Anda di halaman 1dari 12

PENELITIAN KESETIMBANGAN, KINETIKA & TERMODINAMIKA ...

1 of 12

https://evisapinatulbahriah.wordpress.com/2011/06/20/penelitian-keseti...

Evi Sapinatul Bahriah


EVISAPINATULBAHRIAH.WORDPRESS.COM

PENELITIAN KESETIMBANGAN, KINETIKA


& TERMODINAMIKA
20 JUN
PENELITIAN KESETIMBANGAN, KINETIKA DAN TERMODINAMIKA: ADSORPSI REMAZOL
BLACK 5 (RB5) DENGAN PALM KERNEL SHELL ACTIVATED CARBON (PKS-AC)
BAB 1
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

Lebih dari 100.000 macam pewarna yang diperdagangkan dan lebih dari 7105 ton digunakan setiap
tahunnya. Pewarna banyak digunakan pada bidang industri. Total pewarna yang digunakan oleh industri
tekstil lebih dari 107 kg/tahun dan diperkirakan 90% dihasilkan pabrik (Hameed, et al., 2007).
Konsekuensinya, 106 kg/tahun pewarna dibuang oleh industri tekstil dan mencemari sungai. Pewarna
industri yang dibuang merupakan salah satu masalah pencemaran air yang mengancam kandungan BOD air,
suspensi padatan dalam senyawa pewarna juga beracun. Adapun ambang batas pewarna dalam air adalah
0,005 mg/L dan jika melampaui ambang batas yang diizinkan akan merusak keindahan alam (Pierce, 1994)
dan juga mungkin dapat meracuni lingkungan akuatik.
Komposisi dan tipe pewarna tekstil yang mencemari air sangat kompleks. Bahan pewarna yang mencemari
sungai ini terdiri dari bahan xylene, fenol, buer, pemutih dan penggosok alat, cairan pelembut, surfaktan,
senyawa kaustik, dan asam (James dan Cynthia, 1985). Pewarna yang digunakan berasal dari senyawa
sintetik dan struktur molekul aromatik kompleks yang bersifat stabil dan sulit diuraikan juga dapat
dihilangkan oleh bahan kimia dan cahaya. Hal ini dikarenakan pewarna sangat elastis pada suhu tinggi dan
degradasi enzim dari hasil pembuangan deterjen. Berdasarkan hal tersebut, proses biodegradasi pewarna
berjalan sangat lambat. Oleh karena itu, sebelum dibuang ke lingkungan zat pewarna harus diolah terlebih
dahulu untuk meminimalisir terjadinya pencemaran air selain itu pewarna juga berpotensi menyebabkan
penyakit kronis pada manusia dan makhluk hidup yang hidup di lingkungan air.
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghilangkan warna dari pencemaran air seperti
pemisahan dengan membran, mikroorganisme aerob dan anaerob, oksidasi kimia, koagulasi dan okuasi,
adsorpsi dan osmosis (Chandra et al., 2006). Beberapa teknik ini menunjukkan keefektivan meskipun
terbatas, misalnya menggunakan lebih banyak zat kimia, atau konsentrasi endapan yang terakumulasi
sehingga menyebabkan masalah pembuangan, kurang efektif mereduksi warna, dan hanya menyerap
komponen tertentu dalam pencemaran air (Santhy dan Selvapathy, 2005).

9/26/2016 6:17 AM

PENELITIAN KESETIMBANGAN, KINETIKA & TERMODINAMIKA ...

2 of 12

https://evisapinatulbahriah.wordpress.com/2011/06/20/penelitian-keseti...

