Anda di halaman 1dari 24

1

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hemoglobin (Hb) merupakan suatu protein majemuk yang mengandung unsur
non-protein yaitu heme yang berfungsi mengangkut oksigen (O 2) dari organ
respirasi menuju sel-sel jaringan. Disamping itu hemoglobin juga berfungsi
mengangkut karbondioksida (CO2) dari sel-sel jaringan ke organ respirasi. Dalam
bidang kesehatan dan kedokteran, banyak gangguan kesehatan terkait dengan
hemoglobin (Sofro, 2012).
Masalah kesehatan lingkungan di Indonesia banyak terjadi, yang diantaranya
gas buangan kendaraan bermotor. Gas tersebut mengandung karbon monoksida
(CO), nitrogen oksida (NOx), hidrokarbon (HC), Sulfur dioksida (SO2), timah
hitam (Pb) dan karbon dioksida (CO2). Dari beberapa jenis polutan ini, karbon
monoksida (CO) merupakan salah satu polutan yang paling banyak dihasilkan
oleh kendaraan bermotor (Sengkey dkk, 2011).
Karbon monoksida adalah gas tidak berbau dan tidak berwarna tetapi beracun
karena daya ikatnya yang sangat tinggi terhadap hemoglobin (Hb) darah. Dengan
adanya CO, maka akan terikat hemoglobin (Hb) dalam darah yang disebut
karboksihemoglobin (HbCO). Daya ikat karbon monoksida pada hemoglobin 200
kali lebih kuat dibandingkan dengan oksigen. Kuatnya ikatan akan mengganggu
fungsi hemoglobin tersebut hingga menyebabkan berkurangnya pasokan oksigen
yang diedarkan keseluruh organ dan jaringan tubuh. Karbon monoksida (CO) yang
terikat hemoglobin menyebabkan ketersediaan oksigen untuk jaringan menurun.
(Ahirawati dalam Fardiaz, 2009).

Selain gas buangan kendaraan, gas karbon monoksida juga dihasilkan dari
rokok, yang sangat mempengaruhi kandungan HbCO dalam tubuh, apabila
konsentrasi CO yang tinggi dalam asap rokok terhisap akan mengakibatkan kadar
HbCO di dalam darah meningkat (Bukasiang dalam Bustan, 2014).
Pada penelitian Ahirawati (2009), polisi lalulintas merupakan profesi yang
lingkungan kerjanya memungkinkan untuk sering berhubungan langsung dengan
gas buangan kendaraan seperti karbon monoksida (CO). Hasil penelitiannya
menunjukan dari 16 polisi lalulintas yang memiliki masa kerja berbeda-beda
kandungan HbCOnya yang bekerja antara 1 sampai 1.5 tahun sebanyak 1.5 ppm, 2
tahun sebanyak 2.6 ppm, 3 tahun sebanyak 5.1 ppm, 4 tahun sebanyak 2.9 ppm dan
5 tahun sebanyak 4.6 ppm. Semakin lama orang bekerja sebagai polisi lalulintas
maka semakin banyak kandungan karboksihemoglobin (HbCO) dalam darahnya.
Di Provinsi Sulawasi Utara khususnya di Kota Manado sudah sangat padat
dengan kenderaan bermotor dimana kemajuan di bidang transportasi dapat dilihat
berdasarkan data Ditlantas Polda Sulut, sejak 2005 sampai Juni 2010 peningkatan
kendaraan roda dua sebesar 87, 95%, sedangkan kendaraan roda empat ke atas
sebesar 40,59 % yang mengakibatkan pada beberapa ruas jalan yang menjadi jalur
utama kendaraan umum di Kota Manado terjadi kemacetan, terutama pada jam
sekolah dan perkantoran. Berdasarkan survey awal yang dilakukan bahwa setiap
polisi lalulintas yang bertugas tidak menggunakan masker sehingga memiliki
risiko besar terpapar dengan gas buangan kendaraan bermotor.

