Anda di halaman 1dari 19

Infeksi Saluran Kemih pada Orang Dewasa

Nevy Olianovi
102013101
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
nevy.olianovi@yahoo.com
Pendahuluan
Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan infeksi yang sering dijumpai pada praktek
dokter sehari-hari. ISK itu sendiri adalah merupakan reaksi inflamasi sel-sel urotelium yang
melapisi saluran kemih. Infeksi aku pada organ padat (testis, epididimis, prostat, ginjal)
biasanya lebih berat daripada organ berongga (buli-buli, ureter, uretra), ditunjukkan dengan
nyeri dan keadaan klinis yang lebih berat.1,2
ISK umumnya dibagi menjadi dua kategori besar, ISK bagian bawah (uretritis, sistitis,
prostatitis) dan bagian atas (pielonefritis). Sistitis akut (infeksi vesika urinaria) dan
pielonefritis akut (infeksi pelvis dan interstitium ginjal) adalah infeksi yang peling berperan
dalam menimbulkan morbiditas, tetapi jarang berakhir sebagai gagal ginjal progresif.3
Dalam keadaan normal saluran kemih tidak mengandung bakteri, virus, atau
mikroorganisme lainnya. Dengan kata lain bahwa diagnosis ISK ditegakkan dengan
membuktikan adanya mikroorganisme di dalam saluran kemih. Pada pasien dengan simptom
ISK, jumlah bakteri dikatakan signifikan jika lebih besar dari 105/ml urin. Infeksi ini juga
lebih sering dijumpai pada wanita daripada laki-laki, pada wanita dapat terjadi pada semua
umur, sedangkan pada laki-laki di bawah umur 50 tahun jarang terjadi.3
Anamnesis
Anamnesis adalah riwayat kesehatan dari seorang pasien dan merupakan informasi
yang diperoleh dokter dengan cara menanyakan pertanyaan tertentu. Anamnesis pada
skenario 2 dilakukan secara autoanamnesis, yaitu wawancara yang dilakukan antara dokter
dan pasiennya secara langsung, dimana pasien sendirilah yang menjawab semua pertanyaan
dokter dan menceritakan permasalahannya. Ini adalah cara anamnesis terbaik karena pasien
sendirilah yang paling tepat untuk menceritakan apa yang sesungguhnya dia rasakan. Adapun
yang wajib ditanyakan pada anamnesis antara lain adalah:4
Identitas Pasien, dengan menanyakan kepada pasien antara lain nama lengkap pasien,
umur, tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, pendidikan, agama, pekerjaan, suku bangsa.
Keluhan utama
- Keluhan utama pasien: nyeri saat berkemih sejak 5 hari yang lalu.
- Keluhan tambahan: keluhan utama disertai demam, sering berkemih tapi hanya
sedikit-sedikit dan urin berwarna keruh.

Riwayat penyakit sekarang


1

Bagaimana pola berkemih pasien? Tujuannya untuk mendeteksi faktor predisposisi


terjadinya ISK pasien (dorongan, frekuensi, dan jumlah)
- Apakah merasa seperti terbakar atau nyeri saat berkemih (disuria)?
- Adakah timbul rasa sangat ingin ke toilet, dan harus segera melakukannya (urgensi)?
- Apakah terbangun saat malam untuk berkemih (nokturia)?
- Adakah bau urine yang menyengat?
- Bagaimana volume urine, warna (keabu-abuan) dan konsentrasi urin?
- Adakah nyeri suprapubik? Nyeri suprapubik menunjukkan adanya infeksi pada
saluran kemih bagian bawah.
- Adakah nyeri panggul atau pinggang? Nyeri panggul atau pinggang biasanya pada
infeksi saluran kemih bagian atas.
- Adakah peningkatan suhu tubuh? Peningkatan suhu tubuh biasanya terjadi pada
infeksi saluran kemih bagian atas.
- Apakah sebelumnya pernah mengalami hal serupa?
Riwayat pengobatan
- Sudah pernah berobat ke dokter?
- Setelah berobat apakah sudah sembuh?
Riwayat penyakit dahulu atau riwayat kesehatan pasien :
- Adakah riwayat infeksi saluran kemih?
- Adakah riwayat pernah menderita batu ginjal?
- Adakah riwayat penyakit diabetes melitus, jantung?
Riwayat penyakit keluarga
- Apakah ada dalam keluarga yang mengalami hal sama ?
Riwayat sosial dan lingkungan
- Bagaimana pola makan dan minum sehari-hari?
- Apakah selalu menahan untuk BAK?
- Bagaimana aktivitas seksual? Seminggu bisa berapa kali berhubungan?
- Sakitnya timbul setelah berhubungan seksual atau tidak?
- Apakah pasangannya pernah terkena hal yang sama?

Dari skenario 2 didapatkan seorang pasien laki-laki berusia 50 tahun dengan keluhan
nyeri saat berkemih sejak 5 hari yang lalu. Keluhan disertai demam, sering berkemih tapi
hanya sedikit-sedikit dan urin berwarna keruh. Pada pasien di skenario, diperlukan beberapa
pertanyaan tambahan untuk membedakan gejala klinis dari ISK, seperti urgensi (tidak bisa
menahan rasa kemih), kondisi tubuh yang menurun, nyeri ketok CVA, dan nyeri mendadak di
bagian skrotum, apakah pasien sudah pernah sakit seperti ini sebelumnya (re-infeksi) dan
riwayat obat apa yang sudah pernah diminum.4
Pemeriksaan fisik
Keadaan umum pasien bagaimana, apakah tampak sakit berat, sedang atau ringan.
Lalu bagaimana kesadaraan apakah kompos mentis, apatik, samnolen sopor, koma, derilium.
Dan pastinya juga dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital: suhu, memeriksa tekanan darah,
frekuensi pernafasan, frekuensi nadi. Pada pemeriksaan urologi harus diperhatikan setiap
organ mulai dari pemeriksaan ginjal, buli-buli, genetalia eksterna.5
1 Pemeriksaan ginjal
2

Inspeksi

Pemeriksaan inspeksi daerah pinggang dimulai dengan meminta pasien


duduk relaks dengan membuka pakaian di daerah perut. Diperhatikan adanya
pembesaran asimetris pada daerah pinggang atau abdomen sebelah atas.
Pembesaran itu mungkin disebabkan oleh karena hidronefrosis, abses paranefrik,
atau tumor ginjal, atau pada organ retroperitoneum yang lain.5
Palpasi

Palpasi ginjal dilakukan secara bimanual dengan memakai dua tangan.


