Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH PENGEMBANGAN LAHAN BASAH

SISTEM TATA SALURAN PADA PERTANIAN LAHAN


BASAH

TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2016

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Indoensia memiliki lahan lahan basah terluas di kawasan tropika dengan bahan
sedimen yang terdiri atas tanah mineral, tanahgambut, atau kombinasi keduanya.
Diperkirakan lahan basah yang ada di Indonesia layak untuk budidaya pertanian. Lahan
basah yang cocok untuk budidaya tanaman umumnya adalah yang bebas dari pirit
minimal di zona perakaran, dan gambut tipis yang tetap bersifat hidrofobik. Lahan basah
merupakan lahan alternative untuk pengembangan pertanian. Lahan basah terdiri atas
lahan pasang surut dan lahan lebak. Sejarah pemanfaatan lahan basah seperti rawa
dilatarbelakangi oleh kondisi kekurangan pangan yang dialami Indonesia pada masamasa awal kemerdekaan, sedangkan keberhasilannya masih perlu dipertanyakan
Lahan basah memiliki potensi besar untuk dijadikan pilihan areal produksi
pertanian kedepan yang menghadapi tantangan makin kompleks, terutama untuk
mengimbangi penciutan lahan subur maupun peningkatan permintaan produksi, termasuk
ketahanan pangan dan pengembangan agribisnis.
Pemanfaatan lahan basah masih sangat terbatas akibat keterbatasan teknologi dan
varietas. Unutk memanfaatkan lahan basah tersebtu, diperlukan teknologi yang dapat
menghadapi permasalahan serius.

B. TUJUAN
Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui system tata saluran pada pertanian lahan basah.

BAB II
ISI
A. TINJAUAN PUSTAKA
Lahan basah atau wetland adalah wilayah-wilayah di mana tanahnya jenuh
dengan air, baik bersiat permanen (tetap) atau musiman. Wilayah-wilayah itu
sebagian atau seluruhna kadang-kadang tergenangi oleh lapisan air yang dangkal.
Digolongkan kedalam lahan basah ini diantaranya adalah rawa-rawa, lahan gambut,
dataran banjir, mudfat, kawasan mangrove. Lahan basah merupakan wilayah yang
memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi dibandingkan dengan
kebanyakan ekosistem. Diatas lahan kbasah tumbuh berbagai macam tipe vegetasi.
Margasatwa penghuni lahan basah juga tidak kalah beragamnya.
Pada sisi yang lain, banyak kawasan lahan basah yang merupakan lahan yang
subur, sehingga kerap dibuka, dikeringkan dan dikonversikan menjadi lahan-lahan
pertanian. Baik sebagai lahan persawahan, lokasi pertambakan, maupun sebagai
wilayah trasnsmigrasi.
Pengolahan air pada lahan basah merupakan factor kunci terwujudnya system
pengolahan lahan basah berkelanjutan. Perubahan penggunaan lahan khususnya dari
hutan gambut menjadi lahan pertanian perlu disertai dengan tidakan drainase, karena
dalam kondisi alaminya lahan basah dalam keadaan tergenang. Pengolahan air pada
lahan basah ini bertujuan bukan hanya semata-mata untuk menghindari terjadinya
banjir/ genangan yang berlebihan di musim hujan tetapi juga harus dimaksudkan
untuk menghindari kekeringan di musim kemarau.
Dibandingkan denga tata air di lahan kering, tata air di lahan basah lebih sulit
karena hal-hal sebagai berikut :
1. Lahan basah mengghasilkan senyawa-senyawa beracun sehingga saluran
irigasi perlu dipisahkan dengan saluran drainase dengan system aliran satu
arah
2. Kecenderungan terjadinya banjir lebih besar dibandingkan di lahan kering
sehingga tata air harus dapat menjamin tidak terjadinya banjir di musim hujan.
3. Lahan basah dan lapisan pirit (jika ada) membutuhkan suasana yang
senantiasa lembab. Oleh karena itu, pada musim kemarau supali air harus
terjaga paling tidak untuk mempertahankan kelembaban lahan basah da
lapisan pirit.

4. Lahan basah seperti gambut bersifat sangat porous sehingga laju kehilangan
air di saluran melalui rembesan jauh lebih tinggi dibandingkan di lahan kering
yang tanahnya liat. Hal ini menuntut adanya teknik khusus untuk
mempertahankan keberadaan air.

B. SISTEM SALURAN PADA PERTANIAN LAHAN BASAH


1. TATA AIR MAKO
Pengelolaan air dalam suatu kawasan kawasan yang luas dengan cara
membuat dan mengatur jaringan reklamasi sehingga keberadaaan air bias
dikendalikan. Bisa dikendalikan di sini berarti di musim hujan lahan tidak kebanjiran
dan dimusim kemaru tidak kekeringan.
a. Bangunan dalam Tata Air Makro
Bangunan-bangunan yang terdapat dalam tata air makro diantaranya adalah
tanggul penagkis banjir, waduk reterder, saluran intersepsi, saluran drainase, dan

saluran irigasi.
Gambar 2.1 Saluran Drainase Tata Air Makro
Saluran drainase dibuat guna menampung dan menyalurkan air yang
berlebihan dalam suatu kawasan ke luar lokasi. Sebaliknya, saluran irigasi
dibuat untuk menyalurkan air dali luar lokasi ke suatu kawasan untuk menjaga
kelembaban tanah atau mencuci senyawa-senyawa beracun.
Berbagai Model Alternatif Tata Air Makro :
1) Sistem Handil
System handil atau system parit sudah dikembangkan sejak dulu oleh petani
lahan gambut pasang surut di Kalimantan dan Sumatera. Ciri cirinya :

Handil dibuat tegak lurus sungai selebar 5 7 m dan semakin

menyempit kearah hulu.


