Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

Pemeriksaan Bleeding Time


& Clotting Time

OLEH :

PUTU RINA WIDHIASIH


P07134014002

JURUSAN ANALIS KESEHATAN


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
TAHUN AJARAN
2016
PEMERIKSAAN

Bleeding Time & Clotting Time


I.

TUJUAN
1. Mahasiswa dapat mengetahui cara pemeriksaan bleeding time (masa perdarahan).
2. Mahasiswa dapat melakukan cara pemeriksaan dan menentukan hasil
pemeriksaan bleeding time (masa perdarahan) pada pasien.
3. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami teknik atau cara melakukan
pemeriksaan clotting time (masa pembekuan darah).
4. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan clotting time.

II.

METODE
Bleeding time dengan Metode Duke
Clotting time dengan Metode Lee and White modifikasi

III. PRINSIP
Bleeding time dengan Metode Duke
Prinsip pemeriksaan bleeding time adalah menghitung lamanya perdarahan
sejak terjadi luka kecil pada permukaan kulit sampai berhenti secara spontan.
Perdarahan buatan dibuat pada pembuluh darah lalu tetesan darah diserap dengan
kertas saring setiap 30 detik dan dihitung waktu sampai perdarahan berhenti.
Clotting time dengan Metode Lee and White modifikasi
Prinsip pemeriksaan clotting time adalah darah vena diambil dan dimasukkan
ke dalam tabung kemudian dibiarkan membeku. Selang waktu dari saat pengambilan
darah sampai saat darah membeku dicatat sebagai masa pembekuan.
IV.

DASAR TEORI
Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian yaitu plasma darah dan sel

darah. Sel darah terdiri dari tiga jenis yaitu eritrosit, leukosit dan trombosit. Volume darah
secara keseluruhan adalah satu per dua belas berat badan atau kira-kira lima liter. ( Evelyn
C. Pearce, 2006)
Fungsi utama darah dalam sirkulasi adalah sebagai media transportasi, pengaturan
suhu, pemeliharaan keseimbangan cairan, serta keseimbangan basa eritrosit selama
hidupnya tetap berada dalam tubuh. Sel darah merah mampu mengangkut secara efektif
tanpa meninggalkan fungsinya di dalam jaringan, sedang keberadaannya dalam darah,
hanya melintas saja.
Darah berwarna merah, antara merah terang apabila kaya oksigen sampai merah
tua apabila kekurangan oksigen. Warna merah pada darah disebabkan oleh hemoglobin,

protein pernapasan (respiratory protein) yang mengandung besi dalam bentuk heme, yang
merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen.
Manusia memiliki sistem peredaran darah tertutup yang berarti darah mengalir
dalam pembuluh darah dan disirkulasikan oleh jantung. Darah dipompa oleh jantung
menuju paru-paru untuk melepaskan sisa metabolisme berupa karbon dioksida dan
menyerap oksigen melalui pembuluh arteri pulmonalis, lalu dibawa kembali ke jantung
melalui vena pulmonalis. Setelah itu darah dikirimkan ke seluruh tubuh oleh saluran
pembuluh darah aorta. Darah mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh melalui saluran
halus darah yang disebut pembuluh kapiler. Darah kemudian kembali ke jantung melalui
pembuluh darah vena cava superior dan vena cava inferior. Darah juga mengangkut bahan
bahan sisa metabolisme, obat-obatan dan bahan kimia asing ke hati untuk diuraikan dan
ke ginjal untuk dibuang sebagai air seni. ( Evelyn C. Pearce, 2006 )
Darah terdiri daripada beberapa jenis korpuskula yang membentuk 45% bagian
dari darah. Bagian 55% yang lain berupa cairan kekuningan yang membentuk medium
cairan darah yang disebut plasma darah.
a. Sel darah merah atau eritrosit (sekitar 99% dari jumlah korpuskula).
Eritrosit tidak mempunyai nukleus sel ataupun organela, dan tidak dianggap
sebagai sel dari segi biologi. Eritrosit mengandung hemoglobin dan mengedarkan
oksigen. Sel darah merah juga berperan dalam penentuan golongan darah. Orang
yang kekurangan eritrosit menderita penyakit anemia. Keping-keping darah atau
trombosit (0,6 - 1,0%), bertanggung jawab dalam proses pembekuan darah.
b. Sel darah putih atau leukosit (0,2%)
Leukosit bertanggung jawab terhadap sistem imun tubuh dan bertugas untuk
memusnahkan benda-benda yang dianggap asing dan berbahaya oleh tubuh, misal
virus atau bakteri. Leukosit bersifat amuboid atau tidak memiliki bentuk yang
tetap. Orang yang kelebihan leukosit menderita penyakit leukimia, sedangkan
orang yang kekurangan leukosit menderita penyakit leukopenia.
c. Plasma darah
Pada dasarnya adalah larutan air yang mengandung : albumin, bahan pembeku
darah, immunoglobin (antibodi), hormon, berbagai jenis protein, berbagai jenis
garam. ( Wikipedia, 2009 )
Hemostasis adalah mekanisme untuk menghentikan dan mencegah perdarahan.
Bilamana terdapat luka pada pembuluh darah, segara akan terjadi vasokonstriksi

