Anda di halaman 1dari 26

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS HALU OLEO


FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
JURUSAN TEKNK GEOLOGI
STUDI MIKROFOSIL DAERAH TORONIPA
KECAMATAN SOROPIA KABUPATEN KONAWE
PROPINSI SULAWESI TENGGARA

OLEH :

TASMAN
F1G1 14 035

KENDARI
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan kesehatan
dan kekuatan serta rahmat dan hidayah-NYA sehingga kami dapat menyelesaikan
laporan

ini dengan baik tanpa satu halangan apapun.


Penyusunan laporan ini saya mendapat banyak bantuan dari berbagai

pihak, terutama kepada dosen yang kami hormati SURIAWAN, ST.,MT. selaku
dosen pembimbing, juga kepada para senior yang telah mengarahkan kami dan
praktikan lainnya dengan keikhlasan dan ketabahannya. Selain itu, bantuan dari
para praktikan atau teman-teman yang telah membantu, baik moril maupun
material. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya.
Harapan saya semoga laporan

ini dapat membantu menambah

pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat


memperbaiki bentuk maupun isi laporan lengkap lapangan ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik. Dalam pembuatan laporan ini kami menyadari
masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat terbatas.
Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukanmasukan yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini dan akhirya
saya ucapkan sekian dan terima kasih.

Kendari, 27 Juni 2016

Penluis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.........................................................................................i
KATA PENGANTAR........................................................................................ii
DAFTAR ISI......................................................................................................iii
DAFTAR TABEL..............................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR.........................................................................................v
DATAR LAMPIRAN........................................................................................vi
ABSTRAK ........................................................................................................vii
I. PENDAHULUAN.........................................................................................1
A. Latar Belakang...........................................................................................1
B. Rumusan Masalah.....................................................................................2
C. Tujuan Penelitian.......................................................................................2
II. METODE PENELITIAN...........................................................................5
A. Waktu dan Letak Kesampaian...................................................................5
B. Jenis Penelitian..........................................................................................6
C. Materi Penelitian.......................................................................................8
1. Data Primer............................................................................................8
2. Data Sekunder.......................................................................................9
D. Prosedur....................................................................................................10
1. Tahapan Persian.....................................................................................10
2. Penelitian Lapangan..............................................................................11
E. Tahapan Pengolahan Data ........................................................................11
F. Analisis Data.............................................................................................11

III. HASIL DAN PEMAHASAN.....................................................................10


A. Kondisi Geologi Regional.........................................................................10
B. Stasiun Pengambilan Data.........................................................................12
C. Jenis Fosil Daerah Penelitian.....................................................................12
D. Stratigrsfi Daerah Penelitian.....................................................................12
1. Urutan Perlapisan Batuan.......................................................................12
2. Umur Batuan..........................................................................................12
IV. PENUTUP....................................................................................................13
A. Kesimpulan................................................................................................13
B. saran...........................................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................21
LAMPIRAN.......................................................................................................22

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Analisa litologi batuan dan kandungan fosil pada batuan yang
ditemukan pada daerah penelitian (Toronipa) sangat penting untuk
mengetahui jenis litologi batuan serta mengetahui umur relatif dan
lingkungan pengendapan daerah tersebut. Praktikum lapangan yang
dilakukan di daerah Toronipa menggunakan metode Measuring Section,
dimana pada metode ini pengambilan sampel dilakukan berdasarkan
perbedaan jenis litologi dan perubahan kedudukan batuan.Berdasarkan
referensi yang sudah ada sebelumnya jenis fosil yang ditemukan pada
daerah penelitian (Toronipa) adalah jenis foraminifera besar maupun
foraminifera kecil. Oleh karena itu, perlu diadakan praktikum secara
langsung di lapangan untuk membuktikan pernyataan-pernyataan dari para
peneliti terdahulu tersebut. Selain itu, foraminifera juga memiliki kegunaan
dalam analisa struktur yang terjadi pada lapisan batuan. Sehingga sangatlah
penting untuk mempelajari foraminifera secara lengkap.
Penerapan ilmu paleontologi melalui penunjuk berupa fosil, dapat
ditentukan umur relatif suatu lapisan batuan dan hubungan antara lapisan
batuan yang satu dengan lapisan batuan yang lain berdasarkan hubungan
fosil yang terdapat pada lapisan batuan, maka dari itu ilmu paleontologi
juga berkorelasi dengan ilmu stratigrafi dalam hal pengurutan lapisan
batuan beserta kejadian-kejadian geologi di dalamnya. Melalui pengamatan

