Anda di halaman 1dari 18

LABORATORIUM TEKNIK KIMIA 1

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2014 / 2015

MODUL

: ABSORPSI

PEMBIMBING

: Shoerya Shoelarta , MT

Tanggal Praktikum : 7 Januari 2016


Tanggal Penyerahan : 22 Januari 2016
(Laporan)
Oleh

Kelompok :

VI

Nama

1. Ingga Yudha Prawira

NIM.141411042

2. Irinda Fitri

NIM.141411043

3. Nadia Pratiwi

NIM.141411049

Kelas

2B-Teknik Kimia

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan
a. Mengetahui operasi absoprsi dengan kolom isian.
b. Dengan menganggap jumlah tahap single, menghitung harga fraksi gas CO2
yang keluar dari kolom dengan cara Neraca Massa & kesetimbangan.
c. Menghitung jumlah tahap kesetimbangan dalam kolom (N).
BAB II
DASAR TEORI
Absorpsi gas oleh cairan merupakan proses perpindahan massa antar fasa, dimana
komponen dalam campuran gas diserap oleh cairan. Campuran gas umumnya terdiri dari
komponen yang dapat diserap dan gas sukar diserap/ bereaksi (inert), sedangkan cairannya
bersifa tidak melarut dalam fasa gas. Dalam perpindahan massa antar fasa, terdapat batas
antara kedua fasa tersebut, dimana komponen yang terserap melalui fasanya sendiri
kemudian melewati batas antar fasa dan masuk kefasa yang lain. Hal ini terjadi bila
terdapat cukup kekuatan gerak (driving force) dari suatu fasa yang lain atau dinamakan
koefisien perpindahan massa (mass transfer coefficient). Laju perpindahan massa juga
tergantung antara lain luas permukaan kontak antar fasa.
Absorpsi adalah operasi penyerapan komponen-komponen yang terdapat di dalam
gas dengan menggunakan cairan, sehingga tingkat absorpsi gas akan sebanding dengan
daya kelarutan gas tersebut dalam cairan. Kebalikan dari proses absorpsi adalah desorpsi,
yaitu pelepasan molekul gas dari zat cair yang melarutkannya.
Adapun tujuan dari proses absorpsi adalah :
pertama untuk mendapatkan senyawa yang bernilai tinggi dari campuran gas atau
uap;
kedua, untuk mengeluarkan senyawa yang tidak diinginkan dari produk;
ketiga, pembentukan persenyawaan kimia dari absorben dengan salah satu senyawa
dalam campuran gas.
Bila gas dikontakkan dengan zat cair, maka sejumlah molekul gas akan meresap
dalam zat cair dan juga terjadi sebaliknya, sejumlah molekul gas meninggalkan zat cair
yang melarutkannya. Pada awal waktu, yang terjadi kecepatan pelarutan gas dalam zat cair
lebih besar bila dibandingkan dengan proses pelepasan gas dari cairan pelarutnya, dengan
bertambahnya waktu, kecepatan dari pelepasan gas juga bertambah hingga pada suatu

ketika terjadi kecepatan pelarutan dan pelepasan sama besar. Keadaan ini disebut keadaan
setimbang, tekanan yang diukur pada keadaan ini juga disebut tekanan setimbang pada
temperatur tertentu.
Daya larut gas dalam cairan bergantung dari suhu dan tekanannya, semakin tinggi
suhunya semakin rendah daya larut gas dalam cairan, sedangkan semakin tinggi tekanan,
gas akan larut lebih banyak dalam cairan.
Operasi absorpsi gas dalam cairan biasanya dilakukan dalam suatu kolom silinder
berunggun (cylindrical packed column). Unggun yang dimaksud merupakan sekumpulan
benda padat dengan bentuk dan bahan tertentu (plastik/ keramik) yang disusun sedemikian
rupa untuk menghasilkanluas permukaan kontak antar fasa gas liquid yang sebesar
besarnya. Dalam kolom absorbpsi, penyerapan komponen gas oleh cairan mengalir
melewati packed bed, biasanya arah aliran fluida diatur sedemikian rupa, dimana cairan
mengalir dari atas dan gas mengalir dari bawah (counter current). Gas dan cairan yang
masuk dan keluar dapat dianalisa untuk mengetahui jumlah gas yang diserap.
Dalam skala laboratorium, peralatan kolom absorpsi gas biasanya sudah dilengkapi
dengan peralatan analisa sampel gas maupun analisa cairan (titrasi). Perangkat peralatan
analisa gas berisi larutan NaOH yang reaksinya dengan CO2.
CO2

