Anda di halaman 1dari 4

BAB II

LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian
Data dalam ilmu kebumian selalu berkaitan dengan kedalaman dan
ketebalan.

Oleh

karena

itu,

seorang

ahli

ilmu

kebumian

harus

mempunyai
kemampuan untuk menentukan kedalaman dan ketebalan. Kedalaman sendiri
sebebarnya

adalah

lokasi

sebuah

titik,

yang

diukur

secara

vertikal

terhadap
ketinggian titik acuan. Dalam ilmu Geofisika misalnya. Dikenal klasifikasi
gempa
berdasarkan kedalaman. Menurut Fowler, 1990, klasifikasi gempa berdasarkan
kedalaman fokus adalah :
1. Gempa dangkal : kedalaman fokus gempa kurang dari 70 km
2. Gempa sedang : kedalamanan fokus gempa kurang dari 300 km
3. Gempa dalam

kedalaman

fokus

gempa

lebih

dari

300

km

(kadangkadang lebih dari 450 km)


Seperti halnya kedalaman, kemampuan untuk menentukan ketebalan juga
sangat diperlukan dalam ilmu kebumian. Dengan mengetahui cara menghitung
ketebalan, ahli kebumian bisa menyelidiki ketebalan lapisan-lapisan penyusun
bumi sehingga kita bisa mengetahui bahwa ketebalan kerak bumi mencapai
100
km, ketebalan matel adalah sekitar 2900 km, liquid outer core sekitar 2200 km,
dan solid inner core sekitar 1250 km.
Gambar : Kedalaman bumi
Analisis geometri akifer (aquifer : lapisan yang dapat menyimpan dan
mengalirkan air dalam jumlah yang ekonomis. Contoh : pasir, kerikil, batupasir,
batugamping rekahan.) juga melibatkan analisis kedalaman dan ketebalan.
Jadi jelaslah bahwa sangat bermanfaat sekali, khususnya bagi orangorang

yang

mempelajari

ilmu

kebumian,

untuk

mengetahui

(cara)

dan
menentukan

kedalaman. Karena mempelajari bumi berarti mempelajari

segala
yang ada di dalamnya. Dan itu berhubungan langsung dengan kedalaman dan

ketebalan.
2.2 Pengukuran Kedalaman dan Ketebalan
2.2.1 Ketebalan
Ketebalan adalah jarak tegak lurus antara dua bidang sejajar yang
merupakan

lapisan

batuan.

Ketebalan

lapisan

bisa

ditentukan

denganbeberapa
cara, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Secara umum, pengukuran-pengukuran ketebalan dapat dibedakan menjadi
2
yaitu :
a. Pengukuran Langsung
Ketebalan lapisan dapat diukur secara langsung dilapangan dengan kondisi
yang khusus, misalnya lapisan horizontal yang tersingkap berada pada tebing
vertikal dan tebing horizontal sedangkan pada topografi yang miring dapat
digunakan alat Jacobs Staff, yaitu tongkat yang dilengkapi dengan
handlevel, klinometer atau kompas pada bagian atasnya.
b. Pengukuran Tidak Langsung
Pengukuran

tidak

langsung

yang

paling

sederhana

adalah

pada

lapisan
sederhana yang tersingkap pada permukaan yang horizontal, dimana lebar
singkapan diukur tegak lurus, yaitu w dengan mengetahui kemiringan lapisan
() maka ketebalannya t = W. Sin dan apabila pengukuran tidak tegak
lurus, maka W = l. Sin sehingga ketebalan menjadi t = l. Sin . Sin (180
- ).
Kemungkinan lain dapat dilakukan dengan mengukur jarak antara titik,
yang merupakan batas lapisan sepanjang lintasan tegak lurus. Pengukuran ini
dilakukan apabila bentuk

lereng tidak

teratur bisa

juga menghitung

ketebalan
lapisan dari peta geologi.
Pengukuran secara langsung dapat dilakukan pada suatu keadaan
tertentu, misalnya lapisan horisontal yang tersingkap pada tebing vertikal atau
lapisan vertikal yang tersingkap pada topografi datar.
Apabila keadaan medan, struktur yang rumit atau ketebalan alat yang
dipakai
sebaiknya

tidak

memungkinkan

pengukuran

secara

langsung,

tetapi

diusahakan

pengukuran

mendekati

secara

langsung.

