Anda di halaman 1dari 16

ZAKAT HARTA(MAL)DAN PEMBAGIANNYA

1.
Pengertian Maal (harta)
a. Menurut terminologi bahasa (lughat), harta adalah segala sesuatu yang diinginkan sekali oleh
manusia untuk memiliki, memanfaatkan dan menyimpannya.Sedangkan menurut terminologi syari'ah
(istilah syara'), harta adalah segala sesuatu yang dapat dimiliki (dikuasai)dan dapat digunakan
(dimanfaatkan) menurut ghalibnya (lazim). Sesuatu dapat disebut dengan maal (harta)apabila
memenuhi 2 (dua) syarat, yaitu:c. Dapat diambil manfaatnya sesuai dengan ghalibnya. Misalnya
rumah, mobil, ternak, hasil pertanian, uang, emas,perak, dll.
2.
SYARAT-SYARAT WAJIB MAL :
a.
Muslimb.
Aqilc.
Balighd.
Milik Sempurnae.
Cukup Nisabf.
Cukup Haul
3.
APA SAJA HARTA YANG TERKENA ZAKAT
Persyaratan harta yang wajib dizakatkan itu ada lima:

Al-milk at-tam
. Harta itu dikuasai secara penuh dan dimiliki secara sah, yang didapat dari usaha, bekerja, warisan,
ataupemberian yang sah, dimungkinkan untuk dipergunakan, diambil manfaatnya, atau
disimpan.Harta yang bersifat haram tidaklah sah dan tak akan diterima zakatnya.
Milik Penuh
Artinya harta tersebut beradadalam kontrol dan kekuasaanya secara penuh, dan dapat diambil
manfaatnya secara penuh. Harta tersebut didapatkanmelalui proses pemilikan yang dibenarkan
menurut syariat Islam, seperti : usaha, warisan, pemberian negara atau orang lain dan cara-cara yang
sah. Sedangkan apabila harta tersebut diperoleh dengan cara yang haram, maka zakat atas
hartatersebut tidaklah wajib, sebab harta tersebut harus dibebaskan dari tugasnya dengan cara
dikembalikan kepada yang berhak atau ahli warisnya.

An-namaa
. Harta yang berkembang jika diusahakan atau memiliki potensi untuk berkembang, misalnya
hartaperdagangan, peternakan, pertanian, deposito mudharabah, usaha bersama, obligasi, dlsb.
Berkembang
Artinya hartatersebut dapat bertambah atau berkembang bila diusahakan atau mempunyai potensi
untuk berkembang.

Telah mencapai nisab

. Harta itu telah mencapai ukuran tertentu. Misalnya untuk hasil pertanian telah mencapai jumlah750
kg beras / perak 595 gr / 85gr emas, peternakan sapi telah mencapai 30 ekor, dsb.
Cukup Nishab
Artinya hartatersebut telah mencapai jumlah tertentu sesuai dengan ketetapan syara'. sedangkan harta
yang tidak sampai nishabnyaterbebas dari Zakat dan dianjurkan mengeluarkan Infaq serta Shadaqah.

Telah melebihi kebutuhan pokok


. Yaitu kebutuhan minimal yang diperlukan seseorang dan keluarganya yang menjaditanggungannya
untuk kelangsungan hidupnya.
Lebih Dari Kebutuhan Pokok
Kebutuhan pokok adalah kebutuhanminimal yang diperlukan seseorang dan keluarga yang menjadi
tanggungannya, untuk kelangsungan hidupnya. Artinyaapabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi
yang bersangkutan tidak dapat hidup layak. Kebutuhan tersebut sepertikebutuhan primer atau
kebutuhan hidup minimum, misal, belanja sehari-hari, pakaian, rumah, kesehatan, pendidikan,dsb.

Telah mencapai satu tahun (haul)


khusus untuk harta-harta tertentu, misalnya perdagangan. Tetapi untuk harta jenis lain,misalnya
pertanian, zakatnya dikeluarkan pada saat harta tersebut didapatkan.
Berlalu Satu Tahun (Al-Haul)
Maksudnya adalah bahwa pemilikan harta tersebut sudah belalu (mencapai) satu tahun. Persyaratan
ini hanya berlakubagi ternak, harta simpanan dan perniagaan. Sedangkan hasil pertanian, buah-buahan
dan rikaz (barang temuan) tidak ada syarat haul.
asilitas ini disediakan untuk membantu anda menghitung besar zakat anda. Hitunglah pendapatan dan simpanan
andauntuk mengetahui besar zakat / infaq yang perlu dikeluarkan. Masukkan nilai rupiah tanpa titik atau koma.
Setelah itusilahkan hubungi
Badan Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh (BAZIS)
terdekat untuk membayar Zakat/Infaq anda.
ZAKAT HARTA YANG TELAH TERSIMPAN SATU TAHUN
a. Uang Tunai, Tabungan, Deposito atau sejenisnya Rp 150.000.000,-b. Saham atau surat-surat berharga lainnya Rp
125.000.000,-c. Real Estate (tidak termasuk rumah tinggal yang dipakai sekarang) Rp 0d. Emas, Perak, Permata atau
sejenisnya Rp 65.000.000,-e. Mobil (lebih dari keperluan pekerjaan anggota keluarga) Rp 75.000.000,-f. Jumlah Harta
Simpanan (A+B+C+D+E)
Rp
415.000.000,-g. Hutang Pribadi yg jatuh tempo dalam tahun ini Rp 60.000.000,-h. Harta simpanan kena zakat(F-G, jika
&gt nisab)
Rp
355.000.000,I. JUMLAH ZAKAT ATAS SIMPANAN YANG WAJIB DIBAYARKAN PERTAHUN (2,5% x H)
Rp
8.875.00
Zakat Perusahaan
Zakat perusahaan hampir sama dengan zakat perdagangan dan investasi. Bedanya dalam zakat
perusahaan bersifatkolektif. Dengan kriteria sebagai berikut :0.
Jika perusahaan bergerak dalam bidang usaha perdagangan maka perusahaan tersebut mengeluarkan
hartasesuai dengan aturan zakat perdagangan. Kadar zakat yang dikeluarkan sebesar 2,5 %1.