2 NaOH

Na2CO3

H2O

Jumlah CO2 yang terserap sebanding dengan pertambahan volume larutan dalam
peralatan analisa tersebut.
Dalam industri, proses ini banyak digunakan antara lain dalam proses pengambilan
amonia yang ada dalam gas kota yang berasal dari pembakaran batubara dengan
menggunakan air. Atau penghilangan gas H2S yang dikandung dalam gas alam dengan
menggunakan larutan alkali.
Teori Dua Tahanan
Pada umumnya, campuran gas yang masuk kedalam kolom absorbsi terdiri atas
komponen yang dapat diserap dan gas inert (sukar diserap), sedangkan cairan yang
digunakan bersifat tidak melarut dalam fasa gas. Perpindahan massa solut dari gas menuju
cairan terjadi dalam tiga langkah perpindahan, transfer massa dari badan utama gas
kesuatu fasa antar muka, transfer muka melalui bidang antar muka kefasa kedua dan
transfer massa dari antar muka kebadan utama cairan.

Dari gambar 2.1 dapat dilihat bahwa pada kondisi awal, konsentrasi A dalam badan
utama gas adalah yAG fraksi mol. Ketika mulai terjadi kontak dengan cairan, konsentasi A
di daerah interfase menurun hingga yAi pada interfase menjadi yAI dalam badan utama
cairan. Dan sebagai syarat terjadinya perpindahan perpindahan massa. Konsentrasi awal
yAG dan yAI tidak berada dalam keadaan setimbang.

Gambar 2.1 Teori lapisan dua film


Perpindahan massa solut A dari gas ke cairan akan terjadi bila terdapat cukup
kekuatan gerak (driving force) dari satu fasa ke fasa lainnya yang dikenal dengan nama
koefisien perpindahan massa (mass transfer coefficient). Laju perpindahan massa ini juga
bergantung pada luas permukaan kontak antar fasa.
Menurut Whitman dan Lewis, pada saat terjadi perpindahan massa antar fasa
tahanan terhadap perpindahan tersebut hanya ada pada bahan utama masing masing fasa.
Sedangkan pada daerah antarmuka yang membatasi kedua fasa tidak terdapat tahanan
sama sekali sehingga konsentrasi yAi dan XAi merupakan harga kesetimbangan yang
diperoleh dari data kurva kesetimbangan dari sistem dua fasa tersebut.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Absorpsi
Ada beberapa hal yang mempengaruhi absorpsi gas ke dalam cairan, yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

temperatur operasi
tekanan operasi
konsentrasi komponen di dalam cairan
konsentrasi komponen di dalam aliran gas
luas bidang kontak
lama waktu kontak

Untuk itu dalam operasi absorpsi harus dipilih kondisi yang tepat sehingga dapat
diperoleh hasil optimum. Karakteristik suatu cairan dalam menyerap komponen didalam
aliran gas ditunjukkan oleh harga koefisien perpindahan massa antara gas-cairan, yaitu
banyaknya mol gas yang berpindah per satuan waktu per satuan luas serta tiap fraksi mol
[(grmol)/(detik)(cm2)(fraksi mol)]A.
Untuk menentukan harga koefisien perpindahan massa suatu zat absorpsi dapat
digunakan perhitungan berdasarkan neraca massa. Persamaan untuk kolom absorpsi isian
Y0

H=

adalah :

Y1

d . G .Y
K og .aA . ( Y 1Y 0 )

Y- ialah fraksi mol gas yang berada dalam kesetimbangan dengan cairan disetiap
titik dalam kolom, Y adalah fraksi mol ruah bulk, A adalah luas penampang kolom, H
adalah tinggi isian dan a adalah luas spesifik isisan/satuan volum isian.
Untuk gas encer terkecuali aliran gas inert, persamaan diatas dapat disederhanakan :
Y0

