Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Pendidikan merupakan penentu keberhasilan suatu bangsa dalam mewujudkan
perkembangan serta kemajuan bangsa tersebut agar tetap menjaga eksistensi persaingan
global dengan negara-negara lain. Kemajuan suatu pendidikan dapat dilihat dari kurikulum
pendidikan yang digunakan oleh negara tersebut, karena kurikulum merupakan komponen
penting dalam dunia pendidikan.
Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta didik
dalam rangka membantu peserta didik dalam menguasai materi pengajaran dan mencapai
tujuan-tujuan pendidikan. Dengan demikian, setiap pendidikan diarahkan pada pencapaian
tujuan-tujuan tertentu baik pada penguasaan ilmu pengetahuan, pengembangan pribadi,
komunikasi

sosial

dan

kemampuan

kerja.

Oleh

karenanya

dalam

mencapai

tujuan pendidikan dan mengembangkan kemampuan-kemampuan dasar peserta didik, maka


diperlukan kurikulum, metode penyampaian, media dan sumber belajar serta alat evaluasi
yang tepat.
Untuk memberikan gambaran komprehensif tentang model kurikulum yang
dikembangkan pada sekolah, perlu dideskripsikan makna dan urgensi kurikulum dalam
pendidikan, pendekatan dan orientasi kurikulum dimaksudkan untuk memudahkan anak
belajar. Selain itu kurikulum juga menentukan apa yang akan dipelajari, kapan waktu yang
tepat untuk mempelajarinya, keseimbangan bahan pelajaran dan keseimbangan antara aspekaspek pendidikan yang akan disampaikan. Adapun organisasi atau desain kurikulum bertalian
erat dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan.
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memegang peranan penting dalam
kegiatan belajar mengajar. Kurikulum akan membantu kita untuk dapat mengajar secara lebih
efektif

dan

sistematis

dengan

materi

serta

metode

yang

telah

dipersiapkan.

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan
pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional).

Sebelum mengenal lebih jauh tentang kurikulum maka kita harus mengetahui jenisjenis kurikulum tersebut, oleh karena itu dalam makalah ini akan membahas tentang jenisjenis kurikulum.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas dapat kita ambil beberapa rumusan masalah
sebagai berikut:
1. Apa Pengertian Kurikulum ?
2. Apa saja Model dari Kurikulum ?
3. Apa saja Jenis-jenis Kurikulum ?
4. Apa saja Komponen Kurikulum ?

1.3 Tujuan Penulisan


Dari rumusan masalah di atas maka dapat dirumuskan tujuan penulisan makalah
sebagai berikut :
1. Mengetahui Pengertian Kurikulum.
2. Mengetahui apa saja Model dari Kurikulum.
3. Mengetahui apa saja Jenis-jenis Kurikulum.
4. Mengetahui apa saja Komponen Kurikulum.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kurikulum
Secara etimologis, kurikulum merupakan terjemahan dari kata curriculum dalam
bahasa Inggris, yang berarti rencana pelajaran (Echols, 1984). Curriculum berasala dari kata
currere yang berarti berlari cepat, maju dengan cepat, merambat, tergesa-gesa, menjelajahi,
menjalani dan berusaha (Hasibuan, 1979). Curriculum juga diartikan sebgaia jarak yang
harus ditempuh oleh seorang pelari, mulai dari start hingga finish. Dalam kamus Websters
(1857), kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa untuk
mendapatkan ijazah atau naik kelas.
Menurut Soedijarto, kurikulum adalah pengalaman dan kegiatan belajar yang
direncanakan untuk diatasi oleh siswa dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang telah
ditetapkan dalam suatu lembaga. Adapun menurut UUSP No. 20 Tahun 2003, kurikulum
adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta
cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum sebagai suatu sistem memilki komponenkomponen pokok, yaitu: tujuan, isi atau materi, organisasi dan strategi atau kegiatan belajar
dan pembelajaran, dan evaluasi.
2.2 Model Kurikulum
Ada beberapa model kurikulum yang akan kita bahas dalam pembahasan ini, meliputi:
2.2.1

Kurikulum Humanistis
Kurikulum humanistis dipandang oleh sementara pendidik sebagai alat atau langkah

awal; pendidik lain melihatnya sebagai cara untuk mengatasi pengrusakan dan mendorong

mempelajari mata pelajaran sekolah. Sedang pendidik lainnya lagi masih melihatnya sebagai
dasar pendidikan bebas yang sesungguhnya.
Kurikulum humanistis memandang kurikulum sebagai alat untuk mengembangkan
diri setiap individu siswa. Kurikulum hendaknya dapat memberikan kesempatan kepada
setiap siswa untuk mewujudkan diri sesuai dengan potensi yang dimiliki.
Di samping dipengaruhi oleh konsep fungsi pendidikan untuk mengembangkan
pribadi, kurikulum humanistis juga berakar pada konsep-konsep psikologi humanisme,
seperti yang dikemukakan Abraham Maslow. Konsep Maslow yang menekankan pada kajian
tentang perjenjangan atau hirarki kebutuhan individual memandang, bahwa setiap individu
mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang harus terpenuhi.
Konsep kurikulum humanistis melahirkan bentuk kurikulum yang berpusat pada anak
didik atau child centered curriculum. Dalam kurikulum seperti ini, setiap siswa
berkesempatan untuk belajar sesuai dengan minat dan kebutuhannya masing-masing.
2.2.2

Kurikulum Sebagai Rekonstruksi Sosial


Kurikulum ini menekankan pentingnya kurikulum sebagai alat untuk melakukan

rekonstruksi atau penyusunan kembali corak kehidupan dan kebudayaan masyarakat. Di


dalam kurikulum ini disusun rencana yang berkaitan dengan bagaimana menata kembali
kehidupan masyarakat menuju tatanan yang dipandang lebih baik. Tatanan ini meliputi sosial,
politik, ekonomi, mental, dan spiritual. Melalui proses pendidikan di sekolah yang
merupakan implementasi kurikulum siswa diajak unutk mengenali berbagai permasalahan
yang muncul di masyarakat, sesuai dengan tingkat berpikirnya, kemudian berupaya mencari
alternatif pemecahannya.
Kurikulum ini melahirkan bentuk kurikulum yang berpusat pada kegiatan atau
activity curriculum. Dalam kurikulum ini sekolah tidak menyediakan mata pelajaran-mata
pelajaran secara khusus, tetapi menyediakan kemungkinan bagi siswa untuk merencanakan
proyek-proyek kegiatan tertentu.

