Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang kita kenal sebagai penyakit kencing manis
adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya
peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolute maupun
relative. DM merupakan salah satu penyakit degenerative dengan sifat kronis yang jumlahnya
terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 1983, prevalensi DM di Jakarta baru
sebesar ,7%; pada tahun 1993 prevalensinya meningkat menjadi 5,7% dan pada tahun 2001
melonjak menjadi 12,8%.
Penyakit kencing manis telah dikenal ribuan tahun sebelum masehi. Dalam manuskrip
yang ditulis George Ebers di Mesir sekitar tahun 1550 sM- kemudian dikenal sebagai Papirus
Ebers, mengungkapkan beberapa pengobatan terhadap suatu penyakit dengan gejala sering
kencing yang member kesan diabetes. Demikian pula dalam buku India Aryuveda 600 sM
penyakit ini telah dikenal. Dikatakan bahwa penyakit ini dapat bersifat ganas dan berakhir
dengan kematian penderita dalam waktu singkat. Dua ribu tahun yang lalu Aretaeus sudah
memberikan adanya suatu penyakit yang ditandai dengan kencing yang banyak dan
dianggapnya sebagai penyakit yang penuh rahasia dan menamai penyakit itu diabetes dari
kata diabere yang berarti siphon atau tabung untuk mengalirkan cairan dari satu tempat ke
tempat lain. Ia berpendapat bahwa penyakit itu demikian ganas, sehingga penderita seolaholah dihancurkan dan dibuang melalui air seni. Cendekiawan Cina dan India pada abad 3 s/d
6 juga menemukan penyakit ini, dan mengatakan bahwa urin pasien-pasien itu rasanya manis.
Willis pada tahun 1674 melukiskan urin tadi seperti digelimangi madu dan gula. Sejak itu
penyakit itu ditambah dengan kata mellitus yang artinya madu. Ibnu Sina pertama kali
melukiskan gangrene diabetic pada tahun 1000. Pada tahun Von Mehring dan Minkowski
mendapatkan gejala diabetes pada anjing yang diambil pancreasnya. Akhirnya pada tahun
1921 dunia dikejutkan dengan penemuan insulin oleh seorang ahli bedah muda Frederick
Grant Banting dan asistennya yang masih mahasiswa Charles Herbert Best di Toronto. Tahun
1954-1956 ditemukan tablet jenis sulfonylurea generasi pertama yang dapat meningkatkan
produksi insulin. Sejak itu banyak ditemukan obat seperti sulfonylurea generasi kedua dan
ketiga serta golongan lain seperti biguanid dan penghambat glukosidase alfa.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini meliputi:
a.

Pengertian Diabetes Melitus type 1 dan type 2

b. Penyebab Diabetes Melitus Type 1 dan Type 2


c.

Tanda Dan Gejala Diabetes Melitus Type 1 dan Type 2

d. Patofisiologi Diabetes Melitus Type 1 dan Type 2


e.

Pathway Diabetes Melitus

f.

Komplikasi Diabetes Melitus

g. Penatalaksanaan Diabetes Melitus


h. Pencegahan diabetes Melitus
i.

Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus Type 1 dan Type 2

C. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar pembaca maupun mahasiswa

dapat

menjelaskan pengertian, tanda dan gejala, penyebab, diabetes melitus. Sehingga dapat di
aplikasikan kepada masyarakat ataupun teman kerabat.

D. Manfaat
Manfaat dari makalah ini adalah diharapkan kepada pembaca ataupun mahasiswa untuk
mengetahui pengertian, tanda dan gejala dan penyebab dari diabetes mellitus . sehingga
secara dini kita bisa mencegah terjadinya penyakit diabetes mellitus atau sering dikatakan
kencing manis

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
a.

DM type I. atau disebut DM yang tergantung pada insulin (IDDM)


penyebab : akibat kekurangan insulin dalam darah yang terjadi karena kerusakan dari sel beta
pancreas. Gejala yang menonjol adalah terjadinya sering kencing (terutama malam hari),
sering lapar dan sering haus, sebagian besar penderita DM type ini berat badannya normal
atau kurus. Biasanya terjadi pada usia muda dan memerlukan insulin seumur hidup.

b. DM type II atau disebut DM yang tak tergantung pada insuli. (NIDDM)


