Anda di halaman 1dari 22

MEMORI INDAH DI PANTAI KUTA

Aku terus mencoba menghubunginya, namun tidak pernah ada jawaban. Aku semakin
merasa gelisah. Apakah pesan yang kuterima ini nyata. Bahwa dia, dia seorang yang selalu ada
disampingku, dia yang selalu mewarnai hariku, dia yang ku cintai, dia yang ku sayangi, dia..
diaa.. Benarkah benar-benar sudah tiada? Benar-benar sudah meninggal? Benar-benar sudah
tidak ada di dunia ini lagi? Aku tidak percaya. Benar-benar tidak percaya. Baru saja dia
menyampaikan permintaan maafnya kepadaku, baru saja mengatakan bahwa dia sangat
menyayangiku, baru saja mengatakan bahwa aku adalah orang yang paling di sayanginya.
Aku terus mencoba menghubunginya, tapi benar-benar tidak ada jawaban. Aku mencoba
menghubungi orangtuanya, tidak ada jawaban juga. Akhirnya aku pergi kerumahnya, yang
terletak tidak jauh dari rumahku, kakiku ragu-ragu kulangkahkan. Terlihat banyak orang
berkumpul di depan rumahnya. Apakah dia benar-benar sudah tiada. Aku mencoba bertanya
kepada salah satu tetanggaku, dia melihatku dengan sorot prihatin
ada apa di sana? tanyaku takut. Takut mendengar jawaban yang paling tidak ingin aku
dengar.
sabar li, mungkin dia lebih di sayang sama Allah makanya di panggil duluan jawabnya
seraya memelukku. Aku takut, aku marah, aku.. aku tidak tahan lagi. Dia pasti bercanda. Aku
berlari masuk ke dalam rumahnya dan yang kulihat adalah, diaa.. dia terlihat tertidur dengan
senyum yang tersungging diwajah pucatnya, bunda menangis disampingnya. Semua orang
menatapku dengan sorot mata kasihan. Aku tidak suka tatapan itu. Aku sangat membencinya.
Aku terduduk disampingnya. Air mataku sudah sejak tadi mengalir tiada hentinya. Mama, duduk
disampingku memelukku. Semuanya terasa berat, kepalaku terasa sakit. Aku mengelus
wajahnya, menggenggam tangannya, aku masih belum percaya. Aku masih berpikir ini adalah
kebohongan semata. Untuk memberikanku kejutan karena hari ini adalah hari ulang tahunku
yang ke 17.
kak? Bangun.. Udahan bercandanya pintaku. Aku memukul bahunya pelan.

kak!! Ayo bangun. Jangan bercanda seperti ini, ini terlalu menyakitkan. KAK
BANGUN!! emosiku meledak, air mataku mengalir deras. Mama dan Bunda memelukku
dengan erat. Badanku bergemataran.
Ma, Bunda, kakak belum pergi kan? Kalian ngerancanain apaan sih? Ini semua gak lucu
tau teriakku frustasi.
Aku terpekur terduduk di lantai, memandang wajah seseorang yang sangat aku sayangi,
cintai, banggakan, yang selalu aku andalkan. Dan sekarang dia sudah tidak ada didunia ini.

***

Acara pemakaman itu berjalan dengan lancar, derai air mata mengiringi pemakaman. Di
pemakaman yang terletak di samping Masjid Jami itu menjadi tontonan para warga. Berhubung
orang yang sedang dimakamkan adalah orang yang lumayan terkenal di wilayah itu. Siapa yang
tidak mengenal dirinya? Fahri namanya. Orang yang terkenal baik hati, memiliki wajah yang
sangat tampan, suka menolong orang, tidak sombong walau dia adalah orang yang sangat berada,
tidak pernah memilih-milih teman. Dari yang muda sampai yang lanjut usia suka kepadanya.
Bahkan para nenek-nenekpun ingin mengawinkan anaknya kepada Fahri.
Namun sosok itu sekarang sudah tiada, yang tersisa hanya kenangan-kenangan saja.
Gadis itu, Aili terus menangis disamping makam kekasihnya. Orang-orang yang mengikuti acara
pemakaman sudah pergi meninggalkan makam semenjak 1 jam yang lalu. Namun gadis itu tidak
ingin beranjak sedikitpun dari makam sang kekasih. Mama dan Bunda sudah memaksanya untuk
pergi, namun Ia tidak mau.
kak? Kenapa? Kenapa secepat ini? Bukankah kakak ingin memberitahukanku sesuatu?
Tanya gadis itu dengan isakan, membuat orang yang tanpa sengaja mendengarnya menjadi miris
kak? Bangun? panggilnya.

Namun tidak ada sahutan. Seorang pria berdiri sedari tadi dibelakang gadis itu. Namun
Aili tidak mengetahui bahwa dibelakangnya ada pria itu. Sampai suatu ketika, ketika Aili
menengok kebelakang dia melihat seorang pria tengah berdiri dibelakangnya.
kak? panggilnya. Air matanya kembali mengalir dengan deras. Melihat sosok yang
sedang berdiri dibelakangnya. Melihat wajah pria itu mengingatkannya dengan sosok yang
sedang berada di dalam kubur, yang sedang tertidur untuk selamanya.
Wajah mereka memang terlihat sama, tidak ada perbedaan sedikitpun. Dari model
rambutpun sama. Namun perbedaan yang paling menonjol dari mereka berdua adalah prilaku.
Bila Fahri memiliki sifat yang lembut dan perhatian, sedangkan pria yang satu ini memiliki sifat
yang cuek, acuh tak acuh. Banyak orang yang tidak bisa membedakan mereka berdua. Namun
Aili mengetahui perbedaan mereka berdua, karena mereka sudah bersama sejak kecil.
Pria itu bernama Fahra, wajahnya menatap tajam Aili. Namun dibalik tatapan tajam itu
terlihat jelas wajah kekhawatiran. Khawatir dengan keadaan Aili yang terlihat sangat
menyedihkan.
lo baik baik aja? Tanya Fahra.
tidak, aku sangat tidak baik baik saja. Apa kakak tidak melihat? Kak Fahri baru saja
dimakamkan? Dan kakak baru datang? Apa kakak tidak mengantar kepergian kak Fahri untuk
yang terakhir kalinya? respon Aili berbeda dengan sebelumnya, Ia teriak marah-marah kepada
Fahra. Fahra yang melihat itu hanya terdiam.
Air mata semakin deras mengalir membasahi pipi Aili. Fahra yang tidak pernah bisa
melihat sedikitpun Aili menangis datang mendekat, dan memeluk erat tubuh kurus Aili. Aili
memberontak namun karena tubuhnya yang lemah Ia tidak bisa mengalahkan tubuh kuat Fahra.
Fahra melihat Aili dengan perasaan sakit. Ia tidak menyangka bahwa Aili akan menjadi
seperti ini. Selemah ini, gadis yang sering Ia lihat dari jauh bersama saudara kembarnya tertawa,
tersenyum, bahagia, namun sekarang terlihat sangat mengenaskan.