pembuluh darah sehingga aliran darah ke pembuluh darah yang terluka berkurang.
Kemudian trombosit akan berkumpul dan melekat pada bagian pembuluh darah yang
terluka untuk membentuk sumbat trombosit. Faktor pembekuan darah yang diaktifkan
akan membentuk benang-benang fibrin yang akan membuat sumbat trombosit menjadi
non permeabel sehingga perdarahan dapat dihentikan.
Jadi dalam proses hemosatasis terjadi 3 reaksi yaitu reaksi vascular berupa
vasokontriksi pembuluh darah, reaksi selular yaitu pembentukan sumbat trombosit, dan
reaksi biokimiawi yaitu pembentukan fibrin. Faktor-faktor yang memegang peranan
dalam proses hemostasis adalah pembuluh darah, trombosit, dan faktor pembekuan
darah. Selain itu faktor lain yang juga mempengaruhi hemostasis adalah faktor
ekstravascular, yaitu jaringan ikat disekitar pembuluh darah dan keadaan otot.
Pedarahan mungkin diakibatkan oleh kelainan pembuluh darah, trombosit,
ataupun sistem pembekuan darah. Bila gejala perdarahan merupakan kalainan bawaan,
hampir selalu penyebabnya adalah salah satu dari ketiga faktor tersebut diatas kecuali
penyakit Von Willebrand. Sedangkan pada kelainan perdarahan yang didapat,
penyebabnya mungkin bersifat multipel. Oleh karena itu pemeriksaan penyaring
hemostasis harus meliputi pemeriksaan vasculer, treombosit, dan koagulasi.
Biasanya pemeriksaan hemostasis dilakukan sebelum operasi. Beberapa klinisi
membutuhkan pemerikasaan hemostasis untuk semua penderita pre operasi, tetapi ada
juga membatasi hanya pada penderita dengan gangguan hemostasis. Yang paling penting
adalah anamnesis riwayat perdarahan. Walaupun hasil pemeriksaan penyaring normal,
pemeriksaan hemostasis yang lengkap perlu dikerjakan jika ada riwayat perdarahan.
Pemeriksaan faal hemosatasis adalah suatu pemeriksaan yang bertujuan untuk
mengetahui faal hemostatis serta kelainan yang terjadi. Pemeriksaan ini bertujuan untuk
mencari riwayat perdarahan abnormal, mencari kelainan yang mengganggu faal
hemostatis, riwayat pemakaian obat, riwayat perdarahan dalam keluarga. Pemeriksaan
faal hemostatis sangat penting dalam mendiagnosis diatesis hemoragik. Pemeriksaan ini
terdiri atas:
A. Tes penyaring meliputi :
1. Percobaan pembendungan
2. Masa perdarahan
3. Hitung trombosit

4. Masa protombin plasma (Prothrombin Time, PT)


5. Masa tromboplastin partial teraktivasi (Activated partial thromboplastin time,
APTT)
6. Masa trombin (Thrombin time, TT)
B. Tes khusus meliputi :
1.

Tes faal trombosit

2.

Tes Ristocetin

3.

Pengukuran faktor spesifik (faktor pembekuan)

4.

Pengukuran alpha-2 antiplasmin


Proses pembekuan darah atau penggumpalan darah merupakan proses yang

kompleks untuk mencegah tubuh kehilangan banyak darah ketika terjadi luka. Proses
tersebut meliputi pengetatan pada dinding pembuluh darah yang terluka, pelepasan zat
untuk menarik keping-keping darah ke daerah luka, dan pembentukan benang-benang
fibrin.
1.

Bleeding Time

Bleeding Time adalah waktu lamanya berdarah atau waktu yang di perlukan untuk
berhentinya darah mengalir. Ada beberapa metode dalam Bleeding Time yaitu :
a.