Tangan kiri diletakkan di sudut kosto-vertebra untuk mengangkat ginjal ke atas
sedangkan tangan kanan meraba ginjal dari depan di bawah arkus kosta. Pada saat
inspirasi ginjal teraba bergerak ke bawah. Dengan melakukan palpasi bimanual,
ginjal kanan yang normal pada anak atau dewasa yang bertubuh kurus seringkali
masi dapat diraba. Ginjal kiri sulit diraba, karena terletak lebih tinggi daripada
sisi kanan.5
Perkusi

Pemeriksaan ketok ginjal dilakukan dengan memberikan ketokan pada


susut kostovertebra (sudut yang dibentuk oleh kosta terakhir dengan tulang
vertebra). Untuk menemukan rasa nyeri pada ginjal dapat dilakukan pemeriksaan
perkusi dengan kepalan tangan, selain dengan cara palpasi diatas. Pemeriksa
meletakkan tangan kirinya pada daerah kostovertebral belakang, lalu pukul
dengan permukaan ulnar tinju dengan tangan kanannya. Gunakan tenaga yang
cukup untuk menimbulkan persepsi tapi tanpa menimbulkan rasa nyeri pada
pasien normal. Rasa nyeri yang ditimbulkan dengan pemeriksa ini dapat
disebabkan oleh pielonefritis, tapi juga dapat disebabkan hanya karena nyeri
otot.5
Auskultasi
Suara bruit yang terdengar pada saat auskultasi di daerah epigastrium atau
abdomen sebelah atas patut dicurigai adanya stenosis arteria renalis, apalagi bila
terdapat bruit yang terus menerus (sistolik-diastolik).5

2. Pemeriksaan buli-buli
Pada buli-buli normal sulit diraba, kecuali jika sudah terisi urin paling sedikit
150ml. Pada pemeriksaan buli-buli diperhatikan adanya benjolan/massa atau jaringan
parut bekas irisan.operasi di suprasimfisis. Massa di daerah suprasimfisis mungkin
merupakan tumor ganas buli-buli atau karena buli-buli yang terisi penuh. Dengan
palpasi dan perkusi dapat ditentukan batas atas buli-buli. Seringkali dengan inspeksi
terlihat buli-buli yang terisi penuh hingga melewati batas atas umbilicus.5
Pemeriksaan bimanual pada buli-buli di bawah pembiusan dilakukan untuk
menentukan ekstensi dan morbilitas tumor buli-buli setelah reseksi. Pada pasien wanita,
palpasi bimanual dilakukan dengan menekan buli-buli memakai tangan yang diletakkan
3

di atas abdomen dan jari-jari tangan yang lain pada vagina. Pada pria, tangan satu pada
abdomen, dan jari tangan lain menganngkat buli-buli melalui colok dubur.5
Pemeriksaan penunjang
1

Urinalisis
Leukosit hingga 4 atau 5 per LPB dianggap terjadi leukosuria. Peningkatan jumlah
lekosit dalam urine (leukosituria atau piuria) umumnya menunjukkan adanya infeksi
saluran kemih baik bagian atas atau bawah, sistitis, pielonefritis, atau
glomerulonefritis akut. Leukosituria juga dapat dijumpai pada febris, dehidrasi,
stress, leukemia tanpa adanya infeksi atau inflamasi, karena kecepatan ekskresi
leukosit meningkat yang mungkin disebabkan karena adanya perubahan
permeabilitas membran glomerulus atau perubahan motilitas leukosit. Pada kondisi
berat jenis urin rendah, leukosit dapat ditemukan dalam bentuk sel Glitter
merupakan lekosit PMN yang menunjukkan gerakan Brown butiran dalam
sitoplasma. Pada suasana pH alkali leukosit cenderung berkelompok.6
Urin normal mempunyai pH bervariasi antara 4,3 - 8,0. Bila bahan urin masih segar
pH > 8,0 (alkalis) selalu menunjukkan adanya infeksi saluran kemih yang
berhubungan dengan mikroorganisme pemecah urea (ureaspliting organism).
Albuminuria hanya ditemukan pada ISK. Sifatnya ringan dan kurang dari 1 gram per
24 jam.6
Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih.
Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan
glomerulus ataupun urolitiasis.6
Pada pielonefritis akut leukositosis mencapai 40.000 per mm 3, neutrofillia, LED
meningkat. Urin keruh, protein 1-3 gram per hari, penuh dengan pus dan kuman,
kadang dijumpai erotrosit.6

Kultur Urin (Bakteriologis)


Pada pemeriksaan bakteriologis secara mikroskopis dapat digunakan urin segar
tanpa diputar atau tanpa pewarnaan gram. Dinyatakan positif bila dijumpai 1
bakteri/lapangan pandang minyak emersi. Dapat juga dilakukan kultur atau biakan
bakteri. Kultur ini dimaksudkan untuk memastikan diagnosis ISK yaitu bila ditemukan
bakteri dalam jumlah bermakna sesuai dengan criteria Cattell:7
Pada wanita, simtomatik dan ditemukan >102 organisme coliform/ml urin plus
piuria, atau >105 organisme pathogen apapun/ml urin, atau ada pertumbuhan
organisme patogen apapun pada urin yang diambil dengan cara aspirasi suprapubik.
Pada laki-laki, simtomatik dan ditemukan >103 organisme patogen/ml urin.
Pada pasien asimtomatik ditemukan >105 organisme patogen/ml urin pada 2 contoh
urin berurutan.

Radiologi
Prinsipnya adalah untuk mendeteksi adanya faktor predisposisi infeksi saluran
kemih, yaitu hal hal yang mengubah aliran urin dan stasis urin, atau hal hal yang
4

