Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

KU2071 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

ZONA EKONOMI EKSKLUSIF DAN SENGKETA


PERBATASAN LAUT TERRITORIAL INDONESIA DAN
NEGARA TETANGGA

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas


Mata Kuliah Umum Pancasila dan Kewarganegaraan
Dosen Pembimbing: Ronny Hendrawan

Disusun oleh:
FIZRI ADIYESA ( 13314050 )

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG


2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. Dalam
makalah ini saya menjelaskan mengenai Zona Ekonomi Eksklusif dan Sengketa Perbatasan
Laut Territotial Indonesia dan Negara Tetangga. Makalah ini saya buat dalam rangka
menunaikan tugas mata kuliah umum KU2071 Pancasila dan Kewarganegaraan . Saya
menyadari, dalam makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan. Hal ini disebabkan
terbatasnya kemampuan, pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki. Oleh karena itu,
saya mengharapkan kritik dan saran. Demi perbaikan dan kesempurnaan. Semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Bandung, 25 April 2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara kepulauan .Indonesia memiliki laut yang luas yaitu
lebih kurang 5,6 juta km 2 dengan garis pantai sepanjang 81.000 km, dengan berbagai potensi
sumberdaya, terutama perikanan laut yang cukup besar. Sayangnya, wilayah perairan laut di
Indonesia masih kurang penjagaannya sehingga dapat menimbulkan masalah batas wilayah
dengan negara tetangganya.
Untuk landas kontinen, Indonesia berhak atas segala kekayaan alam yang terdapat di
laut sampai dengan kedalaman 200 meter dengan batas laut teritorial sejauh 12 mil dari garis
dasar lurus dan perbatasan zona ekonomi ekslusif (ZEE) sejauh 200 mil dari garis dasar laut.
Semakin hari, aktifitas pelayaran di wilayah perairan Indonesia semakin berkembang,
khususnya di wilayah perairan laut. Dan diantaranya adalah kapal barang dan penangkap ikan
yang tidak menutup kemungkinan terjadinya kecelakaan laut. Selain itu Indonesia masih
banyak mengalami sengketa perbatasan dengan Negara tetangga. Untuk itu diperlukan
peraturan mengenai hukum laut Indonesia khususnya di wilayah laut yang sering
menimbulkan konflik yang berkepanjangan dengan negara tetangga.
Kurang seriusnya pemerintah dalam meyelesaikan perdebatan mengenai perbatasan
territorial laut telah banyak menyebabkan lepasnya beberapa wilayah laut dari pangkuan
Indonesia dan hilangnya kekayaan alam yang terkandung didalamnya terutama potensi
perikanan yang banyak dicuri nelayan asing. Oleh karena itu diperlukan pemahaman
mengenai territorial laut sehingga pengelolaan dan pengawasan territorialnya dapat bejalan
optimal.
Laut

territorial atau perairan

teritorial (Territorial

sea)

adalah wilayah

kedaulatan suatu negara pantai selain wilayah daratan dan perairan pedalamannya; sedangkan
bagi suatu negara kepulauan seperti Indonesia, Jepang, dan Filipina, laut teritorial meliputi
pula suatu jalur laut yang berbatasan dengannya perairan kepulauannya dinamakan perairan
internal termasuk dalam laut teritorial pengertian kedaulatan ini meliputi ruang udara di atas
laut teritorial serta dasar laut dan tanah di bawahnya dan, kedaulatan atas laut teritorial

dilaksanakan dengan menurut ketentuan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang


Hukum Laut (United Nations Convention on the Law of the Sea), lebar sabuk perairan pesisir
ini dapat diperpanjang paling banyak dua belas mil laut (22,224 km) dari garis dasar
(baseline-sea).
Zona Ekonomi Eksklusif didefinisikan sebagai suatu wilayah laut diluar laut teritorial,
dimana negara-negara pantai memiliki kedaulatan atas semua sumber daya alam didalamnya.
Zona ini berada pada 200 mil dari garis pangkal laut teritorial. Sekiranya lebar laut teritorial
12 mil, maka sebenarnya lebar zona ekonomi eksklusif adalah 200 mil - 12 mil = 188 mil..