Pemajanan CO dari udara yang dapat diikat oleh Hb dalam darah menjadi
HbCO yang terbentuk dengan sangat pelahan karena butuh waktu 4-12 jam untuk
tercapainya keseimbangan antara kadar CO diudara dan HbCO dalam darah.
Tingginya risiko terpapar gas buangan karbon monoksida (CO) pada petugas
polisis lalu lintas akan mempengaruhi pula kadar karboksihemoglobin (HbCO)
dalam darah, hal ini akan berdampak buruk terhadap kesehatan antara lain dapat
terjadi gangguan pada system saraf, penglihatan, pancaindra, sakit kepala, sesak
nafas, koma bahkan jika ditemukan kadar karboksihemoglobin (HbCO) dalam
darah dalam konsentrasi tinggi yakni sebesar 70%-90% dapat mengakibatkan
kematian (Wardhana, 2001).
Dari latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian
gambaran kadar karboksihemoglobin (HbCO) pada polisi lalulintas polresta
Manado.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah penelitian :
Bagaimana gambaran kadar karboksihemoglobin (HbCO) pada polisi lalulintas
polresta Manado?
C. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui atau melihat gambaran kadar karboksihemoglobin (HbCO)
pada polisi lalulintas polresta Manado.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Memberikan gambaran secara ilmiah tentang kadar karboksihemoglobin
(HbCO) pada polisi lalulintas.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai gambaran
risiko keracunan CO khususnya kenaikan kadar karboksihemoglobin
(HbCO) pada polisi lalulintas dan dapat menjadi bahan referensi untuk
peneliti selanjutnya.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Hemoglobin

Hemoglobin merupakan protein tetramer kompak yang setiap monomernya


terikat pada gugus prostetik heme dan keseluruhannya mempunyai berat molekul
64.450 Dalton. Hemoglobin yang terikat pada oksigen disebut hemoglobin
teroksigenasi atau oksihemoglobin (HbO2), sedangkan hemoglobin yang sudah
melepaskan oksigen disebut deoksihemoglobin (Hb). Hemoglobin dapat mengikat
suatu gas hasil pembakaran yang tidak sempurna yaitu karbon monoksida (CO)
dan disebut karboksihemoglobin (HbCO). Hb berwarna merah kecoklatan, dan
HbCO berwarna merah terang (Asscalbiass, 2010).
Hemoglobin mengandung dua unsur penyusun yaitu heme dan globin, maka
normalnya molekul hemoglobin juga dipengaruhi oleh sentesis normal heme dan
globin yang melibatkan bahan baku dan normalnya jalur reaksi yang dilaluinya.
Gangguan pada sintesis salah satu unsur akan berakibat terbentuknya molekul
hemoglobin yang kurang atau tidak mampu berfungsi optimal. Sebagai contoh
sintesis molekul heme memerlukan unsur mineral yaitu zat besi (Fe). Bila mana
kesediaan Fe dalam tubuh kurang, maka heme yang terbentuk juga akan berkurang,
akibatnya meskipun sintesis molekul globin berlangsung normal, hemoglobin yang
seharusnya terbentuk dari penggabungan globin dan heme juga akan terganggu
(Sofro, 2012).
Karboksihemoglobin beberapa kali lebih stabil dibandingkan dengan
oksihemoglobin sehingga reaksi ini mengakibatkan berkurangnya kapasitas darah
untuk menyalurkan O2 ke jaringan tubuh. Jika kita duduk di udara dengan
kadar karbon monoksida 60 bpj selama 8 jam, maka kemampuan mengikat oksigen
oleh darah turun sebanyak 15 %, sama dengan kehilangan darah sebanyak 0,5 liter.

Paparan dari karbon monoksida menghasilkan hypoksia pada jaringan. Hipoksia


menyebabkan efek pada otak dan perkembangan janin. Efek pada sistem
kardiovaskuler terjadi pada HbCO kurang dari 5 % (Ahirawati dalam Fardiaz,
2009).
Keracunan karbon monoksida sering digolongkan sebagai salah satu
bentuk hipoksia anemik, karena didapatkan defisiensi hemoglobin yang dapat
mengangkut O2, tetapi kandungan hemoglobin total di dalam darah tidak
dipengaruhi oleh CO. Terdapatnya HbCO, ditunjukan oleh kurva disosiasi untuk
HbO2 yang tersisa akan bergeser ke kiri, sehingga jumlah O2 yang dilepaskan
berkurang. (Ganong, 2002).
Gejala toksisitas CO adalah nyeri kepala, rasa lelah, kebingungan mental,mual,
dan gangguan neurologik berat akibat hipoksia yang menyebabkan koma, serta
kematian. Analisis untuk CO dilakukan pada darah yang diberi EDTA. Hasil
dinyatakan sebagai persen hemoglobin yang terdapat sebagai karboksihemoglobin.
Gejala-gejala toksik keracunan CO muncul pada kadar 20% dan kematian pada
kadar mencapai 60%. Pengobatan dengan beralih dari sumber CO dan
mempertahankan respirasi dengan entilasi yang kuat dan pemberian oksigen agar
CO berdisosiasi dari hemoglobin dan berdifusi keluar tubuh (Sudrajad, 2005).

