Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH STUDI ISLAM IV

Sejarah Perkembangan Sains dan Teknologi dalam Islam

Disusun oleh :
Intan Dwi Isparulita

(11020004)

Elza Novita Putri

(11020009)

Oktaviana Ambar Wati (11020028)

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Ilahi Rabbi Allah SWT , atas Rahmat dan
Karunia-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat dan salam selalu tercurah
kepada Nabi akhir zaman Muhammad SAW.
Kedua kami ucapkan terimakasih kepada Dosen Pengampu Studi Islam IV Bapak Talqis
Nurdianto , Lc yang telah memberikan ilmu,bimbingan dan arahan kepada kami, sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Sejarah Perkembangan Sains dan
Teknologi dalam Islam .
Dengan selesainya makalah ini semoga dapat memberikan ilmu yang bermanfaat bagi
yang membaca pada umumnya dan bagi penulis khususnya. Serta dapat mengambil nilai-nilai
positif di dalamnya .
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna karena kami masih dalam
tahap pembelajaran , oleh karena itu penulis membutuhkan kritik dan saran dari rekan
pembaca maupun dari dosen mata kuliah ini agar dapat menjadi pembelajaran kami di lain
hari.

Yogyakarta, 12 September 2012


Penulis

I. PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Sains dan teknologi, dalam peradabannya sampai saat ini telah melewati beberapa
tahap dan berbagai kemajuan. Tak sedikit pula orang-orang yang memiliki peran penting
dalam sejarahnya. Dalam makalah ini akan dijelaskan beberapa hal tentang perkembangan
sains dan teknologi dalam islam.
Dalam masing-masing masanya, sains dan teknologi

dapat dilihat dengan jelas

perkembangan dan asal-usulnya. Kekurangan dan kelebihannya menjadikan perkembangan


sains sangat diperhatikan pada masa sekarang. Mulai dari bahan pembentuk sains dan
teknologi itu sendiri, lalu prosesnya, cara kerja, hingga hasil yang didapat dari berbagai
fenomena sains.
Sains lahir mulai dari coba-mencoba, ketidakpuasan manusia, dan akal fikiran
manusia yang terus berkembang. Pada zaman modern sekarang ini telah banyak kemajuan
sains yang kita rasakan. Banyaknya manfaat baik yng dihasilkan dari perkembangan sains ini
membuat manusia zaman sekarang menjadi manja, sampai dampak negatifnya pun selalu
dikaitkan hingga pada kadar agama. Semakin meningkatnya keburuhan manusia akan
informasi, maka akan semakin meningkat pula kebutuhan manusia akan teknologi. Karena
pada hakikatnya teknologi merupakan wujud material budaya manusia yang seiring dengan
perkembangan zaman menjadi semakin kompleks .
Teknologi diciptakan untuk memudahkan manusia melakukan berbagai aktivitas
sehari-harinya. Teknologi berkembang sangat pesat, dari suatu peradaban ke peradaban
berikutnya. Semakin hari teknologi dapat merealisasikan ide-ide kreatif manusia dalam
bentuk yang konkrit ,khususnya dibidang komunikasi. Dengan teknologi, manusia bisa
berkomunikasi dari jarak ribuan bahkan jutaan kilometer secara langsung.
Begitulah gambaran siklus perkembangan sains dan teknologi terhadap beradaban
manusia. Selengkapnya bisa kita pelajari bersama dalam makalah ini. Mudah-mudahan ini
bisa menjadi patokan bagi kita semua tentang ilmu-ilmu yang ada di alam. Dan bagaimana
cara kita memanfaatkan segala yang ada di alam.

B. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah tersebut adalah
1.
2.
3.
4.
5.

Untuk menambah pengetahuan tentang sejarah perkembangan islam.


Untuk mengetahui proses-proses perubahan yang terjadi.
Untuk mengetahui lebih dalam tentang sains dan teknologi.
Untuk mengembangkan potensi yang sudah ada.
Untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Studi Islam IV.