Metode Ivy

Metode Ivy adalah format tradisional untuk tes ini. Dalam metode Ivy, tekanan
darah manset ditempatkan di lengan atas dan meningkat sampai 40 mmHg. Sebuah pisau
bedah atau pisau bedah yang digunakan untuk melakukan tusukan luka di bagian lengan
bawah. Perangkat, pisau otomatis pegas paling umum digunakan untuk membuat
potongan berukuran standar. Kawasan ditikam dipilih sehingga tidak ada vena
superfisialis. Ini pembuluh darah, karena ukuran mereka, mungkin kali pendarahan lagi,
terutama pada orang dengan pendarahan cacat. Waktu dari ketika luka menusuk dibuat
sampai pendarahan semua telah berhenti diukur dan disebut waktu perdarahan (Bleeding
Time). Setiap 30 detik, handuk kertas digunakan untuk membersihkan dari darah. Tes ini
selesai ketika pendarahan telah berhenti sepenuhnya.
b.

Metode Duke

Untuk metode Duke, dibuat di kuping telinga atau ujung jari yang ditusuk untuk
menyebabkan perdarahan. Seperti dalam metode Ivy, tes ini waktunya dari awal

pendarahan sampai pendarahan benar-benar berhenti. Kerugian dengan metoda Duke


adalah bahwa tekanan pada vena darah di daerah menusuk tidak konstan dan hasil yang
dicapai kurang dapat diandalkan. Keuntungan dengan metode Duke adalah bahwa bekas
luka tidak tetap setelah ujian. Metode lain dapat menyebabkan bekas luka, garis rambut
kecil di mana luka tersebut dibuat. Namun, ini adalah sebagian besar perhatian kosmetik.
Tidak ada persiapan khusus yang dibutuhkan pasien untuk tes ini. Daerah yang akan
ditusuk harus dibersihkan dengan alkohol. Alkohol harus ditinggalkan dikulit cukup lama
untuk membunuh bakteri pada tempat luka. Alkohol harus dikeluarkan sebelum menusuk
lengan karena alkohol akan berdampak buruk hasil tes oleh pembekuan menghambat.

Ilustrasi perbedaan cara kerja metode duke dan metode ivy


2.

Clotting Time

Clotting Time adalah waktu yang di perlukan darah untuk membeku atau waktu yang
di perlukan saat pengambilan darah sampai saat terjadinya pembekuan. Hal ini
menunjukkan seberapa baik platelet berinteraksi dengan dinding pembuluh darah untuk
membentuk pembekuan darah. Trombin waktu membandingkan tingkat pasien
pembentukan gumpalan dengan sampel dari normal plasma dikumpulkan. Trombin yang
ditambahkan pada sampel plasma. Jika plasma tidak segera membeku, itu berarti
kekurangan (fibrinogen kuantitatif) atau cacat kualitatif (fibrinogen disfungsional).
Reptilase memiliki tindakan yang mirip dengan trombin tetapi tidak seperti trombin tidak

dihambat oleh heparin. Trombin waktu dapat diperpanjang oleh: heparin, produk
degradasi fibrin, antikoagulan lupus.
Dalam bidang tes koagulasi, Clotting time adalah salah satu yang paling prosedural
sederhana. Setelah membebaskan plasma dari seluruh darah dengan sentrifugasi, Trombin
yang ditambahkan pada sampel plasma. bekuan ini terbentuk dan terdeteksi optikal atau
mekanis dengan alat koagulasi. Waktu antara penambahan trombin dan pembentukan
gumpalan dicatat sebagai Clotting time.
Dalam pemeriksaan masa pembekuan darah, terdapat dua metode yang dapat
digunakan, antara lain:
a) Metode Tabung ( Cara Lee White )

Diambil darah vena dan dimasukkan kedalam tabung kemudian dibiarkan membeku.
Selang waktu dari saat pengambilan darah sampai saat darah membeku dicatat sebagai
masa pembekuan.
b) Metode Kapiler
Sampel darah kapiler pasien diambil sebanyak dua tetes dan diteteskan pada objek
glass. Diamati adanya benang fibrin pada darah kapiler pasien dengan mengangkat darah
dengan jarum setiap 30 detik lalu dicatat masa pembekuan darah pasien.
c) Cara dengan Tabung Kapiler (Menurut Duke)
Sampel darah kapiler pasien diambil dan pada saat darah keluar, darah dimasukkan ke
dalam tabung kapiler. Tiap 30 detik, tabung kapiler dipatahkan pada daerah goresan yang
telah dibuat. Masa pembekuan adalah saat terlihatnya benang fibrin terhitung mulai dari
stopwatch dijalankan.
V. ALAT DAN BAHAN
A. Alat
1. Lancet steril
2. Stopwatch
3. Autoclick holder
4. Tabung reaksi
5. Rak tabung reaksi
6. Spuite 3 cc
7. Tourniquet
8. Plester
B. Bahan
1. Kapas alcohol 70%
2. Kertas saring
3. Tissue
4. Sampel darah
IV. CARA KERJA
a. Bleeding Time dengan Metode Duke
1. Alat dan bahan disiapkan