Menurut Wardhana (2001), pengaruh konsentrasi CO terhdadap kesehatan


manusia dapat dilihat pada table di bawah ini:
Tabel 1. Daftar Pengaruh Konsentrasi CO Terhadap Kesehatan

No

Konsentrasi

Konsentrasi

Gejala terhadap kesehatan

1
2
3

CO (ppm)
0-10
10
10-20

HbCO (%)
1-2
3,0-4,0
5,0-6,0

Belum ada gejala


Gangguan pada tingkahlaku
Gangguan pada system saraf,

30-50

10,0-<20,0

penglihatan, pancaindra dll


Perubahan fungsi pada jantung dan

>20,0-60,0

paru
Sakit kepala, lesu,pusing, sesak

70,0-90,0

napas, koma
Kematian

5
6

50-70
80-90

Analisa kadar HbCO membutuhkan alat ukur sprektrofotometer yang khusus


dengan menggunakan metode Hindsbreg-Lang. Kadar HbCO yang meningkat
menjadi signifikan terhadap paparan gas tersebut. Sedangkan kadar yang rendah
belum dapat menyingkirkan kemungkinan terpapar, khususnya bila pasien telah
mendapat terapi oksigen 100% sebelumnya atau jarak paparan dengan pemeriksaan
terlalu lama. Pada beberapa perokok, terjadi peningkatan ringan kadar CO sampai
10% yang dapat menyebabkan seseorang merasa kelelahan dan daya tahan tubuh
menurun (Soekatmo, 2010).
B. Gas Buang Kendaraan
Di bidang transportasi, khususnya didaerah perkotaan, kemajuan ini terlihat
dengan semakin banyaknya jumlah kendaraan yang ada dan terus bertambah dari
tahun ke tahun. Kemajuan ini juga seiring dengan mening-katnya populasi
penduduk perkotaan, meningkatnya ekonomi masyarakat serta aktivitas kerja yang
tinggi. Meningkatnya ekonomi masyarakat perkotaan juga menjadi salah satu
alasan semakin cepatnya pening-katan jumlah kendaraan bermotor ditambah lagi

dengan berbagai kemudahan yang diberikan dealer untuk dapat memperoleh


kendaraan. Aktivitas kerja masyarakat kota yang tinggi, sangat bergantung pada
sarana transportasi dalam hal ini kendaraan bermotor. Jarak tempat tinggal dan
tempat kerja yang jauh, tidak akan sulit ditempuh jika ada saranatransportasi
(Sengkey dkk, 2011).
Kendaraan bermotor merupakan salah satu sumber pencemaran udara yang
penting di daerah perkotaan. Kondisi emisi kendaraan bermotor sangat dipengaruhi
kandungan bahan bakar dan kondisi pembakaran dalam mesin. Hampir semua
bahan bakar mengandung polutan dengan kemungkinan pengecualian bahan bakar
sel (hydrogen) dan hidrokarbon ringan seperti metana (CH4. Polutan yang
dihasilkan kendaraan bermotor yang menggunakan BBM diantaranya CO,HC,
SO3, NO2 dan partikulat (Bukasiang dalam Joga, 2014).
C. Karbon monoksida (CO)
Karbon monoksida ( CO ) adalah gas yang tidak berwarna dan tidak berbau
yang dihasilkan dari proses pembakaran yang tidak sempurna dari material yang
berbahan dasar karbon seperti kayu, batu bara, bahan bakar minyak dan zat-zat
organik lainnya. Setiap korban kebakaran api harus dicurigai adanya intoksikasi
gas CO. Sekitar 50% kematian akibat luka bakar berhubungan dengan trauma
inhalasi dan hipoksia dini menjadi penyebab kematian lebih dari 50% kasus trauma
inhalasi. Intoksikasi gas CO merupakan akibat yang serius dari kasus inhalasi asap
dan diperkirakan lebih dari 80% penyebab kefatalan yang disebabkan oleh trauma
inhalasi (Kao dkk, 2004).

