Anda di halaman 1dari 6

Ringkasan Ushul Fiqh

Kelompok 2

1. Al-Ahkam (hukum)
Hukum Syara adalah Kalam Allah yang mengatur amal perbuatan orang
mukallaf
(islam,
baligh
dan
berakal),
baik
berupa
perintah
(mengerjakan /meninggalkan), tahyir (pilihan), atau penetapan sesuatu
menjadi sebab, syarat, atau penghalang
Hukum syara terbagi menjadi 2 yaitu
a. Hukum taklifi = Apa-apa yang mengandung tuntutan terhadap
mukallaf untuk berbuat atau menahannya dari melakukannya atau
memilih antara melakukan dengan tidak melakukannya.
b. Hukum Wadhi = hukum yang ditetapkan pada sesuatu yang
menjadi sebab bagi sesuatu yang lain, atau menjadi syarat atau
menjadi penghalang.
Pembagian Hukum Taklifi
a. Wajib
Menurut bahasa wajib berarti tetap atau pasti. Adapun menurut
istilah wajib adalah: sesuatu yang diperintahkan oleh Allah dan
Rasulullah untuk dilaksanakan oleh seorang mukallaf. Wajib terbagi
menjadi 3 bagian yaitu:
Wajib dari sisi pembebanannya
1. Wajib Ain (kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap
mukallaf tanpa kecuali). Contoh: sholat
2. Wajib Kifayah (kewajiban yang dibebankan kepada seluruh
mukallaf dan dapat gugur manakala telah dilaksanakan oleh
sebagian dari mereka) Contoh: sholat jenazah.
Wajib dari sisi kandungan perintah
1. Wajib Muayyan (suatu kewajiban yang telah ditentukan dan
tidak ada pilihan bagi mukallaf). Contoh: puasa di bulan
ramadhan.
2. Wajib Mukhoyyar (suatu kewajiban yang boleh dipilih oleh
mukallaf atas beberapa alternative). Contoh: membayar
kafarat jika melanggar sumpah dengan memilih salah satu
dari 3 hal membayar kafarat yaitu: member makan 10 fakir
miskin, memberi pakaian, atau memerdekakan budak.

Wajib dari sisi pelaksanaannya


1. Wajib mutlak (suatu kewajiban yang waktu pelaksanaannya
tidak dibatasi oleh waktu tertentu). Contoh: mengqadla
puasa ramadhan yang bolong.
2. Wajib muaqqat (suatu kewajiban yang pelaksanannya dibatasi
oleh waktu tertentu). Contoh: shalat lima waktu
b. Sunnah
sunnah merupakan sesuatu yang dianjurkan. Suna menurut istilah
adalah:

Suatu

perbuatan

yang

dianjurkan

oleh

Allah

dan

Rasulullah. Sunnah terbagi menjadi 2 yaitu:


1. Sunnah Muakkad (sunnah yang sangat dianjurkan, sebab sunnah
ini

selalu

dilakukan

oleh

Nabi

SAW

dan

sangat

jarang

ditinggalkan). Contoh: shalat tahajjud


2. Sunnah ghairu muakkad (sunnah yang biasa dianjurkan, sebab
sunnah ini biasa dilakukan oleh Nabi SAW, namun terkadang
ditinggalkan). Contoh: memberi shadaqah kepada orang yang
tidak terdesak secara ekonomi.
c. Haram
Haram
secara
bahasa
adalah

sesuatu

yang

dilarang

mengerjakannya. Adapun menurut istilah haram adalah: Sesuatu


yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah. Haram dibagi menjadi 2
yaitu
1. Haram Li- Dzatihi (sesuatu yang diharamkan oleh syariat Islam
karena esensinya mengandung kerusakan dan bahaya bagi
kehidupan manusia). Contoh: makan babi, berzina
2. Haram Li-Ghoirihi (sesuatu yang diharamkan oleh syariat bukan
karena esensinya, namun karena membawa kepada esensi
haram). Contoh: Jual beli saat adzan jumat
d. Makruh
Makruh secara bahasa berarti sesuatu yang dibenci. Adapun
secara istilah, makruh adalah: Sesatu yang dianjurkan oleh syariat
untuk meninggalkannya. Contoh: berkumur saat puasa.
e. Mubah
Mubah secara bahasa berarti sesuatu yang diperbolehkan. Secara
istilah mubah adalah: sesuatu yang diberi pilihan oleh syariat
apakah akan melakukan atau tidak melakukan, dan tidak ada
hubungannya dengan dosa. Contoh: makan.

