Anda di halaman 1dari 3

Manajemen uang saku

Lantas, bagaimana cara tepat mengajarkan makna uang dan pengaturannya kepada anak-anak?
Sejatinya, banyak cara untuk mengenalkan makna uang pada anak-anak. Salah satu strategi yang
bisa Anda tempuh adalah melalui permainan monopoli. Cara ini menyenangkan karena
berbentuk permainan yang sifatnya edukatif. "Melalui permainan monopoli, anak belajar
mengenal nilai uang dan sistem jual beli," kata Risza.
Farah Dini Novita, Senior Financial Executor Zeus Consulting, menambahkan, anak-anak bisa
mulai dikenalkan dengan uang dan pengaturan keuangan dengan cara melibatkan mereka dalam
aktivitas-aktivitas keuangan. Misalnya, mengajak anak-anak ke bank membuka rekening khusus
anak yang banyak ditawarkan oleh bank. Bisa juga mengajak mereka berbelanja ke pasar modern
ataupun tradisional agar tahu proses transaksi yang Anda lakukan.
Cara lain yang bisa Anda coba adalah melalui penerapan uang saku. Cara ini adalah praktik
langsung yang bisa anak alami untuk masalah pengaturan keuangan. "Kelas 1 SD, anak sudah
bisa mulai diberikan uang saku," kata Farah.
Nah, bagaimana strategi manajemen uang saku yang tepat untuk anak agar mereka memahami
prinsip keuangan yang sehat? Berikut advis dari para perencana keuangan:
Frekuensi uang saku
Usia anak adalah pertimbangan utama dalam menentukan frekuensi uang saku. Farah
menyarankan, sebagai awal perkenalan, orangtua bisa memberikan uang saku harian. "Kelak jika
usianya bertambah, frekuensinya bisa kita perpanjang menjadi tiap tiga hari, seminggu sekali,
bahkan hingga sebulan sekali," jelas dia.
Menurut Farah, orangtua perlu menghindari membiasakan pemberian uang saku harian hingga
anak remaja. Mengapa? Pemberian uang saku secara harian secara terus-menerus akan
membentuk pola pikir anak bahwa uang hari ini boleh dihabiskan karena besok pasti akan diberi
lagi.
Idealnya, di usia SD uang saku Anda beri harian. Menginjak usia SMP, uang saku mulai bisa
Anda berikan seminggu sekali. Begitu SMA atau kuliah, frekuensi pemberian uang saku
memanjang menjadi sebulan sekali. "Makin bertambah usia anak, pos kebutuhan makin variatif
sehingga orangtua bisa berikan lebih banyak otoritas," kata Mike Rini, perencana keuangan
MRE Consulting.
Selain itu, frekuensi pemberian uang saku yang semakin panjang memberikan kesempatan pada
anak untuk belajar mengelola keuangannya sendiri.