fosil juga dapat dipelajari evolusi kehidupan yang telah terjadi serta dapat
mengetahui kondisi lingkungan di masa lampau.
Fosil dapat ditemukan di singkapan batuan sedimen yang ikut dalam
proses pembatuan pada periode waktu tertentu, sehingga di perlukan
berbagai metode dalam mencari fosil dalam suatu singkapan batuan, dalam
penelitian ini metode yang akan digunakan yaitu MS Point Sampling.
Dimana dalam penerepannya mahasiswa akan mengambil sample batuan
setiap perubahan litologi dalam satu buah stasiun (singkapan batuan)
.Setelah itu dilakukan pengolahan lebih lanjut hingga pada akhirnya
dilakukan pengangkatan fosil pada laboratorium.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana umur batuan daerah Toronipa?
2. Bagaimana lingkungan pengendapan daerah Toronipa?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui umur batuan daerah penelitian
2. Untuk mengetahui lingkungan pengendapan
D. Manfaat Penelitian
Manfaat dilakukannya penelitian Mikrofosil daerah Toronipa agar dapat
memberikan wawasan pengetahuan mengenai proses pengambilan data
mikrofosil dilapangan serta memberikan informasi sebaran mikrofosil
daerah Toronipa
II. Metode Penelitian
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Field trip Mikropaleontologi ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 4 April
2015 di daerah Toronipa Kec. Soropia Kab. Konawe Propinsi Sulawesi
Tenggara. Praktikum ini dilaksanakan pada pukul 07.30 14.00 WITA.

Adapun daerah penelitian (Toronipa) dapat ditempuh dengan menggunakan


kendaraan roda 4 (angkot) atau kendaraan roda 2 (motor) dengan waktu
tempuh

1 jam dari kampus FITK UHO sampai ke daerah penelitian

(Toronipa).

Gambar 1.1. Peta tunjuk lokasi daerah penelitian kec. Soropia


B. Jenis Penelitian
Penelitian mikrofosil pada daerah Toronipa, Kec. Soropia, Kab.
Konawe, Propinsi Sulawesi Tenggara menggunakan Metode Measuring
Section. Metode ini dilakukan dengan membentangkan meteran sepanjang
30 meter. Sepanjang meteran tersebut jika terdapat perbedaan litologi dan
kedudukan batuan (strike/dip) maka dilakukan pengambilan sampel dengan
7

mengukur arah, slope (kemiringan lereng), jarak tiap perubahan litologi


atau kedudukan batuan, tebal tiap lapisan batuan, menentukan kedudukan
batuan dengan menggunakan kompas geology, menentukan struktur
sedimen dan ukuran butir, menentukan jenis litologi, melakukan pemerian
atau deskripsi pada tiap sampel batuan berdasarkan sifat fisik, menetesi
larutan asam klorida (Hcl) pada sampel batuan untuk mengetahui mineral
karbonat yang terdapat pada batuan. Setelah menentukan kedudukan
batuan (strike/dip), selanjutnya membuat profil lintasan dengan arah yang
telah ditentukan sebelumnya.
Measuring Section adalah

pengambilan

sampel

dilakukan

berdasarkan perbedaan jenis litologi dan perubahan kedudukan batuan.


