Anda di halaman 1dari 206

UNIT 1

Konsep Farmakologi

ASUHAN KEPERTE

120 Menit

A. PENGANTAR
Farmakologi atau yang bisa disebut dengan ilmu khasiat obat adalah merupakan ilmu
yang mempelajari pengetahuan obat dalam seluruh aspeknya baik sifat kimiawinya, fisikanya,
kegiatan fisiologi, resorpsi dan nasibnya dalam organisme hidup.Tujuan terapi obat adalah
mencegah, menyembuhkan atau mengendalikan berbagaikeadaan penyakit. Untuk mencapai
tujuan ini, dosis obat yang cukup harus disampaikankepada jaringan target sehingga kadar
terapeutik ( tetapi tidak toksik) didapat. Tenaga klinik harus mengetahui bahwa kecepatan awitan
kerja obat, besarnya efek obat dan lamanya kerja obat dikontrol oleh empat proses dasar gerakan dan modifikasi
obat di dalam tubuh.Pertama, absorpsi obat dari tempat pemberian obat memungkinkan
masuknya obat tersebut (secara langsung atau tidak langsung ) ke dalam plasma ( input). Kedua, obat
tersebut kemudian bisa secara reversible meninggalkan aliran darah dan menyebar ke dalam
cairan intestisial dan intraselular ( distribusi ). Ketiga, obat tersebut bisa dimetabolisme oleh
hati, ginjal, atau jaringan lainnya. Akhirnya, obat dan metabolitnya dieliminasi dari tubuh
(output ) di dalam urin, empedu, atau tinja. .Dengan membaca materi berikut dan mengamati gambar,
serta mengerjakan latihan soal , diharapkan anda memahami konsep farmakologi
TUJUAN

TUJUAN PEMBELAJARAN
Adapun kompetensi yang diharapkan setelah mempelajari modul ini mahasiswa mampu
menjelaskan konsep farmakologi yang meliputi:
1.
2.
3.
4.

Mampu menjelaskan defenisi farmakologi


Mampu menjelaskan defenisi obat
Mampu menjelaskan sifat dasar obat
Mampu menjelaskan interaksi obat tubuh

B. BAHAN BACAAN
A. DEFINISI FARMAKOLOGI
Farmakologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan antara obat dengan makhluk
hidup. Farmakologi berasal dan bahasa Yunani yaitu pharmakon yang berarti senyawa bioaktif
dan logos yang berarti ilmu. Farmakologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari
tentang obat yang meliputi sejarah, sumber, srfat-sifat fisika dan kimiawi, cara meracik, efek
fisiologik dan biokimiawi, mekanisme kerja, absorpsi, biotransformasi, distribusi,
biotransformasi dan ekskresi, serta penggunaan obat untuk terapi dan untuk penggunaan
lainnya
Farmakologi sebagai salah satu disiplin ilmu kedokteran berkembang karena latar
belakang adanya kebutuhan akan ilmu atau keahlian (expertise) dalam disiplin tersebut.
Kebutuhan akan perkembangan ilmu farmakologi klinik tidak lepas dari perkembangan pesat
dalam ilmu kedokteran di tahun lima-puluhan, terutama dengan adanya zaman keemasan
penemuan obat-obat baru yang kemudian digunakan dalam praktek klinik. Karena kemajuan
dalam bidang-bidang ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu lain yang terkait, banyak jenis obat baru
yang dikembangkan dan dipakai dalam bidang kedokteran sehingga untuk ini diperlukan
evaluasi secara ilmiah pada manusia agar obat-obat yang dipakai adalah obat-obat yang
memberi manfaat maksimal dan risiko minimal terhadap pasien. Kekeliruan dalam proses
evaluasi dan pemakaian suatu obat akan menimbulkan dampak negatif yang kadang-kadang
dapat menjadi bencana pengobatan (therapeutic disaster) seperti bencana malformasi janin
karena obat talidomid di tahun lima puluhan.
Menurut WHO (1970), kebutuhan akan bidang ilmu farmakologi klinik karena tiga hal,
yaitu:
1. Jenis obat yang semakin banyak
2. Pemilihan obat yang aman dan efektif akan sangat tergantung pada pengetahuan yang
baik tentang obat yang didapatkan dari penelitian ilmiah yang benar,
3. Terjadinya bencana-bencana pengobatan.
B. DEFENISI OBAT
Obat merupakan sedian atau paduan bahan-bahan yang siap digunakan untuk
mempengaruhi atau menyelidiki sistim fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka
penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan, kesehatan dan
kontrasepsi (Kebijakan Obat Nasional, 2005). Defenisi menurut Ansel (1985), obat adalah zat

yang digunakan untuk diagnosis, mengurangi rasa sakit, serta mengobati atau mencegah
penyakit pada manusia atau hewan. Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk
produk biologi yang digunakan untukmempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau
keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan,
peningkatan kesehatan dan kontrasepsi, untuk manusia (UU No. 36 Thn 2009).
Secara umum, pengertian obat adalah semua bahan tunggal/campuran

yang

dipergunakan oleh semua makhluk untuk bagian dalam dan luar tubuh guna mencegah,
meringankan, dan menyembuhkan penyakit. Sedangkan, menurut undang-undang pengertian
obat adalah suatu bahan atau campuran bahan untuk dipergunakan dalam menentukan
diagnosis, mencegah, mengurangi, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala
penyakit, luka atau kelainan badaniah atau rohaniah pada manusia atau hewan termasuk untuk
memperelok tubuh

Pengertian

Obat

dan

Penggolongan Obat

Selain pengertian obat secara umum di atas, ada juga pengertian obat secara khusus.
Berikut ini beberapa pengertian obat secara khusus:

Obat baru: Obat baru adalah obat yang berisi zat (berkhasiat/tidak berkhasiat), seperti
pembantu, pelarut, pengisi, lapisan atau komponen lain yang belum dikenal sehingga
tidak diketahui khasiat dan kegunaannya.

Obat esensial: Obat esensial adalah obat yang paling banyak dibutuhkan untuk layanan
kesehatan masyarakat dan tercantum dalam daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang
ditetapkan oleh Menteri Kesehatan RI.

Obat generik: Obat generik adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam FI
untuk zat berkhasiat yang dikandungnya.

Obat jadi: Obat jadi adalah obat dalam keadaan murni atau campuran dalam bentuk salep,
cairan, supositoria, kapsul, pil, tablet, serbuk atau bentuk lainnya yang secara teknis
sesuai dengan FI atau buku resmi lain yang ditetapkan pemerintah.

Obat paten: Obat paten adalah obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama
pembuat yang telah diberi kuasa dan obat itu dijual dalam kemasan asli dari perusahaan
yang memproduksinya.

Obat asli: Obat asli adalah obat yang diperoleh langsung dari bahan-bahan alamiah,
diolah secara sederhana berdasarkan pengalaman dan digunakan dalam pengobatan
tradisional.

Obat tradisional: Obat tradisional adalah obat yang didapat dari bahan alam, diolah
secara sederhana berdasarkan pengalaman dan digunakan dalam pengobatan tradisional.

Interaksi Obat
Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat lain (interaksi
obat-obat) atau oleh makanan, obat tradisional dan senyawa kimia lain. Interaksi obat yang
signifikan dapat terjadi jika dua atau lebih obat digunakan bersama-sama.
Interaksi obat dan efek samping obat perlu mendapat perhatian. Sebuah studi di Amerika
menunjukkan bahwa setiap tahun hampir 100.000 orang harus masuk rumah sakit atau harus
tinggal di rumah sakit lebih lama dari pada seharusnya, bahkan hingga terjadi kasus kematian
karena interaksi dan/atau efek samping obat. Pasien yang dirawat di rumah sakit sering
mendapat terapi dengan polifarmasi (6-10 macam obat) karena sebagai subjek untuk lebih
dari satu dokter, sehingga sangat mungkin terjadi interaksi obat terutama yang dipengaruhi
tingkat keparahan penyakit atau usia.

Interaksi obat secara klinis penting bila berakibat peningkatan toksisitas dan/atau
pengurangan efektivitas obat. Jadi perlu diperhatikan terutama bila menyangkut obat dengan
batas keamanan yang sempit (indeks terapi yang rendah), misalnya glikosida jantung,
antikoagulan dan obat-obat sitostatik. Selain itu juga perlu diperhatikan obat-obat yang biasa
digunakan bersama-sama.
Kejadian interaksi obat dalam klinis sukar diperkirakan karena :
a. dokumentasinya masih sangat kurang
b. seringkali lolos dari pengamatan, karena kurangnya pengetahuan akan mekanisme dan
kemungkinan terjadi interaksi obat. Hal ini mengakibatkan interaksi obat berupa
peningkatan toksisitas dianggap sebagai reaksi idiosinkrasi terhadap salah satu obat,
sedangkan interaksi berupa penurunakn efektivitas dianggap diakibatkan bertambah
c.

parahnya penyakit pasien


kejadian atau keparahan interaksi obat dipengaruhi oleh variasi individual, di mana
populasi tertentu lebih peka misalnya pasien geriatric atau berpenyakit parah, dan bisa
juga karena perbedaan kapasitas metabolisme antar individu. Selain itu faktor penyakit
tertentu terutama gagal ginjal atau penyakit hati yang parah dan faktor-faktor lain (dosis
besar, obat ditelan bersama-sama, pemberian kronik).

Mekanisme Interaksi Obat


Interaksi diklasifikasikan berdasarkan keterlibatan dalam proses farmakokinetik maupun
farmakodinamik. Interaksi farmakokinetik ditandai dengan perubahan kadar plasma obat, area
di bawah kurva (AUC), onset aksi, waktu paro dsb. Interaksi farmakokinetik diakibatkan oleh
perubahan laju atau tingkat absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi. Interaksi
farmakodinamik biasanya dihubungkan dengan kemampuan suatu obat untuk mengubah efek
obat lain tanpa mengubah sifat-sifat farmakokinetiknya. Interaksi farmakodinamik meliputi
aditif (efek obat A =1, efek obat B = 1, efek kombinasi keduanya = 2), potensiasi (efek A = 0,
efek B = 1, efek kombinasi A+B = 2), sinergisme (efek A = 1, efek B = 1, efek kombinasi
A+B = 3) dan antagonisme (efek A = 1, efek B = 1, efek kombinasi A+B = 0). Mekanisme
yang terlibat dalam interaksi farmakodinamik adalah perubahan efek pada jaringan atau
reseptor.

Interaksi farmakokinetik
1. Absorpsi
Obat-obat yang digunakan secara oral bisaanya diserap dari saluran cerna ke dalam sistem
sirkulasi. Ada banyak kemungkinan terjadi interaksi selama obat melewati saluran cerna.

Absorpsi obat dapat terjadi melalui transport pasif maupun aktif, di mana sebagian besar obat
diabsorpsi secara pasif. Proses ini melibatkan difusi obat dari daerah dengan kadar tinggi ke
daerah dengan kadar obat yang lebih rendah. Pada transport aktif terjadi perpindahan obat
melawan gradien konsentrasi (contohnya ion-ion dan molekul yang larut air) dan proses ini
membutuhkan energi. Absorpsi obat secara transport aktif lebih cepat dari pada secara tansport
pasif. Obat dalam bentuk tak-terion larut lemak dan mudah berdifusi melewati membran sel,
sedangkan obat dalam bentuk terion tidak larut lemak dan tidak dapat berdifusi. Di bawah
kondisi fisiologi normal absorpsinya agak tertunda tetapi tingkat absorpsinya biasanya sempurna.
Bila kecepatan absorpsi berubah, interaksi obat secara signifikan akan lebih mudah terjadi,
terutama obat dengan waktu paro yang pendek atau bila dibutuhkan kadar puncak plasma yang
cepat untuk mendapatkan efek. Mekanisme interaksi akibat gangguan absorpsi antara lain :
a. Interaksi langsung
Interaksi secara fisik/kimiawi antar obat dalam lumen saluran cerna sebelum absorpsi dapat
mengganggu proses absorpsi. Interaksi ini dapat dihindarkan atau sangat dikuangi bila obat
yang berinteraksi diberikan dalam jangka waktu minimal 2 jam.
b. perubahan pH saluran cerna
Cairan saluran cerna yang alkalis, misalnya akibat adanya antasid, akan meningkatkan
kelarutan obat yang bersifat asam yang sukar larut dalam saluran cerna, misalnya aspirin.
Dengan demikian dipercepatnya disolusi aspirin oleh basa akan mempercepat absorpsinya.
Akan tetapi, suasana alkalis di saluran cerna akan mengurangi kelarutan beberapa obat yang
bersifat basa (misalnya tetrasiklin) dalam cairan saluran cerna, sehingga mengurangi
absorpsinya. Berkurangnya keasaman lambung oleh antasida akan mengurangi pengrusakan
obat yang tidak tahan asam sehingga meningkatkan bioavailabilitasnya.
Ketokonazol yang diminum per oral membutuhkan medium asam untuk melarutkan sejumlah
yang dibutuhkan sehingga tidak memungkinkan diberikan bersama antasida, obat
antikolinergik, penghambatan H2, atau inhibitor pompa proton (misalnya omeprazol). Jika
memang dibutuhkan, sebaiknya abat-obat ini diberikan sedikitnya 2 jam setelah pemberian
ketokonazol.
c. pembentukan senyawa kompleks tak larut atau khelat, dan adsorsi
Interaksi antara antibiotik golongan fluorokinolon (siprofloksasin, enoksasin, levofloksasin,
lomefloksasin, norfloksasin, ofloksasin dan sparfloksasin) dan ion-ion divalent dan trivalent
(misalnya ion Ca2+ , Mg2+ dan Al3+ dari antasida dan obat lain) dapat menyebabkan
penurunan yang signifikan dari absorpsi saluran cerna, bioavailabilitas dan efek terapetik,
karena terbentuknya senyawa kompleks. Interaksi ini juga sangat menurunkan aktivitas

antibiotik fluorokuinolon. Efek interaksi ini dapat secara signifikan dikurangi dengan
memberikan antasida beberapa jam sebelum atau setelah pemberian fluorokuinolon. Jika
antasida benar-benar dibutuhkan, penyesuaian terapi, misalnya penggantian dengan obat-pbat
antagonis reseptor H2 atau inhibitor pompa proton dapat dilakukan.
Beberapa obat antidiare (yang mengandung atapulgit) menjerap obat-obat lain, sehingga
menurunkan absorpsi. Walaupun belum ada riset ilmiah, sebaiknya interval pemakaian obat
ini dengan obat lain selama mungkin.
d. obat menjadi terikat pada sekuestran asam empedu (BAS : bile acid sequestrant)
Kolestiramin dan kolestipol dapat berikatan dengan asam empedu dan mencegah
reabsorpsinya, akibatnya dapat terjadi ikatan dengan obat-obat lain terutama yang bersifat
asam (misalnya warfarin). Sebaiknya interval pemakaian kolestiramin atau kolestipol dengan
obat lain selama mungkin (minimal 4 jam).
e. perubahan fungsi saluran cerna (percepatan atau lambatnya pengosongan lambung,
perubahan vaksularitas atau permeabilitas mukosa saluran cerna, atau kerusakan mukosa
dinding usus).
Contoh-contoh interaksi obat pada proses absorpsi dapat dilihat pada tabel berikut:
Obat yang

Obat yang mempengaruhi

Efek interaksi

dipengaruhi
Digoksin

Metoklopramida
Propantelin

Absorpsi digoksin dikurangi


Absorpsi digoksin ditingkatkan

(karena

perubahan motilitas usus)


Digoksin
Tiroksin
Warfarin

Kolestiramin

Absorpsi dikurangi karena ikatan dengan


kolestiramin

Ketokonazol Antasida
Penghambat H2

Absorpsi

ketokonazol

dikurangi

karena

disolusi yang berkurang

Penisilamin Antasida yang mengandung Al3+,Pembentukan khelat penisilamin yang kurang


Mg2+ , preparat besi, makanan

larut menyebabkan berkurangnya absorpsi


penislinamin

Penisilin

Neomisin

Kondisi malabsorpsi yang diinduksi neomisin

Antibiotik

Antasida

kuinolon

Al3+,Mg2+ , Fe2+, Zn, susu

Tetrasiklin

Antasida yang mengandung Al3+,Terbentuknya kompleks yang sukar terabsorpsi

yg

mengandungTerbentuknya kompleks yang sukar terabsorpsi

Mg2+ , Fe2+, Zn, susu

Di antara mekanisme di atas, yang paling signifikan adalah pembentukan kompleks tak larut,
pembentukan khelat atau bila obat terikat resin yang mengikat asam empedu. Ada juga beberapa
obat yang mengubah pH saluran cerna (misalnya antasida) yang mengakibatkan perubahan
bioavailabilitas obat yang signifikan.

1. Distribusi
Setelah obat diabsorpsi ke dalam sistem sirkulasi, obat di bawa ke tempat kerja di mana obat
akan bereaksi dengan berbagai jaringan tubuh dan atau reseptor. Selama berada di aliran darah,
obat dapat terikat pada berbagai komponen darah terutama protein albumin. Obat-obat larut
lemak mempunyai afinitas yang tinggi pada jaringan adiposa, sehingga obat-obat dapat
tersimpan di jaringan adiposa ini. Rendahnya aliran darah ke jaringan lemak mengakibatkan
jaringan ini menjadi depot untuk obat-obat larut lemak. Hal ini memperpanjang efek obat. Obatobat yang sangat larut lemak misalnya golongan fenotiazin, benzodiazepin dan barbiturat.
Sejumlah obat yang bersifat asam mempunyai afinitas terhadap protein darah terutama
albumin. Obat-obat yang bersifat basa mempunyai afinitas untuk berikatan dengan asam-glikoprotein. Ikatan protein plasma (PPB : plasma protein binding) dinyatakan sebagai persen
yang menunjukkan persen obat yang terikat. Obat yang terikat albumin secara farmakologi tidak
aktif, sedangkan obat yang tidak terikat, biasa disebut fraksi bebas, aktif secara farmakologi. Bila
dua atau lebih obat yang sangat terikat protein digunakan bersama-sasam, terjadi kompetisi
pengikatan pada tempat yang sama, yang mengakibatkan terjadi penggeseran salah satu obat dari
ikatan dengan protein, dan akhirnya terjadi peninggatan kadar obat bebas dalam darah. Bila satu
obat tergeser dari ikatannya dengan protein oleh obat lain, akan terjadi peningkatan kadar obat
bebas yang terdistribusi melewati berbagai jaringan. Pada pasien dengan hipoalbuminemia kadar
obat bebas atau bentuk aktif akan lebih tinggi.
Asam valproat dilaporkan menggeser fenitoin dari ikatannya dengan protein dan juga
menghambat metabolisme fenitoin. Jika pasien mengkonsumsi kedua obat ini, kadar fenitoin tak
terikat akan meningkat secara signifikan, menyebabkan efek samping yang lebih besar.
Sebaliknya, fenitoin dapat menurunkan kadar plasma asam valproat. Terapi kombinasi kedua
obat ini harus dimonitor dengan ketat serta dilakukan penyesuaian dosis.
Obat-obat yang cenderung berinteraksi pada proses distribusi adalah obat-obat yang :

persen terikat protein tinggi ( lebih dari 90%)


terikat pada jaringan
mempunyai volume distribusi yang kecil
mempunyai rasio eksresi hepatic yang rendah
mempunyai rentang terapetik yang sempit
mempunyai onset aksi yang cepat
digunakan secara intravena.
Obat-obat yang mempunyai kemampuan tinggi untuk menggeser obat lain dari ikatan dengan
protein adalah asam salisilat, fenilbutazon, sulfonamid dan anti-inflamasi nonsteroid.
2. Metabolisme
Untuk menghasilkan efek sistemik dalam tubuh, obat harus mencapai reseptor, berarti obat
harus dapat melewati membran plasma. Untuk itu obat harus larut lemak. Metabolisme dapat
mengubah senyawa aktif yang larut lemak menjadi senyawa larut air yang tidak aktif, yang
nantinya akan diekskresi terutama melalui ginjal. Obat dapat melewati dua fase metabolisme,
yaitu metabolisme fase I dan II. Pada metabolisme fase I, terjadi oksidasi, demetilasi, hidrolisa,
dsb. oleh enzim mikrosomal hati yang berada di endothelium, menghasilkan metabolit obat yang
lebih larut dalam air. Pada metabolisme fase II, obat bereaksi dengan molekul yang larut air
(misalnya asam glukuronat, sulfat, dsb) menjadi metabolit yang tidak atau kurang aktif, yang
larut dalam air. Suatu senyawa dapat melewati satu atau kedua fasemetabolisme di atas hingga
tercapai bentuk yang larut dalam air. Sebagian besar interaksi obat yang signifikan secara klinis
terjadi akibat metabolisme fase I dari pada fase II.
a. Peningkatan metabolisme
Beberapa obat bisa meningkatkan aktivitas enzim hepatik yang terlibat dalam metabolisme
obat-obat lain. Misalnya fenobarbital meningkatkan metabolisme warfarin sehingga menurunkan
aktivitas antikoagulannya. Pada kasus ini dosis warfarin harus ditingkatkan, tapi setelah
pemakaian fenobarbital dihentikan dosis warfarin harus diturunkan untuk menghindari potensi
toksisitas. Sebagai alternative dapat digunakan sedative selain barbiturate, misalnya golongan
benzodiazepine. Fenobarbital juga meningkatkan metabolisme obat-obat lain seperti hormone
steroid.
Barbiturat lain dan obat-obat seperti karbamazepin, fenitoin dan rifampisin juga
menyebabkan induksi enzim. Piridoksin mempercepat dekarboksilasi levodopa menjadi
metabolit aktifnya, dopamine, dalam jaringan perifer. Tidak seperti levodopa, dopamine tidak
dapat melintasi sawar darah otak untuk memberikan efek antiparkinson. Pemberian karbidopa

(suatu penghambat dekarboksilasi) bersama dengan levodopa, dapat mencegah gangguan


aktivitas levodopa oleh piridoksin,
b. Penghambatan metabolisme
Suatu obat dapat juga menghambat metabolisme obat lain, dengan dampak memperpanjang
atau meningkatkan aksi obat yang dipengaruhi. Sebagai contoh, alopurinol mengurangi produksi
asam urat melalui penghambatan enzim ksantin oksidase, yang memetabolisme beberapa obat
yang potensial toksis seperti merkaptopurin dan azatioprin. Penghambatan ksantin oksidase
dapat secara bermakna meningkatkan efek obat-obat ini. Sehingga jika dipakai bersama
alopurinol, dosis merkaptopurin atau azatioprin harus dikurangi hingga 1/3 atau dosis
biasanya.
Simetidin menghambat jalur metabolisme oksidatif dan dapat meningkatkan aksi obat-obat
yang dimetabolisme melalui jalur ini (contohnya karbamazepin, fenitoin, teofilin, warfarin dan
sebagian besar benzodiazepine). Simetidin tidak mempengaruhi aksi benzodiazein lorazepam,
oksazepam dan temazepam, yang mengalami konjugasi glukuronida. Ranitidin mempunyai efek
terhadap enzim oksidatif lebih rendah dari pada simetidin, sedangkan famotidin dan nizatidin
tidak mempengaruhi jalur metabolisme oksidatif.
Eritromisin dilaporkan menghambat metabolisme

hepatik

beberapa

obat

seperti

karbamazepin dan teofilin sehingga meningkatkan efeknya. Obat golongan fluorokuinolon


seperti siprofloksasin juga meningkatkan aktivitas teofilin, diduga melalui mekanisme yang
sama.
3. Ekskresi
Kecuali obat-obat anestetik inhalasi, sebagian besar obat diekskresi lewat empedu atau urin.
Darah yang memasuki ginjal sepanjang arteri renal, mula-mula dikirim ke glomeruli tubulus,
dimana molekul-molekul kecil yang cukup melewati membran glomerular (air, garam dan
beberapa obat tertentu) disaring ke tubulus. Molekul-molekul yang besar seperti protein plasma
dan sel darah ditahan. Aliran darah kemudian melewati bagian lain dari tubulus ginjal dimana
transport aktif yang dapat memindahkan obat dan metabolitnya dari darah ke filtrat tubulus. Sel
tubulus kemudian melakukan transport aktif maupun pasif (melalui difusi) untuk mereabsorpsi
obat. Interaksi bisa terjadi karena perubahan
a. Perubahan ekskresi aktif tubuli ginjal
b. perubahan pH urin
c. Perubahan aliran darah ginjal

LATIHAN
C. TES FORMATIF
1. Defenisi Farmakologi yaitu.....
Jawaban :
Ilmu yang mempelajari hubungan obat denganmakhluk hidup
2. Menurut WHO (1970), kebutuhan akan bidang ilmu farmakologi klinik karena tiga hal, yaitu:
Jawaban:

3.

a.
b.

Jenis obat yang semakin banyak


Pemilihan obat yang aman dan efektif akan sangat tergantung pada pengetahuan yang

c.

baik tentang obat yang didapatkan dari penelitian ilmiah yang benar,
Terjadinya bencana-bencana pengobatan
Pengertian obat baru adalah .....

Jawaban :
Obat baru adalah obat yang berisi zat (berkhasiat/tidak berkhasiat), seperti pembantu, pelarut,
pengisi, lapisan atau komponen lain yang belum dikenal sehingga tidak diketahui khasiat dan
kegunaannya.
4.

Pengertian Obat esensial adalah......


Jawaban:
Obat esensial adalah obat yang paling banyak dibutuhkan untuk layanan kesehatan
masyarakat dan tercantum dalam daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang ditetapkan oleh
Menteri Kesehatan RI.

5.

Pengertian Obat generik adalah ...............


Jawaban:
obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam FI untuk zat berkhasiat yang dikandungnya.

6.

Pengertian obat paten adalah:.........


Jawaban:
Obat paten adalah obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama pembuat yang telah
diberi kuasa dan obat itu dijual dalam kemasan asli dari perusahaan yang memproduksinya.

7.

Pengertian Obat asli adalah...........


Jawaban:
Obat asli adalah obat yang diperoleh langsung dari bahan-bahan alamiah, diolah secara
sederhana berdasarkan pengalaman dan digunakan dalam pengobatan tradisional.

8.

Pengertian Obat tradisional adalah ............


Jawaban :
Obat tradisional adalah obat yang didapat dari bahan alam, diolah secara sederhana
berdasarkan pengalaman dan digunakan dalam pengobatan tradisional.

9.

10.

Sebutkan Mekanisme Interaksi Obat....................


Jawaban :
Interaksi Farmakodinamik dan interaksi farmakokinetik
Interaksi bisa terjadi karena perubahan beberapa perubahan ...............
Jawaban
a. Perubahan ekskresi aktif tubuli ginjal
b. perubahan pH urin
c. Perubahan aliran darah ginjal

Umpan balik
Apabila mahasiswa dapat menjawab 7 dari 10 soal maka mahasiswa akan dengan mudah
mengerjakan soal UAS yang tekait dengan konsep dasar farmakokinetik

DAFTAR PUSTAKA

G o o d m a n , G i l m a n ( 2 0 0 8 ) , D a s a r F a r m a k o l o g i Ter a p i , v o l u m e 1 , E d i s i 1 0 ,
Jakarta: EGC
J a s , Ad m a r ( 2 0 0 4 ) , P e r i h a l O b a t d e n g a n B e r b a g a i B e n t u k S e d i a a n n y a ,
Medan: USU Press
Katzung, Bertram G (2001), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 1,
Jakarta: Salemba Medika
Katzung, Bertram G (2002), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 2, Edisi
8, Jakarta: Salemba Medika
Nanizar z.j., (1994).Ars Prescribendi Resep yang Rasional . Jilid 1,2 dan
3 , S u r a b a ya : U n i v e r s i t a s A i r l a n g g a P r e s s
Tam b a y o n g , J a n ( 2 0 0 2 ) , F a r m a k o l o g i u n t u k K e p e r a w a t a n , J a k a r t a : Wid y a
Medika

UNIT 2
Konsep Farmakologi : Farmakokinetik

ASUHA
120 Menit

A. PENGANTAR
Farmakologi atau yang bisa disebut dengan ilmu khasiat obat adalah merupakan ilmu
yang mempelajari pengetahuan obat dalam seluruh aspeknya baik sifat kimiawinya, fisikanya,
kegiatan fisiologi, resorpsi dan nasibnya dalam organisme hidup.
Tujuan terapi obat adalah mencegah, menyembuhkan atau mengendalikan berbagaikeadaan
penyakit. Untuk mencapai tujuan ini, dosis obat yang cukup harus disampaikankepada jaringan
target sehingga kadar terapeutik ( tetapi tidak toksik) didapat. Tenaga klinik harus mengetahui
bahwa kecepatan awitan kerja obat, besarnya efek obat dan lamanya kerja obat dikontrol oleh empat proses dasar
gerakan dan modifikasi obat di dalam tubuh.

Pertama, absorpsi obat dari tempat pemberian obat memungkinkan masuknya obat tersebut
(secara langsung atau tidak langsung ) ke dalam plasma ( input). Kedua, obat tersebut kemudian bisa secara
reversible meninggalkan aliran darah dan menyebar ke dalam cairan intestisial dan intraselular
( distribusi ). Ketiga, obat tersebut bisa dimetabolisme oleh hati, ginjal, atau jaringan lainnya.
Akhirnya, obat dan metabolitnya dieliminasi dari tubuh (output ) di dalam urin, empedu, atau tinja.
Dengan membaca materi berikut dan mengamati gambar, serta mengerjakan latihan soal ,
diharapkan anda memahami konsep farmakokinetik.

TUJUAN

TUJUAN PEMBELAJARAN
Adapun kompetensi yang diharapkan setelah mempelajari modul ini mahasiswa mampu
menjelaskan konsep farmakokinetik yang meliputi:
1.
2.
3.
4.

Mampu menjelaskan absorbs dan bioviabilitas


Mampu menjelaskan distribusi obatdefinisi gawat dan darurat
Mampu menjelaskan biotranformasi
Mampu menjelaskan system eksresi

B. BAHAN BACAAN
Farmakokinetik didefinisikan sebagai setiap proses yang dilakukan tubuh terhadap obat
yaitu absorpsi, distribusi, biotransformasi (metabolisme), distribusi dan ekskresi (ADME),
sehingga sering juga diartikan sebagai nasib obat dalam tubuh. Dalam arti sempit farmakokinetik
khususnya mempelajari perubahan-perubahan konsentrasi dari obat dari obat dan metabolitnya di
dalam dan jaringan berdasarkan perubahan waktu.

Tubuh kita dianggap sebagai suatu ruangan besar yang terdiri dari beberapa kompartemen
(bagian) berisi cairan, dan antar kompartemen tersebut dipisahkan oleh membran sel.
Kompartemen yang terpenting dalam tubuh adalah :

Saluran lambung-usus

Sistim peredaran darah

Ruang ekstra sel (diluar sel, antar jaringan)

Ruang intra sel (didalam sel)

Ruang cerebrospinal (sekitar otak dan sum-sum tulang belakang)


Kerja suatu obat merupakan hasil dari banyak sekali proses yang berlangsung cukup rumit.

Umumnya ini didasari suatu rangkaian reaksi yang dibagi dalam tiga fase yaitu :
1.

Fase farmasetik, adalah fase yang meliputi waktu hancurnya bentuk sediaan obat,
melarutnya bahan obat sampai pelepasan zat aktifnya kedalam cairan tubuh. Fase ini
berhubungan dengan ketersediaan farmasi dari zat aktifnya dimana obat siap diabsorbsi.

2.

Fase farmakokinetik, adalah fase yang meliputi semua proses yang dilakukan tubuh, setelah
obat dilepas dari bentuk sediaannya yang terdiri dari absorbsi, distribusi, metabolisme dan
ekskresi.

3.

Fase farmakodinamik, fase pada saat obat telah berinteraksi dengan reseptor dan siap
memberikan efek farmakologi, sampai efek farmakologi diakhiri.

Gambar. Bagan fase farmasetik, fase farmakokinetik dan fase farmakodinamik

Absorbsi, distribusi dan eksresi obat dalam tubuh pada hakikatnya berlangsung dengan
mekanisme yang sama, karena semaua proses ini tergantung dari lintasan obat melalui
serangkaian membran sel tersebut.
Membran sel terdiri dari suatu lapisan lipoprotein (lemak dan protein yang mengandung
banyak pori kecil dan berisi air. Membran ini dapat dilewati dengan mudah oleh zat-zat tertentu,
tetapi ada juga zat yang sukar melewati membran sel, sehingga disebut semi permiabel (semi =
setengah, permiabel = dapat dilewati).

Gambar. Struktur membran sel dan fungsinya

Zat-zat lipofil yang larut dalam lemak dan tidak bermuatan listrik umumnya lebih mudah
melintasi membran sel dibandingkan dengan zat-zat hidrofil yang bermuatan listrik (ion)
a. Sistem transportasi obat
Untuk dapat mentransport obat ketempat yang tepat dalam tubuh molekul zat kimia harus
dapat melintasi membrane semi permiabel berdasarkan adanya perbedaan konsentrasi, antara lain
melintasi dinding pembuluh ke ruang antar jaringan (interstitium). Pada proses ini beberapa
mekanisme transport memegang peranan yaitu:
1. Transport pasif : tidak menggunakan energi, misalnya perjalanan molekul obat melintasi
dinding pembuluh ke ruang antar jaringan (interstitium), yang dapat terjadi melalui dua cara:
Filtrasi melalui pori-pori kecil dari membran. Zat-zat yang difiltrasi adalah air dan zat-zat
hidrofil yang molekulnya lebih kecil dari pori, seperti alkohol, urea (BM < 200)
Difusi, zat melarut dalam lapisan lemak dari membran sel. Zat lipofil lebih lancar
penerusannya dibandingkan zat hidrofil.
2. Transport aktif : memerlukan energi. Pengangkutan dilakukan dengan mengikat zat hidrofil
(makro molekul) pada protein pengangkut spesifik yang umumnya berada di membran sel
(carrier). Setelah membran dilintasi obat dilepaskan kembali. Glukosa, asam amino, asam

lemak dan zat gizi lain di absorpsi dengan cara transport aktif. Berbeda dengan difusi,
cepatnya penerusan pada transport aktif tidak tergantung dari konsentrasi obat.

Gambar. Proses transportasi obat menggunakan carrier

3. Endosistosis (Pinosistosis dan fagositosis)


Pada pinositosis tetesan-tetesan cairan kecil diserap dari saluran cerna, sedangkan pada
fagositosis yang diserap adalah zat padat, membran permukaan tertutup keatas dan bahan
ekstrasel ditutup secara vesikular.

Gambar. Proses transportasi obat (a) pinositosis (b) fagositosis,

b. Absorpsi
Absorpsi suatu obat adalah pengambilan obat dari permukan tubuh termasuk juga mukosa
saluran cerna atau dari tempat-tempat tertentu pada organ dalam ke dalam aliran darah atau ke
dalam sistem pembuluh limfe. Karena obat baru dapat menghasilkan efek terapeutik bila tercapai
konsentrasi yang sesuai pada tempat kerjanya, maka absorpsi yang cukup menjadi syarat untuk
suatu efek terapeutik, kecuali untuk obat yang bekerja lokal dan antasida.

Absorbsi obat umumnya terjadi secara pasif melalui proses difusi. Kecepatan absorpsi
dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya yang terpenting adalah sifat fisikokima bahan obat,
terutama sifat stereokimia dan kelarutannya seperti :

Besar partikel

Bentuk sediaan obat

Dosis

Rute pemberian dan tempat pemberian

Waktu kontak dengan permukaan absorpsi

Besarnya luas permukaan yang mengabsorbsi

Nilai pH dalam darah yang mengabsorpsi

Integritas membran

Aliran darah organ yang mengabsorbsi

Gambar. Berbagai tempat terjadinya proses absorpsi obat

1.

Absorpsi obat melalui rute oral


Pemberian oral merupakan rute pemberian yang paling mudah dan paling sering digunakan

sehingga absorpsi dalam saluran cerna mempunyai peran yang besar. Usus halus merupakan
organ absorpsi yang terpenting, tidak hanya untuk makanan melainkan juga untuk bahan obat.
Hal ini disebabkan luasnya permukaan yang dibutuhkan untuk absorpsi serta adanya lipatan

mukosa, jonjot mukosa , kripta mukosa dan mikrovili pada usus. Bahan yang peka terhadap asam
lambung harus dilindungi terhadap asam lambung dengan zat penyalut yang tahan terhadap
asam.
2.

Absorpsi obat melalui rute bukal atau sublingual


Mukosa yang tervaskularisasi dengan baik pada rongga mulut dan tenggorokan memiliki

sifat absorpsi yang baik untuk senyawa yang tidak terionisasi (lipofil). Bahan obat pada rute ini
tidak dipengaruhi oleh asam lambung serta tidak melewati hati setelah diabsorpsi serta
menghasilkan efek terapeutik yang cepat. Karena permukaan absorpsi yang relatif kecil, rute
bukal dan sublingual sebaiknya hanya untuk bahan obat yang mudah diabsorpsi.
3.

Absorpsi obat pada pemakaian melalui rektum


Absorpsi obat pada rectum terjadi pada 2/3 bagian bawah rectum. Obat yang diabsorbsi

tidak mencapai hati karena langsung masuk ke vena cava inferior. Proses absorpsi umumnya
lebih rendah jika dibandingkan dengan pemberian oral.
4.

Absorpsi obat melalui hidung


Mukosa hidung yang memiliki sifat absorpsi yang baik seperti mukosa mulut, cocok untuk

pemakaian obat menurunkan pembengkakan mukosa secara topikal pada rhinitis.


5.

Absorbsi obat pemakaian pada mata


Jika obat harus diabsorbsi untuk masuk kedalam bagian mata, maka obat mempunyai sifat

lipofilik dan hidrofilik secara bersamaan akan mengalami absorpsi yang lebih baik, karena epitel
kornea bersifat lipofilik sedangkan bagian stroma bersifat hidrofilik. Zat-zat yang memiliki sifatsiafat lipofilik dan hidrofilik secara bersamaan adalah asam lemah dan basa lemah.
6.

Absorpsi obat melalui paru-paru


Obat yang cocok untuk pemakaian melalui paru-paru adalah yang berbentuk gas. Walaupun

paru-paru dengan luas permukaan alveolar yang besar (70-100m2 ) mampu juga mengabsorpsi
cairan dan zat padat. Aerosol berfungsi terutama untuk terapi lokal dalam daerah saluran
pernafasan misalnya pada pengobatan asma bronchial
7.

Absorpsi obat pemakaian pada kulit

Kemampuan absorpsi obat melalui kulit mungkin lebih rendah dibandingkan melalui mukosa.
Zat yang larut dalam lemak pada umumnya diabsorpsi lebih baik dibandingkan zat hidrofilik.

Sejumlah faktor dapat meningkatkan proses absorpsi melalui kulit seperti peningkatan suhu kulit,
pemakaian zat pelarut dimetilsulfoksid dan kondisi kulit yang meradang.

c. Distribusi
Setelah proses absorbsi, obat masuk ke dalam pembuluh darah untuk selanjutnya
ditransportasikan bersama aliran darah dalam sistim sirkulasi menuju tempat kerjanya. Distribusi
obat dibedakan atas 2 fase berdasarkan penyebarannya di dalam tubuh.

Distribusi fase pertama

Terjadi segera setelah penyerapan, yaitu ke organ yang perfusinya sangat baik misalnya jantung,
hati, ginjal, dan otak.

Distribusi fase kedua

Jauh lebih luas yaitu mencakup jaringan yang perfusinya tidak sebaik organ di atas misalnya
otot, visera, kulit, dan jaringan lemak. Penetrasi dari dalam darah ke jaringan pada proses
distribusi seperti pada absorbsi juga sangat bergantung kepada beberapa hal, khususnya :
1. Ukuran molekul
2. Ikatan pada protein plasma
3. Kelarutan dan sifat kimia
4. Pasokan darah dari organ dan jaringan
5. Perbedaan pH antara plasma dan jaringan
Molekul obat yang mudah melintasi membran sel akan mencapai semua cairan tubuh baik
intra maupun ekstra sel, sedangkan obat yang sulit menembus membran sel maka penyebarannya
umumnya terbatas pada cairan ekstra sel. Berdasarakan sifat fisika kimianya, berdasarkan ruang
distribusi yang dapat dicapai, dibedakan 3 jenis bahan obat :
1. Obat yang hanya terdistribusi dalam plasma
2. Obat yang terdistribusi dalam plasma dan ruang ekstrasel sisa
3. Obat yang terdistribusi dalam ruang ekstra sel dan intra sel
Beberapa obat dapat mengalami kumulatif selektif pada beberapa organ dan jaringan
tertentu, karena adanya proses transport aktif, pengikatan (affinitas ) jaringan dengan zat tertentu

atau daya larut yang lebih besar dalam lemak. Kumulasi ini digunakan sebagai gudang obat
(yaitu protein plasma, umumnya albumin, jaringan ikat dan jaringan lemak).
Salah satu kumulasi yang terkenal adalah glikosid digitalis yang dikumulasi secara selektif
di otot jantung (sebagian kecil dalam hati dan ginjal). Diketahuinya kumulasi obat pada jaringan
ini juga bermanfaat untuk menilai resiko efek samping dan efek toksisnya.
Selain itu ada beberapa tempat lain misalnya tulang, organ tertentu, dan cairan trans sel yang
dapat berfungsi sebagai gudang untuk beberapa obat tertentu. Distribusi obat ke susunan saraf
pusat dan janin harus menembus sawar khusus yaitu sawar darah otak dan sawar uri (plasenta).
Obat yang mudah larut dalam lemak pada umumnya lebih mudah menembus sawar tersebut.
d. Metabolisme (Biotransformasi)
Pada dasarnya obat merupakan zat asing bagi tubuh sehingga tubuh akan berusaha untuk
merombaknya menjadi metabolit yang tidak aktif lagi dan sekaligus bersifat lebih hidrofil agar
memudahkan proses ekskresinya oleh ginjal. Obat yang telah diserap usus ke dalam sirkulasi lalu
diangkut melalui sistem pembuluh porta ke hati. Dalam hati seluruh atau sebagian obat
mengalami perubahan kimiawi secara enzimatis. Enzim yang berperan pada proses
biotransformasi ini adalah enzim mikrosom di retikulum endoplasma sel hati.
Perubahan

kimiawi

terhadap

obat

yang

dapat

terjadi

setelah

proses

metabolisme/biotransformasi adalah :
1.

Molekul obat berubah menjadi metabolit yang lebih polar (hidrofil) sehingga mudah untuk
diekskresikan melalui urin pada ginjal.

2.

Molekul menjadi metabolit yang tidak/kurang aktif lagi (bioinaktivasi/ detoksifikasi), proses
ini disebut juga first pass efect/ FPE (efek lintas pertama). Untuk menghindari resiko FPE
maka rute pemberian secara sublingual, intrapulmonal, transkutan, injeksi dan rektal dapat
digunakan. Obat yang mengalami FPE besar, dosis oralnya harus lebih tinggi dibandingkan
dengan dosis parenteral.

