Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA

KONTRAKSI OTOT POLOS LAMBUNG


KATAK

KELOMPOK F-1
JULIANA JESSICA NOVIA

1130316

I GEDE AGUNG SATRIA AM

1130317

ANANDA SUNARYA

1130

YUIKA WULAN
AZALYA AYLA KHANSA
AISYA NUR KEMALA

1130
1130
1130

DAFTAR ISI
Daftar isi
I.

PENDAHULUAN
1. Pengertian Otot Polos
2. Tonus Otot
3. Kolinergika atau parasimpatikomimetika
4. Antikolinergia atau parasimpatikolitika
5. Pilokarpin
6. Adrenalin
7. Atropin sulfat
8. Larutan Thyrode

II.

METODE KERJA

III.

HASIL PERCOBAAN
1. Tabel Hasil Pengukuran Amplitudo
2. Tabel Hasil Percobaan

IV.

PEMBAHASAN

V.

KESIMPULAN

Daftar Pustaka

I.

PENDAHULUAN

I.1. Pengertian Otot Polos


Otos polos adalah otot tidak berlurik dan involunter. Jenis otot ini bisa ditemukan
pada dinding organ berongga seperti kandung kemih dan uterus, serta pada dinding tuba,
seperti pada sistem respiratorik, pencernaan, reproduksi, urinarius, dan system sirkulasi
darah. Serabut otot berbentuk spindle dengan nukleus sentral yang terelongasi. Serabut ini
berukuran kecil berkisar antara 20 mikron (melapisi pembuluh darah) sampai 0,5 mm pada
uterus ibu hamil. Otot polos memiliki kontraksi yang kuat dan lamban.

Otot polos memiliki sifat kimia dan mekanis yang sama degan otot rangka tetapi
memiliki karakteristik yang khas, diantaranya :
1. Perbedaan miofilamen

Filamen miosin tebal lebih panjang daripada filament miosin tebal otot rangka.

Miofilamen aktin tipis tidak memiliki troponin dan tropomiosin

Mempunyai miofilamen berukuran sedang, miofilamen ini tidak terlibat dalam


proses kontraktil, tetapi dapat berfungsi sebagai kerangka kerja sitoskeletal untuk
menopang sel.

2. Perbedaan kontraksi

Kontraksi sel-sel otot polos bergantung pada fosforilasi myosin yaitu saat gugus

fosfat berikatan dengan myosin.


Pada otot polos terdapat peningkatan konsentarasi ion kalsium yang berikatan
dengan kalmodulin, protein yang strukturnya mirip dengan troponin. Ca 2+ /
kompleks kalmodulin mengaktivasi myosin kinase, protein intraselular lain yang

memfosforilasi myosin.
Sebagai ion kalsium dilepas dari reticulum sarkoplasma, tetapi sebagian besar

kalsium masuk melalui saluran ion kalsium yang terbuka pada membrane plasma.
Saat ion kalsium ditranspor balik menuju reticulum sarkoplasma dan keluar

menyebrangi membrane plasma, myosin terdefosforilasi dan otot menjadi relaks.