Pembagian Hukum Wadhi


a. Sebab
Sebab adalah sesuatu yang dijadikan oleh syariat sebagai tanda
bagi adanya hukum, dan tidak adanya sebab sebagai tanda tidak
adanya hukum. Jika ada sebab maka ada hukum dan jika tidak ada
sebab maka tidak ada hukum. Contoh:
- Jual beli menjadi sebab bagi perpindahan kepemilikan barang
- Tindakan perzinaan menjadi sebab seseorang dihukum cambuk
b. Syarat
Syarat adalah sesuatu yang tergantung kepadanya adanya sesuatu
yang lain, dan berada diluar hakekat sesuatu itu. Contoh:
- Si A berkata kepada si B: jika kamu membantu saya maka
hutangmu lunas. Membantu di sini adalah sebagai syarat hutang si
B lunas
c. Mani (penghalang)
Mani adalah sesuatu yang ditetapkan oleh syariat sebagai
penghalang

bagi

adanya

hukum

atau

penghalang

bagi

berfungsinya suatu sebab. Contoh:


- Haidl sebagai mani (penghalang) seorang wanita mukallaf
melakukan sholat
2. Al-Hakim (Pembuat Hukum)
Lafad Hakim berasal dari kata hakama yang berarti memutuskan perkara.
Secara bahasa Hakim adalah Pihak yang memutuskan hukum. di dalam
kajian Ushul Fiqih, Hakim adalah Pembuat/pemutus hukum secara hakiki, yakni
Allah SWT. Adapun Sumber lain dari hukum islam:

1. Al-Quran, yang merupakan wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi


Muhammad saw melalui Maliakat Jibril.
2. Sunnah Rasul, yang menjelaskan ucapan, perbuatan Nabi sebagai Rasul Allah.
3. Ijma, ialah kesepakatan para ulama mujtahid mengenai ketetapan sesuatu
ketentuan hukum (ditolak oleh syariah).
4. Qias, yaitu membanding-bandingkan dan menyamakan hukum sesuatu yang tidak
ada ketenuannya dalam peraturan hukum syara`
5. Ihtisan, ialah memandang lebih baik, yaitu menentukan hukum bukan diatas Qias
yang jelas (dipakai Hanafie).
6. Uruf, ialah adat yang tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Hadits, (dipakai
Maliki dan Syafii)`

7. Muslahah dan Mursalah, ialah maslahat yang tidak disebutkan dalam hukum.
Menurut ulama hukum yang yang dibuat itu untuk keselamatan umum seperti
surat cerai, memerangi orang yang ingkar membayar zakat, dan lain-lain. (dipakai
Maliki, ditolak oleh Hambali dan syafii).
3. Mahkum Alaih
Para Ahli ushul fiqh menjelaskan bahwa mahkum alaih adalah mukallaf yang terkait perbuatannya
dengan hukum syara. Seseorang apabila telah mukallaf, ia dipandang telah cakap bertindak
hukum, baik yang berkaitan dengan menjalankan perintah Allah maupun larangan-Nya. Seorang
mukallaf bertanggung jawab penuh terhadap semua perbuatan hukumnya.

Seseorang dikatakan mukalaf jika telah memenuhi syarat-syarat berikut ini :


a. Mukalaf dapat memahami dalil taklif baik itu berupa nas-nas Al-Quran atau sunah
baik secara langsung maupun melalui perantara. Orang yang tidak mengerti hukum
taklif, maka ia tidak dapat melaksanakan dengan benar apa yang diperintahkan
kepadanya. Dan alat untuk memahami dalil itu hanyalah dengan akal. Maka orang
yang tidak berakal (gila) tidaklah dikatakan muklaf.
b. Muklaf adalah orang yang ahli dengan sesuatu yang dibebankan kepadanya. Yang
dimaksud dengan ahli disini ialah layak atau wajar untuk menerima perintah.
Keadaan manusia dihubungkan dengan kelayakan untuk menerima menjalankan hak
dan kewajiban dapat dikelompokan menjadi dua :
c. Tidak sempurna, artinya dapat menerima hak tetapi tidak layak baginya
kewajiban. Contohnya janin yang ada dalam perut ibu. Baginya ada beberapa hak. Ia
berhak menerima harta pusaka dan bisa menerima wasiat tetapi tidak mampu
melaksanakan kewajiban.
d. Secara sempurna, artinya apabila sudah layak baginya beberapa hak dan
layak melakukan kewajiban yaitu orang-orang yang sudah dewasa (mukalaf).

