Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

GEOGRAFI REGIONAL INDONESIA (GPW 0101)


ACARA II:
REGIONALISASI DAN TIPOLOGI WILAYAH

Disusun oleh :
Nama

: Mohammad Farhan Arfiansyah

NIM

: 13/346668/GE/07490

Hari, tanggal : Rabu, 8 Oktober 2014


Waktu

: 11.00-13.00 WIB

Asisten

: 1. Elisabeth Simatupang

Asisten

: 2. Septi Purnama S.

LABORATORIUM ANALISIS DATA WILAYAH


FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

ACARA 2
REGIONALISASI DAN TIPOLOGI WILAYAH

I. TUJUAN
1. Dapat memahami penyusunan tipologi wilayah serta memahami karakteristik wilayah
2. Dapat memahami pentingnya regionalisasi, jenis-jenis dan cara untuk melakukan
regionalisasi
II. ALAT DAN BAHAN
1. Alat tulis
2. Petunjuk praktikum Geografi Regional Indonesia
3. Kalkulator
4. Pensil warna
5. Data jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk Indonesia
6. Peta administrasi Indonesia
7. Buku dan referensi acuan lainnya
III.

TINJAUAN PUSTAKA
Geografi Regional Indonesia perlu dipahami karena memiliki cakupan kajian
wilayah yang sangat luas dengan kompleksitas yang tinggi. Oleh karena dalam
pengkajiannya diperlukan suatu cara untuk meyederhanakan sehingga wilayah
Indonesia yang luas dapat lebih mudah dikaji. Cara penyederhanaan ini disebut juga
regionalisasi atau perwilayahan. Secara umum, regionalisasi didefinisikan sebagai suatu
cara atau proses membuat region menjadi lebih kecil/sempit/sederhana yang
mempunyai sifat keseragaman (homogin), mempunyai ciri (karakteristik), dan dapat
dibedakan dengan yang lain. Menurut Sabari (1991), regionalisasi adalah usaha untuk
membagi-bagi permukaan bumi atau bagian permukaan bumi tertentu untuk tujuan
tertentu. Pembagiannya dapat mendasarkan pada kriteria-kriteria tertentu seperti
administratif, politis, ekonomis, sosial, kultural, fisis, geografis, dan sebagainya.
Perwilayahan dalam suatu program perencanaan memegang peran yang sangat penting
karena perwilayahan sangat berguna untuk mengetahui variasi karakter dalam suatu
wilayah tertentu.

wilayah

regionalisais
i

Homogeneo
us region

Pendekatan
geograf
Functional
region

Planning
region

Gambar 4.1 Regionalisasi sebagai dasar Deliniasi Ruang


Perwilayahan di Indonesia berhubungan erat dengan pemerataan pembangunan
dan mendasarkan pembagiannya pada sumberdaya-sumber daya lokal, sehingga
prioritas pembangunan dapat dirancang dan dikelola sebaik-baiknya. Perwilayahan
untuk perencanaan pengembangan wilayah di Indonesia bertujuan untuk:
1. Menyebar-ratakan pembangunan sehingga dapat dihindarkan adanya pemusatan
kegiatan pembangunan yang berlebihan di daerah tertentu.
2. Menjamin keserasian dan koordinasi antara berbagai kegiatan pembangunan yang
ada pada tiap-tiap daerah.
3. Memberikan pengarahan kegiatan pembangunan, bukan saja pada aparatur
pemerintah, baik pusat maupun daerah, tetapi juga kepada masyarakat umum dan
para pengusaha (Hariri Hadi, 1974)
Latar Belakang Regionalisasi
1. Alasan teknis
a. Agar lebih mudah mengenali.
b. Agar lebih mudah memahami.
c. Agar lebih mudah mendeskripsikan dan mengelola.
2. Alasan ekonomis
a. Agar lebih menghemat waktu dan tenaga.
b. Lebih terarah dan terkonsentrasi.
c. Mudah mengelola dan mengembangkan.
3. Alasan strategis
a. Regionalisasi menghasilkan region homogen (memiliki karakter).
b. Dalam mengembangkan daerah sering dilaksanakan sistem kebijakan atas dasar
skala prioritas atau bentuk percontohan.
c. Sehingga perlu menentukan atau memiliki daerah sempit/kecil merupakan
daerah ideal.
Menurut Sabari (1991), secara garis besar metode regionalisasi dapat dibagi dalam
dua golongan besar, yaitu penyamarataan wilayah (regional generalization) dan
klasifikasi wilayah (regional classification). Penyamarataan wilayah adalah suatu
proses/usaha untuk membagi permukaan bumi atau sebagian permukaan bumi dengan
mengubah atau menghilanhkan faktor-faktor tertentu yang kurang relevan dengan
menonjolkan karakteristik-karakteristik tertentu tentunya dengan memperhatikan skala
peta pada tujuan perwilayahan. Klasifikasi wilayah secara sistematis dengan
memperhatikan semua unsur untuk mencari perbedaan antar wilayah.
Pemahaman komprehensif terhadap wilayah juga harus diawali dengan
pemahaman batasan-batasan wilayah berdasarkan indikator tertentu, yang dalam hal ini
dinamakan tipologi. Dalam memberikan batasan/tipologi suatu wilayah, Bintarto (1986)