Terdapat dua kategori utama otot polos berdasarkan cara serabut otot polos
distimulasi untuk berkontraksi.
1. Otot polos unit ganda
Dapat ditemukan pada dinding pembuluh darah besar, pada jalan udara besar
traktus respiratorik, pada otot mata yang memfokuskan lensa dan menyesuaikan
ukuran pupil dan pada otot erector pili rambut. Seperti otot rangka, otot polos
ganda juga bersifat neurogenic. Otot ini membutuhkan stimulus saraf untuk
memicu kontraksi. Tidak seperti otot rangka, otot ini memiliki sambungan
neuromuscular. Cairan neurotransmiter hanya dialirkan ke dalam cairan
ekstraselular yang mengelilingi sel-sel otot polos. Kontraksi otot polos ganda juga
dapat dipengaruhi oleh hormon dan obat-obat tertentu.
2. Otot polos unit tunggal (viseral)
Dapat ditemukan dalam lapisan dinding organ berongga atau visera. Semua
serabut dalam lapisan mampu berkontraksi sebagai satu unit tunggal. Otot polos
viseral adalah otot yang dapat bereksitasi sendiri atau miogenik dan tidak
memerlukan stimulasi saraf eksternal untuk berkontraksi. Pembentukan potensial
aksi mandiri tersebut merupakan hasil dari aktivitas listrik spontan.
Akibat daya listrik, sel-sel otot polos dalam lapisan disatukan melalui sambungan
celah (gap junction) komunikasi, yang dengan cepat menyebarkan potensial aksi
ke seluruh sel yang saling terhubung. Sistems araf otonom berakhir pada viseral,
dipengaruhi oleh lebih dari satu jenis neurotransmitter. Factor lain yang
mempengaruhi kontraksi otot polos viseral adalah hormon-hormon tertentu,
metabolik local tingkat menengah yang diproduksi di sekitar otot, peregangan
mekanis, dan beberapa jenis obat.
I.2. Tonus Otot
Otot tidak pernah istirahat benar, meskipun kelihatannya demikian. Pada hakekatnya
mereka selalu berada dalam keadaan tonus otot, yang berarti siap untuk bereaksi terhadap
rangsangan. Misalnya kejutan lutut yang disebabkan oleh ketukan keras pada tendo patella
mengakibatkan kontraksi dari extensor quadrisep femoris dan sedikit rangsangan sendi lutut.
Ini adalah refleks yang terjadi akibat ada rangsangan pada saraf. Sikap tubuh ditentukan oleh

tingkat tonus otot.


I.3. Kolinergika atau parasimpatikomimetika
Kolinergika atau parasimpatikomimetika adalah sekelompok zat yang dapat
menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi susunan parasimpatik, karena melepaskan
neurohormon asetilkolin (ACh) di ujung-ujung neuronnya. Tugas utama susunan
parasimpatik adalah mengumpulkan energi dari makanan dan menghambat penggunaannya,
singkatnya berfungsi asimilasi. Bila neuron susunan parasimpatik dirangsang timbullah efek
yang menyerupai keadaan istirahat dan tidur.
Efek kolinergis faal yang terpenting adalah sebgai berikut :

Stimulasi pencernaan dengan jalan memperkuat peristaltic dan sekresi kelenjar


ludah dan getah lambung (HCl), juga sekresi air mata dan lain-lain.

Memperlambat sirkulasi, Antara lain dengan menciutkan bronchi, sedangkan


sekresi dahak diperbesar.

Kontraksi otot mata dengan efek penyempitan pupil (miosis) dan menurunnya
tekanan intraokuler akibat lancarnya pengeluaran urin.

Dilatasi pembuluh dan kontraksi otot kerangka.

Menekan SSP setelah pada permulaan menstimulasinya.

I.4. Antikolinergika atau parasimpatikolitika


Antikolinergika atau parasimpatikolitika melawan khasiat asetilkolin dengan jalan
menghambat terutama reseptor-reseptor M (uskarin) yang terdapat di SSP dan organ perifer.
Zat-zat ini tidak bekerja terhadap reseptor-reseptor N (ikotin) kecuali zat-zat Amonium
kuartener, serta ganglion-blockers yang terutama menghambat reseptor-N di pelat ujung
myoneural dan di ganglia otonom.
Kebanyakan antikolinergika tidak bekerja selektif bagi lima subtype reseptor-M.
berefek terhadap banyak organ rubuh, antara lain mata, kelenjar, paru-paru, jantung, saluran
kemih, saluran lambung-usus, dan SSP.

Efek antikolinergikaterpenting adalah sebagai berikut :

Memperlebar pupil (mydriasis) dan berkurangnya akomodasi.

Mengurangi sekresi kelenjar (liur, keringat, dahak).