Diantaranya, proses adsorpsi yang digunakan sangat luas dan teknik penghilangan warna dialirkan sangat
lambat dan hanya pada level senyawa organik, tetapi cara ini dibatasi oleh harga adsorben yang mahal.
Sebuah karbon aktif dengan kapasitas adsorpsi tinggi dapat diperoleh dengan harga yang rendah atau dari
bahan pencemar digunakan sebagai adsorben sehingga lebih ekonomis (Chandra et al., 2006).
Akhir-akhir ini, perhatian pemerintah hanya berfokus pada harga adsorben yang murah yang digunakan
dalam mengatasi ancaman pencemaran air. Karbon dihasilkan dari agrikultur pencemar sangat
menguntungkan dan murah serta tepat menghilangkan bahan organik dan anorganik yang mencemari air.
Beberapa bahan yang dapat digunakan seperti: myrobalan, tempurung biji karet, kelopak biji jambu monyet,
tempurung biji kelapa sawit, bunga pohon kelapa sawit, kulit biji pongam (Rengaraj et al., 1999), serbuk
gergaji, dedak padi (Malik, 2003), kulit padi, kulit kacang, kulit biji kapas (Kim et al., 2003), cornelian cherry,
biji apricot, biji almond (Demirbas et al., 2004), sisa pohon oak, sekam jagung, batang jagung (Zhang et al.,
2004), dan batang kapas (A ia et al., 2004).
Malaysia adalah salah satu negara terbesar kedua pengekspor minyak kelapa sawit dalam perdagangan
internasional. Disamping menghasilkan minyak kelapa sawit mentah, juga menghasilkan pencemar solid
dalam jumlah besar dari industri minyak kelapa sawit. Misalnya, 2.6 juta ton pencemaran solid dihasilkan di
industri minyak kelapa sawit setiap tahunnya (Amiruddin, 1998). Pada tahun 2001 jumlah tempurung biji
kelapa sawit dihasilkan 4.3 juta ton dan menjadi masalah dalam pembuangan (Ma, 2002). Beberapa peneliti
berinisiatif untuk memanfaatkan tempurung biji kelapa sawit sebagai bahan dasar pembuatan karbon aktif.
PKS dipilih karena struktur butiran/granulnya, kelarutan dalam air, bahan kimia stabil, kekuatan mekanik
tinggi, dan dapat diperoleh secara lokal sehingga dapat meminimalisir biaya. Hasil penelitian yang relevan
seperti penelitian yang dilakukan oleh Adinata et al. (2007), Go dan Lua (2003) dan Hussen et al. (1997)
mereka memfokuskan pada preparasi dan karakterisasi tempurung biji kelapa sawit sebagai karbon aktif.
BAB 2
LANDASAN TEORI
A.

Arang/Karbon Aktif

Karbon aktif merupakan senyawa karbon amorph dan berpori yang mengandung 85-95% karbon yang
dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon (batubara, kulit kelapa, dan sebagainya) atau dari
karbon yang diperlakukan dengan cara khusus baik aktivasi kimia maupun sika untuk mendapatkan
permukaan yang lebih luas. Karbon aktif dapat mengadsorpsi gas dan senyawa-senyawa kimia tertentu atau
sifat adsorpsinya selektif, tergantung pada besar atau volume pori-pori dan luas permukaan. Berikut adalah
contoh struktur allotrop karbon.
Gambar 1: Struktur Allotrop Karbon
Arang aktif yang merupakan adsorben adalah suatu padatan berpori, yang sebagian besar terdiri dari unsur
karbon bebas dan masing-masing berikatan secara kovalen. Dengan demikian, permukaan arang aktif
bersifat non polar. Selain komposisi dan polaritas, struktur pori juga merupakan faktor yang penting
diperhatikan. Struktur pori berhubungan dengan luas permukaan, semakin kecil pori-pori arang aktif,
mengakibatkan luas permukaan semakin besar. Dengan demikian kecepatan adsorpsi bertambah. Untuk
meningkatkan kecepatan adsorpsi, dianjurkan agar menggunakan arang aktif yang telah dihaluskan. Sifat
arang aktif yang paling penting adalah daya serap. Dalam hal ini, ada beberapa faktor yang mempengaruhi
daya serap adsorpsi, yaitu:
1. Sifat Serapan
Banyak senyawa yang dapat diadsorpsi oleh arang aktif, tetapi kemampuannya untuk mengadsorpsi berbeda

9/26/2016 6:17 AM

PENELITIAN KESETIMBANGAN, KINETIKA & TERMODINAMIKA ...