Jika perusahaan tersebut bergerak dalam bidang produksi maka zakat yang dikeluarkan sesuai dengan
aturanzakat investasi atau pertanian. Dengan demikian zakat perusahaan dikeluarkan pada saat
menghasilkansedangkan modal tidak dikenai zakat. Kadar zakat yang dikeluarkan sebesar 5 % atau 10
%. 5 % untuk penghasilan kotor dan 10 % untuk pengahasilan bersih.
Catatan
:Bila dalam perusahaan tersebut ada penyer taan modal dari pegawai non muslim maka penghitungan
zakat setelahdikurangi ke- pemilikan modal atau keuntungan dari pegawai non muslim
4.
BERAPA BESARNYA ZAKAT DAN KAPAN HARUS DIBAYARKAN
Ada beberapa jenis zakat maal yang telah diatur pada zaman nabi Muhammad s.a.w., antara lain:1.
Zakat An'am (binatang ternak)Meliputi unta, sapi, kerbau, dan kambing. Syaratnya: telah dimiliki
secara penuh selama satu tahun, digembalakan dirumput tanpa membeli, dan bukan untuk dipakai
bekerja (membajak sawah / menarik gerobak). Zakat yang harusdibayarkan kira-kira satu ekor untuk
setiap 40 ekor unta, sapi, dan kerbau; atau satu ekor kambing setiap 100 ekor.Lengkapnya ada di
tabel.2.
Zakat emas dan perak Syaratnya telah dimiliki secara penuh selama satu tahun. Nisab emas adalah 85
gram sedangkan perak adalah 595 gram.Besar zakatnya adalah 2.5%.3.
Zakat Zuru' (biji-bijian seperti beras, gandum, jagung, dsb)Syaratnya adalah dimiliki penuh, sengaja
ditanam dan telah mencapai nisabnya, serta mengenyangkan dan tahan lamadisimpan. Apabila
tanaman itu hidup dari air hujan/sungai (tanpa biaya pengairan), maka zakatnya 10% dari hasilpanen.
Jika pengairannya dari membeli, maka zakatnya 5% dari hasil panen.4.
Zakat harta perniagaanBila telah dimiliki secara penuh selama setahun dan nilai dagangan telah
mencapai seharga 85 gram emas, maka wajibdikeluarkan zakatnya 2.5%. Sabda Rasulullah s.a.w.:
"Kain-kain yang disediakan untuk dijual, wajib dikeluarkan zakatnya." (HR.Al Hakim)
"Rasulullah memerintahkan kepada kami mengeluarkan zakat barang yang disediakan untuk dijual."
(HR.Daruquthni dan Abu Daud)
5.
Zakat Ma'din (hasil tambang)Hasil tambang emas atau perak apabila telah sampai nisabnya wajib
dikeluarkan zakatnya pada waktu penambangandilakukan tanpa harus dimiliki selama setahun.6.
Zakat Rikaz (harta terpendam)Zakat atas harta terpendam adalah 20% (seperlima) dari jumlah
hartanya dan tidak disyaratkan harus dimiliki lebih duluselama satu tahun. Adapun zakat-zakat atas
harta benda lain diambil dengan qiyas (persamaan) terhadap harta benda yang diatur di atas.Misalnya
zakat atas uang tunai dipersamakan dengan nilai tunai dari emas. Salah satu jenis zakat yang
pendekatannya adalahmelalui qiyas dan pendapat ulama adalah zakat profesi. Topik ini dibahas secara
khusus karena menurut hemat kami sangatrelevan dengan kehidupan umumnya pengguna situs
portalinfaq.
NISHAB DAN KADAR ZAKAT1.
HARTA PETERNAKAN
a.
Sapi, Kerbau dan Kuda
Nishab kerbau dan kuda disetarakan dengan nishab sapi yaitu 30 ekor. Artinya jika seseorang telah
memiliki sapi(kerbau/kuda), maka ia telah terkena wajib zakat.Berdasarkan hadits Nabi Muhammad
SAW yang diriwayatkan oleh At Tarmidzi dan Abu Dawud dari Muadzbin Jabbal RA, maka dapat
dibuat tabel sbb : Jumlah Ternak(ekor) Zakat30-3940-5960-6970-7980-891 ekor sapi jantan/betina
tabi'