3.

Molekul obat menjadi metabolit yang lebih aktif secara farmakologi (bioaktivasi)
Contohnya adalah kortison yang diubah menjadi bentuk aktif kortison, prednison menjadi
prednisolon.

1.

Molekul obat menjadi metabolit yang mempunyai aktifitas yang sama (tidak mengalami
perubahan). Contohnya adalah klorpromazin, efedrin, dan beberapa senyawa benzodiazepin.
Disamping hati yang menjadi tempat biotransformasi utama, obat dapat pula diubah di organ
lain seperti di paru-paru, ginjal, dinding usus (asetosal, salisilamid, lidokain), di dalam darah
(suksinil kholin) serta di dalam jaringan (cathecolamin).
Kecepatan proses biotransformasi/metabolisme umumnya bertambah bila konsentrasi obat

meningkat sampai konsentrasi maksimal, sebaliknya bila konsentrasi obat melewati maka
kecepatan metabolisme dapat turun. Disamping konsentrasi obat, beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi proses metabolisme adalah :
a. Fungsi hati,
Pada gangguan fungsi hati metabolisme dapat berlangsung lebih cepat atau lebih lambat,
sehingga efek obat menjadi lebih lemah atau lebih kuat dari yang diharapkan.
b. Usia
Pada bayi yang baru dilahirkan (neonatal) semua enzim hati belum terbentuk dengan sempurna
sehingga reaksi metabolismenya lebih lambat, antara lain pada obat-obatan seperti
kloramfenikol, sulfonamida, diazepam dan barbital. Untuk mencegah efek toksik pada obat-obat
ini maka dosis perlu diturunkan. Sebaliknya pada bayi juga dikenal obat-obat yang
metabolismenya lebih cepat pada bayi seperti fenitoin, fenobarbital, karbamazepin dan asam
valproat.
Dosis obat-obat ini harus dinaikkan agar tercapai kadar plasma yang diinginkan.
a. Faktor genetik
Ada orang yang tidak memiliki faktor genetik tertentu misalnya enzim untuk asetilasi INH
dan sulfadiazin. Akibatnya perombakan obat ini dapat berjalan lebih lambat.
b. Penggunaan obat lain
Adanya pemakaian obat lain secara bersamaan, dapat mempercepat metabolisme (induksi
enzim) dan menghambat metabolisme (inhibisi enzim).

e. Ekskresi
Ekskresi adalah pengeluaran obat atau metabolitnya dari tubuh terutama dilakukan oleh
ginjal melalui air seni, dan dikeluarkan dalam bentuk metabolit maupun bentuk asalnya.
Disamping itu ada pula beberapa cara lain, yaitu:
Kulit, bersama keringat, misalnya paraldehide dan bromida
Paru-paru, dengan pernafasan keluar, misalnya pada anestesi umum, anestesi gas / anestesi
terbang seperti halotan dan siklopropan.
Hati, melalui saluran empedu, misalnya fenolftalein, obat untuk infeksi saluran empedu,
penisilin, eritromisin dan rifampisin.
Air susu ibu (ASI), misalnya alkohol, obat tidur, nikotin dari rokok dan alkaloid lain. Harus
diperhatikan karena dapat menimbulkan efek farmakologi atau toksis pada bayi.
Usus, bersama tinja, misalnya sulfa dan preparat besi.

f. Konsentrasi plasma
Pada umumnya besarnya efek obat tergantung pada konsentrasinya di target site, dan ini
sekaligus juga berhubungan erat dengan konsentrasi plasma. Pada obat yang absorpsinya baik,
kadar plasma akan meningkat bila dosis juga ditingkatkan.
Plasma half- life (eliminasi)
Turunnya kadar plasma obat dan lamanya efek tergantung pada kecepatan metabolisme dan
ekskresi. Kedua faktor ini menentukan kecepatan eliminasi obat, yang dinyatakan dengan
pengertian masa-paruh (plasmat atau half-life eliminasi), yaitu rentang waktu dimana kadar
obat dalam plasma pada fase eliminasi menurun sampai setengahnya.
Setiap obat memiliki masa paruh yang berlainan dan dapat bervariasi dari 23 detik
(adrenalin) dan 2 tahun lebih (obat kontras Iod organis). Half-life obat juga berlainan pula untuk
binatang percobaan dan bahkan untuk setiap individu terkait dengan variasi individual, sehingga
data t- yang tercantum pada literatur hanya merupakan angka rata-rata.

Kecepatan eliminasi obat dan kecepatan t tergantung dari kecepatan biotransformasi dan
ekskresi. Obat dengan metabolisme cepat maka half-life juga singkat, misalnya insulin yang
diberikan secara sub kutan, t -nya dalam waktu 40 menit. Sebaliknya zat yang tidak
mengalami biotransformasi , atau obat dengan siklus enterohepatis, atau juga obat yang
diabsorpsi kembali oleh tubuli ginjal, dengan sendirinya t nya juga panjang. Obat-obat yang
terikat dengan protein plasma yang tinggi juga akan mempunyai t yang panjang dibandingkan
dengan obat yang sedikit terikat dengan protein plasma.
Fungsi organ-organ eliminasi penting sekali, karena kerusakan hati dan ginjal dapat
mempengaruhi t obat (meningkat sampai 20 kali). Cara pemberian obat juga dapat
mempengaruhi waktu t obat, misalnya t penisilin pada pemberian secara intra vena adalah
2-3 menit, sedangkan pada pemberian oral dapat mencapai 1-2 jam.
g.

Kesimpulan
Farmakokinetik memberikan gambaran bagaimana system absorpsi, distribusi, biofarmasi
dan ekspirasi obat di dalam tubuh. Setelah mempelajari unit ini, mahasiswa D III
Keperawatan diharapkan memiliki pemahaman tentang prinsip-prinsip farmakokinetik secara
menyeluruh.

LATIHAN
C. TES FORMATIF
1.

Farmakokinetik didefinisikan sebagai setiap proses yang dilakukan tubuh terhadap obat
yaitu.....
Jawaban :
1.
2.
3.
4.

2.

Absorpsi obat dapat terjadi melalui....


Jawaban :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

3.

Absorpsi
Distribusi
Biotransformasi (metabolisme)
Ekskresi

Rute oral
Rute Sublingual
Rektum
Hidung
Mata
Paru-paru
Kulit

Penetrasi dari dalam darah ke jaringan pada proses distribusi sangat bergantung kepada
beberapa hal, khususnya :
Jawaban:
1.
2.
3.
4.
5.

Ukuram molekul
Ikatan pada protein plasma
Kelarutan dan sifat kimia
Pasokan darah dari organ dan jaringan
Perbedaan pH antara plasma dan jaringan

4.

Berdasarakan sifat fisika kimianya, berdasarkan ruang distribusi yang dapat dicapai,
dibedakan 3 jenis bahan obat :
Jawaban:
1.
Obat yang hanya terdistribusi dalam plasma
2.
Obat yang terdistribusi dalam plasma dan ruang ekstrasel sisa
3.
Obat yang terdistribusi dalam ruang ekstra sel dan intra sel

5.

Perubahan
kimiawi
terhadap
obat
metabolisme/biotransformasi adalah :

yang

dapat

terjadi

setelah

proses

Jawaban:
a. Molekul obat berubah menjadi metabolit yang lebih polar (hidrofil)
b. Molekul menjadi metabolit yang tidak/kurang aktif lagi (bioinaktivasi/ detoksifikasi)
c. Molekul obat menjadi metabolit yang lebih aktif secara farmakologi (bioaktivasi)

6.

Obat-obat yang metabolismenya lebih cepat pada bayi seperti..


Jawaban :
Fenitoin, fenobarbital, karbamazepin dan asam valproat.

7.

Pada pasien dengan gangguan fungsi hati, proses metabolisme terjadi secara....:
Jawaban:
Lebih cepat atau lebih lambat, sehingga efek obat menjadi lebih lemah atau lebih kuat dari
yang diharapkan

8.

Turunnya kadar plasma obat dan lamanya efek tergantung pada..... :


Jawaban:
Kecepatan metabolisme dan ekskresi

9.

Contoh obat dengan metabolisme cepat dan half-life yang singkat adalah.... :
Jawaban:
Insulin yang diberikan secara sub kutan, t -nya dalam waktu 40 menit

10.

Distribusi obat dibedakan atas 2 fase berdasarkan penyebarannya di dalam tubuh, yaitu.
Jawaban :
Distribusi fase pertama
Terjadi segera setelah penyerapan, yaitu ke organ yang perfusinya sangat baik misalnya
jantung, hati, ginjal, dan otak.

Distribusi fase kedua


Jauh lebih luas yaitu mencakup jaringan yang perfusinya tidak sebaik organ di atas
misalnya otot, visera, kulit, dan jaringan lemak

Umpan balik
Apabila mahasiswa dapat menjawab 7 dari 10 soal maka mahasiswa akan dengan mudah
mengerjakan soal UAS yang tekait dengan konsep dasar farmakokinetik

DAFTAR PUSTAKA

G o o d m a n , G i l m a n ( 2 0 0 8 ) , D a s a r F a r m a k o l o g i Ter a p i , v o l u m e 1 , E d i s i 1 0 ,
Jakarta: EGC
J a s , Ad m a r ( 2 0 0 4 ) , P e r i h a l O b a t d e n g a n B e r b a g a i B e n t u k S e d i a a n n y a ,
Medan: USU Press
Katzung, Bertram G (2001), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 1,
Jakarta: Salemba Medika
Katzung, Bertram G (2002), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 2, Edisi
8, Jakarta: Salemba Medika
Nanizar z.j., (1994).Ars Prescribendi Resep yang Rasional . Jilid 1,2 dan
3 , S u r a b a ya : U n i v e r s i t a s A i r l a n g g a P r e s s
Tam b a y o n g , J a n ( 2 0 0 2 ) , F a r m a k o l o g i u n t u k K e p e r a w a t a n , J a k a r t a : Wid y a
Medika

UNIT 3
FARMAKODINAMIK
STROKE
120 Menit

AS U H A N K E P E R AWATAN PAS I E N

A. PENGANTAR
Farmakologi atau yang bisa disebut dengan ilmu khasiat obat adalah merupakan ilmu
yang mempelajari pengetahuan obat dalam seluruh aspeknya baik sifat kimiawinya, fisikanya,
kegiatan fisiologi, resorpsi dan nasibnya dalam organisme hidup.
Tujuan terapi obat adalah mencegah, menyembuhkan atau mengendalikan berbagaikeadaan
penyakit. Untuk mencapai tujuan ini, dosis obat yang cukup harus disampaikankepada jaringan
target sehingga kadar terapeutik ( tetapi tidak toksik) didapat. Tenaga klinik harus mengetahui
bahwa kecepatan awitan kerja obat, besarnya efek obat dan lamanya kerja obat dikontrol oleh empat proses dasar
gerakan dan modifikasi obat di dalam tubuh. Pertama, absorpsi obat dari tempat pemberian obat
memungkinkan masuknya obat tersebut (secara langsung atau tidak langsung ) ke dalam plasma ( input).
Kedua, obat tersebut kemudian bisa secara reversible meninggalkan aliran darah dan menyebar ke
dalam cairan intestisial dan intraselular ( distribusi ). Ketiga, obat tersebut bisa dimetabolisme
oleh hati, ginjal, atau jaringan lainnya. Akhirnya, obat dan metabolitnya dieliminasi dari tubuh
(output ) di dalam urin, empedu, atau tinja. Farmakodinamika membahas tentang: Studi tentang tempat
dan mekanisme kerja serta efek fisiologik dan biokimiawi obat pada organisme hidup Atau
Pengaruh obat terhadap organisme hidup.
Dengan membaca materi berikut dan mengamati gambar, serta mengerjakan latihan soal ,
diharapkan anda memahami konsep farmakodinamik.

TUJUAN

TUJUAN PEMBELAJARAN
Adapun kompetensi yang diharapkan setelah mempelajari modul ini mahasiswa mampu
menjelaskan konsep farmakodinamik yang meliputi:

1.
2.
3.
4.

Mampu menjelaskan mekanisme kerja obat


Mampu menjelaskan reseptor obat
Mampu menjelaskan transmisi sinyal biologis
Mampu menjelaskan interaksi obat reseptor

B. BAHAN BACAAN
FARMAKODINAMIK
Studi tentang tempat dan mekanisme kerja serta efek fisiologik dan biokimiawi obat pada
organisme hidup Atau Pengaruh obat terhadap organisme hidup.
Farmakodinamika membahas tentang:
1. Mekanisme Kerja Obat
Kebanyakan obat menimbulkan efek melalui interaksi dengan reseptornya pada sel organisme.
Interaksi obat dengan reseptornya ini mencetuskan perubahan biokimiawi dan fisiologi yang
merupakan respons khas untuk obat tersebut. Reseptor obat merupakan komponen
makromolekul fungisional.
Hal ini mencakup 2 konsep penting:
a
b

Obat dapat mengubah kecepatan faal tubuh


Obat tidak menimbulkan fungsi baru, tetapi hanya memodulasi fungsi yang sudah ada.

Setiap komponen makromolekul fungsional dapat berperan sebagai reseptor obat, tetapi
sekelompok reseptor obat berperan sebagai reseptor fisiologis untuk ligand endogen
(hormone, neurotransmitter). Obat yang efeknya menyerupai senyawa endogen disebut
agonis. Sebaliknya, obat yang tidak mempunyai aktivitas intrinsik sehingga sehingga
menimbulkan efek dengan menghambat kerja suatu agonis disebut antagonis. Disamping itu,
ada obat yang jika berikatan dengan reseptor fisiologik akan menimbulkan efek intrinsik yang
berlawanan dengan efek agonis, yang disebut agonis negative.
Kerja obat dapat digolongkan menjadi dua yaitu :
a. Kerja Obat Yang Diperantarai Oleh Reseptor
Efek obat umumnya timbul karena interaksi obat dengan reseptor pada sel suatu
organisme. Interaksi obat dengan reseptornya, mencetuskan perubahan biokimia dan
fisiologi yang merupakan respons biologis yang khas untuk obat tersebut. Interaksi antara
obat dengan enzim biotransformasi juga merupakan interaksi yang khas karena
mengakibatkan perubahan struktur makromolekul reseptor sehingga timbul rangsangan
perubahan fungsi fisiologis yang dapat diamati sebagai respons biologis. Reseptor obat

merupakan komponen makromolekul fungsional, yaitu tempat terikatnya obat untuk


menimbulkan respons. Sekelompok reseptor obat tertentu juga berperan sebagai reseptor
untuk ligand endogen (hormon dan neurotransmitor. Komponen yang paling penting
dalam reseptor obat adalah protein (misalnya: asetilkolinesterase, Na+ -, K+ -ATP ase
dsb). Asam nukleat juga dapat merupakan reseptor obat , contohnya untuk obat sitostatika
(pembunuh sel kanker). Hubungan Struktur dan Aktifitas Biologik: Struktur kimia suatu
obat berhubungan erat dengan aktifitasnya terhadap reseptor dan aktifitas intrinsiknya,
sehingga perubahan kecil dalam molekul obat (misal: perubahan stereoisomer) dapat
menimbulkan perubahan besar dalam sifat farmakologinya. Pengetahuan mengenai
hubungan struktur dan aktifitas bermanfaat dalam strategi pengembangan obat baru.
b.

Kerja Obat Yang Tidak Diperantarai Reseptor


Obat-obat berikut bekerja tanpa melalui reseptor. Ada 3 mekanisme:
1. Efek Nonspesifik dan Gangguan pada Membran
Berdasarkan sifat osmotic. Diuretic Osmotik (urea,monitol) meningkatkan osmolaritas filtrate
glomerulus sehingga mengurangi reabsorbsi air di tubulus ginjal sehingga dengan akibat terjadi
efek diuretic. Demikian juga katarik osmotic (MgSO 4), gliserol yang megurangi edema serebrat,
dan pengganti plasma (polivinil pirolidon = PVP) untuk menambah volume intravaskuler.
Berdasarkan sifat asam/basa. Kerja ini diperlihatkan oleh antacid dalam menetralkan asam
lambung, NH4CL dalam membasakan urin, dan asam-asam organic sebagai antiseptic saluran
kemih atau sebagai spermisid topical dalam saluran vagina. Kerusakan nonspesifik. Zat-zat
perusak nonspesifik digunakan sebagai antiseptic-desinfektan. Contohnya:
Detergen merusak integritas membrane lipoproptein
Halogen,peroksida, dan oksidator lain merusak zat organic
Denaturan merusak integritas dan kapasitas fungisional membrane sel, partikel subseluler,
dan protein. Gangguan fungsi membrane. Anestetik umum yang mudah menguap misalnya
eter, halotan, enfluran dan metoksifluran bekerja dengan melarut dalam lemak membrane
jaringan

otak sehingga eksitabilitasnya menurun. Anastetik local bekerja dengan

menyebabkan perubahan nonspesifik pada struktur membrane saraf.


2. Interaksi dengan Molekul Kecil atau Ion
Kerja ini diperlihatkan oleh kalator (cvhelating agents) misalnya:
a
b

CaNa2EDTA untuk mengikat Pb2+ bebas menjadi kelat yang inakti pada keracunan Pb
Penisilamin untuk mengikat Cu2+ bebas yang menumpuk dalam hati dan oata pasien penyakit
Wilson menjadi komplek yang larut dalam aid an dikeluarkan melalui urin

Dimerkaplor (BAL = british antilewiste) untuk mengikat logam berat (As, Sb, Hg, Au, Bi)
yang bebas maupun dalam kompleks organic menjadi kompleks yang larut dalam air dan
dikeluarkan melalui urin

3. Inkorporasi dalam Makromolekul


Obat yang merupakan analog purin atau pirimidin dapat berinkorporasi dalam asam nukleat
sehingga menggangu fungsinya. Obat yang bekerja seperti ini disebut antimetabolit, misalnya 6merkaptopurin, 5-fluorourasil, etionin, p-fluoro-fenilalainin.
2. Reseptor Obat
Resept obat atau reseptor farmakologik (selanjutnya disebut reseptor saja) ialah Komponen speifik
sel yang dapat berinteraksidengan obat dan hasil interaksi ini menimbulkan peristiwa atau rangkaian
peristiwa yang pada akhirnya menimbulkan efek atau respon.
Obat yang dapat menghasilkan efek setelah berinteraksi dengan reseptor dinamakan agonis,
sedangkan yang tidak menimbulkan efek disebut antagonis. Sifat dan Fungsi Reseptor, Dari data analisis
fisiko-kimiawi menunjukan bahwa reseptor merupakan makromolekul yang dapat berupa lipoprotein,
glikoprotein, lipid, protein atau asam nukleat Reseptor obat dalam tubuh hewan pada umumnya
merupakan reseptor fisiologik yaitu reseptor untuk senyawa-senyawa endogen seperti hormon,
neurotransmiter dan autokoid. Kebanyakan reseptor merupakan komponen fungsional membran plasma
dan hanya sebagian kecil yang berlokasi di dalam sel. Reseptor yang terletak pada permukaan sel meliputi
reseptor untuk neurotransmiter, hormon peptida (mis: insulin), sedangkan reseptor yang terdapat di dalam
sel (reseptor intraseluler) mis: reseptor untuk steroid. Reseptor berfungsi untuk menerima rangsangan
(stimulus) dengan mengikat senyawa endogen (obat) yang sesuai kemudian menyampaikan informasi
yang diterimanya itu kedalam sel dengan langsung menimbulkan efek seluler melalui perubahan
permiabilitas membran (mis: reseptor nikotinik). Disamping sebagai alat komunikasi reseptor juga dapat
berfungsi sebagai enzim dan asam nukleat. Sifat Kimia Protein merupakan reseptor obat yang paling
penting (misalnya reseptor, fisiologis, asetilkolinesterase, Na +, K+-ATPase, tubulin, dsb). Asam nukleat
juga dapat merupakan reseptor obat yang penting. Misalnya untuk sitostatik. Ikatan obat reseptor dapat
berupa ikatan ion, hydrogen, hidrofobik, van der walls, atau kovalen, tetapi umumnya, merupakan
campuran berbagai ikatan kovalen diatas. Perlu diperhatikan bahwa ikatan yang kuat sehingga lama kerja
obat seringkali, tetapi tidak selalu, panjang. Walaupun demikian, ikatan nonkovalen yang afinitasnya
tinggi juga dapat bersifat permanen. Ikatan antara obat dengan reseptor, misalnya ikatan antara substrat
dengan enzim, biasanya merupakan ikatan lemah (ikatan ion, ikatan hidrogen, ikatan hidrofobik, ikatan
van der Walls) dan jarang berupa ikatan kovalen. Hubungannya dengan efek obat dapat digambarkan
sebagai berikut:

Hubungan Sturuktur-Aktivitas. Struktur kimia suatu obat berhubungan erat dengan afinitasnya
terhadap reseptor dan aktitivas intrinsiknya. Sehingga perubahan kecil dalam molekul obat. Misalnya
perubahan stereoisomer, dapat menimbulkan perubahan besar pada sifat farmakologinya. Pengetahuan
mengenai struktur aktivitas bermanfaat dalam strategi pengembangan obat baru, sintesis obat yang rasio
terapinya lebih baik, atau sintesisi obat yang selektif terhadap jaringan tertentu.
Reseptor Fisiologik telah disebutkan bahwa reseptor obat adalah mikromolekul seluler tempat obat
terikat untuk menimbulkan efeknya. Sedangkan reseptor fisiologik adalah protein seluler yang secara
normal berfungsi sebagai reseptor bagi ligand endogen, terutama hormoin neurotransmitter, growth
factor dan autakoid. Fungsi reseptor ini meliputi peningkatan ligant yang sesuai (oleh ligand binding
domain) dan penghantar sinyal (oleh effector domain) yang dapat secara langsung menimbulkan efek
intrasel atau secara tidak langsung memulai sintesis atau penglepasan molekul intrasel lain yang dikenal
sebagai second messenger.
3. Transmisi Sinyal Biologis
Penghantar sinyal biologis ialah proses yang menyebabkan suatu substansi ekstraseluler
(Extracellular chemical messenger) menimbulkan suatu respons seluler fisiologis yang spesifik. System
hantaran ini dimulai dengan penempatan hormone atau neorotransmiter pada reseptor yang terdapat
dimembran sel atau didalam sitoplasma. Saat ini dikenal 5 jenis reseptor fisiologik. Empat dari reseptor
ini terdapat dipermukaan sel, sedangkan satu terdapat pada sitoplasma. Dari 4 reseptor dipermukaan sel,
satu reseptor meneruskan sinyal yang disampaikan ligandnya dari permukaan sel kedalam sitoplasma dan
inti sel.
Reseptor yang terdapat dipermukaan sel terdiri atas reseptor dalam bentuk enzim, kanal ion Gprotein, coupled receptor (G-PCR) Reseptor bentuk Enzim terdiri dari 2 jenis, yaitu:
a Yang menimbulkan fosforilasi protein efektor yang merupakan bagian reseptor tersebut pada
membrane sel bagian dalam, berupa tirosin kinase, tirosin fosfatase, serin kinase, atau guanili
kinase.
b Reseptor sitokin yang mempunyai ligand growth hormone, eritropoeitin, interperon dan ligand
lain yang mengatur pertumbuhan dan diferensiasi.
Reseptor yang terdapat dalam sitoplasma merupakan protein terlarut pengikat DNA (Soluble DNAbinding protein) yang mengatur transkripsi gen gen tertentu. Pendudukan reseptor oleh hormone yang
sesuai akan menimbulkan sintesis protein tertentu. Second messenger sitoplasma. Penghantar sinyal
biologis dalam sitpoplasma dilangsungkan dengan kerja second messenger antara lain berupa siklik-AMP
(cAMP), ion Ca2+, 1,4,5-inositol trifosfat (IP3), diasligliserol (DAG), dan NO.
Siklik-AMP (cAMP) ialah second messenger yang pertama kali ditemukan. Substansi ini dihasilkan
melalui stimulasi adenilat siklase sebagai respon terhadap aktivasi bermacam-macam reseptor (misalnya
reseptor adrenergic). Stimulasi adenilat siklase dilangsungkan lewat protein G 8 dan adenilat siklase juga

dapat distimulasi oleh Ca2+ (terutama pada neuron) toksin kolera, atau ion fluoride (F -). Ion Ca2+
sitoplasma merupakan second messenger lain yang berfungsi dalam aktivitas beberapa jenis enzim
(misalnya fosolipase), menggiatkan aparat kontraktil sel otot, mencetuskan penglepasan histamine, dan
sebagainya. Inositol triphosphate (IP3) dan diasilgliserol (DAG) merupakan second messenger pada
transmisi sinyal di 1 adrenoseptor, reseptor vasopressin, asetikolin, histamine, platelet-derived growth
factor, dan sebagainya. NO (nitric oxide) berperan dalam pengaturan dalam system kardiovaskuler,
imunologi dan susunan saraf. Disamping sebagai perantara dalam fungsi sel normal, NO juga berperan
dalam sejumlah proses patologis seperti syok septic, hipertensi, stroke dan penyakit neurodegenerative.
Pada system vaskuler NO berperan menstimulasi guanilil siklase untuk memproduksi cGMP yang
merupakan vasodilator. Pengaturan fungsi reseptor. Resepto tidak hanya berfungsi dalam pengaturan
fisiologi dan biokimia, tetapi juga diatur atau dipengaruhi oleh mekanisme homeostatic lain. Bila suatu
sel dirangsang oleh agonisnya secara terus menerus maka akan terjadi desensitisasi (refrakterisasi atau
down regulation) yang menyebabkan efek perangsangan selanjutnya oleh kadar obat yang sama
berkurang atau menghilang . sebaliknya bila rangsangan pada reseptor berkurang secara kronik misalnya
pada pemberian -bloker jangka panjang, seringkali terjadi hipereaktivitas karena supersensivitas
terhadap agonis.
4. Interaksi Obat Reseptor
Ikatan antara obat dengan reseptor biasanya terdiri dari berbagai ikatan lemah (ikatan ion, hydrogen,
hidrofobik, van des waals) mirip ikatan antar substrat dengan enzim, jarang terjadi ikatan kovalen.
a. Hubungan Kadar / Dosis Intensitas Efek
D + R

DR

Keterangan:
D

: Obat

:Reseptor
: k1
:K2

:Efek

Menurut teori pendudukan reseptor (receptor occupsncy), intensitas efek obat berbanding lurus dengan
fraksi receptor yang diduduki oleh obat. Oleh karena interaksi obat reseptor ini analog dengan
interaksi substrat-enzim, maka disini berlaku persamaan Michealis- Menten:

Emax [D]
E

=
KD + [D]

Keterangan :
E

= intensitas efek obat

Emax

=efek maksimal

[D]

=Kadar Obat bebas

Hubungan antara kadar atau dosis obat [D] dengan besarnya efek [E] terlihat sebagai kurva dosisintensitas efek (graded dose-effect curve =DEC) yang berbentuk hiperbola. Jika dosis dalam log, maka
hubungan antara log D dengan besarnya efek E terlihat sebagai kurva log dosis-intensitas efek ( log
DEC) yang berbentuk sigmoid
Potensi menunjukkan kisaran dosis obat yang menimbulkan efek , besarnya ditentukan oleh:
Kadar obat yang mencapai reseptor yang tergantung dari sifat-sifat farmakokinetik obat
Afinitas obat terhadap reseptornya
Efek maksimal atau efektivitasadalah respon maksimal yang dapat ditimbulkan oleh obat jika
diberikan pada dosis yang tinggi. Ini ditentukan oleh aktivitas intrinsic obat dan ditunjukkan oleh
plateau atau DEC. tetapi dalam klinik, dosis obat dapat dibatasi oleh timbulnya efek yang tidak
diinginkan. Slope atau kemiringan Log DEC merupaka veriabel yang penting karena menunjukkan
batas-batas keamanan obat. Slope obat yang curam, misalnya untuk fenobarbital, menunjukkan bahwa
dosis yang menimbulkan koma hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan dosis yang
menimbulkan sadasi/tidur.
Variasi biologic adalah variasi anatar individu dalam besarnya respons terhadap dosis obat yang sama
pada populasi yang sama. Suatu graded DEC hanya berlaku untuk satu orang pada suatu waktu, tetapi
dapat juga merupakan nilai rata-rata dari populasi.
b. Hubungan Dosis Obat Persen Responsif
Telah disebutkan bahwa untuk menimbulkan efek obat dengan intensitas tertentu pada populasi
diperlukan suatu kisaran dosis. Jika dibuat distribusi frekuensi dari individu yang responsive (dalam
%) pada kisaran dosis tersebut (dalam log dosis) maka akan diperoleh kurva distribusi normal. Jika
distribusi frekuensi tersebut dibuat kumulatif maka akan diperoleh kurva berbentuk sigmoid yang

disebut kurva log dosis-persen responsive (log dose-percent curve = log DPC). Oleh karena respons
pasien disini bersifat kuantal (all or none), maka kurva sigmoid ini diebut juga kurva log dosis-efek
kuantal (quantal log dose-effect curve = log DEC kuantal). Jadi log DPC menunjukkan variasi
individual dari dosis yang diperlukan untuk menimbulkan suatu efek tertentu misalnya log DPC untuk
suatu sedatik hipnotik dapat dilihat dimana terlihat log DPC atau log DEC kuantal sebelah kiri untuk
efek hipnotis, sedangkan sebelah kanan untuk efek kematian.
Dosis yang menimbulkan efek terapi pada 50% individu disebut dosis terapi median atau dosis efektif
median (=ED50). Dosis letal median (=LD50) ialah dosis yang menimbulkan kematian pada 50%
individu sedangkan TD50 ialah dosis toksin 50%.

Dalam studi farmakodinamik dilaboratorium, index terapi suatu obat dinyatakan dalam rasio berikut :
TD50

LD50

indeks Terapi =

Atau
ED50

ED50

Obat ideal menimbulkan efek terapi pada semua pasien tanpa menimbulkan efek toksin pada seorang
pun pasien. Oleh karena itu,
TD1
indeks Terapi = Adalah lebih tepat dan untuk
ED99
TD1
Obat Ideal :

ED99

Akan tetapi, nilai-nilai ektrem tersebut tidak dapat dintentukan dengan teliti karena letaknya dibagian
kurva yang melengkung dan bahkan hampir mendatar.

5. Antagonisme Farmakodinamik
Secara farmakodinamik dapat dibedakan 2 jenis antagonism farmakodinamik yaitu:
a. Antagonisme fisiologik, yaitu antagonisme pada system fisiologik yang sama, tetapi pada system
reseptor yang berlainan, misalnya efek hiksotamin dan autakoid lainnya yang dilepaskan tubuh
sewaktu terjadi syok anafilaktin dapat diantagonisasi dengan pemberian adrenalin.
b. Antagonisme pada reseptor, yaitu antagonism melalui system reseptor yang sama (antagonism
antara agonis dengan antagonisnya). Misalnya efek histamine yang dilepaskan dalam reaksi alergi
dapat dicegah dengan pemberian antihistamin, yang mendukung reseptor yang sama.

Antagonis pada reseptor dapat bersiat kompetitif atau non kompetitif.


a. Antagonis Komptitif, dalam hal ini antagonis mengikat reseptor ditempat ikatan agonis (receptor
site atau active side), secara revensibel sehingga dapat digeser oleh agonis kadar tinggi. Dengan
demikian hambatan efek agonis dapat dibatasi dengan meningkatkan kadar agonis sampai akhirnya
dicapai efek maksimal yang sama. Jadi, diperlukan kadar agonis yang lebih tinggi untuk
memperoleh efek yang sama. Ini berarti ainitas agonis terhadap reseptornya menurun.
b. Antagonis nonkompetitif, hambatan efek agonis oleh antagonis nonkompetitif tidak dapat dibatasi
dengan meningkatkan kadar agonis, akibanya, efek maksimal yang dicapai akan berkurang, tetapi
afinitas agonis terhadap reseptornya tidak berubah.
Antagonism nonkompetitif terjadi jika:
Antagonis mengikat reseptor secara irreversible.
Antagonis mengikat bukan pada melekulnya sendiri tapi pada komponen lain dalam system
reseptor.
Agonis persial adalah agonis yang lemah, artinya agonis yang mempunyai aktifitas intrinsic atau
efektivitas yang rendah sehingga menimbulkan efek maksimal yang lemah. Akan tetapi, obat ini kan

mengurangi efek maksimal yang ditimbulkan agonis penuh. Oleh karena itu agonis persial disebut
juga antagonis persial.
6. Kesimpulan
Farmakologi atau yang bisa disebut dengan ilmu khasiat obat adalah merupakan ilmu yang
mempelajari pengetahuan obat dalam seluruh aspeknya baik sifat kimiawinya,fisikanya,kegiatan
fisiologi,resorpsi dan nasibnya dalam organisme hidup. Sedangkan pengertian Farmakologi adalah
ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan obat-obatan. Farmakologi membahas tentang
farmakokinetik, farmakodinamik, faktor yang mempengaruhi efek obat, toksikologi dasar, cara
pemberian obat, prinsip terapi, obat yang sering digunakan, dan cara menilai keamanan obat. Hal hal
itu perlu diketahui untuk mengetahui apa saja yang menjadi bagian dari farmakologi dan bagaimana
obat-obat yang ada bereaksi di dalam tubuh manusia. Studi tentang tempat dan mekanisme kerja serta
efek fisiologik dan biokimiawi obat pada organisme hidup Atau Pengaruh obat terhadap organisme
hidup.

C. TES FORMATIF
1.

Obat yang menyerupai senyawa endogen disebut:


Jawaban :
Senyawa Agonis

2.

3.

Kerja obat digolongkan menjadi:


Jawaban :
-

Kerja diperantarai reseptor

Kerja obat yang tidak diperantarai reseptor

Komponen yang paling penting dalam reseptor obat adalah:


Jawaban:
1.
2.
3.
4.

Asetilkolinesterase
Na+
K+
ATP ase

4.

Zat-zat perusak nonspesifik digunakan sebagai antiseptic-desinfektan, sebutkan


Contohnya::
Jawaban:
Detergen merusak integritas membrane lipoproptein
Halogen,peroksida, dan oksidator lain merusak zat organic
Denaturan merusak integritas dan kapasitas fungisional membrane sel, partikel
subseluler, dan protein.

5.

Anestetik umum yang mudah menguap dan bekerja dengan melarut dalam lemak membrane
jaringan otak sehingga eksitabilitasnya menurun, contohnya adalah:
Jawaban:
1.
2.
3.
4.

6.

Eter
Halotan
Enfluran
Metoksifluran

Reseptor obat dalam tubuh hewan pada umumnya merupakan reseptor fisiologik yaitu
reseptor untuk senyawa-senyawa endogen seperti:
Jawaban:
1. Hormon
2. Neurotransmiter dan autokoid

7.

Reseptor yang terdapat dipermukaan sel terdiri atas reseptor dalam bentuk enzim, kanal ion
G-protein, coupled receptor (G-PCR) Reseptor bentuk Enzim terdiri dari 2 jenis, yaitu:
jawaban :
1. Yang menimbulkan fosforilasi protein efektor yang merupakan bagian reseptor tersebut
pada membrane sel bagian dalam, berupa tirosin kinase, tirosin fosfatase, serin kinase,
atau guanili kinase.
2. Reseptor sitokin yang mempunyai ligand growth hormone, eritropoeitin, interperon dan
ligand lain yang mengatur pertumbuhan dan diferensiasi

8.

Ikatan antara obat dengan reseptor biasanya terdiri dari berbagai ikatan lemah, yang
termasuk ikatan lemah ini adalah:
Jawaban:
1.
2.
3.
4.

9.

Ikatan ion
Hydrogen
Hidrofobik
Van des waals

Dosis yang menimbulkan kematian pada 50% individu sedangkan TD50 ialah dosis toksin
50%.

Jawaban:
Dosis letal median (=LD50)
10.

Antagonism nonkompetitif terjadi jika:


Jawaban:
1. Antagonis mengikat reseptor secara irreversible.
2. Antagonis mengikat bukan pada melekulnya sendiri tapi pada komponen lain dalam
system reseptor.

Umpan balik :
Apabila mahasiswa dapat menjawab 7 dari 10 soal maka mahasiswa akan dengan mudah
mengerjakan soal UAS yang tekait dengan konsep farmakodinamik

DAFTAR PUSTAKA

G o o d m a n , G i l m a n ( 2 0 0 8 ) , D a s a r F a r m a k o l o g i Ter a p i , v o l u m e 1 , E d i s i 1 0 ,
Jakarta: EGC
J a s , Ad m a r ( 2 0 0 4 ) , P e r i h a l O b a t d e n g a n B e r b a g a i B e n t u k S e d i a a n n y a ,
Medan: USU Press
Katzung, Bertram G (2001), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 1,
Jakarta: Salemba Medika
Katzung, Bertram G (2002), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 2, Edisi
8, Jakarta: Salemba Medika
Nanizar z.j., (1994).Ars Prescribendi Resep yang Rasional . Jilid 1,2 dan
3 , S u r a b a ya : U n i v e r s i t a s A i r l a n g g a P r e s s
Tam b a y o n g , J a n ( 2 0 0 2 ) , F a r m a k o l o g i u n t u k K e p e r a w a t a n , J a k a r t a : Wid y a
Medika

UNIT 4-I
K O N S E P FAR M A K O L O G I : P E N G G O L O N G A N O B AT I I I A S U H A N
K E P E R N PAS I E N S T R O K E
120 menit

A) PENGANTAR

Menurut pengertian umum,obat dapat didefinisikan sebagai bahan yang menyebabkan


perubahan dalam fungsi biologis melalui proses kimia. Sedangkan definisi yang lengkap, obat
adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan (1) pengobatan, peredaan, pencegahan atau
diagnosa suatu penyakit, kelainan fisik atau gejala-gejalanya pada manusia atau hewan; atau (2)
dalam pemulihan, perbaikan atau pengubahan fungsi organik pada manusia atau hewan. Obat
dapat merupakan bahan yang disintesis di dalam tubuh (misalnya : hormon, vitamin D) atau
merupakan merupakan bahan-bahan kimia yang tidak disintesis di dalam tubuh.
Penggolongan sederhana dapat diketahui dari definisi yang lengkap di atas yaitu obat untuk
manusia dan obat untuk hewan. Selain itu ada beberapa penggolongan obat yang lain, dimana

penggolongan obat itu dimaksudkan untuk peningkatan keamanan dan ketepatan penggunaan
serta pengamanan distribusi. Dengan membaca materi berikut dan mengamati gambar, serta
mengerjakan latihan soal , diharapkan mahasiswa bisa memahami penggolongan obat
TUJUAN

TUJUAN PEMBELAJARAN

Adapun kompetensi yang diharapkan setelah mempelajari modul ini mahasiswa mampu
menjelaskan konsep farmakokinetik yang meliputi:
1. Mampu menjelaskan dan membedakan obat otonom dan obat SSP
2. Mampu menjelaskan anastetik lokal

B) BAHAN BACAAN
OBAT OTONOM
Obat otonom yaitu obat-obat yang bekerja pada susunan syaraf otonom, mulai dari sel syaraf
sampai sel efektor. Obat ini berpengaruh secar spesifik dan bekerja pada dosis kecil. Efek suatu obat
otonom dapat diperkirakan jika respons berbagai organ otonom terhadap impuls syaraf otonom diketahui.
Anatomi Fisiologi Syaraf Otonom
Syaraf otonom terdiri dari syaraf preganglion, gaglion dan pascaganglion yang mempersyarafi sel
efektor. Saraf otonom berhubungan dengan syaraf somatic, sebaliknya kejadian somatic juga
mempengaruhi fumgsi organ otonom. Pada susunan syaraf pusat terdapat beberapa pusat otonom,
misalnya di medulla oblongata terdapat pengatur pernapasan dan tekanan darah. Hipotalamus dan
hipofisis yang mengatur suhu tubuh, keseimbangan air, metabolisme lemak dan karbohidrat. Pusat
susunan syaraf otonom yang lebih tinggi dari hipotalamus adalah korpus striatum dan korteks serebrum
yang dianggap sebagai coordinator antara system otonom dan somatic.

Gb. pembagian syaraf otonom


Serat eferen terbagi dalam system simpatis dan parasimpatis. Sistem simpatis disalurkan melalui
serat torakolumbal (dari torakal 1 sampai lumbal 3), dalam system ini termasuk ganglia pravertebal dan
ganglia terminal. System parasimpatis atau kraniosakral outflow disalurkan melalui syaraf otak ke III, IX,
X dan N. pelvikus yang berasal dari bagian sacral segmen 2, 3 dan 4. Secara umum dapat dikatakan
bahwa system simpatis dan parasimpatis memperlihatkan fungsi yang antagonistik yaitu bila yang satu
menghambat fungsi maka yang lain memicu fungsi tersebut. Contoh yang jelas ialah midriasis terjadi
dibawah pengaruh syaraf simpatis dan miosis dibawah pengaruh parasimpatis.
System simpatis aktif setiap saat, walaupun aktivitasnya bervariasi dari waktu
ke waktu. Dengan demikian penyesuaian tubuh terhadap lingkungan terjadi setiap
secara terus menerus. Dalam keadaan darurat, system simpatoadrenal (terdiri dari
system simpatis dan adrenal) berfungsi sebagai satu kesatuan secara serentak.
System parasimpatis fungsinya lebih terlokalisasi, tidak difus seperti system
simpatis, dengan fungsi primer reservasi dan konservasi sewaktu aktivitas
organisme minimal. System ini mempertahankan denyut jantung dan tekanan darah
pada fungsi basal, menstimulasi system pencernaan berupa peningkatan motilitas
dan

sekresi

getah

memproteksiretina

pencernaan,

terhadap

cahaya

meningkatkan
berlebihan,

absorpsi

mengosongkan

makanan,
rectum

dan

kandung kemih.
Cara Kerja Obat Otonom
Obat otonom mempengaruhi transmisi neurohormonal dengan cara menghambat atau
mengintensifkannya. Terdapat beberapa kemungkinan pengaruh obat pada transmisi system kolinergik
dan adrenergic, yaitu:
1.
Menghambat sintesis atau pelepasan transmitor
2.
Menyebabkan penglepasan transmitor.
3.
Berikatan dengan reseptor
4.
Menghambat destruksi transmitor.