Mengurangi tonus dan motilitas saluran lambung-usus, juga sekresi getah


lambung.

Dilatasi bronchi.

I.5. Pilokarpin
Alkolid pilokarpin adalah suatu amin tersier yang stabil terhadap hidrolisis oleh
asetilkolinesterase, terdapat pada daun tanaman Amerika, Pilokarpus jaborandi. Pilokarpin
termasuk obat yang lemah disbanding denga asetilkolin dan turunannya. Ativitas utamanya
adalah muskarinik dan digunakan untuk oftalmologi. Daya kerjanya terutama berkhasiat
muskarin, efek nikotinnya ringan sekali.

I.6. Adrenalin
Hormon adrenalin berpengaruh sangat cepat. Hormon ini menyebabkan meningkatnya
denyut jantung, ecepatana pernafasan, dan tekanan darah ( menyempitkan pembuluh darah).
Adrenalin bersama insulin berpengaruh terhadap perubahan glikogen (gula dalam otot)
menjadi glukosa (gula dalam darah). Nonadrenalin bekerja secara antagonis terhadap
adrenalin, yaitu befungsi menurunkan tekanan darah dan denyut jantung. Epinefrin
(adrenalin) merangsang nodus SA dan sel otomatik lainnya dan mempercepat depolarisasi
fase-4. Pada saluran cerna terjadi perangsangan reseptor alfa-2 (terdapat pada membran di
saraf kolinergik dan aktivasi reseptor alfa-2 menyebabkan hambatan pembebasan Ach) dan
beta-2 ( terdapat pada membran sel otot polos) pada otot polos saluran cerna menimbulkan
relaksasi, penurunan tonus dan motilitas usus dan lambung.

I.7. Antropin sulfat

Antropin sulfat, turunan pertama dari tanaman Belladona dan dimurnikan pada tahun
1831, merupakan obat antikoligernik kuat dan merupakan antagonis khusus dari efek
muskarin Ach. Efek nikotin-nya diantagonis ringan sekali. Antropin juga memiliki daya kerja
atas SSP (Antara lain sedatif) dan daya bronchodilatasi ringan berdasarkan perbedaan otot
polos bronchi. Zat ini digunakan sebagai midriatikum kerja panjang (sampai beberapa hari),
yang juga melumpuhkan akomodasi (cyclopegia). Juga sebagai spasmolitikum pada kejangkejang disaluran lambung-usus dan urogenital, sebagai premidikasi pada anestasi dan sebagai
zat penawar (antidotum) keracunan Ach (zat-zat antikolinesterase) dan kolinergika lain.
I.8. Larutan Tyrode
Larutan tyrode secara umum mengandung NaCl 0,8%, KCl 0,02%, CaCl 2 0,02%,
MgCl2 0,01%, NaHCO3 0,1%, dan NaH2PO4 0,005%

II.

METODE KERJA

1. Meyiapkan sediaan otot polos lambung katak :


a. Merusak otak katak seperti pada pratikum kepekaan saraf perifer dan otot rangka
b. Menempatkan katak terlentang diatas papan katak, kemudian memfiksir kedua
kaki belakang katak dengan menggunakan jarum.
c. Mengiris rongga dada dan rongga perut katak tersebut dengan irisan berbentuk
huruh Y. Menarik kulit yang akan diiris dengan pinset yang dipegang dengan
tangan kiri, seadngkan tangan kanan memotong kulit katak tersebut dengan
memakai gunting. Pada saat menggunting berhati-hati agar tidak sampai
memotong organ-organ lain.
d. Setelah membuka perut katak, memperhatikan secara in vivo pergerakan lambung
katak tersebut.
e. Membebaskan lambung katak dari jaringan sekitarnya dengan hati-hati dan tidak
terlalu banyak mengadakan tekanan atau sentuhan pada lambung tersebut, karena
hal tersebut akan menyebabkan stress dan dapat memengaruhi kontraksi lambung.