(a)1 ekor sapi betina


musinnah
(b)2 ekor sapi
tabi'
1 ekor sapi
musinnah
dan 1 ekor
tabi'
2 ekor sapi
musinnah
Keterangan :
a.
Sapi berumur 1 tahun, masuk tahun ke-2b.
Sapi berumur 2 tahun, masuk tahun ke-3Selanjutnya setiap jumlah itu bertambah 30 ekor, zakatnya
bertambah 1 ekor
tabi'
. Dan jika setiap jumlah itubertambah 40 ekor, zakatnya bertambah 1 ekor
musinnah
.b.
Kambing/domba
Nishab kambing/domba adalah 40 ekor, artinya bila seseorang telah memiliki 40 ekor
kambing/domba makaia telah terkena wajib zakat.Berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW, yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Anas bin Malik, makadapat dibuat tabel sbb : Jumlah
Ternak(ekor) Zakat40-120121-200201-3001 ekor kambing (2th) atau domba (1th)2 ekor
kambing/domba3 ekor kambing/dombaSelanjutnya, setiap jumlah itu bertambah 100 ekor maka
zakatnya bertambah 1 ekor.
6
c.
Ternak Unggas(ayam,bebek,burung,dll) dan Perikanan
Nishab pada ternak unggas dan perikanan tidak diterapkan berdasarkan jumlah (ekor), sebagaimana
halnyasapi, dan kambing. Tapi dihitung berdasarkan skala usaha.Nishab ternak unggas dan perikanan
adalah setara dengan 20 Dinar (1 Dinar = 4,25 gram emas murni) atausama dengan 85 gram emas.
Artinya bila seorang beternak unggas atau perikanan, dan pada akhir tahun(tutup buku) ia memiliki
kekayaan yang berupa modal kerja dan keuntungan lebih besar atau setara dengan 85gram emas
murni, maka ia terkena kewajiban zakat sebesar 2,5 %
Contoh :
Seorang peternak ayam broiler memelihara 1000 ekor ayam perminggu, pada akhir tahun (tutup
buku)terdapat laporan keuangan sbb:
1.Ayam broiler 5600 ekor seharga2.Uang Kas/Bank setelah pajak 3.Stok pakan dan obat-obatan4.
Piutang (dapat tertagih)Rp 15.000.000Rp 10.000.000Rp 2.000.000Rp 4.000.000 Jumlah Rp
31.000.0005. Utang yang jatuh tempo Rp 5.000.000Saldo Rp26.000.000
Besar Zakat = 2,5 % x Rp.26.000.000,- = Rp 650.000
Catatan :

Kandang dan alat peternakan tidak diperhitungkan sebagai harta yang wajib dizakati.

Nishab besarnya 85 gram emas murni, jika @ Rp 25.000,00 maka 85 x Rp 25.000,00 = Rp


2.125.000,00d.
Unta
Nishab unta adalah 5 ekor, artinya bila seseorang telah memiliki 5 ekor unta maka ia terkena
kewajiban zakat.Selanjtnya zakat itu bertambah, jika jumlah unta yang dimilikinya juga
bertambahBerdasarkan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Anas bin Malik,
maka dapat dibuattabel sbb:
Jumlah(ekor) Zakat5-910-1415-1920-2425-3536-4545-6061-7576-9091-1201 ekor kambing/domba
(a)2 ekor kambing/domba3 ekor kambing/domba4 ekor kambing/domba1 ekor unta bintu Makhad
(b)1 ekor unta bintu Labun (c)1 ekor unta Hiqah (d)1 ekor unta Jadz'ah (e)2 ekor unta bintu Labun
(c)2 ekor unta Hiqah (d)
Keterangan:
(a) Kambing berumur 2 tahun atau lebih, atau domba berumur satu tahun atau lebih.(b) Unta betina
umur 1 tahun, masuk tahun ke-2(c) Unta betina umur 2 tahun, masuk tahun ke-3(d) Unta betina umur
3 tahun, masuk tahun ke-4(e) Unta betina umur 4 tahun, masuk tahun ke-5Selanjutnya, jika setiap
jumlah itu bertambah 40 ekor maka zakatnya bertambah 1 ekor bintu Labun, dan setiap jumlah
itubertambah 50 ekor, zakatnya bertambah 1 ekor Hiqah.
2.
EMAS DAN PERAK
Nishab emas adalah 20 dinar (85 gram emas murni) dan perak adalah 200 dirham (setara 595 gram
perak). Artinya bilaseseorang telah memiliki emas sebesar 20 dinar atau perak 200 dirham dan sudah
setahun, maka ia telah terkena wajibzakat, yakni sebesar 2,5 %. Demikian juga segala macam jenis
harta yang merupakan harta simpanan dan dapatdikategorikan dalam "emas dan perak", seperti uang
tunai, tabungan, cek, saham, surat berharga ataupun yang lainnya.Maka nishab dan zakatnya sama
dengan ketentuan emas dan perak, artinya jika seseorang memiliki bermacam-macambentuk harta dan
jumlah akumulasinya lebih besar atau sama dengan nishab (85 gram emas) maka ia telah
terkena wajib zakat (2,5 %).
Contoh :
Seseorang memiliki simpanan harta sebagai berikut :
TabunganUang tunai (diluar kebutuhan pokok)Perhiasan emas (berbagai bentuk)Utang yang harus
dibayar (jatuh tempo)Rp 5 jutaRp 2 juta100 gramRp 1.5 juta
Perhiasan emas atau yang lain tidak wajib dizakati kecuali selebihnya dari jumlah maksimal perhiasan
yang layak dipakai. Jika layaknya seseorang memakai perhiasan maksimal 60 gram maka yang wajib
dizakati hanyalah perhiasanyang selebihnya dari 60 gram.Dengan demikian jumlah harta orang
tersebut, sbb :
1.Tabungan2.Uang tunai3.Perhiasan (10-60) gram @ Rp 25.000Rp 5.000.000Rp 2.000.000Rp
1.000.000 Jumlah Rp 8.000.000Utang Rp 1.500.000Saldo Rp 6.500.000
Besar zakat = 2,5% x Rp 6.500.000 = Rp 163.500,Catatan :
Perhitungan harta yang wajib dizakati dilakukan setiap tahun pada bulan yang sama.
7
3.
PERNIAGAAN
Harta perniagaan, baik yang bergerak di bidang perdagangan, industri, agroindustri, ataupun jasa,
dikelola secaraindividu maupun badan usaha (seperti PT, CV, Yayasan, Koperasi, Dll) nishabnya
adalah 20 dinar (setara dengan85gram emas murni). Artinya jika suatu badan usaha pada akhir tahun
(tutup buku) memiliki kekayaan (modal kerjadanuntung) lebih besar atau setara dengan 85 gram emas
(jika pergram Rp 25.000,- = Rp 2.125.000,-), maka ia wajibmengeluarkan zakat sebesar 2,5 %Pada
badan usaha yang berbentuk syirkah (kerjasama), maka jika semua anggota syirkah beragama islam,