Penyebab : insulin yang ada tidak dapat bekerja dengan baik, kadar insulin dapat normal,
rendah atau bahkan bahkan meningkat tetapi fungsi insulin untuk metabolisme glukosa tidak
ada/kurang. Akibatnya glukosa dalam darah tetap tinggi sehingga terjadi hiperglikemia, 75%
dari penderita DM type II dengan obersitas atau ada sangat kegemukan dan biasanya
diketahui DM setelah usia 30 tahun
B. Etiologi
DM atau kencing manis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh karena peningkatan
kadar gula dalam darah (hiperglikemi) akibat kekurangan hormon insulin baik absolut
maupun relatif. Absolut berarti tidak ada insulin sama sekali sedangkan relatif berarti
jumlahnya cukup/memang sedikit tinggi atau daya kerjanya kurang. Hormon Insulin dibuat
dalam pancreas.
Keadaan yang menyebabkan hiperglikemia,
-

Kerusakan genetik dari sel beta

Kerusakan genetik dari aksi insulin

Penyakit dari pankreas endokrin : pankreasitis, trauma, neoplasma.

Mengkonsumsi obat obatan ilmiah

Infeksi

Faktor keturunan

C. Manifestasi

Tanda dan gejalanya adalah sebagai berikut :


- Meningkatnya pengeluaran urine (Poliuri).
- Timbulnya rasa haus yang berlebihan (haus-haus) (Polidipsi).
- Rasa lapar yang semakin besar (Polipagia).
- mengeluh lelah dan mengantuk.
- Penglihatan kabur.
- Kesemutan pada jari tangan dan kaki.
- Mudah infeksi pada luka
Keluhan yang sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa
kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang
sukar sembuh dengan pengobatan lazim. Pada DM tipe I mengalami ketoasidosis diabetes ,
keadaan disregulasi metabolik yang ditandai dengan napas bau aseton, pernapasan cepat dan
dalam (kussmaul), mual , muntah dan nyeri perut, kelelahan.

(American Diabetes

Association )

D. Patofisiologi
Dalam proses metabolisme, insulin memegang peran yang sangat penting yaitu bertugas
memasukkan glukosa ke dalam sel. Insulin adalah suatu zat yang dikeluarkan oleh sel beta di
Pankreas.

1) Pankreas
Pankreas adalah sebuah kelenjar yang letaknya di belakang lambung. Di dalamnya terdapat
kumpulan sel yang disebut pulau-pulau Langerhans yang berisi sel beta. Sel beta
mngeluarkan hormon insulin untuk mengatur kadar glukosa darah. Selain sel beta ada juga
sel alfa yang memproduksi glukagon yang bekerja sebaliknya dengan insulin yaitu
meningkatkan kadar glukosa darah. Juga ada sel delta yang mngeluarkan somastostatin.
2) Kerja Insulin
Insulin diibaratkan sebagai anak kunci untuk membuka pintu masuknya glukosa ke dalam sel,
untuk kemudian di dalam sel, glukosa itu dimetabolismekan menjadi tenaga.
3) Patofisiologi DM Tipe 1

Mengapa insulin pada DM Tipe 1 tidak ada? Ini disebabkan oleh karena pada jenis ini timbul
reaksi otoimun yang disebabkan karena adanya peradangan pada sel beta insulitis. Ini
menyebabkan timbulnya anti bodi terhadap sel beta yang disebut ICA (Islet Cell Antibody).
Reaksi antigen (sel beta) dengan antibodi (ICA) yang ditimbulkannya menyebabkan
hancurnya sel beta.
4) Patofisiologi DM Tipe 2
Pada DM Tipe 2 jumlah insulin normal, malah mungkin lebih banyak tetapi reseptor insulin
yang terdapat pada permukaan sel kurang. Reseptor inSulin ini diibaratkan sebagai lubang
kunci pintu masuk ke dalam sel. Pada keadaan tadi jumlah lubang kuncinya yang kurang,
hingga meskipun anak kuncinya (insulin) banyak, tetapi karena lubang kuncinya (reseptor)
kurang, maka glukosa yang masuk sel akan sedikit, sehingga sel akan kekurangan glukosa
dan glukosa di dalam darah akan meningkat. Dengan demikian keadaan ini sama dengan pada
DM Tipe 1.
Perbedaanya adalah DM Tipe 2 disamping kadar glukosa tinggi,juga kadar insulin
tinggi atau normal. Keadaan ini disebut resistensi insulin.
Faktor-faktor yang banyak berperan sebagai penyebab resistensi insulin:
- Obesitas terutama yang bersifat sentral (bentuk apel)
- Diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat
- Kurang gerak badan
- Faktor keturunan (herediter)