3 of 12

https://evisapinatulbahriah.wordpress.com/2011/06/20/penelitian-keseti...

untuk masing- masing senyawa. Adsorpsi akan bertambah besar sesuai dengan bertambahnya ukuran
molekul serapan dari sturktur yang sama, seperti dalam deret homolog. Adsorbsi juga dipengaruhi oleh
gugus fungsi, posisi gugus fungsi, ikatan rangkap, struktur rantai dari senyawa serapan.
2. Temperatur
Dalam pemakaian arang aktif dianjurkan untuk mengamati temperatur pada saat berlangsungnya proses.
Faktor yang mempengaruhi temperatur proses adsoprsi adalah viskositas dan stabilitas thermal senyawa
serapan. Jika pemanasan tidak mempengaruhi sifat-sifat senyawa serapan, seperti terjadi perubahan warna
maupun dekomposisi, maka perlakuan dilakukan pada titik didihnya. Untuk senyawa volatil, adsorpsi
dilakukan pada temperatur kamar atau bila memungkinkan pada temperatur yang lebih rendah.
3. pH (Derajat Keasaman).
Untuk asam-asam organik, adsorpsi akan meningkat bila pH diturunkan, yaitu dengan penambahan
asam-asam mineral. Ini disebabkan karena kemampuan asam mineral untuk mengurangi ionisasi asam
organik tersebut. Sebaliknya bila pH asam organik dinaikkan yaitu dengan menambahkan alkali, adsorpsi
akan berkurang sebagai akibat terbentuknya garam.
4. Waktu Singgung
Bila arang aktif ditambahkan dalam suatu cairan, dibutuhkan waktu untuk mencapai kesetimbangan. Waktu
yang dibutuhkan berbanding terbalik dengan jumlah arang yang digunakan. Selisih ditentukan oleh dosis
arang aktif, pengadukan juga mempengaruhi waktu singgung. Pengadukan dimaksudkan untuk memberi
kesempatan pada partikel arang aktif untuk bersinggungan dengan senyawa serapan. Untuk larutan yang
mempunyai viskositas tinggi, dibutuhkan waktu singgung yang lebih lama.
B. Model Kesetimbangan
Adsorpsi secara umum adalah proses penggumpalan subtansi terlarut (soluble) yang ada dalam larutan, oleh
permukaan zat atau benda penyerap, dimana terjadi suatu ikatan kimia sika antara subtansi dengan
penyerapannya. Adsorpsi dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu ;
1.
Adsorpsi sik, yaitu berhubungan dengan gaya Van der Waals dan merupakan suatu proses bolak
balik apabila daya tarik menarik antara zat terlarut dan adsorben lebih besar daya tarik menarik antara zat
terlarut dengan pelarutnya maka zat yang terlarut akan diadsorpsi pada permukaan adsorben.
2.

Adsorpsi kimia, yaitu reaksi yang terjadi antara zat padat dan zat terlarut yang teradsorpsi.

Suatu permukaan padatan yang bersentuhan dengan larutan akan menyebabkan molekul-molekul terlarut
terjerap/adsorp pada permukaan padatan. Adsorbsi molekul digambarkan sebagai berikut:
A+ B

A.B

Dimana : A= adsorbant, B= adsorbent, A.B= jumlah bahan yang terserap


Isoterm adsorpsi adalah hubungan yang menunjukan distribusi adsorbent antara fasa teradsorpsi pada
permukaan adsorben dengn fasa ruah saat kesetimbangan pada suhu tertentu. Ada tiga jenis hubungan
matematik yang umumnya digunakan untuk menjelaskan isoterm adsorpsi.
1. Isoterm Langmuir
Isoterm ini berdasar asumsi bahwa:

9/26/2016 6:17 AM

PENELITIAN KESETIMBANGAN, KINETIKA & TERMODINAMIKA ...

4 of 12

https://evisapinatulbahriah.wordpress.com/2011/06/20/penelitian-keseti...

a)
Adsorben mempunyai permukaan yang homogen dan hanya dapat mengadsorpsi satu molekul
adsorbat untuk setiap molekul adsorbennya. Tidak ada interaksi antara molekul-molekul yang terserap.
b)

Semua proses adsorpsi dilakukan dengan mekanisme yang sama.

c)

Hanya terbentuk satu lapisan tunggal saat adsorpsi maksimum.