2.2.3

Kurikulum Sebagai Teknologi


Teknologi diterapkan pada kurikulum menurut dua cara. Pertama, teknologi muncul

sebagai rencana untuk penggunaan sistematik berbagai alat media, dan sebagai urutan
pengajaran yang direncanakan yang berdasarkan prinsip-prinsip dari pengetahuan tingkah
4

laku. Kedua, teknologi ditemukan dalam model dan prosedur untuk penyusunan atau
pengembangan dan evaluasi bahan kurikulum dan sistem pengajaran.
Istilah teknologi yang dimaksud yang dimaksud di sini adalah suatu pendekatan
sistem dalam memecahkan masalah-masalah praktis dalam kehidupan. Konsep ini
memandang bahwa kurikulum merupakan satu sistem yang dikembangkan dengan
pendekatan sistem. Kurikulum ini lebih menekankan pada perencanaan sistem belajarmengajar berdasrkan pendekatan system.
Belajar di pandang sebagai proses bereaksi terhadap rangsangan, memperhatikan dan
merenungkan petunjuk-petunjuk yang relevan, lebih dari pada sekedar transaksional dimana
siswa mungkin memepengaruhi rangsangan. Siswa diarahkan untuk memperhatikan dan
merenungkan akan hal-hal yang bermakna dan di perkuat untuk tingkah laku yang sesuai.
Tujuan pengajaran ditentukan sebelumya, bukan muncul dengan sendirinya. Paradigma
pengajaran mengikuti prinsip seperti:
a.

Tujuan yang disadari.

Parasiswa di beritahu mengapa penting mempelajari tujuan tertentu atau paling sedikit diberi
uraian jelas tentang hal yang harus mereka pelajari.
b. Paraktek yang sesuai
Siswa mempunyai kesempatan mempraktekkan baik kecakapan prasyarat yang belum di
capai maupun tingkah laku yang di kehendaki oleh tujuan.
c.

Pengetahuan tentang hasil

Murid-murid diberi umpan balik yang menunjukkan apakah tanggapan mereka mencukupi
dan dibantu untuk membuat mereka lebih memenuhi syarat.1[5]
2.2.4

Kurikulum Subyek Akademik


Kurikulum ini dilakukan dengan merencanakan kegiatan mempelajari bahan-bahan

pelajaran yang bersifat akademis, seperti halnya mempelajari mata pelajaran-mata pelajaran
dalam kurikulum tradisional. Namun, tidak semua bahan pelajaran yang diambil dari
sejumlah mata pelajaran itu dijadikan isi kurikulum, tetapi dilakukan seleksi yang cukup teliti
dan mengambil bahan-bahan mana yang bersifat inti dari suatu disiplin ilmu tertentu.
Maksud kurikulum akademik adalah melatih siswa dalam menggunakan gagasan yang
paling bermanfaat dan proses menyelidiki masalah riset khusus. Dengan menjadikan bersifat
1
5

dapat diterangkan dengan baik dalam disiplin ilmu, siswa diharapkan memperoleh konsep
dan metode untuk melanjutkan petumbuhan masyarakat lebih luas apabila formal selesai.
Para siswa harus belajar menumbuhkan alasan dan mengontrol selera mereka. Sekolah harus
memberikan kesempatan siswa menyadari pencapaian terbaik dari warisan budaya mereka.
2.3 Jenis Kurikulum
Setelah membahas model kurikulum di atas, kali ini kita akan mempelajari jenis
kurikulum, ada beberapa jenis kurikulum yang akan kita bahas dalam pembahasan ini,
meliputi:
2.3.1

Separated Subject Curriculum


Separated subject curriculum telah dilaksanakan sejak lama hingga sekarang masih

banyak dipertahankan mulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Setiap mata
pelajaran disusun secara terpisah satu sama lain dengan waktu yang dibatasi dan dipegang
oleh huru baik oleh bidang studi maupun oleh guru kelas.
Pada zaman Romawi ada mata pelajaran yang harus dikasai oleh peserta didik yang
terdapat dalam The Seven Liberal Arts yang terbagi menjadi dua kelompok, yang masingmasing kelompok berisikan tiga dan empat mata pelajaran yang diajarkan secara terpisah
yaitu kelompok Trivum yang berisikan tiga mata pelajaran, gramatik, retorika, dan logika.
Kelompok yang lain adalah kelompok Quadrium yang berisikan empat mata pelajaran yaitu;
aritmatika, geometri, astronomi dan musik.
Kemudian tiap-tiap mata pelajaran tersebut berkembang menjadi anak cabang ilmu
pengetahuan induknya dan berdiri sendiri atau bahkan menjadi prerequisite (prasyarat) untuk
mata pelajaran yang berkembang berikutnya. Contoh mata pelajaran prerequisite dalam mata
pelajaran yang berkembang berikutnya dapat mempelajari writing (menulis), terlebih dahulu
harus paham structure (tata bahasa), vocab (kosa kata) dan reading (membaca). Vocab adalah
prerequisite (prasyarat) dari reading, structure adalah prasyarat dari writing. Contoh lain,
ilmu pendidikan berkembang menjadi pendidikan historois, pendidikan nasional, pendidikan
sosial dan seterusnya. Bidang psikologi berkembang dari psikologi umum beranak cabang
menjadi psikologi perkembangan, psikologi pendidikan, psikologi kepribadian, psikologi
dalam dan sebagainya.
Dalam organisasi separated subject curriculum, yang memisah-misahkan mata
pelajaran sedemikian rupa, sehingga setiap mata pelajaran
6

