan
kondisi fisiografi
makro pada masingmasing pulau besar
di Indonesia

Menyiapkan alat dan bahan


Membuat tabel
perbandingan
kondisi batuan pada
masing-masing pulau
di Indonesia

Membuat tabel jenis


tanah pada masingmasing pulau besar
di Indonesia

Membuat peta
sebaran dan jenis
tanah di Indonesia
Membuat
pembahasan dan
kesimpulan

= Input

= Proses

= Output

V. HASIL
Pada pembelajaran praktikum ini, diperoleh hasil tentang:
1. Tabel perbandingan kondisi fisiografi makro pada masing-masing pulau besar di
Indonesia (terlampir)
2. Tabel perbandingan kondisi batuan pada masing-masing pulau di Indonesia
(terlampir)
3. Tabel jenis tanah pada masing-masing pulau besar di Indonesia (terlampir)
4. Peta sebaran dan jenis tanah di Indonesia (terlampir)
VI.
VII.

PEMBAHASAN
KESIMPULAN

VIII. DAFTAR PUSTAKA


I Made Sandy. 1996. Republik Indonesia Geografi Regional. Jakarta: PT. Indograph
Bakti
Suharyano. 2005. Dasar-Dasar Kajian Geografi Regional. Semarang : Universitas
Negeri Semarang Press.
Wibowo, Rudi dan Soetriono. 2004. Konsep, Teori, dan Landasan Analisis Wilayah.
Malang : Bayu Media

LAMPIRAN