Anda di halaman 1dari 41

1.

ANATOMI DAN FISIOLOGI

Telinga adalah organ pendengaran. Syaraf yang melayani indera ini adalah syaraf
cranial ke delapan atau nervus auditorius. Telinga terdiri dari 3 bagian, yaitu:
telinga luar, telinga tengah dan rongga telinga dalam.
1. Telinga Luar
Telinga luar, yang terdiri dari aurikula (pinna) dan kanalis auditorius eksternus,
dipisahkan dari telinga tengan oleh struktur seperti cakram yang dinamakan
membrana timpani (gendang telinga). Telinga terletak pada kedua sisi kepala
kurang lebih setinggi mata. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh kulit dan
tersusun terutama oleh kartilago, kecuali lemak dan jaringan bawah kulit pada
lobus telinga. Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara dan
perjalanannya sepanjang kanalis auditorius eksternus. Tepat di depan meatus
auditorius eksternus adalah sendi temporal mandibular. Kaput mandibula dapat
dirasakan dengan meletakkan ujung jari di meatus auditorius eksternus ketika
membuka dan menutup mulut. Kanalis auditorius eksternus panjangnya sekitar
2,5 sentimeter. Sepertiga lateral mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa
padat di mana kulit terlekat. Dua pertiga medial tersusun atas tulang yang
dilapisi kulit tipis. Kanalis auditorius eksternus berakhir pada membrana
timpani. Kulit dalam kanal mengandung kelenjar khusus, glandula seruminosa,
yang mensekresi substansi seperti lilin yang disebut serumen. Mekanisme
pembersihan diri telinga mendorong sel kulit tua dan serumen ke bagian luar
tetinga. Serumen nampaknya mempunyai sifat antibakteri dan memberikan
perlindungan bagi kulit.
2. Telinga Tengah
Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus, inkus
stapes. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian, otot, dan ligamen,

yang membantu hantaran suara. Ada dua jendela kecil (jendela oval dan
dinding medial telinga tengah, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga
dalam. Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval, di mana suara dihantar
telinga tengah. Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara. Jendela bulat
ditutupi oleh membrana sangat tipis, dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang
agak tipis, atau struktur berbentuk cincin. anulus jendela bulat maupun jendela
oval mudah mengalami robekan. Bila ini terjadi, cairan dari dalam dapat
mengalami kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula
perilimfe. Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35
mm, menghubngkan telingah ke nasofaring. Normalnya, tuba eustachii
tertutup, namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan
manuver Valsalva atau menguap atau menelan. Tuba berfungsi sebagai drainase
untuk sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan
tekanan atmosfer.
3. Telinga Dalam
Telinga dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. Organ untuk
pendengaran (koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis), begitu juga
kranial VII (nervus fasialis) dan VIII (nervus koklea vestibularis) semuanya
merupakan bagian dari komplek anatomi. Koklea dan kanalis semisirkularis
bersama menyusun tulang labirint. Ketiga kanalis semisi posterior, superior dan
lateral erletak membentuk sudut 90 derajat satu sama lain dan mengandung
organ yang berhubungan dengan keseimbangan. Organ ahir reseptor ini
distimulasi oleh perubahan kecepatan dan arah gerakan seseorang. Koklea
berbentuk seperti rumah siput dengan panjang sekitar 3,5 cm dengan dua
setengah lingkaran spiral dan mengandung organ akhir untuk pendengaran,
dinamakan organ Corti. Di dalam lulang labirin, namun tidak sem-purna
mengisinya, Labirin membranosa terendam dalam cairan yang dinamakan
perilimfe, yang berhubungan langsung dengan cairan serebrospinal dalam otak
melalui aquaduktus koklearis. Labirin membranosa tersusun atas utrikulus,
akulus, dan kanalis semisirkularis, duktus koklearis, dan organan Corti.
(Anatomi dan Fisiologi untuk paramedic. Pearce, C Evelyn. 2002)
2. ASUHAN KEPERAWATAN OTITIS MEDIA
OTITIS MEDIA

1. Pengertian
Otitis media adalah infeksi atau inflamasi pada telinga tengah (Mediastore,2009).
Otitis

media

adalah inflamasi

pada

telinga

tengah

tanpa

mengacu pada etiologi atau patogenesis (Bluestone & Klein,


2007).
Otitis media adalah infeksi telinga tengah yang sering
ditemukan pada anak-anak (NHS,2013). Otitis media adalah
infeksi yang sering terjadi pada anak anak, yang mempengaruhi
kondisi telinga bagian tengah (Alena Wards,2008).
Otitis Media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh
mukosa telinga tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid, dan
sel-sel mastoid. (Djaafar dalam Siew, 2011).
2. Klasifikasi
Otitis media dapat diklasifikasikan menjadi:
1. Otitis Media Akut
Otitis media akut adalah keadaan terdapatnya cairan di dalam
telinga tengah dengan tanda dan gejala infeksi telinga
(penonjolan gendang telinga yang biasanya disertai dengan
nyeri; atau perforasi gendang telinga; sering dengan drainase
purulen), (Betz & Sowden, 2009).
2. Otitis Media Dengan Efulsi
Otitis media dengan efulsi adalah keadaan terdapatnya cairan
di dalam telinga tengah tanpa tanda dan gejala infeksi telinga.
Pada penyakit ini tidak ada agen penyebab definitif yang telah
diidentifikasikan meskipun otitis media dengan efusi lebih
sering terdapat pada anak yang telah sembuh dari otitis
media akut, serta pada mereka yang menderita alergi dan
infeksi virus pada saluran napas atas (Betz & Sowden, 2009).
3. Otitis Media Kronik
Otitis media kronik adalah infeksi kronik telinga tengah yang
dapat terjadi setelah otitis media akuta. Infeksi dapat
menyebar

ke

dalam

prosesus

mastoideus

atau

melalui

tengkorak ke dalam meningen dan otak (Gibson,2003). Dapat


dibedakan dua macam, yaitu bentuk dengan dan tanpa
kolesteatoma.

a. Otitis Media Kronis Tanpa Kolesteatoma


Adalah suatu peradangan kronis selaput lendir telingah
tengah dan mastoid dengan keluarnya cairan (otore)
melalui kerusakan di bagian gendang telinga sentral;
kadang-kadang, sebagai akibat OMA yang tidak sembuh
(lebih lama dari tiga minggu). Kadang-kadang, penyakit ini
merupakan suatu gangguan tersendiri, yaitu terjadi otore
akibat infeksi dari luar melalui suatu kerusakan gendang
telinga

yang

sudah

ada

sebelumnya.

Gangguannya

cenderung akan terus terulang kembali.


Apabila dengan cara pengobatan tersebut, otore tidak
dapat dihentikan , perlu dipertimbangkan kemungkinan
adanya otitis media tuberkulosa. Diagnosisnya sukar
karena jarang sekali basil tuberkulosa dapat dibiak dari
nanah yang keluar dari telinga. Dengan demikian, perlu
pemeriksaan histologis selaput lendir telinga tengah.
b. Kolesteatoma atau benjolan mutiara (tumor mutiara)
Disebabkan oleh pertumbuhan kulit liang telinga atau
lapisan epitel gendang telinga yang masuk ketelinga
tengah atau mastoid. Mengenai patogenesisnya secara
tepat, dalam kurun waktu bertahun-tahun, ada banyak
spekulasi serta banyak macam teori.
Kolesteatoma dapat tumbuh masuk

melalui

pars

flaksida (membran Sharpnell) maupun melalui pars tensa.


Selaput gendang telinga terdesak kedalam dan melekat
pada dinding medial atik atau dengan rangkaian tulang
pendengaran. Akibatnya timbul retraksi berupa kantong
pada gendang telinga, karena epitel mati tertimbun secara
berlapis. Sumbatan debris yang demikian tidak dapat lagi
tumbuh secara alami keluar bersama dengan gendang
telinga, sehingga seolah-olah terperangkap dalam struktur
telinga tengah. Akibat penimbunan epitel yang progresif
itu sumbatan jaringan tulang ini pun mengalami erosi.

Kadang-kadang, proses ini berjalan tanda gejala, namun


sering

timbul

infeksi

sekunder

dengan

keluhan

mengeluarkan cairan telinga yang berbau, gangguan


pendengaran, atau komplikasi yang disebabkan oleh
kerusakan pada n. Fasialis atau labirin. Pada pemeriksaan
otoskopi, ditemukan debris epitel dalam liang telinga.
Dibelakangnya, tampak kantong kolesteatoma dengan
sisik keratin putih. Kadang-kadang, tampak granulasi atau
polip di dalam lubang perforasi (kadang-kadang disebut
pertanda polip)
Kolesteatoma dapat tumbuh ke dalam os pretosum,
bahkan intrakranial. Rasa pusing yang diprovokasi oleh
tekanan pada liang telinga luar merupakan tanda bahwa
ada hubungan terbuka dengan labirin (gejala fistula
positif)
Pengobatan

kolesteatoma

hampir

selalu

mengeluarkannya secara operatif. Pada pasien usia lanjut,


pada

umumnya

pembentukan

kolesteatoma

lambat.