Fahra membimbing Aili masuk kedalam mobil. Didalam mobil mereka hanya diam, bila
Aili memandang kosong kearah jalanan, Fahra sesekali melihat kearah Aili. Wajah khawatir
terlihat jelas diwajah Fahra.
Sesampai dirumah, Fahra mengantarkan Aili sampai di depan pintu kamarnya lalu pergi
meninggalkan Aili begitu melihat Mama Aili datang. Fahra kembali masuk kedalam mobilnya
dan membawanya pulang kerumah. Setelah memarirkan mobilnya di dalam garasi, Fahra masuk
kedalam rumah dengan perasaan terpukul. Setiap masuk kedalam ia merasa kesepian. Terlihat
masih banyak orang didalam rumahnya. Ketika melihat Bundanya, ia memasang wajah dingin,
wajah yang tidak peduli dengan sekeliling. Bundapun hanya melihat sekilas lalu pergi begitu saja
meninggalkan Fahra menuju salah satu saudara jauh yang datang melayat.
Fahra hanya menghela napas lalu pergi masuk kedalam kamarnya. Kamar itu dicat
berwarna biru muda. Bertolak belakang dengan sifatnya yang cuek. Ia tidur terlentang di kasur
yang berseprai berwarna biru dengan gambar perahu ditengahnya. Ketika Ia tertidur, wajah
saudara kembarnya selalu terlihat jelas berada disampingnya. Ia melihat kesamping, dan benar
saja wajah saudara kembarnya tengah tertidur disampingnya.
ri, gue kesepian. Disini gak ada yang peduli sama gue? Cuman lo ri. Bunda kesepian
ditinggal pergi sama lo. Kenapa bukan gue aja yang mati, kenapa harus lo? Aili kelihatan kacau
banget, gue benci liat diri gue sendiri gara gara ini semua. Bunda, Aili gak ada yang peduli sama
gue ucapnya, air mata menetes keluar dari matanya. dengan segera air mata itu dihapusnya.
gue inget waktu dulu kita semua pergi berlibur ke pantai Kuta dan menginap disana
selama 1 hari yang rencana semula 2 hari. Gue, lo, bunda, Mama, Aili. Semuanya terlihat
bahagia, dan itu adalah hari yang paling gak bisa gue lupain sampai saat ini, itu liburan pertama
kita semenjak Ayah meninggal 5 tahun yang lalu ucapnya lagi, air mata kembali menetes namun
dibiarkan begitu saja mengalir tanpa berniat dihapusnya.
Kilasan-kilasan masa lalu kembali berkelebat dihadapannya. Semuanya terlihat begitu
menyenangkan. Tidak ada kesedihan sedikitpun di wajah mereka semua. Semuanya tersenyum
bahagia.

***

Pagi itu, semuanya tampak sibuk. Suara gaduh didapur terus terdengar. Sedangkan aku
sibuk berbenah menyiapkan barang-barang yang akan aku bawa pergi berlibur selama 2 hari
kedepan. Dikamar sebelah terdengar Fahri tengah marah-marah kepada Aili karena tidak hentihenti bertanya apa yang akan dibawa.
Ini adalah liburan pertama semenjak Ayah meninggal. Aku mengintip ke kamar Fahri
yang terletak disamping kamarku. Ia sedang marah-marah kepada Aili karena tidak berhenti
bertanya, menyarankan membawa ini, itu. Aku masuk kedalam kamar Fahri.
Aili, kalo lo ngoceh terus gak jelas dikamar Fahri, entar bukan malah nyaranin, lo malah
buat Fahri bingung mau bawa apa. Iya kan ri? ucapku menengahkan. Membela Fahri yang
terlihat kebingungan mengusir Aili dari dalam kamarnya.
Aili menatapku cemberut, aku hanya memandangnya dengan wajah datar. Lalu pergi
meninggalkan kamar Fahri dengan bantingan pintu. Fahri menghela napas lega sedangkan aku
hanya tersenyum melihatnya.
makasih ra, kamu nyelamatin aku lagi ucapnya berterima kasih. Aku hanya diam tidak
menyahut lalu pergi meninggalkan kamar Fahri turun kebawah melihat pekerjaan Bunda.
Aku hanya memperhatikan cara kerja Bunda tanpa menyapanya. Bunda hanya melihatku
sekilas lalu melanjutkan pekerjaannya tanpa menghiraukan aku. Ini sudah kebiasaan semenjak
Ayah meninggal. Aku menjadi orang yang disalahkan atas meninggalnya Ayah karena pada saat
itu aku sedang marah dan pergi dari rumah, dan Ayah pergi mencari kemana mana sampai
akhirnya Ayah terlalu lelah namun tetap menyetir sehingga kecelakaan itu pun terjadi. Mobil
Ayah menabrak pagar pembatas jalan setelah menghindari mobil sedan yang berjalan dengan
kecepatan penuh. Dan akhirnya Ayah meninggal dalam kecelakaan itu dengan keadaan yang
sangat mengenaskan.

Semenjak hari itu, Bunda tidak pernah menatapku lagi. Tidak pernah memperhatikanku
lagi. Dia selalu mengacuhkanku. Namun aku menerima semuanya, karena akupun merasa
bersalah atas insiden itu. Dan sampai saat ini aku juga terus menyalahkan diriku sendiri.
Aku pergi meninggalkan bunda lalu melangkah ke depan. Didepan sudah ada Pak Hasan,
sopir kepercayaan Bunda sedang menyiapkan mobil. Pak Hasan terlihat sedang membersihkan
mobilnya. Aku berjalan menghampirinya.
Selamat pagi Pak, apa ada yang salah dengan mobilnya? tanyaku. Pak Hasan menoleh
melihatku lalu tersenyum kearahku.
selamat pagi ra, tidak ada yang salah. Hanya saja Bapak sedang membersihkan
mobilnya jawab Pak Hasan. Pak Hasan adalah sopir kepercayaan Bunda, sudah bekerja
semenjak Ayah pergi, 5 tahun yang lalu.
Semuanya sudah siap dan kamipun berangkat. Aku duduk di depan bersama Pak Hasan.
Dibangku tengah Fahri bersama Aili. Sedangkan bangku paling belakang Bunda dan Mama.
Mama adalah panggilanku

