Anda di halaman 1dari 7

PERANAN SERIKAT PEKERJA DALAM

LEMBAGA KERJASAMA BIPARTIT


Fungsional Mediator Hubungan Industrial
Pada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi

1. LATAR BELAKANG
Kebebasan berkumpul dan berorganisasi atau berserikat telah mengakibat kan
tumbuh dan berkembang nya organisasi pekerja/buruh di hamper seluruh dunia
usaha selanjut nya disebut serikat pekerja/serikat buruh ,bahkan tidak jarang di
dalam satu perusahaan terdapat lebih dari satuserikat pekerja/serikat buruh.hal
ini merupakan imbas dari diratifikasinya konvensi ILO NO.87 tentang kebebasan
berserikat dan dengan telah diundangkannya UU NO.21 tahun 2000 tentang
serikat pekerja.
Kehadiran serikat pekerja itu sendiri didalam suatu perusahaan merupakan suatu
wajar karena serikat pekerja tumbuh sebagai sarana dalam menyalurkan aspirasi
pekerja /buruh demi kesejahteraan pekerja /buruh dan keluarga nya. Serikat
Pekerja/Serikat Buruh sebagai pelaksanaansarana hubungan industrial didalam
Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003,tidak berbeda jauh dengan lembaga
kerjasama bipartit juga merupakan sarana pelaksanaan hubungan industrial di
perusahaan.
Hubungan industrial dalam proses nya memerlukan terjaln nya komunikasi,
konsultasi dan musyawarah mengenai hal hal yang terkait dengan berbagai
aspek dalam proses produksi barang atau jasa .hubungan industrial itu sendiri itu
sendiri mencakup berbagai hal yang berkaitan dengan interaksi manusia di
tempat kerja,seperti terjadinya perselisihan dan tuntunan normative yang di
lakukan oleh pera Pekerja/Buruh semua ini terkait dengan keberhasilan atau
kegagalan dalam mengelola hubungan industrial di tempat kerja.
Dalam menyikapi dalam perselisihan di maksud dapat diredam atau diminimalisir
selayak nya di dalam suatu perusahaan terbentuk suatu forum yang
keanggotaan nya terdiri dari wakil pengusaha dan pekerja/buruh. Forum itu
sendiri sebagai bentuk kerjasama yang efektif di tempat kerja antar pihak
manajemen dengan pekerja/buruh yang lazim di sebut sebagai lembaga kerja
sama bipartite.
Lembaga kerjasama bipartite adalah suatu forum insisiatif yang terdiri dari
perwakilan para pekerja/buruh atau organisasi pekerja,secara bersama-sama
mengadakan pertemuan untuk mengidentifikasikan dan menyelesaikan masalah
yang berkaitan dengan kepentingan dan kebutuhan bersama. Terdapat suatu
kebutuhan yang sangat mendesak untuk meningkatkan kemampuan lembaga
kerjasama pekerja/buruh dan pengusaha atau pemberi kerja dalam
melaksanakan peranan dan tanggung jawab nya,agar sistem hubungan

industrial dapat berfungsi dengan benar, khusus nya pada tingkat bipartite di
tingkat kerja.

1. PENGERTIAN
2. Hubungan Industrial adalah suatu sistem hubungan yang terbentuk antara
pelaku proses produksi barang atau jasa yang terdiri dari unsur
pengusaha, Pekerja/Buruh dan pemerintah yang di dasar kan pada nilainilai Pancasila dan UUD RI 1945
3. Serikat Pekerja/Serikat buruh adalah organisasi yang terbentuk dari oleh
dan untuk pekerja /buruh di perusahaan atau di luar perusahaan yang
bersifat bebas,terbuka, mandiri, demokratis dan bertangung jawab guna
memperjuang kan,membela serta melindungi hak dan kepentingan
pekerja bruh serta meningkat kan kesejahteraan Pekerja/Buruh dan
keluarga nya.
4. Lembaga Kerjasama Bipartite adalah forum komunikasi dan konsultasi
mangenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan industrial disatu
perusahaan yang anggota nya terdiri dari pengusaha dan serikat
pekerja/buruh yang sudah tercatat pada instasi yang bertanggung jawab
dibidang ketenagakerjaan atau unsure pekerja/buruh.
5. Perselisihan hubungan industrial adalah perbedaan pendapat yang
menggakibat kan pertentangan antara perusahaan atau gabungan
pengusaha dengan pekerja /buruh atau serikat pekerja /serikat buruh
karena ada nya perselisihan mengenai hak, perselisi9han kepentingan dan
perselisihan pemutusan hubungan kerja serta perselisihan antar serikat
pekerja/serikat buruh hanya dalam suatu perusahaan.
6. Pengusaha adalah;
a. Orang perseorangan, persekutuan atau badan hukum yang menjalan
kan suatu perusaan milik sendiri
b. Orang perseorangan, persekutuan atau badan hukum yang secara
berdiri menjalan kan perusahaan bukan milik nya .
c. Orang perseorangan persekutuan atau badan hukum yang berada di
Indonesia mewakili perusahaan sebagai mana di maksud dalam huruf a dan b
yang berkedudukan di luar wilayah iondonesia .
6. Perusahaan adalah;
a. Setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang
perseorangan,milik persekutuan atau milik badan hukum,baik milik swasta
maupun milik Negara yang mempekerjakan pekerja/buruh dengan membayar
upah atau imbalan dalam bentuk lain