E. PATHWAY
Defisiensi Insulin
Glucagon
Glukogenesisis
Lemak
protein
Ketogenesis BUN
PH
nitrogen urin
Asidosis
Koma
Kematian
Mual muntah
gangguan nutrisi
Kurang dr kebutuhan

penurunan Pemakain glukosa o/ sel


hiperglikemia
glikosuria
osmotic diuretic
dehidrasi
kek. Vol. cairan
hemokonsetrasi
trombosis

Aterosklerosis

Makrovaskular
Jantung
Miokard infark

mikrovaskular
serebral
ekstremitas
Retina
Ginjal
stroke
gangrene
nefropati diabetic
nefropati
Ggn. Penglihatan gagal ginjal
Gangguan integrasi kulit resiko injury

Takut akan di amputasi


Kecemasan

kurang pengetahuan

F. Komplikasi
1. Komplikasi akut, bersifat gawat darurat seperti hipoglikemi, ketoasidosis, hiperosmolar non
ketotik. tanpa penangan yang tepat dan cepat maka yang terjadi adalah orang tersebut akan
koma dan bisa menyebabkan kematian.
2. Komplikasi kronik, terjadi pada penderita diabet yang tidak dilakukan penanganan yang baik
komplikasi yang terjadi di bagi menjadi 2 yaitu :

Mikroangiopati, mengenapi pembuluh darah yang kecil. Akibat yang ditimbulkan antara lain
kerusakan retina yang dapat menyebabkan kebutaan (retinopati diabetikum), kegagalan
fungsi ginjal (nefropati diabetikum), kerusakan syaraf yang dapat menyebabkan impotensi
maupun mono/polineuropati dibetikum dimana penderita merasakan lengan dan tungkai
kesemutan dan lemah

Makroangiopati, komplikasi yang mengenai pembuluh dasar besar antara lain pembuluh
darah otak (menyebabkan stroke), jantung (penyakit jantung koroner yang menyebabkan
serangan jantung), dan pembuluh darah tepi (berkurangnya aliran darah ke perifer salah satu
akibatnya penyembuhan luka berjalan lambat)
G. Penatalaksanaan
Berupa:
a. Obat Hipoglikemik Oral
1) Pemicu sekresi insulin:
Sulfonilurea
Glinid
2) Penambah sensitivitas terhadap insulin:
Biguanid

Tiazolidindion
Penghambat glukosidase alfa
c.

Insulin
d. Pencegahan komplikasi
Berhenti merokok
Mengoptimalkan kadar kolesterol
Menjaga berat tubuh yang stabil
Mengontrol tekanan darah tinggi
Olahraga teratur dapat bermanfaat :
Mengendalikan kadar glukosa darah
Menurunkan kelebihan berat badan (mencegah kegemukan)
Membantu mengurangi stres
Memperkuat otot dan jantung
Meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL)
Membantu menurunkan tekanan darah

H. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah :
- Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah meliputi : GDS > 200 mg/dl, gula darah puasa >120 mg/dl dan dua jam
post prandial > 200 mg/dl.
- Urine
Pemeriksaan didapatkan adanya glukosa dalam urine. Pemeriksaan dilakukan dengan cara
Benedict ( reduksi ). Hasil dapat dilihat melalui perubahan warna pada urine : hijau ( + ),
kuning ( ++ ), merah ( +++ ), dan merah bata ( ++++ ).
- Kultur pus
Mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotik yang sesuai dengan jenis
kuman.
I.

Pencegahan

Menghindari obesitas
Perbanyak olah raga
Menjaga pola makan dengan diet sehat

J.