Teori ini menjelaskan bahwa semua tempat adalah sama dan energinya adalah ekuivalen, termodinamika ini
menjelaskan bahwa kedudukan dapat memuat salah satu molekul adsorban, proses adsorpsi tidak dapat
terjadi pada ruang satu lapis, molekul dapat diadsorpsi tergantung pada letaknya, artinya, adsorban tidak
akan berinteraksi diantara batasan molekul pada permukaan dan adsorpsi tidak bergerak, permindahan
adsorbat di permukaan. Untuk adsorpsi larutan yang berasal dari cairan, isotherm Langmuir dinyatakan
dalam persamaan berikut ini:
qe =

(1)

Dimana: KL = Konstanta adsorpsi larutan (l/g); L = konstanta energi adsorpsi (l/mg); plot qe dengan Ce =
karakteristik plateau
Pengaruh dari bentuk isotherm menunjukkan perkiraan sistem adsorpsi yaitu favourable atau unfavourable
(Waber dan Chakravorti, 1974). Hall et al. (1966) menentukan faktor dimensi RL sebagai bentuk esensial dari
isotherm Langmuir yang didenisikan menurut persamaan:
RL =

(2)

Dengan Cref adalah konsentrasi adsorban fasa uida (mg/l) dan L adalah konstanta Langmuir. Nilai RL
dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 1. Tipe isotherm dan nilai RLnya
Nilai RL

Tipe Isoterm

0<RL<1RL>1

FavourableUnfavourable

RL = 1

Linier

RL = 0

Irreversible

Namun, biasanya asumsi-asumsi tersebut sulit diterapkan karena: selalu ada ketidaksempurnaan pada
permukaan, molekul teradsorpsi tidak inert dan mekanisme adsorpsi pada molekul pertama sangat berbeda
dengan mekanisme pada molekul terakhir yang teradsorpsi.
2. Isoterm Brunauer, Emmet, and Teller (BET).
Isoterm ini berdasar asumsi bahwa adsorben mempunyai permukaan yang homogen. Perbedaan isoterm ini
dengan Langmuir adalah BET berasumsi bahwa molekul-molekul adsorbat bisa membentuk lebih dari satu
lapisan adsorbat di permukaannya. Pada isoterm ini, mekanisme adsorpsi untuk setiap proses adsorpsi
berbeda-beda.
3. Isoterm Freundlich
Untuk rentang konsentrasi yang kecil dan campuran yang cair, isoterm adsorpsi dapat digambarkan dengan
persamaan empirik yang dikemukakan oleh Freundlich. Isoterm ini berdasarkan asumsi bahwa adsorben

9/26/2016 6:17 AM

PENELITIAN KESETIMBANGAN, KINETIKA & TERMODINAMIKA ...

5 of 12

https://evisapinatulbahriah.wordpress.com/2011/06/20/penelitian-keseti...

mempunyai permukaan yang heterogen dan tiap molekul mempunyai potensi penyerapan yang
berbeda-beda. Persamaan ini merupakan persamaan yang paling banyak digunakan saat ini. Persamaannya
adalah
x/m = kC1/n
Dengan x = banyaknya zat terlarut yang teradsorpsi (mg), m = massa dari adsorben (mg), C = konsentrasi
dari adsorbat yang tersisa dalam kesetimbangan, dan k,n,= konstanta adsorben
Dari persamaan tersebut, jika konstentrasi larutan dalam kesetimbangan diplot sebagai ordinat dan
konsentrasi adsorbat dalam adsorben sebagai absis pada koordinat logaritmik, akan diperoleh gradien n dan
intersep k. Dari isoterm ini, akan diketahui kapasitas adsorben dalam menyerap air. Isoterm ini akan
digunakan dalam penelitian yang akan dilakukan, karena dengan isoterm ini dapat ditentukan esiensi dari
suatu adsorben. Isotherm Freundlich juga dapat dinyatakan dengan persamaan:
qe = (3)
Dengan KF adalah konstanta kapasitas adsorpsi (mg/g), 1/n adalah konstanta permukaan heterogen,
sedangkan ploting antara qe dengan Ce tidak ada regresi pada garis yang menentukan nilai 1/n dari 0-1 dan
ditutup oleh niai 0 yang menyatakan permukaan adsorben heterogen.
C. Model Kinetika
Adsorpsi adalah proses proses penyerapan suatu zat yang tergantung pada waktu, daya adsorpsi suatu zat
dapat digunakan untuk mengetahui rata-rata adsorpsi untuk desain dan evaluasi adsorben dalam
menghilangkan pewarna pada pencemaran air. Pada beberapa kasus, kinetika adsorpsi disamping
menyatakan nilai adsorpsi total oleh adsorben juga menyatakan hukum pertama model Lagergren dan orde
reaksi semu dua.
Nilai orde reaksi satu dinyatakan oleh Lagergren (Lagergren, 1898; Annadurai dan Krishnan, 1997) seperti di
bawah ini:
(4)
Dimana qe dan qt adalah jumlah penyerapan pewarna pada adsorben pada saat setimbang (mg/g), t adalah
waktu dan k1 adalah nilai adsorpsi orde satu (min-1). Hasil integral persamaan 7 dengan batas t=0 sampai t=t
adalah:
Log

