Anda di halaman 1dari 7

TUGAS II

MANAJEMEN KONSTRUKSI (SI 3151)

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

Nama :Singgih Asri Wibowo


NIM

:15012136

TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
September 2016

AMDAL
A. PENGERTIAN
AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) adalah instrumen pengelola lingkungan
yang terdiri dari Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL), Analisis Dampak
Lingkungan (ANDAL), Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan
Lingkungan (RPL). (menlh.go.id).
AMDAL juga dapat diartikan kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha
dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. (PP no 27 tahun 1999).

B. TUJUAN
Tujuan dari adanya AMDAL dalam pengendalian pembangunan ini adalah untuk :
1. Mengurangi atau meniadakan akibat atas perubahan lingkungan, khusunya akibat yang
mendasar, meluas, dan berjangka panjang
2. Mengidentifikasi pemecahan masalah yang optimum
3. Mencegah atau mengatasi konflik kepentingan
4. Melibatkan publi dan menjamin keterbukaan proses pengambilan keputusan
C. FUNGSI
Fungsi dari AMDAL adalah dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan
kelayakan lingkungan, yang didalamnya mencakup perijinan, bagian studi kelayakan, dan
perencanaan pengembangan wilayah.

D. REGULASI

Regulasi AMDAL mencakup kewajiban AMDAL, kegiatan wajim AMDAL kegiatan tidak
wajib AMDAL.
Kewajiban AMDAL di Indonesia diatur dalam PP no.27 tahun 1999.

Bab 1 Ketentuan Umum


Bab 2 Komisi Penilai Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
Bab 3 Tata Laksana
Bab 4 Pembinaan
Bab 5 Pengawasan
Bab 6 Keterbukaan Informasi dan Peran Masyarakat
Bab 7 Pembiayaan
Bab 8 Ketentuan Peralihan
Bab 9 Ketentuan Penutup

Kegiatan Wajib AMDAL diatur dalam KepMenLH no.17 tahun 2001, yang didalamnya terdapat
lampiran yang memuat.
1. Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan.
2. Skala / besaran yang diwajibkan menyertai AMDAL
3. Alasan ilmiah khusus mengapa kegiatan tersebut wajib disertai dengan AMDAL
Mencakup bidang :
a. pertahanan keamanan
b. pertanian
c. perikanan
d. kehutanan
e. kesehatan
f. perhubungan
g. teknologi satelit

h. perindustrian
I. prasarana wilayah
j. energi dan sumber daya mineral
k. pariwisata
l. pengembangan nuklir
m. pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun
n. rekayasa genetika

Kegiatan tidak wajib AMDAL termuat dalam KepMenLH no.86 tahun 2002 :
Melaksanakan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan
(UPL)

E. TAHAPAN STUDI AMDAL

1. Penyusunan kerangka acuan


2. Uraian rencana kegiatan
3. Rona lingkungan awal
4. Prediksi dampak
5. Assessment dan mitigasi dampak
Kerangka acuan merupakan dasar dalam pelaksanaan studi AMDAL yang dibuat
berdasarkan studi kelayakan suatu aktivitas dan harus mendapatkan persetujuan dari tim teknis
AMDAL tingkat II (propinsi / pusat).
Rona lingkungan awal adalah tinjauan lapangan sebelum memulai kegiatan, sumberbya
dapat melalui data primer (contoh :melaui wawancara, pengukuran secara langsung , observasi) dan
juga bisa menggunakan data sekunder (contoh :melalui hasil dari instansi terkait)
Dampak penting berdasarkan komponen kegiatan dan komponen lingkungan yang terkena
dampak dibagi menjadi 3, yaitu : tahap prakonstruksi, konstruksi dan tahap pasca konstruksi.
Sedangkan ukuran mengenai besarnya dampak dapat dilihat dari :
1. jumlah manusia yang terkena dampak
2. luas sebaran
3. intensitas dan lamanya dampak
4. banyaknya komponen lingkungan yang terkena dampak
5. sifat kumulatif dampak
Assesment dampak adalah membandingkan antara rona awal, prediksi dampak dengan baku
mutu yang berlaku, sedangkan mitigasi dampak adalah upaya yang harus dilakukan untuk
mengelola dampak yang ditimbulkan.

F. KONDISI PENYELENGGARAAN AMDAL


1. Pandangan dan Komitmen Pemrakarsa
a. AMDAL dipandang sebagai cost center.
b. Belum ada insentif bagi penyelengara yang melaksanakan AMDAL.

2. Komitmen Aparatur Pemerintah


a. AMDAL dipandang sebagai instrumen perijinan dibanding sebagai instrumen
pengendalian dampak lingkungan.
b. Dokumen AMDAL disyaratkan mencantumkan serinci mungkin upaya pengelolaan dan
pemantauan lingkungan.
c. AMDAL belum diposisikan sebagai kelengkapan informasi bagi studi kelayakan.
3. Pandangan Pengkaji AMDAL
a. AMDAL mensyaratkan data/informasi rencana kegiatan yang lengkap dan rinci.
b. Rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan ditujukan bagi seluruh dampak penting
dan tidak berorientasi pada langkah reduce cost.
c. Rencana pengelolaan dan pemantauan lingkingan cenderung tidak dapat diubah.
4.Kebijakan, Peraturan Perundangan, dan Penegakanya.
a. Penegakan hukum lemah.
b. ketidakjelasan konsep dampak penting menurunkan akuntabilitas kajian AMDAL
c. Peraturan yang ada belum mengakomodasikan perubahan RKL dan RPLsesuai kondisi
internal dan eksternal yang mempengaruhi implementai RPL dan RKL

G. EVALUASI PENYELENGGARAAN AMDAL


a. Belum efisien
b. Tidak cost effective.
c. proses birokrasi yang panjang.

d. Metodologi AMDAL bersifat kaku.


e. AMDAL tidak terintegrasi dalam studi kelayakan teknis dan ekonomis
f. Mitigasi cenderung berorientasi kepada end of pipe approach.
g. Bersifat statis dan tidak dapat diakomodasikan kompleksitas dan dinamika.
h. Tidak terkait dengan sistem pengelolaan lingkungan lainya.
I. Pengawasan penyelenggaraan AMDAL lemah.
j. Peran serta masyarakat rendah.

Sumber:
http://hukum.unsrat.ac.id/lh/meneglh_17_2001.pdf

http://kuliah.ftsl.itb.ac.id/wp-content/uploads/2009/05/amdal-compatibility-mode.pdf
http://prokum.esdm.go.id/pp/1999/PP%2027%20Tahun%201999.pdf
http://www.menlh.go.id/amdal/