Asuhan Keperawatan

a) Pengkajian Gordon
- Riwayat kesehatan sekarang :
Biasanya klien masuk ke RS dengan keluhan nyeri, kesemutan pada ekstremitas bawah, luka
yang sukar sembuh, kulit kering, merah, dan bola mata cekung, Sakit kepala, menyatakan
seperti mau muntah, kesemutan, lemah otot, disorientasi, letargi, koma dan bingung.
- Riwayat kesehatan lalu
Biasanya klien DM mempunyai Riwayat hipertensi, penyakit jantung seperti Infart miokard
- Riwayat kesehatan keluarga :
Biasanya Ada riwayat anggota keluarga yang menderita DM
1. Pola persepsi
Pada pasien gangren kaki diabetik terjadi perubahan persepsi dan tata laksana hidup sehat
karena kurangnya pengetahuan tentang dampak gangren kaki diabetuk sehingga
menimbulkan persepsi yang negatif terhadap dirinya dan kecenderungan untuk tidak
mematuhi prosedur pengobatan dan perawatan yang lama, lebih dari 6 juta dari penderita DM
tidak menyadari akan terjadinya resiko Kaki diabetik bahkan mereka takut akan terjadinya
amputasi (Debra Clair, journal februari 2011)
2. Pola nutrisi metabolic
Akibat produksi insulin tidak adekuat atau adanya defisiensi insulin maka kadar gula darah
tidak dapat dipertahankan sehingga menimbulkan keluhan sering kencing, banyak makan,
banyak minum, berat badan menurun dan mudah lelah. Keadaan tersebut dapat
mengakibatkan terjadinya gangguan nutrisi dan metabolisme yang dapat mempengaruhi
status kesehatan penderita. Nausea, vomitus, berat badan menurun, turgor kulit jelek,
mual/muntah.
3. Pola eliminasi
Adanya hiperglikemia menyebabkan terjadinya diuresis osmotik yang menyebabkan pasien
sering kencing (poliuri) dan pengeluaran glukosa pada urine ( glukosuria ). Pada eliminasi
alvi relatif tidak ada gangguan.
4. Pola aktivitas dan latihan
Kelemahan,

susah

berjalan/bergerak,

kram

otot,

gangguan

istirahat

dan

tidur,

tachicardi/tachipnea pada waktu melakukan aktivitas dan bahkan sampai terjadi koma.
Adanya luka gangren dan kelemahan otot otot pada tungkai bawah menyebabkan penderita
tidak mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari secara maksimal, penderita mudah
mengalami kelelahan.
5. Pola tidur dan istirahat

Istirahat tidak efektif Adanya poliuri, nyeri pada kaki yang luka , sehingga klien mengalami
kesulitan tidur.
6. Kognitif persepsi
Pasien dengan gangren cenderung mengalami neuropati / mati rasa pada luka sehingga tidak
peka terhadap adanya nyeri. Pengecapan mengalami penurunan, gangguan penglihatan .
7. Persepsi dan konsep diri
Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh akan menyebabkan penderita mengalami
gangguan pada gambaran diri. Luka yang sukar sembuh, lamanya perawatan, banyaknya
biaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien mengalami kecemasan dan gangguan
peran pada keluarga ( self esteem ).
8. Peran hubungan
Luka gangren yang sukar sembuh dan berbau menyebabkan penderita malu dan menarik diri
dari pergaulan.
9. Seksualitas
Angiopati dapat terjadi pada sistem pembuluh darah di organ reproduksi sehingga
menyebabkan gangguan potensi sek, gangguan kualitas maupun ereksi, serta memberi
dampak pada proses ejakulasi serta orgasme. Adanya peradangan pada daerah vagina, serta
orgasme menurun dan terjadi impoten pada pria. risiko lebih tinggi terkena kanker prostat
berhubungan dengan nefropati.(Chin-Hsiao Tseng on journal, Maret 2011)
10. Koping toleransi
Lamanya waktu perawatan, perjalanan penyakit yang kronik, perasaan tidak berdaya karena
ketergantungan menyebabkan reaksi psikologis yang negatif berupa marah, kecemasan,
mudah tersinggung dan lain lain, dapat menyebabkan penderita tidak mampu menggunakan
mekanisme koping yang konstruktif / adaptif.
11. Nilai keprercayaan
Adanya perubahan status kesehatan dan penurunan fungsi tubuh serta luka pada kaki tidak
menghambat penderita dalam melaksanakan ibadah tetapi mempengaruhi pola ibadah
penderita.
Pemeriksaan Diagnostik

Gula darah meningkat biasanya > 200 mg/dl


Aseton plasma (aseton) : positif secara mencolok
Osmolaritas serum : meningkat tapi < 330 m osm/lt

Gas darah arteri pH rendah dan penurunan HCO3 (asidosis metabolik)


Alkalosis respiratorik
Trombosit darah : mungkin meningkat (dehidrasi), leukositosis, hemokonsentrasi,

menunjukkan respon terhadap stress/infeksi.


Ureum/kreatinin : mungkin meningkat/normal lochidrasi/penurunan fungsi ginjal.
Amilase darah : mungkin meningkat > pankacatitis akut.
Insulin darah : mungkin menurun sampai tidak ada (pada tipe I), normal sampai meningkat

pada tipe II yang mengindikasikan insufisiensi insulin.


Pemeriksaan fungsi tiroid : peningkatan aktivitas hormon tiroid dapat meningkatkan glukosa

darah dan kebutuhan akan insulin.