menyebabkan gangguan fungsional saluran kemih. Pemeriksaan tersebut antara lain


berupa:7
a Foto polos abdomen (BNO): Dapat mendeteksi sampai 90% batu radio opak.7
b Pielografi intravena (PIV): Memberikan gambaran fungsi eksresi ginjal, keadaan
ureter, dan distorsi system pelviokalises. Untuk penderita: pria (anak dan bayi
setelah episode infeksi saluran kemih yang pertama dialami, wanita (bila terdapat
hipertensi, pielonefritis akut, riwayat infeksi saluran kemih, peningkatan kreatinin
plasma sampai < 2 mg/dl, bakteriuria asimtomatik pada kehamilan, lebih dari 3
episode infeksi saluran kemih dalam setahun. PIV dapat mengkonfirmasi adanya
batu serta lokasinya. Pemeriksaan ini juga dapat mendeteksi batu radiolusen dan
memperlihatkan derajat obstruksi serta dilatasi saluran kemih. Pemeriksaan ini
sebaiknya dilakukan setelah > 6 minggu infeksi akut sembuh, dan tidak dilakukan
pada penderita yang berusia lanjut, penderita DM, penderita dengan kreatinin plasma
> 1,5 mg/dl, dan pada keadaan dehidrasi.7
c Ultrasonografi ginjal: Untuk melihat adanya tanda obstruksi/hidronefrosis,
scarring process, ukuran dan bentuk ginjal, permukaan ginjal, masa, batu, dan kista
pada ginjal.7
d CT-scan: Pemeriksaan ini paling sensitif untuk menilai adanya infeksi pada
parenkim ginjal, termasuk mikroabses ginjal dan abses perinefrik. Pemeriksaan ini
dapat membantu untuk menunjukkan adanya kista terinfeksi pada penyakit ginjal
polikistik. Perlu diperhatikan bahwa pemeriksaan in lebih baik hasilnya jika
memakai media kontras, yang meningkatkan potensi nefrotoksisitas.7
Diagnosis kerja
Gambaran klinis infeksi saluran kemih sangat bervariasi mulai dari tanpa gejala hingga
menunjukkan gejala yang sangat berat akibat kerusakan pada organ-organ lain. Pada
umumnya infeksi akut yang mengenai organ padat memberikan keluhan yang sangat hebat
sedangkan infeksi pada organ-organ berongga memberikan keluhan yang lebih ringan. Infeksi
saluran kemih dibagi menjadi dua bagian, yakni infeksi saluran kemih bagian atas dan bagian
bawah:3
1
Infeksi Saluran Kemih Atas (Pielonefritis)
Pielonefritis akut adalah reaksi inflamasi akibat infeksi yang terjadi pada pielum
dan parenkim ginjal. Pada umumnya kuman yang menyebabkan infeksi ini berasal dari
saluran kemih bagian bawah yang naik ke ginjal melalui ureter. Gambaran klasik dari
pielonefritis akut adalah demam tinggi dan disertai menggigil, nyeri daerah perut dan
pinggang, disertai mual dan muntah. Biasanya di dahului oleh disuria, urgensi, dan
sering berkemih yang menunjukkan infeksi dimulai dari bawah.3
Pada pemeriksaan fisik terdapat nyeri pada pinggang, perut, atau punggung.. Pada
pemeriksaan darah menunjukkan adanya leukositosis disertai peningkatan laju endap
darah, urinalisis terdapat piuria dan bakteriuria, serta bisa terdapat silinder darah putih
di urin yang menunjukkan infeksi terjadi di ginjal.3

Infeksi Saluran Kemih Bawah (Sistitis, Prostatitis, Epididimitis)


a Sistitis Akut
Sistitis adalah inflamasi akut pada mukosa buli-buli yang sering disebabkan
oleh infeksi oleh bakteri. Mikroorganisme penyebab infeksi ini terutama adalah
E.coli, Enterococci, Proteus, dan Stafilococcus aureus yang masuk ke dalam bulibuli terutama melalui uretra. Sistitis akut mudah terjadi jika pertahanan local tubuh
menurun.3
Reaksi inflamasi menyebabkan mukosa buli-buli menjadi kemerahan
(eritema), edema, dan hipersensitif sehingga juka buli-buli terisi urine, akan mudah
terangsang untuk segera mengeluarkan isinya; hal ini menimbulkan gejala frekuensi.
Kontraksi buli-buli akan menyebabkan rasa sakit/nyeri di daerah suprapubik dan
eritema mukosa buli-buli mudah berdarah dan menimbulkan hematuria. Tidak
seperti gejala pada infeksi saluran kemih sebelah atas, sistitis jarang disertai demam,
mual, muntah, badan lemah, dan kondisi umum yang menurun.3
Pemeriksaan urin berwarna keruh, berbau, dan pada urinalisis terdapat piuria,
hematuria, dan bakteriuria. Kultur urin sangat penting utuk mengetahui jenis kuman
penyebab infeksi. Jika sistitis sering mengalami kekambuhan, perlu dipikirkan
adanya kelainan lain pada buli-buli sehingga diperlukan pemeriksaan radiologi atau
sitoskopi. Gejala dan tanda klasik terdiri atas miksi sering yang tidak dapat ditunda,
dysuria, nokturia, dan kadang hematuria, nyeri suprapubik.3
b

Prostatitis Bakterial
Prostatitis bakterial merupakan prostatitis yang disebabkan infeksi bakteri dan
merupakan prostatitis kategori 1 dan 2 dalam klasifikasi National Institute of Health,
sedangkan kategori lainnya etiologi dan patofisiologinya masih belum terlalu jelas.3
Bakteri masuk ke dalam prostat diduga melalui beberapa cara, ascending dari
uretra, refluks urin yang terinfeksi ke dalam duktus prostatikus, secara limfogen
maupun hematogen. Gejala klinis pada psotatitis bakterial akut tampak sakit,
demam, menggigil, rasa sakit di daerah perineal, dan adanya gangguan miksi. Pada
colok dubur prostat teraba bengkak, hangat dan nyeri. Sedangkan prostatitis
bakterial kronis terjadi karena ifeksi saluran kemih yang sering kambuh gejalaanya
hampir sama dengan prostatitis bakterial akut, dan kadang-kadang terdapat nyeri
saat ejakulasi atau hematospermi.3

Epididimitis
Epididimitis adalah
reaksi inflamasi yang terjadi pada epididimis.
Patogenesisnya diduga secara ascending atau refluks urin melalui duktus
ejakulatorius maupun hematogen. Penyebab tersering pada pria dewasa muda adalah
chlamidia trachomatis atau neiserria gonorhoika. Epididimitis akut merupakan
keadaan akut skrotum yang sulit dibedakan dengan torsio testis. Pasien mengeluh
nyeri mendadak pada daerah skrotum, diikuti bengkak pada kauda hingga kaput
epididimis, tidak jarang disertai demam, malaise, nyeri menjalar ke pinggang.3

Diagnosis ISK dengan penyulit dapat diambil berdasarkan gejala-gejala yang ada dan
penemuan klinis. Pada skenario didapatkan keluhan berupa nyeri saat berkemih, demam,
6

sering berkemih (frekuensi) tapi hanya sedikit-sedikit dan urin berwarna keruh. Dari gejalagejala yang didapat, diperkirakan pasien menderita ISK dengan penyulit. ISK dengan
komplikasi atau penyulit dibedakan menjadi: ISK selama kehamilan, ISK pada diabetes
mellitus, dan ISK pada usia lanjut.3
1 ISK pada kehamilan
Pada masa kehamilan terjadi perubahan anatomi dan fisiologi saluran kemih yang
disebabkan oleh peningkatan progesteron dan obstruksi akibat pembesaran uterus.
Peristaltik ureter menurun dan terjadi dilatasi ureter terutama pada sisi kanan yang
terjadi pada kehamilan tua. Wanita hamil lebh mudah mengalami pielonefritis akut
daripada wanita tidak hamil, meskipun kemungkinan untuk menderita bakteriuria kedua
kelompok sama. Pielonefritis yang tidak diobati menyebabkan terjadinya kelahiran
prematur dengan kematian bayi. Kultur urine dimabil pada saat kunjungan pertama dan
diulang pada minggu ke-16. Jika terdapat bakteriuria harus segera diterapi. Antibiotika
yang dipilih sangat terbatas mengingat toksisitas pada janin. Yang paling aman saat ini
adalah penisilin dan sefalosporin, diberikan selama 3 hari. Kontrol terhadap kultur urine
dilakukan secara berkala untuk mengetahui efektifitas terapi. Jika terjadi pielonefritis
pasien harus menjalani rawat inap untuk pemberian terapi antibiotika parenteral.3
2

