Anda di halaman 1dari 6

3

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Kelapa Sawit
Klasifikasi tanaman kelapa sawit yang dikutip dari Lubis (2008) adalah
sebagai berikut:
Divisi

: Tracheophyta

Sub divisi

: Pteropsida

Kelas

: Angiospermae

Sub kelas

: Monocotyledonae

Ordo

: Cocoidae

Famili

: Palmae

Sub family

: Cocoidae

Genus

: Elaeis

Spesies

: Elaeis guineensis Jacq

Elaeis berasal dari Elaion yang berarti minyak dalam bahasa Yunani.
Guineensis berasal dari kata Guinea (Pantai Barat Afrika). Jacq berasal dari nama
botanist Amerika yaitu Jacquin (Lubis, 2008).
Tanaman kelapa sawit berakar serabut. Perakarannya sangat kuat karena
tumbuh ke bawah dan ke samping membentuk akar primer, sekunder, tertier, dan
kuarter (Fauzi et al., 2008). Akar primer tumbuh ke bawah di dalam tanah sampai
batas permukaan air tanah. Akar sekunder, tertier, dan kuarter tumbuh sejajar
dengan permukaan air tanah bahkan akar tertier dan kuarter menuju ke lapisan
atas atau ke tempat yang banyak mengandung zat hara.
Batang kelapa sawit tumbuh tegak lurus (phototropi) dibungkus pelepah
daun (frond base) (Lubis, 2008). Batang berbentuk silinderis berdiameter 0.5 m
pada tanaman dewasa. Bagian bawah umumnya lebih besar disebut bongkol
batang atau bowl. Pada tanaman yang masih muda batangnya tidak terlihat karena
tertutup oleh pelepah daun. Daun kelapa sawit mirip kelapa yaitu membentuk
susunan daun majemuk, bersirip genap, dan bertulang sejajar (Fauzi et al., 2008).
Daun-daun membentuk satu pelepah yang panjangnya mencapai 7.5 - 9 m. Jumlah
anak daun di setiap pelepah berkisar antara 250 - 400 helai.

4
Tanaman kelapa sawit di lapangan mulai berbunga pada umur 1214 bulan,
tetapi baru ekonomis untuk dipanen pada umur 2.5 tahun (Lubis, 2008). Dari
setiap ketiak pelepah daun akan keluar satu tandan bunga jantan atau betina. Sex
diferensiasi terjadi 1725 bulan sebelum anthesis dan setelah anthesis
membutuhkan waktu 56 bulan baru matang panen. Secara visual tandan bunga
jantan atau betina baru dapat diketahui setelah muncul dari ketiak pelepah daun
yaitu 78 bulan sebelum matang.
Bunga betina setelah dibuahi akan berkembang pada spikelet. Karena
kondisi terjepit maka buah yang terletak di bagian dalam akan lebih kecil dan
kurang sempurna bentuknya dibandingkan dengan yang terletak di bagian luar
(Lubis, 2008). Kematangan buah dibedakan atas matang morfologis dan matang
fisiologis. Matang morfologis adalah kematangan buah yang telah sempurna
bentuknya serta kandungan minyak optimal. Matang fisiologis adalah kematangan
buah yang sudah lebih lanjut yaitu telah siap untuk tumbuh dan berkembang
biasanya satu bulan sesudah matang morfologis.

Syarat Tumbuh
Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada daerah tropika basah kawasan
khatulistiwa di sekitar 12 derajat Lintang UtaraSelatan dengan kelas iklim Af
dan Am baik menurut sistem klasifikasi Koppen maupun sistem klasifikasi
SchmidthFerguson. Jumlah curah hujan yang baik (optimum) untuk tanaman
kelapa sawit adalah 2 000 - 2 500 mm/tahun, tidak memiliki defisit air, hujan agak
merata sepanjang tahun (Lubis, 2008).
Kelapa sawit dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, seperti Podsolik,
Latosol, Hidromorfik Kelabu (HK), Regosol, Andosol, Organosol, dan Alluvial
(Lubis, 2008). Tanah gambut juga dapat ditanami kelapa sawit asalkan ketebalan
gambutnya tidak lebih dari satu meter dan sudah tua (saphrik). Sifat tanah yang
perlu diperhatikan untuk budidaya kelapa sawit yaitu sifat fisik tanah (kedalaman
tanah, tekstur, dan struktur tanah) dan sifat kimia tanah (kandungan unsur hara).
Kelapa sawit dapat tumbuh dan berbuah hingga ketinggian 1 000 meter di
atas permukaan laut (dpl) dan sebaiknya ditanam di lahan yang memiliki
kemiringan lereng 0-120 atau 21 persen. Sebenarnya lahan yang kemiringan