Penggolongan Obat Berdasarkan Efek Utamanya


A. Golongan Kolinergik atau Parasimpatomimetik
Efek obat golongan ini menyerupai efek yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf parasimpatis.
Ada 2 macam reseptor kolinergik:
Reseptor muskarinik: merangsang otot polos dan memperlambat denyut
jantung

Reseptor nikotinik/ neuromuskular mempengaruhi otot rangka Penggolongan

Kolinergik
Ester kolin (asetil kolin, metakolin, karbakol, betanekol)
Anti kolinestrase (eserin, prostigmin, dilsopropil fluorofosfat)
Alkaloid tumbuhan (muskarin, pilokarpin, arekolin)
Obat kolinergik lain (metoklopramid, sisaprid)

Farmakodinamik Kolinergik
a. Meningkatkan TD
b. Meningkatkan denyut nadi
c. Meningkatkan kontraksi saluran kemih
d. Meningkatkan peristaltic
e. Konstriksi bronkiolus (kontra indikasi asma bronkiolus)
f. Konstriksi pupil mata (miosis)
g. Antikolinesterase: meningkatkan tonus otot
Efek Samping
5. Asma bronkial dan ulcus peptikum (kontraindikasi)
6. Iskemia jantung, fibrilasi atrium
7. Toksin; antidotum atropin dan epineprin
Indikasi
1. Ester kolin: tidak digunakan pengobatan (efek luas dan singkat), meteorismus,
(kembung), retensio urine, glaukoma, paralitic ileus, intoksikasi atropin/
alkaloid beladona, faeokromositoma.
2. Antikolinesterase: atonia otot polos (pasca bedah, toksik), miotika (setelah
pemberian atropin pd funduskopi), diagnosis dan pengobatan miastemia gravis
(defisiensi kolinergik sinap), penyakit Alzheimer (defisiensi kolinergik sentral)
3. Alkaloid Tumbuhan: untuk midriasis (pilokarpin)
4. Obat Kolinergik Lain: digunakan untuk memperlancar jalanya kontras
radiologik, mencegah dan mengurangi muntah (Metoklopramid)
Intoksikasi
1. Efek muskarinik: mata hiperemis, miosis kuat, bronkostriksi, laringospasme,
rinitis alergika, salivasi, muntah, diare, keringat berlebih
2. Efek nikotinik: otot rangka lumpuh
3. Efek kelainan sentral: ataksia, hilangnya refleks, bingung, sukar bicara,
konvulsi, koma, nafas Cheyne Stokes, lumpuh nafas.
Tabel Jenis Obat Kolinergik
Nama-nama obat
kolinergik

Dosis

Pemakaian dan pertimbangan


pemakaian

Bekerja langsung
Betanekol

D: PO: 10-50 mg, b.i.d.-q.i.d Untuk meningkatkan urin, dapat

(urecholine)
Karbakol

merangsang motilitas lambung


0,75-3%, 1 tetes

(carcholine,

Untuk

menurunkan

tekanan

intraokuler, miosis

miostat)
Pilokarpin (pilocar) 0,5-4%, 1 tetes

Untuk

menurunkan

tekanan

intraokuler, miosis
Antikolinestrase reversible
Fisostigmin

0,25-0,5%, 1 tetes, q.d-q.i.d Untuk

(eserine)

menurunkan

intraokuler,

miosis,

tekanan

masa

kerja

singkat
Neostigmin

D: PO: mula-mula 15 mg,Untuk menambah kekuatan otot

(prostigmin)

t.i.d

pada miastenia gravis, masa kerja

Dosis max: 50 mg, t.i.d

singkat

Ambenonium

D: PO: 60-120 mg, t.i.d atauUntuk menambah kekuatan otot,

(mytelase)

q.i.d

masa kerja sedang


Antikolinestrase irreversible

Demakarium

0,125-0,25%, 1 tetes, q 12-Untuk

(humorsol)

48 jam

menurunkan

intraocular

pada

tekanan
glaucoma,

miotikum, masa kerja panjang


Isofluorofat
(floropryl)

B.

Ointment 0,25%, q 8-72 jam Untuk

mengobati

glaucoma.

Kenakan pada sakus konjungtiva

Simpatomimetik atau Adrenergic


Yakni obat-obat yang merangsang system syaraf simpatis, karena obat-obat
ini menyerupai neurotransmitter (norepinafrin dan epinephrine). Obat-obat ini
bekerja pada suatu reseptor adrenergic yang terdapat pada sel-sel otot polos,
seperti pada jantung, dinding bronkiolus saluran gastrointestinal, kandung kemih

dan otot siliaris pada mata. Reseptor adrenergic meliputi alfa1, alfa2, beta1 dan
beta2
Kerja obat adrenergic dapat di bagi dalam 7 jenis:
a. Perangsang perifer terhadap otot polos pembuluh darah kulit dan mukosa, dan
terhadap kelenjar liur dan keringat.
b. Penghambatan perifer terhadap otot polos usus, bronkus, dan pembuluh darah
otot rangka.
c. Perangsangan jantung, dengan akibat peningkatan denyut jantung dan
kekuatan kontraksi.
d. Perangsangan SSP,

misalnya

perangsangan

pernapasan,

peningkatan

kewaspadaan, aktivitas psikomotor dan pengurangan nafsu makan.


e. Efek metabolic, misalnya peningkatan glikogenesis di hati dan otot, lipolisis dn
pelepasan asam lemak bebas dari jaringan lemak.
f. Efek endokrin, misalnya mempengaruhi efek insulin, rennin dan hormone
hipofisis.
g. Efek prasinaptik, dengan akibat hambatan atau peningkatan penglepasan
neurotransmitter NE dan Ach.
Penggolongan Adrenergik
a. Katekolamin (Endogen: epineprin, norepineprin dan dopamine; Sintetik:
isoprotenol hidroklorida dan dobutamine)
b. Non katekolamin (fenileprin, meteprotenol dan albuterol)
Farmakodinamik Adrenergic
a. Bersifat inotropik
b. Bronkodilator
c. Hipertensi
d. Tremor dan gelisah

2. Tabel Jenis Obat Adrenergik


Adrenergic

Resptor

Epinefrin (adrenalin)

Alfa1,
beta2

Dosis
beta1,Berbeda-beda
D: IV, IM, SK: 0,2-1 ml
dari 1:1000

efadrin

Alfa1,
beta2

Pemakaian dalam klinik


Syok

nonhipovalemik,

jantung,

anafilaksis

D: SK

akut,

asma akut.

beta1,D: PO: 25-50 mg, t.i.dKeadaan


atau q.i.d

henti

bronkospasme,

hipotensi,
kongesti

hidung, hipotensi ortoristik.

Norepinefrin

Alfa1, beta1

(lavarterenol,

D: IV: 4 mg, dekstroseSyok,

merupakan

5% dalam 250-500 ml vasokontriktor

levophed)

kuat,

meningkatkan tekanan darah


dan curah jantung

Dopamine (intropin)

Beta1

D: IV: mula-mula 1-5Hipotensi (tidak menurunkan


g/kg/menit,

naikkanfungsi ginjal dalam dosis <5

secara bertahap; 50g/kg/menit)


g/kg/menit
Fenilefrin

(neo- Alfa1

Larutan 0,123-1%

Kongesti

synephrine)

(dekongestan)

Pseudoefedrin

Alfa1, beta1

(Sudafed, Actifed)
Fenilpropanolamin
(Dimetapp,

hidung

Obat

bebasDekongestan

(beberapa)
Alfa1, beta1

contac,

Obat

bebasDekongestan

(beberapa)

triaminicol,
dexatrim)
Dobutamin

Beta1

(dobutrek)

D: IV: mula-mula 2,5-Obesitas


10

g/kg,

dapat

dinaikkan
bertahap;

secara

40

g/kg/menit
Isoprotenol (isoprel)

Beta1, beta2

Inhal: 1-2 semprotan,Dekompensasi jantung, payah


IV: 5-20 /menit

jantung

kongestif

(meningkatkan

aliran

darah

miokardium

dan

curah

jantung)
Metaprotenol

Beta1

Inhal: 2-3 semprotanBronkospasme, blok jantung

(alupent, metaprel)

(beberapa),

12 semprotan/hari

beta2

D: PO: 10-20 mg, t.i.d


atau q.i.d

Albuterol (proventil)

Beta2

akut

(hanya

bradikardi

dipakai

yang

terhadap atropine)

Inhal: 1-2 semprotan,Bronkospasme

pada

refrakter

q 4-6 h D: PO: 2-4 mg,


t.i.d atau q.i.d
Ritodrin (yutopar)

Beta1

D: PO: 10-20 mg, q 4-Relaksasi usus

(beberapa),

6 h, 120 mg/hari

beta2

IV: 50-300 /menit

C. Parasimpatolitik atau Antikolinergik


Obat-obat yang menghambat kerja

asetilkolin

dengan

menempati

reseptor-reseptor

asetilkolindisebut dengan antikolinergik atau parasimpatolitik. Obat ini mempengaruhi organ jantung,
saluran pernapasan, saluran gastrointestinal, kandung kemih, mata dan kelenjar eksokrin dengan
menghambat saraf parasimpatis, sehingga system saraf simpatis (adrenergic) menjadi dominan.
Penggolongan Obat Antikolinergik
a. Antikolinergik klasik (alkaloid belladonna, atropine sulfat dan skopolamin)
b. Antikolinergik sintetik (Propantelin)
c. Antikolinergik-antiparkisonisme (triheksifenidil hidroklorida, prosiklidin, biperiden dan benztropin)
Farmakodinamik Antikolinergik
a. Menghambat efek muskarinik
b. Penurunan salivasi dan sekresi lambung (konstipasi)
c. Mengurangi kontraksi tonus kandung kemih
d. Dapat bekerja sebagai antidot terhadap toksin
e. Sebagai obat antispasmodik
f. Meningkatkan TD
g. Mengurangi rigriditas dan tremor berhubungan dengan ekstensi neuromuscular
Efek Samping
a. Mulut kering
b. Gangguan penglihatan (terutama penglihatan kabur akibat midriasis)
c. Konstipasi sekunder
d. Retensi urine
e. Takikardia (akibat dosis tinggi)
Obat-obat Antikolinergik
Nama obat
Atropine

Dosis
D: IM: 0,4 mg
IV: 0,5-2 mg

Pemakaian dan pertimbangan


Pembedahan
salvias

dan

Meningkatkan

untuk

mengurangi

sekresi
denyut

dengan dosis 0,5 mg

bronchial.
jantung

Propantelin (bentyl) D: PO: 7,5-15 mg, t.i.dSebagai antispasmodic untuk tukak


atau q.i.d

peptic

dan irritable

bowel

syndrome
Skopolamin

D: PO: 0,5-1 mg, t.i.dObat

(hyoscine)

atau q.i.d;

preanestesi, irritable

bowel

syndrome dan mabuk perjalanan.

IM: 0,3-0,6 mg
Isopropamid

D: PO: 5 mg, b.i.d

Tukak peptic dan irritable bowel

(darbid)

syndrome

Hematropin (isopto Larutan 2-5%, 1-2 tetes Midriasis dan siklopegia (paralisis
hematropin)

otot siliaris sehingga akomodasi


hilang) untuk pemeriksaan mata

Siklopentolat

Larutan

0,5-2%,

1-2Midriasis

(cyclogyl)

tetes

Benztropin

D; PO: 0.5-6 mg/hariPenyakit

(cogentin)

dalam dosis terbagi

dan

siklopegia

untuk

pemeriksaan mata
parkison.

Untuk

mengobati efek samping fenotiazin


dan agen antipsikotik lainnya

Biperiden

D: PO: 2 mg, b.i.d -Penyakit

(akineton)

q.i.d

parkison.

Untuk

mengobati efek samping fenotiazin


dan agen antipsikotik lainnya

Trihesifinidil

D: PO: 1 mg/hari, dapatPenyakit

(artane)

dinaikkan sampai 5-15mengobati efek samping fenotiazin


mg/hari

dalam

parkison.

Untuk

dosisdan agen antipsikotik lainnya

terbagi

D.

Simpatolitik atau Antiadrenergik


Obat-obat antiadrenergik umumnya mengahambat efek neurotransmitter adrenergic dengan

menempati reseptor alfa dan beta baik secara langsung maupun tidak langsung. Berdasar tempat kerjanya,
golongan obat ini dibagi atas antagonis adrenoreseptor (adrenoreseptor bloker) dan penghambat saraf
adrenergic.
Antagonis reseptor atau adrenoreseptor blocker ialahh obat yang menduduki adrenoreseptor sehingga
menghalanginya untuk berinteraksi dengan obat adrenergic, dengan demikian menghalangi kerja obat

adrenergic pada sel efektornya. Untuk masing-masing adrenoreseptor dan memiliki penghambat yang
efektif yakni -blocker dan -blocker.
Penghambat saraf adrenergic adalah obat yang mengurangi respon sel efektor terhadap perangsangan
saraf adrenergic, tetapi tidak terhadap obat adrenergic eksogen.
1. - Blocker
Penggolongan dan Indikasi Obat - Blocker
a. Blocker Nonselektif:
Derivat haloalkilamin (dibenamin dan fenoksibenzamin) : untuk pengobatan feokromositoma,

pengobatan simtomatik hipertofi prostat benigna dan untuk persiapan operasi,


Derivat imidazolin (fentolamin dan telazolin) : mengatasi hipertensi, pseudo-obstruksi usus dan

impotensi.
Alkaloid ergot (ergonovin, ergotamine dan ergotoksin) : meningkatkan tekanan darah, untuk
stimulasi kontraksi uterus setelah partus, mengurangi nyeri migren dan untuk pengobatan demensia
senelis.

b.

1 Blocker Selektif:
Derivat kuinazolin (prazosin, terazosin, doksazosin, trimazosin danbunazosin) : untuk pengobatan
hipertensi, gagal jantung kongesif, penyakit vaskuler perifer, penyakit raynaud dan hipertofi prostat

benigna (BPH)
c. 2 Blocker Selektif : (Yohimbin) untuk pengobatan impotensi, meningkatkan TD
Farmakodinamik
a. Menimbulkan vasodilatasi dan venodilatasi
b. Menghambat reseptor serotonin
c. Merangsang sekresi asam lambung, saliva, air mata dan keringat
d. Kontriksi pupil
Efek Samping
a. Hipotensi postural
b. Iskemia miokard dan infark miokard
c. Takikardi dan aritmia
d. Hambatan ejakulasi dan espermia yang reversible
e. Kongesti nasal
f. Pusing, sakit kepala, ngantuk, palpasi edema perifer dan nausea.
g. Tekanan darah menurun
2.
- Blocker
Jenisnya adalah propanolol yang menjadi prototype golongan obat ini. Sehingga sampai sekarang semua
-blocker baru selalu dibandingkan dengan propanolol.
Farmakodinamik
a. Mengurangi denyut jantung dan kontraktilitas miokard
b. Menurunkan TD dan resistensi perifer
c. Sebagai antiaritmia
d. Bronkokontriksi
e. Mengurangi efek glikemia

f.
g.

Peningkatan asam lemak dalam darah


Menghambat tremor dan sekresi renin

Efek Samping
a. Gagal jantung dan Bradiaritmia
b. Bronkospasme
c. Gangguan sirkulasi perifer
d. Gejala putus obat (serangan angina, infark miokard, aritmia ventrikuler bahkan
kematian)
e. Hipoglikemia dan hipotensi
f. Efek sentral (rasa lelah, gangguan tidur dan depresi)
g. Gangguan saluran cerna (nausea, muntah, diare atau konstipasi)
h. Gangguan fungsi libido ( penurunan libido dan impotensi)
i. Alopesia, retensi urine, miopati dan atropati
Indikasi
Pada umumnya obat-obat antiadrenergik di gunakan untuk pengobatan Angina pectoris, Aritmia,
Hipertensi, Infark miokard, Kardiomiopati obstruktif hipertrofik, Feokromositoma, Tirotoksokosis,
Glaucoma, tremor esensial dan Ansietas
Kontraindikasi
a. Hati-hati penggunaan -blocker pada penderita dengan pembesaran jantung dan gagal jantung
b. Hati-hati penggunaan pada penderita asma, syok kardiogenik, penyakit hati dan ginjal.
c. Tidak boleh digunakan pada penyakit vascular perifer dan penyakit paru obstruktif menahun
(PPOM)
3. Penghambat Saraf Adrenergik
Penghambat saraf adrenergic mengambat aktivitas saraf adrenergic berdasarkan gangguan sintesis atau
penyimpanan dan penglepasan neurotransmitor di ujung saraf adrenergic.
Penggolongan dan Indikasi Obat Penghambat Saraf Adrenergik
a. Guanetidin dan Guanadrel (ismelin dan hylorel) : sebagai antihipertensi
b. Reserpin : sebagai antihipertensi (lebih efektif bila dikombinasikan dengan obat diuretic)
c. Metirosin : menghambat enzim tirosin hidroksilase, sebagai adjuvant dari fenoksibenzamin pada
pengobatan feokrositoma maligna.
Farmakodinamik
Menyebabkan respon trifasik terhadap TD
Menyebabkan vasodilatasi, venodilatasi dan penurunan curah jantung.
Retensi air dan garam
Meningkatkan motilitas saluran cerna
Efek Samping
Hipotensi ortostatik dan hipotensi postural
Diare
Hambatan ejakulasi
Retensi urine
Sedasi, ansietas dan tidak mampu berkonsentrasi
Depresi psikotik atau gangguan psikis lainnya
Hidung tersumbat

Odema
Kontraindikasi
Tidak boleh diberikan pada penderita dengan riwayat depresi.
Tidak boleh dikonsumsi bersamaan dengan alcohol.

ANESTESI LOKAL
Pengertian Anestesi Lokal
Pengertian Anestesi Lokal Anestesi Lokal : obat yang mampu menghambat konduksi saraf
(terutama nyeri) secara reversibel pada bagian tubuh yang spesifik. Anestetika lokal yang ideal : -

tidak

iritatif/merusak jaringan secara permanen


batas kemanan lebar
onset cepat
durasi cukup lama
larut air - stabil dalam larutan
dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan.

Anestetika lokal terdiri dari 3 bagian, gugus amin hidrofilik yang dihubungkan dengan
gugus aromatik hidrofobik oleh gugus antara. Gugus antara dan gugus aromatik dihubungkan
oleh ikatan amida atau ikatan ester. Berdasarkan ikatan ini, anestetika lokal digolongkan
menjadi : - senyawa ester (prokain, tetrakain, benzokain, kokain)
- senyawa amida (lidokain, dibukain, mepivakain, prilokain)
MEKANISME KERJA
Bekerja langsung pada sel saraf & menghambat kemampuan sel saraf mentransmisikan impuls
melalui aksonnya. Target anestetika lokal adalah saluran Na+ yang ada pada semua neuron. Saluran Na+
bertanggung jawab menimbulkan potensial aksi sepanjang akson dan membawa pesan dari badan sel ke
terminal saraf . Anestetika lokal berikatan secara selektif pada sal. Na+, sehingga mencegah terbukanya
sal.

Farmakokinetik
Struktur obat anestetika lokal mempunyai efek langsung pada efek terapeutiknya. Semuanya
mempunyai gugus hidrofobik (gugus aromatik) yang berhubungan melalui rantai alkil ke gugus yang
relatif hidrofilik (amina tertier). Kecepatan onset anestetika lokal ditentukan oleh:
1. kadar obat dan potensinya
2. jumlah pengikatan obat oleh protein dan pengikatan obat ke jaringan lokal
3. kecepatan metabolisme - perfusi jaringan tempat penyuntikan obat.
Pemberian vasokonstriktor (epinefrin) + anestetika lokal dapat menurunkan aliran darah lokal dan
mengurangi absorpsi sistemik. Vasokonstriktor tidak boleh digunakan pada daerah dengan sirkulasi
kolateral yang sedikit dan pada jari tangan atau kaki dan penis. Golongan ester (prokain, tetrakain)

dihidrolisis cepat menjadi produk yang tidak aktif oleh kolinesterase plasma dan esterase hati. Bupivakain
terikat secara ekstensif pada protein plasma.

Farmakodinamik
Onset, intensitas, dan durasi blokade saraf ditentukan oleh ukuran dan lokasi anatomis saraf. Saluran
Na+ penting pada sel otot yang bisa dieksitasi seperti jantung. Efeknya terhadap saluran Na+ jantung
adalah dasar terapi anestetika lokal dalam terapi aritmia tertentu (biasanya yang dipakai lidokain).
Anestetika lokal umumnya kurang efektif pada jaringan yang terinfeksi dibanding jaringan normal,
karena biasanya infeksi mengakibatkan asidosis metabolik lokal, dan menurunkan pH.

Efek Samping
Efek samping sistem saraf pusat : depresi, stimulasi, atau keduanya, tergantung jalur saraf
yang dipengaruhi anestetika lokal. Overdosis anestetika lokal dapat menyebabkan :
- penurunan transmisi impuls pada neuromuscular junction dan sinaps ganglion
- mengakibatkan kelemahan dan paralisis otot.
Cara Pemberian
Anestetika lokal dapat diberikan dengan cara : Anestesi permukaan Anestesi infiltrasi
Anestesi blok Anestesi spinal Anestesi epidural Anestesi kaudal

C) TES FORMATIF
1.

Sebukan Pengertian Anestesi Lokal


Jawaban :
Anestesi Lokal : obat yang mampu menghambat konduksi saraf (terutama nyeri) secara reversibel
pada bagian tubuh yang spesifik

2.

Bagaimanakah Anestetika lokal yang ideal :


Jawaban
tidak iritatif/merusak jaringan secara permanen
batas kemanan lebar
onset cepat
durasi cukup lama
larut air - stabil dalam larutan
dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan.

3.

Bagaimanakah mekanisme kerjaanastesi lokal.....


Jawaban:

Bekerja langsung pada sel saraf & menghambat kemampuan sel saraf mentransmisikan impuls
melalui aksonnya. Target anestetika lokal adalah saluran Na+ yang ada pada semua neuron
4.

Apakah yang menentukan kecepatan onset anestetika lokal


Jawaban:
Kecepatananastesi lokal ditentukan oleh:
1. kadar obat dan potensinya
2. jumlah pengikatan obat oleh protein dan pengikatan obat ke jaringan lokal
3. kecepatan metabolisme - perfusi jaringan tempat penyuntikan obat.

5.

Overdosis anestetika lokal dapat menyebabkan :


Jawaban:
- penurunan transmisi impuls pada neuromuscular junction dan sinaps ganglion
- mengakibatkan kelemahan dan paralisis otot.

6.

Cara Pemberian anestetika lokal dapat diberikan dengan cara :


Jawaban:
Anestesi permukaan
Anestesi infiltrasi
Anestesi blok Anestesi spinal Anestesi epidural Anestesi kaudal

Umpan balik :
Apabila mahasiswa dapat menjawab 4 dari 6 soal maka mahasiswa akan dengan mudah
mengerjakan soal UAS yang tekait dengan konsep dasar keperawatan gawat darurat

DAFTAR PUSTAKA

Arien et. Al,1986, Pengantar Toksikologi Umum, diterjemahkan oleh Watimena dkk,
Gama Press,
Brunner dan Suddarth. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8. Penerbit
Buku Kedokteran 2001

Gerhard, V.H. (2002). Drug Discovery and Evaluation. ed.II. Springer-Verlag


Berlin Heidelberg New York. Hal: 878
Gilman, Goodman. (2007). Dasar Farmakologi Terap. Vol.1. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Hal:126-127
Craig, C.R., (Editor), 1990, Modern Pharmacology, 4th. Ed., Liyye Brown Co., New
York
Dipama, J.R., (Editor), 1994, Basic Pharmacology in Medicine, 4th. Ed., Medicinal
Surv.Inc., Philadelphia.
Katzung, B.B., 2004, Basic and Clinical Pharmacology, 9th. Ed., McGraw-Hill.Inc.,
London
Klaassen, C. D, 2002, Cassaret and Douls Toxicology, Mc-Graw Hill, New York
Laurence, L.B., (Editor), 2005, Goodman and Gilmans The Pharmacological Basis of
Theurapeutics, 11th. Ed., McGraw Hill, New York.
Niesink, R.J.M., de Vries, J., and Hollinger , M.A., Toxicology, Principles and
Applications, CRC Press. Inc., New York.
Sulistia, Gan Gunawan. Farmakologi dan Terapi. Ed.5. 2009. Jakarta: FKUI

UNIT 4- II
P E N G G O L O N G A N O B AT I I AS U H A N K E P E R AWATAN PAS I E N
STROKE
120 Menit

A. PENGANTAR

Menurut pengertian umum,obat dapat didefinisikan sebagai bahan yang menyebabkan perubahan
dalam fungsi biologis melalui proses kimia. Sedangkan definisi yang lengkap, obat adalah bahan atau
campuran bahan yang digunakan (1) pengobatan, peredaan, pencegahan atau diagnosa suatu penyakit,
kelainan fisik atau gejala-gejalanya pada manusia atau hewan; atau (2) dalam pemulihan, perbaikan atau
pengubahan fungsi organik pada manusia atau hewan. Obat dapat merupakan bahan yang disintesis di
dalam tubuh (misalnya : hormon, vitamin D) atau merupakan merupakan bahan-bahan kimia yang tidak
disintesis di dalam tubuh.
Penggolongan sederhana dapat diketahui dari definisi yang lengkap di atas yaitu obat untuk
manusia dan obat untuk hewan. Selain itu ada beberapa penggolongan obat yang lain, dimana
penggolongan obat itu dimaksudkan untuk peningkatan keamanan dan ketepatan penggunaan serta
pengamanan distribusi. Dengan membaca materi berikut dan mengamati gambar, serta mengerjakan
latihan soal , diharapkan mahasiswa bisa memahami penggolongan obat
TUJUAN
TUJUAN PEMBELAJARAN

Adapun kompetensi yang diharapkan setelah mempelajari modul ini mahasiswa mampu
menjelaskan penggolongan obat II yang meliputi:
1.
2.
3.

Mampu menjelaskan dan membedakan obat autokoid dan antagonis


Mampu menjelaskan obat kardiovaskuler
Mampu menjelaskan obat yang mempengaruhi air dan elektrolit

B.

BAHAN BACAAN

A U T O K O I D D A N AN TAG O N I S
Autakoid

substansi (kimia) selain transmitor yang secara normal ada di dalam tubuh dan punya
peran atau fungsi fisiologik penting baik dalam keadaan normal/sehat maupun
patologik/sakit (William & Lemke, 2002).
Histamin
Histamin dan serotonin (5-hydroxytryptamine) : amin biologik yang terdapat dalam berbagai
macam jaringan yang penting dalam fungsi fisiologik.
Efek histamin timbul melalui aktivasi reseptor histaminergik H1, H2 dan H3.
Reseptor-H1 : sel otot polos, endotel dan otak.
Reseptor-H2 : mukosa lambung (pada sel parietal),otot jantung, sel mast, dan otak.
Reseptor-H3 : presinaptik (di otak, pleksus mienterikus dan saraf lainnya).
Efek pada sistem kardiovaskuler
Histamin eksogen menyebabkan penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik melalui
vasodilatasi dan diikuti dengan mekanisme homeostasis berupa peningkatan denyut
jantung.
Efek pada saluran cerna
Pada dosis besar histamin eksogen dapat memacu sekresi asam lambung melalui aktivasi
reseptor-H2.
Efek pada bronkus dan otot polos organ lain
Histamin menyebabkan timbulnya bronkokontriksi. Efek lain histamin: kontstriksi otot
polos mata, sal. Kemih, organ genital. Efek pada reseptor H1 dan pada ujung saraf
komponen penting dalam patofisiologi urtikaria Pada jaringan sekretorik, memacu sekresi
asam lambung, pepsin & faktor intrinsik melalui aktivasi reseptor H2 peningkatan
cAMP intraseluler.

Antihistaminika
Obat yang mempunyai efek melawan efek histamin dengan cara memblok reseptor H1.
Efek histamin endogen dapat dihambat melalui 3 cara:
1. Penghambatan secara fisiologis, misal oleh adrenalin
2. Penghambatan pelepasan/degranulasi histamin yg timbul. Hambatan pelepasan histamin
pada proses degranulasi histamin dapat terjadi pada pemberian kromolin & stimulan
adrenoseptor 2

3.

Blokade reseptor histamin H1 dengan obat antihistamin. Blokade reseptor histamin H1

secara kompetitif dapat menghambat efek histamin.


1) Antagonis reseptor H1
Umumnya disebut obat antihistamin / antihistaminika ialah antagonis H1 yg beraksi melalui
blokade reseptor histamin H1, sedangkan efeknya pada reseptor-H2 dan H3 dapat diabaikan.
Obat : loratadin, terfenadin dan astemizol, efek mengantuk sangat lemah.
Efek obat antihistamin dapat bermanifestasi :
Sedasi
Efek antimual & antimuntah.
Doksilamin, mempunyai efek mencegah mabuk gerak (motion sickness) tetapi tidak
menghilangkan mabuk yang sudah ada
Efek antiparkinsonisme dan antimuskarinik
Obat antihistamin golongan etanolamin dan etilendiamin yang punya efek antimuskarinik,
sering menimbulkan retensio urine & penglihatan kabur, dapat untuk mengurangi
rhinorrhoea.
Efek blokade adrenoseptor-, antiserotonin dan anestetik lokal.
Obat antihistamin mempunyai efek -blockade yg mengakibatkan tekanan darah turun.
Antagonis reseptor-H1 (misal: siproheptadin) mempunyai efek blokade reseptor serotonin.
Difenhidramin & prometazin mempunyai efek anestetik lokal melalui blokade sodium
channel pada membran sel eksitabel. Antagonis reseptor H1 sering digunakan dalam terapi
alergi seperti rhinitis dan urtikaria Antagonis H1 (misal difenhidramin & prometazin) juga
dapat mengurangi gejala mabuk & gangguan vestibuler. Antagonis reseptor H1 juga untuk
menghilangkan atau meminimalkan efek sedasi, maka dikembangkan antihistamin generasi
kedua, yaitu senyawa yang mempunyai kelarutan pada lipid yang rendah pada pH fisiologi,
dan bekerja pada reseptor H1 perifer. Contoh antara lain : terfanadin, feksofenadin,
astemizol, sefarantin, loratadin, setirizin, akrivastin, taksifilin dan sodium kromolin.
2) Antagonis reseptor H2
Antagonis reseptor-H2 dapat mengakibatkan timbulnya blood dyscrasia sebagai
granulositopenia. Turunan ketiga dari imidazol, misalnya simetidin, tidak punya gugus
tiourea, sehingga relatif tidak menimbulkan granulositopenia. Senyawa lain (ranitidin,
oksmetidin, famotidin dan nizatidin) merupakan antagonis reseptor H2 baru yang lebih aman
Antagonis reseptor-H2 dalam klinik digunakan pada terapi ulkus peptik, sindroma ZollingerEllison dan keadaan hiperasiditas.
Antagonis H2 menjadi alternatif yang penting dalam terapi tukak peptik
Penyebab umum tukak peptic adalah enzim proteolitik, yaitu pepsin.
Sehingga untuk mengobati dan mencegah tukak peptik adalah dengan penghambatan

pepsin.
Mekanisme penghambatan aktivitas pepsin :
1. Kompleksasi kimia
2. Penghambatan pH
3. Antasida
4. Anti sekresi
Obat-obat yang beraksi sebagai antagonis H2
1. Metiamida
2. Simetidin
Merupakan antagonis kompetitif histamin pada reseptor H-2 dari sel parietal, sehingga
efektif menghambat sekresi asam lambung yang disebabkan oleh rangsangan,
makanan ,asetil kolin kaffein dan insulin.
Simetidin digunakan untuk pengobatan tukak lambung atau usus dan keadaan
hipersekresi yang patologis.
Efek samping :
Diare,
Pusing
Kelelahan,
Kebingungan
Impotensi dapat sembuh kembali
Dosis lazim dewasa : tukak duodenal
Oral 300 mg, 4 x sehari
Dosis anak lazim :
Oral, 5-10 mg/kg BB, 4 x sehari
3. Ranitidin HCl = Ranin = Rantin
Merupakan antagonis kompetitif histamin pada reseptor H2.
Digunakan untuk pengobatan tukak lambung atau usus.
Adanya modifikasi kimia, menghilangkan efek samping simetidin; ginekomastia,
konfusi mental
Efek samping ranitidin : hepatitis, trombosito-penia, dan leukopenia yang terpulihkan.
Dosis: 150 mg, 2 x sehari atau 300 mg, sebelum tidur.
4. Famotidin = Facid = Restadin

Merupakan antagonis kompetitif histamin yang khas pada reseptor H2 sehingga secara
efektif dapat menghambat sekresi asam lambung, menekan kadar asam dan volume
sekresi lambung.
Merupakan antagonis H2 yang kuat dan sangat selektif.
Dosis : 75 mg, 2 x sehari sebelum tidur
Efek samping obat :
Trombositopenia
Konstipasi
Diare
Sakit kepala atau Pusing

OBAT CARDIOVASKULER

Obat kardiovaskuler adalah obat yang digunakan untuk kelainan jantung dan pembuluh
darah. Obat kardiovaskuler dibedakan menjadi beberapa bagian, diantaranya ;
1.

Obat Gagal jantung

2.

Obat Antiaritmia

3.

Obat Antihipertensi

4.

Obat Lipidemia

5.

Obat Antiangina

Obat Obat Yang Mempengaruhi Sistem Kardiovaskuler.


1.

Obat Gagal Jantung


Gagal jantung dalah ketidak mampuan jantung dalam memompa darah dengan
kecepatan yang cukup untuk memnuhi kebutuhan metabolik jaringan atau organ. Pada gagal
jantung terdapat tiga poin yang menjadi sasaran pengobatan yaitu :
a)

Peningkatan kontraksi sel otot jantung.

b)

Penurunan beban kerja jantung

c)

Pengaturan kelebihan cairan di dalam plasma.


Obat

yang

digunakan

untuk

meningkatkan

kontraktilitas

jantung

yaitu

menggunakanglikosida jantung dan dobutamin (simpatominetika). Pada kondisi gagal


ginjal kronik, dobutamin lebih direkomendasikan namun keterbatasan cara pemberiannya
yaitu diberikan secara intravena.
Pada gagal jantung, kontraksi jantung yang lemah merangsang sistem saraf simpatik
termasuk persyarafan pada organ ginjal sehingga merangsang pelepasan renin, dan pada
pembuluh darah sehingga merangsang vasokontriksi. Aktivasi sistem reni - angiotensin
mengakibatkan vasokontriks maupun pelepasan aldosteron dari korteks adrenal. Dalam hal
ini,

semua

jenis

obat

thiazid ataupun spironolakson.

diuresis

bisa

digunakan

terutama furosemid,

Kenaikan tekanan darah pada kondisi gagal jantug mengakibatkan kenaikan beban kerja
jantung. Dalam kaitannya hal tersebut, sistem renin angiotensin mengambil peran penting.
Oleh karena itu, ACE inhibitor (kaptopril) atau antagonis reseptor angiotensin (losartan)
sering digunakanuntuk tujuan itu. Contoh obat lainnya adalah golongan nitrat (isosobid
dinitrat, nitroprusida), yang merupakan obat vasodilator. Nitroprusida dapat menurunkan
baik beban awal (prelond) maupun beban akhir (afterload) tanpa mempengaruhi
kontraktilitas jantung
Macam macam obat yang digunakan :
Digitalis
Tanaman obat mengandung glukosida.
Biripidin
Diberikan oral atau pariental, meningkatkan miokardium tanpa menghambat Na+, K+
ATP atau mengaktifkan adrenoseptor.
2.

Obat Anti Aritmia


Aritmia merupakan gangguan ritme normal jantung karena terjadi malfungsi sistem
konduktivitas elektrik. Malfungsi dapat menyebabkan perubahan pada frekuensi denyut
jantung, ritme, pengaturan dan tempat asal impuls, atau konduksi elektrik pada otot jantung.
Dalam keadaan normal ritme jantung diatur dan dipengaruhi oleh faktor intriktik, faktor
ekstristik jantung.Pada dasarnya gangguan ritme jantung dapat terjadi karena gangguan
pembentukan impuls, gangguan konduksi impuls atau kombinasi kedua gangguan tersebut.
Kadang-kadang nodus SA, impuls terbentuk terlalu cepat , terlalu lambat atau tidak teratur
sehingga terjadi kelainan seperti takikardia sinus, bradikardia sinus, aritmia sinus, dan henti
sinus, yang dapat mengakibatkan henti jantung. Klasifikasi obat antiaritmia dibagi menjadi 4
( empat ) kelas, yaitu :
1) Kelas 1, obat yang bekerja menghambat kanal ion natrium yang tergantung voltase,

misalnya : prokainamid, lidokain, dan flekainid.


2) Kelas 2, obat golongan -blocker, misalnya propanolol.
3) Kelas 3, obat penghambat kanal ion kalium, misalnya bretilium, amiodaron.
4) Kelas 4, obat penghambat kanal ion klorida, misalnya verapamil.
Obat yang sering digunakan :
o

Kuinidin (Gol. IA)


Di berikan secara oral, dengan tujuan untuk menekan kecepatan pacu jantung serta

menekan konduksi dan ekstabilitas terutama pada jaringan yang mengalami depolarisasi.
Kuinidin bersifat penghambat adrenoseptor alfa yang dapat menyebabkan atau
meningkatkan reflek nodus sinoatrial. Pada pemberian intravena akan lebih menonjol
efeknya.
o

Prokainamid (Gol. IA)


Efek fisiologik prokainamid sama seperti kuinidin. Bersifat penghambat ganglion.

Dengan konsentrasi teurapeutik, diberikan secara intravena dan intramoscular serta 75%
adsorbsi pada pemberian oral.
o

Lidokain (Gol. IB)


Lidokain adalah obat aritmia yang lazim dipakai dengan pemberian secara intravena.

Insiden toksisitasnya rendah dan mempunyai efektifitas tinggi pada aritmia dengan infark
otot jantung akut.
o

Fenitoin (Gol. IB)


Sebagai obat barisan kedua karena efktifitasnya terbatas.

3.

Obat Antihipertensi

Tekanan darah dalam arteri besar terutama di tebtukan oleh curah jantung satu pihak
dan resistensinya perifer di lain pihak. Curah jantung menentukan tekanan sistolik, yaitu
tekanan darah pada waktu katup aorta terbuka, sedangkan resistensinya perifer lebih banyak
berpengaruh terhadapa tekanan diastolik. Artinya, tekanan darah tinggi diakibatkan volume
darah lebih besar dibandingkan ruangan yang tersedia pada pembuluh darah, serta volema
darah yang dipompa oleh jantung terlalu cepat.
Pada kondisi prehipertensi ini, meskipun belum hipertensi namun penderita harus mulai
melakukan terapi terutama terapi non farmakologi, dan mencegah aktivitas yang dapat
meningkatkan tekanan darah.
Strategi menurunkan tekanan darah berdasarkan hal di atas, tekanan darah yang tinggi
bisa di turunkan melalui penurunan curah jantung atau resistensi perifer. Penurunan curah
jantung di pengaruhi oleh :

Penurunan frekuensi denyut jantung

Penurunan kontraktilitas jantung

Penurunan retensi air dan natrium

Sedangkan resistensi perifer diturunkan dengan menghambat vasodilatasi. Berdasarkan hal


tersebut, obat hipertensi diklasifikasi menjadi 5 ( lima ) yaitu :

Obat yang mempengaruhi resistensi perifer, meliputi :


-blocker,
Calcium antagonist,
Golongan nitrat,

Obat diuresis ( penurunan volume darah ), meliputi :


Thiazid,

Furosemid,
Diuresis hemat kalium,

Obat yang mempengaruhi sistem renin-angiotenin, meliputi :


ACE inhibitors,
Antagonist reseptor angiotensin II,

Obat yang mempengaruhi curah jantung, meliputi :


Non-selective Blockers,
Selective Blockers,

Obat bereaksi pada pusat ( central blockers ), meliputi :


Klonidin
Metildopa
guanabenz

Obat Hiper Lipidemia


Lipid termasuk kolesterol dan trigliserid, mengalami transport dalam plasma,
membentuk komplek dengan protein sebagai lipoprotein. Berdasarkan kandungan protein
dan lipid, lipoprotein dibagi menjadi empat jenis yaitu kilomikron, low- dan very lowdensity lipid ( LDL dan VLDL ), semuanya termasuk kolesterol jahat, dan high density
lipid ( HDL ) termasuk kolesterol baik.
Kilomikron berperan dalam transport kolesterol dan trigliserida dari saluran
pencernaan menuju ke jaringan, kandungan trigliserida dipecah oleh lipoprotein lipase
menjadi asam lemak bebas, yang kemudian diambil oleh jaringan tersebut. Sisa

kilomikron di ambil ke hati, kolesterolnya disimpan untuk diubah menjadi asam empedu,
atau dilepas kembali dalam bentuk VLDL.
Asam empedu disimpan dalam kandung empedu, di lepaskan ke duodenum untuk
membantu pencernaan lemak di ileum. VLDL berperan dalam transport kolesterol dan
trigliserida menuju kejaringan, sebagian besar trigliserida dipecah oleh lipase menjadi
asam lemak bebas dan masuk ke jaringan.
LDL terbantuk mengandung komponen kolestrol jumlah besar, diambil oleh jaringan
atau hati dengan proses endositosis melalui reseptor LDL spesifik. Kolesterol diambil
oleh HDL untuk ditransport kolesterol dalam jaringan, dan diubah menjadi LDL atau
VLDL.
Kenaikan kadar LDR meningkatkan resiko penyakit jantung iskemia. Penyakit
tersebut disebabkan karena terjadi plak intima pembuluh darah yang menebal, yang
dinamakan ateroma. Pembuluh darah tersebut bisa pecah dan terjadi trombosis sehingga
menyebabkan infark miokardial. Proses penebalan pada dinding pembuluh darah, akibat
terjadi ateroma yang mengandung lipid, termasuk kolesterol dan triglisrida dinamakan
atherosklerosis. Manifestasi dari atherosklerosis adalah penyakit jantung koroner, stroke,
dan penyakit pembuluh darah perifer.
Obat penurun lipid ditujukan untuk menurunkan kadar kolesterol-LDL plasma. Obat
penurun lipid dibagi menjadi empat yaitu :
1. HMG-Co A reductase inhibitors.
Obat ini merupakan obat lini pertama untuk pasien dengan hiperkolesterolemia.
Obat ini beraksi menghambat enzim HMG-CoA reductase, enzim yang mengkatalisis
perubahan HMG-CoA menjadi asam mevalonat, tahap penentu dalam sisntesis
kolesterol. Obat ini mengurangi kadar kolesterol intraseluler, sehingga menyebabkan
sel/jaringan mengambil esktraseluler. Obat ini menghasilkan penurunan kadar

kolesterol dan LDL plasma, dan menaikan HDL plasma. Contoh obatnya : lovastatin,
simvastatin, pravastatin, atorvastatin, cerivastatin.
2. Resin pengikat asam empedu.
Obat ini merupakan resin penukaran anion yang mengikat muatan negatif asam
empedu dalam usus halus, untuk mencegah reabsorpsi asam empedu (sirkulasi
enterohepatik). Resin ini tidak mengalami absorpsi dan metabolisme. Kompensasi
tubuh terhadap penurunan asam empedu adalah perubahan kolesterol menjadi asam
empedu dalam hati, sehingga menurunkan kadar kolesterol, selanjutnya menurunkan
kadar LDL dalam plasma. Contoh obat adalah kolestiramin dan kolestipol. Efek
samping penggunaan resin ini adalah bisa mempengaruhi absorpsi obat lain dan
vitamin larut lemak.
3. Golongan fibrat.
Obat ini bekerja dengan meningkatkan aktivitas lipoprotein lipase. Hal ini
menyebabkan peningkatan hidrolisis trigliserida dalam kilomikron dan VLDL,
membebaskan asam lemak bebas untuk disimpan dalam jaringan atau untuk proses
metabolisme dalam otot striata. Disamping itu, obat ini juga menurunkan LDL dan
menaikan HDL. Contoh obat : klofibrat, fenofibrat, gemibrozil, siprofibrat,
bezafibrat.
4. Nicotinic acid.
Asam nikotinat merupakan vitamin, dapat menurunkan kadar lipid. Obat ini
bekerja menghambat sintesis trigliserida hepatik dan proses sekresi VLDL dari hati.
5.