Karbon dan oksigen dapat bergabung membentuk senyawa karbon monoksida


(CO) sebagai hasil pembakaran yang tidak sempurna dan karbon dioksida (CO 2)
sebagai hasil pembakaran sempurna. Karbon monoksida merupakan senyawa yang
pada suhu udara normal berbentuk gas tidak \ berwarna tidak berbau dan tidak
berasa. Senyawa CO mempunyai potensi bersifat racun yang berbahaya karena
mampu membentuk ikatan yang kuat dengan pigmen darah yaitu haemoglobin
(Sudrajad, 2005).
Keracunan

karbonmonoksida

dapat

menyebabkan

turunnya

kapasitas

transportasi oksigen dalam darah oleh hemoglobin dan penggunaan oksigen di


tingkat seluler. Karbonmonoksida mempengaruhi berbagai organ di dalam tubuh,
organ yang paling terganggu adalah yang mengkonsumsi oksigen dalam jumlah
besar, seperti otak dan jantung. Efek toksisitas utama adalah hasil dari hipoksia
seluler yang disebabkan oleh gangguan transportasi oksigen. CO mengikat
hemoglobin secara reversible, yang menyebabkan anemia relatif karena CO
mengikat hemoglobn 230-270 kali lebih kuat dari pada oksigen. Kadar HbCO 16%
sudah dapat menimbulkan gejala klinis. CO yang terikat hemoglobin menyebabkan
ketersediaan oksigen untuk jaringan menurun (Soekatmo, 2010).
Gas karbon monoksida ( CO ) termaksud dalam golongan asphyxiants yakni
kimia yang dapat menyebabkan kesulitan bernapas ketika dihirup oleh manusia,
Kadar 10 bpj CO dalam udara dapat menyebabkan manusia sakit. Dalam waktu
setengah jam 1300 ppm dapat menyebabkan kematian. Pengaruh serupa dengan
pengaruh kekurangan oksigen. Hemoglobin yang biasanya membawa oksigen dan
udara akan lebih tertarik pada CO. Akan terbentuk senyawa CO dengan

10

hemoglobin dengan ikatan kimia yang lebih kuat dari pada dengan oksigen.
Molekul karboksihemoglobin ini sangat mantap untuk beberapa jam tidak lagi
mengikat oksigen yang dibutuhkan tubuh. (Tresna,2009).
D. Kerangka Konsep
Untuk lebih jelasnya gambaran kadar karboksimhemoglobin pada polisi
lalulintas Polresta Manado dapat dilihat pada kerangka konsep berikut :

POLUTAN

KADAR HbCO
ALAT PELINDUNG
DIRI (MASKER)

TIDAK NORMAL

POLANTAS
NORMAL

MEROKOK
Keterangan

: diteliti
: tidak diteliti

BAB III. METODE PENELITIAN


A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif, untuk melihat
gambaran kadar karboksihemoglobin (HbCO) pada polisi lalulintas polresta
Manado.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu

11

Penelitian ini berlangsung bulan Januari sampai Mei 2015.


2. Tempat
Pengambilan sampel dilakukan di Polresta Manado dan pemerikasaan kadar
karboksihemoglobin dilakukan di laboratorium Analis Kesehatan Politeknik
Kesehatan Kementerian Kesehatan Manado.
C. Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah monovariabel yaitu kadar
karboksihemoglobin polisi lalulintas.
D. Definisi Operasional
1. Kadar karboksihemoglobin adalah konsentrasi karboksihemoglobin (%) pada
polisi lalulintas yang diukur dengan menggunakan alat sprektrofotometer.
Dengan kriteria bila mana dikatakan normal kadar karboksihemoglobin 5 %
dan dikatakan tidak normal kadar karboksihemoglobin 5 % menurut OSHA
dan ACGIH.
2. Polisi lalulintas adalah polisi yang mengatur lalulintas di jalan raya dengan
lama bertugas 4 jam/hari
E. Populasi dan Sampel
1.

Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua polisi lalulintas polresta Manado
bagian operasional yang berjumlah 96 polisi lalulintas

2.

Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih untuk dapat mewakili
populasi. Dalam Penelitian ini didapatkan sampel sebanyak 29 responden, yang

12

diambil secara Proposive sampling sesuai keinginan peneliti yang termasuk


dalam kriteria inklusi.
Kriteria inklusi :
a) Responden yang bersedia mengisi informed consent dan bersedia diambil
b)
c)
d)
e)

darah
Berada di lokasi saat dilakukan penelitian.
Lama kerja lebih dari 1 tahun
Tidak menderita penyakit kronis dan kelemahan fisik.
Tidak sedang haid (untuk perempuan)