2. Mengikat bagian pilorus lambung katak sedistal mungkin dan bagian kardia
seproximal mungkin dengan benang, kemudian memotong bagian pilorus disebelah
distal dari ikatan, dan memotong bagian kardia disebelah proximal dari ikatan.

3. Mengangkat dengan segera potongan lambung tersebut dan memasukkan ke dalam


larutan thyrode dalam tabung perendam supaya lambung tersebut tidak sampai rusak

4. Mengaliri larutan thyrode tersebut dengan oksigen dengan kecepatan optimal (tidak
terlalu besar atau kecil) sebelum memasukkan lambung dalam tabung perendam.

5. Mengikat ujung kardia pada kait dalam tabung peredam, menghubungkan ujung
pilorus dengan benang pada penulis, kemudian memulai percobaan pencatatan

gerakan-gerakan lambung.

6. Mencatat gerakan lambung yang normal sebanyak 10 kali kontraksi sambil


memperhatikan frekuensi, amplitudo serta tonusnya setiap akan mengawali
pengamatan pengaruh suatu obat/bahan. Setelah itu memulai menyelidiki pengaruh
beberapa macam obat-obatan terhadap kontraksi otot polos lambung.

7. Meneteskan 1/2 tetes adrenalin ke dalam tabung perendam dan mencatat pada
kimograf pengaruh obat tersebut terhadap kontraksi lambung selama 1 menit.

8. Mencuci lambung katak tersebut dengan jalan mengganti cairan dalam tabung
perendam dengan cairan thyrode yang baru (cuci sampai 2 kali).

9. Mengerjakan hal di atas dengan obat-obat : sulfat atropin dan pilokarpin (sebelumnya,
mengulang langkah no. 5 untuk mencatat kontraksi normal selama 1 menit sebagai
kontrol)

III. HASIL PERCOBAAN


III.1. Tabel Hasil Pengukuran Amplitudo
No

Normal
(mm)

1
2
3
4
5
Jumla
h
Rata-

Adrenalin
Kontrol
Percobaan

Sulfas Atropin
Kontrol
Percobaa

Pilokarpin
Kontrol Percobaan

(mm)

(mm)

(mm)

n (mm)

(mm)

(mm)

2
2,5

8
1
6

5
3,5

4,5
3
3

20
34
3

6
4
3

4,5

15

8,5

6
9
5
2
3
25

10,5

57

13

2,25

4,25

3,5

19

4,3

rata

III.2. Tabel Hasil Percobaan


Frekuensi

Amplitudo

Tonus

Jenis Obat
Normal

(kontraksi per menit)


2

(millimeter)
2,25

(naik/tetap/turun)

