Anda di halaman 1dari 11

TRANSMISI SINAPSIS: TRANSMISI KIMIA BERDASARKAN SINYAL-SINYAL

DARI NEURON YANG SATU KE NEURON YANG LAIN


Neuron berkomunikasi melalui sinapsis dan perantaranya adalah substansi kimia yang
dilepaskan oleh terminal button. Substansi kimia ini disebut dengan substansi transmitter
atau neurotransmitter yang berdifusi diantara celah terminal button dengan membran dari
neuron penerima. Macam substansi transmitter ini akan menentukan efek pembangkitan
(excitatory) atau efek penghambatan (inhibitory).
1. STRUKTUR SINAPSIS
Sitoplasma dalam terminal button, terdiri dari pembuluh sinapsis (synaptic
vesicles), yang terletak dekat dengan membran pre-synaptic; mitokondria yang berfungsi
sebagai sumber energi; dan cistern as yang merupakan pembungkus dari neurotransmitter
yang bentuknya seperti Badan Goigi di sel-sel tubuh manusia. Selain bagian-bagian
tersebut, membran presinapsis dan membran postsinapsis adalah bagian penting dalam
mekanisme transmisi sinapsis. Diantara membran presinapsis dan membran postsinapsis
terdapat celah yang disebut synaptic cleft, yang jaraknya tergantung tugas masing-masing
neuron. Umumnya, lebar celah ini adalah sekitar 200 ( = angstroms, dimana 1
sarna dengan 1/10.000 mm). Dalam celah sinapsis ini terdapat cairan ekstrasel tempat
substansi neurotransmitter akan berdifusi.
Neurotransmitter diproduksi oleh soma sel dan dialirkan ke terminal button
melalui microtubules di sepanjang axon. Proses ini disebut dengan axoplasmic transport.
Membran postsinapsis merupakan membran yang paling tebal dibandingkan dengan
membran di bagian-bagian lain. Ia mengandung molekul-molekul protein yang yang
mampu mendeteksi hadimya substansi transmitter di celah sinapsis dan selanjutnya
mampu untuk mengubah potensial membran dan terjadilah proses yang akan menghambat
atau meningkatkan aktivitas neuron penerima.
2. MEKANISME TRANSMISI SINAPSIS
Transmisi sinapsis berlangsung melalui dua macam proses transmisi neurokimia
yang berbeda satu sarna lain, yaitu small-molecule neurotransmitters dan large-molecule
neurotrnsmitters.
a. Small-Molecule Neurotransmitters
Proses ini dimulai dengan berkumpulnya substansi kimia di dalam cisterna
yang akan disimpan di dekat membran presinapsis (membran presinapsis kaya akan
kelenjar-kelenjar yang mengandung kalsium. Bila mendapat stimulasi dari potensial

aksi, saluran kalsium tadi akan terbuka dan ion Ca++ akan masuk ke dalam button.
Masuknya Ca++ akan mendorong pembuluh sinapsis untuk melakukan kontak dengan
membran presinapsis dan melepaskan isinya ke dalam celah sinapsis. Proses ini
disebut dengan exocytosis. Proses ini berlangsung pada setiap kali stimulasi dari
potensial aksi terjadi. Ia langsung menyampaikan pesan kepada reseptor postsinapsis
yang ada di sekitarnya (lokal).
b. Large-molecule Neurotransmitters
Proses exocytosis juga terjadi, namun untuk largemolecule neurotransmitter,
substansi kimia yang dibutuhkan akan berkumpul dalam Badan Goigi dan dialirkan ke
buttons melalui microtubules. Proses exocytosisnya tetap sarna, namun bila smallmolecule berlangsung pada setiap kali terjadi stimulasi; proses exocytosis largemolecule akan berlangsung secara bertahap. Large-molecule umumnya juga tidak
dilepaskan pada celah sinapsis, namun dilepaskan pada cairan ekstrasel dan pembuluh
darah. Oleh karena itu proses large-molecule ini biasanya terjadi pada reseptor yang
letaknya jauh dari proses exocytosis dan pengaruh yang disebarkan juga tidak terbatas
pada neuron yang ada disekitarnya tetapi juga neuron-neuron yang letaknya
berjauhan. Oleh karena itu proses large-molecule neurotansmitter umumnya lebih
berfungsi sebagai neuromodulator. Proses large-molecule diperlancar dengan bantuan
proses-proses smallmolecule (sebagai second messenger/penyampai pesan sekunder).
Neuromodulator memiliki peranan yang besar dalam mengkontrol emosi dan
motivasi.