Pengukuran

tidak

langsung
yang paling sederhana adalah pada lapisan miring, tersingkap pada permukaan
horisontal, dimana lebar singkapan diukur tegak lurus jurus, yaitu w
dengan
menggunakan kemiringan lapisan () maka ketebalannya T = w sin
Apabila pengukuran lebar singkapan tidak tegak lurus jurus (I) maka lebar
sebenarnya harus dikoreksi lebih dulu w = I sin , dimana adalah sudut
antara
jurus dengan arah pengukuran. Ketebalan yang didapat adalah T = I sin sin
panjang.
Dengan cara yang sama dapat dipakai apabila pengukuran lebar
singkapan

dilakukan

permukaan

miring.

Dalam

hal

ini

ketebelan

merupakan
fungsi dari sudut miring () dan sudut lereng (). Pendekatan lain
untuk mengukur ketebalan secara tidak langsung dapat dilakukan dengan cara
mengukur jarak antara titik, yang merupakan batas lapisan sepanjang lintasan
tegak lurus jurus. Pengukuran ini dilakukan apabila bentuk lereng tidak teratur.
Bisa

juga

menghitung

ketebalan

lapisan

dari

peta

geologi.Untuk

mengukur
ketebalan

pada

lereng,

apabila

pengukuran

tidak

tegak

lurus

jurus

digunaka
persamaan trigonometri berikut
T = I [ sin cos sin = sin cos ]
Dimana :
= Kemiringan lereng terukur
d = Sudut kemiringan lapisan
= Sudut lereng terukur
= Sudut antara jurus dan arah pengukuran
2.2.1 Kedalaman
Kedalaman ialah jarak vertikal dari ketinggian tertentu (umumnya
permukaan

bumi)

kearah

bawah

terhadap

suatu

titik,

bidang.
Menghitung ketebalan lapisan ada beberapa cara, diantaranya:
Menghitung secara matematis

gambar

atau

Alignment diagram
Secara grafis
Dengan cara perhitungan matematis, yang perlu diperhatikan adalah
kemiringan

lereng,

kemiringan lapisan

dan

jarak

jurus

dari

singkapan

ke titik
tertentu. Pada

permukaan

horisontal,

kedalaman

lapisan

(d)

dapat

dihitung
dengan rumus:
D = m tag
Dimana:
M = jarak tegak lurus dari singkapan ketitik tertentu
= ketinggian lapisan
Apabila

tidak

tegak

lurus

jurus,

maka

kemiringan

lapisan

yang

dipakai
adalah kemiringan semu
D = m [sin = cos tan ]
m = jarak
= kemiringan lereng
= kemiringan lapisan
jarak vertikal dari ketinggian tertentu (permukaan air laut) ke arah bawah
terhadap suatu titik, garis atau bidang. Pada permukaan horizontal, kedalaman
lapisan (d) dapat dihitung dengan rumus d = m Tan

Cara pengukuran kedalaman :


1. Pengukuran kedalaman pada arah lintasan tegak lurus jurus lapisan pada
medan datar/topografi tidak berelief. (Gambar 3.3)
2. Pengukuran kedalaman pada arah lintasan tegak lurus jurus lapisan pada
medan/topografi dengan slope.
(a)

(b)

Gambar 3.4
Kedalaman Lapisan pada Topografi Miring
a. Dip searah dengan slope. (Gambar 3.4.a)
b. Dip berlawanan dengan slope. (Gambar 3.4.b)
c. Dip searah dengan slope.
d. Dip berlawanan arah dengan slope.