Analisa litologi batuan dan kandungan fosil pada batuan yang ditemukan
pada daerah penelitian (Toronipa) sangat penting untuk mengetahui jenis
litologi batuan serta mengetahui umur relatif dan lingkungan pengendapan
daerah tersebut. Berdasarkan referensi yang sudah ada sebelumnya jenis
fosil yang ditemukan pada daerah penelitian (Toronipa) adalah jenis
foraminifera besar maupun foraminifera kecil. Oleh karena itu, perlu
diadakan praktikum secara langsung di lapangan untuk membuktikan
pernyataan-pernyataan dari para peneliti terdahulu tersebut.
C. Materi Penelitian
1. Data Primer
a. Titik koordinat lokasi penelitian E 122o400,6 dan S 3o556,5

b.

Panjang bentangan meteran 7 meter dengan arah lintasan N 323O E

c.

Litologi yang dijumpai berupa Batupasir dan Batulempung

d.

Data lapisan litologi dapat dilihat dalam table berikut:

Table 1.1 lapisan litologi


Lapisan (dari
ke cm)

Jurus batuan
(N..oE/..o)

Jenis batuan

1. (0-10 cm)
2. (10-30 cm)
3. (30-50 cm)
4. (50-80 cm)
5. (80-100 cm)
6. (100-150 cm)
7. (150-200 cm)
8. (200-230 cm)
9. (230-260 cm)
10 (260-300 cm)
11. (300-320 cm)
12.
(320-360
cm)
13.
(360-380
cm)
14.
(380-400
cm)
15.
(400-420
cm)
16.
(420-550
cm)
17.
(550-600
cm)
18.
(600-640
cm)
19.
(640-700
cm)

79/21
78/20
57/24
52/32
46/21
45/21
31/26
32/20
33/20
35/20
35/18
28/22
56/21
90/21
74/24
60/25
70/21
90/18
60/24

2. Data sekunder

10

Batupasir kasar
Batupasir kasar
Batupasir kasar
Batupasir sedang
Batupasir sedang
Batupasir sedang
Batupasir sedang
Batupasir sedang
Batupasir sedang
Batupasir sedang
Batupasir sedang
Batupasir sedang
Batupasir halus
Batupasir halus
Batupasir halus
Batupasir halus
Batulempung
Batulempung
Batulempung

a. Daerah Toronipa merupakan suatu lokasi bagian dari Formasi


Meluhu anggota Toronipa
b. Jenis litologinya berupa Batupasir merah, konglomerat dengan
sisipan serpih, batulanau, dan batulempung.
c. Struktur sedimen yang terekam pada anggota toronipa berupa silang
siur (planar, trough, dan eplison), tikas seluring (flute wark),
gelembur gelombang (ripple mark).
D. Prosedur penelitian
1. Tahapan Persiapan
Tabel 3.1 Tahapan Penelitian

Persiapan Penelitian
Penelitian Lapangan
1. Pengukuran MS
2. Data Singkapan
3.Kedudukan dan Struktur Batuan
4. Data Geologi Lainnya

2.

1. Administrasi
2. Studi Pustaka
3. Peta Dasar
4. Peralatan Lapangan
Pemetaan Detail
1. Membentangkan Roll
Meter
sepanjang 30 Meter
2. Pencatatan Data Hasil MS
3. Pendeskripsian Sampel Tiap
Perubahan Litologi
4. Pengambilan Sampel Batuan
Untuk Analisis Lab
5. Pembuatan Sketsa dan Profil
Lintasan Tak Terskalakan
6. Pengambilan Foto Sampel
7. Pengambilan kedudukan batuan
8. Pencatatan
Data
Geologi
Lainnya

Pengolahan Data
1. Pendeskripsian Sampel
2. Pembuatan Peta Stasiun pengamatan
3. Pembuatan Profil Lintasan Terskalakan
11
4. Pembuatan Tabel MS
5. Pembuatan Kolom Litologi