kepada Ibu Aili, sedangkan Bunda panggilanku kepada Ibu

kandungku. Aku memperhatikan Fahri dan Aili dari kaca spion, memperhatikan apa yang
sedang mereka lakukan. Sedari tadi mereka terus bercanda, tawa bahagai terpancar dari wajah
mereka semua. Bunda dan Mamapun ikut bercanda bersama mereka.
Aku memasang earphone lalu mendengarkan musik dengan volume keras. Pak Hasan
memandangku. Dia mengetahui apa yang sedang aku rasakan. Dia mengetahui semua tentang
diriku. Aku hanya tersenyum kearahnya. Pak Hasan sudah aku anggap sebagai Ayahku sendiri.
Akhirnya kamipun sampai di pantai Kuta, kecamatan Pujut, kabutan Lombok Tengah,
tepatnya di hotel Lombok Baru. Terletak tepat di samping pantai. Pemandangannya sungguh
sangat menganggumkan. Kami semua turun dari dalam mobil, aku, Fahri, dan Pak Hasan
membawa barang lalu berjalan ke kamar yang sudah di sewa oleh Bunda.
Bunda sedang berbicara dengan pemilik hotel. Aili lansung lari kepantai dan berjalanjalan disana. Senyumnya tidak pernah hilang dari wajahnya. Aku masuk kedalam kamar yang
akan dipakai oleh Bunda dan Mama dan meletakkan semua barang yang mereka bawa. Aili tidur
disamping kamar Bunda dan Mama, sedangkan aku dan Fahri tidur disamping kamar Aili.

Aku berjalan kearah kamar yang akan aku gunakan selama liburan disini dan rebahan
disana. Fahri melakukan hal yang sama. Dikamar ini terdapat dua kasur, aku tidur disamping
kanan sedangkan Fahri disamping kiri.
ra? panggil Fahri, aku menoleh kearahnya. Fahri tengah memandang langit-langit
kamar.
hmm? jawabku dengan dehaman. Aku kembali melakukan aktifitasku sebelumnya,
memandang langit-langit kamar sama seperti Fahri.
titip Aili dan Bunda ya ? ucapnya menatapku.
apa maksudmu? tanyaku bingung, aku kembali menatapnya. Bingung.
kalau terjadi sesuatu kepadaku, kuharap kamu jaga Bunda dan Aili ya. Kamu harus
lindungin mereka, jangan buat mereka sedih apalagi sampai menangis. Pintanya, aku masih
bingung dengan kelaukannya.
Bunda? Aili? kenapa bukan lo? Lo kan orang kepercayaan Bunda? Lo kan pacarnya
Aili? Kenapa mesti gue? tanyaku, aku benar-benar bingung dengan kelakuannya ini.
karena aku percaya sama kamu, kamu kan juga sayang sama mereka. Kamu sayang
sama Aili. Aku tau ra, jangan bohongin perasaan kamu sendiri cecarnya. Aku hanya
memandangnya.
maksud lo? Gue bingung sama lo ri jawabku lalu bangkit dari tidurku dan melangkah
pergi keluar. Saat aku membuka pintu kamar, Fahri kembali melanjutkan perkataannya.
aku percaya sama kamu ra, aku mohon jaga Bunda dan Aili. Mungkin aku akan pergi
dan tidak akan bisa menjaga dia didekatnya. Tapi aku akan tetap mengawasi kalian semua
tambahnya, tanpa menoleh aku melanjutkan langahku keluar.
Didepan kamarnya, Bunda dan Mama tengah duduk berdua. Mereka sedang bergosip
tentang artis yang sedang terkenal sekarang. Sedangkan Aili masih asik dipantai, sepertinya dia
sudah mendapatkan teman baru lagi. Aili memang pintar dalam bergaul, maka dari itu dia
memiliki banyak teman. Fahri berjalan melewatiku langsung berjalan menghampiri Aili.

Anak-anak kecil bersama keluarga mereka sedang asik berenang. Aili dan Fahri juga
tengah asik bermain air. Sedangkan aku, tengah duduk dibawah pohon yang daunnya rimbun,
menyiapkan kamera dan mulai memfoto mereka semua. Tidak jarang Aili datang menghampiriku
hanya untuk sekedar difoto sendiri, berdua dengan Fahri, atau bersama dengan anak-anak kecil
yang sedang asik berenang.
Suasa ini sangat aku suka, karena dulu sewaktu aku masih kecil dan Ayah masih hidup.
Kami bertiga sering pergi berlibur ketempat ini. Itu adalah kenangan-kenangan indahku bersama
dengan Fahri dan Ayah.
Aku berjalan menghampiri mereka berdua, pohon Bakau terlihat indah dari tempatku
berdiri. Ditambah di belakang hamparan pohon Bakau itu terlihat gunung berdiri dengan perkasa,
seperti memberitahukan kepada siapapun yang datang kesini, dia adalah penguasa.
Aku berjalan ke pohon bakau diikuti oleh Fahri dan Aili, aku memfoto mereka berdua.
Beragam pose mereka berikan seperti mereka adalah model dan aku fotografernya. Aku memang
memiliki hobi memfoto orang ataupun pemandangan yang kuanggap bagus.
kak? Foto aku lagi dong pinta Aili seraya memberikan gaya. Kedua tangannya di
angkat keatas seperti sedang menganggat gunung. Aku menatapnya sesaat lalu dengan segera
memfotonya.
kak, sekarang giliran kak Fahra dan kak Fahri yang difoto ucapnya langsung menarik
kamera yang sedang ku pegang. Fahri langsung tersenyum kearah kamera seraya merangkulku
sedangkan aku menampakkan wajah datar. Satu kali jepretan, Aili menatapku lalu kearah
kamera.
kak senyum dong pintanya, aku hanya mendelik kearahnya, mengambil kamera dan
pergi meninggalkan mereka berdua.
Aku kembali melanjutkan memfoto pemandangan yang aku anggap bagus. Sesekali aku
memfoto Aili dari kejauhan. Kembali terpikir kata-kata Fahri tadi, aku masih bingung dengan
perkataanya tadi.
Memangnya dia akan pergi kemana? Mungkin itu hanyalah leluconnya saja. Fikirku.