Urine : gula dan aseton positif, BJ dan osmolaritas mungkin meningkat.
Kultur : kemungkinan infeksi pada luka.

b) Diagnosa Keperawatan
Kemungkinan diagnose keperawatan yang muncul pada penderita diabetes mellitus adalah
a. Gangguan integritas kulit
Definisi: perubahan epidermis dan dermis
Batasan karateristik :
- Kerusakan lapisan kulit (dermis)
- Gangguan permukaan kulit (epidermis)
- Invasi struktur tubuh

Faktor yang berhubungan:


-

Eksternal ( zat kimia, kelembapan, hipertermi, hipotermi, faktor mekanik, obat, imobilisasi

fisik, radiasi)
Internal ( perubahan statuscairan, perubahan pigmentasi, perubahan turgor (perubahan

elastisitas), faktor perkembangan, ketidakseimbangan nutrisi, gangguan sirkulasi.


b. Intoleransi aktivitas
Definisi: ketidakcukupan fisiologi atau psikologi untuk melanjutkan atau menyelesaikan

aktifitas seahri-hari yg ingin atau harus dilakukan


Batasan karateristik:
Subjektif ( ketidaknyamanan atau dispnea saat beraktifitas, melaporkan keletihan

ataukelemahan secara verbal)


- Objetif (frekuensi jantung atau tekanan darah tidak normal sebagai respon terhadap aktifitas )
Faktor yg berhubungan:
- Tirah baring dan imobilitas
- Kelemahan umum
- Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen

c.

Kekurangan volume cairan


Definisi : penurunan cairan intravascular, interstitial, atau intrasel.
Batasan karateristik:
- Subjektif ( haus)
- Objektif ( perubahan status mental. Penurunan turgorkulit dan lidah, penurunan haluaran
urine, kulit dan membrane mukosa kering, hematokrit meningkat, suhu tubuh meningkat,
konsentrasi urin meningkat.
Faktor yang berhubungan :
- Kehilangan volume cairan aktif
- Kegagalan mekanismepengaturan [ seperti : dalam diabetes insipidus, hiperaldosteroinisme ]
- Asupan cairan yang tidak adekuat

d. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan


Definisi : intake nutrisi tidak cukup untuk metabolisme tubuh
Batasan karateristik:
- Berat badan kurang dari 20% atau lebih dibawah berat badan ideal untuk tinggi badan dan
rangka tubuh
Faktor yang berhubungan:
-

Ketergantungan zat kimia


Penyakit kronis
Kesulitan mengunyah atau menelan
Kebutuhan metabolic tinggi
Mual dan muntah
Hilang nafsu makan

e.

Resiko Injury
Definisi : beresiko mengalami cedera sebagai akibat daari kondisi lingkungan yang

beriinteraksi dengan sumber-sumber adaptif dan pertahanan individu


Faktor resiko:
Internal ( profil darah yang tidak normal ( leukositosis, leucopenia), gangguan faktor

pembekuan, malnutrisi, Fisik (mis: kulit rusak, hambatan)


Ekksternal ( tingkat imunisasi komunitas, mikroorganisme, obat-obatan, racun,rancangan,

struktur dan penataan komunitas, bangunan, dan kendaraan )


f. Resiko infeksi
Deifnisi : Peningkatan resiko masuknya organisme patogen
Faktor-faktor resiko :
Prosedur Infasif
Ketidakcukupan pengetahuan untuk menghindari paparan patogen
Trauma
Kerusakan jaringan dan peningkatan paparan lingkungan
Ruptur membran amnion
Agen farmasi (imunosupresan)

g. Cemas
Definisi : Perasaan gelisah yang tak jelas dari ketidaknyamanan atau ketakutan yang disertai
respon autonom (sumner tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan
keprihatinan disebabkan dari antisipasi terhadap bahaya. Sinyal ini merupakan peringatan
adanya ancaman yang akan datang dan memungkinkan individu untuk mengambil langkah
untuk menyetujui terhadap tindakan
Ditandai dengan
Gelisah
Insomnia
Resah
Ketakutan
Sedih
fokus pada diri
Kekhawatiran
Cemas
h. Kurang pengetahuan
Definisi : Tidak adanya atau kurangnya informasi kognitif sehubungan dengan topic spesifik.
Batasan karakteristik :
memverbalisasikan adanya masalah, ketidakakuratan mengikuti instruksi, perilaku tidak
sesuai.
Faktor yang berhubungan :
keterbatasan kognitif, interpretasi terhadap informasi yang salah, kurangnya keinginan untuk
mencari informasi, tidak mengetahui sumber-sumber informasi.

c) intervensi
No
1.