(5)

Plot log dengan t akan menunjukkan kekuatan garis dan nilai k1 dapat diperoleh dari slop grak. Model
kinetika orde reaksi dua dinyatakan sebagai:
2

(6)

Dengan k2 adalah nilai konstanta adsorpsi pseudo-second-order (gmg-1min) hasil integrasi persamaan 9
adalah:
(7)
Jika orde reaksi dua semu diaplikasikan ke dalam system, kemudian plot terhadap t pada persamaan 2.11
akan memberikan hubungan yang linier dengan dan .

9/26/2016 6:17 AM

PENELITIAN KESETIMBANGAN, KINETIKA & TERMODINAMIKA ...

6 of 12

https://evisapinatulbahriah.wordpress.com/2011/06/20/penelitian-keseti...

D. Model Termodinamika
Parameter termodinamika seperti perubahan energi bebas standar (G 0), perubahan entalpi (H0) dan
perubahan entropi (S0) dapat dinyatakan pada persaman berikut ini:
ln

(8)
(9)

Dengan R sebagai konstanta gas (8,314 J/molK), T= suhu mutlak (K) dan Kc= konstanta kesetimbangan
termodinamika standar yang besarnya= qe/ce (L/g). Plot antara ln Kc dengan 1/T dapat menentukan dan .
Parameter untuk menyatakan apakah suatu reaksi berlangsung atau tidak dapat diketahui berdasarkan
harga energi bebas Gibbs, yaitu jika:
G0 < 0, maka energi Gibbs sistem turun dan reaksi berjalan spontan
G0 > 0, maka energi Gibbs sistem naik dan reaksi berjalan tidak spontan
G0 = 0, maka energi Gibbs sistem mencapai nilai minimum dan sistem berada dalam keadaan yang
kesetimbangan
Isi dari hukum kedua termodinamika adalah:semua proses yang terjadi di alam semesta selalu berlangsung
ke arah peningkatan entropi. Hukum kedua termodinamika ini dapat digunakan untuk meramalkan arah
suatu proses, apakah pada kondisi tertentu proses tersebut dapat terjadi atau tidak. Menurut hukum kedua
termodinamika, proses yang berlangsung pada syistem tersekat (di alam semesta) dapat terjadi apabila
disertai dengan peningkatan entropi. Berdasarkan pernyataan ini maka arah proses dapat diramalkan
sebagai berikut:
Jika sistem +lingkungan > proses akan berlangsung
Jika sistem +lingkungan < proses tidak akan berlangsung
Jika sistem +lingkungan = proses berlangsung setimbang
Parameter entalpi menyatakan sejumlah energi yang dimiliki sistem. Sama halnya dengan energi dalam, nilai
absolut dari entalpi tidak dapat diukur, tetapi perubahan entalpi yang menyertai suatu proses dapat
ditentukan. Kalor reaksi yang berlangsung pada tekanan tetap sama dengan perubahan entalpi (H) sistem.
Berdasarkan perubahan entalpi kita dapat menentukan apakah suatu reaksi berlangsung eksoterm atau
endoterm. Jika H = HP HR > 0, bertanda positif artinya reaksi endoterm yaitu adanya perpindahan kalor
dari lingkungan ke sistem. Sedangkan jika H = HP HR < 0, bertanda negatif artinya reaksi eksoterm yaitu
adanya perpindahan kalor dari sistem ke lingkungan.
BAB 3
ALAT, BAHAN, DAN CARA KERJA
A.

Alat dan bahan

Bahan dasar pembutan karbon aktif adalah tempurung biji kelapa sawit yang terlebih dahulu dihancurkan
hingga ukurannya mencapai 8-15 mm, biji kelapa sawit ini diperoleh dari K.D Technology Sdn. Bhd. Adapun
pewarna yang diuji adalah Remazol Black 5 (RB5) yang memiliki struktur kimia sebagai berikut:

9/26/2016 6:17 AM

PENELITIAN KESETIMBANGAN, KINETIKA & TERMODINAMIKA ...