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana sejarah perkembangan ZEE di indonesia ?
2. Bagaimana penentuan batas luar dan lebarnya ZEE ?
3. Apa saja sengketa perbatasan territorial laut yang pernah dialami Indonesia?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Perkembangan ZEE di Indonesia
Pada tanggal 28 September 1945 Presiden Amerika Seriakt Harry S. Truman telah
mengeluarkan suatu proklamasi No. 2667, Policy of the United States with respect to the
Natural Resources of the Subsoil and Seabed of the Continental Shelf. Dengan proklamasi
Presiden Truman ini maka dimulailah suatu perkembangan dalam hukum Laut yakni
pengertian geologi continental shelf atau daratan kontinen. Tindakan Presiden Amerika
serikat ini bertujuan mencadangkan kekayaan alam pada dasar laut dan tanah dibawahnya
yang berbatasan dengan pantai Amerika Serikat untuk kepentingan rakyat dan bangsa
Amerika Serikat, terutama kekayaan mineral khususnya minyak dan gas bumi.
Tindakan sepihak

yang dilakukan Amerika Serikat itu berpengaruh terhadap

perkembangan rezim hukum ZEE 200 mil tersebut. Buktinya ialah negara-negara Amerika
Latin yang mengemukakan beberapa argumentasi yang bertujuan untuk melindungi sumber-

sumber kekayaan alam yang banyak terdapat diperairan sejauh 200 mil, termasuk dasar laut
dan tanah di bawahnya. Argentina mengajukan teori Epi Continental Sea, kemudian
Ekuador, Chili dan Peru mengemukakan teori Bloma, kemudian diikuti oleh negara-negara
di Amerika Latin lainnya.
Sebagai tindak lanjut dari tuntutan negara-negara Amerika Latin maka pada tahun
1952 lahirlah suatu deklarasi baru yakni Deklarasi Santiago yang ditandatangani oleh
Negara Chili, Ekuador dan Peru. Motivasi utama tuntutan ketiga Negara ini adalah
pelaksanaan jurisdiksi ekslusif terhadap sumber-sumber kekayaan alam (daya hayati maupun
non hayati) yang terdapat diperairannya yang sejauh 200 mil laut. Sumber-sumber mana
sangat bermanfaat bagi pelaksanaan pembangunan di negara-negara peserta deklarasi
tersebut.
Selanjutnya Winston C.E. mengemukakan bahwa dalam lingkaran sejauh 200 mil itu
hak-hak lintas damai (innocent passage) tidak terganggu (inoffensive) dan tetap diakui
sebagaimana mestinya. Sehubungan dengan klaim beberapa negara mengenai ZEE 200 mil
laut ini, PBB telah menyelenggarakan Konferensi Hukum Laut (UNCLOS) 1 tahun 1958
UNCLOS II tahun 1960 di Jenewa, terutama bertujuan untuk menetapkan lebar laut wilayah,
namun usaha PBB tersebut ternyata gagal. Kegagalan ini mengakibatkan meluasnya praktek
Negara-negara dalam mengklaim kedaulatan mereka di laut yang berbatasan dengan
pantainya. Termasuk klaim yurisdiksi 200 mil. Klaim-klaim ini berkembang (meluas) sekitar
tahun 1960-1970, terutama yang mengklaim jurisdiksi 200 mil dan tidak terbatas hanay pada
Nnegara-negara Amerika Latin saja, melainkan juga meluas sampai pada negara-negara asia
Afrika.
Menurut Winston C.E., walaupun Negara-negara seperti Benin, Brazilia, Ekuador,
Guinea, panama, Peru, Siera Leone dan Somalia tetap mengklaim jurisdiksi 200 mil laut
sebagai laut wilayah, negara-negara seperti: Argentina, Bangladesh, Chili, Costa Rica, El
Salvador, Guatemala, Honduras, India, Iceland, Meksiko, Nicaragua, Uruguay dan Amerika
serikat mengajukan klaim mereka yang sejalan dan selaras dengan tuntunan yang telah
diajukan oleh Negara-negara peserta deklarasi Santiago tahun 1952 (Chili, Ekuador, Peru).
Ternyata diantara negara-negara yang mengklaim yurisdiksi laut 200 mil tersebut
mempunyai pendapat-pendapat yang berbeda tentang apa yang telah dideklarasikan

sebelumnya. Hal ini terbukti dengan terjadinya perdebatan sengit diantara negara-negara
peserta UNCLOS III, masing-masing negara dengan gigih mempertahankan kepentingannya
yang menjadi latar belakang klaimnya itu. Perdebatan dimaksud merupakan bagian laut
bebas, ataukah memiliki rezim hukum spesifik.
Sedangkan Negara-negara pantai dengan gigih tetap mempertahankan pendapatnya
bahwa konsep ZEE merupakan suara konsepsi suigeneris yang memiliki rezim khusus
mengenai hak-hak dan kewajiban-kewajiban negaranya. Dengan demikian negara-negara
yang tergabung dalam kelompok 77 dengan tetap menentang dipertahankannya status laut
bebas bagi ZEE, walaupun mengakui beberapa kebebasan dilaut lepas dengan ketentuan
bahwa hak-hak tersebut harus diperinci secara jelas dan tegas.
Kemudian setelah mengalami amandemen-amandemen dalam