Diagnose
keperawatan
Gangguan inetgritas
kulit.

Tujuan dan criteria hasil


(NOC)
Outcome
Kontrol resiko proses
infeksi
Criteria:
- Memonitor kebiasaan
individu yang terkait
faktor resiko infeksi
- Strategi pengawasan
infeksi yang efektif dapat
dilakukan
- Mengetahui akibat jika
terjadi infeksi

Intervensi (NIC)
1. Identifikasi faktor ekternal dan internal
yang membuat pasien termotivasi untuk
menjaga kesehatan nya
2. Ajarkan klien cara yang dapat digunakan
untuk menghindari kebiasaan yang tidak sehat
3. Monitor bagian kerusakan terhadap adanya
edema
4. Instruksikan klien pentingnya inspeksi
daerah luka
5. Batasi pengunjung
6. Diskusikan pad pasien untuk rutinitas
perawatan kaki

2.

Intoleransi aktifitas

Outcome : perawatan diri


: ADL
Kriteria:
1. Kebersihan mulut
2. Makan
3. Pakaian
4. Tempat tidur
5. Posisi tubuh
6. Berjalan

3.

Kekurangan volume v Fluid balance


v Hydration
cairan
v Nutritional Status :
Food and Fluid Intake
Kriteria Hasil :
v Mempertahankan urine
output sesuai dengan usia
dan BB, BJ urine normal,
HT normal
v Tekanan darah, nadi,
suhu tubuh dalam batas
normal
v Tidak ada tanda tanda
dehidrasi,
Elastisitas
turgor
kulit
baik,
membran
mukosa
lembab, tidak ada rasa
haus yang berlebihan

4.

Gangguan
kurang
kebutuhan

nutrisi v Nutritional Status :


dari food and Fluid Intake 1.
v Nutritional Status :2.
nutrient Intake

7. Tempatkan klien diruang khusus jika perlu


8. Perhatikan peningkatan aktivitas dan latihan
9. Perhatikan istirahat klien
10. Ajarkan klien dan keluarga bagaimana
menghindari infeksi
11. Informasikan kepada keluarga tanda dan
gejala infeksi
12. Instruksikan klien untuk memakan
antibiotik yg telah ditentukan
13. Lakukan tindakan asepsis
1. Mempertimbangkan kebudayaan klien
ketika melakukan perwatan
2. Mempertimbangkan usia klien
3. Monitor kemampuan klien untuk perawatn
diri mandiri
4. Monitor kebutuhan klien terhadap
kebersihan diri, pakaian,dan makan
5. Beri dukungan hingga klien mampu
melakukan aktivitas sendiri
6. Dorong pasien untuk menunjukkan aktivitas
keseharian yg normal
7. Kaji kebutuhan yang memerlukan bantuan
8. Bina aktivitas keseharian klien sehari hari
Fluid management
Timbang popok/pembalut jika diperlukan
Pertahankan catatan intake dan output yang
akurat
Monitor status hidrasi ( kelembaban
membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah
ortostatik ), jika diperlukan
Monitor vital sign
Monitor masukan makanan / cairan dan
hitung intake kalori harian
Kolaborasikan pemberian cairan IV
Monitor status nutrisi
Berikan cairan IV pada suhu ruangan
Dorong masukan oral

Berikan penggantian nesogatrik sesuai


output
Dorong keluarga untuk membantu pasien
makan
Tawarkan snack ( jus buah, buah segar )
kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih
muncul meburuk
Atur kemungkinan tranfusi
Persiapan untuk tranfusi
Nutrition Management
Kaji adanya alergi makanan
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan
jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan

5.