mengemukakan beberapa pertimbangan/kriteria, yaitu pertimbangan berdasarkan tipe,


berdasarkan hirarki/jenjang, dan berdasarkan kategori (jumlah kriteria).
Konsepsi Wilayah berdasarkan Tipe
Dalam menyoroti arti dan eksistensi wilayah berdasarkan tipenya, kita akan
mendasari pada ide-ide homogenitas dan ide-ide heterogenitas. Ide-ide homogenitas
lebih dikenal dengan istilah formal region/homogeneous region/uniform region. Dalam
hal ini, yang penting adalah keseragaman dari properti yang ada dalam wilayah itu baik
secara individual maupun gabungan dari beberapa unsur. Jadi, yang terpenting bukan
hanya batas-batas terluar dari wilayah tersebut, tetapi juga lebih ke intinya yaitu kriteria
untuk membedakan tiap daerah sesuai tujuan pemetaan. Contoh dari kriteria misalnya
ketinggian tempat, bentuk lahan, curah hujan, dll. Jadi dalam pengelompokannya
berdasarkan daerah-daerah dengan kriteria yang sama.
Pandangan tentang ide-ide heterogenitas atau

disebut

juga

wilayah

terkutub/polarized regions/wilayah inti/nodal region lebih menitikberatkan pada


hubungan fungsional. Dalam ide-ide heterogenitas, tercermin suatu pola interpendensi
dan pola interaksi antara subsistem utama ecosystem dengan subsistem utama social
system. Sedangkan penekanan utamanya pada kegiatan manusia. Secara umum, manusia
pasti

membutuhkan

ruang

untuk

melakukan

kegiatannya

(ekonomi,

politik,

administrasi, dll). Oleh karena itu, lebih menitikberatkan pada hubungan timbal balik
yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan tersebut dan dibutuhkan angkutan atau
komunikasi antar tempat-tempat yang berbeda.

Gambar 4.2 Wilayah Fungsional (Sabari, 1991)


Konsepsi Wilayah berdasarkan Hirarki

Untuk meninjau hirarki dari suatu wilayah, kita dapat melihat dari berbagai
segi misalnya dari segi ukuran (size), bentuk (form), fungsi, dan faktor-faktor lain.
Contohnya Passarge (Jerman) mengemukakan ide-ide tentang Rank of region sebagai
berikut. Satuan wilayah terkecil adalah gegend, kemudian landschafsteil, landschaft,
landsteil, dan land. Urutan-urutan wilayah ini mencerminkan orde dari suatu wilayah.
Gabungan dari gegend akan membentuk suatu wilayah disebut landschafteil, gabungan
landschafteil akan membentuk lanschaf, begitu juga seterusnya.

Gambar 4.3 Hirarki Wilayah (Sabari, 1991)


Keterangan :
A = Gegend
B =Landschaftteil
C = Landschaft

D = Landsteil
E = Land

Konsepsi Wilayah Berdasarkan Kategori


Berdasarkan kategorinya, penggolongan umum yang digunakan adalah :
wilayah bertopik tunggal (single topic region), wilayah bertopi gabungan (Combined
topic region), wilayah bertopik banyak (multiple topic region), wilayah total (total
region), dan compage.
Single topic region adalah suatu wilayah yang eksistensinya didasarkan pada
satu macam topik saja. Bila ditinjau dari tipenya wilayah ini merupakan wilayah formal
atau wilayah fungsional. Combined topic region termasuk dalam cakupan yang lebih
besar tetapi masih dalam satu topik. Multiple topic region suatu wilayah yang
eksistensinya mendasari pada topik yang berbeda satu sama lain.
Total region, dalam hal ini semua unsur wilayah tercakup dalam delimitasinya.
Regionalisasinya bersifat klasik, dimana kesatuan politik dijadikan sebagai dasarnya.
Compage region, dalam ide ini bukan banyak sedikitnya topik yang menjadi
pertimbangan utama, tetapi menonjolkan aktivitas manusianya disuatu tempat yang
menjadi dasar deliminitasinya.
IV.