2. Cuping daun telinga didesinfeksi dengan kapas alkohol 70 % dan ditunggu


hingga kering.
3. Cuping daun telinga sedikit ditekan dan bagian pinggir bawahnya ditusuk
dengan lancet steril sedalam 2 mm.
4. Stopwatch dihidupkan saat darah mulai keluar dan tekanan pada cuping daun
telinga dilepaskan.
5. Kemudian, darah yang keluar atau menetes dihisap dengan kertas saring setiap
30 detik.
6. Stopwatch dihentikan saat darah berhenti mengalir.
7. Waktu perdarahan (bleeding time) dicatat.
b. Clotting Time dengan Metode Lee and White
1. Alat dan bahan disiapkan.
2. 3 buah tabung reaksi disiapkan.
3. Pengambilan datah dilakukan pada pasien dengan spuite 3 cc. Pada saat darah
terlihat masuk pada jarum, stopwatch lalu dijalankan. Darah diambil sebanyak
3 cc.
4. Jarum pada spuite dilepaskan dan dialirkan perlahan-lahan 1 ml darah kedalam
tiap tabung.
5. Darah dibiarkan 4 menit dalam tabung terhitung saat pengambilan darah
(stopwatch tetap dijalakan dari awal darah masuk dalam jarum).
6. Tiap 30 detik, tabung pertama diangkat dari rak dan dimiringkan 45 untuk
melihat apakah sudah terjadi pembekuan. Dalam tindakan itu, jagalah jangan
sampai tabung lain tergoyang-goyang.
7. Setelah darah dalam tabung pertama itu beku, tabung kedua juga diperiksa tiap
30 detik juga terhadap adanya pembekuan. Waktu dicatat.
8. Tindakan yang sama dilakukan pada tabung ketiga dan waktunya dicatat.
9. Masa pembekuan darah adalah masa pembekuan rata-rata dari ketiga tabung.
VI. NILAI RUJUKAN
Bleeding time : 1-3 menit
Clotting time : 6-15 menit

VII. HASIL PENGAMATAN

VIII. PEMBAHASAN.
Hemostasis terdiri dari enam komponen utama, yaitu: trombosit, endotel vaskuler,
procoagulant plasma protein faktors, natural anticoagulant proteins, protein fibrinolitik
dan protein antifibrinolitik. Semua komponen ini harus tersedia dalam jumlah cukup,
dengan fungsi yang baik serta tempat yang tepat untuk dapat menjalankan faal hemostasis

dengan baik. Interaksi komponen ini dapat memacu terjadinya thrombosis disebut sebagai
sifat prothrombotik dan dapat juga menghambat proses thrombosis yang berlebihan,
disebut sebagai sifat antithrombotik. Faal hemostasis dapat berjalan normal jika terdapat
keseimbangan antara faktor prothrombotik dan faktor antithrombotik.
Proses pembekuan darah atau penggumpalan darah merupakan proses yang
kompleks untuk mencegah tubuh kehilangan banyak darah ketika terjadi luka. Proses
tersebut meliputi pengetatan pada dinding pembuluh darah yang terluka, pelepasan zat
untuk menarik kepin-keping darah ke daerah luka, dan pembentukan benang-benang
fibrin. Komponen darah yang terlibat dalam proses penggumpalan darah adalah kepingkeping darah dengan bantuan ion kalsium. Apabila luka terjadi pada pembuluh darah yang
tipis, pengetatan dinding-dinding pembuluh darah dapat mencegah pengeluaran darah.
Tetapi, jika terjadi kerusakan cukup besar pada pembuluh darah, keping-keping darah akan
berkumpul di sekitar luka dalam jumlah besar dan menempel pada pembuluh darah,
kemudian membentuk jala fibrin yang menahan keluarnya sel darah.