C. MANFAAT
Bagi Mahasiswa
1. Untuk menambah pengetahuan tentang sejarah perkembangan sains dan teknologi
dalam islam.
2. Untuk memperbanyak pengalaman dalam membuat makalah.
Bagi Umum
1. Sebagai refrensi dalam mengetahui perkembangan islam dalam sains dan teknologi.
2. Sebagai bahan penganalisa.

II. PEMBAHASAN
A.Landasan Teori
Sejarah perkembangan sains dan teknologi dalam islam menjelaskan secara harfiah perkata
meliputi:
-syajarah = Pertumbuhan/pergerakan/perkembangan
-yaum = Peredaran
- siirah = Perjalanan
Sedangkan istilah "Ilmu",baik asal kata maupun makna,diambil dari:
- - - `alima - ya`lamu - `ilman = Mengetahui/Mengilmui
Jadi Ilmu menurut asal kata berarti = Pengetahuan.
Sejarah perkembangan sains dan teknologi dalam islam antara lain :
1.Periode Kekuasaan Bani Ummayah Damaskus (711-755)
Pada periode ini Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh
Khalifah Bani Umayah yang berpusat di Damaskus
Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna,
gangguan-gangguan masih terjadi, baik datang dari dalam maupun dari luar. Gangguan dari
dalam antara lain berupa perselisihan di antara elite penguasa, terutama akibat perbedaan
etnis dan golongan. Disamping itu, terdapat perbedaan pandangan antara khalifah di
Damaskus dan gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairawan. Masing-masing mengaku
bahwa merekalah yang paling berhak menguasai daerah Spanyol ini. Oleh karena itu, terjadi
dua puluh kali pergantian wali (gubernur) Spanyol dalam jangka waktu yang amat singkat.
Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang bertempat
tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah tunduk kepada
pemerintahan Islam. Gerakan ini terus memperkuat diri. Setelah berjuang lebih dari 500
tahun, akhirnya mereka mampu mengusir Islam dari bumi Spanyol. Karena seringnya terjadi

konflik internal dan berperang menghadapi musuh dari luar, maka dalam periode ini Islam
Spanyol belum memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan kebudayaan.
Perbedaan pandangan politik juga menyebabkan seringnya terjadi perang saudara. Hal
ini ada hubungannya dengan perbedaan etnis, terutama, antara Barbar asal Afrika Utara dan
Arab. Konflik perang saudara diantara berbagai kelompok Muslim di Iberia itu berakibat
hilangnya kendali kekhalifahan di wilayah itu, hingga Yusuf Al-Fihri memenangkan
perseteruan itu dan menjadi pemimpin independen di wilayah Andalusia.
2 . Periode Kerajaan Cordoba (756-1013)
Di tahun 750, kekuasaan khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus
digantikan dengan kekuasaan Bani Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Abdurrahman AdDakhil, keturunan Bani Umayyah yang selamat, berhasil menurunkan Yusuf Al-Fihri dan
memproklamirkan dirinya sebagai Amir kerajaan Andalusia yang berpusat di Cordoba dan
melepaskan diri dari Kekhalifahan Abbasiyah pada tahun 756.
Amir Kerajaan Cordoba berturut-turut: Abdurrahman I (756-788), Hisyam I (788796), Al-Hakam I (796-822), Abdurrahman II (822-852), Muhammad I (852-886), AlMundhir (886-888), Abdullah ibn Muhammad (888-912)
Kemudian semenjak kekuasaan Abdurrahman III di tahun 929, sebutan penguasa
Amir kemudian digantikan dengan titel Khalifah: Abdurrahman III (912-961), Al-Hakam II
(961-976), Hisyam I (976-1008), Muhammad II (1008-1009), Sulaiman II (1009-1010),
Hisyam II (1010-1012), Sulaiman II (1012-1016), Abdurrahman IV (1017), Abdurrahman V
(1023-1024), Muhammad III (1024-1025), Hisyam III (1026-1031).
Awal dari kehancuran khilafah Bani Umayyah di Spanyol adalah ketika Hisyam naik
tahta dalam usia sebelas tahun. Oleh karena itu kekuasaan aktual berada di tangan para
pejabat. Pada tahun 981 M, Khalifah menunjuk Ibn Abi Amir sebagai pemegang kekuasaan
secara mutlak. Dia seorang yang ambisius yang berhasil menancapkan kekuasaannya dan
melebarkan wilayah kekuasaan Islam dengan menyingkirkan rekan-rekan dan saingansaingannya. Atas keberhasilan-keberhasilannya, ia mendapat gelar al-Manshur Billah. Ia
wafat pada tahun 1002 M dan digantikan oleh anaknya al-Muzaffar yang masih dapat
mempertahankan keunggulan kerajaan. Akan tetapi, setelah wafat pada tahun 1008 M, ia
digantikan oleh adiknya yang tidak memiliki kualitas bagi jabatan itu. Dalam beberapa tahun

