Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perdagangan internasional merupakan salah satu bagian dari kegiatan
ekonomi atau kegiatan bisnis yang akhir-akhir ini mengalami perkembangan
yang sangat pesat. Perhatian dunia usaha terhadap kegiatan bisnis
internasional juga semakin meningkat. Hal ini terlihat dari semakin
berkembangnya arus peredaran barang, jasa, modal, dan tenaga kerja
antarnegara. Kegiatan bisnis dapat terjadi melalui hubungan ekspor impor,
investasi, perdagangan jasa, lisensi dan waralaba (license and franchise), hak
atas kekayaan intelektual atau kegiatan-kegiatan bisnis lainnya yang terkait
dengan perdagangan internasional, seperti perbankan, asuransi, perpajakan
dan sebagainya. Untuk mendukung terlaksananya kegiatan bisnis antarnegara
diperlukan suatu instrumen hukum dalam bentuk peraturan-peraturan, baik
nasional maupun internasional seperti hukum perdagangan internasional
(international trade law).1
Setiap negara tidak dapat melepaskan diri untuk mengimpor barang, jasa
dan ide dari negara lain. Alam yang diciptakan berbeda-beda dan kemampuan
sumber daya manusia dalam mengelola, sehingga ini yang memungkinkan
suatu komoditi yang dihasilkan suatu negara tidak dihasilkan oleh negara lain.
Perdagangan internasional juga mulai berkembang seiring dengan
perkembangan teknologi, peningkatan pendapatan perkapita dan jumlah
penduduk dunia. Hal ini yang membuat munculnya istilah yang sekarang
dikenal sebagai perdagangan bebas dunia. Perdagangan bebas telah mengubah
tatanan perekonomian dan perdagangan dunia yang akan berpengaruh
terhadap setiap negara, terutama yang menerapkan kebijakan perdagangan
bebas atau ekonomi terbuka. Pengaruh tersebut tidak hanya pada kegiatan
1 Muhammad Sood, 2011, Hukum Perdagangan Internasional, Rajagrafindo Persada,
Jakarta, hal.1

produksi di dalam negeri, tetapi juga pada aspek-aspek kehidupan masyarakat


sehari-hari.
Negara maju memberikan pemahaman yang positif tentang perdagangan
bebas walaupun sesungguhnya sangat merugikan negara berkembang.
Perubahan tatanan perekonomian dan perdagangan dunia akan menyebabkan
banyak negara yang dirugikan. Negara-negara yang akan dirugikan adalah
negara yang belum siap, terutama dalam teknologi, sumber daya alam, dan
juga sosial masyarakatnya yang belum mampu menerima perubahanperubahan dalam kehidupan sehari-hari mereka, seperti mengubah pola kerja
atau meningkatkan etos dan disiplin kerja.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana diuraikan di atas, maka
penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah Implementasi Perjanjian Internasional Di Indonesia ?
2. Bagaimanakah Kedudukan Hukum Perusahaan Multinasional Menurut
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas ?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Perjanjian Internasional
Dalam masyarakat internasional dewasa ini, perjanjian internasional
memiliki peranan yang sangat penting dalam mengatur kehidupan dan
pergaulan antar negara. Melalui perjanjian internasional tiap negara
menggariskan dasar kerjasama mereka, mengatur berbagai kegiatan,
menyelesaikan berbagai masalah demi kelangsungan hidup masyarakat itu
sendiri. Dalam dunia yang ditandai dengan saling ketergantungan dewasa ini,
tidak ada satu negara yang tidak mempunyai perjanjian dengan negara lain dan
tidak ada suatu negara yang tidak diatur oleh perjanjian dalam kehidupan
internasionalnya.2
Berdasarkan kenyataan tersebut, tidaklah terlalu berlebihan jika perjanjian
internasional dapat disebut sebagai sumber hukum internasional yang utama.
Sebagai sebuah instrumen yuridis yang menampung kehendak dan persetujuan
dari para subyek hukum internasional yang menyepakatinya, perjanjian
internasional mampu menciptakan kewajiban bagi para pihaknya untuk tunduk
dan menaati aturan-aturan yang tertuang di dalamnya dan bahkan menerima
sanksi apabila tidak mampu ataupun tidak mau melaksanakan perjanjian yang
telah disepakatinya.
Perwujudan

atau

realisasi

hubungan

internasional

dalam

bentuk

perjanjian-perjanjian internasional, sudah sejak lama dilakukan oleh negaranegara di dunia ini. Perjanjian-perjanjian tersebut merupakan hukum yang
harus dihormati dan ditaati oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Tidaklah
berlebihan jika dikatakan, bahwa selama masih berlangsungnya hubungan

2 Boer Mauna, 2005, Hukum Internasional- Pengertian, Peranan dan Fungsi dalam Era
Dinamika Global, Alumni, Bandung, hlm. 82

antara bangsa-bangsa atau negara-negara di dunia ini, selama itu pula masih
tetap akan muncul perjanjian-perjanjian internasional.3
Sampai tahun 1969, pembuatan perjanjian-perjanjian internasional hanya
diatur oleh hukum kebiasaan. Berdasarkan draft pasal-pasal yang disiapkan
oleh Komisi Hukum Internasional, diselenggarakanlah suatu Konferensi
Internasional di Wina dari tanggal 26 Maret hingga 24 Mei 1968 dan dari
tanggal 9 April hingga 22 Mei 1969 untuk mengkodifikasikan hukum
kebiasaan tersebut. Konferensi kemudian melahirkan Vienna Convention on
the Law of Treaties yang ditandatangani 23 Mei 1969. Konvensi ini mulai
berlaku sejak tanggal 27 Januari 1980 dan telah merupakan hukum
internasonal positif. Sampai Desember 1999, sudah 90 negara yang menjadi
pihak pada konvensi tersebut.4
a. Definisi Perjanjian Internasional
Hukum perjanjian internasional telah berkembang pesat dan telah
terkodifikasi ke dalam berbagai konvensi internasional seperti Konvensi Wina
1969 tentang Perjanjian Internasional, Konvensi Wina 1986 tentang Perjanjian
Internasional dan Organisasi Internasional, Konvensi Wina 1978 tentang
Suksesi Negara terkait perjanjian internasional.5
Untuk memahami apa pengertian sesungguhnya dari perjanjian, maka
perlu dipahami definisi hukum seperti yang dirumuskan oleh hukum
internasional. Berdasarkan Konvensi Wina 1969 dan Konvensi Wina 1986,
definisi perjanjian internasional yaitu : An International agreement
concluded between States [and International Organizations] in written form
and governed by International Law, whether embodied in a single instrument
or in two or more related instruments and whatever its particular
3 http://www.id.wikipedia.org/wiki/perserikatan-bangsa-bangsa/,
4 Boer Mauna, Op.cit, hlm. 83
5 Damos Dumoli Agusman, 2010, Hukum Perjanjian Internasional-Kajian Teori dan
Praktik Indonesia, Refika Aditama, Bandung, hlm.20

designation. (sebuah kesepakatan internasional yang dibuat antar negara [dan


antar organisasi internasional] dalam bentuk tertulis dan diatur oleh hukum
internasional, apakah dalam bentuk instrumen tunggal ataupun dua atau lebih
instrumen yang berkaitan dan apapun penyebutannya).
Berdasarkan definisi diatas, kemudian diadopsi oleh undang-undang
No.24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional dengan sedikit modifikasi,
yaitu : Setiap perjanjian di bidang hukum publik yang diatur oleh hukum
internasional, dan dibuat oleh pemerintah dengan negara, organisasi
internasional atau subjek hukum internasional lainnya.
Dari pengertian hukum ini maka terdapat beberapa kriteria dasar yang
harus dipenuhi oleh suatu dokumen perjanjian untuk dapat ditetapkan sebagai
suatu perjanjian internasional menurut Konvensi Wina 1969, Konvensi Wina
1986, dan Undang-undang No.24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional,
yaitu:6
a) Perjanjian tersebut harus berkarakter internasional (an international
agreement), sehingga tidak mencakup perjanjian-perjanjian yang
berskala nasional seperti perjanjian antar negara bagian atau antara
pemerintah daerah dari suatu negara nasional;
b) Perjanjian tersebut harus dibuat oleh negara dan/ atau organisasi
internasional (by subject of international law), sehingga tidak
mencakup perjanjian yang sekalipun bersifat internasional namun
dibuat oleh non-subyek hukum internasional, seperti perjanjian antar
negara dengan perusahaan multinasional;
c) Perjanjian tersebut tunduk pada rezim hukum internasional (governed
by international law) yang oleh undang-undang No. 24 Tahun 2000
tentang Perjanjian Internasional disebut dengan diatur dalam hukum
internasional serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum
publik. Perjanjian-perjanjian yang tunduk pada hukum perdata
nasional tidak tercakup dalam kriteria ini.
6 Ibid.