zakatdikeluarkan lebih dulu sebelum dibagikan kepada pihak-pihak yang bersyirkah. Tetapi jika
anggota syirkah terdapatorang yang non muslim, maka zakat hanya dikeluarkan dari anggota syirkah
muslim saja (apabila julahnya lebih darinishab)
Cara menghitung zakat :
Kekayaan yang dimiliki badan usaha tidak akan lepas dari salah satu atau lebih dari tiga bentuk di
bawah ini :1.
Kekayaan dalam bentuk barang 2.
Uang tunai3.
Piutang Maka yang dimaksud dengan harta perniagaan yang wajib dizakati adalah yang harus dibayar
(jatuh tempo) dan pajak.
Contoh :
Sebuah perusahaan meubel pada tutup buku per Januari tahun 1995 dengan keadaan sbb :1. Mebel
belum terjual 5 set2. Uang tunai3. Piutang Rp 10.000.000Rp 15.000.000Rp 2.000.000 Jumlah Rp
27.000.000Utang & Pajak Rp 7.000.000Saldo Rp 20.000.000Besar zakat = 2,5 % x Rp 20.000.000,- =
Rp 500.000,-Pada harta perniagaan, modal investasi yang berupa tanah dan bangunan atau lemari,
etalase pada toko, dll, tidak termasuk harta yang wajib dizakati sebab termasuk kedalam kategori
barang tetap (tidak berkembang)Usaha yang bergerak dibidang jasa, seperti perhotelan, penyewaan
apartemen, taksi, renal mobil, bus/truk, kapal laut,pesawat udara, dll, kemudian dikeluarkan zakatnya
dapat dipilih diantara 2(dua) cara:4.
Pada perhitungan akhir tahun (tutup buku), seluruh harta kekayaan perusahaan dihitung, termasuk
barang (harta) penghasil jasa, seperti hotel, taksi, kapal, dll, kemudian keluarkan zakatnya 2,5 %.5.
Pada Perhitungan akhir tahun (tutup buku), hanya dihitung dari hasil bersih yang diperoleh usaha
tersebutselama satu tahun, kemudian zakatnya dikeluarkan 10%. Hal ini diqiyaskan dengan
perhitungan zakat hasilpertanian, dimana perhitungan zakatnya hanya didasarkan pada hasil
pertaniannya, tidak dihitung hargatanahnya.
4.
HASIL PERTANIAN
Nishab hasil pertanian adalah 5 wasq atau setara dengan 750 kg. Apabila hasil pertanian termasuk
makanan pokok,seperti beras, jagung, gandum, kurma, dll, maka nishabnya adalah 750 kg dari hasil
pertanian tersebut. Tetapi jika hasil pertanian itu selain makanan pokok, seperti buah-buahan, sayursayuran, daun, bunga, dll, makanishabnya disetarakan dengan harga nishab dari makanan pokok yang
paling umum di daerah (negeri) tersebut (dinegeri kita = beras).Kadar zakat untuk hasil pertanian,
apabila diairi dengan air hujan, atau sungai/mata/air, maka 10%, apabila diairidengan cara disiram /
irigasi (ada biaya tambahan) maka zakatnya 5%.Dari ketentuan ini dapat dipahami bahwa pada
tanaman yang disirami zakatnya 5%. Artinya 5% yang lainnyadidistribusikan untuk biaya pengairan.
Imam Az Zarqoni berpendapat bahwa apabila pengolahan lahan pertaniandiairidengan air hujan
(sungai) dan disirami (irigasi) dengan perbandingan 50;50, maka kadar zakatnya 7,5% (3/4
dari1/10).Pada sistem pertanian saat ini, biaya tidak sekedar air, akan tetapi ada biaya lain seperti
pupuk, insektisida, dll. Makauntuk mempermudah perhitungan zakatnya, biaya pupuk, intektisida dan
sebagainya diambil dari hasil panen,kemudian sisanya (apabila lebih dari nishab) dikeluarkan
zakatnya 10% atau 5% (tergantung sistem pengairannya).

Segala puji hanya milik Allh Ta'ala, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan
kepada Nabi Muhammad Shallallhu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan sahabatnya.
Harta benda beserta seluruh kenikmatan dunia diciptakan untuk kepentingan manusia, agar
mereka bersyukur kepada Allh Taala dan rajin beribadah kepada-Nya. Oleh karena itu

tatkala Nabi Ibrahim 'alaihissalam, meninggalkan putranya, Nabi Ismail 'alaihissalam di


sekitar bangunan Kabah, beliau berdoa:

Ya Rabb kami,
sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku
di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati.
Ya Rabb kami,
(yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat,
maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka
dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.
(Qs. Ibrhm/14:37)
Inilah hikmah diturunkannya rizki kepada umat manusia, sehingga bila mereka tidak
bersyukur, maka seluruh harta tersebut akan berubah menjadi petaka dan siksa baginya.