7 of 12

https://evisapinatulbahriah.wordpress.com/2011/06/20/penelitian-keseti...

Gambar 2: Remazol Black 5 (RB5)

Parameter

Typical value

Iodine no., mg/g


Butane activity, %
CCl4 activity, %
Ball pan hardness,%
Ash content,%
Apparent density,%
Moisture,%
pH
Particle size distribution,%
BET surface area, m2/g
950-1150
20-30
55-70
88-96
5 max
0.42-0.52
5 max
9-11
90
1088

Tabel 2: Produk specication of palm kernel shell activated carbon (PKS-AC)


B.

Preparasi Adsorpsi

Ditimbang 1 g karbon aktif dengan teliti dan tepat. Dimasukkan larutan dalam 0.5 L larutan pewarna standar
dengan konsentrasi 50-500 mg/L (pada pH optimum) kedalam labu erlenmeyer. Dimasukkan karbon aktif ke
dalam erlemeyer tersebut dan ditutup dengan aluminium foil. Larutan tersebut diaduk menggunakan stirer

9/26/2016 6:17 AM

PENELITIAN KESETIMBANGAN, KINETIKA & TERMODINAMIKA ...

8 of 12

https://evisapinatulbahriah.wordpress.com/2011/06/20/penelitian-keseti...

magnetik dengan skala 150 rpm pada suhu konstan 28C sampai setimbang selama 30 menit. Semua larutan
disaring dalam corong Buchner, dimana saringan pertama dibuang. Diukur absorbansi dari setiap larutan
standar pewarna dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Jumlah pewarna yang diserap dapat
diketahui kapasitas adsorpsinya, qe (mg/g) yang dapat dihitung dengan menggunakan persamaan 10.
Qe =

(10)

Dimana Co adalah konsentrasi awal, Ce adalah konsentrasi akhir, m adalah massa adsorban yang digunakan
dan V adalah volume larutan pewarna.
C. Waktu
Konsentrasi larutan yang digunakan pada percobaan ini adalah 200 mg/l dengan menggunakan temperatur
yang berbeda (35, 45 dan 55C) dan di aduk pada 150 rpm. Sebanyak 1 ml sampel diambil sebelum adsorban
dicampur dengan larutan yang mengandung pewarna dan ditentukan interval waktunya, yaitu setiap 3
menit untuk 30 menit pertama dan 5 menit untuk 30 menit selanjutnya. Untuk 120 menit selanjutnya sampel
diaduk setiap 10 dan 15 menit. Dan 120 menit terakhir sampel diaduk setiap 60 menit.
D. Analisis Data
Semua sempel dianalisis dengan menggunakan spektrofotometer UV (Genesys 10 uv) pada panjang
gelombang maksimum (mak) 597 nm.

BAB 4
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Penelitian daya adsorpsi PKS-AC terhadap zat pewarna tekstil (RB5) ini menggunakan beberapa parameter
baik faktor pH awal, kesetimbangan, kinetika maupun termodinamika. Berikut adalah penjelasan detailnya.
A. Pengaruh pH awal
Pengaruh pH terhadap proses adsorpsi menunjukkan bahwa adsorpsi pewarna RB5 oleh karbon aktif dapat
berjalan dengan optimum. pH awal yang digunakan dalam penelitian itu adalah pH= -0.5 dengan
konsentrasi awal pewarna 50 mg/l. pengaruh pH awal terhadap kemampuan adsorpsi dapat dilihat pada
gambar grak di bawah ini.
Berdasarkan gambar grak di atas maka dapat diketahui adanya pengaruh pH terhadap adsorpsi pewarna
RB5. Pengaruh pH terhadap proses adsorpsi menunjukkan bahwa adsorpsi pewarna RB5 oleh karbon aktif
PKS-AC pada range pH 1-5 meningkat seiring dengan meningkatnya pH. Hal ini dikarenakan pada
permukaan karbon aktif PKS-AC terdapat gugus aktif yang bermuatan parsial positif yaitu gugus karboksil,
sehingga pada waktu penambahan basa zat warna RB5 cenderung menjadi bermuatan parsial negatif yang
akan menyebabkan terjadinya interaksi antara dipol-dipol dipermukaan karbon aktif PKS-AC sehingga
adsorpsi akan meningkat.
Pada saat pH sistem meningkat, jumlah ion hidroksida juga meningkat dan akan berkompetensi dengan ion
negatif pewarna pada kondisi basa sehingga jumlah muatan positif akan menurun. Muatan negatif pada
adsorban tidak menguap pada adsorpsi ion pewarna sehingga gaya elektrostatik tolak-menolak dan ion OH
melimpah.