saja, negara yang tadinya makmur dilanda kekacauan dan akhirnya kehancuran total. Pada
tahun 1009 M khalifah mengundurkan diri. Beberapa orang yang dicoba untuk menduduki
jabatan itu tidak ada yang sanggup memperbaiki keadaan. Akhirnya pada tahun 1013 M,
Dewan Menteri yang memerintah Cordova menghapuskan jabatan khalifah. Ketika itu,
Spanyol sudah terpecah dalam banyak sekali negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu.
3.Kekhalifaan Abbasiyah (Bagdad)
Pada awalnya Muhammad bin Ali cicit dari Abbas menjalankan kampanye untuk
mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada keluarga Bani Hasyim di Parsi pada masa
pemerintahan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz. Selanjutnya pada masa pemerintahan Khalifah
MarwanII, pertentangan ini semakin memuncak dan akhirnya pada tahun 750, Abu Al-Abbas
Al-Saffah berhasil meruntuhkan Daulah Umayyah dan kemudian dilantik sebagai khalifah.
Bani Abbasiyah berhasil memegang kekuasaan kekhalifahan selama tiga abad,
mengkonsolidasikan kembali kepemimpinan gaya Islam dan menyuburkan ilmu pengetahuan
dan pengembangan budaya Timur Tengah. Tetapi pada tahun 940 kekuatan kekhalifahan
menyusut ketika orang-orang non- Arab, khususnya orang Turki (dan kemudian diikuti oleh
Mamluk di Mesir pada pertengahan abad ke-13), mulai mendapatkan pengaruh dan mulai
memisahkan diri dari kekhalifahan.
Meskipun begitu, kekhalifahan tetap bertahan sebagai simbol yang menyatukan umat
islam. Pada masa pemerintahannya, Bani Abbasiyah mengklaim bahwa dinasti mereka tak
dapat disaingi. Namun kemudian, Said bin Husain, seorang muslim

Syiah dari dinasti

Fatimmiyah mengaku dari keturunan anak perempuannya Nabi Muhammad, mengklaim


dirinya sebagai Khalifah pada tahun 909, sehingga timbul kekuasaan ganda di daerah Afrika
Utara . Pada awalnya ia hanya menguasai Maroko, Aljazair, Tunisia, dan Libya. Namun
kemudian, ia mulai memperluas daerah kekuasaannya sampai ke

Mesir dan Palestina,

sebelum akhirnya Bani Abbasyiah berhasil merebut kembali daerah yang sebelumnya telah
mereka kuasai, dan hanya menyisakan Mesir sebagai daerah kekuasaan Bani Fatimiyyah.
Dinasti Fatimiyyah kemudian runtuh pada tahun 1171. Sedangkan Bani Umayyah bisa
bertahan dan terus memimpin komunitas muslim di Spanyol, kemudian mereka mengklaim
kembali gelar Khalifah pada tahun 929, sampai akhirnya dijatuhkan kembali pada tahun
1031.