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak


dan tidak menafkahkannya pada jalan Allh,
maka beritahukanlah kepada mereka
(bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.
Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka Jahannam,
lalu dahi, lambung dan punggung mereka dibakar dengannya,

(lalu dikatakan) kepada mereka:


Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri,
maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.
(Qs. at-Taubah/9:34-35)

Ibnu Katsir rahimahullh berkata:


Dinyatakan bahwa setiap orang yang mencintai sesuatu dan lebih mendahulukannya
dibanding ketaatan kepada Allh, niscaya ia akan disiksa dengannya. Dan dikarenakan orangorang yang disebut pada ayat ini lebih suka untuk menimbun harta kekayaannya daripada
mentaati keridhaan Allh, maka mereka akan disiksa dengan harta kekayaannya.
Sebagaimana halnya Abu Lahab, dengan dibantu oleh istrinya, ia tak henti-hentinya
memusuhi Raslullh Shallallhu 'Alaihi Wasallam, maka kelak pada hari kiamat, istrinya
akan berbalik ikut serta menyiksa dirinya. Di leher istri Abu Lahab akan terikatkan tali dari
sabut, dengannya ia mengumpulkan kayu-kayu bakar di neraka, lalu ia menimpakannya
kepada Abu Lahab. Dengan cara ini, siksa Abu Lahab semakin terasa pedih, karena dilakukan
oleh orang yang semasa hidupnya di dunia paling ia cintai. Demikianlah halnya para
penimbun harta kekayaan. Harta kekayaan yang sangat ia cintai, kelak pada hari kiamat
menjadi hal yang paling menyedihkannya. Di neraka Jahannam, harta kekayaannya itu akan
dipanaskan, lalu digunakan untuk membakar dahi, perut, dan punggung mereka.
[1]

Ibnu Hajar al-Asqalni rahimahullh berkata:


Dan hikmah dikembalikannya seluruh harta yang pernah ia miliki, padahal hak Allh (zakat)
yang wajib dikeluarkan hanyalah sebagiannya saja, ialah karena zakat yang harus dikeluarkan
menyatu dengan seluruh harta dan tidak dapat dibedakan. Dan karena harta yang tidak
dikeluarkan zakatnya adalah harta yang tidak suci.
[2]

Singkat kata, zakat adalah persyaratan dari Allh Taala kepada orang-orang yang menerima
karunia berupa harta kekayaan agar harta kekayaan tersebut menjadi halal baginya.

NISHAB ZAKAT EMAS DAN PERAK


Emas dan perak adalah harta kekayaan utama umat manusia. Dengannya, harta benda lainnya
dinilai. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya akan membahas nishab keduanya dan harta
yang semakna dengannya, yaitu uang kertas.

Dari Sahabat Ali radhiyallhu'anhu, ia meriwayatkan dari Nabi Shallallhu 'Alaihi


Wasallam,
Beliau bersabda:
Bila engkau memiliki dua ratus dirham dan telah berlalu satu tahun (sejak memilikinya),
maka padanya engkau dikenai zakat sebesar lima dirham. Dan engkau tidak berkewajiban
membayar zakat sedikitpun maksudnya zakat emas- hingga engkau memiliki dua puluh
dinar. Bila engkau telah memiliki dua puluh dinar dan telah berlalu satu tahun (sejak
memilikinya), maka padanya engkau dikenai zakat setengah dinar. Dan setiap kelebihan dari
(nishab) itu, maka zakatnya disesuaikan dengan hitungan itu.
(Riwayat Abu Dawud, al-Baihaqi, dan dishahhkan oleh Syaikh al-Albni)

Dari Sahabat Abu Said al-Khudri radhiyallhu'anhu, ia menuturkan:


Raslullh Shallallhu 'Alaihi Wasallam bersabda:
Tidaklah ada kewajiban zakat pada uang perak yang kurang dari lima Uqiyah .
(Muttafaqun alaih)
Dalam hadits riwayat Abu Bakar radhiyallhu'anhu dinyatakan:

Dan pada perak, diwajibkan zakat sebesar seperdua puluh (2,5 %).
(Riwayat al-Bukhri)
Hadits-hadits di atas adalah sebagian dalil tentang penentuan nishab zakat emas dan perak,
dan darinya, kita dapat menyimpulkan beberapa hal:
1. Nishab adalah batas minimal dari harta zakat. Bila seseorang telah memiliki harta
sebesar itu, maka ia wajib untuk mengeluarkan zakat. Dengan demikian, batasan
nishab hanya diperlukan oleh orang yang hartanya sedikit, untuk mengetahui
apakah dirinya telah berkewajiban membayar zakat atau belum. Adapun orang yang
memiliki emas dan perak dalam jumlah besar, maka ia tidak lagi perlu untuk
mengetahui batasan nishab, karena sudah dapat dipastikan bahwa ia telah
berkewajiban membayar zakat. Oleh karena itu, pada hadits riwayat Ali
radhiyallhu'anhu di atas, Nabi Shallallhu 'Alaihi Wasallam menyatakan: Dan
setiap kelebihan dari (nishab) itu, maka zakatnya disesuaikan dengan hitungan itu.
2. Nishab emas, adalah 20 (dua puluh) dinar, atau seberat 91 3/7 gram emas.
3. Nishab perak, yaitu sebanyak 5 (lima) uqiyah, atau seberat 595 gram.
4. Kadar zakat yang harus dikeluarkan dari emas dan perak bila telah mencapai nishab
adalah atau 2,5%.
5. Perlu diingat, bahwa yang dijadikan batasan nishab emas dan perak tersebut, ialah
emas
dan
perak
murni
(24
karat).
Dengan demikian, bila seseorang memiliki emas yang tidak murni, misalnya emas
18 karat, maka nishabnya harus disesuaikan dengan nishab emas yang murni (24
karat), yaitu dengan cara membandingkan harga jualnya, atau dengan bertanya
kepada toko emas, atau ahli emas, tentang kadar emas yang ia miliki. Bila kadar
emas yang ia miliki telah mencapai nishab, maka ia wajib membayar zakatnya, dan
bila belum, maka ia belum berkewajiban untuk membayar zakat.
[3]

[4]

[5]

Orang yang hendak membayar zakat emas atau perak yang ia miliki, dibolehkan untuk
memilih satu dari dua cara berikut.
Cara pertama, membeli emas atau perak sebesar zakat yang harus ia bayarkan, lalu
memberikannya langsung kepada yang berhak menerimanya.
Cara kedua, ia membayarnya dengan uang kertas yang berlaku di negerinya sejumlah harga
zakat (emas atau perak) yang harus ia bayarkan pada saat itu.
Sebagai contoh, bila seseorang memiliki emas seberat 100 gram dan telah berlalu satu haul,
maka ia boleh mengeluarkan zakatnya dalam bentuk perhiasan emas seberat 2,5 gram.
Sebagaimana ia juga dibenarkan untuk mengeluarkan uang seharga emas 2,5 gram tersebut.
Bila harga emas di pasaran Rp. 200.000, maka, ia berkewajiban untuk membayarkan uang
sejumlah Rp. 500.000,- kepada yang berhak menerima zakat.

Syaikh Muhammad bin Shlih al-Utsaimin rahimahullh berkata:


Aku berpendapat, bahwa tidak mengapa bagi seseorang membayarkan zakat emas dan perak
dalam bentuk uang seharga zakatnya. Ia tidak harus mengeluarkannya dalam bentuk emas.
Yang demikian itu, lebih bermanfaat bagi para penerima zakat. Biasanya, orang fakir, bila
engkau beri pilihan antara menerima dalam bentuk kalung emas atau menerimanya dalam
bentuk uang, mereka lebih memilih uang, karena itu lebih berguna baginya.
[6]

Catatan Penting Pertama.


Perlu diingat, bahwa harga emas dan perak di pasaran setiap saat mengalami perubahan,
sehingga bisa saja ketika membeli, tiap 1 gram seharga Rp 100.000,- dan ketika berlalu satu
tahun, harga emas telah berubah menjadi Rp. 200.000,- Atau sebaliknya, pada saat beli, 1
gram emas harganya sebesar Rp. 200.000,- sedangkan ketika jatuh tempo bayar zakat,
harganya turun menjadi Rp. 100.000,Pada kejadian semacam ini, yang menjadi pedoman dalam pembayaran zakat adalah harga
pada saat membayar zakat, bukan harga pada saat membeli.
[7]

NISHAB ZAKAT UANG KERTAS


Pada zaman dahulu, umat manusia menggunakan berbagai cara untuk bertransaksi dan
bertukar barang, agar dapat memenuhi kebutuhannya. Pada awalnya, kebanyakan
menggunakan cara barter, yaitu tukar-menukar barang. Akan tetapi, tatkala manusia
menyadari bahwa cara ini kurang praktis - terlebih bila membutuhkan dalam jumlah besar
maka manusia berupaya mencari alternatif lain. Hingga akhirnya, manusia mendapatkan
bahwa emas dan perak sebagai barang berharga yang dapat dijadikan sebagai alat transaksi
antar manusia, dan sebagai alat untuk mengukur nilai suatu barang.
Dalam perjalanannya, manusia kembali merasakan adanya berbagai kendala dengan uang
emas dan perak, sehingga kembali berpikir untuk mencari barang lain yang dapat
menggantikan peranan uang emas dan perak itu. Hingga pada akhirnya ditemukanlah uang
kertas. Dari sini, mulailah uang kertas tersebut digunakan sebagai alat transaksi dan pengukur
nilai barang, menggantikan uang dinar dan dirham.
Berdasarkan hal ini, maka para ulama menyatakan bahwa uang kertas yang diberlakukan oleh
suatu negara memiliki peranan dan hukum, seperti halnya yang dimiliki uang dinar dan
dirham. Dengan demikian, berlakulah padanya hukum-hukum riba dan zakat.
[8]

Bila demikian halnya, maka bila seseorang memiliki uang kertas yang mencapai harga nishab
emas atau perak, ia wajib mengeluarkan zakatnya, yaitu 2,5% dari total uang yang ia miliki.
Dan untuk lebih jelasnya, maka saya akan mencoba mejelaskan hal ini dengan contoh
berikut.
Misalnya satu gram emas 24 karat di pasaran dijual seharga Rp.200.000,- sedangkan 1 gram
perak murni dijual seharga Rp. 25.000,- Dengan demikian, nishab zakat emas adalah 91 3/7 x