Kriteria Eksklusi :
a) Responden yang tidak bersedia mengisi informed consent dan tidak
bersedia diambil darah
b) Lama kerja kurang dari 1 tahun
c) Menderita penyakit kronis dan kelemahan fisik.
d) Sedang haid (untuk perempuan)
F. Instrumen Penelitian
1. Alat
a) Spuit 3 cc
b) Kapas alkohol
c) Tourniquet
d) Tabung EDTA 3 cc
e) Tabung reaksi
f)
Spatula
g) Mikropipet 10 L
h) Kuvet 20 mm
i)
Spektrofotometer (Spektroquant)
j)
Erlenmeyer 50 mL
k) Labu takar 1 L
l)
Pipet ukur 5 mL, dan 25 ml
m) Beker glass 250
n) Gelas orloji
o) Pipet thermo
2. Bahan
a)
Bahan pemeriksaan : Darah EDTA
b)
Ammonia solution 0,1%
c)
NA2S2O5/Sodium Dithionit
d)
Aquades steril
e)
Tip
G. Teknik Pengumpulan Data

13

Data primer, yaitu data responden yang diperoleh dari wawancara serta hasil
pemeriksaan kadar karboksihemoglobin dengan menggunakan Spektrofotometer.
H. Jalannya Penelitian
1) Persiapan Penelitian
a) Mengurus surat izin sebagai kelengkapan administrasi, dan untuk
memudahkan pelaksanaan penelitian.
b) Peneliti melakukan survei lokasi dan objek penelitian di polresta Manado
c) Pengambilan sampel darah dilakukan ditempat yang sudah disepakati
sebagai lokasi pengambilan sampel untuk pemeriksaan.
2) Pelaksanaan Penelitian
a) Pengambilan Sampel darah
(1) Mempersiapkan peralatan pengambilan darah menggunakan jarum
dan semprit 3 cc
(2) Mengecangkan jarum pada sempritnya
(3) Membersihkan daerah yang akan di tusuk dengan kapas alkohol 70%
dan biarkan mengering
(4) Memasang tourniquet di lengan atas yaitu 7-10 cm dari lipatan siku
selama kurang lebih 1 menit.
(5) Menegangkan kulit di atas vena yang akan di tusuk tanpa menyentuh
bagian kulit yang akan di tusuk
(6) Menusuk jarum kedalam kulit mengikuti arah vena dengan sudut
30o hingga masuk kedalam pembuluh darah
(7) Sedot darahnya, setelah jumlah darah mencukupi, lepaskan
tourniquet, kemudian letakkan kapas kering di atas jarum dan cabut
jarum tersebut
(8) Menekan daerah bekas tusukan 1-3 menit dengan kapas kering,
lalu tutup dengan plaster
(9) Masukan darah dari semprit ketabung EDTA dan homogenkan darah
dengan antikoagulan tersebut dengan cara membola-balikan secara
perlahan.
b) Pemeriksaan Laboratorium

14

Pemeriksaan

HbCO

dengan

menggunakan

spektrofotometer

(Metode Hindsbreg-Lang).
(1) 1 buah erlenmeyer ukuran 20 ml diberi larutan ammonia solution 0,1
% sebanyak 20 ml.
(2) Kemudian ditambah sampel darah 10 l dan dihomogenkan, lalu
dipindahkan ke dalam 2 tabung reaksi masing-masing 4 cc (4000 l)
kemudian diberi label R dan SPL.
(3) Tabung SPL ditambah 1 pucuk spatula NA2S2O5 dicampurkan sampai
homogen. Sedang tabung R tidak diberi NA2S2O5.
(4) Baca absorbansi pada spektrofotometer dengan panjang gelombang
546 nm.
(5) Absorbansi R disebut (A) dan absorbansi SPL disebut (ArHb).
Kadar karboksihemoglobin dapat diukur dengan rumus :
HbCO=

A
6,08
ArHb
I. Analisa Data

Data yang didapat disajikan dalam bentuk table ataupun diagram serta
dinarasikan.

15

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pemeriksaan Kadar Karboksihemoglobin (HbCO)
Hasil pemeriksaan kadar karboksihemoglobin dari 29 orang responden
penelitian dapat di lihat pada table berikut.
NO

Inisial

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27

JE
JA
BS
M
AW
D
AA
BB
AT
SS
YD
AH
RK
AW
YS
OT
AA
NN
MD
CT
DR
JT
BL
SM
JL
RS
MT

Kadar HbCO
(%)
5,65
5,79
5,68
5,74
5,83
4,78
5,39
5,42
5,57
5,43
4,78
5,74
5,24
5,86
5,44
5,83
5,20
5,51
5,57
5,61
4,92
5,10
5,45
5,34
5,13
5,19
5,36