Dari gambaran di atas Bani Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan
pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Inilah perbedaan
pokok antara Bani Abbas dan Bani Ummayah .Disamping itu, ada pula ciri-ciri menonjol
dinasti Bani Abbas yang tak terdapat di zaman Bani Umayyah.
1. Dengan berpindahnya ibu kota ke Bagdad, pemerintahan Bani Abbas menjadi jauh
dari pengaruh Arab Islam. Sedangkan dinasti Bani Umayyah sangat berorientasi
kepada Arab Islam. Dalam periode pertama dan ketiga pemerintahan Abbasiyah,
pengaruh kebudayaan Persia sangat kuat, dan pada periode kedua dan keempat bangsa
Turki sangat dominan dalam politik dan pemerintahan dinasti ini.
2. Dalam penyelenggaraan negara, pada masa Bani Abbas ada jabatan wazir, yang
membawahi kepala-kepala departemen. Jabatan ini tidak ada di dalam pemerintahan
Bani Umayyah.
3. Ketentaraan profesional baru terbentuk pada masa pemerintahan Bani Abbas.
Sebelumnya, belum ada tentara khusus yang profesional.
Sebagaimana diuraikan di atas, puncak perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam
terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi, tidak berarti seluruhnya berawal
dari kreativitas penguasa Bani Abbas sendiri. Sebagian di antaranya sudah dimulai sejak awal
kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan, misalnya, di awal Islam, lembaga pendidikan
sudah mulai berkembang. Ketika itu, lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat:
1. Maktab/Kuttab dan masjid , yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak
mengenal dasar-dasar bacaan, hitungan dan tulisan; dan tempat para remaja belajar
dasar-dasar ilmu agama, seperti tafsir, hadits, fiqh dan bahasa.
2. Tingkat pendalaman, dimana para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, pergi
keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam
bidangnya masing-masing. Pada umumnya, ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu
agama. Pengajarannya berlangsung di masjid-masjid atau di rumah-rumah ulama
bersangkutan. Bagi anak penguasa pendidikan bisa berlangsung di istana atau di
rumah penguasa tersebut dengan memanggil ulama ahli ke sana.

Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas, dengan
berdirinya perpustakaan dan akademi. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah
universitas, karena di samping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat membaca,
menulis dan berdiskusi. Perkembangan lembaga pendidikan itu mencerminkan terjadinya
perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat ditentukan oleh
perkembangan bahasa Arab , baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak
zaman Bani Ummayah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Disamping itu, kemajuan
itu paling tidak, juga ditentukan oleh dua hal, yaitu:
1. Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu
mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahan
Bani Abbas, bangsa-bangsa non-Arab banyak yang masuk Islam. Asimilasi
berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Bangsa-bangsa itu memberi saham
tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Pengaruh Persia,
sebagaimana sudah disebutkan, sangat kuat di bidang pemerintahan. Disamping itu,
bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat dan sastra. Pengaruh
India terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu matematika dan astronomi. Sedangkan
pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu,
terutama filsafat.
2. Gerakan terjemahan yang berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, pada masa
khalifah al-Manshur hingga Harun Ar-Rasyid. Pada fase ini yang banyak
diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan manthiq. Fase kedua
berlangsung mulai masa khalifah al-Mamun hingga tahun 300 H. Buku-buku yang
banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga
berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas. Bidangbidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.
Pasukan Mamluk pertama dikerahkan pada zaman Abbasiyyah pada abad ke-9. Bani
Abbasiyyah merekrut tentara-tentara ini dari kawasan Kaukasus dan Laut Hitam, mereka ini
pada mulanya bukanlah orang Islam. Dari Laut Hitam direkrut bangsa Turki dan kebanyakan
dari suku Kipchak.
Keistimewaan tentara Mamluk ini ialah mereka tidak mempunyai hubungan dengan
golongan bangsawan atau pemerintah lain. Tentera-tentera Islam selalu setia kepada syekh,