Lekukan yang berupa kantong itu dapat dibersihkan di


bawah mikroskop dengan bantuan alat penghisap secara
teratur.
Adapula

bentuk

kolesteatoma

primer

disebut

kolesteatoma kongenital, yang terbentuk dari sel-sel benih


(kiembladcellen) dalam os petrosis yang dalam sekali.
Dalam hal ini tidak tampak adanya lubang perforasi pada
gendang telinga

Gambar 2.1 Otitis Media Akut dan Otitis Media dengan Efusi
(Corwin,2009. Hal.432)

Gambar 2.2 Otitis Media Kronik (Medicastore,2008)


Otitis media berdasarkan gejalanya dibagi atas otitis media
supuratif dan otitis media non supuratif, di mana masing-masing
memiliki bentuk yang akut dan kronis. Selain itu, juga terdapat
jenis otitis media spesifik, seperti otitis media tuberkulosa, otitis
media sifilitika. Otitis media yang lain adalah otitis media
adhesiva (Djaafar, 2007)
3. Etiologi
Menurut Corwin (2001), otitis media dapat terjadi akibat infeksi
bakteri, biasanya oleh Streptococcus pneumoniae, Haemophilus
influenzae, atau Staphylococcus aureus. Otitis media juga dapat
timbul akibat infeksi virus atau terjadi akibat alergi yang
menyebabkan penimbunan cairan tanpa infeksi.

1. Penyebab Otitis Media Akut


a. Bakteri
Bakteri piogenik merupakan penyebab OMA yang tersering.
Menurut penelitian, 65-75% kasus OMA dapat ditentukan
jenis bakteri piogeniknya melalui isolasi bakteri terhadap
kultur cairan atau efusi telinga tengah. Kasus lain tergolong
sebagai

non-patogenik

karena

tidak

ditemukan

mikroorganisme penyebabnya. Tiga jenis bakteri penyebab


otitis media tersering adalah Streptococcus pneumoniae
(40%), diikuti oleh Haemophilus influenzae (25-30%) dan
Moraxella catarhalis (10-15%). Kira-kira 5% kasus dijumpai
patogen-patogen yang lain seperti Streptococcus pyogenes
(group A beta-hemolytic), Staphylococcus aureus, dan
organisme

gram

negatif.

Staphylococcus

aureus

dan

organisme gram negatif banyak ditemukan pada anak dan


neonatus yang menjalani rawat inap di rumah sakit.
Haemophilus influenzae sering dijumpai pada anak balita.
Jenis mikroorganisme yang dijumpai pada orang dewasa
juga

sama

dengan

yang

dijumpai

pada

anak-anak

(Kerschner, 2007).
b. Virus
Virus juga merupakan penyebab OMA. Virus dapat dijumpai
tersendiri atau bersamaan dengan bakteri patogenik yang
lain. Virus yang paling sering dijumpai pada anak-anak,
yaitu respiratory syncytial virus (RSV), influenza virus, atau
adenovirus (sebanyak 30-40%). Kira-kira 10-15% dijumpai
parainfluenza virus, rhinovirus atau enterovirus. Virus akan
membawa dampak buruk terhadap fungsi tuba Eustachius,
menganggu

fungsi

imun

lokal,

meningkatkan

adhesi

bakteri, menurunkan efisiensi obat antimikroba dengan


menganggu

mekanisme

2007).
2. Penyebab Otitis Media Kronik

farmakokinetiknya

(Kerschner,

Infeksi telinga kronis bisa disebabkan oleh adanya infeksi


telinga berulang atau infeksi telinga akut yang tidak sembuh
sempurna. Otitis media kronis juga bisa terjadi karena adanya
lubang pada gendang telinga yang tidak dapat menyembuh,
misalnya setelah trauma atau infeksi akut telinga tengah.
Selain itu bisa juga akibat trauma panas, kimia atau ledakan
(Richard dalam Medicastore, 2008).

Gambar 2.3 Perforasi Gendang Telinga (Medicastore,2008)


3. Penyebab Otitis Media dengan Efusi
Pada penyakit ini tidak ada agen penyebab definitif yang telah
diidentifikasikan meskipun otitis media dengan efusi lebih
sering terdapat pada anak yang telah sembuh dari otitis
media akut, serta pada mereka yang menderita alergi dan
infeksi virus pada saluran napas atas (Betz & Sowden, 2009).
Adanya infeksi saluran napas (seperti rinitisdan adenoiditis)
dan disfungsi saluran tuba Eustachius mempunyai peranan
penting

pada

timbulnya

OME.

Bakteri

dan

hasilnya

(endoksitosin) dapat masuk ke telinga tengah dan dapat


menyebabkan reaksi peradangan, sehingga timbul eksudat.
Cairan di telinga tengah pada OME kronis bisa saja sangat
kental dan ditemukan sisa-sisa bakteri dan endoksitosin.
Anak-anak dengan palatoskisis (celah palatum) dan sindrom
Down mempunyai predisposisi untuk OME. Gejala klinis yang
penting

adalah

terdapat

rasa

kurangnya
tekanan

di

pendengaran.
dalam

Kadng-kadang

telinga

(Broek

&

Feenstra,2010)
Menurut Alena Wards (2008) penyebab otitis media pada anak
diantaranya adalah:
1. Demam, flu dan infeksi dada
2. Prematur, lahir lebih awal.

3. Merokok disekitar anak-anak.


4. Patofisiologi
Otitis media sering diawali dengan infeksi saluran napas seperti radang
tenggorokan / pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran eustachius.
Saat bakteri melalui saluran eustachius, bakteri bisa menyebabkan infeksi saluran
tersebut. Sehingga terjadilah pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya
saluran, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri.
Sel darah putih akan melawan sek-sel bakteri dengan mengorbankan diri
mereka sendiri, sedikitnya terbentuk nanah dalam telinga tengah. Pembengkakan
jaringan sekitar sel eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel jika
lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena
gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan
organ pendengaran di telinga dalam bergerak bebas. Cairan yang terlalu banyak
tersebut, akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya.
(Mansjoer,1999 dalam Leenoos,2011).
5. Manifestasi Klinis
1. Otitis Media Akut
Gejala klinis OMA bergantung pada stadium penyakit serta
umur pasien. Pada anak yang sudah dapat berbicara keluhan
utama adalah rasa nyeri di dalam telinga, di samping suhu
tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek
sebelumnya. Pada anak yang lebih besar atau pada orang
dewasa, selain rasa nyeri, terdapat gangguan pendengaran
berupa rasa penuh di telinga atau rasa kurang mendengar.
Pada bayi dan anak kecil, gejala khas OMA adalah suhu tubuh
tinggi dapat mencapai 39,5C (pada stadium supurasi), anak
gelisah dan sukar tidur, tiba-tiba anak menjerit waktu tidur,
diare, kejang-kejang dan kadang-kadang anak memegang
telinga yang sakit. Bila terjadi ruptur membran timpani, maka
sekret mengalir ke liang telinga, suhu tubuh turun dan anak
tidur tenang (Djaafar, 2007).

Penilaian klinik OMA digunakan untuk menentukan berat


atau ringannya suatu penyakit. Penilaian berdasarkan pada
pengukuran temperatur, keluhan orang tua pasien tentang
anak yang gelisah dan menarik telinga atau tugging, serta
membran timpani yang kemerahan dan membengkak atau
bulging. Menurut Dagan (2003) dalam Titisari (2005), skor
OMA adalah seperti berikut:

Sko
r

Suhu

<38,0

38,038,5
38,639,0
>39,0

2
3

Gelisa
h

Tarik
Teling
a

Kemerahan
pada

Bengkak pada

Membran

Membran Timpani

Timpani
Tidak ada

Tidak ada

Ringan

Ringan

Sedang

Sedang

Sedang

Berat

Berat

Berat, termasuk otore

Tidak
ada
Ringan

Tidak
ada
Ringan

Sedang
Berat

2. Otitis Media Kronik


Gejala dapat minimal, dengan berbagai macam derajat
kehilangan pendengaran dan terdapat otorea intermitten atau
perisisten yang berbau busuk. Biasanya tidak ada nyeri
kecuali pada kasus mastoiditis akut, dimana daerah postaurikuler menjadi nyeri tekan dan bahkan merah dan edema.
Kolesteatoma, sendiri biasanya tidak menyebabkan nyeri.
Evaluasi otoskopi membrana timpani memperlihatkan adanya
perforasi dan kolesteatoma dapat terlihat sebagai masa putih
di belakang membrana timpani atau keluar ke kanalis
eksternus melalui luang perforasi. Kolesteatoma dapat juga
tidak terlihat pemeriksaan oleh ahli otoskopi. Hasil audiometri
pada kasus kolesteatoma sering memperlihatkan kehilangan
pendengaran konduktif atau campuran (Smeltzer, 2002).
3. Otitis Media dengan Efusi
Gejala dan tanda otitis media efusi berupa:

1. Rasa penuh di telinga


2. Kurang pendengaran,
3. Membran timpani suram, keabuan atau kemerahan,
4. Kadang-kadang tampak adanya gelembung udara atau cairan di kavum
timpani,
5. Membran timpani retraksi atau terdorong ke luar atau pada posisi normal,
6. Membran timpani menipis/menebal, vaskularisasi bertambah.
(IHRC,2012)
6. Pemeriksaan Penunjang
Adapun pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan pada
penderita otitis media menurut Wicaksono (2013) antaralain
adalah;
1. Otoscope untuk melakukan auskultasi pada bagian telinga
luar
2. Timpanogram untuk mengukur keseuaian dan kekakuan
membrane timpani
3. Kultur dan uji sensitifitas;

dilakukan

bila

dilakukan

timpanosentesis (Aspirasi jarum dari telinga tengah melalui


membrane timpani).
4. Rontgen mastoid atau CT scan kepala dilakukan untuk
mengetahui

adanya

penyebaran

infeksi

ke

struktur

di

sekeliling telinga.
5. Tes Audiometri dilakukan untuk mengetahui pendengaran
menurun.
6. X ray terhadap kolesteatoma dan kekaburan mastoid

7. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan medis
a. Pemberian obat Antibiotik
1) Tujuan
Tujuan pemberian antibiotic, untuk melumpuhkan atau menghilangkan
bakteri.
2) Efek samping

Jika diberikan secara kontinyu dan tidak teratur, akan menyebabkan


resistensi bakteri, dan akan menimbulkan alergi baru jika antibiotik tidak
cocok dengan tubuh.
3) Indikasi
Lebih banyak diberikan pada penderita peradangan yang disebabkan oleh
bakteri.
4) Kontra indikasi
Berbahaya diberikan pada penderita bronchitis, asma dan aritmia.
b) Pemberian obat Analgesik
1) Tujuan
Untuk menghilangkan nyeri.
2) Efek samping
Umumnya Asam Mefenamat dapat diberikan dengan baik pada dosis yang
dianjurkan, Pada beberapa kasus pernah dilaporkan terjadinya rasa mual,
muntah, diare, pada penggunaan jangka panjang yang terus menerus dengan
dosis 2000 mg atau lebih sehan dapat mengakibatkan agranulositosis dan
hemolitik anemia.
3) Indikasi
Untuk menghilangkan segala macam nyeri dan ringan sampai sedang dalam
kondisi akut dan kronis termasuk nyeri karena trauma.
4) Kontraindikasi
Pada penderita tukak lambung pendenta asma, penderita ginjal dan
penderita yang hipersensitif.
2. Penatalaksanaan keperawatan
a.

Mengkaji nyeri.

b. Mengkompres hangat.
c.

Mengurangi kegaduhan pada lingkungan klien.

d. Instruksikan kepada keluarga tentang komunikasi yang efektif.


e.

Memberikan informasi segala yang terkait dengan penyakit otitis media.

8. Komplikasi
Menurut Wicaksono (2013), komplikasi yang dapat terjadi
pada antaralain:
a. Otitis Media Akut
Komplikasi yang serius adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Infeksi pada tulang di sekitar telinga tengah (mastoiditis atau petrositis)


Labirintitis (infeksi pada kanalis semisirkuler)
Kelumpuhan pada wajah
Tuli
Peradangan pada selaput otak (meningitis)
Abses Otak

b. Otitis Media Kronis


1. Tromboplebitis vaskuler
2. Komplikasi dimana terbentuknya kolesteatom berupa :
a. erosi canalis semisirkularis
b. erosi canalis tulang
c. erosi tegmen timpani dan abses ekstradural
d. erosi pada permukaan lateral mastoid dengan timbulnya abses
subperiosteal
e. erosi pada sinus sigmoid
Menurut Shanbough (2003) komplikasi OMK terbagi atas:
a. Komplikasi Intratemporal
a.
b.
c.
d.
e.

Perforasi membrane timpani.


Mastoiditis akut.
Parese nervus fasialis.
Labirinitis.
Petrositis.

b. Komplikasi Ekstratemporal, Abses subperiosteal.


c. Komplikasi Intrakranial.
a. Abses otak.
b. Tromboflebitis.
c. Hidrocephalus otikus.

d. Empiema subdural/ ekstradural

OTITIS

Virus
Bakteri

1. infeksi telinga

berulang
2. infeksi telinga akut
yang tidak sembuh
sempurna
3. adanya lubang pada
gendang telinga yang
tidak dapat
menyembuh

1. infeksi saluran
napas
2. disfungsi
saluran tuba
Eustachius

Asuhan Keperawatan
3.1 Pengkajian
a. Anamnesa
Nama klien, No. Rek. Media, Usia (Otitis media sering dijumpai pada anak
anak di bawah usia 15 tahun), Tinggi dan berat badan, Tanggal dan waktu
kedatangan, Orang yang dapat dihubungi.
b. Keluhan Utama
Menanakan alasan klien berobat ke rumah sakit dan menanyakan apa saja
keluhan yang ia rasakan.
c. Riwayat Kesehatan Dulu
menanyakan apakah klien pernah mengalami otitis media sebelumnya.
d. Riwayat kesehatan keluarga
menanyakan apakah ada anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit
ini sebelumnya
e. Riwayat penyakit sekarang
tanyakan pada klien gejala-gejala apa saja yang dirasakannya saat ini.
f. Pengkajian pola Fungsional Gordon
1. Pola Persepsi Manajemen Kesehatan
a. Tanyakan kepada klien pendapatnya mengenai kesehatan dan
penyakit. Apakah pasien langsung mencari pengobatan atau
menunggu sampai penyakit tersebut mengganggu aktivitas pasien.
b. Tanyakan tentang penggunaan obat-obat tertentu (misalnya
antidepresan

trisiklik,

antihistamin,

fenotiasin,

inhibitor

monoamin oksidase ( MAO), antikolinergik dan antispasmotik


dan obat anti-parkinson.
c. Tanyakan tentang penggunaan alcohol, dan tembakau untuk
mengetahui gaya hidup klien
2. Pola Nutrisi Metabolik
a. Tanyakan bagaimana pola dan porsi makan sehari-hari klien (pagi,
siang dan malam )
b. Tanyakan bagaimana nafsu makan klien, apakah ada mual muntah,
pantangan atau alergi
c. Tanyakan apakah klien mengalami gangguan dalam menelan
d. Tanyakan apakah klien sering mengkonsumsi buah-buahan dan
sayur-sayuran yang mengandung vitamin antioksidant
3. Pola Eliminasi
a. Tanyakan bagaimana pola BAK dan BAB, warna
karakteristiknya
b. Berapa kali miksi dalam sehari, karakteristik urin dan defekasi

dan

c. Adakah masalah dalam proses miksi dan defekasi, adakah


penggunaan alat bantu untuk miksi dan defekasi.
4. Pola Aktivitas Latihan
a. Perubahan aktivitas biasanya/hobi sehubungan dengan gangguan
penglihatan. Klien akan mengalami kesulitan atau keterbatasan
dalam beraktivitas sehubungan dengan luas lapang pandangnya
yang berkurang dan kekeruhan pada matanya akibat dari
glaukoma yang dideritanya.
b. Kekuatan Otot : Biasanya klien tidak ada masalah dengan
kekuatan ototnya karena yang terganggu adalah pendengarannya.
c. Keluhan Beraktivitas : kaji keluhan klien saat beraktivitas.
5. Pola Istirahat - Tidur
a. Kebiasaan : tanyakan lama, kebiasaan dan kualitas tidur pasien
b. Masalah Pola Tidur : Tanyakan apakah terjadi masalah
istirahat/tidur

yang

berhubungan

dengan

gangguan

pada

telinganya
c. Bagaimana perasaan klien setelah bangun tidur? Apakah merasa
segar atau tidak?
6. Pola Kognitif - Persepsi
a. Kaji status mental klien
b. Kaji kemampuan berkomunikasi dan kemampuan klien dalam
memahami sesuatu
c. Kaji tingkat anxietas klien berdasarkan ekspresi wajah, nada
bicara klien. Identifikasi penyebab kecemasan klien
d. Pendengaran : menuru karena masuknya bakteri patogenik ke
dalam telinga tengah yang normalnya adalah steril.
e. Penglihatan : Baik, biasanya klien yang mengalami gangguan
pendengaran, tidak berpengaruh terhadap penglihatannya.
f. Kaji apakah klien mengalami vertigo
g. Kaji nyeri : Gejalanya yaitu ketidaknyamanan ringan / atau mata
berair. Nyeri tiba-tiba / berat menetap atau tekanan pada atau
sekitar mata, dan sakit kepala.
7. Pola Persepsi Dan Konsep Diri
a. Tanyakan pada klien bagaimana klien menggambarkan dirinya
sendiri, apakah kejadian yang menimpa klien mengubah gambaran
dirinya
b. Tanyakan apa yang menjadi pikiran bagi klien, apakah merasa
cemas, depresi atau takut
c. Apakah ada hal yang menjadi pikirannya