Keterangan
Tidak Normal
Tidak Normal
Tidak Normal
Tidak Normal
Tidak Normal
Normal
Tidak Normal
Tidak Normal
Tidak Normal
Tidak Normal
Normal
Tidak Normal
Tidak Normal
Tidak Normal
Tidak Normal
Tidak Normal
Tidak Normal
Tidak Normal
Tidak Normal
Tidak Normal
Normal
Tidak Normal
Tidak Normal
Tidak Normal
Tidak Normal
Tidak Normal
Tidak Normal

16

28
29

YR
5,08
Tidak Normal
HW
5,48
Tidak Normal
Tabel 2. Hasil pemeriksaan kadar karboksihemoglobin (HbCO)

Data pada table 2 menunjukan bahwa kadar karboksihemoglobin responden


bervariasi dari yang terendah (4.78 %) hingga tertinggi (5.86 %).
Pada 29 responden polisi lalulintas polresta Manado diajukan beberapa
pertanyaan dan diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 3. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin
Jenis Kelamin
Laki Laki
Perempuan
TOTAL

Jumlah
F
24
5
29

%
83
17
100

Pada table 3 menunjukan responden penelitian terdiri dari laki-laki yaitu 24


orang (83%) dan perempuan yaitu 5 orang (17%), dengan jumlah keseluruhan
responden sebanyak 29 orang.
Tabel 4. Karakteristik responden berdasarkan pendidikan terakhir
Kategori Pendidikan
SMA
Perguruan Tinggi
Total

Jumlah
F
29
0
29

%
100
0
100

Pada tabel 4 menunjukan responden penelitian keseluruhannya memiliki


pendidikan terakhir adalah SMA (100%), dengan jumlah responden 29 orang.
Tabel 5. Karakteristik responden berdasarkan lama kerja

17

Jumlah

Kategori Lama Kerja

F
3
0
0
26
29

1 tahun
2 tahun
3 tahun
lebih dari 3 tahun
Total

%
10
0
0
90
100

Pada tabel 5 menunjukan 3 orang responden (10%) telah bekerja 1 tahun,


sedangkan 26 orang lainnya (90%) sudah bekerja lebih dari 3 tahun.
Tabel 6. Karakteristik responden berdasarkan penggunaan
APD (Ala Pelindung Diri)
Kategori Penggunaan
APD
Ya
Tidak
Kadang-kadang
Total

Jumlah
F
0
11
18
29

%
0
38
62
100

Dari kategori Penggunaan APD (alat pelindung diri) responden saat bekerja
(tabel 6), 11 orang responden (38%) mengaku tidak menggunakan alat pelindung
diri dalam hal ini masker, sedsngkan 18 orang lainnya (62%) mengaku
menggunakan APD hanya pada saat tertentu saja.
Tabel 7. Karakteristik responden berdasarkan konsumsi rokok
Kategori Konsumsi Rokok
Ya
Tidak
Total

Jumlah
F
14
15
29

%
48
52
100

18

Pada tabel 7 menunjukan bahwa dari 29 orang responden penelitian,


sebanyak 14 orang (48%) mengonsumsi rokok, sedang 15 orang lainnya (52%)
tidak mengonsumsi rokok.

Tabel 8. Karakteristik responden berdasarkan lama merokok


Jumlah

Lama Merokkok

F
0
0
8
6
14

1 tahun
2 tahun
3 tahun
lebih dari 3 tahun
Total

%
0
0
57
43
100

Pada tabel 8 menunjukan 8 orang responden (57%) telah mengonsumsi


rokok selama 3 tahun, sedangkan 6 orang lainnya (43%) sudah mengonsumsi
rokok lebih dari 3 tahun, dengan jumlah responden yang merokok 14 orang.
Tabel 9. Karakteristik responden berdasarkan frekuensi rokok sehari
Jumlah

Kategori Frekuensi Rokok Sehari

F
0
14
14

< 3 batang
> 3 Batang
Total

Pada

tabel

menunjukan

responden

penelitian

%
0
100
100

yang

merokok

keseluruhannya mengonsumsi rokok lebih dari 3 batang setiap hari (100%), dengan
jumlah responden 14 orang.