suku dan juga bangsawan mereka. Jika terdapat penentangan tentara Islam ini, cukup sulit
bagi khalifah untuk menanganinya tanpa bantahan dari golongan bangsawan. Tentara budak
juga golongan asing dan merupakan lapisan yang terendah dalam masyarakat. Sehingga
mereka tidak akan menentang khalifah dan mudah dijatuhkan hukuman jika menimbulkan
masalah. Oleh karena itu, tentara Mamluk adalah aset terpenting dalam militer.
4.Kekhalifaan Fatimiyah(Maghreb,Mesir)
Fatimiyah berasal dari suatu tempat yang kini dikenal sebagai Tunisia (Ifriqiya)
namun setelah penaklukan Mesir sekitar 971 , ibukotanya dipindahkan ke Kairo.
Di masa Fatimiyah, Mesir menjadi pusat kekuasaan yang mencakup Afrika Utara,
Sisilia, pesisir Laut Merah Afrika, Palestina, Suriah, Yaman, dan Hijaz. Di masa Fatimiyah,
Mesir berkembang menjadi pusat perdagangan luas di Laut Tengah dan Samudera Hindia,
yang menentukan jalannya ekonomi Mesir selama Abad Pertengahan Akhir yang saat itu
dialami Eropa.
Fatimiyah didirikan pada 909 Abdullah al-Mahdi Billa, yang melegitimasi klaimnya
melalui keturunan dari Nabi Muhammad dari Fatimah az-Zahra dan suaminya Ali bin Abi
Thalib, (Imam Shia) pertama. Oleh karena itu negeri ini bernama al-Ftimiyyn "Fatimiyah".
Dengan cepat kendali Abdullh al-Mahdi meluas ke seluruh Maghreb, wilayah yang
kini adalah Maroko, Aljazair, Tunisia, dan Libya, yang diperintahnya dari Mahdia, ibukota
yang dibangun di Tunisia.
Fatimiyah memasuki Mesir pada 972, menaklukkan dinasti Ikhshidiyah dan
mendirikan ibukota baru di al-Qhirat "Sang Penunduk" (Kairo modern)- rujukan pada
munculnya planet Mars. Mereka terus menaklukkan wilayah sekitarnya hingga mereka
berkuasa dari Tunisia ke Suriah dan malahan menyeberang ke Sisilia dan Italia selatan.
Tak seperti pemerintahan di sama, kemajuan Fatimiyah dalam administrasi negara
lebih berdasarkan pada kecakapan daripada keturunan. Anggota cabang lain dalam Islm,
seperti Sunni, sepertinya diangkat ke kedudukan pemerintahan sebagaimana Syi'ah. Toleransi
dikembangkan kepada non-Muslim seperti orang-orang Kristen dan Yahudi, yang
mendapatkan kedudukan tinggi dalam pemerintahan dengan berdasarkan pada kemampuan
(pengecualian pada sikap umum toleransi ini termasuk "Mad Caliph"Al-Hakim bi-Amrillah).

Kemajuan tersebut terlihat dari berbagai bidang dintaranya:

a.Kemajuan pemerintahan Dinasti Fatimiyah


Bentuk pemerintahan pada masa Dinasti Fatimiyah merupakan bentuk pemerintahan
sebagai pola baru dalam sejarah Mesir, dalam pelaksanaannya khalifah adalah Kepala yang
bersifat temporal dan spiritual dimana pengangkatan sekaligus pemecatan pejabat tinggi
dibawah kontrol Khalifah .
b. Penyebaran Faham Syiah
Kemajuan Dinasti Fatimiyah bukan hanya terlihat dari segi pemerintahan akan tetapi
dalam bidang agama yaitu penyebaran faham Syiah, dengan demikian seganap pengetahuan
negeri tersebut tentang Islam berdasarkan pemikiran Syiah yang pokok ajaran terpentingnya
adalah Ali diwasiatkan menjadi khalifah dan jabatan khalifah itu dikhususkan kepada anakanaknya dari isterinya Fatimah .
c. Perkembangan ilmu pengetahuan
Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Fatimiyah mencapai kondisi yang sangat
mengagumkan, hal ini di sebabkan dengan berkembangnya penterjemahan dan penerbitan
sumber-sumber pengetahuan dari bahasa asing, seperti bahasa Yunani, Persia dan India
kedalam bahasa Arab sehingga banyak para ulama yang ingin belajar sastra dan penulisan.
Di antara tempat berkembangnya ilmu pengetahuan pada masa dinasti Fatimiyah adalah
dengan berdirinya masjid dan istana yang kemudian dijadikan sebagai tempat basis ilmu
pengetahuan, di ceritakan salah seorang wazir Dinasti ini Yaqub ibn Yusuf Ibn Killis sangat
mencintai ilmu pengetahuan dan seni .
d. Kemajuan dalam bidang sosial dan ekonomi
Di bawah pemerintahan Dinasti Fatimiyah, Mesir mengalami kemakmuran ekonomi dan
vitalitas kultural yang mengungguli Irak dan daerah-daerah lainnya, hubungan dagang
dengan daerah non Muslim dibina dengan baik termasuk dengan India dan negeri-negeri