Informal Single

Negotiating Text (INST) dan Revised Singel Negotiating Text (RSNT), ketentuan-ketentuan
mengenai ZEE 200 mil dimuat dalam pasal 55-75 Bab V Informal Composite Negotiating
Text. (ICNT). Menlu RI

Mochtar Kusumaatmadja, dalam penjelasannya mengenai

Pengumuman Pemerintah tentang ZEE Indonesia pada tanggal 21 Maret 1980, tealh
menegaskan bahwa walaupun ketentuan-ketentuan tentang ZEE dalam bab V ICNT ini belum
berhasil diresmikan menjadi suatu konvensi Hukum Laut Internasional, dengan makin
banyaknya negara-negara yang mengumumkan ZEE 200 mil, maka rezim itu melalui proses
pembentukan hukum kebiasaan internasional, dewasa ini telah menjadi Hukum Laut
Internasional yang abru, Konvensi Hukum laut III ini telah ditandatangani di Montego Bay,
Jamaika tanggal 10 Desember 1982.
2.2 Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)
Zona ekonomi ekslusif adalah pengaturan baru yang ditetapkan oleh konvensi hukum
laut 1982. Sebelum perang dunia ke II dikenal beberapa perjanjian internasional yang
mengatur batas-batas perairan antara negara seperti perjanjian perbatasan Norwegia-swedia
tahun 1909 dan perjanjian perbatasan Inggris-Venezuela 1942 tentang perbatasan di teluk
paria antara Trinidad dan Amerika Selatan.
Kemudian proklamasi Presiden Truman tanggal 28 September 1945 membuka
lembaran baru bagi negara-negara untuk melakukan klaim atas laut territorial , landas
kontinen, zona keamanan dan zona perikanan. Diantara negara-negara tersebut tercatat

negara-negara Latin Amerika yang mengadakan klaim 200 mil laut territorial, yaitu negaranegara Peru, Equador, Chili, Panama dan Brazil. Negara-negara lain ingin mengadakan zona
ekonomi eksklusif atau zona sumber-sumber kekayaan alam seluas 200 mil, dimana pada
zona tersebut negara-negara pantai mempunyai hak kedaulatan atas sumber-sumber yang
dapat diperbaharui dari dasar laut dan perairan di atasnya.
Di samping itu terdapat pula negara-negara yang menginginkan tepian kontinennya
memanjang diluar 200 mil. Dalam kelompok ini termasuk India, Norwegia, Argentina,
Australia, Canada, Brazil dan New Zealand. Disini terlihat keinginan negara-negara pantai
untuk secara unilateral mengadakan berbagai macam klaim melalui perundang-undangan
nasional atas laut teritorial dan zona maritim lainnya semakin bertambah banyak. Sebelum
tahun 1970 sebanyak 34 negara-negara pantai mengadakan klaim 3 mil laut teritorial dan 47
lainnya melakukan klaim seluas 12 mil. Menjelang Juni 1974 sebanyak 54 negara
mengadakan klaim 12 mil, dan 9 negara melakukan klaim atas 200 mil laut teritorial. Hal-hal
tersebut diatas menunjukkan bahwa perubahan-perubahan di bidang politik, ekonomi, dan
teknologi dari negara-negara pantai dan maritim perwujudannya tidak mungkin lagi
ditampung oleh landasan Konvensi-konvensi Jenewa 1958.
Perkembangan zona ekonomi eksklusif (exclusive economic zone) mencerminkan
kebiasaan internasional (international customs) yang diterima menjadi hukum kebiasaan
internasional (customary international law) karena sudah terpenuhi dua syarat penting, yaitu
praktik negara-negara (state practice) dan opinio juris sive necessitatis. Zona ekonomi
eksklusif bagi negara berkembang seperti Indonesia adalah vital karena di dalamnya terdapat
kekayaan sumber daya alam hayati dan nonhayati, sehingga mempuyai peranan sangat
penting bagi pembangunan ekonomi bangsa dan Negara.
Zona ekonomi eksklusif adalah daerah di luar dan berdamping dengan laut territorial
yang tunduk pada rejim hukum khusus di mana terdapat hak-hak dan jurisdiksi Negara
pantai, hak dan kebebasan Negara lain yang diatur oleh konvensi sedangkan dalam undangundang No 5 Tahun 1983 Tentang Zona Ekonomi Eksklusif disebutkan bahwa