NEUROTRANSMITTER
Dalam peristiwa trasmisi, neurotransmitter yang dikeluarkan ada berbagai macam
yang

akan menentukan

proses

yang

berlangsung.

Untuk

proses

small-molecule

neurotransmitter, substansi kimia yang dihasilkan adalah amino acid neurotransmitter dan
monoamine neurotransmitter. Untuk proses large-molecule neurotransmitter, substansi kimia
yang dihasilkan adalah peptide neurotransmitter. Selain dari pengelompokan di atas, masih
ada jenis neurotransmitter lain dalam proses small-molecule neurotransmitter, yaitu
acetylcholine yang dikelompokkan tersendiri (berbeda dengan kelompok amino acid
neurotransmitter dan monoamine neurotransmitter). Jadi ada sembilan neurotransmitter yang
umum dikenal.
1) Amino Acid Neurotransmitters, adalah substansi neurotransmitter dalam proses
small molecule neurotransmitter yang bekerja dengan sangat cepat, terarah dengan
pasti di sistem saraf pusat. Ada empat jenis neurotransmitter yang berfungsi dengan
efektif, yaitu glutamate, aspartate, glycine, dan gamma-aminobutyric acid (GABA).
Ketiga substansi pertama lazim ditemui dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari,
sedangkan GABA adalah substansi protein yang merupakan modifikasi proses sintesa
sederhana dari

struktur glutamate.

Glutamate

diketahui

sebagai substansi

neurotransmitter yang memiliki fungsi meningkatkan aksi (excitatory) di Susunan


Saraf Pusat pada mamalia, sedangkan GABA memiliki fungsi untuk menghambat
aksi (inhibitory) meskipun menurut penelitian terakhir; GABA juga memiliki efek
excitatory pada sinapsis-sinapsis tertentu.
2) Monoamine Neurotransmitters, adalah substansi neurotransmitter lain yang
digunakan dalam proses small-molecule neurotransmitter. Setiap jenis monoamine
disintesa dari asam amino tunggal, bentuknya sedikit lebih besar, dan efeknya
cenderung lebih menyebar. Monoamine neurotransmitter, sebagian besar terdapat
dalam kelompok-kelompok kecil neuron yang soma selnya terletak di batang otak.
Neuron-neuron ini umumnya memiliki eabang yang sangat banyak.
Ada empat jenis monoamine neurotransmitter, yaitu norepinephrine,
epinephrine, dopamine, dan serotonin. Keempatjenis itu dikelompokkan dalam dua
kelompok besar berdasarkan kesamaan struktur. Noepinephrine, epinephrine, dan
dopamine dikelompokkan dalam cathecolamines. Tiap jenis neurotransmitter dalam
kelompok cathecolamine disintesa dari asam amino yang bemama tyrosine. Tyrosine
diubah menjadi L-DOPA, L-DOPA kemudian diubah menjadi dopamine. Neuron
yang melepaskan norepinephrine memiliki enzim ekstra yang tidak dilepaskan.

Enzim ini akan mengubah dopamine menjadi norepinephrine yang lain. Demikian
pula halnya dengan neuron yang melepaskan epinephrine, ada enzim ekstra yang
tidak dilepaskan, dan enzim ini akan mengubah norepinephrine menjadi epinephrine
yang lain.
3) Acetylcholine. Acetylcholine (Ach) juga termasuk dalam substansi neurotransmitter
yang

dilepaskan

dalam

proses

small-molecule

neurotransmitter.