Mediterania yang beragama Kristen di samping itu pula Mesir ini merupakan tempat
penghasil peroduk industri dan seni. Kemudian dalam bidang sosial masa dinasti Fatimiyah
perhatiannya terhadap kesejahteraan masyarakat sangat tinggi terbukti dengan dibangunnya
perguruan tinggi, rumah-rumah sakit, pemondokan kahlifah menghiasi kota baru di Kairo di
samping itu pula tempat pemandian umum dan pasar-pasar di bangun dan dipenuhi oleh
berbagai penduduk dari seluruh negeri, ini menunjukkan bahwa kemakmuran yang sungguh
begitu melimpah dan kemajuan bidang ekonomi begitu luar biasa pada masa Dinasti
Fatimiyah.
Runtuhnya Dinasti Fatimiyah
Dinasti Fatimiyah mencapai kemunduran Setelah Al-Hakim, Khalifah-kahlifah
Fatimiyah tidak lebih dari boneka yang menjadi permainan para wazir dan Jenderal, selama
pemerintahan al-Muntansir yng cukup lama (427-487 H./1036-1097) terjadi perselisihan yang
sangat tajam antara jendral dan wazir kemudian perselisihan ini membawa ibu kota Kairo,
kearah anarkis dan kekacauan yang hebat ditambah lagi dengan wabah penyakit dan kemarau
panjang, sehingga Dinsti Fatimiyah terpecah menjadi dua Nizari dan Mustali.

B. Macam-macam Pengembangan Ilmu Pengetahuan pada Prasejarah


1. Dipetik dalam sebuah artikel berita : www.Ranknews/kemajuanzamanprasejarahislam.html

Ditahun 1990 yang membatu yang berusia sekitar 2000 tahu di sebuah kapal karam di
pulau antikythera, 50 tahun kemudian benda tersebut dilihat dengan sinar-X dan menemukan
bahwa benda tersebut merupakan sebuah alat mekanik seperti mekanik pada jam tangan,
penemuan ini membuat para ahli arkeologi kebingunan, karena pada saat itu tidak mungkin
bisa membuat benda serumit ini.

2. Anticythre Mechanics

Setelah di X-ray

Keberadaan mekanik pada jaman prasejarah juga bisa ditemui di kompleks kuil
Dendera di Mesir. Pada ruang bawah kuil tersebut terdapat pahatan dinding dua buah benda
yang menyerupai bola lampu pijar. beberapa teori mengatakan bahwa, ruang-ruang dalam
kuil tersebut menggunakan cahaya matahari yang dipantulkan dari luar berulang kali oleh
cermin-cermin didalam kuil, namun teori ini dapat terbantahkan, karena sinar yang
dipantulkan semakin lama semakin lemah sehingga tak bisa menerangi semua ruangan.
Ada juga yang mengatakan menggunakan api / obor tapi tidak ada di satu ruangpun
ditemukan bahan untuk membuat api, dan tidak akan cukup oksigen yang didapatkan untuk
membuat obor.Jadi yang memungkinkah adalah menggunakan lampu.
3. Baterai Bagdad

4.Kemajuan di Bidang Kemiliteran


Pada era Dinasti Al-Mamluk produksi buku mengenai ilmu militer itu berkembang pesat.
Sedangkan, pada zaman Shalahuddin ada buku manual militer karya at-Turtus. Bahkan Nabi
Muhammad SAW pernah meminta agar para anak lelaki diajari berenang, gulat, dan berkuda.
Berbagai kisah peperangan seperti legenda Daud dan Jalut juga dikisahkan dengan apik
dalam Al-Quran. Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah. Dan
kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya). Dan kuda yang menyerang
dengan tiba-tiba di waktu pagi. Maka, ia menerbangkan debu dan menyerbu ke tengah
kumpulan musuh. (Al-aAdiyat 1-4).
B. Contoh Penemuan yang sesuai dengan Al-Quran

