Anda di halaman 1dari 3

Stres Meningkatkan Kualitas Hidup

Apa itu kualitas hidup? Apakah kebahagiaan, kesehatan, kebugaran, atau


kesenangan? Mungkin itu mengacu pada tidak adanya penyakit, waktu luang,
kebebasan dari penindasan, atau keselamatan dari bahaya. Menurut WHO,
kualitas hidup didefenisikan sebagai persepsi individu sebagai laki-laki atau
wanita dalam hidup, ditinjau dari konteks budaya dan sistem nilai dimana mereka
tinggal, dan berhubungan dengan standar hidup, harapan, kesenangan, dan
perhatian mereka. Hal ini merupakan konsep tingkatan, terangkum secara
kompleks mencakup kesehatan fisik, status psikologis, tingkat kebebasan,
hubungan social dan hubungan kepada karakteristik lingkungan mereka. 1
Kualitas hidup yang baik tercipta jika seseorang memiliki tubuh yang
sehat didukung dengan kesehatan mental terkait dengan kondisi jiwa dan perilaku
yang sehat. Apabila kesehatan mental telah terjaga, maka secara otomatis kualitas
hidup pun akan menjadi baik. Hal tersebut disebabkan, antara kesehatan mental
dan kualitas hidup merupan bagian yang tidak bisa dipisahkan. Untuk
meningkatkan quality of life, Prof. Soetardjo menganjurkan bahwa manusia harus
mampu berinteraksi berdasarkan 3 alam, diantaraya alam benda yaitu
memanfaatkan alam benda atas dasar saling memelihara. Alam sosial, yaitu
membangun hubungan intersubjektif dengan manusia lain atas dasar saling
menyayangi , serta mampu membangun intraksi noogenik (budaya, gagasan, dan
nilai). Alam yang terakhir ialah transenden, yaitu meyakini segala kebaikan Tuhan
yang ada.2
Untuk mengukur kualitas hidup manusia dapat dipergunakan berbagai
pendekatan seperti Human Development Index/HDI (Indeks Pembangunan
Manusia), Physical Quality Life Index (Indeks Mutu Hidup); Basic Needs
(Kebutuhan Dasar); dan GNP/Kapita (Pendapatan Perkapita). Indikator utama dari
HDI adalah dari aspek kesehatan dan kependudukan, pendidikan, dan ekonomi.3
Banyak orang berpikir bahwa kualitas hidup seseorang ditentukan dengan
seseorang itu memiliki banyak uang agar hidupnya mendapatkan kebahagiaan dan
kesenangan sehingga ia memaksakan diri untuk bekerja lebih dari kemampuan

tubuhnya sendiri yang pada akhirnya mengakibatkan kelelahan, stres dan tidak
bahagia.
Stres adalah respon fisiologik (badani), psikologik, dan perilaku seorang
individu dalam menghadapi penyesuaian diri terhadap tekanan yang bersifat
internal ataupun eksternal. Stress merupakan suatu keadaan fisik, psikis, mental,
dan kejiwaan menjadi tegang karena berbagai tekanan hidup. Seseorang menjadi
stres karena adanya stessor. Stessor merupakan suatu peristiwa, situasi individu
atau objek yang dapat menimbulkan stres dan reaksi terhadap stres.4 Ketika
seseorang sedang stres akan terlihat tidak bergairah, muka pucat, gelisah, susah
diajak berkmunikasi dan lain-lain. Stres membutuhkan penanganan atau
manajemen emosi yang tepat agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Manajemen stress adalah sebuah kemampuan pada diri manusia dalam
penggunaan sumber daya secara efektif untuk mengatasi ganggaun atau
kekacauan mental dan emosional yang muncul karena tanggapan.
Untuk mengatasi stres diperlukan sebuah koping (penanggulangan).
Dalam koping diperlukan sifat internal, yaitu kreativitas, kesabaran, optimisme,
intuisi, rasa humor, hasrat, dan kasih sayang dan sifat eksternal meliputi waktu,
uang, dan dukungan sosial.5
Strategi koping atau penanggulan yang berhasil mengatasi sters harus
memiliki empat komponen pokok yaitu peningkatan kesadaran terhadap masalah,
pengolahan informasi yang meliputi pengumpulan informasi dan pengkajian
semua sumber daya yang ada untuk memecahkan masalah, pengubahan perilaku
yang dapat menghilangkan stessor, dan resolusi damai yaitu suatu perasaan bahwa
situasi telah berhasil diatasi.
Manajemen stres ini sangat baik untuk menghindari kemungkinan stres
dan penyakit penyebab stres, terutama yang diakibatkan oleh pekerjaan.
Manajemen stress selain dapat menekan tingkat stres juga pasti akan
meningkatkan kekuatan mental, emosi, dan jiwa dalam menghadapi permasalahan
sehingga kualitas hidupnya akan meningkat.

Referensi
1

World Health.Organization(English).Measuring Quality Of Life.1997.

Wiramihardja,Soetardjo.Kualitas Hidup Seseorang Terlihat dari Interaksi


dengan

Kehidupan

di

Sekitarnya.2013.tersedia

online

di

https://unpad.ac.id/3013/ (diakses pada 25 September 2016;16.57 WIB).


3

Widiyanto.Strategi peningkatan Kualitas Hidup Manusia di Indonesia.


2006.tersedia online di https://si.uns.ac.id/ (diakses pada 25 September
2016; 17.03 WIB)

Cahyono,Suharjo.

Gaya

Hidup

dan

Penyakit

Modern.1st.ed.

Yogyakarta:Kanisius;2008.156p.
5

Widyastuti,Palupi. Manajemen Stres.1st.Eng. ed. Yulianti,Devi. Jakarta:Buku


Kedokteran EGC;1999.27p.