Parameter tentang governed by international law merupakan elemen


yang

sering

menimbulkan

kerancuan

dalam

memahami

perjanjian

internasional, tidak hanya dikalangan praktisi namun juga akademisi. Komisi


Hukum Internasional yang merancang konvensi ini menyatakan bahwa suatu
dokumen adalah governed by international law jika memenuhi dua elemen
yaitu:7
a) Intended to create obligations and legal relations. (Bermaksud untuk
menciptakan kewajiban dan hubungan hukum) There may be
agreements whilst concluded between states but create no obligations
and legal relations. They could be in the form of a Joint Statement,
or MOU, depends on the subject-matter and the intention of the
parties. (Ada beberapa bentuk perjanjian sementara yang dibuat antar
negara namun tidak menciptakan kewajiban dan hubungan hukum.
Dapat berwujud Pernyataan Bersama, atau Memorandum Saling
Pengertian, tergantung pada isi dan tujuan para pihak yang
membuatnya).
b) under International Law. (di bawah Hukum Internasional) There
may be agreements between States but subject to the local law of one
of the parties or by a private law systems/conflict of law such as
agreements for the acquisition of premises for a diplomatic mission
or for some purely commercial transactions i.e. loan agreements.
(Ada beberapa bentuk perjanjian antar negara namun merupakan
subyek dari hukum nasional salah satu pihak atau berdasarkan sistem
hukum privat/konflik hukum seperti perjanjian mengenai akuisisi
gedung dan halaman untuk misi diplomatik atau mengenai sebuah
transaksi komersial murni seperti misalnya persetujuan peminjaman).
b. Unsur-unsur Perjanjian Internasional
Berdasarkan definisi yang telah dirumuskan di atas maka dapat ditarik
unsur-unsur perjanjian internasional, yakni :
7 Ibid. Hal. 21

1)
2)
3)
4)
5)

Kata sepakat
Dibuat oleh dua atau lebih subyek hukum internasional
Mengenai hal atau obyek tertentu
Dengan tujuan menciptakan kewajiban dan hubungan hukum
Berdasarkan hukum internasional.

c. Istilah-istilah perjanjian internasional


Praktek pembuatan perjanjian di antara negara-negara selama ini telah
melahirkan berbagai bentuk terminologi perjanjian internasional yang kadang
kala berbeda pemakaiannya menurut negara, wilayah maupun jenis perangkat
internasionalnya. Terminologi yang digunakan atas perangkat internasional
tersebut umumnya tidak mengurangi hak dan kewajiban yang terkandung
didalamnya. Suatu terminologi perjanjian internasional digunakan berdasarkan
permasalahan yang diatur dan dengan memperhatikan keinginan para pihak
pada perjanjian tersebut dan dampak politisnya terhadap mereka.8
Adapun

istilah-istilah

yang

sering

digunakan

dalam

perjanjian

internasional adalah :
a) Treaty (traktat)
Menurut pengertian umum, istilah treaty dalam bahasa Indonesia lebih
dikenal dengan istilah perjanjian internasional. Dalam pengertian ini,
perjanjian internasional mencakup seluruh perangkat/instrumen yang dibuat
oleh subyek hukum internasional dan memiliki kekuatan mengikat menurut
hukum internasional.
Menurut pengertian khusus, terminologi treaty dalam bahasa Indonesia
lebih dikenal dengan istilah traktat. Hingga kini, tidak terdapat pengaturan
yang konsisten atas penggunaan terminologi tersebut. Umumnya, traktat
digunakan untuk suatu perjanjian yang materinya merupakan hal-hal yang
sangat

prinsipil.

Umumnya

perjanjian

tersebut

memerlukan

adanya

pengesahan/ratifikasi.9
b) Convention (Konvensi)
8 Boer Mauna, Op.cit, hlm. 88-89
9 Ibid, hlm. 90

Konvensi adalah bentuk perjanjian internasional yang mengatur hal-hal


yang bersifat penting dan resmi yang bersifat multilateral. Konvensi biasanya
bersifat law making treaty dengan pengertian yang meletakkan kaidahkaidah hukum bagi masyarakat internasional.10
c) Agreement (Persetujuan)
Persetujuan adalah bentuk perjanjian internasional yang umumnya bersifat
bilateral, dengan substansi yang lebih kecil lingkupnya dibanding materi yang
diatur dalam traktat maupun konvensi. Bentuk ini secara terbatas juga
digunakan dalam perjanjian multilateral.11
d) Charter (Piagam)
Piagam biasa digunakan untuk perjanjian-perjanjian internasional yang
dijadikan sebagai konstitusi suatu organisasi internasional.12
e) Protocol (Protokol)
Protokol jika digunakan dalam pengertian suatu instrumen perjanjian
biasanya dikaitkan pada instrumen tunggal yang memberikan amandemen atau
pelengkap terhadap persetujuan internasional sebelumnya. Untuk membuat
suatu perjanjian sempurna dan lengkap, maka diperlukan satu tambahan
instrumen yaitu protokol. Ada beberapa sebutan untuk protokol yang masingmasing nampaknya memiliki arti yang sedikit berbeda dengan protokol, yakni
protokol tambahan (additional protocol), protokol pilihan (optional protocol)
dan protokol pelengkap (supplementary protocol). Istilah protokol juga
diberikan pada instrumen perjanjian yang memperpanjang masa berlakunya
suatu perjanjian atau konvensi yang sudah hampir berakhir masa berlakunya.13
f) Declaration (Deklarasi)

10 Damos, Op.cit, hal. 33


11 Ibid, hlm. 33
12 I Wayan Parthiana, 2003, Pengantar Hukum Internasional, Mandar Maju, Bandung,
hal. 31
13 Boer Mauna, Op.cit, hal. 94

Deklarasi merupakan suatu perjanjian yang berisikan ketentuan-ketentuan


umum dimana pihak-pihak pada deklarasi tersebut berjanji untuk melakukan
kebijaksanaan-kebijaksanaan tertentu di masa yang akan datang. Bedanya
dengan perjanjian atau konvensi ialah deklarasi isinya lebih ringkas dan padat
serta menyampingkan ketentuan-ketentuan yang bersifat formal seperti surat
kuasa (full powers), ratifikasi, dan lain-lainnya.14
g) Final Act
Final Act adalah suatu dokumen yang berisikan ringkasan laporan sidang
dari suatu konferensi dan yang juga menyebutkan perjanjian-perjanjian atau
konvensi-konvensi yang dihasilkan oleh konferensi tersebut dengan kadangkadang disertai anjuran atau harapan yang sekiranya dianggap perlu.
Penandatanganan dokumen ini sama sekali tidak berarti penerimaan terhadap
perjanjian-perjanjian atau konvensi-konvensi yang dihasilkan tetapi hanya
semacam kesaksian berakhirnya suatu tahap proses pembuatan perjanjian.15
h) Agreed Minutes and Summary Records
Istilah diatas adalah suatu kesepakatan antara wakil-wakil lembaga
pemerintahan tentang hasil akhir atau hasil sementara (seperti dokumen suatu
perjanjian bilateral) dari suatu pertemuan teknis. Bentuk ini banyak digunakan
untuk merekam pembicaraan pada acara-acara kunjungan resmi atau tidak
resmi, atau untuk mencapai kesepakatan sementara sebagai bagian dari suatu
rangkaian putaran perundingan mengenai suatu masalah yang sedang
dirundingkan.16
i) Memorandum of Understanding
Memorandum Saling Pengertian merupakan perjanjian yang mengatur
pelaksanaan teknis operasional suatu perjanjian induk. sepanjang materi yang
diatur bersifat teknis, memorandum saling pengertian dapat berdiri sendiri dan
tidak memerlukan perjanjian induk. Jenis perjanjian ini umumnya dapat segera
14 Ibid
15 Ibid
16 Damos, Op.cit, hlm. 34

berlaku setelah penandatanganan tanpa memerlukan pengesahan. Dari


perspektif politis Indonesia, menggunakan MoU untuk menggambarkan
perjanjian yang tidak formal dan yang tidak membutuhkan prosedur yang
ruwet serta tidak terlalu mengikat. MoU merupakan judul yang terbanyak
dibuat oleh Indonesia dalam perjanjian-perjanjian bilateral.
j) Exchange of Notes
Pertukaran Nota Diplomatik/Surat adalah suatu pertukaran penyampaian
atau pemberitahuan resmi posisi pemerintah masing-masing yang telah
disetujui bersama mengenai suatu masalah tertentu. Instrumen bisa menjadi
suatu perjanjian internasional itu sendiri jika para pihak bermaksud untuk itu,
yang

dikenal

dengan

istilah

Exchange

of

Notes/Letters

Constitute

Treaty/Agreement.17 Exchange of Notes/Letters Constitute Treaty/Agreement


dapat digunakan dalam hal-hal sebagai berikut18
1) Pemberitahuan telah dipenuhinya prosedur konstitusional/ ratifikasi
suatu perjanjian internasional.
2) Konfirmasi tentang kesepakatan terhadap perbaikan dari suatu
perjanjian internasional.
3) Pengakhiran atau perpanjangan masa berlaku dari suatu perjanjian
internasional.
4) Penyampaian aspek-aspek teknis sebagai pelaksanaan dari suatu
perjanjian internasional.
5) Bentuk lain dari perjanjian internasional (Exchange of Notes
Constitute Treaty)
k) Process-Verbal
Istilah ini dipakai untuk mencatat pertukaran atau penyimpanan piagam
pengesahan atau untuk mencatat kesepakatan hal-hal yang bersifat teknik
administratif atau perubahan-perubahan kecil dalam suatu persetujuan.19
l) Modus Vivendi
17 Damos, Op.cit, hlm. 33
18 Ibid
19 Boer Mauna, Op.cit, hlm. 96

10

Modus Vivendi merupakan suatu perjanjian yang bersifat sementara


dengan maksud akan diganti dengan pengaturan yang tetap dan terperinci.
Biasanya dibuat dengan cara tidak resmi dan tidak memerlukan pengesahan.20