dapat berkembang menjadi

berbagai anak cabang ilmu pengetahuan, anak cabang ilmu pengetahuan

berkembang

menjadi cucu cabang dan seterusnya yang pada akhirnya peserta didik tidak mampu lagi
untuk mempelajari semuanya. Untuk mengatasi hal yang sedemikian maka berbagai mata
pelajaran yang sejenis dikelompokkan menjadi satu sehingga terjadilah kelompok-kelompok
mata pelajaran yang berorientasi pada kemampuan berbahasa, ilmu-ilmu sosial, ilmu-ilmu
eksakta yang masing-masing kelompok tersebut berkembang lebih lanjut menjadi bidangbidang pengetahuan yang lebih rinci lagi.
Untuk penyusunan kurikulum selanjutnya para penyusun membagi-bagi berbagai kelompok
mata pelajaran tersebut menjadi bagian-bagian/ jurusan-jurusan, program-program, sedang
peserta didik dipersilahkan untuk memilih bagian-bagian/ jurusan-jurusan, program-program
yang sesuai dengan minatnya.sungguhpun demikian penyelenggaraan dan pelaksanaan mata
pelajaran masih tetap terpisah-pisah sesuai dengan organisasi separated subject curriculum.
Keunggulan organisasi separate subject curriculum
a. Bahan palajaran dapat disajikan secara logis, sistematis dan bekesinambungan
b. Organisasi kurikulum ini bentuknya mudah dan sederhana
c. Mudah dinilai untuk mendapatkan data-data yang diperlukan untuk dilakukan perubahan
seperlunya
d. Memudahkan guru sebagai pelaksana kurikulum
Kelamahan-kelemahan organisasi separate subject curriculum
a. Perkembangan dan pertumbuhan anak tidak harmonis
b. Kurang memperhatikan masalah-masalah yang dihadapi anak secara factual dalam
kehidupan mereka sehari-hari
c. Cenderung statis dan ketinggalan zaman
d. Kurikulum bentuk ini sangat terbatas, karena hanya menekankan pada perkembangan
intelektual dan kurang memperhatikan factor-faktor lain.
2.3.2

Correlated Curriculum
Correlated berasal dari kata correlation yang dalam bahasa Indonesia berarti korelasi

yaitu adanya hubungan antara satu dengan yang lainnya. Sifat hubungan ada berbagai
macam. Ada yang bersifat timbale balik, sebab akibat, ada yang dihubungkan dengan sengaja,
tetapi ada juga hubungan yang secara kebetulan.
Dalam pengorganisasian kurikulum secara separated dirasa banyak kelemahannya,
maka dicari pengorganisasian dengan cara lain yaitu dengan cara digabungkan atau
7

dikorelasikan dua atau lebih mata pelajaran yang pokok bahasannya atau sub pokok
bahasannya mempunyai tujuan pembahasan yang sama atau permasalahan yang sama. Pokok
bahasan atau sub pokok bahasan dapat tuntas dan menyeluruh. Korelasi bidang studi tersebut
dapat terjadi sebagai berikut:
1) Korelasi antar pokok bahasan dalam bidang studi yang sejenis, misalnya:
a.

Dalam bidang studi bahasa, meliputi berbagai mata pelajaran: membaca, tata bahasa,

mengarang, bercerita dan sebagainya.


b.

Dalam bidang studi ilmu pengetahuan alam, meliputi berbagai mata pelajaran:: pisika,

kimia, biologi, dan sebagainya


c.

Dalam bidang studi ilmu sosial, berbagai mata pelajaran: sejarah, ilmu bumi, ekonomi,

sosiologi, dan sebagainya.


d. Dalam bidang studi matematika, meliputi berbagai mata pelajaran: aljabar, ilmu hitung,
ilmu ukur, dan sebagainya.
2) Korelasi antar pokok bahasan di luar bidang studi yang tidak sejenis, misalnya:
pembahasan pokok bahsan Candi Borobudur. Untuk membahasa candi Borobudur perlu
pembahasan mengenai:
a.

Letak candi : dibahas oleh ilmu tanah, ilmu bumi

b. Letak dan siapa yang mendirikan: dibahas oleh mata pelajaran sosiologi, antropologi dan
sejarah.
c.

Pemilihan batu untuk candi: dibahas olehmata pelajaran ilmu alam

d. Bentuk candi: dibahas oleh ilmu arsitek


e.

Kedatangan turis(luar/dalam negeri): dibahas oleh mata pelajaran ilmu pariwisata.

f.

Beli souvenir: dibahas oleh mata pelajaran ilmu dagang dan sebagainya.
Keunggulan pada correlated curriculum

a. Bahan pelajaran yang disajikan akan lebih dipahami


b. Pemahaman murid tentang bahan yang diajarkan akan lebih luas
c. Minat murid untuk mempelajari bahan pelajaran bertambah sehingga ia pun dapat
mengasosiasikan pengetahuan yang dieprolehnya
d. Bahan yang disajikan lebih jelas dan lebih bermanfaat dalam kehidupannya
Kelemahan-kelemahan dari correlated curriculum
Kurikulum bentuk ini pada hakekatmya masih bersifat subject contered dan belum memilih
bahan yang langsung dengan minat dan kebutuhan peserta didik serta masalah-masalah
8

kehidupan sehari-hari. Penggabungan beberapa mata pelajaran menjadi satu kesatuan dengan
lingkup yang lebih luas tidak memberikan pengetahuan yang sistematis dan mendalam.