Analisis Data
1. Penghancuran Sampel Batuan Hingga Menjadi Serbuk
2. Pencucian Sampel dengan Detergen dan H2O2
3. Pengeringan Sampel
4. Pendeskripsian Sampel di Lab
Penyusunan Laporan Lengkap

Tahapan penelitian yang dilakukan pertama kali adalah persiapan


penelitian seperti membayar biaya administrasi kepada bendahara
lapangan, mengumpulkan studi pustaka, membuat peta dasar untuk
mengetahui medan lintasan yang akan dilalui dilapangan serta mengetahui
daerah penelitian, dan mengumpulkan peralatan lapangan yang telah
ditetapkan. Pada tahap kedua yaitu penelitian lapangan dimana kami
awalnya melakukan pengukuran MS (Measuring Section), data singkapan,
kedudukan dan struktur batuan, serta data geologi lainnya, dari penelitian

12

lapangan tersebut kami kemudian melakukan pevetaan Detail dimana pada


pemetaan ini kami membentangkan Roll meter sepanjang 30 meter yang
kemudian hasilnya dicatat pada tabel MS, divana dari hasil yang telah
dicatat tersebut kami mendeskripsi sampel tiap perubahan litologi dan
kami mengambil sampel batuan untuk dianalisa lebih lanjut dilab, setelah
pengambilan sampel kami kemudian membuat stektsa dan profil lintasan
tak terskalakan pada peta dasar dan kemudian kami mengambil foto
sampel, dan pengukuran stike/dip, serta pencatatan data-data geologi
lainnya. Tahapan ketiga yaitu pengolahan data yang dilakukan dari data
yang telah terkumpul yaitu pendeskripsian sampel, pembuatan peta stasiun
pengamatan, pembuatan profil lintasan yang terskalakan, pembuatan tabel
MS dan pembuatan kolom litologi. Dari data tersebut dilakukan tahapan
selanjutnya yaitu analisis data dimana pada tahapan ini kami melakukan
penghancuran sampel batuan hingga menjadi serbuk, pencucian sampel
dengan menggunakan detergen dan H2O2, setelah itu sampel dikeringkan
dengan waktu tertentu dan kemudian dilakukan pendeskripsian sampel di
laboratorium untuk mendapatakan fosil. Dengan begitu, dilakukan
pendeskripsian dari fosil yang ditemukan ssehingga dapat diketahui umur
dan lingkungan pengendapan daerah penelitan. Dari langkah-langkah yang
telah dilakukan maka dibuatlah sebuah laporan sebagai bukti dari hasil
penelitan yang telah dilakukan tersebut.
2. Penelitian Lapangan

13

Beberapa tahapan penelitian

yang dapat dilakukan

dalam

pengambilan data dilapangan yakni:


a. Penyiapan alat dan bahan yang akan digunakan
b. Menentukan lokasi yang akan dilakukan pengambilan data
c. Melakukan pengambilan titik koordinat lokasi penelitian
d. Membentangkan meteran sepanjang 7 meter
e. Melakukan pengambilan arah lintasan
f. Melakukan pengambilan data secara MS (Measurement Section).
E. Tahapan Pengolahan Data
1. Pemilihan sampel, Adapun kriteria-kriteria yang digunakan dalam
pengambilan sampel batuan, yaitu :
Memilih sampel batuan insitu dan bukan berasal dari talus, karena

dikhawatirkan fosilnya sudah terdisplaced atau tidak insitu.


Batuan yang berukuran butir halus lebih memungkinkan
mengandung fosil, karena batuan yang berbutir kasar tidak dapat

mengawetkan fosil.
Batuan yang dapat mengawetkan fosil antara lain batulempung
(claystone),

batuserpih

(shalestone),

batunapal

(marlstone),

batutufa napalan (marly tuffstone), batugamping bioklastik,

batugamping dengan campuran batupasir sangat halus.