B. Implementasi Perjanjian Internasional di Indonesia


Sejak kemerdekaan, hukum di Indonesia telah mengatur secara umum
tentang perjanjian internasional. Ketiga UUD yang pernah berlaku di
Indonesia, baik UUD 1945, Konstitusi RIS 1949 dan UUDS 1950 memuat
pasal tentang perjanjian internasional. Hukum nasional Indonesia mengalami
perkembangan yang cukup berarti sejak dilahirkannya Undang-undang No. 24
Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Undang-undang ini merupakan
produk legislasi landmark tentang perjanjian internasional yang membuka
lembaran baru tentang status perjanjian internasional dalam sistem hukum
nasional Indonesia. Yang mendasari pembuatan undang-undang ini juga
adalah dalam rangka reformasi hukum serta menciptakan kepastian hukum
proses pembuatan perjanjian internasional.21
Setelah lahirnya Undang-undang No. 24 Tahun 2000, hal ini telah
menunjukkan konsistensi tentang perjanjian. Sehingga semua dokumen
sepanjang dibuat oleh Pemerintah Indonesia dengan subjek hukum
internasional masih dianggap sebagai perjanjian internasional sekalipun
perjanjian itu pada hakikatnya tidak menciptakan kewajiban dan hubungan
hukum. MoU antarnegara termasuk perjanjian kota/provinsi kembar yang pada
hakikatnya merupakan komitmen politik dan tidak menciptakan kewajiban
dan

hubungan

hukum

juga

akan

diperlakukan

sebagai

perjanjian

internasional.22
20 Ibid, Hlm. 96
21 Samuel Karya Mali Pirade. 2014. Legalitas Perdagangan Produk Makanan Malaysia Dalam
Perspektif Hukum Internasional (Studi Kasus Wilayah Kota Samarinda). Skripsi. Makassar:
Fakultas hukum Unhas. Hal 38

22 Ibid.

11

Dalam praktik negara-negara termasuk Indonesia, ditemukan jenis


perjanjian

yang

bersifat

adminstratif

yang

dibuat

antara

Lembaga

Pemerintah/Negara Indonesia dengan Lembaga Pemerintah/Negara Asing,


misalnya

perjanjian antara Pemerintah Daerah seperti

MoU

Sister

City/Province. Perjanjian ini menimbulkan kontroversi terkait statusnya


sebagai suatu perjanjian internasional, karena para pihak tidak bertindak atas
nama negara melainkan bertindak atas nama lembaganya. Selain itu, materi
yang tertuang dalam perjanjian ini hanya bersifat administratif yang tidak
melahirkan hak dan kewajiban negara menurut hukum internasional.23
Sekalipun

banyak

pandangan

bahwa

perjanjian

ini

tidak

dapat

dikategorikan sebagai perjanjian internasional, praktik yang ada di Indonesia


masih belum membedakannya dengan perjanjian internasional per definisi
Undang-Undang No. 24 Tahun 2000, sehingga prosedur pembuatannya tetap
mengacu pada undang-undang ini.
1. Perjanjian Internasional dan Otonomi Daerah24
Dinamika hubungan masyarakat internasional yang sedemikian pesat,
sebagai akibat dari semakin meningkatnya teknologi komunikasi dan
informasi yang membawa dampak pada percepatan arus globalisasi,
mengakibatkan

hukum

perjanjian

internasional

juga

mengalami

perkembangan pesat seiring dinamika masyarakat internasional itu sendiri.


Seiring dengan proses reformasi yang dijalankan oleh Indonesia yang salah
satu pilar utamanya adalah pembentukan sistem otonomi daerah, peranan
pemerintah daerah menjadi sangat penting sebagai salah satu aktor dalam
pelaksanaan hubungan internasional. Undang-undang nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintah Daerah secara tidak langsung memuat pasal tentang
perjanjian internasional, yaitu: Pasal 42 Ayat (1) huruf (f):

23 Ibid.
24 Ibid. Hal.39

12

DPRD mempunyai tugas dan wewenang memberikan pendapat dan


pertimbangan kepada Pemerintah Daerah terhadap rencana perjanjian
internasional di daerah.
Dari praktik internasional, kekuasaan membuat perjanjian seharusnya
dibuat oleh Pemerintah Pusat dan tidak dikenal adanya perjanjian
internasional yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Akan tetapi, lain halnya
yang terjadi di Indonesia. Ada beberapa jenis dokumen yang berkaitan dengan
Pemerintah Daerah salah satunya adalah MoU Sister Province dalam hal ini
akan lebih dikembangkan oleh penulis adalah perjanjian kerjasama sosek
malindo Kaltim-Sabah.
2. Sosek Malindo Kaltim-Sabah25
Salah satu wilayah perbatasan Indonesia yang mempunyai tingkat aktivitas
dan interaksi perdagangan yang cukup tinggi adalah perbatasan antara
Provinsi Kalimantan Timur dengan Negeri Sabah Malaysia. Hal ini dapat
dilihat dari perdagangan tradisional yang sudah lama terjadi antar masyarakat
di perbatasan Indonesia dan Malaysia.
Perilaku interaksi masyarakat perbatasan di kedua negara tersebut dipicu
oleh adanya kesamaan adat-istiadat, etnis dan juga bahasa yang mereka miliki.
Kesamaan-kesamaan itu yang kemudian memunculkan terciptanya hubungan
sosial dan ekonomi secara tradisional di antara mereka. Faktor kesamaankesamaan tersebut tentu saja dapat menjadi modal dasar untuk melakukan
interaksi yang saling menguntungkan.
Visi

dari

kerjasama

Sosek

Malindo

ini

adalah:Meningkatkan

kesejahteraan masyarakat kedua daerah melalui kerjasama Sosek Malindo


menuju 2020. Agar visi dapat berjalan dengan baik maka misi yang
dilaksanakan adalah: pertama, menciptakan kondisi sosial ekonomi dan
budaya yang kondusif bagi kesejahteraan masyarakat masing-masing daerah;
kedua, meningkatkan kerjasama ekonomi yang berkeadilan dan saling
menguntungkan

serta

berorientasi

kelestarian

lingkungan;

ketiga,

25 Ibid. Hal.40

13

meningkatkan kerjasama sosial budaya lewat peningkatan kualitas dan


pemberdayaan SDM di kedua daerah perbatasan.
Kerjasama perbatasan antara dua negara Republik Indonesia-Malaysia
pada awalnya dimulai dengan bidang keamanan pada tahun 1967. Persetujuan
mengenai Pengaturan Dalam Bidang Keamanan Daerah-Daerah Perbatasan
direvisi untuk pertama kali pada tahun 1972 dan direvisi untuk yang kedua
kalinya pada tahun 1984. Dalam revisi yang kedua ini kerjasama perbatasan
antara Republik Indonesia-Malaysia mengalami perluasan cakupan kerjasama
hingga mencakup berbagai jenis bidang yaitu ideologi, politik, sosial, budaya
dan ekonomi. Menindaklanjuti kesepakatan-kesepakatan tersebut, maka tahun
1985 dibentuklah forum kerjasama sosial ekonomi daerah (Sosekda) Provinsi
Kalimantan Barat-Negeri Serawak, dan Sosekda Provinsi Kalimantan TimurNegeri Sabah dimulai pada tahun 1995.
Forum kerjasama Sosek Malindo ini mengadakan program pertemuan
setahun sekali dengan tempat yang saling bergantian antara Indonesia dan
Malaysia. Dalam strukturnya, Sosek Malindo diketuai oleh General Border
Committee (GBC) di masing-masing negara dan untuk Indonesia Ketua GBC
dipimpin oleh Panglima TNI. Di bawah struktur GBC tersebut, dibentuk pula
sebuah

kelompok

kerja

(KK)

Sosek

Malindo

di

tingkat

daerah

provinsi/peringkat negeri yang dimaksudkan untuk;

Menentukan proyek-proyek pembangunan sosial ekonomi yang


digunakan bersama.

Merumuskan

hal-hal

yang

berhubungan

dengan

pelaksanaan

pembangunan sosial ekonomi di wilayah perbatasan.

Melaksanakan

pertukaran

informasi

mengenai

proyek-proyek

pembangunan sosial ekonomi di wilayah perbatasan bersama.

Meyampaikan laporan kepada KK Sosek Malindo tingkat pusat


mengenai pelaksanaan kerjasama pembangunan sosial ekonomi di
wilayah perbatasan.

Selain dikoordinasikan oleh Panglima TNI selaku ketua GBC Indonesia,


KK Sosek Malindo juga melibakan Menteri Luar Negeri masing-masing
14

negara selaku ketua Joint Committee Meeting (JCM) dan Menteri Dalam
Negeri Republik Indonesia untuk membicarakan kerjasama bilateral dan
pengembangan wilayah perbatasan Kalimantan antara pemerintah Malaysia
dan pemerintah RI.
Pada Kelompok Kerja Tingkat Daerah Provinsi Kalimantan Timur dan
Negeri Sabah telah disepakati tujuh kertas kerja, antara lain: Kertas Kerja Pos
Lintas Batas Laut (PLBL), Kertas Kerja Pos Lintas Batas Darat (PLBD),
Kertas Kerja Pencegahan dan Penanggulangan Kegiatan Penyelundupan,
Kertas Kerja Hubungan Sosial, Kertas Kerja Bidang Pendidikan, Kertas Kerja
Bidang Kesehatan, Kertas Kerja Bidang Ekonomi dan Perdagangan.
Seiring berjalannya waktu, pada rapat teknis ke-19 tanggal 10-12 Juni
2014 di Jakarta, kertas kerja dikerucutkan menjadi tiga kertas kerja, antara
lain: Kertas Kerja I mengenai Bidang Sosial Budaya, Kertas Kerja II
mengenai Bidang Ekonomi, Perdagangan dan Perhubungan dan Kertas Kerja
III mengenai Bidang Keselamatan Keamanan dan Pengurusan Sempadan
Perbatasan.
3. Sosek Malindo dalam Bidang Ekonomi dan Perdagangan 26
Kerjasama dalam bidang ekonomi dan perdagangan adalah bidang
kerjasama yang paling krusial tanpa menyampingkan kerjasama yang lain
karena berhubungan satu dengan yang lainnya. Cakupan kerjasama dalam
bidang ini meliputi sektor perdagangan kebutuhan pokok, barang kerajinan
dan investasi.
Bentuk kerjasama dalam bidang ini antara lain : mengadakan pertemuan
rutin yang biasanya dilakukan dua kali dalam setahun secara bergantian,
melakukan kunjungan satu sama lain salah satunya mengadakan pameranpameran secara bergantian tergantung kesepakatan dari masing-masing pihak
dan memperjelas aturan perdagangan lintas batas. Dalam bidang ini juga
dibicarakan tentang perlunya pembahasan mengenai pengawasan perdagangan
lintas batas baik dari Provinsi Kalimantan Timur ataupun sebaliknya. Tujuan
26 Ibid. Hal.43

15

utama dari kerjasama ekonomi perdagangan ini adalah untuk membangun dan
memajukan perekonomian masyarakat masing-masing daerah secara umum
dan masyarakat perbatasan secara khusus.