H . aA . K og
dY
=
G
Y ( Y 1Y 0 )
1

Ruas kanan dari persamaan diatas sulit diintegrasi. Perhitungan Kog dapat
disederhanakan (tetapi kurang teliti) dengan menggunakan definisi Kog :
N=K og aAH log ( gaya pernggerak ratarata )
P1
P0
N
K og=

aA . H ( P1 P 0 )
log

sehingga,
dimana N
A

: kecepatan absoprsi (mol/s)


: luas perpindahan massa (m2)

Laju penyerapan CO2 dapat dihitung dengan rumus : Y 1=

: tekanan (atm)

( Y 1Y 0 ) ( F 2+ F 3 )
( 1Y 0 )

F2
Y
=
1
Percobaan analisa karbon yang larut dalam air :
( F2 + F 3 )

Jika M adalah konsentrasi penitraan, Vs adalah volume sampel yang digunakan


untuk titrasi, maka penentuan jumlah CO2 bebas pada suatu tangki dengan Vt volume
penitraan, CCO =
2

MVt
Vs

Jenis Menara Absorpsi


MenaraAbsorpsi yang digunakanadalahMenara Absorpsi dengan Benda Isi
(Packing Column).Menara jenis ini terdiri dari kolom dengan pengisian khusus, yang
digunanya untuk memperbesar permukaan kontak dengan jala penyebaran zat cair dan
penyebaran gas. Pada zaman dahulu bahan isian yang sering digunakan adalah kokas,
pecahan batu, dsb, sedangkan sekarang sering digunakan dari bahan tanah liat, porselen
polimer, kaca, logam, dll.
Zat cair disemprotkan dari atas dan mengalir ke bawah sepanjang bahan isian,
sedangkan gas yang akan dibersihkan dimasukkan dari dasar kolom dan menyapu
sepanjang kolom isian dengan aliran berlawanan arah. Isian biasanya digunakan
berbentuk teratur/seragam. Bahan isian biasanya dipasang menggantung diatas dasar
kolom untuk memperoleh pembagian gas yang sempurna dan menjaga supaya bagian
pengisisan yang paling bawah tidak berada di bawah zat cair absorpsi. Pada kolom yang
tinggi, bagian isian dipasang dalam paket-paket dengan memberikan jarak antar paket
agar aliran zat cair dan gas dapat terbagi kembali. Dengan cara seperti ini kerugian
adanya aliran yang menempel dinding efek dinding dalam kolom biasanya dipasang
suatu alat penahan ricikan, yaitu alat untuk mencegah tetesan air terseret oleh aliran gas.

Gambar 3.3 Menara absorpsi packing


KolomAbsorpsi
Adalah suatu kolom atau tabung tempat terjadinya proses pengabsorpsi
(penyerapan/penggumpalan) dari zat yang dilewatkan di kolom/tabung tersebut. Proses
ini dilakukan dengan melewatkan zat yang terkontaminasi oleh komponen lain dan zat
tersebut dilewatkan kekolom ini dimana terdapat fase cair dari komponen tersebut.

Strukturdalam absorber

Gambar 1.1 kolom absorpsi


Struktur Absorber

Bagian atas:
Spray untuk megubah gas input menjadi fasecair.

Gambar 1.2 kolom absorpsi skala pilot plant


Bagiantengah:
Packed tower untuk memperluas permukaan sentuh
sehingga mudah untuk diabsorbsi
Bagianbawah:
Input gas sebagai tempat masuknya gas kedalam reaktor.