2.3.3 Integrated Curriculum


Integrated curriculum (kurikulum terpadu) yaitu kurikulum yang bahan ajarnya
diberikan secara terpadu. Misalnya Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan fusi (perpaduan) dari
beberapa mata pelajaran sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi dan sebagainya. Dalam proses
pembelajaran dikenal dengan pembelajaran tematik yang diberikan di kelas rendah Sekolah
Dasar. Mata pelajaran matematika, sains, bahasa Indonesia, dan beberapa mata pelajaran lain
diberikan dalam satu tema tertentu.
Pengorganisasian bahan pada jenis kurikulum ini didasarkan atas 3 unsur atau segi,
yaitu:
a. Unsur aktifitas anak atau child centered curriculum
b. Unsur social
c. Unsur minat dan kebutuhan anak
Ketiga unsur tersebut digunakan sebagai dasar perumusan dan penyusunan kurikulum
integrasi. Dalam perumusan serta penyusunan bahan pengajaran yang hendak dituangkan
dalam kurikulum integrasi hendaknya menggambarkan hal-hal sebagai berikut:
a. Adanya hubungan erat antara pelajaran disekolah dengan masalah-masalah kehidupan
dalam masyarakatnya
b. Tujuan yang akan dicapai, kebutuhan dan minat anak didik harus tercermin atau digariskan
di dalam kurikulum integrasi itu
c. Setelah itu, maka murid sanggup menggunakan pengetahuan yang diperolehnya
d. Program kegiatan yang dirumuskan hendaknya dapat mengembangkan seluruh pribadi
anak didik baik jasmani, emosi, sosial dan intelektual
e. Hendaknya dapat bertanggung jawab dan bersifat social
Kurikulum ini memiliki keunggulan
a. Segala hal yang dipelajari dalam kurikulum unit bertalian erat dengan yang lain
b. Kurikulum ini sesuai dengan teori tentang belajar yang mendasarkan berbagai kegiatan
pada

pengalaman,

kesanggupan,

kematangan

c. Adanya hubungan erat antara sekolah dan masyarakat


Kelemahan dari kurikulum ini
9

dan

minat

peserta

didik

a.

Kuirkulum

ini

tidak

mempunyai

organisasi

yang

logis

dan

sistematis

b. Pelaksanaan kurikulum bentuk ini amat repot


c. Dengan kurikulum bentuk ini tidak dapat dimungkinkan adanya ujian umum

2.4 Komponen Kurikulum


Fungsi kurikulum dalam proses pendidikan adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan
pendidikan. Maka hal ini berarti bahwa sebagai alat pendidikan kurikulum memiliki bagianbagian penting dan penunjang yang dapat mendukung operasinya secara baik. Bagian-bagian
ini disebut komponen. Kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan memiliki
komponen pokok dan komponen penunujang yang saling berkaitan, berinteraksi dalam
rangka dukungannya untuk mencapai tujuan itu. Kurikulum adalah sebuah sistem, Sistem
adalah suatu kesatuan sejumlah elemen (objek, manusia, kegiatan, informasi, dsb) yang
terkait dalam proses atau struktur dan dianggap berfungsi sebagai satu kesatuan organisasai
dalam mencapai satu tujuan. Jika pemahaman sistem diatas dipergunakan melihat kurikulum
itu ada sejumlah komponen yang terkait dan berhubungan satu sama lain untuk mencapai
tujuan. Dengan demikian, dipandang sistem terhadapa kurikulum, artinya kurikulum itu
dipandang memiliki sejumlah komponen-komponen yang saling berhubungan, sebagai
kesatuan yang bulat untuk mencapai tujuan.
Kurikulum dapat diumpamakan suatu organisme baik manusia ataupun binatang yang
memiliki susunan anatomi tertentu. Unsur atau komponen-komponen pengembangan
kurikulum yang utama adalah : (1) tujuan; (2) materiatau bahan ajar; (3) strategi, mengajar;
(4) organisasi kurikulum; (5) evaluasi dan (6) penyempurnaan pengajaran. Keenam
komponen tersebut berkaitan erat antara satu dengan lainnya. Sedangkan menurut Nasution
yang dikutip oleh Abdullah komponen kurikulum ada 4 yaitu : Tujuan, Bahan Pelajaran,
Proses, dan Penilaian.
Lain halnya dengan Tohari Musnamar sebagaimana dikutip Muhaimin telah
mengidentifikasikan dan merinci komponen-komponen yang dipertimbangkan dalam rangka
pengembangan kurikulum yaitu: dasar dan tujuan pendidikan, pendidik, materi pendidikan,
sistem penjenjangan, sistem penyampaian, sistem evaluasi, peserta didik, proses pelaksanaan
(belajar mengajar), tindak lanjut, organisasi kurikulum, bimbingan dan konseling,
administrasi pendidikan, sarana dan prasarana, usaha pengembangan, biaya pendidikan, dan
lingkungan. Sementara itu Hasan Langgulung membagi unsur kurikulum menjadi empat
10

yaitu: tujuan pendidikan, isi atau kandungan pendidikan, metode pengajaran, dan metode
penilaian. Kurikulum harus memiliki kesesuaian atau relevansi. Kesesuaian ini meliputi dua
hal, pertama kesesuaian kurikulum tuntutan, kebutuhan, kondisi, dan perkembangan
masyarakat. Kedua, kesesuaan antara komponen-komponen kurikulum, yaitu sesuai dengan
isi dan tujuan, demikian juga dengan evaluasi sesuai dengan proses, isi dan tujuan kurikulum.
2.4.1 Komponen Tujuan
Komponen tujuan adalah yang berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan.
Dalam skala makro, rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau sistem
nilai yang dianut masyarakat. Tujuan menggambarkan sesuatu yang dicita-citakan
masyarakat. Seperti halnya masyarakat Indonesia menganut sistem nilai pancasila, maka
tujuan yang diharapkan tercapai oleh suatu kurikulum adalah terbentuknya masyarakat yang
pancasilais. Dalam skala mikro, tujuan kurikulum berhubungan dengan visi dan misi sekolah
serta tujuan-tujuan yang lebih sempit, seperti tujuan mata pelajaran. Tujuan pendidikan
diklasisifikasikan menjadi 4 yaitu :
a.

Tujuan Pendidikan Nasional (TPN)


Tujuan pendidikan Nasional merupakan sumber dan pedoman dalam usaha

penyelenggaraan pendidikan. Setiap lembaga penyelenggara pendidikan harus dapat


membentuk manusia sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, yang dirumuskan dalam
Undang-undang No.20 Tahun 2003, pasal 3 bahwa Pendidikan Nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggungjawab.
b. Tujuan Institusional (TI)
Tujuan institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan.
Tujuan institusional merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan umum yang
dirumuskan, berupa kompetensi lulusan setiap jenjang pendidikan, pendidikan dasar,
pendidikan menengah, kejuruan, dan pendidikan tinggi.
c.