19

B. Pembahasan
Klasifikasi kadar karboksihemoglobin responden dapat di lihat pada tabel berikut.
Tabel 10. Klasifikasi Kadar Karboksihemoglobin Responden
Kategori
Normal
Tidak Normal
Total

Jumlah
F
3
26
29

%
10
90
100

Sesuai dengan kadar karboksihemoglobin (HbCO) normal yang ditetapkan


oleh OSHA dan ACGIH yakni normalnya HbCO adalah < 5 % maka dapat dilihat
bahwa dari data pada tabel 10 menunjukan 26 responden yang mempunyai kadar
karboksihemoglobin diatas standar (5 %) yaitu responden dengan nomor sampel 1
(5,65 %), 2 (5,79 %), 3 (5,68 %), 4 (5,74 %), 5 (5,83 %), 7 (5,39 %), 8 (5,42 %), 9
(5,57 %), 10 (5,43 %), 12 (5,74 %), 13 (5,24 %), 14 (5,86 %), 15 (5,44 %), 16
(5,83 %), 17 (5,20 %), 18 (5,51 %), 19 (5,57 %), 20 (5,61 %), 22 (5,10 %), 23
(5,45%), 24 (5,34 %), 25 (5,13 %), 26 (5,19 %), 27 (5,36 %), 28 (5,08 %), dan
sampel 29 (5,48 %), sedang 3 orang responden lainnya memiliki kadar
karboksihemoglobin normal.

20

Tabel 11. Analisa hasil pemeriksaan kadar karboksihemoglobin pada responden


dengan hasil pemerikasaan karboksihemoglobin tidak normal

Keterangan

No
Sampel

Kadar HbCO

1
2
3
4
5
7
8
9
10
12
13
14
15
16
17
18
19
20
22
23
24
25
26
27
28
29

5,65
5,79
5,68
5,74
5,83
5,39
5,42
5,57
5,43
5,74
5,24
5,86
5,44
5,83
5,20
5,51
5,57
5,61
5,10
5,45
5,34
5,13
5,19
5,36
5,08
5,48

Lama Bekerja

Penggunaah APD

17
10
7
27
26
17
32
15
15
10
29
1
22
8
17
11
17
33
6
8
10
8
24
8
12
10

Kadang kadang
Kadang kadang
Kadang kadang
Kadang kadang
Tidak
Kadang kadang
Kadang kadang
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Kadang kadang
Kadang kadang
Kadang kadang
Kadang kadang
Tidak
Kadang kadang
Kadang kadang
Kadang kadang
Kadang kadang
Tidak
Kadang kadang
Tidak
Kadang kadang
Kadang kadang

Konsumsi
Rokok
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya

21

Pada tabel 11, dua puluh enam orang responden semuanya memiliki masa
atau lama kerja sebagai polisi lalulintas berkisar antara 1 tahun sampai 33 tahun.
Semakin lama masa kerja responden dengan profesi sebagai polisi lalu lintas maka
semakin banyak paparan gas buangan

kenderaan

salah

satunya karbon

monoksida yang dapat mengganggu fungsi hemoglobin dalam darahnya, hal ini
ditunjang dengan penelitian yang dilakukan Ahirawati (2009), dimana dia
menyimpulkan bahwa ada hubungan antara masa kerja dengan kandungan HbCO
dalam darah polisi lalu lintas di Jalan Slamet Riyadi Surakarta..
Dua puluh enam orang responden dengan kadar karboksihemoglobin tidak
normal, mengaku dimana 17 orang responden kadang kadang menggunakan APD
saat bekerja dan 9 orang responden lainnya mengaku tidak pernah menggunakan
APD saat melakukan pekerjaanya. Sebagai polisi lalulintas dengan kondisi
lingkungan kerja yang

langsung dengan gas buangan kenderaan salah satunya

karbon monoksida, pemakaian APD berupa masker dapat membantu menghindari


paparan langsung dari gas yang berbahaya bagi kesehatan. Penggunaan APD
dimaksudkan untuk mengurangi polutan yang dihirup dari asap kendaraan
bermotor. Hal ini ditunjang oleh penelitian Damayanti dkk (2007) dimana hasil
penelitiannya menunjukan terdapat hubungan penggunaan masker dengan
penurunan faal paru dan kelainan foto toraks pada pekerja yang terpajan debu
semen.
Selain gas buangan kendaraan, gas karbon monoksida juga dihasilkan dari
rokok (Bukasiang dalam Bustan, 2014). Pada tabel 11, 26 responden yang
memiliki kadar karboksihemoglobin tidak normal

separuh diantanya adalah

22

perokok. Paparan gas karbon monoksida dari buangan kenderaan bermotor dalam
profesi polisi lalulintas sehari-hari yang dapat mempengaruhi fungsi hemoglobin
dalam darah, juga akan semakin bertambah jika responden mengonsumsi rokok
yang kandungannya juga terdiri dari karbon monoksida. Hal ini diperkuat oleh
penelitian Tulu dkk (2013) yang menyatakan terdapat hubungan antara kebiasaan
merokok dengan Kapasitas Vital Paru (KVP) pada Polisi lalulintas Kepolisian
Resort Kota Manado.
Tabel 12. Analisa hasil pemeriksaan kadar karboksihemoglobin pada responden
dengan hasil pemerikasaan karboksihemoglobin normal
Keterangan