C. Perusahaan Multinasional
a. Pengertian perusahaan multinasional
Perusahaan multinasional merupakan suatu bentuk asosiasi bisnis yang
paling banyak dibicarakan dalam rangka globalisasi dunia dan ekonomi. Peran
dari globalisasi sebagai ideologi dan perkembangan kebijakan peraturan
terkait dengan perusahaan multinasional.27
Menurut Kamus Ekonomi, Multinasional Corporation (MNC) adalah
sebuah perusahaan yang wilayah operasionalnya meliputi sejumlah negara dan
memiliki fasilitas produksi dan service di luar negaranya sendiri.28 Perusahaan
multinasional mengambil keputusan pokoknya dalam suatu konteks global
tadi dengan negara-negara dimana perusahaan tersebut bekerja. Pertumbuhan
perusahaan-perusahaan multinasional yang cepat serta kemungkinan bahwa
dapat

timbul

adanya

konflik-konflik

antara

kepentingan

perusahaan

multinasional dengan kepentingan negara individual tempat mereka beroperasi


telah menimbulkan macam-macam perdebatan antara para ahli ekonomi pada
tahun-tahun belakangan ini, disebut International Enterprise.29

27 An An Chandrawulan, Hukum Perusahaan Multinasional Liberalisasi Hukum Perdagangan


Internasional dan Hukum Penanaman Modal (Bandung : Alumni, 2011), hal. 151.

28 Winardi, Kamus Ekonomi (Bandung: Mandar Maju, 1998), hal. 332.


29 Santi Rahmawati, Perbedaan Struktur Modal Perusahaan Multinasional Dan Perusahaan
Domestik (Depok: Tesis Program Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2008),
hal. 15.

16

Istilah yang diberikan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) terhadap


perusahaan multinasional ini adalah perusahaan transnasional. Hal ini dapat
terlihat di dalam draft yang di buat oleh PBB dengan judul Draft United
Nations Code of Conduct on Transnational Corporations, yang dengan jelas
menggun

akan

istilah

transnational

corporation

atau

perusahaan

transnasional.30
Transnational

Enterprise

atau

perusahaan

transnasional

adalah

perusahaanperusahaan yang dimiliki dan dikontrol oleh perusahaan atau


perorangan dari satu negara, tetapi beroperasi melewati batas-batas negara.
Sedangkan istilah multinational corporation atau perusahaan multinasional
adalah perusahaan yang dimiliki atau di awasi oleh perusahaan atau
perorangan dari lebih dari satu negara yang beroperasi di beberapa negara.31
Istilah multinasional diperkenalkan pertama kali oleh David E. Lilienthal
pada bulan April tahun 1960 dalam makalahnya tentang manajemen dan
perusahaan yang diperuntukkan untuk acara pertemuan ilmiah yang
diselenggarakan oleh Carnegie Institute of Technology on Management and
Corporations. Makalah Lilienthal kemudian dipublikasikan dengan istilah
The Multinational Corporation (MNC).
Lilienthal memberikan pengertian perusahaan multinasional sebagai
perusahaan yang mempunyai kedudukan di satu negara tetapi beroperasi dan
menjalankan perusahaannya berdasarkan hukum-hukum dan kebiasaankebiasaan negara lain.32

30 Juajir Sumardi, Hukum Perusahaan Multinasional dan Frnachise (Makasar : Arus Timur,
2012), hal. 6.

31 Peter T. Muchlinski, Multinational enterprise and The Law, The Oxford International Law
Library / Oxford Univ. Press, Oxford, 2007, hlm. 2., (di dalam An An Chandrawulan, Hukum
Perusahaan Multinasional Liberalisasi Hukum Perdagangan Internasional dan Hukum
Penanaman Modal, Bandung: Alumni, 2011)

32 An An Chandrawulan, Loc.Cit, hal. 3.

17

Para pakar ekonomi lebih sering menggunakan istilah Multi National


Enterprise atau perusahaan multinasional, sebagaimana pernyataannya dalam
meeting OECD sebagai berikut:
Multinational Enterprise usually corporise of companies or other entities
whose ownership is private, state, or mixed, established in different countries
and so linked that one or more of them may be able to exercise a significan
influence over the activities of others and in particular, to share knowledge
and resources with the others.33
Menurut Robert L. Hulbroner,34 yang dimaksud dengan perusahaan
multinasional adalah perusahaan yang mempunyai cabang dan anak
perusahaan yang terletak di berbagai negara. Demikian J. Panglaykim, 35
menyatakan bahwa perusahaan transnasional adalah suatu jenis perusahaan
yang terdiri dari bermacam-macam kelompok perusahaan yang bekerja dan
didirikan di berbagai negara, tetapi semuanya diawasi oleh satu pusat
perusahaan.
Rugman menyatakan bahwa perusahaan multinasional merupakan
perusahaan yang beroperasi melintasi batas negara, berproduksi di luar negeri
selain di dalam negeri. Perusahaan multinasional ini sedikitnya berproduksi di
negara asing.36
Sedangkan menurut Michael dan Shaked, perusahaan diklasifikasikan
sebagai multinasional berdasarkan dua kondisi. Pertama, perusahaan harus
memiliki foreign sales account minimal 20 % dari pendapatan. Kedua,

33 Sumantoro, Kegiatan Perusahaan Transnasional (Jakarta : Gramedia, 1987), hal. 35.


34 K. Saran, Perusahaan Multinasional Dalam Tata Ekonomi Internasional Baru (Makasar : FH
UNHAS, 1990), hal. 47.

35 J. Panglaykim, Perusahaan Multinasional Dalam Bisnis Internasional (Jakarta : CSIS, 1983),


hal. 14.

36 Santi Rahmawati, Op.Cit, hal. 16.

18

investasi modal langsung paling tidak terdapat pada enam negara di luar
negaranya.37
Menurut Sumantoro,38 perusahaan transnasional pada dasarnya mengacu
pada sifat melampaui batas-batas negara, baik dalam pemilikan, maupun
dalam kegiatan usahanya. Sedangkan Helga Hernes,39 menyatakan dalam salah
satu tulisannya tentang perusahaan transnasional ini sebagai berikut:
Multinational corporations are powerful organizations by virtue of their
integrated

management,

their

control

over

large

resources,

their

influence...the market, their role as employer, their role in the transfer of


technology and their role as agents of development.
Apa yang dipaparkan Helga Hernes tersebut jelas melukiskan bahwa
perusahaan multinasional merupakan suatu organisasi yang mempunyai
kekuatan

manajemennya

menyatu,

di

bawah

satu

kontrol,

dapat

mempengaruhi pasar dan dapat mentransfer teknologi dari negara maju ke


negara yang ditempati beroperasinya perusahaan transnasional, serta alat
untuk membangun suatu negara. Kaitannya dengan pengertian perusahaan
multinasional, J.H Dunning menunjukkan bagaimana perusahaan-perusahaan
multinasional ini memiliki persamaan dengan perusahaan uni nasional yang
ditunjukkan dari sifat-sifat yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan tersebut
yaitu:40
Pertama, adalah perusahaan domestik yang multinasional lokasi
mempunyai sifat-sifat yang sama dengan jenis perusahaan multinasional ini.
Perusahaan ini memiliki pemasukan yang berasal dari aset-aset di lebih dari
37 Ibid
38 Sumantoro, Loc.Cit, hal. 38.
39 Mappanga, Peranan Perusahaan Transnasional Ditinjau Dari Segi Hukum Ekonomi
Internasional, (Makasar: Fakultas Hukum Unhas, 1991), hal. 33.