CARA KERJA
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Menyiapkan data jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk
3. Membuat klasifikasi kelas jumlah penduduk di Indonesia 2 periode
4. Membuat peta regionalisasi jumlah penduduk Indonesia 2 periode

5. Menghitung laju pertumbuhan penduduk di Indonesia 2 periode


6. Membuat peta regionalisasi laju pertumbuhan penduduk di Indonesia 2 periode
7. Membuat pembahasan dan kesimpulan
V. HASIL
Pada pembelajaran praktikum ini, diperoleh hasil tentang:
1. Tabel definisi regionalisasi dan tipologi wilayah (terlampir)
2. Tabel tipologi konsepsi wilayah menurut Bintarto tahun 1986 (terlampir)
3. Perhitungan klasifikasi jumlah penduduk Indonesia menurut provinsi tahun 1990 dan
2000 beserta tabel (terlampir)
4. Peta regionalisasi jumlah penduduk Indonesia menurut provinsi tahun 1990 dan 2000
(terlampir)
5. Perhitungan klasifikasi pertumbuhan penduduk di Indonesia menurut Provinsi periode
tahun 1980-1990 dan 1990-2000 beserta tabel (terlampir)
6. Peta regionalisasi jumlah penduduk Indonesia menurut provinsi tahun 1990 dan 2000
(terlampir)
VI.

PEMBAHASAN
Regionalisasi dan tipologi wilayah merupakan pemahaman dasar geografi
regional yang pengertiannya berbeda satu sama lain, sehingga harus dipahami secara
benar agar tidak menibulkan kerancuan pemahaman. Regionalisasi adalah usaha untuk
menentukan batas wilayah yang biasanya lebih besar daripada struktur pemerintahan
lokal, dengan maksud untuk mengefektifkan dan mengefisienkan pemerintahan dan
perencanaan, baik lokal maupun nasional. Sedangkan tipologi wilayah adalah
pengklasifikasian suatu wilayah ke dalam tipe-tipe tertentu berdasarkan faktor-faktor
karakteristik tertentu seperti kepadatan penduduk, daya dukung lahan, atau karakteristik
lainnya. Dari sini dapat dibedakan bahwa tipologi wilayah dibentuk atas berdasarkan
region-region yang memiliki karakteristik yang sama sehingga dapat dianggap sebagai 1
region berdasarkan tipologinya. Sedangkan regionalisasi dibentuk agar bertujuan untuk
mengefektifkan pemerintahan dalam hal perencanaan, seperti region-region dalam
MP3EI, sehingga dalam pembentukan regionalisasi lebih ditekankan bahwa region-region
yang didelimitasi dianggap memiliki karakteristik yang sama.
Tipologi konsepsi wilayah sendiri, menurut Bintarto dapat dibedakan menjadi 3,
yaitu tipologi berdasarkan tipe, hirarki, dan karakter. Tipe terbagi atas 2 jenis, yaitu tipe
homogen dan tipe heterogen. Tipe homogen didelimitasi berdasarkan keseragaman dari
properti yang ada dalam wilayah tersebut, namun delimitasi tersebut tidak semudah
dalam teori karena tidak memiliki batas-batas yang jelas tentang perbedaan karakteristik
region, oleh karena itu dalam tipe homogen pemahamannya lebih ditekankan pada