Tujuan Kurikuler (TK)


Tujuan kurikulum asalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata

pelajaran. Atau dapat didefinisikan sebagai kualifikasi yang harus dimiliki siswa setelah
mereka menyelesaikan suatu bidang studi tertentu dalam suatu lembaga pendidikan.
d. Tujuan Instruksional atau Tujuan Pembelajaran (TP)
11

Tujuan pembelajaran merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh anak didik
setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam satu kali
pertemuan. Sementara itu tujuan pendidikan merupakan landasan bagi pemilihan materi serta
strategi penyampaian materi terseburt. Tujuan akan mengarahkan semua kegiatan pengajaran
dan mewarnai komponen lainnya. Ada tiga klasifikasi domain (bidang) bentuk prilaku, yaitu:
Domain kognitif berkenaan dengan kemampuan intelektual atau
kemampuan

berfikir, seperti kemampuan mengingat, memecahkan

masalah. Domain

kafektif

berkenaan

dengan

sikap,

nilai-nilai

dan

apresiasi. Domain psikomotor berkaitan dengan keterampilan atau skill


seseorang.
Mengingat pentingnya pendidikan bagi manusia, hampir di setiap negara telah
mewajibkan para warganya untuk mengikuti kegiatan pendidikan, melalui berbagai ragam
teknis penyelenggaraannya, yang disesuaikan dengan falsafah negara, keadaan sosial-politik
kemampuan sumber daya dan keadaan lingkungannya masing-masing. Kendati demikian,
dalam hal menentukan tujuan pendidikan pada dasarnya memiliki esensi yang sama.
Tujuan pendidikan di atas pada dasarnya ialah untuk membentuk peserta didik untuk
menjadi manusia seutuhnya (insan kamil) yang mempunyai ilmu pengetahuan dan teknologi
serta beriman dan bertakwa atau dalam istilah orde baru yaitu pancasilais. Tujuan tesebut
mempunyai tujuan yang komprehensip.
Dan setiap mata pelajaran mempunyai tujuan sendiri dan berbeda
dengan tujuan yang hendak dicapai oleh mata ajaran lainnya. Tujuan mata
pelajaran merupakan penjabaran dari tujuan kurikulum dalam rangka
mencapai tujuan pendidikan nasional.
2.4.2 Komponen Isi/Materi Pembelajaran
Isi kurikulum merupakan komponen yang berhubungan dengan pengalaman belajar
yang harus dimiliki siswa. Isi kurikulum menyangkut semua aspek baik yang berhubungan
dengan pengetahuan atau materi pelajaran yang biasanya tergambarkan pada isi setiap mata
pelajaran yang diberikan maupun aktivitas dan kegiatan siswa. Fuaduddin mengemukakan
beberapa kriteria yang digunakan untuk menyusun materi kurikulum, sebagai berikut:
a.

Continuitas (kesinambungan)

b. Sequences (urutan)
c.

Intergration (keterpaduan)

d. Flexibility (keluesan atau kelenturan)


12

Yang diprogramkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Disusun
dan disusun sedemikian rupa sesuai dengan Scope dan Scuece-nya. Isi atau materi tersebut
biasanya berupa materi mata pelajaran, seperti pendidikan agama Islam, yang meliputi hadits,
fiqh, tarikh, bahasa arab dan lain sebagainya.Dalam menentukan materi pembelajaran atau
bahan ajar tidak lepas dari filsafat dan teori pendidikan dikembangkan. Seperti telah
dikemukakan di atas bahwa pengembangan kurikulum yang didasari filsafat klasik
(perenialisme, essensialisme, eksistensialisme) penguasaan materi pembelajaran menjadi hal
yang utama.
Dalam hal ini, materi pembelajaran disusun secara logis dan sistematis, dalam
bentuk :
1. Teori, seperangkat konstruk atau konsep, definisi atau preposisi yang saling berhubungan,
yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan menspesifikasi hubunganhubungan antara variabel-variabel dengan maksud menjelaskan dan meramalkan gejala
tersebut.
2.

Konsep, suatu abstraksi yang dibentuk oleh organisasi dari kekhususan-kekhususan,

merupakan definisi singkat dari sekelompok fakta atau gejala.


3.

Generalisasi, kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus, bersumber dari

analisis, pendapat atau pembuktian dalam penelitian.


4.

Prinsip, yaitu ide utama, pola skema yang ada dalam materi yang mengembangkan

hubungan antara beberapa konsep.


5. Prosedur, yaitu seri langkah-langkah yang berurutan dalam materi pelajaran yang harus
dilakukan peserta didik.
6.

Fakta, sejumlah informasi khusus dalam materi yang dianggap penting, terdiri dari

terminologi, orang dan tempat serta kejadian.


7.

Istilah, kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus yang diperkenalkan dalam

materi.
8. Contoh/ilustrasi, yaitu hal atau tindakan atau proses yang bertujuan untuk memperjelas
suatu uraian atau pendapat.
9.

Definisi, yaitu penjelasan tentang makna atau pengertian tentang suatu hal/kata dalam

garis besarnya.
10. Preposisi, yaitu cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya
mencapai tujuan kurikulum.

13

Materi

pembelajaran

yang

didasarkan

pada

filsafat

progresivisme

lebih

memperhatikan tentang kebutuhan, minat, dan kehidupan peserta didik. Oleh karena itu,
materi pembelajaran harus diambil dari dunia peserta didik dan oleh peserta didik itu sendiri.
Materi pembelajaran yang didasarkan pada filsafat konstruktivisme, materi pembelajaran
dikemas sedemikian rupa dalam bentuk tema-tema dan topik-topik yang diangkat dari
masalah-masalah sosial yang krusial, misalnya tentang ekonomi, sosial bahkan tentang alam.
Materi pembelajaran yang berlandaskan pada teknologi pendidikan banyak diambil dari
disiplin ilmu, tetapi telah diramu sedemikian rupa dan diambil hal-hal yang esensialnya saja
untuk mendukung penguasaan suatu kompetensi. Materi pembelajaran atau kompetensi yang
lebih luas dirinci menjadi bagian-bagian atau sub-sub kompetensi yang lebih kecil dan
obyektif.
Dengan melihat pemaparan di atas, tampak bahwa dilihat dari filsafat yang melandasi
pengembangam kurikulum terdapat perbedaan dalam menentukan materi pembelajaran,.
Namun dalam implementasinya sangat sulit untuk menentukan materi pembelajaran yang
beranjak hanya dari satu filsafat tertentu., maka dalam prakteknya cenderung digunakan
secara eklektik dan fleksibel..
Berkenaan dengan penentuan materi pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan, pendidik memiliki wewenang penuh untuk menentukan materi pembelajaran,
sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang hendak dicapai dari setiap
kegiatan pembelajaran. Dalam prakteknya untuk menentukan materi pembelajaran perlu
memperhatikan hal-hal berikut :
1. Sahih (valid); dalam arti materi yang dituangkan dalam pembelajaran benar-benar telah
teruji kebenaran dan kesahihannya. Di samping itu, juga materi yang diberikan merupakan
materi yang aktual, tidak ketinggalan zaman, dan memberikan kontribusi untuk pemahaman
ke depan.
2. Tingkat kepentingan; materi yang dipilih benar-benar diperlukan peserta didik. Mengapa
dan sejauh mana materi tersebut penting untuk dipelajari.
3.