40 J.H Dunning, International Production and the Multinational Enterprise, London Allen &
Unwin, 1981, hlm. 7., (Di dalam An An Chandrawulan, Hukum Perusahaan Multinasional
Liberalisasi Hukum Perdagangan Internasional dan Hukum Penanaman Modal, Bandung:
Alumni, 2011)

19

satu lokasi dan penggunaannya digabung dengan bahan-bahan lokal untuk


memproduksi barang dan jasa.
Kedua, baik perusahaan multinasional maupun perusahaan domestik
multilokasi menikmati keuntungan yang kompetitif dari satu unit ekonomi
yang lebih besar apabila dibandingkan dengan perusahaan besar biasa yang
mempunyai satu pabrik.
Perbedaan penting antara perusahaan multinasional dan perusahaan
domestik multilokasi adalah perusahaan multinasional mengoperasikan asetasetnya dan mengawasi penggunaannya melewati batas-batas negara,
sedangkan perusahaan domestik multilokasi tetap diantara perusahaan tersebut
di satu negara. Lebih jauh lagi, tidak seperti perusahaan domestik yang
mempunyai banyak pabrik, suatu perusahaan multinasional beroperasi dan
mengatur perusahaannya melalui divisi-divisi yang pengurusannya lintas batas
nasional suatu negara dan melalui aktivitas nasional dari beberapa perusahaan
yang beroperasi dalam satu group yang tidak nampak, walaupun identitasnya
tetap berlangsung secara formal melalui persyaratan suatu perusahaan
berdasarkan hukum dari negara-negara tempat perusahaan multinasional itu
beroperasi melalui anak-anak perusahaan atau cabang-cabangnya.
Kesamaan yang kedua dari suatu perusahaan multinasional dengan
perusahaan uni nasional adalah bahwa perusahaan domestik mengekspor
barang-barang hasil produksinya. Hal ini juga dilakukan oleh perusahaan
multinasional yang menjual hasil-hasil produksinya melintasi batas negara.
Ciri yang menjadi perbedaan antara perusahaan multinasional dengan
perusahaan domestik dalam menjual atau mengekspor barang ke luar adalah
perusahaan multinasional melakukan perdagangan lintas negara baik barangbarang jadi maupun setengah jadi dan dilakukan diantara anak-anak
perusahaannya dalam satu group dan juga dengan pihak ketiga yang tidak ada
hubugan sebagai anak dari induk perusahaan. Hal ini menimbulkan
kemungkinan adanya pengawasan perdagangan antara pengawasan perdangan
antara perusahaanperusahaan multinasional terhadap keuntungan dari suatu
group perusahaan secara keseluruhan, dan mewakili, dan mewakili satu

20

kepentingan utama yaitu keuntungan yang kompetitif yang dimiliki oleh


perusahaan multinasional terhadap perusahaan domestik.
Ketiga, adalah kaitan antara perusahaan multinasional dengan perusahaan
domestik yaitu mengenai hal yang berkaitan antara perusahaan multinasional
dengan perusahaan domestik yaitu mengenai hal yang berkaitan dengan
produksi barangbarang yang diekspor, misalnya mengenai technical know
how dan managerial skill. Baik perusahaan multinasional maupun perusahaan
domestik melakukan penyebaran teknologi dan managerial skill-nya melalui
perjanjian lisensi dengan perusahaan multinasional juga menjual ilmu
pengetahuan dengan tetap hanya kepada anak-anak perusahaannya. Dari
beberapa pengertian di atas, maka dapat diketahui bahwa yang dimaksud
dengan perusahaan multinasional adalah perusahaan yang dalam kegiatan
operasionalnya melintasi batas-batas kedaulatan suatu negara dimana
perusahaan tersebut pertama didirikan untuk membentuk anak perusahaan di
negara lain yang dalam operasionalnya di kendalikan oleh perusahaan induk.
Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 (selanjutnya UUPT) tidak
dikenal istilah perusahaan multinasional, karena di dalam UUPT hanya
mengenal istilah perseroan terbatas yang terdapat pada Pasal 1 angka 1 UUPT
sebagai berikut :
Perseroan Terbatas yang selanjutnya disebut Perseroan, adalah badan
hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian,
melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam
saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini
serta peraturan pelaksanaan.
Bertitik dari Pasal 1 angka 1 UUPT diatas, tidak dikenal mengenai
pengertian dari perusahaan multinasional, tetapi hanya dikenal perseroan
terbatas sebagai badan hukum di indonesia yang didirikan berdasarkan
perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya
terbagi dalam saham yang lahir melalui proses hukum dalam bentuk
pengesahan dari Pemerintah.

21

b. Ciri ciri perusahaan multinasional41


Perusahaan multinasional secara garis besar memiliki ciri sebagaimana
berikut ini, yaitu :
a) Membentuk cabang-cabang di luar negeri
b) Visi dan strategi yang digunakan untuk memproduksi suatu barang bersifat
global (mendunia), jadi perusaan tersebut membuat atau menghasilkan
barang yang dapat digunakan di semua negara.
c) Lingkup kegiatan income generating (perolehan pendapatan) perusahaan
multinasional melampaui batas-batas negara.
d) Lebih cenderung memilih kegiatan bisnis tertentu, umumnya manufaktur.
e) Perdagangan dalam perusahaan multinasional kebanyakan terjadi di dalam
lingkup perusahaan itu sendiri, walaupun antarnegara.
f) Menempatkan cabang pada negara-negara maju
g) Kontrol terhadap pemakaian teknologi dan modal sangat diutamakan
mengingat kedua faktor tersebut merupakan keuntungan kompetitif
perusahaan multinasional
h) Pengembangan sistem managemen dan distribusi yang melintasi batasbatas negara, terutama sistem modal ventura, lisensi, franchise.
c. Bentuk bentuk perusahaan multinasional
Bentuk perusahaan multinasional terdiri atas beberapa bagian yang sangat
diperlukaan dalam menentukan dan membedakan hubungan hukum diantara
bagianbagian tersebut berkaitan dengan kegiatan perusahaan multinasional.
Bagian-bagian dari perusahaan multinasional yang melaksanakan kegiatan
perusahaannya yaitu :42
a) Induk perusahaan (parent company)
Induk perusahaan adalah suatu perusahaan memiliki dan mengawasi
penanaman

modal

asing

secara

langsung,

biasanya

memiliki

anak

perusahaannya yang dinamakan perusahaan affiliated di dua negara atau lebih


negara tempat modal ditanam. Induk perusahaan merupakan pusat pembuat
41 http://amrujieo10.blogspot.com/2013/06/pengertian-multinational-corporationmnc.html
42 An An Chandrawulan, Loc.Cit, hlm. 182-186.

22

keputusan perusahaan yang menentukan tujuan-tujuan dan pengawasanpengawasan berjalannya suatu sistem secara keseluruhan dalam satu
perusahaan. Keputusan-keputusan utama yang dibuat oleh induk perusahaan
dapat berupa pendirian anak atau cabang perusahaan atau akuisisi perusahaan,
penentuan negara yang akan dijadikan lokasi penanaman modal asing
langsung, banyaknya produksi yang akan dibuat, produksi-produksi campuran
yang dilakukan diantara anak perusahaan, komposisi transfer produksi antar
anak perusahaan dan penentuan pasar nasional yang akan dilayani oleh anakanak perusahaan.
b) Kantor cabang atau cabang perusahaan (branch atau branch office)
Kantor cabang atau cabang perusahaan adalah suatu kantor yang
merupakan bagian dari induk perusahaan yang beroperasi di negara induk
perusahaan atau di luar negeri atau di negara tempat modal ditanam dan tidak
terdiri sendiri atau mempunyai status perusahaan. Dari segi hukum cabang
perusahaan atau kantor cabang ini hanya merupakan perpanjangan secara fisik
dari induk perusahaan dan tidak mempunyai status hukum yang terpisah dari
induk perusahaan.
c) Kantor pusat (the headquarters atau head office)
Kantor pusat adalah suatu kantor yang didirikan oleh suatu perusahaan
multinasional yang mempunyai kedudukan sebagai kantor pusat atau pusat
organisasi suatu perusahaan multinasional yang biasanya berlokasi di negara
tempat induk perusahaan itu berada atau di negara penanam modal.
d) Anak perusahaan affiliate (daughter atau affiliated company)
Anak perusahaan affiliate atau daughter company adalah perusahaan
holding dari penanaman modal di luar negeri, tanpa melihat bentuk hukum,
tetapi biasanya merupakan suatu anak perusahaan atau suatu subsidiary atau
perusahaan gabungan atau associate, yang didirikan berdasarkan hukum dari
negara tempat modal asing itu dilakukan. Pendiriannya sama dengan pendirian

23

suatu perusahaan domestik di negara yang bersangkutan, biasanya berbentuk


suatu perseroan terbatas.43
e) Anak perusahaan subsidiary
Anak perusahaan adalah sebuah perusahaan yang dikendalikan oleh
sebuah perusahaan yang terpisah yang lebih tinggi (induk perusahaan).
Perusahaan yang dikendalikan disebut sebagai perusahaan korporasi, atau
perseroan terbatas, dan dalam beberapa kasus dapat menjadi pemerintah atau
perusahaan milik negara.
d. Bentuk pelaksanaan bisnis perusahaan multinasional44
1) Bentuk kontraktual (contractual forms)
Pendirian anak perusahaan dalam praktiknya penyebaran produk yang
dilakukan oleh anak-anak perusahaan multinasional tersebut dilakukan dengan
membuat suatu kontrak, baik kontrak itu dilakukan diantara induk dan anak
perusahaan atau anak perusahaan dengan perusahaan domestik atau induk
perusahaan dengan perusahaan di negara tempat modal ditanam. Hubungan
kontraktual tersebut dapat dibagi dalam 3 (tiga) bentuk, yaitu :
1. Perjanjian distribusi (distribution agreement)
2. Perjanjian produksi (production agreement)
3. Kerja sama antara perusahaan publik dan perusahaan swasta (public
private partnership)
2) Kepemilikan berdasarkan grup atau kelompok (eqiuty based corporate
group)
Terdapat beberapa bentuk kepemilikan berdasarkan grup atau kelompok
perusahaan. Bentuk-bentuk tersebut yaitu :
1. The anglo-american pyramid group
Bentuk anglo-american pyramid group adalah suatu bentuk
perusahaan yang induk perusahaannya memiliki dan mengawasi jaringan
secara keseluruhannya atau sebagian besar anak-anak perusahaan, yang
43 Di Indonesia pendirian perusahaan ini harus berdasarkan UU Nomor 40 Tahun 2007 Tentang
Perseroan Terbatas.