Nilai uang saku


Kebutuhan uang saku setiap anak berbeda-beda, bahkan bagi anak yang berada pada usia yang
sama. Untuk menentukan berapa nilai tepat uang saku anak Anda, silakan menimbang beberapa
hal berikut.
Pertama, aktivitas anak. Uang saku, menurut Farah, pada prinsipnya diberikan untuk mengkaver
kebutuhan transportasi, jajan atau makan minum, lalu tabungan. Jika dalam rangka pergi dan
pulang sekolah, anak Anda sudah mendapat fasilitas antar jemput, membawa bekal makan siang
dari rumah atau jatah dari sekolah, besar uang saku bagi anak relatif terbatas, secukupnya untuk
jajan makanan kecil di kantin sekolah saja.
Oleh karena itu, Anda kudu mengetahui harga jajanan di kantin sekolah anak sebelum tahu besar
uang saku yang pantas. Jangan sampai kebanyakan sehingga si kecil kekenyangan jajanan.
Selain itu, kepadatan aktivitas anak bertambah seiring umurnya. Anak usia SD biasanya terbatas
kegiatannya di lingkungan sekolah dan rumah. Kegiatan Anak usia SMP ke atas jauh lebih padat
dengan kegiatan ekstrakurikuler, kursus, atau diskusi peer group. Dengan begitu, kebutuhan uang
sakunya juga lebih besar. "Jadi taruh kata adiknya cukup diberikan Rp 5.000 per hari, maka si
sulung bisa diberikan Rp 20.000 per hari sehingga setiap minggu Rp 100.000," imbuh Risza.
Kedua, durasi kegiatan anak. Semakin lama kegiatan anak di luar rumah, kebutuhan uang
sakunya akan semakin besar. Mengajak diskusi anak tentang kegiatan mereka akan memudahkan
Anda mengenali besar kebutuhan uang saku mereka. Oh, iya, jangan lupakan anggaran anak
untuk komunikasi. Uang pulsa perlu Anda berikan bagi anak yang sudah pegang ponsel sendiri.
Risza menilai, kendati menimbang kebutuhan anak, orangtua tetap harus berperan sebagai
pengatur uang anak. Memberi uang saku terlalu banyak membuka risiko kehilangan,
mengundang kejahatan, serta mendorong anak ceroboh dengan berlaku boros.
etelah terlatih mengatur penggunaan uang saku selama usia SD, orang tua bisa mulai
mengajarkan manajemen keuangan dan anggaran yang sesungguhnya ketika buah hati memasuki
pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). "Bisa dengan mengajak belajar membuat
anggaran sederhana," kata Farah Dini Novita, Senior Financial Executor Zeus Consulting.
Di usia SMP ke atas, anak sudah bisa diajak untuk mengatur keuangan. Ajak anak duduk
bersama menyusun anggaran. Berapa besar uang saku mereka, berapa nilai rencana pengeluaran,
lalu berapa yang perlu mereka sisihkan di awal sebagai tabungan.
Kenalkan dengan prinsip utama keuangan yang sehat, yaitu pengeluaran tidak boleh melebihi
pemasukan. Dalam kesempatan itu, menurut perencana keuangan, Anda bisa sekalian
mengajarkan tentang perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Pelajaran itu penting agar anak

tidak terjebak perilaku konsumtif.


"Yang lebih penting lagi adalah orangtua harus memberikan contoh pengaturan keuangan yang
baik," kata Farah. Akan susah mengajarkan prinsip manajemen keuangan yang sehat jika
orangtuanya sendiri tidak mampu mempraktikkannya.
Sisihkan untuk tabungan
Melalui pemberian uang saku, orangtua bisa mengajari anak untuk belajar menabung atau
berinvestasi sedari dini. Biasakan mengajak mereka menyisihkan tabungan di awal perencanaan
anggaran. Ajak anak ke bank untuk membuka rekening anak yang banyak ditawarkan oleh bank.
"Setiap bulan, hasil tabungan mereka kita setor ke bank dan mereka harus melihat prosesnya,"
kata Farah. Menyaksikan penambahan uang mereka dari waktu ke waktu bisa menyemangati
mereka untuk lebih giat menabung.
"Berikan insentif atau reward jika mereka berhasil menabung," imbuh Mike Rin, perencana
keuangan MRE Consulting. Misalnya, dengan memberikan tambahan uang tabungan.
Mike mengingatkan, orangtua perlu juga memberikan keleluasaan pada anak untuk
memanfaatkan hasil tabungannya. "Kalau hanya menabung tanpa boleh digunakan, anak jadi
tidak bersemangat," ujarnya. Arahkan pula agar aksi menabung itu mempunyai tujuan yang jelas
dan positif. Misalkan, untuk membeli barang idaman, atau untuk dana liburan bersama temanteman satu geng.
Ajari trik berhemat
Usia anak-anak juga bisa Anda manfaatkan untuk mengajari trik berhemat dalam mengelola uang
saku. Anak harus tahu konsekuensi jika anggaran habis, orangtua tidak memberikan tambahan
uang saku lagi.
Perencana keuangan dan Chairman One-Shildt Financial Planning Risza Bambang,
mencontohkan, agar pengeluaran pulsa telepon sesuai anggaran, anak bisa diarahkan untuk
memanfaatkan aplikasi chatting gratis di ponsel alih alih memakainya untuk bertelepon
ria. "Biasakan juga belanja cerdas dengan cermat membandingkan harga barang di pasar," imbuh
Farah.