Matahari sudah tenggelam. Aili dan Fahri sudah mengganti pakaian mereka. Sekarang
saatnya kami akan membakar ikan. Aku diberikan tugas menyiapkan apinya, aku mengambil
kayu reranting yang jatuh dari pohonnya. Kemudian menyusun bata tiga tingkat membentuk
segitiga tidak rapat dengan dibiarkan berlubang ditengahnya. Aku meletakkan kayu reranting
yang aku temukan di tengah-tengahnya. Lalu mengambil serabut kepala untuk dibakar. Setelah
membakar serabut kelapa aku meletakkannya diatas kayu kayu reranting yang sudah diberikan
minyak tanah sebelumnya.
Karena angin malam laut cukup keras, aku tidak perlu mengipasnya lagi. Aku hanya
menjaga agar apinya tidak mati. Aku melihat kebelakang, disana Bunda dan Mama sedang
melumuri ikan yang sudah dibersihkan dengan bumbu. Sedangkan di teras, Fahri bersama Aili
sedang menyiapkan piring dan lain-lain.
Mama datang padaku dan memberikanku ikan untuk dibakar, aku meletakkan ikan diatas
bara api. Fahri datang menghampiriku bersama Aili.
apakah ada yang sudah matang? tanyanya seraya mendorong-dorong ranting membuat
asap yang keluar semakin besar, aku mendelik kearahnya kesal.
lo gak liat apa, ikannya aja baru dikasi. Emang bisa langsung mateng? Ikannya
bukannya bakal mateng terus enak, kalo lo gituin terus lama-lama ikannya bakalan gosong
jawabku kesal. Terganggu dengan apa yang dilakukannya.
maaf maaf ucapnya melepaskan ranting pohon yang dipegangnya. Lalu tertawa-tawa
melihat wajahku yang hitam karena asap.
bukannya minta maaf lo malah ketawa, dasar seruku kesal.
Aili yang mendengar keributan kami datang menghampiri. Sesampainya dihadapanku
dan melihat wajahku yang hitam oleh asap ikut tertawa terpingkal-pingkal. Aku memandang
mereka kesal. Mik Ujang yang merawat Novotel ini datang menghampiri kami.

arak napi jang? (ada apa dek) tanyanya kearahku dengan logat sasak yang khas.

ndarak napi-napi mik, nyekek bekedek doang niki (tidak ada apa apa Pak, kita lagi
bermain saja ini jawabku dengan bahasa sasak. Karena dulu Ayah selalu mengajariku berbahasa
sasak yang baik dan benar.
enggih silak jang (iya sudah dek) jawabnya lalu pergi menghampiri Bunda dan Mama.
Ikan-ikan dibakar dan setelah matang dimakan bersama-sama. Aku mengambil semua
gambar-gambar mereka seraya memakan ikan. Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai ikan,
entah mengapa. Namun sekarang ketika aku makan ikan, aku merasa senang. Mungkin karena
dulu aku sering makan dan ketika lauknya ikan aku akan makan sendiri. Mungkin itu karena
trauma tersendiri. Sedangkan sekarang aku makan bersama dengan orang-orang yang aku
sayangi, itu membuat ikan yang kumakan terasa enak.
Setelah puas memakan ikan, Bunda, Mama, dan Aili duduk rebahan. Sedangkan aku,
Fahri, Pak Hasan, dan Mik Ujang mebersihkan sisa-sisa ikan. Didapur milik Mik Ujang, aku
mencuci semua piring ditemani anak Mik Ujang yang masih kecil, Sara yang baru berusia 5
tahun.
kak Fahra, kenapa kalau kita mencuci piring selalu muncul busa di sponsnya? Tanya
Sara menatapku, penasaran.
itu agar piringnya bersih, sama seperti sara memakai shampoo, pasti kepalanya berbusa
kan? tanyaku lagi.
iya jawab Sara.
kenapa kepalanya berbusa? tanyaku lagi.
supaya rambutnya bersih sama harum jawab Sara. Matanya membesar seperti
menemukan jawaban yang dia tanyakan.
oh iya serunya kemudian, lalu berjingkat-jingkat gembira.
Aili datang menghampiriku, Sara yang melihat Aili datang langsung berlari bahagia
kearahnya.
Kak Aili? panggilnya gembira.

iya Sara, ada apa? Apa yang kau tanyakan kepada Kak Fahra hmm? jawab Aili. Aili
mengetahui kebiasaan Sara, bahwa Sara akan banyak bertanya bila bertemu denganku.
Cerita terus terucap dari bibir kecil Sara mengenai pertanyaannya tadi, dan bagaimana
caranya memecahkan pertanyaan itu. Aili menjadi pendengar setia, menjawab bila ditanyakan.
Setelah cerita itu selesai, Aili bertanya kepadaku memastikan.
benarkah Sara yang menjawab pertanyaannya sendiri? Tanya Aili kepadaku pura-pura
tidak percaya.
hmm sepertinya, kak Fahra lupa jawabku dengan tampang polos. Membuat Sara
marah-marah kepadaku dengan pukulan-pukulannya.
Aku menyelesaikan mencuci piring lalu menggendong Sara dipundakku. Wajahnya masih
terlihat kesal karena tadi aku tidak mengiyakan pertanyaan Aili. Aku hanya terseyum didalam
hati melihatnya.
Aku duduk disamping Fahri yang baru saja menyalakan api unggun, lalu meletakkan Sara
dipangkuan Fahri. Mereka berdua bermain-main gembira. Aku tiduran diatas pasir pantai
menatap ke langit. Penerangan dari api unggun membuat suasa semakin menyenangkan.
Aili datang membawa makanan, Fahri dan Sara berebut makanan itu sedangkan aku
menghiraukan mereka.

Sara terlelap dipangkuanku, sedangkan Aili meletakkan kepalanya

dibahu Fahri. Aku bangkit dari dudukku lalu membawa Sara kembali keatas. Aku
memberikannya kepada Mik Ujang lalu masuk kedalam kamar.
Aku tidur disamping tempat tidur. Memikirkan semua yang terjadi hari ini. Semuanya
tampak sangat gembira. Dan tidak bisa dipungkiri juga, aku juga merasakan hal yang sama. 15
menit berlalu, aku masih asik memandang langit-langit kamar, saat Fahri kembali kekamar. Fahri
langsung tidur dikasur sebelah.
apa yang sedang kamu fikirkan Tanya Fahri.
gue? Gue gak mikirkan apa apa jawabku.
apa kau merasa senang? Tanya Fahri.

hmm aku mengiyakan.