Misteri Angka 19
Dalam surat al-Mudatstsir, angka sembilan belas ditekankan dengan pernyataan ayat,
Di atasnya ada 19 dan ayat yang ke-31 yang menjelaskan fungsi serta tujuan bilangan 19.
Ayat 31 dalam surat al-Muddatstsir ini sedemikian istimewa bukan hanya karena panjangnya
yang di atas rata-rata ayat lain, namun dalam ayat inilah keajaiban 19 dapat dibuktikan.
Misalnya, ayat ini terdiri dari 57 kata (19x3), sementara ayat sebelumnya terdiri dari 3 kata.
Jika dikalikan 3 kata dengan angka 19 yang terdapat dalam ayat 30, maka hasilnya adalah 57,
jumlah kata yang terdapat dalam ayat 31 . hal inilah yang menjadi bukti paling kuat atas
mujizat al-Quran yang tidak dapat ditiru oleh siapapun.
C. Beberapa Hal yang Melandasi Pengembangan Ilmu Pengetahuan pada Zaman Rassululah
SAW :
a. Wahyu pertama di awali dengan perintah membaca. Membaca adalah kemampuan awal
dalam menggali ilmu pengetahuan.
b. Bangsa Arab pada umumnya mempunyai daya hafal yang tinggi.
c. Rasulullah membangun tradisi menulis dengan menunjuk Zaid ibn Tsabit sebagai penulis
wahyu.

d. Al Quran merupakan sumber ilmu pengetahuan. Disamping itu di dalam Al Quranpun


terdapat dorongan untuk menuntut ilmu : ... Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Mujadilah : 11)
Dengan landasan tersebut Rasulullah meneladani, membimbing dan mendorong para
sahabat untuk beriman dan berilmu, sebagaimana sabdanya yang artinya Menuntut ilmu
hukumnya wajib bagi Muslimin dan Muslimat (HR. Ibnu Abdil Bar).
Rasulullahpun mendorong para sahabat untuk menuntut ilmu ke luar Arab, dengan
mengatakan Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina.
Dengan bimbingan Rasulullah muncullah sahabat-sahabat yang memiliki kemampuan
dalam bidangnya. Misalnya :
a.Umar ibn Khaththab ahli dalam bidang hukum dan manajemen lembaga pemerintahan.
b. Abdullah ibn Umar merupakan salah satu pengumpul hadits
c. Ali ibn Abi Thalib, Abdullah ibn Masud dan Ubay ibn Kaab menguasai bidang tafsir.
d. Abdullah ibn Abbas mahir dalam asbabun nuzul (sebab turunnya ayat Al Quran), faraid
(waris) dan sejarah peperangan Rasulullah.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan Islam berasal dari dua
sumber utama, yaitu Al Quran/Al Hadits dan kontak dengan budaya baru. Pertama, sebagai
landasan utama ajaran Islam Al Quran dan Al Hadits melahirkan kajian-kajian dan dampak
sebagai berikut :
a.Ilmu nahwu (tatabahasa Arab), dasar-dasarnya dikembangkan oleh Ali ibn Abi Thalib,
kemudian disempurnakan oleh Abul Aswad Al Dualy.
b. Ilmu tafsir, para pengkaji pertamanya adalah Ali ibn Abi Thalib, Abdullah ibn Abbas,
Abdullah ibn Masud dan Ubay ibn Kaab.
c. Khalid ibn Yazid, cucu Muawiyah tertarik pada ilmu kimia dan kedokteran. Ia mendorong
penterjemahan buku-buku kimia dan kedokteran berbahasa Yunani ke bahasa Arab.
d. Abdul Malik ibn Marwan mempunyai pejabat beragama Nasrani bernama Yahya al
Dimasyqi yang mempelopori tumbuhnya ilmu logika sehingga melahirkan kelompok
rasionalis Islam.