Batuan yang lunak akan memudahkan dalam proses pemisahan
fosil.

14

Jika endapan turbidite diambil pada endapan berbutir halus, yang


diperkirakan

merupakan

endapan

suspensi

yang

juga

mencerminkan kondisi normal.


Jenis Sampel, Sampel permukaan adalah sampel yang diambil pada

suatu singkapan. Sampel yang baik adalah yang diketahui posisi


stratigrafinya terhadap singkapan yang lain, namun terkadang pada
pengambilan sampel yang acak baru diketahui sesudah dilakukan
analisa umur. Sampel permukaan sebaiknya diambil dengan
penggalian sedalam > 30 cm atau dicari yang masih relatif segar
(tidak lapuk).
2. Berikut adalah cara-cara atau tahap-tahap yang digunakan dalam aturan
sampling batuan hingga pemisahan fosil dari material asing yang nonfosil.

Penguraian/pencucian
Langkah-langkah proses pencucian batuan adalah sebagai berikut :
a. Batuan sedimen ditumbuk dengan palu karet atau palu kayu dan
diayak, hingga berukuran dengan diameter 3-6 mm.
b. Dicuci hingga bersih dengan menggunakan odol atau sabun, cara
mencucinya dengan menggunakan kain yang berpori halus.
c. Dikeringkan dengan menggunakan pemanas atau oven.
d. Larutkan dalam larutan H2O2 (hydrogen peroksida) 50% diaduk
dan dipanaskan.
e. Diamkan sampai butiran batuan tersebut terlepas semua (24 jam)
jika fosil masih nampak kotor dapat dilakukan dengan perendaman
menggunakan air sabun, lalu dibilas dengan air sampai bersih.
f. Keringkan dengan terik matahari atau dengan menggunakan oven.

3. Dimasukkan kedalam kantong sampel untuk dibawa di laboratorium,


F. Analisis Data
Bentuk analisis data yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

15

1). Menyiapkan sampel yang akan dianalisis


2). Menyiapkan mikroskop yang akan digunakan
3). Meletakkan material yang akan dididentifikasi diatas kaca preparat dan
melakukan identifikasi di mikroskop.
4). Setelah fosil didapat, fosilnya diangkat dengan menggunakan jarum yang
sudah disentuhkan oleh lotion dan disimpan diwadah yang sudah
disediakan.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Kondisi Geologi Regional
1. Geomorfologi regional
Satuan morfologi yang dapat dibedakan dari citra IFSAR di bagian
tengah dan ujung selatan lengan Tenggara Sulawesi, ada lima yakni
satuan pegunungan, perbukitan tinggi, perbukitan rendah, dataran rendah
dan karst. Adapun secara umum dari morfologi regional untuk wilayah
Toronipa termasuk dalam kategori morfologi Perbukitan Rendah yang
merupakan dataran alluvium yang luas yang terdiri atas bukit kecil dan
rendah dengan morfologi yang bergelombang. Batuan penyusun satuan
ini terutama batuan sedimen klastika Mesozoikum dan Tersier.

16

Satuan morfologi dataran rendah dijumpai dibagian tengah ujung


selatan

Lengan

Tenggara,

merupakan

dataran

rendah.

Batuan

penyusunnya terdiri atas batupasir kuarsa dan konglomerat kuarsa


Formasi Meluhu. Dalam dataran ini mengalir sungai-sungai pada musim
hujan berair melimpah, sedang pada musim kemarau kering. Hal ini
mungkin disebabkan batupasir dan konglomerat sebagai dasar sungai
masih lepas, sehingga air dengan mudah merembes masuk ke dalam
tanah.