No
Sampel

Kadar
HbCO

Lama Bekerja

Penggunaah APD

6
12
22

4.78
4.78
4.92

1
7
1

Tidak
Tidak
Kadang - kadang

Pada

tabel

12,

terdapat

orang

responden

Konsumsi
Rokok
Tidak
Ya
Tidak

memiliki

kadar

karboksihemoglobin normal. Terlepas dari hasil pemeriksaan yang menunjukan


bahwa kadar karboksihemoglobin dalam darah responden normal, bahaya yang
ditimbulkan dari profesi sebagai polisi lalulintas dimana responden kesehariannya
berhubungan dengan gas buangan kenderaan bermotor seperti karbon monoksida
yang berbahaya bagi kesehatan harus tetap menjadi perhatian bagi responden.
Selain melalui gas buangan kenderaan bermotor, salah satu sumber penghasil gas
karbon monoksida adalah rokok, hal ini juga harus menjadi perhatian mengingat
data menunjukan dari 3 orang responden 1 orang diantaranya adalah perokok.

23

Alat pelindung diri (APD) merupakan suatu alat yang dipakai untuk
melindungi diri atau tubuh terhadap bahaya-bahaya kecelakaan kerja, dimana
secara teknis dapat mengurangi tingkat keparahan dari kecelakaan kerja yang
terjadi. Peralatan pelindung diri tidak menghilangkan atau pun mengurangi bahaya
yang ada. Peralatan ini hanya mengurangi jumlah kontak dengan bahaya dengan
cara penempatan penghalang antara tenaga kerja dengan bahaya (Sumamur,
2009). Pada tabel 12, hanya 1 orang responden mengaku menggunakan APD pada
saat tertentu saja, sedangkan 2 orang responden lainnya mengaku tidak pernah
menggunakan APD. Hal hal inilah yang harus tetap menjadi perhatian guna
tercapainya derajat kesehatan yang lebih baik.
Terlepas dari semua penjelasan yang sudah dijabarkan diatas yang ditinjau
dari berbagai aspek dalam penelitian yang dilakukan, peneliti menyadari terdapat
berbagai kelemahan dalam penelitian kali ini seperti waktu yang diperlukan untuk
proses sampling dari setiap responden di lokasi kerja dan jarak ke lokasi
pemeriksaan yang kejauhan, suhu sampel yang tidak konstan yang sekiranya dapat
mengganggu hasil pemeriksaan. Serta faktor faktor lainnya yang sulit dihindari
peneliti saat melakukan penelitian, keterbatasan faktor faktor penunjang
penelitian seperti kadar ambient udara khususnya karbon monoksida yang tidak
diukur saat melakukan penelitian, keterbatasan

responden yang disesuaikan

dengan kriteria inklusi dan polisi lalulintas yang tidak berada dilokasi saat
dilakukan penelitian.

24

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan, peneliti
menyimpulkan gambaran kadar karboksihemoglobin pada polisi lalulintas polresta
Manado yaitu responden yang memiliki kadar karboksihemoglobin tidak normal
sebanyak 90% dan responden yang memiliki kadar karboksihemoglobin normal
sebanyak 10%.
B. SARAN
1. Seluruh masyarakat, terlebih khusus dengan profesi sebagai polisi lalulintas
disarankan untuk lebih peduli terhadap kesehatan, seperti menggunakan APD
saat bekerja untuk mengurangi paparan gas buangan kenderaan bermotor,
serta mengurangi atau bahkan menghentikan kebiasaan merokok guna
kesehatan pribadi responden.
2. Kepada insansi kepolisian, terlebih khusus polresta Manado untuk lebih
memperhatikan berbagai aspek yang dapat mempengaruhi kesehatan pekerja
dalam hal ini polisi lalulintas, misalnya berupa penyuluhan ataupun program
program yang dapat meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan.
3. Kepada responden dengan kadar karboksihemoglobin yang tidak normal,
disarankan untuk menerapkan pola hidup sehat, seperti banyak menghirup
udara segar yang baik bagi ketersedian oksigen didalam tubuh, dan segera
melakukan pemeriksaan yang lebih mendalam untuk mengetahui penyebab
tidak normalnya kadar karboksihemoglobin dalam tubuh.