Kebermaknaan; materi yang dipilih dapat memberikan manfaat akademis maupun non

akademis. Manfaat akademis yaitu memberikan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan


yang akan dikembangkan lebih lanjut pada jenjang pendidikan lebih lanjut. Sedangkan
manfaat non akademis dapat mengembangkan kecakapan hidup dan sikap yang dibutuhkan
dalam kehidupan sehari-hari.

14

4.

Layak dipelajari; materi memungkinkan untuk dipelajari, baik dari aspek tingkat

kesulitannya (tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit) maupun aspek kelayakannya
terhadap pemanfaatan materi dan kondisi setempat.
5.

Menarik minat; materi yang dipilih hendaknya menarik minat dan dapat memotivasi

peserta didik untuk mempelajari lebih lanjut, menumbuhkan rasa ingin tahu sehingga
memunculkan dorongan untuk mengembangkan sendiri kemampuan mereka.
Komponen Isi dan struktur Progam atau materi merupakan bahan yang diprogamkan
guna mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Uraian bahan pelajaran inilah yang
dijadikan dasar pengambilan bahan dalam setiap belajar mengajar dikelas oleh pihak guru.
Penentuan pokok-pokok dan sub-sub pokok bahasan didasarkan pada tujuan instruksional. Isi
atau materi tersebut berupa materi-materi bidang studi, seperti matematika, Bahasa Indonesia,
IPA, IPS, dan sebagainya. Bidang-bidang tersebut disesuaikan dengan jenis, jenjang maupun
jalur pendidikan yang ada. Bidang-bidang tersebut biasanya telah dicantumkan dalam
struktur program kurikulum sekolah yang bersangkutan.
Isi / materi kurikulum hakikatnya adalah semua kegiatan dan pengalaman yang
dikembangkan dan disusun untuk mencapai tujuan pendidikan. Secara umum isi kurikulum
itu dapat dikelompokan menjadi :
a.

Logika, yaitu pengetahuan tentang benar salah berdasarkan prosedur keilmuan.

b.

Etika, yaitu pengetahuan tentang baik buruk, nilai dan moral

c.

Estetika, pengetahuan tentang indah-jelek, yang ada nilai seninya.

Pengembangan materi kurikulum harus berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:


a.

Mengandung bahan kajian yang dapat dipelajari siswa dalam pembelajaran.

b.

Berorientasi pada tujuan, sesuai dengan hirarki tujuan pendidikan.2[13]

Siswa belajar dalam bentuk interaksi dengan lingkungannya, lingkungan orang-orang,


alat-alat, dan ide-ide. Tugas utama seorang guru adalah menciptakan lingkungan tersebut,
untuk mendorong siswa melakukan interaksi yang produktif dan memberikan dirancang
dalam suatu rencana mengajar.
2.4.3 Komponen Metode/Strategi
Strategi dan metode merupakan komponen ketiga dalam pengembangan kurikulum.
Komponen ini merupakan komponen yang memiliki peran sangat penting, sebab
2
15

berhubungan dengan implementasi kurikulum. Strategi merujuk pada pendekatan dan metode
serta peralatan mengajar yang digunakan dalam pengajaran. Tetapi pada hakikatnya strategi
pengajaran tidak hanya terbatas pada hal itu saja. Pembicaraan strategi pengajaran tergambar
dari cara yang ditempuh dalam melaksanakan pengajaan, mengadakan penilaian, pelaksanaan
bimbingan dan mengatur kegiatan, baik yang secara umum berlaku maupun yang bersifat
khusus dalam pengajaran.
Strategi pelaksanaan kurikulum berhubungan dengan bagaimana kurikulum itu
dilaksanakan disekolah. Kurikulum merupakan rencana, ide, harapan, yang harus diwujudkan
secara nyata disekolah, sehingga mampu mampu mengantarkan anak didik mencapai tujuan
pendidikan. Kurikulum yang baik tidak akan mencapai hasil yang maksimal, jika
pelaksanaannya menghasilkan sesuatu yang baik bagi anak didik. Komponen strategi
pelaksanaan kurikulum meliputi pengajaran, penilaian, bimbingan dan penyuluhan dan
pengaturan kegiatan sekolah.
Strategi meliputi rencana, metoda dan perangkat kegiatan yang direncanakan untuk
mencapai tujuan tertentu. Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian
kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya / kekuatan
dalam pembelajaran. Upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam
kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal, dinamakan metode.
Telah disampaikan di atas bahwa dilihat dari filsafat dan teori pendidikan yang
melandasi pengembangan kurikulum terdapat perbedaan dalam menentukan tujuan dan
materi pembelajaran, hal ini tentunya memiliki konsekuensi pula terhadap penentuan strategi
pembelajaran yang hendak dikembangkan. Apabila yang menjadi tujuan dalam pembelajaran
adalah penguasaan informasi-intelektual, sebagaimana yang banyak dikembangkan oleh
kalangan pendukung filsafat klasik dalam rangka pewarisan budaya ataupun keabadian, maka
strategi pembelajaran yang dikembangkan akan lebih berpusat kepada guru. Guru merupakan
tokoh sentral di dalam proses pembelajaran dan dipandang sebagai pusat informasi dan
pengetahuan. Sedangkan peserta didik hanya dianggap sebagai obyek yang secara pasif
menerima sejumlah informasi dari guru. Metode dan teknik pembelajaran yang digunakan
pada umumnya bersifat penyajian (ekspositori) secara massal, seperti ceramah atau seminar.
Selain itu, pembelajaran cenderung lebih bersifat tekstual.
Strategi pembelajaran yang berorientasi pada guru tersebut mendapat reaksi dari
kalangan progresivisme. Menurut kalangan progresivisme, yang seharusnya aktif dalam suatu
proses pembelajaran adalah peserta didik itu sendiri. Peserta didik secara aktif menentukan
materi dan tujuan belajarnya sesuai dengan minat dan kebutuhannya, sekaligus menentukan
16