5
lerengnya 13-250 masih bisa ditanami kelapa sawit, tetapi pertumbuhannya kurang
baik (Sunarko, 2008)

Penunasan Tanaman Menghasilkan


Penunasan (prunning) kelapa sawit adalah pembuangan daundaun tua atau
daun yang tidak produktif pada tanaman kelapa sawit (Fauzi et al., 2008). Tujuan
penunasan adalah mempermudah pekerjaan potong buah (melihat dan memotong
buah masak), menghindari tersangkutnya brondolan pada ketiak buah, dan
memperlancar proses penyerbukan alami. Selain itu, penunasan dilakukan untuk
sanitasi (kebersihan) tanaman sehingga menciptakan lingkungan yang tidak sesuai
bagi perkembangan hama dan penyakit (Pahan, 2008).
Untuk mencapai tujuan penunasan dan tetap mempertahankan produksi
maksimum maka harus dihindari terjadinya over prunning. Over prunning adalah
terbuangnya

sejumlah

pelepah

produktif

secara

berlebihan

yang

akan

mengakibatkan penurunan produksi. Untuk mendapatkan produksi yang


maksimum diperlukan jumlah pelepah optimum, yaitu 48-56 pada tanaman muda
dan 40-48 pada tanaman tua (Pahan, 2008).

Persiapan Panen
Keberhasilan panen sangat bergantung pada bahan tanam yang digunakan,
tenaga kerja pemanenan, peralatan panen yang digunakan, kelancaran transportasi,
organisasi panen yang baik, sistem panen yang terkoordinasi, keadaan areal, dan
insentif yang diperoleh (Lubis, 2008). Persiapan panen yang baik akan menjamin
tercapainya target produksi dengan biaya panen seminimal mungkin. Hal-hal yang
perlu dilakukan di dalam mempersiapkan pelaksanaan pekerjaan potong buah,
yaitu persiapan kondisi areal, penyediaan tenaga kerja potong buah, pembagian
seksi potong buah, dan penyediaan alat-alat kerja (Pahan, 2008).

Kriteria dan Cara Panen


Buah kelapa sawit menjadi matang sekitar 6 bulan setelah terjadinya
polinasi (penyerbukan) dan fertilisasi (pembuahan). Kematangan buah adalah

6
aspek yang pengaruhnya paling menonjol terhadap kuantitas dan kualitas minyak.
Buah yang tepat matang diartikan sebagai buah yang memberikan kuantitas dan
kualitas minyak maksimal (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2005).
Kriteria matang panen merupakan indikasi yang dapat membantu pemanen
agar memotong buah pada saat yang tepat. Kriteria matang panen ditentukan pada
saat kandungan asam lemak bebas atau free fatty acid (ALB atau FFA) minimal.
Panen harus dilaksanakan pada saat yang tepat karena akan menentukan
tercapainya kuantitas dan kualitas minyak sawit yang dihasilkan. Pemanenan yang
dilakukan sebelum proses pembentukan minyak selesai akan mengakibatkan hasil
minyak mentah kurang dari semestinya. Sedangkan pemanenan yang melewati
proses pembentukan minyak akan merugikan karena akan banyak buah yang
terlepas dari tandan. Pada buah yang lewat masak, sebagian kandungan
minyaknya akan berubah menjadi ALB atau FFA yang akan mengakibatkan
penurunan mutu minyak kelapa sawit. Pada saat ini, kriteria umum yang banyak
dipakai adalah pada setiap kilogram tandan buah segar (TBS) terdapat dua
brondolan (Fauzi et al., 2008).
Berdasarkan tinggi tanaman, ada tiga cara panen yang umum dilakukan oleh
perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Untuk tanaman yang tingginya 25 m
digunakan cara panen membungkuk dengan alat dodos, sedangkan tanaman yang
tingginya 510 m dipanen dengan cara berdiri dan menggunakan alat kampak
siam. Cara egrek digunakan untuk tanaman yang tingginya lebih dari 10 m dengan
alat arit bertangkai panjang.