ISK pada usia lanjut


Prevalensi ISK meningkat secara signifikan pada manula (manusia usia lanjut).
Bakteriuria meningkat dari 5-10% pada usia 70 tahun menjadi 20% pada usia 80 tahun.
Dikatakan bahwa ISK adalah penyebab terbanyak bakteremia pada manula. Wanita tua
yang menderita pielonefritis nonobstrusi lebih mudah mengalami episode bakteremia
daripada wanita muda. Wanita manula yang menderita sistitis harus mendapatkan terapi
antibiotika peroral salama 7 hari, sedangkan jika menderita pielonefritis, harus
mendapatkan terapi parenteral selama 14 hari. Pria manula yang menderita ISK
biasanya karena prostatitis dan mendapatkan terapi antimikroba awal 14 hari dan
diteruskan lagi 6 minggu hingga sembuh.3

ISK pada pasien diabetes mellitus


Prevalensi bakteriuria asimptomatik pada pasien diabetes wanita dua kali lebih
sering daripada wanita non diabetes. Demikian pula dengan resiko untuk mendapatkan
penyulit akibat ISK lebih besar. Hal ini diduga karena ada diabetes sudah terjadi
kelainan fungsional pada sistem urinaria maupun fungsi leukosit sebagai pertahanan
tubuh. Kelainan fungsional pada saluran yang sering dijumpai adalah sistopati
diabetikum. Oleh karena pada diabetes, terjadi penurunan sensitifitas buli-buli sehingga
memudahkan distensi buli-buli serta penurunan kontraktilitas destrusor dana kesemua
ini menyebabkan terjadinya peningkatan residu urine. Kesemuanya itu menyebabkan
mudah terjadinya infeksi. Komplikasi yang bisa terjadi pada pasien diabetes yang
menderita ISK adalah: sistitis emfisematosa, pielonefritis emfisematosa, nekrosis
papilar ginjal, abses perinefrik, dan bakteremia.3

Diagnosis banding
1. Batu saluran kemih
7

Batu di dalam saluran kemih (kalkulus uriner) adalah massa keras seperti batu yang
terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan,
penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu
ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu
ini disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis). Batu ginjal merupakan penyebab
terbanyak kelainan di saluran kemih. Batu saluran kemih umumnya mengandung unsur :
kalsium oksalat atau kalsium fosfat, asam urat, magnesium-amonium-fosfat (MAP), xantin
dan sistin.8
Batu saluran kemih dapat menimbulkan penyulit berupa obstruksi dan infeksi saluran
kemih. Manifestasi obstruksi pada saluran kemih bagian bawah adalah retensi urine atau
keluhan miksi yang lain, sedangkan saluran kemih bagian atas dapat menimbulkan
hidroureter atau hidronefrosis. Batu yang dibiarkan disaluran kemih dapat menimbulkan
infeksi, abses ginjal, pionefrosis, urosepsis dan akhirnya terjadi kerusakan ginjal yang
permanen (gagal ginjal). Tanda dan gejala klinis penyakit batu saluran kemih ditentukan
oleh letaknya, besarnya dan morfologi dari batu. Walaupun demikian, penyakit ini
mempunyai tanda umum, yaitu hematuria, baik hematuria nyata ataupun mikroskopik.
Selain itu, bila disertai infeksi saluran kemih, dapat juga ditemukan kelainan endapan urin,
bahkan mungkin demam atau tanda sistemik lain.8
a Batu Pelvis Ginjal
Batu pelvis ginjal dapat bermanifestasi tanpa gejala sampai dengan gejala berat.
Umumnya gejala batu saluran kemih merupakan akibat obstruksi aliran kemih dan
infeksi. Nyeri didaerah pinggang dapat dalam bentuk pegal hingga kolik atau nyeri
yang terus-menerus dan hebat karena adanya pionefrosis.8
Pada pemeriksaan fisik mungkin kelainan sama sekali tidak ada, sampai
mungkin terabanya ginjal yang membesar akibat adanya hidronefrosis. Nyeri dapat
berupa nyeri ketok arcus costa. Sesuai dengan gangguan yang terjadi, batu ginjal
yang terletak di pelvis dapat menyebabkan terjadinya hidronefrosis, sedangkan batu
kaliks pada umumnya tidak memberikan kelainan fisik.8
b Batu Ureter
Anatomi ureter mempunyai beberapa tempat penyempitan yang
memungkinkan batu ureter terhenti. Karena peristaltis, akan terjadi gejala kolik,
disertai perasaan mual dengan atau tanpa muntah dengan nyeri alih khas ke regio
inguinal. Tidak jarang terjadi hematuria yang didahului oleh serangan kolik. Bila
keadaan obstruksi terus berlangsung, lanjutan dari kelainan yang terjadi dapat
berupa hidronefrosis dengan atau tanpa pielonefritis sehingga menimbulkan
gambaran infeksi umum.8
c

Batu Kandung Kemih


Karena batu menghalangi aliran kemih akibat penutupan leher kandung kemih,
aliran yang mula-mula lancer secara tiba-tiba akan terhenti dan menetes disertai
dengan nyeri. Bila selanjutnya terjadi infeksi yang sekunder, selain nyeri, sewaktu
miksi juga akan terdapat nyeri menetap suprapubik.8

d Batu Prostat
Pada umumya batu prostat juga berasal dari kemih yang secara retrograd
terdorong ke dalam prostat dan mengendap, yang akhirnya menjadi batu yang kecil.
Pada umumnya batu ini tidak memberikan gejala klinis sama sekali karena tidak
menyebabkan gangguan pasase kemih.8
e

Batu Uretra
Batu uretra umumnya merupakan batu yang berasal dari ureter atau kandung
kemih yang oleh aliran kemih sewaktu miksi terbawa ke uretra. Gejala yang
ditimbulkan umumnya miksi tiba-tiba terhenti, menjadi menetes dan nyeri.
Penyulitnya dapat berupa terjadinya diverticulum, abses, fistel proksimal, dan
uremia karena obstruksi urin.8