Resiko injury

Kriteria Hasil :
pasien.
v Adanya peningkatan3. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake
berat
badan
sesuai Fe
dengan tujuan
4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein
v
Beratbadan ideal dan vitamin C
sesuai dengan tinggi5. Yakinkan diet yang dimakan mengandung
badan
tinggi serat untuk mencegah konstipasi
v
6. Berikan makanan yang terpilih ( sudah
Mampumengidentifikasi
dikonsultasikan dengan ahli gizi)
kebutuhan nutrisi
7. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan
v Tidk ada tanda tanda makanan harian.
malnutrisi
8. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
v
Menunjukkan9. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
peningkatan
fungsi10. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan
pengecapan dari menelan nutrisi yang dibutuhkan
v
Tidak
terjadi
11. BB pasien dalam batas normal
penurunan berat badan12. Monitor adanya penurunan berat badan
13. Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa
yang berarti
dilakukan
14. Monitor interaksi anak atau orangtua selama
makan
15. Monitor lingkungan selama makan
16. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak
selama jam makan
17. Monitor kulit kering dan perubahan
pigmentasi
18. Monitor turgor kulit
19. Monitor mual dan muntah
20. Monitor kadar albumin, total protein, Hb,
dan kadar Ht
21. Monitor makanan kesukaan
22. Monitor pertumbuhan dan perkembangan
23. Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik
papila lidah dan cavitas oral.
24. Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet
Outcome
:
tingkat 1. Monitor glukosa darah
glukosa darah
2. Monitor keton urin sebagai indikasi
Kriteria :
3. Monitor status cairan
1. Keton urin
4.Bantu pemasukan intake cairan
2. Glukosa urin
5.Identifikasikemungkinan
penyebab
hyperglikemia
6.Instruksiakn pemeriksan keton urin, jika
diperlukan
7.Antisipasi situasi peningkatan kebutuhan
insulin
8.Kaji pasien terhadap tingkat kenaikan
glukosa darah
9.Membatasi aktivitas klien ketika glukosa
darah >250 mg/dl, terutama ketika ditemukan
keton urin

6.

Resiko infeksi

v Immune Status
v Knowledge : Infection
control
v Risk control
Kriteria Hasil :
v Klien bebas dari tanda
dan gejala infeksi
v
Menunjukkan
kemampuan
untuk
mencegah
timbulnya
infeksi
v Jumlah leukosit dalam
batas normal
v Menunjukkan perilaku
hidup sehat

7.

Cemas

Anxiety control
Coping
Impulse control
Kriteria Hasil :

infection Control (Kontrol infeksi)


1. Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien
lain
2. Pertahankan teknik isolasi
3. Batasi pengunjung bila perlu
4. Instruksikanpadapengunjung untuk mencuci
tangan
5. Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci
tangan
6. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah
tindakan kperawtan
7. Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat
pelindung
8. Pertahankan lingkungan aseptik selama
pemasangan alat
9. Ganti letak IV perifer dan line central dan
dressing sesuai dengan petunjuk umum
10. Gunakan kateter intermiten untuk
menurunkan infeksi kandung kencing
11. Tingktkan intake nutrisi
dan local
12. Berikan terapi antibiotic bila perlu Infection
Protection (proteksi terhadap infeksi)
13. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik
14. Monitor hitung granulosit, WBC
15. Monitor kerentanan terhadap infeksi
16. Saring pengunjung terhadap penyakit
menular
17. Partahankan teknik aspesis pada pasien
yang beresik0
18. Pertahankan teknik isolasi k/p
19. Berikan perawatan kuliat pada area
epidema
20. Inspeksi kulit dan membran mukosa
terhadap kemerahan, panas, drainase
21. Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
22. Dorong masukkan nutrisi yang cukup
23. Dorong masukan cairan
24. Instruksikan pasien untuk minum antibiotik
sesuai resep
25. Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan
gejala infeksi
26. Ajarkan cara menghindari infeksi
27. Laporkan kecurigaan infeksi
28. Laporkan kultur positif
Anxiety Reduction ( penurunan kecemasan)
- Gunakan pendekatan yang menenangkan
- Nyatakan dengan jelas harapan terhadap
pelaku pasien
- Jelaskan semua prosedur dan apa yang

Kurang pengetahuan

Klien
mampu dirasakan selama prosedur
mengidentifikasi
dan - Pahami prespektif pasien terhdap situasi stress
mengungkapkan gejala - Temani pasien untuk memberikan keamanan
dan mengurangi takut
cemas
Mengidentifikasi, - Berikaninformasi faktual mengenai diagnosis,
mengungkap kan dan tindakan prognosis
menunjukkan
tehnik - Identifikasi tingkat kecemasan
- Bantu pasien mengenal situasi yang me
untuk mengontol cemas
Vital sign dalam batas nimbulkan kecemasan
- Dorong pasien untuk mengungkapkan
normal
Postur tubuh, ekspresi perasaan, ketakutan, persepsi
- Instruksikan pasien menggunakan teknik
wajah, bahasa tubuh dan
relaksasi
tingkat
aktivitas
- berikan obat untuk mengurangi kecemasan
menunjukkan
ber
kurangnya kecemasan
Kowlwdge : disease Teaching : disease Process
process
- Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan
Kowledge
:
health pasien tentang proses penyakit yang spesifik
- Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan
Behavior
bagaimana hal ini berhubungan dengan
Kriteria Hasil :
Pasien dan keluarga anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.
menyatakan pemahaman - Gambarkan tanda dan gejala yang biasa
tentang penyakit, kondisi, muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat
prognosis dan program - Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang
tepat
pengobatan
Pasien dan keluarga - Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala
mampu
melaksanakan untuk melaporkan pada pemberi perawatan
prosedur yang dijelaskan kesehatan, dengan cara yang tepat
secara benar
Pasien dan keluarga
mampu
menjelaskan
kembali
apa
yang
dijelaskan
perawat/tim
kesehatan lainnya