Rotasi Panen
Rotasi panen adalah waktu yang diperlukan antara panen terakhir sampai
panen berikutnya pada tempat yang sama. Rotasi panen dianggap baik bila buah
tidak lewat matang, yaitu dengan menggunakan sistem 6/7. Artinya, dalam satu
minggu terdapat 6 hari panen dan masing-masing ancak panen diulangi (dipanen)
7 hari berikutnya (Fauzi et al., 2008).
Pemotongan buah dilakukan dengan selang waktu (rotasi) sekitar 510 hari,
bergantung pada umur tanaman. Pada tanaman yang berumur kurang dari 5 tahun,
pemotongan buah dilakukan 5 hari sekali, sedangkan untuk tanaman yang

7
berumur 56 tahun, pemotongan buah dilakukan 10 hari sekali (Sastrosayono,
2003). Tanaman yang berumur 6 15 tahun memiliki tandan buah besarbesar
sehingga proses masaknya buah lebih lama. Pada tanaman yang berumur di atas
15 tahun, pemotongan buah dilakukan 7 hari sekali. Selang waktu pemotongan
buah menjadi lebih cepat karena tandan buah yang dihasilkan tanaman kelapa
sawit yang sudah berumur lebih dari 15 tahun mulai mengecil, sehingga proses
masaknya buah lebih cepat.

Organisasi Potong Buah dan Kerapatan Panen


Seksi potong buah sebaiknya terorganisir agar blok yang akan dipanen
setiap hari menjadi terkonsentrasi (tidak terpencarpencar). Selain itu harus
dihindari adanya potonganpotongan ancak panen agar satu seksi selesai pada
satu hari. Hal ini bertujuan untuk mempermudah kontrol pekerjaan, meningkatkan
efisiensi transportasi buah, dan memudahkan pengaturan keamanan produksi
(Pahan, 2008).
Sistem pengancakan potong buah secara umum dibagi dua yaitu sistem giring
dan sistem tetap (Fauzi et al., 2008). Pada sistem giring, apabila suatu ancak telah
selesai dipanen, pemanen pindah ke ancak berikutnya yang telah ditunjuk oleh
mandor. Sistem ancak giring memudahkan pengawasan pekerjaan para pemanen
dan hasil panen lebih cepat sampai di tempat pengumpulan hasil (TPH) dan
pabrik. Sisi negatif sistem ancak giring adalah adanya kecenderungan pemanen
akan memilih buah yang mudah dipanen sehingga ada tandan buah atau brondolan
yang tertinggal karena pemanenannya menggunakan sistem borongan. Sedangkan,
sistem ancak tetap sangat baik diterapkan pada areal perkebunan yang sempit,
topografi berbukit atau curam, dan dengan tahun tanam yang berbeda. Pada sistem
ancak tetap pemanen diberi ancak dengan luas tertentu dan tidak berpindahpindah. Hal tersebut menjamin diperolehnya TBS dengan kematangan yang
optimal. Rendemen minyak yang dihasilkannya pun tinggi. Kelemahan sistem
ancak tetap adalah buah lebih lambat keluar sehingga lambat juga sampai ke
pabrik.
Kerapatan panen adalah sejumlah angka yang menunjukkan tingkat
kerapatan pohon matang panen di dalam suatu areal (Fauzi et al., 2008). Tujuan

8
perhitungan kerapatan panen adalah untuk memperkirakan produksi. Penentuan
kerapatan panen dilakukan satu hari sebelum pelaksanaan panen di areal yang
akan dipanen. Penentuan kerapatan panen sangat penting dilakukan untuk
menentukan jumlah tenaga kerja dan kebutuhan sarana pengangkutan hasil panen.