Zona

Ekonomi Eksklusif Indonesia adalah jalur di luar dan berbatasan dengan laut wilayah
Indonesia sebagaimana ditetapkan berdasarkan undangundang yang berlaku tentang perairan
Indonesia yang meliputi dasar laut,tanah di bawahnya dan air di atasnya dengan batas terluar
200 (dua ratus) mil laut diukur dari garis pangkal laut wilayah Indonesia.

Lebar zona ekonomi eksklusif bagi setiap Negara pantai adalah 200 mil
sebagaimana ditegaskan oleh Pasal 57 Konvensi yang berbunyi Zona Ekonomi Eksklusif
tidak boleh melebihi 200 mil laut dari garis pangkal darimana lebat laut territorial di ukur.
Indonesia merupakan negara pantai mempunyai hak-hak, jurisdiksi, dan kewajiban di zona
ekonomi eksklusif karena sudah terikat oleh Konvensi Hukum Laut 1985 dengan UU No.
17/1985. Hak-hak, jurisdiksi, dan kewajiban Indonesia pada Konvensi tersebut sudah
ditentukan oleh Pasal 56 yang berbunyi sebagai berikut :
Dalam zona ekonomi eksklusif, negara pantai mempunyai:

1.

a) Hak-hak berdaulat untuk keperluan eksplorasi dan eksploitasi, konservasi dan


pengelolaan sumber kekayayaan alam, baik hayati maupun non hayati, dari perairan di
atas dasar laut dan dari dasar laut dan tanah di bawahnya dan berkenaan dengan
kegiatan lain untuk keperluan eksplorasi ekonomi eksklusif zona tersebut, seperti
produksi energy dari air, arus dan angina
b) Yurisdiksi sebagaimana ditentukan dalam ketentuan yang relevan konvensi ini

berkenaan dengan :

pembuatan dan pemakaian pulau buatan, instalasi dan bangunan


riset ilmiah kelautan
perlindungan dan pelestarian lingkungan laut
hak dan kewajiban lain sebagaimana ditentukan dalam konvensi ini

2.

Didalam melaksanakan hak-hak dan memenuhi kewajiban berdasarkan konvensi ini


dalam zona ekonomi eksklusif, negara pantai harus memperhatikan sebagaimana
mestinya hak-hak dan kewajiban negara lain dan harus bertindak dengan suatu cara
sesuai dengan ketentuan konvensi ini.

3.

Hak-hak yang tercantum dalam pasal ini berkenaan dengan dasar laut dan tanah
dibawahnya harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan bab VI.
Di zona ekonomi eksklusif setiap Negara pantai seperti Indonesia ini mempunyai

hak berdaulat untuk tujuan eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan mengelola sumber daya
alam baik hayati maupun nonhayati di perairannya, dasar laut dan tanah di bawahnya serta
untuk keperluan ekonomi di zona tersebut seperti produksi energi dari air, arus, dan angin.

Hak dan kewajiban negara lain di zona ekonomi eksklusif diatur oleh Pasal 58
Konvensi Hukum Laut 1982, yaitu sebagai berikut:
1.

Di zona ekonomi eksklusif, semua negara, baik negara berpantai atau tak berpantai,
menikmati, dengan tunduk pada ketentuan yang relevan konvensi ini, kebebasankebebasan pelayaran dan penerbangan, serta kebebasan meletakkan kebel dan pipa
bawah laut yang disebutkan dalam pasal 87 dan penggunaan laut yang berkaitan
dengan pengoperasian kapal, pesawat udara, dan kebel serta pipa di bawah laut, dan
sejalan dengan ketentuan-ketentuan lain konvensi ini.

2.

Pasal 88 sampai pasal 115 dan ketentuan hukum internasional lain yang berlaku
diterapkan bagi zona ekonomi eksklusif sepanjang tidak bertentangan dengan bab ini.

3.