Jika luka yang terbentuk cukup besar,keping-keping darah akan mengirim zat kimia
yang bekerja sama dengan zat lainnya di dalam plasma darah untuk membentuk benangbenang fibrin. Jala atau benang fibrin yang terbentuk pada permukaan luka dapat menahan
keping-keping darah merah agar tidak menetes keluar. Luka yang besar dan tidak dapat
diperbaiki sendiri oleh tubuh perlu dijahit agar bagian yang terbuka menjadi lebih sempit.
Dengan demikian,fungsi benang-benang fibrin dan keping-keping darah menjadi lebih
efisien.
Dalam proses pembekuan darah, keping-keping darah (trombosit) yang menyentuh
permukaan luka yang kasar, akan pecah dan mengeluarkan trombokinase. Trombokinase
akan mengubah protrombin menjadi trombin. Protrombin merupakan enzim yang belum
aktif, berupa senyawa globulin yang dihasilkan di hati dengan pertolongan vitamin K,

sedangkan trombin merupakan enzim yang sudah aktif. Pengubahan protrombin menjadi
trombin sangat memerlukan zat kalsium untuk mempercepat proses tersebut. Trombin
mengubah fibrinogen (protein yang larut dalam plasma darah) menjadi librin yang
berbentuk benang-benang (Zakapedia.2014).

Masa perdarahan ( Bleeding Time )


Bleeding Time (BT) adalah uji laboratorium untuk menentukan lamanya tubuh
menghentikan perdarahan akibat trauma yang dibuat secara laboratoris. Pemeriksaan ini
mengukur hemostasis dan koagulasi. Masa perdarahan tergantung atas ketepatgunaan
cairan jaringan dalam memacu koagulasi, fungsi pembuluh darah kapiler dan trombosit.
Pemeriksaan ini mengenai jumlah dan kemampuan trombosit untuk melakukan adhesi
pada jaringan subendotel dan membentuk agregasi (pemeriksaannya dengan menusukkan
jarum ke lobus telinga) menunjukkan fungsi dari kapiler dan trombosit (Hajar, 2010).
Pada pemeriksaan ini, kapiler diinsisi kecil menggunakan pisau lancet dan dilakukan
secara aseptik sampai luka tersumbat oleh agregasi trombosit. Seiring dengan
penumpukan trombosit, pendarahan melambat dan jumlah darah yang merembes
berkurang. Titik akhir tercapai apabila tidak ada lagi darah yang tersisa untuk
menghasilkan titik pada kertas saring. Apabila terjadi penumpukan darah di tempat insisi,
akan terjadi koagulasi dan fibrin di atasnya akan menghambat pendarahan selanjutnya.
Oleh karena itu darah harus dibersihkan tetapi harus berhati-hati agar tidak mengganggu
sumbat trombosit yang rapuh. Darah yang merembes dibersihkan setiap 30 detik dengan
menyentuhkan kertas saring ke tetes darah tanpa menyentuh luka yang dibuat. Selama
pengujian dilakukan pemberian tekanan konstan sebesar 40 mmHg.
Insisi harus dibuat pada permukaan kulit yang relatif mudah diakses, relatif tidak
sensitif terhadap nyeri, bebas dari penyakit kulit dan jauh dari vena. Masa pendarahan

diukur sejak darah merembes dari luka kecil pada permukaan kulit hingga tidak ada lagi
darah tersisa untuk menghasilkan titik dikertas saring.
Pemeriksaan ini terutama mengenai trombosit, yaitu jumlah dan kemampuan untuk
adhesi pada jaringan subendotel dan membentuk agregasi. Bila jumlah trombosit
<100.000/mmk, maka masa pendarahan akan memanjang. Masa pendarahan yang
memanjang lebih dari 15 menit tanpa ada penurunan hitung trombosit mengisyaratkan
gangguan kualitas trombosit dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut (misalnya uji
agregasi trombosit atau pemeriksaan faktor non-Willebrand). Defisiensi kongenital
trombosit dan defek koagulasi herediter tidak memperlama waktu pendarahan, tetapi
gangguan fibrinogen didapat akan memperlama waktu pendarahan. Pada sebagian pasien
terlalu memanjang dibandingkan dengan perkiraan apabila semua trombosit didalam
darah mereka adalah trombosit muda karena trombosit muda memiliki kemampuan
hemostatik yang lebih baik. Keadaan sukuestrasi yang berkaitan dengan peningkatan
destruksi, misalnya pada purpura trombositopenik imun.
Pemeriksaan masa pendarahan ini tidak boleh dilakukan jika penderita sedang
mengkonsumsi antikoagulan atau anti nyeri aspirin karena dapat menyebabkan masa
pendarahan memanjang, maka pengobatan harus ditangguhkan dulu selama 3-7 hari. Jika
memungkinankan, pasien harus diberitahu agar tidak mengkonsumsi aspirin atau obat
penghilang nyeri tanpa resep selama 5 hari sebelum pemeriksaan dijadwalkan.
Hasil
memendek seperti
pada
penyakit
Hodgkin.
Sedangkan