8. Pola Peran Hubungan


a. Tanyakan apa pekerjaan pasien
b. Tanyakan tentang system pendukung dalam kehidupan klien
seperti: pasangan, teman, dll.
c. Tanyakan apakah ada masalah keluarga berkenaan dengan
perawatan penyakit klien
9. Pola Seksualitas/Reproduksi
a. Tanyakan masalah seksual klien yang berhubungan dengan
penyakitnya
b. Tanyakan kapan klien mulai menopause dan masalah kesehatan
terkait dengan menopause
c. Tanyakan apakah klien mengalami kesulitan/perubahan dalam
pemenuhan kebutuhan seks
10. Pola Koping-Toleransi Stres
a. Tanyakan dan kaji perhatian utama selama dirawat di RS
( financial atau perawatan diri )
b. Kaji keadan emosi klien sehari-hari dan bagaimana klien
mengatasi kecemasannya (mekanisme koping klien ). Apakah ada
penggunaan obat untuk penghilang stress atau klien sering berbagi
masalahnya dengan orang-orang terdekat.
11. Pola Keyakinan-Nilai
a. Tanyakan agama klien dan apakah ada pantangan-pantangan
dalam beragama serta seberapa taat klien menjalankan ajaran
agamanya. Orang yang dekat kepada Tuhannya lebih berfikiran
positif.
g. Pemeriksaan Fisik
1. Tanda tanda vital : ukur suhu, nadi, tekanan darah, pernapasan
2. Kaji adanya perilaku nyeri verbal dan non verbal
3. Kaji adanya pembesaran kelenjar limfe di daerah leher
4. Kaji kemungkinan tuli
5. Pemeriksaan fisik dilakukan dari hair to toe dan berurutan berdasarkan
system.
h. Pengkajian Persistem
Tanda-tanda vital : Suhu meningkat, keluarnya otore
B2 ( Blood )
: Nadi meningkat
B3 (Brain)
: Nyeri telinga, perasaan penuh dan pendengaran menurun,
vertigo, pusing, refleks kejut
B5 (Bowel)
: Nausea vomiting
B6 (Bone)
: Malaise, alergi

NANDA
1. Nyeri akut

NIC
Tingkat kenyamanan
Indikator:
Definisi : Serangan
Melaporkan
mendadak atau
kondisi fisik yang
perlahan dari
membaik
intensitas ringan
Melaporkan
sampai berat yang
di antisipasi atau
diprediksi durasi

kondisi psikologis
yang membaik
Mengekspresikan

nyeri kurang dari 6

kegembiraan

bulan

terhadap

Batasan
karakteristik:
peningkata
n tekanan
intra okuler
(TIO) yang
ditandai
dengan
mual dan
muntah.
Adanya
laporan
nyeri
secara
verbal dan
non verbal
Nafsu
makan

lingkungan sekitar
Mengekspresikan
kepuasan dengan
control nyeri
Kontrol Nyeri
Indikator:
Mengenal factor
penyebab
Mengenal serangan
nyeri
Mengenal gejala
nyeri
Melaporkan
control nyeri
Tingkat Nyeri
Indikator:
Melaporkan nyeri
Frekuensi nyeri
Ekspresi wajah
karena nyeri
Perubahan tandatanda vital

NOC
Manajemen nyeri
Aktivitas :
Kaji tipe intensitas,
karakteristik dan lokasi
nyeri
Kaji tingkatan skala nyeri
untuk menentukan dosis
analgesik
Anjurkan istirahat ditempat
tidur dalam ruangan yang
tenang
Atur sikap fowler 300 atau
dalam posisi nyaman.
Ajarkan klien teknik
relaksasai dan nafas dalam
Anjurkan klien
menggunakan mekanism
koping yang baik disaat
nyeri terjadi
Hindari mual, muntah
karena ini akan
meningkatkan TIO
Alihkan perhatian pada
hal-hal yang
menyenangkan
Hilangkan atau kurangi
sumber nyeri
Pemberian analgesik
Berikan analgesik sesuai
order dokter.
Perhatikan resep obat,
nama pasien, dosis dan rute

menurun
Mual,

pemberian secara benar


sebelum pemberian obat.

muntah

2.Gangguan

Kompensasi

persepsi sensori -

Laku Pendengaran
Indikator:
Pantau gejala

perseptual
pendengaran

Tingkah Peningkatan Komunikasi: Defisit

kerusakan
pendengaran
Menggunakan
layananan
pendukung untuk
pendegaran yang
lemah
Menghilangkan
gangguan
Menggunakan
bahasa isarat
Membaca gerakan
bibir
Memperoleh alat
bantu pendengaran
Mengingatkan
yang lain untuk
menggunakan
teknik yang
menguntungkan
pendengaran
Memakai alat
bantu pendengaran

Pendengaran
Aktivitas:
Janjikan untuk
mempermudah
pemeriksaan pendengaran
sebagaimana mestinya
Memfasilitasi penggunaan
alat bantu sewajarnya
Beritahu pasien bahwa
suara akan terdengar
berbeda dengan memakai
alat bantu
Jaga kebersihan alat bantu
periksa secara rutin baterai
alat bantu
Mendengar dengan penuh
perhatian
Menahan diri dari berteriak
pada pasien yang
mengalami gangguan
komunikasi
Memfasilitasi lokasi
penggunaan alat bantu
Memfasilitasi letak telepon
bagi gangguan
pendengaran sebagaimana

(misal, lampu pada


telepon, alarm
kebakarab, bel
pintu, TDD
Menggunakan alat
bantu dengar
dengan benar
Gambaran tubuh
Indikator:
Gambaran internal
Pribadi
Sesuai antara
kenyataan, ideal,
dan perilaku tubuh
Deskripsi pada
bagian tubuh yang
terkena dampak
Menyesuaikan diri
dengan berubahnya
penampilan pisik
Menyesuaikan diri
dengan berubahnya
fungsi tubuh
Menyesuaikan diri
dengan
berubahnnya status
kesehata
Kesediaan untuk
menggunakan
strategi untuk
meningkatkan

mestinya
Pembentukan kognisi
Aktivitas:
Bantu pasien untuk
menerima kenyataan
bahwa statemen diri berada
di tengah-tengah timbulnya
emosi
Bantu pasien memahami
akan ketidakmapuannya
untuk menggapai perilaku
yang diinginkan sering
disebabkan oleh statemen
diri yang tidak masuk akal
Tunjukkan bentuk-bentuk
kelainan fungsi berpikir
(misal, pikiran yang
bertentangan, terlalu
banyak menggeneralisasi,
penguatan, dan
personalisasi)
Bantu pasien mengenali
emosi yang menyakitkan
yang ia rasakan
Bantu pasien mengenal
pemicu yang diterima
(misal, situasi, kejadian,
dan interaksi dengan orang
lain) yang membuat stress
Bantu pasien untuk

penampilan dan

mengenal interpretasi

fungsi tubuh

pribadi yang salah mengeni


faktor pemicu yang
diterima
Bantu pasien untuk

mengganti interpretasi
yang salah dengan yang
lebih realistis berdasarkan
situasi yang membuat stres,
kejadian, dan interaksi

2. ASUHAN KEPERAWATAN OTOSKLEROSIS


OTOSKLEROSIS
1. Pengertian
Otosklerosis merupakan kondisi herediter yang terjadi pada
osikuli tengah, paling mencolok pada stapes. Perubahan tulang
menyebabkan

fiksasi

osikuli

dan

kehilangan

pendengaran

konduktif (Brooker,2008).
Otosklerosis adalah bentuk tuli progresif yang tidak diketahui
penyebabnya. Prosesnya melibatkan pertumbuhan tulang baru
yang abnormal di dalam labirin. Pertumbuhann ini mencegah
stapes bergetar dengan semestinya (Delmar,2003).
Otosklerosis adalah pertumbuhan tulang abnormal di telinga
tengah

dan

terutama

memengaruhi

tulang

stapes

kecil.