Rp. 200.000 = Rp. 18.285.715,- sedangkan nishab perak adalah 595 x Rp 25.000 = Rp.
14.875.000,-.
Apabila pak Ahmad (misalnya), pada tanggal 1 Jumadits-Tsani 1428 H memiliki uang
sebesar Rp. 50.000.000,- lalu uang tersebut ia tabung dan selama satu tahun (sekarang tahun
1429H) uang tersebut tidak pernah berkurang dari batas minimal nishab di atas, maka pada
saat ini pak Ahmad telah berkewajiban membayar zakat malnya. Total zakat mal yang harus
ia bayarkan ialah:
Rp. 50.000.000 x 2,5 % = Rp 1.250.000,(atau Rp. 50.000.000 dibagi 40)
Pada kasus pak Ahmad di atas, batasan nishab emas ataupun perak, sama sekali tidak
diperhatikan, karena uang beliau jelas-jelas melebihi nishab keduanya. Akan tetapi, bila uang
pak Ahmad berjumlah Rp. 16.000.000,- maka pada saat inilah kita mempertimbangkan batas
nishab emas dan perak. Pada kasus kedua ini, uang pak Ahmad telah mencapai nishab perak,
yaitu Rp. 14.875.000,- akan tetapi belum mancapai nishab emas yaitu Rp 18.285.715.
Pada kasus semacam ini, para ulama menyatakan bahwa pak Ahmad wajib menggunakan
nishab perak, dan tidak boleh menggunakan nishab emas. Dengan demikian, pak Ahmad
berkewajiban membayar zakat mal sebesar :
Rp. 16.000.000 x 2,5 % = Rp. 400.000,(atau Rp. 16.000.000,- dibagi 40)
Komisi Tetap Untuk Fatwa Kerajaan Saudi Arabia dibawah kepemimpinan Syaikh
Abdul-Aziz bin Bz rahimahullh pada keputusannya no. 1881 menyatakan:
Bila uang kertas yang dimiliki seseorang telah mencapai batas nishab salah satu dari
keduanya (emas atau perak), dan belum mencapai batas nishab yang lainnya, maka
penghitungan zakatnya wajib didasarkan kepada nishab yang telah dicapai tersebut.

[9]

Catatan Penting Kedua.


Dari pemaparan singkat tentang nishab zakat uang di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
nishab dan berbagai ketentuan tentang zakat uang adalah mengikuti nishab dan ketentuan
salah satu dari emas atau perak. Oleh karena itu, para ulama menyatakan bahwa nishab emas
atau nishab perak dapat disempurnakan dengan uang atau sebaliknya.
[10]

Berdasarkan pemaparan di atas, bila seseorang memiliki emas seberat 50 gram seharga Rp.
10.000.000, (dengan asumsi harga 1 gram emas adalah Rp. 200.000,-) dan ia juga memiliki
uang tunai sebesar Rp. 13.000.000, maka ia berkewajiban membayar zakat 2,5 %. Dalam hal
ini walaupun masing-masing dari emas dan uang tunai yang ia miliki belum mencapai nishab,
akan tetapi ketika keduanya digabungkan, jumlahnya (Rp. 23.000.000,-) mencapai nishab.
Dengan demikian orang tersebut berkewajiban membayar zakat sebesar Rp. 575.000,berdasarkan perhitungan sebagai berikut:

(Rp 10.000.000,- + Rp. 13.000.000,-) x 2,5 % = Rp. 575.000,(atau Rp. 23.000.000,- dibagi 40)

ZAKAT PROFESI
Pada zaman sekarang ini, sebagian orang mengadakan zakat baru yang disebut dengan zakat
profesi, yaitu bila seorang pegawai negeri atau perusahaan yang memiliki gaji besar, maka ia
diwajibkan untuk mengeluarkan 2,5 % dari gaji atau penghasilannya. Orang-orang yang
menyerukan zakat jenis ini beralasan, bila seorang petani yang dengan susah payah bercocok
tanam harus mengeluarkan zakat, maka seorang pegawai yang kerjanya lebih ringan dan
hasilnya lebih besar dari hasil panen petani, tentunya lebih layak untuk dikenai kewajiban
zakat. Berdasarkan qiyas ini, para penyeru zakat profesi mewajibkan seorang pegawai untuk
mengeluarkan 2,5 % dari gajinya dengan sebutan zakat profesi.
Bila pendapat ini dikaji dengan seksama, maka kita akan mendapatkan banyak kejanggalan
dan penyelewengan. Berikut secara sekilas bukti kejanggalan dan penyelewengan tersebut:
1. Zakat hasil pertanian adalah (seper-sepuluh) hasil panen bila pengairannya tanpa
memerlukan biaya, dan (seper-duapuluh) bila pengairannya membutuhkan biaya.
Adapun zakat profesi, maka zakatnya adalah 2,5 % sehingga Qiyas semacam ini
merupakan Qiyas yang sangat aneh (ganjil) dan menyeleweng.
2. Gaji diwujudkan dalam bentuk uang, maka gaji lebih tepat bila dihukumi dengan
hukum zakat emas dan perak, karena sama-sama sebagai alat jual beli dan standar
nilai barang.
3.
Gaji bukanlah hal baru dalam kehidupan manusia secara umum dan umat Islam
secara khusus. Keduanya telah ada sejak zaman dahulu kala. Berikut beberapa bukti
yang menunjukkan hal itu:
Sahabat Umar bin al-Khaththab radhiyallhu'anhu pernah menjalankan suatu tugas
dari Raslullh Shallallhu 'Alaihi Wasallam. Lalu ia pun diberi upah oleh
Raslullh Shallallhu 'Alaihi Wasallam. Pada awalnya, Sahabat Umar
radhiyallhu'anhu menolak upah tersebut, akan tetapi Raslullh Shallallhu 'Alaihi
Wasallam bersabda kepadanya:
Bila engkau diberi sesuatu tanpa engkau minta, maka makan (ambil) dan
sedekahkanlah.
(Riwayat Muslim)
Seusai Sahabat Abu Bakar radhiyallhu'anhu dibaiat untuk menjabat khilafah,
beliau berangkat ke pasar untuk berdagang sebagaimana kebiasaan beliau
sebelumnya. Di tengah jalan beliau berjumpa dengan Umar bin al-Khaththab
radhiyallhu'anhu, maka Umar pun bertanya kepadanya:
Hendak kemanakah engkau?