b. Usaha-usaha social dan usaha-usaha lain yang mempunyai pengurus


dan memperkerjakan orang lain dengan upah atau imbalan daklam bentuk lain
7. Pekerja /Buruh adalah;
Setiap orang yang berkerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk
lain.

1. SERIKAT PEKERJA/SERIKAT BURUH


Organisasi Serikat Pekerja/Serikat Buruh adalah sebagai
wadahnya Pekerja/Buruh dalam menyampaikan aspirasidalam perjuangan dan
membela kepentingan Pekerja/Buruh serta meningkatkan kesejahteraan nya
dalam pembentukan harus lah berazazkan Pancasila sebagai Dasar Negara dan
UUD 1945 sebagai konstitusi Negara Kesatuan Repbublik Indonesia dan tidak
boleh bertentangan .
Dalam pembentukan nya memiliki sifat bebas ,terbuka, mandiri, demokratis dan
tanggung jawab. Pembentukannya atas kehendak bebas dari pekerja/buruh
tanpa tekanan atau campur tangan pengusaha, pemerintah partai politik
berdasar kan sector usaha, jenis pekerjaan atau bentuk lain , organisasi yang
telah terbentuk harus mempunyai anggaran dasar dan anggaran rumah tangga
yang memuat nama dan lambang, Dasar Negara dan Azaz, tanggal pendirian,
domisili anggota dan pengurusan,keuangan dan perubahan AD/ART.
Pembentukan organisasi ini lanjutan harus di catatkan ke dinas Keternagakerjaan
dimana organisasi ini terbentuk karena fungsinya sebagai Organisasi Serikat
Pekerja/Buruh yang telah tercatat yang dapat menjadi pihak perwakilan dalam
pembuatan PKB dan wakil dalam lembaga keternagakerjaan.
Sesuai dengan pengertian dari Serikat Pekerja/Serikat buruh itu sendiri dimana di
tegas kan bahwa tujuan dari pembentukan Serikat Pekerja/Serikat Buruh adalah
guna memperjuangkan dan membela serta melindungi hak dan kepentingan
pekerja/buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarga
maka agar tujuannya dapat tercapai, organisasi Seriakat Pekerja/Buruh harus
menjalan kan fungsi nya;
3.1

Tugas dan Fungsi Serikat Pekerja/ Serikat Buruh

1. Sebagai pihak dalam pembuatan perjanjian kerja sama dan penyelesaian


permasalahan perselisihan industrial,
2. Sebagai wakil pekerja /buruh dalam lembaga kerjasa sama di bidang
ketenagakerjaan sesuai dengan tingkatannya
3. Sebagai sarana meningkatkan hubungan industrial yang harmonis,
dinamis dan berkeadilan sesuai dengan peraturan perundangan yang
berlaku.

4. Sebagai sarana penyalur


kepentingan anggota

aspirasi

dan

memperjuangkan

hak

dan

5. Sebagai perencana, pelaksana dan penanggung jawab pemogokkan


pekarja/ buruh sesuai dengan peraturan perundan-undanganyang berlaku
6. Sebagai wakil pekerja /buruh dalam memperjuangkan kepemilikan saham
perusahaan.
Adapun syarat utama dari pembentukan organisasi ini sesuai dengan tahap
nya ,dimana dijelas kan bahwa pekerja /buruh berhat membentuk dan menjadi
anggota SP/SB yakni;
1. Serikat pekerja/serikat buruh di bentuk oleh sekurang-kurangnya 10 orang
pekerja/ buruh
2. Federasi serikat pekerja /serikat buruh di bentuk oleh sekurang-kurangnya
5 SP/SB
3. Konfederasi SP/SB di bentuk oleh sekurang-kurangnya 3 federasi SP/SB