2. Uretritis
Uretritis merupakan peradangan pada uretra, termasuk dalam ISK namun sedikit
berbeda dalam hal patofisiologi dan etiologinya dengan infeksi saluran kemih yang
lain. Uretritis biasanya di dapat melalui penularan seksual. Uretritis dapat dibagi 2 yaitu
uretritis gonokokal yang disebabkan oleh neisseria gonorrhoeae dan uretritis nongonokokal disebabkan bakteri lain seperti Chlamydia trachomatis atau Ureaplasma
urealyticum. Gejala klinisnya adalah berupa rasa gatal atau panas di distal uretra di
sekitar orifisium uretra eksterna, dysuria, polakisuria, keluar duh tubuh yang
mukopurulen kadang disertai darah, persaan nyeri pada saat ereksi. Gejala-gejala
tersebut jelas pada pria namun pada wanita biasanya tidak bergejala atau bergejala
ringan.9
Etiologi
Kebanyakan kasus ISK disebabkan oleh bakteri yang hidup di usus, dan Escherichia
coli merupakan penyumbang terbesar dalam hal ini. Selain E.coli, bakteri yang dapat
menginfeksi saluran kemih adalah seperti berikut:6
1 Enterobacteriaceae
Escherichia coli
Kuman ini berbentuk batang pendek, gemuk, berukuran 2,4 u x 0,4 sampai 0,7 u
gram-negatif, tak bersimpai, bergerak aktif dan tidak berspora. E.coli adalah penyebab
yang paling lazim dari infeksi saluran kemih dan merupakan penyebab infeksi saluran
kemih pertama pada kira-kira 90% wanita muda. E.coli yang biasa menyebabkan
infeksi saluran kemih ialah jenis 1, 2, 4, 6, dan 7. Jenis-jenis pembawa antigen K dapat
menyebabkan timbulnya piolonefritis.6

Klebsiella

Klebsiella pneumoniae kadang-kadang menyebabkan infeksi saluran kemih dan


bakteremia dengan lesi fokal pada pasien yang lemah. Ditemukan pada selaput lendir
saluran napas bagian atas, usus dan saluran kemih dan alat kelamin. Tidak bergerak,
bersimpai, tumbuh pada perbenihan biasa dengan membuat koloni berlendir yang besar
yang daya lekatnya berbeda-beda.6
Enterobacter aerogenes
Organisme ini mempunyai simpai yang kecil, dapat hidup bebas seperti dalam
saluran usus, serta menyebabkan saluran kemih dan sepsis. Infeksi saluran kemih
terjadi melalui infeksi nosokomial.6
Proteus
Proteus mirabilis menyebabkan infeksi saluran kemih dan kadang-kadang infeksi
lainnya. Karena itu, pada infeksi saluran kemih oleh Proteus, urine bersifat basa,
sehingga memudahkan pembentukan batu dan praktis tidak mungkin mengasamkannya.
Pergerakan cepat oleh Proteus mungkin ikut berperan dalam invasinya terhadap saluran
kemih. Spesies Proteus menghasilkan urease mengakibatkan hidrolisis urea yang cepat
dengan pembebasan amonia.6
2

Pseudomonas aeruginosa
Batang gram negatif, 0,5 -1,0 x 3,0 -4,0 um. Umumnya mempunyai flagel polar,
tetapi kadang-kadang 2-3 flagel. Pseudomonas aeruginosa bersifat patogen bila masuk
ke daerah yang fungsi pertahanannya abnormal, misalnya bila selaput mukosa dan kulit
rusak; pada pemakaian kateter intravena atau kateter air kemih; atau bila terdapat
netropenia, misalnya pada kemoterapi kanker. Kuman melekat dan mengkoloni selaput
mukosa atau kulit dan menginvasi secara lokal dan menimbulkan penyakit sistemik.
Proses ini dibantu oleh pili, enzim dan tosin. Lipopolisakarida berperan langsung yang
menyebabkan demam, syok, oliguria, leukositosis, dan leukopenia, disseminated
intravascular coagulation dan respiratory distress syndrome pada orang dewasa. Kuman
ini merupakan penyebab 10-20% infeksi nosokomial. Sering diisolasi dari penderita
yang neoplastik, luka dan luka bakar yang berrat. Kuman ini juga dapat menyebabkan
infeksi pada saluran pernapasan bagian bawah, saluran kemih, mata dan lain-lainnya.6

Enterococcus
Terdapat sedikitnya 12 spesies enterococcus. Enterococcus faecalis merupakan
yang paling sering dan menyebabkan 85-90% infeksi enterococcus. Enterococcus
adalah yang paling sering menyebabkan infeksi nosokomial, terutama pada unit
perawatan intensif, dan hanya pada pengobatan dengan sefalosporin dan antibiotika
lainnya dimana mereka bersifat resisten. Enterococcus ditularkan dari satu pasien ke
pasien lainnya terutama melalui tangan perawat kesehatan yang beberapa diantara
mereka mungkin pembawa enterokokus pencernaannya. Enterococcus kadang-kadang
ditularkan melalui melalui alat-alat kedokteran. Pada pasien tempat yang paling sering
terkena infeksi adalah saluran kemih, luka tusuk dan saluran empedu dan darah.6
Staphylococcus