Dalam melaksanakan hak-hak memenuhi kewajiban berdasarkan konvensi ini dizona


ekonomi eksklusif, negara-negara harus memperhatikan sebagaimana mestinya hak-hak
dan kewajiban negara pantai dan harus mentaati peraturan perundang-undangan yang
ditetapkan oleh negara pantai sesuai dengan ketentuan konvensi ini dan peraturan
hukum internasional sepanjang ketentuan tersebut tidak bertentangan dengan ketentuan
bab ini.
Di zona ekonomi eksklusif Indonesia, semua negara punya hak kebebasan pelayaran

dan penerbangan, dan penggunaan sah lainnya menurut hukum internasional dan Konvensi
Hukum Laut 1982. Dalam melaksanakan hak-hak dan kebebasan tersebut, Negara lain harus
menghormati peraturan perundang-undangan Indonesia sebagai negara pantai yang
mempunyai zona ekonomi eksklusif tersebut

Lembaga penegak hukum di bidang penyidikan di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia


adalah Perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut yang ditunjuk oleh Panglima Angkatan
Bersenjata Republik Indonesia. Pengadilan yang berwenang mengadili pelanggaran terhadap
ketentuan undang-undang ini adalah pengadilan negeri yang daerah hukumnya meliputi
pelabuhan dimana dilakukan penahanan terhadap kapal dan/atau orang-orang.

Indonesia sudah mengadopsi ketentuan zona ekonomi eksklusif seperti pada Pasal
55-75 Konvensi Hukum Laut 1982. Namun Indonesia belum juga menentukan batas terluar
ZEE Indonesia dalam suatu peta dengan koordinat dari titik - titiknya dan belum melakukan
perjanjian dengan negara tetangga mengenai zona ekonomi eksklusif.
2.3 Batas luar dan lebarnya zona ekonomi eksklusif
Angka yang dikemukakan mengenai lebarnya zona ekonomi eksklusif adalah 200 mil
atau 370,4 km. Dapat dilihat bahwa batas ini dapat diterima oleh negara-negara berkembang
dan negara-negara maju. Semenjak dikemukakannya gagasan zona ekonomi, angka 200 mil
dari garis pangkal sudah menjadi pegangan.sekiranya lebar laut wilayah 12 mil sudah
diterima, seperti kenyataannya sekarang ini, sebenarnya lebar zona ekonomi eksklusif adalah
200-12 = 188 mil. Sebagaimana telah dikemukakan hak-hak negara pantai atas kedua laut
tersebut berbeda yaitu kedaulatan penuh atas laut wilayah(teritorial) dan hak-hak berdaulat
atas zona ekonomi untuk tujuan eksploitasi sumber kekayaan yang terdapat di daerah laut
tersebut.
Batas dalam ZEE adalah batas luar dari laut territorial. Zona batas luas tidak boleh
melebihi kelautan 200 mil dari garis dasar dimana luas pantai territorial telah ditentukan.
Kata-kata dalam ketentuan ini menyarankan bahwa 200 mil adalah batas maksimum dari
ZEE, sehingga jika ada suatu negara pantai yang menginginkan wilayahnya ZEE-nya kurang
dari itu, negara itu dapat mengajukannya. Di banyak daerah tentu saja negara-negara pantai
tidak akan memilih mengurangi wilayah ZEEnya kurang dari 200 mil, karena kehadiran
wilayah ZEE negara tetangga. Kemudian timbul pertanyaan mengapa luas 200 mil menjadi
pilihan maksimum untuk ZEE. Alasannya adalah berdasarkan sejarah dan politik : 200 mil
tidak memiliki geographis umum, ekologis dan biologis nyata. Pada awal UNCLOS zona
yang paling banyak di klaim oleh negara pantai adalah 200 mil, diklaim negara-negara
amerika latin dan Afrika. Lalu untuk mempermudah persetujuan penentuan batas luar ZEE
maka dipilihlah figur yang paling banyak mewakili klaim yang telah ada. Tetapi tetap
mengapa batas 200 mil dipilih sebagai batas luar jadi pertanyaan.
2.4 Macam-macam sengketa wilayah perairan Indonesia dengan negara tetangga
2.4.1. Batas Perairan Indonesia-Malaysia di Selat Malaka