pengenalan bagian inti. Tipe heterogen didelimitasi berdasarkan adanya berbagai gejala
yang menciptakan suatu kesatuan hubugan dan pola ketergantungan. Hal ini
mencerminkan suatu pola interaksi dan interdependensi antarasibsistem utama ekosistem
dengan subsistem utama social system, dengan memperhatikan faktor sentralitas yang
menghubungkan kesemua faktor tersebut. tipologi berdasarkan hirarki dapat dibagi
menjadi fungsi dan ukuran. Hirarki Fungsi wilayah lebih ditekankan pada sifat khasnya,
yang dapat dibagi lagi menjadi lebih detail lagi, hingga pada taraf dimana sifat tersebut
tidak dapat dibagi menjadi spesifik lagi. Hirarki fungsi ini ditentukan berdasarkan tingkat
kepentingan fungsi suatu wilayah tersebut. wilayah berdasarkan hirarki ukuran dapat
dibagi menjadi urutan yang mencerminkan orde dari suatu wilayah. Menurut ahli ilmu
wilayah Jerman, Passarge, hirarki berdasarkan ukuran dapat dibagi menjadi land,
landsteil, landschaft, landschafsteil, hingga satuan yang terkecil berupa gegend. Wilayah
berdasarkan karakter dapat dibagi menjadi 5 jenis, yaitu single topic region, combined
topic region, multiple tpic region, total region, serta compage. Sigle topic region
didelimitasi berdasarkan satu topik saja, seperti wilayah berdasarkan curah hujan.
Combined topic region didelimitasi dari beberapa gabungan topik dari single topic
region, seperti wilayah dengan karakteristik iklim, ditentukan berdasarkan data curah
hujan, masa hawa, temperatr, tekanan, dll. Multiple topic region didelimitasi berdasarkan
beberapa topik yang berbeda satu sama lain yang masih berhubungan, seperti penentuan
wilayah pertanian yang ditentukan berdasarkan tpoik iklim, geologi, hidrologi,
geomorfologi, dll. Total region didelimitasi berdasarkan kesatuan politik/segi
administratif, dengan terdapat berbagai topik wilayah di dalamnya, seperti Daerah
Istimewa Yogyakarta, daerahnya ditentukan berdasarkan perjanjian Giyanti dengan
Belanda, dengan memiliki berbagai landform seperti vulkanis, denudasional, struktural,
solusional, aeolian, marine, dan fluvial. Compage didelimitasi berdasarkan aktivitas
manusia yang menonjol baik dalam mobilitas, aktivitas politik, ekonomi dll. Sehingga
dijadikan satu wilayah, seperti wilayah Jabodetabek.
Terdapat 3 prinsip dasar untuk melakukan regionalisasi, yaitu dengan cara
regional generaization, delimitasi region secara kualitatif dan kuantitatif, serta pembuatan
klas region. Dalam praktikum ini digunakan regionalisasi dengan cara pembuatan klas
region jumlah penduduk indonesia serta laju pertumbuhan penduduk indonesia, dengan
dibagi menjadi 3 kelas. Berdasarkan hasil oengkelasan region, diketahui bahwa jumlah
penduduk Indonesia yang paling tinggi pada tahun 1990 dan 200 terkonsentrasi pada
jawa barat, jawa tengah, serta jawa timur. Hal ini terjadi karena daerah tersebut memilki
lahan yang subur akibat adanya gunung-gunung api kuarter yang mengeluarkan material

vulkanis secara teratur sehingga menyuburkan lahan pertanian. Selain itu kondisi
geologis yang sama menyebabkan pembuatan irigasi pada daerah tersebut relatif mudah,
sehingga menjadi daerah lumbung pangan nasional dan pada masa-masa tersebut
indonesia menjadi negara yang berbasis agraris. Berbagai faktor tersebut menyebabkan
daerah tersebut memiliki jumlah penduduk yang besar a=karena adanya faktor
penghidupan yang sangat layak. Namun berdasarkan hasil pengkelasan region laju
pertumbuhan region tahun 1980-1990 san 1990-2000, diketahui bahwa daerah luar pulau
jawa (prov, riau, kaltim, sultra, papua) memiliki laju pertumbuhan penduduk yang tinggi.
Hal ini lebih disebabkan karena adanya kebijakan pemerintah pada saat itu berupa
transmigrasi sehingga terjadi perubahan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi pada
daerah-daerah tujuan transmigran. Berbagai provinsi di pulau jawa cenderung memilki
tingkat laju pertumbuhan penduduk yang sedang hingga rendah, hal ini karena adanya
kebijakan transmigrasi tersebut, serta adanya program kb yang dilaksanakan pada tahuntahun tsb, sehingga relatif menghambat laju pertumbuhan penduduk yang ada di daerah di
pulau jawa.

VII.

KESIMPULAN
1. Regionalisasi dan tipologi wilayah merupakan pemahaman dasar geografi
regional yang pengertiannya berbeda satu sama lain, Regionalisasi adalah usaha
untuk menentukan batas wilayah dengan maksud untuk mengefektifkan
pemerintahan

dan

perencanaan,

Sedangkan

tipologi

wilayah

adalah

pengklasifikasian suatu wilayah ke dalam tipe-tipe tertentu berdasarkan faktorfaktor karakteristik tertentu
2. Terdapat 3 prinsip dasar untuk melakukan regionalisasi, yaitu dengan cara
regional generaization, delimitasi region secara kualitatif dan kuantitatif, serta
pembuatan klas region

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Sabari, Hadi. 1977. Prinsip-Prinsip Regionalisasi. Yogyakarta : Fakutas Geografi
UGM.
Sabari, Hadi. 1991. Konsepsi Wilayah dan Prinsip Perwilayahan. Yogyakarta : PT
Hardana Ekacitra Tunggal.
Suharyano. 2005. Dasar-Dasar Kajian Geografi Regional. Semarang : Universitas
Negeri Semarang Press.
Wibowo, Rudi dan Soetriono. 2004. Konsep, Teori, dan Landasan Analisis Wilayah.
Malang : Bayu Media

LAMPIRAN