10

Staphylococcus secara khas tidak berpigmen, resisten terhadap novobiosin, dan


nonhemolitik; bakteri ini menyebabkan infeksi saluran kemih pada wanita muda.
Spesies yang menyebabkan infeksi saluran kemih adalah Staphylococcus
saprophyticus.6
Epidemiologi
ISK tergantung banyak faktor; seperti usia, jenis kelamin, prevalensi bakteriuria, dan
faktor predisposisi yang menyebabkan perubahan struktur saluran kemih termasuk ginjal.
Selama periode usia beberapa bulan dan lebih dari 65 tahun perempuan cenderung menderita
ISK dibandingkan laki-laki. ISK berulang pada laki-laki jarang dilaporkan, kecuali disertai
faktor predisposisi (pencetus). Prevalensi bakteriuria asimtomatik lebih sering ditemukan
pada perempuan. Prevalensi selama periode sekolah (school girls) 1 % meningkat menjadi
5% selama periode aktif secara seksual. Prevalensi infeksi asimtomatik meningkat mencapai
30%, baik laki-laki maupun perempuan bila disertai faktor predisposisi seperti berikut litiasis,
obstruksi saluran kemih, penyakit ginjal polikistik, nekrosis papilar, diabetes mellitus pasca
transplantasi ginjal, nefropati analgesik, penyakit sickle-cell, senggama, kehamilan dan
peserta KB dengan table progesterone, serta kateterisasi.10
Patofisiologi
Patofisiologi terjadinya UTI terjadi melalui 2 mekanisme, yaitu penyebaran melalui
darah (hematogenous spread) dan ascending infection. Infeksi hematogenous lebih jarang
terjadi daripada ascending infection, sering ditemukan pada pasien immunocompromised dan
penggunaan terapi immunosupresif. Mikroorganisme sebagai agen etiologi pada ISK melalui
penyebaran darah merupakan organisme non enteric seperti staphylococci, jamur, virus.
Infeksi hematogenous pada ginjal sering berasal dari endocarditis infektif dan septicemia.
ISK melalui hematogenous spread melibatkan pyelonephritis dan dapat disertai dengan
sistitis.1
ISK melalui ascending infection sebagian besar berasal dari flora feses sehingga disebut
dengan infeksi endogenous. Pada keadaan normal, vesica urinaria dan urin bersifat steril.
Pada ISK, ada beberapa langkah yang harus terjadi sampai akhirnya terjadilah infeksi pada
pada ginjal yaitu:1

Kolonisasi bakteri koliform di uretra distal dan introitus (pada wanita). Kolonisasi
ini dipengaruhi oleh kemampuan dari bakteri untuk menempel pada sel mukosa urethra.
Penempelan bakteri ini melibatkan adhesion pada fimbriae bakteri yang berinteraksi
dengan reseptor di permukaan sel uroepitelial.1

Migrasi dari urethra ke vesica urinaria. Organisme dapat sangat mudah masuk ke
vesica urinaria dari urethra pada prosedur kateterisasi. Tanpa prosedur kateterisasi atau
instrumentasi lainnya, ISK lebih sering ditemukan di wanita, dikarenakan lebih
pendeknya urethra pada wanita, absennya properto antibacterial pada wanita seperti

11

cairan prostat perubahan hormonal yang lebih sering terjadi mempengatuhi perlekatan
bakteri pada mukosa urethra dan trauma uretra akibat aktivitas seksual.1

Multiplikasi di vesica urinaria. Secara normal, organisme yang masuk ke vesica


urinaria akan dibersihkan melalui mekanisme pengeluaran urin dan mekanisme
antibacterial. Namun, pada kasus adanya obstruksi jalan keluar, atau disfungfsi vesica
urinaria, terjadi pengosongan vesica urinaria yang tidak sempurna dan terjadi
peningkatan volume residu urim. Karena adanya stasis, bakteri yang ada di vesica
urinaria dapat bermultiplikasi dengan mudah tanpa harus dikeluarkan melalui urin atay
dieradikasikan di dinding vesica urinaria. Oleh karena itu hal ini menjelaskan tingginya
frekuensi ISK pada pasien dengan kasus obstruksi traktus urinarius bawah.1

Refluks vesicourethral. Selain obstruksi , factor predisposisi lainnya yang berperan


penting dalam pathogenesis ascending infection adalah inkompetensi dari katup
vesicourethral, yang dapat membiarkan bakteri untuk naik menuju ureter lalu ke pelvis
renalis. Secara normal, katup vesicourethral bersifat satu arah yang mencegah
terjadinya aliran balik urin dari vesica urinaria ke ureter, khususnya pada saat micturisi(
terjadi peningkatan tekanan intravesical). Biasanya inkompetensi katup vesicoureteral
dapat juga disebabkan dari infeksi pada vesica urinaroa itu sendiri, yang dapat
mengakibatkan refluks vesicoureteral. Tanpa adanya mekanisme refluks vesicoureteral,
infeksi biasanya hanya terlokalisasi di vesica urinaria. Oleh karena itu, mayoritas pasien
dengan infeksi bakteri berulang atau persistent pada traktus urinarius lebih sering
menderita sistitis dan urethritis dibandingkan pielonefritis. Naiknya bakteri dari
kandung kemih ke ginjal disebabkan refluks vesicoureter dan menyebarnya infeksi dari
pelvis ke korteks karena refluks intrarenal. Refluks vesicoureter adalah keadaan
patologis karena tidak berfungsinya valvula vesicoureter sehingga aliran urin naik dari
kandung kemih ke ginjal. Valvulo vesicoureter yang tidak berfungsi ini disebabkan
karena memendeknya bagian intravesikal ureter yang bisa terjadi secara kongenital,
pada perkembangan embrio ureter yang abnormal sehingga orifisium ureter terletak
lebih ke lateral, edema mukosa ureter akibat infeksi, jejasan sumsum tulang belakang,
tumor pada kandung kemih dan penebalan dinding kandung kemih.1

Refluks intrarenal. Pada saat urin dengan organisme penginfeksi mengalami refluks
hingga ke pelvis renalis, urin terinfeksi dapat masuk ke dalam parenkim ginjal melalui
duktus pada papilla renalis. Refluks intrarenal ini lebih sering terjadi pada kutub atas
dan kutub bawah ginjal, dimana papilla renalisnya lebih datar dan cekung dibandingkan
kutub tengah ginjal yang papilanya lebih lancip dan cembung.1

12

Gambar 1. Patofisiologi ISK1


Gejala klinik
Infeksi bakteri ke gejala klinis ISK tidak khas dan bahkan pada sebagian pasien tanpa
gejala. Gejala yang sering ditemukan ialah disuria, polakisuria dan terdesak kencing yang
biasanya terjadi bersamaan. Nyeri suprapubik dan daerah pelvis juga ditemukan. Polakisuria
terjadi akibat kandung kemih tidak dapat menampung urin lebih dari 500 ml karena mukosa
yang meradang sehingga sering kencing. Stranguria, tenesmus, nokturia, sering juga
ditemukan enuresis nokturnal sekunder, prostatismus, nyeri uretra, kolik ureter dan ginjal.3
ISK bagian bawah (Cystitis, urethritis, prostatitis, epididymitis)3
- Disuria, poliuria/sering berkemih
- Mendesak bila mau berkemih
- Ketidaknyamanan atau nyeri pada supra pubis
- Air kemih keruh, banyak eritrosit
- Demam, menggigil, sakit pinggang bawah, nyeri perineum
ISK bagian atas (Pielonefritis)3
- Mendadak demam
- Menggigil
- Sakit di daerah costovertebral
- Leukositosis
- Banyak urin eritosit dalam urin

13

ISK yang tak bergejala terhitung lebih berbahaya, karena tanpa disadari, penyakit
tersebut akan menggerogoti terus-menerus. Jadi, orang yang bersangkutan terinfeksi tetapi
dia tidak tahu dan biasanya malah menjadi kronis.3

Faktor resiko yang berpengaruh terhadap infeksi saluran kemih:7

Panjang urethra. Wanita mempunyai urethra yang lebih pendek dibandingkan pria
sehingga lebih mudah.