Panjang handil berkisar antara 0,5 km hingga 4 km atau sampai

kedalaman gambut maksimum 1 meter


2) Sistem Garpu
Pengaturan tata air dengan system garpu dikembangkan oleh Uiversitas
Gajah Mada pada lahan pasang surut dengan membuat saluran yang
dilengkapi dengan pintu-pintu air. Saluran primer, skunder, dan tersier dibuat
saling tegak lurus sehingga menyerupai gambar garpu.
3) System Aliran Satu Arah
Di lahan pasang surut atau pasang surut peralihan, saluran irigasi dan
drainase sering disatukan untuk menghemat biaya. Ketika surut, saluran
berungsi sebagai saluran drainase. Ketika pasang, saluran berfungsi sebagai
irigasi.

Gambar 2.2 Pintu air otomatis pada saluranirigasi dalam system aliran
satu arah
4) Sistem Polder
Tata air tertutup atau sering disebut sebagai polder dibuat di lahan rawa lebak
dengan cara membuat tanggul keliling lahan.

Gambar 2.3 Sistem polder tertutup dengan pompa

Keterangan :
P : Pompa
I : Saluran Irigasi
D: Saluran drainase
T : Tanggul Keliling
2. TATA AIR MIKRO
Tata air mikro adalah pengelolaan air pada skala petani. Dalam hal ini,
pengelolaan air dimulai dari pengelolaan saluran tersier serta pembangunan dan
pengaturan saluran kuarter dan saluran lain yang lebih kecil. Saluran tersier
umumnya dibangun oleh pemerintah tetapi pengelolaannya diserahkan kepada
petani. Pengelolaan air di tingkat petani bertujuan untuk :
a. Mengatur agar setiap petani memperoleh air irigasi dan membuang air
drainase secara adil. Untuk itu, diperlukan organisasi pengatur air di tinggkat
desa.
b. Menciptakan kelembaban tanah di lahan seoptimum mungkin bagi
pertumbuhan tanaman serta mencegah kekeringan lahan sulfat masam dan
lahan gambut.
Saluran kuarter merupakan cabang saluran tersier dan berhubungan langusng
dengan lahan. Saluran kuarter dibuat teak lurus saluran tersier. Saluran ini sering
pula dijadikan sebagai batas kepemilikan lahan bila luas kepemilikan lahan terbatas.
Cara membuat saluran ini yaitu :
a. Saluran drainase dengan irigasi dibuat berseling.
b. Saluran irigasi kuarter dibuat pada sepanjang batas kepemilikan lahan dengan
cara membuat taggul pada sisi kanan-kiri saluran.
Keberadaan atau tinggi air di saluran, juga merupakan indikasi dari tinggi
muka air tanah, dapat diatur melalui pintu air yang dapat menerima atau
mengeluarkanair pasang dari/ke sungai di dekatnya. Pengaturan tinggi air didalam
saluran disesuaikan dengan jenis tanaman yang ditanam.

BAB III
PENUTUP
A.

KESIMPULAN
Pengelolaan tata air di lahan basah merupakan factor kunci terwujudnya system
pengelolaan lahan basah berkelanjutan. Prinsip utama dari pengaturan tat air di lahan
gambut adalah harus mampu menekan terjadinya penurunan fungsi lingkungan dari
lahan basah, namun tetap bisa memenuhi syarat tmbuh tanaman yang dibudidayakan.
Tindakan drainase pada lahan basah dilakukan untuk menciptakan media tanam yang
sesuai dengan kebutuhan tanaman yang dibudidayakan dan mengurangi asam organic
sampai batas yang tidak meracuni tanaman.
Kearifam lokal dalam pengelolaan air yang telah lama dilakukan petani lokal di
lahan gambut dapat dijadikan dasar pengelolaan tata air di lahan basah, karena telah
terbukti dapat mewujudkan pendayagunaan suberdaya alam dal social secara bijaksana
yang mengacu pada keseimbangan dan kelestarian lingkungn.

B.

SARAN
Lahan basah memegang perenan penting dalam alam. Lahan basah merupakan
tempat penampungan air yang berlebihan. Selain itu lahan basa juga berperan sebagai
penetralisir racun dan limbah yang berdampak buruk bagi lingkungan. Karanea peranan
lahan basah yang begitu penting bagi alam sekitar, pengkonversian lahan basah menjadi
lahan pertanian sangat tidak disarankan. Tetapi pengkonversian lahan basah menjadi
lahan pertanian dapat dilakukan jika sudah semakin sedikitnya lahan subur untuk
pertanian dan semakin banyaknya permintaan produksi pangan.