Akibatnya, tulang stapes tidak dapat menghantarkan suara


sebagaimana fungsinya. Kondisi ini menyebabkan gangguan
pendengaran perlahan pada awalnya, tetapi terus memburuk
secara bertahap (Wikipedia,2014).
Otosklerosis merupakan pengendapan tulang yang abnormal
di

dalam

footplace

telinga
stapes.

tengah

sehingga

Penyebab

menghalangi

pertumbuhan

mobilitas

tulang

yang

berlebihan ini tidak jelas, kendati terdapat predileksi autosomal


dominan familial dengan frekuensi yang beragam. Proses

terjadinya oterosklerosis berlangsung lambat tapi progresif, dan


akhirnya menimbulkan kehilangan pendengaran yang nyata
(Mitchell,et.al.2006).
2. Etiologi
Penyebab otosklerosis masih belum diketahui. Keadaan ini bisa
herediter atau mungkin berhubungan dengan defisiensi vitamin
atau otitis media (Weller,2005). Ada beberapa kasus yang
menunjukan bahwa penyakit ini mungkin diturunkan dalam
keluarga (Wikipedia,2014).
Menurut Wijayaningsih (2013) penyebab otosklerosis belum
diketahui

pasti

tetapi

ada

kemungkinan

beberapa

faktor dibawah ini:


1. Berdasarkan Anatomi : tulang labirin terbuat dari enchondral
dimana terjadosedikit perubahan selama kehidupan, tapi
terkadang pada tulang pada tulangkeras ini terdapat pada
area kartilago yang oleh karena faktor non spesifik tertentu
diaktifkan untuk membentuk tulang spongios baru. Salah
satu areatersebut adalah fissula ante fenestram yang berada
di depan oval window yangmerupakan predileksi untuk
otospongiosis tipe stapedium.
2. Herediter, sekitar 50% otosklerosis memiliki riwayat keluarga.
3. Ras, kulit putih lebih banyak dari pada kulit hitam.
4. Jenis kelamin : perempuan dua kali lebih banyak dari pada
laki-laki5)
5. Usia : ketulian biasanya diawali pada usia 20 sampai 30
tahun dan jarangsebelum usia 10 tahun dan sesudah 40
tahun.6)
6. Faktor lain

seperti

kehamilan,

menopause,

kecelakaan,

setelah operasi besar


3. PATOFISIOLOGI
Menurut Brunner & Suddarth (2002) dalam Wicaksono (2013),
patofisiologi yang terjadi pada otosklerosis adalah

Patofisiologi dari otosklerosis sangat kompleks. Kunci utama lesi


dari

otosklerosis

adalah

adanya

multifokal

area

sklerosis

diantara tulang endokondral temporal.


Infeksi dapat menimbulkan perubahan lapisan mukosa telinga
tengah. Perubahan ini terjadi berangsur-angsur, tidak langsung.
Mula-mula tuba eustachius tersumbat, sehingga penderita
merasa pendengarannya terganggu. Lalu terjadi perubahan
pada lapisan mukosa di dalam telinga, terbentuk ran di rongga
telinga, dan gendang telinga membengkak. Penderita akan
merasa sangat sakit dengan demam tinggi dan nyeri di telinga
semakin bertambah. Kalau cairan tidak segera dikeluarkan,
gendang

telinga

bisa

pecah

atau

robek

(perforasi),

dan

meningalkan lubang.
Tuli bisa terjadi. Berdasarkan bagian yang mengalami
gangguan atau kerusakan, tuli dibedakan menjadi tuli kondutif
dan tuli saraf. Pada tuli konduktif, pendengaran menjadi
terganggu karena ada gangguan hantaran suara akibat kelainan
infeksi di telinga hampir selalu menimbulkan tuli konduktif.
Walaupun

gendang

teling

pendengaran
Otosklerosis

masih

utuh,

bisa
merupakan

suatu

tulang-tulang
terputus.

penyakit

keturunan

dan

merupakan penyebab tersering dari tuli kondusif progresif pada


dewasa

yang

gendang

telinganya

normal.

Kekurangan

pendengaran yang kongenital, dimana telinga luar dan telinga


tengah masih ada, bisa diakibakan oleh efek toksik. Otosklerosis
diperkirakan disebabkan oleh adanya pembentukan baru tulang
spongiosum yang abnormal, khususnya sekitar jendela ovalis
yang mengakibatkan fiksasi pada stapes sehingga efisiensi
transmisi suara menjadi terhambat karena stapes tidak dapat
bergetar dan menghantarkan suara yang dihantarkan dari
maleus dan inkus ke telinga dalam. Penyebab kekurangan
pendengaran di telinga tengah ialah membran tympai yag

abnormal, misalnya penebalan yang hebat, retraksi, skarifikasi


atau

perforasi.

perubahan
mobilitas

Kekakuan

apapun

di

tulang-tulang

telinga

tulang-tulang

tengah

pendengaran

pendengaran
yang

atau

menyebabkan

terganggu,

sekresi,

granulasi atau polip yang diakibatkan oleh otitis media yang


kronik. Kelainan kongenital yang berupa tidak terbentuknya satu
atau lebih dari tulang pendengaran. Perubahan-perubahan
patologik dari kapsul labyrinth yang menyebabkan stapes kaku.
Kelainan ini dikenal dengan nama otosklerosis.
Ada 2 fase patologik yang dapat diidentifikasi dari penyakit
ini yaitu :
1. Fase awal otospongiotic
Gambaran histologis: terdiri dari histiosit, osteoblas,
osteosit yang merupakan grup sel paling aktif. Osteosit mulai
masuk ke pusat tulang disekitar pembuluh darah sehingga
menyebabkan pelebaran lumen pembuluh darah dan dilatasi
dari sirkulasi. Perubahan ini dapat terlihat sebagai gambaran
kemerahan

pada

membran

timpani. Schwartze

signberhubungan dengan peningkatan vascular dari lesi yang


mencapai daerah permukaan periosteal.
Dengan keterlibatan osteosit yang semakin banyak,
daerah ini menjadi kaya akan substansi dasar amorf dan
kekurangan struktur kolagen yang matur dan menghasilkan
pembentukkan spongy bone. Penemuan histologik ini dengan
pewarnaan

Hematoksilin

dan

Eosin

dikenal

dengan

ketika

osteoklas

secara

nama Blue Mantles of Manasse.


2. Fase akhir otosklerotik
Fase

otosklerotik

dimulai

perlahan diganti oleh osteoblas dan tulang sklerotik yang


lunak dideposit pada area resorpsi sebelumnya. Ketika proses
ini terjadi pada kaki stapes akan menyebabkan fiksasi kaki
stapes pada fenestra ovale sehingga pergerakan stapes

terganggu dan oleh sebab itu transmisi suara ke koklear


terhalang. Hasil akhirnya adalah terjadinya tuli konduktif
Jika otosklerosis hanya melibatkan kaki stapes, hanya
sedikit fiksasi yang terjadi. Hal seperti ini dinamakan biscuit
footplate. Terjadinya tuli sensorineural pada otosklerosis
dihubungkan

dengan

kemungkinan

dilepaskannya

hasil

metabolisme yang toksik dari luka neuroepitel, pembuluh


darah

yang

terdekat,

hubungan

langsung

dengan

lesi

otosklerotik ke telinga dalam. Semuanya itu menyebabkan


perubahan

konsentrasi

elektrolit

dan

mekanisme

dari

membran basal.
Kebanyakan kasus dari otosklerosis menyebabkan tuli
konduktif atau campur. Untuk kasus dari sensorineural murni
dari

otosklerosis

itu

sendiri

masih kontroversial.

Kasus

sensorineural murni karena otosklerosis dikemukakan oleh


Shambaugh Sr. tahun 1903. Tahun 1967, Shambaugh Jr.
menyatakan 7 kriteria untuk mengidentifikasi pasien yang
menderita tuli sensorineural akibat koklear otosklerosis :
a. Tanda Schwartze yang positif pada salah satu/ke dua
telinga
b. Adanya keluarga yang mempunyai riwayat otosklerosis
c. Tuli sensorineural progressive pendengaran secara
simetris, dengan fiksasi stapes pada salah satu telinga
d. Secara tidak biasa adanya diskriminasi terhadap ambang
dengar untuk tuli sensorineural murni
e. Onset kehilangan pendengaran pada usia yang sama
terjadinya fiksasi stapes dan berjalan tanpa etiologi lain
yang diketahui
f. CT-scan pada pasien dengan satu atau lebih kriteria yang
menunjukan demineralisasi dari kapsul koklear
g. Pada timpanometri ada fenomena on-off.
4. MANIFESTASI KLINIS

Tinnitus adalah bunyi abnormal yang didengar penderita yang


berasal

dari

dalam

berdengung.Ini

bisa

kepala,biasanya
karena

disebut

berbagai

juga

telinga

keadaan,tinnitus

merupakan gejala medis yang agak membingungkan untuk di


evaluasi,karena patologi hanya dapat dideteksi pada sekitar
5%kesempatan.Dalam sebagian besar kasus,tak ada terapi
yang tersedia.Kadang-kadang orang akan menyalahkan denyut
jantungnya bagi bising di dalam telinga.
Ini bisa juga dikacaukan dengan bunyi vaskular,kongesti vena
atau

pulsasi

sekunder

terhadap

masalah

kardio

sistemik.Tinnitus dibagi atas tinnitus objektif,bila suara tersebut


dapat didengar juga oleh pemeriksa atau dengan auskultasi di
sekitar telinga dan tinnitus subjektif,bila suara tersebut hanya
didengar oleh penderita dan jenis ini sering terjadi.
Tinnitus merupakan gejala yang sering terjadi dan dapat
tidak dikenalai oleh kebanyakan orang sampai penyebabnya
ditemukan dan dapat ditentramkan bahwa tidak ada problema
yang gawat.Tinnitus dapat timbul pada usia kapanpun,tetapi
gejala ini sering timbul pada usia 40-80 tahun.Belakangan ini
besar daya tarik yang dipusatkan pada gejala ini,dan telah
diperkenalkan cara terapi baru yang memberikan harapan.
Tanda dan gejala otosklerosis :
1.
Pedengaran menurun secara progresif
2.
Sulit mendengarsuara yang lembut dan nada rendah
(tuli 30-40 db)
3.
Vertigo
Brunner & Suddarth (2002) dalam Wicaksono (2013)
5. Pemeriksaan Diagnosis
Menurut Staf Pengajar Ilmu Penyakit THT FKUI (2002), pemeriksaan
diagnostik untuk otosklerosis yaitu:
Anamnesa
Kehilangan pendengaran dan tinnitus adalah gejala yang
utama. Penurunan pendengaran berlangsung secara progressif
dengan angka kejadian bervariasi, tanpa adanya penyebab
trauma atau infeksi.. Tinnitus merupakan variasi tersering

sebanyak 75 % dan biasanya berlangsung menjadi lebih parah


seiring

dengan

Umumnya

derajat

dizziness

tingkat
dapat

penurunan
terjadi.

pendengaran.