Faktor usia. Orang tua lebih mudah terkena dibanndingkan dengan usia yang lebih
muda.

Wanita hamil lebih mudah terkena penyakit ini karena pengaruh hormonal ketika
kehamilan yang menyebabkan perubahan pada fungsi ginjal dibandingkan sebelum
kehamilan.

Faktor hormonal seperti menopause. Wanita pada masa menopause lebih rentan terkena
karena selaput mukosa yang tergantung pada esterogen yang dapat berfungsi sebagai
pelindung.

Gangguan pada anatomi dan fisiologis urin. Sifat urin yang asam dapat menjadi
antibakteri alami tetapi apabila terjadi gangguan dapat menyebabkan menurunnya
pertahanan terhadap kontaminasi bakteri.

Penderita diabetes, orang yang menderita cedera korda spinalis, atau menggunakan
kateter dapat mengalami peningkatan resiko infeksi.

Sebagian besar infeksi saluran kemih tidak dihubungkan dengan faktor risiko tertentu.
Namun pada infeksi saluran kemih berulang, perlu dipikirkan kemungkinan faktor risiko
seperti:7

Kelainan fungsi atau kelainan anatomi saluran kemih.


Gangguan pengosongan kandung kemih (incomplete bladder emptying).
Konstipasi.
Operasi saluran kemih atau instrumentasi lainnya terhadap saluran kemih sehingga
terdapat kemungkinan terjadinya kontaminasi dari luar.
Kekebalan tubuh yang rendah.

Penatalaksanaan

Pengobatan dengan medikamentosa: nitrofurantoin, ampisilin, penisilin G, asam


naliksilat, dan tetrasiklin merupakan lini pertama untuk sistitis akut. Prinsip manajemen ISK
bawah meliputi intake cairan yang banyak, antibiotik yang adekuat, dan kalai perlu terapi
simptomatik untuk alkalinisasi urin:11

Hampir 80% pasien akan memberikan respon setelah 48 jam dengan antibiotik tunggal;
seperti ampisilin 3 gram, trimetroprim 200 mg

Bila infeksi menetap disertai kelainan urinalisis (lekosuria) diperlukan terapi


konvensional selama 5-10 hari

Pemeriksaan miokroskopik urin dan biakan urin tidak diperlukn bila semua gejala
hilang dan tanpa lekosuria.

Reinfeksi berulang (frequent re-infection)11


Disertai faktor predisposisi. Terapi antimikroba yang intensif diikuti koreksi faktor
risiko

Tanpa faktor predisposisi: asupan cairan banyak, cuci setelah melalukan senggama
diikuti terapi antimokroba takaran tunggal (misal trimetropin 200 mg)

Terapi antimikroba jangka lama sampai 6 bulan.


1 Sulfonamida
Sulfonamide dapat menghambat baik bakteri gram positif dan gram negatif.
Secara struktur analog dengan asam p-amino benzoat (PABA). Biasanya diberikan
per oral, dapat dikombinasi dengan Trimethoprim, metabolisme terjadi di hati dan di
ekskresi di ginjal. Sulfonamide digunakan untuk pengobatan infeksi saluran kemih
dan bisa terjadi resisten karena hasil mutasi yang menyebabkan produksi PABA
berlebihan. Efek samping yang ditimbulkan hipersensitivitas (demam, rash,
fotosensitivitas), gangguan pencernaan (nausea, vomiting, diare), Hematotoxicity
(granulositopenia), (thrombositopenia, aplastik anemia) dan lain-lain.11
2 Trimetoprim
Mencegah sintesis THFA, dan pada tahap selanjutnya dengan menghambat
enzim dihydrofolate reductase yang mencegah pembentukan tetrahydro dalam
bentuk aktif dari folic acid. Diberikan per oral atau intravena, di diabsorpsi dengan
baik dari usus dan ekskresi dalam urine, aktif melawan bakteri gram negatif kecuali
Pseudomonas sp. Biasanya untuk pengobatan utama infeksi saluran kemih.
Trimethoprim dapat diberikan tunggal 2 x 100 mg pada infeksi saluran kemih akut.
Efek samping: megaloblastik anemia, leukopenia, granulocytopenia.11
3

Trimetoprim + Sulfamethoxazole (TMP-SMX)


Jika kedua obat ini dikombinasikan, maka akan menghambat sintesis folat,
mencegah resistensi, dan bekerja secara sinergis. Sangat bagus untuk mengobati

infeksi pada saluran kemih, pernafasan, telinga, dan infeksi sinus yang disebabkan
oleh Haemophilus influenza dan Moraxella catarrhalis. Dua tablet ukuran biasa
(Trimethoprim 80 mg + Sulfamethoxazole 400 mg) yang diberikan dua kali sehari
efektif pada infeksi berulang pada saluran kemih bagian atas atau bawah.11
4

Penicillin

Ampicillin adalah penicillin standar yang memiliki aktivitas spektrum luas,


termasuk terhadap bakteri penyebab infeksi saluran urin. Dosis ampicillin 3 x
100 mg.11

Amoxsicillin terabsorbsi lebih baik, tetapi memiliki sedikit efek samping.


Amoxsicillin dikombinasikan dengan clavulanat lebih disukai untuk mengatasi
masalah resistensi bakteri. Dosis amoxsicillin 2x 500 mg selama 7 hari.11

Quinolon
Asam nalidixic, asam oxalinic, dan cinoxacin efektif digunakan untuk
mengobati infeksi tahap awal yang disebabkan oleh bakteri E. coli dan
Enterobacteriaceae lain, tetapi tidak terhadap Pseudomonas aeruginosa.
Ciprofloxacin dan ofloxacin diindikasikan untuk terapi sistemik. Dosis untuk
ciprofloxacin sebesar 2 x 50 mg. Dosis ofloxacin sebesar 2 x 200-300 mg.11

Nitrofurantoin
Antibiotika ini efektif sebagai agen terapi dan profilaksis pada pasien infeksi
saluran kemih berulang. Keuntungan utamanya adalah hilangnya resistensi
walaupun dalam terapi jangka panjang. Untuk nitrofurantoin makrokristal diberikan
50 mg sehari empat kali yang diberikan selama 7 hari sedangkan untuk
nitrofurantoin monohidrat 100mg dua kali sehari selama 7 hari.11

Komplikasi
Pengobatan ISK pada dasarnya efektif. Apabila infeksi tidak diobati atau infeksi
berulang terjadi, hal ini dapat mengakibatkan komplikasi seperti:6
Pielonefritis kronik: inflamasi kronik yang mengakibatkan pembentukan jaringan ikat
di parenkim ginjal. Sering terjadi bila terdapat refluks vesiko ureter.