Pada tahun 1969 Malaysia mengumumkan bahwa lebar wilayah perairannya menjadi
12 mil laut diukur dari garis dasar seseuai ketetapan dalam Konvensi Jenewa 1958. Namun
sebelumnya Indonesia telah lebih dulu menetapkan batas-batas wilayahnya sejauh 12 mil laut
dari garis dasar termasuk Selat Malaka. Hal ini menyebabkan perseteruan antara dua negara
mengenai batas laut wilayah mereka di Selat Malaka yang kurang dari 24 mil laut.
Pada tahun 1970 tepatnya bulan Februari-Maret dilaksanakan perundingan mengenai
hal tersebut, sehingga menghasilkan perjanjian tentang batas-batas Wilayah Perairan kedua
negara di Selat Malaka. Penentuan titik kordinat ditetapkan berdasarkan garis pangkal
masing-masing negara. Dengan diberlakukannya Konvensi Hukum Laut Internasional 1982,
maka penentuan titik dasar dan garis pangkal dari tiap-tiap negara perlu diratifikasi
berdasarkan aturan badan internasional yang baru. Namun belum ditetapkannya batas ZEE
(Zona Ekonomi Eksklusif) menyebabkan seringnya tangkap-menangkap nelayan di wilayah
perbatasan. Berdasarkan ketentuan UNCLOS-82, sebagai coastal state, Malaysia tidak
diperbolehkan menggunakan Pulau Jara dan Pulau Perak sebagai base line yang31dua pulau
tersebut lebih dari 100 mil laut.
2.4.2. Batas Perairan Indonesia-Singapura di Pulau Karimun Besar dan Pulau Bintan
Di sebelah utara Pulau Karimun Besar dan Pulau Bintan merupakan wilayah
perbatasan tiga negara, yakni Indonesia, Singapura dan Malaysia. Kedua wilayah ini belum
mempunyai perjanjian batas laut. Permasalahan muncul setelah Singapura dengan gencar
melakukan reklamasi pantai di wilayahnya. Sehingga terjadi perubahan garis pantai ke arah
laut (ke arah perairan Indonesia) yang cukup besar. Bahkan dengan reklamasi, Singapura
telah menggabungkan beberapa pulaunya menjadi daratan yang luas.
Negosiasi antara kedua belah pihak yang dilakukan sejak tahun 2005 akhirnya
berbuah kesepakatan bahwa Batas laut yang ditentukan adalah Pulau Nipa dan Pulau Tuas,
sepanjang 12,1 kilometer. Kesepakatan ini mulai berlaku tertanggal 30 Agustus 2010.
2.4.3. Batas Daratan Indonesia-Singapura mengenai Penambangan Pasir Pulau Nipa
Sengketa mengenai penambangan pasir laut di perairan sekitar Kepulaun Riau yang
dilakukan oleh Singapura harus ditangani serius oleh pemerintah Indonesia. Penambangan
pasir tersebut mengakibatkan kerusakan parah pada ekosistem pesisir pantai sehingga banyak
para nelayan kita yang kehilangan mata pencaharian. Lebih parahnya penambangan pasir laut

yang dilakukan itu mengancam keberadaan sejumlah pulau kecil di Indonesia karena telah
ada kasus tenggelamnya pulau Nipah. Jika hal ini dibiarkan saja maka diatakutkan terjadi
perubahan batas laut dengan Singapura karena perubahan geografis di Indonesia.
Kementrian Pertahanan Mengkampanyekan Untuk Mereklamasi Pulau Nipa karena
pada tahun 2004 sampai 2008 penduduk menjual pasir pantai Pulau Nipa kepada Singapura.
Langkah KemHan ini menghabiskan dana lebih dari 300 Milyar Rupiah.

BAB III
KESIMPULAN
Zona Ekonomi Eksklusif didefinisikan sebagai suatu wilayah laut diluar laut teritorial,
dimana negara-negara pantai memiliki kedaulatan atas semua sumber daya alam didalamnya.
Zona ini berada pada 200 mil dari garis pangkal laut teritorial. DAN lebar laut teritorial 12
mil, maka sebenarnya lebar zona ekonomi eksklusif adalah 188 mil..
Zona ekonomi ekslusif adalah pengaturan baru yang ditetapkan oleh konvensi hukum
laut 1982. Sebelum perang dunia ke II dikenal beberapa perjanjian internasional yang
mengatur batas-batas perairan antara negara seperti perjanjian perbatasan Norwegia-swedia
tahun 1909 dan perjanjian perbatasan Inggris-Venezuela 1942 tentang perbatasan di teluk
paria antara Trinidad dan Amerika Selatan.

Daftar Pustaka

http://www.smansax1-edu.com/2014/10/5-permasalahan-yang-melibatkan.html