Adrenalin

Kontrol : 1,75
Percobaan : 1,25

5
4,25

Turun

Kontrol : 2,25
Percobaan : 2,5

19
4,3

Tidak dapat

Pilokarpin

ditentukan
Sulfas Atropin

Kontrol : 4,5
Percobaan : 2,5

5
3,5

Turun

IV. PEMBAHASAN
Kontraksi otot polos lambung dipengaruhi oleh berbagai macam factor salah satunya
adalah obat-obatan.

Normal
Keadaan normal diukur pada saat pertama kali. Lambung katak diberi larutan tyrode dan
dialiri oksigen kemudian diukur kontraksinya. Kontraksi diukur sebanyak 10 kali yang terjadi
selama 1 menit. Dari data tersebut diperoleh frekuensi yang terjadi selama 1 menit adalah
sebanyak 2 kontraksi dan amplitude sebesar 2,25 milimeter. Dalam praktikum digunakan
larutan tyrode karena larutan tyrode mempunyai komposisi yang mirip dengan cairan tubuh
dari katak.
Adrenalin
Pada hasil praktikum frekuensi kontrol pada lambung menunjukkan 1,75 kontraksi dalam
waktu 1 menit dan amplitudo control adalah 5 milimeter. Setelah dilakukan penambahan
larutan adrenalin sebanyak tetes terjadi penurunan frekuensi menjadi 1,25 kontraksi per
menit dan terjadi penurunan amplitudo menjadi 4,25 milimeter. Disimpulkan dari kedua data,
tonus otot polos lambung menurun. Hal ini sesuai dengan dasar teori yang disebutkan bahwa
adrenalin (epinefrin) menimbulkan relaksasi otot polos saluran cerna, sehingga pada
umumnya tonus dan motilitas usus dan lambung berkurang.
Pilokarpin
Pada hasil praktikum frekuensi control pada lambung menunjukkan 2,25 kontraksi dalam 1
menit dan amplitudo control sebesar 19 milimeter. Setelah dilakukan penambahan 1 tetes
pilokarpin terjadi peningkatan frekuensi menjadi 2,5 milimeter dalam 1 menit sedangkan
terjadi penurunan amplitude menjadi 4,3 milimeter. Disimpulkan dari kedua data, tonus otot
polos lambung tidak dapat ditentukan karena terjadi perbedaan antara amplitude dan
frekuensi, dimana amplitude mengalami penurunan sedangkan frekuensi mengalami
peningkatan. Menurut dasar teori yang ada, pilokarpin mempunyai efek kolinergika
khususnya menstimulasi pencernaan dengan jalan memperkuat peristaltic dan sekresi kelenjar
ludah dan getah lambung (HCl). Namun berdasarkan hasil praktikum, tonus tidak dapat
ditentukan, hal ini disebabkan karena kesalahan kelompok saat melakukan preparasi katak
sehingga saat dilakukan pengujian menggunakan pilokarpin, lambung mengalami kerusakan
atau tidak bertahan lama. Factor lain yang mungkin menyebabkan tonus tidak dapat diukur
adalah proses pencucian lambung katak yang kurang bersih sehingga masih terdapat sisa dari

larutan sebelumnya yang digunakan sehingga membuat data tidak diperoleh dengan benar.
Sulfas Atropin
Pada hasil praktikum frekuensi control pada lambung menunjukkan 4,5 kontraksi dalam 1
menit dan amplitude control sebesar 5 milimeter. Setelah dilakukan penambahan 1 tetes
sulfas atropine terjadi penurunan frekuensi menjadi 2,5 kontraksi dalam 1 menit sedangkan
terjadi penurunan amplitude menjadi 3,5 milimeter. Disimpulkan dari kedua data, tonus otot
polos lambung mengalami penurunan. Hal ini sesuai dengan dasar teori yaitu sulfas atropine
mempunyai efek antikolinergika khususnya mengurangi tonus dan motilitas saluran lambung
usus juga sekresi getah lambung.

V.

KESIMPULAN

Obat-obatan yang mengandung senyawa adrenalin atau epinefrin akan


memperlambat kontraksi otot polos lambung, contohnya adalah adrenalin.
Obat-obatan yang mengandung senyawa antikolinergika atau parasimpatikolitika
akan memperlambat kontraksi otot polos lambung, contohnya adalah Sulfas
atropine.
Obat-obatan yang mengandung senyawa kolinergika atau parasimpatikomimetika
akan menaikkan kontraksi otot polos lambung, contohnya adalah pilokarpin.

Daftar Pustaka
Guyton, Arthur C. 1994. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran = Textbook of Medical Physiology
7th edition vol. 3. Jakarta : EGC
Sacher, Ronald A. 2002. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium 11th edition.
Jakarta : EGC
Fak. Kedokteran Univ. Sriwijaya. 1995. Catatan Kuliah Farmakologi vol. 2. Jakarta : EGC
Pearce, Evelyn C. 1995. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama
Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta : EGC
An encyclopedia Britannica Company.___. Tyrode Solution. (http://www.merriamwebster.com/medical/tyrode%20solution). Diakses tanggal 7 Oktober 2013 pukul 12.00.