Keterangan :
(a) input gas

(b) gas keluaran

(c) pelarut

(d) hasil absorbsi

(e) disperser

(f) packed column

Absorben adalah cairan yang dapat melarutkan bahan yang akan diabsorpsi pada
permukaannya, baik secara fisik maupun secara reaksi kimia.Absorben sering juga
disebut sebagai cairan pencuci.
Persyaratan absorben :
1. Memiliki daya melarutkan bahan yang akan diabsorpsi sebesar mungkin
(kebutuhan akan cairan lebih sedikit, volume alat lebih kecil).
2. Selektif
3. Memiliki tekanan uap yang rendah
4. Tidak korosif.
5. Mempunyai viskositas yang rendah
6. Stabil secara termis.
7. Murah
Jenis-jenis bahan yang dapat digunakan sebagai absorben adalah air (untuk gasgas yang dapat larut, atau untuk pemisahan partikel debu dan tetesan cairan), natrium
hidroksida (untuk gas-gas yang dapat bereaksi seperti asam) dan asam sulfat (untuk gasgas yang dapat bereaksi seperti basa).

Di industry absorpsi mempunyai fungsi untuk meningkatkan nilai guna dari suatu
zat dengan cara merubah fasanya. Contohnya adalah Formalin yang berfase cair berasal
dari formaldehid yang berfase gas dapat dihasilkan melalui proses absorpsi.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Alat & Bahan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Alat :
Alat absorpsi 1 unit
Stopwatch (1)
Botol Semprot (1)
Pipet Ukur 10 mL (2)
Gelas Kimia 500 mL (1)
Pipet Tetes (2)
Buret 50 mL (2)

Bahan :
Aquadest
Gas CO2
Larutan NaOH
Phenolptalein
Larutan HCl 0,05 N

Peralatan terdiri dari satu set unit peralatan utama absorpsi

3.2 Flowchart

Menyalakan
pompa
Mengatur laju alir
air dan udara

Didiamkan 10
menit
Mengatur laju alir
CO2
Didiamkan 2
menit
Mengambil sampel
(bak dan selang
keluaran)
Menutup kerangan
CO2
Didiamkan 10
menit
Mentitrasi sampel
dengan HCl 0,05 M

Mengulangi prosedur
diatas dengan
variasi laju alir yang
berbeda

BAB IV
DATA HASIL PENGAMATAN
Menentukan Laju Alir CO2 & Udara Masuk
Diketahui : Udara masuk + Laju alir CO2= 20 L/menit
Konsentrasi CO2 (0,6%)
0,6
L
L
Laju Alir CO2 = 100 x 20 menit =0,12 menit
Laju Alir Udara

L
= 20-0,12= 19,88 menit

Diketahui : Udara masuk + Laju alir CO2= 40 L/menit


Konsentrasi CO2 (0,6%)
0,6
L
L
Laju Alir CO2 = 100 x 40 menit =0,24 menit
Laju Alir Udara

I.

L
= 40-0,24= 39,76 menit

PENGOLAHAN DATA
6.1 Menghitung Konsentrasi CO2
Umpan

Konsentasi CO2=

Volume NaOH Konsentrasi NaOH


Volume sampel

Umpan 1
CCO 2=

M . Vt 0.01 x 0.1
4
=
=2 x 10 N
Vs
5

Umpan 2

CCO 2=

M . Vt 0.01 x 0.2
=
=4 x 104 N
Vs
5

Laju alir Udara 20 liter/menit


Laju Alir Air
(liter/menit)

Konsentrasi
Konsentrasi

Volume

NaOH
(M)

sampel
(mL)

Volume NaOH
(mL)
titrasi titrasi

3
0,01

CO2(Sampel)
(M)

1
0.1

2
0.1

0.000

0.000

0.05

0.1

2
0.000

2
0.000

Laju alir Udara 40 liter/menit


Laju Alir Air
(liter/menit)

Konsentrasi
Konsentrasi

Volume

NaOH
(M)

sampel
(mL)

Volume NaOH
(mL)
titrasi titrasi
1
0.1

3
0,01

0.1

CO2(Sampel)
(M)

2
0.2

0.000

0.1

2
0.000
2

LCO =Laju alir CO 2 Konsentrasi CO2 (sampel)


2

0.0004
0.0002

Laju alir udara (L/menit)

Laju alir CO2 (L/menit)