44 Ibid, hlm. 189-201

24

kemudian akan menjadi suatu perusahaan holding. Induk perusahaan


berada pada urutan yang paling atas atau paling tingg (pyramid structure)
di bawahnya terdiri atas grup-grup atau kelompok- kelompok perusahaan
yang merupakan anak-anak perusahaan/subsidiary yang semuanya berada
dalam satu holding perusahaan.
2. Transnasional merger perusahaan Eropa (European transnational
mergers)
Bentuk kepemilikan ini berupa kelompok perusahaan yang diketuai
oleh satu induk perusahaan dan berpatungan dengan perusahaanperusahaan yang berdiri sendiri, perusahaan-perusahaan semacam ini
memulai dengan usaha patungan, kemudian membentuk suatu gabungan
perusahaan

internasional

dengan

cara

merger

antara

perusahaan

multinasional dan kemudian mengembangkan struktur perusahaan


internasional terpadu
3) Usaha patungan (joint venture)
Usaha patungan atau joint venture yang dalam bentuk hukumnya adalah
suatu kontrak, baik usaha patungan biasa secara kontraktual atau usaha
patungan dengan mendirikan suatu perseroan terbatas yang baru. Joint venture
atau usaha patungan internasional ini dilakukan antara perusahaan-perusahaan
multinasional dari lebih dari satu negara dan sering cara ini digunakan untuk
memperluas perusahaan multinasional dalam menjalankan bisnisnya.
4) Penggabungan non formal antara perusahaan multinasional
Bentuk ini adalah bentuk hukum yang dibuat oleh induk perusahaan
multinasional dengan mendirikan anak-anak perusahaan secara intern baik
dengan cara merger transnasional dan usaha patungan. Hubungan kontraktual
dengan pembentukan anak perusahaan baru ini lebih banyak digunakan untuk
joint produksi atau produk tertentu atau usaha patungan di bidang jasa.
Biasanya penggabungan anak-anak perusahaan ini juga dilakukan dalam
bidang bisnis yang resikonya sangat besar.
5) Perusahaan multinasional milik negara

25

Kepemilikan perusahaan multinasional pada perusahaan publik di suatu


negara dilakukan melalui privatisasi yang ditawarkan oleh negara yang
bersangkutan. Kepemilikan ini bisa hanya sebagian tetapi bisa juga mayoritas.
Kepemilikan perusahaan publik oleh perusahaan multinasional dapat terjadi
karena :
1. Perusahaan milik negara tersebut mengambil strategi perluasan
perusahaan secara internasional; atau
2. Perusahaan multinasional yang ada dinasionalisasi
Prinsip yang memengaruhi struktur hukum dari perusahaan publik yang
dimiliki oleh perusahaan multinasional adalah hubungan antara negara dengan
perusahaan, khususnya tingkat pengawasan dari negara terhadap perusahaan
multinasional.
6) Perusahaan multinasional yang sifatnya supranasional
Perusahaan

multinasional

yang

sifatnya

supranasional

adalah

perusahaanperusahaan yang dibentuk berdasarkan hukum yang bertujuan


meningkatkan kerja sama antara perusahaan-perusahaan yang terdiri lebih dari
satu negara. Bentukbentuk perusahaan tersebut antara lain :
1. Perusahaan supranasional yang dibentuk oleh Masyarakat Eropa
(European Community) Masyarakat Eropa (European Community)
membentuk suatu undang-undang pada tahun 2001 tentang perusahaan
multinasional yang dibentuk diantara negaranegara eropa. Undangundang ini memberikan izin pendirian suatu perusahaan Eropa yang
dikenal dengan the Societas Europea (SE). SE dapat didirikan dengan
4 cara yaitu :
a. Merger antara 2 atau lebih perseroan terbatas yang sudah go public
dari paling sedikit 2 negara anggota yang berbeda;
b. Pembentukan suatu holding perusahaan atau kelompok perusahaan
yang diajukan oleh 2 perseroan terbatas yang sudah go public atau
perusahaan privat dari paling sedikit 2 negara anggota;
c. Pendirian anak-anak perusahaan paling sedikit 2 negara anggota
yang berbeda; dan
d. Transformasi suatu

perseroan

terbatas

publik

yang

telah

mempunyai anak perusahaan di negara anggota lain yang paling


26

sedikit 2 tahun SE akan dicatat di negara anggota yang perusahaan


tersebut memiliki kantor kedudukan dan diatur oleh hukum dari
negara yang bersangkutan, perusahaan ini juga dapat mendirikan
anak-anak perusahaan sebagai perusahaan SE
2. Perusahaan multinasional andean (the andean

multinational

enterprise)
The andean multinational enterprise (AME) adalah suatu perusahaan
tingkat regional yang didirikan oleh ANCOM (the andean common
market) yaitu suatu organisasi pasar regional bersama antara negaranegara, seperti Bolivia, Columbia, Chile, Ecuador, Peru, dan Venezuela.
AME dibentuk dengan tujuan untuk peningkatan pengembangan kerja
sama industri. Bentuk hukum dari AME adalah suatu perusahaan yang
modalnya berasal dari investor nasional lebih dari satu negara anggota
yang bersama-sama memiliki lebih dari 60% modal perusahaan.
3. Perusahaan internasional publik (public international corporation)
Perusahaan ini didirikan oleh 2 negara atau lebih melalui perjanjian
internasional (international treaty). Perusahaan ini menjalankan fungsi
ekonominya yang penting bagi kebijakan publik negara-negara pendiri dan
dijalankan oleh perusahaan yang sifatnya antar-pemerintah (inter
governmental). Perusahaan ini biasanya bergerak dalam bidang energi,
transportasi, dan satelit komunikasi. Perbedaan penting antara perusahaan
internasional publik dan perusahaan publik yang dimiliki oleh perusahaan
multinasional adalah bahwa perusahaan internasional publik diatur oleh
suatu perjanjian internasional, tidak diatur oleh suatu (sistem) hukum
nasional tertentu.
e. Pendirian perusahaan multinasional menurut Undang-Undang Nomor 40
Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
Pendirian perusahaan multinasional yang didirikan di Indonesia tetap
mengacu kepada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas yang selanjutnya disebut UUPT sebagaimana yang terdapat di dalam

27

Pasal 7 sampai dengan 14 UUPT. Syarat yang harus dipenuhi dalam pendirian
perusahaan multinasional sebagai badan hukum yang sah di Indonesia, terdiri
atas :45
1. Harus didirikan oleh 2 (dua) orang atau lebih
Pengertian pendiri (promoters) menurut hukum adalah orang-orang
yang mengambil bagian dengan sengaja (intention) untuk mendirikan
perseroan. Selanjutnya orang-orang itu dalam rangka pendirian itu,
mengambil langkah-langkah yang penting untuk mewujudkan pendirian
tersebut, sesuai dengan syarat yang ditentukan peraturan perundangundangan.46 Orang yang dimaksud dalam pendirian perseroan terbatas itu
adalah orang-perorangan, baik warga negara Indonesia maupun orang
asing atau badan hukum.
2. Akta pendirian berbentuk akta notaris yang dibuat dalam bahasa
Indonesia
Syarat kedua dalam mendirikan perusahaan multinasional di Indonesia
adalah harus dibuat secara tertulis dalam bentuk akta notaris yang dibuat
dalam bahasa Indonesia, tidak boleh akta dibawah tangan. Keharusan akta
pendirian mesti berbentuk akta notaris, tidak hanya berfungsi sebagai
probationis causa, maksudnya akta notaris tersebut tidak hanya berfungsi
sebagai alat bukti atas perjanjian pendirian perseroan. Tetapi akta notaris
itu sekaligus bersifat dan berfungsi sebagai solemnitatis causa yakni
apabila tidak dibuat dalam akta notaris, akta pendirian perseroan itu tidak
memenuhi syarat, sehingga tidak dapat diberikan pengesahan oleh
Pemerintah dalam hal ini Menteri Hukum dan HAM.
3. Setiap pendiri wajib mengambil bagian saham
Pada saat pendiri menghadap notaris untuk dibuat akta pendirian,
setiap pendiri sudah mengambil bagian saham perseroan. Tidak sah jika