Gambar 2.1. Lengan Tenggara Sulawesi dari citra SRTM yang


menggambarkan perbedaan morfologi antara ujung utara, bagian tengah
dan ujung selatan
2. Stratigrafi regional

17

Wilayah Toronipa terdiri dari endapan sungai meandering


dan didominasi oleh sandstone diselingi batuan sandstone konglomerat,
mudstone dan shale. Sandstone di wilayah Toronipa terdiri dari
litharenite, sublitharenite dan quartzarenite berasal dari daur ulang
sumber orogen. Fragmen batuan metamorf di dalam sandstone
mengindikasikan bahwa area sumber formasi Meluhu didominasi oleh
batuan dasar metamorfik. Batuan metamorf itu mungkin tertutup oleh
sedimen tipis. Adanya sedikit fragmen vulkanik dalam formasi Meluhu
menunjukkan bahwa batuan vulkanik juga membentuk lapisan tipis
dengan cakupan lateral terbatas di daerah sumber.
Anggota Toronipa, Formasi Meluhu didominasi oleh batupasir dan
konglomerat dengan sisipan serpih, batu lanau dan batu lempung. Sisipan
tipis lignit ditemukan setempat seperti di sungai kecil di dekat Mesjid
Nurul Huda, Kota Kendari dan tebing tepi jalan di selatan Tinobu. Lokasi
tipe Anggota Toronipa berada di Tanjung Toronipa sebelah tenggara desa
Toronipa. Penampang tegak hasil pengukuran stratigrafi terperinci di
Tanjung Toronipa tersajikan dalamBatupasir berlapis berfasies St dan Sp
telah ditemukan. Dibeberapa tempat, batupasir pejal tersingkap baik yang
diduga merupakan hasil pengendapan prain flow. Secara setempat,
batupasir krikilan ( Gh ) sering dijumpai di atas permukaan bidang erosi.
Ketebalan Anggota Toronipa pada lokasi tipe tersebut adalah 800 m.
Ketebalan maksimum anggota ini diduga ke arah timur.

18

Struktur sedimen yang terekam pada Anggota toronipa berupa silang


siur (planar, trough dan epsilon), tikas seluring (flute wark), gelembur
gelombang (ripple mark), perlapisan bersusun dan permukaan erosi. Lag
deposit umum ditemukan pada bagian bawah runtutan sedimen di atas
permukaan erosi. Batang, ranting , dan/atau cetakan daun juga ditemukan
pada endapan klastik halus. Setiap runtutan batuan sedimen menunjukkan
penghalusan ke atas, yang menunjukkan energi melemah ke arah atas.
Semua fakta di lapangan ini memberikan gambaran bahwa Anggota
Toronipa diendapkan pada lingkungan sungai kekelok. Arah arus purba,
yang sebagian besar di angkut pada silang siur, menunjukan hasil
kecenderungan unimodal. Kondisi seperti ini umum ditemui pada arus
sungai kekelok.
Waktu pengendapan Anggota Toronipa, laut berada di timur laut dan
garis pantai bergerak ke arah barat daya pada waktu pengendapan anggota
Watutaluboto dan Anggota Tuetue. Integrasi hasil berbagai analisis
tersebut di atas menggambarkan bahwa cekungan Formasi Meluhu
mempunyai iklim subtropis bercurah hujan tinggi dan topografi purba
melandai ke arah utara. Topografi daerah sumber batuan kasar mungkin
disebabkan aktivitas tektonik sewaktu proses lepasnya kepingan Benua
Sulawesi Tenggara dari tepi utara Australia.