D.Perkembangan Ilmu Aqli dan Naqli pada zaman Rasullulah, contohnya :


a. Ilmu Kimia. Jabir bin Hayyan dikatakan sebagai Bapak Ilmu Kimia. Jabir membagi
benda terdiri atas tubuh (emas dan perak), nyawa (sulphur dan arsenik) dan akal (mercury
dan sal amoniak). Jabir juga memberikan dasar-dasar petunjuk mengenai penguapan
(evaporation), penyaringan (filtration), penghalusan (sublimation), pencairan (melting),
distillation dan crystallization. Tokoh lainnya adalah Al Razi yang membagi benda menjadi
unsure sayuran, hewan dan logam. Bahasa kimia modern banyak diambil dari karya Al Razi.
b. Geografi. Al Khawarizmi dikenal sebagai kartografer (pembuat peta) tertua. Tumbuhnya
ilmu ini berawal dari kisah perjalanan. Daerah-daerah yang sudah dapat digambarkan pada
saat itu adalah Timur Tengah, India, Ceylon, Malaya, Indonesia, Cina, Korea, Afrika dan
Eropa.Tokoh lainnya adalah Ibn Haykal, Al Biruni, Ibn Jubair, Ibn Batutah.
c. Ilmu Filsafat. Dapat dikatakan bahwa filsafat merupakan induk ilmu-ilmu aqliyah. Tokohtokohnya adalah Al Kindi, Al Farabi, Ibn Sina, Al Ghazali, Ibn Rusyd (Averos),
d. Ilmu Hadits. Ilmu yang mengupas segala permasalahan hadits sekaligus usaha untuk
melestarikan hadits-hadits Nabi. Ahli hadits pada masa ini misalnya Imam Malik (Kitab Al
Muwaththa), Imam Syafii (Kitab Musnad), Imam Abu Hanifah (Musnad Abu Hanifah) dan
Imam Abdu Razaq ibn Hammam (Al Jami).
e. Ilmu Bahasa. Ilmu ini mengupas segala hal yang berkaitan dengan bahasa Arab, sehingga
muncullah ilmu nahwu, sharaf, maani, arudh, qamus, dan lain-lain. Tokoh-tokoh ilmi bahasa
Arab misalnya Sibawaihi, Muaz Al Harro, Al Kasai, Abu Usman Al Maziny. dll.

III. PENUTUP
KESIMPULAN
Dilihat dari segi manapun, perkembangan sains dan teknologi di dalam islam ini
membawa dampak besar hingga pada zaman modern ini. Segala pemanfaatannya banyak
dilakukan dan dirasakan oleh orang-orang saat ini. Tinggal bagaimana pribadi masing-masing
mengaplikasikannya pada kehidupan yang lebih baik. Kesadaran pribadi sangat diperlukan
demi kelangsungan kedepannya dan berpengaruh juga pada SDA yang tersedia.
Seharusnya juga manusia bisa dengan pandai memanfaatkan kelebihan perkembangan
sains dan teknologi untuk mengantisipasi kekurangan perkembangan sains dengan cermat dan
penuh pertimbangan. Memahami dengan pasti SDA yang tersedia di alam, juga dengan
pengetahuan yang jelas dan cukup tentang sains dan teknologi.
Sebagai calon pendidik apalagi untuk seorang ahli sains dan teknologi, sudah
seharusnya ditanamkan dalam diri masing-masing untuk memanfaatkan perkembangan sains
dengan baik, hingga bagaimana cara kita mengajarkan ini pada generasi penerus bangsa. Agar
SDA yang tersedia tetap lestari untuk masa depan, dan sejarah ilmu perkembangannya pun
tak pudar sedikit demi sedikit.

IV. DAFTAR PUSTAKA


http://www.religioustolerance-.org/-clo_reac.htm
http://saga-islamicnet.blogspot.com/2010/12/sains-dan-teknologi-dalam-al-quran.html
Peristiwa Dalam Islam,Abdul Hakim Al-Afifi.Pustaka Hidayah.Bandung. 2002.
Sejarah Kerajaan Mamalik,Muhammad Syu'ub,Penerbit PT.Bulan Bintang.
Yatim Badri, 2008, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, Jakarta: Raja Grafindo
Persada

LAMPIRAN

Beri Nilai