Obat Antiangina
Sebagian besar pasien angina pektoris diobati dengan beta-bloker atau antagonis
kalsium. Meskipun demikian, senyawa nitrat kerja singkat, masih berperan penting
untuk tindakan prefilaksis sebelum kerja fisik dan untuk nyeri dada yang terjadi

sewaktu istirahat.

a. Golongan nitrat
Senyawa nitrat bekerja langsung merelaksasi otot polos pembuluh vena, tanpa
bergantung pada sistem persarafan miokardium. Dilatasi vena menyebabkan alir balik
vena berkurang sehingga mengurangi beban hulu jantung. Selain itu, senyawa nitrat
juga merupakan vasodilator koroner yang poten
Gliseril trinitrat, kodenya 7-240
Isosorbid dinitrat, kodenya 7-242
Isosorbid mononitrat, kodenya 7-242
Pentaeritritol tetranitrat, kodenya 7-241
b.

Golongan antagonis kalsium


Antagonis kalsium bekerja dengan cara menghambat influks ion kalsium

transmembran, yaitu mengurangi masuknya ion kalsium melalui kanal kalsium lambat
ke dalam sel ototpolo, otot jantung dan saraf. Berkurangnya kadar kalsium bebas
didalam sel-sel tersebut menyebabkan berkurangnya kontraksi otot polos pembuluh
darah (vasodilatasi), kontraksi otot jantung (inotropik negatif), serta pembentukan dan
konduksi impuls dalam jantung (kronotropik dan dromotropik negatif).
Amplidipin besilat
Diltiazem hidroklorida
Nikardipin hidroklorida
Nifedipin

Nimodipin

c.

Golongan beta-bloker
Obat-obat penghambat adrenoseptor beta (beta-bloker) menghambat adrenoseptor-

beta dijantung, pembuluh darah perifer, bronkus, pankreas, dan hati. Saat ini banyak
tersedia beta-bloker yang pada umumnya menunjukkan efektifitas yang sama. Namun,
terdapat perbedaan perbedaan diantara berbagai beta-bloker, yang akan
mempengaruhi pilihan dalam mengobati penyakit atau pasien tertentu. Beta-bloker
dapat mencetuskan asma dan efek ini berbahaya. Karena itu, harus dihindarkan pada
pasien dengan riwayat asma atau penyakit paru obstruktif menahun.
1.

Propranolol hidroklorida, kodenya 7-138

2.

Asebutolol, kodenya 7-138

3.

Atenolol

4.

Betaksolol

5.

Bisoprolol fumarat

6.

Karvedilol

7.

Labetalol hidrklorida, kodenya 7-268

8.

Metoprolol tartrat, kodenya 7-208

9.

Nadolol

10. Oksprenolol hidroklorida, kodenya 7-201


11. Pindolol
12. Sotalol hidroklorida, kodenya 7-208

OBAT YANG MEMPENGARUHI AIR DAN ELEKTROLIT

A.

PENGGOLONGAN OBAT YANG TERMASUK ELEKTROLIT


1. Diuretik
a. Definisi
Diuretik adalah obat yang menambah kecepatan pembentukan urin. Istilah dieresis
mempunyai dua pengertian, pertama menunjukan adanya penambahan volume urin
yang di produksi dan yang kedua menunjukan jumlah pengeluaran zat zat terlarut dan
air. Fungsi utama diuretik adalah memobilisasi cairan udem, yang berarti mengubah
keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstra sel kembali
menjadi normal.
b. Macam-macam diuretic
Secara umum diuretic dibagi menjadi dua golongan yaitu :
1) Diuretik osmotik.
Istilah diuretik osmotic biasanya dipakai untuk bukan zat elektrolit yang mudah
dan cepat diekskresi oleh ginjal. Suatu zat dapat bertindak sebagai diuretic osmotic
apabila memenuhi empat syarat :
v Diinfiltrasi secara bebas oleh glomerulus
v Hanya sedikit yang direabsorbsi sel tubuli ginjal

v Secara farmakologis merupakan zat yang inert


v Umumnya resisten terhadap perubahan perubahan metabolic
Dengan sifat sifat ini, maka diuretic osmotic dapat diberikan dalam jumlah
yang cukup besar sehingga turut menentukan derajat osmolaritas plasma, filtrate
glomerulus dan cairan tubuli. Contoh golongan obat ini adalah manitol, urea
gliserin, dan isosorbid.
Sediaan dan Posologi
Manitol Untuk suntikan intravena digunakan larutan 5 25 % dengan volume antara 501000 ml. Dosis untuk menimbulkan dieresis ialah 50-200 gram yang diberikan dalam cairan
infuse selama 24 jam dengan kecepatan infuse sedemikian, sehingga diperoleh dieresis sebanyak
30-50 ml per jam. Untuk penderita dengan oligurea hebat diberikan dosis percobaan yaitu
200mg/ kgBB yang diberikan melalui infuse selama 3-5 menit. Bila dengan 1-2 kali dosis
percobaan diuresis masih kurang dari 30ml per jam dalam 2-3 jam, maka pasien harus dievaluasi
kembali sebelum pengobatan dilanjutkan. Untuk mencegah gagal ginjal akut pada tindakan
operasi atau untuk mengatasi oliguria, dosis total manitol untuk orang dewasa ialah 50-100gram.
Untuk menurunkan tekanan intracranial yang meninggi, menurunkan tekanan intraokuler
pada serangan akut glaukoma kongestif atau sebelum operasi mata, digunakan manitol 1,52gram/kgBB sebelum larutan 15-20%, yang diberikan melalui infuse selama 30-60 menit.
Manitol dikontraindikasikan pada penyakit ginjal dengan anurea, atau udem paru yang berat,
dehidrasi berat dan pendarahan intrakranial kecuali bila akan dilakukan kraniotomi. Infus
manitol harus segera dihentikan bila terdapat tanda-tanda gangguan fungsi ginjal yang progresif,
payah jantung atau kongesti paru.
b) Contoh golongan diuretik osmotik
1. Urea
Suatu Kristal putih dengan rasa agak pahit dan mudah larut dalam air. Sediaan intravena
mengandung urea sampai 30% dalam dekstrose 50% (iso-osmotik) sebab larutan urea murni
dapat menimbulkan hemolisis. Pada tindakan bedah syaraf, urea diberikan intravena dengan
dosis1-1,5 gram/kg BB. Sebagai diuretik, urea potensinya lebih lemah dibandingkan dengan
manitol, karena hampir 50% senyawa urea ini akan direabsorpsi oleh tubuli ginjal.
2. Isosorbid

Diberikan segera oral untuk indikasi yang sama dengan gliserin. Efeknya juga sama, hanya
menimbulkan dieresis yang lebih besar dari pada gliserin, tanpa menimbulkan hiperglikemia.
Dosis berkisar antara 1-3 g/kgBB, dan dapat diberikan 2-4 kali sehari
3. Gliserin
Diberikan per oral sebelum suatu tindakan eptalmologi dengan tujuan menurunkan tekanan
intraokuler. Efek maksimal terlihat satu jam sesudah pemberian obat dan menghilang sesudah 5
Jm. Dosis untuk orang dewasa yaitu 1-1,5gram/kgBB dalam larutan 50/75%. Gliserin ini cepat
dimetabolisme, sehingga efek diuresisnya relatif kecil.
Penghambat Karbonik Anhidrase
Karbonik anhidrase adalah enzim yang mengkatalisis reaksi CO2 + H2OH2CO3. Enzim
ini terdapat antara lain pada korteks renalisis, pancreas, mukosa lambung, mata, aktivitasnya oleh
sianida, azida, dan sulfida. Derivat sulfonamid yang juga dapat manghambat kerja enzim ini
adalah asetazolamid dan diklorofenamid.
1. Penghambat kerja enzim karbonik anhidrase diantaranya
a. Asetazolamid dan diklorofenamid
Efek farmakodinamik yang utama dari asetazolamid adalah penghambatan karbonik
anhidrase secara nonkompetitif. Akibatnya terjadi perubahan sistemik dan perubahan terbatas
pada organ tempat enzim tersebut berada.
Untuk menimbulkan penghambatan efek fisiologis yang nyata, lebih dari 99% aktivitas
enzim tersebut harus dihambat. Sekresi H+ oleh sel tubuli berkurang karena pembentukan H+
dan HCO3 yang berkurang dalam sel tubuli, sehingga pertukaran Na+ oleh H+ terhambat. Hal
ini mengakibatkan meningkatnya ekskresi bikarbonat, natrium dan kalium melalui urin sehingga
urin menjadi alkalis.
Dengan bertambahnya ekskresi bikarbonat dan ion tetap (fix ion) dalam urin, terutama Na
+ , maka kadar ion-ion ini dalam cairan ekstrasel menurun, sehingga terjadi asidosis metabolik.
Bila pada penderita dengan edema diberikan asetazolamid jangka lama, maka dapat terjadi
asidosis metabolic sehingga efek asetazolamid makin lemah. Selain ion bikarbonat agaknya
kadar kalium juga penting dalam menentukan efek diuresis asetazolamid, karena pada alkalosis
ekstra sel yang sudah disertai hipokalemia, efek diuresis obat ini juga kurang.

b. Efek nonterapi dan kontraindikasi asetazolamid


Intoksikasi asetazolamid jarang terjadi. Pada dosis tinggi dapat timbul parestesia dan
kantuk yang terus menerus. Asetazolamid mempermudah pembentukan batu ginjal karena
berkurangnya ekskresi sitrat, kadar kalium dalam urin tidak berubah atau meningkat.Reaksi
alergi yang jarang terjadi berupa demam, reaksi kulit, depresi sumsum tulang dan lesi renal mirip
reaksi terhadap sulfonamid.
c. Indikasi
Asetazolamid yang utama ialah untuk menurunkan tekanan intraokuler pada penyakit
glaucoma. Asetazolamid berguna mengatasi paralisis periodic bahkan yang yang disertai
hipokalemia
d. Sediaan dan pasologi
Asetazolamid tersedia dalam bentuk tablet 125 mg dan 250 mg untuk pemberian oral.
Dosis antara 250-500 mg per kali, dosis untuk chronic simple glaucoma yaitu 1000mg per hari.
Natrium asetazolamid untuk pemberian parenteral hendaknya diberikan satu kali sehari, kecuali
bila dimaksudkan asidosis metabolik maka obat ini diberikan setiap 8 jam. Tetapi sediaan ini
terdapat di Indonesia, demikian juga sediaan yang berbentuk sirup. Dosis dewasa untuk acute
mountain sickness yaitu 2 kali sehari 250 mg, dimulai 3-4 hari sebelum mencapai ketinggian
3000 meter atau lebih, dan dilanjutkan untuk beberapa waktu sesudah dicapai ketinggian
tersebut.
Dosis untuk paralisis periodik yang bersifat familier (familial periodic paralysis) yaitu
250-750 mg sehari dibagi dalam 2 atau 3
dosis, sedangkan untuk anak-anak 2-3 kali sehari 125 mg. Diklorofenamid dalam satu tablet 50
mg efek optimal dapat dicapai dengan dosis awal 200 mg sehari, serta metazolamid dalam tablet
25 mg dan 50 mg dan doosis 100-300 mg sehari, tidak terdapat dipasaran.
e. Bagian-bagian yang mengandung enzim Karbonik anhidrase diantaranya:
Mata
Dalam cairan bola mata banyak sekali terdapat enzim karbonik anhidrase dan bikarbonat.
Pemberian asetazolamid baik secara oral maupun parental, mengurangi pembentukan

cairan bola mata disertai penurunan tekanan intrakouler sehinga asetazolamid berguna
dalam pengobatan gloukoma. Efek ini mungkin disebabkan oleh penghambatan terhadap
karbonik anhidrase.

Susunan syaraf pusat


Keadaan asidosis dapat mengurangi timbulnya serangan epilepsi, dalam keadaan
klinik ini dicapai dengan memberikan diet ketagonik pada penderita. Karena
asetazolamid dapat menimbulkan asidosis dan SSP banyak mengandung karbonik
anhidrase, maka diduga bahwa obat ini dapat dipakai mengobati penyakit epilepsy.
Asetazolamid kurang mempengaruhi aktifitas karbonik anhidrase dieritrosit
sehingga pengaruh langsung terhadap pernafasan tidak ada. Asetazolamid mudah diserap
melalui saluran cerna, kadar maksimal dalam darah dicapai dalam 2 jam dan ekskresi
melalui ginjal sudah sempurna dalam 24 jam.Obat ini mengalami proses sekresi aktif oleh
tubuli dan sebagian diabsorpsi secara pasif. Asetazolamid terikat kuat pada karbonik
anhidrase, sehingga terakumulasi dalam sel yang banyak mengandung enzim ini,
terutama sel eritrosit dan korteks ginjal.

OBAT-OBAT YANG MEMPENGARUHI KONSERVASI AIR


1. ADH
a. Definisi
ADH (hormone anti diuretik) disebut juga vasopressin merupakan suatu oktapeptid
yang diproduksi oleh saraf dalam nucleus supraoptikus dan paraventrikularis di
hipitalamus. Melalui serabut saraf, ADH di transport ke sel-sel pituisit hipofisis posterior.
Di hipofisis posterior, vasopressin ini terikat pada suatu protein spesifik yang disebut
neurofisin, ikatan ini dapat dilepaskan dengan perangsangan listrik atau pemberian
asetilkolin
b. Pengaturan Sekresi vasopressin diatur oleh beberapa mekanisme :
1. Konsep osmoreseptor yang diduga terletak didaerah nukleus hipotalamus, bila
osmolalitas plasma bertambah akibat dehidrasi, maka sekresi ADH bertambah.

Sebaliknya pada keadaan hidrasi sekresi, ADH akan berkurang sehingga kadarnya
dalam plasma maupun dalam urin tidak dapat diukur.
2. Konsep reseptor volume, yang terletakdi atrium kiri dan vena pulmonalis. Bila terjadi
penurunan volume darah yang beredar, misalnya akibat pendarahan hebat akan terjadi
perangsangan sekresi ADH, sebaliknya bila volume darah yang beredar nertambah
banyak maka sekresi ADH ditekan.
3. Selain kedua macam mekanisme diatas, sekresi vasopressin meningkat akibat stress
emosional atau fisik, atau seperti nikotin, klofibrat, siklofosfamid, antidepresan
trisiklik,dan karbamazepin
c. Efek ADH pada ginjal
Setelah dilepas oleh kelenjar hipofisis posterior ADH akan disirkulasi oleh
pembuluh darah dan pada individu dewasa ADH mempunyai waktu paruh sekitar 17-35
menit. Ada beberapa faktor yang terlibat dalam eliminasi hormone dan darah yang paling
penting yaitu pemutusan rantai peptida oleh enzim peptidase.
d. Obat-obat yang dapat memodifikasi efek ADH
Kloropamazin, paracetamol dan indometasinmeningkatkan kerja ADH, artinya
obat ini mensensitisasi ginjsl terhadap ADH yang sebenarnya terlalu rendah untuk
merangsang reabsorpsi air.Hal ini mungkin sebagian dapat diterangkan melalui adanya
penghambatan biosintesis PG di ginjal.
e. Efek ADH di luar ginjal
Efek ADH pada jantung merupakan efek tidak langsung, yaitu karena adanya
vasokonstriksi pembuluh darah koroner, penurunan aliran darah koroner dan adanya
perubahan tonus vegal dan tonus simpatis secara refleks.
f. Efek samping
Suntikan ADH dosis besar menyebabkan vasokonstriksi, tekanan darah naik dan
kulit jadi pucat. Peristaltis usus meningkat, menyebabkan rasa mual dan kolik usus. Pada
wanita ADH menyebabkan spasme uterus.
g. Penggunaan klinik

Vasopresin terutama digunakan untuk pengobatan diabetes insipidus akibat


kekurangan hormon tersebut. Untuk penggunaan kronis, digunakan sediaan suntikan
vasopressin tanat dengan dosis 0,25-1 atau lebih per hari.
h. Sediaan
ADH tersedia dalam bentuk injeksi dan untuk pemberian intrasal, yaitu
vasopressin suntikan 20 U/ml terdapat dalam ampul 0,5 dan 1 ml untuk penggunaan
subkutan atau IM. Vasopresin tanat 5U/ml untuk suntikan IM. Bubuk hipofosis untuk
insuflasi hidung.

2. BENZOTIADIAZID
Klorotiazid dan tiazid yang lain ternyata juga dapat menyebabkan berkurangnya
poliuria pada penderita diabetes insipidus, dan sekarang telah mantap digunakan untuk
pengobatan diabetes insipidus terutama yang resistan terhadap ADH atau yang disebut
diabetes insifidus nefrogen. Dengan tiazid, poliuria yang hebat akan berkurang, volume
urin lebih sedikit, sehingga kegiatan penderita sehari-hari tidak terganggu. Pada bayi dan
anak dengan diabetes insipidus yang resistan terhadap ADH, efek antidiuretik ini menjadi
sangat penting sebab poliuria yang tidak terkendal akibat kemampuan pasien untuk
minum maupun mengabsorpsi cairan mengakibatkan dehidrasi.
3. PENGHAMBAT SINTESIS PROSTAGLADIN
Indometasin ternyata juga efektif untuk pengobatan kasus diabetes insipidus
nefrogen yang herediter, sedangkan penghambat sintesis Pg yang lain misalnya ibuprofen
kurang efektif dibandingkan indometasin. Cara kerjanya belum jelas, mungkin sekali
menyangkut beberapa cara, misalnya adanya penurunan filtrasi glomerulus, peninggian
kadar zat terlarut di daerah medulla ginjal, atau adanya peningkatan reabsorpsi cairan di

tubuli proksimal.

C. TES FORMATIF
1.

Defenisi autakoid yaitu :


Jawaban :
Substansi (kimia) selain transmitor yang secara normal ada di dalam tubuh dan punya peran
atau fungsi fisiologik penting baik dalam keadaan normal (sehat) maupun patologik (sakit).

2.

Efek histamin timbul melalui aktivasi reseptor histaminergik H1, H2 dan H3 yaitu :
Jawaban :

3.

Reseptor-H1 : sel otot polos, endotel dan otak.


Reseptor-H2 : mukosa lambung (pada sel parietal),otot jantung, sel mast, dan otak.
Reseptor-H3 : presinaptik (di otak, pleksus mienterikus
dan saraf lainnya)

Efek histamin endogen dapat dihambat melalui 3 cara yaitu :


Jawaban:
1. Penghambatan secara fisiologis, misal oleh adrenalin
2. Penghambatan pelepasan/degranulasi histamin yg timbul. Hambatan pelepasan histamin
pada proses degranulasi histamin dapat terjadi pada pemberian kromolin & stimulan
adrenoseptor 2
3. Blokade reseptor histamin H1 dengan obat antihistamin. Blokade reseptor histamin H1
secara kompetitif dapat menghambat efek histamin.

4. Defenisi obat kardiovaskuler dan sebutkan jenis jenis obat kardiovaskuler yaitu :
Jawaban:
Obat yang digunakan untuk kelainan jantung dan pembuluh darah. Jenis obat
kardiovaskuler dibedakan menjadi beberapa bagian, diantaranya ;
a. Obat Gagal Jantung
b. Obat Antiaritmia
c. Obat Antihipertensi
d. Obat Lipidemia
e. Obat Antiangina

5. Klasifikasi obat antiaritmia dibagi menjadi 4 ( empat ) kelas, yaitu :


Jawaban :
1) Kelas 1, obat yang bekerja menghambat kanal ion natrium yang tergantung voltase,
Misalnya : prokainamid, lidokain, dan flekainid.
2)

Kelas 2, obat golongan -blocker, misalnya propanolol.

3)

Kelas 3, obat penghambat kanal ion kalium, misalnya bretilium, amiodaron.

4)

Kelas 4, obat penghambat kanal ion klorida, misalnya verapamil.

6. Obat yang mempengaruhi resistensi perifer, meliputi :


Jawaban :
-blocker
Calcium antagonist
Golongan nitrat
7. Obat diuresis ( penurunan volume darah ), meliputi :
- Thiazid,
- Furosemid,

8. Suatu zat dapat bertindak sebagai diuretic osmotic apabila memenuhi empat syarat :
Jawaban :
v Diinfiltrasi secara bebas oleh glomerulus
v Hanya sedikit yang direabsorbsi sel tubuli ginjal
v Secara farmakologis merupakan zat yang inert
v Umumnya resisten terhadap perubahan perubahan metabolik

9. Sebutka dan jelaskan contoh golongan diuretik osmotic yaitu :


Jawaban :
1. Urea
Suatu Kristal putih dengan rasa agak pahit dan mudah larut dalam air. Sediaan
intravena mengandung urea sampai 30% dalam dekstrose 50% (iso-osmotik) sebab
larutan urea murni dapat menimbulkan hemolisis. Pada tindakan bedah syaraf, urea
diberikan intravena dengan dosis1-1,5 gram/kg BB. Sebagai diuretik, urea potensinya
lebih lemah dibandingkan dengan manitol, karena hampir 50% senyawa urea ini akan
direabsorpsi oleh tubuli ginjal.
2. Isosorbid
Diberikan segera oral untuk indikasi yang sama dengan gliserin. Efeknya juga
sama, hanya menimbulkan dieresis yang lebih besar dari pada gliserin, tanpa
menimbulkan hiperglikemia. Dosis berkisar antara 1-3 g/kgBB, dan dapat diberikan 2-4
kali sehari
3. Gliserin
Diberikan per oral sebelum suatu tindakan eptalmologi dengan tujuan menurunkan
tekanan intraokuler. Efek maksimal terlihat satu jam sesudah pemberian obat dan
menghilang sesudah 5 Jm. Dosis untuk orang dewasa yaitu 1-1,5gram/kgBB dalam
larutan 50/75%. Gliserin ini cepat dimetabolisme, sehingga efek diuresisnya relatif kecil.
dan lain lain.

10. Pengaturan Sekresi vasopressin diatur oleh beberapa mekanisme yaitu :

Jawaban :
1.

Konsep osmoreseptor yang diduga terletak didaerah nukleus hipotalamus, bila


osmolalitas plasma bertambah akibat dehidrasi, maka sekresi ADH bertambah.
Sebaliknya pada keadaan hidrasi sekresi, ADH akan berkurang sehingga kadarnya
dalam plasma maupun dalam urin tidak dapat diukur.

2.

Konsep reseptor volume, yang terletakdi atrium kiri dan vena pulmonalis. Bila
terjadi penurunan volume darah yang beredar, misalnya akibat pendarahan hebat
akan terjadi perangsangan sekresi ADH, sebaliknya bila volume darah yang beredar
nertambah banyak maka sekresi ADH ditekan.

3.

Selain kedua macam mekanisme diatas, sekresi vasopressin meningkat akibat


stress emosional atau fisik, atau seperti nikotin, klofibrat, siklofosfamid, antidepresan
trisiklik,dan karbamazepin.

Umpan balik
Apabila mahasiswa dapat menjawab 7 dari 10 soal maka mahasiswa akan dengan mudah
mengerjakan soal UAS yang tekait dengan konsep dasar keperawatan gawat darurat

DAFTAR PUSTAKA

Arien et. Al,1986, Pengantar Toksikologi Umum, diterjemahkan oleh Watimena dkk, Gama
Press,
Brunner dan Suddarth. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8. Penerbit Buku
Kedokteran 2001
Gerhard, V.H. (2002). Drug Discovery and Evaluation. ed.II. Springer-Verlag Berlin Heidelberg
New York. Hal: 878
Gilman, Goodman. (2007). Dasar Farmakologi Terap. Vol.1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Hal:126-127
Craig, C.R., (Editor), 1990, Modern Pharmacology, 4th. Ed., Liyye Brown Co., New York
Dipama, J.R., (Editor), 1994, Basic Pharmacology in Medicine, 4th. Ed., Medicinal Surv.Inc.,
Philadelphia.
Katzung, B.B., 2004, Basic and Clinical Pharmacology, 9th. Ed., McGraw-Hill.Inc., London
Klaassen, C. D, 2002, Cassaret and Douls Toxicology, Mc-Graw Hill, New York
Laurence, L.B., (Editor), 2005, Goodman and Gilmans The Pharmacological Basis of
Theurapeutics, 11th. Ed., McGraw Hill, New York.
Niesink, R.J.M., de Vries, J., and Hollinger , M.A., Toxicology, Principles and Applications,
CRC Press. Inc., New York.
Sulistia, Gan Gunawan. Farmakologi dan Terapi. Ed.5. 2009. Jakarta: FKUI

UNIT 4- III
K O N S E P FAR M A K O L O G : P E N G G O L O N G A N O B AT AS U H A N
K E P E R AWATAN PAS I E N S T R O K E
120 menit

A. PENGANTAR
Menurut pengertian umum,obat dapat didefinisikan sebagai bahan yang menyebabkan
perubahan dalam fungsi biologis melalui proses kimia. Sedangkan definisi yang lengkap, obat
adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan (1) pengobatan, peredaan, pencegahan atau
diagnosa suatu penyakit, kelainan fisik atau gejala-gejalanya pada manusia atau hewan; atau (2)
dalam pemulihan, perbaikan atau pengubahan fungsi organik pada manusia atau hewan. Obat
dapat merupakan bahan yang disintesis di dalam tubuh (misalnya : hormon, vitamin D) atau
merupakan merupakan bahan-bahan kimia yang tidak disintesis di dalam tubuh.
Penggolongan sederhana dapat diketahui dari definisi yang lengkap di atas yaitu obat untuk
manusia dan obat untuk hewan. Selain itu ada beberapa penggolongan obat yang lain, dimana
penggolongan obat itu dimaksudkan untuk peningkatan keamanan dan ketepatan penggunaan
serta pengamanan distribusi. Dengan membaca materi berikut dan mengamati gambar, serta
mengerjakan latihan soal , diharapkan mahasiswa bisa memahami penggolongan obat
TUJUAN

TUJUAN PEMBELAJARAN

Adapun kompetensi yang diharapkan setelah mempelajari modul ini mahasiswa mampu
menjelaskan konsep farmakokinetik yang meliputi:
1.

Mampu menjelaskan golongan obat oksitosik

2.

Mampu menjelaskan golongan obat lokal

3.

Mampu menjelaskan golongan obat anti mikroba

B. BAHAN BACAAN
GOLONGAN OBAT OKSITOSIK
Definisi Oksitosik
Oksitosik adalah obat yang digunakan untuk menstimulasi kontraksi uterus,mengaugmentasi
persalinan,mempercepat pelahiran janin,dan pada kala tiga mempercepat pelahiran dan
menghentikan hemoragi pascapartum. Uterus dipersarafi oleh saraf kolinergik dari saraf
pelvik,adrenergik dari ganglion mesenterik inferior, dan ganglion hipogastrik.
Otot polos memiliki aktivitas spontan yang cukup besar tetapi dapat diubah oleh pemberian
obat-obatan.Kontraksi otot polos uterus dipicu oleh gelombang eksitasi elektris yang dengan
cepat menyebar dari sel yang satu ke sel yang lainnya.Aktivitas elektris tersebut diawali oleh
potensial spike yang muncul spontan di daerah pacemaker

di sepanjang miometrium

uterus.Kekuatan kontraksi uterus bergantung pada jumlah sambungan celah(gap junctions) dan
frekuensi serta durasi aktifitas elektris di daerah pacemaker uterus.Daya spontan uterus berfariasi
menurut usia kehamilannya,derajat peregangan uterus dan regio miometrium.Aktivitas
elektris,dan demikian pula kotaktilitasnya,dipengaruhi oleh:
a.

Oksitosin: Oksitosin fetal dan maternal memainkan peranan fasilitasi yang penting dalam
proses melahirkan anak,sekresi kedua hormon ini akan meningkat selama persalinan.Jumlah

b.

reseptor oksitosin dalam uterus bertambah banyak lebih dari 100 kalinya selama kehamilan.
Sistem Saraf Simpatik: Stimulasi reseptor alfa1 akan menghasilkan eksitasi
uterus,sedangkan stimulasi reseptor beta2 menghambat kontraksi uterus.Jika seorang ibu
hamil mengalami rasa takut atau cemas,hormon epinefrin(adrenalin)endogenus dapat
mengurangi kontraksi uterus dan menunda atau memperpanjang persalinan(Hoffman &
Lefkowitz,1996).Peristiwa ini .;[lebih cenderung terjadi bila ibu hamil tersebut menghadapi
petugas,lingkungan dan teknologi yang asing baginya(Niven,1992).

c.

Hormon Steroid: Progesteron memainkan peranan dalam mempertahankan kehamilan


dengan menurunkan kontraktilitas uterus.Konsentrasi progesteron yang menurun dan
ditambah lagi dengan kenaikan konsentrasi estrogen dalam masa menjelang aterm,umumnya

d.
e.

dianggap bertanggung jawab atas peningkatan sensitivitas di sepanjang kehamilan.


Relaksin menghambat aktifitas uterus di sepanjang kehamilan
Prostaglandin dan substansi yang ada kaitannya seperti platelet activating factor merupakan
regulator yang penting dalam peristiwa melahirkan anak.Produksi prostaglandin oleh
membran fetal akan meningkat dalam bulan terakhir kehamilan.Pelepasan prostaglandin

f.

distimulasi oleh pemeriksaan vaginal dan ruptura membran amnion(Kelsey & Prevost,1994).
Serotonin merupakan neurotransmiter yang penting dalam semua otot polos. Substansi ini
akan meningkatkan kontraktilitas uterus. Kerja serotonin ditiru oleh preparat alkaloid ergot,

g.
h.

misalnya ergometrin.
Peregangan Uterus meningkatkan jumlah reseptor oksitosin dan kontraktilitas uterus.
Stimulasi Mekanis membran janin atau serviks dapat menginduksi persalinan.
(Guyton,1996; Ganong,1999;Rang et al,1999;Graves,1996).

MEKANISME KERJANYA

Obat-obat oksitosik banyak digunakan untuk induksi serta penguatan persalinan,pencegahan


serta

penanganan

perdarahan

postpartum,pengendalian

perdarahan

akibat

abortus

inkompletus,dan penanganan aktif pada kala III persalinan.Banyak obat yang memperlihatkan

efek Oksitosik, tetapi hanya beberapa saja yang kerjanya cukup selektif dan dapat berguna dalam
praktek kebidanan.
Obat-obat oksitosik yang digunakan adalah:
1. Alkaloid ergot berasal dari Claviceps purpurea, jamur parasit pada gandum,bekerja pada
2.
3.

regio internal miometrium


Oksitosin, bekerja pada regio eksternal miometrium
Prostaglandin ,bekerja pada regio eksternal miometrium

Indikasi
Indikasi oksitosik
1.

Induksi partus aterm,

2.

Mengontrol perdarahan dan atoni uteri pasca persalinan,

3.

Merangsang kontraksi uterus setelah operasi caesar maupun operasi uterus lain

4.

Induksi abortus terapeutik,

5.

Uji oksitosin,

6.

Menghilangkan pembengkakan payudara.

7. Pengobatan migren
Kontra indikasi

Untuk penderita sepsis


Untuk penyakit pembuluh darah : arteritis, arteriosklerosis, koroner, tromboflebitis.
Untuk wanita hamil
Untuk hipertensi dan gangguan vaskuler perifer karena obat dapat menaikkan tekanan darah
sesaat

Efek Samping

Untuk a lkaloid ergot sangat toksik


Untuk Ergotamin merupakan alkaloid yang paling toksis

Untuk dosis besar dapat menyebabkan mual, muntah, diare, gatal, kulit dingin, nadi lemah

dan cepat, bingung dan tidak sadar.


Untuk keracunan dapat terjadi dengan dosis 26 mg per oral selama beberapa hari atau 0,5

1,5 mg parenteral.
Untuktoksisitas ergonovin kali alkaloid asam amino

OBAT LOKAL
Obat lokal adalah zat yang kerjanya berdasarkan aktivitas lokal secara fisik dan kimia.
Misalnya
Antasid
Digestan
Pencahar
Topikal
OBAT ANTI MIKROBA
DEFINISI
Obat pembasmi mikroba, khususnya mikroba yang merugikan manusia
Anti biotik ad. Zat yg dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi, yang dapat
menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain
MEKANISME KERJA ANTI MEKANISME KERJA ANTI MIKROBA
Anti mikroba yg menghambat metabolisme sel mikroba
Anti mikroba yang menghambat sintesis dinding sel
Anti mikroba yang mengganggu keutuhan membran sel mikroba
Anti mikroba yang menghambat sintesis protein protein sel mikroba
Anti mikroba yang menghambat sintesis asam nukleat nukleat sel mikroba
GOLONGAN ANTIMIKROBA
Penisilin
Cephalosporin
Tetrasiklin
Chloramphenicol
Aminoglicosid
MEKANISME RESISTENSI ANTIBIOTIK
Obat tdk dapat mencapai tempat kerjanya di dalam sel mikroba
Inaktivasi obat
gol aminoglikosid dan beta -laktam
Mikroba mengubah tempat ikatan antibiotik

PENISILIN
Merupakan kelompok antibiotik betalaktam.
Merupakn asam organik, terdiri terdiri dari satu inti siklik dengan satu rantai samping
Inti siklik terdiri dari cincin tiazolidin dan cincin beta-laktam.
Rantai samping mrpkn gugus asam amino bebas yg dpt mengikat bbgai radikal.
Mekanisme Kerja -laktam antibiotik
Tjd hambatan sintesis dinding sel kuman krn proses transpeptidasi antar rantai peptidogli

kan terganggu
Aktivasi enzim p proteolitik pd dinding d sel.
Menghambat pembentukan mukopeptida yg diperlukan diperlukan u/ sintesis dinding
dinding sel mikroba

Mekanisme resistensi bakteri terhadap -laktam antibiotik

Pembentukan enzim betalaktamase (ad enzim yg menghidrolisis cincin -laktam). Misal pd


S.aureus, H.influenza ,gonokokus, bbgai batang garam negatif. Kebanyakan betalaktamase
dihasilkan oleh kuman mllui kendali genetik o/ plasmid. Gram + plasmid. Gram + sekresi

besar. Gram sekresi sdikit, tp tempat strategis


Enzim autolisin kuman tdk bekerja bekerja shg timbul sifat kuman thd obat.
Kuman tdk mempunyai dinding sel

Subclass Penisilin

C.

Penisilin G
Penisilin V
Penisilin isoksazolil
Ampisilin
Amoksisilin
Karbenisilin
Sulbenisilin
Tikarsilin
Aziosilin ,meziosilin, piperasilin

TES FORMATIF

1. yang merupakan Indikasi oksitosik adalah........


Jawaban:

Induksi partus aterm,

Mengontrol perdarahan dan atoni uteri pasca persalinan,

Merangsang kontraksi uterus setelah operasi caesar maupun operasi uterus lain

Induksi abortus terapeutik,

Uji oksitosin,

Menghilangkan pembengkakan payudara.

2. Sebutkan golongan anti mikroba


Jawaban :
Penisilin
Cephalosporin
Tetrasiklin
Chloramphenicol
Aminoglicosid

3. Sebutkan mekaniusme kerja anti mikroba....


Jawaban:
Anti mikroba yg menghambat metabolisme sel mikroba
Anti mikroba yang menghambat sintesis dinding sel
Anti mikroba yang mengganggu keutuhan membran sel mikroba
Anti mikroba yang menghambat sintesis protein protein sel mikroba
Anti mikroba yang menghambat sintesis asam nukleat nukleat sel mikroba

4 . Sebutkan sub class Penisillin


Jawaban:

Penisilin G
Penisilin Penisilin V
Penisilin isoksazolil
Ampisilin
Amoksisilin
Karbenisilin
Sulbenisilin
Tikarsilin
Aziosilin, meziosilin n, piperasilin

Umpan balik
Apabila mahasiswa dapat menjawab soal maka mahasiswa akan dengan mudah mengerjakan
soal UAS yang tekait dengan penggolongan obat

DAFTAR PUSTAKA

Arien et. Al,1986, Pengantar Toksikologi Umum, diterjemahkan oleh Watimena dkk,
Gama Press,
Brunner dan Suddarth. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8. Penerbit
Buku Kedokteran 2001

Gerhard, V.H. (2002). Drug Discovery and Evaluation. ed.II. Springer-Verlag


Berlin Heidelberg New York. Hal: 878
Gilman, Goodman. (2007). Dasar Farmakologi Terap. Vol.1. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Hal:126-127
Craig, C.R., (Editor), 1990, Modern Pharmacology, 4th. Ed., Liyye Brown Co., New
York
Dipama, J.R., (Editor), 1994, Basic Pharmacology in Medicine, 4th. Ed., Medicinal
Surv.Inc., Philadelphia.
Katzung, B.B., 2004, Basic and Clinical Pharmacology, 9th. Ed., McGraw-Hill.Inc.,
London
Klaassen, C. D, 2002, Cassaret and Douls Toxicology, Mc-Graw Hill, New York
Laurence, L.B., (Editor), 2005, Goodman and Gilmans The Pharmacological Basis of
Theurapeutics, 11th. Ed., McGraw Hill, New York.