19

Gambar 2.2. Penyebaran Formasi meluhu di Lengan Tenggara Sulawesi


(disederhanakan dari peta geologi terbitan Pusat Penelitian dan
Pengembangan Geologi
3. Struktur geologi regional
Berdasarkan data geologi dan geofisika, Simandjuntak (1993
dalam Darman & Sidi, 2000) menyatakan bahwa Pulau Sulawesi dan
daerah sekitarnya mengalami empat kali kegiatan tektonik, salah satu di
antaranya adalah Tumbukan tipe Thethyan pada Neogen, yang mencirikan
struktur regional Toronipa dimana pada tumbukan tipethetyan Neogen,
sebagian kepingan benua tersebut bertumbukan dengan kompleks subduksi
Kapur dan ofiolit di Sulawesi dan daerah sekitarnya pada Neogen. Pada
kawasan ini dijumpai diantaranya kepingan Banggai-Sula, Kepingan

20

Sulawesi Tenggara, Paparan Buton dan Tukang Besi. Pada tumbukan tipe
Tethyan ini kepingan benua tersebut menyusup di bawah ofiolit dan
kompleks subduksi (Darman & Sidi, 2000), Simandjuntak (1986)
menemukan batuan campur aduk (melange) sepanjang Sesar Naik Butui , di
Lengan Timur Sulawesi . Akhir dari tumbukan Neogen ini mengakibatkan
Lajur Ofiolit Sulawesi Timur naik ke atas tepi beberapa kepingan benua
tersebut.

Gambar 2.3. Struktur regional Sulawesi dan sekitarnya

B. Stasiun Pengambilan Data

21

Gambar 2.4 Penarikan Measuring Section

Sketsa 2.4 singkapan batuan sedimen

C. Jenis fosil Daerah Penelitian

22

1. Dentillina Communis.

Gambar 2.6 Dentilina Communis


2. Bolivina Tumida

Gambar 2.6 Bolivina Tumida


3. Nodosaria soluta (Reuss)

Gambar 2.7 Nodosaria Soluta(Reuss)

D. Stratigrafi Daerah Penelitian

23

1. Urutan perlapisan batuan


Berdasarkan analisis data MS yang dilakukan dengan bentangan
meteran sepanjang 7 meter yang dimulai dari laut hingga kedarat dengan
rata-rata jurus batuan berada dikuadran satu, litologi yang dijumpai berupa
batupasir kasar, batupasir sedang, batupasir halus dan batulempung. Jadi
urutan perlapisan batuannya adalah:

4. Batupasir kasar
3.

Batupasir

sedang

2. Batupasir halus
1. Batulempung

Gambar 2.6 Urutan perlapisan batuan


2. Umur batuan
Umur dan lingkungan pengendapan pada lokasi penelitian, berdasarkan
hasil pengamatan yang dilakukan umur batuan yang berada pada daerah
tersebut adalah Oligosen tengah, sedangkan lingkungan pengendapannya

24

berada pada lingkungan pengendapan laut yang berada pada zona neritik
luar dan zona batial atas dan tengah.
IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
Hasil praktikum Mikropaleontologi yang dilakukan didaerah
Toronipa, Kecamatan Soropia, Kabupaten konawe, Provinsi Sulawesi
Tenggara dapat disimpulkan yakni:
1). Umur batuan pada lokasi penelitian, berdasarkan hasil pengamatan yang
dilakukan didaerah tersebut adalah Oligosen tengah.
2). lingkungan pengendapannya berada pada lingkungan pengendapan laut
yang berada pada zona neritik luar dan zona batial atas dan tengah.
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

Endharto, M. dan Surono, 1991. Preliminari Study of The Meluhu Complex


Related to Terrane Formation in Sulawesi. Proceedings Indonesian
Association of Geologist (IAGI), 20th Annual Convention, h. 340-353.
Hamilton, W., 1979. Tectonics of The Indonesian Region. U.S. Geological Survey
Professional Paper, 1078, 345 h.

25

Rusmana, E., Sukido, Sukarna, D., Haryono, E., Simandjuntak, T.O. 1993.
Keterangan Peta Geologi Lembar Lasusua-Kendari, Sulawesi Tenggara,
Skala 1:250000. PUSLITBANG Geologi, Bandung.
Sukamto, R., 1975. Structural of Sulawesi in The Light of Plate Tectonic. Dept. of
Mineral and Energy, Jakarta 21.

26