d) Implementasi
Discharge Planning
1.

Berikan penjelasan secara lisan dan tulisan tentang perawatan dan pengobatan yang
diberikan.

2.

Ajarkan dan evaluasi untuk mengenal gejala syok dan asidosis diabetik dan penanganan
kedaruratan

3. Simulasikan cara pemberian terapi insulin mulai dari persiapan alat sampai penyuntikan dan
lokai
4. Ajarkan memonitor atau memeriksa glukosa darah dan glukosa dalam urine
5. Perencanaan diit, buat jadwal
6. Perencanaan latihan, jelaskan dampak latihan dengan diabetic
7.

Ajarkan gabaimana untukmencegah hiperglikemi dan hipoglikemi daninfomasikan gejala


gejala yang muncul darikeduanya.

8. Jelaskan komplikasi yang muncul


9.

Ajarkan mencegah infeksi : kebersihan kaki, hindari perlukaan,gunakan sikat gigi yang
halus.

e) Evaluasi
Evaluasi adalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam
pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau
intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, 2001).
Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan diabetes mellitus adalah :
1) Kondisi tubuh stabil, tanda-tanda vital, turgor kulit, normal.
2) Berat badan dapat meningkat dengan nilai laboratorium normal dan tidak ada
tanda-tanda malnutrisi.
3) Infeksi tidak terjadi
4) Rasa lelah berkurang/Penurunan rasa lelah
5) Pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses
pengobatan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang
disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan
insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).
Klasifikasi diabetes ada 2 macam yaitu:

a.

DM type I. atau disebut DM yang tergantung pada insulin (IDDM)


penyebab : akibat kekurangan insulin dalam darah yang terjadi karena kerusakan dari sel beta
pancreas. Gejala yang menonjol adalah terjadinya sering kencing (terutama malam hari),
sering lapar dan sering haus, sebagian besar penderita DM type ini berat badannya normal
atau kurus. Biasanya terjadi pada usia muda dan memerlukan insulin seumur hidup.

b. DM type II atau disebut DM yang tak tergantung pada insuli. (NIDDM)


Penyebab : insulin yang ada tidak dapat bekerja dengan baik, kadar insulin dapat normal,
rendah atau bahkan bahkan meningkat tetapi fungsi insulin untuk metabolisme glukosa tidak
ada/kurang. Akibatnya glukosa dalam darah tetap tinggi sehingga terjadi hiperglikemia, 75%
dari penderita DM type II dengan obersitas atau ada sangat kegemukan dan biasanya
diketahui DM setelah usia 30 tahun
B. Saran
Memang penyakit diabetes tidak bisa disembuhkan, kecuali beberapa jenis diabetes.
Tetapi dengan kemauan keras, penyakit ini dapat dikendalikan. Dengan berbekal pengetahuan
yang cukup, disiplin dan keinginan yang besar, maka penyakit diabetes ini bukan merupakan
penyakit yang menakutkan. Ibarat delman, penderita adalah kusir dan diabetes adalah
kudanya. Sepanjang pak kusir masih memegang kendalinya, selama itu pula kudanya akan
menuruti apa keinginan kusir. Dengan prinsip hidup yang positif, pada akhirnya penyandang
DM dapat hidup bahagia bersama diabetes, seperti orang lain berbahagia tanpa diabetes
Daftar Pustaka
- Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. EGC : Jakarta.Carpenito, L.J. 1999.
Rencana Asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan, Diagnosis Keperawatan dan
Masalah Kolaboratif, ed. 2. EGC : Jakarta.
- Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian pasien, ed.3. EGC : Jakarta.
- Effendy, Nasrul. 1995. Pengantar Proses Keperawatan. EGC : Jakarta.FKUI. 2001. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid.II Ed.3. FKUI : Jakarta.