hasil

memanjang ditemukan pada Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP), abnormalitas


trombosit, abnormalitas vascular, leukemia, penyakit hati serius, disseminated
intravascular coagulation (dic), anemia aplastik, defisiensi faktor koagulasi (V, VII, XI),
penyakit Chritsmas. Pengaruh obat : salisilat (aspirin), dekstran, mitramisin, warfarin
(Coumadin), streptokinase (streptodornasi, agen fibrinolitik). (Riswanto, 2010).
Pada praktikum kali ini, pemeriksaan BT (bleeng time) ini dilakukan dengan
metode duke. Langkah awal praktikum kali ini yaitu pilih cuping telinga yang akan
digunakan ditusuk, usahakan pasien tidak menggunakan aksesoris anting-anting dicuping
telingannya karena akan mengganggu dalam melakukan palpasi. Setelah melakukan
palpasi, desinfektan cuping telinga dengan alkohol swab atau kapas alkohol 70 % dan
ditunggu hingga kering, kemudian cuping telinga agak sedikit ditekan dan lakukan
penusukan dibagian bawah telinga dengan lancet steril sedalam 2 cm, karena pada
bagian tersebut tidak terdapat tulang rawan dan memudahkan kita dalam menghisap
darah. Usahakan penusukan dilakukan sedalam 2 cm, agar darah menetes dengan baik,
lakukan penusukan sampai semua jarum lancet berada dalam cuping telinga karena

panjang dari jarum lancet tersebut adalah 2 cm. Stopwatch mulai dihidupkan saat darah
mulai keluar dan tekanan pada cuping telinga harus dilepaskan. Darah yang menetes atau
keluar dihisap dengan kertas saring setiap 30 detik. Stopwatch dihentikan saat darah
berhenti mengalir, Catat waktu pendarahannya. Cara dari mencatat waktu pendarah itu
adalah hitung setiap titik darah yang terbentuk, setiap titik darah dianggap 30 detik
kemudian jumlah menit yang didapatkan + 30 detik lagi. Karena 30 detiknya sudah mulai
dihitung dari awal penusukan dilakukan.
Hasil dari pemeriksaan waktu pendarahan pada praktikum kali ini, yaitu pada
probandus atas nama Luh Putu Devi Kartika umur 20 thn didapatkan hasil BT selama 1
menit, Dari data yang didapatkan probandus memiliki waktu BT yang normal, nilai
rujukan dari BT adalah 1-3 menit.
Bleeding Time (BT) adalah tes hemostasis (penghentian perdarahan) yang
menunjukkan seberapa baik trombosit berinteraksi dengan dinding pembuluh darah untuk
membentuk bekuan darah. Ini adalah kemampuan darah untuk membeku setelah luka atau
trauma. Biasanya, trombosit berinteraksi dengan dinding pembuluh darah menyebabkan
gumpalan darah. Uji waktu perdarahan atau bleeding time biasanya digunakan pada
pasien yang memiliki riwayat perdarahan berkepanjangan setelah terluka, atau yang
memiliki riwayat keturunan gangguan perdarahan. Selain itu, uji waktu perdarahan
dilakukan sebagai tes pra operasi untuk menentukan respon perdarahan yang mungkin
terjadi selama dan setelah operasi (Ress, 2013).
Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium antara lain :
1. Metode yang digunakan, teknik yang tidak tepat, terjadi luka yang mungkin lebih
dalam daripada yang seharusnya, tetesan darah ditekan paksa pada permukaan kertas
dan tidak menunggu tetesan darah benar-benar terisap dengan sendirinya pada kertas
penghisap, hal ini dapat merusak partikel fibrin sehingga memperlama perdarahan.
2. Sebelum pemeriksaan dilakukan, pasien sebaiknya ditanya terlebih dahulu mengenai
obat yang sedang mereka konsumsi. Beberapa obat akan mempengaruhi hasil tes
waktu perdarahan. Obat-obat ini termasuk antikoagulan, diuretik, obat anti kanker,
sulfonamide, thiazide, aspirin, dan obat anti inflamasi. Penggunaan aspirin dan obatobat

sejenisnya

adalah

penyebab

paling

umum

dari

waktu

perdarahan

berkepanjangan, maka penggunaannya harus dihentikan dua minggu sebelum


pemeriksaan (Riswanto, 2010).
b. Masa Pembekuan (Clotting Time)