Pasien

mungkin

mendeskripsikan seperti vertigo, pusing yang berputar, mual


dan

muntah.

Dizziness

yang

hanya

diasosiasikan dengan

otosklerosis terkadang menunjukan proses otosklerosis pada


telinga dalam. Adanya dizziness ini sulit untuk dibedakan
dengan kausa lain seperti sindrom Menieres. Pada 60% kasus,
riwayat

keluarga

pasien

yang

terkena

otosklerosis

dapat

ditemukan.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik akan normal pada kebanyakan pasien.tes
pertama yang harus dilakukan adalah audiogram,ini mencakup
hantaran

tulang

dan

udara

nada

murni

standar.jika

abnormal,maka tes tempat lesi audimetrik lebih lanjut harus


dilakukan unutk menentukan apakah masalahnya koklea atau
retrokoklea. Membran timpani biasanya normal pada sebagian
besar kasus. Hanya sekitar 10% yang menunjukan Schwartze
Sign. Pemeriksaan garputala menunjukan kesan tuli konduktif.
( Rinne negatif ) Pada fase awal dari penyakit tuli konduktif
didapat pada frekuensi 256 Hz. Adanya proses fiksasi stapes
akan memberikan kesan pada frekuensi 512 Hz. Akhirnya pada
frekuensi 1024 Hz akan memberi gambaran hantaran tulang
lebih kuat daripada hantaran udara. Tes Weber menunjukan
lateralisasi ke arah telinga yang memiliki derajat conduting
hearing loss lebih besar. Pasien juga akan merasa lebih baik
dalam ruangan yang bising (Paracusis Willisi).
Pemeriksaan Penunjang
Politom elektronistagmografi(ENG) atau

skan

CT

os

temporale.Pasien tinnitus dan tuli kondulktif bisa mempunyai


penjelasan yang jelas untuk tinnitus yaitu serumaen yang
menyumbat,otitis

eksterna

atau

perforasi

membarana

timpani,semuanya akan jelas pada pemeriksaan yanglebih


lanjut. Tinnitus bisa juga disebabkan oleh efusi atau infeksi
telinga tengah.
Tinnitus adalah bunyi abnomal yang didengar penderita yang
bersal

dari

berdengung.

dalam
Ini

kepala,

bisa

biasanya

karena

disebut

berbagai

juga

keadaan,

telinga
tinnitus

merupakan gejala medis yang agak membingungkan untuk di


evaluasi, karena patologi hanya dpat dideteksi pda sekitar 5%
kesempatan
a. Audiogram
Kunci penelusuran secara objektif dari otosklerosis didapat
dari audiogram. Gambaran biasanya konduktif, tetapi dapat
juga mixed atau sensorineural. Tanda khas dari otosklerosis
adalah

pelebaran

air-bone

gap

secara

perlahan

yang

biasanya dimulai dari frekuensi rendah. Adanya Carharts


Notch adalah diagnosis secara abstrak dari otosklerosis ,
meskipun dapat juga terlihat pada gangguan konduktif
lainnya. Carharts notch adalah penurunan dari konduksi
tulang sebanyak 10-30 db pada frekuensi 2000Hz, diinduksi
oleh adanya fiksasi stapes. Carharts notch akan menghilang
setelah stapedektomy. Maksimal conductive hearing loss
adalah 50 db untuk otosklerosis, kecuali adanya kombinasi
dengan diskontinuitas dari tulang pendengaran. Speech
discrimination biasanya tetap normal.
b. Tympanometri
Pada masa pre klinik dari otosklerosis, tympanometri
mungkin menunjukan on-off effect, dimana ada penurunan
abnormal dari impedance pada awal dan akhir eliciting signal.
Ketika

penyakit

gambaran

dari

berlanjut,

adanya

absennya

reflek

on-off

ini

stapedial.

memberi
Gambaran

timpanogram biasanya adalah tipe A dengan compliance


yang rendah. Walaupun jarang, gambaran tersebut dapat

juga berbentuk kurva yang memendek yang dirujuk ke pola


tipe As.
c. CT Scan
Fine cut CT scan dapat mengidentifikasi pasien dengan
vestibular atau koklear otosklerosis, walaupun keakuratannya
masih dipertanyakan. CT dapat memperlihatkan gambaran
tulang-tulang pendengaran, koklea dan vestibular organ.
Adanya area radiolusen didalam dan sekitar koklea dapat
ditemukan pada awal penyakit ini, dan gambaran diffuse
sclerosis pada kasus yang lebih lanjut. Hasil yang negative
bukan berarti non diagnostik karena beberapa pasien yang
menderita penyakit ini mempunyai kemampuan dibawah dari
metode CT paling canggih sekali.
d. Test Rine
Dengan garpu suara frekuensi 64, 128, 256, 512, 1024,
2048 dan 4096 hz, dibunyikan dengan cara tertentu lalu
disuruh mendengarkan pada orang yang dites. Bila penderita
banyak tak mendengar pada frekuensi rendah berarti tuli
konduksi. Bila banyak tak mendengar pada frekuensi tinggi
berarti tuli persepsi Kemudian dengan garpu suara frekuensi
256 atau 512 hz dilakukan tes-tes Rinne, Weber dan
Schwabach sehingga lebih jelas lagi apakah tuli penderita
dibagian

konduksi

atau

persepsi

Yaitu test yang menggunakan garputala, untuk mengetahui


perbedaan antara hantaran udara degan hantaran tulang
e. Test Weber
Yaitu test yang menggunakan garputala, untuk
mengetahui daya tangkap suara antara telinga kanan dengan
teliga kiri.
f. Test Bisik
Test ini digunakan untuk mendeteksi pendengaran pasien
pada jarak 5 meter dengan mendengarkan kata-kata yang
dibisikkan yang memiliki nada rendah sampai dengan yang

yang

memiliki

nada

tinggi

Caranya ialah dengan membisikkan kata-kata yang dikenal


penderita dimana kata-kata itu mengandung huruf lunak dan
huruf desis. Lalu diukur berapa meter jarak penderita dengan
pembisiknya sewaktu penderita dapat mengulangi kata-kata
yang dibisikan dengan benar. Pada orang normal dapat
mendengar 80% dari kata-kata yang dibisikkan pada jarak 6
s/d 10 meter. Apabila kurang dari 5 6 meter berarti ada
kekurang

pendengaran.

Apabila

penderita

tak

dapat

mendengarkan kata-kata dengan huruf lunak, berarti tuli


konduksi. Sebaliknya bila tak dapat mendengar kata-kata
dengan huruf desis berarti tuli persepsi. Apabila dengan
suara bisik sudah tidak dapat mendengar dites dengan suara
konversasi atau percakapan biasa. Orang normal dapat
mendengar suara konversasi pada jarak 200 meter.
g. Diskriminasi
Dengan

diskriminasi

dilakukan

penilaian

terhadap

kemampuan untuk membedakan kata-kata yang bunyinya


hampir sama dan digunakan kata-kata yang terdiri dari 1
suku

kata,

yang

bunyinya

hampir

sama

Pada tuli kondusif, nilai diskriminasinya (presentasi kata-kata


yang diulang dengan benar) biasanya berada dalam batas
normal. Pada tuli sensori, nilai diskriminasi berada di bawah
normal.
h. Tes dengan Impedance
Tes ini paling obyektif dari tes-tes yang terdahulu. Tes ini
hanya memerlukan sedikit kooperasi dari penderita sehingga
pada anak-anak di bawah 5 tahun pun dapat dikerjakan
dengan baik. Dengan mengubah-ubah tekanan pada meatus
akustikus ekterna (hang telinga bagian luar) dapat diketahui
banyak tentang keadaan telinga bagian tengah (kavum
timpani). Dari pemeriksaan dengan Impedancemeter

6. Penatalaksanaan
Menurut Wicaksono (2013) 90% pasien hanya dengan bukti
histologis dari otosklerosis adalah simptomatik karena lesi
barlangsung tanpa fiksasi stapes atau gangguan koklear. Pada
pasien

yang

asimptomatik

ini,

penurunan

pendengaran

progressif secara konduktif dan sensorineural biasanya dimulai


pada usia 20. Penyakit akan berkembang lebih cepat tergantung
pada

faktor

lingkungan

seperti

kehamilan.

Gangguan

pendengaran akan berhenti stabil maksimal pada 50-60 db.