20

0.12

0.0002
0.0001

0.0002
0.0002

40

0.24

0.0002
0.0002

0.0004
0.0002

I.2. Menghitung

Fraksi

CO2

Dengan

Kesetimbangan Asumsi Single Stage


3
udara=1,22 kg /m
Diketahui :
CO2=1,8 kg/m

BM Udara=29 kg /kmol
BM H 2 O=18 kg/kmol
BM CO2=44 kg /kmol
x A =0
0

Laju alir mol udara masuk


mudara=udara V udara
laju alir mol udara masuk=

mudara
BM udara

Laju alir mol air masuk


mair =air V air
laju alir mol udara masuk=

mair
BM air

Laju alir mol CO2 masuk


mCO = CO V CO
2

laju alir mol udara masuk=

mCO
BM CO 2
2

Konsentrasi CO2
(mol/menit)
I
II

Menggunakan

Neraca

Massa

Dan

V 2=Laju alir mol udara masuk + Laju alir mol CO 2 masuk


yA =
2

Laju Alir Mol

Laju Alir Mol

Udara Masuk

Air Masuk

(V)
(mol/menit)
1,68

(L)
(mol/menit)
111,11
222,22
333,33
444,44
111,11
166,67
222,22
333,33

2,52

V CO masuk
V2
2

Laju Alir Mol


CO2 Masuk
(mol/menit)

V2
(mol/menit)

yA

1,69
1,69
1,69
1,69

3,93 x 10-3
3,93 x 10-3
3,93 x 10-3
3,93 x 10-3

6,65 X 10-3

0,0147

6.2.1. Perhitungan Berdasarkan Hukum Henry (Teoritis)


xA
yA
xA
yA
L'
+V '
=L'
+V '
1x A
1 y A
1x A
1 y A

) (

) (

) (

Dengan cara interpolasi, konstanta Henry untuk CO2 dalam air pada suhu 25C
sebesar (Data di Appendix A-3.18 Geankoplis 4th Edition)
y A =H . x A
y A =1640 x A
1

V'

L'

x A0

y A2

x A1

y A1

0.84

111.11
166.67
222.2
83.33

0.089
0.089
0.089
0.048
0.031
0.115
0.163
0.206

0,000054
0,000054
0,000054
0.000029
0.000018
0.000070
0.000099
0.000012

0,088
0,088
0,088
0,047
0,029
0,115
0,162
0,019

1.68
2.52
1.26

Setelah didapatkan sampel, maka sampel tersebut dititrasi menggunakan NaOH dengan
menggunakan indicator PP hingga warnanya berubah menjadi pink keunguan.
II.

PEMBAHASAN
Praktikum kali ini adalah Absorbsi, yang merupakan salah satu operasi pemisahan

dalam industri kimia dimana suatu campuran gas dikontakkan dengan suatu cairan penyerap
yang sesuai, sehingga satu atau lebih komponen dalam campuran gas larut dalam cairan
penyerap. Dalam praktikum ini, digunakan gas CO2 sebagai absorbat dan larutan NaOH 0,01
N sebagai absorben. Praktikum ini terdiri atas dua tahap yaitu mempelajari karekteristik fisik
dan mempelajari karekteristik kimia proses absorbsi.
Absorbsi yang dilakukan menggunakan larutan NaOH 0,01 N yang dialirkan kedalam
kolom dengan spray dan dengan kolom yang dilengkapi dengan packing. Ini bertujuan untuk
memperluas permukaan kontak antara NaOH dengan CO2. Sehingga didapatkan proses
absorbsi yang optimal. NaOH mengalir dari bagian atas kolom, sedangkan gas CO2 mengalir
dari bagian bawah kolom. Diketahui bahwa NaOH mempunyai berat jenis yang lebih besar
dari gas CO2. Sifat alami bahwa cairan akan mudah mengalir kebawah akibat gravitasi bumi.
Sedangkan gas yang akan bergerak ke atas seperti menguap. Aliran ini ditujukan agar kontak
dapat terjadi antara cairan dan gas.
Konsep percobaan ini yaitu mengenai perbedaan tekanan udara sepanjang kolom isian
basah dengan laju alir air. Kolom isian basah merupakan kolom yang dialiri air dan udara.
Prinsipnya kontak antara air dan udara yang terjadi dikolom di mana air dialirkan dari kolom
bagian atas, sedangkan gas dari kolom bagian bawah (counter current). Akan terjadi kontak
antara air dan udara didalam kolom yang dapat menimbulkan penurunan tekanan.
Alat yang digunakan dalam absorbsi gas adalah menara isian. Alat ini terdiri dari
sebuah kolom berbentuk silinder atau menara yang dilengkapi dengan pemasukan gas dan
ruang distribusi pada bagian bawah, pemasukan zat cair pada bagian atas dan pengeluaran
gas dan zat cair masing-masing diatas dan dibawah, serta suatu zat padat tak aktif (inert)
diatas penyangganya yang disebut packing. Adanya packing (bahan isian) didalam kolom
absorbsi