Proses

pembentukannya bukan berasal dari asam amino, melainkan dari penggabungan


kelompok

substansi

acetyl

dengan

molekul

cholin.

Acetylcholin

adalah

neurotransmitter yang terletak pada pertemuan neuron-neuron otot, terutama pada


sistem

sarafotonom

(bagian

saraf

otonom

yang

lain

dikendalikan

oleh

norepinephrine) dan juga pada sinapsis-sinapsis di system saraf pusat. Acetylcholine


akan dinon-aktitkan dicelah sinapsis dengan cara penghancuran oleh enzym
acetylcholinesterase, sedangkan neurotransmitter dalam proses smallmolecule
neurotransmitter yang lain akan dinon-aktitkan dengan proses pengembalian
substansi ke dalam terminal button.
4) Neuropeptides. Sekitar 40 jenis peptida diperkirakan memiliki fungsi sebagai
neurotransmitter. Daftar peptida ini semakinpanjang dengan ditemukannya putative
neurotransmitter (diperkirakan memiliki fungsi sebagai neurotransmitter berdasarkan
bukti-bukti yang ada tetapi belum dapat dibuktikan secara langsung). Neuropeptida
sudah dipelajari sejak lama, namun bukan dalam fungsinya sebagai neurotransmitter,
namun fungsinya sebagai substansi hormonal. Peptida ini mula-mula dilepaskan ke
dalam aliran darah oleh kelenjar endokrin, kemudian hormon-hormon peptida itu
akan menuju ke jaringan-jaringan otak. Dahulu para ahli meyangka bahwa peptida
dihasikan dalam kelenjar hormon danmasuk ke dalamjaringan otak, namun saat ini
sudah dapat dibuktikan bahwa peptida yang berfungsi sebagai neurotransmitter, dapat
disintesa dan dilepaskan oleh neuron di susunan saraf.

PENGARUH OBAT-OBATAN TERHADAP TRANSMISI SINAPSIS


Obat -obatan memiliki dua efek dasar terhadap proses transmisi sinapsis, yaitu
menghambat (inhibitory); atau meningkatkan aktivitas (excitatory). Obat-obatan yang
meningkatkan aktivitas proses sinapsis disebut sebagai agonist dari neurotransmitter yang
berperan dalam proses sinapsis tersebut, sedangkan obat-obatan yang menghambat aktivitas
proses sinapsis disebut sebagai antagonist dari neurotransmitter yang bersangkutan dalam
proses sinapsis tersebut.
Proses transmisi sinapsis umum terjadi yang berlangsung dalam 7 tahap sebagai
berikut: (1) Molekul neurotransmitterdisintesa/diproduksi oleh substansi-substansi kimia
dalam sitoplasma dengan bantuan enzym-enzym tertentu; (2) Molekul-molekul tersebut
kemudian disimpan pada kelenjar sinapsis (synaptic vesicles); (3) Molekul neurotransmitter
yang keluar dari synaptic vesicle karena suatu kebocoran, akan dihancurkan oleh enzymenzym disekitarnya; (4) Bila terjadi potensial aksi di synaptic button, vesicle akan
bersentuhan dengan membran presinapsis dan molekul neurotransmitter dilepaskan ke celah
sinapsis; (5) di celah synapsis, molekul neurotransmitter yang tidak mengikatkan diri pada
reseptor di membran presinapsis (karena neurotransmitter yang dilepaskan sudah cukup untuk
meneruskan impuls) akan masuk kembali ke dalam synaptic vesicles yang melepaskannya
(autoreceptor) dan sekaligus menghambat pelepasan neurotransmitter; (6) Neurotransmitter
yang sampai pada reseptor di membran postsinapsis akan meneruskan aktivitas sesuai dengan
pesan yang dibawanya; (7) proses neurotransmitter ini akhimya berhenti; baik karena
mekanisme penarikan neurotransmitter ke synapsis vesicles maupun oleh enzim-enzim di
celah sinapsisyang memecah molekul-molekul neurotransmitter ini menjadi substansi yang
tidak digunakan lagi.
A. Mekanisme Efek Obat-obatan Agonistik
Efek obat-obatan Agonistik berperan dalam 6 tahap proses neurotransmitter di
atas, yaitu proses 1, 3,4, 5, 6, 7. Untuk keterangan lebih lanjut, perhatikan gambar di
bawah ini.