aku juga merasakan hal yang sama, namun hanya saja aku tidak terlalu bahagia
ucapnya.
Aku berbalik mengahadap kearahnya. Bertanya.
karena kamu tidak berbicara sedikitpun kepada Bunda, kamu tidak pernah sedikitpun
berinteraksi kepada Bunda, apa kamu tidak lelah? Terus menyalahkan dirimu sendiri atas
kematian Ayah? jawabnya. Aku kembali memandang kelangit-langit kamar.
Aku memang merasa lelah. Aku memang merasa terluka. Mengapa semuanya harus
terjadi? Aku juga ingin kembali dekat dengan Bunda, kembali seperti keluarga yang sangat
bahagia. Kelurga terkompak. Namun sekarang? Aku ingin berbaikan dengan Bunda. Namun
setiap melihat wajahnya, setiap melihat sorot matanya ketika menatap mataku. Sorot mata
kesedihan, kepedihan, kerinduan terhadap sosok suaminya yang aku lihat. Sehingga aku tidak
memiliki sedikitpun keberanian untuk mendekat kearahnya.
Tanpa menjawab pertanyaan Fahri aku mengambil selimut dan menyelimuti tubuhku
sepenuhnya. Tanpa memperlihatkan wajahku. Akupun tertidur. Aku bangun tidurku dengan
keringat yang bercucuran dari seluruh badanku. Aku bermimpi buruk. Dimimpi itu aku
ditinggalkan oleh saudara kembarku, Fahri. Dia pergi meninggalkan kami semua akibat
kecelakaan yang menimpanya. Aku menoleh kesampingku, dan terlihat Fahri sedang tertidur
pulas.
Aku melihat jam masih pukul 03.00 dini hari. Aku bangkit dari tidurku, memakai jaket
dan melangkah keluar. Aku berjalan dipinggir pantai. Hawa dingin menusuk kulitku. Tanpa
menghiraukannya aku terus melangkah. Mimpi itu masih saja terpikir olehku. Aku berusaha
mengeyahkannya, namun tidak bisa. Aku kembali lagi setelah berjalan sejauh 2 km dan duduk di
tempat tadi membuat api unggun.
Aku melirik kearah arlojiku, ternyata sekarang sudah pukul 03.45. Aku tidur terlentang
diatas pasir pantai. Tanganku silangkan diatas kepala menjadi bantal. Aku memejamkan mataku
merasakan udara yang semakin dingin. Sesekali badanku mengigil namun aku menyukai ini. Aku
menyukai udara pantai. Walaupun kata orang itu tidak sehat, namun udara malam pantai

membuatku sehat. Seringkali aku pergi sendirian kepantai dan menginap disana hanya untuk
menikmati udaranya dimalam hari. Dan Fahri mengetahui kebiasaanku ini.
Matahari sudah terbit, aku bangun dari tidurku. Aku merasa sakit disekujur tubuhku
karena tidur di atas pasir pantai bukan dikasur yang empuk. Aku bangkit dari tidurku dan
berjalan keatas. Di atas keributan terjadi. Karena pensaran aku mempercepat langkahku. Terlihat
wajah cemas Mama.
ada apa ma? tanyaku khawatir. Ikut cemas dengan wajah Mama.
ini lo ra, sepertinya kita tidak bisa berlibur selama 2 hari disini karena besok pagi, pagipagi sekali Mama harus pergi ke Jakarta, ada masalah dengan butik disana jawab Fahri. Aku
hanya mengangguk angguk.
kalau begitu, sekarang saja kita pulangnya. Biar nanti Mama bisa memesan tiket
pesawat untuk penerbangan besok pagi usulku.
begini saja, sekarang kita berkemas-kemas dan langsung melanjutkan perjalanan kita ke
desa Sade, bukankah kalian sangat ingin kesana? Sednagkan masalah tiket nanti Bunda yang
mengaturnya jawab Bunda menatapku. Kami semua mengangguk setuju dan langsung masuk
kekamar masing-masing.
Aku masih diam melihat Bunda masuk kedalam kamarnya. Itu adalah tatapan Bunda
terlama untukku. Panggilan Fahri membuatku terkejut dan segera masuk kekamar dan
membersihkan semua barang yang kubawa. Setelah semuanya sudah siap, kami semua
berpamitan kepada Mik Ujang, awalnya Mik Ujang merasa terkejut karena tiba-tiba kami
pamitan, namun setelah dijelaskan oleh Bunda akhirnya Mik Ujang mengerti.
Perjalan menuju desa Sade tidak membutuhkan waktu yang lama. Kira-kira 25 menit
perjalanan akhirnya kami sampai di desa Sade. Sade adalah salah satu dusun di desa Rembitan,
Pujut, Lombok Tengah. Dusun ini dikenal mempertahankan adat suku Sasak. Dusun ini dijadikan
sebagai kawasan wisata karena keunikannya tersebut.

Sebagai desa wisata. Sade memiliki keunikan tersendiri. Meskipun terletak disamping
jalan raya. Penduduk desa ini masih memegang teguh menjaga keaslian desa. Bisa dibilang,
Sade adalah cerminan suku asli sasak Lombok.
Hal itu bisa dilihat dari bangunan yang terkesan sangat teradisional. Kuda-kuda atapnya
memakai bambu tampa paku, tembok dari anyaman bambu, dan langsung beralaskan tanah.
Orang Sasak Sade menamakan bangunan itu bale yang berarti rumah. Pemandu kami yang
bernama Mamik Mesah mengatakan ada delapan bale yaitu Bale Tani, Jajar Sekenam, Bonter,
Beleq, Berugag, Tajuk dan Bencingah. Bale-bale itu dibedakan berdasarkan fungsinya.
Ada 150 kepala kelurga di Sade. Dulu penduduknya banyak yang menganut Islam Wektu
Telu (hanya tiga kali sholat dalam sehari). Tapi sekarang banyak penduduk Sade sudah
meninggalkan Wektu Telu dan memeluk Islam sepenuhnya (lima kali sholat dalam sehari).
Warga desa Sade memiliki kebiasaan yang sangat unik, yaitu mengepel lantai
menggunakan kotoran kerbau.
jaman dahulu ketika belum ada plester semen, orang Sasak Sade megoleskan kotoran
kerbau di alas rumah supaya bersih. Namun sekarang ketika sudah ada plester semen, kami
memplester semen dulu, baru kemudian di olesi dengan kotoran kerbau cerita Mamik Mesah.
konon dengan cara begitu lantai rumah dipercaya lebih hangat dan dijauhi nyamuk.
Coba kalian bayangkan, kotoran itu tidak dicampur apa pun kecuali sedikit air lanjutnya.
apa rumah-rumah itu tidak bau? Tanya Aili penasaran.
Untuk menjawab pertanyaan Aili, Mamik Mesah mengajak kami masuk kedalam salah
satu rumah warga yang sedang mengepel lantainya dengan kotoran kerbau.