Clotting time adalah waktu yg dibutuhkan bagi darah untuk membekukan dirinya
secara in vitro dengan menggunakan suatu standart yg dinamakan Clotting Time. Clot
adalah suatu lapisan seperti liln/jelly yg ada di darah yg menyebabkan berhentinya suatu
pendarahan pada luka yang dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik.
Pemeriksaan masa pembekuan (Cloting Time) merupakan pemeriksaan untuk
menentukan lamanya waktu yang dibutuhkan darah untuk membeku. Hasilnya menjadi
parameter pemeriksaan faktor-faktor koagulasi, terutama faktor-faktor yang membentuk
tromboplastin dan faktor-faktor yang berasal dari trombosit, juga kadar fibrinogen.
Clotting time memanjang bila terdapat defisiensi faktor pembekuan pada jalur intrinsik
dan jalur bersama, misalnya pada hemofilia (defisiensi F VIIc dan F Ixc), terapi
antikoagulan sistemik (Heparin). Perpanjangan masa pembekuan juga terjadi pada
penderita penyakit hati, kekurangan faktor pembekuan darah, leukemia, gagal jantung
kongestif.
Defisiensi faktor pembekuan dari ringan sampai sedang belum dapat dideteksi dengan
metode ini, baru dapat mendeteksi defisiensi faktor pembekuan yang berat.
Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk memonitor penggunaan antikoagulan oral
(obat-obatan anti pembekuan darah). Jika masa pembekuan >2,5 kali nilai normal, maka
potensial terjadi perdarahan. Penurunan masa pembekuan terjadi pada penyakit infark
miokard (serangan jantung), emboli pulmonal (penyakit paru-paru), penggunaan pil KB,
vitamin K, digitalis (obat jantung), diuretik (obat yang berfungsi mengeluarkan air, misal
jika ada pembengkakan).
Prinsip pemeriksaan clotting time adalah waktu pembekuan diukur sejak darah keluar
dari pembuluh sampai terjadi suatu bekuan dalm kondisi yg spesifik. Sampel yang
digunakan dalam pemeriksaan ini adalah sampel darah segar.
Pada Praktikum kali ini dilakukan pemeriksaan pembekuan darah (Clotting Time)
dengan metode Lee and White modifikasi. Langkah pertama dari pemeriksaan ini adalah
siapkan 3 tabung kaca yang bersih dan diharapkan tabung masih baru agar tidak terdapat
kontaminasi dari sisa penggunaan sebelumnya akibat dari penggunaan darah dengan
antikoagulan. Jangan juga menggunakan tabung yang basah karena bisa membuat darah
menjadi lisis. Pada metode ini dapat digunakan 1-4 tabung, namun pada praktikum kali ini
dilakukan dengan 3 tabung saja. Lakukan pengambilan darah dengan spuit 3 cc. Pada saat
darah terlihat masuk pada jarum, stopwatch dihidupkan lalu dijalankan. Jarum dari spuit
dilepaskan dan dialirkan perlahan-lahan 1 ml darah pada setiap tabung. Darah dibiarkan 4
menit dalam tabung terhitung dari saat pengambilan darah (stopwatch tetep dijalakan dari
awal darah masuk kedalam jarum. Tiap 30 detik, tabung pertama diangkat dari rak dan

dimiringkan 450 tapi jangan sampai tabung lain tergoyang-goyangkan untuk melihat
apakah sudah terjadi pembekuan selain itu juga dapat mempercepat terjadi pembekuan
karena darah beraksi dengan dinding dari kaca tabung. Setelah darah dalam tabung
pertama itu beku lakukan pencatatan waktunya, tabung kedua juga diperiksa tiap 30 detik
juga terhadap adanya pembekuan dan catat waktunya. Kemudian lakukan juga pada
tabung ketiga dan waktunya dicatat juga, setelah itu rata-rata setiap waktu dari ketiga
tabung tersebut. Jika terdapat koma pada hasil hitungan maka hasil dibulatkan, koma
diatas 15 dibulatkan menjadi naik, sedangkan koma dibawah 15 menjadi turun.
Hasil pemeriksaan CT, pada praktikum kali ini yaitu, pada probandus atas nama Luh
Putu Devi Kartika, didapatkan hasil CT sebesar 13 menit. Hasil CT pada probandus ini
dalam keadaan normal. Nilai rujukan pemeriksaan CT adalah 6-15 menit.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pemeriksaan hemostasis :
1. Antikoagulan
Untuk pemeriksaan koagulasi antikoagulan yang dipakai adalah natrium sitrat
0,109 M dengan perbandingan 9 bagian darah dan 1 bagian natrium sitrat.Untuk
hitung trombosit antikoagulan yang dipakai adalah Na2EDTA.Jika dipakai darah
kapiler, maka tetes darah pertama harus dibuang.
2. Penampung
Untuk mencegah terjadinya aktivasi factor pembekuan, dianjurkan memakai
penampung dari plastic atau gelas yang telah dilapisi silicon.
3. Semprit dan Jarum
Dianjurkan memakai semprit plastic dan jarum yang cukup besar. Paling kecil
nomor 20.
4. Cara pengambilan darah
Pada waktu pengambilan darah, harus dihindari masuknya tromboplastin
jaringan. Yang dianjurkan adalah pengambilan darah dengan memakai 2 semprit.
Setelah darah dihisap dengan semprit pertama, tanpa mencabut jarum, semprit
pertama dilepas lalu pasang semprit kedua. Darah semprit pertama tidak dipakai
untuk