UNIT 2
P E N G G O L O N G A N O B AT I V AS U H A N K E P E R AWATAN PAS I E N
STROKE
120 Menit

A. PENGANTAR

Menurut pengertian umum,obat dapat didefinisikan sebagai bahan yang menyebabkan


perubahan dalam fungsi biologis melalui proses kimia. Sedangkan definisi yang lengkap, obat
adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan (1) pengobatan, peredaan, pencegahan atau
diagnosa suatu penyakit, kelainan fisik atau gejala-gejalanya pada manusia atau hewan; atau (2)
dalam pemulihan, perbaikan atau pengubahan fungsi organik pada manusia atau hewan. Obat
dapat merupakan bahan yang disintesis di dalam tubuh (misalnya : hormon, vitamin D) atau
merupakan merupakan bahan-bahan kimia yang tidak disintesis di dalam tubuh.
Penggolongan sederhana dapat diketahui dari definisi yang lengkap di atas yaitu obat untuk
manusia dan obat untuk hewan. Selain itu ada beberapa penggolongan obat yang lain, dimana
penggolongan obat itu dimaksudkan untuk peningkatan keamanan dan ketepatan penggunaan
serta pengamanan distribusi. Dengan membaca materi berikut dan mengamati gambar, serta
mengerjakan latihan soal , diharapkan mahasiswa bisa memahami penggolongan obat

TUJUAN

TUJUAN PEMBELAJARAN

Adapun kompetensi yang diharapkan setelah mempelajari modul ini mahasiswa mampu
menjelaskan penggolongan obat II yang meliputi:
1. Mampu menjelaskan dan membedakan obat anti kanker dan imunosupresan
2. Mampu menjelaskan vitamin
3. Mampu menjelaskan obat hematologi
2. BAHAN BACAAN

O B AT AN T I K A N K E R D A N I M U N O S U P R E S A N
Kortikosteroid dan Imunosupresan
Prednisolon banyak digunakan pada onkologi. Prednisolon memberi efek yang nyata
sebagai antitumor pada leukemia limfoblastik akut, penyakit Hodgkin dan limfoma nonHodgkin. Prednisolon berperan untuk meringankan gejala pada penyakit kanker stadium akhir,
meningkatkan nafsu makan dan memberikan perasaan sehat.
Penggunaan pada anak.Kortikosteroid, prednisolon dan deksametason, banyak
digunakan pada terapi kanker pada anak. Obat-obat ini memiliki efek antitumor yang nyata.
Deksametason lebih disukai untuk leukemia limfoblastik akut, sedangkan prednisolon dapat
digunakan untuk penyakit Hodgkins, limfoma non-Hodgkin d a n limfoma sel B dan leukemia.
Deksametason merupakan kortikosteroid pilihan pada terapi paliatif dan suportif pada anak.
Untuk anak yang tidak menerima kortikosteroid sebagai bagian dari kemoterapinya,
deksametason dapat digunakan untuk mengurangi tekanan intrakranial yang meningkat, atau
untuk mengontrol muntah jika dikombinasi dengan anti emetik yang sesuai. Kortikosteroid juga
merupakan imunosupresan kuat. Digunakan untuk mencegah penolakan transplantasi organ dan
pada dosis tinggi untuk mengatasi episode penolakan.
Deksametason digunakan bersama radioterapi di daerah rawan, misalnya otak dan
mediastinum untuk menekan udem akibat radioterapi. Dosis 4-6 mg tiap 6 jam dapat menekan

gejala neurologis pada metastasis ke otak dan penurunan dosis yang tiba-tiba akan menyebabkan
kambuhnya gejala. Efek serupa juga diperlihatkan oleh kortikosteroid lain dengan dosis yang
sesuai, misalnya prednison dengan dosis awal 60-100 mg yang kemudian diturunkan menjadi
20-40 mg/hari. Efek antitumor kortikosteroid juga jelas pada kanker payudara yang tergantung
hormon sehingga dapat menimbulkan regresi.
Siklosporin merupakan penghambat calcineurin, merupakan imunosupresan kuat. Obat
ini hampir tidak bersifat mielosupresif, tetapi sangat nefrotoksik. Manfaatnya sangat menonjol
dalam transplantasi organ atau jaringan yaitu untuk mencegah reaksi penolakan setelah
transplantasi sumsum tulang, ginjal, hati, jantung, pankreas, dan jantung-paru, serta untuk
profilaksis dan terapi penyakit graft-versus-host. Takrolimus juga merupakan penghambat
calcineurin. Walaupun tidak berhubungan secara kimia dengan siklosporin tapi memiliki
mekanisme kerja dan efek samping yang sama namun kasus neurotoksisitas dan nefrotoksisitas
akibat takrolimus lebih banyak; kardiomiopati juga pernah dilaporkan. Gangguan metabolisme
glukosa yang disebabkan oleh takrolimus lebih signifikan, hipertrikhosis lebih rendah dibanding
siklosporin.
Monografi:
DEKSAMETASON
Indikasi:
Leukemia limfositik akut dan kronis, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, karsinoma payudara
SIKLOSPORIN
Indikasi:
Lihat keterangan di atas dan lihat pada dosis; dermatitis atopik dan psoriasis; artritis rematoid.
Peringatan:
Pantau fungsi ginjal, penurunan dosis pada pasien transplantasi dapat dilakukan dengan
meningkatnya kadar kreatinin serum dan urea (tidak ada reaksi penolakan pada cangkok ginjal)
atau dihentikan pada pasien non transplantasi; pantau fungsi hati (penyesuaian dosis berdasarkan
pada bilirubin dan enzim hati mungkin diperlukan); pantau tekanan darah?entikan jika
peningkatan tekanan darah tidak dapat dikontrol dengan antihipertensi; hiperurisemia; pantau
kadar natrium serum terutama pada disfungsi ginjal (risiko hiperkalemia); pantau kadar
magnesium serum; lakukan pengukuran kadar lemak darah sebelum pengobatan dan sesudah
pengobatan; kehamilan (lampiran 2) dan menyusui (lampiran 4), porfiria, penggunaan bersama
takrolimus spesifik dikontraindikasikan dan di luar penggunaannya oleh dokter spesialis, pada
pasien yang melakukan transplantasi sebaiknya hindari imunosupresan lain kecuali
kortikosteroid (meningkatkan risiko infeksi dan limpoma).Peringatan tambahan pada sindroma
nefrotik, dikontraindikasikan pada hipertensi yang tidak terkontrol, infeksi tidak terkontrol, dan
keganasan. Turunkan dosis sebanyak 25?0% jika serum kreatinin >30% dari batas maksimum
pada lebih dari sekali pengukuran; pada gangguan fungsi ginjal, dosis awal 2,5 mg/kg bb per

hari; pada penggunaan jangka panjang, lakukan biopsi ginjal setiap tahunnya.Peringatan
tambahan: dermatitis atopik dan psoriasis; artritis rematoid.
Efek Samping:
Dosis tergantung pada peningkatan kadar serum kreatinin dan urea selama beberapa minggu
pertama (lihat pada peringatan), meskipun sangat jarang, pada penggunaan jangka panjang dapat
terjadi perubahan struktur ginjal; juga terjadi hipertrikosis, sakit kepala, tremor, hipertensi
(terutama pada pasien transplantasi jantung), disfungsi hati, lelah, hipertropi gingival, gangguan
saluran cerna, rasa seperti terbakar pada tangan dan kaki (biasanya selama minggu pertama);
kadang terjadi ruam kulit (kemungkinan alergi), anemia ringan, hiperkalemia, hiperurisemia,
gout, hipomagnesemia, hiperkolesterolemia, hiperglikemia, peningkatan berat badan, udem,
pankreatitis, neuropati, bingung, paraestesia, kejang, hipertension intrakranial jinak (dihentikan),
dismenorea atau amenorea, mialgia, kelemahan otot, kram, miopati, ginekomastia, (pada pasien
yang menerima spironolakton secara bersamaan), kolitis dan kebutaan kortikal juga dilaporkan;
trombositopenia (terkadang dengan sindrom uremi hemolitik); kejadian kelainan malignansi dan
lipoproliveratif yang mirip dengan terapi imunosupresif yang lain.
Dosis:
transplantasi organ, digunakan sendiri, dewasa dan anak?nak lebih dari 3 bulan, 3? mg/kg bb per
hari melalui infusi intravena selama 2? jam dari sehari sebelum transplantasi hingga 2 minggu
setelah operasi (atau 12,5?5 mg/kg bb per hari melalui oral). Kemudian 12,5 mg/kg bb per hari
melalui oral selama 3? bulan kemudian hentikan (dapat digunakan hingga 1 tahun setelah
transplantasi).Sindroma nefrotik, melalui oral 5 mg/kg bb per hari dalam 2 dosis terbagi; anak?
nak 6 mg/kg bb per hari dalam 2 dosis terbagi; pengobatan untuk perawatan, dosis diturunkan
hingga ke dosis efektif terkecil, disesuaikan menurut pengukuran proteinuria dan serum
kreatinin; hentikan pengobatan setelah 3 bulan jika tidak ada peningkatan dalam
glomerulonefritis atau glomerulonekrosis (setelah 6 bulan dalam membran glomerulonefritis).
TAKROLIMUS
Indikasi:
digunakan bersama dengan kortikosteroid adrenal dan mikofenolat mofetil pada pencegahan
penolakan organ pada penerima transplantasi hati, ginjal dan jantung, pengobatan allograft
rejection hati, ginjal dan jantung yang gagal diatasi dengan imunosupresan lain.
Peringatan:
penggunaan sediaan lepas lambat pada anak-anak di bawah usia 18 tahun, dimonitor tekanan
darah, EKG (terutama terkait kardiopati), neurologi dan status penglihatan, kadar gula darah
puasa, elektrolit (khususnya kalium), uji fungsi hati dan ginjal, parameter hematologi, nilai
koagulasi, protein plasma, pengurangan dosis pada gangguan fungsi hati berat, penggantian antar
produk mengandung takrolimus harus hati-hati dan memerlukan pemantauan terapetik karena

telah dilaporkan adanya toksisitas dan penolakan organ transplantasi, penurunan kadar
takrolimus secara signifikan pada kondisi diare
Interaksi:
lampiran 1 (takrolimus), St Johns Wort menyebabkan penurunan kadar takrolimus, inhibitor
CYP3A4 meningkatkan kadar takrolimus, takrolimus terikat kuat pada protein plasma sehingga
akan terjadi interaksi pada penggunaan bersamaan dengan obat lain yang memiliki afinitas tinggi
terhadap protein plasma seperti AINS, antikoagulan oral, antidiabetes oral, meningkatkan kadar
sistemik takrolimus pada penggunaan bersamaan dengan obat prokinetik seperti metoklopramid,
cisaprid, simetidin dan antasida.
Kontraindikasi:
hipersensitivitas terhadap makrolida, penggunaan bersamaan dengan siklosporin, asupan kalium
tinggi atau penggunaan diuretik hemat kalium, pemberian vaksin live-attenuated, kehamilan,
menyusui
Efek Samping:
sangat umum: diabetes melitus, hiperglikemia, hiperkalemia, hipertensi; umum: gangguan arteri
koroner iskemik, takikardia, sakit kepala, anemia, trombositopenia, leukopenia, abnormalitas
pada sel darah merah, leukositosis, ruam, pruritus, alopesia, jerawat, peningkatan produksi
keringat, artralgia, nyeri punggung, kram otot, nyeri anggota tubuh, anoreksia, metabolik
asidosis, ketidaknormalan elektrolit, hiponatremia, kelebihan cairan, hiperurikemia,
hipomagnesemia, hipokalemia, hipokalsemia, penurunan nafsu makan, hiperkolesterolemia,
hiperlipidemia, hipertrigliseridemia, hipofosfatemia, primary graft dysfunction, tromboembolik
dan kejadian iskemik, hipotensi, hemoragik, gangguan pembuluh darah perifer, demam, nyeri
dan rasa tidak nyaman, astenia, udem; tidak umum: gagal jantung, aritmia ventrikel, cardiac
arrest, aritmia supraventrikel, kardiomiopati, abnormal EKG, hipertropi ventrikel, palpitasi,
abnormal detak jantung, dermatitis, fotosensitivitas, gangguan sendi, dehidrasi, hipoglikemia,
hipoproteinemia, hiperfosfatemia, venous thrombosis deep limb, syok, infark; jarang: efusi
perikardial, nekrolisis epidermal toksik, hirsutisme; sangat jarang: abnormalitas pada
ekokardiogram, sindrom Steven Johnson
Dosis:
imunosupresi primerpasien dewasa, transplantasi hati: dosis oral awal 0,10,20 mg/kg bb/hari
harus diberikan dalam dua dosis terbagi, dosis oral awal telah diberikan dalam rentang 0,020,30
mg/kg bb/hari, imunosupresi primerpasien dewasa, transplantasi ginjal: dosis oral awal 0,150,30 mg/kg bb/hari harus diberikan dalam dua dosis terbagi (pagi dan sore), imunosupresi
primeranak-anak penerima transplan hati atau ginjal: pengalaman pemberian oral awal pada
pasien anak-anak terbatas, dosis oral awal 0,30 mg/kg bb/hari harus diberikan dalam dua dosis
terbagi (mis. pagi dan sore), pada semua pasien anak-anak (kecuali yang memiliki kerusakan
fungsi hati dan ginjal) direkomendasikan untuk diberikan satu setengah hingga dua kali lipat
dosis dewasa.

Dosis sediaan lepas lambat: pencegahan penolakan pada transplantasi ginjal: 0.20-0.30 mg/kg
bb/hari diberikan satu kali sehari pada pagi hari, pemberian dimulai 24 jam setelah operasi,
pencegahan penolakan pada transplantasi hati: 0.10-0.20 mg/kg bb/hari diberikan satu kali sehari
pada pagi hari, pemberian dimulai 12-18 jam setelah selesai operasi, penggantian terapi dari
sediaan kapsul biasa ke lepas lambat: pemberian dari dua kali sehari menjadi satu kali sehari
dengan dosis yang tidak berubah, penggantian terapi dari siklosporin menjadi takrolimus:
pemberian bersamaan tidak direkomendasikan, pemberian takrolimus dimulai 12-24 jam setelah
penghentian siklosporin, terapi penolakan transplantasi hati atau ginjal: untuk mengganti dari
imonosupresan lain dosis awal takrolimus diberikan sebagaimana dosis yang direkomendasikan
untuk pencegahan penolakan tranplantasi hati ginjal atau hati.

DEFINISI
Vitamin
Senyawa organik yang diperlukan tubuh dalam jumlah kecil untuk mempertahankan
kesehatan dan seringkali bekerja sebagai kofaktor untuk enzim metabolisme.
Mineral
Senyawa anorganik yang merupakan bagian penting dari enzim, mengatur berbagai fungsi
fisiologis dan dibutuhkan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan.
VITAMIN
Penggolongan :
Larut Lemak
A, D, E, K
Tersimpan dalam lemak
Potensi toksik

Larut Air
B-COMPLEX & C
Disimpan dalam tubuh hanya dalam jumlah terbatas dan sisanya di buang.
Konsumsi rutin
Mineral
Jumlah relatif banyak
Ca, Mg, K, Na, Cl, fosfor,
Unsur hara ( flour, Zn, Se, I, Fe, Cr, Cobalt, Cu, Mn, Co).
AKG
Kecukupan rata-rata zat gizi setiap hari bagi hampir semua orang menurut golongan umur, jenis
kelamin, ukuran tubuh dan aktivitas untuk mencapai derajat kesehatan yang normal.
Jenis dan Sumber Vitamin
Jenis Vitamin dan Sumber Vitamin

Vitamin berdasarkan kelarutannya di dalam air :


- Vitamin yang larut di dalam air : Vitamin B dan Vitamin C
- Vitamin yang tidak larut di dalam air : Vitamin A, D, E, dan K atau disingkat Vitamin ADEK.

1. Vitamin A

* Sumber vitamin A = susu, ikan, sayuran berwarna hijau dan kuning, hati, buah-buahan warna
merah dan kuning (cabe merah, wortel, pisang, pepaya, dan lain-lain)
* Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin A = rabun senja, katarak, infeksi saluran
pernapasan, menurunnya daya tahan tubuh, kulit yang tidak sehat, dan lain-lain.
Pengertian Vitamin A Vitamin A merupakan vitamin yang larut dalam lemak, dan
merupakan vitamin yang esensial untuk pemeliharaan kesehatan dan kelangsungan hidup
(Almatsier, 2003, hlm. 153). Vitamin A adalah suatu zat gizi yang sangat penting bagi manusia,
karena zat gizi ini tidak dibuat oleh tubuh, jadi harus dipenuhi dari luar tubuh berupa makanan
yang dikonsumsi ( Hassan, 2002, hlm. 344 ). Vitamin A juga merupakan vitamin yang berfungsi
bagi pertumbuhan sel sel epitel, dan sebagai pengatur kepekaan rangsang sinar pada saraf dan
mata (Notoatmodjo, 2003, hlm. 196).
Sumber-Sumber Vitamin A Vitamin A yaitu karoten terdapat dalam berbagai macam
makanan. Daging merah hati, susu, full cream, keju, mentega merupakan makanan yang tinggi
retinol. Sayur dan buah-buahan berwarna hijau dan kuning seperti wortel, sayur hijau seperti
daun singkong, daun kacang, kangkung, bayam, kacang panjang, buncis, tomat, jagung kuning,
pepaya, mangga, nangka masak, jeruk, buah peach, apricot dan minyak sayur, yaitu minyak
kelapa sawit yang berwarna merah merupakan makanan yang tinggi karoten ( Hidayat, 2005,
hlm. 91 ).
2. Vitamin B
Vitamin B 12, vitamin B12 atau vitamin B-12, juga disebut cobalamin, merupakan air yang
larut vitamin dengan peran penting dalam fungsi normal dari otak dan sistem saraf , dan untuk
pembentukan darah . Ini adalah salah satu dari delapan vitamin B . Hal ini biasanya terlibat
dalam metabolisme setiap sel tubuh manusia, terutama yang mempengaruhi DNA sintesis dan
peraturan, tetapi juga asam lemak sintesis dan produksi energi. Sebagai vitamin terbesar dan
paling struktural rumit, bisa dihasilkan industri hanya melalui fermentasi bakteri-sintesis.
Vitamin B 12 terdiri dari kelas yang berhubungan dengan senyawa kimia ( vitamers ), yang
semuanya memiliki aktivitas vitamin. Ini berisi elemen biokimia jarang kobalt . Biosintesis
struktur dasar vitamin di alam hanya dilakukan dengan organisme sederhana seperti beberapa

bakteri dan ganggang, tetapi konversi antara bentuk-bentuk yang berbeda dari vitamin yang
dapat dicapai dalam tubuh manusia. Bentuk sintetis umum dari vitamin, cyanocobalamin , tidak
terjadi di alam, tetapi banyak digunakan dalam farmasi dan suplemen, dan sebagai aditif
makanan, karena stabilitas dan biaya yang lebih rendah. Di dalam tubuh tersebut akan dikonversi
ke itu, bentuk fisiologis methylcobalamin dan adenosylcobalamin , meninggalkan sianida ,
meskipun dalam konsentrasi yang minimal. Baru-baru ini, hydroxocobalamin (bentuk yang
dihasilkan oleh bakteri), methylcobalamin, dan adenosylcobalamin juga dapat ditemukan dalam
produk farmakologi lebih mahal dan suplemen makanan. Utilitas tambahan dari saat ini
diperdebatkan.
a. Vitamin B1

* Sumber yang mengandung vitamin B1 = gandum, daging, susu, kacang hijau, ragi, beras,
telur, dan sebagainya
* Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B1 = kulit kering/kusik/busik, kulit
bersisik, daya tahan tubuh berkurang.
b. Vitamin B2
* Sumber yang mengandung vitamin B2 = sayur-sayuran segar, kacang kedelai, kuning telur,
susu, dan banyak lagi lainnya.
* Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B2 = turunnya daya tahan tubuh,
kulit kering bersisik, mulut kering, bibir pecah-pecah, sariawan, dan sebagainya.
c. Vitamin B3
* Sumber yang mengandung vitamin B3 = buah-buahan, gandum, ragi, hati, ikan, ginjal,
kentang manis, daging unggas dan sebagainya
* Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B3 = terganggunya system
pencernaan, otot mudah keram dan kejang, insomnia, bedan lemas, mudah muntah dan
mual-mual, dan lain-lain.

d. Vitamin B5
* Sumber yang mengandung vitamin B5 = daging, susu, sayur mayur hijau, ginjal, hati,
kacang ijo, dan banyak lagi yang lain.
* Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B5 = otot mudah menjadi kram, sulit
tidur, kulit pecah-pecah dan bersisik, dan lain-lain.

e. Vitamin B6
* Sumber yang mengandung vitamin B6 = kacang-kacangan, jagung, beras, hati, ikan, beras
tumbuk, ragi, daging, dan lain-lain.
* Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B6 = pelagra alias kulit pecah
-pecah, keram pada otot, insomnia atau sulit tidur, dan banyak lagi lainnya.

f. Vitamin B12
* Sumber yang mengandung vitamin B12 = telur, hati, daging, dan lainnya
* Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B12 = kurang darah atau anemia,
gampang capek/lelah/lesu/lemes/lemas, penyakit pada kulit, dan sebagainya.
3. Vitamin C

* Sumber yang mengandung vitamin C = jambu klutuk atau jambu batu, jeruk, tomat, nanas,
sayur segar, dan lain sebagainya
* Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin C = mudah infeksi pada luka, gusi
berdarah, rasa nyeri pada persendian, dan lain-lain.

4. Vitamin D

* Sumber yang mengandung vitamin D = minyak ikan, susu, telur, keju, dan lain-lain
* Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin D = gigi akan lebih mudah rusak, otok
bisa mengalami kejang-kejang, pertumbuhan tulang tidak normal yang biasanya betis kaki
akan membentuk huruf O atau X.

5. Vitamin E

* Sumber yang mengandung vitamin E = ikan, ayam, kuning telur, kecambah, ragi, minyak
tumbuh-tumbuhan, havermut, dsb
* Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin E = bisa mandul baik pria maupun
wanita, gangguan syaraf dan otot, dll
6. Vitamin K

* Sumber yang mengandung vitamin K = susu, kuning telur, sayuran segar, dkk
* Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin K = darah sulit membeku bila
terluka/berdarah/luka/pendarahan, pendarahan di dalam tubuh, dan sebagainya

OBAT HEMATOLOGI

Hematologi adalah ilmu yang mempelajari tentang marfologi darah dan jaringan
pembentuk darah. Salah satu contoh penyakit yang berhubungan dengan kekurangan darah
adalah Anemia. Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitungan sel darah merah dan
kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal.
A.

Pengertian

Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah,
elemen tak adekuat atau kurangnya nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah,
yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah (Doenges, 1999).
Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitungan sel darah merah dan kadar
hemoglobin dan hematokrit di bawah normal (Smeltzer, 2002 : 935). Anemia adalah
berkurangnya hingga di bawah nilai normal sel darah merah, kualitas hemoglobin dan volume
packed red bloods cells (hematokrit) per 100 ml darah (Price, 2006 : 256). Dengan demikian
anemia bukan merupakan suatu diagnosis atau penyakit, melainkan merupakan pencerminan
keadaan suatu penyakit atau gangguan fungsi tubuh dan perubahan patotisiologis yang mendasar
yang diuraikan melalui anemnesis yang seksama, pemeriksaan fisik dan informasi laboratorium.
Anemia terjadi bila konsentrasi Hb dalam darah menurun di bawah nilai normal. Batas bawah
dari nilai normal untuk wanita dan laki laki dewasa berbeda yaitu :
1.

Untuk laki laki dewasa : 13,0 gr / dl.

2.

Untuk wanita dewasa : 11,5 gr / dl.

Sel darah merah ( eritrosit ) dibuat dalam sumsum tulang tulang pipih dan pembentukan
eritrosit ini diperlukan zat besi ( fero ) untuk pembentukan warna sel darah merah ( hemopoese ),
sedang asam folat dan vitamin B12 untuk pembentukan sel darah merah ( eritropoese ).
B.

Etiologi

Penyebab tersering dari anemia adalah kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk sintesis
eritrosit, antara lain besi, vitamin B12 dan asam folat. Selebihnya merupakan akibat dari
beragam kondisi seperti perdarahan, kelainan genetik, penyakit kronik, keracunan obat, dan
sebagainya.

C.

Patofisiologi

Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sum-sum tulang atau kehilangan sel
darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sum-sum tulang dapt terjadi akibat

kekurangan nutrisi, pajanan toksik, inuasi tumor, atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak
diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi) pada kasus
yang disebut terakhir, masalah dapat akibat efek sel darah merah yang tidak sesuai dengan
ketahanan sel darah merah normal atau akibat beberapa factor diluar sel darah merah yang
menyebabkan destruksi sel darah merah.

D. Manifestasi klinis
Gejala klinis yang muncul merefleksikan gangguan fungsi dari berbagai sistem dalam
tubuh antara lain penurunan kinerja fisik, gangguan neurologik (syaraf) yang dimanifestasikan
dalam perubahan perilaku, anorexia (badan kurus kerempeng), pica, serta perkembangan kognitif
yang abnormal pada anak. Sering pula terjadi abnormalitas pertumbuhan, gangguan fungsi epitel,
dan berkurangnya keasaman lambung. Cara mudah mengenal anemia dengan 5L, yakni lemah,
letih, lesu, lelah, lalai. Kalau muncul 5 gejala ini, bisa dipastikan seseorang terkena anemia.
Gejala lain adalah munculnya sklera (warna pucat pada bagian kelopak mata bawah).
Anemia bisa menyebabkan kelelahan, kelemahan, kurang tenaga dan kepala terasa melayang.
Jika anemia bertambah berat, bisa menyebabkan stroke atau serangan jantung(Sjaifoellah, 1998).
E. Komplikasi
Anemia juga menyebabkan daya tahan tubuh berkurang. Akibatnya, penderita anemia
akan mudah terkena infeksi. Gampang batuk-pilek, gampang flu, atau gampang terkena infeksi
saluran napas, jantung juga menjadi gampang lelah, karena harus memompa darah lebih kuat.
Pada kasus ibu hamil dengan anemia, jika lambat ditangani dan berkelanjutan dapat
menyebabkan kematian, dan berisiko bagi janin. Selain bayi lahir dengan berat badan rendah,
anemia bisa juga mengganggu perkembangan organ-organ tubuh, termasuk otak (Sjaifoellah,
1998).

F. Pemeriksaan penunjang
Jumlah darah lengkap (JDL) : hemoglobin dan hemalokrit menurun.
Jumlah eritrosit : menurun (AP), menurun berat (aplastik); MCV (molume korpuskular rerata)
dan MCH (hemoglobin korpuskular rerata) menurun dan mikrositik dengan eritrosit hipokronik
(DB), peningkatan (AP). Pansitopenia (aplastik). Jumlah retikulosit : bervariasi, misal : menurun
(AP), meningkat (respons sumsum tulang terhadap kehilangan darah/hemolisis).
Pewarna sel darah merah : mendeteksi perubahan warna dan bentuk (dapat mengindikasikan tipe
khusus anemia). LED : Peningkatan menunjukkan adanya reaksi inflamasi, misal : peningkatan
kerusakan sel darah merah : atau penyakit malignasi. Masa hidup sel darah merah : berguna

dalam membedakan diagnosa anemia, misal : pada tipe anemia tertentu, sel darah merah
mempunyai waktu hidup lebih pendek. Tes kerapuhan eritrosit : menurun (DB).
SDP : jumlah sel total sama dengan sel darah merah (diferensial) mungkin meningkat (hemolitik)
atau menurun (aplastik). Jumlah trombosit : menurun caplastik; meningkat (DB); normal atau
tinggi (hemolitik) Hemoglobin elektroforesis : mengidentifikasi tipe struktur hemoglobin.
Bilirubin serum (tak terkonjugasi): meningkat (AP, hemolitik). Folat serum dan vitamin B12
membantu mendiagnosa anemia sehubungan dengan defisiensi masukan/absorpsi Besi serum :
tak ada (DB); tinggi (hemolitik) TBC serum : meningkat (DB) Feritin serum : meningkat (DB)
Masa perdarahan : memanjang (aplastik) LDH serum : menurun (DB) Tes schilling : penurunan
eksresi vitamin B12 urine (AP) Guaiak : mungkin positif untuk darah pada urine, feses, dan isi
gaster, menunjukkan perdarahan akut / kronis (DB). Analisa gaster : penurunan sekresi dengan
peningkatan pH dan tak adanya asam hidroklorik bebas (AP). Aspirasi sumsum
tulang/pemeriksaan/biopsi : sel mungkin tampak berubah dalam jumlah, ukuran, dan bentuk,
membentuk, membedakan tipe anemia, misal: peningkatan megaloblas (AP), lemak sumsum
dengan penurunan sel darah (aplastik). Pemeriksaan andoskopik dan radiografik : memeriksa sisi
perdarahan : perdarahan GI (Doenges, 1999).

G. Penatalaksanaan Medis Tindakan umum :


Penatalaksanaan anemia ditunjukan untuk mencari penyebab dan mengganti darah yang
hilang.
1. Transpalasi sel darah merah.
2. Antibiotik diberikan untuk mencegah infeksi.
3. Suplemen asam folat dapat merangsang pembentukan sel darah merah.
4. Menghindari situasi kekurangan oksigen atau aktivitas yang membutuhkan oksigen
5. Obati penyebab perdarahan abnormal bila ada.
6. Diet kaya besi yang mengandung daging dan sayuran hijau.
7. Pengobatan (untuk pengobatan tergantung dari penyebabnya )
Anemia ada beberapa jenis diantaranya :
1. Anemia Ferriprive

Disebabkan kekurangan besi disebut pula anemia primer. Pengobatan hanya dibenarkan
bila terdapat defisiensi besi. Karena bila seseorang tidak mengalami defisiensi besi dan
orang tersebut menjalani pengobatan atau terapi besi maka orang itu akan kelebihan besi
dapat memperberat siderosis jaringan. Contoh :
a. SULFAS FEROSUS
-

Efek samping : mual, rasa tidak enak di daerah epigastrium, konstipasi dan diare.

Dosis
: sulfas ferosus diberikan pada dosis 200 mg 3X sehari sampai
anemia terkoreksi dan cadangan besi terisi kembali.

b.

FERO SULFAT

Indikasi

: anemia defisiensi besi.

Peringatan

: kehamilan.

Efek samping : mual, rasa tidak enak di daerah epigastrium, konstipasi dan diare.

Dosis
3 X sehari.

Konseling
: penyerapannya paling baik ketika perut kosong tapi bisa juga
dimakan sesudah makan untuk mengurangi efek samping gastrointestinal.

c.

: Profilaksis, 1 tablet 200 mg / hari; Terapeutik, 1 tablet 200 mg 2

FERO FUMARAT

Indikasi

: anemia defisiensi besi

Peringatan

: kehamilan

Efek samping : mual, rasa tidak enak di daerah epigastrium, konstipasi dan diare.

Dosis
: 1 2 tablet 200 mg 3X sehari. Sirop, fero fumarat 140 mg ( besi 45
mg ) / 5 ml. Dosis 10 20 ml 2X sehari; BAYI PREMATUR 0, 6 2, 4 ml / kg /
hari. ANAK hingga 6 tahun 2, 5 5 ml 2X sehari.

d.
-

FERO GLUKONAT
Indikasi

: anemia defisiensi besi

Peringatan

Efek samping : mual, rasa tidak enak di daerah epigastrium, konstipasi dan diare.

Dosis
: Profilaksis, 2 tablet sehari sebelum makan; TERAPEUTIK 4 6
tablet sehari dalm dosis terbagi sebelum makan; ANAK 6 12 tahun, Profilaktik
dan Terapeutik, 1 3 tablet sehari sesuai dengan usia.

e.

2.

: kehamilan

SEDIAAN BESI PARENTERAL

Alasan yang tepat untuk pemberian besi secara parenteral adalah kegagalan terapi
oral karena penderita kurang kooperatif. Diberikan melalui Injeksi Intravena atau
Injeksi Intramuskular yang dalam.

Efek samping : rasa tidak enak di daerah epigastrium.

Dosis
:sesuai dengan berat badan dan kadar Hb masing masing pasien.
RUMUS = ( Hb normal Hb pasien ) x BB pasien x 2, 21 + 1000.

Anemia Megaloblaster
Disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 atau asam folat disebut pula anemia sekunder.
Disebabkan karena kekurangan vitamin B12. Contoh Obat :
a.

HIDROKSIKOBALAMIN

Indikasi
: anemia pernisiosa, sebab lain dari defisiensi vitamin B12, subcute
combined degeneration of the spinal cord.

Peringatan

Dosis
: dengan injeksi intramuskular, dosis awal 1 mg diulangi lima kali dengan
interval 2 3 hari; dosis pemeliharaan 1 mg setiap 3 bulan; ANAK dosis seperti pada
orang dewasa.

Catatan
: bila yang diresepkan atau diminta adalah injeksi vitamin B12, maka yang
diberikan adalah suntikan hidroksikobalamin.

b.

: tidak boleh diberikan sebelum diagnosis dipastikan.

SIANOKOBALAMIN

Indikasi
: anemia pernisiosa, sebab lain dari defisiensi vitamin B12, subcute
combined degenaration of the spinal cord.

Dosis
: oral, defisiensi vitamin B12 karena kekurangan gizi, 50 150 mcg atau
lebih diberikan diatara makan. ANAK 35 50 mcg dua kali sehari suntikan IM,
permulaan 1 mg diulangi 10 kali dengan interval 2 3 hari, dosis pemeliharaan 1 mg
setiap bulan.

c.

ASAM FOLAT

Indikasi

: kehamilan, antiepilepsi, nutrisi yang buruk.

Peringatan
: jangan diberikan secara tunggal untuk anemia pernisiosa Addison dan
penyakit defisiensi vitamin B12 lainnya karena dapat menimbulkan degenerasi majemuk
dari medula spinalis. Jangan digunakan untuk penyakit ganas kecuali bila anemia
megaloblastik karena defisiensi folat mrupakan komplikasi penting ( beberapa tumor
ganas adalah folate dependent ).

Dosis
: permulaan, 5 mg sehari untuk 4 bulan. Pemeliharaan, 5 mg setiap 1 7
hari tergantung penyakit dasarnya; ANAK sampai 1 tahun, 500 mcg / kg / hari.

3.

Anemia Sideroblastik
Ditandai dengan saturasi transferrin yang naik atau normal, eritrosit yang hipokromik dan
mikrositik, kenaikan besi dalam sumsum tulang dan gangguan pemakaian besi dan
manifestasi adanya cincin sideroblast. Disebabkan karena eritropoesis yang tidak efektif.
Beberapa penderita dapat membaik dengan Pyridoxine dosis besar ( 50 200 mg / hari )
atau Asam Folat 5 mg / hari. Obat yang digunakan :

a.
-

FILGASTRIM

Indikasi
: ( hanya digunakan oleh spesialis ) pengurangan masa neutropenia dan
febrile neutropenia pada kemoterapi sitotoksik keganasan non myeloid; pengurangan
masa neutropenia ( dan sequalae nya ) dalam terapi myeloablasi yang dilanjutkan
dengan transplantasi sumsum tulang; mobilisasi sel progenitor darah tepi untuk dipanen

dan selanjutnya digunakan dalam infus autolog; neutropenia idiopatik dan adanya riwayat
infeksi berat berulang; penyembuhan neutropenia pada infeksi HIV lanjut agar dapat
melakukan pengobatan mielosupressif atau antivirus terjadwal.
-

Peringatan
: tumor berciri mieloid kondisi prakeganasan mieloid; prekusor myeloid
berkurang; monitor hitung leukosit; kehamilan; laktasi.

Kontraindikasi : neutropenia kongenital yang berat dengan sitogenik abnormal.

Efek samping : nyeri muskoskeletal; hipotensi selintas; gangguan enzim hati dan asam
urat serum; trombositopenia; disuria; reaksi alergi; haematuria; sakit kepala; diare.

Dosis
: neutropenia sitotoksik, lebih baik diberi secara injeksi subkutan atau
infus subkutan atau infus intravena ( dalam 30 menit ). DEWASA dan ANAK, 500.000
UI / kg / hari dimulai tidak kurang dari 24 jam setelah kemoterapi sitotosik, dilanjutkan
sampai hitung neutrofil dalam batas normal, biasanya hingga 14 hari.

b.

LENOGASTRIM

Indikasi
: ( hanya untuk digunakan oleh spesialis ) pengurangan lamanya
neutropenia dan komplikasi yang berhubungan sesudah transplantasi sumsum tulang
untuk keganasan non mieloid atau menyusul pngobatan kemoterapi sitotoksik untuk
insidens
febrile
neutropenia
yang
tinggi.
PeringAtan dan efek samping sama dengan Filgrastim.

Dosis
: menyusul transplantasi sumsum tulang, secara infus IV, DEWASA dan
ANAK lebih dari 2 tahun 19, 2 juta UI / m2 tiap hari dimulai pada hari selesainya
transplantasi, dilanjutkan sampai hitung neutrofil stabil dalam batas yang bisa diterima
( maksimum 28 hari ).

c.

MOLGRAMOSTIM

Peringatan
tahun.

: kehamilan, laktasi, belum dianjurkan untuk penderita usiadi bawah 18

Kontraindikasi : keganasan myeloid

Efek samping : mual, muntah, diare, anoreksia, dispneu, astenia, lelah, demam, rigor,
nyeri muskoskeletal, nyeri abdominal stomatitis, pusing mialgia.

Dosis
: kemoterapi sitotoksik, secara injeksi subkutan 60.000 110.000 UI / kg,
dimulai 24 jam setelah dosis terakhir kemoterapi, dilanjutkan untuk 7 10 hari.
Tranplantasi sumsum tulang, secara infus IV 110.000 UI / kg / hari, dimulai pada hari
setelah transplantasi, dilanjutkan sampai hitung neutrofil absolut dalam batasan yang
dikehendaki maksimum lama pengobatan 30 hari. Sebagai ajuvan pada pengobatan
gansiklovir, secara injeksi subkutan 60.000 UI / kg untuk lima hari, kemudian diatur
untuk menjaga hitung neutrofil absolut yang dikehendaki dan hitung sel darah putih.

A. TES FORMATIF
1. Defenisi obat Siklosporin yaitu :
Jawaban :
Penghambat calcineurin, merupakan imunosupresan kuat. Obat ini hampir tidak bersifat
mielosupresif, tetapi sangat nefrotoksik. Manfaatnya sangat menonjol dalam transplantasi
organ atau jaringan yaitu untuk mencegah reaksi penolakan setelah transplantasi sumsum
tulang, ginjal, hati, jantung, pankreas, dan jantung-paru, serta untuk profilaksis dan terapi
penyakit graft-versus-host
2. Indikasi obat takrolimus yaitu :
Jawaban :
Digunakan bersama dengan kortikosteroid adrenal dan mikofenolat mofetil pada
pencegahan penolakan organ pada penerima transplantasi hati, ginjal dan jantung,
pengobatan allograft rejection hati, ginjal dan jantung yang gagal diatasi dengan
imunosupresan lain.

3. Interaksi obat takrolimus yaitu


Jawaban :
St Johns Wort menyebabkan penurunan kadar takrolimus, inhibitor CYP3A4
meningkatkan kadar takrolimus, takrolimus terikat kuat pada protein plasma sehingga
akan terjadi interaksi pada penggunaan bersamaan dengan obat lain yang memiliki
afinitas tinggi terhadap protein plasma seperti AINS, antikoagulan oral, antidiabetes oral,

meningkatkan kadar sistemik takrolimus pada penggunaan bersamaan dengan obat


prokinetik seperti metoklopramid, cisaprid, simetidin dan antasida.
4. Defenisi vitamin dan mineral yaitu :
Jawaban :
Senyawa organik yang diperlukan tubuh dalam jumlah kecil untuk mempertahankan
kesehatan dan seringkali bekerja sebagai kofaktor untuk enzim metabolisme.Senyawa
anorganik yang merupakan bagian penting dari enzim, mengatur berbagai fungsi
fisiologis dan dibutuhkan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan.
5. Vitamin berdasarkan kelarutannya di dalam air yaitu :
Jawaban :
- Vitamin yang larut di dalam air : Vitamin B dan Vitamin C
- Vitamin yang tidak larut di dalam air : Vitamin A, D, E, dan K atau disingkat Vitamin
ADEK.
4. Jelaskan vitamin D yaitu :
Jawaban:
- Sumber yang mengandung vitamin D = minyak ikan, susu, telur, keju, dan lain-lain
- Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin D = gigi akan lebih mudah rusak,
otot bisa mengalami kejang-kejang, pertumbuhan tulang tidak normal yang biasanya
betis kaki akan membentuk huruf O atau X.
7. Defenisi hematologi yaitu :
Jawaban :
Hematologi adalah ilmu yang mempelajari tentang marfologi darah dan jaringan
pembentuk darah. Salah satu contoh penyakit yang berhubungan dengan kekurangan
darah adalah Anemia.

8. Jelaskan tentang sulphas ferosus yaitu :


Jawaban :
- Efek samping : mual, rasa tidak enak di daerah epigastrium, konstipasi dan diare.
- Dosis

: sulfas ferosus diberikan pada dosis 200 mg 3X sehari sampai anemia


terkoreksi dan cadangan besi terisi kembali.

Umpan balik
Apabila mahasiswa dapat menjawab 7 dari 10 soal maka mahasiswa akan dengan mudah
mengerjakan soal UAS yang tekait dengan konsep dasar keperawatan gawat darurat

DAFTAR PUSTAKA

Arien et. Al,1986, Pengantar Toksikologi Umum, diterjemahkan oleh Watimena dkk,
Gama Press,

Brunner dan Suddarth. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8. Penerbit
Buku Kedokteran 2001

Gerhard, V.H. (2002). Drug Discovery and Evaluation. ed.II. Springer-Verlag


Berlin Heidelberg New York. Hal: 878
Gilman, Goodman. (2007). Dasar Farmakologi Terap. Vol.1. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Hal:126-127
Craig, C.R., (Editor), 1990, Modern Pharmacology, 4th. Ed., Liyye Brown Co., New
York
Dipama, J.R., (Editor), 1994, Basic Pharmacology in Medicine, 4th. Ed., Medicinal
Surv.Inc., Philadelphia.
Katzung, B.B., 2004, Basic and Clinical Pharmacology, 9th. Ed., McGraw-Hill.Inc.,
London
Klaassen, C. D, 2002, Cassaret and Douls Toxicology, Mc-Graw Hill, New York
Laurence, L.B., (Editor), 2005, Goodman and Gilmans The Pharmacological Basis of
Theurapeutics, 11th. Ed., McGraw Hill, New York.
Niesink, R.J.M., de Vries, J., and Hollinger , M.A., Toxicology, Principles and
Applications, CRC Press. Inc., New York.
Sulistia, Gan Gunawan. Farmakologi dan Terapi. Ed.5. 2009. Jakarta: FKUI
Niesink, R.J.M., de Vries, J., and Hollinger , M.A., Toxicology, Principles and
Applications, CRC Press. Inc., New York.
Sulistia, Gan Gunawan. Farmakologi dan Terapi. Ed.5. 2009. Jakarta: FKUI

UNIT 5

PRINSIP PEMBERIAN OBAT N

PASIEN S

100 Menit

A. PENGANTAR
Salah satu tugas terpenting seorang perawat adalah memberi obat yang aman dan akurat
kepada klien. Obat merupakan alat utama terapi untuk mengobati klien yang memiliki masalah.
Obat bekerja menghasilkan efek terapeutik yang bermanfaat. Walaupun obat menguntungkan
klien dalam banyak hal, beberapa obat dapat menimbulkan efek samping yang serius atau
berpotensi menimbulkan efek yang berbahaya bila kita memberikan obat tersebut tidak sesuai
dengan anjuran yang sebenarnya.
Seorang perawat juga memiliki tanggung jawab dalam memahami kerja obat dan efek
samping yang ditimbulkan oleh obat yang telah diberikan, memberikan obat dengan tepat,
memantau respon klien, dan membantu klien untuk menggunakannya dengan benar dan
berdasarkan pengetahuan. Dengan membaca materi berikut dan mengamati gambar, serta
mengerjakan latihan soal , diharapkan anda memahami prinsip pemberian obat.
TUJUAN

TUJUAN PEMBELAJARAN
Adapun kompetensi yang diharapkan setelah mempelajari modul ini mahasiswa mampu
menjelaskan prinsip pemberian obat yang meliputi:
1.
2.
3.
4.
5.

B.

Mampu menjelaskan Pentingnya obat dalam keperwatan


Mampu menjelaskan Standar reaksi obat
Mampu menjelaskan Faktor yang mempengaruhi reaksi obat
Mampu menjelaskan Masalah dalam pemberian obat dan intervensi dalam keperawatan
Mampu menjelaskan Perhitungan obat

BAHAN BACAAN

A. Pentingnya Obat dalam Keperawatan

Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk
mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka
penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan
kontrasepsi, untuk manusia (UU No. 36 Thn 2009). Dalam dunia kesehatan khususnya
dalam dunia keperawatan, obat sudah menjadi salah satu komponen yang umum ditemui
sehari hari serta telah menjadi bagian penting dalam melakukan proses keperawatan.
Seorang perawat yang akan bekerja secara langsung dalam pemenuhan asuhan
keperawatan sangat membutuhkan keterampilan dalam tindakan medis berupa pengobatan
sehingga tidak menimbulkan berbagai macam kesalahan seperti dugaan dugaan
maalpraktik dan sebagainya, maka dari itu seorang perawatn selain harus mengetahui
pengetahuan serta tehnik pemberian obat dengan baik, seorang perawat juga harus
memahami betul mengenai tahapan proses keperawatan dengan baik pula.
Perawat bertanggung jawab dalam pemberian obat obatan yang aman .Perawat harus
mengetahui semua komponen dari perintah pemberian obat dan mempertanyakan perintah
tersebut jika tidak lengkap atau tidak jelas atau dosis yang diberikan di luar batas yang
direkomendasikan.
Sebelum memberikan obat kepada pasien, ada beberapa persyaratan yang perlu
diperhatikan untuk menjamin keamanan dalam pemberian obat, di antaranya:
1.

Tepat Obat
Sebelum mempersiapkan obat ke tempatnya petugas medis harus memerhatikan
kebenaran obat sebanyak tiga kali, yakni: ketika memindahkan obat dari tempat
penyimpanan obat, saat obat diprogramkan, dan saat mengembalikan obat ketempat
penyimpanan.

2.

Tepat Dosis
Untuk menghindari kesalahan dalam pemberian obat, maka penentuan dosis harus
diperhatikan dengan menggunakan alat standar seperti obat cair harus dilengkapi alat

tetes, gelas ukur, spuit atau sendok khusus; alat untukmembelah tablet; dan lainlain.Dengan demikan, penghityungan dosis benar untuk diberikan ke pasien.
3.

Tepat Pasien
Obat yang akan diberikan hendaknya benar pada pasien yang diprogramkan. Hal ini
dilakukan dengan mengidentifikasi kebenaran obat, yaitu mencocokan nama, nomor
regisyter, alamat, dan program pengobatan pada pasien.

4.

Tepat Jalur Pemberian


Kesalahan rute pemberian dapat menimbulkan sistemik yang fatal pada pasien. Untuk itu,
cara pemberiannya adalah dengan melihat cara pemberian/jalur obat pada label

5.

Tepat Waktu
Pemberian harus benar-benar sesuai dengan waktu yang diprogramkan, karena
berhubungan dngan kerja obat yang dapat menimbulkan efek terapi dari obat.