Tidak terlihat

sedikitpun perasaan jijik pada wajah Ibu itu. Bunda, Mama, dan Aili mencoba membantu Ibu itu
membersihkan rumahnya dengan kotoran kerbau.
uaaa, ini terasa dingin ucap Aili seraya mencolek sedikit kotoran kerbau kepadaku dan
Fahri. Kami berdua mendengus marah dan berjalan ke sumur untuk membersihkan kotoran
kerbau. Kami kembali melanjutkan perjalanan. Terlihat nenek-nenek yang sudah tua menenun
songket. Tangannya terlihat pandai memainkan alat yang terbuat dari kayu itu.

Aku terus mengambil gambar-gambar penduduk desa Sade. Tidak jarang kami meminta
Mamik Mesah untuk mengambilkan gambar bersama dengan warga desa. Setelah puas
berkeliling dan membeli beragam jenis songket akhirnya kamipun melanjutkan perjalanan.
Di mobil semuanya terlelap, kelelahan. Aku memeriksa semua gambar yang sudah aku
ambil. Hasil-hasilnya lumayan memuaskan. Dari semua gambar yang ku ambil, yang paling
banyak adalah foto Aili. Aku melihat foto yang tadi diambil Aili saat aku berfoto lagi dengan
Fahri.
Fahri meletakkan dua jarinya disamping matanya membentuk pis dan tersenyum kearah
kamera, sedangkan aku kembali menampilkan wajah datar kearah kamera.

***

Aku bangkit dari tidurku dan melangkah menuju lemari. Kubuka lemari dan membuka
salah satu lokernya. Disana teradapat banyak hasil-hasil fotoku. Dan salah satunya adalah saat
pergi ke kuta seminggu yang lalu. Difoto paling atas terdapat fotoku bersama dengan Fahri saat
dikuta. Tangannya yang merangkul diriku dan senyumnya yang merekah bahagia. Aku
mengambil foto itu, fotoku berdua dengan dirinya saat di desa Sade dan bertiga dengan Aili.
Air mataku semakin deras mengalir ketika melihat foto-foto itu, mengapa ini semua harus
terjadi kepada kehidupanku? Apakah aku akan bisa bertahan? Apakah aku bisa hanya berdua
bersama Bunda? Biasanya Fahri yang selalu membuat kami bertiga berkumpul. Namun sekarang
apakah bisa?
aaarrrgghh erangku.
Aku marah, aku sedih, aku tidak bisa menggambarkan bagaimana persaanku saat ini. Aku
berlari keluar dan menghidupkan motorku. Motorku berjalan dengan kecepatan penuh.
Semuanya kuabaikan. Lampu merah kuterobos. Cacian dan makian keluar dari mulut siapa saja
yang aku lewati. Bunuh aku. Bunuh aku sekarang juga.

Aku berhenti ditempat ini, diatas bukit tempat yang hanya aku dan Fahri yang ketahui.
Disini tempatku biasa melampiaskan kemarahanku bila aku sudah muak. Aku benci dengan
diriku sendiri. Aku benci dengan topeng yang selalu aku gunakan. Aku benci dengan semuanya.
Aku meletakkan motorku begitu saja, lalu berjalan kearah pohon besar satu-satunya
dibukit ini. Aku duduk dibawah pohon itu langsung menangis sekeras yang aku inginkan.
Berteriak seperti orang gila. Memukul mukul tanah sebagai pelampiasan.
Ya Tuhan, tolong aku. Bagaimana agar hidupku cepat berakhir. Mengapa harus dia?
Mengapa harus Fahri Ya Tuhan? Mengapa bukan aku saja yang kau bunuh? Mengapa harus
Ayah? Bukankah sebaiknya aku yang mati? Agar semuanya bahagia? Agar Bunda tidak sedih,
terus menangis dimalam hari. Apakah Kau tidak menyanyangiku Tuhan?
Lama aku diam disini, sampai akhirnya aku tertidur ditempat ini. Saat aku bangun hari
sudah gelap. Aku menghidupkan motorku dan pergi meninggalkan tempat ini. Motorku berjalan
menembus pekatnya malam. Setelah cukup lama aku mengendarai motor, aku sampai ditempat
tujuan. Udara laut dimalam cukup menenangkanku.
Aku melirik arloji yang setia berada dipergelangan tanganku. Jam sudah menunjukkan
pukul 23.00. Bila aku pergi ke rumah Mik Ujang itu akan sangat menganggu karena sudah larut
malam. Akhirnya aku berjalan langsung kepinggir pantai dan rebahan di atas pasir pantai.
ri, lo bahagia sekarang? Sekarang gue mesti gimana? Ini maksud lo bakal pergi jauh.
Terus sekarang gue mesti jagain Aili sama Bunda? Tapi mereka berdua gak suka sama gue,
mereka berdua benci sama gue. Kenapa gue selalu salah dimata orang orang sih ri? gumamku
menatap kelangit. Berbicara kepada saudara kembarku yang sekarang berada di sisi Yang Maha
Kuasa.
gue lelah ri, cuman lo orang yang ngertiin gue. Kenapa bukan gue aja yang pergi?
Kenapa mesti elo? air mata kembali mengalir. Aku memejamkan mataku. Aku sudah terlalu
lelah menangis. Apa yang bisa aku lakukan hanya menangis saja? Tidak aku masih punya
kehidupan. Namun aku ingin pergi menenangkan diri terlebih dahulu baru aku akan
menyelesaikan semua masalahku. Pasti! Pasti akanku selesaikan.