1.

Amplifikasi
Alat Bantu dengar baik secara unilateral atau bilateral dapat
merupakan terapi yang efektif. Beberapa pasien yang bukan
merupakan

2.

kandidat

yang

cocok

untuk

operasi

dapat

menggunakan alat bantu dengar ini.


Alat bantu dengar hantarn udara
Alat ini paling banyak digunakan, biasanya dipasang di dalam
saluran telinga dengan sebuah penutup kedap udara atau

3.

sebuah selang kecil yang terbuka.


Terapi Medikamentosa
Tahun 1923 Escot adalah orang pertama yang menemukan
kalsium

florida

untuk

pengobatan

otosklerosis.

Hal

ini

diperkuat oleh Shambough yang memprediksi stabilasi dari


lesi otosklerotik dengan penggunaan sodium florida. Ion
florida membuat komplek flourapatit. Dosis dari sodium
florida

adalah

20-120

mg/hari.

Brooks

menyarankan

penggunaan florida yang dikombinasi dengan 400 U vitamin


D dan 10 mg Calcium Carbonate berdasar teori bahwa vit D
dan CaCO3 akan memperlambat lesi dari otosklerosis. Efek
samping dapat menimbulakan mual dan muntah tetapi dapat
diatasi

dengan

menguarangi

dosis

atau

menggunakan

enteric-coated tablets. Dengan menggunakan regimen ini,


sekitar 50 % menunjukan symptom yang tidak memburuk,
sekitar 30 % menunjukan perbaikan.

4.

Terapi Bedah
Pengangkatan tulang stapes dan menggantinya dengan
tulang buatan bisa mengembalikan pendengaran penderita.
Ada 2 pilihan prosedur, yaitu:
a. Stapedektomi
(pengangkatan
tulang
stapes
dan
penggantian dengan protese)
b. Stapedotomi (pembuatan lubang pada tulang stapes untuk
memasukkan
Jika

protese).

penderita

enggan

menjalani

pembedahan,

bisa

digunakan alat bantu dengar.


Pembedahan akan membutuhkan penggantian seluruh atau
sebagian dari fiksasi stapes. Seleksi pasien kandidat utama
stapedectomy
pendengaran

adalah
dan

yang

menganggu

mempunyai
secara

kehilangan
sosial,

yang

dikonfirmasi dengan garputala dan audiometric menunjukan


tuli konduktif atau campur. Speech discrimination harus baik.
Secara umum, pasien dengan penurunan pendengaran lebih
dari 40 db dan Bone conduction lebih baik dari Air Conduction
pada pemeriksaan garputala akan memperoleh keuntungan
paling maksimal dari operasi. Pasien harus mempunyai resiko
anaestesi yang minimal dan tidak memiliki kontraindikasi.
Indikasi bedah
a. Tipe otosklerosis oval window dengan berbagai variasi derajat
fiksasi stapes
b. Otosklerosis atau fiksasi ligamen anularis oval window pada
otitis media kronis (sebagai tahapan prosedur)
c. Osteogenesis imperfekta
d. Beberapa keadaan anomali congenital
e. Timpanosklerosis di mana pengangkatan stapes diindikasikan
(sebagai tahapan operasi)
7. Prognosis
Pemeriksaan garpu tala preoperative menentukan keberhasilan
dari tindakan bedah, diikuti dengan alat-alat bedah dan teknik

pembedahan

yang

digunakan

ikut

menentukan

prognosis

(Wicaksono,2013).
8. Komplikasi
1. Tuli kondusif
2. Glomus jugulare (tumor yang tumbuh dari bulbus jugularis)
3. Neuroma nervus fasialis (tumor yang berada pada nervus VII,
nervus fasialis)
4. Granuloma Kolesterin. Reaksi system imun terhadap produksi
samping darah (kristal kolesterol)
5. Timpanosklerosis. Timbunan kolagen dan kalsium didalam
telinga tengah yang dapat mengeras disekitar osikulus
sebagai akibat infeksi berulang.
Staf Pengajar Ilmu Penyakit THT FKUI(2002)
ASUHAN KEPERAWATAN

6. ASUHAN KEPERAWATAN KASUS


An. K berusia 12 tahun masuk di ruang perawatan THT dengan keluhan
keluar cairan putih dari telinga kanan yang disertai dengan demam dan nyeri
telinga . Orang tua pasien mengatakan anaknya memiliki riwayat batuk dan
pilek yang sering berulang dan dua hari terakhir tiba-tiba keluar cairan bening
dari telinga kiri dengan konsistensi kenyal. berdasarkan hasil pemeriksaan
fisik , didapatkan nyeri pada pergerakan aurikula , terdapat edema dan
serumen kental pada MAE serta terdapat perforasi pada membrane timpani
telinga kanan , tes rinne (-) ,tes weber : lateralisasi kekanan , dan pada tes
bisik , pasien tidak dapat mendengarkan suara berfrekuensi rendah . TTV :
120/80mmHg , N : 110x / menit , P : 20x/menit , S : 39C. keluarga pasien

mengatakan harus bebicara dengan nada tinggi pada klien , karena klien
kadang tidak nyambung bila diajak berbicara dengan suara yang rendah .
Klien merasa cemas, menarik dan malu pada lingkungan karena penyakitnya
menimbulkan bau.
1. Biodata
Nama
: An.K
Umur
: 10 Thn
Jenis kelamin : Laki-laki
2. Keadaan Umum
a. Tanda tanada Vital
1) Tekanan Darah :120/80
2) NAdi
: 110x/menit
3) Pernafasan
: 20x/menit
4) Suhu
: 39oC
3. Pola kesehatan
a. Pola Presepsi dan Pemeliharaan Kesehatan
1) Keluhan Utama : Nyeri pada telinga
2) Riwayat penyakit sekarang : keluar cairan putih ditelinga kanan klien
disertai dengan demam dan nyeri pada telinga.
3) Riwayat penyakit dahulu : orant tua pasien mengatakan anaknya
memiliki riwayat batuk dan pilek yang sering berulang.
4) Riwayat kesehatan keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang
menderita atau mengalami gangguan pengdengaran dan penyakit
turunan.
b. Pola Aktivitas Dan Latihan
1) Keadaan sebelum sakit
Pasien mengatakan sebelum sakit pasien selalu berolahraga/bermain
di luar rumah bersama dengan teman-temanya dan setiap hari pasien
selalu pergi ke sekolah
2) Keadaan sejak sakit
Pasien mengatakan sejak sakit pasien jarang bermain diluar rumah dan
jarang masuk sekolah. Pasien selalu diantar oleh orang tuanya bila ke
c.

sekolah.
Pola Tidur dan Istirahat
1) Keadaan sebelum sakit
Pasien mengatakan tidur siang selama 1 jam/hari dan tidur malam 8
jam/hari.
Pasien mengatakan sebelum tidur biasanya nonton televisi terlebih
dahulu.

2) Keadaan sejak sakit


Pasien mengatakan tidak dapat tidur nyenyak seperti sebelumnya
dikarenakan nyeri pada telinganya disertai flu dan batuk yang selalu
menyerangnya.
d. Pola presepsi dan Kognitif
1) Sebelum sakit
Pasien mengatakan sebelum sakit tidak mengalami gangguan
pendengaran maupun penglihatan
2) Sejak sakit
Pasien mengatakan sejak sakit Pasien tidak mampu mendengar suara
yang rendah dan sering tidak nyambung saat di ajak bicara.
Tanpak ada nanah ditelinga pasien
e. Pola konsep diri
1) Sejak sakit
Pasien mengatakan sejak sakit pasien malu dengan orang
disekitarnya dikarenakan telinga pasien mengeluarkan cairan
yang berbau dan pasien tidak mampu mendengar pembicaraan
yang berfrekuensi rendah.
f. Pola mekanisme koping dan stress
1)keadaan sejak sakit :
Pasien tampak gelisah dan sedih dikarenakan nyeri pada telinganya dan
pasien tampak bertanya-tanya pada orang tua dan perawat tentang
penyakitnya
PEMERIKSAAN FISIK.
PENDENGARAN
1) Membrane tympany : terdapat perforasi di telinga kanan
2) Tes rinne : (-)
3) Tes webber : laterisasi kanan
4) Tes bisik : pasien tidak dapat mendengarkan suara
berfrekuensi rendah
5) Nyeri pada aurikula
UJI SARAF KRANIAL
1) N VIII : tidak berfungsi dengan baik
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Nyeri b/d Proses inflamasi pada jaringan telinga tengah
2) Gangguan komunikasi b/d Efek kehilangan pendengaran
3) Resiko tinggi cedera b/d vertigo
4) Cemas b/d nyeri yang semakin memberat

D. INTERVENSI DAN RASIONAL


1) Nyeri b/d Proses inflamasi pada jaringan telinga tengah
Tujuan
: Penurunan rasa nyeri
Kriteria hasil : Klien mengungkapkan bahwa nyeri berkurang, klien
mampu
a. Intervensi
) dan
rasional

melakukan metode pengalihan suasana


: selidiki keluhan nyeri,perhatikan lokasi, intensitas(skala 0/10
factor pemberat atau penghilang
: membantu mengidentifikasi intervensi yang tepat dan

mengevaluasi keefektifan analgesic.


b. Intervensi
: Alihkan perhatian klien dengan menggunakan teknik-teknik
relaksasi,
Rasional

relaksasi seperti menerik nafas panjang.