9/26/2016 6:17 AM

PENELITIAN KESETIMBANGAN, KINETIKA & TERMODINAMIKA ...

9 of 12

https://evisapinatulbahriah.wordpress.com/2011/06/20/penelitian-keseti...

Untuk asam-asam organik, adsorpsi akan meningkat bila pH diturunkan, yaitu dengan penambahan
asam-asam mineral. Ini disebabkan karena kemampuan asam mineral untuk mengurangi ionisasi asam
organik tersebut. Sebaliknya bila pH asam organik dinaikkan yaitu dengan menambahkan alkali, adsorpsi
akan berkurang sebagai akibat terbentuknya garam. pH larutan mempengaruhi kelarutan ion logam, aktivitas
gugus fungsi pada biosorben dan kompetisi ion logam dalam proses adsorpsi.
Pada kondisi asam dengan penambahan H+ mengakibatkan zat warna cenderung bermuatan parsial positif,
yang akan mengakibatkan terjadinya tolakan elektrostatik antara zat warna dengan permukaan karbon aktif
yang juga bermuatan parsial positif sehingga adsorpsi yang terjadi relatif rendah. pH optimal diperoleh pada
pH 2 dengan massa maksimum pada 27.44 mg/g dimana terjadinya kesetimbangan antara zat warna dengan
ion hidroksil didalam larutan, sehingga zat warna mampu menangkap ion hidroksil yang ditambahkan.
Pada pH 3-5 terjadi penurunan kapasitas adsorpsi, hal ini dikarenakan ion OH yang terlalu banyak dalam
larutan tidak mampu ditangkap oleh zat warna, sehingga masih banyak ion OH yang bebas didalam larutan
yang menyebabkan terjadinya kompetisi antara zat warna dengan ion OH bebas untuk menempati
permukaan karbon aktif yang akan menurunkan daya adsorpsi zat warna dengan karbon aktif.
B.

Model Kesetimbangan

Adapun data hasil percobaan dengan menggunakan isotherm Langmuir dan Freundlich dapat dilihat pada
tabel berikut ini
Tabel 3: Nilai parameter dan koesien korelasi berbagai model isotherm
Langmuir Isotherm

Freundlich Isotherm

Temperature (C)

aL

KL

RL

R2

KF

1/n

R2

35

0.13

7.65

0.015

0.47

28.62

0.12

0.99

45

0.11

10.53

0.017

0.75

31.58

0.2

0.97

55

1.13

99.75

0.002

0.6

44.89

0.14

0.96

Berdasarkan nilai koesien korelasi (R2) menunjukkan bahwa isotherm Freundlich untuk permukaan
heterogen memperolah data yang lebih bagus dibandingkan dengan model isotherm Langmuir. Dengan
maksimum 98.6 mg/g, hal ini menunjukan bahwa butiran karbon aktif dari tempurung kelapa sawit
mempunyai potensi adsorben yang baik dan dapat digunakan pada pemulihan pencemaran air dengan lebih
efektif.
C. Model Kinetika
Konstanta laju reaksi orde satu (K1) dan nilai kesetimbangan (qe,cal c) ditentukan dari bentuk persamaan
yang tidak linier dari model kinetika orde reaksi semu satu untuk setiap suhu tertentu. Konstanta laju reaksi
orde satu menurun terhadap kenaikan temperature. Koesisen korelasi yang diperoleh untuk setiap suhu
adalah lebih dari 0.96. Nilai perbandingan konstanta laju reaksi dan koesien laju reaksi pada suhu yang
berbeda untuk orde satu dan orde dua dapat dilihat pada tabel berikut ini:

9/26/2016 6:17 AM

PENELITIAN KESETIMBANGAN, KINETIKA & TERMODINAMIKA ...

https://evisapinatulbahriah.wordpress.com/2011/06/20/penelitian-keseti...