***

Seminggu telah berlalu semenjak meninggalnya Fahri, dan Fahra masih diam di rumah
Mik Ujang. Mik Ujang tidak diizinkan oleh Fahra memberitahukan siapaun bahwa dia tinggal
disana. Mik Ujang yang awalnya tidak setuju lama-lama mengerti. Dia mengetahui apa yang
sedang dirasakan oleh Fahra. Fahra sudah dianggapnya sebagai anak sendiri. Dibandingkan
dengan Fahri, Fahra memang orang yang cuek dan acuh tak acuh, namun dibalik itu semua, Mik
Ujang mengetahui bahwa sebenarnya Fahra adalah orang yang perhatian melebihi perhatian
Fahri kepada siapapun.
Mik Ujang juga mengetahui bahwa selama ini Fahra mengenakan topeng yang sangat
tebal yang merubah sifatnya itu. Namun selama Fahra tinggal dirumah Mik Ujang, topeng itu
dilepasnya. Ia menjadi orang yang sedang tersakiti, anak yang haus akan kasih sayang, anak
yang manja, dan sangat pendiam.
Sara selalu mengikuti kemanapun Fahra pergi. Tanpa banyak bertanya, Sara mengikuti
langkah demi langkah yang dilewati oleh Fahra. Semakin lama keadaan Fahra semakin buruk.
Mik Ujang bersama istrinya melihat itu menjadi sangat khawatir. Akhirnya tanpa diketahui oleh
Fahra, Mik Ujang bersama istrinya sepakat untuk menelpon Bunda Fahra.
Tidak berbeda dengan Fahra, Bundapun sangat kacau. Anaknya yang pergi
meninggalkannya untuk selama-lamanya dan anaknya yang satu pergi entah kemana sudah
semingguan membuatnya kelimpungan. Semua nomor telepon teman-teman Fahra dan Fahri
dihubunginya namun tidak seorangpun yang mengetahui keberadaan Fahra. Aili juga ikut cemas
atas menghilangnya Fahra. Bersama Bunda, Aili mencari kesana kemari. Satu tempat ketempat
yang lainnya.
Dan akhirnya telepon yang sangat diinginkannyapun terdengar. Berita dimana keberadaan
anaknya membuat Bunda sangat bahagia. Tanpa memikirkan apapun Bunda bersama dengan Aili
dan Mamapun langsung pergi ke Kuta, tempat keberadaan Fahra sekarang. Sesampainya di Kuta,
Bunda langsung berlari mencari Mik Ujang, menanyakan dimana Fahra. Mik Ujang menunjuk

kearah laut. Bunda langsung melihat kearah yang tunjuk oleh Mik Ujang. Dan benar saja, disana
duduk seorang remaja yang tidak lain adalah Fahra bersama dengan Sara.
Bunda langsung berlari kearah Fahra, walaupun angin malam menusuk kulitnya dan
membuatnya menggigil karena kedinginan, namun rasa rindu kepada anaknya mengalahkan itu
semua, Bunda langsung memeluk Fahra dari belakang. Fahra sedikit terlonjak kaget atas
kelakuan Bundanya, namun ketika mengetahui orang yang memeluknya adalah orang yang
sangat dirindukannya Fahra membiarkannya. Air mata kebahagiaan dan kesedihan mengalir dari
kedua mata Bunda membasahi wajahnya yang berkeriput.
Fahra pun tidak jauh berbeda. Air mata mengalir deras dari kedua matanya. Ia sangat
bahagia karena akhirnya Ia bisa merasakan pelukan seorang Ibu yang sangat dirindukannya.
ra? panggil Bunda terisak.
maafin Bunda, Bunda salah ra. Bunda benar-benar minta maaf. Bunda adalah Ibu yang
sangat buruk ra. Bunda benar-benar jahat menuduhmu membunuh Ayah. Bunda benar-benar
minta maaf. Bunda hanya memikirkan perasaan Fahri tanpa memedulikan perasaanmu. Bunda
egois. Bunda benar-benar minta maaf Bunda terus terisak dipelukan Fahra.
Bunda gak salah. Aku yang salah, coba Ayah tidak mencariku pasti Ayah akan tetap
hidup. Pasti Ayah akan bersama kita semua. Coba aku tidak kekanak-kanakan, semuanya tidak
akan terjadi. aku terlalu a Fahra tidak bisa melanjutkan perkataannya, air matanya semakin
deras mengalir.
Bunda memeluknya dengan erat. Anaknya yang sangat disayanginya sekarang berada
dihadapannya, tengah dipeluknya. Betapa berat cobaan yang diberikan kepadanya, betapa sakit
hatinya. Ketika Ia ada namun tidak di anggap. Ketika dia pergi tidak ada yang mencarinya.
Bunda benar-benar merasa menyesal dengan semuanya. Bunda terus merutuki dirinya sendiri.
Terus memarahi dirinya dengan kebodohannya. Dengan keegoisannya. Dengan semua yang telah
terjadi kepada anaknya.
maafin Bunda ra Bunda terus mengatakan hal yang sama, meminta maaf atas semua
yang pernah dilakukannya.

Fahra juga minta maaf Bun


Fahra memeluk Bundanya dengan erat. Tidak ingin melepaskannya. Tidak ingin
ditinggalkan lagi. Dari kejauhan Aili, Mama, Mik Ujang, Istri Mik Ujang menangis menyaksikan
kisah haru itu. Akhirnya Ibu dan anak kembali bersatu seperti sedia kala.

***

Malam sudah berganti pagi, jam sudah menunjukkan pukul 09.00. Mereka semua
berpamitan kepada Mik Ujang dan keluarga untuk pulang. Mik Ujang tersenyum kearah Fahra
seraya mengacungkan jempolnya. Fahra membalas senyuman itu lalu melangkah mendekat
kearah Mik Ujang. Dipeluknya Mik Ujang dengan penuh sayang. Orang terdekatnya, orang yang
sudah sekian lama sudah dianggapnya sebagai Ayah, orang yang sangat mengerti bagaimana
dirinya. Dia adalah orang yang ada dalam pelukannya. Mik Ujang. Mik Ujang membalas pelukan
Fahra dengan sayang. Mik Ujang juga sudah menganggap Fahra sebagai anaknya sendiri.
Ampure mik, tiang tunas maaf sengak tiang girang pinak salak kance pelinggih mik
(minta maaf pak, saya minta maaf karena saya sering buat salah sama Bapak) ucap Fahra
dengan air mata yang mengalir dari kedua matanya.
Mamik endah ending maaf jang (Bapak juga minta maaf dek) jawab Mik Ujang
terharu.
Mereka melepaskan pelukan mereka. Mik Ujang mengusap puncak kepala Fahra dengan
lembut. Mik Ujang tersenyum terharu kepada Fahra. Anak yang dulunya masih kecil, pembuat
onar, selalu lari dari masalah dan menceritakan semua hal kepadanya kini sudah besar.
Masih teringat dengan jelas diingatan Mik Ujang saat dulu Fahra pergi dari rumahnya
saat sang Ayah meninggal dunia. Fahra menangis di pelukannya dengan sesenggukan.
Mik, Bunda marah padaku. Bunda bilang aku pembunuh Ayah. Bunda bilang kenapa
aku masih hidup? Bunda bilang kenapa aku bunuh Ayah? cerita Fahra sesenggukan,