45 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Bab
II, Pasal 7

46 Yahya Harahap, Hukum Perseroan Terbatas (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), hal. 162.

28

apabila pengambilan saham perseroan dilakukan sesudah perseroan


didirikan.
4. Memperoleh keputusan pengesahan status badan hukum dari menteri
Syarat sahnya pendirian perusahaan multinasional di Indonesia, harus
memperoleh status badan hukum pada tanggal diterbitkannya Keputusan
Menteri mengenai pengesahan sebagai badan hukum perseroan di
Indonesia.
D. Kedudukan Hukum Perusahaan Multinasional Menurut UndangUndang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas
Hukum nasional Indonesia ternyata juga memberikan kepada perusahaan
transnasional status sebagai subjek hukum nasional dengan mendudukkannya
sebagai badan hukum. Hal ini dapat dilihat pada ketentuan Pasal 5 UndangUndang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal sebagai berikut :
2) Penanaman modal dalam negeri dapat dilakukan dalam bentuk badan
usaha yang berbentuk badan hukum, tidak berbadan hukum atau usaha
perseorangan, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3) Penanaman modal asing wajib dalam bentuk perseroan terbatas
berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan di dalam wilayah negara
Republik Indonesia, kecuali ditentukan lain oleh undang-undang.
4) Penanam modal dalam negeri dan asing yang melakukan penanaman
modal dalam bentuk perseoran terbatas dilakukan dengan:
a. mengambil bagian saham pada saat pendirian perseroan terbatas;
b. membeli saham; dan
c. melakukan cara lain sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan.
Ketentuan yang diatur dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 25 Tahun
2007 tentang Penanaman Modal sebagaimana dikemukakan di atas, maka
perusahaan transnasional yang akan melakukan kegiatan di Indonesia wajib
membentuk badan hukum Indonesia, khususnya dalam bentuk perseroan
terbatas. Dengan demikian, keberadaan perusahaan multinasional di Indonesia
harus tunduk pada hukum Nasional Indonesia. Oleh karena itu, perusahaan
multinasional yang beroperasi di Indonesia dengan membentuk badan hukum

29

perseroan terbatas berdasarkan hukum Nasional Indonesia jelas menjadi


subjek hukum Nasional Indonesia 47
Kedudukan hukum perusahaan multinasional menurut Undang-Undang
Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya UUPT)
sebagai badan hukum di Indonesia karena perusahaan multinasional yang
berkedudukan di Indonesia berbentuk perseroan terbatas. Hal ini sebagaimana
di atur dalam Pasal 1 angka 1 UUPT sebagai berikut :
Perseroan Terbatas yang selanjutnya disebut Perseroan, adalah badan
hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian,
melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam
saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini
serta peraturan pelaksanaan.
Ketentuan yang terdapat pada Pasal 1 angka 1 UUPT secara jelas
menyebut bahwa perusahaan multinasional yang ada di Indonesia dalam hal
ini berbentuk perseroan terbatas merupakan badan hukum. Namun status
badan hukum perusahaan multinasional ini tidak otomatis diperoleh saat
perusahaan multinasional didirikan, status badan hukum perusahaan
multinasional yang berbentuk perseroan terbatas tersebut menurut Pasal 7 ayat
(4) UUPT diperoleh pada tanggal diterbitkannya Keputusan Menteri mengenai
pengesahan badan hukum perseroan.
Perusahaan multinasional sebagai badan hukum mandiri di Indonesia
berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 1 UUPT diatas, karena lahir melalui
proses

hukum.

Elemen

pokok

yang

melahirkan

suatu

perusahaan

multinasional sebagai badan hukum berdasarkan Pasal 1 angka 1 UUPT


adalah :48
1. Merupakan persekutuan modal
Perusahaan multinasional sebagai badan hukum memiliki modal dasar
yang disebut juga authorized capital, yakni jumlah modal yang disebutkan
47 Juajir Sumardi, Op.Cit, hal. 15-16.
48 Yahya Harahap, Op.Cit, hlm 33-36

30

atau dinyatakan dalam Akta Pendirian atau Anggara Dasar Perseroan.


Besarnya modal dasar perseroan menurut Pasal 31 ayat (1) UUPT, terdiri atas
seluruh nilai nominal saham. Selanjutnya menurut Pasal 32 ayat (1)
tersebut, modal dasar perseroan paling sedikit Rp 50.000.000,- (lima puluh
juta rupiah).
2. Didirikan berdasarkan perjanjian
Perusahaan multinasional sebagai badan hukum, didirikan berdasarkan
perjanjian sebagaimana yang terdapat di dalam Pasal 1 angka 1 UUPT.
Berarti, ditinjau dari

segi hukum perjanjian, pendirian perusahaan

multinasional sebagai badan hukum bersifat kontraktual, yakni berdirinya


perusahaan multinasional merupakan akibat yang lahir dari perjanjian. Selain
bersifat kontraktual, juga bersifat konsensual berupa adanya kesepakatan
untuk mengikat perjanjian mendirikan perusahaan multinasional.
Sesuai dengan ketentuan Pasal 27 ayat (1) UUPT, agar perjanjian untuk
mendirikan perseroan sah menurut undang-undang pendirinya paling sedikit 2
(dua) orang atau lebih. Hal itu ditegaskan pada penjelasan Pasal 27 ayat (1)
alinea kedua, bahwa prinsip yang berlaku berdasarkan undang-undang ini,
perseroan sebagai badan hukum didirikan berdasar perjanjian, oleh karena itu
mempunyai lebih dari 1 (satu) orang pemegang saham. Pemegang saham pada
perusahaan multinasional di Indonesia terdiri dari pemegang saham yang
berasal dari Indonesia dan pemegang saham yang berasal dari asing, namun
bisa juga perusahaan mutlinasional tersebut sahamnya di pegang sepenuhnya
oleh pemegang saham yang berasal dari Indonesia ketika perusahaan
multinasional yang ada di Indonesia bertindak sebagai induk perusahaan,
sedangkan perusahaan multinasional tersebut memiliki anak perusahaan di
negara lain sebagaimana ruang lingkup bisnis perusahaan multinasional yang
melintasi batas-batas negara.
3. Melakukan kegiatan usaha
Sesuai dengan ketentuan Pasal 2 UUPT, suatu perseroan harus mempunyai
maksud dan tujuan serta kegiatan usaha yang tidak bertentangan dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan, ketertiban umum, dan atau

31

kesusilaan. Seterusnya pada Pasal 18 UUPT, ditegaskan maksud dan tujuan


serta kegiatan usaha itu, harus dicantumkan dalam anggaran dasar perseroan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pada perusahaan
multinasional di Indonesia ruang lingkup kegiatan usahanya melintasi batasbatas kedaulatan suatu negara, bisa perusahaan multinasional di Indonesia ini
bertindak sebagai induk perusahaan yang memiliki anak perusahaan di negara
lain, bisa pula perusahaan multinasional di Indonesia ini bertindak sebagai
anak perusahaan dari negara lain.
4. Lahirnya perusahaan multinasional melalui proses hukum dalam bentuk
pengesahan dari Pemerintah
Kelahiran perusahaan multinasional sebagai badan hukum karena dicipta
atau diwujudkan melalui proses hukum sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan. Itu sebabnya perseroan disebut makhluk badan hukum
yang berwujud artifisial yang dicipta melalui proses hukum, karena untuk
proses kelahirannya harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan peraturan
perundang-undangan, apabila persyaratan tidak terpenuhi, kepada perseroan
yang bersangkutan tidak diberikan keputusan pengesahan untuk berstatus
sebagai badan hukum oleh Pemerintah, dalam hal ini Menteri Hukum dan
HAM.
Jadi proses kelahirannya sebagai badan hukum, mutlak di dasarkan pada
Keputusan Pengesahan oleh Menteri. Hal itu ditegaskan pada Pasal 7 ayat (2)
UUPT, yang berbunyi :
Perseroan memperoleh status badan hukum pada tanggal diterbitkannya
Keputusan Menteri mengenai pengesahan badan hukum perseroan.
Sebagai badan hukum perusahaan multinasional merupakan pendukung
hak dan kewajiban, yang dapat mengadakan perbuatan hukum dengan pihak
lain. Perusahaan multinasional yang berbentuk perseroan terbatas memiliki
kekayaan sendiri, yang terpisah dari kekayaan pengurus atau pendirinya.
Segala kewajiban hukumnya dipenuhi dari kekayaan yang dimilikinya itu.
Kedudukan perusahaan multinasional sebagai badan hukum di Indonesia
dihadapkan dengan doktrin atau ajaran umum (de heersende leer) tentang

32

badan hukum, maka unsur-unsur badan hukum sesuai dengan de heersende


leer seperti adanya kekayaan terpisah, adanya tujuan tertentu, adanya
kepentingan tersendiri, dan adanya organisasi yang teratur.56 Di dalam UUPT,
pengaturan tentang hal tersebut diatur dengan jelas, dan dalam standar akta
pendirian perusahaan multinasional yang berbentuk perseroan terbatas,
klausula tersebut merupakan syarat mutlak yang harus ada dalam anggaran
dasar perseroan sebagaimana diatur dalam Pasal 15 UUPT sebagai berikut :
1) Anggaran dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) memuat
a.
b.
c.
d.
e.

sekurang-kurangnya:
Nama dan tempat kedudukan perseroan;
maksud dan tujuan serta kegiatan usaha perseroan;
jangka waktu berdirinya perseroan;
besarnya jumlah modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor;
jumlah saham, klasifikasi saham apabila ada berikut jumlah saham untuk
tiap klasifikasi, hak-hak yang melekat pada setiap saham, dan nilai

nominal setiap saham;


f. nama jabatan dan jumlah anggota Direksi dan Dewan Komisaris;
g. penetapan tempat dan tata cara penyelenggaraan RUPS;
h. tata cara pengangkatan, penggantian, pemberhentian anggota Direksi dan
Dewan Komisaris;
i. tata cara penggunaan laba dan pembagian dividen.
2) Selain ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) anggaran dasar
dapat juga memuat ketentuan lain yang tidak bertentangan dengan undangundang ini.
3) Anggaran dasar tidak boleh memuat :
a. Ketentuan tentang penerimaan bunga tetap atas saham; dan
b. ketentuan tentang pemberian manfaat pribadi kepada pendiri atau pihak
lain.
Setelah perusahaan multinasional yang berbentuk perseroan terbatas
memiliki status badan hukum, sesuai dengan Pasal 3 ayat (1) UUPT, maka
pemegang saham perseroan terbatas tidak bertanggung jawab secara pribadi
atas perikatan yang dibuat atas nama perseroan serta tidak bertanggung jawab
atas kerugian perseroan melebihi nilai saham yang telah dimilikinya.
Kedudukan hukum perusahaan multinasional di Indonesia menurut UUPT
adalah sebagai badan hukum biasa yang berbentuk perseroan terbatas.