Tabel 4: Nilai perbandingan konstanta laju reaksi dan koesien laju reaksi pada suhu yang berbeda untuk
orde satu dan orde dua
Temperatur (K)

Pseudo-rst order kinetic


model

Pseudo-second order
kinetic model

k1

R2

k2

R2

308.15

0.017

0.96

0.0009

0.97

318.15

0.016

0.98

0.0007

0.96

328.15

0.012

0.97

0.0006

0.92

Berdasarkan table di atas menunjukkan bahwa konstanta laju reaksi orde satu dan dua menurun terhadap
kenaikan suhu. Koesien korelasi orde satu > 0.96 dan koesien korelasi pada orde dua adalah > 0.92. Laju
reaksi adsorpsi dipengaruhi oleh kenaikan temperature. Oleh karena itu proses yang baik digunakan adalah
laju reaksi orde satu karena memiliki nilai koesien korelasi yang besar.
D. Penelitian Termodinamika
Dalam penentuan parameter termodinaamika, eksperimen ini mengambil data dari tiga suhu yang berbeda
antara 35-550C. dengan menggunakan persamaan 10, nilai dari perubahan entropi dan perubahan entalpi
dapat dihitung dari intersep dan slop plot ln Kc dengan 1/T seperti yang ditunjukan pada gambar 3. Semua
parameter diukur dan diplot berdasarkan tabel 5 berikut.
Tabel 5: Parameter termodinamika RB5
Temperatur (K)

Parameter termodinamika

308.15

-1.77

318.15

-1.53

328.15

-1.29

-24.26

-9.246

Harga yang diperoleh bernilai negatif, hal ini menunjukan bahwa energi Gibbs sistem turun dan reaksinya
berjalan spontan. Harga bernilai negatif menunjukan bahwa reaksi berlangsung eksoterm, yaitu jika T
dinaikan harga K akan mengecil dan jika T diturunkan harga K akan semakin besar. Sedangkan jika harga
bernilai negatif menunjukan reaksi tidak berlangsung.
BAB 5
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian di atas maka dapat disimpulkan bahwa:

10 of 12

9/26/2016 6:17 AM

PENELITIAN KESETIMBANGAN, KINETIKA & TERMODINAMIKA ...

https://evisapinatulbahriah.wordpress.com/2011/06/20/penelitian-keseti...

1. PKS-AC dapat digunakan untuk adsorpsi RB5 dari larutan pewarna.


2. Isotherm adsorpsi yang baik untuk adsorpsi pewarna RB5 adalah isotherm Freundlich. Hal ini dapat
ditunjukkan pada kemampuan adsorpsi maksimum pada suhu 300C, 400C, dan 500C secara berurutan
adalah 58.8, 96.7 dan 98.6 mg/g.
3. Nilai RL menunjukkan bahwa abu kelapa sawit dapat mengadsorpsi pewarna RB5.
4. Dua model kinetika sederhana yang digunakan untuk menguji mekanisme adsorpsi adalah orde semu
satu dan orde semu dua. Model kinetika orde semu satu sangat baik dalam mengadsorpsi pewarna RB5.
Harga yang diperoleh bernilai negatif menunjukan bahwa proses adsorpsi pewarna AG25 adalah
spontan dan bersifat endoterm.

2 Comments
Posted by evisapinatulbahriah on June 20, 2011 in TERMODINAMIKA

2 responses to PENELITIAN KESETIMBANGAN, KINETIKA


& TERMODINAMIKA

11 of 12

eka buang sandy kalla


June 18, 2015 at 12:30 am
assalamualaikum ibu. saya sedang menyusun skripsi tentang adsorpsi logam Cr dan mengkaji juga
parameter kimia siknya. hanya saja di kupang-NTT saya sulit menemukan referensi bu. untuk itu saya
mohon bantuan ibu. saya mahasiswa universitas nusa cendana. saya liat di blog ibu sangat membantu
hanya saja rumus-rumusnya tidak kelihatan dan juga dilarang menjadikan blog sebagai sumber rujukan
bu. kalau ibu berkenan bisa dikirim ke email saya: ebskfcb@yahoo.com. wassalamualaikum
Reply
evisapinatulbahriah
August 14, 2015 at 12:37 pm

9/26/2016 6:17 AM

PENELITIAN KESETIMBANGAN, KINETIKA & TERMODINAMIKA ...

12 of 12

https://evisapinatulbahriah.wordpress.com/2011/06/20/penelitian-keseti...

waalaikumsalam, insyaallah nanti sy emailkan. trmksh


Reply

Blog at WordPress.com.
Entries (RSS) and Comments (RSS)

9/26/2016 6:17 AM