B. Strandar dan Reaksi Obat


1. Standar Obat
Obat merupakan subtansi asing yang dimasukan ke dalam tubuh manusia guna untuk
menimbulkan atau menghasilkan efek efek pengobatan atau terapi.Dalam
penggunaanya, tentus aja oabt ini tidak boleh digunakan asal asalan apalagi jika
sampai digunakan karena berdasarkan insting belaka, hal hal tersebut tentu saja dapat
membahayakan. Maka dari itu sebelum pemberian obat dilakukan, alangkah lebih baik
jika kita mengetahui bagaimana standar obat yang baik, diantaranya :

2.

a.

Kemurnian, yaitu bahwa obat mengandungg unsure keaslian, tidak ada

b.
c.
d.
e.

percampuran.
Standar potensi yang baik.
Memiliki bioavailability yaitu keseimbangan setiap senyawa di dalam obat.
Adanya keamanan.
Efektivitas.

Reaksi Obat
Reaksi obat dapat dihitung dalam satuan waktu paruh, yakni suatu interval waktu yang
diperlukan dalam tubuh untuk proses eliminasi, sehingga terjadi pengurangan konsentrasi
setengah dari kadar puncak obat dalam tubuh.

C. Faktor yang Mempengaruhi Reaksi Obat


Untuk menghasilkan efek terapi yang baik, maka obat juga harus mengalami reaksi
yang baik pula, adapun beberapa faktor yang mempengaruhi reaksi obat di dalam tubuh
ialah sebagai berikut :
1.

Absobsi Obat
Absorbsi obat atau penyerapan zat aktif adalah masuknya molekul-molekul obat
kedalam tubuh.Sebelum obat diabsorpsi, terlebih dahulu obat itu larut dalam cairan
biologis.Kelarutan serta cepat-lambatnya melarut menentukan banyaknya obat
terabsorpsi.

2.

Distribusi Obat
Distribusi obat adalah transfer obat dari darah ke jaringan/organ lain. Permeabilitas
membran dan perfusi darah juga berperan di sini.Permeabilitas membran. Semakin
permeabel(menembus) suatu membran, semakin cepat kecepatan distribusinya. Perfusi
darah, yaitu berapa banyak darah yang mengalir pada organ/jaringan tersebut.Semakin
banyak darah yang mengalir pada tempat target, semakin cepat obat didistribusikan.

3.

Metabolisme Obat
Metabolisme obat adalah proses modifikasi biokimia senyawa obat oleh organisme
hidup, pada umumnya dilakukan melalui proses enzimatik. Proses metabolisme obat
merupakan salah satu hal penting dalam penentuan durasi dan intensitas khasiat
farmakologis obat.

4.

Eksresi Sisa
Setelah obat mengalami metabolisme atau pemecahan akan terdapat sisa zat yang tidak
dapat dipakai. Sisa zat ini tidak bereaksi kemudian keluar melalui ginjal dalam bentuk
urine, dari interstinal dalam bentuk feses dan dari paru-paru dalam bentuk udara.
Dalam beberapa sumber disebutkan pula bahwa reaksi obat tidak terjadi sama pada

setiap orang, dalam beberapa sumber lain dijelaskan bahwa faktor yang dapat
mempengaruhi reaksi obat selain dari pada yang sudah dijelaskan di atas juga dapat di
pengaruhi oleh hal hal sebagai berikut, diantaranya :
1.
2.
3.

Usia dan berat badan.


Jenis kelamin.
Faktorgenetis.

4.
5.
6.
7.
8.

Faktor psikologis.
Kondisi patologis.
Waktu.
Cara pemberian.
Lingkungan.

D. Masalah dalam Pemberian Obat dan Intervensi Keperawatan


Obat diberikan semata mata hanya bertujuan untuk menghasilkan reaksi terapi atau
reaksi pengobatan guna untuk mengurangi hingga menyembuhkan penyakit yang di derita
oleh klien atau pasien. Namun dalam proses pemberiannya terkadang ada beberapa hal yang
sering kali terjadi ketika proses pemberian obat akan dilakukan, diantaranya ialah :
1.

Menolak pemberian obat


Pasien sering kali menolak ketika pemberian obat akan diberikan, hal ini biasanya
disebabkan karena adanya rasa takut terjadi sesuatu pada diri mereka ataupun karena hal
hal kecil seperti tidak menyukai aroma obat tersebut. Jika pasien menolak pemberian
obat, intervensi keperawatan pertama yang dapat dilakukan adalah dengan menanyakan
alasan pasien melakukan hal tersebut.Kemudian, jelaskan kembali kepada pasien alasan
pemberian obat.Jika pasien terus menolak sebaiknya tunda pengobatan, laporkan ke
dokter dan catat dalam pelaporan.

2.

Kerusakan Integritas kulit terganggu


Kerusakan integritas kulit adalah keadaan dimana seorang individu mengalami atau

beresiko terhadap kerusakan jaringan epidermis dan dermis (Carpenito, 2000;


302).Batasan karakteristik mayor harus terdapat gangguan jaringan epidermis dan
dermis.Untuk mengatasi masalah gangguan integritas kulit, lakukan penundaan dalam
pengobatan, kemudian laporkan ke dokter dan catat ke dalam laporan.
3.

Disorientasi dan bingung


Masalah disorientasi dan bingung dapat diatasi oleh perawat dengan cara melakukan
penundaan pengobatan. Jika pasien ragu, laporkan ke dokter dan catat ke dalam
pelaporan.

4.

Menelan obat bukal atau sublingual

Sebagai perawat yang memiliki peran dependen, jika pasien menelan obat bukal atau
sublingual, maka sebaiknya laporkan kejadian tersebut kepada dokter, untuk selanjutnya
dokter yang akan melakukan intervensi.
5.

Alergi kulit
Apabila terjadi alergi kulit atas pemberian obat kepada pasien, keluarkan sebanyak
mungkin pengobatan yang telah diberikan, beritahu dokter, dan catat dalam pelaporan.

E. Perhitungan Obat
Perhitungan dosis obat dalam dihitung dengan menggunakan beberapa rumus serta
penggolongan keadaan yang telah di tentukan, berikut adalah penjelasannya :
1.

Berdasarkan Usia
Kurang akurat karena tidak mempertimbangkan sangat beragamnya bobot dan ukuran
anak-anak dalam satu kelompok usia obat bebas untuk Pediatrik dosis dikelompokkan
atas usia seperti 2-6 tahun, 6-12 tahun dan diatas 12 tahun. Kecil dari 2 tahun, (atas
pertimbangan dokter).Persamaan yang digunakan:
a.

Rumus Young (anak di bawah 8 tahun)


Usia (tahun) / (Usia + 12)
Contoh: Dosis lazim parasetamol untuk dewasa adalah 500 mg untuk 1 kali pakai.
Berapa dosis obat ini untuk anak usia 7 tahun?

b.

Rumus Dilling (anak di atas 8 tahun)


Usia (tahun) / 20
Contoh: Dosis lazim parasetamol untuk dewasa adalah 500 mg untuk 1 kali pakai.
Berapa dosis obat ini untuk anak usia 11 tahun?

c.

Rumus Cowling
(Usia dalam tahun) + 1) / 24
Contoh: Dosis lazim parasetamol untuk dewasa adalah 500 mg untuk 1 kali pakai.
Berapa dosis obat ini untuk anak usia 11 tahun?

d.

Rumus Fried (khusus untuk bayi)


Usia (dalam bulan) / 150

Contoh: Dosis lazim parasetamol untuk dewasa adalah 500 mg untuk 1 kali pakai.
Berapa dosis obat ini untuk bayi usia 5 bulan?
2.

Berdasarkan Bobot
Dosis lazim obat umumnya dianggap sesuai untuk individu berbobot 70 kg (154 pon)
Rasio antara jumlah obat yang diberikan dan ukuran tubuh mempengaruhi konsentrasi
obat di tempat kerjanya oleh karena itu, dosis obat mungkin perlu disesuaikan dari dosis
lazim untuk pasien kurus atau gemuk yang tidak normal.Persamaan yang digunakan :
a.

Rumus Clarck (Amerika Serikat)


Bobot (dalam pon) / 150
Contoh: Dosis lazim parasetamol untuk dewasa adalah 500 mg untuk 1 kali pakai.
Berapa dosis obat ini untuk anak berbobot 40 kg? 1 kg = 2,2 pon.

b.

Rumus Thremich-Fier (Jerman)


Bobot (dalam kg) / 70
Contoh: Dosis lazim parasetamol untuk dewasa adalah 500 mg untuk 1 kali pakai.
Berapa dosis obat ini untuk anak berbobot 40 kg?

c.

Rumus Black (Belanda)


Bobot (dalam kg) / 62
Contoh: Dosis lazim parasetamol untuk dewasa adalah 500 mg untuk 1 kali pakai.
Berapa dosis obat ini untuk anak berbobot 40 kg?

Kesimpulan

Obat dapat diberikan dengan berbagai cara disesuaikan dengan kondisi pasien,
diantaranya : sub kutan, intra kutan, intra muscular, dan intra vena. Dalam pemberian obat
ada hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu indikasi dan kontra indikasi pemberian obat.
Setiap obat merupakan racun yang yang dapat memberikan efek samping yang tidak
baik jika kita salah menggunakannya. Hal ini tentunya dapat menimbulkan kerugian bahkan
akibatnya bisa fatal. Oleh karena itu, kita sebagai perawat kiranya harus melaksanakan tugas

kita dengan sebaik-baiknya tanpa menimbulkan masalah-masalah yang dapat merugikan diri
kita sendiri maupun orang lain. Setelah mempelajari unit ini, mahasiswa D III Keperawatan
diharapkan memiliki pemahaman tentang prinsip-prinsip pemberian obat secara menyeluruh.

LATIHAN
C. TES FORMATIF
1.

Syarat yang perlu diperhatikan untuk menjamin keamanan dalam pemberian


obat pada pasien adalah:
Jawaban :
1.
2.
3.
4.
5.

2.

Tepat
Tepat
Tepat
Tepat
Tepat

obat
dosis
pasien
jalur pemberian
waktu

Standar obat yang baik adalah:

Jawaban :
1.
2.
3.
4.
5.
3.

Kemurnian
Standar potensi yang baik
Memiliki biovailability
Adanya keamanan
Efektivitas

faktor yang mempengaruhi reaksi obat:


Jawaban:
1.
2.
3.
4.

absobsi obat
distribusi obat
metabolisme obat
ekskresi obat

4. Hal-hal yang terjadi ketika proses pemberian obat:


1. Menolak pemberian obat
2. Kerusakan integritas kulit
3. Disorentasi dan bingung
4. Menelan obat bukal/sublingual
5. Alergi kulit
5. Dosis obat di sesuaikan dari dosis lazim untuk pasien kurus/gemuk yang tidak
normal menggunakan rumus:

1.
2.
3.

Rumus Clarck. Bobot (dalam pon)/150


Rumus Thremich-Fier. Bobot (dalam kg)/70
Rumus Black. Bobbot (dalam kg)/62

6. Apakah yang dimaksud dengan obat?


Jawab:
bahan/paduan bahan, termasuk produk biologis yang digunakan untuk
mempengaruhi/menyelidiki sistem fisiologi/keadaan patologis dalam
penempatan diagnosa/pencegahan, penyembuhan.
7. Apakah saja yang perlu diperhatikan petugas medis sebelum menempatkan
obat ke tempatnya:
Jawaban:
1. Ketika memindahkan obat dari tempat penyimpanan obat
2. Saat obat di program
3. Saat mengembalikan obat ke tempat penyimpanan
8. Alat-alat apa saja yang diperlukan untuk menentukan dosis obat cair :
Jawaban:

NAla t tetes
Gelas ukurSpuit/sendok khusus

9. Apakah pengetian absorbsi obat:


Jawaban:
masuknya molekul-molekul ke dalam tubuh. Sebelum diabsorbsi terlebih dahulu
obat itu larut dalam cairan biologis

10. Apakah yang dimaksud dengan Metabolisme obat:


Jawaban:
proses modifikasi biokimia senyawaobat oleh organisme hidup pada umumnya
dilakukan melalui proses enzimasi

Umpan balik
Apabila mahasiswa dapat menjawab 7 dari 10 soal maka mahasiswa akan dengan mudah
mengerjakan soal UAS yang tekait dengan prinsip pemberian obat

DAFTAR PUSTAKA

G o o d m a n , G i l m a n ( 2 0 0 8 ) , D a s a r F a r m a k o l o g i Ter a p i , v o l u m e 1 , E d i s i 1 0 ,
Jakarta: EGC
J a s , Ad m a r ( 2 0 0 4 ) , P e r i h a l O b a t d e n g a n B e r b a g a i B e n t u k S e d i a a n n y a ,
Medan: USU Press
Katzung, Bertram G (2001), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 1,
Jakarta: Salemba Medika
Katzung, Bertram G (2002), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 2, Edisi
8, Jakarta: Salemba Medika
Nanizar z.j., (1994).Ars Prescribendi Resep yang Rasional . Jilid 1,2 dan
3 , S u r a b a ya : U n i v e r s i t a s A i r l a n g g a P r e s s
Tam b a y o n g , J a n ( 2 0 0 2 ) , F a r m a k o l o g i u n t u k K e p e r a w a t a n , J a k a r t a : Wid y a
Medika

UNIT 6
BENTUK SEDIAAN OBAT ASUHAN
100 Menit

A. PENGANTAR

Bentuk sediaan obat (BSO) diperlukan agar penggunaan senyawa obat/zat berkhasiat dalam
farmakoterapi dapat digunakan secara aman, efisien dan atau memberikan efek yang optimal.
Umumnya BSO mengandung satu atau lebih senyawa obat/zat berkhasiat dan bahan
dasar/vehikulum yang diperlukan untuk formulasi tertentu.
Dengan membaca materi berikut dan mengamati gambar, serta mengerjakan latihan soal ,
diharapkan anda memahami pembagian bentuk sediaan obat.

TUJUAN
TUJUAN PEMBELAJARAN
Adapun kompetensi yang diharapkan setelah mempelajari modul ini mahasiswa mampu
menjelaskan pembagian bentuk sediaan obat yang meliputi:
1. Mampu menjelaskan dan membedakan bentuk-bentuk sediaan obat
2. Mampu menjelaskan sifat dari masing-masing bentuk sediaan obat
3. Mampu menjelaskan prinsip pemilihan bentuk sediaan obat

B.

BAHAN BACAAN

MANFAAT BENTUK SEDIAAN OBAT


Bentuk sediaan obat dipilih agar :
1. Dapat melindungi dari kerusakan baik dari luar maupun dalam tubuh
2. Dapat menutupi rasa pahit dan tidak enak dari bahan obat
3. Dapat melengkapi kerja obat yang optimum (topikal, inhalasi)
4. Sediaan yang cocok untuk : - obat yang tidak stabil, tidak larut - penyakit pada berbagai
tubuh
5. Dapat dikemas/dibentuk lebih menarik dan menyenangkan
Dalam memilih BSO, perlu diperhatikan :

- sifat bahan obat


- sifat sediaan obat
- kondisi penderita
- kondisi penyakit
- harga
MACAM BENTUK SEDIAAN OBAT
1. Bentuk Sediaan Padat : pulvis, pulveres, tablet, kapsul
2. Bentuk Sediaan Cair : solusio/mikstura, suspensi, emulsi, linimentum. losio
3. Bentuk Sediaan Setengah Padat : unguentum, him, jeli,
4. Bentuk sediaan khusus : injeksi , supositoria, ovula, spray, inhalasi,
1. BSO PADAT
A. PULVIS dan PULVERES (Serbuk)
Bahan atau campuran obat yang homogen dengan atau tanpa bahan tambahan
berbentuk serbuk dan relatif satbil serta kering. Serbuk dapat digunakan untuk obat luar
dan obat dalam. Serbuk untuk obat dalam disebut pulveres (serbuk yang terbagi berupa
bungkus-bungkus kecil dalam kertas dengan berat umumnya 300mg sampai 500mg
dengan vehiculum umumya Saccharum lactis.) dan untuk obat luar disebut Pulvis
adspersorius (Serbuk tabur). Sifat Pulvis untuk obat dalam :
-

Cocok untuk obat yang tidak stabil dalam bentuk cairan


Absorbsi obat lebih cepat dibanding dalam bentuk tablet
Tidak cocok untuk obat yang mempunyai rasa tidak menyenangkan, dirusak
dilambung, iritatif, dan mempunyai dosis terapi yang rendah.

Sifat Pulvis adspersorius :


- Selain bahan obat, mengandung juga bahan profilaksi atau pelicin
- Untuk luka terbuka sediaan harus steril
- Sebagai pelumas harus bebas dari organisme patogen
- Bila menggunakan talk hams steril, karena bahan-bahan tersebut sering
terkontaminasi spora dan kuman tetanus serta kuman penyebab gangren.

Cara mengenal kerusakan :


Secara mikroskopik kerusakan dapat dilihat dari timbulnya bau yang tidak enak,
perubahan warna, benyek atau mnggumpal.
Cara peyimpanan : Disimpan dalam wadah tertutup rapat, ditempat yang sejuk, dan
terlindung dari sinar matahari.
Contoh :

Salicyl bedak (Pulv. Adspersorius)


Oralit (Pulvis untuk obat dalam ) dalam kemasan sachet

B. TABLET
Tablet adalah sediaan padat yang kompak, yang dibuat secara kempa cetak,
berbentuk pipih dengan kedua permukaan rata atau cembung, dan mengandung satu
atau beberapa bahan obat, dengan atau tanpa zat tambahan. ( Berat tablet normal antara
300 600 mg ).
Sifat :
1.
2.

Cukup stabil dalam transportasi dan penyimpanan.


Tidak tepat untuk : - obat yang dapat dirusak oleh asam lambung dan enzim
pencernaan
- obat yang bersifat iritatif.

3. Formulasi dan pabrikasi sediaan obat dapat mempengaruhi bioavailabilitas bahan


aktif.
4. Dengan teknik khusus dalam bentuk sediaan multiplayer obat-obat yang dapat
berinteraksi secara fisik/khemis, interaksinya dapat dihindari
5.

Tablet yang berbentuk silindris dalam perdagangan disebut Kaplet

Cara mengenal kerusakan :


Secara makroskopik kerusakan dapat dilihat dari adanya perubahan warna, berbau,
tidak kompak lagi sehingga tablet pecah/retak, timbul kristal atau benyek.

Penyimpanan :
Disimpan dalam wadah tertutup, balk ditempat yang sejuk dan terlindung dari sinar
matahari.

Contoh :
- Sediaan paten : Tab. Bactrim, Tab. Pehadoxin
- Sediaan generik : Tablet parasetamol, Tablet amoksilin

1.TABLET HISAP ( LOZENGES )


Sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat, umumnya dengan
bahan dasar beraroma dan manis, yang dapat membuat tablet melarut atau hancur
perlahan dalam mulut.
Sifat :
- Tablet secara perlahan melarutkan dan melepaskan bahan aktif sehingga
obat juga lambat dan obat berefek panjang.

absorbsi

- Untuk efek lokal, lamanya pemberian tergantung lamanya obat dapat tinggal dalam
rongga mulut, mengandung obat antibiotik atau antiseptik
- Merupakan pilihan lain BSO, terutama untuk terapi lokal batuk dan sumbatan nasal.
- Cocok untuk pasien kesulitan menelan dan cocok untuk anak-anak
Contoh : Kalmicyn lozenges

2.TROCHICI
Tablet hisap yang dibuat dengan cara kempa, tablet ini disimpan dalam suhu
kamar 28C.
Sifat :
-

Bentuk sediaan seperti donat untuk mencegah tersedak.


Rasanya manis sehingga mudah diberikan pada anak-anak

Mudah hancur dalam mulut dan beraksi langsung pada mukosa mulut, pharynx dan
saluran nafas bagian atas
Contoh : FG Trochees

3.TABLET SUBLINGUAL
Tablet yang digunakan dengan cara meletakkan tablet dibawah lidah, sehingga zat
aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut.
Sifat :
-

Daya kerja cepat karena kelarutan dalam air tinggi dan efek obat dapat bertahan
lama

Obat tidak melalui metabolisme di hepar.

Tidak cocok untuk obat yang rasanya pahit.


Contoh : Tablet Cedocard

4.TABLET KUNYAH ( CHEWABLE TABLET )


Tablet yang penggunaanya dengan dikunyah, memberikan residu dengan rasa
enak dalam rongga mulut, mudah ditelan dan tidak meninggalkan rasa pahit, tablet ini
umumnya menggunakan manitol, sorbitol atau sukrosa sebagai pengikat dan pengisi
yang mengandung bahan pewarna dan bahan pengaroma untuk meningkatkan
penampilan dan rasa
Sifat :
-

Tablet tidak mengandung bahan pemecah tablet sehingga perlu ketaatan pemakaian
agar efek optimal.
Bahan aktif cepat dilepas oleh vehikulum sehingga obat cepat bekerja.

Penggunaannya dikunyah sehingga cocok untuk orang yang tidak bisa atau sulit
menelan

Cocok untuk obat Antasida

Tidak cocok untuk bahan obat yang rasanya pahit dan orang tua yang tak bergigi.
Contoh : Tablet Plantacid

5.TABLET EFFERVESCENT
Tablet selain mengandung zat aktif, juga mengandung campuran asam ( asam
sitrat, asam tartar ) dan Natrium bikarbonat , apabila dilarutkan dalam air akan
menghasilkan karbondioksida yang akan memberikan rasa segar.
Sifat :
-

Memberikan rasa manis dan segar seperti limun

Bahan aktif obat cepat terabsorbsi dan dapat mengurangi iritasi lambung

Harga relatif mahal karena biaya produksi tinggi.


Contoh : Tablet Ca-D- Rhedoxon

6. TABLET SALUT
Tujuan penyalutan tablet :
1.
2.
3.

Melindungi zat aktif dari udara, kelembaban, atau cahaya


Menutupi rasa dan bau tidak enak
Membuat penampilan lebih baik dan mengatur tempat pelepasan obat dalam
saluran cema.

a. TABLET SALUT GULA (TSG)


Tablet disalut dengan gula dari suspensi dalam air mengandung serbuk yang tidak
larut seperti pati, kalsium karbonat, talk atau titanium dioksida, yang disuspensikan
dengan gom akasia atau gelatin, sehingga berat tablet bertambah 30-50%.
Sifat :
-

Mudah ditelan dibanding tablet biasa

Bahan aktif lebih stabil dibanding tablet biasa

Cocok untuk obat yang rasa dan bau tidak menyenangkan

Dengan penyalutan memperlambat


terlambatnya sediaan pecah.

tersedianya

obat

diabsorbsi,

karena

Contoh : Supra livron

b. TABLET SALUT FILM (TSF)


Sediaan ini merupakan tablet kempa cetak yang disalut dengan bahan yang
merupakan derivat cellulose ( film ) yang tipis/transparan, dan hanya menambah berat
tablet 2-3%
Sifat :
-

Bahan aktif lebih stabil dibanding tablet biasa.

Cocok untuk bahan obat yang rasa dan bau tidak menyenangkan.
Contoh : Ferro gradumet

c. TABLET SALUT ENTERIK (TSE)


Sediaan ini disalut dengan tujuan untuk menunda pelepasan obat sampai tablet
telah melewati lambung, dilakukan untuk obat yang rusak atau inaktif karena cairan
lambung atau dapat mengiritasi lambung.
Sifat :
-

Absorbsi obat Baru terjadi didalam usus


Bentuk ini tepat untuk bahan obat yang iritatif terhadap lambung, dirusak oleh asam
lambung dan enzim pencernaan.
Tidak tepat untuk bahan campuran pulveres atau potio serta pemberian yang dalam
bentuk tidak utuh.
Contoh : Dulcolax 5 mg, Voltaren

7. TABLET MULTILAYER
Obat yang dicetak menjadi tablet kemudian ditambah granulasi diatas tablet yang
dilakukan berulang-ulang sehingga terbentuk tablet multiplayer.
Contoh : Bodrex

8. TABLET FORTE
Tablet yang mempunyai komposisi sama dengan komponen tablet biasa tapi
mempunyai kekuatan yang berbeda ( Biasanya 2 kali tablet biasa ) Contoh : Bactrim
Forte

9. TABLET PELEPASAN TERKENDALI


Tablet ini dibuat sedemikian rupa sehingga zat aktif akan tersedia selama jangka
waktu tertentu setelah obat diberikan. Sediaan ini ditelan secara utuh, tidak boleh
dikunyah atau digerus. Ada Sediaan Retard yang devide dose artinya bisa dipotong
menjadi beberapa bagian, contoh Quibron-T
Sifat :
-

Cukup stabil dalam transportasi dan penyimpanan

Pelepasan bahan aktif dari sediaan pelepasan terkendali dapat melalui difusi, dilusi,
osmotic pressure atau ion exchange.

Mempertahankan efek terapi untuk batas waktu yang lama, sehingga efek obat lebih
seragam, hal tersebut akan mengurangi frekuensi pemberian sehingga ketaatan
pasien bertambah.

Harga lebih mahal.

Istilah efek diperpanjang ( prolong action ) ; efek pengulangan ( repeat action) dan
pelepasan lambat (sustained action) telah digunakan untuk menyatakan sediaan
tersebut. Istilah lain yang sering digunakan antara lain retard, time release,
sustained release..oros
Contoh : Avil retard, Adalat oros

C. KAPSUL
Sediaan obat yang bahan aktifnya dapat berbentuk padat atau setengah padat
dengan atau tanpa bahan tambahan dan terbungkus cangkang yang umumnya terbuat
dari gelatin. Cangkang dapat larut dan dipisahkan dari isinya.
1.
2.

Kapsul Lunak ( Soft Capsule ): berisi bahan obat berupa minyak/larutan obat dalam
minyak.
Kapsul keras ( Hard Capsule ): berisi bahan obat yang kering

Cara mengenal kerusakan :


Secara makroskopik kerusakan dapat dilihat dari adanya perubahan warna, berbau,
tidakkompak lagi sehingga tablet pecah/retak, timbul kristal atau benyek.
Penyimpanan : Disimpan dalam wadah tertutup, baik ditempat yang sejuk dan
terlindung dari sinar matahari.

1. Kapsul Lunak ( Soft Capsule ): Berisi bahan obat berupa minyak/ larutan obat dalam
minyak.
Sifat :
- Cukup stabil dalam penyimpanan dan transportasi
- Dapat menutupi bau dan rasa yang tidak menyenangkan
- Absorbsi obat lebih baik daripada kapsul keras karena bentuk ini setelah
cangkangnya larut obat langsung dapat diabsorbsi.
- Sediaan ini tidak dapat diberikan dalam bentuk sediaan pulveres
Contoh : Natur E

2. Kapsul keras ( Hard Capsule ) : berisi bahan obat yang kering.


Sifat:
- Cukup stabil dalam penyimpanan dan transportasi

- Dapat menutupi bau dan rasa yang tidak menyenangkan


- Tepat untuk obat yang mudah teroksidasi, bersifat higroskopik, dan mempupunyai
rasa dan bau yang tidak menyenangkan.
- Kapsul lebih mudah ditelan dibandingkan bentuk tablet.
- Setelah cangkang larut dilambung, bahan aktif terbebas serta terlarut maka proses
absorbsi baru terjadi ( di gastrointestinal ).
Contoh : Ponstan 250 mg

2. BSO CAIR
Cara mengenal kerusakan :
Secara makroskopis kerusakan dapat dilihat dari adanya perubahan warna, berbau, timbul
kristal atau adanya endapan zat padat.
Penyimpanan :
Dalam Botol tertutup rapat dan dimasukkan kedalam almari, ditempat kering pada suhu
kamar dan terlindung dari cahaya matahari.
a. SOLUTIO
Sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut.
Solute : Zat yang terlarut. Solven : Cairan pelarut umumnya adalah air.
Sifat :
- Obat homogen dan absobsi obat cepat
- Untuk obat luar mudah pemakaiannya dan cocok untuk penderita yang sukar
menelan, anak-anak dan manula
- Volume pemberian besar
- Tidak dapat diberikan untuk obat-obat yang tidak stabil dalam bentuk larutan.
- Bagi obat yang rasanya pahit dan baunya tidak enak dapat ditambah pemanis dan
perasa.
Contoh : Enkasari 120 ml solution, Betadin gargle

b. SIRUP
Penggunaan istilah Sirup digunakan untuk :

1.
2.
3.

Bentuk sediaan Cair yang mengandung Saccharosa atau gula ( 64-66% ).


Larutan Sukrosa hampir jenuh dengan air.
Sediaan cair yang dibuat dengan pengental dan pemanis, termasuk suspensi oral.

Sifat :
-

Homogen

Lebih kental dan lebih manis dibandingkan dengan Solutio.

Cocok untuk anak-anak maupun Dewasa.

Sirup Kering :
Suatu sediaan padat yang berupa serbuk atau granula yang terdiri dari bahan obat,
pemanis, perasa, stabilisator dan bahan lainnya, kecuali pelarut. Apabiola akan
digunakan ditambah pelarut (air) dan akan menjadi bentuk sediaan suspensi.
Sifat :
-

Pada umumnya bahan obat adalah antimikroba atau bahan kimia lain yang tidak
larut dan tidak stabil dalam bentuk cairan dalam penyimpanan lama.

Memberikan rasa enak, sehingga cocok untuk bayi dan anak.

Kecepatan absorbsi obat tergantung pada besar kecilnya ukuran partikel

Apabila sudah ditambahkan aquadest, hanya bertahan + 7 hari pada suhu kamar,
sedang pada almari pendingin + 14 hari.
Contoh Sirup kering :
Cefspan sirup (untuk dibuat Suspensi )
Amcillin DS sirup (untuk dibuat Suspensi )
Contoh sirup :
Biogesic sirup, Dumin sirup

c. SUSPENSI

Sediaan cair yang mengandung bahan padat dalam bentuk halus yang tidak larut tetapi
terdispersi dalam cairan/vehiculum, umumnya mengandung stabilisator untuk menjamin
stabilitasnya, penggunaannya dikocok dulu sebelum dipakai.
Sifat :
-

Cocok untuk penderita yang sukar menelan, anak-anak dan manula

Bisa ditambah pemanis dan perasa sehingga rasanya lebih enak dari Solutio

Volume pemberiannya besar

Kecepatan absorbsi obat tergantung pada besar kecilnya ukuran partikel yang
terdispersi
Contoh : Sanmag suspensi, Bactricid suspensi

d. ELIXIR
Larutan oral yang mengandung etanol sebagai kosolven, untuk mengurangi jumlah
etanol bisa ditambah kosolven lain seperti gliserin dan propilenglikol, tetapi etanol
harus ada untuk dapat dinyatakan sebagai elixir. Kadar alcohol antara 3-75%, biasanya
sekitar 315%, keggunaan alcohol selain sebagai pelarut, juga sebagai pengawet atau
korigen saporis.
Sifat :
- Cocok untuk penderita yang sukar menelan
- Karena mengandung Alkohol, hati-hati untuk penderita yang tidak tahan terhadap
Alkohol atau menderita penyekit tertentu
- Elixir kurang manis dan kurang kental dibandingkan bentuk sediaan sirup.
Contoh : Batugin 300 ml, Mucopect 60 ml ( Paediatri )
e. TINGTURA
Larutan mengandung etanol atau hidroalkohol dibuat dari bahan tumbuhan atau
senyawa kimia. Secara tradisional tingtura tumbuhan berkhasiat obat mengandung 10%
bahan tumbuhan, sebagian besar tingtura tumbuhan lain mengandung 20% bahan
tumbuhan.
Sifat :

- Homogen dan bahan obat lebih stabil


- Kadar alcohol yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme
- Karena Berisi beberapa komponen, dengan adanya cahaya matahari dapat terjadi
perubahan fotosintesis
Contoh : Halog 8 ml

f. GARGARISMA
Obat yang dikumur sampai tenggorokan, dan tidak boleh ditelan Contoh : Betadine 190
ml

g. GUTTAE
Sediaan cair yang pemakaiannya dengan cara meneteskan.

TETES ORAL :
Sifat:
-

Volume pemberian kecil sehingga cocok untuk bayi dan anak-anak

- Pada umumnya ditambahkan pemanis, perasa, dan bahan lain yang sesuai dengan
bentuk sediaannya
- Bahan obatnya berkhasiat sebagai antimikroba, analgetika antipiretika, vitamin,
antitusif, dekongestan.
Contoh : Multivitaplek 15 ml, Triamic 10 ml, Termagon

TETES MATA :
Sifat :
- Harus steril dan jernih
- Isotonis dan isohidris sehingga mempunyai aktivitas optimal

- Untuk pemakaian berganda perlu tambah pengawet


Contoh : Colme 8 ml, Catarlent 5 ml, Albucid

TETES TELINGA :
Sifat :
- Bahan pembawanya sebaiknya minyak lemak atau sejenisnya yang mempunyai
kekentalan yang cocok ( misal gliserol, minyak nabati, propilen glikol ) sehingga
dapat menempel pada hang telinga.
- pH sebaiknya asam ( 5-6 )
Contoh : Otolin 10 ml, Otopain 8 ml

TETES MATA DAN TELINGA


Contoh : Sofradex 3 ml, Kemicort 5 ml

TETES HIDUNG :
Sifat :
- pH sekitar 5,5 sampai 7,5
- Pada umumnya ditambahkan bahan pengawet dan stabilisator.
Contoh : Iliadin 10 ml, Vibrosil, Otrivin

h. LOTION
Sediaan cair yang digunakan untuk pemakaian luar pada kulit

Sifat :
- Sebagai pelindung atau pengobatan tergantung komponennya.
- Sesudah dioleskan dikulit, segera kering dan meninggalkan lapisan tipis
komponen obat pada permukaan kulit
- Bahan pelarut (solven) berupa air, alcohol, glyserin atau bahan pelarut lain yang
cocok.
Contoh : Tolmicen 10 ml

3. BSO SEMI PADAT


Cara mengenal kerusakan :
Secara makroskopik kerusakan dapat dilihat adanya perubahan warna, berbau tengik, dan
lewat kadaluwarsa.
Penyimpanan :
Dalam wadah tertutup rapat, ditempat yang sejuk, kering, dan terlindung dari cahaya
matahari.
a. UNGUENTA (SALEP)
Sediaan 1 /2 padat untuk digunakan sebagai obat luar, mudah dioleskan pada kulit dan
tanpa perlu pemanasan terlebih dahulu , dengan bahan obat yang terkandung hares
terbagi rata atau terdispersi homogen dalam vehikulum.Umumnya memakai dasar salep
Hidrokarbon ( vaselin album dan vaselin flavum ), dan dasar salep Absorbsi (adeps
lanae, dan lanolin ).
Sifat :
- Daya penetrasi paling kuat bila dibandingkan dengan bentuk sediaan padat lainnya.
- Cukup stabil dalam penyimpanan dan transportasi
- Obat kontak dengan kulit cukup lama sehingga cocok untuk dermatosis yang kering
dan kronik serta cocok untuk jems kulit yang bersisik dan berambut.
- Tidak boleh digunakan untuk lesi seluruh tubuh.
Contoh : Tolmicen 10 ml, Polik oint 5 g

SALEP BERLEMAK ( FATTY OINTMENT )


Suatu sediaan obat berbentuk setengah padat yang mudah dioleskan, bahan obat hares
terdispersi homogen dalam dasar salep yang bebas air ( berlemak )
Sifat :
- Absorbsi obat cukup baik
- Basisnya bebas air sehingga obat dapat kontak dengan kulit cukup lama
- Dapat berfungsi sebagai pendingin
- Cocok untuk jenis kulit yang kering dan dermatosa kronis
Contoh : Nerisona fatty oint

SALEP MATA.
Sifat :
- Steril dan obat dapat kontak lama dengan mata sehingga lebih efektif dibandingkan
dengan tetes mata.
- Stabil dalam penyimpanan dan transportasi
- Bahan dasar tidak mengiritasi mata (adeps lanae, vaselin flavum, paraffin liq ) Cocok untuk penggunaan malam hari.
Contoh : Cendocycline 1%, 3,5 gram, Cendomycos 3,5 g, Kemicitine 5g

b. JELLY (GEL )
Sediaan semi padat yang sedikit cair, kental dan lengket yang mencair waktu kontak
dengan kulit, mengering sebagai suatu lapisan tipis, tidak berminyak. Pada umumnya
menggunakan bahan dasar larut dalam air ( PEG, CMG, Tragakanta )
Sifat :
- Obat dapat kontak kulit cukup lama dan mudah kering
- Dapat berfungsi sebagai pendingin dan pembawa obat

- Bahan dasar mempunyai efek pelumas tidak berlemak sehingga cocok untuk
dermatosa kronik
- Biasanya untuk efek lokal, pemakaian yang terlalu banyak dapat memberikan efek
sistemik.
Contoh : Bioplasenton Jelly 15 mg, Voltaren Emulgel 100 g

c. CREAM
Sediaan semi padat yang banyak mengandung air, sehingga memberikan perasaan sejuk
bila dioleskan pada kulit, sebagai vehikulum dapat berupa emulsi 0/W atau emulsi W/O.
Sifat :
- Absorbsi obat cukup baik dan mudah dibersihkan dari kulit
- Kurang stabil dalam penyimpanan karena banyak mengandung air dan mudah timbul
jamur bila sediaan dibuka segelnya.
- Dapat berfungsi sebagai pelarut dan pendingin
- Sediaan ini cocok untuk dermatosa akut.
Contoh : Chloramfecort 10 g, Hydrokortison 5g, Scabicid 1 Og

d. PASTA
Masa lembek dibuat dengan mencampurkan bahan obat yang berbentu serbuk dalam
jumlah besar ( 40 60% ), dengan vaselin atau paraffin cair atau bahan dasar tidak
berlemak yang dibuat dengan gliserol, mucilage, sabun.
Sifat :
- Obat dapat kontak lama dengan kulit

- Sediaan ini cocok untuk dermatosa yang agak basah ( Sub akut atau kronik )
- Dapat berfungsi sebagai pengering, pembersih, dan pembawa
- Tidak bisa digunakan untuk kulit yang berambut dan dermatosa yang eksudatif
- Untuk lesi akut dapat meninggalkan kerak vesikula
Contoh : Pasta Lassari

4. BENTUK SEDIAAN LAIN


a. BSO GAS/ AEROSOL
Sediaan yang mengandung satu atau lebih zat berkhasiat dalam wadah yang diberi
tekanan, berisi propelan yang cukup untuk memancarkan isinya hingga habis,
sedangkan cara penggunaanya dengan ditekan pada tutup botol sehingga memancarkan
cairan dan atau bahan padat dalam media gas. Produk aerosol dapat dirancang untuk
mendorong keluar isinya dalam bentuk kabut halus, kasar, semprotan basah atau kering
atau busa.
INHALASI
Obat atau larutan obat yang diberikan lewat nasal atau mulut dengan cara dihirup
dimasudkan untuk kerja setempat pada cabang-cabang bronchus atau untuk efek
sistemik lewat paru-paru.
SPRAY
Larutan air atau minyak dalam tetesan kasar atau sebagai zat padat yang terbagi halus
untuk digunakan secara topical, saluran hidung, faring atau kulit
Cara Penyimpanan :
Ditempat yang terlindung dari cahaya matahari, pada temperatur kamar (t,30 0C derajat
celcius) dan di tempat yang kering.

Sifat :
- Merupakan suatu system koloid lipofob. Apabila berupa cairan, ukuran partikel
antara 2-6 mikron untuk pemakaian sistemik
- Bahaya kontaminasi dapat dihindari
- Dapat dipakai pada daerah yang dikehendaki
- Dapat digunakan sebagai obat dalam ( inhalasi ) maupun obat luar.
- Mudah cara penggunaanya - Untuk topical dapat dihindari efek iritatif
- Harganya mahal karena biaya produksi tinggi
Contoh :
Bricasma Inhaler 400 dose Metered Aerosol
Bricasma Turbuhaler 200 dose serbuk inhaler
Ventolin Rotahaler 200 mcg
Ventolin Rotacaps
Pulmocort Turbuhaler100 mcg/doses 200 dose Serbuk inhaler
Beconase Nasal Spray200 Doses

b. INJEKSI
Sediaan steril berupa larutan, suspensi, atau serbuk yang dilarutkan atau disuspensikan
lebih dahulu sebelum digunakan secara parenteral.
Sifat :
- Cocok untuk penderita dalam keadaan tidak kooperatif, tidak sadar, atau keadaan
darurat.
- Obat bekerja dengan cepat
- Cocok untuk obat yang dirusak oleh asam lambung
- Untuk bentuk kristal steril biasanya obat tidak tahan lama atau tidak stabil dalam
larutan
- Harga obat relatif lebih mahal

- Pemberian obat memerlukan spuit injeksi.


Cara mengenal kerusakan :
Untuk sediaan cair : Secara makroskopik dapat dilihat adanya perubahan warna,
berbau, timbul kristal atau endapan, dan tidak bias
bercampur dengan baik apabila dilakukan pengocokan.
Untuk sediaan kering : Timbul perubahan warna dan penggumpalan, sebelum
dicairkan
Penyimpanan :
Sediaan cair : Disimpan ditempat kering, pada suhu kamar dan terlindung dari
cahaya matahari
Sediaan kering : Disimpan ditempat kering, pada suhu kamar dan terlindung dari
cahaya matahari (belum dicairkan ) , disimpan dialmari es
( setelah dicairkan )

1. Injeksi Dalam Bentuk Larutan


Contoh :
Aminophylin vial 10 ml
Dilantin ampul 2m1
Glukosum flacon 10 ml
ATS ampul 1 ml
Delladyl vial 15 ml
2. Injeksi dalam bentuk Suspensi
Contoh :
Procaine PenicillinG Flacon 10 ml
Cortisone acetat 100 ml
3. Injeksi dalam bentuk Serbuk kering.
Contoh :

Chloramex vial 1000 mg


Streptomysin Sulfat Vial 5g
Kemicitine succinate Vial 1000 mg

c. VAGINAL DOSAGE FORM


Sediaan ini untuk vagina dapat berbentuk cair, padat, setengah padat yang cara
penggunaannya dengan menggunakan aplikator (alat khusus) dimasukkan kedalam liang
vagina sedalam-dalamnya. Untuk Tablet vagina dapat dimasukkan langsung dalam
rongga vagina. Berefek lokal sebagai antiseptik, antiinfeksi, dan kouterisasi
Contoh :
Betadine 100 ml Obat dimasukkan ke vagina dengan alat.
Obat dicampur dengan air hangat Canesten SD Flagystatin Albothyl (Ovula )

d. SUPPOSITORIA
Suppositoria adalah suatu bentuk sediaan padat yang mengandung obat, cara
penggunaanya dengan memasukkanya kedalam salah satu rongga tubuh.Suppositoria
yang dimasukkan rectum disebut Suppositoria rectal dan bertujuan untuk efek lokal atau
sistemik, sedang yang dimasukkan vagina disebut ovula, untuk efek local
- Untuk tujuan sistemik cocok untuk obat-obat yang :
a. iritasi dan toksik di Gastrointestinal
b. tidak stabil pada pH Gastrointestinal
c. dirusak oleh enzim di Gastrointestinal
d. rasa tidak menyenangkan.

