Anda di halaman 1dari 7

LaporanPraktikum

Hari/Tanggal: Selasa/20 September 2016

BiokimiaUmum

PJP

: UkhradiyaMagharaniq SP, M.Si.

Asisten : 1. M.MaftuchinSholeh
2. NickitaDewiSafina
3.DeaAyu Lantana

BIOFISIK 1
BOBOT JENIS (BJ), TEGANGAN PERMUKAAN, DAN EMULSI
Kelompok 4
Rahayu Laelandi

G3415000

Setiyoko

G341500

Aisyah Sahara

G34150105

DEPARTEMEN BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016

PENDAHULUAN
Bobot jenis suatu zat menurut definisi lama adalah bilangan yang
menyatakan berapa gram bobot 1 cm3 suatu zat atau berapa kg bobot 1 dm3 air
pada suhu 4 0C. Jadi, bilangan yang menyatakan berapa kali bobot 1 dm3 suatu zat
dengan bobot 1 dm3 air pada suhu 4 0C disebut juga bobot. Bobot jenis, dalam
praktek, ditentukan dengan cara membandingkan bobot zat pada volume tertentu
dengan bobot air pada volume yang sama pada suhu kamar (t 0C) sehingga bobot
jenis menurut defenisi lama disebut kerapatan atau densitas (d) (Taba et al. 2010).
Bobot jenis adalah perbandingan massa suatu zat dengan massa air pada
volume dan temperatur yang sama. Bobot jenis merupakan besaran intensif, yaitu
besaran yang nilainya tidak dipengaruhi oleh jumlah zat tersebut. Alat yang
digunakan untuk menetapkan bobot jenis adalah piknometer. Piknometer adalah
alat penetapan bobot jenis yang paling praktis dan tepat digunakan, penggunaan
tabung sprengel atau Ostwald memberikan hasil yang teliti tetapi pengerjaannya
tidak dapat dilakukan dengan cepat (Guenther, 1987).
Tegangan permukaan merupakan sifat permukaan suatu zat cair yang
berperilaku layaknya selapis kulit tipis yang kenyal atau lentur akibat pengaruh
tegangan. Pengaruh tegangan tersebut disebabkan oleh adanya gaya tarik menarik
antar molekul di permukaan zat cair tersebut (Indarniati 2008).
Emulsi adalah suatu dispersi dimana fase terdispersi terdiri dari bulatanbulatan kecil zat cair yang terdistribusi ke seluruh pembawa yang tidak
bercampur. Fase terdispersi dianggap sebagai fase dalam dan medium dispersi
sebagai fase luar atau fase kotinu (Ansel 1989). Emulsi merupakan sediaan yang
mengandung dua zat yang tidak tercampur, biasanya mengandung air dan minyak,
dimana cairan yang saat terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang
lain. Dispersi ini tidak stabil, butir-butir ini bergabung (koalesen) dan membetuk
dua lapisan air dan minyak yang terpisah.(Anief 1993).
Emulsi dapat dibentuk oleh dua cairan yang tidak bercampur, tetapi dalam
banyak kasus, emulsi adalah suatu peristiwa yang merupakan salah satu fase air.
Secara umum, emulsi dapat dikategorikan menjadi : 1. Minyak dalam air (water
ngeliat eman), emulsi adalah suatu yang berasal dari fase lanjutan yang di dispersi
di dalam cairan berminyak, air dalam minyak (home /O) terbalik, emulsi adalah
suatu yang mempunyai fase kontinyu yaitu minyak dan fase dispersi air.

HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Bobot Jenis Zat
Bobot jenis suatu larutan bergantung pada jumlah zat yang terlarut dalam
larutan tersebut. Semakin tinggi konsentrasi zat terlarut, jumlah solut akan
semakin banyak sehingga bobot jenisnya tinggi. Sebaliknya, semakin rendah
konsentrasi zat terlarut, jumlah solut akan semakin sedikit sehingga bobot jenis
larutan rendah. Pengukuran bobot jenis suatu larutan pada percobaan ini diukur
dengan menggunakan metode densitometer.
Tabel 1. Berat Jenis Larutan
Sampel
Termal (C)
NaCl 0,3%
NaCl 0,9%
Aquades
NaCl 5%
Glukosa 5%
Air Kelapa
Air Kran
Larutan
Albumin 1%

35
35
34
34
33
33
32
35

BobotJenisTerukur
(g/mol)
1,002
1,006
1
1,030
1,000
1,026
1,000
1,000

BobotJenisTerkoreksi
(g/mol)
1,007
1,011
1,005
1,035
1,004
1,030
1,004
1,005

ContohPerhitungan
NaCl 0,3%
A: Ukuran terapadahydrometer 1,000 g/ml
B: Ukuranhasilpengamatan0,002
C: Temperaturcairan yang diukur 34%
D: Temperaturtera hydrometer 20%
BobotJenisTerukur = A + B
= 1,000 + 0,002
= 1,002 g/ml
Koreksinya
=CD
3
3420
=

= 5 g/ml
BobotJenisTerkoreksi = BobotJenisTerukur + Koreksinya
= 1,002 + 5
= 1,007 g/ml

NB: * Angka 3 merupakan temperature cairan di atas temperature tera


(yang tercantumkanpadadensitometer)
Pembahaan
Berdasarkan hasil pengamatan bobot jenis larutan dengan menggunakan
alat ukur hydrometer, bobot jenis NaCl 9% mempunyai bobot yang lebih besar
dari pada NaCl 0,3%, NaCl 0,9%, dan cairan yang lainnya. Hal tersebut terjadi
karena jumlah zat yang terlarut pada NaCl 9% lebih banyak, sehingga menambah
bobot jenis yang teramati. Ini sesuai dengan teori bahwa semakin banyak zat
terlarut pada sua tularutan, maka bobot jenis suatu larutana kan bertambah.
Bobot jenis larutan juga tergantung konsentrasi zat yang terlarut dalam
larutan tersebut. Konsentrasi zat tinggi, maka bobot jenis yang didapat tinggi pula.
Sedangkanaquadesmempunyaibobotjenis yang lebihkecildaripadacairan yang
lainnnya.Itukarenaaquadesmerupakanlarutan yang non-zatterlarutdan non-mineral
(H2O murni).
Tabel 2. Berat Jenis Urin
Sampel
Urin Probandus 1
Urin Probandus 2
Urin Probandus 3
Urin Probandus 4
Contoh Perhitungan

Temperatur (0C)
35
34
33
34

BJ Terukur
1.014
1.006
1.020
1.020

Bj Terkoreksi
1.019
1.011
1.028
1.025

Sampel : Uji probandus 1


Temperatur : 350C volume: 37 ml BJ terukur : 1.014
Koreksi : 35-20:3 = 5
Bj terkoreksi = 1.014 + 0.005 + 1.019

2. Tegangan Permukaan
Densitometer digunakan untuk mengukur bobot jenis suatu zat cair secara
langsung yang nilai bobot jenisnya ditunjukkan oleh skala densitometer.
Tabel 3. Tegangan permukaan sampel
No