4. Mahkum Fih
Pengertian

Dalam kajian ushul fiqh, mahkum fih

berarti perbuatan mukallaf yang

berkaitan dengan hukum. Mahkum fih atau perbuatan mukallaf adakalanya terdapat
dalam hukum taklifi dan adalakanya terdapat dalam hokum wahjii. Mahkum fih
sering pula disebut dengan mahkum bih

karena perbuatan mukallaf yang

berhubungan dengan perintah atau larangan. Mahkum Fih merupakan hasil perbuatan

manusia yang mukallaf erat hubungannya atau bersangkutan dengan hukum


syara/agama islam. Misalnya, perbuatan manusia yang mukallaf dan berhubungan
dan berkaitan dengan aturan agam islam, antara lain :
1. Masalah menyempurnakan janji bagi mukallaf, adalah mahkum fih, sebab dengan
bertalian dengan ijab, maka hukumnya adalah wajib.
2. Menyangkut masalah tidak dilaksanakan terhadap manusia, adalah mahkum fih,
dan bertalian dengan ketentuan Allah.
3. Menyangkut perbuatan manusia, mengenai mengerjakan puasa atau tidak
melaksanakan puasa pada bulan ramadhan bagi orang yang sakit atau orang
musafir/dalam perjalanan jauh, maka masalah itu adalahmahkum fihi,yang
beralian dengan ibadat.
Firman Allah yang artinya :
maka jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalan (lalu ia berbuka),
maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada harihari yang lain (Q.S. Al-Baqarah ayat 185).
Perbuatan manusia yang berkaitan dengan hukum syara itulah disebut dan dinamakan
Mahkum Fih dalam hukum islam.
Mahkum fih yang terdapat dalam hukum taklif selalu perbuatan yang mampu
dilakukan mukallaf, baik yang

wajib, haram, sunat, makruh maupun mubah.

Sedangkan mahkum fih terdapat dalam hokum wadhii adakalanya perbuatan mukalaf
dan adakalanya perbuatan mukallaf akan tetapi berkaitan dengan perbuatan mukalaf
Ada beberapa contoh perbuatan mukallaf atau mahkum fih yang dapat diangkat dari
firman Allah berikut:
a. Dalam surat al-Baqarah, 2:227
Dirikanlah shalat dan tunaikan zakat.
Adapun yang menjadi objek perintah yang terdapat dalam ayat ini adalah
kewajiban mendirikan shalat dan menunaikan zakat bagi mukallaf.
b. Dalam surat al-Isra, 17:32
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu
perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.
Dalam ayat ini ada larangan yang terkait dengan perbuatan mukallaf, yaitu
menjauhi zina. Dalam hal ini, melakukan zina hukumnya haram.
Dari beberapa contoh di atas, para ahli ushul fiqh membuat kesimpulan bahwa tidak ada
taklif (pembebanan hokum) kecuali untuk melakukan perbuatan. Jadi, hokum syara dapat
berbentuk perintah melakukan suatu perbuatan yang terkait dengan hokum wajib dan sunat.

Di samping itu, hukum syara dapat pula berupa berbentuk larangan. Dalam hal ini, larangan
itu terkait dengan hokum haram dan makruh. Pada dasarnya, arangan juga terkait dengan
perbuatan yang haram dan makruh.

B. Syarat-Syarat Mahkum Fih


Ada beberapa syarat untuk suatu taklif (pembebanan hukum), yaitu:
a. Perbuatan yang dibebankan diketahui secara sempurna dan rinci oleh mukallaf
sehingga ia mampu melakukan secara lengkap sesuai dengan yang diperintahkan
Allah kepadanya. Oleh karena itu, ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan secara
global, baru wajib dilaksanakan setelah ada penjelasan dari Rasulnya. Misalnya,
ayat-Al-Quran yang mewajibkan shalat secara global tanpa merinci syarat dan
rukunnya, baru wajib dilaksanakan setelah ada penjelasan secara rini dari
Rasulullah. Demikian pula ayat yang memerintahkan untuk melaksanakan haji,
puasa dan zakat
b. Mukallaf mengetahui secara pasti bahwa taklif tersebut datang dari pihak yang
berwenangn membuat taklif dan pihak yang diyakini mukallaf wajib untuk diikuti
hukumnya Itulah sebabnya maka setiap upaya mencari pemecahan hukum, yang
paling pertama dilakukan adalah pembahasan tentang validitas suatu dalil sebagai
sumber hukum