- Dalam pemakaiannya perlu diperhatikan tentang :

a. Kegiatan pasien dalam hal cara penggunaan dan waktunya, agar mendapatkan efek
yang optimal ( pagi hari setelah defekasi dan atau malam hari menjelang tidur,
sambil tiduran ).
b. Absorbsi bahan aktif sering tidak sempurna.
c. Dapat menyebabkan proktitis

- Sediaan ini cocok untuk pasien yang :


a. Mual,muntah atau post operatic, gangguan mental atau tak sadar
b. Terlalu muda atau terlalu tua

Cara mengenal kerusakan :


Sediaan lunak/telah lembek, timbul kristaUberbau tengik sebaiknya jangan digunakan.
Penyimpanan :
Dalam wadah tertutup rapat & ditempat sejuk. Untuk sediaan suppositoria dengan
vehikulum O1. Cacao/minyak lemak yang lain, sebaiknya disimpan di almari es.
Contoh :
Anusol Obat dimasukkan kedalam dubur, pagi atau sore hari setelah BAB
Flagyl Dulcolax 10 mg Primperan 10 mg atau 20 mg

e. PENGGUNAAN OBAT TRANSDERMAL


Suatu system dimana bahan obat yang terdapat pada permukaan kulit menembus
beberapa lapisan kulit dan masuk sirkulasi sistemik. Bentuk sediaan ini terdapat
beberapa ukuran yang berhubungan dengan konsentrasi obat. Cara penggunaanya
tergantung bahan obat, ada yang ditempelkan dipunggung, lengan atas, pundak,
belakang telinga.
Sifat :
-

Menghindari kesulitan obat diabsorbsi karena dirusak oleh pH lambung, aktivitas


enzim, interaksi obat dan makanan.

Cocok untukPenderita mual, muntah, diare

Menghindari obat lewat lintas utama

Menghindari resiko terapi secara parenteral

Memperpanjang aktivitas obat yang mempunyai waktu paruh pendek.

Memungkinkan terapi yang berhari-hari dengan pemakaian tunggal

Memungkinkan penghentian efek obat secara cepat

Memungkinkan percepatan identifikasi apabila terjadi keadaan darurat


Contoh : Nitroderm TTS Nitrodisc Ditempelkan dipunggung atau lengan atas

PRINSIP PEMILIHAN BSO (BENTUK SEDIAAN OBAT)


Dalam memilih atau menentukan bentuk sediaan obat perlu memperhatikan factor
bahan obat, dan keadaan penderita, agar terapi dapat tercapai dengan baik.
A. BAHAN OBAT
1.

Sifat fisika-kimia obat


A. Higroskopis, lebih baik dibuat cairan. Obat tidak stabil dalam cairan, sebagai
contoh asetosal apabila dibuat minuman akan tenuai menjadi asam salisilat
dan asetaldehid, oleh karena itu sebaiknya dibuat cairan
B. Apabila bahan tidak larut dalam air, dapat dipilih bentuk sediaan padat,
seandainya dipilih cairan ukuran partikel hams kecil sehingga absorpsinya
lebih cepat

C. Bahan dirusak oleh asam lambung, sebaiknya diberikan dalam bentuk injeksi
secara parenteral atau apabila bentuk sediaan padat dipilih bentuk tablet salut
enterik.
2.

Hubungan aktivitas-struktur kimia obat


A. Derivat barbiturat (short-acting) diberikan dalam bentuk sediaan injeksi
B. Derivat barbiturat (long acting) diberikan dalam bentuk sediaan padat yaitu
pulveres, tablet atau kapsul

3.

Sifat farmakokinetik bahan obat


Obat yang mengalami first past effect di hati sebagai contoh isosorbidi dinitrat
diberikan secara sub lingual atau nitrogliserin secara transdermal

B. PENDERITA
1. Umur penderita :

Bayi kurang dari 1 tahun


Pemberian oral, apabila BSO cair sebaiknya dipilih tetes (guttae oral) karena
volume pemberiaanya kecil, sedangkan BSO padat dipilih pulveres (puyer).
Bentuk sediaan khusus : injeksi atau supositoria

Anak 1-5 tahun


Pemberian oral, apabila BSO cair dipilih solusio, sirup, suspensi, emulsi,
sedangkan BSO padat dipilih pulveres.
Bentuk sediaan khusus yaitu : injeksi atau supositoria

Anak 5-12 tahun


Pemberian oral, apabila BSO cair dipilih solusio, suspensi, emulsi sedangkan BSO
padat dipilih pulveres, kapsul atau tablet (apabila dapat menelan).
Bentuk sediaan khusus: injeksi, supositoria, inhalasi/aerosol

Dewasa
Semua BSO yang ada

Manula
Semua BSO yang ada, kecuali apabila tidak dapat menelan tablet/kapsul maka
dipilih BSO cair

2. Lokasi/bagian tubuh dimana obat bekerja


efek local: - cair (solusio, emulsi, suspensi)
- setengah padat (unguentum,cream, gel, pasta)

khusus (supositoria, ovula, spray, aerosol/inhalasi)

penyerapan atau penetrasi obat melalui kulit : transdermal, injeksi

3. Keadaan umum penderita :

penderita tidak sadar : dipilih BSO injeksi atau supositoria


penderita tidak dapat diberikan per oral, misalnya hiperemesis, post operasi
saluran cerna, kejang maka dipilih BSO injeksi atau supositoria
4. Bentuk sediaan yang yang enak/cocok bagi penderita
Bahan obat sangat pahit meskipun larut dalam air, tidak diberikan dalam bentuk
cairan, akan tetapi dipilih bentuk sediaan padat (misalnya kapsul) kecuali terdapat
preparat esternya (misalnya chloramphenicol palmitat, erythromycin etylsuccinat)
Bahan obat berasa amis, dipilih bentuk sediaan tablet salut gula atau kapsul,
jangan memilih BSO padat pulveres.

Kesimpulan
Bentuk sediaan obat memberikan gambaran mengenai berbagai jenis bahan obat dan bentuk
sesuai dengan rute pemberian. Sediaan tersebut dapat dibagi dalam beberapa bentuk, yaitu
sediaan cair per-oral, sediaan padat per-oral, sediaan yang digunakan pada mukosa tubuh,
sediaan obat topical dan sediaan parenteral. Setelah mempelajari unit ini, mahasiswa D III

Keperawatan diharapkan memiliki pemahaman tentang bentuk-bentuk sediaan obat secara


menyeluruh.

LATIHAN

C. TES FORMATIF
1.

Macam-macam bentuk sediaan obat :


Jawaban :
1.
2.
3.
4.

2.

Dalam memilih bentuk sediaan obat perlu diperhatikan:


Jawaban :
1.
2.
3.
4.
5.

3.

Bentuk sediaan padat


Bentuk sediaan cair
Bentuk sediaan setengah padat
Bentuk sediaan khusus

sifat bahan obat


sifat sediaan obat
kondisi penderita
kondisi penyakit
harga

Sebutkan jenis-jenis tablet :


Jawaban:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

4.

Tablet Hisap
Trochici
Tablet sublingual
Tablet kunyah
Tablet effervescent
Tablet salut
Tablet multilayer
Tablet forte

Sifat sediaan sirup adalah :

Jawaban:
1. Homogen
2. Lebih kental dan lebih manis dibandingkan dengan solutio
3. Cocok untuk anak-anak maupun dewasa
5.

Contoh sediaan obat yang dikumur sampai tenggorokan, dan tidak boleh ditelan adalah :
Jawaban:
Betadine 190 ml.

6.

Sediaan setengah padat untuk digunakan sebagai obat luar, mudah dioleskan pada kulit dan
tanpa perlu pemanasan terlebih dahulu adalah:
Jawaban:
Salep

7.

Inhalasi adalah :
Jawaban:
Obat atau larutan obat yang diberikan lewat nasal atau mulut dengan cara dihirup yang
dimaksudkan untuk efek sistemik lewat paru-paru.

8.

Bagaimana penyimpanan sediaan obat injeksi? :


Jawaban:
Sediaan cair: Disimpan di tempat kering, pada suhu kamar dan terlindung dari cahaya
matahari
Sediaan kering: disimpan di tempat kering, pada suhu kamar dan terlindung dari cahaya
matahari (belum dicairkan), disimpan di lemari es (setelah dicairkan)

9.

Sediaan supositoria cocok untuk pasien yang.............


Jawaban:
(1) mual,muntah atau post operatic, gangguan mental atau tidak sadar
(2) terlalu muda atau terlalu tua

10.

Prinsip pemilihan BSO dilihat dari...


Jawaban:
a. Bahan obat (sifat fisika-kimia obat, hubungan aktivitas-struktur kimia obat dan sifat
farmakokinetik bahan obat
b.
Penderita (umur, lokasi, keadaan umum penderita)

Umpan balik
Apabila mahasiswa dapat menjawab 7 dari 10 soal maka mahasiswa akan dengan mudah
mengerjakan soal UAS yang tekait dengan bentuk sediaan obat

DAFTAR PUSTAKA

G o o d m a n , G i l m a n ( 2 0 0 8 ) , D a s a r F a r m a k o l o g i Ter a p i , v o l u m e 1 , E d i s i 1 0 ,
Jakarta: EGC
J a s , Ad m a r ( 2 0 0 4 ) , P e r i h a l O b a t d e n g a n B e r b a g a i B e n t u k S e d i a a n n y a ,
Medan: USU Press

Katzung, Bertram G (2001), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 1,


Jakarta: Salemba Medika
Katzung, Bertram G (2002), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 2, Edisi
8, Jakarta: Salemba Medika
Nanizar z.j., (1994).Ars Prescribendi Resep yang Rasional . Jilid 1,2 dan
3 , S u r a b a ya : U n i v e r s i t a s A i r l a n g g a P r e s s
Tam b a y o n g , J a n ( 2 0 0 2 ) , F a r m a k o l o g i u n t u k K e p e r a w a t a n , J a k a r t a : Wid y a
Medika

UNIT 7
PERAN PERAWAT DALAM PEMBERIAN
OBAT UHAN KEPERAWATAN

PASIEN ST
200 Menit

A. PENGANTAR
Pemberian obat pada pasien merupakan salah satu unsur yang tidak dapat dilepaskan dari
penyakit yang diderita pasien. Tindakan pemberian obat menjadi salah satu tindakan penting
seorang perawat dalam menjalankan peran kolaborasinya. Dalam hal ini perawat harus dibekali
dengan ilmu keperawatan yang cukup karena perawat sangat bertanggung iawab dalam
memastikan bahwa obat tersebut aman dan diberikan dengan tepat.
Dengan membaca materi berikut dan mengamati gambar, serta mengerjakan latihan soal ,
diharapkan anda memahami peran perawat dalam pemberian obat.

TUJUAN

TUJUAN PEMBELAJARAN
Adapun kompetensi yang diharapkan setelah mempelajari modul ini mahasiswa mampu
menjelaskan peran perawat dalam pemberian obat yang meliputi:
1.
2.
3.
4.

Mampu mengidentifikasi peran perawat dalam kaitan dengan terapi obat


Mampu mengidentifikasi langkah-langkah proses keperawatan dalam terapi obat
Mampu menentukan prinsip-prinsip pendidikan kesehatan yang berkaitan dengan rencana
terapi obat
Mampu menjelaskan cara penyimpanan obat

B. BAHAN BACAAN
A. Peran Perawat dalam Pengobatan
Perawat harus terampil dan tepat saat memberikan obat, tidak sekedar memberikan pil
untuk diminum (oral) atau injeksi obat melalui pembuluh darah (parenteral), namun juga
mengobservasi respon klien terhadap pemberian obat tersebut. Pengetahuan tentang manfaat
dan efek samping obat sangat penting dimiliki oleh perawat. Perawat memiliki peran yang
utama dalam meningkatkan dan mempertahankan kesehatan klien dengan mendorong klien
untuk lebih proaktif jika membutuhkan pengobatan.
Perawat berusaha membantu klien dalam membangun pengertian yang benar dan jelas
tentang pengobatan, mengkonsultasikan setiap obat yang dipesankan dan turut serta
bertanggungjawab dalam pengambilan keputusa tentang pengobatan bersama dengan tenaga
kesehatan lain. Perawat dalam memberikan obat juga harus memperhatikan resep obat yang
diberikan harus tepat.
B. Prinsip Pemberian Obat
1. Pasien yang Benar
Sebelum obat diberikan, identitas pasien harus diperiksa (papan identitas di tempat
tidur, gelang identitas) atau ditanyakan langsung kepada pasien atau keluarganya. Jika
pasien tidak sanggup berespon secara verbal, respon non verbal dapat dipakai, misalnya
pasien mengangguk. Jika pasien tidak sanggup mengidentifikasi diri akibat gangguan

mental atau kesadaran, harus dicari cara identifikasi yang lain seperti menanyakan
langsung kepada keluarganya. Bayi harus selalu diidentifikasi dari gelang identitasnya.
2. Obat yang Benar
Obat memiliki nama dagang dan nama generik. Setiap obat dengan nama dagang
yang kita asing (baru kita dengar namanya) harus diperiksa nama generiknya, bila perlu
hubungi apoteker untuk menanyakan nama generiknya atau kandungan obat. Sebelum
memberi obat kepada pasien, label pada botol atau kemasannya harus diperiksa tiga
kali. Pertama saat membaca permintaan obat dan botolnya diambil dari rak obat, kedua
label botol dibandingkan dengan obat yang diminta, ketiga saat dikembalikan ke rak
obat. Jika labelnya tidak terbaca, isinya tidak boleh dipakai dan harus dikembalikan ke
bagian farmasi.
Jika pasien meragukan obatnya, perawat harus memeriksanya lagi. Saat memberi obat
perawat harus ingat untuk apa obat itu diberikan. Ini membantu mengingat nama obat
dan kerjanya.
3. Dosis yang Benar
Sebelum memberi obat, perawat harus memeriksa dosisnya. Jika ragu, perawat
harus berkonsultasi dengan dokter yang menulis resep atau apoteker sebelum
dilanjutkan ke pasien. Jika pasien meragukan dosisnya perawat harus memeriksanya
lagi. Ada beberapa obat baik ampul maupun tablet memiliki dosis yang berbeda tiap
ampul atau tabletnya.
4. Cara/Rute Pemberian yang Benar
Obat dapat diberikan melalui sejumlah rute yang berbeda. Faktor yang menentukan
pemberian rute terbaik ditentukan oleh keadaan umum pasien, kecepatan respon yang
diinginkan, sifat kimiawi dan fisik obat, serta tempat kerja yang diinginkan. Obat dapat
diberikan peroral, sublingual, parenteral, topikal, rektal, inhalasi.
a.

Oral, adalah rute pemberian yang paling umum dan paling banyak dipakai, karena
ekonomis, paling nyaman dan aman. Obat dapat juga diabsorpsi melalui rongga

b.

mulut (sublingual atau bukal) seperti tablet ISDN.


Parenteral, kata ini berasal dari bahasa Yunani, para berarti disamping, enteron
berarti usus, jadi parenteral berarti diluar usus, atau tidak melalui saluran cerna,
yaitu melalui vena (perset / perinfus).

c.

Topikal, yaitu pemberian obat melalui kulit atau membran mukosa. Misalnya salep,

d.

losion, krim, spray, tetes mata.


Rektal, obat dapat diberi melalui rute rektal berupa enema atau supositoria yang
akan mencair pada suhu badan. Pemberian rektal dilakukan untuk memperoleh efek
lokal seperti konstipasi (dulkolax supp), hemoroid (anusol), pasien yang tidak sadar
/ kejang (stesolid supp). Pemberian obat perektal memiliki efek yang lebih cepat
dibandingkan pemberian obat dalam bentuk oral, namun sayangnya tidak semua

e.

obat disediakan dalam bentuk supositoria.


Inhalasi, yaitu pemberian obat melalui saluran pernafasan. Saluran nafas memiliki
epitel untuk absorpsi yang sangat luas, dengan demikian berguna untuk pemberian
obat secara lokal pada salurannya, misalnya salbotamol (ventolin), combivent,
berotek untuk asma, atau dalam keadaan darurat misalnya terapi oksigen.

5. Waktu yang Benar


Ini sangat penting, khususnya bagi obat yang efektivitasnya tergantung untuk
mencapai atau mempertahankan kadar darah yang memadai. Jika obat harus diminum
sebelum makan, untuk memperoleh kadar yang diperlukan, harus diberi satu jam
sebelum makan. Ingat dalam pemberian antibiotik yang tidak boleh diberikan bersama
susu karena susu dapat mengikat sebagian besar obat itu sebelum dapat diserap. Ada
obat yang harus diminum setelah makan, untuk menghindari iritasi yang berlebihan
pada lambung misalnya asam mefenamat.
6. Dokumentasi yang Benar
Setelah obat itu diberikan, harus didokumentasikan, dosis, rute, waktu dan oleh
siapa obat itu diberikan. Bila pasien menolak meminum obatnya, atau obat itu tidak
dapat diminum, harus dicatat
C. Cara Penyimpanan Obat
1. Suhu, adalah faktor terpenting, karena pada umumnya obat itu bersifat termolabil (rusak
atau berubah karena panas), untuk itu perhatikan cara penyimpanan masing-masing obat
yang berbeda-beda. Misalnya insulin, supositoria disimpan di tempat sejuk < 15C (tapi
tidak boleh beku), vaksin tifoid antara 2 10C, vaksin cacar air harus < 5C.

2. Posisi, pada tempat yang terang, letak setinggi mata, bukan tempat umum dan terkunci.
3. Kedaluwarsa, dapat dihindari dengan cara rotasi stok, dimana obat baru diletakkan
dibelakang, yang lama diambil duluan. Perhatikan perubahan warna (dari bening
menjadi keruh) pada tablet menjadi basah / bentuknya rusak.

D. Hak Klien yang Berhubungan dengan Pemberian Obat


1. Hak klien untuk mengetahui alasan pemberian obat.
Hak ini adalah prinsip dari pemberian persetujuan setelah mendapatkan informasi
(informed consent) yang berdasarkan pengetahuan individu yang diperlukan untuk
membuat keputusan.
2.

Hak klien untuk menolak pengobatan.


Klien dapat menolak untuk menerima suatu pengobatan. Adalah tanggung jawab
perawat untuk menentukan, jika memungkinkan, alasan penolakan dan mengambil
langkah-langkah yang perlu untuk mengusahakan agar klien mau menerima pengobatan.
Jika tetap menolak, perawat wajib mendokumentasikan pada catatan perawatan dan
melapor kepada dokter yang menginstruksikan.

E. Kesalahan dalam Pemberian Obat


Kesalahan pemberian obat, selain memberi obat yang salah, mencakup faktor lain yang
mengubah terapi obat yang direncanakan, misalnya lupa memberi obat, memberi obat dua
sekaligus sebagai kompensasi, memberi obat yang benar pada waktu yang salah, atau
memberi obat yang benar pada rute yang salah.
Jika terjadi kesalahan pemberian obat, perawat yang bersangkutan harus segera
menghubungi dokternya atau kepala perawat atau perawat yang senior segera setelah
kesalahan itu diketahuinya.
F. Pendidikan Kesehatan
Secara moral perawat bertanggung jawab memberikan pendidikan kesehatan pada
pasien dan keluarga. Pendidikan kesehatan yang perlu diberikan mencakup informasi
tentang penyakit kemajuan pasien, obat, cara merawat pasien. Pendidikan kesehatan yang

berkaitan dengan peberian obat yaitu informasi tentang obat efek samping cara minum obat
waktu dan dosis.
G. Peran dalam Mendukung Keefektifitasan Obat
Dengan memiliki pengetahuan yang memadai tentang daya kerja dan efek terapeutik
obat, perawat harus mampu melakukan observasi untuk mengevaluasi efek obat dan harus
melakukan upaya untuk meningkatkan keefektifitasan obat. Pemberian obat tidak boleh
dipandang sebagai pengganti perawatan, karena upaya kesehatan tidak dapat terlaksana
dengan pemberian obat saja. Pemberian obat harus dikaitkan dengan tindakan perawatan.
Ada berbagai pendekatan yang dapat dipakai dalam mengevaluasi keefektifitasan obat
yang diberikan kepada pasien. Namun, laporan langsung yang disampaikan oleh pasien
dapat digunakan pada berbagai keadaan. Sehingga, perawat penting untuk bertanya langsung
kepada pasien tentang keefektifitasan obat yang diberikan.
H. Peran dalam Mengobservasi Efek Samping dan Alergi Obat
Perawat mempunyai peran yang penting dalam mengobservasi pasien terhadap
kemungkinan terjadinya efek samping obat.untuk melakukan hal ini, perawat harus
mengetahui obat yang diberikan pada pasien serta kemungkinan efek samping yang dapat
terjadi. Beberapa efek samping obat khususnya yang menimbulkan keracunan memerlukan
tindakan segera misalnya dengan memberikan obat-obatan emergensi, menghentikan obat
yang diberikan dan secepatnya memberitahu dokter.
Perawat harus memberitahu pasien yang memakai/ minum obat di rumah mengenai
tanda-tanda atau gejala efek samping obat yang harus dilaporkan pada dokter atau perawat.
Setiap pasien mempunyai ketahanan yang berbeda terhadap obat. Beberapa pasien dapat
mengalami alergi terhadap obat-obat tertentu. Perawat mempunyai peran penting untuk
mencegah terjadinya alergi pada pasien akibat pemberian obat. Data tentang alergi harus
diperoleh sewaktu perawat melakukan pengumpulan data riwayat kesehatan.
I. Trend Issue Pengobatan
Pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati tanaman untuk pengobatan herbal secara
alami berdasarkan praktik empiris di Indonesia semakin meningkat. Pengobatan dengan

bahan alami digunakan berdasarkan praktis empiris seperti

pencegahan penyakit,

meningkatkan kesehatan, penyembuhan penyakit dan sebagai kosmetik. Brotowali, Kumis


Kucing, Buah Merah, dan Temulawak merupakan sedikit dari beragam jenis tumbuhan asli
Indonesia yang diketahui dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti diare,
darah tinggi, diabetes, hiperkolesterorl, hepatitis, asam urat, asma, batu ginjal, reumatik,
batu empedu, keputihan, hingga obesitas.
Pemanfaatan tanaman asli Indonesia sebagai bahan pengobatan modern merupakan
usaha yang terus harus dilanjutkan untuk menjadikan Indonesia tuan rumah dari pengobatan
herbal, Pemanfaatan bahan alami yang dapat digunakan sebagai bahan untuk obat pun sudah
diatur dalam Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tentang pengawasan
pemasukan bahan baku obat tradisional.

J. Proses Keperawatan Dalam Terapi Obat


c.

Assessment
1.1
1.1.1

Riwayat pengobatan
Sebelum menggunakan obat
- memastikan macam obat yg sudah digunakan untuk mengurangi penyakit.
- obat apa saja yg sudah digunakan untuk pengobatan sendiri.
- apakah menggunakan obat kimia / tradisional
- apakah ada obat yg sedang / masih digunakan

1.1.2

Respon terhadap obat yg digunakan

- respon terapetik
- reaksi yg merugikan
- reaksi idiosinkrasi
- reaksi alergi
- toleransi & ketergantungan
1.1.3

Riwayat penyakit keluarga


- idiosinkrasi
- alergi

1.1.4

Sikap pasien terhadap obat yg digunakan.

1.2

Analisis
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

1.3

Mengidentifikasi kontraindikasi dari penggunaan obat / faktor lain yg tidak


biasa terjadi.
Interaksi obat
Respon fisik & fisiologik sebelum obat diberikan
Membandingkan data obat & data pasien untuk mengidentifikasi masalah yg
potensial pd perencanaan regimen dosis.
Cara pemberian obat yg efektif untuk pasien pd pengobatan sendiri.
Membandingkan pengetahuan pasien untuk berpartisipasi optimal dalam
regimen obat.
Sikap pasien terhadap obat yg digunakan.

Hasil identifikasi
1.

Menyusun kriteria untuk hasil yg baik.

2.

Menegakkan parameter yg diukur, termasuk menetapkan kerangka waktu


pengobatan.

d.

Diagnosa keperawatan
1.

Mengidentifikasi timbulnya masalah yg sebenarnya dari regimen obat.

2.

Mengidentifikasi timbulnya masalah yg potensial dari regimen obat.

3.

Perencanaan

3.1

Obyektivitas pelayanan keperawatan

3.2

4.

5.

a.

Mencegah drug related problem (DRP).

b.

Memperbaiki gejala penyakit yg ada.

c.

Mengoreksi keadaan yg abnormal.

d.

Perbaikan fungsi.

Tujuan
1.

Meminimalkan efek samping

2.

Mencegah ketergantungan obat

3.

Segera mendeteksi & memberi perawatan terhadap reaksi obat yg merugikan.

4.

Menarik/memutus ketergantungan obat-obat kimia.

5.

Mengurangi / meningkatkan penggunaan obat.

Intervensi
1.

Mengukur pelayanan psikologi.

2.

Mengukur pelayanan fisik.

3.

Konsultasi dg dokter & apoteker mengenai perubahan regimen obat.

4.

Client teaching

Hasil Evaluasi
1.
2.

Kesimpulan

Mengumpulkan data yg dievaluasi.


Membandingkan data yg dievaluasi dg data sebelumnya, untuk mendukung
pengukuran kriteria yg ditetapkan

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, jelaslah bahwa pemberian obat pada klien merupakan
fungsi dasar keperawatan yang membutuhkan ketrampilan teknik dan pertimbangan terhadap
perkembangan klien. Perawat yang memberikan obat-obatan pada klien diharapkan mempunyai
pengetahuan dasar mengenai obat dan prinsip-prinsip dalam pemberian obat.. Setelah
mempelajari unit ini, mahasiswa D III Keperawatan diharapkan memiliki pemahaman tentang
peran perawat dalam pemberian obat.

LATIHAN
C.
1.

TES FORMATIF
Seorang perawat harus melakukan enam hal yang benar yaitu:
Jawaban :
klien yang benar, obat yang benar, dosis yang bena, waktu yang benar, rute yang benar, dan
dokumentasi yang benar

2.

Komponen dari perintah pengobatan adalah... :


Jawaban :
(1) tanggal dan saat perintah ditulis,
(2) nama obat,
(3) dosis obat,
(4) rute pemberian,
(5) frekuensi pemberian, dan
(6) tanda tangan dokter atau pemberi asuhan kesehatan.

3.

Untuk menghindari kesalahan, label obat harus dibaca tiga kali yaitu.. :
Jawaban :
(1) pada saat melihat botol atau kemasan obat,

(2) sebelum menuang / mengisap obat dan


(3) setelah menuang / mengisap obat.

4.

Hak-hak klien dalam pemberian obat, yaitu...:


Jawaban :
1. Hak Klien Mengetahui Alasan Pemberian Obat
2. Hak Klien untuk Menolak Pengobatan

5.

Proses pengkajian keperawatan dalam terapi obat meliputi...:


Jawaban :
1. Riwayat pengobatan
2. Analisis
3. Hasil identifikasi

6.

Diagnosa keperawatan dalam terapi obat meliputi...:


Jawaban :
a.
b.

7.

Mengidentifikasi timbulnya masalah yg sebenarnya dari regimen obat.


Mengidentifikasi timbulnya masalah yg potensial dari regimen obat.

Pada proses keperawatan dalam hal pemberian obat, tujuannya meliputi...:


Jawaban :
1. Meminimalkan efek samping
2. Mencegah ketergantungan obat
3. Segera mendeteksi & memberi perawatan terhadap reaksi obat yg merugikan.
4. Menarik/memutus ketergantungan obat-obat kimia.
5. Mengurangi / meningkatkan penggunaan obat.

8.

Penyimpanan vaksin cacar air sebaiknya pada suhu...:


Jawaban :
5oC

9.

Yang dimaksud dengan b.i.d pada resep obat adalah..:

Jawaban :
Dua kali sehari
10.

Hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai kedaluwarsa obat adalah...:


Jawaban :
Yang perlu diperhatikan adalah perubahan warna (dari bening jadi keruh) dan tablet menjadi
basah.

Umpan balik
Apabila mahasiswa dapat menjawab 7 dari 10 soal maka mahasiswa akan dengan mudah
mengerjakan soal UAS yang tekait dengan peran perawat dalam pemberian obat.

DAFTAR PUSTAKA

G o o d m a n , G i l m a n ( 2 0 0 8 ) , D a s a r F a r m a k o l o g i Ter a p i , v o l u m e 1 , E d i s i 1 0 ,
Jakarta: EGC
J a s , Ad m a r ( 2 0 0 4 ) , P e r i h a l O b a t d e n g a n B e r b a g a i B e n t u k S e d i a a n n y a ,
Medan: USU Press
Katzung, Bertram G (2001), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 1,
Jakarta: Salemba Medika
Katzung, Bertram G (2002), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 2, Edisi
8, Jakarta: Salemba Medika
Nanizar z.j., (1994).Ars Prescribendi Resep yang Rasional . Jilid 1,2 dan
3 , S u r a b a ya : U n i v e r s i t a s A i r l a n g g a P r e s s
Tam b a y o n g , J a n ( 2 0 0 2 ) , F a r m a k o l o g i u n t u k K e p e r a w a t a n , J a k a r t a : Wid y a
Medika

UNIT 8
KONSEP PRINSIP PEMBERIAN OBAT ORAL
DAN TOPIKAL AN KEPERAN STROKE
100 Menit

A.

PENGANTAR

Salah satu tugas terpenting seorang perawat adalah memberi obat yang aman dan akurat
kepada klien. Obat merupakan alat utama terapi untuk mengobati klien yang memiliki masalah.
Obat bekerja menghasilkan efek terapeutik yang bermanfaat. Walaupun obat menguntungkan
klien dalam banyak hal, beberapa obat dapat menimbulkan efek samping yang serius atau
berpotensi menimbulkan efek yang berbahaya bila kita memberikan obat tersebut tidak sesuai
dengan anjuran yang sebenarnya.
Dengan membaca materi berikut serta

mengerjakan latihan soal , diharapkan anda

memahami prinsip pemberian obat oral dan topikal.

TUJUAN
TUJUAN PEMBELAJARAN
Adapun kompetensi yang diharapkan setelah mempelajari modul ini mahasiswa mampu menjelaskan
prinsip pemberian obat oral dan topical yang meliputi:
1. Mampu membedakan obat oral dan obat topical
2. Mampu menjelaskan obat oral dan topical

3. Mampu menjelaskan prinsip pemberian obat oral dan topical

B.

BAHAN BACAAN

A . Cara Pemberian Obat


1.

Pemberian Obat Per Oral


A. Defenisi
Pemberian obat per oral merupakan cara yang paling banyak dipakai karena ini
merupakan cara yang paling mudah, murah, aman, dan nyaman bagi pasien. Berbagai
bentuk obat dapat di berikan secara oral baik dalam bentuk tablet, sirup, kapsul atau
puyer. Untuk membantu absorbsi , maka pemberian obat per oral dapat di sertai dengan
pemberian setengah gelas air atau cairan yang lain. Beberapa jenis obat dapat
mengakibatkan iritasi lambung dan menyebabkan muntah (mislanya garam besi dan
Salisilat). Untuk mencegah hal ini, obat di persiapkan dalam bentuk kapsul yang
diharapkan tetap utuh dalam suasana asam di lambung, tetapi menjadi hancur pada
suasana netral atau basa di usus. Dalam memberikan obat jenis ini, bungkus kapsul tidak
boleh di buka, obat tidak boleh dikunyah dan pasien di beritahu untuk tidak minum
antasaid atau susu sekurang-kurangnya satu jam setelah minum obat. Apabila obat
dikemas dalam bentuk sirup, maka pemberian harus di lakukan dengan cara yang paling
nyaman khususnya untuk obat yang pahit atau rasanya tidak enak. Pasien dapat di beri
minuman dingin (es) sebelum minum sirup tersebut. Sesudah minum sirup pasien dapat
di beri minum, pencuci mulut atau kembang gula.

B. Keuntungan dan kerugian cara pemberian melalui oral


Keuntungan
1.

Harga relative lebih murah

2.

Bisa di kerjakan sendiri boleh pasien

3.

Tidak menimbulkan rasa nyeri

4. Bila terjadi keracunan, obat masih bias di keluarkan dari tubuh dengan cara Reflek
muntah dari faring dan Kumbah Lambung asalkan obat di minum belum melebihi
4 jam artinya obat masih di dalam gaster Tetapi bilamana lebih dari 4 jam tapi
belum melebihi 6 jam racun di dalam intestinum atau belum mengalami absorbsi.
Racun masih bisa di keluarkan dengan cara :
-

Urus urus menggunakan Magnesium Sulfat tubuh berwarna putih untuk


dewasa dosis 10 mg atau 1 peres sendok makan

Antara 4 dan 6 jam tadi pasien di beri Absorben yaitu arang aktif bentuk
seperti tablet, warna hitam, cukup 1 tablet

Bilamana melebihi 6 jam ini diberi penetral racun atau Antidotum zat yang
dapat menetralkan racun

Kerugian
Kelemahan dari pemberian obat per oral adalah
-

Pada aksinya yang lambat sehingga cara ini tidak dapat di pakai pada keadaan
gawat.

- Obat yang di berikan per oral biasanya membutuhkan waktu 30 sampai dengan 45
menit sebelum di absorbsi dan efek puncaknya di capai setelah 1 sampai dengan 1
jam.
-

Rasa dan bau obat yang tida enak sering mengganggu pasien.

- Cara per oral tidak dapat di pakai pada pasien yang mengalami mual-mual,
muntah, semi koma, pasien yang akan menjalani pangisapan cairan lambung serta
pada pasien yang mempunyai gangguan menelan.

C. Persiapan Pemberian obat per oral


1. Kartu pesanan harus di periksa secara hati-hati tentang pesanan obatnya. Sebelum
mengambil/mengeluarkan obat, perawat harus mencocokan kartu pesanan obat
dengan label pada botol kemasan obat. Setiap label harus dibaca tiga kali untuk
menyakinkan obat yang di berikan:

Pada saat botol obat di ambil dari almari.

Pada mencocokan pada dengan kartu pesanan obat.

Pada saat di kembalikan.

2. Obat dalam bentuk cair di tuangkan menjauhi sisi table, sejajar dengan mata pada
permukaan datar. Sebelum mengembalikan obat kedalam almari atau lemari es,
perawat harus mengusap bibir botol sehingga obat tidak lengket atau merusak
label.
3. Tablet dan kapsul di keluarkan dari botolnya pada tutupnya kemudian pada
mangkok yang dialasi kertas untuk diberikan pada pasien. Kapsul dan tablet tidak
boleh di peggang
7. Cara pemberian obat per oral
Peralatan :
1. Baki berisi obat-obatan atau kereta sorong obat-obat (tergantung sarana yang ada)
2. Kartu rencana pengobatan
3. Cangkir disposable untuk tempat obat
4. Martil dan lumping penggerus (bila di perlukan)
Tahap Kerja :
1. Siapkan peralatan dan cuci tangan
2. Kaji kemampuan pasien untuk dapat minum obat per oral (kemampuan menelan,
mual dan muntah, atau tidak boleh makan dan minum).
3. Periksa kembali order pengobatan (nama pasien, nama dan dosis obat,waktu dan
cara pemberian). Bila ada keraguan-keraguan laporkan keperawat jaga atau
dokter.
4. Ambil obat sesuai yang di perlukan (baca order pengobatan dan ambil di almari,
rak atau lemari es sesuai yang di perlukan).
5. Siapkan obat-obatan yang akan diberikan (gunakan teknik aseptik, jangan
menyentuh obat dan cocokan dengan order pengobatan)
6. Berikan obat pada waktu dan cara yang benar yaitu dengan cara:

Yakin bahwa tidak pada pasien yang salah

Atur posisi pasien duduk bila mungkin

Kaji tanda-tanda vital pasien

Berikan cairan/air yang cukup untuk membantu menelan, bila sulit menelan
anjurkan pasien meletakan obat di lidah bagian belakang, kemudian pasien di
anjurkan minum.

Bila obat mempunyai rasa tidak enak, beri pasien beberapa butir es batu untuk
di isap sebelumnya, atau berikan obat dengan menggunakan lumatan apel
atau pisang.

Tetap bersama pasien sampai obat di telan.

7. Catat tindakan yang telah dilakukan meliputi nama dan dosis obat yang di berikan,
setiap keluhan dan hasil pengkajian pada pasien. Bila obat tidak dapat masuk,
catat secara jelas dan tulis tanda tangan anda dengan jelas. Kembalikan semua
perlatan yang di pakai dengan tepat kemudian cuci tangan.
8. Lakukan evaluasi mengenai efek obat pada pasien kurang lebih 30 menit setelah
waktu pemberian.
Jenis-jenis obat per oral
A. PIL
Yaitu satu atau lebih dari satu obat yang di campur dengan bahan kohesif dalam
bentuk lonjong, bulat atau lempengan. Pil hendaknya di telan secara utuh karena
dapat mengandung obat - obatan yang rasanya sangat tidak enak atau zat besi
yang bisa membuat gigi penderita berwarna hitam.
B. Tablet
Yaitu obat bubuk yang dipadatkan dalam bentuk lonjong atau lempengan. Tablet
dapat di patahkan untuk mempermudah dalam menelan
C. Bubuk
Yaitu obat yang di tumbuk halus. Bubuk ini tidak dapat larut dalam air dan dapat
di berikan kepada penderita dengan cara berikut :
- Dari kertas pembungkusnya di jatuhkan keatas lidah penderita

- Kita campur dalam air atau susu (campuran tersebut harus terus kita aduk
karena bubuk itu tidak larut dalam cairan tersebut)
- Di persiapkan dalam pembungkus obat bubuk
D. Drase
Yaitu obat - obatan yang di bungkus oleh selaput tipis gula. Harus di telan secara
utuh karena dapat mengandung obat - obatan yang mempunyai kemampuan untuk
mengiritasi selaput lendir lambung pasien.
E. Kapsul
Yaitu obat dalam bentuk cair, bubuk atau minyak dengan di bungkus gelatin yang
juga harus di telan secara utuh karena dapat menyebabkan muntah akibat iritasi
selaput lendir lambung pasien. Suatu obat di persiapkan dalam bentuk kapsul
dengan harapan agar tetap utuh dalam suasana asam lambung tetapi menjadi
hancur pada suasana netral atau basa di usus. Dalam pemberian obat jenis kapsul,
bungkus kapsul tidak boleh di buka, obat tidak boleh dikunyah dan pasien
diberitahu untuk tidak minum susu atau antacid sekurang kurangnya satu jam
setelah minum obat.
F. Sirup
Disini kita memakai sendok pengukur, gelas pengukur (yang kecil), atau botol
tetesan. Kadang -kadang sirup sebelum diminum harus dikocok terlebih dahulu.
Pemberiannya harus dilakukan dengan cara yang paling nyaman khususnya untuk
obat yang pahit atau rasanya tidak enak. Pasien dapat diberiminum dingin (es)
sebelum minum sirup tersebut. Sesudah minum sirup, pasien dapat diberi minum,
pencuci mulut atau kembang gula.

2. Pemberian Obat Topikal pada Kulit


Pemberian obat topikal pada kulit merupakan cara memberikan obat pada kulit
dengan mengoleskan obat yang akan diberikan. Pemberian obat topikal pada kulit
memiliki tujuan yang lokal, seperti pada superficial epidermis. Obat ini diberikan untuk

mempercepat proses penyembuhan, bila pemberian per-oral tidak dapat mencapai


superficial epidermis yang miskin pembuluh darah kapiler. Efek sistemik tidak
diharapkan pada pemberian obat topikal pada kulit ini. Apabila terjadi kerusakan kulit
setelah penggunaan obat topikal pada kulit, maka kemungkinan besar efek sistemik akan
terjadi.
Pemberian obat topikal pada kulit terbatas hanya pada obat-obat tertentu karena tidak
banyak obat yang dapat menembus kulit yang utuh. Keberhasilan pengobatan topical
pada kulit tergantung pada:

Umur
Pemilihan agen topikal yang tepat
Lokasi dan luas tubuh yang terkena atau yang sakit
Stadium penyakit
Konsentrasi bahan aktif dalam vehikulum
Metode aplikasi
Penentuan lama pemakaian obat

Penetrasi obat topical pada kulit, melalui: stratum korneum epidermis papilla
dermis aliran darah
Proses penyerapan obat topikal jika diberikan pada kulit, yaitu:
Lag phase - hanya di atas kulit, tidak masuk ke dalam darah
Rising - dari stratum korneum diserap sampai ke kapiler dermis darah
Falling - obat habis di stratum korneum. Jika terus diserap kedalam, khasiatnya akan
semakin berkurang. Kurangnya konsentrasi obat yang sampai ke tempat sasaran bisa
karena proses eksfoliasi (bagian atas kulit mengelupas), terhapus atau juga karena
tercuci.
Faktor-faktor yang berperan dalam penyerapan obat, diantaranya adalah:
Keadaan stratum korneum yang berperan sebagai sawar kulit untuk obat.
Oklusi, yaitu penutup kedap udara pada salep berminyak yang dapat meningkatkan
penetrasi dan mencegah terhapusnya obat akibat gesekan, usapan serta pencucian.

Namun dapat mempercepat efek samping, infeksi, folikulitis dan miliaria jika
penggunaannya bersama obat atau kombinasinya tidak tepat.
Frekuensi aplikasi, seperti pada obat kortikosteroid yang kebanyakan cukup
diaplikasikan satu kali sehari, serta beberapa emolien (krim protektif) yang akan
meningkat penyerapannya setelah pemakaian berulang, bukan karena lama
kontaknya.
Kuantitas obat yang diaplikasi yaitu jumlah pemakaian obat topikal pada kulit ini
harus cukup, jika pemakaiannya berlebihan justru malah tidak berguna. Jumlah yang
akan dipakai, sesuai dengan luas permukaan kulit yang terkena infeksi (setiap 3%
luas permukaan kulit membutuhkan 1 gram krim atau salep).
Faktor lain
Faktor lain seprti peningkatan penyerapan, dapat terjadi apabila:

Obat dipakaikan dengan cara digosok sambil dipijat perlahan


Dioles searah dengan pertumbuhan folikel rambut
Ukuran partikel obat diperkecil
Sifat kelarutan dan penetrasi obat diperbaiki
Konsentrasi obat yang diberikan tepat

Contoh obat topikal untuk kulit :


1.
2.
3.

Anti jamur : ketoconazol, miconazol, terbinafin


Antibiotik : oxytetrasiklin
Kortikosteroid : betametason, hidrokortison

Tujuan
Pemberian obat topikal pada kulit bertujuan untuk mempertahankan hidrasi atau cairan
tubuh untuk mencapai homeostasis, melindungi permukaan kulit, mengurangi iritasi kulit,
menghilangkan gejala atau mengatasi infeksi.