air

matanya semakin deras mengalir dari kedua matanya. Mik Ujang menatap anak yang berada
dalam pelukannya kasihan.
Betapa berat beban yang diberikan dari Bundanya. Anak yang tidak mengetahui apa-apa
menjadi orang yang disalahkan. Orang yang disalahkan atas kematian Ayahnya sendiri. Padahal
Bundanya sendiri mengetahui bahwa pada saat itu Fahra dan Fahri bertengkar karena Ayahnya
tidak membelikan mainan untuk Fahra dan hanya membelikan untuk Fahri. Fahra marah besar
dan pergi dari rumah.
Ayahnya yang merasa bersalah lalu pergi mencari Fahra kesana-kemari namun karena
terlalu lelah akhirnya terjadilah kecelakaan itu. Polisipun sudah mengatakan hal yang sama.
Namun tetap saja Bunda tidak mau mengakuinya dan tetap mengatakan bahwa Fahra adalah
pembunuh suaminya.
Dan sekarang anak dan Ibu itu akhirnya bersatu kembali. Bunda sudah mengakui bahwa
dirinya salah karena sudah menyalahkan Fahra. Beban berat yang sudah sekian lama berada
dipundaknya akhirnya terangkat. Wajah yang dulunya terlihat sedingin es itu akhirnya mencair.
Senyum bahagia terpancar celas dari wajah Fahra. Mik Ujang menatap Fahra dengan bahagia.
Fahra berjalan kearah inak, panggilan Ibu dari Fahra untuk istri Mik Ujang.
Inak, tiang tunas maaf enggih. Tiang girang beng beban jok Inak. Girang pinak repot
inak, tiang tunas maaf enggih (Ibu, saya minta maaf ya. Saya sering memberikan beban ke Ibu.
Sering buat Ibu menjadi sibuk, saya minta maaf ya) ucap Fahra meminta maaf kepada Inak,
Inak merentangkan tangannya lalu disambut oleh Fahra. Pelukan yang diberikan oleh Fahra
sering membuatnya tenang.
Ketika dulu Ia merindukan pelukan seorang Ibu Fahra akan pergi ke Inak dan langsung
memeluknya. Inak yang sudah menganggap Fahra sebagai anaknya itu sering memberikan
banyak pembelajaran di kehidupan Fahra. Inak yang selalu berusaha agar Fahra tidak membenci
Bundanya karena terus menyalahkannya atas kepergian Ayahnya.
Inak selalu mengelus lembut kepala Fahra ketika Fahra dirundung banyak masalah.
Selalu memasakkan makanan kesukaan Fahra ketika Fahra berkunjung. Fahra adalah anak yang
sangat dibanggaannya. Anak yang sering kali Ia buat sibuk untuk menjaga Sara, anaknya.

Enggih, Inak endak ending maaf enggih (Iya, Ibu juga minta maaf iya) jawab Inak.
Mereka melepaskan pelukannya. Inak menghapus air mata yang mengalir membasahi
pipinya.
dendek nangis gede, endekm lile arak dengan mum demen gitakm nangis (jangan nangis
dek, tidak malu apa dilihat menangis sama orang yang kamu sayang) bisik Inak ditelinga Fahra
seraya mengedipkan sebelah matanya ke Fahra. Inak tertawa jahil melihat muka Fahra yang
memerah.
Inak!! (Ibu) teriak Fahra, wajahnya masih bersemu merah. Fahra kembali memeluk
Inak lalu melepaskannya kembali. Fahra menuduk kebawah, kearah anak Mik Ujang dan Inak.
Sara panggil Fahra.
Kak Fahra!! panggil Sara, tanggannya dijulurkan ingin digendong. Fahra langsung
mengakat Sara untuk digendong.
Kak Fahra kenapa nangis? Kan kalau jadi laki-laki itu endak boleh nangis. Katanya kak
Fahra itu kuat, tapi kenapa sekarang kak Fahra nangis? Kak Fahra udah endak kuat lagi ya? Tapi
kenapa kak Fahra masih bisa gendong Sara? pertanyaan beruntun terus keluar dari mulut kecil
Sara. Fahra tersenyum ke arah Sara.
Pertanyaannya kok banyak sekali? Kak Fahra jadi bingung mau jawab dari mana jawab
Fahra.
hmm Sara berpikir keras, telunjuknya diletakkan dikeningnya menandakan bahwa dia
sedang ebrpikir keras.
Oh iya, jawab aja kenapa Kak Fahra nangis? Kak Fahra lagi sedih? Tanya Sara
akhirnya. Fahra tertawa melihat kelakuan Sara.
Kenapa Kak Fahra nangis? Hmm, Kak Fahra nangis bukan karena Kak Fahra sedih, tapi
karena Kak Fahra lagi seneng. Kak Fahra seneng soalnya Kak Fahra punya adik yang
caaannntiiikk sekali kayak Sara jawab Fahra lalu mencium kening Sara.

Kak Fahra memberikan Sara kepada Inak, Fahra berajalan kearah Bunda, Mama dan Aili,
mereka naik ke mobil dan menjalankan mobil pergi meninggalkan rumah Mik Ujang. Didalam
mobil tidak ada pembicaraan yang terjadi. Hanya saja, Bunda terus memeluk lengan Fahra, tidak
ingin melepaskannya walau sedetik. Akhirnya karena kelelahan Bunda tidur dipundak Fahra.
***
Setahun sudah berlalu sejak kejadian itu. Sekang Fahra dan Bunda adalah pasangan
terkompak. Walau sering terjadi percecokan diantara mereka berdua, namun mereka akan
kembali seperti semula lagi ketika salah satu meminta maaf.
Hubungan antara Fahra dan Ailipun semakin erat. Hubungan mereka mulai serius
semenjak 6 bulan yang lalu. Merekapun jadiannya di pantai Kuta saat matahari akan tenggelam.
Itu adalah momen yang tidak akan dilupakan oleh mereke berdua. Pesan yang diamanahkan oleh
Fahri dilaksanakan oleh Fahra. Sebenarnya itu tidak sepenuhnya atas perintah Fahri, Fahra
melakukan itu semua karena Ia memang benar-benar sayang kepada Bunda dan Aili.
Seminggu sekali mereka akan pergi mengunjungi makam Fahri bersama-sama. Mereka
mendoakan yang terbaik untuk Fahri disana. Tanpa mereka sadari, beberapa meter dari sana
berdiri seorang pria berwajah sama seperti Fahra tengah tersenyum menatap mereka semua.

TAMAT

By : Baiq Ayu Darma Ning Tyas