Sampel

Hasil

Jumlah Tetessan

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

NaCl 20%
Aquades
Alkohol
Air sabun
Minyak
Air empedu
Air kelapa
Air sungai

Mengapung
Tenggelam
Tenggelam
Tenggelam
Tenggelam

0
1
0
1
0
-

Pembahasan
Pada praktikum didapat hasil hanya pada aquades jarum bisa melayang
sedangkan pada air empedu, air kelapa, detergen, dan air sungai jarum tenggelam.
Hasil ini menunjukkan bahwa tegangan permukaan aquades lebih besar dibanding
zat lainnya. Konsentrasi zat terlarut pada permukaan lebih kecil dibanding
konsentrasi zat terlarut pada lapisan dalamnya sehingga tegangan permukaannya
lebih besar.
Tegangan permukaan juga dipengaruhi oleh surfaktan, yaitu suatu zat aktif
yang mampu menurunkan tegangan permukaan suatu zat cair. Contoh surfaktan
adalah air sabun. Jumlah tetesan yang jatuh juga bisa untuk mengukur tegangan
permukaan. Pada percobaan didapat hasil aquades dan air sabun memiliki jumlah
tetesan 1 sedangkan zat cair lainnya tidak menetes. Semakin banyak jumlah
tetesan pada zat cair maka tegangan permukaannya semakin kecil.
3. Emulsi
Emulsi tergolong jenis koloid dengan fase pendispersi cair dan fase terdispersi
juga cair. Emulsi dapat digolongkan menjadi 2 tipe, yaitu tipe O/W dan tipe
W/O.
Tabel 4. Emulsi
Sampel
Minyak
Minyak
kelapa
Parameter
kelapa +
+
air
Sabun
Kestabilan Tidak
Stabil
stabil
Tipe
W/O
O/W
Fase
Air
Minyak
Terdispers
i
Fase
Minyak Air
Pendispers

Minyak
kelapa +
Gum Arab

Mentega

Susu

Stabil

Stabil

Stabil

W/O
Air

W/O
Air

O/W
Minyak

Minyak

Minyak

Air

i
Gambar

Pembahasan
Hasil pengujian tipe emulsi beberapa sampel tertera pada Tabel 4. Sampel
yang diamati pada pengujian tipe emulsi antara lain, emulsi minyak kelapa-air,
minyak kelapa-air sabun, minyak kelapa-gum Arab, susu,dan margarin.
Emulsi minyak kelapa-air bertipe W/O dan tidak stabil akibat perbedaan
sifat kepolarannya. Air bersifat polar, sedangkan minyak bersifat nonpolar
sehingga kedua cairan tersebut tidak dapat larut. Emulsi minyak kelapa-air sabun
bertipe O/W dan relatif lebih stabil. Hal tersebut disebabkan oleh sabun yang
merupakan surfaktan sehingga dapat membantu proses pelarutan antara minyak
dan air. Emulsi minyak kelapa-gum Arab bertipe W/O dan relatif stabil karena
gum Arab berfungsi sebagai mediator yang dapat membantu proses pelarutan
antara air dengan minyak.
Susu merupakan suatu emulsi lemak dalam air yang mengandung
beberapa
senyawa terlarut. Agar lemak dan air dalam susu tidak mudah terpisah, maka
protein susu bertindak sebagai emulsifier (zat pengemulsi). Gum arab memiliki
sifat mampu mengikat air dengan sangat baik di dalam bahan pangan, dengan
terikatnya air oleh gum arab menyebabkan ikut terikatnya mineral-mineral larut
air. (Rabah dan Abdalla 2012). Gum arab sulit dihidrolisis oleh enzim-enzim
pencernaan dan terhitung sebagai serat kasar karena mempunyai struktur yang
kompleks dan bobot molekul yang besar (Ali et al. 2003),

DAFTAR PUSTAKA
Taba P, Zakir M, dan Fauziah S. 2010. Fisika Untuk Sains dan Teknik.
Makassar(ID): Universitas Hasanuddin.
Indarniati & Frida ,2008, Perancangan Alat ukur Tegangan Permukaan dengan
Induksi Elektromagnetik, Surabaya: ITS.
Ansel, H.C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, diterjemahkan oleh
Farida Ibrahim, Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Anief, M., 1993, Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek, Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.
Rabah, A.A .dan E.A. Abdalla, 2012.Decolorization of acacia seyal gum
arabic.Annual Conference of Postgraduate Studies and Scientific Research
Hall, Khartoum.Republic of Sudan. (1):33-37.
Ali, B.H., A.A. Al-Qarawi,E.M. Haroun. danH.M.Mousa. 2003. The effect of
treatment with.
G.A. on gentamicin nephrotoxicity in rats: a preliminary study. Renal Failure. 25
(1):15 20. ISSN: 0886-022X.