Abu Bakar menjawab:


Ke pasar.
Umar kembali bertanya:
Walaupun engkau telah mengemban tugas yang menyibukanmu?
Abu Bakar menjawab:
Subhanallah, tugas ini akan menyibukkan diriku dari menafkahi keluargaku?
Umar pun menjawab:
Kita akan memberimu secukupmu.
(Riwayat Ibnu Saad dan al-Baihaqi)
Imam al-Bukhri juga meriwayatkan
radhiyallhu'anhu tentang hal ini.

pengakuan

Sahabat

Abu

Bakar

Sungguh, kaumku telah mengetahui


bahwa pekerjaanku dapat mencukupi kebutuhan keluargaku.
Sedangkan sekarang aku disibukkan oleh urusan kaum muslimin,
maka sekarang keluarga Abu Bakar
akan makan sebagian dari harta ini (harta baitul-ml),
sedangkan ia akan bertugas mengatur urusan mereka.
(Riwayat Bukhri)
Riwayat-riwayat ini semua membuktikan, bahwa gaji dalam kehidupan umat Islam
bukan sesuatu yang baru, akan tetapi, selama 14 abad lamanya tidak pernah ada satu
pun ulama yang memfatwakan adanya zakat profesi atau gaji. Ini membuktikan
bahwa zakat profesi tidak ada. Yang ada hanyalah zakat mal, yang harus memenuhi
dua syarat, yaitu hartanya mencapai nishab dan telah berlalu satu haul (1 tahun).

Oleh karena itu, ulama ahlul-ijtihad yang ada pada zaman kita mengingkari pendapat ini.
Salah satunya ialah Syaikh Bin Bz rahimahullh, beliau berkata:
Zakat gaji yang berupa uang, perlu diperinci, bila gaji telah ia terima, lalu berlalu satu tahun
dan telah mencapai satu nishab, maka wajib dizakati. Adapun bila gajinya kurang dari satu
nishab, atau belum berlalu satu tahun, bahkan ia belanjakan sebelumnya, maka tidak wajib
dizakati.
[11]

Fatwa serupa juga telah diedarkan oleh Anggota Tetap Komite Fatwa Kerajaan Saudi Arabia,
dan berikut ini fatwanya:
Sebagaimana telah diketahui bersama, bahwa di antara harta yang wajib dizakati adalah
emas dan perak (mata uang). Dan di antara syarat wajibnya zakat pada emas dan perak (uang)
adalah berlalunya satu tahun sejak kepemilikan uang tersebut. Mengingat hal itu, maka zakat
diwajibkan pada gaji pegawai yang berhasil ditabungkan dan telah mencapai satu nishab,
baik gaji itu sendiri telah mencapai satu nishab atau dengan digabungkan dengan uangnya
yang lain dan telah berlalu satu tahun. Tidak dibenarkan untuk menyamakan gaji dengan hasil
bumi, karena persyaratan haul (berlalu satu tahun sejak kepemilikan uang) telah ditetapkan
dalam dalil, sehingga tidak boleh ada Qiyas. Berdasarkan itu semua, maka zakat tidak wajib
pada tabungan gaji pegawai hingga telah berlalu satu tahun (haul).
[12]

Sebagai penutup tulisan singkat ini, saya mengajak pembaca untuk senantiasa merenungkan
janji Raslullh Shallallhu 'Alaihi Wasallam berikut:

Tidaklah shadaqah itu akan mengurangi harta kekayaan.


(HR. Muslim)
Semoga pemaparan singkat di atas dapat membantu pembaca memahami metode
penghitungan zakat maal yang benar menurut syariat Islam. Wallahu Taala Alam bishShawb.

[1]

[2]

[3]

[4]

Tafsir Ibnu Katsir (2/351-352). Hal semakna juga diungkapkan oleh Ibnu Hajar alAsqalni dalam kitabnya, Fathul-Bri (3/305).
Lihat Fathul-Bri, 3/305.
Penentuan nishab emas dengan 91 3/7 gram, berdasarkan keputusan Komisi Tetap
Fatwa Kerajaan Saudi Arabia no. 5522. Adapun Syaikh Muhammad bin Shlih
al-Utsaimin menyatakan, bahwa nishab zakat emas adalah 85 gram, sebagaimana
beliau tegaskan dalam bukunya, Majmu Fatw wa Rasil, 18/130 dan 133).
Penentuan nishab perak dengan 595 gram, berdasarkan penjelasan Syaikh Muhammad
bin Shalih al-Utsaimin pada berbagai kitab beliau, di antaranya Majmu Fatw wa

Rasil, 18/141.