1. LEMBAGA KERJASAMA BIPARTIT


4.1

PEMBENTUKAN

Lembaga Kerjasama Bipartite adalah forum komunikasi dan konsultasi mengenai


hal-hal yang berkaitan dengan hubungan industrial di satu perusahaan yang
anggotanya terdiri dari pengusaha dan Serikat Pekerja/Serikat Buruh yang sudah
tercatat diinstansi yang bertanggungjawab di bidang Keternagakerjaan atau
unsure Pekerja/Buruh
Lembaga ini sendiri dalah suatu forum insitatif yang terdiri dari wakil
pekerja/buruh dan wakil darin perusahaan dimana secara bersamasamamangadakan pertemuan secara periodic untuk mengidentifikasi dan
menyelesai kan masalah yang berkaitan dengan kepentingan dan kebutuhan
bersama
Pembentukan LKS biparrtit ini secara bergaris besar bertujuan untuk
menciptakan hubungan industrial yang harmonis,dinamis berkeadilan dan
bermartabat di perusahaan demi menuju ketenangan bekerja oleh pekerja dan
kelangsungan berusaha bagi perusahaan. Pencapain tujuan dari LKS bipartite ini
adalah apabila lembaga kerjasama ini dapat menjalankan fungsi nya sebagai
forum komunikasi dan konsultasi pekerja dengan pengusaha dalam rangka
pengembangan hubungan industrial untuk kelangsungan hidup, pertumbuhan
dan perkembangan perusahaan untuk kesejahteraan Pekerja/Buruh

Sebagaimana fungsi nya sebagai suatu forum komunikasi dan konsultasi pekerja
dan pengusaha, LKS Biipartit ini memiliki tugas sebagai berikut;

1. Melakukan pertemuan secara peiodik dan atau sewaktu-waktu apabila di


perlukan
2. Mengkomunikasikan kebijakan pengusaha dan aspirasi pekerja/ buruh
dalam rangka mencegah terjadinya permasalahan hubungan industrial di
perusahaan
3. Menyampaikan saran,pertimbangan dan pendapat kepada pengusaha
pekerja/ buruh dan atau Serikat Pekerja/ Serikat Buruh dalam rangka
penetapan dan pelaksanaan kebijakan perusahaan
Ada beberapa kondisi penting sebelum membentuk lembaga kerjasama bipartite,
baik itu dari pihak manajemen / pengusaha maupun dari pihak pekerja sendiri.
1. Peranan Manajemen/Pengusaha.
2. Komitmen dan dukungan dari pimpinan manjemen tetaplah suatu hal yang
utama dan menjadi suatu kondisi yang di perlukan dalam berinovasi
3. Manajemen harus mengatasi kecenderungan untuk bertindak sendiri
tanpa keterlibatan dan komitmen dari pekerja/ buruh yang akan
menyebab kan kurangnya kredibilitas ,kepercayaan dan dukungan
potensial.
4. Manajemen harus siap berbagi informasi ,kekuasan dan tanggung jawab
untuk mempromosikan kerjasama dan keuntungan bersama dengan
seluruh pekerja/buruh
d. Para pemimpin manajemen harus mencegah rekan-rekannya menolak
pekerja /buruh atau SP/SB untuk berpatisipasi dan mendukung kerja sama
manajemen dengan pekerja /buruh dalam LKS bipartite
2. Peranan Serikat Pekerja/ Serikat Buruh
3. SP/ SB memilikin peran yang penting untuk berinovasi dan meningkatkan
standar kerja dalam pelaksanaan hubungan industrial di perusahaan.
4. Pekerja/Buruh menjadi bagian penting dari program kerjasama dan
keuntungan bersama
5. Adanya keinginan papa pemimpin serikat pekerja / srikat buruh untuk
mancapai hasil yang konkrit, sehingga inovasi di tempat kerja menjadi
tumpuan kerjasama dengan pihat manajemen .

4.2

TUJUAN PEMBENTUKAN LKS BIPARTIT

1. Menumbuhkan insiatif baik dari pihak pengusaha


Pekerja/Buruh dan atau dari kedua belah pihak.