: Metode pengalihan suasana dengan melakukan relaksasi bisa

c. Intervensi
Rasional
d. Intervensi

mengurangi nyeri yang diderita klien.


: Atur posisi klien
: Posisi yang sesuai akan membuat klien merasa nyaman.
: beri informasi kepada klien dan keluarga tentang nyeri yang

dirasakan.
Rasional

: informasi yang cukup dapat menurangi kecemasan yang

dirasakan oleh klien dan keluarga.


e. Intervensi : Kolaborasi, beri analgesik sesuai indikasi
f. Rasional : Analgesik merupakan pereda nyeri yang efektif pada pasien
untuk mengurangi sensasi nyeri dari dalam.
2) Gangguan komunikasi b/d Efek kehilangan pendengaran.
Tujuan
: Gangguan komunikasi berkurang / hilang
Kriteria hasil : Klien memakai alat bantu dengar ( jika sesuai ), menerima
pesan
lambang,
Intervensi
pada

melalui metode pilihan ( misal: komunikasi lisan, bahasa


berbicara dengan jelas pada telinga yang baik
: Dapatkan apa metode komunikasi yang diinginkan dan catat
rencana perawatan metode yang digunakan oleh staf dan

klien,
Rasional

seperti : tulisan, berbicara, bahasa isyarat.


: Dengan mengetahui metode komunikasi yang diinginkan

oleh klien

maka metode yang akan digunakan dapat disesuaikan

dengan
Intervensi

kemampuan dan keterbatasan klien


: Pantau kemampuan klien untuk menerima pesan secara

verbal.
a. Jika ia dapat mendengar pada satu telinga, berbicara
dengan perlahan dan jelas langsung ke telinga yang baik

- Tempatkan klien dengan telinga yang baik berhadapan


dengan pintu
- Dekati klien dari sisi telinga yang baik
b. Jika klien dapat membaca ucapan:
- Lihat langsung pada klien dan bicaralah lambat dan jelas
- Hindari berdiri di depan cahaya karena dapat
menyebabkan klien tidak dapat membaca bibir anda
c. Perkecil distraksi yang dapat menghambat konsentrasi
klien
- Minimalkan percakapan jika klien kelelahan atau gunakan
komunikasi tertulis
- Tegaskan komunikasi penting dengan menuliskannya
d. Jika ia hanya mampu berbahasa isyarat, sediakan
penerjemah. Alamatkan semua komunikasi pada klien, tidak
kepada penerjemah. Jadi seolah-olah perawat sendiri yang
langsung berbicara pada klien dengan mengabaikan
Rasional

keberadaan penerjemah
: Pesan yang ingin disampaikan oleh perawat kepada klien dapat

diterima dengan baik oleh klien.


Intervensi : Gunakan faktor-faktor yang meningkatkan pendengaran dan
pemahaman
a. Bicara dengan jelas menghadap individu
b. Ulangi jika kilen tidak memahami seluruh isi pembicaraan
c. Gunakan rabaan dan isyarat untuk meningkatkan
komunikasi
d. Validasi
Rasional

pemahaman

individu

dengan

mengajukan

pertanyaan yang memerlukan jawaban lebih dair ya dan tidak


: Memungkinkan komunikasi dua arah antara perawat dengan

klien

dapat berjalan dengan baik dan klien dapat menerima pesan

perawat

secara tepat.

3) Resiko tinggi cedera b/d Vertigo


Tujuan
: Resiko cedera tidak terjadi
Kriteria hasil : Klien bisa dari cedera

yang

berkaitan

dengan

ketidakseimbangan
dan/atau jatuh.
Intervensi
: Ajarkan atau tekankan terapi vestibuler/keseimbangan
sesuai
Rasional
mengurangi

ketentuan.
: Latihan mempercepat kompensasi labirintin, yang dapat
vertigo dan gangguan cara jalan.

Intervensi

: Berikan atau ajari cara pemberian, obat antivertigo dan/atau

obat

penenang vestibuler; beri petunjuk pada pasien

mengenai efek
sampingnya.
Rasional
: Menghilangkan gejala akut vertigo
Intervensi
: Dorong pasien unutk berbaring bila merasa pusing; dengan
pagar
tempat tidur dinaikkan.
Rasional
: Mengurangi kemungkinan jatuh dan cedera.
4) Cemas b/d nyeri yang semakin memberat
Tujuan
: Rasa Cemas klien akan berkurang/hilang.
Criteria hasil : klien mampu mengungkapkan ketakutan / kekawatirannya.
Respon klien tampak tersenyum
a.Intervensi
: berikan informasi kepada klien seputar
Rasional

kondisinya dan gangguan yang di alaminya


:menunjukkan kepada klien bahwa dia dapat berkomunikasi

dengan
efektif

tanpa

menggunakan

alat

khusus,sehingga

dapat

mengurangi cemasnya.
b. Intervensi
:diskusikan dengan klien mengenai kemungkinan kemajuan dan
fungsi pendengarannya untuk mempertahankan harapan klien dalam
berkomunikasi.
Rasional
:harapan-harapan yang tidak realistis tidak dapat mengurangi
kecemasan, justru malah menimbulkan ketidakpercayaan klien terhadap
perawat.
c. Intervensi

: berikan informasi mengenai kelompok yang juga pernah

mengalami gangguan seperti yang dialami klien untuk memberikan dukungan


kepada klien.
Rasional
: memungkinkan klien untuk memilih metode komunikasi yang
paling tepat untuk kehidupannya sehari-hari disesuaikan dengan tingkat
keterampilannya sehingga mengurangi rasa cemas dan frustasinya.
d. Intervensi
:berikan informasi mengenai sumber-sumber dan alat-alat yang
tersedia yang dapat membantu klien.
Rasional
: dukungan dari beberapa orang yang memiliki pengalaman
yang sama akan sangat membantu klien.
E. EVALUASI
Nyeri teratasi
Pasien mampu berkomunikasi dengan baik
Vertigo pasien teratasi
Pasien mengerti dan memahami tentang penyakitnya

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2014. Otosklerosis
(http://id.wikipedia.org/wiki/Otosklerosis,
November 2014, pukul 20.30 WIB)

diakses

pada

11

Anonymous. 2012. Otitis Media Efusi


(http://www.ichrc.org/693-otitis-media-efusi, diakses pada 12
November 2014, pukul 19.50 WIB)
Anonymous. 2013. Otitis Media Kronis
(http://medicastore.com/penyakit/53/Otitis_Media_Kronis.html,
diakses pada 12 November 2014, pukul 18.37 WIB)
Betz, C.L. & Linda A. Sowden. 2009. Buku Saku Keperawatan
Pediatri, Ed. 5. Jakarta: EGC
Brooker, Chris. 2008. Ensiklopedia Keperawatan (Churcill
Livingstones Mini Encyclopedia of Nursing 1st Edition). Jakarta:
EGC
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Delmar. 2003. Nursing Assistant: A Nursing Process Approach 6/E.
Jakarta: EGC
Gibson, John. 2003. Fisiologi & Anatomi Modern untuk Perawat.
Jakarta: EGC
Leenoos, S.L. 2011. Otitis Media Chapter II. Sumatera Utara
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23095/4/Chapt
er%20II.pdf, diakses pada 12 November 2014, pukul 18.54 WIB)
Mitchell, Richard N. et.al. 2006. Buku Saku Dasar Patologis Penyakit
Robbins & Cotran, Ed.7. Jakarta: EGC
Siew, TH. 2011. Otitis Media Chapter II. Sumatera Utara
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25640/4/Chapte
r%20II.pdf (diakses pada 11 November 2014, pukul 13.45 WIB)
Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah
Brunner & Suddarth. Vol..E/8.Jakarta : EGC

Staf Pengajar Ilmu Penyakit THT FKUI. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tengorok Kepala Leher. Edisi ke 5 Cetakan ke2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI,
2002.
Titisari, H., 2005. Prevalensi dan Sensitivitas Haemophilus
Influenzae pada Otitis Media Akut di PSCM dan RSAB Harapan
Kita. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Wards, Alena. 2008. Fact Sheet Aboriginal Otitis Media (Middle Ear
Infection).Sydney
(http://www.sch.edu.au/health/factsheets/joint/?
otitis_media.htm, diakses pada 12 November 2014 pukul 09.40
WIB)
Weller, Barbara F. 2005. Baillieres Nurses Dictionary 22/E. Jakarta:
EGC
Wicaksono, Emirza N.2013.Telinga Hidung dan Tenggorokan.Jakarta
Wijayaningsih, W. 2013.Otosklerosis
(http://www.scribd.com/doc/154264484/OTOSKLEROSIS, diakses
pada 11 November 2014, pukul 20.30 WIB)