B. Mekanisme Efek Obat-Obatan Antagonistik


Obat-obatan terbukti memiliki pengaruh antagonistik dalam 5 tahap proses
neurotransmitter. Mekanisme antagonistis yang mempengaruhi 5 tahap neurotransmitter
dilihat pada gambar 3.18 di bawah ini. Obat-obatan yang menimbulkan efek antagonistik
terjadi dengan cara mengikat reseptor postsynapsis dan memblocking neurotransmitter
yang akan keluar. Kondisi ini sering disebut dengan false transmitter (transmitter palsu).
C. Efek Agonistik dan Antagonistik
Dalam dunia medis dikenal berbagai macam obat-obat yang memiliki efek
agonistik dan antagonistik, namun pada bagian ini hanya akan diperkenalkan 4 macam
obat. Dua macam obat yang memberi efek agonistik adalah morphine dan benzodiazepin;
dan obat yang memberi efek antagonistik adalah atropine dan d-tubocurarine.

1) Morphine
Salah satu jenis yang dikenal adalah opium yang didapatkan dari ekstrak
bunga opium. Opium telah lama digunakan sebagai penimbul efek rasa gembira
(euphoria) selain digunakan sebagai campuran obat-obatan untuk mengurangi rasa
sakit, obat batuk dan obat diare.
Zat yang aktif dalam opium disebut morphine (dinamakan berdasarkan nama
Dewa Mimpi; Morpheus). Morphine bereaksi dengan mengaktifkan reseptor di otak
yang secaranormal distimulasi oleh golongan neuropeptida yang disebut endorphins
sehingga dapat dikatakan bahwa morphine adalah agonist dari endorphin. Sebutan
endorphine juga sering digunakan untuk menyebut substansi-substansi sejenis
morphine yang secara alami diproduksi oleh otak.
2) Benzodiazepine
Chlordiazepoxide (dijual dengan label Librium) dan diazepam (dijual dengan
label Valium) masuk dalam kelas obat-obatan benzodiazepine. Benzodiazepin
memiliki

efekanxiolytic

(pengurang

kecemasan),

sedative

(menimbulkan

rasamengantuk atau ingin tidur) dan anticonvulsant (anti kejang). Efek anti
kecemasan yang ditimbulkan benzodiazepin berlangsung dengan efek agonist bagi
substansi GABA. Benzodiazepin mengikat sebagian reseptor substansi GABA tapi
efek agonisnya tidak dapat mempengaruhi aktivitas GABA. Artinya benzodiazepin
tidak menghentikan saran sekali reaksi GABA tetapi hanya menghambat saja.
Umumnya benzodiazepin mengikat GABA di amygdala; yaitu bagian otak yang
banyak berperan dalam emosi dan aktivitas lobus temporal.
3) Atropine
Sejak zaman dahulu, obat-obatan banyak yang dihasilkan oleh ekstrak
tumbuh-tumbuhan. Contohnya ekstrak tanaman belladonna (belladonna =perempuan
cantik) di zaman Hippocrates yang banyak digunakan untuk menyembuhkan sakit
perut dan membuat mereka tambah menarik, selain itu efek dari ekstrak belladonna
adalah efek dilatasi pada pupil (pupil menjadi membesar). Kondisi pupil yang
membesar bagi sebagian besar wanita Yunani zaman itu dianggap menjadi salah satu
daya tarik mereka. Zat aktif dalam ekstrak belladonna adalah atropine yang
memberikan efek antagonis dengan cara mengikat reseptor acetylcholine tertentu,
yaitu muscarinic receptors (reseptor muskarinik). Sambil mengikat muscarinic