bagaimana cara-cara yang paling sesuai untuk memperoleh materi dan mencapai tujuan
belajarnya. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik mendapat dukungan dari kalangan
rekonstruktivisme yang menekankan pentingnya proses pembelajaran melalui dinamika
kelompok.
Pembelajaran cenderung bersifat kontekstual, metode dan teknik pembelajaran yang
digunakan tidak lagi dalam bentuk penyajian dari guru tetapi lebih bersifat individual,
langsung, dan memanfaatkan proses dinamika kelompok (kooperatif), seperti : pembelajaran
moduler, obeservasi, simulasi atau role playing, diskusi, dan sejenisnya. Selanjutnya, dengan
munculnya pembelajaran berbasis teknologi yang menekankan pentingnya penguasaan
kompetensi membawa implikasi tersendiri dalam penentuan strategi pembelajaran. Meski
masih bersifat penguasaan materi atau kompetensi seperti dalam pendekatan klasik, tetapi
dalam pembelajaran teknologis masih dimungkinkan bagi peserta didik untuk belajar secara
individual.
Dalam pembelajaran teknologis dimungkinkan peserta didik untuk belajar tanpa tatap
muka langsung dengan guru, seperti melalui internet atau media elektronik lainnya. Peran
guru dalam pembelajaran teknologis lebih cenderung sebagai director of learning, yang
berupaya mengarahkan dan mengatur peserta didik untuk melakukan perbuatan-perbuatan
belajar sesuai dengan apa yang telah didesain sebelumnya. Berdasarkan uraian di atas,
ternyata banyak kemungkinan untuk menentukan strategi pembelajaran dan setiap strategi
pembelajaran memiliki kelemahan dan keunggulannya tersendiri.
2.4.4 Komponen Evaluasi
Pengembangan kurikulum merupakan proses yang tidak pernah
berakhir. Proses tersebut meliputi perencanaan, implementasi, dan
evaluasi.

Evaluasi

merupakan

komponen

utuk

melihat

efektifitas

pencapaian tujuan. Dalam konteks kurikulum evaluasi berfungsi untuk


mengetahui apakah tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai atau
belum, atau untuk evaluasi yang digunakan sebagai umpan balik dalam
perbaikan strategi yang ditetapkan. Fungsi evaluasi ada dua, yaitu fungsi
sumatif dan fungsi formatif.
Evaluasi dikelompokkan kedalam dua jenis :
Tes adalah alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur kemampuan
siswa dalam aspek kognitif atau tingkat penguasaan materi pembelajaran.

17

Non tes adalah alat evaluasi yang biasanya digunakan untuk menilai

aspek tingkah laku termasuk sikap, minat dan motifasi.


Evaluasi merupakan salah satu komponen kurikulum. Dalam pengertian terbatas,
evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan
pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. Sedangkan dalam
pengertian yang lebih luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja
kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria. Indikator kinerja yang
dievaluasi tidak hanya terbatas pada efektivitas saja, namun juga relevansi, efisiensi,
kelayakan program.
Pada bagian lain, dikatakan bahwa luas atau tidaknya suatu program evaluasi
kurikulum sebenarnya ditentukan oleh tujuan diadakannya evaluasi kurikulum. Apakah
evaluasi tersebut ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem kurikulum atau
komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut. Salah satu komponen
kurikulum penting yang perlu dievaluasi adalah berkenaan dengan proses dan hasil belajar
siswa.
Evaluasi kurikulum juga bervariasi, bergantung pada dimensi-dimensi yang menjadi
fokus evaluasi. Salah satu dimensi yang sering mendapat sorotan adalah dimensi kuantitas
dan kualitas. Instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi diemensi kuantitaif berbeda
dengan dimensi kualitatif. Instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi dimensi
kuantitatif, seperti tes standar, tes prestasi belajar, tes diagnostik dan lain-lain. Sedangkan,
instrumen untuk mengevaluasi dimensi kualitatif dapat digunakan, questionnare, inventori,
interview, catatan anekdot dan sebagainya.
Evaluasi kurikulum memegang peranan penting, baik untuk penentuan kebijakan
pendidikan pada umumnya maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum itu
sendiri. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan
pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan
pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan.
Hasil-hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para
pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan peserta didik,
memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian serta
fasilitas pendidikan lainnya. Aspek-aspek yang harus dievaluasi, menurut Arich Lewy sesuai
dengan tahap-tahap dalam pengembangan kurikulum, yaitu:
18

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Penentuan tujuan utama


Perencanaan
Uji-coba dan revisi
Uji lapangan
Pelaksanaan kerikulum
Pengawasan mutu.
Evaluasi kurikulum memegang peranan penting, baik untuk penentuan kebijakan

pendidikan pada umumnya maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum itu
sendiri. Hasil-hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah
dan para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan
peserta didik, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara
penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya.
Evaluasi merupakan komponen untuk melihat efektifitas pencapaian tujuan. Dalam
konteks kurikulum evaluasi dapat berfungsi untuk mengetahui apakah tujuan yang telah
ditetapkan telah tercapai atau belum, juga digunakan sebagai umpan balik dalam perbaikan
strategi yang ditetapkan. Evaluasi merupakan salah satu komponen kurikulum, dengan
evaluasi dapat diperoleh informasi yang akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran,
keberhasilah siswa, guru dan proses pembelajaran itu sendiri. Berdasarkan hasil evaluasi
dapat dibuat keputusan kurikulum itu sendiri, pembelajaran, kesulitan dan upaya bimbingan
yang diperlukan. Jenis-jenis penilaian meliputi :
a)

Penilaian awal pembelajaran (Input program)

b)

Penilaian proses pembelajaran (Program)

c)

Penilaian akhir pembelajaran.(output program).