Jenis
Pemberian obat topikal pada kulit dapat bermacam-macam seperti:

Krim
Saleb (ointment)
Lotion
Lotion yang mengandung suspense

Bubuk atau powder


Spray aerosol
Keuntungan dan Kerugian
Keuntungan
Untuk efek lokal, mencegah first-pass effect serta meminimalkan efek samping
sistemik.
Untuk efek sistemik, menyerupai cara pemberian obat melalui intravena (zero-order)
Kerugian
Secara kosmetik kurang menarik dan Absorbsinya tidak menentu.
Jenis Obat Topical
1. Lotion
Ini mirip dengan solusi tapi lebih tebal dan cenderung lebih emollient di alam
dibandingakan dengan solusi. Biasanya minyak dicampur dengan air dan lebih
sering tidak memiliki alcohol kurang dari solusi. Bisa lotion pengeringan jika
mereka mengandung jumlah alkohol tinggi.Ada variasi yang signifikan dalam
bahan dasar lotion generic bila dibandingkan dengan nama merek lotion.
2. Shake Lotion
Campuran yang memissahkan menjadi dua atau tiga bagian dengan waktu.Sering
minyak dicampur dengan dengan solusi berbasis air. Perlu dikocok kedalam
suspensis sebelum digunakan.
3. Cream
Cream lebih tebal daripada lotion,dan memperrtahankan bentuknya ketika
dikeluarkan darri wadahnya. Hal ini cenderung moderat dalam pelembab
kecenderungan. Untuk produk steroid topical, minyak dalam air emulsi adalah
umum. Krim memiliki resiko yang signifikan untuk menyebabkan sensitisasi
imunologi karena pengawet. Ini memiliki tingkat penerimaan yang tinggi oleh
pasien. Ada variasi besar dalam bahan, komposisi, pH,dan toleransi anatara merek
generic.

4. Salep
Adalah sebuah homogeny kental, semi padat persiapan, paling sering,
tebal,berminyak dengan viskositas tinggi,yang dimaksudkan untuk aplikasi
eksternal untuk kulit atau selaput lendir. Mereka digunakan sebagai pelembab atau
untuk aplikasi bahan aktif untuk kulit untuk tujuan perlindungan, terapi, atau
profilakssis dan dimana tingkat oklusi yang diinginkan. Salep digunakan topical
pada berbagai permukaan tubuh, ini termasuk kulit dan selaput lender dari mata
(salep mata), vagina, anus, dan hidung. Sebuah salep mungkin atau tidak mungkin
obat.Salep biasanya sangat pelembab dan baik untuk kulit kering. Mereka
memiliki resiko rendah sensitisas akibat beberapa bahan yang luar minyak dasar
atau lemak,dan resiko iritasi rendah. Ada sedikit biasanya variabelitas antarra
merrek obat generic dan obat-obatan name brand. Mereka sering tidak disukai
oleh pasien karena sifat berminyak.Kendaraan dari sebuah salep dikenal dengan
basis salep. Pemilihan bassa tergantung pada indikasi klinis untuk salep. Berbagai
jenis basis salep adalah : Hydrrocarbon bases,eg hard paraffin,soft paraffin
Hidrrokarbon, basis,misalnya paraffin keras, paraffin lunak, Absorption bases, eg
wool fat,beeswax Penyerapan bases, misalnya lemak wol, beeswax,water soluble
bases, eg macrogols 200,300,400 Basis larut dalam air,misalnya macrogols
200,300,400 Emulsifiying bases, eg emulsifying wax, centrimide Emulsfying
basis, misalnya lilin, emulsffyinng, centrimide.
Minyak nabati misalnya minyak zaitun, minyak arachis, minyak kelapa obatobatan yang terrsebar di pangkalan dan kemudian dapat dibagi setelah penetrasi
obat ke dalam kulit. Salep dirumuskan dengan hidrofobik, hidrofilik, atau air
emulsifying basis untuk memberikan persiapan yang tidak saling larut,larut, atau
emulsiffiable

dengan

sekresi

kulit.

Mereka

juga

bias

berasal

dari

hidrokarbon(lemak),penyerapan,air-dilepas,atau basa larut dalam air.

Kesimpulan
Obat merupakan suatu substansi yang diberikan kepada manusia atau binatang sebagai
perawatan, pengobatan, atau bahkan pencegahan terhadap berbagai gangguan yang terjadi di

dalam tubuh. Cara pemberian obat berbeda-beda tergantung bentuk sediaan obat yaitu oral
ataupun topical. Setelah mempelajari unit ini, mahasiswa D III Keperawatan diharapkan
memiliki pemahaman tentang konsep dan prinsip pemberian obat oral dan topikal secara
menyeluruh.

LATIHAN
C. TES FORMATIF
1.

Apakah keuntungan pemberian obat secara oral :


Jawaban :
1.
Harga relative lebih murah
2.
Bisa di kerjakan sendiri boleh pasien
3.
Tidak menimbulkan rasa nyeri
4. Bila terjadi keracunan, obat masih bias di keluarkan dari tubuh dengan cara Reflek
muntah dari faring dan Kumbah Lambung

2.

Apakah kerugian pemberian obat secara oral :


Jawaban :
1.
Pada aksinya yang lambat sehingga cara ini tidak dapat di pakai pada keadaan gawat.
2. Obat yang di berikan per oral biasanya membutuhkan waktu 30 sampai dengan 45 menit
sebelum di absorbsi dan efek puncaknya di capai setelah 1 sampai dengan 1 jam.
3.
Rasa dan bau obat yang tida enak sering mengganggu pasien.
4. Cara per oral tidak dapat di pakai pada pasien yang mengalami mual-mual, muntah, semi
koma, pasien yang akan menjalani pangisapan cairan lambung serta pada pasien yang
mempunyai gangguan menelan.

3.

Peralatan apa saja yang dibutuhkan dalam memberikan obat per oral:
Jawaban:
1.
2.
3.
4.

Baki berisi obat-obatan atau kereta sorong obat-obat (tergantung sarana yang ada)
Kartu rencana pengobatan
Cangkir disposable untuk tempat obat
Martil dan lumping penggerus (bila di perlukan)

4.

Sebutkan bentuk-bentuk obat per oral:


Jawaban:
1.
Pil
2.
Tablet
3.
Bubuk
4.
Kapsul
5.
sirup

5.

Keberhasilan pengobatan topikal pada kulit tergantung pada :


Jawaban:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

6.

Umur
Pemilihan agen topikal yang tepat
Lokasi dan luas tubuh yang terkena atau yang sakit
Stadium penyakit
Konsentrasi bahan aktif dalam vehikulum
Metode aplikasi
Penentuan lama pemakaian obat

Proses penyerapan obat topikal jika diberikan pada kulit yaitu:


Jawaban:
1. Lag phase - hanya di atas kulit, tidak masuk ke dalam darah
2. Rising - dari stratum korneum diserap sampai ke kapiler dermis darah
3. Falling - obat habis di stratum korneum. Jika terus diserap kedalam, khasiatnya akan
semakin berkurang.

7.

Faktor lain seperti peningkatan penyerapan, dapat terjadi apabila:


Jawaban:
1.
2.
3.
4.
5.

8.

Obat dipakaikan dengan cara digosok sambil dipijat perlahan


Dioles searah dengan pertumbuhan folikel rambut
Ukuran partikel obat diperkecil
Sifat kelarutan dan penetrasi obat diperbaiki
Konsentrasi obat yang diberikan tepat

Sebutkan contoh obat topikal pada kulit:


Jawaban:
1.
2.
3.

Anti jamur : ketoconazol, miconazol, terbinafin


Antibiotik : oxytetrasiklin
Kortikosteroid : betametason, hidrokortison

9.

Apakah tujuan pemberian obat topikal pada kulit:


Jawaban:
untuk mempertahankan hidrasi atau cairan tubuh untuk mencapai homeostasis, melindungi
permukaan kulit, mengurangi iritasi kulit, menghilangkan gejala atau mengatasi infeksi.

10.

Pemberian obat topikal pada kulit dapat bermacam-macam seperti:


Jawaban:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Krim
Salep (ointment)
Lotion
Lotion yang mengandung suspense
Bubuk atau powder
Spray aerosol.

Umpan balik
Apabila mahasiswa dapat menjawab 7 dari 10 soal maka mahasiswa akan dengan mudah
mengerjakan soal UAS yang tekait dengan konsep dan prinsip pemberian obat oral dan topikal

DAFTAR PUSTAKA

G o o d m a n , G i l m a n ( 2 0 0 8 ) , D a s a r F a r m a k o l o g i Ter a p i , v o l u m e 1 , E d i s i 1 0 ,
Jakarta: EGC
J a s , Ad m a r ( 2 0 0 4 ) , P e r i h a l O b a t d e n g a n B e r b a g a i B e n t u k S e d i a a n n y a ,
Medan: USU Press
Katzung, Bertram G (2001), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 1,
Jakarta: Salemba Medika
Katzung, Bertram G (2002), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 2, Edisi
8, Jakarta: Salemba Medika
Nanizar z.j., (1994).Ars Prescribendi Resep yang Rasional . Jilid 1,2 dan
3 , S u r a b a ya : U n i v e r s i t a s A i r l a n g g a P r e s s

Tam b a y o n g , J a n ( 2 0 0 2 ) , F a r m a k o l o g i u n t u k K e p e r a w a t a n , J a k a r t a : Wid y a
Medika

UNIT 8
PRINSIP PEMBERIAN OBAT PARENTERAL DAN
SUPOSITORIAN KEPERTROKE
100 Menit

A.

PENGANTAR

Salah satu tugas terpenting seorang perawat adalah memberi obat yang aman dan akurat
kepada klien. Obat merupakan alat utama terapi untuk mengobati klien yang memiliki masalah.
Obat bekerja menghasilkan efek terapeutik yang bermanfaat. Walaupun obat menguntungkan
klien dalam banyak hal, beberapa obat dapat menimbulkan efek samping yang serius atau

berpotensi menimbulkan efek yang berbahaya bila kita memberikan obat tersebut tidak sesuai
dengan anjuran yang sebenarnya.
Dengan membaca materi berikut serta

mengerjakan latihan soal , diharapkan anda

memahami konsep dan prinsip pemberian obat parenteral dan supositoria.

TUJUAN
TUJUAN PEMBELAJARAN
Adapun kompetensi yang diharapkan setelah mempelajari modul ini mahasiswa mampu menjelaskan
prinsip pemberian obat oral dan topical yang meliputi:
1. Mampu membedakan obat parenteral dan obat supositoria
2. Mampu menjelaskan obat parenteral dan obat supositoria
3. Mampu menjelaskan prinsip pemberian obat parenteral dan obat supositoria

B. BAHAN BACAAN
A. PEMBERIAN OBAT PARENTRAL (INJEKSI)
1.

Pengertian Injeksi:
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus
dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan
cara menusuk jaringan ke dalam otot atau melalui kulit. Pemberian injeksi merupakan
prosedur invasif yang harus dilakukan dengan menggunakan teknik steril.

2.

Tujuan Injeksi
Pada umumnya Injeksi dilakukan dengan tujuan untuk mempercepat proses penyerapan
(absorbsi) obat untuk mendapatkan efek obat yang cepat.

3.

Indikasi

Injeksi biasanya dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama
karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral. Apabila klien tidak sadar
atau bingung, sehingga klien tidak mampu menelan atau mempertahankan obat dibawah
lidah. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan obat klien dilakukan dengan
pemberian obat secara injeksi.
Selain itu, indikasi pemberian obat secara injeksi juga disebabkan karena ada beberapa
obat yang merangsang atau dirusak getah lambung (hormon), atau tidak direarbsorbsi
oleh usus. Pemberian injeksi bisa juga dilakukan untuk anastesi lokal.
4.

Kontra Indikasi
- Jangan menusukkan pada pasien di area infeksi karena dapat memasukkan bakteri ke
jaringan yang lebih dalam.
- Pada pasien yang sulit mengalami pembekuan darah / hemofilia karena dapat memicu
perdarahan (bleeding)

5.

Hal hal yang harus diperhatikan


- Memberikan injeksi merupaka prosedur invasif yang harus dilakukan dengan
menggunakan teknik steril. Setelah jarum menembus kulit,akan muncul resiko infeksi
maka perlu diperhatikan keseterilan jarum dan tempat injeksi.
- Perawat memberi obat secara parenteral melalui rute SC, IM, ID, dan IV maka harus di
baca labelnya dan pahami mana obat yang di perbolehkan untuk rute tindakan tersebut.
- Setiap tipe injeksi membutuhkan keterampilan tertentu untuk menjamin obat mencapai
lokasi yang tepat.
- Efek obat yang diberikan secara parenteral dapat berkembang dengan cepat, bergantung
pada kecepatan absorbsi obat. Perawat harus mengobservasi respons klien dengan ketat.
- Karakteristik jaringan mempengaruhi absorbsi obat dan awitan kerja obat, maka
sebelum menyuntikkan sebuah obat, perawat harus mengetahui volume obat yang

diberikan, karaktersitik dan viskositas obat, dan lokasi struktur anatomi tubuh yang
berada di bawah tempat injeksi.
- Konsekuensi yang serius dapat terjadi, jika injeksi tidak diberikan secara tepat.
Kegagalan dalam memilih tempat injeksi yang tepat, sehubungan dengan penanda
anatomis tubuh, dapat menyebabkan timbulnya kerusakan saraf atau tulang selama
insersi jarum.
- Apabila perawat gagal mengaspirasi spuit sebelum menginjeksi sebuah obat, obat dapat
tanpa sengaja langsung di injkesi ke dalam arteri atau vena.
6. Jenis injeksi:
Macam-macam Injeksi dapat di golongkan sebagai berikut:
a.

Intra Muscule (IM)\


Rute IM memungkinkan absorbsi obat yang lebih cepat daripada rute SC karena
pembuluh darah lebih banyak terdapat di otot. Bahaya kerusakan jaringan berkurang
ketika obat memasuki otot yang dalam tetapi bila tidak berhati-hati ada resiko
menginjeksi obat langsung ke pembuluh darah. Dengan injeksi di dalam otot yang
terlarut berlangsung dalam waktu 10-30 menit. Guna memperlambat reabsorbsi
dengan maksud memperpanjang kerja obat, seringkali digunakan larutan atau suspensi
dalam minyak, umpamanya suspensi penisilin. Tempat injeksi umumnya dipilih pada
otot pantat yang tidak banyak memiliki pembuluh dan saraf. Tempat injeksi yang baik
untuk IM adalah pada otot:
-

b.

Vastus Lateralis, Ventrogluteal, Dorsogluteus, Deltoid

Intra Vena (IV)


Injeksi dalam pembuluh darah menghasilkan efek tercepat dalam waktu 18 detik, yaitu
waktu satu peredaran darah, obat sudah tersebar ke seluruh jaringan. Tetapi, lama kerja
obat biasanya hanya singkat. Cara ini digunakan untuk mencapai penakaran yang tepat
dan dapat dipercaya, atau efek yang sangatcepat dan kuat. Tidak untuk obat yang tak
larut dalam air atau menimbulkan endapan dengan protein atau butiran darah. Bahaya
injeksi intravena adalah dapat mengakibatkan terganggunya zat-zat koloid darah

dengan reaksi hebat, karena dengan cara ini benda asing langsung dimasukkan ke
dalam sirkulasi, misalnya tekanan darah mendadak turun dan timbulnya shock. Bahaya
ini lebih besar bila injeksi dilakukan terlalu cepat, sehingga kadar obat setempat dalam
darah meningkat terlalu pesat. Oleh karena itu, setiap injeksi i.v sebaiknya dilakukan
amat perlahan, antara 50-70 detik lamanya. Tempat yang sering untuk injeksi yaitu:
Vena brachialis, Sefalika dan Biasanya pada tempat khusus injeksi pada selang infus
jika pasien terpasang infuse.
c.

Intra Cutan (IC)


Memasukan obat kedalam jaringan kulit, intracutan biasa digunakan untuk mengetahui
sensitivitas tubuh terhadap obat yang disuntikan dan caramenyuntikanya obat dengan
sudut jarum injeksi dengan sudut 5-15 drajat, setelah itu tunggu reaksi obat antara 1015 menit. Misal skin test pada obat cefotaxime.

d.

Sub Cutan (SC)


Injeksi di bawah kulit dapat dilakukan hanya dengan obat yang tidak merangsang dan
melarut baik dalam air atau minyak. Efeknya tidak secepat injeksi intramuscular atau
intravena. Mudah dilakukansendiri, misalnya insulin pada penyakit gula. Tempat yang
paling tepat untuk melakukan injeksi subkutan meliputi area vaskular di sekitar bagian
luar lengan atas, abdomen dari batas bawah kosta sampai krista iliaka, dan bagian
anterior paha. Tempat yang paling sering direkomendasikan untuk injeksi heparin ialah
abdomen. Tempat yang lain meliputi daerah scapula di punggung atas dan daerah
ventral atas atau gloteus dorsal. Tempat yang dipilih ini harus bebas dari infeksi, lesi
kulit, jaringan parut, tonjolan tulang, dan otot atau saraf besar dibawahnya. Obat yang
diberikan melalui rute SC hanya obat dosis kecil yang larut dalam air (0,5 sampai
1 ml). Jaringan SC sensitif terhadap larutan yang mengiritasi dan obat dalam volume
besar. Kumpulan obat dalam jaringan dapat menimbulkan abses steril yang tak tampak
seperti gumpalan yang mengeras dan nyeri di bawah kulit.Sudut penyuntikkanya
adalah 40-45 drajat secara pelan.

B. Pemberian Obat pada Vagina


Pemberian Obat pada Vagina merupakan cara memberikan obat dengan memasukkan
obat melalui vagina, yang bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat dan mengobati

saluran vagina atau serviks. Oleh karena itu, khususnya untuk para wanita perlu mengetahui
hal ini dalam menjaga organ reproduksinya.
Indikasi dan kontra indikasi pemberian Obat Pervagina
Indikasi : Pada bagianVaginitis, keputihan vagina dan serviks (leher rahim) karena
berbagai etiologi, ektropia dan parsio dan serviks. Servik sebagai hemoestasis setelah biopsy
dan pengangkatan polip di serviks, erosi uretra eksterna dan popiloma uretra kondiloma
akuminata. Luka akibat penggunaan instrument ginekologi untuk mempercepat proses
penyembuhan setelah electron koagulasi.
Kontra Indikasi : Jangan diberikan pada orang yang mempunyai kecenderungan
hipersensitif atau alergi.

Tujuan Pemberian Obat pervagina adalah :


-

Mengobati Infeksi pada vagina

Menghilangkan rasa nyeri, terbakar, dan ketidaknyamanan pada Vagina

Mengurangi Perdangan

Macam-macam Obat Pervagina, yaitu Tersedia dalam bentuk krim dan suppositoria yang
digunakan untuk mengobati infeksi lokal. Satu ovula dimasukan sedalam mungkin ke dalam
vagina setiap hari sebelum tidur selama 1-2 minggu boleh dipakai sebagai pengobatan
tersendiri atau sebagai terapi interval pada kontensasi. Pamakaian selama masa haid
(menstruasi) tidak dianjurkan.
Persiapan alat dalam Pemberian Obat Pervagina adalah sebagai berikut :
Alat dan Bahan :
a.

Sarung tangan sekali pakai

b.

Obat dalam tempatnya

c.

kain kasa, kapas

d.

Pelumas untuk supositoria

e.

Handuk bersih

f.

Pengalas

g.

Gorden

Dalam Pemberian Obat Perawat harus memperhatikan hal berikut :


-

Interpretasikan dengan tepat resep obat yang dibutuhkan

Hitung dengan tepat dosis obat yang akan diberikan sesuai dengan resep

Gunakan prosedur yang sesuai dan aman, ingat prinsip 5 benar dalam pengobatan

Setelah memvalidasi dan menghitung dosis obat dengan benar, pemberian obat dengan
akurat dapat dilakukan berdasarkan prinsip 5 benar.
a.

Benar Klien

b.

Benar Obat

c.

Benar Dosis Obat

d.

Benar Waktu Pemberian

e.

Benar Cara Pemberian

Hal-hal yang harus diperhatikan :


a. Pemberian bentuk, rute dosis waktu yang tepat
b. Simpankanlah obat supostoria padat pada tempatnya
c.

Minimalkan rasa malu klien

d. Kurangi dan cegah penularan infeksi


e. Jaga kenyamanan klien
f.

Pertahankan hygienie perineum

g. Jaga privasi kerja


h. Hindarkan tindakan yang menyebabkan pasien merasa sakit
i.

Perhatikan teknik septik dan antiseptik

j.

Pemberian obat harus dalam posisi rekumben

k.

Menginformasikan kepada pasien apa yang terjadi

Persiapan Pasien sebelum Pemberian Obat Pervagina, yaitu :


a.

Mengindentifikasikan Klien dengan tepat dan tanyakan namanya

b.

Menjaga Privasi, meminta Klien untuk berkemih terlebih dahulu

c.

Mengatur posisi Klien berbaring supinasi dengan Kalik fleksi dan pinggul supinasi
eksternal

d.

Menutup dengan selimut mandi dan ekpose hanya pada area perineal saja

Persiapan Pasien dan Lingkungan dalam Pemberian Obat Pervagina, sebagai berikut :
a.

Menjelaskan kepada Pasien tujuan tindakan yang akan dilakukan.

b.

Memberitahukan Prosedur Tindakan yang akan dilakukan.

c.

Menutup Jendela, Korden, dan memasang sampiran atau sketsel apabila diperlukan.

d.

Menganjurkan Orang yang tidak berkepentingan untuk keluar ruangan.

Prosedur Kerjanya, adalah sebagai berikut :


1.

Cuci tangan

2.

Jelaskan prosedur yang akan dilakukan

3.

Gunakan sarung tangan.

4.

Buka pembungkus obat dan pegang dengan kain kasa.

5.

Bersihkan sekitar alat kelamin dengan kapas sublimat.

6.

Anjurkan pasien tidur dalam posisi dorsal recumbert.

7.

Apabila jenis obat suppositoria maka buka pembungkus dan berikan pelumas pada obat.

8.

Regangkan labia minora dengan tangan kiri dan masukkan obat sepanjang dinding kanal
vaginal posterior sampai 7,5-10 cm.

9.

Setelah obat masuk, bersihkan daerah sekitar orifisium dan labia dengan tisu.

10. Anjurkan untuk tetap dalam posisi kurang lebih 10 menit agar obat bereaksi.
11. Cuci tangan.
12. Catat jumlah, dosis, waktu, dan cara pemberian.

Catatan: apabila menggunakan obat jenis krim, isi aplikator krim atau ikuti petunjuk
krim yang tertera pada kemasan, renggangkan lipatan labia dan masukkan aplikator kurang
lebih 7,5 cm dan dorong penarik aplikator untuk mengeluarkan obat dan lanjutkan sesuai
langkah nomor 8, 9, 10, 11.
Pervagina : Untuk obat ini bentuknya hampir sama atau menyerupai obat yang
diberikan secara rektal, hanya saja dimasukkan ke dalam vagina.
Pemberian obat obatan atau cairan tertentu melalui vagina dapat dilakukan dengan cara :
a.

Mengumbah (irigasi)

b.

Mengoleskan.

c.

Supposutorium.

Pemberian Obat ini Dilakukan pada :


a.

Pasien dengan vagina yang kotor.

b.

Persiapan tindakan pembedahan jalan lahir.

c.

Pasien dengan radang vagina.

d.

Post partum dengan lochea yang berbau

Pemberian Obat Melalui Vagina Tidak Boleh dilakukan pada Saat Pasien:
a.

Menstruasi

b.

Khusus pada paisen spartus antara lain :


- Perdarahan
- Plasenta previa
- Ketuban pecah dini
- Persalinan paterm

Contoh obat supositoria vagina :

a.

Flagil Supositoria

b.

Vagistin Supositoria

c.

Albotil Supositoria

d.

Mistatin Supositoria

e.

Tri Costatis Supositoria

f.

Neoginoksa Supositoria

Keuntungan & Kerugian Pemberian Obat Pervagina :


Keuntungan :
-

Proses penyembuhan lebih cepat, dimana jaringan nekrotik dikoagulasi kemudian


dikeluarkan.

Mengobati Infeksi pada Vagina

Mengurangi Peradangan

Kerugian :
-

Dapat menimbulakan pengeluaran jaringan rusak, dan vagina berupa Bau dan rasa tidak
nyaman.

Evaluasi
Kriteria evaluasi :
a. Klien akan memperlihatkan efek / reaksi tubuh yang minimal terhadap pengobatan.
b. Klien dapat memahami regimen / tata laksana pengobatan yang sedang dijalani.

Kesimpulan
Pemberian obat parenteral merupakan tindakan pemberian obat dengan cara invasive dan
menggunakan teknik steril, sedangkan pemberian obat pervaginam merupakan cara pemberian
obat dengan memasukkan obat melalui vagina, yang bertujuan untuk mendapatkan terapi obat
dan mengobati saluran vagina atau serviks. Tujuan pemberian obat pervaginam mengobati
infeksi pada vagina dan menghilangkan nyeri, rasa terbakar dan ketidaknyamanan pada vagina

serta mengurangi peradangan. Setelah mempelajari unit ini, mahasiswa D III Keperawatan
diharapkan memiliki pemahaman tentang konsep dan prinsip pemberian obat parenteral dan
supositoria secara menyeluruh.

LATIHAN
D.

TES FORMATIF

1.

Macam-macam Injeksi dapat di golongkan yaitu:


Jawaban :
1.
2.
3.
4.

2.

Intra Muscule (IM)


Intra Vena (IV)
Intra Cutan (IC)
Sub Cutan (SC)
Apakah indikasi pemberian obat secara injeksi:

Jawaban :
Injeksi biasanya dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena
tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral
3.

Apakah kontraindikasi dalam pemberian obat injeksi :


Jawaban:
1. Jangan menusukkan pada pasien di area infeksi karena dapat memasukkan bakteri ke
jaringan yang lebih dalam.
2. Pada pasien yang sulit mengalami pembekuan darah / hemofilia karena dapat memicu
perdarahan (bleeding)

4. Apakah indikasi pemberian obat secara pervgina:

Jawaban:
Pada bagianVaginitis, keputihan vagina dan serviks (leher rahim) karena berbagai etiologi,
ektropia dan parsio dan serviks. Servik sebagai hemoestasis setelah biopsy dan
pengangkatan polip di serviks, erosi uretra eksterna dan popiloma uretra kondiloma
akuminata. Luka akibat penggunaan instrument ginekologi untuk mempercepat proses
penyembuhan setelah electron koagulasi
5.

Apakah kontraindikasi pada pemberian obat pervagina:


Jawaban:
Jangan diberikan pada orang yang mempunyai kecenderungan hipersensitif atau alergi.

6.

Apakah tujuan pemberian obat pervagina:


Jawaban:
1.
2.
3.

7.

Sebutkan alat dan bahan dalam pemberian obat pervagina:


Jawaban:
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

8.

Mengobati Infeksi pada vagina


Menghilangkan rasa nyeri, terbakar, dan ketidaknyamanan pada Vagina
Mengurangi Perdangan

Sarung tangan sekali pakai


Obat dalam tempatnya
kain kasa, kapas
Pelumas untuk supositoria
Handuk bersih
Pengalas
Gorden

Pemberian Obat Melalui Vagina Tidak Boleh dilakukan pada Saat Pasien:
Jawaban:
1.

Menstruasi

2. Khusus pada paisen spartus antara lain : Perdarahan (Plasenta previa, Ketuban pecah
dini), Persalinan paterm
9.

Pengertian injeksi adalah:


Jawaban:

Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus
dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan
cara menusuk jaringan ke dalam otot atau melalui kulit. Pemberian injeksi merupakan
prosedur invasif yang harus dilakukan dengan menggunakan teknik steril.
10.

Tujuan dari pemberian injeksi adalah:


Jawaban:
untuk mempercepat proses penyerapan (absorbsi) obat untuk mendapatkan efek obat yang
cepat

Umpan balik
Apabila mahasiswa dapat menjawab 7 dari 10 soal maka mahasiswa akan dengan mudah
mengerjakan soal UAS yang tekait dengan konsep dan prinsip pemberian obat parenteral dan
supositoria

DAFTAR PUSTAKA

G o o d m a n , G i l m a n ( 2 0 0 8 ) , D a s a r F a r m a k o l o g i Ter a p i , v o l u m e 1 , E d i s i 1 0 ,
Jakarta: EGC
J a s , Ad m a r ( 2 0 0 4 ) , P e r i h a l O b a t d e n g a n B e r b a g a i B e n t u k S e d i a a n n y a ,
Medan: USU Press
Katzung, Bertram G (2001), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 1,
Jakarta: Salemba Medika
Katzung, Bertram G (2002), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 2, Edisi
8, Jakarta: Salemba Medika
Nanizar z.j., (1994).Ars Prescribendi Resep yang Rasional . Jilid 1,2 dan
3 , S u r a b a ya : U n i v e r s i t a s A i r l a n g g a P r e s s

Tam b a y o n g , J a n ( 2 0 0 2 ) , F a r m a k o l o g i u n t u k K e p e r a w a t a n , J a k a r t a : Wid y a
Medika

Kegiatan Belajar
PEMBERIAN OBAT MELALUI MATA
120 Menit

PENDAHULUAN

Pemberian obat bergantung pada keadaan umum pasien, kecepatan respons yang
diinginkan, sifat obat, dan tempat kerja obat yang diinginkan.
Pemberian melalui mata bertujuan untuk :
1. Mata menjadi jernih
2. Sebagai pengobatan
3. Rasa sakit berkurang
4. Pupil berkontraksi untuk pemeriksaan mata
Dengan membaca modul praktikum berikut, diharapkan anda memahami peran perawat
dalam pemberian obat melalui mata.

KEMAMPUAN AKHIR YANG


(KOGNETI F,
AFFEKTIF,
PSIKOMOTOR)

DI

CAPAI
DAN

Tujuan akhir yang akan dicapai :


1.

Mampu menjelaskan obat mata

2.

Mampu menjelaskan cara pemberian obat melalui mata

3.

Mampu melakukan pemberian obat mata sesuai prinsip pemberian obat melalui mata.

LATIHAN/ TRIGGER CASE


Memberikan obat ke dalam mata berupa cairan dan salep.

PROSEDUR TINDAKAN
1.
2.
3.
4.

Berdoa
Mempersiapkan diri (menguasai konsep)
Memberikan salam terapeutik
Mempersiapkan alat sesuai prosedur
- Bengkok
- Kapas
- Obat tetes/saleb yang sudah ditentukan
- Pipet (K/P)
- Laporan kerja
5. Mempersiapkan klien
6. Mengatur posisi klien (duduk atau tidur telentang dengan kepala
ditengadahkan)
7. Membuka kelopak mata bawah dengan telunjuk jari kiri

8. Meneteskan obat mata pada permukaan konjungtiva kelopak mata


bawah
9. Membersihkan air mata yang keluar dengan kapas
10. Rapikan alat
11. Cuci tangan
12. Respon terhadap kondisi klien setelah dilakukan tindakan
13. berdoa

DAFTAR PUSTAKA

G o o d m a n , G i l m a n ( 2 0 0 8 ) , D a s a r F a r m a k o l o g i Ter a p i , v o l u m e 1 , E d i s i 1 0 ,
Jakarta: EGC
J a s , Ad m a r ( 2 0 0 4 ) , P e r i h a l O b a t d e n g a n B e r b a g a i B e n t u k S e d i a a n n y a ,
Medan: USU Press
Katzung, Bertram G (2001), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 1,
Jakarta: Salemba Medika
Katzung, Bertram G (2002), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 2, Edisi
8, Jakarta: Salemba Medika
Nanizar z.j., (1994).Ars Prescribendi Resep yang Rasional . Jilid 1,2 dan
3 , S u r a b a ya : U n i v e r s i t a s A i r l a n g g a P r e s s
Tam b a y o n g , J a n ( 2 0 0 2 ) , F a r m a k o l o g i u n t u k K e p e r a w a t a n , J a k a r t a : Wid y a
Medika

Kegiatan Belajar
PEMBERIAN OBAT PARENTERAL
120 Menit

PENDAHULUAN

Pemberian obat bergantung pada keadaan umum pasien, kecepatan respons yang
diinginkan, sifat obat, dan tempat kerja obat yang diinginkan.
Pemberian obat parenteral bertujuan untuk :
1.
Mencegah penyakit, memberikan kekebalan (imunisasi),
misalnya memberikan suntikan, DPT, ATS, BCG, dll
2.
Untuk pengobatan agar lebih cepat bereaksi dalam tubuh dan
dapat diberikan dalam dosis yang tepat
3.
Untuk beberapa macam uji coba misalnya Manthoux test
4.
Untuk pemeriksaan diagnostic, misalnya penyuntikan zat
kontras
Dengan membaca modul praktikum berikut, diharapkan anda memahami peran perawat
dalam pemberian obat parenteral.

KEMAMPUAN AKHIR YANG


(KOGNETI F,
AFFEKTIF,
PSIKOMOTOR)

DI

CAPAI
DAN

Tujuan akhir yang akan dicapai :


5.

Mampu menjelaskan obat parenteral

6.

Mampu menjelaskan cara pemberian obat parenteral

7.

Mampu melakukan pemberian obat parenteral sesuai prinsip


pemberian obat parenteral.

LATIHAN/ TRIGGER CASE


Memasukkan zat cair atau obat tertentu ke dalam jaringan tubuh dengan
mempergunakan jarum suntik steril.

PROSEDUR TINDAKAN
1.
2.
3.
4.
-

Berdoa
Mempersiapkan diri (menguasai konsep)
Memberikan salam terapeutik
Mempersiapkan alat sesuai prosedur
Jarum suntik steril, dari bermacam ukuran yang diperlukan
Obat-obat yang dibutuhkan
Korentang steril dalam tempatnya
Kapas alkohol
Cairan pelarut, misalnya NaCl, aquadest steril
Bak instrument
Pembendung vena

- Bengkok
- Perlak dan alasnya
5.
6.

Mempersiapkan klien
Obat-obat yang diperlukan dilarutkan terlebih
dahulu

7.

Baca kembali daftar obat tersebut, lalu ambil


obat-obat yang dimaksud, lakukan desinfeksi dengan kapas alcohol pada
leher ampul atau karet penutup botol
8.
Jarum suntik diisi dengan obat/cairan tersebut
sesuai dengan takaran, udara di dalam semprit dikeluarkan, lalu jarum
dibawa ke pasien
9.
Baca kembali daftar pemberian obat dan
cocokkan papan nama langsung
10.
Pasien diatur berbaringnya sesuai dengan cara
pemberian suntikan (SC, IM, IV)
11.
Desinfeksi bagian tubuh yang akan disuntik
12.
Setelah selesai jarum dicabut, bekas suntikan
didesinfektan dengan kapas alcohol dan ditahan sebentar agar darah
tidak keluar
13.
Rapikan alat
14.
Cuci tangan
15.
Respon terhadap kondisi klien setelah
dilakukan tindakan
16.
Berdoa

DAFTAR PUSTAKA

G o o d m a n , G i l m a n ( 2 0 0 8 ) , D a s a r F a r m a k o l o g i Ter a p i , v o l u m e 1 , E d i s i 1 0 ,
Jakarta: EGC
J a s , Ad m a r ( 2 0 0 4 ) , P e r i h a l O b a t d e n g a n B e r b a g a i B e n t u k S e d i a a n n y a ,
Medan: USU Press
Katzung, Bertram G (2001), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 1,
Jakarta: Salemba Medika

Katzung, Bertram G (2002), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 2, Edisi


8, Jakarta: Salemba Medika
Nanizar z.j., (1994).Ars Prescribendi Resep yang Rasional . Jilid 1,2 dan
3 , S u r a b a ya : U n i v e r s i t a s A i r l a n g g a P r e s s
Tam b a y o n g , J a n ( 2 0 0 2 ) , F a r m a k o l o g i u n t u k K e p e r a w a t a n , J a k a r t a : Wid y a
Medika

Kegiatan Belajar

PEMBERIAN OBAT PERVAGINAM


120 Menit

PENDAHLUAN

Pemberian obat bergantung pada keadaan umum pasien, kecepatan respons yang
diinginkan, sifat obat, dan tempat kerja obat yang diinginkan.
Pemberian obat pervaginam bertujuan untuk :
1.
Mengobati saluran vagina dan atau serviks
2.
Memberikan perasaan senang dan puas terhadap pasien

Dengan membaca modul praktikum berikut, diharapkan anda memahami peran perawat
dalam pemberian obat pervaginam.

KEMAMPUAN AKHIR YANG


(KOGNETI F,
AFFEKTIF,
PSIKOMOTOR)

DI

CAPAI
DAN

Tujuan akhir yang akan dicapai :


1.

Mampu menjelaskan obat pervaginam

2.

Mampu menjelaskan cara pemberian obat pervaginam

3.

Mampu melakukan pemberian obat pervaginam sesuai prinsip pemberian obat pervaginam.

LATIHAN/ TRIGGER CASE


Memasukkan obat ke dalam tubuh melalui vagina.

PROSEDUR TINDAKAN
1.
2.
3.
4.

Berdoa
Mempersiapkan diri (menguasai konsep)
Memberikan salam terapeutik
Mempersiapkan alat sesuai prosedur
- Suppositoria vagina

- Sarung tangan
- Handuk bawah
- Bengkok
- Laporan kerja
5. Mempersiapkan klien
6. Atur posisi klien (dorsal recumbent)
7. Membuka pembungkus suppositoria
8. Membuka sarung tangan
9. Lumasi suppositoria (K/P)
10. Membuka labia agar tampak meatus vagina
11. Memasukkan suppositoria ke dalam liang vagina kurang lebih 8-10 cm
atau sedalam mungkin
12. Membuka sarung tangan
13.
Memberikan posisi supine selama 5-10 menit, meninggikan panggul
dengan satu bantal
14. Rapikan alat
15. Cuci tangan
16. Respon terhadap kondisi klien setelah dilakukan tindakan
17. Berdoa

DAFTAR PUSTAKA

G o o d m a n , G i l m a n ( 2 0 0 8 ) , D a s a r F a r m a k o l o g i Ter a p i , v o l u m e 1 , E d i s i 1 0 ,
Jakarta: EGC
J a s , Ad m a r ( 2 0 0 4 ) , P e r i h a l O b a t d e n g a n B e r b a g a i B e n t u k S e d i a a n n y a ,
Medan: USU Press
Katzung, Bertram G (2001), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 1,
Jakarta: Salemba Medika
Katzung, Bertram G (2002), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 2, Edisi
8, Jakarta: Salemba Medika

Nanizar z.j., (1994).Ars Prescribendi Resep yang Rasional . Jilid 1,2 dan
3 , S u r a b a ya : U n i v e r s i t a s A i r l a n g g a P r e s s
Tam b a y o n g , J a n ( 2 0 0 2 ) , F a r m a k o l o g i u n t u k K e p e r a w a t a n , J a k a r t a : Wid y a
Medika

Kegiatan Belajar
PEMBERIAN OBAT MELALUI TELINGA
120 Menit

PENDAHULUAN
Memberika obat pada telinga dilakukan dengan obat tetes telinga atau salep.Pada
umumnya, obat tetes telinga dapat berupa obat antibiotic diberikan pada gangguan infeksi
telinga, khususnya otitis media pada telinga tengah.
Pemberian melalui telinga bertujuan untuk :
1. Sebagai pengobatan

2. Membasmi organism
3. Rasa sakit berkurang atau sebagai anastesi local
4. Serangga yang masuk ke dalam liang telinga menjadi mati
Dengan membaca modul praktikum berikut, diharapkan anda memahami peran perawat
dalam pemberian obat melalui telinga.

K E M A M P UA N
AKHIR
YA N G
DI
C APA I
( KO G N E T I F, A F F E K T I F, D A N P S I KO M O T O R )

Tujuan akhir yang akan dicapai :


1.

Mampu menjelaskan obat telinga

2.

Mampu menjelaskan cara pemberian obat melalui telinga

3.

Mampu melakukan pemberian obat telinga sesuai prinsip pemberian obat melalui telinga.

LATIHAN/ TRIGGER CASE


Pemberian obat melalui rongga telinga bagian luar dengan menggunakan
obat tetes.

PROSEDUR TINDAKAN

1.
2.
3.
4.

Berdoa
Mempersiapkan diri (menguasai konsep)
Memberikan salam terapeutik
Mempersiapkan alat sesuai prosedur

a.

Persiapan alat dan bahan:


Obat dalam tempatnya.
Penetes.
Speculum telinga.
Pinset anatomi dalam tempatnya.
Korentang dalam tempatnya.
Plester.
Kain kasa.
Kertas tisu.
Balutan.
b.
Prosedur kerja:
1) Cuci tangan.
2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan digunakan.
3) Atur posisi pasien dengan kepala miring kekanan atau kekiri sesuai dengan daerah
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)

yang akan diobati, usahakan agar lubang telinga pasien ke atas.


4) Luruskan lubang telinga dengan menarik daun telinga ke atas/kebelakang pada orang
dewasa dan kebawah pada anak-anak.
5) Apabila obat berupa obat tetes, maka teteskan obat dengan jumlah tetesan sesuai
dosis pada dinding saluran untuk mencegah terhalang oleh gelembung udara.
6) Apabila berupa salep, maka ambil kapas lidi dan masukan atau oleskan salep pada
7)
8)
9)
10)
11)
12)

liang telinga.
Pertahankan posisi kepala 2-3 menit.
Tutup telinga dengan pembalut dan plester kalau perlu.
Cuci tangan.
Catat jumlah, tanggal, dan dosis pemberian.
Respon terhadap kondisi klien setelah dilakukan tindakan
Berdoa

DAFTAR PUSTAKA

G o o d m a n , G i l m a n ( 2 0 0 8 ) , D a s a r F a r m a k o l o g i Ter a p i , v o l u m e 1 , E d i s i 1 0 ,
Jakarta: EGC
J a s , Ad m a r ( 2 0 0 4 ) , P e r i h a l O b a t d e n g a n B e r b a g a i B e n t u k S e d i a a n n y a ,
Medan: USU Press
Katzung, Bertram G (2001), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 1,
Jakarta: Salemba Medika
Katzung, Bertram G (2002), Farmakologi Dasar dan Klinik , Buku 2, Edisi
8, Jakarta: Salemba Medika
Nanizar z.j., (1994).Ars Prescribendi Resep yang Rasional . Jilid 1,2 dan
3 , S u r a b a ya : U n i v e r s i t a s A i r l a n g g a P r e s s
Tam b a y o n g , J a n ( 2 0 0 2 ) , F a r m a k o l o g i u n t u k K e p e r a w a t a n , J a k a r t a : Wid y a
Medika