reseptor, ia juga bertindak sebagai substansi neurotransmitter palsu sehingga


menghambat efek acetylcholine di tempat tersebut. Efek perusak (kelebihan dosis)
dari atropine di otak, tampakjelas pada kasus Alzheimer's Disease, yaitu hilangnya
fungsi mengingat pada diri seseorang.
4) d-Tubocurarine
Indian di Amerika Selatan sering menggunakan curare, yaitu ekstrak dari kayu
vines untuk membunuh lawannya. Zat aktif dalam curare adalah d-turbocurarine
yangjuga bertindak sebagai substansi neurotransmitter palsu di sinapsis cholinergic
tetapi ia tidak mempengaruhi reseptor muscarinic, tetapi mempengaruhi nicotinic
receptors. Dengan mengikat reseptor nicotinic, d-turbocurarine membloking
transmisi saraf ke otototot gerak. d-turbocurarine tidak hanya membloking transmisi,
tetapi dalam jumlah yang besar (over dosis) dapat menghentikan gerakan organ-organ
internal sehingga terjadi hambatan dalam respirasi yang akhirnya dapat menimbulkan
kematian. Oleh karena itu apabila dalam suatu operasi digunakan d-turbocurarine
untuk membius pasien, maka mesin respirasi harus tetap dipasangkan pada pasien
untuk membantunya bernafas.

PERBEDAAN KONDUKSI NEURAL DAN TRANSMISI SINAPSIS


Pada mulanya studi tentang konduksi neural dan transmisi sinapsis hanya difokuskan
pada neuron motorik dan pertemuannya dengan neuron-neuron otot (efektor). Hal ini
dilakukan karena neuron motorik cenderung lebih besar dan sederhana sehingga lebih mudah
untuk diamati.
Dua dekade ini, penelitian sudah difokuskan pada neuron-neuron di otak sejalan
dengan peralatan observasi yang semakin canggih. Konduksi neural dan transmisi sinapsis
yang terjadi di otak, pada prinsipnya juga memiliki tahapan proses seperti yang berlangsung
di neuron motorik, namun sebagian besar melalui proses yangjauh lebih rumit. Pada bagian
ini kita tidak akan membicarakan proses yang rumit, tetapi sebatas pada prinsip-prinsip
umum dari konduksi neural dan transmisi sinapsis.
1) Tidak Semua Neuron Memiliki Axon dan Melakukan Transmisi Potensial Aksi.
Secara umum kita mengenal bentuk neuron dengan axon yang panjang, tetapi pada
kenyataannya tidak semua neuron memiliki axon seperti neuron-neuron di sistem saraf
pusat mamalia, terutamaneuron-neuron yang berperan dalam aktivitas belajar, mengingat,
motivasi, dan persepsi. Potensial aksi adalah alat dimana pesan-pesan neural disampaikan
melalui axon, sehingga neuron yang tidak memiliki axon otomatis tidak akan melakukan
transmisi potensial aksi, mereka bekerja menyampaikan pesan melalui proses yang sangat
rumit yang tidak akan dijelaskan pada bagian ini.
2) Tidak Semua Sinapsis Antar Neuron Berbentuk Axodendritic atau Axosomatic.
Sinapsis axodendritic adalah sinapsis antara button terminal dari axon pengirim dengan
dendrit dan neuron penerima dan sinapsis axosomatic adalah sinapsis yang berlangsung
antara terminal button di axon pengirim dan soma sel neuron penerima). Selain kedua
macam sinapsis tersebut, masih ban yak berbagai jenis sinapsis yang lain. Terminal button
dapat melakukan sinapsis di axon neuron penerima; batang axon kadang-kadang juga
melakukan kontak sinapsis secara langsung dengan denderit atau axon dari neuron yang
lain; selain itu dendrit juga dapat mentransmisi sinyal dengan bersinapsis ke dendrite atau
axon yang lain. Selain itu juga perlu dingat bahwa sinapsis tidak hanya berlangsung
searah, tetapi dapat berlangsung timbal balik, yaitu sinapsis yang disebut dengan
dendrodendritic synapses; kondisi ini umumnya terjadi di jendalan kecil dendrit yang
disebut dendritic spine. Selain itu masih ada bentuk axoaxonic synapses, yaitu sinapsis
yang bertujuan sebagai perantarapresynapsis inhibition. Perbedaan utama antara
presynapsis inhibition (hambatan presinapsis) seperti pada axoaxonic synapses dan
postsynapsis inhibition (hambatan postsinapsis), yaitu bahwa hambatan postsinapsis