akan menyebabkan terjadinya hambatan terhadap aliran fluida yang melewati

kolom. Akibatnya gas atau cairan yang melewati akan mengalami pressure drop atau

penurunan tekanan. Jika bahan isian yang digunakan tidak beraturan maka penurunan
tekanan akan semakin besar.
Sumber CO2 yang digunakan adalah udara sehingga kandungan CO2 yang ada dalam
udara sangatlah kecil. Berdasarkan hasil literatur, semakin besar laju alir air dan udara yang
digunakan, maka konsentrasi CO2 yang didapatkan semakin kecil. Hal ini terjadi karena
karena laju alir udara yang semakin tinggi maka transfer massa udara ke air akan semakin
sedikit karena waktu tinggal ataupun waktu kontak akan semakin cepat sehingga komponen
yang terabsorpsi ke air semakin sedikit. Namun, dari data hasil praktikum yang diperoleh,
konsentrasi CO2 yang didapatkan tidak stabil bahkan hampir tidak ada. Hal ini karena
kandungan CO2 dalam udara sangat sedikit. Selain itu, laju udara dan laju air tidak bisa
dijaga konstan karena kendali alat yang tidak optimal.
Pada data hasil pengamatan, terlihat dari laju alir udara 3 l/menit ke laju alir 4 l/menit
mengalami peningkatan laju absorpsi CO2, seharusnya berbanding terbalik karena dimana
semakin tinggi laju alir udara maka transfer massa udara ke air akan semakin sedikit karena
waktu tinggal ataupun waktu kontak akan semakin cepat sehingga komponen yang
terabsorpsi ke air semakin sedikit. Pengambilan sample dilakukan 10 menit sekali, kemudian
dilakukan titrasi dengan NaOH 0,1 N. Dengan demikian pada percobaan penentuan laju
absorpsi CO2 dengan metode titrasi terdapat penyimpangan. Adapun faktor faktor penyebab
dari penyimpangan ini antara lain:
-

Pengambilan sampel dilakukan pada kondisi operasi yang belum tunak.


Pengambilan sampel keluar dan masuk tidak dilakukan secara bersamaan.
Kesalahan praktikan dalam penentuan larutan telah netral saat ditiritasi.
Kesalahan praktikan dalam membaca skala kolom titrasi.
Kesalahan praktikan dalam membuat larutan yakni dalam menentukan jumlah air

yang dibutuhkan untuk melarutkan NaOH.


- Penggunaan udara sebagai sumber CO2.
REAKSI :
CO2 +
H2O
H2CO3
H2CO3

NaOH

NaOH

+ CO2

Na2CO3 + H2O
Na2CO3 + H2O

BAB V
SIMPULAN
1. Semakin besar konsentrasi NaOH semakin besar CO2 yang terserap
2. Semakin lama waktu kontak antara cairan dan gas CO2 maka gas CO2 yang terserap
juga semakin besar.
3. Semakin besar konsentrasi NaOH semakin besar konstanta kecepatan reaksi antara
NaOH dengan CO2
DAFTAR PUSTAKA
Petunjuk praktikum. Satuan Operasi Teknik Kimia. PEDC. Bandung
Mc-Cabe. Terjemahan : E. Jasifi . Operasi Teknik Kimia. Jilid 2. Erlangga. 1990
http://www.scribd.com/doc/56617279/Absorbsi-baru
http://alexschemistry.blogspot.com/2013/03/laporan-operasi-teknik-kimia-absorbsi.html