Dalam kegiatan evaluasi, cenderung ditempuh pendekatan atau

cara-cara antara lain:


1) Menempatkan kedudukan setiap siswa dalam kelompoknya melalui
pengembangan norma kelompok dalam evaluasi hasil belajar
2) Membandingkan hasil belajar antara dua atau lebih kelompok yang
menggunakan program atau matode pengajaran yang berbeda-beda,
malalui analisis secara kuantitatif
3) Teknik evaluasi yang digunakan terutama tes yang disusun dalam
bentuk yang obyektif, yang terus dikembangkan untuk menghasilkan alat
evaluasi reliabel dan valid.
19

Dalam kegiatan evaluasi, cenderung ditempuh pendekatan atau


cara-cara antara lain:
1) Membandingkan performance setiap dimensi program dengan kriteria
internal
2) Membandingkan performance program dengan menggunakan kriteria
eksternal
3) Teknik evaluasi mencakup tes, observasi, wawancara, angket, dan
analisis dokumen

2.4.5 Komponen Strategi Belajar Mengajar


Dalam proses belajar mengajar,seorang pendidik perlu memahami
suatu Strategi. Strategi menujuk pada sesuatu pendekatan (approach),
metode (method), dan peralatan mengajar yang diperlukan. Strategi
pengajaran lebih lanjut bisa dipahami sebagai cara seorang pendidik
dalam mengajar. Dengan demikian, strategi disini mempunyai arti
komprehensif

yang

mesti

dipahami

dan

diupayakan

untuk

pengaplikasiannya oleh seorang pendidik sejak dari mempersiapkan


pengajara sampai proses evaluasi.
Dengan menggunakan strategi yang tepat dan akurat proses belajar
mengajar dapat memuaskan pendidik dan peserta didik khususnya pada
proses transfer ilmu yang dapat bditangkap para peserta didik. Akan
tetapi penggunaan strategi yang tepat dan akurat sangat ditentukan oleh
tingkat kompetensi pendidik.
2.4.6 Kmponen Proses Belajar Mengajar
Komponen ini sangatlah penting dalam suatu proses pendidikan.
Tujuan akhir proses mengajar adalah terjadinya perubahn tingkah laku
peserta didik menjadi manusia yang lebih baik. Komponen ini erat
20

kaitannya dengaan susasana belajar di dalam ruangan kelas maupun di


luar kelas.upaya seorang pendidik untuk menumbuhkan motivasi dan
kreatifitas dalm belajar merupakan langkah yang tepat. Komponen proses
ini juga berkaitan dengan kemampuan pendidik dalam menciptkan
suasana pengajaran yang kondusif agar efektivitas tercipta dalam proses
pembelajaran.
Menurut Subandijah guru perlu memusatkan pad kepribadiannya dalam
mengajar, menerapkan metode yang tepat, dan memusatkan pada proses
dengan produknya, dan memusatkan pada kompetensi yang relevan.
Pada intinya guru harus mengoptimalkan perannya sebagai educator,
motivator, manager, dan fasilitator

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang sudah kita pelajar di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa:
1. Model kurikulum terbagi menjadi 4, meliputi:
Kurikulum Humanistis.
Kurikulum Sebagai Rekonstruksi Sosial.
Kurikulum Sebagai Teknologi.
Kurikulum Subyek Akademik.
2. Sedangkan jenis kurikulum terbagi menjadi 3, meliputi:
Separated Subject Curriculum.
21

Correlated Curriculum.
Integrated Curriculum.
Sistem terhadapa kurikulum, artinya kurikulum itu dipandang memiliki sejumlah
komponen-komponen yang saling berhubungan, sebagai kesatuan yang bulat untuk mencapai
tujuan. Dalam komponen kurikulum ada hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan,
yaitu: a. tujuan yang ingin dicapai, b. materi yang perlu disiapkan untuk mencapai tujuan, c.
susunan materi/pengalaman belajar dan d. evaluasi apakah tujuan yang ditetapkan tercapai
3.2 Saran
Kurikulum merupakan suatu pondasi dalam membangun serta dan menjadi titik
tombak dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, sebaiknya sebagai seorang pendidik dalam
mengembangkan kurikulum langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan
model dan jenis kurikulum yang terdapat dalam kurikulum yang digunakan untuk sekolah
dasar dan menengah serta perguruan tinggi.
Pembahasan makalah ini mungkin masih kurang sempurna. Oleh karena itu penulis
masih membutuhkan saran dan perbaikan dari para pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Abdulloh, 2010, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Yogyakarta:
Ar-ruzz Media.
Ali, Muhammad. 2009. Pengembangan kurikulum Di Sekolah. Bandung: Sinar Baru
Algesindo
Dakir. 2004. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: PT Rineka Cipta
Suparlan. 2012. Tanya Jawab Pengembangan Kurikulum & Materi Pelajaran. Jakarta: Bumi
Aksara
Hamid syarif. 1993. Pengembanagan kurikulum Pasuruan: garoeda buana indah.
Hamalik, Oemar. 1994. Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung : Bumi
Aksara
Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi konsep, karakteristik, dan implementasi.
22

Bandung: PT Remaja Rosdakarya.


Nana Sudjan. 1991. Pembinaan dan pengembangan kurikulum disekolah Bandung: Sinar
Baru.
Nasution. 1993. Pengembangan Kurikulum. Bandung : Citra Aditya Bakti
Neil, John D. Mc. 1988. Kurikulum Sebuah Pengantar Komprehensif. Jakarta: Wirasa
Nurgiyantoro, Burhan. 1985. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum
Sekolah. Yogyakarta :
BPFE
Rusman. 2008. Manajemen Kurikulum. Jakarta : Rajawali Pers
Subandijah. 1992. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Jakarta :
RajaGrafindo Persada

23