mengurangi respon neuron terhadap semua input sinapsis, sedangkan hambatan


presinapsis mengurangi respon neuron dengan cara memilih secara selektif input
(sinapsis) yang boleh berlangsung.
3) Sebagian Besar Neuron Melepaskan Lebih dari Satu Substansi Neurotransmitter.
Neuron motorik hanya melepaskan satu substansi neurotransmitter, yaitu acetylcholine;
oleh karena itu sebelumnya para ahli menyimpulkan bahwa setiap neuron hanya
melepaskan satu jenis substansi neurotransmitter. Prinsip tersebut dikenal dengan Dale's
Principle, tetapi sejak penemuan jenis-jenis neuropeptida, maka prinsip Dale tersebut
tidak berlaku lagi. Sebuah neuron yang memproduksi lebih dari satu substansi
neurotransmitter disebut dengan coexistence
4) Tidak Semua Sinapsis Berproses Secara Langsung. Pertemuan neuron motorik dengan
neuron otot adalah sinapsis yang berproses secara langsung. Tetapi ada sinapsis yang
berlangsung dengan perantaraan aliran darah (karena letak reseptor tujuan terlalu jauh
dari tempat substansi neurotransmitter dilepaskan). Selain itu, system neuro endokrin
adalah sistem sinapsis yang berproses tidak secara langsung; ia melepaskan substansi
neurotransmitemya langsung ke dalam aliran darah dan sepanjang perjalanan menuju
reseptor tujuan ia akan mempengaruhi organ-organ tubuh yang dilaluinya.
5) Setiap Neurotransmitter Memiliki Lebih dari Satu Macam Reseptor. Setiap
neurotransmitter dapat mengikatkan diri pada lebih dari satu jenis reseptor. Jenis-jenis
reseptor yang sudah anda kenaI adalah reseptor nicotinic dan reseptor muscarinic.
Reseptor nicotinic adalah reseptor cholinergic yang mengikat zat nicotine, dan reseptor
muscarinic adalah reseptor cholinergic yang mengikat zat muscarine. Semua reseptor
yang sinapsis motorik adalah reseptor nicotinic dan reseptor di organ-organ tubuh yang
dikendalikan oleh sistem saraf parasimpatetik adalah reseptor muscarinic. Reseptor
muscarinic dan nicotinic dapat ditemukan pada sistem saraf pusat.
6) Tidak Semua Sinapsis Berlangsung Secara Kimiawi. Transmisi pada beberapa
sinapsis, disebut gap junctions, lebih bersifat elektrik daripada kimiawi. Gap Junctions
adalah sebuah celah yang sempit (sekitar 2 nanometers; dibandingkan celah sinapsis
umum yang lebamya sekitar 30 nanometer). Karena celahnya yang sempit maka aliran
aksi dapat langsung diteruskan tanpa perantara neurotransmitter. Kondisi ini banyak
ditemukan pada organisme yang kelasnya lebih rendah daripada mamalia.
7) Tidak Semua Neuron Berada dalam Kondisi Membran Tenang Bila Tidak
Distimulasi. Neum motorik akan berada pada kondisi membran tenang apabila tidak
distimulasi, tetapi neuron-neuron dalam sistem saraf pusat tidak demikian. Aktivitas

neuron-neuron di otak berlangsung secara kontinyu melalui interval tertentu dan sifatnya
spontan tanpa harus distimulasi. Oleh karena itu dapat dipahami mengapa bila terjadi
sinapsis penghambat pada sistem saraf pusat, maka hambatan itu akan merata keseluruh
bagian sistem saraf pusat.