Sepsis: lebih mudah terjadi pada lansia, bayi, dan individu dengan daya tahan tubuh
yang rendah.

Gagal ginjal: lanjutan dari pielonefritis kronik menyebabkan fungsi ginjal terganggu.

Komplikasi ISK juga tergantung dari tipe yaitu ISK tipe sederhana (uncomplicated) dan
tipe berkomplikasi (complicated):3

1. ISK sederhana (uncomplicated). ISK akut tipe sederhana (sistitis) yaitu non-obstruksi
dan bukan perempuan hamil merupakan penyakit ringan (selflimited disease) dan tidak
menyebabkan akibat lanjut jangka lama.3
2. ISK tipe berkomplikasi (complicated):3
ISK selama kehamilan. ISK selama kehamilan dari umur kehamilan; tabel 1.
ISK pada diabetes melitus. Penelitian epidemiologi klinik melaporkan bakteriuria
dan ISK lebih sering ditemukan pada DM dibandingkan perempuan tanpa DM.3
Tabel 1. Morbiditas ISK selama kehamilan3
Kondisi
Resiko potensial
BAS* tidak diobati Pielonefritis
Bayi prematur
Anemia
Pregnancy-induced hypertention
ISK Trimester III
Bayi mengalami retardasi mental
Pertumbuhan bayi lambat
Cerebral Palsy
Fetal Death
*BAS : Basiluria Asimtomatik
Basiluria asimtomatik (BAS) merupakan risiko utnuk pielonefritis diikuti penurunan
laju filtrasi glomerulus (LFG). Komplikasi emphysematous cystitis, pielonefritis yang terkait
spesies kandida dan infeksi gram-negatif lainnya dapat dijumpai pada DM.3
Pielonefritis emfisematosa disebabkan MO pembentuk gas seperti E.coli, Candida spp
dan Klostridium tidak jarang dijumpai pada DM. Pembentukan gas sangat intensif pada
parenkim ginjal dan jaringan nekrosis disertai hematom yang luas. Pielonefritis emfisematous
sering disertai Syok septik dan nefropati akut vasomotor (AVH).3 Abses perinefrik merupakan
komplikasi ISK pada pasien dengan DM (47%), nefrolitiasis (41%) dan obstruksi ureter
(20%).3
Pencegahan
Beberapa pencegahan ISK dapat dilakukan dengan mengubah kebiasaan sehari-hari,
seperti berikut:12
Diet dan nutrisi
Minum banyak air putih, 2 liter sehari mampu membantu mengeluarkan bakteri
dari saluran kemih. Namun pada pasien dengan gagal ginjal, konsumsi air yang banyak
tidak dibolehkan. Jumlah air yang harus diminum harus dirujuk dengan dokter, yang
bersesuaian dengan kebutuhan masing-masing.12
Miksi rutin
Pasien harus sering buang air kecil dan apabila timbulnya keinginan untuk
berkemih. Hal ini karena bakteri mampu membiak sekiranya urin berada di dalam
vesika urinaria terlalu lama. Setelah berkemih, wanita harus membersihkan dan

mengeringkan kemaluan dari arah depan ke belakang untuk menghindari bakteri masuk
ke uretra.12

Pemilihan toilet
Sebaiknya pilihlah toilet jongkok berbanding toilet duduk, karena menggunakan
toilet jongkok lebih higienis.12
Pakaian
Hindari memakai celana yang ketat, atau celana dalam dengan bahan nylon,
karena akan memudahkan bakteri untuk membiak dalam suasana lembab. Sebaiknya
pakai celana dalam dengan bahan cotton dan celana yang longgar agar lebih banyak
udara yang mampu mengeringkan area uretra.12

Prognosis
Dengan pengobatan yang benar dan tepat, ISK seringkali memberi prognosis yang baik.
Bila faktor-faktor predisposisi tidak diketahui atau sulit dikoreksi, kira-kira 40% ISK akan
berkembang menjadi kronik.6
Kesimpulan
Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan keadaan tumbuh dan berkembang biaknya
kuman dalam saluran kemih dengan jumlah bakteriuria yang bermakna. Secara anatomi, ISK
dibagi menjadi infeksi saluran kemih bagian atas dan infeksi saluran kemih bagian bawah.
ISK bagian atas mencakup semua infeksi yang menyerang ginjal, sedangkan ISK bagian
bawah mencakup semua infeksi yang menyerang kandung kemih, uretra, dan prostat.
Gejalanya antara lain, poliuria, disuria, hematuria, dan piuria. Prognosis baik apabila
diberikan antibotik yang adekuat dan menghindari faktor resiko.
Daftar Pustaka
1. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi 6.
Jakarta: EGC; 2006.h.918-23.
2. Purnomo BB. Dasar-dasar urologi. Edisi 2. Jakarta: Sagung seto; 2008.h.35-49.
3. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Edisi 5. Jakarta: Interna Publishing ; 2009.h.1009-13.
4. Papadakis MA, Mcphee SJ, Rabow MW. Current Medical Diagnosis & Treatment.
Edisi15. US America: The McGraw-Hill Companies; 2013.h.270-9;322-3.
5. Sutandar W, Nah YK. Buku panduan ketrampilan medik skill lab: pemeriksaan
urologi patologis. Jakarta: FK ukrida; 2011.h.26-8.
6. Sukandar E. Nefrologi klinik. Edisi ke-3. Bandung: Pusat Informasi Ilmiah (PII)
Bagian ilmu penyakit dalam FK UNPAD; 2006.h.26-93.

7. Purnomo BP. Dasar-dasar urologi. Edisi ke-2 Jakarta: CV Sagung Seto; 2009.h.69-85.
8. Sjabani M E. Batu saluran kemih. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, K
Simadibrata M, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi V. Jilid II. Jakarta:
FKUI; 2009.h.1025-7.
9. OCallaghan CA. At a glance sistem ginjal.Edisi 2. Jakarta: Erlangga; 2006.h.104-5.
10. Gleadle J. At a glance: anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: EGC; 2003.h.98-9.
11. Setiabudy R, Marina Y. Sulfonamid kortimoksazol dan antiseptik saluran kemih.
Dalam: Gunawan SG, Setiabudy R, Nafrialdi, Elysabeth. Farmakologi dan terapi.
Edisi 5. Jakarta: FKUI; 2011.h.599-611.
12. Urinary tract infections in adults. National institute of diabetes and digestive and
kidney diseases of national institues of health. NIH Publication 12-2097. November
2011.