ataupun

pihak

2. Musyawarah untuk mufakat dengan maksudn mambangun kepercayaan.

3. Mendorong komitmen bersama untuk melakukan kerjasama di tempat


kerja
4. Membuka komunikasi dua arah tentang perlunya kerja sama pengusaha
dan pekerja/buruh
5. Pendekatan operasional dengan memperhatikan kebutuhan
pertimbangan keadaan-kadaan khusus setiap perusahaan .
4.3

dan

PERSYARATAN PEMBENTUKAN

1. perusahaan yang telah memperkerjakan 50 orang atau lebih wajib


membentuk LKS bipartit, sedangkan perusahaan yang pekerjanya kurang
dari 50 orang dapat membentuksecara suka rela .
2. persyaratan pembentukan LKS bipartit,ini harus memenuhi criteria
keangotaan yang terdiri dari wakil pengusaha dan wakil Pekerja/Buruh.
3. Wakil Pengusaha dan Wakil Pekerja/Buruh yang duduk di LKS Bipartite ini
mempunyai tugas dan fungsi mewakili kepentingan pengusaha dan
pekerja.Buruh secara langsung.
4. Wakil pengusaha dan wakil pekerja/ buruh melaksanakan pertemuan / r
dapat dalam hal pembentukan LKS Bipartit,
5. Pembentukan dan susunan keangotaan pengurus LKS bipartit,di tuangkan
dalam berita acara yang di tandatanggani oleh kedua belah pihak
4.4

MEKANISME KERJA LKS BIPARTIT

1. LKS Bipartit, mangadakan pertemuan sekurang-kurang nya 1 kali dalam


sbulan atau setiap kali di pandang perlu
2. Materi pertemuan dapat berasal dari unsure pengusaha ,unsur serikat
pekerja / serikat buruh atau dari pengurus LKS bipartite
3. LKS bipartit menetapkan dan membahas agenda pertemuan sesuai
kebutuhan
4. Hubungan kerja LKS bipartit dengan lembaga lainnya di perusahaan
bersifat koordinatif dan konsultatif
5. LKS bipartit tidak mengambil alih atau mencampuri peran, fungsi ,hak dan
kewajiban serikat pekerja/ buruh dan pimpinan perusahaan
6. Hasil komunikasi dan konsultasi yang di capai hanya terbatas untuk
kepentingan intern dan kemajuan perusahaan yang di tuangkan dalam
bentuk rekomendasi dan ataumemorandum bagi pemimpim perusahaan.
7. Pemimpin perusahaan dengan memperhatikan dan mempertimbangkan
kondisi perusahaan baik mengenai keuangan ,produksi ataupun

pemasaran dapat menindak lanjuti rekomendasi atau memorandum


tersebut.
8. PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Didalam ketentuan perundang-undangan ketenagakerjaan suatu forum kerja
bipartit akan mengacu pada forum komunikasi dan konsultasi untuk membuat
pertimbangan yang matang tentang hal-hal yang berkaitan dengan hubungan
industrial dalam suatu perusahaan,dimana para anggota terdiri dari para
pemberi kerja/pengusaha dan para pekerja/buruh atau perwakilan organisasi
Pekerja/Buruh.
Salah satu tujuan dari forum kerjasama Bipartit itu yakni mengenai penting nya
meningkatkan dialoq sosial yang di rancang untuk memasuk kan seluruh agenda
kegiatan, baik menyangkut jenis-jenis perundingan atau singkatnya pertukaran
informasi di antara pemberi kerja, perwakilan pekerja/buruh dan pihak
pemerintah mangenai masalah-masalahatas kepentingan bersama yang
berkaitan dengan kebijakan ekonomi dan sosial .
Dialog merupakan factor utama dalam pencapaian kerukunan sosial dan sebagai
wahana untuk manangani berbagai permasalahan maupun pemecahan dalam
perselisihan/konflik.Oleh Karenaitu LK SBipartit menjadi salah satu sarana
operasional dalam dialoq sosial yang dapat di gunakan dalam praktek kerja
terutama tingkat perusahaan.
5.2 SARAN
Berbagai sarana dalam mencapai keharmonisan dan ketenangan dalam bekerja
diperusahaan sudah dapat direalisasikan oleh pengusaha maupun pekerja/buruh
serta perlindungan terhadap ketentuan tersebut juga sudah dicanangkan melalui
peraturan perundang-undang ketenagakerjaan.Walaupun demikian pro aktif dari
kedua belah pihak yang melakoni kehidupan hubungan industrial secara
langsung sangatlah menentukan dalam pencapaiannya.
Pemerintah selaku penengah ataupun pembuat aturan dapat memantau atupun
memonitoring perkembangan suasana hubungan industrial di perusahaan agar
tidak terjadi kealfaan ataupun kekeliruan didalam pelaksanaan dilapangan
nanti.Sehingga penyalahgunaan kekuasaan yang mungkin keluar jalur yang
sudah ditentukan oleh Pemerintah dapat diatasi secepat mungkin sehingga tidak
berlarut-larut tidak menjadi konflik yang rawan dan mungkin dapat
mengakibatkan ketidak stabilan dalam kehidupan hubungan industrial.