pemeriksaan

koagulasi,

tromboplastin jaringan.
5. Kontrol

sebab dikhawatirkan

sudah

tercemar

oleh

Setiap kali mengerjakan pemeriksaan koagulasi, sebaiknya diperiksa juga satu


kontrol normal dan satu kontrol abnormal. Selain tersedia secara komersial, kontrol
normal juga dapat dibuat sendiri dengan mencampurkan plasma yang berasal dari 10
sampai 20 orang sehat, yang terdiri atas pria dan wanita yang tidak memakai
kontrasepsi hormonal. Plasma yang dipakai sebagai kontrol tidak boleh ikterik,
lipemik, maupun hemolisis.
6. Penyimpangan dan pegiriman bahan
Pemeriksaan koagulasi sebaiknya segara dikerjakan, karena beberapa faktor
pembekuan bersifat labil. Bila tidak dapat diselesaikan dalam waktu 4 jam setelah
pengambilan darah, plasma disimpan dalam tempat plastik tertutup dan dalam
keadaan beku. Untuk pemeriksaan APTT dan assay faktor VIII atau IX, bahan yang
dikirim adalah plasma citrat dalam tempat plastik bertutup dan diberi pendingin,
tetapi untuk PT dan agregasi trombosit jangan diberi pendingin karena suhu dingin
dapat mengaktifkan F VII tetapi menghambat agregasi trombosit.
IX. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pemeriksaan BT/CT pada probandus atas nama Luh Putu Devi
Kartika didapatkan hasil BT 1 menit dan CT 13 menit, dari hasil tersebut hasil
pemeriksaan BT/CT dalam batas normal. Nilai rujukan BT yaitu 1-3 menit dan CT 6-15
menit.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2010.Bleeding

Time.[online].tersedia:http://analisqmateri.blogspot.com/2010/10/

bleeding-time-masa-perdarahan.html.[diakses: Kamis, 22 September 2016, 09.55


WITA].
Anonim.2011.Clotting Time.[online].tersedia: http://adiyarea. blogspot.com/2011/11/clottingtime.html.[diakses: Kamis, 22 September 2016, 08.12 WITA].
Bakta, I Made,Prof.,Dr. 2007. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta : EGC.
Gandasoebrata. 2010. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta: Dian Rakyat
Hajar. 2010. Bleeding Time. Dikses dari : http://hajardaku.wordpress.com/2010/05/10/tugasneurologi/. Diakses pada : Kamis, 22 September 2016, 10.05]
Ress,Alzy.2013.Bleeding
Time.[online].tersedia:http://alzyress.
wordpress.com/2013/04/16/bleeding-time/.[diakses: Kamis, 22 September 2016,
08.05 WITA]
Riswanto.2010.Bleeding

Time.

[online].tersedia:http://labkesehatan.

blogspot.com/2010/01/waktu-perdarahan.html. [diakses: Kamis, 22 September 2016,


11.23 WITA]
Zakapedia.2014.Proses Pembekuan Darah.[online].tersedia: http://www.artikelsiana.com/20
14/10/proses-pembekuan-darah-tahap-tahap.html. [diakses: Kamis, 22 September
2016, 09.12]

Denpasar, 26 September 2016


Praktikan

Putu Rina Widhiasih


P07134014002

Lembar Pengesahan

Mengetahui,
Pembimbing I

Pembimbing II

dr. Sianny Herawati, Sp.PK

Rini Riowati, B.Sc

Pembimbing III

Pembimbing IV

I Ketut Adi Santika, A.Md.AK

Luh Putu Rinawati, S.Si

Pembimbing V

I Kadek Aryadi Hartawiguna, A.Md.AK