33

Perseroan terbatas yang kepemilikan sahamnya bisa dimiliki oleh asing dan
dimiliki oleh Indonesia, bisa juga kepemilikan sahamnya dimiliki sepenuhnya
oleh Indonesia tetapi memiliki cabang ataupun anak perusahaan di negara lain.
Maka perusahaan multinasional dalam menjalankan kegiatan usahanya
memiliki hubungan hukum dengan anak perusahaan atau induk perusahaannya
yang berada di negara lain.
Hubungan antara induk dengan anak perusahaan multinasional tidak
dikenal didalam UUPT, hubungan antara induk dengan anak adalah hubungan
secara ekonomi, secara hukum hubungan induk dengan anak perusahaan
adalah sebagai badan hukum mandiri. Dalam UUPT mengatur mengenai
kepemilikan saham di perseroan terbatas yang diatur dalam Pasal 84 UUPT
sebagai berikut :
1) Setiap saham yang dikeluarkan mempunyai satu hak suara, kecuali
anggaran dasar menentukan lain.
2) Hak suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk :
a. Saham perseroan yang dikuasai sendiri oleh perseroan;
b. saham induk perseroan yang dikuasai oleh anak perusahaannya secara
langsung atau tidak langsung; atau
c. saham perseroan yang dikuasai oleh perseroan lain yang sahamnya secara
langsung atau tidak langsung telah dimiliki oleh perseroan.
Hubungan hukum yang timbul antara induk perusahaan dengan anak
perusahaannya merupakan hubungan antara pemegang saham (induk
perusahaan) dengan anak perusahaan. Hubungan hukum tersebut diatur secara
jelas dalam anggaran dasar anak perusahaan dengan memperhatikan ketentuan
yang berlaku.
Sebagai contoh suatu anak perusahaan untuk dapat melakukan tindakan
hukum tertentu harus mendapat persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham
(termasuk induk perusahaan sebagai pemegang saham mayoritas). Tindakan
tertentu tersebut antara lain adalah : melakukan penyertaan pada perusahaan
lain, menerima pinjaman atau memberikan pinjaman pada perusahaan lain;
melakukan perjanjian dengan pihak ketiga. Segala sesuatu tindakan hukum
anak perusahaan yang berhubungan dengan anggaran dasar harus mendapat

34

persetujuan dari induk perusahaan. Oleh karenanya organisasi dan manajemen


induk perusahaan diatur sebagaimana layaknya perseroan terbatas biasa yaitu
di dalam anggaran dasar induk perusahaan tersebut. Induk perusahaan
melakukan pengawasan terhadap anak perusahaan sebatas posisinya sebagai
pemegang saham dan sebatas diatur dalam anggaran dasar anak perusahaan.
Hubungan antara induk perusahaan dengan anak perusahaan menyebabkan
terbentuknya perusahaan kelompok. Perusahaan kelompok ada apabila lebih
dari satu perusahaan yang secara yuridis mandiri tunduk pada satu pimpinan
bersama. Dengan demikian jelas bahwa dalam suatu perusahaan kelompok ada
salah satu perusahaan berkedudukan sebagai pimpinan sentral untuk
mengendalikan perusahaan-perusahaan yang bergabung. Dampak dari
hubungan yang timbul antara induk perusahaan dengan anak perusahaan
didalam perusahaan kelompok adalah karena penguasaan sebagian besar
saham pada anak. Hubungan yang timbul karena induk perusahaan
menanamkan saham pada anak-anak perusahaannya baik secara langsung
maupun melalui pengambilalihan saham perusahaan lain.
Perusahaan kelompok dapat terjadi melalui penggabungan, peleburan, dan
pengambilalihan perseroan. Pengertian penggabungan (merger), peleburan
(konsolidasi), dan pengambilalihan (akuisisi) diatur dalam Pasal 122 sampai
dengan Pasal 134 UUPT.
Induk perusahaan dan anak perusahaan mempunyai anggaran dasar
sendirisendiri, karena perusahaan-perusahaan tersebut harus menjalankan
usaha seperti yang telah ditetapkan dalam anggaran dasarnya masing-masing.
Dan anggaran dasar perseroan terbatas merupakan hukum positif bagi
perseroan terbatas itu yang apabila dilanggar akan mengakibatkan transaksi
yang dibuat menjadi batal.
Berdasarkan ketentuan didalam Pasal 122 ayat (1) UUPT, penggabungan
ialah perseroan yang menggabungkan atau meleburkan diri dan berakhir
karena hukum, yang berarti bahwa perusahaan yang menggabungkan diri
beralih pada perusahaan yang menerima penggabungan atau bisa dikatakan
perseroan hasil penggabungan (merger). Dalam merger kerja sama antar

35

perusahaan yang bergabung itu mencakup kegiatan yang bersifat penuh dan
kemandirian pihak-pihak yang melakukan merger itu tidak ada lagi.
Akuisisi ialah pengambilalihan suatu perseroan oleh perseroan lain,
ditentukan dalam Pasal 125 ayat (2) UUPT, pengambilalihan dapat dilakukan
oleh badan hukum atau orang perorangan. Berdasarkan ketentuan dalam Pasal
125 ayat (3) UUPT, pengambilalihan dapat dilakukan melalui pengambilalihan
saham yang mengakibatkan beralihnya pengendalian terhadap perseroan
tersebut. Persyaratan untuk melakukan penggabungan, peleburan, dan
pengambilalihan dapat dilihat dalam Pasal 127 ayat (1) UUPT yang
menentukan RUPS mengenai penggabungan, peleburan dan pengambilalihan
perseroan terbatas yang menentukan RUPS mengenai penggabungan,
peleburan, dan pengambilalihan perseroan sah apabila diambil sesuai dengan
ketentuan Pasal 87 ayat (1) dan Pasal 89 UUPT.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian dari pembahasan diatas maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut :
1. Payung Hukum Perjanjian Internasional Di Indonesia yakni Undangundang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional dimana
mengatur tentang Perjanjian-perjanjian Internasional yang diikuti atau
disetujui oleh Pemerintah RI sekaligus mengatur tentang tata cara
Pembuatan, Penandatanganan dan proses pengikatan diri Indonesia
terhadap perjanjian Internasional.
2. Kedudukan hukum perusahaan multinasional menurut Undang-Undang
Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya UUPT)
sebagai badan hukum di Indonesia karena perusahaan multinasional yang
berkedudukan di Indonesia berbentuk perseroan terbatas dimana
Perusahaan transnasional yang akan melakukan kegiatan di Indonesia
wajib membentuk badan hukum Indonesia, khususnya dalam bentuk
36

perseroan

terbatas.

Dengan

demikian,

keberadaan

perusahaan

multinasional di Indonesia harus tunduk pada hukum Nasional Indonesia.


Oleh karena itu, perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia
dengan membentuk badan hukum perseroan terbatas berdasarkan hukum
Nasional Indonesia jelas menjadi subjek hukum Nasional Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

An An Chandrawulan, Hukum Perusahaan Multinasional Liberalisasi Hukum


Perdagangan Internasional dan Hukum Penanaman Modal. Bandung :
Alumni, 2011,
Boer Mauna, Hukum Internasional- Pengertian, Peranan dan Fungsi dalam
Era Dinamika Global, Alumni, Bandung, 2005
Damos Dumoli Agusman, Hukum Perjanjian Internasional-Kajian Teori dan
Praktik Indonesia, Refika Aditama, Bandung,2010.
I Wayan Parthiana, Pengantar Hukum Internasional, Mandar Maju, Bandung.
2003.
J. Panglaykim, Perusahaan Multinasional Dalam Bisnis Internasional.
Jakarta : CSIS, 1983.
Juajir Sumardi, Hukum Perusahaan Multinasional dan Frnachise. Makasar :
Arus Timur, 2012,
K. Saran, Perusahaan Multinasional Dalam Tata Ekonomi Internasional
Baru. Makasar : FH UNHAS, 1990.
Mappanga, Peranan Perusahaan Transnasional Ditinjau Dari Segi Hukum
Ekonomi Internasional, Makasar: Fakultas Hukum Unhas, 1991.
Muhammad Sood, Hukum Perdagangan Internasional, Rajagrafindo Persada,
Jakarta, 2011
37

Peter T. Muchlinski, Multinational enterprise and The Law, The Oxford


International Law Library / Oxford Univ. Press, Oxford, 2007, hlm. 2., (di
dalam An An Chandrawulan, Hukum Perusahaan Multinasional
Liberalisasi Hukum Perdagangan Internasional dan Hukum
Penanaman Modal, Bandung: Alumni, 2011
Samuel Karya Mali Pirade. Legalitas Perdagangan Produk Makanan Malaysia
Dalam Perspektif Hukum Internasional (Studi Kasus Wilayah Kota
Samarinda). Skripsi. Makassar: Fh Unhas. 2014
Santi Rahmawati, Perbedaan Struktur Modal Perusahaan Multinasional Dan
Perusahaan Domestik. Depok: Tesis Program Pasca Sarjana Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia, 2008.
Sumantoro, Kegiatan Perusahaan Transnasional. Jakarta : Gramedia, 1987.
Yahya Harahap, Hukum Perseroan Terbatas.Jakarta: Sinar Grafika, 2013.

38